PEMBAHASAN KEEMPAT
~Jika engkau berkata:
"Dalam Pembahasan Pertama engkau telah membuktikan bahwa segala sesuatu dalam takdir adalah indah dan baik. Keburukan yang datang darinya pun baik, dan kejelekan pun indah. Padahal musibah dan bencana di negeri dunia ini membantah ketetapan tersebut." ~Jawaban:
Wahai nafsuku dan sahabatku yang merasakan sakit hebat karena kasih sayang yang begitu besar! Wujud adalah kebaikan murni dan tidak adanya sesuatu adalah keburukan murni. Buktinya, segala keindahan dan kesempurnaan kembali kepada wujud, sedangkan dasar seluruh maksiat, musibah, dan kekurangan ialah tidak adanya sesuatu. Karena tidak adanya sesuatu merupakan keburukan murni, keadaan-keadaan yang berakhir dengan tidak adanya sesuatu atau mengandung makna itu juga mengandung keburukan. Karena itulah kehidupan, cahaya wujud yang paling terang, menjadi kuat dengan bergulir melalui berbagai keadaan. Ia menjadi jernih dengan memasuki keadaan-keadaan yang berbeda. Ia menghasilkan buah-buah yang dikehendaki dengan mengambil berbagai sifat. Dan dengan melalui berbagai tahap, ia memperlihatkan dengan indah ukiran Asma Sang Wâhib kehidupan. Karena hakikat inilah makhluk hidup mengalami keadaan-keadaan berupa rasa sakit, musibah, kesulitan, dan bencana; melalui keadaan-keadaan itu cahaya-cahaya wujud dalam kehidupan mereka diperbarui, gelap akibat tidak adanya sesuatu menjauh, dan kehidupan mereka menjadi jernih. Sebab berhenti, tenang tanpa gerak, diam, menganggur, beristirahat, dan keadaan yang selalu sama masing-masing berarti tidak adanya sesuatu dalam sifat dan keadaan. Bahkan kenikmatan terbesar menjadi tiada apabila terus-menerus sama. ~Kesimpulannya:
Karena kehidupan memperlihatkan ukiran Asmaulhusna, segala sesuatu yang menimpa kehidupan adalah baik. Misalnya, seseorang yang sangat kaya, memiliki seni yang amat tinggi, dan mahir dalam banyak seni mengenakan kepada seorang miskin biasa, dengan imbalan tertentu selama satu jam, sebuah baju yang dibuatnya dengan indah dan dihiasi permata, agar orang itu bertugas sebagai model untuk memperlihatkan karya seni serta kekayaannya yang berharga; ia mengerjakan baju itu pada tubuhnya, mengatur posisinya, dan mengubahnya. Untuk memperlihatkan setiap jenis seninya, ia juga memotong, mengganti, memanjangkan, dan memendekkannya. Apakah orang miskin yang dibayar itu berhak berkata kepadanya, "Engkau menyusahkanku. Engkau mengatur posisiku dengan membuatku membungkuk dan berdiri. Engkau merusak keindahanku dengan memotong dan memendekkan baju yang memperindah diriku ini"? Dapatkah ia berkata, "Engkau tidak berbelas kasih dan tidak adil"? Begitu pula Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Fâthir yang Tiada Banding, memutar baju wujud yang Dia kenakan kepada makhluk hidup, berhias indra dan latifah seperti mata, telinga, akal, serta hati, melalui banyak keadaan dan mengubahnya dalam banyak posisi untuk memperlihatkan ukiran Asmaulhusna. Dalam keadaan-keadaan berupa rasa sakit dan musibah terdapat sinar-sinar Rahmat di dalam kilauan Hikmah, dan keindahan-keindahan lembut di dalam sinar-sinar Rahmat itu, untuk memperlihatkan Ketentuan sebagian Asma-Nya.
