Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kalimat Kedua Puluh Delapan

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Kalimat Kedua Puluh Delapan

Kalimat ini mengenai surga.

Kalimat ini memiliki dua maqam. Maqam Pertama menunjuk kepada beberapa keindahan halus surga. Namun, ia tidak membahas bukti adanya surga, yang telah dibuktikan secara amat pasti dengan dua belas hakikat yang tegas dalam Kalimat Kesepuluh, serta dengan sangat terang dalam Maqam Kedua Kalimat ini melalui hujah pasti berbahasa Arab yang saling bersambung dan amat kukuh, yang merupakan ringkasan serta dasar Kalimat Kesepuluh; pada maqam ini ia hanya membahas beberapa keadaan surga yang menjadi bahan pertanyaan, jawaban, dan kritik. Jika Pertolongan Ilahi menyertai, kelak akan ditulis suatu Kalimat besar mengenai hakikat yang agung itu, insyaallah. ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺍَﻥَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ الْاَنْهَارُ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺭُﺯِﻗُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻤَﺮَﺓٍ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺭُﺯِﻗْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَ ﺍُﺗُﻮﺍ ﺑِﻪ۪ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬًﺎ ﻭَ ﻟَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَٓﺎ ﺍَﺯْﻭَﺍﺝٌ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓٌ ﻭَﻫُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ

Jawaban singkat atas beberapa pertanyaan mengenai surga yang kekal.

Penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an mengenai surga, yang lebih indah daripada surga, lebih lembut daripada bidadarinya, dan lebih manis daripada Salsabilnya, tidak menyisakan perkataan bagi siapa pun untuk mengatakan sesuatu lebih dari itu. Namun, untuk mendekatkan ayat-ayat yang cemerlang, azali dan abadi, luhur dan indah itu kepada pemahaman, kami akan menyebut beberapa anak tangga serta beberapa makna halus seperti contoh bunga-bunga dari surga Al-Qur'an tersebut. Kami akan mengisyaratkannya melalui lima pertanyaan dan jawaban yang mengandung isyarat. Ya, sebagaimana surga menjadi tempat segala kenikmatan rohani, ia juga menjadi tempat segala kenikmatan jasmani. ~Pertanyaan:

Apa hubungan jasmani yang bercacat, tidak sempurna, berubah-ubah, tidak tetap, dan penuh rasa sakit dengan hidup yang kekal serta surga? Karena ruh memiliki kenikmatan yang luhur, itu telah mencukupinya. Mengapa hasyr jasmani diperlukan untuk kenikmatan jasmani? ~Jawaban:

Sebab, sebagaimana tanah lebih padat dan gelap dibanding air, udara, serta cahaya, tetapi karena menjadi asal dan dasar seluruh jenis ciptaan Ilahi, ia naik secara maknawi di atas seluruh unsur lainnya; dan sebagaimana nafsu manusia yang padat, karena rahasia mencakup banyak hal, naik di atas seluruh latifah manusia dengan syarat menjadi suci; begitu pula jasmani merupakan cermin Tajalli Asma Ilahi yang paling menyeluruh, paling meliputi, dan paling kaya. Alat-alat untuk menimbang serta mengukur seluruh simpanan khazanah Rahmat terdapat dalam jasmani. Misalnya, jika daya pengecap pada lidah tidak menjadi asal timbangan sebanyak jenis makanan dalam menikmati rezeki, ia tidak akan merasakan dan mengenali masing-masing secara terpisah, serta tidak akan dapat mengecap dan menimbangnya. Perangkat untuk merasakan dan mengetahui, menikmati dan mengenali Tajalli sebagian besar Asma Ilahi juga terdapat dalam jasmani. Kemampuan untuk merasakan kenikmatan yang sangat beragam dan amat berbeda satu dari lainnya juga terdapat dalam jasmani. Karena — sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Kesebelas — dari perjalanan alam dan sifat manusia yang mencakup banyak hal dipahami secara pasti bahwa Sang Pembuat alam ini ingin memperkenalkan seluruh khazanah Rahmat-Nya melalui alam, memberitahukan seluruh Tajalli Asma-Nya, serta membuat manusia mengecap seluruh jenis anugerah-Nya, tentu negeri kebahagiaan, yang merupakan kolam terbesar bagi aliran alam ini, pameran terbesar hasil-hasil yang dikerjakan alat kerja alam ini, serta gudang abadi ladang dunia ini, akan menyerupai alam ini sampai suatu tingkat. Ia akan memelihara seluruh dasar jasmani dan rohaninya. Dan Sang Pembuat yang Hakîm, Sang 'Âdil yang Rahîm itu tentu akan memberikan kenikmatan yang layak bagi alat-alat jasmani sebagai upah tugas-tugasnya, balasan khidmahnya, serta pahala ibadahnya yang khusus. Jika tidak, akan terjadi keadaan yang bertentangan dengan Hikmah, Keadilan, dan Rahmat-Nya, yang sama sekali tidak sesuai dan tidak dapat dipadukan dengan Keindahan Rahmat-Nya serta Kesempurnaan Keadilan-Nya. ~Pertanyaan:

Jika tubuh memiliki kehidupan, bagian-bagian badannya terus tersusun dan terurai, sehingga ditetapkan akan hancur dan tidak dapat memperoleh hidup yang kekal. Makan dan minum adalah untuk mempertahankan hidup pribadi, sedangkan hubungan suami istri untuk mempertahankan jenis; karena itulah semuanya menjadi dasar dalam alam ini. Dalam alam yang kekal dan alam akhirat, hal-hal itu tidak diperlukan. Mengapa semuanya termasuk kenikmatan terbesar surga? ~Jawaban:

Pertama, tubuh yang hidup di alam ini ditetapkan akan hancur dan mati karena pemasukan serta pengeluarannya tidak seimbang. Dari masa kanak-kanak hingga usia matang, pemasukan banyak; setelah itu pengeluaran bertambah, keseimbangan hilang, dan tubuh pun mati. Dalam alam yang kekal, zarah-zarah tubuh tetap dan tidak mengalami proses tersusun serta terurai, atau keseimbangan tetap terjaga, {(Catatan kaki): Di dunia ini, tubuh manusia dan binatang seolah merupakan rumah tamu, barak, serta sekolah bagi zarah-zarah; zarah-zarah yang tidak bernyawa masuk ke dalamnya, memperoleh kelayakan untuk menjadi zarah bagi alam kekal yang hidup, lalu keluar. Adapun di akhirat, menurut rahasia ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَ الْاٰخِرَةَ ﻟَﻬِﻰَ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥُ, cahaya kehidupan meliputi semuanya di sana. Untuk bercahaya, perjalanan, bimbingan, serta pelajaran itu tidak diperlukan. Zarah-zarah dapat tetap berada sebagai bagian yang permanen.} pemasukan dan pengeluaran seimbang. Seperti perputaran tanpa ujung, tubuh yang hidup menjadi kekal seraya alat kerja kehidupan jasmani dijalankan untuk menikmati berbagai kenikmatan. Sekalipun makan, minum, dan hubungan suami istri di dunia ini berawal dari kebutuhan dan menuju suatu tugas, sebagai upah yang diberikan segera atas tugas itu, berbagai kenikmatan yang begitu lezat telah diletakkan di dalamnya sehingga melampaui kenikmatan lainnya. Karena di negeri rasa sakit ini makan dan pernikahan menjadi sarana kenikmatan yang begitu menakjubkan serta berbeda-beda, tentu di surga, negeri kenikmatan dan kebahagiaan, kenikmatan-kenikmatan itu mengambil bentuk yang begitu luhur; dengan menambahkan upah akhirat bagi tugas dunia sebagai kenikmatan, dan menambahkan pula kebutuhan dunia dalam bentuk selera yang menyenangkan di akhirat, ia menjadi sumber kenikmatan hidup yang paling menyeluruh, layak bagi surga serta sesuai dengan hidup yang kekal. Ya, menurut rahasia ﻭَﻣَﺎ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَٓﺎ اِلَّا ﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﻟَﻌِﺐٌ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَ الْاٰخِرَةَ ﻟَﻬِﻰَ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥُ, benda-benda yang tidak bernyawa, tidak berkesadaran, dan tidak hidup di negeri dunia ini memiliki kesadaran serta kehidupan di sana. Pohon-pohon di sana seperti manusia di sini, batu-batu di sana seperti binatang di sini; mereka memahami perintah dan melaksanakannya. Jika engkau berkata kepada pohon, "Bawakan buah tertentu kepadaku," ia membawakannya. Jika engkau berkata kepada batu tertentu, "Kemarilah," ia datang. Karena batu dan pohon mengambil bentuk yang begitu luhur, tentu makan, minum, dan pernikahan juga, seraya memelihara hakikat jasmaninya, harus mengambil bentuk yang lebih tinggi daripada tingkat dunianya, setinggi derajat surga di atas dunia. ~Pertanyaan:

Menurut rahasia ﺍَﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺍَﺣَﺐَّ, "Seorang sahabat akan bersama sahabatnya di surga." Padahal seorang pengembara sederhana memperoleh cinta demi Allah subhânahu dalam satu menit pergaulan dengan Nabi ﷺ; dengan cinta itu ia harus berada di sisi Nabi ﷺ di surga. Namun, bagaimana limpahan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang menerima limpahan tanpa batas, menyatu dengan limpahan seorang pengembara sederhana? ~Jawaban:

Kami mengisyaratkan hakikat luhur ini melalui suatu perumpamaan: misalnya, dalam sebuah kebun yang amat indah dan gemerlap, seorang pribadi agung menyiapkan jamuan yang sangat besar serta tempat menikmati pemandangan yang sangat berhias, dengan cara yang mencakup seluruh kenikmatan makanan yang dapat dirasakan daya pengecap, meliputi seluruh keindahan yang menyenangkan daya penglihatan, memuat seluruh keajaiban yang menyenangkan daya khayal, dan seterusnya... Ia memasukkan segala sesuatu yang membelai serta memuaskan seluruh indra lahir dan batin. Kini ada dua sahabat. Mereka pergi bersama ke jamuan itu. Mereka duduk di satu ruang dan satu meja. Namun, karena daya pengecap salah satunya sangat lemah, ia hanya memperoleh kenikmatan yang juz'i. Penglihatannya juga lemah. Ia tidak memiliki daya penciuman. Ia tidak memahami seni-seni yang menakjubkan. Ia tidak mengenal hal-hal luar biasa. Ia hanya dapat menikmati dan mengambil manfaat dari seperseribu, bahkan mungkin sepersejuta tempat indah itu menurut kemampuannya. Adapun yang lain, seluruh indra lahir dan batinnya, akal, hati, perasaan, serta latifahnya begitu sempurna dan telah berkembang sedemikian rupa sehingga ia merasakan serta menikmati setiap kehalusan, keindahan, kelembutan, dan keajaiban tempat itu secara terpisah, lalu memperoleh kenikmatan yang berbeda-beda, seraya tetap berdiri bahu-membahu dengan sahabatnya. Karena di dunia yang kacau, penuh rasa sakit, dan sempit ini hal itu terjadi, yang paling kecil dan paling besar berada bersama, tetapi terdapat perbedaan dari bumi hingga bintang Suraya, tentu lebih-lebih lagi di surga, negeri kebahagiaan dan hidup yang kekal, ketika sahabat bersama sahabatnya, masing-masing mengambil bagiannya dari hidangan Ar-Rahmân Ar-Rahîm menurut kemampuannya, sebesar kesiapan masing-masing. Sekalipun surga tempat mereka berada berbeda, hal itu tidak menghalangi mereka bersama. Sebab walaupun delapan lapisan surga lebih tinggi satu dari lainnya, atap semuanya adalah Arasy Teragung. Sebagaimana jika di sekeliling gunung berbentuk kerucut terdapat lingkaran-lingkaran bertembok dari dasar hingga puncaknya, satu di dalam yang lain dan lebih tinggi satu dari lainnya; lingkaran-lingkaran itu berada di atas satu sama lain, tetapi tidak menghalangi satu sama lain melihat matahari, dapat dilewati dari satu ke lainnya, dan saling menghadap; berbagai riwayat hadis mengisyaratkan bahwa surga-surga pun memiliki keadaan yang mendekati cara ini. ~Pertanyaan:

Dalam hadis-hadis dikatakan, "Sekalipun bidadari mengenakan tujuh puluh jubah, sumsum tulang betis mereka terlihat." Apa maksudnya? Apa maknanya? Keindahan seperti apa itu? ~Jawaban:

Maknanya sangat indah dan keindahannya sangat manis. Demikianlah: Di dunia yang buruk, mati, tidak bernyawa, dan sebagian besarnya hanya kulit ini, cukuplah keindahan serta keelokan tampak indah bagi mata dan tidak menghalangi keakraban. Namun, di surga yang indah, hidup, cemerlang, seluruhnya inti tanpa kulit dan isi tanpa cangkang, seperti mata, seluruh perasaan serta latifah manusia ingin memperoleh bagiannya dalam kenikmatan secara terpisah dan berbagai kesenangannya dari bidadari yang merupakan makhluk yang lembut, serta dari para perempuan dunia di surga yang datang dari dunia, yang seperti bidadari bahkan lebih indah. Jadi, hadis itu mengisyaratkan bahwa mulai dari keindahan jubah yang paling luar hingga sumsum di dalam tulang, masing-masing menjadi sumber kenikmatan bagi suatu indra dan suatu latifah. Ya, melalui ungkapan "Bidadari mengenakan tujuh puluh jubah dan sumsum tulang betis mereka terlihat," hadis yang mulia mengisyaratkan bahwa bidadari mencakup segala jenis hiasan, keindahan, dan keelokan materi serta maknawi, yang memuaskan dan mengenyangkan seluruh perasaan, indra, daya, serta latifah manusia yang mencintai keindahan, menikmati kesenangan, terpikat oleh hiasan, serta merindukan keelokan; semuanya membelai dan membahagiakan masing-masing secara terpisah. Jadi, sebagaimana bidadari mengenakan tujuh puluh corak dari berbagai hiasan surga, dengan cara yang tidak saling menutupi karena bukan satu jenis, mereka juga memperlihatkan bagian-bagian keindahan serta keelokan yang berbeda dari wujud, nafsu, dan tubuh mereka, bahkan pada lebih dari tujuh puluh tingkatan. Mereka memperlihatkan hakikat isyarat ﻭَﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬ۪ﻴﻪِ الْاَنْفُسُ ﻭَﺗَﻠَﺬُّ الْاَعْيُنُ. Karena di surga tidak ada zat yang tidak diperlukan, hanya berupa kulit, atau berlebih, hadis yang mulia juga menjelaskan bahwa penghuni surga tidak memiliki kotoran sisa setelah makan dan minum. Karena di dunia yang rendah ini, pohon-pohon, makhluk hidup yang paling biasa, tidak memiliki kotoran sisa sekalipun menerima banyak makanan, mengapa penghuni surga, tingkat kehidupan paling tinggi, tidak dapat tanpa kotoran sisa? ~Pertanyaan:

Dalam hadis-hadis yang mulia dikatakan, "Sebagian penghuni surga diberi tempat sebesar dunia dan dianugerahi ratusan ribu istana serta ratusan ribu bidadari." Untuk apa begitu banyak hal bagi satu orang, apa kebutuhannya, bagaimana hal itu dapat terjadi, dan apa maksudnya? ~Jawaban:

Jika manusia hanya merupakan tubuh yang tidak bernyawa, atau makhluk seperti tumbuhan yang hanya terdiri atas perut, atau hanya pribadi jasmani serta tubuh binatang yang terbatas, berat, sementara, dan sederhana, ia tidak layak memiliki begitu banyak istana dan bidadari. Namun, manusia merupakan mukjizat Kudrat yang begitu menyeluruh sehingga bahkan di dunia yang fana ini, dalam umur yang pendek ini, dari segi kebutuhan beberapa latifahnya yang belum berkembang, sekalipun seluruh kekuasaan, kekayaan, serta kenikmatan dunia diberikan kepadanya, mungkin keserakahannya belum puas. Sedangkan bagi manusia yang berada di negeri kebahagiaan yang kekal, memiliki kemampuan tanpa batas, dan mengetuk pintu Rahmat tanpa batas dengan bahasa kebutuhan tanpa batas serta tangan keinginan tanpa batas, menjadi penerima anugerah-anugerah Ilahi yang dijelaskan dalam hadis-hadis tentu masuk akal, haq, dan merupakan hakikat. Kami akan mengamati hakikat luhur ini melalui teropong perumpamaan. Demikianlah: Sekalipun setiap kebun dan taman Barla ini, seperti kebun di lembah ini {(Catatan kaki): Kebun milik Süleyman, yang selama delapan tahun berkhidmah kepada diriku yang fakir ini dengan kesetiaan sempurna; Kalimat ini ditulis di sana dalam satu atau dua jam.}, memiliki pemilik yang berbeda, setiap burung, setiap burung pipit, dan setiap lebah di Barla, yang dari segi makanannya hanya memiliki segenggam pakan, dapat berkata, "Seluruh kebun dan taman Barla adalah tempatku berjalan dan menikmati pemandangan." Ia menguasai Barla dan memasukkannya ke dalam lingkup miliknya. Keikutsertaan yang lain tidak merusak ketetapannya itu. Manusia yang benar-benar manusia juga dapat berkata, "Khâliq-ku telah menjadikan dunia ini rumah bagiku, matahari sebuah lampu bagiku, bintang-bintang lampu-lampu listrikku, dan bumi sebuah buaian bagiku yang dihampari karpet berbunga-bunga," lalu bersyukur kepada Allah subhânahu. Keikutsertaan makhluk lain tidak membatalkan ketetapannya itu. Bahkan makhluk-makhluk memperindah rumahnya. Mereka tetap menjadi hiasan rumah itu. Jika di dunia yang sempit ini manusia, karena kemanusiaannya, bahkan seekor burung sekalipun, dapat mengklaim suatu bentuk tasarruf dalam lingkup yang begitu besar dan menerima nikmat yang amat besar, bagaimana dapat dianggap tidak mungkin menganugerahkan kepadanya milik seluas jarak lima ratus tahun di negeri kebahagiaan yang luas dan kekal?Sebagaimana matahari hadir dengan sama dalam banyak cermin sekaligus di dunia yang padat, gelap, dan sempit ini, begitu pula suatu pribadi bercahaya hadir dengan sama di banyak tempat sekaligus — sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Keenam Belas — misalnya, Jibril alaihissalâm berada pada seribu bintang sekaligus, di arasy, di hadapan Nabi ﷺ, serta di Hadirat Ilahi pada satu waktu; Nabi ﷺ bertemu dengan sebagian besar umatnya yang bertakwa pada hasyr sekaligus, dan tampak di tempat-tempat tanpa batas di dunia sekaligus; para abdal, salah satu jenis wali yang menakjubkan, terlihat di banyak tempat pada satu waktu; orang awam kadang melakukan dan menyaksikan pekerjaan setara satu tahun dalam satu menit melalui mimpi; serta setiap orang, dari segi hati, ruh, dan khayalnya, berhubungan dan berada dengan keterlibatan pada banyak tempat sekaligus; karena semuanya telah diketahui dan disaksikan... Tentu, di surga yang bercahaya, tidak terikat, luas, dan kekal, penghuni surga yang tubuhnya kuat dan ringan seperti ruh serta cepat seperti khayal berada pada seratus ribu tempat dalam satu waktu, bergaul dengan seratus ribu bidadari, dan menikmati dengan seratus ribu cara. Semua itu layak bagi surga abadi serta Rahmat tanpa batas itu, dan merupakan haq serta hakikat sebagaimana diberitakan Sang Pembawa Kabar yang Jujur ﷺ. Namun, hakikat-hakikat yang agung itu tidak dapat ditimbang dengan timbangan akal kita yang sangat kecil ini.

