Risalah Nur — Bahasa Indonesia

BAGIAN KELIMA TAMBAHAN

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

BAGIAN KELIMA TAMBAHAN

Ya, berdasarkan keterangan tegas hadis, seratus dua puluh empat ribu nabi, yang merupakan pribadi-pribadi paling istimewa umat manusia, dengan ijmak dan mutawatir bersama-sama memberitakan adanya akhirat, bahwa manusia akan diarahkan ke sana, serta bahwa Sang Khâliq kainat ini akan mendatangkan akhirat yang telah Dia janjikan secara pasti. Mereka bersandar sebagian pada apa yang disaksikan langsung dan sebagian pada haqqul yaqin. Seratus dua puluh empat juta wali, yang membenarkan kabar para nabi melalui tersingkapnya hakikat dan dengan melihat langsung dalam bentuk ilmul yaqin, juga bersaksi atas adanya akhirat. Seluruh Asma Sang Pembuat Yang Hakîm dari kainat ini, melalui Manifestasi Asma-Asma itu di dunia, dengan jelas menuntut alam yang kekal, sehingga juga menunjukkan adanya akhirat. Pada setiap musim semi, Kudrat Azali yang tanpa batas menghidupkan jenazah pohon-pohon mati yang tak terhitung dan berdiri di muka bumi melalui "Perintah kun fayakûn", sehingga semuanya dibangkitkan setelah kematian. Sebagai ratusan ribu contoh kebangkitan dan penyebaran, Dia menghimpun dan menyebarkan tiga ratus ribu jenis dari golongan tumbuhan serta bangsa hewan. Hikmah Abadi yang tak terhitung dan tanpa pemborosan, Rahmat Yang Kekal serta Perhatian Yang Tetap, yang memberi makan seluruh makhluk berjiwa yang membutuhkan rezeki dengan Kasih Sayang sempurna dan dengan cara sangat menakjubkan, serta memperlihatkan jenis hiasan dan keindahan tak terhitung dalam waktu singkat pada setiap musim semi, juga dengan jelas mengharuskan adanya akhirat. Pada manusia, buah paling sempurna kainat, ciptaan yang paling dicintai Sang Khâliq kainat, serta yang paling erat berkaitan dengan segala yang ada dalam kainat, terdapat "cinta kepada hidup kekal", "kerinduan untuk kekal selamanya", serta "harapan akan hidup selamanya", yang kuat, tak tergoyahkan, dan tetap. Semua itu juga memberi isyarat serta menunjukkan dengan jelas. Semuanya membuktikan adanya alam yang kekal, negeri akhirat, serta negeri kebahagiaan setelah alam fana ini dengan kepastian sedemikian rupa, sehingga mengharuskan menerima adanya akhirat sejelas adanya dunia. {(Catatan kaki): Ya, mudahnya memberitakan sesuatu yang ada serta sangat sulitnya mengingkari dan menyangkal dapat terlihat dari perumpamaan ini: Seseorang berkata, "Ada suatu kebun yang sangat menakjubkan di atas bola bumi, yang buahnya adalah kaleng-kaleng susu." Orang lain berkata, "Tidak ada." Orang yang membuktikan dapat dengan mudah membuktikan pernyataannya hanya dengan memperlihatkan tempat kebun itu atau sebagian buahnya. Orang yang mengingkari dapat membuktikan penyangkalannya dengan melihat dan memperlihatkan seluruh bola bumi. Demikian pula, terlepas dari fakta bahwa para pemberi kabar tentang surga telah memperlihatkan ratusan ribu limpahan, buah, serta jejaknya, kesaksian dua saksi yang jujur atas adanya surga sudah cukup. Adapun orang yang mengingkarinya hanya dapat membuktikan pengingkarannya dan memperlihatkan bahwa surga tidak ada setelah memandang, melihat, serta memeriksa alam tanpa batas dan waktu abadi tanpa batas. Wahai saudara-saudaraku yang lanjut usia, pahamilah betapa kuatnya iman kepada akhirat. Bedîüzzaman Said Nursî} Karena pelajaran terpenting yang diberikan Al-Qur'an Al-Hakîm kepada kita ialah iman kepada akhirat, iman itu begitu kuat, dan di dalamnya terdapat harapan serta penghiburan sedemikian rupa, sehingga jika seratus ribu masa tua menimpa satu orang, penghiburan dari iman ini dapat menghadapinya, kita yang lanjut usia harus mengucapkan "Alhamdulillahi 'ala kamalil iman" dan bergembira atas masa tua kita.

