Risalah Nur — Bahasa Indonesia

BUTIR HIKMAH KETIGA

Cahaya-Cahaya Hakikat · Bahasa Indonesia

BUTIR HIKMAH KETIGA

Menurut salah satu pendapat, makna ayat

اِلَّا ﺍﻟْﻤَﻮَﺩَّﺓَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘُﺮْﺑٰﻰ

ialah, "Rasul Yang Paling Mulia ﷺ tidak meminta upah sebagai ganti menunaikan tugas kerasulan; beliau hanya meminta kecintaan kepada Ahlulbaitnya."

Jika dikatakan:

Menurut makna ini, tampak bahwa suatu manfaat yang berasal dari hubungan keturunan diperhatikan. Padahal, berdasarkan rahasia

ﺍِﻥَّ ﺍَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍَﺗْﻘٰﻴﻜُﻢْ

, tugas kerasulan berjalan dari segi kedekatan kepada Allah سُبْحَانَهُ, bukan hubungan keturunan?

Jawaban:

Dengan pandangannya yang mengenal gaib, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ melihat bahwa Ahlulbaitnya akan menjadi seperti pohon bercahaya dalam dunia Islam. Sebagian sangat besar tokoh yang akan menjalankan tugas membimbing serta menuntun dalam pelajaran kesempurnaan manusia pada seluruh lapisan dunia Islam akan muncul dari Ahlulbait. Beliau melihat bahwa doa umat mengenai "Âl" dalam tasyahud, yakni

ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﺍِﻧَّﻚَ ﺣَﻤ۪ﻴﺪٌ ﻣَﺠ۪ﻴﺪٌ

, akan diterima. Yakni, sebagaimana sebagian sangat besar pembimbing bercahaya dalam umat Ibrahim ialah para nabi dari keluarga serta keturunan Ibrahim (A.S.), dalam umat Muhammad ﷺ beliau juga melihat para wali kutub Ahlulbait Muhammad ﷺ, seperti para nabi Bani Israil, menjalankan tugas-tugas agung Islam serta sebagian besar tarekat dan jalannya. Karena itu, beliau diperintahkan mengucapkan

لَٓا ﺍَﺳْﺌَﻠُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﺟْﺮًﺍ اِلَّا ﺍﻟْﻤَﻮَﺩَّﺓَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘُﺮْﺑٰﻰ

, lalu meminta kecintaan umat kepada Ahlulbait.

Dalam riwayat-riwayat lain yang menguatkan hakikat ini, beliau bersabda, "Aku meninggalkan dua hal bagi kalian. Jika berpegang pada keduanya, kalian akan selamat. Yang satu: Kitabullah; yang lain: Ahlulbaitku." Sebab, Ahlulbait merupakan sumber serta penjaga sunnah yang mulia dan ditugaskan berpegang padanya dalam segala segi.

Karena rahasia inilah hakikat hadis tersebut diberitahukan dengan sebutan mengikuti Kitab serta Sunnah. Jadi, dari segi tugas kerasulan, yang beliau maksud melalui Ahlulbait ialah sunnahnya yang mulia. Sebagaimana orang yang meninggalkan mengikuti sunnah yang mulia bukan Ahlulbait sejati, ia juga tidak dapat menjadi sahabat sejati Ahlulbait.

Rahasia keinginan beliau menghimpun umatnya di sekitar Ahlulbait ialah: Dengan Izin Allah سُبْحَانَهُ, beliau mengetahui bahwa seiring waktu Ahlulbait akan bertambah amat banyak, serta memahami bahwa Islam akan melemah. Ketika itu diperlukan kelompok yang amat kuat, banyak, serta saling menopang, agar dapat menjadi dasar serta pusat kemajuan maknawi dunia Islam. Dengan Izin Allah سُبْحَانَهُ beliau memikirkan hal ini dan menginginkan umatnya berhimpun di sekitar Ahlulbait.

