Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kalimat Ketiga Puluh Satu

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kalimat Ketiga Puluh Satu

Mengenai Mikraj Nabi ﷺ

~Peringatan:

Persoalan mikraj adalah hasil yang mengikuti dasar-dasar rukun iman. Ia merupakan cahaya yang mengambil bantuan dari cahaya-cahaya rukun iman. Tentu ia tidak dibuktikan secara tersendiri terhadap orang-orang tanpa agama yang mengingkari dan tidak menerima rukun iman. Sebab mikraj tidak dibicarakan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah subhânahu, tidak mengenal Nabi ﷺ, tidak menerima malaikat, atau mengingkari adanya langit. Pertama-tama rukun-rukun itu perlu dibuktikan. Maka kami akan menjelaskan dengan menjadikan seorang mukmin yang jatuh dalam waswas karena menganggap mikraj sulit terjadi sebagai lawan bicara. Dari waktu ke waktu kami akan berbicara dengan memandang pengingkar yang berada pada maqam sebagai pendengar. Dalam beberapa Kalimat telah disebutkan sebagian kilauan hakikat mikraj. Atas desakan saudara-saudaraku, kami memohon Pertolongan dari Allah subhânahu untuk memadukan kilauan-kilauan yang terpisah itu dengan hakikat asalnya dan sekaligus menjadikannya cermin bagi keindahan kesempurnaan Ahmad ﷺ. ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺳْﺮٰﻯ ﺑِﻌَﺒْﺪِﻩ۪ لَيْلًا ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ الْاَقْصَى ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑَﺎﺭَﻛْﻨَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ ﻟِﻨُﺮِﻳَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼ۪ﻴﺮُ ٭ ﺍِﻥْ ﻫُﻮَ اِلَّا ﻭَﺣْﻰٌ ﻳُﻮﺣٰﻰ ٭ ﻋَﻠَّﻤَﻪُ ﺷَﺪ۪ﻳﺪُ ﺍﻟْﻘُﻮٰﻯ ٭ ﺫُﻭ ﻣِﺮَّﺓٍ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮٰﻯ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰى ٭ ﺛُﻢَّ ﺩَﻧَﺎ ﻓَﺘَﺪَﻟّٰﻰ ٭ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻗَﺎﺏَ ﻗَﻮْﺳَﻴْﻦِ ﺍَﻭْ ﺍَﺩْﻧٰﻰ ٭ ﻓَﺎَﻭْﺣٰٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻩ۪ ﻣَٓﺎ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ٭ ﻣَﺎ ﻛَﺬَﺏَ ﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩُ ﻣَﺎ ﺭَﺍٰﻯ ٭ ﺍَﻓَﺘُﻤَﺎﺭُﻭﻧَﻪُ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺎ ﻳَﺮٰﻯ ٭ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺭَﺍٰﻩُ ﻧَﺰْﻟَﺔً ﺍُﺧْﺮٰﻯ ٭ ﻋِﻨْﺪَ ﺳِﺪْﺭَﺓِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻬٰﻰ ٭ ﻋِﻨْﺪَﻫَﺎ ﺟَﻨَّﺔُ ﺍﻟْﻤَﺎْﻭٰﻯ ٭ ﺍِﺫْ ﻳَﻐْﺸَﻰ ﺍﻟﺴِّﺪْﺭَﺓَ ﻣَﺎ ﻳَﻐْﺸٰﻰ ٭ ﻣَﺎ ﺯَﺍﻍَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ﻭَﻣَﺎ ﻃَﻐٰﻰ ٭ ﻟَﻘَﺪْ ﺭَﺍٰﻯ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺕِ ﺭَﺑِّﻪِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ ٭ Dari khazanah besar ayat agung yang pertama, hanya karena dua isyarat pada kata ganti ﺍِﻧَّﻪُ yang bersandar pada suatu kaidah balagah berhubungan dengan persoalan kita, kami akan menuliskannya sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan i'jaz. Al-Qur'an Al-Hakîm, setelah menyebut perjalanan Sang Kekasih yang paling mulia ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, awal mikrajnya, berkata, ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼ۪ﻴﺮُ. Melalui ucapan ini, akhir mikraj yang ditunjukkan dalam surah ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﻫَﻮٰﻯ diisyaratkan oleh kata ganti pada ﺍِﻧَّﻪُ, yang kembali kepada Allah subhânahu atau kepada Nabi ﷺ. Jika kembali kepada Nabi ﷺ, hukum balagah serta kesesuaian rangkaian ucapan menyatakan bahwa dalam perjalanan yang juz'i ini terdapat perjalanan umum serta kenaikan menyeluruh; pada tingkatan-tingkatan menyeluruh dari Asma, hingga Sidratul-Muntaha dan Qaba Qawsain, beliau telah mendengar serta melihat ayat-ayat Rabb dan keajaiban Seni Ilahi yang ditemui mata serta telinganya. Ia memperlihatkan perjalanan kecil dan juz'i itu sebagai kunci perjalanan menyeluruh yang merupakan tempat berkumpulnya keajaiban. Jika kata ganti kembali kepada Allah subhânahu, maknanya seperti ini: Dia mengundang seorang hamba-Nya ke Hadirat-Nya dalam suatu perjalanan untuk memberinya tugas, mengirimnya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, tempat berkumpulnya para nabi, mempertemukannya dengan nabi-nabi, dan setelah memperlihatkan bahwa ia pewaris mutlak dasar-dasar agama seluruh nabi, Dia membawanya berkeliling dalam alam mulk serta malakut milik-Nya hingga Sidratul-Muntaha serta Qaba Qawsain. Sekalipun ia seorang hamba dan perjalanan itu merupakan mikraj yang juz'i,bersama hamba ini ada amanat yang berkaitan dengan seluruh alam. Bersamanya juga ada cahaya yang akan mengubah warna alam. Karena bersamanya ada kunci yang akan membuka pintu kebahagiaan abadi, Allah subhânahu menggambarkan Diri-Nya melalui Sifat "mendengar dan melihat segala sesuatu". Agar Dia memperlihatkan hikmah-hikmah amanat, cahaya, serta kunci itu yang mencakup dunia, menyeluruh, umum bagi seluruh alam, serta mencakup seluruh makhluk. Rahasia agung ini memiliki empat dasar. Pertama: Apa rahasia perlunya mikraj? Kedua: Apa hakikat mikraj? Ketiga: Apa hikmah mikraj? Keempat: Apa buah serta manfaat mikraj?