--

Kalimat Kesebelas

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺿُﺤٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﺍِﺫَﺍ ﺗَﻠٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺍِﺫَﺍ ﺟَﻠّٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﺍﻟَّﻴْﻞِ ﺍِﺫَﺍ ﻳَﻐْﺸٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻨٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ الْاَرْضِ ﻭَﻣَﺎ ﻃَﺤٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﻣَﺎ ﺳَﻮّٰﻳﻬَﺎ ٭ ﺍﻟﺦ Wahai saudaraku! Jika engkau ingin sedikit memahami rahasia hikmah alam, teka-teki penciptaan manusia, serta isyarat hakikat salat, lihatlah kisah perumpamaan singkat ini bersama nafsuku: Pada suatu masa ada seorang sultan. Dari segi kekayaan, ia memiliki banyak khazanah. Dalam khazanah itu terdapat segala jenis permata, berlian, serta zamrud. Ia juga memiliki harta terpendam yang tersembunyi dan sangat menakjubkan. Dari segi kesempurnaan, ia memiliki banyak keahlian dalam karya-karya seni yang langka. Ia mengenal dan menguasai ilmu-ilmu menakjubkan yang tak terhitung. Ia juga mengetahui dan memahami ilmu-ilmu yang indah tanpa batas. Setiap pemilik keindahan dan kesempurnaan ingin melihat serta memperlihatkan keindahan dan kesempurnaannya sendiri. Sesuai rahasia ini, sultan yang agung itu juga ingin membuka suatu tempat pameran dan menyusun pameran-pameran di dalamnya, agar di depan orang banyak ia menampakkan serta memperlihatkan keagungan kekuasaannya, gemilang kekayaannya, keajaiban seninya, serta hal-hal langka dalam pengetahuannya. Agar ia menyaksikan keindahan serta kesempurnaan batinnya dengan dua cara: Yang pertama, melihat sendiri dengan pandangannya yang mengenal hal-hal terperinci. Yang kedua, memandang melalui pandangan orang lain. Berdasarkan hikmah ini, ia mulai membangun istana yang besar, luas, dan megah. Ia membaginya dengan cara kerajaan menjadi bagian-bagian serta ruang-ruang, menghiasnya dengan berbagai permata dari khazanahnya, memperindahnya dengan karya tangan seninya yang paling lembut dan indah, menata serta merapikannya dengan rincian paling halus dari ilmu hikmahnya, lalu melengkapinya dengan karya penuh mukjizat dari ilmu-ilmunya. Setelah menyelesaikannya, ia menghamparkan hidangan-hidangan di istana itu, yang mencakup makanan paling lezat dari seluruh jenis makanan serta nikmatnya. Ia menetapkan hidangan yang sesuai bagi setiap golongan. Ia menyiapkan jamuan umum dengan begitu dermawan dan penuh cinta pada seni, serta menyuguhkan nikmat berharga tanpa batas, sehingga seakan-akan setiap hidangan terwujud dari karya seratus seni yang halus. Kemudian ia mengundang penduduk dan rakyat dari seluruh penjuru negerinya untuk melihat pameran, menikmati pemandangan, serta menghadiri jamuan. Lalu ia memberitahukan hikmah istana dan makna isinya kepada seorang ajudannya yang paling mulia, serta menetapkannya sebagai guru dan orang yang menjelaskan. Agar melalui isi istana guru itu memperkenalkan pembuat istana kepada penduduk, memberitahukan isyarat hiasannya, mengajarkan tanda-tanda seninya, dan menjelaskan apa permata-permata tersusun serta hiasan-hiasan seimbang di dalamnya. Agar ia juga memperkenalkan kepada para pengunjung bagaimana semua itu menunjukkan kesempurnaan serta keahlian pemilik istana, memberitahukan adab masuk dan tata cara melihat pameran, serta menjelaskan upacara penghormatan yang sesuai dengan hal-hal yang diridai sultan yang tidak terlihat itu. Guru yang memperkenalkan ini memiliki pembantu pada setiap bagian. Ia sendiri berdiri di bagian terbesar di tengah murid-muridnya, dan menyampaikan pemberitahuan kepada seluruh penonton sebagai berikut: "Wahai penduduk! Tuan kita, raja istana ini, ingin memperkenalkan dirinya kepada kalian dengan memperlihatkan benda-benda ini serta membangun istana ini. Kalian pun kenalilah ia dan berusahalah mengenalnya dengan baik. Melalui hiasan-hiasan