DASAR KETIGA
Apa hikmah mikraj?
~Jawaban:
Hikmah mikraj begitu tinggi sehingga pikiran manusia tidak dapat mencapainya. Begitu dalam sehingga tidak dapat menjangkaunya. Begitu halus dan lembut sehingga akal tidak dapat melihatnya sendiri. Namun, melalui sebagian isyarat, sekalipun hakikatnya tidak diketahui, adanya dapat diperkenalkan. Demikianlah: Untuk memperlihatkan Cahaya Keesaan-Nya serta Tajalli Ahadiyah pada lapisan kemajemukan ini, Sang Khâliq alam menjadikan seorang individu istimewa sebagai penerima Seruan-Nya atas nama seluruh makhluk, melalui mikraj yang laksana benang penghubung dari ujung lapisan kemajemukan hingga awal Keesaan; Dia menjelaskan Tujuan-Tujuan Ilahi-Nya kepadanya atas nama seluruh makhluk berkesadaran dan memberitahukannya melalui dirinya, serta melalui pandangannya menyaksikan dan membuatnya menyaksikan Keindahan Seni serta Kesempurnaan Rububiyah-Nya pada cermin makhluk-Nya. Melalui kesaksian jejak-Nya, Sang Pembuat seluruh alam juga memiliki Keindahan serta Kesempurnaan tanpa batas. Keindahan dan Kesempurnaan keduanya dicintai karena dirinya sendiri. Yakni, keduanya dicintai secara langsung. Maka Sang Pemilik Keindahan serta Kesempurnaan itu memiliki Cinta tanpa batas kepada Keindahan dan Kesempurnaan-Nya. Cinta tanpa batas itu tampak melalui banyak cara dalam ciptaan-Nya. Dia mencintai ciptaan-Nya sebab melihat Keindahan serta Kesempurnaan-Nya dalam ciptaan tersebut. Yang paling dicintai dan paling luhur di antara ciptaan ialah makhluk hidup. Yang paling dicintai serta luhur di antara makhluk hidup ialah yang berkesadaran. Di antara yang berkesadaran, yang paling dicintai karena mencakup banyak hal terdapat dalam manusia. Di antara manusia, individu yang kemampuannya berkembang sepenuhnya serta memperlihatkan contoh kesempurnaan yang tersebar dan bertajalli dalam seluruh ciptaan ialah yang paling dicintai. Maka untuk melihat seluruh jenis Tajalli Cinta yang tersebar dalam segala wujud pada satu titik serta satu cermin, dan memperlihatkan seluruh jenis Keindahan-Nya melalui rahasia Ahadiyah, Sang Pembuat segala wujud menjadikan seorang pribadi setingkat buah bercahaya dari pohon penciptaan, yang hatinya laksana benih yang mencakup hakikat-hakikat pokok pohon itu; melalui mikraj yang laksana benang penghubung dari benih yang menjadi awal pertama hingga buah yang menjadi akhir, Dia memperlihatkan bahwa individu itu dicintai atas nama alam, menariknya ke Hadirat-Nya, menganugerahinya kehormatan melihat Keindahan-Nya, serta agar keadaan suci padanya meresap kepada yang lain, memuliakannya melalui Kalam-Nya dan menugasinya melalui Firman-Nya. Sekarang, untuk memandang Hikmah luhur ini, kami akan mengamati melalui dua teropong perumpamaan.Perumpamaan pertama: Sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam kisah perumpamaan Kalimat Kesebelas, jika seorang sultan mulia memiliki banyak khazanah dan dalam khazanah itu banyak jenis permata; memiliki banyak keahlian dalam seni-seni menakjubkan, pengetahuan serta cakupan ilmu menakjubkan yang tidak terhitung, dan ilmu serta pengenalan kepada ilmu-ilmu indah tanpa batas; menurut rahasia bahwa setiap pemilik keindahan serta kesempurnaan ingin melihat dan memperlihatkan keindahan serta kesempurnaannya, tentu sultan yang menguasai banyak ilmu itu ingin membuka pameran dan menyusun pajangan di dalamnya, untuk menampakkan serta memperlihatkan kepada pandangan manusia kemegahan kerajaannya, kemilau kekayaannya, keajaiban seninya, serta hal-hal menakjubkan pengetahuannya; agar ia menyaksikan keindahan dan kesempurnaan maknawinya dari dua segi. Yang satu: Ia melihat sendiri melalui pandangannya yang mengenali kehalusan. Yang lain: Ia memandang melalui pandangan yang lain. Berdasarkan hikmah ini, tentu ia mulai membuat istana yang besar, megah, dan luas. Ia membaginya menjadi bagian serta tempat dengan cara kerajaan. Ia menghiasnya dengan berbagai hiasan permata dari khazanahnya dan memperindahnya dengan seni paling indah serta paling halus dari tangan seninya sendiri. Ia menatanya melalui kehalusan ilmu serta hikmahnya. Ia melengkapi dan menyempurnakannya dengan karya ilmunya yang menyerupai mukjizat. Kemudian melalui berbagai nikmat serta makanannya yang lezat, ia membentangkan hidangan yang layak bagi setiap golongan. Ia menyiapkan jamuan umum. Kemudian ia mengundang rakyatnya untuk menyaksikan serta menghadiri jamuan agar memperlihatkan kesempurnaannya kepada mereka. Lalu ia menjadikan seseorang sebagai ajudan paling mulia, memanggilnya naik dari lapisan serta tempat yang rendah, dan membawanya berkeliling dari bagian ke bagian pada lapisan-lapisan yang bertumpuk. Dengan terus memperlihatkan mesin serta alat kerja seninya