Risalah Nur — Bahasa Indonesia

TUJUAN KEDUA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

TUJUAN KEDUA

Mengenai perubahan-perubahan zarah

Akan mengisyaratkan satu zarah dari khazanah ayat ini.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ لَا ﺗَﺎْﺗ۪ﻴﻨَﺎ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻗُﻞْ ﺑَﻠٰﻰ ﻭَ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻟَﺘَﺎْﺗِﻴَﻨَّﻜُﻢْ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ لَا ﻳَﻌْﺰُﺏُ ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَلَا ﻓِﻰ الْاَرْضِ وَلَٓا ﺍَﺻْﻐَﺮُ ﻣِﻦْ ﺫٰﻟِﻚَ وَلَٓا ﺍَﻛْﺒَﺮُ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ Ia memperlihatkan permata dari khazanah ayat yang sangat besar ini seberat satu zarah, yakni permata dalam kotak kecil zarah, dan sedikit membahas gerak serta tugas zarah. Tujuan ini terdiri atas satu pendahuluan dan tiga pokok.

PENDAHULUAN

Perubahan-perubahan zarah merupakan getaran serta pergerakan Pena Kudrat Sang Pengukir yang Azali ketika menulis ayat-ayat penciptaan dalam kitab alam. Bukan mainan kebetulan serta gerak kacau tanpa makna, sebagaimana dibayangkan kaum materialis dan kaum yang menyandarkan segala sesuatu kepada tabiat. Sebab seperti seluruh wujud, zarah-zarah serta setiap zarah mengucapkan "Bismillah" pada awal geraknya. Sebab ia mengangkat beban-beban tanpa batas yang melampaui dayanya; seperti benih sebesar biji gandum memikul beban berupa pohon pinus besar di bahunya... Pada akhir tugasnya, ia juga mengucapkan "Alhamdulillah". Sebab dengan memperlihatkan Keindahan Seni yang penuh Hikmah serta keelokan ukiran yang bermanfaat, yang membuat seluruh akal takjub, ia memperlihatkan karya laksana syair sanjungan dalam memuji Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Misalnya, perhatikan delima dan jagung. Ya, perubahan-perubahan zarah {(Catatan kaki): Catatan kaki kalimat panjang mengenai definisi perubahan-perubahan zarah dalam Tujuan Kedua. Imam Mubin serta Kitab Mubin disebut berulang kali dalam Al-Qur'an Al-Hakîm. Sebagian ahli tafsir berkata, "Keduanya satu," dan sebagian berkata, "Keduanya berbeda." Penjelasan mereka tentang hakikat keduanya beragam. Ringkasnya, mereka berkata, "Keduanya sebutan bagi Ilmu Ilahi." Namun, melalui limpahan Al-Qur'an, aku sampai pada keyakinan berikut: Imam Mubin merupakan sebutan bagi suatu jenis Ilmu serta Perintah Ilahi, yang lebih memandang alam gaib daripada alam yang tampak. Yakni, lebih memandang masa lalu serta masa depan daripada masa kini. Yakni, lebih memandang asal, keturunan, akar, serta biji segala sesuatu daripada wujud lahiriahnya. Ia merupakan buku Takdir Ilahi. Adanya buku ini telah dibuktikan dalam Kalimat Kedua Puluh Enam serta catatan kaki Kalimat Kesepuluh. Ya, Imam Mubin ini merupakan sebutan bagi suatu jenis Ilmu serta Perintah Ilahi. Yakni, dari segi bahwa awal, akar, serta asal benda-benda menghasilkan wujud benda-benda dengan seni yang sangat tinggi dan keteraturan sempurna, hal itu tentu menunjukkan bahwa semuanya ditata melalui buku Kaidah-Kaidah Ilmu Ilahi. Hasil, keturunan, serta biji benda-benda juga, karena mencakup rancangan dan daftar segala wujud yang akan datang, tentu menyatakan bahwa mereka merupakan kumpulan kecil Perintah-Perintah Ilahi. Misalnya, dapat dikatakan bahwa suatu benih laksana wujud kecil dari rancangan serta daftar yang akan menata