ini, ia juga ingin membuat kalian mencintainya. Kalian pun buatlah diri kalian dicintai olehnya dengan menghargai seninya serta mengagumi pekerjaannya. Melalui pemberian yang kalian lihat ini, ia juga memperlihatkan cintanya kepada kalian. Kalian pun cintailah ia melalui ketaatan. Dengan memberi nikmat serta memuliakan kalian seperti yang terlihat ini, ia juga memperlihatkan kasih sayang serta belas kasihnya kepada kalian. Kalian pun hormatilah ia melalui syukur. Melalui karya-karya kesempurnaannya ini, ia juga ingin memperlihatkan keindahan batinnya kepada kalian. Kalian pun perlihatkanlah kerinduan untuk melihatnya dan memperoleh perhatiannya. Dengan menaruh cap khusus, meterai khas, serta tanda tangan yang tak dapat ditiru pada setiap ciptaan dan benda berhias yang kalian lihat ini, ia juga ingin memperlihatkan bahwa segala sesuatu hanya miliknya, merupakan karya tangannya sendiri, serta bahwa ia satu dan tunggal, memiliki kemandirian dan tidak berbagi dengan pihak lain. Kalian pun kenali dan terimalah ia sebagai satu, tunggal, tanpa tandingan, tanpa bandingan, dan tiada duanya." Ia menyampaikan kepada penonton kata-kata lain seperti ini, yang sesuai dengan dirinya serta kedudukan itu. Kemudian penduduk yang masuk terbagi menjadi dua golongan: Golongan Pertama mengenal dirinya, berakal sehat, dan memiliki hati yang lurus. Karena itu, ketika memandang hal-hal menakjubkan dalam istana tersebut, mereka berkata, "Ada urusan besar dalam semua ini." Mereka juga memahami bahwa semua itu bukan percuma, bukan mainan biasa. Karena itu, mereka ingin tahu. Saat mereka berpikir sambil berkata, "Apakah rahasianya, apa yang ada di dalamnya?" tiba-tiba mereka mendengar pidato yang dijelaskan guru yang menjelaskan itu. Mereka memahami bahwa ia memiliki kunci seluruh rahasia. Mereka menuju kepadanya dan berkata, "Assalamu 'alaika, wahai guru! Sungguh, istana semegah ini memerlukan orang yang menjelaskan dengan jujur dan teliti sepertimu. Apa pun yang diberitahukan tuan kita kepadamu, mohon beritahukan kepada kami." Guru itu menyampaikan pidato-pidato yang telah disebutkan kepada mereka. Mereka mendengarkan dengan baik, menerima sepenuhnya, dan mengambil manfaat secara penuh. Mereka bertindak sesuai hal-hal yang diridai raja. Karena tindakan serta sikap mereka yang beradab ini menyenangkan raja, ia mengundang mereka ke istana lain yang istimewa, tinggi, dan tak terlukiskan, serta memberi mereka karunia. Ia juga memuliakan mereka dengan cara yang layak bagi raja yang begitu dermawan, sesuai bagi penduduk yang begitu taat, pantas bagi tamu yang begitu beradab, dan layak bagi istana yang begitu tinggi, lalu membuat mereka bahagia selamanya. Adapun Golongan Kedua, karena akalnya rusak dan hatinya padam, ketika memasuki istana mereka dikalahkan oleh nafsu dan tidak memedulikan sesuatu pun selain makanan lezat. Mereka menutup mata dari seluruh keindahan itu serta menutup telinga dari bimbingan guru dan peringatan murid-muridnya. Mereka makan seperti hewan lalu tertidur. Mereka meminum ramuan yang tidak untuk diminum, tetapi disiapkan untuk keperluan tertentu. Mereka mabuk, berteriak, serta membuat kekacauan, dan sangat mengganggu para tamu yang melihat pameran. Mereka berlaku tidak beradab terhadap aturan pembuat yang agung itu. Prajurit pemilik istana menangkap mereka dan memasukkannya ke penjara yang layak bagi orang yang tidak beradab seperti itu. Wahai kawan yang mendengarkan kisah ini bersamaku! Tentu engkau memahami bahwa penguasa yang agung itu membangun istana ini untuk tujuan-tujuan yang telah disebutkan. Terwujudnya tujuan itu bergantung pada dua hal: Yang pertama, adanya guru yang kita lihat serta dengar pidatonya. Sebab, jika ia tidak ada, seluruh tujuan menjadi percuma. Buku yang tidak dipahami, jika tanpa guru, tetap hanya berupa kertas yang tidak bermakna. Yang kedua, penduduk menerima serta