HAKIKAT KELIMA
Pintu Kasih Sayang dan ubudiyah Muhammad ﷺ. Nama Mujîb dan Rahîm tampak melaluinya.
Mungkinkah Rabb Yang memiliki Kasih Sayang dan Belas Kasih tanpa batas, yang melihat kebutuhan paling kecil dari makhluk-Nya yang paling rendah lalu memenuhinya dengan Kasih Sayang sempurna dari tempat yang tidak diduga, mendengar suara paling tersembunyi dari makhluk-Nya yang paling tersembunyi lalu menolongnya, serta menjawab segala yang dimohon melalui bahasa keadaan dan ucapan, melihat kebutuhan paling besar dari hamba-Nya yang paling agung {(Catatan kaki): Ya, seorang pribadi yang kekuasaannya telah berlangsung seribu tiga ratus lima puluh tahun dan masih berlanjut, yang pada sebagian besar masa memiliki lebih dari tiga ratus lima puluh juta pengikut, dan yang seluruh pengikutnya setiap hari memperbarui baiat kepadanya, bersaksi atas kesempurnaannya, serta tunduk pada perintah-perintahnya dengan ketaatan sempurna; yang setengah bumi dan seperlima umat manusia diwarnai dengan warnanya, yakni warna rohaninya; dan yang menjadi kekasih hati serta pendidik ruh mereka, tentu merupakan hamba paling agung dari Rabb Yang mengelola kainat ini. Jika sebagian besar jenis makhluk dalam kainat membawa masing-masing satu buah mukjizat pribadi itu, sehingga menyambut tugas dan pengutusannya dengan tepuk tangan, tentu ia merupakan makhluk yang paling dicintai oleh Khâliq kainat ini. Selain itu, kebutuhan berupa hidup kekal, yang dimohon seluruh umat manusia dengan segenap kemampuannya, ialah kebutuhan yang mengangkat manusia dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang paling tinggi. Tentu kebutuhan itu merupakan kebutuhan paling besar, dan seorang hamba yang paling agung akan memohonkannya atas nama semuanya kepada Sang Pemenuh Segala Kebutuhan.}, makhluk-Nya yang paling dicintai, lalu tidak menyelesaikan dan memenuhinya; mendengar doa paling tinggi, lalu tidak mengabulkannya? Ya, misalnya, Karunia dan kemudahan yang terlihat dalam pemberian rezeki dan pemeliharaan hewan-hewan yang lemah serta anak-anaknya menunjukkan bahwa Pemilik kainat ini menjalankan Rububiyah dengan Rahmat tanpa batas. Mungkinkah Kasih Sayang yang begitu penuh Rahmat dalam Rububiyah-Nya tidak mengabulkan doa paling indah dari makhluk yang paling utama? Sebagaimana telah saya jelaskan dalam Kalimat Kesembilan Belas, di sini kita nyatakan kembali hakikat ini sebagai berikut: Wahai kawan yang mendengarkanku bersama nafsuku! Dalam kisah perumpamaan tadi kita berkata, "Di sebuah pulau ada suatu pertemuan; seorang ajudan yang paling mulia menyampaikan pidato." Hakikat yang ditunjukkannya ialah: Mari!Kita melepaskan diri dari zaman ini, pergi dalam pikiran ke masa kebahagiaan Nabi ﷺ dan dalam khayal ke Jazirah Arab, agar kita melihat dan mengunjungi Rasul Yang Paling Mulia ﷺ saat beliau menjalankan tugas dan ubudiyah. Lihatlah! Sebagaimana melalui risalah dan petunjuknya beliau menjadi sebab terwujudnya kebahagiaan abadi serta sarana untuk mencapainya, melalui ubudiyah dan doanya beliau juga menjadi sebab adanya kebahagiaan itu serta sarana penciptaan surga. Lihatlah! Pribadi itu berdoa untuk kebahagiaan abadi dalam salat yang begitu besar dan ibadah yang begitu luhur, sehingga seakan-akan jazirah ini, bahkan seluruh bumi, salat dan memohon bersama salat beliau yang agung. Sebab, ubudiyah beliau mencakup ubudiyah umat yang mengikutinya, dan melalui rahasia kesesuaian juga mencakup inti ubudiyah seluruh nabi. Beliau menjalankan salat yang begitu besar itu dan memohon di tengah jamaah yang begitu besar, sehingga seakan-akan seluruh manusia yang bercahaya dan sempurna di antara anak-anak Adam, dari Nabi Adam hingga zaman kita, bahkan hingga kiamat, mengikuti dan bermakmum kepada beliau, lalu mengucapkan amin atas doanya. {(Catatan kaki): Ya, sejak masa munajat Ahmad ﷺ hingga kini, seluruh salat dan salawat seluruh umat merupakan amin yang terus-menerus dan keikutsertaan bersama dalam doa beliau. Bahkan setiap salawat yang ditujukan kepada beliau merupakan satu amin atas doanya. Setiap orang dari umat beliau menyampaikan salawat dan salam kepada beliau di dalam setiap salat; pengikut mazhab Syafi'i juga berdoa untuk beliau setelah ikamah. Semua itu merupakan amin yang sangat kuat dan menyeluruh atas doa beliau mengenai kebahagiaan abadi. Hidup kekal dan kebahagiaan abadi yang diminta seluruh manusia dengan segenap kekuatan melalui bahasa keadaan fitrah kemanusiaannya, dimohon oleh pribadi Ahmad ﷺ atas nama umat manusia. Bagian manusia yang bercahaya mengucapkan amin di belakang beliau. Mungkinkah doa ini tidak mendapat pengabulan?