seluruh susunan pohon, dan Perintah-Perintah penciptaan yang menentukan daftar serta rancangan tersebut.Kesimpulannya, Imam Mubin laksana rancangan serta daftar pohon penciptaan yang menyebarkan cabang-cabangnya di sekitar masa lalu, masa depan, serta alam gaib. Imam Mubin dalam makna ini merupakan buku Takdir Ilahi dan kumpulan kaidah. Dengan penulisan serta ketetapan kaidah-kaidah itu, zarah-zarah diarahkan kepada khidmah serta geraknya dalam wujud benda-benda. Adapun Kitab Mubin lebih memandang alam yang tampak daripada alam gaib. Yakni, lebih memandang masa kini daripada masa lalu serta masa depan; ia merupakan sebutan, catatan, dan kitab bagi Kudrat serta Kehendak Ilahi, lebih daripada Ilmu dan Perintah. Jika Imam Mubin adalah buku Takdir, Kitab Mubin adalah buku Kudrat. Yakni, segala sesuatu memperlihatkan kesempurnaan seni serta keteraturan dalam wujud, hakikat, sifat, dan syuunatnya, yang menunjukkan bahwa ia dikenakan wujud menurut Kaidah-Kaidah Kudrat yang sempurna serta Hukum-Hukum Kehendak yang berlaku. Rupanya ditentukan dan diberi ciri, lalu diberi ukuran tertentu serta bentuk khusus. Jadi, Kudrat dan Kehendak itu memiliki kumpulan Hukum-Hukum yang menyeluruh serta umum, sebuah buku besar, yang menurutnya wujud dan rupa khusus setiap benda dipotong, dijahit, serta dikenakan. Adanya buku ini, seperti Imam Mubin, telah dibuktikan dalam persoalan takdir serta kehendak bebas manusia. Lihatlah kebodohan orang-orang yang lalai, sesat, serta mengikuti filsafat: mereka merasakan pancaran, pantulan, serta gambaran dalam benda-benda dari Lauh Mahfuz Kudrat Sang Fâthir dan Kitab yang melihat itu, Kitab Hikmah serta Kehendak Rabb. Mustahil dibenarkan, mereka menamainya tabiat dan membutakannya. Dengan penulisan Imam Mubin, yakni ketetapan serta kaidah Takdir, Kudrat Ilahi menulis dan menciptakan rangkaian wujud, yang masing-masing merupakan ayat, pada lembaran gambaran waktu yang disebut Lauh Mahw wa Itsbat, serta menggerakkan zarah-zarah dalam menciptakan benda-benda. Jadi, gerak zarah merupakan getaran serta pergerakan dari penulisan dan penyalinan itu, ketika wujud-wujud beralih dari alam gaib ke alam yang tampak, dan dari Ilmu ke Kudrat. Adapun Lauh Mahw wa Itsbat ialah buku yang berubah serta papan yang dapat ditulis dan dihapus dari Lauh Mahfuz Teragung yang tetap serta terus ada, dalam lingkup segala yang mungkin ada, yakni pada benda-benda yang terus mengalami mati dan hidup, ada dan fana; itulah hakikat waktu.Ya, sebagaimana segala sesuatu memiliki hakikat, hakikat sungai besar yang mengalir dalam alam dan kita sebut waktu juga laksana lembaran serta tinta penulisan Kudrat pada Lauh Mahw wa Itsbat. لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ } merupakan gerak serta getaran bermakna yang terjadi di bawah kaidah serta penulisan Imam Mubin — yang berasal dari alam gaib, menjadi dasar keteraturan dalam asal masa lalu serta keturunan masa depan segala sesuatu, dan merupakan sebutan bagi Ilmu serta Perintah Ilahi — dan melalui penyalinan dari Kitab Mubin — yang memandang masa kini serta alam yang tampak, menjadi dasar tasarruf dalam membentuk dan menciptakan benda-benda, dan merupakan sebutan bagi Kudrat serta Kehendak Ilahi — untuk menulis dan menggambar kata-kata Kudrat pada Lauh Mahw wa Itsbat, yang merupakan hakikat serta lembaran gambaran waktu yang mengalir.