mendengarkan ucapan guru itu. Jadi, adanya guru merupakan alasan adanya istana, dan penduduk mendengarkan merupakan sebab istana tetap ada. Karena itu, dapat dikatakan bahwa jika guru ini tidak ada, raja yang agung itu tidak akan membangun istana ini. Dapat pula dikatakan bahwa ketika penduduk tidak mendengarkan pengajaran guru tersebut, tentu istana itu akan diganti dan diubah. Wahai kawan! Kisah berakhir di sini. Jika engkau memahami rahasia perumpamaan ini, lihatlah dan pandanglah wajah hakikatnya: Istana itu adalah alam ini, yang atapnya ialah langit yang diterangi bintang-bintang tersenyum. Lantainya ialah muka bumi yang dihias berbagai bunga dari timur hingga barat. Raja itu adalah Zat Yang Mahasuci, Penguasa Yang Azali dan Abadi, yang tujuh lapis langit, bumi, serta segala yang ada di dalamnya menyucikan dan bertasbih kepada-Nya dengan bahasa masing-masing. Dia juga Sang Raja Yang Qadîr, Pemilik Keagungan serta Kudrat, yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, berada pada Arasy Rububiyah-Nya, menggilir malam serta siang seperti dua garis hitam dan putih yang berurutan, dan menulis ayat-ayat-Nya pada halaman alam; matahari, bulan, serta bintang tunduk kepada Perintah-Nya. Ruang-ruang istana itu adalah delapan belas ribu alam ini, yang masing-masing dihias dan ditata dengan cara yang sesuai. Karya-karya seni luar biasa yang engkau lihat dalam istana itu ialah mukjizat Kudrat Ilahi yang terlihat dalam alam ini. Makanan yang engkau lihat dalam istana itu menunjukkan buah-buah menakjubkan Rahmat Ilahi dalam alam ini, terutama pada musim panas, terutama dalam kebun-kebun Barla. Tungku serta dapur di sana ialah bumi yang di dalamnya terdapat api serta permukaan bumi di sini. Permata dari harta terpendam yang tersembunyi, yang engkau lihat dalam perumpamaan itu, merupakan contoh manifestasi Asma Ilahi yang suci dalam hakikat ini. Hiasan serta isyarat hiasan yang kita lihat dalam perumpamaan ialah ciptaan-ciptaan teratur serta hiasan seimbang dari Pena Kudrat yang memperindah alam ini, yang menunjukkan Asma Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Guru itu adalah pemimpin kita, Muhammad ﷺ. Para pembantunya ialah para nabi, 'alaihimus-salâm, dan murid-muridnya ialah para wali serta orang suci pilihan. Pelayan penguasa dalam istana itu menunjukkan para malaikat, 'alaihimus-salâm, dalam alam ini. Para tamu yang diundang melihat pameran dan menghadiri jamuan dalam perumpamaan menunjukkan jin, manusia, serta hewan yang menjadi pelayan manusia dalam rumah tamu dunia ini. Adapun dua golongan itu, yang pertama di sini ialah ahli iman, murid-murid Al-Qur'an Al-Hakîm, penafsir ayat-ayat kitab alam. Golongan lainnya ialah orang-orang kufur dan melampaui batas, yang mengikuti nafsu serta setan dan hanya mengenal kehidupan dunia; golongan yang seperti hewan, bahkan lebih rendah, tuli, bisu, dan sesat. Rombongan pertama, orang-orang bahagia serta saleh, mendengarkan guru yang memiliki dua peran ﷺ. Guru itu ﷺ merupakan hamba; dari segi ubudiyah, ia melukiskan dan memperkenalkan Rabb-nya, sehingga berperan sebagai utusan umatnya di Hadirat Allah subhânahu. Ia juga merupakan rasul; dari segi risalah, ia menyampaikan Hukum-Hukum Rabb-nya kepada jin serta manusia melalui Al-Qur'an. Jamaah yang bahagia ini mendengarkan rasul itu ﷺ serta memperhatikan Al-Qur'an. Melalui salat, yang merupakan daftar jenis-jenis ibadah, mereka melihat diri mereka menjalankan tugas-tugas yang sangat halus dalam banyak maqam luhur. Ya, mereka melihat secara terperinci tugas serta maqam yang ditunjukkan salat melalui berbagai zikir dan gerakannya, sebagai berikut: Pertama: Dengan memandang karya-karya dan berhubungan tanpa melihat langsung, mereka melihat diri mereka pada maqam sebagai penonton Keindahan Kekuasaan Rububiyah. Mereka menjalankan tugas takbir serta tasbih, dan mengucapkan "Allahu akbar". Kedua: Pada maqam