yang menakjubkan, serta gudang hasil yang datang dari bawah, ia membawanya hingga bagian pribadinya. Dengan memperlihatkan dirinya yang diberkahi, sumber seluruh kesempurnaan itu, dan kehadirannya, ia memberi kehormatan kepadanya. Ia memperkenalkan hakikat istana serta kesempurnaannya kepadanya. Ia menentukannya sebagai pembimbing para penonton, lalu mengirimnya. Agar ia memperkenalkan pembuat istana itu kepada rakyat melalui isi, ukiran, serta keajaiban istana tersebut.Agar ia menjelaskan isyarat-isyarat pada ukiran istana, mengajarkan tanda-tanda seninya, memperkenalkan kepada orang yang masuk apa arti hiasan permata yang tersusun serta ukiran yang terukur di dalamnya dan bagaimana semuanya memperlihatkan kesempurnaan serta keahlian pemilik istana; menjelaskan adab masuk serta tata cara menyaksikan; dan memperkenalkan tata cara penghormatan kepada sultan yang tidak terlihat, pemilik ilmu serta berbagai urusan, dalam lingkup hal-hal yang diridai serta diinginkannya. Tepat demikian pula, ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى, Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sultan Azali dan Abadi, ingin melihat serta memperlihatkan Kesempurnaan dan Keindahan-Nya yang tanpa batas; Dia membuat istana alam ini dengan cara setiap wujud menyebut Kesempurnaan-Nya melalui banyak lidah dan memperlihatkan Keindahan-Nya melalui banyak isyarat. Alam ini dengan seluruh wujudnya memperlihatkan betapa banyak khazanah maknawi tersembunyi dalam setiap Nama Asmaulhusna-Nya serta kelembutan tersembunyi dalam setiap Gelar suci-Nya. Ia memperlihatkannya dengan cara seluruh ilmu melalui seluruh kaidahnya membaca kitab alam ini sejak zaman Adam. Namun, mereka belum dapat membaca sepersepuluh dari sepersepuluh makna yang dinyatakan serta ayat yang diperlihatkan kitab itu tentang Asma serta Kesempurnaan Ilahi. Hikmah Sang Jalîl Dzul-Jamâl, Sang Jamîl Dzul-Jalâl, serta Sang Pembuat Dzul-Kamâl, yang membuka istana alam semacam ini sebagai pameran untuk melihat serta memperlihatkan Kesempurnaan dan Keindahan maknawi-Nya, menuntut bahwa agar tidak sia-sia dan tanpa manfaat bagi makhluk berkesadaran dalam alam bumi ini, Dia memperkenalkan makna ayat istana itu kepada seseorang. Dia membawanya berkeliling dalam alam-alam luhur yang menjadi sumber keajaiban istana serta gudang hasilnya. Dia mengangkatnya ke atas semuanya dan memuliakannya dengan kedekatan di Hadirat-Nya. Dia membawanya berkeliling dalam alam-alam akhirat, lalu memberinya banyak tugas, seperti guru bagi seluruh hamba-Nya, penyeru Kerajaan Rububiyah-Nya, penyampai hal-hal yang diridai Allah subhânahu, serta penafsir ayat-ayat penciptaan dalam istana alam-Nya. Dia memperlihatkan keistimewaannya melalui tanda-tanda mukjizat. Melalui Firman seperti Al-Qur'an, Dia memperkenalkan pribadi itu sebagai penerjemah khusus serta setia Zat Dzul-Jalâl. Melalui teropong perumpamaan ini, kami memperlihatkan satu atau dua contoh dari banyak hikmah mikraj. Engkau dapat membandingkan yang lain.Perumpamaan Kedua: Jika seorang yang menguasai banyak ilmu menyusun serta menulis kitab yang menyerupai mukjizat, dengan hakikat sebanyak seratus kitab pada setiap lembarannya, makna halus sebanyak seratus lembar pada setiap barisnya, hakikat sebanyak seratus baris pada setiap katanya, serta makna sebanyak seratus kata pada setiap hurufnya, dan seluruh makna serta hakikat kitab itu memandang dan menunjuk kepada kesempurnaan maknawi penulis yang karyanya tampak seperti mukjizat tersebut, tentu ia tidak membiarkan khazanah yang tidak habis itu tertutup dan menjadikannya sia-sia. Ia pasti akan mengajarkan kitab itu kepada sebagian orang. Agar kitab yang berharga tersebut tidak tanpa makna serta percuma. Agar kesempurnaannya yang tersembunyi tampak dan mencapai kesempurnaan, serta keindahan maknawinya terlihat. Agar ia sendiri senang dan membuat yang lain mencintainya. Ia juga akan membawa seseorang yang akan mengajarkan kitab menakjubkan itu dengan seluruh makna serta hakikatnya dari lembaran pertama hingga akhir, dengan terus memberi pelajaran di atasnya. Tepat demikian pula, Sang Pengukir yang Azali telah menulis alam ini dengan cara seluruh wujud memperkenalkan serta menyatakan Kesempurnaan-Nya yang tanpa batas, Asma, serta Sifat-Sifat-Nya dari segi-segi yang tak terhitung, untuk memperlihatkan Kesempurnaan, Keindahan, serta Hakikat Asma-Nya. Tentu jika makna kitab tidak diketahui, kitab itu menjadi tidak berarti. Terutama kitab seperti ini, yang setiap hurufnya mencakup ribuan makna, tidak dapat dan tidak dibiarkan menjadi tidak berarti. Maka Sang Penulis kitab itu tentu akan memperkenalkannya serta membuat setiap golongan memahami sebagiannya menurut kemampuan