POKOK PERTAMA

Dua Pembahasan.

Pembahasan Pertama: Pada setiap zarah, baik dalam gerak maupun diamnya, dua cahaya tauhid bersinar seperti dua matahari. Sebab sebagaimana dibuktikan secara ringkas dalam Isyarat Pertama Kalimat Kesepuluh dan secara terperinci dalam Kalimat Kedua Puluh Dua, jika setiap zarah bukan petugas Ilahi, tidak bergerak dengan Izin serta Tasarruf-Nya, dan tidak berubah melalui Ilmu serta Kudrat-Nya, saat itu setiap zarah harus memiliki ilmu tanpa ujung, daya tanpa batas, mata yang melihat segala sesuatu, wajah yang memandang segala sesuatu, serta perkataan yang berlaku atas segala sesuatu. Sebab setiap zarah unsur bekerja atau dapat bekerja dengan teratur dalam setiap tubuh yang hidup. Keteraturan benda-benda serta hukum-hukum terbentuknya berbeda satu dari lainnya. Jika tatanannya tidak diketahui, pekerjaan tidak dapat dilakukan; sekalipun dilakukan, tidak dapat tanpa kesalahan. Padahal pekerjaan itu dilakukan tanpa kesalahan. Maka zarah-zarah yang berkhidmah itu bekerja dengan Izin, Perintah, Ilmu, serta Kehendak Sang Pemilik Ilmu yang meliputi segala sesuatu, atau dalam diri mereka harus terdapat ilmu dan daya yang meliputi segala sesuatu seperti itu. Ya, setiap zarah udara dapat masuk dan bekerja dalam tubuh setiap makhluk hidup, setiap buah dari setiap bunga, serta bangunan setiap daun. Padahal susunannya memiliki corak berbeda-beda dan tatanan yang lain satu dari lainnya. Jika pabrik buah ara diandaikan seperti mesin kain laken, pabrik buah delima juga akan seperti mesin gula, dan seterusnya... Rancangan bangunan serta tubuh-tubuh itu berbeda satu dari lainnya. Kini zarah udara ini masuk atau dapat masuk ke dalam semuanya, bekerja tanpa kesalahan dengan sangat bijaksana serta mahir, dan mengambil posisi-posisi. Setelah tugasnya berakhir, ia bangkit dan pergi.Sebagaimana zarah yang bergerak dari udara yang bergerak ini harus mengetahui susunan serta potongan rupa dan ukuran yang dikenakan kepada tumbuhan serta binatang, bahkan buah dan bunganya, atau mereka harus menjadi petugas menurut Perintah serta Kehendak Yang mengetahui, begitu pula tanah yang diam dan setiap zarahnya yang diam dapat menjadi dasar serta asal biji seluruh tumbuhan berbunga dan pohon berbuah; biji mana pun yang datang, dalam zarah itu, yakni segenggam tanah yang dianggap satu zarah karena bagiannya serupa, terdapat pabrik khusus baginya dan seluruh perangkat yang diperlukan untuk semua perlengkapan serta susunannya; maka dalam zarah serta segenggam tanah yang merupakan pondok kecil zarah itu harus ada mesin dan pabrik maknawi yang teratur sebanyak jenis pohon, tumbuhan, bunga, serta buah, atau harus terdapat ilmu dan daya yang menghasilkan mukjizat, menciptakan segala sesuatu dari tiada, serta mengetahui segala hal tentang segala sesuatu serta setiap sisinya; atau tugas-tugas itu dilakukan melalui Perintah, Izin, Daya, serta Kekuatan Sang Qadîr Mutlak, Sang Alîm segala sesuatu. Ya, jika seorang yang belum berpengalaman, belum terlatih, awam, biasa, serta buta pergi ke Eropa, masuk ke seluruh pabrik dan tempat kerja, lalu bekerja dengan sangat teratur serta mahir dalam setiap seni dan bangunan, membuat karya-karya yang amat penuh hikmah dan seni serta membuat semua orang takjub, siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar zarah mengetahui bahwa orang itu tidak bekerja sendiri. Seorang ahli seluruh bidang memberinya pelajaran dan membuatnya bekerja. Begitu pula, jika terdapat seorang buta yang tak berdaya, tidak dapat bangkit dari tempatnya, dan duduk dalam pondok kecil yang sederhana, lalu kepada pondok itu diberikan zat-zat seperti batu kecil sebesar satu dirham, tulang, serta kapas, tetapi dari pondok itu keluar gula dalam hitungan batman, kain laken bergulung-gulung, ribuan permata, pakaian yang sangat indah serta berhias permata, dan makanan yang nikmat, tidakkah orang yang memiliki akal sebesar zarah akan berkata, "Orang itu hanyalah pengait atau penjaga pintu yang tak berdaya dari pabrik sumber mukjizat suatu pribadi yang sangat menakjubkan"?Tepat begitu pula, gerak serta khidmah zarah udara pada tumbuh-tumbuhan, pohon, bunga, dan buah, yang masing-masing merupakan surat Allah subhânahu Yang Samad, benda seni Rabb yang langka, mukjizat Kudrat, serta keajaiban Hikmah, berlangsung melalui Perintah dan Kehendak Sang Pembuat yang Hakîm Dzul-Jalâl, Sang Fâthir yang Karîm Dzul-Jamâl; zarah tanah juga menjadi asal serta landasan tumbuhnya biji-biji kecil dan benih-benih menjadi tanaman serta pohon, yang masing-masing laksana mesin dan alat kerja berbeda, percetakan berbeda, khazanah berbeda, benda seni langka berbeda, seruan berbeda yang mengumumkan Asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl, serta syair berbeda yang menyatakan Kesempurnaan-Nya; semuanya terjadi melalui Perintah, Izin, Kehendak, serta Kekuatan Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Pemilik Perintah "Kun fayakun", yang segala sesuatu tunduk kepada Perintah-Nya; hal itu pasti seperti dua kali dua sama dengan empat. Amanna. Pembahasan Kedua: Isyarat kecil kepada tugas serta hikmah dalam gerak zarah. Ya, kaum materialis yang akalnya telah jatuh ke matanya, dalam hikmah tanpa hikmah serta filsafat yang bersandar pada dasar