Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kalimat Keempat

Hakikat-Hakikat Iman · Bahasa Indonesia

Dari Kumpulan Risale-i Nur

İman Hakikatleri (Hakikat-Hakikat Iman)

Penulis

Bedîüzzaman Said Nursî

Kalimat Keempat

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ اَلصَّلَاةُ ﻋِﻤَﺎﺩُ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ

Jika engkau ingin memahami dengan pasti, sepasti dua kali dua sama dengan empat, betapa berharga dan penting salat, betapa murah ia diperoleh dengan biaya yang sedikit, serta betapa gila dan merugi orang yang tidak salat, lihatlah dan amatilah kisah perumpamaan singkat ini: Suatu ketika, seorang penguasa besar memberikan dua puluh empat keping emas kepada masing-masing dari dua pelayannya, lalu mengirim mereka untuk menetap di lahan pertanian khusus yang indah miliknya, sejauh perjalanan dua bulan. Ia memerintahkan mereka, "Gunakan uang ini untuk biaya perjalanan dan tiket. Belilah pula beberapa barang yang diperlukan untuk tempat tinggal kalian di sana. Sejauh perjalanan sehari terdapat sebuah stasiun. Ada kendaraan darat, kapal, kereta api, dan pesawat. Kalian menaikinya sesuai modal yang dimiliki." Setelah menerima petunjuk itu, kedua pelayan pun berangkat. Yang satu bernasib bahagia; hingga stasiun, ia hanya mengeluarkan sedikit uang. Namun, dalam pengeluaran itu ia memperoleh hasil perdagangan yang begitu baik dan menyenangkan tuannya, sehingga modalnya melonjak dari satu menjadi seribu. Adapun pelayan yang malang, karena ia hidup tanpa arah, menghabiskan dua puluh tiga keping emas hingga stasiun. Ia membuangnya untuk judi dan hal-hal semacam itu, sehingga hanya tersisa satu keping emas. Temannya berkata kepadanya, "Wahai kawan, belanjakan satu lira ini untuk sebuah tiket.

Agar engkau tidak berjalan kaki dan kelaparan sepanjang jalan yang panjang ini. Tuan kita juga mulia, barangkali ia berbelas kasih dan mengampuni kesalahanmu. Engkau pun akan dinaikkan ke pesawat. Dalam sehari kita tiba di tempat tinggal kita. Jika tidak, engkau terpaksa berjalan kaki seorang diri, kelaparan, melalui gurun selama dua bulan." Jika orang ini bersikeras tidak membelanjakan satu liranya itu untuk tiket yang berperan sebagai kunci khazanah, lalu menghabiskannya untuk hidup menuruti kesenangan demi kenikmatan sesaat; tidakkah bahkan orang yang paling tidak berakal pun memahami bahwa ia begitu tidak berakal, merugi, dan malang? Maka, wahai orang yang tidak salat, dan wahai nafsuku yang tidak menyukai salat! Penguasa itu adalah Rabb kita, Khâliq kita. Kedua pelayan yang bepergian itu adalah dua manusia: Yang satu taat beragama dan menjalankan salat dengan penuh semangat; yang lain lalai dan tidak salat. Dua puluh empat keping emas itu adalah dua puluh empat jam umur setiap hari. Lahan pertanian khusus itu adalah surga. Stasiun itu adalah kubur. Perjalanan itu adalah perjalanan manusia menuju kubur, kebangkitan, dan hidup yang kekal. Mereka menempuh jalan yang panjang itu dengan tingkatan yang berbeda-beda, sesuai amal dan seberapa kuat takwanya. Sebagian orang yang bertakwa menempuh jalan seribu tahun dalam sehari, seperti kilat. Sebagian lagi menempuh jarak lima puluh ribu tahun dalam sehari, secepat khayal.

Al-Qur'an yang agung memberi isyarat kepada hakikat ini melalui dua ayatnya. Tiket itu adalah salat. Satu jam saja cukup untuk salat lima waktu beserta wudu. Betapa merugi orang yang menghabiskan dua puluh tiga jam untuk kehidupan dunia yang sangat singkat ini, tetapi tidak menghabiskan satu jam saja untuk kehidupan kekal yang begitu panjang; betapa ia menzalimi dirinya dan bertindak tidak masuk akal. Sebab, jika akal menerima pemberian separuh harta untuk judi undian yang diikuti seribu orang, padahal peluang menangnya hanya satu dari seribu; tidakkah orang yang menganggap dirinya berakal memahami betapa tindakannya bertentangan dengan akal dan hikmah, dan betapa jauhnya ia dari akal, ketika kemudian menolak memberikan satu dari dua puluh empat bagian hartanya untuk khazanah yang kekal, yang keuntungannya telah dipastikan dengan peluang sembilan puluh sembilan persen? Padahal, dalam salat terdapat ketenteraman besar bagi ruh, hati, dan akal. Salat pun bukan pekerjaan yang begitu berat bagi tubuh. Perbuatan duniawi lain yang mubah dari orang yang salat juga bernilai ibadah melalui niat yang baik. Dengan cara ini, ia dapat menjadikan seluruh modal umurnya sebagai bekal akhirat. Dari satu segi, ia membuat umurnya yang sementara kekal.

--

Kalimat Kesembilan

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ

Wahai saudaraku! Engkau bertanya kepadaku tentang hikmah penetapan salat pada lima waktu tertentu ini. Kami hanya menunjukkan satu di antara banyak hikmahnya. Ya, setiap waktu salat merupakan awal perubahan penting, sekaligus cermin Tasarruf (pengelolaan) Ilahi yang agung, dan tempat terpantulnya karunia-karunia Ilahi yang menyeluruh dalam Tasarruf itu; karena itu, diperintahkan salat pada waktu-waktu tersebut, yang berarti lebih banyak bertasbih dan mengagungkan Sang Qadîr Dzul-Jalâl, serta bersyukur dan memuji-Nya atas seluruh nikmat-Nya yang tiada batas, yang terhimpun di antara dua waktu. Untuk sedikit memahami makna yang halus dan dalam ini, engkau perlu mendengarkan lima butir hikmah bersama nafsuku.