mereka. Dia juga akan mengajarkan keseluruhannya kepada seorang individu yang pandangannya paling luas, kesadarannya paling menyeluruh, dan kemampuannya paling istimewa. Untuk mengajarkan keseluruhan kitab serta hakikat-hakikatnya yang menyeluruh, perlu membuatnya melakukan perjalanan rohani yang sangat tinggi menurut hikmah. Yakni, ia perlu dibawa menjelajah dari ujung paling jauh lapisan kemajemukan yang menjadi lembaran pertama, hingga lingkup Ahadiyah yang menjadi lembaran terakhir. Melalui perumpamaan ini, engkau dapat memandang sedikit hikmah-hikmah luhur mikraj. Kini kami akan memandang pengingkar yang berada pada maqam sebagai pendengar dan mendengarkan hatinya, serta melihat keadaan apa yang ia masuki. Terlintas dalam pikiran bahwa: ~Hatinya berkata:
Aku mulai percaya. Namun, aku belum dapat memahami dengan baik. Aku masih memiliki tiga kesulitan penting. Pertama: Mengapa mikraj yang agung ini khusus bagi Muhammad dari Arab ﷺ? Kedua: Bagaimana beliau menjadi benih alam ini? Kalian berkata, alam diciptakan dari cahayanya. Ia juga buah alam yang paling akhir serta paling bercahaya. Apa maksudnya? Ketiga: Dalam penjelasan tadi kalian berkata bahwa naik ke alam luhur dimaksudkan untuk melihat mesin, alat kerja, serta gudang hasil karya-karya dalam alam bumi ini. Apa maksudnya? ~Jawaban:
Kesulitan Pertama Kalian: Telah dijawab secara terperinci dalam tiga puluh Kalimat. Di sini kami hanya memperlihatkan daftar ringkas sebagai isyarat-isyarat singkat kepada kesempurnaan pribadi Ahmad ﷺ, dalil kenabiannya, serta bahwa ia paling layak bagi mikraj terbesar itu. Demikianlah: Pertama: Dari kitab-kitab suci seperti Taurat, Injil, dan Zabur, sekalipun isinya telah banyak diselewengkan, bahkan pada zaman ini seorang peneliti seperti Husain al-Jisri telah menggali seratus empat belas kabar gembira berisyarat mengenai kenabian Ahmad ﷺ serta memperlihatkannya dalam Risale-i Hamîdiye. Kedua: Banyak kabar gembira telah diriwayatkan secara sahih dalam sejarah, seperti penjelasan dua peramal terkenal, Syiqq serta Satih, yang terbukti dalam sejarah, sedikit sebelum kenabian Ahmad ﷺ, mengenai kenabiannya serta bahwa ia adalah Nabi Akhir Zaman ﷺ. Ketiga: Ratusan keajaiban yang disebut irhasat, seperti jatuhnya patung-patung di Ka'bah dan terbelahnya Iwan, istana terkenal Kisra Persia, pada malam kelahiran Ahmad ﷺ, terkenal dalam sejarah. Keempat: Sejarah serta riwayat kehidupan Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau dimuliakan dengan seribu mukjizat menurut penelitian para peneliti, seperti memberi minum pasukan melalui air yang datang dari jarinya; tiang kering menangis merintih seperti unta karena berpisah dengan Ahmad ﷺ saat mimbar dipindahkan, di hadapan jemaah besar dalam masjid; serta terbelahnya bulan menurut nas ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ. Kelima: Orang-orang yang adil dan teliti tidak ragu bahwa akhlak mulia pada pribadi beliau berada pada tingkat paling tinggi menurut kesepakatan kawan serta lawan; watak luhur dalam tugas serta penyampaiannya berada pada tingkat paling tinggi melalui kesaksian seluruh tindakannya; dan sifat-sifat terpuji yang paling luhur dalam syariatnya berada pada tingkat paling sempurna melalui kesaksian akhlak indah dalam agama Islam. Keenam: Sebagaimana diisyaratkan dalam Isyarat Kedua Kalimat Kesepuluh, berhadapan dengan Keilahian yang menurut tuntutan Hikmah ingin tampak, pribadi Ahmad ﷺ memperlihatkannya dengan paling cemerlang melalui ubudiyah terbesar dalam agamanya, pada tingkat paling besar. Berhadapan dengan Sang Khâliq alam yang menurut tuntutan Hikmah serta hakikat ingin memperlihatkan Keindahan-Nya yang sempurna melalui sarana, jelas beliaulah yang memperlihatkan serta memperkenalkannya dengan cara paling indah. Berhadapan dengan Sang Pembuat seluruh alam yang ingin menarik perhatian kepada serta memamerkan Kesempurnaan Seni-Nya yang amat indah, yang menyerukannya dengan suara paling luhur juga beliau, sebagaimana terlihat dengan mata kepala.Demikian pula, sebagai jawaban atas kehendak Rabb seluruh alam untuk menyatakan Keesaan-Nya di tengah lapisan-lapisan yang beraneka, tentu sosok itu pulalah yang menyatakan seluruh tingkat tauhid pada tingkat tauhid yang paling tinggi.
Demikian pula, Sang Pemilik alam, melalui isyarat Keindahan pada hasil-hasil karya-Nya yang amat indah, hendak melihat dan memperlihatkan dalam cermin-cermin Keindahan Zat-Nya yang tak berhingga, Keelokan Keindahan-Nya serta Kelembutan Keelokan-Nya, sebagaimana dituntut oleh hakikat dan Hikmah; sebagai jawaban atas kehendak itu, jelas sosok itu pulalah yang menjadi cermin paling gemilang, memperlihatkan, mencintai, dan membuat yang lain mencintainya.