--
PENUTUP
Lima paragraf yang membungkam nafsu Said Lama, yang membangkang, berbangga diri, sombong, kagum kepada diri sendiri, dan ria, serta memaksanya tunduk. Paragraf Pertama: Karena benda-benda ada dan dibuat dengan seni, tentu ada Pembuatnya. Sebagaimana dibuktikan secara amat pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Dua, jika segala sesuatu tidak menjadi milik Satu Zat, setiap benda akan sesulit dan seberat seluruh benda. Jika segala sesuatu menjadi milik Satu Zat, seluruh benda akan semudah satu benda. Karena Satu Zat telah membuat dan menciptakan bumi serta langit, tentu Zat yang amat Bijaksana dan amat tinggi Seni-Nya itu tidak akan menyerahkan kepada pihak lain makhluk-makhluk hidup yang merupakan buah, hasil, serta tujuan bumi dan langit, lalu merusak Pekerjaan-Nya. Dia tidak akan menyerahkannya kepada tangan-tangan lain dan menjadikan seluruh Pekerjaan-Nya yang penuh Hikmah sia-sia, merendahkannya menjadi tiada, atau memberikan syukur dan ibadah makhluk-makhluk itu kepada yang lain. Paragraf Kedua: Wahai nafsuku yang sombong! Engkau menyerupai pohon anggur. Jangan berbangga diri! Pohon itu tidak memasang sendiri tandan-tandannya; pihak lain yang memasangkannya. Paragraf Ketiga: Wahai nafsuku yang ria! Jangan sombong dengan berkata, "Aku telah berkhidmah kepada agama." Menurut rahasia ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻟَﻴُﺆَﻳِّﺪُ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦَ ﺑِﺎﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﻔَﺎﺟِﺮِ, karena belum disucikan, justru engkau harus menganggap dirimu sebagai lelaki durhaka itu. Ketahuilah khidmah dan ubudiyahmu sebagai syukur atas nikmat-nikmat yang telah berlalu, tugas fitrah, kewajiban penciptaan, serta hasil seni penciptaan; bebaskan dirimu dari ujub dan ria! Paragraf Keempat: Jika engkau menginginkan ilmu hakikat dan hikmah yang sejati, raihlah makrifat kepada Allah subhânahu. Sebab seluruh hakikat segala wujud adalah sinar-sinar Nama Al-Haqq, tampaknya Asma-Nya, serta Tajalli Sifat-Sifat-Nya. Hakikat setiap benda dan setiap manusia, baik materi maupun maknawi, zat maupun sifat yang melekat padanya, bersandar pada cahaya suatu Nama dan bertumpu pada Hakikat Nama itu. Jika tidak, ia hanyalah bentuk tanpa hakikat dan tanpa arti penting. Pada akhir Kalimat Kedua Puluh telah ada sedikit pembahasan mengenai rahasia ini. Wahai nafsu! Jika engkau merindukan kehidupan dunia ini dan melarikan diri dari maut, ketahuilah secara pasti bahwa keadaan-keadaan yang engkau anggap kehidupan hanyalah menit yang sedang engkau jalani. Seluruh waktumu sebelum menit itu dan benda-benda dunia yang berada dalam waktu tersebut telah mati pada menit itu. Seluruh waktumu setelah menit itu beserta isinya belum ada dan tiada pada menit itu. Jadi, kehidupan materi yang engkau andalkan hanyalah satu menit. Bahkan sebagian peneliti berkata, "Satu bagian waktu yang amat kecil (âşire), bahkan suatu saat yang terus mengalir."Karena rahasia inilah sebagian wali menetapkan bahwa dunia, dari segi keduniaannya, tidak ada. Karena demikian, tinggalkan kehidupan materi nafsu. Naiklah ke tingkatan-tingkatan kehidupan hati, ruh, dan sir, lalu lihatlah betapa luas lingkup kehidupan mereka. Masa lalu dan masa depan, yang mati bagimu, bagi mereka hidup, memiliki kehidupan, dan ada. Wahai nafsuku! Karena demikian, menangis dan berserulah seperti hatiku, lalu