BUTIR HIKMAH PERTAMA

Makna salat adalah bertasbih, mengagungkan, dan bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Yakni, di hadapan Jalal-Nya, mengucapkan "Sübhanallah" dengan perkataan dan perbuatan serta menyatakan Dia Mahasuci; di hadapan Kesempurnaan-Nya, mengucapkan "Allahu Ekber" dengan lisan dan amal serta mengagungkan-Nya; dan di hadapan Keindahan-Nya, mengucapkan "Elhamdülillah" dengan hati, lisan, serta tubuh dan bersyukur kepada-Nya. Maka tasbih, takbir, dan pujian berperan sebagai biji-biji salat. Karena itulah ketiga hal ini terdapat di seluruh gerakan serta zikir salat. Karena itulah pula, setelah salat, kalimat-kalimat yang penuh berkah ini diulangi tiga puluh tiga kali untuk menegaskan serta menguatkan makna salat. Makna salat ditegaskan dengan ringkasan-ringkasan singkat ini.

BUTIR HIKMAH KEDUA

Makna ibadah adalah ini: Seorang hamba melihat kekurangan dirinya, keadaannya yang tak berdaya, serta kebutuhannya di Hadirat Ilahi, lalu bersujud dengan rasa kagum dan cinta di hadapan Rububiyah yang Sempurna, Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad, serta Rahmat Ilahi. Yakni, sebagaimana Kekuasaan Rububiyah menghendaki ubudiyah dan ketaatan, Rububiyah yang Suci dan Murni juga menghendaki agar hamba melihat kekurangan dirinya lalu beristigfar, dan mengumumkan melalui tasbih, dengan "Sübhanallah", bahwa Rabb-nya Bersih dan Bebas dari segala kekurangan, Suci dan Luhur di atas pikiran-pikiran batil orang-orang yang sesat, serta Mahasuci dan Bebas dari seluruh kekurangan kainat. Dan Kudrat Rububiyah yang Sempurna juga menghendaki agar hamba melihat bahwa dirinya lemah dan makhluk-makhluk tidak berdaya, lalu dengan kagum serta mengakui indahnya hasil Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang agung, mengucapkan "Allahu Ekber", rukuk dengan tunduk, serta berlindung dan bertawakal kepada-Nya. Khazanah Rahmat Rububiyah yang tiada batas juga menghendaki agar hamba menyatakan kebutuhan dirinya serta keadaan seluruh makhluk yang penuh kebutuhan dan membutuhkan pertolongan melalui bahasa permintaan dan doa, lalu mengumumkan Karunia dan nikmat-nikmat Rabb-nya melalui syukur serta pujian, dengan "Elhamdülillah". Maka, perbuatan dan perkataan dalam salat mencakup makna-makna ini, dan ditetapkan oleh Allah سُبْحَانَهُ untuk makna-makna tersebut.

BUTIR HIKMAH KETIGA

Sebagaimana manusia merupakan contoh kecil dari alam yang besar ini, dan Al-Fatihah yang mulia merupakan gambaran bercahaya dari Al-Qur'an yang agung ini, salat pun merupakan daftar isi bercahaya yang mencakup seluruh jenis ibadah, serta peta suci yang menunjukkan ragam ibadah dari seluruh golongan makhluk.

BUTIR HIKMAH KEEMPAT

Sebagaimana jarum-jarum pada jam yang menghitung satu pekan, yang menghitung detik, menit, jam, dan hari, saling berkaitan, menjadi contoh satu sama lain, dan berperan seperti satu sama lain, demikian pula perputaran malam dan siang, yang berperan sebagai detik pada dunia ini, jam besar milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq; tahun-tahun yang menghitung menitnya; tahap-tahap umur manusia yang menghitung jamnya; serta masa-masa umur alam yang menghitung harinya; semuanya saling berkaitan, menjadi contoh satu sama lain, berperan seperti satu sama lain, dan saling mengingatkan. Misalnya: Waktu fajar hingga matahari terbit menyerupai dan mengingatkan awal musim semi, saat manusia masuk ke rahim ibunya, serta hari pertama dari enam hari penciptaan langit dan bumi; dan mengingatkan Syuunat Ilahi (keadaan-keadaan Ilahi) pada semua itu. Waktu zuhur menyerupai dan menunjukkan pertengahan musim panas, puncak masa muda, serta masa penciptaan manusia dalam umur dunia; dan mengingatkan Tajalli (tampak nyata) Rahmat serta limpahan nikmat pada semua itu. Waktu asar menyerupai musim gugur, masa tua, serta masa bahagia Nabi Akhir Zaman ﷺ; dan mengingatkan Syuunat Ilahi serta nikmat-nikmat Ar-Rahmân pada semua itu. Waktu magrib mengingatkan tenggelamnya banyak makhluk pada akhir musim gugur, kematian manusia, serta hancurnya dunia pada awal kiamat; dengan itu, ia membuat manusia memahami Tajalli Jalal dan membangunkan serta memperingatkan manusia dari tidur lalai.

