Risalah Nur — Bahasa Indonesia

DASAR KETIGA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

DASAR KETIGA

Sang Pelaku Mampu. Ya, sebagaimana hal yang menuntut hasyr pasti ada, Zat yang akan melakukan hasyr juga sangat Mampu. Kudrat-Nya tidak memiliki kekurangan. Benda yang paling besar dan paling kecil sama bagi-Nya. Menciptakan satu musim semi semudah satu bunga. Ya, bagi Sang Qadîr, yang Keagungan serta Kudrat-Nya disaksikan dengan lidah tanpa batas oleh seluruh matahari, bintang, alam, zarah, dan zat berharga dalam alam ini, adakah dugaan serta waswas yang berhak menganggap hasyr jasmani jauh dari Kudrat itu? Ya, dengan mata kepala terlihat Sang Qadîr Dzul-Jalâl menciptakan dunia baru yang teratur pada setiap abad dalam alam ini, bahkan mengadakan alam baru yang terus bergerak dan teratur pada setiap tahun, bahkan membuat alam baru yang teratur pada setiap hari; Dia terus menciptakan dan mengganti dunia serta alam sementara dengan Hikmah yang sempurna pada wajah langit dan bumi ini, satu di belakang yang lain, menggantung alam-alam teratur sebanyak abad, tahun, bahkan hari pada benang waktu, dan melalui itu memperlihatkan Keagungan Kudrat-Nya; Dia memasangkan bunga musim semi yang besar, dihiasi ukiran seratus ribu jenis hasyr, pada kepala bumi seperti satu bunga, lalu memperlihatkan Kesempurnaan Hikmah dan Keindahan Seni-Nya; dapatkah dikatakan tentang Zat itu, "Bagaimana Dia akan mendatangkan kiamat, bagaimana Dia akan mengganti dunia ini dengan akhirat?" Ayat mulia ini menyatakan Kesempurnaan Kudrat Sang Qadîr tersebut, bahwa tidak ada sesuatu yang berat bagi-Nya, bahwa benda terbesar tidak lebih berat bagi Kudrat-Nya daripada benda terkecil, serta bahwa individu tanpa batas semudah satu individu bagi Kudrat itu: ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ Hakikat ayat ini telah kami jelaskan secara ringkas dalam Penutup Kalimat Kesepuluh, serta dengan uraian dalam Nokta Risalesi dan Surat Kedua Puluh. Sesuai maqam ini, kami akan menjelaskan sedikit dalam bentuk tiga persoalan: Kudrat Ilahi melekat pada Zat-Nya. Maka kelemahan tidak dapat masuk. Kudrat juga berkaitan dengan sisi malakut segala sesuatu. Maka penghalang tidak dapat menyela. Hubungan Kudrat juga menurut hukum. Maka bagian setara dengan keseluruhan, dan yang juz'i menjadi seperti yang menyeluruh. Kami akan membuktikan tiga persoalan ini. Persoalan Pertama: Kudrat Azali merupakan Sifat yang pasti dan harus melekat pada Zat Ilahi yang Mahasuci. Yakni, secara pasti merupakan Sifat yang melekat pada Zat-Nya. Tidak dapat terpisah dari-Nya dari segi apa pun.Maka kelemahan, lawan Kudrat, jelas tidak dapat menimpa Zat yang harus memiliki Kudrat tersebut. Sebab jika demikian, dua hal yang berlawanan harus berkumpul. Karena kelemahan tidak dapat menimpa Zat-Nya, jelas ia tidak dapat masuk ke dalam Kudrat yang melekat pada Zat itu. Karena kelemahan tidak dapat masuk ke dalam Kudrat, jelas tidak dapat ada tingkatan dalam Kudrat yang melekat pada Zat tersebut. Sebab tingkatan wujud setiap hal terjadi melalui masuknya lawan hal itu. Misalnya, tingkatan panas melalui masuknya dingin, derajat keindahan melalui masuknya kejelekan, dan bandingkanlah seterusnya... Namun, pada segala yang mungkin ada, karena tidak ada keharusan sejati dan alami yang melekat pada zatnya, hal-hal yang berlawanan dapat saling masuk. Tingkatan-tingkatan lahir, dan perbedaan serta perubahan alam muncul. Karena tidak dapat ada tingkatan dalam Kudrat Azali, tentu hubungan segala yang diciptakan dengan Kudrat harus sama. Yang terbesar setara dengan yang terkecil, dan zarah-zarah sebanding dengan bintang-bintang. Hasyr seluruh manusia semudah menghidupkan satu jiwa bagi Kudrat itu, dan menciptakan satu musim semi semudah membuat satu bunga. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, saat itu satu bunga seberat satu musim semi. Pada catatan kaki paragraf terakhir tingkatan "Allahu akbar" Keempat dalam Maqam Kedua Kalimat ini, juga dalam Kalimat Kedua Puluh Dua, Surat Kedua Puluh, serta tambahannya, telah dibuktikan bahwa jika penciptaan segala sesuatu diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, seluruh benda semudah satu benda. Jika diserahkan kepada sebab-sebab, satu benda sesulit dan seberat seluruh benda. Persoalan Kedua ialah Kudrat berkaitan dengan sisi malakut segala sesuatu. Ya, alam memiliki dua wajah seperti cermin. Pertama, sisi mulk, yang menyerupai sisi berwarna cermin. Yang lain, sisi malakut, yang menyerupai sisi mengilap cermin. Sisi mulk merupakan tempat hal-hal yang berlawanan bergerak. Ia menjadi tempat datangnya hal-hal seperti indah dan buruk, baik dan jahat, kecil dan besar, berat dan mudah. Karena itulah Sang Pembuat Dzul-Jalâl menjadikan sebab-sebab lahir sebagai tirai bagi Tasarruf Kudrat-Nya. Agar Tangan Kudrat tidak terlihat langsung bekerja pada urusan-urusan yang, menurut akal lahiriah, rendah dan tidak layak. Sebab Keagungan serta Kemuliaan menghendaki demikian. Namun, Dia tidak memberi pengaruh yang sesungguhnya kepada perantara serta sebab-sebab itu. Sebab kesatuan Ahadiyah menghendaki demikian. Adapun sisi malakut pada segala sesuatu mengilap dan bersih. Warna serta kepalsuan ciri-ciri pribadi tidak mencampurinya.Sisi itu menghadap kepada Khâliq-nya sendiri tanpa perantara. Padanya tidak ada urutan sebab atau rantai sebab. Sifat menjadi sebab dan akibat tidak dapat masuk kepadanya. Tidak ada lekuk dan beloknya. Penghalang tidak dapat mencampuri. Zarah menjadi saudara matahari. ~Kesimpulannya:

Kudrat itu Sederhana, tanpa batas, dan melekat pada Zat-Nya. Adapun tempat berlakunya Kudrat tanpa perantara, tanpa noda, dan tanpa pembangkangan. Maka dalam lingkup Kudrat itu, yang besar tidak memiliki kesombongan terhadap yang kecil. Kelompok tidak dapat memiliki keunggulan terhadap individu. Keseluruhan tidak dapat lebih menyulitkan Kudrat daripada bagian. Persoalan Ketiga ialah hubungan Kudrat menurut hukum. Yakni, Kudrat memandang yang banyak dan yang sedikit, yang besar dan yang kecil, dengan sama. Kami akan mendekatkan persoalan rumit ini kepada benak melalui beberapa perumpamaan. Dalam alam, "bening", "saling berhadapan", "keseimbangan", "keteraturan", "terlepas dari ciri pribadi", dan "ketaatan" masing-masing merupakan hal yang menyamakan yang banyak dengan yang sedikit, serta yang besar dengan yang kecil. Perumpamaan Pertama: Memperlihatkan rahasia "bening". Misalnya, gambaran serta pantulan matahari, yang merupakan limpahan tajallinya, memperlihatkan identitas yang sama pada permukaan laut dan pada setiap tetes laut. Jika bumi terdiri atas berbagai pecahan kaca yang menghadap matahari tanpa tirai, pantulan matahari pada setiap pecahan serta seluruh wajah bumi akan sama, tanpa saling mengganggu, terbagi, atau berkurang. Jika diandaikan matahari merupakan pelaku yang memilih dan memberikan limpahan cahaya serta gambaran pantulannya dengan kehendaknya, limpahan yang diberikannya kepada seluruh wajah bumi tidak dapat lebih berat daripada limpahan yang diberikannya kepada satu zarah. Perumpamaan Kedua: Rahasia "saling berhadapan". Misalnya, diandaikan seorang individu pada titik pusat suatu lingkaran besar yang terdiri atas individu-individu hidup, yakni manusia, memegang lilin, dan individu-individu pada lingkaran luar masing-masing memegang cermin; hubungan limpahan serta pancaran pantulan yang diberikan titik pusat kepada cermin-cermin di lingkaran luar itu sama, tanpa saling mengganggu, terbagi, atau berkurang. Perumpamaan Ketiga: Rahasia "keseimbangan". Misalnya, jika terdapat timbangan yang sejati, peka, dan sangat besar, serta pada kedua sisinya ada dua matahari, dua bintang, dua gunung, dua telur, atau dua zarah, yang mana pun, dengan kekuatan yang sama salah satu sisi timbangan besar dan peka itu dapat naik ke langit, sedangkan yang lain turun ke bumi. Perumpamaan Keempat: Rahasia "keteraturan". Misalnya, kapal terbesar dapat diputar seperti mainan terkecil. Perumpamaan Kelima: Rahasia "terlepas dari ciri pribadi". Misalnya, suatu hakikat yang terlepas dari ciri-ciri pribadi memandang serta masuk dengan sama ke dalam seluruh hal yang juz'i, dari yang terkecil hingga yang terbesar, tanpa berkurang atau terbagi. Kekhususan dari segi ciri lahiriah tidak menyela dan mengacaukannya. Tidak mengubah pandangan hakikat yang terlepas dari ciri pribadi itu.Misalnya, ikan sebesar jarum memiliki hakikat yang terlepas dari ciri pribadi itu seperti ikan paus. Mikroba membawa hakikat binatang seperti badak. Perumpamaan Keenam: Memperlihatkan rahasia "ketaatan". Misalnya, sebagaimana seorang panglima menggerakkan satu prajurit dengan perintah "Maju!", dengan perintah yang sama ia menggerakkan suatu pasukan. Hakikat rahasia perumpamaan ketaatan ini ialah: berdasarkan pengalaman, segala sesuatu dalam alam memiliki titik kesempurnaan. Benda itu memiliki kecenderungan menuju titik tersebut. Kecenderungan berlipat menjadi kebutuhan. Kebutuhan berlipat menjadi kerinduan. Kerinduan berlipat menjadi daya tarik. Dan daya tarik, kerinduan, kebutuhan, serta kecenderungan masing-masing merupakan biji dan benih ketaatan hakikat segala sesuatu kepada Perintah-Perintah Penciptaan Allah subhânahu. Kesempurnaan mutlak hakikat segala yang mungkin ada ialah wujud mutlak. Kesempurnaannya yang khusus ialah wujud khusus yang mengeluarkan kemampuannya dari potensi menjadi tindakan. Maka ketaatan seluruh alam kepada Perintah "Kun" seperti ketaatan satu zarah yang laksana satu prajurit. Dalam ketaatan serta pelaksanaan segala yang mungkin ada terhadap Perintah Azali "Kun" yang datang dari Kehendak Azali, kecenderungan, kebutuhan, kerinduan, serta daya tarik, yang juga merupakan Tajalli Kehendak, terkandung sekaligus bersama-sama. Ketika air yang halus menerima Perintah membeku dengan kecenderungan yang lembut, ia memecahkan besi; hal ini memperlihatkan kekuatan rahasia ketaatan. Jika keenam perumpamaan ini terlihat dengan mata kepala dalam daya serta perbuatan segala yang mungkin ada, yang tidak sempurna, terbatas, lemah, dan tidak memiliki pengaruh yang sesungguhnya, tentu segala sesuatu pasti sama bagi Kudrat Azali, yang tanpa batas, Azali, Abadi, menciptakan seluruh alam dari tiada sama sekali, membuat seluruh akal takjub, serta bertajalli melalui jejak Keagungan-Nya. Tidak ada sesuatu yang berat bagi-Nya. (Jangan lalai.) Kudrat itu tidak ditimbang dengan timbangan kecil keenam rahasia ini dan tidak dapat diperbandingkan dengannya. Semuanya hanya disebutkan untuk mendekatkan kepada pemahaman serta menghilangkan anggapan bahwa hal itu sulit terjadi. ~Hasil dan ringkasan Dasar Ketiga:

Karena Kudrat Azali tanpa batas; merupakan Sifat yang pasti harus melekat pada Zat yang Mahasuci; sisi malakut segala sesuatu tanpa noda dan tanpa tirai menghadap serta berhadapan dengan-Nya; seimbang dari segi mungkin ada, yakni kedua sisi setara; taat kepada tatanan fitrah, Syariat fitrah yang agung, serta Sunatullah; dan sisi malakutnya terlepas serta bersih dari penghalang dan kekhususan yang berbeda-beda, tentu benda terbesar tidak lebih menyulitkan dan tidak lebih melawan Kudrat itu daripada benda terkecil. Maka menghidupkan seluruh makhluk berjiwa pada hasyr tidak lebih berat bagi Kudrat daripada menghidupkan satu lalat pada musim semi. Maka Firman ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ tidak berlebihan, tepat, dan haq. Maka klaim kita, "Sang Pelaku Mampu dan tidak ada penghalang dari segi itu," telah terbukti secara pasti.

DASAR KEEMPAT

Sebagaimana ada hal yang menuntut kiamat serta hasyr, dan Sang Pelaku yang akan mendatangkan hasyr Mampu, begitu pula dunia ini memiliki kesiapan bagi kiamat serta hasyr. Dalam klaim kita bahwa tempat ini memiliki kesiapan, terdapat empat persoalan. Pertama: Mungkinnya alam dunia ini mati. Kedua: Terjadinya kematian itu. Ketiga: Mungkinnya dunia yang telah hancur dan mati itu diperbaiki serta dihidupkan kembali dalam bentuk akhirat. Keempat: Terjadinya perbaikan serta penghidupan kembali yang mungkin itu. Persoalan Pertama: Kematian alam ini mungkin. Sebab jika sesuatu termasuk dalam hukum perkembangan menuju kesempurnaan, tentu padanya ada pertumbuhan. Jika ada pertumbuhan dan membesar, tentu ia memiliki umur fitrah. Jika memiliki umur fitrah, tentu ia memiliki ajal fitrah. Melalui penelitian terhadap banyak contoh serta penelusuran yang sangat luas, telah tetap bahwa hal-hal semacam itu tidak dapat menyelamatkan dirinya dari cengkeraman maut. Ya, sebagaimana manusia merupakan alam kecil dan tidak dapat selamat dari runtuh, alam juga merupakan manusia besar dan tidak dapat selamat dari cengkeraman kematian. Ia juga akan mati, kemudian hidup kembali; atau berbaring, kemudian membuka mata bersama pagi hasyr. Sebagaimana pohon yang hidup, salinan kecil alam, tidak dapat menyelamatkan diri dari kerusakan serta penguraian, begitu pula rangkaian alam yang bercabang dari pohon penciptaan tidak dapat menyelamatkan diri dari kehancuran serta tercerai-berai untuk diperbaiki dan diperbarui. Jika sebelum ajal fitrah dunia tidak datang penyakit dari luar atau kejadian yang merusak, dengan Izin Kehendak Azali, dan Sang Pembuatnya yang Hakîm juga tidak menghancurkannya sebelum ajal fitrah, tentu, bahkan menurut perhitungan ilmu, suatu hari akan datang ketika makna serta rahasia ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ ٭ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡُ ﺍﻧْﻜَﺪَﺭَﺕْ ٭ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝُ ﺳُﻴِّﺮَﺕْ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ ٭ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﺍﻟْﻜَﻮَﺍﻛِﺐُ ﺍﻧْﺘَﺜَﺮَﺕْ ٭ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﺍﻟْﺒِﺤَﺎﺭُ ﻓُﺠِّﺮَﺕْ tampak dengan Izin Sang Qadîr yang Azali; manusia besar berupa dunia itu mulai sekarat, menggema dan memenuhi ruang dengan rintihan aneh serta suara mengerikan, menjerit lalu mati; kemudian akan hidup kembali dengan Perintah Ilahi.