Demikian pula, Sang Pembuat istana alam ini hendak menampakkan dan memamerkan khazanah-khazanah gaib-Nya yang penuh mukjizat amat menakjubkan dan permata amat berharga, serta hendak mengenalkan dan memberitahukan Kesempurnaan-Nya melalui semuanya itu; sebagai jawaban atas kehendak itu, jelas sosok itu pulalah yang memamerkan, melukiskan dan mengenalkannya dengan cara paling agung.
Demikian pula, Sang Pembuat alam semesta ini membuatnya dengan menghiasinya dengan berbagai keajaiban dan hiasan, memasukkan makhluk-makhluk yang sadar ke dalamnya untuk menyaksikan, menikmati, mengambil pelajaran dan bertafakur; dan sebagaimana dituntut oleh Hikmah, Dia hendak memberitahukan makna serta nilai hasil-hasil karya dan Seni-Nya kepada para penyaksi dan pemikir itu; sebagai jawaban atas kehendak itu, jelas sosok itu pulalah yang melalui Al-Qur'an Al-Hakîm memberi bimbingan paling agung kepada jin dan manusia, bahkan kepada makhluk-makhluk ruhani dan para malaikat.
Demikian pula, Sang Penguasa yang Hakîm atas alam semesta ini hendak, melalui seorang utusan, menyingkap kepada seluruh makhluk yang sadar rahasia rumit yang memuat maksud serta tujuan perubahan-perubahan alam semesta ini, dan teka-teki tiga pertanyaan sulit tentang segala yang ada: "Dari mana? Ke mana? Dan apakah mereka?"; sebagai jawaban atas kehendak itu, jelas sosok itu pulalah yang dengan cara paling terang dan pada tingkat paling agung menyingkap rahasia itu serta memecahkan teka-teki itu melalui hakikat-hakikat Al-Qur'an.
Demikian pula, Sang Pembuat Dzul-Jalâl atas alam ini mengenalkan Diri-Nya kepada makhluk-makhluk yang sadar melalui seluruh karya-Nya yang indah, dan membuat mereka mencintai-Nya melalui nikmat-nikmat yang berharga; sebagai jawaban yang tentu dituntut olehnya, Dia hendak memberitahukan apa yang diridai-Nya serta Kehendak Ilahi-Nya kepada makhluk-makhluk yang sadar itu melalui seorang utusan; dan jelas sosok itu pulalah yang melalui Al-Qur'an menjelaskan serta membawa apa yang diridai-Nya dan dikehendaki-Nya itu dengan cara paling luhur dan sempurna.Demikian pula, Rabb seluruh alam memberi manusia, buah alam ini, bakat yang luas hingga dapat mencakup alam, dan menyiapkannya untuk ubudiyah yang menyeluruh; sedangkan manusia, dari segi perasaannya, terpaut pada yang beraneka dan dunia; maka Dia hendak, melalui seorang pembimbing, memalingkan wajah mereka dari yang beraneka menuju Yang Esa, dari yang fana menuju Yang Kekal; sebagai jawaban atas kehendak itu, jelas sosok itu pulalah yang melalui Al-Qur'an memberi bimbingan pada tingkat paling agung, dengan cara paling fasih dan terbaik, serta menunaikan tugas kerasulan dengan cara paling sempurna.
Di antara segala yang ada, yang paling mulia ialah makhluk hidup; di antara makhluk hidup, yang paling mulia ialah makhluk yang sadar; di antara makhluk yang sadar, yang paling mulia ialah manusia sejati; dan di antara manusia sejati, sosok yang menunaikan tugas-tugas tersebut pada tingkat paling agung dan dengan cara paling sempurna; tentu dialah pula yang melalui mikraj agung itu naik ke Qaba Qausain, mengetuk pintu kebahagiaan abadi, membuka khazanah Rahmat-Nya dan melihat hakikat-hakikat gaib iman.
Ketujuh: Terlihat pada karya-karya ini berbagai keindahan yang amat elok dan hiasan yang teramat indah. Jelas, keindahan serta hiasan seperti itu menunjukkan bahwa pada Sang Pembuatnya ada Kehendak yang sangat kuat untuk memperindah dan Maksud untuk menghias. Kehendak untuk memperindah dan menghias itu tentu menunjukkan bahwa pada Sang Pembuat tersebut ada Minat yang kuat dan Cinta yang suci terhadap Seni-Nya. Di antara karya-karya itu, yang paling menyeluruh, yang memperlihatkan pada dirinya sekaligus berbagai kelembutan seni, yang mengenal dan mengenalkannya, yang membuat dirinya dicintai, dan yang mengagumi keindahan pada karya-karya lain dengan berkata "Masyaallah", jelas dialah yang paling dicintai di sisi Sang Pembuat yang menyukai Seni dan sangat mencintai Seni-Nya itu.
Di hadapan keistimewaan serta keindahan yang menyepuh karya-karya ciptaan, dan kelembutan serta kesempurnaan yang menerangi segala yang ada, sosok itu pulalah yang, sebagaimana terlihat, menggemakan langit dengan ucapan "Subhanallah, Masyaallah, Allahu akbar", membuat alam semesta bergemuruh dengan alunan Al-Qur'an, serta membawa daratan dan lautan dalam gelora melalui pujian dan penghargaan, tafakur dan usaha memperlihatkan, zikir dan tauhid.Demikianlah sosok itu: menurut rahasia ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ, padanan seluruh amal baik yang dikerjakan umat berada pada sisi timbangannya; selawat seluruh umatnya menambah kesempurnaan rohaninya; dan bersama hasil tugas-tugas yang ia tunaikan dalam kerasulannya serta pahala rohaninya, ia menerima limpahan tak berhingga dari Rahmat dan Cinta Ilahi. Tentu, perjalanan sosok semacam itu melalui tangga mikraj menuju surga, Sidratul-Muntaha, Arasy dan Qaba Qawsain benar-benar haq, merupakan hakikat itu sendiri, dan murni hikmah.