Waktu isya mengingatkan alam gelap yang menutupi seluruh jejak alam siang dengan kafan hitamnya, musim dingin yang menutupi wajah bumi yang telah mati dengan kafan putihnya, sisa-sisa jejak manusia yang telah meninggal yang ikut lenyap dan masuk di balik tirai lupa, serta tertutupnya dunia, negeri ujian ini, sepenuhnya; dengan itu, ia mengumumkan Tasarruf Sang Qahhâr Dzul-Jalâl yang penuh Jalal. Waktu malam membuat manusia memahami musim dingin, kubur, dan alam barzakh, serta mengingatkan betapa ruh manusia membutuhkan Rahmat Ar-Rahmân. Tahajud pada malam hari juga memberitahukan dan memperingatkan betapa ia merupakan cahaya yang diperlukan dalam malam kubur serta gelap alam barzakh; dan dengan mengingatkan nikmat-nikmat Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki yang tiada batas dalam seluruh perubahan ini, ia mengumumkan betapa Dia patut memperoleh pujian dan sanjungan. Pagi berikutnya mengingatkan pagi kebangkitan. Ya, sebagaimana pagi setelah malam ini dan musim semi setelah musim dingin ini begitu masuk akal, perlu, dan pasti, pagi kebangkitan dan musim semi alam barzakh juga memiliki kepastian yang sama. Maka, sebagaimana setiap satu dari lima waktu ini berada pada awal perubahan penting dan mengingatkan perubahan-perubahan besar, melalui tanda Tasarruf harian Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang agung, masing-masing mengingatkan mukjizat-mukjizat Kudrat serta hadiah-hadiah Rahmat, yang terjadi setiap tahun, setiap abad, serta sepanjang umur alam.

Maka salat fardu, yang merupakan tugas utama fitrah, dasar ubudiyah, serta kewajiban yang pasti, patut dan paling sesuai pada waktu-waktu ini.

BUTIR HIKMAH KELIMA

Manusia pada dasarnya sangat lemah. Padahal, segala sesuatu mengganggunya, menyentuh perasaannya, dan menyakitinya. Ia juga sangat tidak berdaya. Padahal, musibah dan musuhnya sangat banyak. Ia juga sangat tidak mampu mencukupi dirinya sendiri. Padahal, keperluannya sangat banyak. Ia juga malas dan tidak mampu. Padahal, beban-beban kehidupan sangat berat. Sifatnya sebagai manusia juga membuatnya berkaitan dengan kainat. Padahal, lenyap dan berpisahnya hal-hal yang dicintai serta diakrabinya terus-menerus melukainya. Akal juga memperlihatkan tujuan-tujuan tinggi serta buah-buah yang kekal kepadanya. Padahal, jangkauan tangannya terbatas, umurnya pendek, kemampuannya terbatas, dan sabarnya singkat. Dalam keadaan ini, jelas dapat dipahami betapa perlu ruh menghadap Hadirat Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan Sang Rahîm Dzul-Jamâl pada waktu fajar melalui permohonan serta salat, menyampaikan keadaannya, dan meminta taufik serta pertolongan; serta betapa hal ini menjadi titik sandaran yang diperlukan untuk menanggung pekerjaan dan tugas yang akan menimpanya serta dibebankan di punggungnya dalam alam siang berikutnya. Waktu zuhur adalah puncak siang yang mulai condong menuju akhir, saat pekerjaan harian menuju selesai, waktu istirahat sementara dari tekanan kesibukan, waktu ruh perlu bernapas dari lalai serta linglung akibat pekerjaan dunia sementara yang berat dan tidak kekal, serta saat nikmat-nikmat Ilahi tampak.

Ruh manusia terbebas dari tekanan itu, keluar dari lalai dan dari hal-hal yang tanpa makna serta tidak kekal, pergi ke Hadirat Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki, Al-Qayyûm Yang Kekal, melipat tangan, bersyukur dan memuji-Nya atas seluruh nikmat, serta meminta pertolongan; menyatakan keadaannya yang tak berdaya dengan rukuk di hadapan Jalal dan Keagungan-Nya; serta bersujud di hadapan Kesempurnaan-Nya yang tidak lenyap dan Keindahan-Nya yang tiada banding, menyatakan rasa kagum, cinta, dan sikap merendahkan diri; orang yang tidak memahami betapa indah, menyenangkan, perlu, dan sesuai salat zuhur yang berarti semua ini, bukanlah manusia. Adapun waktu asar menyerupai dan mengingatkan musim gugur yang menyedihkan, masa tua yang penuh kesedihan, serta musim akhir zaman yang menyakitkan. Waktu itu juga saat pekerjaan harian berakhir, saat nikmat-nikmat Ilahi yang diperolehnya hari itu, seperti kesehatan, keselamatan, dan khidmah yang baik, membentuk jumlah yang besar; serta saat matahari besar yang condong untuk tenggelam mengumumkan bahwa manusia adalah petugas yang bertamu dan segala sesuatu sementara serta tidak tetap.

Kini ruh manusia, yang menghendaki hidup kekal, diciptakan untuk hidup kekal, mengagumi karunia, dan merasa pedih karena perpisahan, bangkit, berwudu, lalu menjalankan salat asar pada waktu ini; yakni menyampaikan munajat ke Hadirat Shamad Sang Qadîm Yang Kekal dan Al-Qayyûm Yang Kekal Selamanya, berlindung pada Perhatian Rahmat-Nya yang tidak lenyap dan tiada batas, bersyukur serta memuji-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, rukuk dengan rendah di hadapan Kemuliaan Rububiyah-Nya, bersujud dengan merendahkan diri di hadapan Hak-Nya untuk disembah yang Kekal, menemukan penghiburan hati serta ketenteraman ruh yang hakiki, dan bersiap berubudiyah di Hadirat Kebesaran-Nya; siapa yang benar-benar manusia akan memahami betapa luhur tugas ini, betapa sesuai khidmah ini, betapa tepat memenuhi kewajiban fitrah ini, bahkan betapa menyenangkan kebahagiaan yang diperoleh. Waktu magrib menyerupai saat makhluk-makhluk musim panas dan musim gugur yang lembut serta indah tenggelam dalam perpisahan yang menyedihkan ketika musim dingin mulai datang. Ia juga mengingatkan saat manusia meninggal, berpisah dari semua yang dicintainya dalam perpisahan yang menyakitkan, lalu masuk ke kubur. Ia juga menyerupai serta mengingatkan saat dunia meninggal dalam gempa sakaratulmaut, seluruh penghuninya berpindah ke alam-alam lain, dan lampu negeri ujian ini dipadamkan; waktu ini juga memperingatkan dengan keras orang-orang yang memuja segala yang mereka cintai, yang tenggelam dan lenyap.

Maka, pada waktu seperti ini, untuk salat magrib, ruh manusia yang secara fitrah merupakan cermin yang merindukan Keindahan Yang Kekal, menghadapkan wajahnya kepada Arasy Keagungan Sang Qadîm Yang tidak pernah lenyap dan Sang Bâqî Yang tidak pernah sirna, yang melakukan pekerjaan-pekerjaan agung ini serta memutar dan mengubah alam-alam yang besar ini; ia mengucapkan "Allahu Ekber" di atas segala yang sementara ini, melepaskan tangannya dari semuanya, melipat tangan untuk berkhidmah kepada Maulâ, berdiri di Hadirat Zat Yang Terus Ada dan Kekal, lalu dengan mengucapkan "Elhamdülillah", memuji serta menyanjung Kesempurnaan-Nya yang tanpa kekurangan, Keindahan-Nya yang tiada banding, dan Rahmat-Nya yang tiada batas; dengan mengucapkan

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

, ia menyampaikan ubudiyah serta permohonan pertolongan di hadapan Rububiyah-Nya yang tanpa pembantu, Hak-Nya untuk disembah yang tanpa sekutu, dan Kerajaan-Nya yang tanpa menteri...

Ia juga rukuk di hadapan Kebesaran-Nya yang tiada batas, Kudrat-Nya yang tak terbatas, dan Kemuliaan-Nya yang tanpa kelemahan; bersama seluruh kainat, ia menyatakan kelemahan serta keadaan dirinya yang tak berdaya, penuh kebutuhan serta rendah, mengucapkan

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻰَ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ

, dan bertasbih kepada Rabb-nya Yang Agung; ia juga bersujud di hadapan Keindahan Zat-Nya yang tidak lenyap, Sifat-Sifat-Nya yang Suci dan tidak berubah, serta Kesempurnaan-Nya yang Kekal dan tidak berganti; dengan kagum serta merendahkan diri, ia meninggalkan segala selain-Nya dan mengumumkan cinta serta ubudiyahnya; ia juga menemukan Sang Jamîl Yang Kekal dan Sang Rahîm Yang Kekal Selamanya sebagai ganti semua yang sementara, lalu dengan mengucapkan

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻰَ الْاَعْلٰى

, menyatakan Rabb-nya Yang Mahatinggi Mahasuci, Yang Suci dari lenyap dan Bebas dari kekurangan... Kemudian ia duduk dan bertasyahud, mempersembahkan penghormatan-penghormatan yang penuh berkah serta selawat-selawat yang baik dari seluruh makhluk atas nama dirinya kepada Sang Jamîl Yang tidak pernah lenyap dan Sang Jalîl Yang tidak pernah sirna; dengan menyampaikan salam kepada Rasul-Nya Yang Paling Mulia ﷺ, ia memperbarui baiatnya dan menyatakan ketaatan pada perintah-perintah Rasul itu ﷺ; untuk memperbarui dan menerangi imannya, ia menyaksikan keteraturan istana kainat ini yang penuh hikmah dan bersaksi atas Keesaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl...

Ia juga bersaksi atas kerasulan Muhammad ﷺ dari bangsa Arab, penyeru Kerajaan Rububiyah, penyampai apa yang diridai-Nya, serta penerjemah ayat-ayat kitab kainat; bagaimana mungkin orang yang tidak memahami bahwa salat magrib yang berarti semua ini merupakan tugas yang begitu lembut dan bersih, khidmah yang begitu berharga dan nikmat, ubudiyah yang begitu menyenangkan dan indah, hakikat yang begitu sungguh-sungguh, serta percakapan yang kekal dan kebahagiaan yang tetap dalam rumah tamu yang sementara ini, dapat menjadi manusia! Pada waktu isya, sisa-sisa jejak siang di ufuk pun lenyap dan alam malam menutupi kainat. Tasarruf Rabbani Sang Qadîr Dzul-Jalâl,

ﻣُﻘَﻠِّﺐُ ﺍﻟَّﻴْﻞِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ

, dalam mengubah halaman putih itu menjadi halaman hitam ini, mengingatkan Perbuatan-Perbuatan Ilahi Sang Hakîm Dzul-Kamâl,

ﻣُﺴَﺨِّﺮُ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ

, dalam mengubah halaman hijau musim panas yang berhias menjadi halaman putih musim dingin yang dingin. Waktu ini juga menyerupai Syuunat Ilahi Sang Khâliq kematian dan kehidupan ketika, seiring berjalannya waktu, sisa-sisa jejak penghuni kubur pun terputus dari dunia ini dan sepenuhnya berpindah ke alam lain. Ia juga menyerupai dan mengingatkan Tasarruf Jalal serta Tajalli Keindahan Sang Khâliq bumi dan langit ketika dunia yang sempit, sementara, dan rendah ini hancur sepenuhnya, meninggal dalam sakaratulmaut yang besar, lalu alam akhirat yang luas, kekal, dan agung tersingkap.