DASAR PERTAMA

Rahasia perlunya mikraj:

~Misalnya dikatakan:

"Allah subhânahu adalah ﺍَﻗْﺮَﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭ۪ﻳﺪِ. Dia lebih Dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu. Dia Suci dari tubuh serta tempat. Setiap wali dapat berjumpa dengan-Nya dalam hatinya. Mengapa kewalian Ahmad ﷺ mencapai munajat yang dapat dicapai setiap wali dalam hatinya sendiri setelah hasil perjalanan panjang seperti mikraj?" ~Jawaban:

Kami mendekatkan rahasia rumit ini kepada pemahaman melalui dua perumpamaan. Dengarkan kedua perumpamaan Kalimat Kedua Belas mengenai rahasia i'jaz Al-Qur'an serta rahasia mikraj ini: Perumpamaan Pertama: Seorang sultan memiliki dua jenis percakapan, pergaulan, serta pertemuan. Ia memiliki dua cara menyapa dan memberi perhatian. Pertama: Berbicara dengan seorang rakyat biasa melalui telepon pribadi tentang kebutuhan khusus untuk urusan yang juz'i. Yang lain: Berbicara serta berbincang dengan seorang utusan yang berkaitan dengan urusan-urusan itu atau petugas besar yang berhubungan dengan perintah-perintah tersebut, dengan gelar kerajaan agung, atas nama kekhalifahan besar, dari segi kekuasaan umum, dan dengan tujuan menyebarkan serta mengumumkan perintahnya ke segala penjuru. Percakapan itu melalui titah luhur yang menampakkan kemegahannya. Maka ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى, seperti perumpamaan ini, Sang Khâliq alam ini, Sang Mâlik alam mulk dan malakut, serta Sang Penguasa Azali dan Abadi memiliki dua cara berbicara, bergaul, dan memberi Perhatian. Yang satu juz'i dan khusus, yang lain menyeluruh dan umum. Mikraj merupakan tampaknya kewalian Ahmad ﷺ dalam bentuk yang menyeluruh serta luhur di atas seluruh kewalian; ia memperoleh kehormatan berbicara serta bermunajat dengan Allah subhânahu atas Nama Rabb seluruh alam dan dengan gelar Khâliq segala wujud. Perumpamaan Kedua: Seseorang menghadap matahari dengan cermin di tangannya. Menurut ukurannya sendiri, cermin itu menerima cahaya, sinar yang mencakup tujuh warna, serta pantulan dari matahari. Menurut ukuran itu pula ia berhubungan dan berbicara dengan matahari. Jika ia mengarahkan cermin bercahaya itu ke rumahnya yang gelap atau kebun kecil pribadinya di bawah atap, ia dapat mengambil manfaat bukan menurut nilai matahari, melainkan menurut kemampuan cermin itu. Adapun orang lain meninggalkan cermin, langsung menghadap matahari, melihat kemegahannya, serta memahami kebesarannya. Kemudian ia naik ke gunung yang sangat tinggi, melihat cahaya kerajaan matahari yang sangat luas, dan langsung bertemu dengannya tanpa tirai. Kemudian ia kembali, membuka jendela-jendela lebar pada rumah atau atap kebunnya, membuat jalan menuju matahari di langit, dan berbincang serta berbicara dengan cahaya terus-menerus matahari yang sesungguhnya. Dengan demikian ia dapat berbicara penuh rasa terima kasih dan berkata, "Wahai matahari yang lembut, keindahan dunia dan kesayangan langit, yang menyepuh bumi dengan cahayanya serta membuat wajah bumi dan seluruh bunga tersenyum!Seperti mereka, engkau menghangatkan dan menerangi rumah serta kebun kecilku, sebagaimana engkau menerangi seluruh dunia dan menghangatkan bumi." Padahal pemilik cermin yang pertama tidak dapat berkata demikian. Pantulan matahari yang terikat cermin itu memiliki jejak terbatas menurut ikatan tersebut. Tajalli Zat Yang Ahad lagi Samad, Sultan Matahari Azali dan Abadi, tampak pada hakikat manusia melalui dua bentuk yang mencakup tingkatan tanpa batas: Pertama: Tampak melalui hubungan Rabb yang memanjang kepada cermin hati; setiap orang, menurut kemampuan serta perjalanan rohaninya dalam melewati tingkatan, dan menurut Tajalli Asma serta Sifat, memiliki bagian yang juz'i atau menyeluruh dari Cahaya, Percakapan, serta Munajat Matahari Azali itu. Derajat kewalian yang berjalan dalam bayang-bayang Asma serta Sifat yang dominan berasal dari bagian ini. Kedua: Karena manusia mencakup banyak hal dan merupakan buah pohon alam yang paling bercahaya, ia dapat memperlihatkan sekaligus dalam cermin ruhnya Asmaulhusna yang Pancarannya tampak dalam seluruh alam; dari segi ini, Allah subhânahu melalui Tajalli Zat-Nya serta Asmaulhusna pada tingkatan terbesar menampakkan Tajalli terbesar pada individu manusia yang secara maknawi paling agung; munculnya hal itu serta Tajalli ini adalah rahasia mikraj Ahmad ﷺ, yang kewaliannya menjadi awal kerasulannya. Kewalian yang melewati bayangan menyerupai orang pertama dalam perumpamaan kedua. Dalam kerasulan tidak ada bayangan; ia langsung memandang Ahadiyah Zat Dzul-Jalâl dan menyerupai orang kedua dalam perumpamaan kedua. Karena mikraj merupakan karamah terbesar serta tingkatan tertinggi kewalian Ahmad ﷺ, ia berubah menjadi tingkatan kerasulan. Batin mikraj adalah kewalian, pergi dari makhluk kepada Al-Haqq. Lahir mikraj adalah kerasulan, datang dari Al-Haqq kepada makhluk. Kewalian adalah perjalanan dalam tingkatan kedekatan. Ia membutuhkan banyak tingkatan dilewati serta waktu sampai suatu tingkat. Adapun kerasulan, cahaya terbesar, memandang rahasia tersingkapnya kenyataan bahwa Allah subhânahu paling Dekat kepada makhluk, sehingga suatu saat yang mengalir telah mencukupi. Karena itulah dalam hadis dikatakan, "Dalam satu saat ia telah kembali dan datang." Sekarang kami berkata kepada pengingkar yang berada pada maqam sebagai pendengar: Karena alam ini laksana negeri yang sangat teratur, kota yang sangat megah, serta istana yang sangat berhias, tentu ia memiliki Penguasa, Pemilik, serta Pembuat. Karena ada Sang Mâlik Dzul-Jalâl, Sang Penguasa Dzul-Kamâl, serta Sang Pembuat Dzul-Jamâl yang begitu megah,dan karena ada manusia yang memperlihatkan hubungan dengan seluruh alam, negeri, kota, serta istana itu, berhubungan dengan semuanya melalui indra serta perasaannya, dan memiliki pandangan yang menyeluruh, tentu Sang Pembuat yang Megah itu memiliki hubungan luhur serta terbesar dengan manusia yang berpandangan menyeluruh dan berkesadaran umum tersebut, dan akan memiliki Seruan suci serta Perhatian luhur kepadanya. Karena di antara orang-orang yang menerima hubungan ini dari Adam alaihissalâm hingga sekarang, Muhammad dari Arab ﷺ telah memperlihatkan hubungan tersebut pada tingkat terbesar melalui kesaksian jejaknya, yakni memasukkan separuh bumi serta seperlima manusia ke dalam lingkup tasarrufnya, serta mengubah dan menerangi bentuk maknawi alam, maka mikraj, yang merupakan tingkatan terbesar hubungan itu, paling layak dan paling sesuai baginya.

DASAR KEDUA

Apa hakikat mikraj?

~Jawaban:

Mikraj ialah perjalanan rohani pribadi Ahmad ﷺ dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan. Yakni, dengan memperlihatkan satu per satu kepada hamba khusus itu jejak-jejak Rububiyah melalui Nama serta Gelar berbeda yang Allah subhânahu tajallikan dalam susunan makhluk, dalam lingkup pengaturan dan penciptaan yang dibentuk-Nya dalam Kerajaan Rububiyah-Nya, serta pada lapisan langit yang menjadi dasar arasy Rububiyah dan pusat Tasarruf dalam setiap lingkup tersebut, Dia hendak menjadikan hamba itu mencakup seluruh kesempurnaan manusia, menerima seluruh Tajalli Ilahi, memandang seluruh lapisan alam semesta, menjadi penyeru Kerajaan Rububiyah, penyampai hal-hal yang diridai Allah subhânahu, serta penyingkap teka-teki alam semesta. Untuk itu, Dia menaikkannya ke Burak, membuatnya menyaksikan langit secepat kilat dan melewati tingkatan; seperti bulan dari tempat ke tempat serta lingkup ke lingkup, Dia membuatnya memandang Rububiyah Ilahi dan memperlihatkan satu per satu para nabi, saudara-saudaranya yang memiliki maqam pada langit lingkup-lingkup itu, hingga mengangkatnya ke maqam Qaba Qawsain, serta dengan Ahadiyah membuatnya menerima Kalam-Nya dan melihat-Nya. Hakikat luhur ini dapat dipandang melalui dua teropong perumpamaan. Pertama: Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Kedua Puluh Empat, seorang raja memiliki gelar-gelar berbeda pada bagian-bagian pemerintahannya, nama serta sifat berbeda pada lapisan rakyatnya, dan berbagai nama serta tanda pada tingkatan kerajaannya. Misalnya, pada bagian peradilan ia hakim adil, pada bagian pemerintahan sultan, pada bagian tentara panglima tertinggi, pada bagian ilmu khalifah, dan seterusnya, memiliki nama serta gelar lain. Pada setiap bagian terdapat maqam serta kursi yang laksana takhta maknawinya. Satu raja itu dapat memiliki seribu nama dan gelar pada lingkup-lingkup kerajaan serta tingkatan lapisan pemerintahannya. Ia dapat memiliki seribu takhta kerajaan yang saling berada di dalam lainnya. Seolah melalui pribadi maknawi serta teleponnya, penguasa itu ada dan hadir dalam setiap bagian serta mengetahui. Pada setiap lapisan ia terlihat dan melihat melalui hukum, tatanan, serta wakilnya. Pada setiap tingkatan ia mengatur dan memperhatikan di balik tirai melalui putusan, pengetahuan, serta kekuatannya. Setiap bagian memiliki pusat serta tempat berbeda. Ketetapannya terpisah satu dari lainnya. Lapisannya berbeda satu dari lainnya.Sultan seperti ini membawa seseorang yang dikehendakinya berkeliling dalam seluruh bagian itu, memperlihatkan kerajaan serta perintah penguasanya yang khusus bagi setiap bagian, dan membawanya dari bagian ke bagian serta lapisan ke lapisan hingga ke hadapannya. Kemudian ia menitipkan kepadanya beberapa perintah umum dan menyeluruh yang berkaitan dengan seluruh bagian itu, lalu mengirimnya. Seperti contoh ini, Rabb seluruh alam, Sultan Azali dan Abadi, memiliki Syuun serta Nama yang berbeda tetapi saling memandang pada tingkatan Rububiyah-Nya. Pada lingkup Keilahian-Nya terdapat Nama serta tanda berbeda tetapi terlihat saling berada di dalam lainnya. Pada Pelaksanaan-Nya yang megah terdapat Tajalli serta Pancaran berbeda tetapi saling menyerupai. Pada Tasarruf Kudrat-Nya terdapat Gelar berbeda tetapi membuat orang merasakan satu melalui yang lain. Pada Tajalli Sifat-Sifat-Nya terdapat Pancaran-pancaran suci yang berbeda tetapi saling memperlihatkan. Pada Pancaran Perbuatan-Nya terdapat berbagai Tasarruf tetapi saling menyempurnakan. Pada Seni serta ciptaan-Nya yang beraneka warna terdapat berbagai Rububiyah megah tetapi saling menyaksikan. Berdasarkan rahasia agung ini, Dia menata alam semesta dengan susunan yang aneh dan menakjubkan. Dari zarah, lapisan makhluk terkecil, hingga langit, serta dari lapisan langit pertama hingga Arasy Teragung, terdapat susunan yang saling berada di atas lainnya. Setiap langit laksana atap suatu alam berbeda, arasy bagi Rububiyah, serta pusat bagi Tasarruf Ilahi. Sekalipun dari segi Ahadiyah seluruh Asma dapat ada pada lingkup dan lapisan itu serta bertajalli melalui seluruh Gelar, sebagaimana dalam peradilan gelar hakim adil merupakan pokok dan berkuasa, serta gelar lainnya mengikuti perintahnya dan tunduk kepadanya, begitu pula pada setiap lapisan makhluk dan setiap langit, suatu Nama serta Gelar Ilahi berkuasa. Gelar lainnya juga berada di dalam lingkupnya. Misalnya, pada langit mana pun Isa alaihissalâm, yang menerima Nama Qadîr, berjumpa dengan Nabi ﷺ dalam lingkup langit itu Allah subhânahu sendiri bertajalli melalui Gelar Qadîr. Misalnya, pada lingkup langit