Kesulitan Kedua: Wahai manusia yang berada pada maqam sebagai pendengar! Hakikat yang menjadi kesulitan kedua bagimu ini begitu dalam dan begitu tinggi, sehingga akal tidak dapat mencapainya ataupun mendekatinya; ia hanya terlihat dengan cahaya iman. Namun, melalui beberapa perumpamaan, adanya hakikat itu dapat didekatkan kepada pemahaman. Maka, kami akan berusaha mendekatkannya sedikit.
Ketika alam semesta ini dipandang dengan hikmah, ia tampak seperti sebuah pohon besar. Sebagaimana pohon mempunyai cabang, daun, bunga dan buah, alam bawah, salah satu cabang pohon ciptaan ini, tampak memiliki unsur-unsur sebagai cabang, tumbuhan dan pepohonan sebagai daun, hewan sebagai bunga, serta manusia sebagai buah. Tentu, Hukum Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang berlaku pada pepohonan juga berlaku pada pohon teragung ini; demikianlah yang dituntut oleh Nama Hakîm. Maka, Hikmah menuntut agar pohon ciptaan ini pun dibuat dari sebuah benih. Benih itu pun harus mencakup contoh serta dasar-dasar alam-alam lain selain alam jasmani. Sebab, benih asal dan sumber alam semesta yang memuat ribuan alam berbeda itu tidak mungkin berupa materi kering belaka.
Karena sebelum pohon alam semesta ini tidak ada pohon lain dari jenisnya, tentu makna serta cahaya yang menjadi sumber dan benihnya diberi pakaian buah pada pohon alam semesta itu sendiri; hal ini pun dituntut oleh Nama Hakîm. Sebab, benih tidak dapat selamanya telanjang. Karena pada awal ciptaan ia belum mengenakan pakaian buah, tentu pada akhirnya ia akan mengenakan pakaian itu. Dan karena buah itu ialah manusia.Dan karena, sebagaimana telah dibuktikan, di antara manusia, buah yang paling terkenal, hasil yang paling agung, yang menarik perhatian semua, yang memusatkan kepadanya pandangan separuh bumi dan seperlima umat manusia, serta yang dengan keindahan rohaninya membuat alam memandangnya dengan cinta ataupun kekaguman, ialah pribadi Muhammad ﷺ; tentu cahaya yang menjadi benih tersusunnya alam semesta itu akan mengenakan tubuh pada pribadinya dan tampak sebagai buah yang paling akhir.
Wahai pendengar! Jangan menganggap sulit dipercaya bahwa alam semesta yang amat besar dan menakjubkan ini diciptakan dari hakikat juz'i seorang manusia. Sang Qadîr Dzul-Jalâl menciptakan pohon pinus raksasa, yang bagaikan sebuah alam, dari benih sebesar bulir gandum; bagaimana Dia tidak menciptakan, atau tidak mampu menciptakan, alam semesta ini dari "Nur Muhammad (cahaya Muhammad)" ﷺ?
Karena pohon alam semesta, seperti pohon Tuba, mempunyai batang dan akar di atas serta cabang-cabang di bawah, ada seutas tali hubungan bercahaya dari maqam buah di bawah hingga maqam benih asal.
Mikraj adalah selubung dan bentuk tali hubungan itu: pribadi Ahmad ﷺ telah membuka jalan itu; pergi dengan kewaliannya, kembali dengan kerasulannya, dan membiarkan pintunya terbuka. Para wali dari umatnya yang datang sesudahnya menempuh perjalanan ruh dan kalbu di jalan bercahaya itu, di bawah naungan mikraj Nabi ﷺ, lalu naik ke maqam-maqam tinggi sesuai bakat mereka.
Demikian pula, sebagaimana telah dibuktikan, Sang Pembuat alam semesta ini membuat serta menghiasinya dalam bentuk istana demi maksud-maksud yang ditunjukkan dalam jawaban atas kesulitan pertama. Karena pribadi Ahmad ﷺ menjadi pusat maksud-maksud itu, ia harus berada dalam Pandangan Pemeliharaan Sang Pembuat alam semesta sebelum alam semesta ada, dan paling awal menerima Tajalli-Nya. Sebab, hasil serta buah suatu hal dipikirkan lebih dahulu. Jadi, ia paling akhir dalam wujud, tetapi paling awal dalam makna. Sedangkan pribadi Ahmad ﷺ ialah buah yang paling sempurna, pusat nilai seluruh buah, dan pusat terwujudnya seluruh maksud; maka cahayanya harus menjadi yang paling awal menerima Tajalli Penciptaan.