Keadaan ini juga membuktikan bahwa Sang Mâlik dan Pengelola Hakiki kainat ini, Ma'bûd dan Kekasih Yang Hakiki, hanya dapat merupakan Zat yang membalik malam dan siang, musim dingin dan musim panas, dunia dan akhirat seperti halaman-halaman sebuah kitab dengan mudah, menulis dan menghapus, serta mengubahnya; Sang Qadîr Mutlak Yang menguasai semuanya. Maka ruh manusia, yang tak berdaya dan lemah tanpa batas, serba kekurangan dan memiliki kebutuhan tanpa batas, tenggelam dalam gelap masa depan yang tiada batas, serta terombang-ambing di tengah peristiwa-peristiwa yang tiada batas, pada waktu isya dengan makna ini mengucapkan

لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ

seperti Ibrahim, lalu berlindung melalui salat ke Hadirat Sang Ma'bûd Yang tidak pernah lenyap dan Sang Kekasih Yang tidak pernah sirna; dalam alam yang sementara, umur yang sementara, dunia yang gelap, dan masa depan yang gelap ini, ia bermunajat dengan Sang Bâqî Yang Kekal Selamanya; dalam sedikit percakapan yang kekal dan beberapa menit umur yang kekal, ia melihat serta memohon Perhatian Rahmat dan Cahaya Hidayah Ar-Rahmân Ar-Rahîm, yang akan menaburkan cahaya ke dunianya, menerangi masa depannya, serta membalurkan obat pada luka-lukanya yang muncul dari perpisahan dan lenyapnya makhluk serta teman-temannya...

Ia juga melupakan dunia yang untuk sementara melupakan dirinya dan bersembunyi, mencurahkan kepedihannya dengan tangisan hati di Hadirat Rahmat; sebelum masuk ke tidur yang menyerupai kematian, untuk menghadapi apa pun yang mungkin terjadi, ia menjalankan tugas ubudiyah terakhirnya dan bangkit untuk salat agar menutup buku amal hariannya dengan Husnul Khatimah; yakni menghadap Ma'bûd dan Kekasih Yang Kekal sebagai ganti semua yang dicintainya dan bersifat sementara, Sang Qadîr Yang Karîm sebagai ganti semua yang tak berdaya yang kepadanya ia meminta-minta, serta Sang Hafîz Yang Rahîm untuk terbebas dari kejahatan segala yang berbahaya yang membuatnya gemetar... Ia juga memulai dengan Al-Fatihah; yakni, sebagai ganti memuji dan berutang budi secara sia-sia serta tidak pada tempatnya kepada makhluk-makhluk yang tidak sempurna serta penuh kebutuhan, ia memuji dan menyanjung Rabbul-alamin, Yang Mahasempurna, Al-Ghaniyy Yang Mutlak, serta Rahîm lagi Karîm...

Ia juga naik menuju ucapan langsung kepada Allah سُبْحَانَهُ, ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ; yakni, meskipun kecil, seakan tidak ada, dan tanpa pelindung, dengan mengikatkan diri kepada Mâlik Yaumid-dîn, Sang Sultan Yang Azali dan Mahakekal, ia memasuki kedudukan sebagai tamu yang disayangi serta petugas penting dalam kainat ini; dengan mengucapkan

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

, atas nama seluruh makhluk, ia mempersembahkan ibadah-ibadah serta permohonan-permohonan pertolongan dalam jemaah besar dan perkumpulan agung kainat kepada-Nya... Dengan mengucapkan

ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ

, ia juga memohon hidayah menuju sirat mustakim, jalan bercahaya yang menuju kebahagiaan abadi di tengah gelap masa depan... Ia juga memikirkan Kebesaran Zat Dzul-Jalâl, Yang memiliki tumbuhan dan hewan yang kini tertidur, matahari-matahari yang tersembunyi, serta bintang-bintang yang terjaga, semuanya tunduk kepada Perintah-Nya seperti prajurit-prajurit, menjadi lampu-lampu serta pelayan-pelayan-Nya dalam rumah tamu alam ini; lalu ia mengucapkan "Allahu Ekber" dan rukuk...

Ia juga memikirkan sujud agung seluruh makhluk; yakni, sebagaimana makhluk-makhluk yang tidur pada malam ini, jenis-jenis makhluk pada setiap tahun dan setiap abad, bahkan bumi dan dunia, seperti pasukan yang tertib, bahkan prajurit yang taat, ketika dibebaskan dari tugas ubudiyah dunia melalui Perintah ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ, yakni dikirim ke alam gaib, dengan sangat teratur mengucapkan "Allahu Ekber" dan bersujud pada sajadah tenggelam serta lenyap... Dan dengan seruan yang menghidupkan serta membangunkan dari Perintah ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ, pada musim semi mereka kembali dibangkitkan, sebagian sebagai diri yang sama, sebagian sebagai yang serupa, lalu bangkit dan siap berkhidmah kepada Maulâ; demikian pula manusia kecil ini mengikuti mereka, lalu di hadirat Sang Rahmân Dzul-Kamâl dan Sang Rahîm Dzul-Jamâl, dalam cinta yang berpadu dengan kagum, sikap merendahkan diri yang berpadu dengan hidup kekal, serta sikap tunduk yang berpadu dengan kemuliaan, ia mengucapkan "Allahu Ekber" dan bersujud, yakni naik dalam suatu mi'raj; tentu engkau telah memahami betapa menyenangkan, indah, manis, tinggi, berharga dan nikmat, masuk akal dan sesuai tugas, khidmah, ubudiyah, serta hakikat yang sungguh-sungguh berupa salat isya yang berarti semua ini.

