Risalah Nur — Bahasa Indonesia

BAGIAN PERTAMA

Cahaya-Cahaya Hakikat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

BAGIAN PERTAMA

Dalam masing-masing dari sebelas kata kalimat tauhid ini terdapat suatu kabar gembira. Dalam setiap kabar gembira itu terdapat obat penyembuh, dan dalam obat penyembuh itu terdapat kenikmatan rohani.

KALIMAT PERTAMA

Dalam

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

terdapat kabar gembira demikian:

Ruh manusia, yang tertimpa kebutuhan tak terhitung serta menjadi sasaran serangan musuh yang tiada batas, menemukan tempat meminta pertolongan dalam kata ini, yang membukakan baginya pintu khazanah Rahmat untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Ia juga menemukan tempat bersandar yang memperkenalkan serta memberitahukan kepadanya Ma'bûd dan Sang Khâliq-nya sendiri, Pemilik Kudrat mutlak yang akan membuatnya aman dari kejahatan seluruh musuhnya; menunjukkan Pemiliknya, serta memperlihatkan siapa Penguasanya. Dengan memperlihatkan itu, kata ini menyelamatkan hati dari rasa takut tanpa batas serta ruh dari kesedihan pedih, lalu menjamin rasa lega yang abadi dan kegembiraan yang terus berlangsung.

KALIMAT KEDUA

ﻭَﺣْﺪَﻩُ

Dalam kata ini terdapat kabar gembira yang menyembuhkan serta membawa kebahagiaan. Yaitu:

Ruh serta hati manusia yang berkaitan dengan kebanyakan jenis makhluk dalam kainat, dan karena hubungan itu menjadi kacau sampai hampir tenggelam dalam kekacauan, menemukan tempat berlindung serta penyelamat dalam kata ﻭَﺣْﺪَﻩُ yang menyelamatkannya dari seluruh kekacauan dan kesusahan tersebut. Yakni, ﻭَﺣْﺪَﻩُ secara makna berkata:

Allah سُبْحَانَهُ Esa. Jangan lelah dengan berpaling kepada hal-hal lain; jangan merendahkan diri serta merasa berutang budi kepada mereka; jangan menjilat serta membungkuk kepada mereka; jangan bersusah payah dengan mengejar mereka; jangan takut serta gemetar karena mereka. Sebab, Sang Sultan kainat Esa; kunci segala sesuatu berada di sisi-Nya, dan kendali segala sesuatu berada di tangan-Nya. Segala sesuatu diselesaikan dengan Perintah-Nya. Jika engkau menemukan-Nya, engkau telah menemukan segala yang engkau cari; engkau selamat dari rasa berutang budi serta rasa takut yang tak terhitung.

KALIMAT KETIGA

لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ

Yakni, sebagaimana Dia tidak mempunyai sekutu sebagai Sesembahan dan dalam Kekuasaan-Nya—Allah سُبْحَانَهُ itu Esa, tidak mungkin banyak—Dia juga tidak mempunyai sekutu dalam memelihara, menguasai, bertindak, serta menciptakan. Kadang seorang sultan itu tunggal dan tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaannya, tetapi para petugasnya dianggap sebagai sekutunya dalam menjalankan tindakan, lalu menghalangi setiap orang masuk ke hadapannya. Mereka berkata, "Berpalinglah kepada kami juga." Namun, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Sang Sultan dari azali sampai abadi, sebagaimana tidak mempunyai sekutu dalam Kekuasaan-Nya, juga tidak memerlukan pembantu ataupun sekutu dalam tindakan-Nya memelihara dan menguasai segala sesuatu. Tanpa Perintah, Kehendak, Daya, serta Kekuatan-Nya, tidak satu pun dapat turut campur dalam sesuatu. Setiap orang dapat langsung berpaling kepada-Nya. Karena Dia tidak mempunyai sekutu serta pembantu, orang yang berpaling itu tidak akan diberi tahu, "Dilarang; engkau tidak dapat masuk ke hadapan-Nya."

Kata ini memberikan kabar gembira kepada ruh manusia demikian:

Ruh manusia yang memperoleh iman dapat, tanpa hambatan, campur tangan, penghalang, ataupun larangan, dalam setiap keadaan, setiap keinginan, setiap saat, serta setiap tempat, masuk ke hadapan Sang Jamîl Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Dzul-Kamâl, Pemilik azali

serta abadi, khazanah Rahmat, dan harta simpanan kebahagiaan, lalu menyampaikan kebutuhannya. Dengan menemukan Rahmat-Nya serta bersandar pada Kudrat-Nya, ia dapat memperoleh rasa lega dan kegembiraan yang sempurna.

KALIMAT KEEMPAT

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ

Yakni, seluruh milik adalah milik-Nya. Engkau pun milik-Nya, hamba yang dimiliki-Nya, serta bekerja dalam wilayah milik-Nya.

Kata ini memberikan kabar gembira yang menyembuhkan demikian, dan berkata:

Wahai manusia! Jangan menganggap dirimu sebagai pemilik dirimu sendiri. Sebab, engkau tidak dapat mengurus dirimu; beban itu berat. Engkau tidak dapat menjaga dirimu seorang diri, menghindari bencana, serta memenuhi kebutuhanmu. Karena itu, jangan tertimpa derita sia-sia serta tersiksa; milik itu milik Yang Lain. Sang Pemilik itu Qadîr sekaligus Rahîm; bersandarlah pada Kudrat-Nya, jangan mencurigai Rahmat-Nya. Tinggalkan kesusahan, nikmatilah hidup. Lepaskan kesulitan, temukan ketenteraman.

Ia juga berkata: Kainat ini, yang engkau cintai secara rohani serta berhubungan dengannya, yang kekacauannya membuatmu sedih tetapi tidak mampu engkau perbaiki, merupakan milik Sang Qadîr yang Rahîm. Serahkan milik itu kepada Pemiliknya, biarkan Dia mengurusnya; nikmatilah kesenangannya, jangan menanggung siksaannya. Dia Hakîm sekaligus Rahîm. Dia mengelola serta memutarnya sebagaimana dikehendaki-Nya. Ketika engkau merasa takut, katakan seperti Ibrahim Hakkı, "Mari kita lihat apa yang Maulâ lakukan / Apa pun yang Dia lakukan, Dia melakukannya dengan indah." Pandanglah melalui jendela-jendela; jangan masuk ke dalamnya.