Kesulitan Ketigamu begitu luas sehingga manusia berpikiran sempit seperti kami tidak dapat mencakup dan meliputinya. Namun, kami dapat memandangnya dari jauh. Ya, tempat-tempat kerja rohani dan hukum-hukum menyeluruh alam bawah berada di alam-alam tinggi.Hasil amal makhluk-makhluk tak terhingga di bola bumi, tempat berkumpulnya karya-karya ciptaan, serta buah perbuatan jin dan manusia juga mengambil bentuk di alam-alam tinggi. Bahkan, isyarat-isyarat Al-Qur'an Al-Hakîm menunjukkan bahwa amal baik menjadi buah-buahan surga, dan perbuatan buruk menjadi pohon-pohon zaqqum neraka; bersamanya ada kesaksian banyak tanda dan riwayat, serta tuntutan Hikmah dalam alam semesta dan Nama Hakîm. Ya, keragaman telah begitu menyebar di muka bumi dan ciptaan telah begitu bercabang, sehingga jenis makhluk serta golongan karya ciptaan di bola bumi jauh melampaui seluruh karya ciptaan yang tersebar di segenap alam semesta; semuanya ada dan berubah, senantiasa mengisi lalu mengosongkannya.
Sumber serta tambang hal-hal yang juz'i dan yang beraneka ini tentu ialah Hukum-Hukum yang menyeluruh serta Tajalli menyeluruh dari Asma Ilahi. Tempat tampaknya Hukum-Hukum yang menyeluruh itu, Tajalli menyeluruh itu, dan Asma yang meliputi segala sesuatu itu ialah langit-langit yang pada suatu tingkat sederhana dan murni; masing-masing merupakan Arasy dan atap suatu alam serta pusat Tasarruf atas suatu alam. Salah satu alam itu ialah Jannatul Ma'wa di Sidratul Muntaha. Telah tetap berdasarkan berita Sang Pembawa Berita yang benar ﷺ bahwa tasbih dan pujian di bumi mengambil bentuk buah-buahan surga itu. Ketiga hal ini menunjukkan bahwa tempat penyimpanan hasil serta buah yang ada di bumi berada di sana, dan hasil-hasilnya pergi ke arah itu.
Jangan berkata: Bagaimana ucapan "Alhamdulillah"-ku yang berlalu di udara dapat menjadi buah surga yang bertubuh?
Sebab, ketika terjaga pada siang hari engkau mengucapkan kata yang indah, kadang engkau memakannya dalam mimpi sebagai sebuah apel yang indah. Ucapan burukmu pada siang hari engkau telan pada malam hari dalam bentuk sesuatu yang pahit. Jika engkau menggunjing, engkau diberi makan daging busuk. Maka, ucapan-ucapan indah dan buruk yang engkau ucapkan dalam tidur dunia ini akan engkau makan sebagai buah-buahan di alam akhirat, alam saat engkau terjaga; dan engkau tidak patut menganggap memakannya sebagai sesuatu yang sulit dipercaya.
DASAR KEEMPAT
Apa buah serta manfaat mikraj?
~Jawaban:
Sebagai contoh, kami hanya akan menyebut lima dari lebih lima ratus buah mikraj, yang merupakan pohon Tuba rohani ini.
Buah Pertama: Melihat hakikat rukun-rukun iman dengan mata, menyaksikan malaikat, surga, akhirat, bahkan Zat Dzul-Jalâl dengan mata, telah membawa bagi alam dan umat manusia hadiah berupa khazanah serta cahaya yang azali dan abadi. Dengan cahaya serta buah itu, ia mengeluarkan alam ini dari keadaan yang disangka berantakan, fana dan kacau, lalu memperlihatkan hakikat alam itu sebagai surat-surat suci dari Allah subhânahu Yang Samad dan cermin indah Keindahan Zat Yang Ahad. Ia membuat alam serta seluruh makhluk yang sadar gembira dan bahagia.
Dengan cahaya serta buah itu pula, ia mengeluarkan manusia dari keadaan sesat: kacau, berantakan, tidak berdaya, serba kurang, kebutuhannya tak terbatas, musuhnya tak berhingga, fana dan tidak kekal. Dengan cahaya serta buah suci itu, ia memperlihatkan manusia dalam wujud sejatinya: mukjizat Kudrat Allah subhânahu Yang Samad dalam ahsani taqwîm, salinan yang menyeluruh dari surat-surat Allah subhânahu Yang Samad, sosok yang diajak bicara oleh Sultan Azali dan Abadi, hamba khusus-Nya, pengagum Kesempurnaan-Nya, sahabat dekat-Nya, pengagum Keindahan-Nya, kekasih-Nya, dan tamu berharga yang menjadi calon penghuni surga-Nya yang kekal. Kepada seluruh manusia yang tetap menjadi manusia, ia memberi kegembiraan yang tak berhingga dan semangat yang tak terbatas.
Buah Kedua: Ia membawa kepada jin dan manusia hadiah berupa dasar-dasar Islam, dengan salat pada urutan pertama, yang diridai Rabb, Sang Penguasa Yang Azali dan Abadi, Sang Pembuat segala yang ada, Sang Pemilik alam, dan Rabb seluruh alam. Memahami apa yang diridai-Nya begitu membangkitkan minat dan mendatangkan kebahagiaan sehingga tak dapat dilukiskan. Sebab, betapa setiap orang ingin mengetahui dari jauh keinginan seorang pemberi nikmat yang besar ataupun raja yang berbuat baik kepadanya, dan betapa puas ia jika mengetahuinya. Ia berharap, "Andai ada sarana untuk menghubunginya sehingga aku dapat langsung berbicara dengannya! Andai aku memahami apa yang ia inginkan dariku! Andai aku mengetahui perbuatanku yang menyenangkannya!"Engkau dapat memahami betapa manusia seharusnya ingin dan berminat mengetahui apa yang diridai serta dikehendaki-Nya: seluruh yang ada berada dalam Genggaman Tasarruf-Nya; keindahan serta kesempurnaan pada segala yang ada hanyalah bayang-bayang lemah dibandingkan Keindahan dan Kesempurnaan-Nya; manusia setiap saat membutuhkan-Nya dari segi-segi tak berhingga dan menerima karunia-karunia-Nya yang tak berhingga.