sebagai penyeru keindahan-keindahan serta karya-karya cemerlang yang merupakan manifestasi Asma Ilahi yang suci, mereka menjalankan tugas menyucikan serta memuji dengan mengucapkan "Subhanallah, walhamdulillah". Ketiga: Pada maqam mencicipi serta memahami nikmat-nikmat yang disimpan dalam khazanah Rahmat Ilahi dengan indra lahir dan batin, mereka mulai menjalankan tugas bersyukur serta menyanjung. Keempat: Pada maqam menimbang serta mengenali permata dalam khazanah terpendam Asma Ilahi dengan timbangan perangkat batin, mereka mulai menjalankan tugas menyatakan bahwa Dia Bebas dari kekurangan serta memuji-Nya. Kelima: Pada maqam membaca dengan saksama surat-surat Rabbani yang ditulis dengan Pena Kudrat di atas garis-garis Takdir, mereka mulai menjalankan tugas berpikir serta mengagumi. Keenam: Dengan menyaksikan rincian yang halus serta keindahan yang lembut dalam penciptaan benda dan seni ciptaan, pada maqam menyatakan bahwa Dia Bebas dari kekurangan, mereka memasuki tugas mencintai serta merindukan Sang Fâthir Dzul-Jalâl dan Sang Pembuat Dzul-Jamâl mereka. Jadi, setelah memandang alam serta karya-karya, dan menjalankan tugas-tugas tersebut pada maqam-maqam itu dengan ubudiyah tanpa melihat langsung, mereka naik ke tingkat memandang hubungan serta Perbuatan Sang Pembuat Yang Hakîm. Dalam hubungan di Hadirat-Nya, mula-mula mereka menyambut Sang Khâliq Dzul-Jalâl memperkenalkan Diri-Nya kepada makhluk berkesadaran melalui mukjizat Seni-Nya, dengan makrifat dalam rasa takjub, dan mengucapkan ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﻋَﺮَﻓْﻨَﺎﻙَ ﺣَﻖَّ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺘِﻚَ. "Yang memperkenalkan-Mu ialah mukjizat dalam seluruh ciptaan-Mu." Kemudian mereka menyambut Ar-Rahmân membuat Diri-Nya dicintai melalui buah-buah indah Rahmat-Nya, dengan cinta serta kasih yang mendalam, dan mengucapkan ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ. Kemudian mereka menyambut Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki memperlihatkan Belas Kasih serta Kasih Sayang-Nya melalui nikmat-nikmat yang manis, dengan syukur serta pujian, dan berkata, ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ. "Bagaimana kami dapat menunaikan syukur yang layak bagi-Mu? Engkau begitu Layak disyukuri, sehingga bahasa keadaan yang jelas dari seluruh karunia-Mu yang terhampar pada seluruh kainat membaca syukur serta sanjungan kepada-Mu. Melalui pengumuman seluruh nikmat yang tersusun dalam pasar alam serta tersebar pada muka bumi, semuanya juga menyatakan pujian serta sanjungan kepada-Mu. Buah-buah Rahmat dan nikmat yang tersusun serta hasil-hasil yang seimbang bersaksi atas Kedermawanan dan Kemurahan-Mu, lalu menunaikan syukur kepada-Mu di hadapan seluruh makhluk." Kemudian, ketika Dia memperlihatkan Keindahan, Keagungan, Kesempurnaan, serta Kebesaran-Nya dalam cermin makhluk-makhluk yang berubah di wajah kainat ini, mereka menyambut hal itu dengan mengucapkan ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ, rukuk dalam sikap mengagungkan serta menyatakan ketidakberdayaan, dan bersujud dengan cinta serta takjub dalam sikap merendahkan diri. Kemudian mereka menyambut Sang Ghaniyy Mutlak memperlihatkan besarnya Kekayaan serta luasnya Rahmat-Nya, dengan menyatakan ketidakmampuan mencukupi diri serta kebutuhan mereka, berdoa dan memohon, lalu mengucapkan ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ. Kemudian mereka menyambut Sang Pembuat Dzul-Jalâl memaparkan rincian yang halus, keajaiban, serta karya langka Seni-Nya melalui pameran dalam tempat dipamerkannya makhluk, dengan mengucapkan ﻣَﺎﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ sambil menghargai, berkata "Betapa indahnya dibuat!" sambil mengagumi, mengucapkan ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ sambil menyaksikan, mengucapkan ﺍٰﻣَﻨَّﺎ sambil bersaksi, lalu berkata "Marilah, lihatlah!" dengan takjub, mengucapkan ﺣَﻰَّ ﻋَﻠَﻰ الْفَلَاحِ serta menjadikan setiap orang sebagai saksi. Mereka juga menyambut Sang Penguasa Yang Azali dan Abadi mengumumkan Kekuasaan Rububiyah-Nya serta memperlihatkan Keesaan Allah subhânahu di seluruh penjuru kainat, dengan bertauhid, membenarkan, mengucapkan ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَ ﺍَﻃَﻌْﻨَﺎ, serta taat dan tunduk. Kemudian mereka menyambut Rabbul-alamin memperlihatkan Hak-Nya untuk disembah, melalui ubudiyah, yakni menyatakan ketidakberdayaan mereka dalam kelemahan serta ketidakmampuan mencukupi diri dalam kebutuhan, dan melalui salat yang merupakan ringkasan ubudiyah. Dengan berbagai tugas ubudiyah lain seperti ini, mereka menunaikan kewajiban umur serta tugas kehidupan dalam masjid besar-Nya yang disebut negeri dunia ini, lalu memperoleh bentuk yang sebaik-baiknya. Mereka naik ke tingkat di atas seluruh makhluk, menjadi khalifah bumi yang terpercaya, diperlengkapi rasa aman serta amanah melalui berkah iman. Setelah tempat percobaan dan tempat ujian ini, Rabb mereka Yang Karîm mengundang mereka kepada kebahagiaan abadi sebagai pahala iman, serta ke Darussalam sebagai upah keislaman mereka. Dia telah memuliakan dan terus memuliakan mereka sedemikian rupa, sehingga membuat mereka menerima Rahmat-Nya dengan cara yang begitu cemerlang, pada tingkat yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Dia memberi mereka hidup selamanya serta hidup kekal. Sebab, orang yang rindu menyaksikan Keindahan Yang Kekal Selamanya serta menjadi cermin yang mencintai Keindahan itu tentu akan tetap ada dan menuju kehidupan yang kekal selamanya. Demikianlah kesudahan murid-murid Al-Qur'an. Semoga Allah subhânahu menjadikan kita termasuk mereka, amin! Adapun golongan lain, para pendosa dan orang-orang jahat, ketika mencapai balig dan memasuki istana alam ini, menyambut seluruh bukti Keesaan Allah subhânahu dengan kekufuran dan seluruh nikmat dengan tidak bersyukur. Dengan tuduhan kufur bahwa segala makhluk tidak bernilai, mereka menghinanya. Karena menyambut seluruh tajalli Asma Ilahi dengan penolakan serta pengingkaran, dalam waktu singkat mereka melakukan kejahatan tanpa batas dan layak menerima azab tanpa batas. Ya, modal umur serta perangkat manusia diberikan untuk tugas-tugas yang telah disebutkan. Wahai nafsuku yang linglung dan wahai kawanku yang penuh keinginan! Apakah kalian mengira tugas hidup kalian terbatas pada menjaga diri dengan baik melalui didikan peradaban, serta—maaf jika ungkapan ini kurang sopan—melayani perut dan kemaluan? Atau, apakah kalian mengira tujuan satu-satunya dari daya-daya halus dan unsur-unsur batin yang rapuh, yang dimasukkan dalam mesin kehidupan kalian, anggota tubuh serta alat-alat yang peka, anggota badan serta perangkat yang teratur, dan indra serta perasaan yang mencari tahu, hanya untuk digunakan dalam kehidupan fana ini demi memuaskan nafsu yang hina serta keinginan yang rendah? Sekali-kali tidak, sama sekali tidak! Sebaliknya, tujuan semua itu diciptakan dalam tubuh kalian serta dimasukkan dalam fitrah kalian bertumpu pada dua dasar: Yang pertama, membuat kalian merasakan setiap jenis dari seluruh nikmat Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki serta membuat kalian bersyukur. Kalian harus merasakannya dan bersyukur serta beribadah kepada-Nya. Yang kedua, melalui perangkat-perangkat itu, membuat kalian mengenali serta mencicipi setiap bagian dari seluruh tajalli Asma Ilahi yang suci, yang bertajalli kepada alam. Kalian pun harus beriman dengan mencicipi dan mengenalinya. Di atas dua dasar inilah kesempurnaan manusia tumbuh dan berkembang. Melalui ini manusia menjadi manusia. Lihatlah melalui rahasia perumpamaan berikut bahwa perangkat kemanusiaan tidak diberikan untuk memperoleh kehidupan dunia seperti hewan: Misalnya, seseorang memberi dua puluh keping emas kepada