Maka karena setiap satu dari lima waktu ini merupakan tanda perubahan agung, petunjuk Perbuatan-Perbuatan Rabbani yang besar, serta tanda Nikmat-Nikmat Ilahi yang menyeluruh, penetapan salat fardu, yang merupakan utang dan kewajiban, pada waktu-waktu tersebut mengandung hikmah yang sempurna.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﻣُﻌَﻠِّﻤًﺎ ﻟِﻌِﺒَﺎﺩِﻙَ ﻟِﻴُﻌَﻠِّﻤَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻔِﻴَّﺔَ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺘِﻚَ ﻭَ ﺍﻟْﻌُﺒُﻮﺩِﻳَّﺔَ ﻟَﻚَ ﻭَ ﻣُﻌَﺮِّﻓًﺎ ﻟِﻜُﻨُﻮﺯِ ﺍَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻚَ ﻭَ ﺗَﺮْﺟُﻤَﺎﻧًﺎ لِاٰيَاتِ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﻛَٓﺎﺋِﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﻣِﺮْﺍٰﺗًﺎ ﺑِﻌُﺒُﻮﺩِﻳَّﺘِﻪ۪ ﻟِﺠَﻤَﺎﻝِ ﺭُﺑُﻮﺑِﻴَّﺘِﻚَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ٓ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻢِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَٓﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ

--

Kalimat Kedua Puluh Satu

Bagian Pertama

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻥَّ الصَّلَاةَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣَﻮْﻗُﻮﺗًﺎ

Pernah seorang yang besar dari segi umur, tubuh, serta pangkat mengatakan kepada saya, "Salat itu baik. Namun, melakukannya lima kali setiap hari, setiap hari, terlalu banyak. Karena tidak berakhir, ia membosankan." Setelah cukup lama berlalu sejak perkataan orang itu, saya mendengarkan nafsu saya. Saya mendengarnya mengatakan perkataan yang sama; saya memandangnya dan melihat bahwa ia menerima pelajaran yang sama dari setan melalui telinga kemalasan. Saat itu, saya memahami bahwa orang tersebut seolah mengucapkan perkataan itu atas nama seluruh nafsu ammarah, atau dibuat mengucapkannya. Saya pun mengatakan, "Karena nafsu saya adalah nafsu ammarah, dan orang yang tidak memperbaiki nafsunya tidak dapat memperbaiki orang lain, maka saya mulai dari nafsu saya." Saya berkata: Wahai nafsu! Sebagai tanggapan atas perkataan yang engkau ucapkan dalam kebodohan yang tidak menyadari dirinya bodoh, di atas ranjang kemalasan, dan dalam tidur kelalaian, dengarkanlah lima teguran dari saya.

TEGURAN PERTAMA

Wahai nafsuku yang malang! Apakah umurmu abadi? Adakah bukti pasti bagimu bahwa engkau akan tetap hidup hingga tahun mendatang, bahkan hingga besok? Yang membuatmu bosan ialah sangkaan akan hidup abadi. Demi kesenangan, engkau bermanja-manja seolah akan tinggal selama-lamanya di dunia. Jika engkau memahami bahwa umurmu sedikit dan berlalu tanpa manfaat, tentu menghabiskan satu dari dua puluh empat bagiannya untuk khidmah yang indah, menyenangkan, menenteramkan, serta penuh Rahmat, yang menjadi dasar kebahagiaan kehidupan abadi yang sejati, jauh dari membosankan, justru menjadi sebab bangkitnya kerinduan serius serta kenikmatan yang menyenangkan.

TEGURAN KEDUA

Wahai nafsuku yang memanjakan perut! Setiap hari, setiap hari, engkau makan roti, minum air, serta menghirup udara; apakah semua itu membuatmu bosan? Karena tidak, sebab kebutuhan berulang, engkau bukan merasa bosan, melainkan menikmati. Maka, salat, yang menarik dan mendatangkan makanan bagi hatiku, air kehidupan bagi ruhku, serta angin sepoi-sepoi bagi latifah Rabbani-ku (daya halus dalam diriku), para sahabatmu dalam rumah tubuhku, juga seharusnya tidak membuatmu bosan. Ya, makanan serta kekuatan hati yang terus terkena dan menderita perasaan pedih serta derita tanpa batas, yang terpikat dan penuh cinta pada kenikmatan serta harapan tanpa batas, dapat diperoleh dengan mengetuk Pintu Sang Rahîm Yang Karîm, Yang berkuasa atas segala sesuatu, melalui permohonan. Ya, air kehidupan ruh yang berkaitan dengan sebagian besar makhluk yang pergi dengan sangat cepat sambil meratap karena perpisahan dalam dunia sementara ini dapat diminum dengan menghadap melalui salat kepada mata air Rahmat Sang Ma'bûd Yang Kekal, Sang Kekasih Yang Kekal Selamanya, Yang menggantikan segala sesuatu. Ya, suatu rahasia manusia yang berkesadaran, suatu latifah Rabbani yang bercahaya, yang secara fitrah menginginkan hidup abadi dan diciptakan untuk selamanya, yang menjadi cermin Zat Yang Azali dan Abadi, serta lembut dan halus tanpa batas, tentu sangat membutuhkan napas dalam keadaan dunia yang muram, menekan, menyusahkan, sementara, gelap, serta mencekik ini, dan hanya dapat bernapas melalui jendela salat.

TEGURAN KETIGA

Wahai nafsuku yang tidak sabar! Apakah masuk akal bahwa hari ini engkau memikirkan beban ibadah, kesulitan salat, serta kepayahan musibah pada hari-hari yang telah berlalu, lalu menderita; dan hari ini juga membayangkan tugas ibadah, khidmah salat, serta derita musibah pada hari-hari mendatang, lalu tidak sabar? Dalam sikap tidak sabar ini, engkau seperti panglima linglung berikut: pasukan sayap kanan musuh telah bergabung dengan pasukannya di sebelah kanan dan menjadi kekuatan baru baginya, tetapi ia justru mengirim kekuatan pentingnya ke sayap kanan dan melemahkan pusat. Di sayap kiri belum ada pasukan musuh dan mereka belum datang, tetapi ia mengirim pasukan besar dan memberikan perintah, "Tembak!" Ia membuat pusat sepenuhnya kehilangan kekuatan. Musuh memahami keadaannya, menyerang pusat, dan menghancurkannya. Ya, engkau seperti itu. Sebab, kepayahan hari-hari lalu telah berubah menjadi rahmat hari ini; deritanya telah pergi, kenikmatannya tetap ada. Bebannya telah bergabung dengan karamah, dan kesulitannya berubah menjadi pahala. Maka, engkau seharusnya bukan merasa bosan karenanya, melainkan memperoleh semangat baru, kenikmatan segar, serta kesungguhan serius untuk terus melanjutkan. Adapun hari-hari mendatang, karena belum datang, memikirkannya sejak sekarang lalu merasa bosan dan kehilangan semangat merupakan kegilaan seperti memikirkan lapar serta haus pada hari-hari itu, lalu berteriak-teriak hari ini.