Pribadi Ahmad ﷺ, di balik tujuh puluh ribu tabir, langsung mendengar dengan haqqul-yaqin apa yang diridai Sultan Azali dan Abadi itu sebagai buah mikraj, lalu membawa dan menghadiahkannya kepada umat manusia.
Ya, betapa manusia ingin mengetahui keadaan di bulan, agar seseorang pergi ke sana lalu kembali membawa berita. Betapa besar pula pengorbanan yang mereka lakukan. Jika mengetahuinya, betapa mereka akan kagum dan semakin berminat. Padahal, bulan beredar di negeri Sang Mâlikul-Mulk, sehingga ia terbang mengitari bola bumi seperti seekor lalat. Bola bumi terbang mengitari matahari seperti seekor ngengat. Matahari hanyalah satu lampu di antara ribuan lampu yang menjadi penerang di sebuah rumah tamu Sang Mâlikul-Mulk Dzul-Jalâl.
Pribadi Ahmad ﷺ telah melihat Syuunat Zat Dzul-Jalâl itu, keajaiban Seni-Nya serta khazanah Rahmat-Nya di alam kekal, lalu datang dan menceritakannya kepada umat manusia. Engkau dapat memahami betapa manusia bertindak bertentangan dengan akal dan hikmah jika mereka tidak mendengarkan sosok ini dengan minat, kekaguman dan cinta yang penuh.
Buah Ketiga: Ia melihat harta terpendam kebahagiaan abadi, mengambil dan membawa kuncinya, lalu menghadiahkannya kepada jin dan manusia. Ya, melalui mikraj ia melihat surga dengan matanya sendiri, menyaksikan Pancaran kekal Rahmat Sang Rahmân Dzul-Jamâl, memahami kebahagiaan abadi dengan pasti pada tingkat haqqul-yaqin, dan menghadiahkan kepada jin serta manusia kabar gembira tentang adanya kebahagiaan abadi. Jin dan manusia yang malang berada di dunia yang tak menetap; mereka menyangka dengan cara yang menyayat jiwa bahwa segala yang ada, di tengah guncangan saat sesuatu lenyap dan berpisah, dituangkan oleh arus waktu serta gerak zarah ke dalam lautan tiada dan perpisahan abadi. Saat mereka berada dalam keadaan itu, tak dapat dilukiskan betapa berharga kabar gembira tersebut, dan betapa kabar itu mendatangkan kebahagiaan ketika sampai ke telinga jin serta manusia fana yang mengira diri mereka dihukum mati selama-lamanya.Jika seseorang, tepat saat akan dihukum mati, diampuni dan diberi sebuah istana di dekat raja, betapa hal itu mendatangkan kegembiraan. Kumpulkan kegembiraan semacam itu sebanyak jumlah seluruh jin dan manusia, lalu nilailah kabar gembira ini.
Buah Keempat: Sebagaimana ia sendiri memperoleh buah berupa melihat Keindahan Allah subhânahu, ia membawa kepada jin serta manusia hadiah bahwa buah itu juga mungkin bagi setiap mukmin. Dengan hal berikut engkau dapat mengukur betapa lezat, menyenangkan dan indah buah tersebut. Yakni, setiap manusia yang memiliki kalbu mencintai sosok yang indah, sempurna dan berbuat baik. Cinta itu bertambah sesuai tingkat keindahan, kesempurnaan dan kebaikannya; ia sampai pada tingkat memujanya dan mencintainya hingga rela mengorbankan nyawa. Ia mencapai tingkat rela mengorbankan dunianya hanya untuk melihatnya sekali. Padahal, keindahan, kesempurnaan serta kebaikan pada seluruh yang ada, dibandingkan Keindahan, Kesempurnaan dan Karunia-Nya, bahkan tidak seperti perbandingan beberapa kilauan kecil dengan matahari.
Maka, jika engkau manusia, engkau dapat memahami betapa berhasil melihat Zat Dzul-Jalâl wal-Kamâl dalam kebahagiaan abadi itu mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan, serta merupakan buah yang menyenangkan dan indah: Dia layak dicintai tanpa batas, lebih layak dilihat tanpa batas dan dirindukan tanpa batas.
Buah Kelima: Melalui mikraj diketahui bahwa manusia ialah buah alam yang berharga dan kekasih Sang Pembuat alam yang dimanjakan-Nya; ia membawa buah itu kepada jin dan manusia. Dengan buah itu, manusia, makhluk kecil, hewan lemah dan makhluk sadar yang tak berdaya, diangkat ke maqam yang begitu tinggi sehingga ia diberi maqam membanggakan di atas seluruh yang ada di alam. Ia pun diberi rasa senang serta kegembiraan yang mendatangkan bahagia, yang tak dapat digambarkan. Sebab, betapa gembira seorang prajurit biasa jika dikatakan kepadanya, "Engkau telah menjadi marsekal."Bayangkan betapa dalam dan sungguh-sungguh kegembiraan yang dirasakan dalam kalbu seorang manusia yang kemanusiaannya belum jatuh, ketika manusia malang, hewan berakal yang fana dan tak berdaya, yang terus-menerus menerima tamparan dari lenyapnya sesuatu serta perpisahan, tiba-tiba diberi tahu: "Di surga yang abadi dan kekal, dalam Rahmat Sang Rahmân yang Rahîm dan Karîm, engkau dapat berjalan-jalan, bepergian dan menjelajah alam mulk dan malakut milik-Nya, secepat khayal, seluas ruh, sejauh jangkauan akal serta menurut seluruh keinginan kalbu; dan engkau pun dapat melihat Keindahan-Nya dalam kebahagiaan abadi."