seorang pelayannya, agar ia membeli seperangkat pakaian untuk dirinya dari kain tertentu. Pelayan itu pergi, membeli seperangkat pakaian yang sempurna dari kain terbaik jenis itu, lalu memakainya. Kemudian ia melihat bahwa orang tersebut memberi seribu keping emas kepada pelayan lain, memasukkan ke dalam sakunya selembar kertas dengan beberapa hal tertulis, dan mengirimnya untuk berdagang. Setiap orang yang berakal sehat mengetahui bahwa modal itu bukan untuk membeli seperangkat pakaian. Sebab, pelayan pertama telah membeli seperangkat pakaian dari kain terbaik dengan dua puluh keping emas. Tentu seribu keping emas ini tidak digunakan untuk seperangkat pakaian. Jika pelayan kedua tidak membaca kertas yang dimasukkan ke dalam sakunya, tetapi memandang pelayan pertama, lalu memberikan seluruh uang kepada seorang pedagang untuk seperangkat pakaian, dan membeli pakaian dari kain yang paling buruk, lima puluh tingkat di bawah pakaian temannya, tentu ia akan dihukum dengan keras serta diberi pelajaran dengan marah karena telah melakukan kebodohan pada tingkat tertinggi. Wahai nafsuku dan wahai kawanku! Gunakanlah akal sehat kalian. Jangan menghabiskan modal umur serta kemampuan hidup kalian untuk kehidupan fana dan kenikmatan jasmani ini seperti hewan, bahkan pada tingkat jauh di bawah hewan. Jika tidak, sekalipun dari segi modal kalian lima puluh tingkat di atas hewan yang paling tinggi, kalian akan jatuh lima puluh tingkat di bawah hewan yang paling rendah. Wahai nafsuku yang lalai! Jika engkau ingin sedikit memahami tujuan hidupmu, hakikat hidupmu, bentuk hidupmu, rahasia hakikat hidupmu, serta kebahagiaan hidupmu yang sempurna, lihatlah: Ringkasan tujuan hidupmu terdiri atas sembilan hal: Yang Pertama: Menimbang nikmat-nikmat yang disimpan dalam Khazanah Rahmat Ilahi dengan timbangan indra yang ditempatkan dalam tubuhmu, serta bersyukur secara menyeluruh. Yang Kedua: Membuka Khazanah terpendam Asma Ilahi yang suci dengan kunci perangkat yang ditempatkan dalam fitrahmu, serta mengenal Zat Yang Mahasuci melalui Asma itu. Yang Ketiga: Mengetahui Seni yang langka serta Manifestasi yang halus, yang dipasangkan Asma Ilahi kepadamu, lalu melalui kehidupanmu memaparkan dan memperlihatkannya di hadapan makhluk dalam tempat pameran dunia ini. Keempat: Menyatakan ubudiyahmu melalui bahasa keadaan dan ucapan di Hadirat Rububiyah Khâliq-mu. Kelima: Seperti seorang prajurit mengenakan berbagai tanda kehormatan yang diterimanya dari penguasanya pada waktu-waktu resmi, lalu tampil di hadapan penguasa itu untuk memperlihatkan hasil perhatiannya, engkau pun dengan sadar menghiasi dirimu dengan permata kemampuan-kemampuan halus manusiawi yang diberikan kepadamu oleh Manifestasi Asma Allah subhânahu. Dengan demikian, engkau tampil dalam Pandangan Sang Syâhid Yang Azali, yang menyaksikan dan menjadikan orang lain menyaksikan. Keenam: Dengan sadar menyaksikan salam hormat makhluk-makhluk hidup kepada Khâliq mereka, yang disebut segala hal yang tampak dalam kehidupan; tasbih mereka kepada Sang Pembuat mereka, yang disebut isyarat-isyarat kehidupan; serta pernyataan ubudiyah mereka kepada Sang Pemberi Kehidupan, yang disebut buah dan tujuan kehidupan. Melihatnya melalui renungan dan memperlihatkannya melalui kesaksian. Ketujuh: Menjadikan contoh-contoh kecil sifat dan keadaan yang diberikan kepada hidupmu, seperti ilmu, kemampuan, dan kehendak yang juz'i, sebagai satuan pembanding. Dengan ukuran-ukuran itu, engkau mengenal Sifat-Sifat Mutlak serta Syuun Suci Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Misalnya, dengan kemampuan, ilmu, dan kehendakmu yang juz'i, engkau membangun rumah ini dengan teratur. Karena itu, sebesar perbandingan istana alam ini dengan rumahmu, sebesar itu pula engkau harus mengenal Pembuat alam ini sebagai Qadîr, Alîm, Hakîm, dan Mudabbir. Kedelapan: Memahami kata-kata maknawi yang