} Lihatlah, beliau juga berdoa untuk suatu kebutuhan bersama seperti hidup kekal, sehingga bukan hanya penghuni bumi, melainkan penghuni langit, bahkan seluruh yang ada ikut dalam permohonannya. Melalui bahasa keadaan, mereka berkata, "Oh, ya, wahai Rabb kami! Berikanlah, kabulkanlah doanya. Kami pun menginginkannya." Lihatlah pula! Beliau memohon kebahagiaan yang kekal dengan begitu pilu, dengan sikap seorang yang dicintai, penuh kerinduan, dan penuh kerendahan hati, sehingga membuat seluruh alam menangis dan ikut dalam doanya.Lihatlah, beliau juga memohon kebahagiaan dan berdoa untuk suatu maksud dan tujuan yang mengangkat manusia serta seluruh makhluk dari jatuh ke tingkat paling rendah, yaitu musnah sama sekali, tidak bernilai, tidak berguna, dan sia-sia, menuju tingkat paling tinggi, yaitu bernilai, hidup kekal, bertugas luhur, dan menjadi surat-surat dari Allah subhânahu Yang Samad. Lihatlah, beliau juga memohon dengan seruan pertolongan yang begitu tinggi dan merendahkan diri dengan permohonan belas kasih yang begitu manis, sehingga seakan-akan membuat seluruh yang ada, langit, dan arasy mendengarnya, terhanyut dalam kegembiraan rohani, serta mengucapkan "Amin, Allahumma amin!" atas doanya. {(Catatan kaki): Ya, seluruh tindakan Pengelola alam ini terlihat dilakukan dengan Kesadaran, Ilmu, dan Hikmah. Karena itu, sama sekali tidak mungkin Pengelola itu tidak menyadari dan mengetahui tindakan pribadi yang paling istimewa di antara ciptaan-ciptaan-Nya ﷺ. Sama sekali tidak mungkin pula Sang Pengelola Yang Alîm itu mengetahui tindakan dan permohonan (doa) pribadi istimewa tersebut ﷺ, tetapi tetap tidak peduli dan tidak memberi perhatian kepadanya. Sama sekali tidak mungkin pula Sang Pengelola Yang Qadîr lagi Rahîm itu peduli terhadap doa-doanya, tetapi tidak mengabulkannya. Ya, melalui cahaya pribadi Ahmad ﷺ, wajah alam berubah. Hakikat sejati manusia dan seluruh alam tersingkap melalui cahaya dan sinar itu. Terlihatlah bahwa segala yang ada dalam alam ini masing-masing merupakan surat dari Allah subhânahu Yang Samad yang membuat Asma Allah subhânahu terbaca, petugas yang diberi tugas, serta makhluk yang bernilai, bermakna, dan mendapat hidup kekal. Jika cahaya itu tidak ada, segala yang ada akan tetap berada dalam gelapnya sangkaan-sangkaan: ditetapkan untuk musnah sama sekali, tidak bernilai, tidak bermakna, tidak berguna, sia-sia, kacau, dan menjadi mainan kebetulan. Karena rahasia inilah, sebagaimana manusia mengucapkan amin atas doa pribadi Ahmad ﷺ, arasy dan bumi serta seluruh yang ada, dari tanah hingga gugus bintang Surayya, juga berbangga dengan cahayanya dan menunjukkan keterkaitan dengannya. Memang, ruh ubudiyah Ahmad ﷺ ialah doa. Bahkan gerak dan pelayanan alam merupakan sejenis doa. Misalnya, gerak sebuah biji merupakan sejenis doa kepada Khâliq-nya agar menjadi sebatang pohon.} Lihatlah, beliau juga memohon kebahagiaan dan hidup kekal kepada Sang Qadîr Yang Samî' lagi Karîm, kepada Sang Alîm Yang Basîr lagi Rahîm, yang terlihat menyaksikan, mendengar, mengabulkan, dan mengasihani keinginan paling tersembunyi serta permohonan paling tersembunyi dari makhluk hidup yang paling tersembunyi. Dia menjawab sekalipun permohonan itu melalui bahasa keadaan. Dia memberi dan menjawab dengan cara yang begitu penuh Hikmah, melihat segala sesuatu, dan penuh Rahmat, sehingga tidak menyisakan syubhat bahwa Pemeliharaan serta Pengaturan itu hanya milik Sang Samî' lagi Basîr, hanya milik Sang Karîm lagi Rahîm. Mari kita dengarkan apa yang dimohon oleh Kebanggaan Alam, yang merupakan kehormatan umat manusia dan pribadi yang tiada bandingnya di seluruh alam dan zaman ﷺ. Beliau berdiri di atas bumi ini dengan seluruh anak Adam di belakangnya, mengangkat tangan menghadap arasy terbesar, dan berdoa dalam hakikat ubudiyah Ahmad ﷺ yang mencakup inti ubudiyah umat manusia. Lihatlah, beliau memohon kebahagiaan abadi bagi dirinya dan umatnya, memohon hidup kekal, memohon