Kini, kepada sosok yang berada pada maqam sebagai pendengar itu kami berkata: Robek dan buang bajumu yang mengingkari Allah subhânahu. Kenakan telinga mukmin dan pasang mata Muslim. Dengan dua perumpamaan kecil, kami akan menunjukkan kepadamu tingkat nilai satu atau dua buah itu. Misalnya:
Engkau dan kami berada bersama di suatu negeri. Kami melihat bahwa segala sesuatu memusuhi kami dan saling bermusuhan, serta asing bagi kami; setiap tempat penuh jenazah yang mengerikan; suara yang terdengar ialah tangis anak yatim dan jeritan orang yang dizalimi. Ketika kami berada dalam keadaan seperti itu, seandainya seseorang pergi lalu membawa kabar gembira dari raja negeri itu, sehingga dengan kabar tersebut yang asing bagi kami menjadi sahabat, mereka yang kami pandang sebagai musuh berubah menjadi saudara, jenazah-jenazah mengerikan itu tampak sebagai para ahli ibadah yang khusyuk dan tunduk, berzikir dan bertasbih, tangisan seperti tangis anak yatim itu menjadi seruan penuh pujian, "Hidup!", kematian-kematian, perampasan-perampasan dan penjarahan-penjarahan itu berubah menjadi pelepasan dari tugas; dan bersama kegembiraan kami sendiri, kami pun ikut merasakan kegembiraan semua orang; tentu engkau memahami betapa menggembirakan kabar itu.
Sebelum cahaya iman, salah satu buah mikraj Ahmad ﷺ, ketika yang ada di alam ini dipandang dengan pandangan sesat, semuanya tampak asing, berbahaya, mengusik dan menakutkan; benda-benda besar seperti gunung menjadi jenazah-jenazah mengerikan; ajal memenggal kepala setiap orang lalu melemparkannya ke sumur negeri tiada; seluruh suara merupakan jeritan akibat perpisahan dan lenyapnya sesuatu. Ketika kesesatan menggambarkan demikian, hakikat rukun-rukun iman, buah mikraj, memperlihatkan kepadamu bahwa segala yang ada ialah saudara serta sahabatmu, yang berzikir dan bertasbih kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang membuatnya; bahwa kematian serta lenyapnya sesuatu ialah semacam pelepasan dari tugas dan pembebasan dari kewajiban; dan bahwa suara-suara itu pada hakikatnya merupakan tasbih. Jika engkau hendak melihat hakikat ini sepenuhnya, lihatlah Kalimat Kedua dan Kedelapan. Perumpamaan Kedua:
Engkau dan kami berada di suatu tempat seperti gurun luas. Di tengah badai lautan pasir, malam begitu gelap sehingga kami bahkan tak dapat melihat tangan kami. Saat kami tanpa seorang pun, tanpa pelindung, lapar, haus, putus asa dan kehilangan harapan, tiba-tiba seseorang melewati tabir gelap itu, lalu datang kembali menghadiahkan sebuah mobil, menaikkan kami ke dalamnya, dan seketika menempatkan kami di sebuah tempat seperti surga, tempat masa depan kami terjamin, kami menemukan pelindung yang amat penyayang, serta makanan dan minuman telah disiapkan; engkau tahu betapa gembira kami.
Gurun luas itu ialah muka dunia ini. Lautan pasir itu ialah segala yang ada dan manusia malang yang terombang-ambing di tengah peristiwa-peristiwa ini, digerakkan oleh gerak zarah dan arus waktu. Setiap manusia memandang masa depan, yang melukai kalbunya dengan rasa khawatir, dalam gelap yang mengerikan melalui pandangan sesat. Ia tidak mengetahui siapa yang dapat mendengar jeritannya. Ia lapar tanpa batas, haus tanpa batas.
Dengan apa yang diridai Allah subhânahu, buah mikraj, dunia ini tampak sebagai rumah tamu Zat yang amat Karîm, manusia sebagai para tamu serta petugas-Nya, dan masa depan seindah surga, semanis Rahmat dan secemerlang kebahagiaan abadi; saat itu engkau memahami betapa menyenangkan, indah dan manis buah tersebut. ~Sosok yang berada pada maqam sebagai pendengar itu berkata:
"Ratusan ribu pujian dan syukur bagi Allah subhânahu; aku telah selamat dari pengingkaran terhadap Allah subhânahu, masuk ke dalam tauhid, beriman sepenuhnya dan memperoleh iman yang sempurna."
~Kami pun berkata:
Wahai saudara! Kami mengucapkan selamat kepadamu. Semoga Allah subhânahu menjadikan kita penerima syafaat Rasul yang paling mulia ﷺ, amin! ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦِ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺑِﺎِﺷَﺎﺭَﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﻭَ ﻧَﺒَﻊَ ﻣِﻦْ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌِﻪِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀُ ﻛَﺎﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﻤِﻌْﺮَﺍﺝِ ﻭَ ﻣَﺎ ﺯَﺍﻍَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﺍَﻭَّﻝِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ ﺍﻟْﻤَﺤْﺸَﺮِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ٭ ﺭَﺑَّﻨَٓﺎ ﺍَﺗْﻤِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻧُﻮﺭَﻧَﺎ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
--