Persoalan dengan Isyarat Halus

Sebagaimana air membeku dengan merugikan dirinya; es mencair dengan merugikan es; inti menguat dengan merugikan kulit; lafaz menebal dengan merugikan makna; ruh melemah demi tubuh; tubuh menjadi halus demi ruh; begitu pula dunia, alam yang padat, menjadi bening dan halus demi akhirat, alam yang halus, melalui bekerjanya mesin kehidupan. Kudrat Sang Fâthir menebarkan cahaya kehidupan pada bagian-bagian padat, tidak bernyawa, padam, serta mati dengan kegiatan yang sangat menakjubkan; ini merupakan isyarat Kudrat bahwa Dia melelehkan, membakar, dan menerangi alam padat ini dengan cahaya kehidupan demi alam yang halus, serta menguatkan hakikatnya. Ya, betapapun lemah suatu hakikat, ia tidak mati dan tidak terhapus seperti bentuk. Bahkan ia bepergian dalam ciri-ciri pribadi serta bentuk-bentuk. Hakikat membesar, berkembang, dan semakin meluas. Adapun kulit serta bentuk menjadi tua, menipis, dan pecah. Ia diperbarui dengan lebih indah agar sesuai dengan ukuran hakikat yang tetap dan telah membesar. Dari segi bertambah serta berkurang, hakikat dan bentuk berbanding terbalik. Yakni, semakin bentuk menebal, semakin hakikat menipis. Semakin bentuk menipis, semakin hakikat mendapat kekuatan sebesar itu. Hukum ini meliputi seluruh benda yang termasuk dalam hukum perkembangan menuju kesempurnaan. Jadi, tentu suatu waktu akan datang ketika alam yang tampak, kulit serta bentuk hakikat alam yang agung, akan pecah dengan Izin Sang Fâthir Dzul-Jalâl. Kemudian akan diperbarui dalam bentuk lebih indah. Rahasia ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﺒَﺪَّﻝُ الْاَرْضُ ﻏَﻴْﺮَ الْاَرْضِ akan menjadi nyata. ~Kesimpulannya:

Kematian dunia mungkin; tidak ada syubhat sama sekali bahwa ia mungkin. Persoalan Kedua: Terjadinya kematian dunia. Dalil persoalan ini ialah kesepakatan seluruh agama samawi, kesaksian seluruh fitrah yang sehat, serta isyarat seluruh perubahan, pergantian, dan peralihan dalam alam ini. Juga kesaksian dunia-dunia hidup serta alam-alam yang terus bergerak sebanyak abad dan tahun, melalui kematian mereka dalam rumah tamu dunia ini, bahwa dunia yang utama juga akan mati seperti mereka. Jika engkau ingin membayangkan dunia sekarat sebagaimana diisyaratkan ayat-ayat Al-Qur'an, lihatlah: bagian-bagian alam ini saling terikat melalui tatanan yang halus dan luhur. Semuanya berpegang melalui ikatan tersembunyi, lembut, serta halus, dan berada dalam keteraturan sedemikian rupa sehingga ketika satu benda langit menerima Perintah "Kun" atau Seruan "Keluarlah dari porosmu", dunia ini mulai sekarat. Bintang-bintang akan bertabrakan, benda-benda langit akan bergelombang, dan jutaan peluru dalam ruang alam tanpa batas mulai meraung seperti suara mengerikan meriam besar sebesar bola-bola dunia. Dengan saling bertabrakan, menyemburkan percikan, gunung-gunung terbang, serta laut-laut terbakar, bumi akan diratakan. Dengan kematian serta keadaan sekarat ini, Sang Qadîr yang Azali mengguncang alam; dengan memisahkan dan membersihkan alam, neraka beserta zat-zat neraka ditarik ke satu sisi, surga beserta zat-zat yang sesuai bagi surga ke sisi lain, dan alam akhirat tampak. Persoalan Ketiga: Alam yang akan mati mungkin hidup kembali. Sebab sebagaimana dibuktikan pada Dasar Kedua, Kudrat tidak memiliki kekurangan. Hal yang menuntutnya sangat kuat. Persoalan itu juga termasuk hal yang mungkin terjadi. Jika suatu persoalan yang mungkin memiliki tuntutan yang sangat kuat dan Kudrat Sang Pelaku tidak memiliki kekurangan, ia dapat dipandang bukan sekadar mungkin, melainkan akan terjadi.