surga. Beliau juga memohon bersama seluruh Asma Suci Allah subhânahu yang memperlihatkan Keindahan-Nya dalam cermin makhluk-makhluk. Engkau melihat bahwa beliau memohon syafaat dari Asma itu. Jika tidak ada sebab-sebab yang tak terhitung yang mengharuskan adanya akhirat serta bukti-bukti keberadaannya, hanya satu doa pribadi ini saja sudah akan menjadi sebab dibangunnya surga, yang bagi Kudrat Sang Khâliq Yang Rahîm sama ringannya dengan penciptaan musim semi kita. {(Catatan kaki): Ya, muka bumi ini, jika dibandingkan dengan akhirat, laksana sebuah halaman yang sangat sempit. Memperlihatkan padanya contoh-contoh seni yang menakjubkan dan tak terhitung serta contoh-contoh hasyr dan kiamat, lalu menulis dan memasukkan jenis-jenis ciptaan yang teratur, yang setara dengan tiga ratus ribu buku, ke dalam satu halaman itu dengan keteraturan sempurna, tentu lebih sulit daripada membangun dan menciptakan surga yang indah dan teratur dalam alam akhirat yang luas. Ya, dapat dikatakan bahwa setinggi apa pun surga melebihi musim semi, sebesar itu pula penciptaan taman-taman musim semi lebih sulit dan lebih menakjubkan daripada penciptaan surga itu.} Ya, bagaimana penciptaan surga dapat terasa berat bagi Sang Qadîr Mutlak, yang pada musim semi kita menjadikan muka bumi sebagai suatu tempat hasyr dan menciptakan seratus ribu contoh kebangkitan? Jadi,
sebagaimana risalah beliau menjadi sebab dibukanya negeri ujian ini, sehingga beliau menjadi tempat terwujudnya rahasia لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ ﻟَﻤَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ الْاَفْلَاكَ, ubudiyah beliau juga menjadi sebab dibukanya negeri kebahagiaan yang lain itu. Mungkinkah keteraturan alam yang membuat seluruh akal takjub, Keindahan Seni tanpa cacat dalam Rahmat yang Luas, dan Keindahan Rububiyah tanpa tandingan menerima keburukan, sikap tanpa belas kasih, serta kekacauan seperti itu dengan tidak menjawab doa tersebut? Yakni, mungkinkah Dia mendengar dengan penuh perhatian lalu memenuhi dan mewujudkan keinginan serta suara yang paling kecil dan bersifat juz'i, serta paling tidak penting, tetapi menganggap keinginan yang paling penting dan diperlukan sebagai hal yang tidak penting, lalu tidak mendengar, tidak memahami, dan tidak melakukannya? Sekali-kali tidak, sama sekali tidak; seratus ribu kali, sekali-kali tidak! Keindahan seperti itu tidak dapat menerima keburukan seperti itu lalu menjadi buruk. {(Catatan kaki): Ya, berubahnya hakikat disepakati sebagai hal yang mustahil. Di antara perubahan hakikat, yang paling mustahil ialah berubahnya sesuatu menjadi lawannya. Di antara perubahan hal-hal yang berlawanan itu, yang jelas seribu kali lebih mustahil ialah sesuatu tetap dalam hakikatnya sendiri, tetapi sekaligus menjadi lawannya itu sendiri. Misalnya, Keindahan tanpa batas tetap merupakan Keindahan Sejati, tetapi menjadi keburukan sejati. Dalam contoh kita ini, Keindahan Rububiyah yang disaksikan dan pasti adanya itu terus dalam hakikatnya sebagai Keindahan Rububiyah, tetapi menjadi keburukan itu sendiri. Inilah contoh paling aneh di antara hal-hal yang mustahil dan batil di dunia.} Jadi,
sebagaimana Rasul Yang Paling Mulia ﷺ membuka pintu dunia dengan risalahnya, beliau juga membuka pintu akhirat dengan ubudiyahnya. ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻَﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﻣِﻞْﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺩَﺍﺭِ ﺍﻟْﺠِﻨَﺎﻥِ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﻭَ ﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﺤَﺒ۪ﻴﺐِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫُﻮَ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟْﻜَﻮْﻧَﻴْﻦِ ﻭَ ﻓَﺨْﺮُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤَﻴْﻦِ ﻭَ ﺣَﻴَﺎﺕُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَﻳْﻦِ ﻭَ ﻭَﺳ۪ﻴﻠَﺔُ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺗَﻴْﻦِ ﻭَ ﺫُﻭ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺣَﻴْﻦِ ﻭَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﺜَّﻘَﻠَﻴْﻦِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴّ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
HAKIKAT KEENAM
Pintu Keagungan dan Sifat Kekal Selamanya, tempat Nama Jalîl dan Bâqî tampak.
Mungkinkah Keagungan Rububiyah, yang menundukkan dan mengatur seluruh yang ada, dari matahari dan pohon hingga zarah, sebagai prajurit yang menerima perintah, hanya bertumpu pada makhluk-makhluk fana yang sengsara dan menjalani hidup sementara di rumah tamu dunia ini, tanpa menciptakan suatu wilayah Keagungan yang kekal dan abadi serta pusat Rububiyah yang abadi dan luhur? Ya, tindakan-tindakan agung seperti pergantian musim, gerak-gerak besar seperti pergerakan planet-planet laksana pesawat, penundukan yang menggetarkan seperti menjadikan bumi sebagai buaian bagi manusia dan matahari sebagai lampu bagi makhluk, serta perubahan-perubahan luas seperti menghidupkan dan menghiasi bola bumi yang telah mati dan mengering menunjukkan bahwa di balik tirai terdapat Rububiyah yang begitu Besar, yang memerintah dengan Kekuasaan Megah. Kekuasaan Rububiyah seperti itu menuntut rakyat yang layak baginya dan suatu tempat yang sesuai untuk menampakkan Rububiyah itu. Padahal, engkau melihat bahwa rakyat dan hamba-hamba-Nya yang paling banyak mencakup hal dalam hakikat dirinya serta paling penting berkumpul sementara di rumah tamu dunia ini dalam keadaan sengsara. Rumah tamu itu setiap hari terisi dan kosong. Seluruh rakyat itu juga berada sementara di tempat ujian ini untuk diuji khidmahnya. Tempat itu setiap jam berubah. Seluruh rakyat itu juga berhenti beberapa menit dan menonton di tempat pameran ini, untuk menyaksikan dengan pandangan seorang pedagang contoh-contoh karunia berharga serta karya seni langka yang menakjubkan dari Sang Pembuat Dzul-Jalâl dalam pameran pasar alam, lalu menghilang. Tempat pameran ini setiap menit berubah. Yang pergi tidak kembali; yang datang akan pergi. Keadaan ini dengan pasti menunjukkan bahwa di balik rumah tamu, tempat ujian, dan tempat-tempat pameran ini terdapat istana-istana tetap, tempat tinggal yang terus ada, serta kebun-kebun dan khazanah-khazanah yang penuh dengan wujud asli yang paling murni dan paling luhur dari contoh serta gambaran yang kita lihat di dunia ini. Semua itu akan menjadi pusat serta tempat Kekuasaan yang Abadi itu tampak. Jadi, usaha di sini adalah untuk semua itu. Dia membuat orang bekerja di sini dan memberi upah di sana. Setiap orang memiliki kebahagiaan di sana sesuai dengan kemampuannya, jika ia tidak kehilangannya. Ya, mustahil Kekuasaan Abadi seperti itu hanya bertumpu pada makhluk fana dan hina yang akan lenyap ini. Pandanglah hakikat ini melalui teropong perumpamaan berikut: Misalnya, engkau sedang berjalan dan melihat sebuah penginapan di jalan. Seorang tokoh besar membangun penginapan itu untuk tamu-tamu yang datang kepadanya. Ia menghabiskan jutaan keping emas untuk menghiasi penginapan itu, agar para tamu menikmati pemandangan dan mengambil pelajaran selama satu malam. Para tamu hanya memandang sedikit dari hiasan itu dalam waktu yang singkat, mencicipi sedikit dari nikmat-nikmat itu dalam waktu yang sangat singkat, lalu pergi tanpa merasa puas. Namun, setiap tamu mengambil gambar benda-benda di penginapan itu dengan alat pemotretnya sendiri. Para pelayan tokoh besar itu juga merekam dan mencatat tindakan para tamu dengan sangat teliti. Engkau juga melihat bahwa setiap hari tokoh itu membongkar sebagian besar hiasan berharga tersebut. Ia membuat hiasan baru untuk tamu-tamu yang akan datang. Setelah melihat ini, masihkah ada syubhat padamu bahwa tokoh yang membangun penginapan di jalan ini memiliki kediaman-kediaman tetap yang sangat luhur, khazanah yang tak habis dan sangat berharga, serta kedermawanan yang terus ada dan sangat besar? Dengan memuliakan para tamu di penginapan ini, ia membangkitkan selera tamu-tamunya terhadap hal-hal yang ada di sisinya serta menumbuhkan minat mereka pada hadiah-hadiah yang telah disiapkannya untuk mereka. Demikian pula, jika engkau memperhatikan keadaan di rumah tamu dunia ini tanpa mabuk, engkau akan memahami sembilan dasar berikut: Dasar Pertama: Engkau memahami bahwa dunia ini, seperti penginapan itu, bukan untuk dirinya sendiri. Mustahil pula dunia mengambil bentuk ini dengan sendirinya. Dunia justru merupakan rumah tamu yang dibuat dengan Hikmah, yang terisi dan kosong ketika rombongan makhluk datang, singgah, dan berangkat. Dasar Kedua: Engkau juga memahami bahwa mereka yang tinggal dalam penginapan ini adalah tamu. Rabb mereka Yang Karîm mengundang mereka ke Darussalam (surga). Dasar Ketiga: Engkau juga memahami bahwa hiasan di dunia ini bukan hanya untuk menikmati atau memandang pemandangan. Sebab, jika memberi kenikmatan sesaat, hiasan itu memberi derita dalam banyak waktu melalui perpisahan