Karena hakikatnya demikian, jika berakal, dalam hal ibadah pikirkanlah hari ini saja dan katakan, "Saya menghabiskan satu jam darinya untuk khidmah yang menyenangkan, indah, dan luhur, dengan upah sangat besar serta beban sangat sedikit." Saat itu, semangatmu yang padam dan pahit berubah menjadi usaha yang manis. Wahai nafsuku yang tidak sabar! Engkau diwajibkan menjalankan tiga kesabaran. Yang satu: sabar dalam ketaatan. Yang satu: sabar menjauhi maksiat. Yang lain: sabar menghadapi musibah. Jika berakal, jadikan hakikat yang terlihat dalam perumpamaan pada teguran ketiga ini sebagai penuntun. Ucapkanlah "Yâ Sabûr" dengan berani, dan pikullah ketiga kesabaran itu. Jika tidak engkau sebarkan ke jalan yang salah, kekuatan sabar yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq berikan kepadamu dapat mencukupi setiap kesulitan dan musibah; bertahanlah dengan kekuatan itu.

TEGURAN KEEMPAT

Wahai nafsuku yang linglung! Apakah tugas ubudiyah ini tidak memberikan hasil, atau upahnya sedikit, sehingga membuatmu bosan? Padahal, jika seseorang memberimu sedikit uang atau menakut-nakutimu, ia membuatmu bekerja hingga petang, dan engkau bekerja tanpa kehilangan semangat. Apakah salat yang menjadi makanan serta kecukupan bagi hatimu yang tak berdaya dan serba kurang dalam rumah tamu dunia ini; makanan serta sinar di kubur, yang tentu merupakan suatu persinggahanmu; bukti serta surat pembebasan di mahsyar, yang pasti menjadi pengadilanmu; dan cahaya serta burak pada jembatan sirat, yang akan dilalui, mau ataupun tidak, tidak memberikan hasil atau sedikit upahnya? Jika seseorang menjanjikan hadiah seratus lira kepadamu, ia membuatmu bekerja seratus hari. Orang itu dapat mengingkari janji, tetapi engkau percaya kepadanya dan bekerja tanpa kehilangan semangat. Jika Zat yang mustahil mengingkari Janji menjanjikan upah seperti surga serta hadiah seperti kebahagiaan abadi kepadamu, dan menggunakanmu untuk tugas yang sangat indah dalam waktu sangat sedikit, tetapi engkau tidak berkhidmah, atau dengan khidmah setengah-setengah, enggan, seperti kerja paksa, atau bosan, menuduh-Nya dalam Janji-Nya serta meremehkan hadiah-Nya, tidakkah engkau memikirkan bahwa engkau layak mendapat teguran yang sangat keras serta azab yang mengerikan?

Padahal, di dunia engkau bekerja tanpa kehilangan semangat dalam pekerjaan paling berat karena takut penjara; apakah takut pada penjara abadi seperti neraka tidak memberimu semangat untuk khidmah yang paling ringan dan halus?

TEGURAN KELIMA

Wahai nafsuku yang memuja dunia! Apakah semangatmu yang padam dalam ibadah serta kekuranganmu dalam salat berasal dari banyaknya kesibukan dunia, atau karena engkau tidak menemukan waktu akibat sibuk mencari penghidupan? Apakah engkau diciptakan semata-mata untuk dunia, sehingga menghabiskan seluruh waktumu baginya? Engkau mengetahui bahwa dari segi kemampuan bawaan, engkau berada di atas seluruh hewan, sedangkan dari segi daya untuk menyediakan kebutuhan hidup dunia, engkau tidak dapat menyamai seekor burung pipit. Mengapa dari hal ini engkau tidak memahami bahwa tugas utamamu bukan berusaha keras seperti hewan, melainkan berusaha untuk kehidupan yang benar-benar kekal seperti manusia sejati? Selain itu, sebagian besar yang engkau sebut kesibukan dunia adalah kesibukan tak berguna yang tidak berkaitan denganmu, tetapi engkau campuri dan kacaukan tanpa perlu. Engkau meninggalkan yang paling perlu, lalu menghabiskan waktu dengan pengetahuan yang paling tidak diperlukan, seolah memiliki umur ribuan tahun. Misalnya, engkau menghabiskan waktumu yang berharga dengan hal-hal tak bernilai, seperti "Bagaimana keadaan cincin-cincin di sekeliling Saturnus?" dan "Berapa banyak ayam di Amerika?" Seolah engkau memperoleh kesempurnaan dari ilmu astronomi serta ilmu statistik. Jika engkau berkata:

"Yang menghalangi saya dari salat dan ibadah serta memadamkan semangat saya bukan hal-hal tak perlu seperti itu, melainkan pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencari penghidupan." Maka, saya juga mengatakan kepadamu:

Jika engkau bekerja dengan upah harian seratus kurus, lalu seseorang datang dan mengatakan, "Mari, galilah tempat ini sekitar sepuluh menit; engkau akan menemukan sebuah intan dan sebuah zamrud senilai seratus lira," tetapi engkau mengatakan kepadanya, "Tidak, saya tidak datang, karena upah harian saya akan dipotong sepuluh kurus dan nafkah saya berkurang," tentu engkau mengetahui betapa gila alasan itu. Demikian pula, engkau bekerja di kebun ini untuk nafkahmu. Jika meninggalkan salat fardu, buah seluruh usahamu hanya terbatas pada nafkah dunia yang tidak penting dan tidak berkah. Jika menghabiskan waktu istirahat serta mengambil napas untuk salat, yang menjadi dasar ketenteraman ruh serta napas hati, saat itu, bersama nafkah dunia yang berkah, engkau menemukan dua tambang maknawi, sumber penting bagi nafkah akhirat serta bekal akhiratmu. Tambang pertama: Melalui niat yang baik, engkau memperoleh bagian dari tasbih setiap tumbuhan serta setiap pohon yang engkau tanam di seluruh kebunmu {(Catatan kaki): Pembahasan ini merupakan pelajaran bagi seseorang dalam suatu kebun, yang diterangkan dengan cara ini.}, baik berbunga maupun berbuah. Tambang kedua: Siapa pun yang memakan hasil kebun ini, hewan ataupun manusia, sapi ataupun lalat, pembeli ataupun pencuri, menjadi sedekah bagimu.

Namun, dengan syarat bahwa engkau mengelolanya atas Nama Ar-Razzâq Yang Hakiki dan dalam lingkup Izin-Nya, serta memandang dirimu sebagai petugas pembagian yang memberikan harta-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya... Lihatlah, betapa besar kerugian orang yang meninggalkan salat, betapa penting kekayaan yang hilang darinya. Ia kehilangan kedua hasil serta kedua tambang itu, yang memberi semangat sangat besar untuk berusaha dan menjamin kekuatan maknawi besar dalam bekerja, lalu bangkrut. Bahkan, semakin tua, ia bosan berkebun dan kehilangan semangat. Ia akan mengatakan, "Apa urusan saya? Saya sudah akan meninggalkan dunia. Untuk apa saya memikul kepayahan sebanyak ini?" Lalu ia membiarkan dirinya menjadi malas. Namun, orang yang pertama mengatakan, "Bersama ibadah yang lebih banyak, saya akan berusaha mencari rezeki halal, agar mengirim lebih banyak cahaya ke kubur saya dan menyediakan lebih banyak bekal bagi akhirat saya." Kesimpulannya:

Wahai nafsu! Ketahuilah bahwa hari kemarin telah lepas dari tanganmu. Adapun besok, engkau tidak memegang bukti bahwa engkau memilikinya. Maka, ketahuilah bahwa umurmu yang sejati ialah hari yang sedang engkau jalani. Masukkanlah sekurang-kurangnya satu jam dari harimu ke dalam masjid atau di atas sajadah, yang merupakan peti simpanan akhirat bagi masa depan sejati, seperti uang cadangan. Ketahuilah pula bahwa setiap hari baru adalah pintu alam baru bagimu serta bagi setiap orang. Jika tidak salat, alammu pada hari itu berlalu dalam keadaan gelap serta kacau, dan bersaksi melawanmu dalam alam mitsal. Sebab, setiap orang memiliki alamnya sendiri dari alam ini pada setiap hari. Keadaan alam itu juga mengikuti hati serta amal orang tersebut. Sebagaimana istana megah yang terlihat dalam cerminmu mengikuti warna cermin: jika hitam, ia terlihat hitam; jika merah, ia terlihat merah. Ia juga mengikuti keadaan cermin. Jika kaca cermin itu rata, ia memperlihatkan istana dengan indah. Jika tidak rata, ia memperlihatkannya dengan jelek. Sebagaimana ia memperlihatkan hal-hal paling halus dengan kasar, engkau mengubah bentuk alammu sendiri melalui hati, akal, amal, serta perasaanmu. Engkau dapat membuatnya bersaksi melawanmu atau untukmu. Jika salat dan dengan salat itu menghadap Sang Pembuat Dzul-Jalâl dari alam tersebut, seketika alam yang menghadap kepadamu menjadi terang.

Seolah salatmu adalah lampu listrik, dan niatmu salat menyentuh tombolnya; salat itu mengusir gelap dalam alam tersebut dan memperlihatkan bahwa pergantian serta gerakan dalam keadaan dunia yang kacau-balau dan tercerai-berai itu merupakan keteraturan penuh Hikmah serta Tulisan Kudrat yang bermakna. Salat menebarkan suatu cahaya dari ayat yang penuh cahaya,

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ

, ke dalam hatimu. Melalui pantulan cahaya itu, ia menerangi alammu pada hari tersebut dan membuatnya bersaksi dengan bercahaya untukmu. Jangan sekali-kali berkata:

"Betapa jauh salat saya dari hakikat salat ini!" Sebab, biji kurma menggambarkan pohonnya sendiri sebagaimana pohon kurma; perbedaannya hanya antara ringkasan dan perincian. Demikian pula, salat orang awam seperti engkau dan saya, walaupun ia tidak merasakannya, memiliki bagian dari cahaya ini serta suatu rahasia hakikat ini, seperti salat seorang wali agung, walaupun kesadaranmu tidak menjangkaunya. Namun, perkembangan serta cahayanya berbeda-beda menurut tingkatnya. Sebagaimana ada banyak tingkat dari biji kurma hingga pohon kurma yang sempurna, dalam tingkat-tingkat salat dapat terdapat lebih banyak tingkat lagi. Namun, dasar hakikat bercahaya itu terdapat pada seluruh tingkat tersebut.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ اَلصَّلَاةُ ﻋِﻤَﺎﺩُ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﻭَﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ

--