Makna Halus yang Mengandung Isyarat

Jika alam ini diperhatikan, terlihat dua unsur di dalamnya yang meluas dan berakar ke segala arah. Melalui jejak serta buahnya seperti baik dan jahat, indah dan buruk, manfaat dan bahaya, sempurna dan kurang, terang dan gelap, hidayah dan kesesatan, cahaya dan api, iman dan kufur, taat dan membangkang, takut dan cinta, hal-hal yang berlawanan saling berbenturan dalam alam ini. Semuanya terus mengalami perubahan serta pergantian. Roda-rodanya berputar seperti alat kerja yang menghasilkan produk alam lain. Tentu cabang serta hasil kedua unsur yang saling berlawanan itu akan menuju hidup yang kekal, berkumpul, dan saling terpisah. Saat itu semuanya akan tampak dalam bentuk surga serta neraka. Karena alam yang kekal akan dibuat dari alam yang fana ini, tentu unsur-unsur pokoknya akan menuju keadaan yang kekal serta abadi. Ya, surga serta neraka merupakan dua buah cabang pohon penciptaan yang memanjang dan condong menuju hidup yang kekal, dua hasil rangkaian alam ini, dua gudang arus syuunat ini, dua kolam segala wujud yang mengalir serta bergelombang menuju hidup yang kekal, dan dua tempat Tajalli Kelembutan serta Penaklukan; ketika Tangan Kudrat mengguncang alam dengan gerakan yang keras, kedua kolam itu akan penuh dengan zat-zat yang sesuai. Rahasia makna halus berisyarat ini ialah: Sang Hakîm yang Azali, menurut tuntutan Perhatian yang kekal selamanya serta Hikmah Azali, menciptakan dunia ini untuk menjadi tempat percobaan, medan ujian, cermin Asmaulhusna-Nya, serta lembaran bagi Pena Takdir dan Kudrat-Nya. Percobaan serta ujian menjadi sebab pertumbuhan. Pertumbuhan itu menjadi sebab potensi berkembang. Berkembangnya potensi menjadi sebab kemampuan tampak. Tampaknya kemampuan menjadi sebab hakikat-hakikat nisbi muncul. Munculnya hakikat-hakikat nisbi menjadi sebab ukiran Tajalli Asmaulhusna Sang Pembuat Dzul-Jalâl diperlihatkan dan alam diubah menjadi surat-surat Allah subhânahu Yang Samad. Dengan rahasia ujian serta kewajiban inilah permata ruh-ruh luhur seperti berlian dibersihkan dan dipisahkan dari zat ruh-ruh rendah seperti arang. Karena Dia menghendaki alam dalam bentuk ini demi banyak Hikmah halus serta luhur yang belum kita ketahui, seperti rahasia-rahasia tersebut, Dia juga menghendaki alam berubah serta berganti demi Hikmah-Hikmah itu. Untuk perubahan serta pergantian, Dia mencampurkan hal-hal yang berlawanan dan memperhadapkannya dengan Hikmah.Dengan mencampurkan bahaya ke dalam manfaat, memasukkan keburukan ke dalam kebaikan, mengumpulkan yang buruk dengan yang indah, serta menguleninya seperti adonan, Dia menjadikan alam ini mengikuti hukum pergantian serta perubahan, dan kaidah peralihan serta perkembangan menuju kesempurnaan. Ketika majelis ujian ditutup. Waktu percobaan berakhir. Asmaulhusna melaksanakan ketentuan-Nya. Pena Takdir selesai menulis surat-surat-Nya. Kudrat menyempurnakan ukiran Seni-Nya. Segala wujud menunaikan tugasnya. Makhluk-makhluk menyelesaikan khidmahnya. Segala sesuatu menyatakan maknanya. Dunia menumbuhkan bibit-bibit akhirat. Bumi memamerkan dan memperlihatkan seluruh mukjizat Kudrat serta segala keajaiban Seni Sang Pembuat yang Qadîr. Alam yang fana ini memasangkan lembaran-lembaran yang membentuk pemandangan kekal pada pita waktu. Hikmah yang kekal selamanya serta Perhatian Azali Sang Pembuat Dzul-Jalâl itu menuntut hakikat-hakikat seperti hasil-hasil ujian dan percobaan itu; hakikat Tajalli Asmaulhusna itu; hakikat surat-surat Pena Takdir; bentuk asli ukiran Seni yang menyerupai contoh itu; manfaat serta tujuan tugas-tugas segala wujud; upah khidmah makhluk-makhluk; hakikat makna yang dinyatakan kata-kata kitab alam; tumbuhnya benih-benih kemampuan; dibukanya pengadilan terbesar; diperlihatkannya pemandangan berupa gambaran yang diambil dari dunia; dikoyaknya tirai sebab-sebab lahir; serta segala sesuatu langsung berserah kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang menciptakannya. Karena menuntut hakikat-hakikat itu, untuk menyelamatkan alam dari hiruk-pikuk perubahan dan fana, peralihan dan sirna, serta menjadikannya abadi, Dia menghendaki hal-hal yang berlawanan itu dipisahkan dan sebab-sebab perubahan serta zat-zat perbedaan dibedakan. Tentu Dia akan mendatangkan kiamat dan melakukan pemisahan demi hasil-hasil tersebut. Sebagai hasil pemisahan ini, neraka mengambil bentuk yang abadi dan mengerikan, dan golongan-golongannya menerima ancaman ﻭَﺍﻣْﺘَﺎﺯُﻭﺍ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥَ. Surga mengenakan bentuk yang abadi serta megah, dan para penghuni serta pemiliknya menerima seruan سَلَامٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻃِﺒْﺘُﻢْ ﻓَﺎﺩْﺧُﻠُﻮﻫَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ. Sebagaimana dibuktikan pada Pertanyaan Kedua Maqam Pertama Kalimat Kedua Puluh Delapan, Sang Hakîm yang Azali memberi penghuni kedua rumah itu wujud yang abadi serta tetap melalui Kudrat-Nya yang sempurna, sehingga mereka tidak pernah mengalami penguraian, perubahan, menjadi tua, atau hancur. Sebab sebab-sebab perubahan yang menimbulkan kehancuran tidak ada. Persoalan Keempat: Hal yang mungkin ini akan terjadi. Ya, setelah mati, dunia akan dihidupkan sebagai akhirat.Setelah dunia dihancurkan, Zat yang membuat dunia itu akan memperbaikinya kembali dalam bentuk lebih indah dan menjadikannya suatu tempat di akhirat. Dalil hal ini ialah terutama Al-Qur'an yang Mulia dengan seluruh ayatnya yang mencakup ribuan hujah akal, serta seluruh kitab samawi bersepakat mengenai hal itu; Sifat-Sifat Keagungan, Sifat-Sifat Keindahan, serta Asmaulhusna Zat Dzul-Jalâl juga menunjukkan secara pasti bahwa hal itu akan terjadi, dan melalui seluruh Firman samawi yang dikirim-Nya kepada para nabi, Dia telah menjanjikan kiamat serta diciptakannya hasyr. Karena telah menjanjikan, tentu Dia akan melakukannya. Rujuklah Hakikat Kedelapan Kalimat Kesepuluh. Sebagaimana terutama Muhammad dari Arab ﷺ, dengan kekuatan seribu mukjizatnya, seluruh nabi serta rasul, wali, dan para siddîq bersepakat serta memberitakan bahwa hal itu akan terjadi, alam ini juga memberitakan terjadinya melalui seluruh ayat penciptaannya. ~Kesimpulannya:

Kalimat Kesepuluh dengan seluruh hakikatnya, serta Kalimat Kedua Puluh Delapan dengan seluruh hujah pada bagian Lâsiyyama dalam Maqam Kedua, telah menunjukkan dengan kepastian sebesar terbitnya kembali matahari yang telah terbenam pada pagi hari bahwa setelah kehidupan dunia terbenam, matahari hakikat akan terbit dalam bentuk kehidupan akhirat. Dari awal hingga di sini, dengan memohon bantuan Nama Al-Hakîm dan mengambil manfaat dari limpahan Al-Qur'an, kami telah menyebut empat dasar untuk menyiapkan hati agar menerima, nafsu agar tunduk, serta akal agar yakin. Namun, siapakah kita sehingga akan berbicara mengenai hal ini? Yang harus kita dengarkan sebenarnya ialah apa yang dikatakan Sang Pemilik dunia ini, Sang Khâliq alam ini, serta Sang Mâlik segala wujud ini. Ketika Sang Pemilik kerajaan berbicara, siapa yang berhak mencampuri secara berlebihan? Dalam Khotbah Azali-Nya yang disampaikan Sang Pembuat yang Hakîm di masjid dunia serta sekolah bumi kepada seluruh barisan golongan yang duduk di belakang abad-abad, kita harus mendengarkan ribuan Firman seperti ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍَﺧْﺮَﺟَﺖِ الْاَرْضُ ﺍَﺛْﻘَﺎﻟَﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ الْاِنْسَانُ ﻣَﺎﻟَﻬَﺎ ٭ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺍَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ ٭ ﺑِﺎَﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﻟَﻬَﺎ ٭ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻳَﺼْﺪُﺭُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍَﺷْﺘَﺎﺗًﺎ ﻟِﻴُﺮَﻭْﺍ ﺍَﻋْﻤَﺎﻟَﻬُﻢْ ٭ ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳَﺮَﻩُ ٭ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺮًّﺍ ﻳَﺮَﻩُ yang mengguncang alam, serta ﻭَﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺍَﻥَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ الْاَنْهَارُ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺭُﺯِﻗُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻤَﺮَﺓٍ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺭُﺯِﻗْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﺍُﺗُﻮﺍ ﺑِﻪ۪ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬًﺎ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَٓﺎ ﺍَﺯْﻭَﺍﺝٌ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓٌ ﻭَﻫُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ yang menggembirakan dan membangkitkan semangat seluruh makhluk, dari Mâlikul-Mulk, Sang Pemilik dunia dan akhirat. Kita harus berkata, "Amanna wa saddaqna." ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﺍِﻧَّﻚَ ﺣَﻤ۪ﻴﺪٌ ﻣَﺠ۪ﻴﺪٌ

--

Menyingkap teka-teki alam dan memecahkan suatu teka-teki penting Al-Qur'an Al-Hakîm