dengannya. Hiasan itu membuatmu mencicipi dan membangkitkan seleramu, tetapi tidak membuatmu puas. Sebab, umurnya singkat atau umurmu singkat. Tidak cukup untuk merasa puas. Jadi, hiasan yang bernilai tinggi tetapi berjangka singkat ini ialah untuk mengambil pelajaran, {(Catatan kaki): Ya, karena nilai dan rincian seni segala sesuatu sangat tinggi dan indah, sedangkan jangka waktunya singkat dan umurnya pendek, maka hal-hal itu merupakan contoh dan gambaran dari hal-hal lain. Karena ada pula keadaan yang seakan-akan menghadapkan pandangan para pembeli kepada wujud aslinya, maka tentu dapat dikatakan, memang dikatakan, dan memang demikian adanya bahwa jenis hiasan di dunia ini merupakan contoh nikmat-nikmat surga yang disiapkan Ar-Rahmân Yang Rahîm dengan Rahmat-Nya bagi hamba-hamba yang Dia cintai.} untuk bersyukur, untuk mendorong menuju wujud aslinya yang tetap, serta untuk tujuan-tujuan lain yang sangat luhur. Dasar Keempat: Engkau juga memahami bahwa hal-hal yang dihias di dunia ini {(Catatan kaki): Ya, setiap hal memiliki banyak tujuan keberadaan dan banyak hasil kehidupan. Semua itu tidak terbatas pada tujuan yang tertuju pada dunia dan dirinya sendiri, sebagaimana disangka orang-orang sesat; maka tidak dapat menjadi sia-sia dan tanpa hikmah. Sebaliknya, tujuan keberadaan dan hasil kehidupan segala sesuatu terbagi menjadi tiga bagian: Yang pertama dan paling luhur tertuju pada Sang Pembuatnya, yakni memperlihatkan permata-permata Seni Penciptaan yang menakjubkan yang Dia pasangkan pada sesuatu itu di hadapan Sang Saksi Yang Azali, dalam suatu pawai. Hidup selama sesaat yang berlalu saja sudah cukup bagi Pandangan itu. Bahkan sebelum sesuatu itu terwujud, kemampuannya yang masih berupa potensi, yang bernilai sebagai niat, sudah cukup. Ciptaan-ciptaan yang cepat lenyap dan halus, serta biji dan benih yang masing-masing merupakan keajaiban Seni Penciptaan tetapi tidak terwujud, yakni tidak bertunas, memenuhi tujuan ini sepenuhnya. Mereka bukan tanpa manfaat dan tidak sia-sia. Jadi, tujuan pertama segala sesuatu ialah memaparkan mukjizat-mukjizat Kudrat dan karya-karya Seni Penciptaan Sang Pembuatnya melalui kehidupan serta keberadaannya, lalu memperlihatkannya di hadapan Sang Penguasa Dzul-Jalâl. Bagian kedua dari tujuan keberadaan dan hasil kehidupan tertuju pada makhluk berkesadaran. Yakni, segala sesuatu masing-masing merupakan surat dari Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang memperlihatkan kebenaran, syair yang memperlihatkan keindahan yang lembut, serta kata yang menyampaikan Hikmah. Sesuatu itu memperlihatkan dirinya kepada malaikat, jin, hewan, dan manusia serta mengajak mereka membacanya dengan saksama. Jadi, sesuatu itu merupakan tempat membaca dan mengambil pelajaran bagi setiap makhluk berkesadaran yang memandangnya. Bagian ketiga dari tujuan keberadaan dan hasil kehidupan tertuju pada sesuatu itu sendiri, berupa hasil-hasil juz'i seperti menikmati, memandang pemandangan, terus hidup, dan hidup dengan nyaman. Misalnya, tujuan seorang pelayan menjalankan kemudi pada kapal besar milik seorang penguasa: jika dilihat dari kapal itu, satu persen tertuju kepadanya dan upahnya yang kecil, sedangkan sembilan puluh sembilan persen tertuju kepada penguasa. Demikian pula, jika tujuan segala sesuatu yang tertuju pada dirinya dan dunia adalah satu, yang tertuju pada Sang Pembuatnya adalah sembilan puluh sembilan. Banyaknya tujuan inilah yang menjelaskan kesesuaian antara Hikmah dan Penghematan dengan Kemurahan dan Kedermawanan, khususnya Kedermawanan tanpa batas, yang tampak saling berlawanan dan bertentangan: Dari sudut pandang satu tujuan tertentu, Kemurahan dan Kedermawanan berkuasa; Nama Jawwâd bertajalli. Dari sudut pandang satu tujuan itu, buah-buahan dan biji-bijian tak terhitung serta menunjukkan Kemurahan tanpa batas. Namun, dari sudut pandang seluruh tujuan, Hikmah berkuasa; Nama Hakîm bertajalli. Sebanyak buah yang dimiliki sebatang pohon, bahkan sebanyak itu pula tujuan setiap buah, yang dapat dibagi ke dalam tiga bagian yang telah kita jelaskan. Seluruh tujuan ini menunjukkan Hikmah dan Penghematan tanpa batas. Hikmah tanpa batas yang tampak berlawanan itu berpadu dengan Kemurahan dan Kedermawanan tanpa batas. Misalnya, salah satu tujuan sebuah pasukan ialah menjaga keamanan. Untuk tujuan ini tersedia prajurit sebanyak yang engkau inginkan, bahkan sangat banyak. Namun, untuk tugas-tugas lain seperti menjaga perbatasan dan melawan musuh, jumlah yang ada ini hanya cukup dan berada dalam keseimbangan dengan hikmah yang sempurna. Jadi, hikmah pemerintah berpadu dengan keagungannya. Dalam hal itu, dapat dikatakan bahwa tidak ada jumlah yang berlebih dalam pasukan tersebut.