Akal kecil ini tidak dituntut memahami perkara-perkara luhur.

Sebab timbangan ini tidak mampu menanggung beban sebesar itu.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺣَﺒ۪ﻴﺒِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻓَﺘَﺢَ ﺍَﺑْﻮَﺍﺏَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺑِﺤَﺒ۪ﻴﺒِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَ بِصَلَاتِه۪ ﻭَ ﺍَﻳَّﺪَﺗْﻪُ ﺍُﻣَّﺘُﻪُ ﻋَﻠٰﻰ ﻓَﺘْﺤِﻬَﺎ ﺑِﺼَﻠَﻮَﺍﺗِﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍَﺩْﺧِﻠْﻨَﺎ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣَﻊَ الْاَبْرَارِ ﺑِﺸَﻔَﺎﻋَﺔِ ﺣَﺒ۪ﻴﺒِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﺎﺭِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

TAMBAHAN KECIL PADA KALIMAT MENGENAI SURGA

Mengenai Neraka

Sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Kedua dan Kedelapan, iman membawa benih surga maknawi. Kekufuran pun menyimpan benih neraka maknawi. Sebagaimana kekufuran merupakan benih neraka, neraka juga merupakan buahnya. Sebagaimana kekufuran menjadi sebab seseorang masuk neraka, ia juga menjadi sebab adanya serta diciptakannya neraka. Sebab apabila seorang penguasa kecil memiliki sedikit kehormatan, semangat menjaga kehormatannya, serta keagungan, lalu orang yang tidak tahu adab berkata kepadanya dengan membangkang, "Engkau tidak akan dan tidak dapat menghukumku," tentu sekalipun di tempat itu tidak ada penjara, ia akan membuat penjara khusus untuk orang yang tidak tahu adab tersebut dan memasukkannya ke sana. Padahal dengan mengingkari neraka, orang kafir mendustakan dan menisbatkan kelemahan kepada Zat yang memiliki Kehormatan, Kecemburuan menjaga Kehormatan, dan Keagungan tanpa batas, yang amat Besar dan Mahakuasa tanpa batas; ia menuduh-Nya berdusta dan lemah, melukai Kehormatan-Nya dengan keras, menyentuh Kecemburuan-Nya dengan mengerikan, serta menyerang Keagungan-Nya dengan membangkang. Tentu, dengan pengandaian yang mustahil, sekalipun sama sekali tidak ada sebab adanya neraka, neraka akan diciptakan untuk kekufuran yang mencakup pendustaan serta tuduhan kelemahan sebesar ini, dan orang kafir itu akan dilemparkan ke dalamnya. ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫٰﺬَﺍ بَاطِلًا ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

--