kesia-siaan, menjadikan perubahan zarah yang menurut mereka terikat dengan kebetulan sebagai dasar pokok seluruh kaidah mereka dan memperlihatkannya sebagai sumber ciptaan Ilahi. Siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar zarah mengetahui betapa bertentangan dengan akal menisbatkan ciptaan yang dihiasi Hikmah tanpa batas kepada sesuatu yang tanpa hikmah, tanpa makna, dan kacau. Sekarang, menurut Hikmah Al-Qur'an Al-Hakîm, perubahan-perubahan zarah memiliki banyak tujuan, hikmah, serta tugas. Banyak ayat seperti ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ mengisyaratkan hikmah serta tugasnya. Sebagai contoh, kami mengisyaratkan beberapa di antaranya. Pertama: Untuk memperbarui serta menyegarkan Tajalli Penciptaan Allah subhânahu Yang Wâjibul Wujûd, menjadikan setiap ruh sebagai model dan mengenakan kepadanya tubuh segar dari mukjizat Kudrat-Nya setiap tahun; menyalin seribu kitab yang beragam dari setiap kitab dengan Hikmah-Nya; memperlihatkan satu hakikat dalam bentuk-bentuk berbeda; serta menyediakan tempat dan menyiapkan landasan bagi alam-alam ciptaan, berbagai alam, serta wujud-wujud untuk datang dalam kelompok-kelompok berturut-turut, Sang Fâthir Dzul-Jalâl telah menggerakkan dan menugasi zarah dengan Kudrat-Nya. Kedua: Mâlikul-Mulk Dzul-Jalâl menciptakan dunia ini, terutama ladang wajah bumi, dalam bentuk lahan milik-Nya. Yakni, Dia menyiapkannya dengan keadaan yang dapat tumbuh dan terus menghasilkan hasil-hasil segar.Agar Dia menanam serta memanen mukjizat Kudrat-Nya yang tanpa batas di sana. Dalam ladang-Nya pada wajah bumi ini, dengan menggerakkan zarah penuh Hikmah serta menugasinya dalam lingkup keteraturan, pada setiap abad, musim, bulan, bahkan setiap hari, bahkan setiap jam, Dia memperlihatkan alam-alam baru dari mukjizat Kudrat-Nya dan membuat halaman bumi menghasilkan berbagai hasil. Melalui gerak zarah, Dia menampakkan hadiah khazanah Rahmat-Nya yang tanpa batas serta contoh mukjizat Kudrat-Nya yang tanpa ujung. Ketiga: Untuk menyatakan Pancaran Asma dengan memperlihatkan ukiran Tajalli Asma Ilahi yang tanpa batas, memperlihatkan ukiran tanpa batas pada bumi yang terbatas, serta menulis ayat tanpa batas yang akan menyatakan makna tanpa ujung pada lembaran kecil, Sang Pengukir yang Azali telah menggerakkan zarah dengan Hikmah sempurna dan menugasinya dengan keteraturan sempurna. Ya, hakikat hasil tahun lalu dengan hasil tahun ini seperti satu. Namun, maknanya berbeda-beda. Dengan mengganti ciri-ciri yang bersifat nisbi, maknanya berubah dan bertambah. Sekalipun ciri-ciri nisbi serta pribadi sementara diganti dan secara lahir fana, makna indahnya dipelihara, tetap, serta kekal. Karena daun, bunga, serta buah pohon ini pada musim semi lalu tidak memiliki ruh, secara hakikat semuanya sama dengan yang serupa pada musim semi ini. Hanya terdapat perbedaan dalam ciri-ciri nisbi. Namun, untuk menyatakan makna Syuunat Asma Ilahi, yang Tajallinya terus diperbarui, daun, bunga, serta buah musim semi ini datang menggantikannya dengan ciri pribadi berbeda. Keempat: Untuk menumbuhkan hal-hal yang sesuai bagi alam malakut yang amat luas, seperti alam mitsal tanpa batas, serta alam-alam akhirat lainnya yang tidak terbatas, sebagai hasil, hiasan, atau perlengkapan, Sang Hakîm Dzul-Jalâl menggerakkan zarah di ladang dunia yang sempit ini, pada alat kerja serta ladang wajah bumi; Dia menjadikan alam terus mengalir dan wujud-wujud terus bergerak, lalu menumbuhkan pada bumi kecil ini banyak hasil maknawi bagi alam-alam yang amat besar itu. Dia mengalirkan arus tanpa batas dari khazanah Kudrat-Nya yang tanpa ujung melalui dunia, lalu menuangkannya ke alam gaib dan sebagian ke alam-alam akhirat.Kelima: Untuk memperlihatkan Kesempurnaan Ilahi tanpa ujung, Pancaran Keindahan tanpa batas, Tajalli Keagungan tanpa akhir, serta tasbih kepada Rabb yang tidak terbatas, pada bumi yang sempit serta terbatas ini dan waktu yang terbatas serta sedikit, Dia menggerakkan zarah dengan Kudrat-Nya serta Hikmah sempurna dan menugasinya dengan keteraturan sempurna; Dia membuatnya melakukan tasbih tanpa batas dalam waktu terbatas serta bumi terbatas. Dia memperlihatkan Tajalli Keindahan, Keagungan, serta Kesempurnaan-Nya yang tanpa batas. Dia menciptakan banyak hakikat gaib serta buah akhirat, banyak ukiran berupa gambaran dari identitas serta rupa yang tetap kekal dari segala yang fana, dan banyak tenunan lembaran yang bermakna. Jadi, yang menggerakkan zarah ialah Zat yang memperlihatkan tujuan-tujuan agung serta Hikmah-Hikmah besar ini. Jika tidak, setiap zarah harus memiliki otak seperti matahari. Para filsuf yang tidak berakal itu menganggap perubahan zarah, yang digerakkan mungkin dengan lima ribu hikmah seperti lima contoh ini, tanpa hikmah; padahal zarah-zarah itu berzikir dan berputar seperti pengikut tarekat Maulawiyah dengan zikir serta tasbih kepada Allah subhânahu, melalui dua gerakan penuh keasyikan, yang satu dalam dirinya dan yang lain pada alam luar; mereka menyangka zarah-zarah itu berputar dan menari sendiri seperti orang bingung. Dari sini dipahami bahwa ilmu mereka bukan ilmu, melainkan kebodohan. Hikmah mereka ialah tanpa hikmah. (Pada Pokok Ketiga akan disebutkan pula hikmah keenam yang panjang.)