} merupakan contoh dan gambaran nikmat-nikmat yang disimpan di surga bagi ahli iman melalui Rahmat Ar-Rahmân. Dasar Kelima: Engkau juga memahami bahwa ciptaan-ciptaan fana ini tidak diciptakan untuk musnah, tidak diciptakan untuk tampak sebentar lalu hilang. Sebaliknya, mereka berkumpul dalam keberadaan selama waktu yang singkat dan mengambil keadaan yang dikehendaki, agar bentuknya direkam, gambarnya disimpan, maknanya diketahui, dan hasilnya dicatat. Misalnya, agar pemandangan-pemandangan tetap ditenun bagi mereka yang hidup kekal selamanya. Agar mereka juga menjadi sarana bagi tujuan-tujuan lain dalam alam yang kekal. Dapat dipahami bahwa segala sesuatu diciptakan untuk terus ada, bukan untuk musnah; sekalipun secara lahir tampak musnah, hal itu merupakan selesainya tugas dan pembebasan dari tugas. Sebab, sesuatu yang fana lenyap dari satu segi, tetapi tetap ada dari banyak segi. Misalnya, lihatlah bunga ini, yang merupakan salah satu kata Kudrat. Dalam waktu singkat bunga itu tersenyum dan memandang kita, lalu segera tersembunyi di balik tirai fana. Namun, seperti kata yang keluar dari mulutmu, kata itu berlalu tetapi menitipkan ribuan gambarnya dalam telinga. Sebanyak akal yang mendengarnya, sebanyak itu pula maknanya tetap tinggal dalam akal. Sebab, setelah selesai menjalankan tugasnya untuk menyampaikan makna, bunga itu sendiri pergi. Namun, sebelum pergi, ia meninggalkan bentuk lahirnya dalam ingatan segala sesuatu yang melihatnya serta hakikat maknawi dirinya dalam setiap benihnya. Seakan-akan setiap ingatan dan setiap benih merupakan alat pemotret untuk menyimpan hiasannya serta tempat tinggal untuk melanjutkan keberadaannya. Jika ciptaan pada tingkat kehidupan yang paling sederhana saja demikian, dapat dipahami betapa eratnya manusia, yang berada pada lapisan kehidupan paling tinggi dan memiliki ruh yang kekal, berkaitan dengan hidup kekal. Pada tumbuhan-tumbuhan besar yang berbunga dan berbuah, hukum terbentuknya serta gambaran bentuk masing-masing, yang agak menyerupai ruh, dipertahankan dan disimpan dengan keteraturan sempurna dalam benih-benih yang seperti zarah, di tengah perubahan-perubahan yang bergolak. Melalui hal ini dapat dipahami betapa eratnya ruh manusia terikat dan berkaitan dengan hidup kekal: ruh itu memiliki hakikat yang sangat luas dan luhur, diberi wujud nyata, serta merupakan hukum Perintah Allah subhânahu yang berkesadaran dan bercahaya. Dasar Keenam: Engkau juga memahami bahwa manusia tidak dibiarkan sesuka hati dengan tali melilit lehernya untuk merumput di mana pun ia mau. Sebaliknya, gambaran seluruh amalnya direkam dan ditulis, serta hasil seluruh tindakannya dicatat untuk diperhitungkan. Dasar Ketujuh: Engkau juga memahami bahwa hancurnya makhluk-makhluk indah dari alam musim panas dan musim semi pada musim gugur bukanlah pemusnahan. Hal itu justru pembebasan dari tugas karena seluruh tugas mereka telah selesai. {(Catatan kaki): Ya, buah, bunga, dan daun di ujung serta pucuk dahan sebuah pohon, yang merupakan salah satu khazanah bekal Rahmat, menua dan harus pergi ketika tugasnya berakhir, agar pintu tidak tertutup bagi yang terus datang setelahnya. Jika tidak, luasnya Rahmat dan khidmah saudara-saudaranya yang lain akan terhalang. Mereka sendiri pun menjadi hina dan sengsara ketika masa mudanya hilang. Musim semi juga merupakan pohon berbuah yang memperlihatkan hasyr. Alam manusia pada setiap abad merupakan pohon yang memperlihatkan pelajaran. Bumi juga merupakan pohon Kudrat yang mengumpulkan keajaiban. Bahkan dunia merupakan pohon yang memperlihatkan hal-hal menakjubkan, yang buahnya dikirim ke pasar akhirat.} Hal itu juga merupakan pengosongan tempat bagi makhluk-makhluk yang akan datang pada musim semi baru, serta persiapan tempat bagi petugas-petugas baru yang akan datang dan singgah, bagi makhluk-makhluk yang memiliki tugas. Hal itu juga merupakan Peringatan dari Allah subhânahu Yang Mahasuci kepada makhluk berkesadaran, untuk membangunkannya dari kelalaian yang membuatnya melupakan tugas serta kemabukan yang membuatnya melupakan syukur.Dasar Kedelapan: Engkau juga memahami bahwa Sang Pembuat Yang Mahakekal dari alam fana ini memiliki alam lain yang kekal. Dia mengarahkan hamba-hamba-Nya ke sana serta mendorong mereka menuju alam itu. Dasar Kesembilan: Engkau juga memahami bahwa Ar-Rahmân Yang demikian akan memuliakan hamba-hamba-Nya yang istimewa dalam alam seperti itu sedemikian rupa: belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Kami beriman...
HAKIKAT KETUJUH
Pintu Penyimpanan dan Penjagaan, tempat Nama Hafîz dan Raqîb tampak.
Mungkinkah Penjagaan yang menyimpan segala sesuatu di langit, di bumi, di darat, dan di laut, yang basah dan kering, kecil dan besar, biasa dan luhur, dalam keteraturan serta dengan timbangan yang sempurna, lalu menyaring hasil-hasilnya dalam suatu perhitungan, tidak menyimpan amal dan tindakan manusia yang bersentuhan dengan Rububiyah yang menyeluruh, tidak melewatkannya melalui saringan perhitungan, tidak menimbangnya dalam timbangan Keadilan, serta tidak memberi hukuman dan pahala yang layak, padahal manusia memiliki fitrah yang besar, kedudukan khalifah yang agung, serta tugas besar berupa amanah terbesar? Tidak, sama sekali tidak! Ya, Zat yang mengatur alam ini menyimpan segala sesuatu dalam keteraturan dan dengan timbangan. Keteraturan dan timbangan memperlihatkan Ilmu dan Hikmah, Kehendak dan Kudrat. Sebab, kita melihat bahwa setiap ciptaan diciptakan dengan sangat teratur dan seimbang dalam keberadaannya. Bentuk-bentuk yang berganti selama masa hidupnya juga masing-masing teratur, sementara keseluruhannya berada di bawah suatu keteraturan. Kita melihat bahwa segala sesuatu yang umurnya diakhiri setelah tugasnya selesai dan yang berpindah dari alam yang terlihat ini, banyak bentuknya disimpan oleh Sang Hafîz Dzul-Jalâl dalam ingatan-ingatan serta cermin-cermin gambaran yang berfungsi sebagai lembaran-lembaran terjaga {(Catatan kaki): Lihat catatan kaki Gambaran Ketujuh.}. Dia mengukir dan menulis sebagian besar riwayat hidupnya dalam biji serta hasilnya. Dia membuatnya tetap ada dalam cermin-cermin lahir dan batin. Misalnya, ingatan manusia, buah pohon, biji buah, dan benih bunga menunjukkan besarnya cakupan hukum Penjagaan. Tidakkah engkau melihat bahwa seluruh makhluk berbunga dan berbuah pada musim semi yang besar, beserta seluruh catatan amal menurut keadaan masing-masing, hukum terbentuknya, serta gambaran bentuknya, disimpan dengan ditulis dalam sejumlah benih kecil yang terbatas? Pada musim semi berikutnya, catatan amal mereka dibentangkan dalam suatu perhitungan berdasarkan benih-benih itu. Dengan mewujudkan alam musim semi besar yang lain dengan keteraturan dan Hikmah Sempurna, Dia menunjukkan betapa kuatnya cakupan Penjagaan yang berlangsung. Jika hal-hal yang sementara, biasa, tidak kekal, dan tidak penting disimpan seperti ini, mungkinkah amal manusia, yang menghasilkan buah penting dalam Rububiyah menyeluruh di alam gaib, alam akhirat, dan alam ruh, tidak dicatat dengan penuh perhatian melalui penyimpanan dan penjagaan? Tidak, sama sekali tidak!Ya, dari Tajalli Penjagaan dalam bentuk ini dapat dipahami bahwa Sang Mâlik dari segala yang ada ini sangat memperhatikan pencatatan segala yang berlangsung dalam milik-Nya. Dia juga sangat teliti dalam tugas Pemerintahan-Nya serta sangat memperhatikan Kekuasaan Rububiyah-Nya. Begitu besar Perhatian-Nya, sehingga kejadian paling kecil dan khidmah paling kecil pun Dia tulis dan Dia perintahkan untuk ditulis. Dia menyimpan gambaran segala yang berlangsung dalam milik-Nya di berbagai hal. Penjagaan ini menunjukkan bahwa suatu buku penting untuk memperhitungkan amal akan dibuka. Khususnya, amal-amal besar dan tindakan-tindakan penting manusia, yang menurut hakikat dirinya merupakan makhluk paling agung, paling dimuliakan, dan paling diberi kehormatan, akan dihadapkan pada perhitungan serta timbangan yang penting. Catatan amalnya akan dibentangkan. Mungkinkah manusia dimuliakan dengan kedudukan khalifah dan amanah, menjadi saksi atas Syuun (urusan) Rububiyah yang menyeluruh, mengumumkan Keesaan Allah subhânahu sebagai penyeru di tengah berbagai lingkup