diucapkan setiap makhluk dalam alam ini dengan bahasanya sendiri mengenai Keesaan Khâliq-nya dan Rububiyah Sang Pembuatnya. Kesembilan: Dengan mengukur betapa engkau tak berdaya dan lemah, tak mampu mencukupi dirimu dan membutuhkan banyak hal, memahami tingkat-tingkat Tajalli Kudrat Allah subhânahu dan Kekayaan Rabb. Sebagaimana rasa, tingkat, serta jenis makanan dapat dipahami sesuai dengan tingkat rasa lapar dan banyaknya jenis kebutuhan, engkau pun harus memahami tingkat Kudrat serta Kekayaan Allah subhânahu yang tidak terbatas melalui ketidakberdayaanmu dan ketidakmampuanmu mencukupi diri yang tidak terbatas. Secara ringkas, tujuan-tujuan hidupmu ialah hal-hal seperti ini. Sekarang, pandanglah hakikat hidupmu. Ringkasannya ialah: suatu daftar hal-hal menakjubkan yang berkaitan dengan Asma Allah subhânahu; suatu ukuran Syuun dan Sifat-Sifat Allah subhânahu; suatu timbangan bagi alam-alam dalam alam semesta; suatu daftar alam besar ini; suatu peta alam semesta ini; suatu ringkasan kitab terbesar ini; sekumpulan kunci untuk membuka Khazanah Kudrat yang tersembunyi; serta ahsani taqwîm dari kesempurnaan yang ditebarkan pada makhluk-makhluk dan dilekatkan pada waktu-waktu. Hakikat hidupmu ialah hal-hal seperti ini.Sekarang, bentuk hidupmu dan cara menjalankan tugasnya ialah sebagai berikut: Hidupmu merupakan suatu kata yang tertulis, suatu ucapan yang memperlihatkan Hikmah, ditulis dengan Pena Kudrat. Ia terlihat dan terdengar serta menunjukkan Asmaul Husna. Bentuk hidupmu ialah hal-hal seperti ini. Sekarang, rahasia hakikat hidupmu ialah: menjadi cermin bagi Tajalli Ahadiyah dan Manifestasi Sifat Samad. Yakni, dengan kemampuan mencakup banyak hal, seperti titik pusat berkumpulnya Asma yang bertajalli pada seluruh alam, hidupmu menjadi cermin bagi Zat Yang Ahad lagi Samad. Sekarang, kesempurnaan hidupmu dalam kebahagiaan ialah: merasakan dan mencintai cahaya-cahaya Sang Matahari Azali yang tergambar dalam cermin hidupmu; dengan sadar menunjukkan kerinduan kepada-Nya; larut hingga melupakan diri karena cinta kepada-Nya; serta menempatkan pantulan Cahaya-Nya dalam pupil mata hatimu. Karena rahasia inilah telah dikatakan ﻣَﻦْ ﻧَﻪ ﮔُﻨْﺠَﻢْ ﺩَﺭْ ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕ ﻭ ﺯَﻣ۪ﻴﻦْ ٭ ﺍَﺯْ ﻋَﺠَﺐْ ﮔُﻨْﺠَﻢْ ﺑَﻘَﻠْﺐِ ﻣُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦْ, yang merupakan makna mulia suatu hadis qudsi yang mengangkatmu ke tingkat paling tinggi. Wahai nafsuku! Padahal, hidupmu tertuju pada tujuan-tujuan yang begitu luhur dan mencakup khazanah-khazanah yang begitu berharga. Patutkah menurut akal dan rasa keadilan engkau menghabiskan dan menyia-nyiakannya untuk kesenangan nafsu yang sementara, yang sama sekali tidak berarti, serta kenikmatan dunia yang berlalu? Jika engkau ingin tidak menyia-nyiakannya, renungkan sumpah dan jawaban sumpah dalam surah ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺿُﺤٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﺍِﺫَﺍ ﺗَﻠٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺍِﺫَﺍ ﺟَﻠّٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﺍﻟَّﻴْﻞِ ﺍِﺫَﺍ ﻳَﻐْﺸٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻨٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ الْاَرْضِ ﻭَﻣَﺎ ﻃَﺤٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﻣَﺎ ﺳَﻮّٰﻳﻬَﺎ ٭ ﻓَﺎَﻟْﻬَﻤَﻬَﺎ ﻓُﺠُﻮﺭَﻫَﺎ ﻭَ ﺗَﻘْﻮٰﻳﻬَﺎ ٭ ﻗَﺪْ ﺍَﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺯَﻛّٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﻗَﺪْ ﺧَﺎﺏَ ﻣَﻦْ ﺩَﺳّٰﻴﻬَﺎ ٭ yang mengisyaratkan perumpamaan serta hakikat tadi, lalu amalkanlah. ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺷَﻤْﺲِ ﺳَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ ﻭَ ﻗَﻤَﺮِ ﺑُﺮْﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﻧُﺠُﻮﻡِ ﺍﻟْﻬِﺪَﺍﻳَﺔِ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻢِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

--