POKOK KEDUA

Dalam setiap zarah terdapat dua saksi yang benar atas Wujud serta Keesaan Wâjibul Wujûd. Ya, sebagaimana zarah bersaksi secara pasti atas Wujud Wâjibul Wujûd dengan melakukan tugas besar seolah berkesadaran dan mengangkat beban berat, sekalipun tak berdaya serta tidak bernyawa, begitu pula ia bersaksi atas Keesaan Wâjibul Wujûd serta Ahadiyah Zat Pemilik alam mulk dan malakut dengan menyesuaikan geraknya pada tatanan umum, menjaga tatanan khusus setiap tempat yang dimasukinya, serta menetap di mana pun seperti tanah airnya sendiri. Yakni, siapa yang memiliki zarah, memiliki pula seluruh tempat yang dijelajahinya. Jadi, karena zarah tak berdaya, bebannya berat tanpa batas, serta tugasnya sangat banyak tanpa ujung, ia menyatakan bahwa ia berdiri dan bergerak dengan Nama serta Perintah Sang Qadîr Mutlak. Menyesuaikan geraknya seolah mengetahui tatanan menyeluruh alam dan masuk ke segala tempat tanpa penghalang juga menunjukkan bahwa ia bekerja melalui Kudrat serta Hikmah satu Zat yang Alîm Mutlak. Ya, sebagaimana seorang prajurit mengetahui bahwa dalam regu, kompi, batalion, resimen, divisi, dan seterusnya, pada setiap lingkup ia memiliki hubungan serta tugas menurut hubungan itu, lalu bertindak sesuai dengannya dengan mengetahui hubungan serta tugas tersebut, semuanya terjadi melalui latihan dan petunjuk di bawah tatanan tentara serta dengan mengikuti perintah dan hukum satu panglima tertinggi yang memerintah seluruh lingkup itu. Begitu pula, karena setiap zarah memiliki posisi yang sesuai, hubungan yang bermanfaat dan berbeda-beda, tugas yang teratur serta berbeda-beda, dan hasil yang penuh hikmah serta berbeda-beda dalam susunan yang saling berada di dalam lainnya, tentu menempatkan zarah itu dalam susunan-susunan tersebut dengan cara yang menjaga seluruh hubungan serta tugasnya dan tidak merusak hasil serta hikmahnya hanya khusus bagi Zat yang memegang seluruh alam dalam Genggaman Tasarruf-Nya. Misalnya, zarah yang menetap pada pupil Tevfik {(): Juru tulis pertama Nur.} mengambil posisi yang sesuai terhadap jaringan seperti saraf penggerak dan perasa, arteri, serta vena pada mata; memiliki hubungan, tugas, dan manfaat penuh Hikmah terhadap masing-masing bagian wajah, kemudian kepala dan tubuh, lalu keseluruhan susunan manusia; hal ini menunjukkan bahwa Zat yang menciptakan seluruh organ tubuh itu dapat menempatkan zarah tersebut di sana.Terutama zarah-zarah yang datang sebagai rezeki dan bepergian dalam rombongan rezeki itu berjalan dengan keteraturan serta Hikmah yang begitu menakjubkan, melalui tahap dan lapisan dengan menjaga keteraturan, serta melangkah seolah berkesadaran tanpa pernah tersesat; akhirnya setelah disaring dengan empat penyaring dalam tubuh yang hidup, mereka diangkut oleh sel-sel darah merah untuk menolong organ serta sel yang membutuhkan rezeki, lalu datang menolong melalui Hukum Kemurahan. Dari sini jelas dipahami bahwa Yang melewatkan dan mengarahkan zarah-zarah ini melalui ribuan tempat persinggahan yang berbeda tentu Ar-Razzâq Yang Mahamulia, Sang Khallâq yang Rahîm; bagi Kudrat-Nya, zarah serta bintang berdiri bahu-membahu dengan sama. Setiap zarah juga bekerja dalam ukiran seni sedemikian rupa sehingga ia mengetahui serta menciptakan ukiran seni yang menakjubkan dan seni berukir yang memperlihatkan Hikmah itu dengan berada dalam kedudukan berhubungan dengan seluruh zarah, menguasai sekaligus dikuasai oleh setiap zarah serta semuanya; hal ini mustahil ribuan kali; atau ia merupakan titik yang ditugasi bergerak, keluar dari Hukum Takdir serta Pena Kudrat Sang Pembuat yang Hakîm. Misalnya, jika batu-batu pada kubah Ayasofya tidak mengikuti perintah serta seni arsiteknya, setiap batu harus memiliki keahlian pertukangan seperti Mimar Sinan serta dikuasai dan menguasai batu-batu lainnya, yakni memiliki wewenang untuk berkata, "Marilah, kita akan saling bersandar agar tidak jatuh dan runtuh." Begitu pula, jika zarah-zarah dalam ciptaan, yang ribuan kali lebih penuh seni, lebih menakjubkan, dan lebih penuh hikmah daripada kubah Ayasofya, tidak mengikuti Perintah Sang Pembuat alam, setiap zarah harus diberi Sifat Kesempurnaan sebanyak Sifat Sang Pembuat alam. Sungguh, subhanallah! Karena orang-orang kafir zindik yang materialis tidak menerima satu Wâjibul Wujûd, menurut paham mereka, mereka terpaksa menerima ilah-ilah batil sebanyak zarah. Dari segi ini, betapapun filsuf serta berilmunya seorang kafir yang mengingkari, ia berada dalam kebodohan yang amat besar dan benar-benar sangat bodoh.