kemajemukan, serta ikut dalam tasbih dan ibadah sebagian besar makhluk hingga mencapai kedudukan pengawas dan saksi, lalu pergi ke kubur, berbaring dengan nyaman, dan tidak dibangunkan? Mungkinkah ia tidak ditanya tentang setiap amalnya, kecil dan besar? Mungkinkah ia tidak pergi ke tempat hasyr dan tidak melihat pengadilan terbesar? Tidak, sama sekali tidak! Selain itu, segala kemungkinan pada seluruh masa depan {(Catatan kaki): Ya, masa lampau, dari saat ini hingga awal penciptaan alam, seluruhnya merupakan peristiwa yang telah terjadi. Setiap hari, tahun, dan abadnya yang telah terwujud masing-masing merupakan satu baris, satu halaman, dan satu buku yang digambar dengan Pena Takdir. Tangan Kudrat telah menulis tanda-tanda mukjizat-Nya di dalamnya dengan Hikmah dan keteraturan sempurna. Masa depan, dari saat ini hingga kiamat, hingga surga, hingga masa yang kekal selamanya, seluruhnya merupakan kemungkinan. Jadi, masa lampau adalah peristiwa yang telah terjadi; masa depan adalah kemungkinan. Jika dua rangkaian dari kedua masa itu dihadapkan satu sama lain, tidak ada sedikit pun syubhat bahwa Zat yang menciptakan hari kemarin dan segala yang khusus ada pada hari itu mampu menciptakan hari esok beserta segala yang ada padanya. Demikian pula, tidak ada syubhat bahwa makhluk dan keajaiban masa lampau, yang merupakan suatu tempat hal-hal menakjubkan, adalah mukjizat Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Semuanya bersaksi secara pasti bahwa Sang Qadîr itu mampu menciptakan seluruh kemungkinan pada seluruh masa depan serta memperlihatkan seluruh keajaibannya. Ya, untuk menciptakan sebuah apel, tentu harus mampu menciptakan seluruh apel di dunia serta mewujudkan musim semi yang besar. Yang tidak menciptakan musim semi tidak dapat menciptakan sebuah apel. Sebab, apel itu ditenun pada alat tenun tersebut. Yang menciptakan sebuah apel dapat menciptakan satu musim semi. Sebuah apel merupakan contoh kecil sebuah pohon, bahkan sebuah kebun, bahkan sebuah alam semesta. Dari segi seni penciptaan, melalui bijinya yang memuat seluruh riwayat hidup pohon besar, apel itu merupakan keajaiban seni penciptaan sedemikian rupa, sehingga Yang menciptakannya seperti itu tidak akan tak berdaya menghadapi sesuatu apa pun. Demikian pula, Yang menciptakan hari ini dapat menciptakan hari kiamat, dan Yang akan mewujudkan musim semi hanya dapat berupa Zat yang mampu mewujudkan hasyr. Yang memasang dan memperlihatkan seluruh alam masa lampau pada pita waktu dengan Hikmah dan keteraturan sempurna tentu dapat, dan akan, memasang serta memperlihatkan alam lain pada pita masa depan. Dalam beberapa Kalimat, khususnya Kalimat Kedua Puluh Dua, kami telah membuktikan dengan sangat pasti bahwa yang tidak dapat membuat segala sesuatu tidak dapat membuat sesuatu apa pun, dan Yang menciptakan satu hal dapat membuat segala sesuatu. Jika penciptaan segala sesuatu diserahkan kepada satu Zat, seluruhnya menjadi semudah satu hal dan timbul kemudahan. Jika diserahkan kepada berbagai sebab serta disandarkan pada kemajemukan, penciptaan satu hal menjadi sesulit penciptaan segala sesuatu dan timbul kesulitan hingga tingkat mustahil.} dapat Dia wujudkan, sebagaimana disaksikan oleh seluruh peristiwa masa lampau yang merupakan mukjizat Kudrat-Nya. Dari Sang Qadîr Dzul-Jalâl, yang setiap saat terlihat menciptakan musim dingin dan musim semi yang sangat menyerupai kiamat dan hasyr, bagaimana manusia dapat lenyap sama sekali untuk melarikan diri, masuk ke dalam tanah, dan bersembunyi? Karena di dunia ini perhitungannya yang layak belum dilakukan dan putusannya belum diberikan, tentu ia akan menuju suatu pengadilan terbesar dan kebahagiaan terbesar.