yang merupakan maqam Musa alaihissalâm, Gelar yang paling berkuasa ialah "Mutakallim", yang diterima Musa alaihissalâm, dan seterusnya...Karena pribadi Ahmad ﷺ menerima Ismul A'zham, kenabiannya umum, dan ia menerima seluruh Asma, tentu ia berkaitan dengan seluruh lingkup Rububiyah. Tentu bertemu para nabi yang memiliki maqam pada lingkup-lingkup itu serta melewati seluruh lapisan menuntut hakikat mikraj. Perumpamaan Kedua: Gelar "panglima tertinggi", salah satu gelar sultan, tampak dan berpancar pada setiap lingkup tentara, dari lingkup luas serta menyeluruh seperti bagian panglima besar hingga lingkup juz'i serta khusus seperti bagian kopral. Misalnya, seorang prajurit melihat contoh gelar kepanglimaan tertinggi itu pada pribadi kopral, memandangnya, dan menerima perintah darinya. Ketika prajurit itu menjadi kopral, lingkup kepanglimaan pada bagian sersan menarik perhatiannya, lalu ia memandangnya. Kemudian jika menjadi sersan, ia melihat contoh serta pancaran kepanglimaan pada bagian letnan. Pada maqam itu terdapat kursi yang khusus baginya, dan seterusnya... Dalam setiap bagian kapten, mayor, jenderal, serta marsekal, ia melihat gelar kepanglimaan menurut besar dan kecilnya bagian itu. Kini jika panglima tertinggi ingin menugasi seorang prajurit dengan tugas yang berkaitan dengan seluruh bagian tentara dan ingin memberinya maqam agar melihat serta terlihat dalam setiap bagian seperti seorang pemeriksa, tentu panglima tertinggi akan membawanya satu per satu dari bagian kopral hingga bagiannya yang terbesar, agar ia melihat dan terlihat. Kemudian ia menerimanya di hadapannya, memberinya kehormatan berbincang dengannya, memuliakannya dengan tanda kehormatan serta titah, lalu mengirimnya dalam satu saat hingga tempat asalnya. Satu hal perlu diperhatikan dalam perumpamaan ini: jika raja bukan orang yang tak berdaya dan memiliki kemampuan maknawi seperti kemampuan lahirnya, saat itu ia tidak mewakilkan kepada pribadi-pribadi seperti jenderal, marsekal, serta letnan. Ia sendiri hadir di segala tempat. Hanya di bawah sebagian tirai serta di balik pribadi-pribadi yang memiliki maqam, ia langsung memberi perintah. Diriwayatkan bahwa sebagian raja yang menjadi wali sempurna melaksanakan pekerjaannya dalam bentuk beberapa pribadi di banyak bagian. Adapun pada hakikat yang kita pandang melalui perumpamaan ini, karena tidak ada keadaan tak berdaya di dalamnya, Perintah serta Putusan langsung datang dari Sang Panglima Tertinggi dalam setiap lingkup. Melalui Perintah, Kehendak, serta Kekuatan-Nya.Seperti perumpamaan ini, Syuunat Perintah serta Kekuasaan Sang Penguasa bumi dan langit, Sultan Azali dan Abadi, Pemilik Perintah "Kun fayakun" dan Pemberi Perintah Mutlak, yang berlaku pada lapisan-lapisan makhluk serta dilaksanakan dengan ketaatan dan keteraturan sempurna, terlihat pada lapisan makhluk serta golongan wujud dari zarah hingga planet dan dari lalat hingga langit; lapisan dan golongan yang kecil serta besar, juz'i serta menyeluruh, masing-masing tampak sebagai lingkup Rububiyah serta lapisan Kekuasaan, berbeda tetapi saling memandang. Kini untuk memahami tujuan-tujuan luhur serta hasil-hasil terbesar dalam seluruh alam semesta, menyaksikan Kerajaan Rububiyah serta Kemegahan Kekuasaan Zat yang Mahaagung dengan melihat tugas ubudiyah yang berbeda pada seluruh lapisan, memahami hal-hal yang diridai Zat itu, serta menjadi penyeru Kerajaan-Nya, tentu harus ada perjalanan rohani dalam lapisan serta lingkup tersebut. Hingga ia masuk ke Arasy Teragung-Nya, sebutan bagi lingkup-Nya yang terbesar; hingga ia masuk ke Qaba Qawsain, yakni maqam antara mungkin ada dan wajib ada yang ditunjukkan dengan Qaba Qawsain, serta berjumpa dengan Zat yang Jalîl Dzul-Jamâl; perjalanan rohani ini ialah hakikat mikraj. Sebagaimana setiap manusia menjelajah melalui akalnya secepat khayal, setiap wali bergerak melalui hatinya secepat kilat, setiap malaikat bertubuh cahaya berputar dari arasy ke bumi serta dari bumi ke arasy secepat ruh, dan manusia penghuni surga naik dari tempat hasyr ke surga melalui jarak lebih dari lima ratus tahun secepat Burak, begitu pula ruh Muhammad ﷺ bercahaya serta memiliki kemampuan cahaya, lebih halus daripada hati para wali, lebih ringan daripada ruh orang mati serta tubuh malaikat, dan lebih lembut daripada tubuh bintang serta tubuh berupa gambaran; tubuh Muhammad ﷺ, yang menjadi dasar tugas tanpa batas serta khazanah perangkat ruhnya, tentu akan pergi bersama ruhnya yang luhur hingga arasy. Kini kami memandang pengingkar yang berada pada maqam sebagai pendengar. Terlintas dalam pikiran bahwa: ~Pengingkar itu berkata dalam hatinya:

"Aku tidak mengenal Allah subhânahu dan tidak mengetahui Nabi ﷺ, bagaimana aku akan mempercayai mikraj?" ~Kami juga berkata:

Karena alam semesta serta wujud-wujud ini ada, dan di dalamnya terdapat perbuatan serta penciptaan; karena perbuatan yang teratur tidak tanpa pelaku, kitab yang bermakna tidak tanpa penulis, serta ukiran penuh seni tidak tanpa pengukir; tentu ada Pelaku perbuatan penuh Hikmah yang memenuhi alam semesta ini, serta Penulis dan Pengukir ukiran menakjubkan serta surat bermakna pada wajah bumi yang diperbarui dari musim ke musim. Karena adanya dua penguasa dalam satu pekerjaan merusak keteraturannya; dan karena terdapat keteraturan sempurna dari sayap lalat hingga lampu langit, maka Penguasa itu Satu. (Jika tidak Satu,) sebab seni serta hikmah setiap benda begitu menakjubkan sehingga Pembuat benda itu harus menjadi Sang Qadîr Mutlak sampai tingkat mampu atas setiap benda serta mengetahui setiap pekerjaan. Maka jika tidak Satu, harus ada ilah sebanyak wujud. Ilah-ilah itu akan saling berlawanan sekaligus serupa, dan dalam keadaan itu keteraturan menakjubkan ini tidak rusak adalah mustahil seratus ribu kali. Karena dengan jelas terlihat lapisan wujud ini bergerak menurut Perintah yang seribu kali lebih teratur daripada suatu pasukan; dari gerak teratur bintang, matahari, dan bulan hingga bunga-bunga badam, setiap golongan memperlihatkan dengan begitu teratur serta sempurna tanda, seragam, pakaian indah, dan gerak yang ditentukan serta diberikan Sang Qadîr yang Azali kepadanya, dengan cara seribu kali lebih teratur daripada pasukan, maka wujud-wujud alam semesta ini memandang Perintah-Nya serta melaksanakannya dan memiliki Sang Penguasa Mutlak di balik tirai gaib. Karena Penguasa itu, melalui kesaksian seluruh Pelaksanaan-Nya yang penuh Hikmah serta jejak Kemegahan yang diperlihatkan-Nya, merupakan Sang Sultan Dzul-Jalâl; melalui anugerah-anugerah yang diperlihatkan-Nya, merupakan Sang Rabb yang amat Rahîm; melalui karya-karya indah yang ditampakkan-Nya, merupakan Sang Pembuat yang mencintai Seni dan sangat mencintai Seni-Nya; melalui hiasan serta karya-karya yang menumbuhkan rasa ingin tahu yang diperlihatkan-Nya, merupakan Sang Khâliq yang Hakîm yang ingin menarik pandangan penuh penghargaan makhluk berkesadaran kepada karya-karya-Nya; dan dipahami bahwa melalui Hikmah Rububiyah-Nya, Dia ingin memberitahukan kepada makhluk berkesadaran apa makna hiasan yang membuat akal takjub dalam penciptaan alam, serta dari mana makhluk datang dan ke mana mereka akan pergi,tentu Sang Penguasa yang Hakîm serta Sang Pembuat yang Alîm ini ingin memperlihatkan Rububiyah-Nya. Karena dengan begitu banyak jejak Kelembutan, Belas Kasih, serta keajaiban Seni yang diperlihatkan-Nya, Dia ingin memperkenalkan serta membuat makhluk berkesadaran mencintai Diri-Nya, tentu melalui seorang penyampai Dia akan memberitahukan apa yang diinginkan-Nya dari makhluk berkesadaran serta hal-hal yang diridai-Nya pada mereka. Maka Dia akan menentukan salah satu makhluk berkesadaran dan mengumumkan Rububiyah itu melaluinya. Untuk memamerkan karya-karya yang Dia cintai, Dia akan memuliakan seorang penyeru dengan kedekatan di Hadirat-Nya dan menjadikannya sarana pameran. Untuk menampakkan Kesempurnaan-Nya dengan memberitahukan tujuan-tujuan luhur-Nya kepada makhluk berkesadaran lain, Dia akan menentukan seseorang sebagai guru. Agar teka-teki yang dimasukkan-Nya dalam alam semesta serta rahasia Rububiyah yang disembunyikan-Nya pada wujud-wujud ini tidak tanpa makna, tentu Dia akan menentukan seorang pembimbing. Agar keindahan karya-karya yang diperlihatkan serta dibentangkan-Nya di hadapan pandangan tidak tanpa manfaat dan sia-sia, Dia akan menentukan pembimbing yang mengajarkan tujuan-tujuan pada keindahan itu. Untuk menyampaikan hal-hal yang diridai-Nya kepada makhluk berkesadaran, Dia juga akan mengangkat seseorang ke maqam di atas seluruh makhluk berkesadaran, memberitahukan hal-hal yang diridai-Nya kepadanya, lalu mengirimnya kepada mereka. Karena hakikat serta Hikmah menuntut demikian, dan yang paling layak bagi tugas-tugas ini ialah Muhammad ﷺ, sebab ia benar-benar telah melaksanakannya dengan cara paling sempurna; alam Islam yang dibentuknya serta cahaya Islam yang diperlihatkannya merupakan saksi adil dan benar; maka beliau harus langsung naik ke atas seluruh alam semesta, melewati seluruh wujud, dan masuk ke suatu maqam untuk berbicara secara umum, luhur, serta menyeluruh dengan Sang Khâliq seluruh makhluk. Mikraj juga menyatakan hakikat ini. Kesimpulannya,