Ya, meskipun anggota Ahlulbait tidak jauh lebih maju daripada orang lain dalam keyakinan serta iman, mereka tetap jauh lebih maju dalam berserah, berpegang teguh, serta berpihak. Sebab, mereka berpihak kepada Islam melalui fitrah, keturunan, serta watak. Sikap berpihak yang berasal dari watak tidak ditinggalkan meskipun lemah, tidak mulia, bahkan tidak benar. Apalagi berpihak kepada hakikat yang amat kuat, amat benar, serta amat mulia, yang seluruh rantai leluhurnya terikat kepadanya, memperoleh kemuliaan melaluinya, dan mengorbankan jiwa

deminya; apakah seseorang yang dengan jelas merasakan betapa mendasar serta fitri sikap berpihak itu akan meninggalkannya? Melalui kuatnya berpegang teguh serta Islam yang fitri ini, Ahlulbait menerima tanda paling kecil yang mendukung agama Islam seperti hujah yang kuat. Sebab, mereka berpihak melalui fitrah. Orang lain baru berpegang setelah memperoleh hujah yang kuat.

--

Surat Kedua Puluh

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ

Pengulangan kalimat tauhid ini setelah salat Subuh serta Magrib mempunyai banyak keutamaan. Menurut sebuah riwayat sahih, kalimat ini membawa derajat Ismul A'zham. Kalimat ini mempunyai sebelas kata. Dalam setiap katanya terdapat suatu kabar gembira serta berita baik, juga suatu derajat tauhid dalam pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ atas segala sesuatu, juga pada segi Ismul A'zham terdapat Kebesaran Keesaan dan Kesempurnaan Keesaan-Nya.

Dengan merujukkan penjelasan hakikat-hakikat besar serta luhur ini kepada Kalimat-Kalimat lain, berdasarkan sebuah janji, untuk sekarang kami akan membuat daftar baginya dalam bentuk uraian ringkas berupa "Dua Bagian" serta satu "Pendahuluan".

PENDAHULUAN

Ketahuilah dengan pasti: Tujuan tertinggi penciptaan serta hasil paling luhur fitrah ialah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Derajat tertinggi manusia serta kedudukan terbesar umat manusia ialah makrifatullah dalam iman kepada Allah سُبْحَانَهُ itu. Kebahagiaan paling bersinar serta nikmat paling manis bagi jin dan manusia ialah

cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ dalam makrifatullah itu. Kegembiraan paling tulus bagi ruh manusia serta sukacita paling murni bagi hatinya ialah kenikmatan rohani dalam cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ itu.

Ya, seluruh kebahagiaan hakiki, kegembiraan tulus, nikmat manis, serta kenikmatan murni tentu terdapat dalam makrifatullah dan cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ. Semua itu tidak dapat ada tanpa keduanya. Orang yang mengenal serta mencintai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memperoleh kebahagiaan, nikmat, cahaya, serta rahasia yang tiada batas, baik dalam bentuk potensi maupun secara nyata. Orang yang tidak benar-benar mengenal serta mencintai-Nya tertimpa kesengsaraan, rasa sakit, serta sangkaan yang tiada batas, secara rohani maupun jasmani.

Ya, di dunia yang kacau ini, di tengah umat manusia yang mengembara tanpa arah, dalam hidup yang tidak berbuah, tanpa pemilik serta pelindung, apalah nilai seorang manusia tidak berdaya dan lemah, sekalipun ia menjadi sultan seluruh dunia? Setiap orang memahami betapa manusia menjadi malang serta kebingungan jika di tengah umat manusia yang mengembara tanpa arah dan dalam dunia fana yang kacau ini ia tidak mengenal Pemiliknya serta tidak menemukan Penguasanya. Jika ia menemukan Pemiliknya serta mengenal Penguasanya, ketika itu ia berlindung pada Rahmat-Nya dan bersandar pada Kudrat-Nya. Dunia yang merupakan tempat menakutkan itu berubah menjadi tempat wisata serta tempat berniaga.