katakan: "Aku fana, aku tidak menginginkan yang fana. Aku tak berdaya, aku tidak menginginkan yang tak berdaya. Aku telah menyerahkan ruhku kepada Ar-Rahmân, aku tidak menginginkan yang lain. Aku menginginkan, tetapi aku menginginkan seorang Kekasih yang Kekal. Aku zarah, tetapi aku menginginkan Matahari yang Kekal selamanya. Aku tiada di dalam tiada, tetapi aku menginginkan seluruh wujud ini sekaligus." Paragraf Kelima: Karena paragraf ini datang dalam bahasa Arab, ia ditulis dalam bahasa Arab. Paragraf Arab ini juga merupakan isyarat kepada satu dari tiga puluh tiga tingkatan tafakur dalam zikir "Allahu akbar". ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﺍِﺫْ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﺮُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﻜَﺮ۪ﻳﻢُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺠَﻤ۪ﻴﻞُ ﺍﻟﻨَّﻘَّﺎﺵُ الْاَزَلِىُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻣَﺎ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔُ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ كُلًّا ﻭَ ﺟُﺰْﺀً ﻭَ ﺻَﺤَﺎﺋِﻒَ ﻭَ ﻃَﺒَﻘَﺎﺕٍ ﻭَ ﻣَﺎ ﺣَﻘَﺎﺋِﻖُ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻛُﻠِّﻴًّﺎ ﻭَ ﺟُﺰْﺋِﻴًّﺎ ﻭَ ﻭُﺟُﻮﺩًﺍ ﻭَ ﺑَﻘَﺎﺀً اِلَّا ﺧُﻄُﻮﻁُ ﻗَﻠَﻢِ ﻗَﻀَﺎﺋِﻪ۪ ﻭَ ﻗَﺪَﺭِﻩ۪ ﻭَ ﺗَﻨْﻈ۪ﻴﻤِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﻘْﺪ۪ﻳﺮِﻩ۪ ﺑِﻌِﻠْﻢٍ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ ﻭَ ﻧُﻘُﻮﺵُ ﭘَﺮْﻛَﺎﺭِ ﻋِﻠْﻤِﻪ۪ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﺼْﻮ۪ﻳﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺗَﺪْﺑ۪ﻴﺮِﻩ۪ ﺑِﺼُﻨْﻊٍ ﻭَ ﻋِﻨَﺎﻳَﺔٍ ﻭَ ﺗَﺰْﻳ۪ﻴﻨَﺎﺕُ ﻳَﺪِ ﺑَﻴْﻀَﺎﺀِ ﺻُﻨْﻌِﻪ۪ ﻭَ ﻋِﻨَﺎﻳَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﺰْﻳ۪ﻴﻨِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﻨْﻮ۪ﻳﺮِﻩ۪ ﺑِﻠُﻄْﻒٍ ﻭَ ﻛَﺮَﻡٍ ﻭَ ﺍَﺯَﺍﻫ۪ﻴﺮُ ﻟَﻄَﺎﺋِﻒِ ﻟُﻄْﻔِﻪ۪ ﻭَ ﻛَﺮَﻣِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﻮَﺩُّﺩِﻩ۪ ﻭَ ﺗَﻌَﺮُّﻓِﻪ۪ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺔٍ ﻭَ ﻧِﻌْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕُ ﻓَﻴَّﺎﺽِ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﺮَﺣُّﻤِﻪ۪ ﻭَ ﺗَﺤَﻨُّﻨِﻪ۪ ﺑِﺠَﻤَﺎﻝِ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﻭَ ﻟَﻤَﻌَﺎﺕِ ﺗَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺟَﻤَﺎﻟِﻪ۪ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻟِﻪ۪ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺗَﻔَﺎﻧِﻴَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺮَﺍﻳَﺎ ﻭَ ﺳَﻴَّﺎﻟِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤَﻈَﺎﻫِﺮِ ﻣَﻊَ ﺑَﻘَﺎﺀِ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺮَّﺩِ ﺍﻟﺴَّﺮْﻣَﺪِﻯِّ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ ﺍﻟﺘَّﺠَﻠّ۪ﻰ ﻭَ ﺍﻟﻈُّﻬُﻮﺭِ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺮِّ ﺍﻟْﻔُﺼُﻮﻝِ ﻭَ ﺍﻟْﻌُﺼُﻮﺭِ ﻭَ ﺍﻟﺪُّﻫُﻮﺭِ ﻭَ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ الْاِنْعَامِ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺮِّ الْاَنَامِ ﻭَ الْاَيَّامِ ﻭَ الْاَعْوَامِ ﻧَﻌَﻢْ فَالْاَثَرُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﻟِﺬ۪ﻯ ﻋَﻘْﻞٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﻟِﺬ۪ﻯ ﻓَﻬْﻢٍ ﻋَﻠَﻰ الْاِسْمِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ الْاِسْمُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﺑِﺎﻟْﺒَﺪَﺍﻫَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻮَﺻْﻒِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ ﺍﻟْﻮَﺻْﻒُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮُﻭﺭَﺓِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺸَّﺎْﻥِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ ﺍﻟﺸَّﺎْﻥُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﺑِﺎﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ ﻋَﻠٰﻰ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟﺬَّﺍﺕِ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻠ۪ﻴﻖُ ﺑِﺎﻟﺬَّﺍﺕِ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦُ ﻧَﻌَﻢْ ﺗَﻔَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﻤِﺮْﺍٰﺓِ ﺯَﻭَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺘَّﺠَﻠِّﻰ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻔَﻴْﺾِ الْمُلَازِمِ ﻣِﻦْ ﺍَﻇْﻬَﺮِ ﺍﻟﻈَّﻮَﺍﻫِﺮِ ﺍَﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝَ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻣُﻠْﻚَ ﺍﻟْﻤَﻈَﺎﻫِﺮِ ﻣِﻦْ ﺍَﻓْﺼَﺢِ ﺗِﺒْﻴَﺎﻥٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻭْﺿَﺢِ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٍ ﻟِﻠْﺠَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺮَّﺩِ لِلْاِحْسَانِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺪَّﺩِ ﻟِﻠْﻮَﺍﺟِﺐِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﻟِﻠْﺒَﺎﻗِﻰ ﺍﻟْﻮَﺩُﻭﺩِ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻰ ﻋِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ
--
TAMBAHAN
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
(Tambahan yang sangat kecil ini memiliki arti penting yang besar. Ia bermanfaat bagi setiap orang.)
Jalan yang membawa sampai kepada Allah subhânahu sangat banyak. Semua jalan yang haq diambil dari Al-Qur'an. Namun, sebagian tarekat lebih pendek, lebih selamat, dan lebih umum daripada yang lain. Di antara jalan-jalan itu, dengan pemahamanku yang terbatas, yang kuambil dari Al-Qur'an ialah jalan kelemahan, keadaan serba kurang, kasih sayang, dan tafakur. Ya, kelemahan juga merupakan jalan seperti cinta, bahkan lebih selamat; melalui jalan ubudiyah ia mencapai kedudukan dicintai. Keadaan serba kurang juga membawa sampai kepada Nama Ar-Rahmân. Kasih sayang juga merupakan jalan seperti cinta, bahkan lebih tajam dan lebih luas; ia membawa sampai kepada Nama Ar-Rahîm. Tafakur juga merupakan jalan seperti cinta, bahkan lebih kaya, lebih terang, dan lebih luas; ia membawa sampai kepada Nama Al-Hakîm. Jalan ini tidak terdiri atas sepuluh langkah seperti "sepuluh latifah" dalam jalan-jalan zikir yang tersembunyi, juga bukan langkah-langkah menuju tujuh tingkatan "tujuh nafsu" seperti dalam jalan zikir yang bersuara, melainkan terdiri atas empat langkah. Ia lebih merupakan hakikat dan syariat daripada tarekat. Jangan disalahpahami: maksudnya ialah melihat kelemahan, keadaan serba kurang, dan kekurangan diri di hadapan Allah subhânahu. Bukan melakukan hal-hal itu atau memperlihatkannya kepada manusia. Wirid jalan pendek ini ialah mengikuti sunah, menjalankan kewajiban-kewajiban, dan meninggalkan dosa-dosa besar. Terutama melaksanakan salat dengan menyempurnakan gerakan rukun-rukunnya serta mengerjakan tasbih setelah salat. ~Langkah pertama
diisyaratkan oleh ayat فَلَا ﺗُﺰَﻛُّٓﻮﺍ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ. ~Langkah kedua
diisyaratkan oleh ayat وَلَا ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎَﻧْﺴٰﻴﻬُﻢْ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ. ~Langkah ketiga
diisyaratkan oleh ayat ﻣَٓﺎ ﺍَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﻓَﻤِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ. ~Langkah keempat
diisyaratkan oleh ayat ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ. ~Penjelasan singkat keempat langkah ini ialah:
Pada langkah pertama, sebagaimana diisyaratkan oleh ayat فَلَا ﺗُﺰَﻛُّٓﻮﺍ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ: tidak menganggap nafsu telah suci. Sebab, menurut tabiat dan fitrahnya, manusia mencintai nafsunya. Bahkan, pertama-tama dan secara langsung ia hanya mencintai dirinya, mengorbankan segala yang lain demi nafsunya. Ia memuji nafsunya dengan cara yang hanya layak bagi Ma'bûd. Ia menyatakan nafsunya suci dan bebas dari aib dengan cara yang hanya layak bagi Ma'bûd. Sebisa mungkin ia tidak menganggap kekurangan layak bagi dirinya dan tidak mengakuinya. Ia membela nafsunya dengan keras seolah menyembahnya. Bahkan, dengan mempergunakan bagi nafsunya sendiri perangkat dan kemampuan yang dititipkan pada fitrahnya dan diberikan kepadanya untuk memuji serta bertasbih kepada Sang Ma'bûd yang Hakiki, ia menjadi tempat tampaknya rahasia ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍِﻟٰﻬَﻪُ ﻫَﻮٰﻳﻪُ. Ia memandang dirinya, mengandalkan dirinya, dan mengagumi dirinya. Maka pada tingkatan dan langkah ini, cara membuat nafsu suci dan bersih ialah tidak menganggapnya suci dan tidak membebaskannya dari kesalahan. Pada langkah kedua, sebagaimana diajarkan oleh وَلَا ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎَﻧْﺴٰﻴﻬُﻢْ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ: ia telah melupakan dirinya dan tidak menyadari dirinya. Jika memikirkan maut, ia menganggapnya bagi orang lain. Jika melihat fana dan sirna, ia tidak menganggapnya mengenai dirinya. Melupakan diri saat menanggung beban dan berkhidmah, tetapi memikirkan diri dan berpegang kuat padanya saat menerima upah serta menikmati kesenangan, merupakan tuntutan nafsu ammarah. Pada maqam ini, cara membuatnya suci, bersih, dan mendidiknya ialah kebalikan keadaan itu. Yakni, tidak melupakan diri dalam keadaan melupakan nafsu. Yakni, melupakannya dalam kesenangan dan ambisi, serta memikirkannya dalam maut dan khidmah. Pada langkah ketiga, sebagaimana diajarkan oleh ﻣَٓﺎ ﺍَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﻓَﻤِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ: tuntutan nafsu ialah selalu menganggap kebaikan berasal dari dirinya, lalu masuk ke dalam kebanggaan diri dan ujub. Pada langkah ini, ia hanya melihat kekurangan, ketidaksempurnaan, kelemahan, dan keadaan serba kurang pada nafsunya; ia memahami bahwa seluruh keindahan dan kesempurnaannya merupakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepadanya oleh Sang Fâthir Dzul-Jalâl, lalu bersyukur sebagai ganti berbangga diri dan memuji Allah subhânahu sebagai ganti memuji diri. Pada tingkatan ini, menurut rahasia ﻗَﺪْ ﺍَﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺯَﻛّٰﻴﻬَﺎ, cara membuatnya suci ialah mengetahui kesempurnaannya dalam ketidaksempurnaan, dayanya dalam kelemahan, dan kekayaannya dalam keadaan serba kurang. Pada langkah keempat, sebagaimana diajarkan oleh ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ: nafsu menganggap dirinya bebas, mandiri, dan ada dengan sendirinya. Dari situ ia mengklaim suatu bentuk rububiyah. Ia memikul pembangkangan penuh permusuhan terhadap Ma'bûd-nya. Ia bebas dari hal itu dengan memahami hakikat berikut. Hakikatnya ialah: dari segi dirinya sendiri, dengan makna yang menunjuk kepada dirinya, segala sesuatu fana, hilang, baru tercipta, dan tidak ada. Namun, dengan makna yang menunjuk kepada yang lain, dari segi menjadi cermin Asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl dan memikul tugas, ia menjadi saksi, disaksikan, memperoleh wujud, dan ada.Pada maqam ini, cara membuat nafsu suci dan bersih ialah: dalam wujudnya terkandung makna "tidak ada", sedangkan dalam keadaan tidak ada terdapat wujud. Yakni, jika ia hanya mengenali dirinya dan menganggap dirinya berwujud sendiri, ia berada dalam gelap seluas alam akibat tidak adanya sesuatu. Yakni, jika ia mengandalkan wujud pribadinya dan lalai terhadap Sang Mûjid yang Hakiki, cahaya wujud pribadinya seperti kunang-kunang berada dan tenggelam dalam gelap akibat tidak adanya sesuatu serta perpisahan tanpa batas. Namun, ketika ia meninggalkan ananiyah dan melihat bahwa nafsunya sendiri tiada serta merupakan cermin Tajalli Sang Mûjid yang Hakiki, ia memperoleh seluruh wujud dan suatu wujud tanpa batas. Sebab orang yang menemukan Zat Wâjibul Wujûd, yang seluruh wujud menjadi tempat tampaknya Pancaran Asma-Nya, menemukan segala sesuatu.
PENUTUP
Penjelasan keempat langkah dalam jalan kelemahan, keadaan serba kurang, kasih sayang, dan tafakur ini telah diberikan dalam dua puluh enam Kalimat yang membahas ilmu hakikat, hakikat syariat, serta Hikmah Al-Qur'an. Di sini kami hanya akan memberi isyarat singkat kepada satu atau dua hal. Demikianlah: Ya, jalan ini lebih pendek. Sebab ia terdiri atas empat langkah. Apabila kelemahan menarik tangannya dari nafsu, ia langsung menyerahkannya kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Sedangkan cinta, jalan yang paling tajam, menarik tangannya dari nafsu tetapi berpegang pada kekasih majasi. Setelah menemukan bahwa kekasih itu sirna, ia menuju Sang Kekasih yang Hakiki. Jalan ini juga lebih selamat. Sebab tidak ada ucapan nafsu yang melampaui batas dan klaimnya yang terbang terlalu tinggi. Sebab ia tidak menemukan dalam nafsunya apa pun selain kelemahan, keadaan serba kurang, serta kekurangan, sehingga tidak dapat melampaui batasnya. Jalan ini juga lebih umum dan merupakan jalan raya terbesar. Sebab untuk memperoleh kesadaran akan Kehadiran Allah subhânahu yang terus-menerus, ia tidak harus menganggap alam dihukum untuk dimusnahkan dan menetapkan ٔلَا ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَ اِلَّا ﻫُﻮَٔ seperti para penganut wahdatul-wujud; atau membayangkan alam dihukum dalam penjara lupa mutlak untuk memperoleh kesadaran akan Kehadiran Allah subhânahu yang terus-menerus, lalu berkata ٔلَا ﻣَﺸْﻬُﻮﺩَ اِلَّا ﻫُﻮَ seperti para penganut wahdatusy-syuhud. Bahkan, karena Al-Qur'an dengan sangat jelas membebaskan alam dari pemusnahan dan penjara, ia juga mengesampingkan pandangan tersebut, membebaskan segala wujud dari khidmah demi diri mereka sendiri, dan mempergunakannya demi Sang Fâthir Dzul-Jalâl, dengan tugas menjadi tempat tampaknya dan cermin Asmaulhusna-Nya; ia memandangnya melalui makna yang menunjuk kepada yang lain, bebas dari kelalaian mutlak, dan masuk ke dalam kesadaran akan Kehadiran Allah subhânahu yang terus-menerus; ia menemukan jalan kepada Allah subhânahu dalam segala sesuatu. ~Kesimpulannya:
Membebaskan segala wujud dari khidmah demi diri wujud-wujud itu sendiri dan tidak memandangnya melalui makna yang menunjuk kepada diri wujud-wujud itu sendiri.
--