POKOK KETIGA

Pokok ini merupakan isyarat kepada hikmah keenam yang agung, yang dijanjikan pada akhir Pokok Pertama. Demikianlah: Dalam catatan kaki jawaban Pertanyaan Kedua Kalimat Kedua Puluh Delapan dikatakan bahwa salah satu dari ribuan hikmah perubahan zarah serta gerak zarah dalam tubuh yang hidup ialah membuat zarah bercahaya serta menjadi hidup dan bermakna, agar layak menjadi zarah bagi bangunan alam akhirat. Seolah tubuh binatang, manusia, bahkan tumbuhan laksana rumah tamu, barak, dan sekolah bagi yang datang untuk menerima pelajaran didikan; zarah-zarah yang tidak bernyawa masuk, lalu bercahaya. Seakan mereka mendapat latihan dan petunjuk serta menjadi halus. Dengan menjalankan suatu tugas, mereka memperoleh kelayakan untuk menjadi zarah bagi alam yang kekal serta negeri akhirat yang hidup dengan seluruh bagiannya. ~Pertanyaan:

Dari mana diketahui bahwa hikmah ini terdapat dalam gerak zarah? ~Jawaban:

Pertama: Diketahui melalui Hikmah Sang Pembuat, yang terbukti dengan seluruh keteraturan serta hikmah segala ciptaan. Sebab Hikmah yang memasangkan hikmah-hikmah menyeluruh pada benda yang juz'i dan paling kecil tidak membiarkan gerak zarah, yang memperlihatkan kegiatan terbesar dalam arus alam dan menjadi dasar ukiran penuh hikmah, tanpa hikmah. Hikmah serta Kekuasaan yang tidak membiarkan makhluk terkecil tanpa upah, gaji, serta kesempurnaan dalam tugasnya juga tidak membiarkan petugas serta pelayan-Nya yang paling banyak dan paling mendasar tanpa cahaya serta upah. Kedua: Sang Pembuat yang Hakîm menggerakkan dan menugasi unsur-unsur, lalu mengangkatnya ke tingkat mineral sebagai upah kesempurnaan bagi mereka serta memperkenalkan tasbih khusus mineral kepada mereka; menggerakkan serta menugasi mineral dan memberinya maqam pada tingkat kehidupan tumbuh-tumbuhan; menggerakkan serta menugasi tumbuhan sebagai rezeki dan menganugerahkan tingkat kehalusan binatang kepadanya; menugasi zarah dalam binatang dan mengangkatnya ke tingkat kehidupan manusia melalui jalan rezeki; serta terus menyaring, membersihkan, dan memperhalus zarah dalam tubuh manusia hingga memberinya maqam pada bagian otak serta hati yang paling lembut dan halus; melalui semua ini diketahui bahwa gerak zarah tidak tanpa hikmah, melainkan digerakkan menuju suatu bentuk kesempurnaan yang layak baginya. Ketiga: Di antara zarah tubuh yang hidup, sebagian zarah seperti dalam benih dan biji menerima cahaya maknawi, kehalusan, serta kelebihan sedemikian rupa sehingga menjadi laksana ruh dan sultan bagi zarah-zarah lain serta pohon besar itu. Sebagian zarah di antara seluruh zarah pohon besar itu naik ke tingkatan ini karena telah menjalankan banyak putaran serta tugas lembut pada tingkat kehidupan pohon tersebut; maka hal itu menunjukkan bahwa melalui Perintah Sang Pembuat yang Hakîm, dalam tugas fitrah, menurut berbagai gerak zarah dan demi serta bagi Kemuliaan Asma yang bertajalli kepadanya, mereka masing-masing menerima kehalusan maknawi, cahaya maknawi, maqam, serta pelajaran maknawi. ~Kesimpulannya:

Karena Sang Pembuat yang Hakîm menentukan bagi setiap benda titik kesempurnaan yang sesuai serta tingkat limpahan wujud yang layak baginya, memberi benda itu kemampuan untuk berusaha menuju titik kesempurnaan tersebut, dan mengarahkannya ke sana; Hukum Rububiyah ini berlaku pada seluruh tumbuhan serta binatang, juga pada benda tidak bernyawa, dengan memberi tanah biasa kemajuan hingga tingkat berlian serta permata luhur; dan pada hakikat ini tampak ujung Hukum Rububiyah yang agung; karena Sang Khâliq yang Karîm itu memberi binatang-binatang yang Dia pergunakan dalam hukum besar perkembangbiakan kenikmatan juz'i sebagai upah seperti gaji, serta memberi binatang yang dipergunakan dalam khidmah Rabb lainnya, seperti lebah dan burung bulbul, upah kesempurnaan serta maqam yang menjadi dasar semangat dan kenikmatan, dan pada hal ini tampak ujung Hukum Kemurahan yang agung; karena hakikat setiap benda memandang Tajalli suatu Nama Allah subhânahu, terikat dengannya, serta menjadi cermin baginya, sehingga seindah apa pun keadaan benda itu, keadaan tersebut demi Kemuliaan Nama itu, dan Nama tersebut menghendakinya; disadari atau tidak oleh benda itu, keadaan indah tersebut dikehendaki dari segi hakikat, dan dari hakikat ini tampak ujung Hukum Memperindah serta Keindahan yang amat agung; karena menurut kaidah Kemurahan, Sang Fâthir yang Karîm tidak mengambil kembali maqam serta kesempurnaan yang diberikan kepada suatu benda ketika masa dan umur benda itu berakhir, melainkan menjadikan buah, hasil, identitas maknawi, serta makna benda yang memiliki kesempurnaan itu tetap kekal, dan jika berjiwa, ruhnya pun tetap kekal; misalnya Dia menjadikan makna serta buah kesempurnaan yang diberikan-Nya kepada manusia di dunia tetap kekal, bahkan memberi kembali kepadanya syukur serta pujian atas buah yang sirna, yang dimakan seorang mukmin yang bersyukur, dalam bentuk buah surga yang berwujud, dan pada hakikat ini tampak ujung Hukum Rahmat yang agung; serta karena Sang Khallâq yang Tiada Banding tidak memboroskan dan tidak melakukan pekerjaan sia-sia, bahkan mempergunakan sisa-sisa materi makhluk yang tugasnya telah berakhir dan telah wafat pada musim gugur dalam ciptaan musim semi serta memasukkannya ke dalam bangunan mereka,tentu menurut rahasia ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﺒَﺪَّﻝُ الْاَرْضُ ﻏَﻴْﺮَ الْاَرْضِ serta isyarat ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَ الْاٰخِرَةَ ﻟَﻬِﻰَ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥُ, memasukkan dan mempergunakan zarah bumi yang tidak bernyawa, tidak berkesadaran, dan menjalankan tugas penting di dunia ini dalam sebagian bangunan akhirat, yang batu, pohon, serta segala sesuatunya hidup dan berkesadaran, merupakan tuntutan Hikmah. Sebab membiarkan zarah dunia yang telah hancur di dunia atau melemparkannya menuju keadaan tidak ada adalah pemborosan. Dari hakikat ini tampak ujung Hukum Hikmah yang amat agung. Karena banyak jejak, makna, serta buah dunia ini, tenunan amal, lembaran perbuatan, ruh, dan tubuh makhluk yang memikul kewajiban seperti jin serta manusia dikirim ke pasar akhirat, tentu zarah bumi yang berkhidmah serta menemani buah dan makna itu juga, setelah mencapai kesempurnaan menurut keadaannya dalam tugas, yakni setelah berkali-kali berkhidmah dan menerima cahaya kehidupan serta menjadi dasar tasbih kehidupan, meskipun berada di antara sisa-sisa dunia yang akan hancur ini, harus dimasukkan pula ke dalam bangunan alam lain; hal itu tuntutan Keadilan serta Hikmah. Dari hakikat ini tampak ujung Hukum Keadilan yang amat agung. Karena sebagaimana ruh menguasai tubuh, Perintah-Perintah penciptaan yang ditulis Takdir juga menguasai benda tidak bernyawa, benda-benda itu dapat mengambil tempat serta tatanan menurut tulisan maknawi Takdir. Misalnya, dalam jenis-jenis telur, macam-macam nutfah, golongan benih, serta macam-macam biji, semuanya memperoleh maqam dan cahaya yang berbeda melalui Perintah-Perintah penciptaan yang ditulis Takdir secara berbeda. Benda-benda yang dari segi materi hakikatnya seperti satu {(Catatan kaki): Ya, semuanya tersusun dari empat unsur. Mereka dibentuk dari zat-zat seperti hidrogen, oksigen, nitrogen, serta karbon. Dari segi materi dapat dianggap satu. Perbedaannya hanya pada tulisan maknawi Takdir.} menjadi asal wujud-wujud yang berbeda tanpa batas. Semuanya memperoleh maqam serta cahaya berbeda. Tentu, apabila suatu zarah berkali-kali hadir dan berkhidmah dalam khidmah kehidupan serta tasbih kepada Rabb dalam kehidupan, menuliskan hikmah makna-makna itu pada dahi maknawi zarah tersebut melalui Pena Takdir yang tidak kehilangan apa pun merupakan tuntutan Cakupan Ilmu. Pada hal ini tampak ujung Hukum yang amat agung dari Ilmu yang meliputi segala sesuatu. Maka zarah-zarah {(Catatan kaki): Jawaban ini menghadap kepada tujuh kata "karena".} tidak dibiarkan tanpa kendali. ~Hasil Pembicaraan:

Ujung-ujung banyak hukum yang amat agung yang terlihat, seperti tujuh hukum tadi, yakni Hukum Rububiyah, Kemurahan, Keindahan, Rahmat, Hikmah, Keadilan, serta Cakupan Ilmu, masing-masing memperlihatkan di baliknya Ismul A'zham dan Tajalli terbesar Ismul A'zham tersebut. Dari Tajalli itu dipahami bahwa seperti wujud-wujud lainnya, perubahan-perubahan zarah di dunia ini juga bergerak dengan timbangan Ilmu yang peka, menurut Perintah-Perintah penciptaan yang diberikan Kudrat di atas batas yang digambar Takdir, demi Hikmah-Hikmah yang sangat luhur. Seakan mereka bersiap pergi ke alam lain yang tinggi {(Catatan kaki): Sebab menebarkan dan menyalakan cahaya kehidupan begitu banyak dalam alam padat serta rendah ini melalui kegiatan yang sangat murah hati, yang terlihat dengan mata kepala, bahkan membuat cahaya kehidupan segar bersinar berlimpah pada zat paling rendah serta tubuh yang membusuk, dan memperhalus serta mengilapkan zat padat dan rendah itu dengan cahaya kehidupan, merupakan isyarat yang mendekati pernyataan terang bahwa Dia mengilapkan, melelehkan, serta memperindah alam padat yang tidak bernyawa ini melalui gerak zarah serta cahaya kehidupan demi alam lain yang amat halus, luhur, bersih, dan hidup. Seakan Dia menghiasnya untuk pergi ke alam yang halus. Jika orang-orang berakal sempit yang tidak dapat memahami hasyr manusia mengamati dengan cahaya Al-Qur'an, mereka akan melihat Hukum Qayyumiyah yang menyeluruh hingga dapat mengumpulkan seluruh zarah dalam hasyr seperti suatu pasukan, dan yang terlihat dengan mata kepala menjalankan Tasarruf.}. Maka tubuh-tubuh hidup seakan merupakan sekolah, barak, serta rumah tamu didikan bagi zarah-zarah pengembara itu. Dapat ditetapkan dengan firasat yang benar bahwa demikianlah keadaannya. ~Kesimpulannya:

Sebagaimana dikatakan dan dibuktikan dalam Kalimat Pertama, segala sesuatu mengucapkan "Bismillah". Seperti seluruh wujud, setiap zarah, setiap golongan zarah, serta setiap kelompoknya yang khusus mengucapkan "Bismillah" melalui bahasa keadaannya, lalu bergerak. Ya, menurut rahasia tiga pokok tadi, setiap zarah pada awal geraknya berkata melalui bahasa keadaan, ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ. Yakni, "Aku bergerak atas Nama Allah subhânahu, demi-Nya, dengan Nama-Nya, Izin-Nya, dan Kekuatan-Nya." Kemudian pada hasil geraknya, seperti setiap ciptaan, setiap zarah dan setiap golongannya berkata melalui bahasa keadaan, ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ; ia memperlihatkan dirinya laksana ujung kecil Pena Kudrat dalam ukiran suatu makhluk yang dibuat dengan seni, yang laksana syair sanjungan. Bahkan masing-masing memperlihatkan diri dalam bentuk ujung jarum yang berputar di atas ciptaan-ciptaan yang laksana piringan suatu fonograf maknawi yang bersifat rabbani, agung, dan memiliki kepala tanpa batas; jarum-jarum itu membuat ciptaan tersebut berbicara dengan syair-syair pujian kepada Rabb serta melantunkan nyanyian tasbih kepada Allah subhânahu. ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻭَﺗَﺤِﻴَّﺘُﻬُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ سَلَامٌ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَاةً ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻚَ ﺭِﺿَﺎﺀً ﻭَ ﻟِﺤَﻘِّﻪ۪ ﺍَﺩَﺍﺀً ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﺳَﻠِّﻤْﻨَﺎ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺩ۪ﻳﻨَﻨَﺎ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

--