Dari Kumpulan Risale-i Nur
Hakikat Nurları (Cahaya-Cahaya Hakikat)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
Surat Kedelapan
Ada banyak hikmah mengapa asma
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
terdapat dalam
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
dan disebut pada permulaan setiap hal yang diberkahi. Dengan menunda penjelasan semua itu sampai waktu lain, sekarang aku akan menyampaikan suatu perasaanku sendiri:
Saudaraku, aku memandang asma
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
sebagai cahaya paling agung yang meliputi seluruh kainat. Keduanya tampak bercahaya dan kuat, mampu memenuhi seluruh kebutuhan abadi setiap ruh dan memberinya rasa aman dari musuh-musuhnya yang tak terhitung. Sarana terpenting yang kutemukan untuk mencapai kedua asma yang merupakan cahaya paling agung ini ialah mengakui diri fakir disertai syukur, dan mengakui diri tak berdaya disertai kasih sayang. Yakni, ubudiyah dan mengakui diri fakir.
Berkenaan dengan persoalan ini, aku menyampaikan hal yang terlintas dalam pikiranku, berbeda dari para ahli yang meneliti hakikat, bahkan dari Imam Rabbani, salah seorang guruku:
Perasaan Ya'qub aleyhisselâm yang kuat dan cemerlang kepada Yusuf aleyhisselâm bukanlah kecintaan dan cinta yang membara, melainkan kasih sayang. Sebab, kasih sayang jauh lebih tajam, cemerlang, luhur, dan suci daripada cinta serta kecintaan, dan layak bagi kedudukan kenabian. Namun, apabila kecintaan dan cinta terhadap kekasih-kekasih majasi serta makhluk mencapai derajat yang sangat kuat, hal itu tidak sesuai dengan kedudukan kenabian yang luhur. Jadi, perasaan Ya'qub, yang diperlihatkan Al-Qur'an Al-Hakîm dengan terang melalui i'jaz yang cemerlang dan menjadi sarana mencapai asma Rahîm, merupakan kasih sayang pada derajat yang tinggi.
Adapun cinta yang menjadi sarana mencapai asma Wadûd terdapat dalam kisah kecintaan Zulaikha kepada Yusuf aleyhisselâm. Jadi, sejauh Al-Qur'an yang penjelasannya menakjubkan memperlihatkan perasaan Ya'qub aleyhisselâm lebih tinggi daripada perasaan Zulaikha, sejauh itu pula kasih sayang tampak lebih tinggi daripada cinta.
Karena guruku, Imam Rabbani, memandang cinta majasi tidak begitu sesuai dengan kedudukan kenabian, ia berkata, "Karena keindahan Yusuf merupakan jenis keindahan akhirat, kecintaan kepadanya bukanlah jenis kecintaan majasi sehingga menjadi kekurangan."
Aku pun berkata, "Wahai Guru! Itu adalah takwil yang dipaksakan. Hakikatnya seharusnya sebagai berikut: Perasaan itu bukan kecintaan, melainkan derajat kasih sayang yang seratus kali lebih cemerlang, lebih luas, dan lebih tinggi daripada kecintaan."
Ya, kasih sayang dalam seluruh jenisnya lembut dan suci. Adapun terhadap banyak jenis cinta dan kecintaan, orang tidak sudi merendahkan diri untuk mengejarnya.
Selain itu, kasih sayang amat luas. Karena anak yang ia sayangi, seseorang meluaskan kasih sayangnya kepada semua anak, bahkan semua makhluk berjiwa, dan menunjukkan suatu cerminan luasnya asma Rahîm. Padahal, cinta memusatkan pandangan kepada kekasih dan mengorbankan segala sesuatu baginya; atau, untuk meninggikan dan memuji kekasihnya, cinta merendahkan serta secara maknawi mencela orang lain dan merusak kehormatan mereka. Misalnya, seseorang berkata, "Matahari melihat keindahan kekasihku lalu malu; agar tidak melihatnya, ia menarik tirai awan ke atas kepalanya." Wahai tuan yang sedang jatuh cinta! Apa hakmu mempermalukan matahari demikian, padahal ia merupakan halaman bercahaya dari delapan Ismul A'zham?
Selain itu, kasih sayang tulus dan tidak menginginkan balasan; ia murni dan tanpa imbalan. Bahkan, kasih sayang hewan yang penuh pengorbanan dan tanpa imbalan kepada anak-anaknya, meskipun berada pada tingkatan paling rendah, merupakan bukti akan hal ini. Padahal, cinta menginginkan upah dan menuntut balasan. Tangisan cinta merupakan suatu tuntutan, permintaan akan upah.
Jadi, kasih sayang Ya'qub (A.S.), cahaya paling cemerlang dari Surah Yusuf, yang merupakan surah Al-Qur'an paling cemerlang, menunjukkan asma Rahmân dan Rahîm, serta memberitahukan bahwa jalan kasih sayang adalah jalan Rahmat. Sebagai penawar bagi kepedihan kasih sayang itu, kasih sayang ini pun membuat Ya'qub berkata
ﻓَﺎﻟﻠّٰﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ ﺣَﺎﻓِﻈًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺍَﺭْﺣَﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ
.
ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ
Bedîüzzaman Said Nursî
--
Lem'a Ketiga
Perasaan serta kenikmatan batin sedikit bercampur dalam Lem'a ini. Karena gelora perasaan serta kenikmatan batin tidak banyak mendengarkan atau memperhatikan kaidah akal serta timbangan pikiran, Lem'a Ketiga ini tidak boleh ditimbang dengan timbangan logika.
Makna ayat
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
diungkapkan oleh dua kalimat
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ٓﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ٭ ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ٓﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ
yang menyatakan dua hakikat penting. Karena itu, sebagian pemimpin Naqsyaband menetapkan kedua kalimat ini sebagai bacaan zikir penutup khusus bagi diri mereka dan menganggapnya sebagai bacaan zikir penutup Naqsyaband yang ringkas. Karena kedua kalimat ini mengungkapkan makna ayat yang agung itu, kami akan menjelaskan beberapa butir hikmah dari kedua hakikat penting yang dinyatakan keduanya.