karena Dia membentuk, menata, serta menghiasi alam semesta yang agung ini dengan cara tersebut demi banyak tujuan agung serta sasaran besar seperti tujuan-tujuan tadi; dan karena di antara wujud-wujud ini terdapat jenis manusia yang akan melihat Rububiyah umum dengan seluruh kehalusannya serta Kerajaan Keilahian yang agung dengan seluruh hakikatnya, tentu Sang Penguasa Mutlak itu akan berbicara dengan manusia dan memberitahukan Tujuan-Tujuan-Nya. Karena setiap manusia tidak dapat melepaskan diri dari yang juz'i serta rendah dan naik ke maqam menyeluruh yang paling tinggi, tidak dapat menjadi penerima langsung Seruan menyeluruh Sang Penguasa itu, tentu di antara manusia akan ada pribadi-pribadi khusus yang ditugasi pekerjaan tersebut, agar memiliki hubungan dari dua segi. Ia harus manusia agar menjadi guru bagi manusia. Ia juga harus sangat luhur ruhnya agar langsung menerima Seruan. Kini, karena di antara manusia, yang paling sempurna memperkenalkan tujuan Sang Pembuat alam semesta ini, menyingkap teka-teki alam semesta, membuka rahasia penciptaan, serta menyerukan keindahan Kerajaan Rububiyah dengan cara paling sempurna ialah Muhammad ﷺ, tentu di antara seluruh pribadi manusia ia akan memiliki perjalanan rohani seperti itu, dan akan memiliki mikraj dalam bentuk perjalanan pada alam jasmani. Ia akan melewati tingkatan hingga ke balik perantara Asma, Tajalli Sifat serta Perbuatan, dan lapisan-lapisan wujud yang disebut "tujuh puluh ribu tirai". Inilah mikraj. Kembali terlintas dalam pikiran bahwa: ~Wahai pendengar! Engkau berkata dalam hatimu:

"Bagaimana aku mempercayainya; apa maksud berjumpa dengan Rabb yang lebih Dekat daripada segala sesuatu setelah menempuh jarak ribuan tahun dan melewati tujuh puluh ribu tirai?" ~Kami juga berkata:

Allah subhânahu lebih Dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu. Namun, segala sesuatu jauh dari-Nya tanpa batas. Sebagaimana jika matahari memiliki kesadaran serta dapat berbicara, ia dapat berbicara denganmu melalui cermin di tanganmu. Ia bertindak atas dirimu seperti dikehendakinya. Bahkan, sekalipun melalui pupil matamu yang seperti cermin ia lebih dekat kepadamu daripada dirimu, engkau jauh darinya sekitar empat ribu tahun dan tidak dapat mendekatinya dari segi apa pun. Jika engkau naik hingga maqam bulan serta mencapai titik yang langsung berhadapan, engkau hanya dapat menjadi suatu bentuk cermin baginya. Begitu pula, sekalipun Zat Dzul-Jalâl, Matahari Azali dan Abadi, lebih Dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu, setiap benda jauh dari-Nya tanpa batas. Hanya dengan melewati seluruh wujud, keluar dari yang juz'i, terus berjalan pada tingkatan yang menyeluruh, dan melewati ribuan tirai, seseorang mendekati Nama-Nya yang meliputi seluruh wujud, lalu melewati banyak tingkatan lebih jauh lagi. Kemudian ia menerima kehormatan suatu bentuk kedekatan. Misalnya, seorang prajurit sangat jauh dari pribadi maknawi panglima tertinggi. Melalui contoh kecil yang dilihatnya pada tingkat kopral, prajurit itu memandang panglimanya dari jarak sangat jauh dan di balik banyak tirai maknawi. Adapun kedekatan sesungguhnya dengan pribadi maknawinya mengharuskan seseorang melewati banyak tingkatan yang menyeluruh, seperti letnan, kapten, dan mayor. Padahal panglima tertinggi, melalui perintah, hukum, pandangan, putusan, serta pengetahuannya — jika ia panglima secara maknawi seperti secara lahir — dengan dirinya sendiri berada di sisi prajurit itu dan melihatnya. Karena hakikat ini telah dibuktikan secara amat pasti dalam Kalimat Keenam Belas, kami mencukupkan dengannya dan mempersingkat di sini. Kembali terlintas dalam pikiran bahwa: ~Engkau berkata dalam hatimu:

"Aku mengingkari langit dan tidak percaya kepada malaikat. Bagaimana aku mempercayai seseorang berkeliling di langit dan berjumpa dengan malaikat?" Ya, tentu sulit menjelaskan perkataan serta memperlihatkan sesuatu kepada orang-orang sepertimu, yang akalnya telah turun ke matanya dan matanya tertutup tirai. Namun, karena haq begitu terang sehingga orang buta pun dapat melihatnya, ~kami juga berkata:

Menurut kesepakatan, ruang yang tinggi penuh dengan "eter". Zat-zat halus yang mengalir lainnya, seperti cahaya, listrik, dan panas, menunjukkan adanya suatu zat yang memenuhi ruang itu. Sebagaimana buah dengan jelas memperlihatkan pohonnya, bunga padang rumputnya, bulir-bulir ladangnya, dan ikan lautnya, bintang-bintang ini juga pasti menghadapkan kepada mata akal adanya asal, ladang, laut, serta padang rumput mereka. Karena dalam alam yang tinggi terdapat susunan berbeda, dan ketetapan berbeda terlihat dalam kedudukan berbeda, maka langit yang menjadi asal ketetapan-ketetapan itu berbeda-beda. Sebagaimana pada manusia, selain tubuh, terdapat pula wujud-wujud maknawi seperti akal, hati, ruh, khayal, dan daya ingat, tentu dalam alam yang merupakan manusia besar serta alam semesta yang merupakan pohon bagi buah manusia ini, terdapat alam-alam selain alam jasmani. Dari alam bumi hingga alam surga, setiap alam memiliki langit. Mengenai malaikat, kami juga berkata: Bumi, yang sedang di antara planet dan kecil serta padat di antara bintang, memiliki kehidupan serta kesadaran, yang paling berharga dan bercahaya di antara wujud, dalam jumlah tidak terhitung. Tentu bintang-bintang, yang laksana istana berhias serta bangunan sempurna dibanding bumi yang seperti rumah gelap, dan langit yang merupakan lautan bintang-bintang, merupakan tempat tinggal malaikat serta makhluk rohani yang berkesadaran, hidup, sangat banyak, dan beragam jenis. Karena dalam tafsirku yang bernama İşaratü'l-İ'caz, pada ayat ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮٰٓﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﺴَﻮّٰﻳﻬُﻦَّ ﺳَﺒْﻊَ ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕٍ, adanya langit serta jumlahnya yang banyak telah dibuktikan dengan sangat pasti, dan mengenai malaikat, kami telah membuktikan adanya mereka dengan kepastian dua kali dua sama dengan empat dalam Kalimat Kedua Puluh Sembilan, kami mencukupkan dengannya serta mempersingkat di sini. Kesimpulannya,

Langit itu terbuat dari eter dan menjadi dasar zat-zat halus yang mengalir seperti listrik, cahaya, panas, serta daya tarik; melalui isyarat hadis ﺍَﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﻣَﻮْﺝٌ ﻣَﻜْﻔُﻮﻑٌ langit tersebut sesuai bagi gerak planet serta bintang. Dari "Majarratus-Sama" yang disebut Bima Sakti hingga planet terdekat, terdapat tujuh lapisan dengan kedudukan dan susunan berbeda; setiap lapisan merupakan suatu langit yang laksana atap suatu alam, dari alam bumi hingga alam barzakh, alam mitsal, serta alam akhirat. Adanya langit-langit seperti ini merupakan tuntutan hikmah serta akal. Kembali terlintas dalam pikiran bahwa: ~Wahai pengingkar! Engkau berkata:

"Dengan seribu kesulitan, pesawat hanya dapat naik satu atau dua kilometer. Bagaimana manusia dengan tubuhnya menempuh jarak ribuan tahun dalam beberapa menit, pergi dan kembali?" ~Kami juga berkata:

Tubuh berat seperti bumi, menurut ilmu kalian, dengan gerak tahunannya menempuh jarak sekitar seratus delapan puluh delapan jam dalam satu menit. Ia menempuh jarak sekitar dua puluh lima ribu tahun dalam satu tahun. Apakah Sang Qadîr Dzul-Jalâl, yang membuatnya melakukan gerak teratur ini dan memutarnya seperti batu umban, tidak dapat membawa seorang manusia ke arasy? Hikmah yang menggerakkan tubuh bumi yang sangat berat mengelilingi matahari seperti pengikut tarekat Maulawiyah melalui Hukum Rabb yang disebut daya tarik matahari, tidakkah dapat mengangkat tubuh manusia secepat kilat ke Arasy Ar-Rahmân melalui daya tarik Rahmat Ar-Rahmân serta tarikan Cinta Matahari Azali? Kembali terlintas dalam pikiran bahwa: ~Engkau berkata:

"Baiklah, ia dapat naik; mengapa ia naik? Apa perlunya? Cukup jika pergi dengan ruh serta hatinya seperti para wali." ~Kami juga berkata:

Karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl ingin memperlihatkan ayat-ayat menakjubkan dalam alam mulk serta malakut milik-Nya, membuatnya menyaksikan alat kerja serta sumber-sumber alam ini, dan memperlihatkan hasil-hasil akhirat amal manusia, tentu sebagaimana ia perlu membawa serta matanya, yang laksana kunci alam yang terlihat, dan telinganya, yang menyaksikan ayat-ayat dalam alam yang terdengar, hingga arasy, membawa tubuhnya yang diberkahi, yang laksana mesin alat serta perangkat ruhnya yang menjadi dasar tugas tanpa batas, juga hingga arasy merupakan tuntutan akal serta hikmah. Sebagaimana di surga Hikmah Ilahi menjadikan tubuh sebagai kawan ruh. Sebab tubuhlah yang menjadi dasar banyak tugas ubudiyah serta kenikmatan dan rasa sakit tanpa batas. Tentu tubuh yang diberkahi itu akan menjadi kawan ruh. Karena tubuh pergi bersama ruh ke surga, tentu menjadikan tubuh yang diberkahi sebagai pendamping pribadi Ahmad ﷺ, yang naik ke Sidratul-Muntaha, batang Jannatul-Ma'wa, merupakan hikmah sepenuhnya. Kembali terlintas dalam pikiran bahwa: ~Engkau berkata:

"Menempuh jarak ribuan tahun dalam beberapa menit mustahil menurut akal?" ~Kami juga berkata:

Gerak dalam Seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl sangat beragam. Misalnya, telah diketahui betapa berbeda kecepatan suara dengan kecepatan cahaya, listrik, ruh, serta khayal. Gerak planet-planet pun menurut ilmu begitu beragam sehingga akal takjub. Jika tubuhnya yang halus mengikuti ruhnya yang luhur dan cepat dalam kenaikan, bagaimana geraknya secepat ruh terlihat bertentangan dengan akal? Jika engkau berbaring sepuluh menit, kadang engkau mengalami keadaan setara satu tahun. Bahkan jika dikumpulkan mimpi yang dilihat manusia dalam satu menit, perkataan yang didengar di dalamnya, serta kata-kata yang diucapkannya, diperlukan satu hari, bahkan lebih, dalam alam terjaga. Jadi, satu waktu yang sama menjadi laksana satu hari bagi satu orang dan satu tahun bagi orang lain. Lihatlah makna ini melalui perumpamaan: Untuk menjadi pengukur kecepatan gerak yang tampak dari gerak manusia, peluru, suara, cahaya, listrik, ruh, serta khayal, kita membayangkan jam seperti ini, yang memiliki sepuluh jarum. Yang satu menunjukkan jam. Yang lain menghitung menit dalam lingkaran enam puluh kali lebih luas darinya. Yang satu menghitung detik dalam lingkaran enam puluh kali lebih luas lagi; yang lain menghitung bagian ketiga waktu dalam lingkaran yang kembali enam puluh kali lebih luas; dan seterusnya, kita membayangkan jarum-jarum dalam lingkaran sangat teratur dan besar yang menghitung bagian keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, hingga kesepuluh. Jika lingkaran jarum penghitung jam sebesar jam kecil kita, tentu lingkaran jarum penghitung bagian kesepuluh harus sebesar orbit tahunan bumi, bahkan lebih. Sekarang kita membayangkan dua orang: yang satu seolah menunggangi jarum penghitung jam dan menyaksikan menurut gerak jarum itu. Yang lain menunggangi jarum penghitung bagian kesepuluh. Benda-benda yang disaksikan kedua orang ini pada satu waktu yang sama sangat berbeda, seperti perbandingan jam kita dengan orbit tahunan bumi. Karena waktu laksana warna, corak, atau pita gerak, ketetapan yang berlaku pada gerak juga berlaku pada waktu.Sekalipun yang kita saksikan dalam satu jam sebanyak yang disaksikan orang berkesadaran yang menunggangi jarum penghitung jam dan hakikat umurnya juga sebesar itu, seperti orang yang menunggangi jarum bagian kesepuluh, pada waktu yang sama serta jam tertentu itu Rasul yang paling mulia ﷺ dapat menaiki Burak Pertolongan Ilahi, menempuh seluruh lingkup segala yang mungkin ada secepat kilat, melihat keajaiban alam mulk serta malakut, naik ke titik lingkup wajib ada, mendapat kehormatan berbicara, mendapat kehormatan melihat Keindahan Ilahi, mengambil Firman, dan kembali kepada tugasnya; beliau telah kembali dan demikianlah keadaannya. Kembali terlintas dalam pikiran bahwa: ~Kalian berkata:

"Ya, hal itu dapat terjadi dan mungkin. Namun, tidak semua yang mungkin akan benar-benar terjadi. Adakah contohnya agar diterima? Bagaimana hanya dengan kemungkinan suatu hal yang tidak memiliki contoh dapat ditetapkan bahwa ia terjadi?" ~Kami juga berkata:

Contohnya begitu banyak sehingga tidak terhitung. Misalnya, setiap orang yang melihat naik dengan matanya dari bumi hingga planet Neptunus dalam satu detik. Setiap orang berilmu menunggangi hukum-hukum kosmografi melalui akalnya dan pergi hingga ke balik bintang-bintang dalam satu menit. Setiap orang beriman menempatkan pikirannya pada perbuatan serta rukun salat, melalui suatu bentuk mikraj meninggalkan alam di belakangnya, dan pergi hingga Hadirat Allah subhânahu. Setiap pemilik hati serta wali sempurna dapat melewati arasy serta lingkup Asma dan Sifat melalui perjalanan rohani dalam empat puluh hari. Bahkan menurut berita benar sebagian pribadi seperti Syekh Jailani dan Imam Rabbani, mereka memiliki kenaikan rohani hingga arasy dalam satu menit. Malaikat yang bertubuh cahaya juga pergi dan datang dari arasy ke bumi serta dari bumi ke arasy dalam waktu singkat. Penghuni surga juga naik dari mahsyar ke taman-taman surga dalam waktu singkat. Tentu begitu banyak contoh ini menunjukkan bahwa adanya mikraj bagi pribadi Ahmad, sultan seluruh wali, imam seluruh mukmin, pemimpin seluruh penghuni surga, dan yang diterima seluruh malaikat ﷺ, sebagai dasar perjalanan rohaninya dengan cara yang sesuai bagi maqamnya sepenuhnya merupakan hikmah, sangat masuk akal, dan pasti telah terjadi.