Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kalimat Kedua Puluh Enam

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kalimat Kedua Puluh Enam

Kader Risalesi (Risalah Takdir)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻨَﺰِّﻟُﻪُٓ اِلَّا ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡٍ ٭ ﻭَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺍَﺣْﺼَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻓ۪ٓﻰ ﺍِﻣَﺎﻡٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ Takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i adalah dua persoalan penting. Kami akan berusaha membuka beberapa rahasianya dalam empat pembahasan.

PEMBAHASAN PERTAMA

Takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i merupakan bagian-bagian iman yang dialami dalam keadaan diri dan nurani, yang menunjukkan batas terakhir Islam dan iman. Keduanya bukan perkara ilmu dan teori. Yakni, ketika seorang mukmin terus menyerahkan segala sesuatu, bahkan perbuatan dan nafsunya, kepada Allah subhânahu, pada akhirnya "kehendak bebas manusia yang juz'i" tampil di hadapannya agar ia tidak bebas dari tugas dan tanggung jawab. Ia berkata kepadanya, "Engkau bertanggung jawab dan memikul kewajiban." Kemudian, agar ia tidak menjadi sombong dengan kebaikan dan kesempurnaan yang muncul melalui dirinya, "takdir" tampil di hadapannya. Ia berkata, "Ketahuilah batasmu; Yang mengerjakan bukan engkau." Ya, takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i masuk ke dalam persoalan-persoalan iman agar, pada tingkatan terakhir iman dan Islam, takdir menyelamatkan nafsu dari kesombongan, dan kehendak bebas manusia yang juz'i menyelamatkannya dari anggapan tidak bertanggung jawab. Keduanya bukan persoalan ilmu untuk dijadikan pegangan oleh nafsu-nafsu ammarah yang membangkang, dengan berpegang pada takdir agar bebas dari tanggung jawab atas keburukan yang mereka kerjakan, dan bersandar pada kehendak bebas manusia yang juz'i untuk berbangga serta menyombongkan diri dengan kebaikan yang dianugerahkan kepada mereka; tindakan itu sepenuhnya bertentangan dengan rahasia takdir dan hikmah kehendak bebas manusia yang juz'i. Ya, di kalangan orang awam yang belum maju secara rohani, ada tempat untuk menggunakan takdir. Namun, tempat itu ialah hal-hal yang telah berlalu dan musibah, sebagai obat bagi putus asa dan kesedihan. Penggunaannya bukan dalam maksiat dan masa depan, agar tidak menjadi sebab hidup mengumbar hawa nafsu dan bermalas-malasan. Jadi, persoalan takdir masuk ke dalam iman bukan untuk membebaskan dari tugas dan tanggung jawab, melainkan untuk menyelamatkan dari kebanggaan diri dan kesombongan. Kehendak bebas manusia yang juz'i masuk ke dalam akidah agar manusia mengakui dirinya sebagai asal keburukan. Bukan untuk bersikap seperti Firaun dengan menganggap diri sebagai sumber kebaikan. Ya, sebagaimana dikatakan Al-Qur'an, manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas keburukannya. Sebab dialah yang menghendaki keburukan itu. Karena keburukan termasuk jenis perusakan, dengan satu keburukan manusia dapat menimbulkan banyak kerusakan. Ia layak mendapat hukuman yang mengerikan. Seperti membakar sebuah rumah dengan sebatang korek api. Namun, ia tidak berhak berbangga atas kebaikan. Bagiannya dalam kebaikan itu sangat sedikit. Sebab yang menghendaki dan menuntut kebaikan ialah Rahmat Ilahi, dan yang menciptakannya ialah Kudrat Rabb. Permintaan dan jawaban, dorongan dan sebab, keduanya berasal dari Al-Haqq. Manusia hanya dapat memiliki kebaikan-kebaikan itu melalui doa, iman, kesadaran, dan kerelaan. Namun, yang menghendaki keburukan ialah nafsu manusia, baik melalui kesiapan fitrahnya maupun melalui pilihannya.Seperti halnya sebagian zat mengambil warna hitam dan bau busuk dari cahaya matahari yang putih dan indah. Warna hitam itu berasal dari kesiapan zat tersebut. Namun, Yang menciptakan keburukan-keburukan itu melalui suatu Hukum Ilahi yang mengandung banyak manfaat tetap Al-Haqq. Jadi, sebab dan permintaan berasal dari nafsu, sehingga nafsulah yang memikul tanggung jawabnya. Adapun Penciptaan dan Pengadaan yang berasal dari Al-Haqq adalah indah dan baik, sebab memiliki hasil serta buah lain yang indah. Karena rahasia inilah: mengusahakan keburukan adalah buruk; menciptakan keburukan bukanlah buruk. Seperti seorang pemalas yang terkena kerugian akibat hujan yang mengandung begitu banyak manfaat, tidak dapat berkata, "Hujan bukan rahmat." Ya, dalam Penciptaan dan Pengadaan, bersama suatu keburukan yang juz'i terdapat banyak kebaikan. Meninggalkan banyak kebaikan demi menghindari suatu keburukan yang juz'i akan menjadi keburukan yang besar. Karena itu, keburukan yang juz'i tersebut beralih menjadi sesuatu yang dinilai baik. Tidak ada keburukan dan kejelekan dalam Penciptaan Ilahi. Sebaliknya, keburukan dan kejelekan itu berasal dari usaha dan kesiapan hamba. Sebagaimana Takdir Ilahi suci dari keburukan dan kejelekan dari segi hasil serta buahnya, begitu pula ia suci dari kezaliman dan kejelekan dari segi alasan dan sebabnya. Sebab Takdir memandang alasan-alasan yang sebenarnya dan berlaku adil. Manusia mendasarkan putusannya pada alasan-alasan yang dilihat secara lahiriah, lalu jatuh ke dalam kezaliman di tempat Takdir berlaku sepenuhnya adil. Misalnya, hakim menjatuhkan hukuman dan memenjarakanmu karena mencuri. Padahal engkau bukan pencuri. Akan tetapi, engkau telah melakukan pembunuhan tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun. Takdir Ilahi juga menjatuhkan hukuman penjara itu kepadamu. Namun, Takdir menghukummu karena pembunuhan tersembunyi tersebut dan berlaku adil. Sedangkan hakim berlaku zalim karena menghukummu atas pencurian yang tidak engkau lakukan. Sebagaimana Keadilan Takdir dan Penciptaan Ilahi serta kezaliman usaha manusia tampak dalam satu hal dari dua segi, bandingkanlah hal-hal lain dengan ini. Jadi, Takdir dan Penciptaan Ilahi suci dari keburukan, kejelekan, serta kezaliman dari segi awal dan akhir, pokok dan cabang, alasan dan hasil. ~Jika dikatakan:

Karena kehendak bebas manusia yang juz'i tidak memiliki kemampuan menciptakan, dan manusia tidak memiliki apa pun selain usaha yang hanya bersifat nisbi, bagaimana dalam Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat manusia ditempatkan sebagai pembangkang dan musuh terhadap Sang Khâliq langit dan bumi; Sang Khâliq bumi dan langit mengeluh dengan amat keras terhadapnya; Dia mengerahkan Diri-Nya dan para malaikat-Nya untuk menolong hamba yang beriman menghadapi manusia yang membangkang itu; dan Dia memberikan arti penting yang amat besar kepadanya? ~Jawaban:

Sebab kekufuran, pembangkangan, dan keburukan adalah perusakan dan meniadakan. Padahal kerusakan besar dan lenyapnya begitu banyak hal dapat timbul dari satu perkara yang bersifat nisbi dan berupa tidak berbuat. Seperti halnya, karena juru mudi sebuah kapal besar tidak melaksanakan tugasnya, kapal itu tenggelam dan hasil jerih payah seluruh awaknya menjadi sia-sia. Semua kerusakan itu timbul dari satu perbuatan yang tidak dilakukan. Begitu pula, karena kekufuran dan maksiat termasuk jenis meniadakan dan merusak, kehendak bebas manusia yang juz'i dapat menggerakkannya melalui suatu perkara yang bersifat nisbi dan menyebabkan hasil yang mengerikan. Sebab sekalipun kekufuran merupakan satu keburukan, ia merendahkan seluruh alam dengan menganggapnya tidak bernilai dan sia-sia, mendustakan seluruh wujud yang menunjukkan bukti-bukti Keesaan Allah subhânahu, serta meremehkan seluruh Tajalli Asma; maka keluhan keras dan ancaman mengerikan Allah subhânahu terhadap orang kafir atas nama seluruh alam, seluruh wujud, dan Asma Ilahi sepenuhnya merupakan Hikmah, dan pemberian azab abadi sepenuhnya merupakan Keadilan. Karena manusia menuju perusakan melalui kekufuran dan pembangkangan, dengan sedikit khidmah ia dapat melakukan banyak hal. Karena itulah ahli iman membutuhkan Perhatian Allah subhânahu yang amat besar untuk menghadapi mereka. Sebab, sebagaimana sepuluh orang kuat yang bertanggung jawab memelihara dan memperbaiki sebuah rumah terpaksa menghadap dan memohon kepada wali anak nakal yang berusaha membakar rumah itu, bahkan kepada rajanya, begitu pula para mukmin membutuhkan banyak Pertolongan Allah subhânahu untuk dapat bertahan menghadapi orang-orang yang membangkang dan tidak tahu adab seperti itu. ~Kesimpulannya:

Jika orang yang membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i senantiasa menyadari Kehadiran Allah subhânahu dan memiliki iman yang sempurna, ia menyerahkan alam dan nafsunya kepada Allah subhânahu serta mengetahui bahwa semuanya berada dalam Tasarruf-Nya. Saat itu ia berhak membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i. Sebab, karena ia mengetahui bahwa nafsunya dan segala sesuatu berasal dari Allah subhânahu, saat itu ia memikul tanggung jawab dengan bersandar pada kehendak bebas manusia yang juz'i. Ia mengakui dirinya sebagai asal keburukan dan menyucikan Rabb-nya. Ia tetap berada dalam lingkup ubudiyah dan memikul kewajiban Ilahi. Ia juga memandang takdir agar tidak menjadi sombong dengan kesempurnaan dan kebaikan yang muncul melalui dirinya, lalu bersyukur sebagai ganti berbangga diri. Ia melihat takdir dalam musibah yang menimpanya dan bersabar. Jika orang yang membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i termasuk orang yang lalai, saat itu ia tidak berhak membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia yang juz'i. Sebab, terdorong oleh kelalaian atau kesesatan, nafsu ammarahnya menyerahkan alam kepada sebab-sebab, membagi-bagikan milik Allah subhânahu kepada mereka, dan menjadikan dirinya miliknya sendiri. Ia menganggap perbuatannya berasal dari dirinya dan sebab-sebab. Ia menyerahkan tanggung jawab dan kesalahan kepada takdir. Saat itu, membicarakan kehendak bebas manusia yang juz'i yang pada akhirnya harus diserahkan kepada Allah subhânahu, serta takdir yang baru menjadi perhatian pada tahap terakhir, tidak memiliki makna. Hal itu hanyalah tipu daya nafsu untuk bebas dari tanggung jawab, yang sepenuhnya bertentangan dengan hikmah keduanya.

PEMBAHASAN KEDUA

Ini adalah penelitian ilmiah yang halus, khusus bagi para ahli ilmu {(Catatan kaki): Pembahasan Kedua ini merupakan salah satu persoalan rahasia takdir yang paling dalam dan paling sulit. Bagi seluruh ulama yang meneliti hakikat, ia merupakan persoalan akidah dalam ilmu kalam yang amat penting dan diperdebatkan. Risale-i Nur telah menyelesaikannya sepenuhnya.} ~Jika engkau berkata:

"Bagaimana takdir dapat dipadukan dengan kehendak bebas manusia yang juz'i?" ~Jawaban:

Dari tujuh segi... Pertama: Tentu Sang 'Âdil Yang Hakîm, yang Hikmah dan Keadilan-Nya disaksikan oleh alam melalui bahasa keteraturan dan timbangan, telah memberi manusia suatu kehendak bebas yang juz'i, yang hakikatnya tidak diketahui, untuk menjadi dasar pahala dan hukuman. Sebagaimana kita tidak mengetahui banyak Hikmah Sang 'Âdil Yang Hakîm itu, ketidaktahuan kita tentang bagaimana kehendak bebas manusia yang juz'i ini dipadukan dengan takdir tidak menunjukkan bahwa perpaduan itu tidak ada. Kedua: Setiap orang pasti merasakan suatu pilihan dalam dirinya. Ia mengetahui adanya pilihan itu melalui nurani. Mengetahui hakikat sesuatu berbeda dengan mengetahui bahwa sesuatu itu ada. Banyak hal yang jelas bagi kita bahwa ia ada, tetapi hakikatnya tidak kita ketahui. Kehendak bebas manusia yang juz'i ini dapat termasuk di antaranya. Segala sesuatu tidak terbatas pada apa yang kita ketahui. Tidak tahunya kita tidak menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Ketiga: Kehendak bebas manusia yang juz'i tidak bertentangan dengan takdir. Bahkan, takdir meneguhkan pilihan. Sebab takdir merupakan suatu jenis Ilmu Ilahi. Ilmu Ilahi berkaitan dengan pilihan kita. Maka Ilmu itu meneguhkan pilihan, tidak membatalkannya. Keempat: Takdir termasuk jenis Ilmu. Ilmu mengikuti apa yang diketahui. Yakni, Ilmu berkaitan dengannya sebagaimana hal itu akan terjadi. Apa yang diketahui tidak mengikuti Ilmu. Yakni, kaidah-kaidah Ilmu bukan dasar untuk mengatur apa yang diketahui dari segi wujudnya di luar pikiran. Sebab zat dan wujud di luar pikiran dari sesuatu yang diketahui itu menghadap kepada Kehendak dan bersandar pada Kudrat. Azali juga bukan satu ujung rantai masa lalu yang dapat dijadikan dasar adanya segala sesuatu, lalu dibayangkan suatu keterpaksaan berdasarkan hal itu. Azali justru laksana cermin yang memandang dari atas dan mencakup masa lalu, masa kini, serta masa depan sekaligus. Maka membayangkan suatu ujung di sisi masa lalu dari waktu yang memanjang dalam lingkup segala yang mungkin ada, menyebutnya azali, menganggap segala sesuatu masuk secara berurutan ke dalam Ilmu Azali itu, dan membayangkan dirinya berada di luarnya, lalu menilai berdasarkan hal tersebut, bukanlah hakikat. Untuk menyingkap rahasia ini, lihatlah contoh berikut: Andaikan ada cermin di tanganmu, jarak di sebelah kananmu dianggap sebagai masa lalu, dan jarak di sebelah kirimu sebagai masa depan, cermin itu hanya menangkap apa yang ada di hadapannya. Kemudian ia menangkap kedua sisi itu secara berurutan, tetapi tidak dapat menangkap sebagian besarnya. Semakin rendah cermin itu, semakin sedikit yang dilihatnya. Namun, semakin tinggi engkau naik bersama cermin itu, semakin luas wilayah yang berhadapan dengannya.Lambat laun, cermin itu menangkap seluruh jarak di kedua sisi sekaligus, pada satu saat. Maka, dalam pantulan cermin pada kedudukan ini, keadaan-keadaan yang berlangsung pada jarak-jarak tersebut tidak dapat disebut saling mendahului, mengikuti, bersesuaian, atau bertentangan. Karena takdir berasal dari Ilmu Azali, Ilmu Azali, dengan ungkapan hadis, "berada pada Kedudukan Tertinggi yang memandang dari Tempat Pandang Tertinggi, menangkap dan meliputi segala sesuatu dari azali hingga selama-lamanya, yang telah terjadi dan yang akan terjadi, sekaligus." Kita dan penilaian-penilaian kita tidak dapat berada di luar Ilmu itu sehingga Ilmu tersebut menjadi seperti cermin di kejauhan masa lalu. Kelima: Takdir berkaitan dengan sebab dan akibat bersama-sama. Yakni, akibat ini akan terjadi melalui sebab ini. Maka jangan dikatakan, "Karena kematian orang tertentu pada waktu tertentu telah ditakdirkan, apa kesalahan orang yang menembakkan senapan dengan kehendak bebasnya yang juz'i? Sekalipun ia tidak menembak, orang itu tetap akan mati." Pertanyaan:

Mengapa tidak boleh dikatakan demikian? Jawaban:

Sebab takdir telah menetapkan kematiannya melalui senapan orang itu. Jika engkau mengandaikan ia tidak menembakkan senapan, saat itu engkau mengandaikan takdir tidak berkaitan dengan kejadian tersebut. Lalu atas dasar apa engkau menetapkan bahwa ia akan mati? Jika engkau membayangkan takdir bagi sebab secara terpisah dan bagi akibat secara terpisah seperti kaum Jabariyah, atau mengingkari takdir seperti Muktazilah, engkau meninggalkan Ahlusunah waljamaah dan masuk ke dalam golongan yang sesat. Maka kami, orang-orang yang berpegang pada haq, berkata, "Jika ia tidak menembak, apakah orang itu akan mati tidak kita ketahui." Kaum Jabariyah berkata, "Jika ia tidak menembak, orang itu tetap akan mati." Muktazilah berkata, "Jika ia tidak menembak, orang itu tidak akan mati." Keenam: {(Catatan kaki): Ini adalah suatu hakikat khusus bagi para ulama yang sangat teliti.} Kecenderungan, yang menjadi dasar pokok kehendak bebas manusia yang juz'i, menurut Maturidi merupakan perkara yang bersifat nisbi dan dapat dinisbatkan kepada hamba. Namun, karena Asy'ari memandangnya sebagai sesuatu yang berwujud, ia tidak menisbatkannya kepada hamba. Akan tetapi, menurut Asy'ari, bertindak atas kecenderungan tersebut merupakan perkara yang bersifat nisbi. Maka kecenderungan itu dan tindakan atasnya merupakan perkara nisbi. Keduanya tidak memiliki wujud yang pasti di luar pikiran. Perkara yang bersifat nisbi tidak memerlukan sebab lengkap yang menuntut perkara itu ada secara pasti, harus, dan niscaya hingga meniadakan pilihan. Bahkan, jika sebab perkara nisbi itu mencapai keadaan yang hanya membuat salah satu pilihan lebih diutamakan, perkara tersebut dapat ditetapkan. Maka pada saat itu ia masih dapat meninggalkannya. Pada saat itu Al-Qur'an dapat berkata kepadanya, "Ini buruk, jangan lakukan." Ya, jika hamba menjadi khâliq perbuatannya dan memiliki kemampuan menciptakan, saat itu pilihannya akan hilang. Sebab dalam ilmu usul dan hikmah, menurut kaidah ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺐْ ﻟَﻢْ ﻳُﻮﺟَﺪْ, telah ditetapkan bahwa, "Sesuatu tidak akan ada jika keberadaannya tidak menjadi niscaya." Yakni, sebab lengkap harus ada, barulah sesuatu itu dapat ada. Sedangkan sebab lengkap menuntut akibatnya secara pasti dan niscaya. Saat itu pilihan tidak tersisa. Jika engkau berkata:

Memilih tanpa sesuatu yang mengunggulkan salah satu pilihan adalah mustahil. Padahal usaha manusia yang kita sebut perkara nisbi itu kadang berupa berbuat dan kadang tidak berbuat; jika tidak ada sesuatu yang mengunggulkan dan mengharuskan pilihan itu, berarti ada pilihan tanpa pengunggul. Bukankah ini meruntuhkan salah satu dasar terpenting ilmu kalam? Jawaban:

Salah satu pilihan menjadi lebih unggul tanpa sesuatu yang mengunggulkannya adalah mustahil. {(Catatan kaki): Menjadi lebih unggul berbeda dengan memilih; terdapat perbedaan yang sangat besar.} Yakni, keunggulan tanpa pengunggul dan tanpa sebab adalah mustahil. Namun, memilih tanpa sesuatu yang mengunggulkan pilihan itu dapat dibenarkan dan memang terjadi. Kehendak adalah suatu sifat; tugasnya memang melakukan hal seperti itu. Jika engkau berkata:

Karena Yang menciptakan pembunuhan adalah Al-Haqq, mengapa aku disebut pembunuh? Jawaban:

Sebab, menurut kaidah ilmu saraf, kata yang menyebut pelaku diturunkan dari masdar, yang merupakan perkara nisbi. Ia tidak diturunkan dari hasil masdar, yang merupakan sesuatu yang tetap. Masdar adalah usaha kita, sehingga kita pula yang mendapat sebutan pembunuh. Hasil masdar adalah ciptaan Al-Haqq. Sesuatu yang mengandung arti tanggung jawab tidak diturunkan dari hasil masdar. Ketujuh: Sekalipun kehendak manusia yang juz'i dan kehendak bebasnya yang juz'i lemah serta merupakan perkara nisbi, Allah subhânahu, Sang Hakîm Mutlak, telah menjadikan kehendak yang juz'i dan lemah itu sebagai syarat menurut kebiasaan bagi berlakunya Kehendak-Nya yang menyeluruh. Yakni, melalui maknanya Dia berkata, "Wahai hamba-Ku! Jalan mana pun yang engkau inginkan dengan pilihanmu, Aku akan membawamu di jalan itu. Maka tanggung jawab ada padamu!" Tanpa menyalahartikan perumpamaan: jika engkau menggendong seorang anak yang tidak berdaya di bahumu, membiarkannya memilih, dan berkata, "Ke mana pun engkau inginkan, aku akan membawamu ke sana," lalu anak itu memilih gunung yang tinggi dan engkau membawanya ke sana, kemudian anak itu kedinginan atau jatuh, tentu engkau akan menegurnya dengan berkata, "Engkau yang menginginkannya!" dan menamparnya di bahumu. Maka Allah subhânahu, Sang Ahkamul-Hâkimîn, menjadikan kehendak hamba yang amat lemah sebagai syarat menurut kebiasaan, dan Kehendak-Nya yang menyeluruh memandang syarat itu. ~Kesimpulannya:

Wahai manusia! Engkau memiliki kehendak bernama kehendak bebas manusia yang juz'i, yang amat lemah, tetapi tangannya dapat menjangkau sangat jauh dalam keburukan dan perusakan, tetapi sangat pendek dalam kebaikan. Letakkan doa di salah satu tangan kehendak itu agar tangannya dapat mencapai surga, buah dari rantai kebaikan, dan terulur kepada kebahagiaan abadi, salah satu bunganya. Letakkan istigfar di tangannya yang lain agar tangannya memendek dari keburukan dan tidak mencapai zakum neraka, salah satu buah pohon terkutuk itu. Jadi, sebagaimana doa dan tawakal memberi kekuatan besar pada kecenderungan kepada kebaikan, istigfar dan tobat juga memutus kecenderungan kepada keburukan serta mematahkan pelanggarannya.

PEMBAHASAN KETIGA

Iman kepada takdir termasuk rukun iman. Yakni, "Segala sesuatu berdasarkan Ketentuan Allah subhânahu." Bukti-bukti pasti atas takdir begitu banyak sehingga tidak berbatas dan tidak terhitung. Dengan satu pendahuluan, kami akan menunjukkan secara sederhana dan jelas betapa kuat dan luasnya rukun iman ini. Pendahuluan: Banyak ayat Al-Qur'an, seperti وَلَا ﺭَﻃْﺐٍ وَلَا ﻳَﺎﺑِﺲٍ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ, menyatakan secara terang bahwa segala sesuatu ditulis sebelum ada dan sesudah ada; ayat-ayat Al-Qur'an besar Kudrat yang disebut alam ini juga membenarkan ketetapan Al-Qur'an tersebut melalui ayat-ayat penciptaannya, seperti tatanan, timbangan, keteraturan, pemberian bentuk, hiasan, dan ciri yang membedakan. Ya, surat-surat yang tersusun teratur dan ayat-ayat yang terukur dalam kitab alam ini bersaksi bahwa segala sesuatu telah tertulis. Adapun bukti bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan dan ditulis sebelum ada ialah semua awal, benih, ukuran, dan bentuk yang masing-masing menjadi saksi. Sebab setiap biji dan benih merupakan kotak kecil yang halus, yang keluar dari alat kerja "kaf-nun" dan menyimpan sebuah daftar kecil yang dilukiskan oleh takdir; Kudrat mempergunakan zarah-zarah menurut rancangan takdir itu dan membangun mukjizat-mukjizat Kudrat yang besar di atas biji-biji kecil tersebut. Jadi, seluruh pohon beserta segala kejadian yang akan dialaminya seakan telah tertulis dalam benihnya. Sebab secara materi, biji-biji itu sederhana, sama satu dengan lainnya, dan tidak memiliki sesuatu secara materi. Ukuran teratur segala sesuatu juga menunjukkan takdir dengan jelas. Ya, makhluk hidup mana pun yang dilihat memiliki ukuran dan bentuk seolah keluar dari cetakan yang penuh hikmah dan seni; untuk memperoleh ukuran, rupa, dan bentuk itu, harus ada cetakan materi yang luar biasa dengan lekukan dan belokan yang amat rumit, atau Kudrat Azali membentuk dan mengenakan rupa serta bentuk tersebut menurut cetakan maknawi yang terukur dalam Ilmu, yang berasal dari takdir. Misalnya, lihatlah dengan teliti pohon dan binatang ini: zarah-zarah yang tidak bernyawa, tuli, buta, tidak berkesadaran, dan sama satu dengan lainnya bergerak dalam pertumbuhannya. Pada batas-batas tertentu yang berlekuk dan berbelok, zarah-zarah itu berhenti, seolah mengenali, melihat, dan mengetahui tempat buah serta manfaat. Kemudian di tempat lain, mereka mengubah jalan seolah mengejar tujuan yang besar.Jadi, zarah-zarah bergerak menurut ukuran maknawi yang berasal dari takdir dan perintah maknawi ukuran itu. Karena Tajalli takdir hadir sebesar ini pada benda-benda materi yang dapat dilihat, tentu bentuk-bentuk yang dikenakan segala sesuatu seiring berjalannya waktu dan keadaan-keadaan yang dihasilkan oleh gerakannya juga mengikuti keteraturan takdir. Ya, dalam satu benih terdapat dua Tajalli takdir: yang satu nyata, memberitakan dan menunjuk kepada "Kitab Mubin", sebutan bagi Kehendak dan Perintah-Perintah penciptaan; yang lain dipahami melalui penalaran, memberitakan dan mengisyaratkan "Imam Mubin", suatu sebutan bagi Perintah dan Ilmu Ilahi: Takdir yang nyata ialah sifat-sifat materi, keadaan, dan susunan pohon yang terkandung dalam benih itu, yang kelak akan terlihat oleh mata. Adapun takdir yang dipahami melalui penalaran ialah tahap-tahap, keadaan, bentuk, gerakan, serta tasbih yang akan dilalui sepanjang hidup oleh pohon yang diciptakan dari benih tersebut; tahap-tahap, keadaan, bentuk, dan perbuatan yang berubah dari waktu ke waktu dan disebut riwayat hidup itu masing-masing memiliki ukuran takdir yang teratur, seperti dahan dan daun pohon tersebut. Karena Tajalli takdir semacam ini hadir pada benda yang paling biasa dan sederhana, tentu hal itu menyatakan bahwa semua benda telah tertulis sebelum ada, dan dapat dipahami dengan sedikit perhatian. Adapun bukti bahwa perjalanan hidup segala sesuatu ditulis setelah ada ialah seluruh buah di alam yang memberitakan "Kitab Mubin" dan "Imam Mubin", serta seluruh daya ingat manusia yang memberitakan dan menunjuk kepada "Lauh Mahfuz"; masing-masing merupakan saksi dan tanda. Ya, dalam setiap buah, ketentuan hidup seluruh pohon ditulis pada benihnya yang laksana jantung pohon itu. Perjalanan hidup manusia beserta sebagian kejadian masa lalu di alam ditulis dalam daya ingatnya sedemikian rupa, seolah Tangan Kudrat, dengan Pena Takdir, menyalin sebuah dokumen kecil dari lembaran amal manusia pada daya kecil sebesar biji sesawi itu, memberikannya ke tangan manusia, dan memasukkannya ke dalam saku otaknya. Agar Dia mengingatkannya dengan dokumen itu pada saat perhitungan. Juga agar ia tenteram bahwa di tengah hiruk-pikuk fana dan sirna ini terdapat banyak cermin untuk tetap kekal, tempat Sang Qadîr yang Hakîm melukiskan identitas segala yang sirna dan membuatnya tetap kekal. Terdapat pula banyak lembaran untuk tetap kekal, tempat Sang Hafîzh yang Alîm menulis makna segala yang fana. ~Kesimpulannya:

Karena kehidupan tumbuh-tumbuhan, tingkat kehidupan paling sederhana dan paling rendah, mengikuti tatanan takdir sebesar ini, tentu kehidupan manusia, tingkat kehidupan paling tinggi, telah digambar dalam seluruh rinciannya dengan Pengukur Takdir dan ditulis dengan Penanya. Ya, sebagaimana tetesan memberitakan awan, percikan menunjukkan sumber air, serta dokumen dan buku catatan kecil menunjuk kepada adanya suatu buku besar, begitu pula buah, sperma, biji, benih, rupa, dan bentuk yang kita saksikan, yang laksana percikan, tetesan, dokumen, dan buku catatan kecil dari takdir nyata berupa keteraturan materi pada makhluk hidup, serta takdir yang dipahami melalui penalaran berupa keteraturan maknawi dan kehidupan, dengan sangat jelas menunjukkan buku Kehendak dan Perintah-Perintah penciptaan yang disebut "Kitab Mubin", serta Lauh Mahfuz, catatan Ilmu Ilahi yang disebut "Imam Mubin". ~Hasil yang dituju:

Karena kita melihat dengan mata kepala bahwa selama pertumbuhan setiap makhluk hidup, zarah-zarahnya bergerak menuju batas-batas yang berlekuk dan berbelok, lalu berhenti; zarah-zarah itu mengubah jalannya; dan pada ujung batas-batas tersebut mereka menghasilkan hikmah, manfaat, serta kebaikan, maka jelas bahwa ukuran bentuk benda itu telah dilukiskan dengan suatu Pena Takdir. Takdir yang terlihat dan nyata ini menunjukkan bahwa dalam keadaan-keadaan maknawi makhluk hidup itu pun terdapat batas-batas serta ujung-ujung yang teratur dan berbuah, yang digambar dengan suatu Pena Takdir. Kudrat adalah sumber; takdir adalah penggaris. Kudrat menulis kitab makna itu di atas penggaris tersebut. Karena kita memahami secara pasti bahwa terdapat batas-batas yang berbuah dan ujung-ujung yang penuh hikmah, yang dilukiskan dengan Pena Takdir bagi segi materi dan maknawi, tentu keadaan-keadaan serta tahap-tahap yang akan dilalui setiap makhluk hidup sepanjang hidupnya telah dilukiskan dengan Pena Takdir itu. Sebab perjalanan hidupnya berlangsung dengan keteraturan dan timbangan. Ia berganti rupa dan mengambil bentuk-bentuk. Karena Pena Takdir berkuasa atas seluruh makhluk hidup seperti ini, tentu perjalanan hidup manusia, buah alam yang paling sempurna, khalifah bumi, serta pemikul amanat terbesar, mengikuti Hukum Takdir lebih daripada segala sesuatu. ~Jika engkau berkata:

"Takdir telah mengikat kita seperti ini dan merampas kebebasan kita. Bukankah iman kepada takdir memberi beban dan kesesakan kepada hati serta ruh yang merindukan rasa lapang dan kebebasan bergerak?" ~Jawaban:

Sama sekali tidak! Ia tidak menyesakkan; bahkan memberi sukacita dan cahaya yang mendatangkan rasa ringan, nyaman, lega, dan segar tanpa batas, serta menjamin rasa aman dan perlindungan. Sebab jika manusia tidak beriman kepada takdir, dalam suatu lingkup kecil dengan keleluasaan yang juz'i dan kebebasan sementara, ia terpaksa membawa beban seberat dunia di bahu ruhnya yang malang. Sebab manusia berkaitan dengan seluruh alam. Ia memiliki tujuan dan keinginan tanpa batas. Karena daya, kehendak, dan kebebasannya tidak mencukupi untuk satu dari sejuta tujuan serta keinginan itu, dapat dipahami betapa mengerikan dan mencekamnya beban kesesakan maknawi yang ia tanggung. Maka iman kepada takdir melemparkan seluruh beban itu ke kapal takdir dan memberikan tempat bagi ruh serta hati, dengan kenyamanan dan kebebasan yang sempurna, untuk bergerak leluasa dalam kesempurnaannya. Ia hanya merampas kebebasan juz'i milik nafsu ammarah dan mematahkan sikapnya seperti Firaun, klaim rububiyahnya, serta tindakannya yang semaunya. Iman kepada takdir begitu nikmat dan membahagiakan sehingga tidak dapat dilukiskan. Kami hanya akan mengisyaratkan kenikmatan dan kebahagiaan itu melalui perumpamaan berikut. Demikianlah: Dua orang pergi ke ibu kota kerajaan seorang raja. Mereka masuk ke istana pribadi raja itu, tempat hal-hal yang menakjubkan. Salah satunya tidak mengenal raja; ia ingin menetap di sana sebagai perampas dan pencuri. Namun, ia melihat beban-beban berat yang dituntut taman dan istana itu, seperti pengelolaan, pengaturan, pemasukan, menjalankan mesin-mesinnya, dan memberi makanan kepada binatang-binatang yang menakjubkan, lalu terus-menerus menderita. Taman yang seperti surga itu menjadi laksana neraka baginya. Ia mengasihani segala sesuatu. Ia tidak dapat mengelolanya. Ia melewatkan waktunya dengan penyesalan. Kemudian orang yang mencuri dan tidak tahu adab itu dimasukkan ke penjara untuk diberi pelajaran. Orang kedua mengenal raja dan mengetahui dirinya sebagai tamu raja. Ia meyakini bahwa seluruh pekerjaan di taman dan istana itu berlangsung menurut tatanan hukum, bahwa segala sesuatu berjalan menurut suatu rancangan dengan sangat mudah. Ia menyerahkan jerih payah dan beban-beban kepada hukum raja, menikmati seluruh kenikmatan taman yang menyerupai surga itu dengan sukacita penuh, dan memandang segala sesuatu dengan senang karena bersandar pada belas kasih raja serta indahnya hukum-hukum pengelolaannya; ia menjalani hidup dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang sempurna. Maka pahamilah rahasia ﻣَﻦْ ﺍٰﻣَﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺍَﻣِﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜَﺪَﺭِ.