Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kalimat Kedua Puluh Tujuh

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kalimat Kedua Puluh Tujuh

İçtihad Risalesi (Risalah Ijtihad)

Lima atau enam tahun yang lalu, aku menulis suatu persoalan mengenai ijtihad dalam sebuah risalah berbahasa Arab; atas keinginan dua saudaraku, Kalimat ini ditulis mengenai persoalan ijtihad tersebut untuk menunjukkan batas kepada orang yang melampaui batas dalam persoalan itu.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻟَﻮْ ﺭَﺩُّﻭﻩُ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻭَ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍُﻭﻟِﻰ الْاَمْرِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻠِﻤَﻪُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻨْﺒِﻄُﻮﻧَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ Pintu ijtihad terbuka. Namun, pada zaman ini terdapat enam penghalang untuk memasukinya. Pertama: Sebagaimana pada musim dingin, ketika badai sangat keras, bahkan celah-celah kecil pun ditutup, membuka pintu-pintu baru sama sekali bukan tindakan yang masuk akal. Begitu pula, ketika banjir besar menyerbu, membuka lubang pada dinding untuk memperbaikinya justru menyebabkan tenggelam. Demikian pula, pada zaman kemungkaran ini, saat kebiasaan-kebiasaan asing menyerbu, ketika bidah begitu banyak dan kesesatan merusak, membuka pintu-pintu baru dari istana Islam atas nama ijtihad dan membuat lubang pada dindingnya yang menjadi jalan masuk para perusak merupakan kejahatan terhadap Islam. Kedua: Perkara-perkara pokok agama yang pasti tidak dapat dimasuki ijtihad. Sebab semuanya telah pasti dan ditentukan. Perkara-perkara pokok itu juga laksana bekal dan makanan. Pada zaman ini semuanya ditinggalkan dan diguncangkan. Padahal seluruh tekad dan usaha harus dicurahkan untuk menegakkan serta menghidupkannya kembali; dalam bagian agama yang memerlukan penalaran, pendapat-pendapat hasil ijtihad generasi terdahulu yang jernih dan ikhlas tidak sempit bagi kebutuhan sepanjang zaman, sehingga meninggalkannya dan melakukan ijtihad baru karena keinginan sendiri merupakan pengkhianatan dengan membuat bidah. Ketiga: Sebagaimana di pasar ada barang yang diminati menurut musim dan ada barang yang laku dari waktu ke waktu, begitu pula dalam pameran alam, di pasar masyarakat serta peradaban manusia, pada setiap abad ada barang yang diminati dan laku. Barang itu dipajang di tempat jual belinya, yakni di pasarnya; minat ditarik kepadanya, pandangan diarahkan kepadanya, dan pikiran terpikat olehnya. Misalnya, pada zaman ini barang berupa politik, jaminan kehidupan dunia, dan larisnya filsafat... Adapun pada abad generasi terdahulu yang saleh dan di pasar zaman itu, barang yang paling diminati ialah menggali dari Kalam Sang Khâliq langit dan bumi hal-hal yang diridai-Nya serta yang Dia inginkan dari kita, dan memperoleh sarana untuk meraih kebahagiaan abadi di alam akhirat, yang terbuka begitu lebar oleh cahaya kenabian serta Al-Qur'an hingga tidak dapat ditutup. Pada zaman itu, karena benak, hati, dan ruh mengarahkan seluruh kekuatannya untuk memahami hal-hal yang diridai Rabb bumi dan langit, percakapan, dialog, kejadian, dan keadaan masyarakat manusia menghadap kepadanya. Karena semuanya berlangsung menurut arah itu, siapa pun yang memiliki kemampuan yang baik, hati dan fitrahnya tanpa disadari mengambil pelajaran makrifat dari segala sesuatu.Ia belajar dari keadaan, kejadian, dan percakapan yang berlangsung pada zaman itu. Seolah setiap hal menjadi seorang guru baginya dan menanamkan dalam fitrah serta kemampuannya kesiapan menuju ijtihad. Bahkan pelajaran fitrah itu begitu menerangi sehingga hampir saja ia mampu berijtihad tanpa belajar, bercahaya tanpa api... Maka ketika seseorang yang berbakat dan mendapat pelajaran fitrah semacam ini mulai berusaha mencapai ijtihad, kemampuannya yang menjadi laksana korek api menerima rahasia "nurun ala nur"; ia segera menjadi mujtahid dalam waktu singkat. Namun, pada zaman ini, karena kuasa peradaban Eropa, serbuan filsafat tabiat, dan semakin beratnya syarat-syarat kehidupan dunia, pikiran serta hati tercerai-berai, dan tekad serta perhatian terbagi-bagi. Benak menjadi asing terhadap hal-hal rohani. Karena itulah, sekalipun seseorang pada zaman ini memiliki kecerdasan seperti seorang mujtahid, Sufyan bin Uyainah, yang menghafal Al-Qur'an pada usia empat tahun dan berdiskusi dengan ulama, ia memerlukan waktu sepuluh kali lebih lama dibanding waktu yang diperlukan Sufyan untuk mencapai ijtihad. Jika Sufyan mencapai ijtihad dalam sepuluh tahun, orang ini memerlukan seratus tahun untuk dapat mencapainya. Sebab awal pendidikan fitrah Sufyan dimulai sejak usia mampu membedakan. Kemampuannya perlahan menjadi siap, bercahaya, mengambil pelajaran dari segala sesuatu, dan menjadi laksana korek api. Adapun orang sebanding dengannya pada zaman ini, karena benaknya tenggelam dalam filsafat, akalnya terbenam dalam politik, hatinya bingung dalam kehidupan dunia, dan kemampuannya menjauh dari ijtihad, tentu sejauh ia menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu masa kini, sejauh itu pula kemampuannya menjauh dari kemampuan berijtihad dalam syariat; dan sejauh ia mahir dalam ilmu-ilmu dunia, sejauh itu pula ia tertinggal dari kesiapan menerima ijtihad. Karena itu, ia tidak dapat dan tidak berhak berkata, "Aku juga cerdas seperti dia, mengapa aku tidak dapat menyamainya?" dan ia memang tidak dapat menyamainya. Keempat: Sebagaimana dalam suatu tubuh terdapat kecenderungan untuk membesar demi tumbuh dan berkembang, kecenderungan membesar itu — karena berasal dari dalam — merupakan proses menyempurnakan tubuh. Namun, jika kecenderungan memperbesar itu berasal dari luar, ia merobek kulit tubuh dan merusaknya; itu bukan memperbesar. Begitu pula, apabila kecenderungan memperluas dan keinginan berijtihad terdapat pada orang-orang yang masuk ke dalam lingkup Islam, seperti generasi terdahulu yang saleh, melalui pintu takwa yang sempurna dan jalan melaksanakan perkara-perkara pokok agama, hal itu merupakan kesempurnaan dan proses menuju kesempurnaan.Namun, kecenderungan memperluas dan keinginan berijtihad yang berasal dari orang-orang yang meninggalkan perkara-perkara pokok agama, mengutamakan kehidupan dunia atas kehidupan akhirat, serta tercemar filsafat materialisme, menjadi sarana merusak tubuh Islam dan melepaskan rantai syariat dari lehernya. Kelima: Tiga sudut pandang menjadikan ijtihad zaman ini bersifat duniawi dan mengeluarkannya dari sifat samawi. Padahal syariat bersifat samawi, dan ijtihad dalam syariat pun bersifat samawi karena menampakkan hukum-hukumnya yang tersembunyi. Pertama: Hikmah suatu hukum berbeda dengan ilatnya. Hikmah dan manfaat menjadi sebab suatu pilihan diutamakan, tetapi bukan dasar yang mengharuskan dan mewujudkannya. Adapun ilat merupakan dasar adanya hukum itu. Misalnya, dalam perjalanan, salat dikasar menjadi dua rakaat. Ilat keringanan syariat ini ialah perjalanan, sedangkan hikmahnya ialah kesulitan. Jika ada perjalanan, sekalipun sama sekali tidak ada kesulitan, salat dikasar. Sebab ilatnya ada. Namun, jika tidak ada perjalanan, sekalipun ada seratus kesulitan, hal itu tidak dapat menjadi ilat untuk mengasar salat. Berlawanan dengan hakikat ini, pandangan zaman ini menempatkan manfaat dan hikmah sebagai pengganti ilat, lalu menetapkan hukum berdasarkan hal itu. Tentu ijtihad semacam itu bersifat duniawi, bukan samawi. Kedua: Pandangan zaman ini pertama-tama dan secara langsung menghadap kepada kebahagiaan dunia dan mengarahkan hukum-hukum kepadanya. Padahal pandangan syariat pertama-tama dan secara langsung menghadap kepada kebahagiaan akhirat, dan pada tingkat kedua — karena dunia menjadi sarana menuju akhirat — memandang kebahagiaan dunia. Jadi, pandangan zaman ini asing terhadap ruh syariat. Maka ia tidak dapat berijtihad atas nama syariat. Ketiga: Kaidah ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻀَّﺮُﻭﺭَﺍﺕِ ﺗُﺒ۪ﻴﺢُ ﺍﻟْﻤَﺤْﻈُﻮﺭَﺍﺕِ, yakni, "Darurat menjadikan yang haram setingkat halal." Kaidah ini tidak berlaku menyeluruh. Jika darurat tidak timbul melalui jalan haram, ia menyebabkan yang haram menjadi halal. Namun, jika darurat timbul akibat pilihan yang buruk dan sebab-sebab yang tidak sah, ia tidak dapat menghalalkan yang haram, tidak dapat menjadi dasar hukum-hukum yang memberi keringanan, dan tidak dapat menjadi alasan untuk dimaafkan. Misalnya, apabila seseorang dengan pilihannya yang buruk membuat dirinya mabuk dengan cara haram, menurut ulama syariat tindakan-tindakannya tetap berlaku atas dirinya, dan ia tidak dianggap memiliki alasan untuk dimaafkan. Jika ia menjatuhkan talak, talaknya berlaku. Jika ia melakukan kejahatan, ia dihukum. Namun, jika keadaan mabuk itu bukan akibat pilihannya yang buruk, talaknya tidak berlaku dan ia juga tidak dihukum. Begitu pula, sekalipun seseorang kecanduan minuman keras sampai tingkat darurat, ia tidak dapat berkata, "Ini darurat, maka halal bagiku."Pada zaman ini terdapat banyak hal yang mencapai tingkat darurat dan menjadi bencana umum yang menimpa manusia; karena hal-hal itu lahir dari pilihan yang buruk, kecenderungan yang tidak sah, dan tindakan-tindakan haram, semuanya tidak dapat menjadi dasar hukum-hukum keringanan atau dasar untuk menghalalkan yang haram. Namun, karena orang-orang yang berijtihad pada zaman ini menjadikan keadaan-keadaan darurat itu sebagai dasar hukum syariat, ijtihad mereka bersifat duniawi, mengikuti keinginan diri, dan bersifat filsafat; ia tidak dapat bersifat samawi dan bukan berasal dari syariat. Padahal mengubah Hukum-Hukum Ilahi Sang Khâliq langit dan bumi serta mencampuri ibadah hamba-hamba-Nya, tanpa Izin maknawi Sang Khâliq itu, merupakan perubahan dan campur tangan yang tertolak. Misalnya, sebagian orang yang lalai menganggap baik mengalihkan sebagian syiar Islam, seperti khotbah, dari bahasa Arab ke bahasa masing-masing bangsa karena dua sebab: Pertama: "Agar politik masa kini juga dijelaskan kepada kaum muslim awam dengan cara itu." Padahal politik masa kini telah begitu banyak masuk ke dalam kebohongan, tipu daya, dan kelicikan setan sehingga menjadi seperti bisikan setan-setan. Sedangkan mimbar merupakan tempat menyampaikan Wahyu Ilahi, sehingga bisikan politik itu tidak berhak naik ke tempat yang luhur tersebut. Sebab kedua: "Khotbah dimaksudkan untuk memahami nasihat beberapa surah Al-Qur'an." Ya, jika sebagian besar umat Islam melaksanakan dan memenuhi perkara-perkara pokok Islam, hal-hal yang telah diterima, serta hukum-hukumnya yang diketahui, saat itu membacakan khotbah dalam bahasa yang dipahami untuk mengerti perkara-perkara syariat yang memerlukan penalaran, persoalan-persoalan halus, serta nasihat yang tersembunyi, dan menerjemahkan surah-surah Al-Qur'an — jika hal itu mungkin {(Catatan kaki): Kalimat Kedua Puluh Lima, mengenai mukjizat Al-Qur'an, telah menunjukkan bahwa terjemahan Al-Qur'an yang sesungguhnya tidak mungkin dibuat.} — mungkin dapat dianggap baik. Namun, hukum-hukum Islam yang pasti dan diketahui, seperti wajibnya salat, zakat, serta saum, dan haramnya pembunuhan, zina, serta minuman keras, diabaikan. Orang-orang awam tidak membutuhkan pelajaran bahwa hal-hal itu wajib atau haram. Mereka justru membutuhkan dorongan, pengingat, dan peringatan untuk melaksanakannya, dengan diingatkan akan Hukum-Hukum suci tersebut melalui dorongan serta peringatan, dan dengan digerakkan semangat Islam serta perasaan imannya. Padahal, betapapun bodohnya seorang awam, dari Al-Qur'an dan khotbah berbahasa Arab ia memahami makna ringkas ini, "Khatib dan hafiz sedang mengingatkan, mengajarkan, dan membacakan rukun-rukun iman serta dasar-dasar Islam yang diketahui oleh semua orang dan olehku."demikian ia berkata; dalam hatinya tumbuh kerinduan terhadap hal-hal itu. Ungkapan mana dalam alam yang dapat menandingi peringatan, pengingat, serta dorongan Al-Qur'an Al-Hakîm yang datang dari Arasy Teragung, yang bermukjizat dan membuat orang memahami? Keenam: Karena para mujtahid agung dari generasi terdahulu yang saleh dekat dengan zaman sahabat, zaman cahaya dan hakikat, mereka dapat mengambil cahaya yang jernih dan melakukan ijtihad yang murni. Adapun orang-orang yang berijtihad pada zaman ini memandang kitab hakikat dari balik begitu banyak tirai dan jarak yang jauh, sehingga bahkan hurufnya yang paling jelas pun hanya dapat mereka lihat dengan susah payah. ~Jika engkau berkata:

Para sahabat juga manusia; mereka tidak bebas dari kesalahan dan hal yang bertentangan dengan kebenaran. Padahal dasar ijtihad serta hukum-hukum syariat ialah adil dan jujurnya para sahabat, sehingga umat pun telah sepakat bahwa, "Semua sahabat adil dan berkata benar." ~Jawaban:

Ya, sebagian besar sahabat mencintai haq, merindukan kejujuran, dan menginginkan keadilan. Sebab pada zaman itu buruknya dusta dan kebohongan diperlihatkan dengan seluruh keburukannya, dan indahnya kejujuran serta berkata benar diperlihatkan dengan seluruh keindahannya sedemikian rupa sehingga jarak di antara keduanya terbentang dari arasy hingga bumi. Terlihat perbedaan sebesar jarak antara kehinaan Musailamah si Pendusta di asfal as-sâfilîn dan derajat kejujuran Nabi ﷺ di a'lâ illiyyîn. Ya, sebagaimana dusta menjatuhkan Musailamah ke asfal as-sâfilîn, kejujuran dan berkata benarlah yang mengangkat Muhammad Al-Amin ﷺ ke a'lâ illiyyîn. Maka para sahabat, yang memiliki perasaan luhur, mencintai akhlak yang indah, serta diterangi cahaya pergaulan dengan Matahari Kenabian ﷺ, tentu tidak mengulurkan tangan dengan pilihan mereka kepada dusta yang begitu buruk, menyebabkan kejatuhan, dan terdapat di toko kepalsuan Musailamah yang penuh hal menggelikan; mereka menjauhi dusta, kawan kekufuran, sebagaimana menjauhi kekufuran; dan tentu mereka mencari, mengikuti, serta mencintai kejujuran, berkata benar, dan haq semampu mereka — terutama dalam meriwayatkan serta menyampaikan hukum syariat — sebab semuanya begitu indah, menjadi dasar kebanggaan dan kemuliaan, jalan naik dan maju, barang paling laris dalam khazanah luhur Kebanggaan Kerasulan ﷺ, serta menerangi masyarakat manusia dengan cahaya keindahannya; hal itu pasti, harus demikian, dan tidak diragukan. Padahal pada zaman ini jarak antara dusta dan kejujuran begitu memendek sehingga seakan keduanya berdiri bahu-membahu. Beralih dari kejujuran menuju dusta sangat mudah. Bahkan melalui propaganda politik, kebohongan lebih diutamakan daripada berkata benar. Jika sesuatu yang paling buruk dijual bersama hal-hal yang paling indah di satu toko dengan harga yang sama, tentu berlian kejujuran dan haq yang amat luhur serta menuju permata hakikat tidak dibeli secara buta dengan mengandalkan pengetahuan dan perkataan pemilik toko itu.

--

PENUTUP

Syariat-syariat berubah menurut abad. Bahkan dalam satu abad dapat datang, dan memang telah datang, syariat serta nabi yang berbeda menurut kaum. Setelah Khâtamul-Anbiyâ' ﷺ, karena syariatnya yang agung mencukupi setiap kaum pada setiap abad, tidak ada lagi kebutuhan akan syariat yang berbeda-beda. Namun, dalam rincian masih ada kebutuhan akan mazhab-mazhab yang berbeda sampai suatu tingkat. Ya, sebagaimana pakaian berubah bersama perubahan musim, dan obat berganti menurut tabiat tubuh, begitu pula syariat-syariat berubah menurut abad, dan hukum-hukum berubah menurut kemampuan bangsa-bangsa. Sebab bagian rinci hukum syariat memandang keadaan manusia. Ia datang sesuai keadaan itu dan menjadi obat. Pada masa para nabi terdahulu, karena lapisan-lapisan manusia sangat jauh satu dari lainnya, watak mereka masih agak kasar dan keras, serta pikiran mereka masih pada tahap awal dan dekat dengan kehidupan pengembara, syariat-syariat pada zaman itu datang berbeda-beda sesuai keadaan mereka. Bahkan pada satu benua dan satu abad terdapat nabi serta syariat yang berbeda-beda. Kemudian, dengan datangnya Nabi Akhir Zaman ﷺ, manusia seolah naik dari tingkat sekolah dasar ke tingkat sekolah menengah; dengan banyak perubahan dan percampuran, kaum-kaum manusia sampai pada keadaan dapat menerima satu pelajaran, mendengarkan satu guru, dan mengamalkan satu syariat, sehingga syariat yang berbeda-beda tidak diperlukan lagi, dan tidak terlihat kebutuhan akan guru yang berbeda-beda. Namun, karena mereka belum sepenuhnya berada pada satu tingkat dan belum mengenakan satu cara hidup bermasyarakat, mazhab menjadi banyak. Jika sebagian besar manusia mengenakan satu cara hidup bermasyarakat dan berada pada satu tingkat seperti pelajar suatu sekolah tinggi, saat itu mazhab-mazhab dapat disatukan. Namun, sebagaimana keadaan alam ini tidak memungkinkan keadaan itu, mazhab-mazhab pun tidak menjadi satu. Jika engkau berkata: Haq itu satu; bagaimana hukum-hukum yang berbeda dari empat dan dua belas mazhab itu dapat haq? Jawaban: Sebagaimana satu air mendapat lima hukum menurut lima orang sakit dengan tabiat tubuh yang berbeda; demikianlah: bagi salah satunya, menurut tabiat penyakitnya, air adalah obat dan secara medis wajib. Bagi yang lain, air berbahaya seperti racun untuk penyakitnya dan secara medis haram baginya. Bagi yang lain, air sedikit berbahaya dan secara medis makruh baginya. Bagi yang lain, air memberi manfaat tanpa bahaya dan secara medis sunah baginya. Bagi yang lain, air tidak berbahaya dan tidak bermanfaat; hendaklah ia meminumnya dengan sehat, secara medis mubah baginya. Maka di sini haq menjadi lebih dari satu. Kelimanya haq.Dapatkah engkau berkata, "Air hanya obat, hanya wajib, dan tidak memiliki hukum lain"? Begitu pula, Hukum-Hukum Ilahi berubah menurut orang-orang yang mengikuti mazhab dengan arahan Hikmah Ilahi; Hukum-Hukum itu berubah sebagai haq, dan masing-masing haq serta memberi manfaat. Misalnya, dengan pilihan Hikmah Ilahi, sebagian besar orang yang mengikuti Imam Syafii lebih dekat kepada kehidupan desa dan pengembara dibanding pengikut Hanafi; karena kehidupan bermasyarakat yang menjadikan jemaah seperti satu tubuh juga belum sempurna pada mereka, setiap orang membaca Fatihah sendiri di belakang imam agar dapat secara langsung menyampaikan penderitaannya dan memohon keinginannya yang khusus di hadapan Sang Qâdhiyul-Hâjât. Hal itu benar-benar haq dan merupakan Hikmah murni. Adapun para pengikut Imam A'zham, karena sebagian besar pemerintahan Islam berpegang pada mazhab itu, sebagian besar dari mereka lebih dekat kepada peradaban dan kehidupan kota serta lebih siap untuk hidup bermasyarakat; satu jemaah menjadi seperti satu pribadi, dan satu orang berbicara atas nama semuanya; karena semuanya membenarkan dalam hati dan mengikatkan hati kepadanya sehingga perkataannya menjadi seperti perkataan semua orang, menurut mazhab Hanafi Fatihah tidak dibaca di belakang imam. Tidak membacanya benar-benar haq dan merupakan Hikmah murni. Begitu pula, karena syariat memperbaiki tabiat dengan membendung pelanggarannya serta mendidik nafsu ammarah, tentu menurut mazhab Syafii, yang sebagian besar pengikutnya orang desa, setengah pengembara, dan bekerja sebagai buruh, "Menyentuh perempuan membatalkan wudu; sedikit najis pun berpengaruh." Menurut mazhab Hanafi yang diikuti orang-orang yang sebagian besar masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat dan mengambil corak setengah beradab, "Menyentuh perempuan tidak membatalkan wudu; ada fatwa keringanan untuk najis sebesar satu dirham." Maka kita akan memandang seorang buruh dan seorang tuan. Karena menurut cara mencari nafkahnya, buruh sering berbaur dan bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahram, duduk di dekat tungku, serta masuk ke dalam benda-benda kotor, tabiat dan nafsu ammarahnya dapat menemukan ruang tanpa penghalang dan melampaui batas dari segi pekerjaan serta penghidupannya. Karena itu, untuk membendung pelanggaran-pelanggaran tersebut, syariat memperdengarkan kepada telinga batinnya seruan samawi, "Wudumu batal, jangan sentuh! Salatmu batal, jangan terkena!"Adapun tuan itu, dengan syarat ia menjaga kehormatannya, menurut kebiasaan hidup bermasyarakatnya dan demi akhlak umum, tidak sering bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahram; demi kebersihan dalam kehidupan beradab, ia juga tidak banyak mengotori dirinya dengan benda-benda kotor. Karena itu, syariat tidak memperlihatkan ketegasan dan tuntutan yang berat kepadanya atas nama mazhab Hanafi; ia memperlihatkan sisi keringanan dan meringankan bebannya. Syariat berkata, "Jika tanganmu telah menyentuh, wudumu tidak batal. Tidak mengapa engkau tidak beristinja dengan air di tengah kerumunan karena malu. Ada fatwa keringanan sebesar satu dirham," lalu membebaskannya dari waswas. Inilah dua tetes dari lautan sebagai contoh bagimu; bandingkanlah yang lain dengan keduanya. Jika engkau dapat menimbang hukum-hukum syariat dengan cara ini menggunakan timbangan Mizan Sya'rani, lakukanlah. ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﻤَﺜَّﻞَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭُ ﻣَﺤَﺒَّﺘِﻚَ ﻟِﺠَﻤَﺎﻝِ ﺻِﻔَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﺍَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺑِﻜَﻮْﻧِﻪ۪ ﻣِﺮْﺍٰﺓً ﺟَﺎﻣِﻌَﺔً ﻟِﺘَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺍَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﻭَ ﻣَﻦْ ﺗَﻤَﺮْﻛَﺰَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺷُﻌَﺎﻋَﺎﺕُ ﻣَﺤَﺒَّﺘِﻚَ ﻟِﺼَﻨْﻌَﺘِﻚَ ﻓ۪ﻰ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺗِﻚَ ﺑِﻜَﻮْﻧِﻪ۪ ﺍَﻛْﻤَﻞَ ﻭَ ﺍَﺑْﺪَﻉَ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﺻَﻴْﺮُﻭﺭَﺗِﻪ۪ ﺍَﻧْﻤُﻮﺫَﺝَ كَمَالَاتِ ﺻَﻨْﻌَﺘِﻚَ ﻭَ ﻓِﻬْﺮِﺳْﺘَﺔَ ﻣَﺤَﺎﺳِﻦِ ﻧُﻘُﻮﺷِﻚَ ﻭَ ﻣَﻦْ ﺗَﻈَﺎﻫَﺮَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻟَﻄَﺎﺋِﻒُ ﻣَﺤَﺒَّﺘِﻚَ ﻭَ ﺭَﻏْﺒَﺘِﻚَ لِاِسْتِحْسَانِ ﺻَﻨْﻌَﺘِﻚَ ﺑِﻜَﻮْﻧِﻪ۪ ﺍَﻋْﻠٰﻰ دَلَّال۪ى ﻣَﺤَﺎﺳِﻦِ ﺻَﻨْﻌَﺘِﻚَ ﻭَ ﺍَﺭْﻓَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﺤْﺴِﻨ۪ﻴﻦَ ﺻَﻮْﺗًﺎ ﻓ۪ﻰ اِعْلَانِ ﺣُﺴْﻦِ ﻧُﻘُﻮﺷِﻚَ ﻭَ ﺍَﺑْﺪَﻋِﻬِﻢْ ﻧَﻌْﺘًﺎ لِكَمَالَاتِ ﺻَﻨْﻌَﺘِﻚَ ﻭَ ﻣَﻦْ ﺗَﺠَﻤَّﻊَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍَﻗْﺴَﺎﻡُ ﻣَﺤَﺒَّﺘِﻚَ ﻭَ ﺍِﺳْﺘِﺤْﺴَﺎﻧِﻚَ ﻟِﻤَﺤَﺎﺳِﻦِ اَخْلَاقِ ﻣَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﻟَﻄَﺎﺋِﻒِ ﺍَﻭْﺻَﺎﻑِ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺗِﻚَ ﺑِﻜَﻮْﻧِﻪ۪ ﺟَﺎﻣِﻌًﺎ ﻟِﻤَﺤَﺎﺳِﻦِ الْاَخْلَاقِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﺑِﺎِﺣْﺴَﺎﻧِﻚَ ﻭَ ﻟِﻠَﻄَﺎﺋِﻒِ الْاَوْصَافِ ﻗَﺎﻃِﺒَﺔً ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﻭَ ﻣَﻦْ ﺻَﺎﺭَ ﻣِﺼْﺪَﺍﻗًﺎ ﺻَﺎﺩِﻗًﺎ ﻭَ ﻣِﻘْﻴَﺎﺳًﺎ ﻓَﺎﺋِﻘًﺎ ﻟِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﻦْ ﺫَﻛَﺮْﺕَ ﻓ۪ﻰ ﻓُﺮْﻗَﺎﻧِﻚَ ﺍِﻧَّﻚَ ﺗُﺤِﺒُّﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮ۪ﻳﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻮَّﺍﺑ۪ﻴﻦَ ﻭَ الْاَوَّاب۪ينَ ﻭَ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ الْاَصْنَافِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﺣْﺒَﺒْﺘَﻬُﻢْ ﻭَ ﺷَﺮَﻓْﺘَﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺤَﺒَّﺘِﻚَ ﻓ۪ﻰ ﻓُﺮْﻗَﺎﻧِﻚَ ﺣَﺘّٰﻰ ﺻَﺎﺭَ ﺍِﻣَﺎﻡَ ﺍﻟْﺤَﺒ۪ﻴﺒ۪ﻴﻦَ ﻟَﻚَ ﻭَ ﺳَﻴِّﺪَ ﺍﻟْﻤَﺤْﺒُﻮﺑ۪ﻴﻦَ ﻟَﻚَ ﻭَ ﺭَﺋ۪ﻴﺲَ ﺍَﻭِﺩَّﺍﺋِﻚَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﻭَ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ

--

TAMBAHAN KALIMAT KEDUA PULUH TUJUH

Mengenai para sahabat

Aku berkata sebagaimana perkataan Maulana Jami: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﭼِﻪ ﺑَﺎﺷَﺪْ ﭼُﻮﻥْ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻛَﻬْﻒْ ﺩَﺍﺧِﻞِ ﺟَﻨَّﺖْ ﺷَﻮَﻡْ ﺩَﺭْ ﺯُﻣْﺮَﻩِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺗُﻮ ﺍُﻭ ﺭَﻭَﺩْ ﺩَﺭْ ﺟَﻨَّﺖْ ﻣَﻦْ ﺩَﺭْ ﺟَﻬَﻨَّﻢْ ﻛَﻰْ ﺭَﻭَﺍﺳْﺖْ ﺍُﻭ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻛَﻬْﻒْ ﻣَﻦْ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺗُﻮ ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُٓ ﺍَﺷِﺪَّٓﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَٓﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ الْاٰيَة ~Kalian bertanya:

Dalam sebagian riwayat terdapat keterangan bahwa, "Ketika bidah tersebar luas, sebagian orang saleh dari ahli iman dan takwa dapat setingkat dengan sahabat atau lebih utama." Apakah riwayat-riwayat ini sahih? Jika sahih, apakah hakikatnya? ~Jawaban:

Ijmak Ahlusunah waljamaah bahwa para sahabat adalah manusia paling utama setelah para nabi merupakan hujah yang pasti bahwa bagian sahih dari riwayat-riwayat itu mengenai keutamaan yang juz'i. Sebab dalam keutamaan yang juz'i dan kesempurnaan tertentu, yang kurang utama dapat melebihi yang lebih utama. Namun, dari segi keutamaan menyeluruh, para sahabat, yang menerima gambaran penuh pujian dari Rabb pada akhir Surah Fath serta pujian dan sanjungan Taurat, Injil, dan Al-Qur'an, tidak dapat disamai. Dari banyak sebab dan hikmah hakikat ini, untuk sementara kami akan menjelaskan tiga hikmah yang mencakup tiga sebab: HIKMAH PERTAMA: Pergaulan dengan Nabi ﷺ adalah ramuan yang begitu ampuh sehingga seseorang yang memperolehnya selama satu menit menerima cahaya-cahaya hakikat setara perjalanan rohani selama bertahun-tahun. Sebab dalam pergaulan terdapat pengaruh yang mewarnai dan pantulan. Telah diketahui bahwa melalui pantulan dan mengikuti, seseorang dapat naik ke tingkatan yang amat tinggi bersama cahaya kenabian yang paling agung itu. Seperti halnya seorang pelayan sultan, karena mengikuti sultan itu, naik ke suatu kedudukan yang tidak dapat dicapai seorang raja. Karena rahasia inilah para wali terbesar tidak dapat naik ke derajat sahabat. Bahkan para wali seperti Jalaluddin Suyuti, yang berkali-kali memperoleh pergaulan dengan Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga, sekalipun bertemu Rasul Yang Paling Mulia ﷺ saat terjaga dan mendapat kehormatan bergaul dengannya dalam alam ini, tetap tidak dapat menyamai sahabat. Sebab para sahabat bergaul dengannya melalui cahaya kenabian Ahmad ﷺ, yakni mereka bergaul dengannya sebagai Nabi. Adapun para wali yang melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ setelah wafatnya Nabi ﷺ, pergaulan mereka berlangsung melalui cahaya kewalian Ahmad ﷺ. Jadi, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang tergambar dan tampak dalam pandangan mereka berasal dari segi kewalian Ahmad ﷺ, bukan dari segi kenabian. Karena demikian, setinggi apa pun derajat kenabian di atas derajat kewalian, sebesar itu pula perbedaan kedua pergaulan tersebut. Betapa pergaulan dengan Nabi ﷺ merupakan ramuan cahaya yang ampuh dapat dipahami dari hal ini: seorang pengembara yang memiliki kekerasan hati begitu liar sampai mengubur putrinya hidup-hidup, datang dan mendapat kehormatan bergaul dengan Nabi ﷺ selama satu jam, lalu memperoleh kasih sayang yang begitu penuh belas kasih sampai tidak dapat lagi menginjak seekor semut.Seorang yang bodoh dan liar juga memperoleh pergaulan dengan Nabi ﷺ selama satu hari; kemudian ia pergi ke negeri-negeri seperti Tiongkok dan India, lalu menjadi guru hakikat serta pembimbing kesempurnaan bagi bangsa-bangsa yang beradab itu. SEBAB KEDUA: Sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam pembahasan ijtihad pada Kalimat Kedua Puluh Tujuh, sebagian besar sahabat berada pada tingkat kesempurnaan manusia yang paling tinggi. Sebab pada zaman itu, dalam perubahan Islam yang amat besar tersebut, kebaikan dan haq terlihat dengan seluruh keindahannya, keburukan dan kebatilan dengan seluruh kejelekannya, dan dirasakan secara nyata. Terbuka perbedaan begitu besar antara keburukan dan kebaikan, serta jarak begitu jauh antara dusta dan kejujuran, sehingga keduanya saling berjauhan sebesar kekufuran dan iman, bahkan sebesar neraka dan surga. Karena Musailamah si Pendusta beserta kata-katanya yang menggelikan menjadi penyeru serta contoh dusta, keburukan, dan kebatilan, para sahabat, yang secara fitrah memiliki perasaan luhur, mencintai akhlak yang tinggi, serta cenderung kepada kehormatan dan kemuliaan, tentu tidak mengulurkan tangan dengan pilihan mereka kepada dusta dan keburukan lalu jatuh ke tingkat kehinaan Musailamah. Dengan memandang maqam Habibullah ﷺ, penyeru serta contoh kejujuran, kebaikan, dan haq, pada a'lâ illiyyîn dalam kesempurnaan, berlari ke arah itu dengan seluruh daya serta tekad merupakan tuntutan watak mereka. Misalnya, kadang dalam pasar peradaban manusia dan toko kehidupan masyarakat, hasil-hasil mengerikan serta dampak buruk suatu barang seperti racun pembunuh, sehingga setiap orang tidak membelinya, bahkan membenci dan menjauhinya dengan seluruh kekuatan. Adapun hasil-hasil indah dan dampak berharga sebagian barang serta barang maknawi seperti penawar yang bermanfaat dan berlian, yang menarik pandangan penuh minat semua orang. Semua orang berusaha membelinya semampu mereka. Begitu pula, di pasar kehidupan masyarakat pada masa Nabi Muhammad ﷺ, karena barang-barang seperti dusta, keburukan, dan kekufuran menghasilkan kesengsaraan abadi serta orang-orang rendah yang menggelikan seperti Musailamah si Pendusta, jelas bahwa para sahabat, yang terpikat oleh watak luhur dan cinta kepada kemuliaan, membenci serta menjauhinya seperti menjauhi racun pembunuh.Dan para sahabat yang memiliki fitrah jernih serta watak luhur itu tentu mencari dan merindukan dengan seluruh daya, perasaan, serta latifahnya kejujuran, haq, dan iman, yang menghasilkan kebahagiaan abadi serta memperlihatkan buah-buah bercahaya seperti Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, laksana penawar paling bermanfaat dan berlian paling berharga. Namun, setelah zaman itu, lambat laun jarak antara kejujuran dan dusta terus berkurang hingga keduanya berdiri bahu-membahu. Seperti keduanya mulai dijual bersama dalam satu toko, akhlak masyarakat pun rusak. Propaganda politik membuat dusta semakin laris. Ketika keburukan dusta yang mengerikan tersembunyi dan keindahan cemerlang berkata benar mulai tidak terlihat, siapakah yang dapat menyamai kekuatan, keteguhan, dan takwa para sahabat dalam keadilan, kejujuran, sifat luhur, serta kebenaran, atau melampaui derajat mereka? Aku akan menjelaskan suatu keadaan yang kualami untuk sedikit menerangi persoalan tadi. Demikianlah: Pada suatu waktu, terlintas dalam hatiku, mengapa pribadi-pribadi luar biasa seperti Muhyiddin Arabi tidak dapat menyamai sahabat? Kemudian ketika aku mengucapkan ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻰَ الْاَعْلٰى dalam salat, makna kalimat ini terbuka. Bukan maknanya sepenuhnya, tetapi sedikit hakikatnya tampak. Aku berkata dalam hati, "Andaikan aku berhasil melaksanakan satu salat dengan keadaan seperti kalimat ini, tentu lebih baik daripada ibadah satu tahun." Setelah salat, aku memahami bahwa pikiran dan keadaan itu merupakan petunjuk bahwa derajat para sahabat dalam ibadah tidak dapat disamai. Ya, dalam perubahan masyarakat yang amat besar yang lahir dari cahaya Al-Qur'an Al-Hakîm itu, ketika hal-hal yang berlawanan muncul dan berpisah satu dari lainnya; ketika keburukan dengan seluruh pengikut, gelap, serta rinciannya, dan kebaikan serta kesempurnaan dengan seluruh cahaya serta hasilnya berhadapan dalam suatu keadaan dan zaman yang menggerakkan perasaan, setiap zikir dan tasbih menyatakan seluruh lapisan maknanya seperti hasil pertama yang baru dipetik, segar, baru, dan muda; ia juga membangunkan seluruh perasaan serta latifah maknawi manusia yang berada di bawah gemuruh perubahan besar itu; bahkan daya-daya batin seperti dugaan, khayal, dan sir menerima serta menyerap berbagai makna dalam zikir dan tasbih tersebut sesuai pengalaman rohani masing-masing, dalam keadaan terjaga dan waspada.Berdasarkan hikmah ini, ketika para sahabat, yang seluruh perasaannya terjaga dan latifahnya waspada, mengucapkan kalimat-kalimat yang diberkahi dan mencakup cahaya iman serta tasbih, mereka mengucapkannya dengan seluruh makna kalimat itu dan mengambil bagian dengan seluruh latifah mereka. Namun, setelah ledakan dan perubahan itu, lambat laun latifah tertidur dan indra lalai terhadap hakikat-hakikat tersebut; kalimat-kalimat yang diberkahi itu, seperti buah-buahan, lambat laun kehilangan kelembutan serta kesegarannya karena tirai kebiasaan. Seakan mengering dalam udara yang dangkal, hanya sedikit kelembapan tersisa, sehingga keadaan sebelumnya hanya dapat dikembalikan melalui usaha tafakur yang kuat. Karena itulah keutamaan dan maqam yang diperoleh seorang sahabat dalam empat puluh menit hanya dapat dicapai orang lain dalam empat puluh hari, bahkan empat puluh tahun. SEBAB KETIGA: Sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Kedua Belas, Kedua Puluh Empat, dan Kedua Puluh Lima, perbandingan kenabian dengan kewalian seperti matahari itu sendiri dibanding gambaran matahari yang terlihat dalam cermin-cermin. Maka setinggi apa pun lingkup kenabian di atas lingkup kewalian, sebesar itu pula keunggulan para sahabat, pelayan lingkup kenabian dan bintang-bintang matahari itu, di atas orang-orang saleh dalam lingkup kewalian. Bahkan jika seorang wali memperoleh warisan kenabian dan siddîqiyah, yakni kewalian agung yang merupakan kewalian para sahabat, ia tetap tidak menyamai maqam para sahabat yang berada di barisan pertama. Dari berbagai segi sebab ketiga ini, kami menjelaskan tiga segi: Segi Pertama: Para sahabat tidak dapat disamai dalam ijtihad, yakni menggali hukum-hukum, yakni memahami hal-hal yang diridai Allah subhânahu dari Kalam-Nya. Sebab perubahan Ilahi yang besar pada zaman itu berpusat pada memahami hal-hal yang diridai Rabb serta Hukum-Hukum Ilahi. Seluruh benak mengarah kepada menggali hukum-hukum. Seluruh hati ingin tahu, "Apa yang diinginkan Rabb kita dari kita?" Keadaan zaman berlangsung dengan cara yang mengandung dan membuat orang merasakan keadaan itu. Percakapan-percakapan terjadi dengan mencakup makna-makna tersebut.Karena itulah, segala sesuatu, setiap keadaan, percakapan, pergaulan, dan kisah berlangsung dengan cara yang sedikit banyak mengajarkan seluruh makna itu, menyempurnakan kemampuan sahabat, serta menerangi pikirannya; kemampuannya dalam ijtihad dan menggali hukum siap bercahaya seperti korek api, sehingga tingkatan menggali hukum dan ijtihad yang ia peroleh dalam satu hari atau satu bulan tidak akan diperoleh seseorang pada zaman ini yang memiliki kecerdasan serta kemampuan setingkat sahabat itu dalam sepuluh tahun, bahkan seratus tahun. Sebab sekarang yang menjadi perhatian ialah kebahagiaan dunia sebagai ganti kebahagiaan abadi. Perhatian manusia mengarah kepada tujuan-tujuan lain. Karena kesulitan mencari nafkah tanpa tawakal membingungkan ruh, dan filsafat tabiat serta materialisme membutakan akal, lingkungan masyarakat manusia tidak memberi kekuatan kepada benak serta kemampuan orang itu dalam ijtihad, bahkan mengacaukan dan menceraiberaikannya. Dalam pembahasan ijtihad pada Kalimat Kedua Puluh Tujuh, melalui perbandingan Sufyan bin Uyainah dengan seseorang yang memiliki kecerdasan setingkat dirinya, kami telah membuktikan bahwa apa yang diperoleh Sufyan dalam sepuluh tahun tidak dapat diperoleh orang yang lain dalam seratus tahun. Segi Kedua: Maqam para sahabat dalam kedekatan kepada Allah subhânahu tidak dapat dicapai dengan langkah kewalian. Sebab Allah subhânahu paling Dekat kepada kita dan lebih Dekat daripada segala sesuatu. Sedangkan kita jauh dari-Nya tanpa batas. Kedekatan kepada-Nya diperoleh melalui dua cara. Pertama: Melalui tersingkapnya Kedekatan Allah subhânahu kepada makhluk; kedekatan dalam kenabian menghadap kepada hal itu, dan para sahabat menerima rahasia tersebut melalui warisan kenabian serta pergaulan dengan Nabi ﷺ. Cara kedua: Dari segi jauhnya kita, melewati tingkatan-tingkatan dan mendapat kehormatan suatu tingkat kedekatan; sebagian besar perjalanan rohani kewalian mengikuti cara itu, dan perjalanan ke dalam diri serta perjalanan ke alam luar berlangsung dengan cara tersebut. Cara pertama murni wahbi, bukan hasil usaha; ia berupa tertarik, Tarikan Ar-Rahmân, dan dicintai. Jalannya pendek, tetapi sangat kukuh, sangat tinggi, sangat murni, dan tanpa bayangan. Yang lain merupakan hasil usaha, panjang, dan berbayang. Sekalipun keajaibannya banyak, dalam nilai dan kedekatan ia tidak dapat menyamai yang pertama. Misalnya, ada dua jalan untuk mencapai hari kemarin pada hari ini: Pertama: Tanpa mengikuti aliran waktu, naik melampaui waktu dengan suatu kekuatan suci, lalu melihat kemarin hadir seperti hari ini. Kedua: Menempuh jarak satu tahun, berputar, lalu sampai kepada hari kemarin.Namun, ia tetap tidak dapat memegang hari kemarin, lalu meninggalkannya dan berlalu. Begitu pula, beralih dari yang lahiriah menuju hakikat terjadi melalui dua cara: Pertama: Langsung terseret oleh daya tarik hakikat dan menemukan hakikat di dalam yang lahiriah itu sendiri, tanpa memasuki perantara tarekat. Kedua: Melewati banyak tingkatan melalui perjalanan rohani. Sekalipun para wali berhasil membuat nafsu fana dan mematikan nafsu ammarah, mereka tetap tidak dapat menyamai sahabat. Sebab nafsu para sahabat telah dibuat suci dan bersih; melalui banyak perangkat dalam hakikat nafsu, mereka lebih banyak memperoleh berbagai jenis ubudiyah serta bagian-bagian syukur dan pujian. Setelah nafsu menjadi fana, ubudiyah para wali menjadi lebih sederhana. Segi Ketiga: Para sahabat tidak dapat disamai dalam keutamaan amal, pahala perbuatan, dan keutamaan akhirat. Sebab seorang prajurit, dalam syarat-syarat tertentu, dapat memperoleh keutamaan setara ibadah satu tahun dengan berjaga selama satu jam di suatu tempat penting dan menakutkan; dan dengan terkena satu peluru dalam satu menit, ia naik ke suatu maqam seperti derajat kewalian yang baru dapat diperoleh setidaknya dalam empat puluh hari. Begitu pula, khidmah para sahabat dalam mendirikan Islam dan menyebarkan Hukum-Hukum Al-Qur'an, serta menyatakan perang kepada seluruh dunia demi Islam, begitu tinggi sehingga orang lain tidak dapat menyamai satu menitnya dalam satu tahun. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh menit mereka — dalam khidmah suci itu — seperti menit prajurit yang gugur tersebut. Seluruh jam mereka seperti penjagaan seorang prajurit yang rela berkorban dan berjaga satu jam di tempat yang mengerikan; amalnya sedikit, upahnya banyak, nilainya tinggi. Ya, karena para sahabat membentuk barisan pertama dalam mendirikan Islam dan menyebarkan cahaya Al-Qur'an, menurut rahasia ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ mereka memperoleh bagian dari kebaikan seluruh umat. Ucapan umat ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ menunjukkan bahwa para sahabat memiliki bagian dalam kebaikan seluruh umat. Seperti halnya kelebihan kecil pada akar pohon mengambil bentuk yang besar pada dahan-dahannya dan lebih besar daripada satu dahan besar. Seperti halnya kenaikan kecil pada awal lambat laun membentuk jumlah yang besar. Seperti halnya tambahan sebesar ujung jarum di dekat titik pusat kadang setara tambahan sebesar satu meter pada lingkaran luar.Tepat seperti empat contoh ini, karena para sahabat merupakan akar dan dasar pohon Islam yang bercahaya, berada pada awal garis-garis bercahaya bangunan Islam, termasuk para imam jemaah Islam dan yang pertama di antara mereka, serta dekat dengan pusat Matahari Kenabian dan Pelita Hakikat ﷺ, amal mereka yang sedikit menjadi banyak dan khidmah mereka yang kecil menjadi besar. Untuk menyamai mereka, seseorang harus menjadi sahabat yang sesungguhnya. ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻗَﺎﻝَ:ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﻛَﺎﻟﻨُّﺠُﻮﻡِ ﺑِﺎَﻳِّﻬِﻢْ ﺍِﻗْﺘَﺪَﻳْﺘُﻢْ ﺍِﻫْﺘَﺪَﻳْﺘُﻢْ ﻭَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻘُﺮُﻭﻥِ ﻗَﺮْﻧ۪ﻰ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ~Pertanyaan:

Dikatakan: Para sahabat melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, kemudian beriman. Sedangkan kami beriman tanpa melihat. Maka iman kami lebih kuat. Bukankah ada pula riwayat yang menunjukkan kekuatan iman kami? ~Jawaban:

Pada zaman itu, ketika pendapat umum seluruh alam menentang dan melawan hakikat-hakikat Islam, para sahabat hanya melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dalam rupa manusiawinya, kadang tanpa mukjizat, lalu memiliki iman sedemikian rupa sehingga seluruh pendapat umum alam tidak dapat mengguncangkan iman mereka. Pada sebagian mereka, bukan hanya syubhat, bahkan waswas pun tidak ditimbulkannya. Sedangkan kalian membandingkan iman kalian dengan iman para sahabat. Padahal seluruh pendapat umum Islam memberi kekuatan dan sandaran kepada iman kalian; dengan mata akal kalian melihat, bukan kemanusiaan dan bentuk jasmani Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang merupakan benih pohon Tuba kenabiannya, melainkan pribadi maknawinya yang bercahaya dan megah dengan seluruh cahaya Islam serta hakikat Al-Qur'an, dikelilingi seribu mukjizat; lalu di manakah iman kalian yang jatuh ke dalam waswas dan syubhat karena perkataan seorang filsuf Eropa? Dan di manakah iman para sahabat yang tidak terguncang menghadapi serangan seluruh alam kekufuran, kaum Nasrani, Yahudi, serta filsuf? Di manakah takwa mereka yang begitu kuat dan kesalehan mereka yang sempurna, yang menunjukkan kekuatan iman para sahabat dan merupakan limpahan iman mereka? Wahai orang yang mengajukan klaim! Di manakah imanmu yang redup, yang karena begitu lemahnya tidak memperlihatkan seluruh kewajiban melalui dirimu? Adapun riwayat yang terdapat dalam hadis dengan makna, "Pada akhir zaman, orang yang tidak melihatku dan beriman lebih diterima," mengenai keutamaan tertentu. Ia mengenai pribadi-pribadi khusus. Sedangkan pembahasan kita mengenai keutamaan menyeluruh dan sebagian besar orang. ~Pertanyaan Kedua:

Mereka berkata: Para wali dan pemilik kesempurnaan telah meninggalkan dunia. Bahkan dalam hadis terdapat keterangan, "Cinta dunia adalah pangkal seluruh kesalahan." Padahal para sahabat sangat banyak masuk ke dalam dunia; alih-alih meninggalkan dunia, sebagian sahabat bahkan melampaui orang-orang beradab pada zaman itu. Bagaimana kalian berkata bahwa sahabat yang paling rendah seperti ini bernilai sebesar wali yang paling agung? ~Jawaban:

Dalam Bagian Kedua dan Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua telah dibuktikan secara amat pasti bahwa mencintai wajah dunia yang menghadap kepada akhirat serta wajahnya yang berhadapan dengan Asma Ilahi bukan sebab kekurangan, melainkan dasar kesempurnaan; semakin maju seseorang dalam kedua wajah itu, semakin maju pula ia dalam ibadah serta makrifatullah. Dunia para sahabat berada pada kedua wajah ini. Mereka memandang dunia sebagai ladang akhirat, lalu menanam dan menuainya. Mereka memandang segala wujud sebagai cermin Asma Ilahi, lalu menyaksikan serta memandangnya dengan penuh kerinduan. Adapun dunia yang fana ialah wajahnya yang fana, yang menghadap kepada keinginan manusia. ~Pertanyaan Ketiga:

Tarekat-tarekat merupakan jalan menuju hakikat. Mengenai jalan Naqsyabandiyah, yang diklaim paling terkenal, paling tinggi, serta jalan raya terbesar di antara tarekat-tarekat, sebagian tokoh dan imam tarekat itu telah menjelaskan dasarnya seperti ini. Mereka berkata: ﺩَﺭْ ﻃَﺮ۪ﻳﻖِ ﻧَﻘْﺸِﺒَﻨْﺪ۪ﻯ لَازِمْ ﺍٰﻣَﺪْ ﭼَﺎﺭْ ﺗَﺮْﻙْ: ﺗَﺮْﻙِ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺗَﺮْﻙِ ﻋُﻘْﺒٰﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﻫَﺴْﺘ۪ﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﺗَﺮْﻙْ Yakni, dalam jalan Naqsyabandiyah perlu meninggalkan empat hal: tidak menjadikan dunia maupun akhirat demi nafsu sebagai tujuan yang sesungguhnya, melupakan wujud diri, serta tidak memikirkan tindakan meninggalkan hal-hal itu agar tidak masuk ke dalam ujub dan kebanggaan diri. Jadi, makrifatullah yang sesungguhnya serta kesempurnaan manusia dicapai dengan meninggalkan segala selain Allah subhânahu? ~Jawaban:

Jika manusia hanya terdiri atas satu hati, ia perlu meninggalkan segala selain Allah subhânahu, bahkan Asma dan Sifat sekalipun, dan hanya mengikatkan hati kepada Zat Allah subhânahu. Namun, manusia memiliki banyak latifah dan indra yang bertugas, seperti akal, ruh, sir, dan nafsu. Manusia sempurna ialah orang yang mengarahkan seluruh latifah itu kepada hakikat, masing-masing dalam jalan ubudiyah yang khusus baginya, sehingga hati berjalan dengan gagah menuju tujuan seperti seorang panglima bersama pasukan latifahnya, dalam lingkup yang luas dan cara yang kaya seperti para sahabat. Jika hati meninggalkan pasukannya dan pergi sendirian hanya untuk menyelamatkan dirinya, hal itu bukan dasar kebanggaan, melainkan hasil keadaan terpaksa. ~Pertanyaan Keempat:

Dari mana timbul klaim lebih unggul daripada sahabat? Siapa yang menimbulkannya? Mengapa persoalan ini dibicarakan pada zaman ini? Dari mana pula timbul klaim setara dengan para mujtahid agung? ~Jawaban:

Orang yang membicarakan persoalan ini ada dua golongan: Sebagiannya ialah orang-orang beragama dan ahli ilmu yang tulus; mereka melihat beberapa hadis dan membuka pembahasan semacam itu untuk mendorong serta membangkitkan semangat orang-orang yang bertakwa dan saleh pada zaman ini. Kami tidak memiliki keberatan terhadap golongan ini. Mereka memang sedikit dan segera sadar. Adapun golongan lainnya ialah orang-orang sombong yang sangat mengerikan; mereka ingin menyebarkan sikap tidak bermazhab mereka di bawah klaim setara dengan para mujtahid agung, dan melaksanakan sikap tidak beragama mereka di bawah klaim setara dengan sahabat. Sebab: Pertama: Orang-orang yang sesat itu telah masuk ke dalam hidup mengumbar hawa nafsu dan menjadi kecanduan; mereka tidak dapat menjalankan kewajiban syariat yang menghalanginya. Untuk mencari alasan bagi dirinya, mereka berkata, "Persoalan-persoalan ini menyangkut ijtihad. Dalam persoalan itu, mazhab-mazhab saling berbeda. Mereka pun manusia seperti kita dan dapat salah. Maka kita juga berijtihad seperti mereka dan beribadah menurut keinginan kita. Apa yang mengharuskan kita mengikuti mereka?" Dengan tipu daya setan ini, orang-orang malang tersebut melepaskan kepala mereka dari rantai mazhab. Karena betapa rapuh dan tanpa dasarnya klaim mereka telah ditunjukkan secara pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh, kami menyerahkan penjelasannya ke sana. Kedua: Golongan orang sesat itu melihat bahwa urusan tidak selesai pada para mujtahid. Yang berada di bahu mereka hanyalah perkara-perkara agama yang memerlukan penalaran. Padahal golongan orang sesat ini ingin meninggalkan dan mengubah perkara-perkara pokok agama yang pasti. Jika berkata, "Kita lebih baik daripada mereka," urusan mereka belum selesai. Sebab para mujtahid dapat menangani perkara-perkara yang memerlukan penalaran serta rincian yang belum pasti. Namun, karena orang-orang sesat yang tidak bermazhab ini ingin mencampurkan pikiran mereka bahkan ke dalam perkara-perkara pokok agama, mengubah persoalan-persoalan yang tidak dapat diubah, dan menentang rukun-rukun Islam yang pasti, tentu mereka akan menyerang para sahabat, pemikul serta tiang perkara-perkara pokok agama. Sungguh mustahil! Bukan hanya binatang berwujud manusia seperti mereka; bahkan manusia sejati dan para wali agung, manusia sejati yang paling sempurna, tidak dapat memenangkan klaim setara dengan sahabat yang kecil; hal itu telah dibuktikan secara amat pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh. ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻗَﺎﻝَ: لَاتَسُبُّوا ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﻟَﻮْ ﺍَﻧْﻔَﻖَ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣِﺜْﻞَ ﺍُﺣُﺪٍ ﺫَﻫَﺒًﺎ ﻣَﺎ ﺑَﻠَﻎَ ﻧِﺼْﻒَ ﻣُﺪٍّ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﺻَﺪَﻕَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

--