Kalimat Keempat Belas
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍﻟٓﺮٰ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺍُﺣْﻜِﻤَﺖْ ﺍٰﻳَﺎﺗُﻪُ ﺛُﻢَّ ﻓُﺼِّﻠَﺖْ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻥْ ﺣَﻜ۪ﻴﻢٍ ﺧَﺒ۪ﻴﺮٍ Untuk mencapai sebagian hakikat yang tinggi dan luhur dalam Al-Qur'an Al-Hakîm dan hadis, penafsir sejati Al-Qur'an, kami akan menunjukkan sebagian padanan hakikat-hakikat itu. Padanan ini menjadi anak tangga yang membantu hati yang belum sepenuhnya berserah diri dan taat. Pada bagian penutupnya akan diterangkan suatu pelajaran untuk diambil sebagai ibrah dan suatu rahasia Perhatian Allah subhânahu. Padanan kebangkitan dan kiamat di antara hakikat-hakikat itu telah disebutkan dalam Kalimat Kesepuluh, terutama dalam Hakikat Kesembilan. Karena itu, tidak perlu diulang. Kami hanya menyebutkan lima persoalan sebagai contoh dari hakikat-hakikat lainnya. Pertama: Sebagai contoh, ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻓ۪ﻰ ﺳِﺘَّﺔِ ﺍَﻳَّﺎﻡٍ berarti, "Kami menciptakan langit dan bumi dalam enam hari." Hakikat yang luhur ini juga mengisyaratkan bahwa dunia manusia dan alam hewan akan hidup selama enam hari menurut hari-hari Al-Qur'an, yang mungkin berupa waktu yang panjang, seperti seribu dan lima puluh ribu tahun. Untuk meyakini hakikat ini, kami menunjukkan agar dapat disaksikan langsung alam-alam yang terus mengalir, alam-alam yang terus bergerak, dan dunia-dunia yang sementara, yang diciptakan Sang Fâthir Dzul-Jalâl pada setiap abad, setiap tahun, dan setiap hari, yang masing-masing bagaikan satu hari. Ya, seolah-olah dunia-dunia juga merupakan tamu seperti manusia. Pada setiap musim, dengan Perintah Zat Dzul-Jalâl, alam menjadi penuh lalu kosong. Kedua: Untuk meyakini hakikat yang tinggi, yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti وَلَا ﺭَﻃْﺐٍ وَلَا ﻳَﺎﺑِﺲٍ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ ٭ ﻭَﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺍَﺣْﺼَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻓ۪ٓﻰ ﺍِﻣَﺎﻡٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ ٭ لَا ﻳَﻌْﺰُﺏُ ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَلَا ﻓِﻰ الْاَرْضِ وَلَٓا ﺍَﺻْﻐَﺮُ ﻣِﻦْ ﺫٰﻟِﻚَ وَلَٓا ﺍَﻛْﺒَﺮُ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ, yaitu, "Segala sesuatu, dengan seluruh keadaannya, sebelum ada, setelah ada, dan setelah berlalu, tertulis, ditulis, dan sedang ditulis," kami menunjukkan hal berikut agar dapat disaksikan langsung. Pada halaman muka bumi, di setiap musim, terutama musim semi, Sang Pengukir Dzul-Jalâl mengganti makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya dan begitu teratur. Daftar wujud mereka, riwayat hidup mereka, dan kaidah gerak mereka Dia muat dan simpan secara maknawi dalam biji, benih, dan akar mereka. Setelah mereka berlalu, Dia menuliskannya persis seperti semula pada buah mereka dengan Pena Takdir-Nya, secara maknawi dalam benih-benih kecil yang sederhana. Bahkan, pada setiap musim semi yang berlalu, apa pun yang basah dan kering Dia simpan dengan keteraturan yang sempurna dalam benih dan kayu mati, yang bagaikan zarah kecil dan tulang yang terbatas jumlahnya. Seolah-olah setiap musim semi, bagai sekuntum bunga yang sangat teratur dan seimbang, dipasang lalu dipetik, diletakkan lalu diangkat pada muka bumi oleh Tangan Sang Jamîl dan Jalîl. Padahal hakikatnya demikian, tetapi salah satu kesesatan manusia yang paling aneh ialah ini: tulisan alamiah ini, ukiran seni ini, dan penggaris Hikmah yang menerima pengaruh ini hanya merupakan pantulan sebuah manifestasi Lauh Mahfuz, lembar tempat Pena Takdir menulis. Ia merupakan daftar Seni Rabbani, dan oleh orang-orang yang lalai disebut alam. Namun, manusia menganggapnya sebagai sumber dan pelaku dengan menyebutnya alam yang menimbulkan pengaruh. ﺍَﻳْﻦَ ﺍﻟﺜَّﺮَﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜُّﺮَﻳَّﺎ Betapa jauh hakikat dari anggapan orang-orang yang lalai! Ketiga: Sang Pembawa Berita yang Benar ﷺ menggambarkan para malaikat pemikul Arasy, para malaikat yang ditugaskan pada bumi dan langit, serta sebagian malaikat lainnya. Misalnya, mereka memiliki empat puluh ribu kepala, pada setiap kepala ada empat puluh ribu lidah, dan dengan setiap lidah mereka bertasbih dalam empat puluh ribu cara. Untuk mencapai hakikat yang menyatakan keteraturan ubudiyah mereka, cakupannya yang menyeluruh, dan luasnya itu, perhatikanlah hal berikut. Dengan ayat-ayat seperti ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ ٭ ﺍِﻧَّﺎ ﺳَﺨَّﺮْﻧَﺎ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﻣَﻌَﻪُ ﻳُﺴَﺒِّﺤْﻦَ ٭ ﺍِﻧَّﺎ ﻋَﺮَﺿْﻨَﺎ الْاَمَانَةَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ, Zat Dzul-Jalâl menyatakan secara tegas bahwa bahkan makhluk yang paling besar dan paling menyeluruh cakupannya bertasbih menurut cakupannya dan dengan cara yang sepadan dengan kebesarannya. Dia memperlihatkan hal ini, dan memang demikian yang terlihat. Ya, langit ini merupakan lautan yang bertasbih; kata-kata tasbihnya ialah matahari-matahari, bulan-bulan, dan bintang-bintang. Demikian pula, bumi ini merupakan burung yang bertasbih dan memuji; kata-kata tahmidnya ialah hewan, tumbuhan, dan pohon. Jadi, sebagaimana setiap pohon dan setiap bintang mempunyai tasbihnya sendiri yang juz'i, bumi juga memiliki tasbih yang menyeluruh. Begitu pula setiap benua di bumi, setiap gunung dan lembah, daratan dan lautannya, setiap orbit langit, dan setiap gugus bintangnya. Bumi ini memiliki ribuan kepala; pada setiap kepalanya terdapat ratusan ribu lidah, dan pada setiap lidah terdapat bunga-bunga tasbih serta buah-buah tahmid dalam seratus ribu cara. Tentu ada malaikat yang ditugaskan padanya sesuai dengan itu, untuk menerjemahkan dan memperlihatkan semuanya dalam alam mitsal, serta mewakili dan mengumumkannya dalam alam ruh. Ya, bila beberapa benda membentuk suatu jamaah, akan ada pribadi maknawi dari jamaah itu. Jika jamaah itu berpadu dan mengambil bentuk ittihad, akan ada pribadi maknawi yang mewakilinya, semacam ruh maknawi, dan malaikat yang ditugaskan untuk menjalankan tugas tasbihnya. Lihatlah! Sebagai contoh, lihat dan perhatikan pohon platanus di depan kamar kita ini, sebuah kata yang agung dari mulut Barla ini dan lidah gunung ini. Pada setiap kepala dari tiga kepala pohon itu, ada berapa ratus lidah berupa cabang? Lihatlah, pada setiap lidah ada berapa ratus kata berupa buah yang seimbang dan teratur? Perhatikan, pada setiap buah ada berapa ratus huruf berupa benih kecil yang bersayap dan seimbang? Engkau mendengar dan melihat betapa indah pujian dan betapa jelas tasbih mereka kepada Sang Pembuatnya, Dzul-Jalâl, yang memiliki "Perintah kun fayakûn". Demikian pula, malaikat yang ditugaskan padanya mewakili tasbihnya dalam alam makna dengan banyak lidah, sesuai dengan itu. Menurut Hikmah, memang harus demikian. Keempat: Hakikat yang luhur yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ٭ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ٭ ﻭَ ﻧَﺤْﻦُ ﺍَﻗْﺮَﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭ۪ﻳﺪِ ٭ ﺗَﻌْﺮُﺝُ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻓ۪ﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻘْﺪَﺍﺭُﻩُ ﺧَﻤْﺴ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔٍ ialah bahwa Sang Qadîr Mutlak menciptakan segala sesuatu dengan kemudahan dan kecepatan yang begitu besar, tanpa bersusah payah dan tanpa menyentuh langsung. Tampak dan dapat dipahami bahwa Dia menciptakannya seolah-olah hanya dengan sebuah Perintah semata. Meskipun Sang Pembuat Yang Qadîr itu sangat Dekat dengan ciptaan-ciptaan-Nya, ciptaan-ciptaan itu sangat jauh dari-Nya. Walaupun Kebesaran-Nya tidak terbatas, Dia tetap memberi perhatian pada urusan juz'i yang sangat kecil dan sepele, serta tidak membiarkannya di luar pengaturan yang seksama dan keindahan Seni Penciptaan. Keteraturan yang paling sempurna, di dalam kemudahan mutlak yang terlihat pada makhluk, bersaksi atas adanya hakikat Al-Qur'an ini. Perumpamaan berikut juga menunjukkan rahasia Hikmah di dalamnya. Sebagai contoh, ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى tugas-tugas yang diterima matahari karena Perintah Rabbani dan karena Allah subhânahu menundukkannya mendekatkan pemahaman kita pada hakikat ini. Matahari itu bagaikan cermin padat bagi Nama Nûr di antara Asma Husna Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Demikianlah: Walaupun tinggi kedudukannya, matahari sangat dekat dengan semua benda yang transparan dan berkilau, bahkan lebih dekat kepada benda-benda itu daripada diri benda-benda itu sendiri. Ia memengaruhi mereka dengan sinarnya yang tercermin di dalam mereka, dengan bayangan rupanya, dan dari banyak sisi yang menyerupai pengaturan. Namun, benda-benda transparan itu berjarak ribuan tahun darinya. Mereka sama sekali tidak dapat memengaruhinya dan tidak dapat mengaku dekat dengannya. Matahari juga seolah hadir dan melihat pada setiap zarah yang transparan, bahkan di mana pun cahayanya masuk. Hal ini dipahami dari pantulan matahari dan semacam gambarnya yang terlihat sesuai dengan kemampuan dan warna zarah itu. Semakin agung cahaya matahari, semakin luas cakupan dan semakin kuat daya tembusnya. Karena agungnya cahaya matahari, hal-hal yang paling kecil sekalipun tidak dapat bersembunyi dan melarikan diri darinya. Jadi, kebesarannya yang agung, melalui rahasia sifatnya yang bercahaya, justru memasukkan hal-hal yang juz'i dan kecil ke dalam lingkupnya, bukan mengeluarkan mereka. Walaupun tidak mungkin, andaikan kita menganggap matahari sebagai pelaku yang bebas memilih dalam manifestasi-manifestasi dan tugas-tugas yang diterimanya, dengan Izin Allah subhânahu ia bekerja dengan kemudahan, kecepatan, dan cakupan yang begitu besar, dari zarah hingga tetes air, permukaan laut, dan planet. Maka dapat dibayangkan bahwa ia menjalankan pengaturan-pengaturan yang besar ini hanya dengan sebuah perintah semata. Zarah dan planet sama di hadapan perintahnya. Limpahan yang diberikannya pada permukaan laut juga diberikannya kepada zarah, sesuai dengan kemampuan zarah itu, dengan keteraturan yang sempurna. Matahari ini hanyalah gelembung bercahaya pada permukaan lautan langit dan cermin kecil yang padat bagi Manifestasi Nama Nûr dari Sang Qadîr Mutlak. Kita melihat secara langsung bahwa matahari menerima contoh-contoh dari tiga dasar hakikat ini. Cahaya dan panas matahari bagaikan tanah yang padat bila dibandingkan dengan Ilmu dan Kudrat Zat Dzul-Jalâl, "Nûrun-Nûr, Munawwirun-Nûr, Muqaddirun-Nûr". Tentu kita beriman, dan harus beriman, dengan keyakinan iman pada tingkat melihat langsung: bahwa Dia sangat Dekat tanpa batas kepada segala sesuatu dengan Ilmu dan Kudrat-Nya, serta Hadir dan melihat, sedangkan segala sesuatu sangat jauh dari-Nya. Juga bahwa Dia melakukan pekerjaan dengan begitu mudah, tanpa beban dan tanpa bersusah payah, sehingga dipahami seolah Dia menciptakan hanya dengan kecepatan dan kemudahan sebuah Perintah semata. Juga bahwa tidak ada sesuatu pun, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, kecil maupun besar, yang keluar dari lingkup Kudrat-Nya, dan Kebesaran-Nya meliputi semuanya. Kelima: "Dari ﻭَﻣَﺎ ﻗَﺪَﺭُﻭﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩ۪ وَالْاَرْضُ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ ﻗَﺒْﻀَﺘُﻪُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ ﺑِﻴَﻤ۪ﻴﻨِﻪ۪ hingga ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُٓﻮﺍ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﺤُﻮﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻭَﻗَﻠْﺒِﻪ۪... Juga dari ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻛ۪ﻴﻞٌ hingga ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻳُﺴِﺮُّﻭﻥَ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻌْﻠِﻨُﻮﻥَ... Juga dari ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ hingga ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ... Juga dari ﻣَﺎ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ hingga ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺸَٓﺎﺅُﻥَ اِلَّٓا ﺍَﻥْ ﻳَﺸَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ, terbentang batas-batas Keagungan Rububiyah dan Kebesaran Keilahian Sang Sultan Azali dan Abadi. Atas Hikmah apa Keluhan-Keluhan-Nya yang Keras dalam Al-Qur'an, Ancaman-Ancaman-Nya yang Besar, dan Peringatan-Peringatan-Nya yang mengerikan ditujukan kepada anak cucu Adam? Mereka tak berdaya, lemah tanpa batas, serba kurang tanpa batas, dan memiliki kebutuhan tanpa batas; mereka hanya dibekali kemauan memilih yang juz'i dan usaha yang lemah, yang tidak mampu menciptakan. Bagaimana semua itu dapat diselaraskan? Bagaimana semuanya menjadi sesuai?" Untuk meyakini hakikat yang dalam dan tinggi yang dinyatakan itu, perhatikan dua perumpamaan berikut: Perumpamaan Pertama: Sebagai contoh, ada kebun kerajaan yang berisi ciptaan-ciptaan berbunga dan berbuah yang tak terhitung jumlahnya. Banyak pelayan telah ditugaskan untuk mengawasinya. Tugas seorang pelayan hanyalah membuka penutup lubang pada saluran air yang akan mengalir ke kebun dan diminum oleh isinya. Namun, pelayan itu bermalas-malasan dan tidak membuka penutup lubang tersebut. Perkembangan sempurna kebun itu terganggu, atau kebun itu menjadi kering. Pada saat itu, selain Seni Rabbani Sang Khâliq, pengawasan kerajaan oleh sang sultan, serta khidmah cahaya, udara, dan tanah sebagai hamba, semua pelayan berhak mengadukan si bodoh itu. Sebab, ia membuat khidmah mereka tidak membuahkan hasil atau merusaknya. Perumpamaan Kedua: Sebagai contoh, di sebuah kapal kerajaan yang besar, seorang manusia biasa mengabaikan tugasnya yang juz'i. Karena ia merusak hasil khidmah seluruh petugas di kapal, dan bahkan menghancurkan sebagiannya, pemilik kapal mengadukannya dengan keras atas nama semua petugas itu. Orang yang bersalah itu tidak dapat berkata, "Aku hanya orang biasa. Atas kelalaianku yang tidak berarti, aku tidak layak diperlakukan sekeras ini." Sebab, jika satu hal tidak ada, tak terhitung hal lain pun menjadi tidak ada. Namun, wujud memberikan hasil menurut dirinya sendiri. Agar suatu hal ada, semua syarat dan sebabnya harus ada. Sebaliknya, hanya dengan gugurnya satu syarat dan tidak adanya satu bagian, hal itu akhirnya tidak ada lagi dan padam. Karena itulah, "Merusak berkali-kali lebih mudah daripada memperbaiki" telah menjadi kaidah yang sudah diakui bersama. Karena dasar kekufuran dan kesesatan, sikap melampaui batas dan maksiat, ialah mengingkari dan menolak, meninggalkan dan tidak menerima, meskipun secara lahir semuanya terlihat positif dan ada, sebenarnya semuanya padam dan tidak ada. Karena itu, semuanya merupakan kejahatan yang menjalar. Selain merusak hasil perbuatan makhluk-makhluk lainnya, semuanya juga menutupi Manifestasi-Manifestasi Keindahan Asma Ilahi. Maka, atas nama makhluk-makhluk yang berhak mengadu tanpa batas itu, Sang Sultan mereka mengadukan manusia yang membangkang ini dengan keras. Mengadukannya adalah Hikmah itu sendiri. Tentu si pembangkang itu layak mendapat Ancaman yang Keras dan, tanpa syubhat, pantas mendapat Peringatan yang mengerikan.
--
PENUTUP
(Sebuah pukulan palu bagi kepala yang lalai dan pelajaran untuk diambil sebagai ibrah.)
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ Wahai nafsuku yang malang! Engkau tenggelam dalam kelalaian, memandang hidup ini manis, melupakan akhirat, dan memburu dunia! Tahukah engkau seperti apa dirimu? Seperti burung unta... Ia melihat pemburu dan tidak dapat terbang; ia memasukkan kepalanya ke dalam pasir agar pemburu tidak melihatnya. Tubuhnya yang besar tetap di luar. Pemburu melihatnya. Hanya ia sendiri yang menutup mata di dalam pasir dan tidak melihat. Wahai nafsu! Lihat dan perhatikan perumpamaan ini: betapa hanya memusatkan pandangan pada dunia mengubah kesenangan yang berharga menjadi rasa sakit yang pedih. Misalnya, di desa ini, yakni Barla, ada dua orang. Sebanyak 99 persen sahabat orang pertama telah pergi ke Istanbul dan hidup dengan baik. Hanya seorang yang masih tinggal di sini; ia juga akan pergi ke sana. Karena itu, orang ini merindukan Istanbul dan memikirkannya. Ia ingin bertemu para sahabat. Kapan pun dikatakan kepadanya, "Pergilah ke sana!", ia pergi dengan gembira dan tersenyum. Adapun orang kedua, 99 persen sahabatnya telah pergi dari sini. Ia mengira sebagian telah binasa, sebagian telah masuk ke tempat di mana mereka tidak dapat melihat dan tidak dapat dilihat; mereka telah pergi dalam keadaan kacau. Orang yang malang ini ingin merasa akrab dengan hanya seorang tamu dan memperoleh penghiburan, sebagai ganti mereka semua. Dengan tamu itu, ia ingin menutupi derita-derita perpisahan yang pedih. Wahai nafsu! Semua sahabatmu, terutama Habîbullâh ﷺ, berada di seberang kubur. Satu dua orang yang masih tinggal di sini juga sedang pergi. Jangan berpaling karena gentar terhadap kematian dan takut kepada kubur. Pandanglah kubur dengan gagah; dengarkan apa yang dimintanya. Tersenyumlah pada wajah kematian dengan keberanian seorang lelaki; lihat apa yang diinginkannya. Jangan sampai engkau lalai dan menjadi seperti orang kedua. Wahai nafsuku! Jangan berkata, "Zaman telah berubah, abad telah menjadi lain, semua orang telah tenggelam dalam dunia dan memuja hidup. Mereka mabuk oleh kesusahan mencari nafkah." Sebab, kematian tidak berubah. Perpisahan tidak berbalik menjadi tetap ada selamanya dan tidak menjadi hal yang lain. Manusia tetap tidak berdaya dan serba kurang; bahkan keduanya terus bertambah. Perjalanan manusia tidak berhenti, malah bertambah cepat. Jangan pula berkata, "Aku juga seperti semua orang." Sebab, semua orang hanya menemanimu sampai pintu kubur. Penghiburan karena mengalami musibah bersama semua orang sangat tidak berdasar di seberang kubur. Jangan pula menganggap dirimu dibiarkan begitu saja. Sebab, jika engkau melihat rumah tamu dunia ini dengan pandangan bijak, tidak satu pun yang dapat engkau lihat tanpa keteraturan dan tujuan. Bagaimana engkau dapat tetap tanpa keteraturan dan tujuan? Peristiwa-peristiwa alam ini, seperti gempa bumi, bukanlah mainan kebetulan. Misalnya, engkau melihat bahwa kemeja-kemeja yang dikenakan pada bumi berupa jenis-jenis tumbuhan dan hewan, satu di atas yang lain dan satu di dalam yang lain, sangat teratur dan sangat berukir. Dari atas hingga bawah, semuanya dihias dan dibekali tujuan serta hikmah. Engkau juga mengetahui bahwa bumi berputar dan diputar bagai darwis Mevlevi yang terpukau, dengan keteraturan yang sempurna dan untuk tujuan-tujuan yang sangat tinggi. Namun, bagaimana mereka dapat menganggap peristiwa-peristiwa kehidupan bumi yang disertai kematian, seperti gempa {(Catatan kaki): Ditulis berkenaan dengan gempa Izmir.}, tidak bertujuan dan terjadi secara kebetulan, sebagaimana yang disebarkan seorang ateis? Gempa itu menyerupai bumi mengangkat bahunya karena berat maknawi sebagian sikap lalai anak cucu Adam, terutama ahli iman, yang tidak disukai bumi. Bagaimana mereka dapat menampilkan kerugian pedih semua korban musibah seolah tidak mendapat ganti dan terhambur sia-sia, lalu menjerumuskan para korban itu ke dalam putus asa yang mengerikan? Mereka membuat kesalahan besar dan juga melakukan kezaliman besar. Sebaliknya, peristiwa-peristiwa demikian, dengan Perintah Sang Hakîm dan Rahîm, mengubah harta ahli iman yang akan lenyap menjadi sedekah dan menjadikannya kekal. Peristiwa itu juga merupakan kafarat bagi dosa-dosa yang timbul karena tidak bersyukur atas nikmat. Demikian pula, suatu hari akan datang ketika bumi yang ditundukkan ini memandang karya-karya manusia, perhiasan wajahnya, berlumur syirik dan tidak bersyukur, lalu menganggapnya jelek. Dengan Perintah Sang Khâliq, bumi menyapu dan membersihkan seluruh wajahnya dengan gempa besar. Dengan Perintah Allah subhânahu, bumi menumpahkan orang-orang yang berbuat syirik ke neraka. Kepada orang-orang yang bersyukur, bumi berkata, "Ayo, silakan ke surga!"
--
TAMBAHAN KALIMAT KEEMPAT BELAS
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍَﺧْﺮَﺟَﺖِ الْاَرْضُ ﺍَﺛْﻘَﺎﻟَﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ الْاِنْسَانُ ﻣَﺎﻟَﻬَﺎ ٭ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺍَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ ٭ ﺑِﺎَﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﻟَﻬَﺎ ﺍﻟﺦ Surah ini menyatakan secara pasti bahwa, dalam gerak dan gempanya, bumi menerima wahyu dan ilham serta bergerak di bawah Perintah. Terkadang bumi juga gemetar. Dari suatu sisi maknawi yang penting, berkenaan dengan gempa sekarang, jawaban atas enam atau tujuh pertanyaan kecil masuk ke dalam hati dengan bantuan peringatan maknawi pula. Meski saya telah berkali-kali berniat menuliskannya secara terperinci, izin tidak diberikan. Hanya akan ditulis secara ringkas dan sangat singkat. Pertanyaan Pertama: Mengapa rasa takut dan putus asa akibat gempa yang terus berlanjut merenggut istirahat malam sebagian besar penduduk di sebagian besar daerah dan menimbulkan siksa yang mengerikan, sebagai musibah maknawi yang lebih pedih daripada musibah fisik gempa besar ini? ~Sekali lagi, jawaban maknawi:
Dikatakan bahwa pada waktu tarawih di bulan Ramadan yang mulia, lagu-lagu dan terkadang suara gadis-gadis diperdengarkan melalui mulut radio dengan penuh riang dan gembira, seperti orang mabuk, dengan hasrat yang begitu besar, secara memikat di setiap sudut pusat Islam yang diberkahi ini. Hal itu menimbulkan siksa berupa rasa takut ini. Pertanyaan Kedua: Mengapa tamparan dari langit ini tidak menimpa kepala orang-orang kafir di negeri-negeri mereka, tetapi justru turun kepada orang-orang Muslim yang malang ini? ~Jawaban:
Sebagaimana hukuman atas kesalahan dan kejahatan besar ditunda dan diberikan di pusat-pusat besar, sedangkan hukuman atas kejahatan yang sangat kecil segera diberikan di pusat-pusat kecil, berdasarkan suatu Hikmah yang penting, sebagian besar kejahatan orang-orang kafir ditunda sampai pengadilan agung kebangkitan. Adapun sebagian kesalahan ahli iman dihukum di dunia ini. {(Catatan kaki): Juga, orang-orang seperti orang Rusia, dengan meninggalkan agama yang telah dinasakh dan diselewengkan, tidak menyentuh Kecemburuan Allah subhânahu sampai tingkat mengkhianati agama yang haq dan abadi serta tidak dapat dinasakh. Karena itu, bumi untuk sementara membiarkan yang pertama dan marah kepada yang kedua.} Pertanyaan Ketiga: Mengapa musibah akibat kesalahan sebagian orang menjadi menyeluruh sampai taraf tertentu di negeri itu? ~Jawaban:
Musibah umum timbul dari kesalahan mayoritas. Karena sebagian besar orang mendukung tindakan orang-orang zalim itu dengan perbuatan, dengan menyetujui, atau dengan ikut bergabung, mereka ikut serta secara maknawi dan menyebabkan musibah umum. Pertanyaan Keempat: Karena musibah gempa ini merupakan akibat kesalahan dan kafarat bagi dosa-dosa, mengapa orang-orang yang tak berdosa dan tidak melakukan kesalahan ikut terbakar dalam musibah itu? Bagaimana Keadilan Allah subhânahu mengizinkannya? ~Sekali lagi, jawaban dari sisi maknawi:
Karena persoalan ini berhubungan dengan rahasia Takdir, kami menyerahkannya kepada Risalah Takdir (Risale-i Kader) dan hanya mengatakan ini di sini: ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﻓِﺘْﻨَﺔً لَا ﺗُﺼ۪ﻴﺒَﻦَّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺧَﺎﺻَّﺔً Yaitu, "Waspadalah terhadap suatu bencana, suatu musibah, yang ketika datang tidak hanya menimpa orang-orang zalim, tetapi juga membakar orang-orang yang tak berdosa." Rahasia ayat ini ialah bahwa dunia ini merupakan medan percobaan dan ujian, serta negeri untuk memikul kewajiban dan berjuang. Ujian dan kewajiban menuntut agar hakikat-hakikat tetap tertutup tabir, supaya melalui perlombaan dan perjuangan, orang-orang seperti Abu Bakar naik ke tingkat yang paling tinggi dan orang-orang seperti Abu Jahal masuk ke tingkat yang paling rendah. Jika orang-orang yang tak berdosa tetap selamat dalam musibah-musibah seperti ini, orang-orang seperti Abu Jahal akan berserah diri persis sebagaimana orang-orang seperti Abu Bakar. Maka pintu untuk maju secara maknawi melalui perjuangan akan tertutup dan rahasia kewajiban akan rusak. ~Karena
orang yang dizalimi mesti terkena musibah bersama orang zalim menurut Hikmah Ilahi, apakah bagian dari Rahmat dan Keadilan yang diterima orang-orang teraniaya yang malang itu? ~Untuk menjawab pertanyaan ini, dikatakan bahwa:
Di tengah Murka dan Amarah dalam musibah itu, terdapat suatu Manifestasi Rahmat bagi mereka. Harta orang-orang yang tak berdosa itu, yang akan lenyap, dipandang sebagai sedekah bagi mereka dan menjadi harta yang kekal. Demikian pula, hidup mereka yang akan lenyap dipandang sebagai semacam mati syahid, sampai dapat meraih hidup yang kekal. Dengan kesukaran dan siksa yang relatif sedikit serta sementara, gempa ini mendatangkan keuntungan yang besar dan kekal. Maka, bagi mereka, gempa ini merupakan Rahmat di tengah Murka itu sendiri. Pertanyaan Kelima: Mengapa Sang 'Âdil dan Rahîm, Qadîr dan Hakîm, tidak memberikan hukuman khusus atas kesalahan khusus, tetapi menimpakan suatu unsur yang besar sekali? Bagaimana hal ini sesuai dengan Keindahan Rahmat-Nya dan luasnya Kudrat-Nya? ~Jawaban:
Sang Qadîr Dzul-Jalâl telah memberikan banyak tugas kepada setiap unsur dan membuat setiap tugas memberikan banyak hasil. Walaupun satu hasil dalam satu tugas dari suatu unsur itu jelek, berupa keburukan, dan musibah, hasil-hasil baik lainnya membuat hasil yang satu itu juga dinilai baik. Jika unsur itu, yang telah marah kepada manusia, dicegah menjalankan tugas itu agar satu hasil yang jelek ini tidak terjadi, maka kebaikan sebanyak hasil-hasil baik tadi akan ditinggalkan. Karena tidak melakukan suatu kebaikan yang diperlukan merupakan keburukan, keburukan sebanyak kebaikan-kebaikan tadi akan dilakukan. Bertindak demikian hanya agar satu keburukan tidak terjadi merupakan kesalahan yang sangat jelek, bertentangan dengan Hikmah dan bertentangan dengan hakikat. Kudrat, Hikmah, dan hakikat bebas dari cacat. Karena sebagian kesalahan merupakan pembangkangan yang begitu meluas sampai membuat unsur-unsur dan bumi marah, serta merupakan pelanggaran yang menghina hak banyak makhluk, tentu memberikan Perintah kepada suatu unsur yang besar sekali, di tengah tugasnya yang menyeluruh, "Didiklah mereka!" untuk menunjukkan betapa luar biasa jeleknya kejahatan itu merupakan Hikmah itu sendiri dan Keadilan, serta Rahmat itu sendiri bagi orang-orang yang dizalimi. Pertanyaan Keenam: Orang-orang yang lalai menyebarkan bahwa gempa merupakan akibat perubahan-perubahan mineral di dalam bumi. Mereka memandangnya seolah merupakan peristiwa yang terjadi secara kebetulan, secara alami, dan tanpa tujuan. Mereka tidak melihat sebab-sebab dan hasil maknawi peristiwa ini yang dapat menyadarkan mereka. Adakah hakikat pada materi yang mereka jadikan sandaran? ~Jawaban:
Tidak ada hakikatnya selain kesesatan. Sebab, bola bumi setiap tahun mengenakan dan mengganti lebih dari lima puluh juta baju yang berhias serta teratur. Pada bola bumi itu, sayap—satu anggota dari ratusan anggota seekor lalat, yang hanya satu individu di antara individu-individu tanpa batas dari golongan lalat, yang merupakan satu jenis di antara ribuan jenis—menjadi tempat tajalli Maksud, Kehendak, Masyîah, dan Hikmah. Dia tidak membiarkannya tanpa perhatian dan tidak membiarkannya sesuka hati. Hal itu menunjukkan bahwa bukan hanya perbuatan serta keadaan penting bola bumi yang besar, yang merupakan buaian, ibu, tempat kembali, dan pelindung bagi makhluk berkesadaran tanpa batas, bahkan tidak ada sesuatu pun, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, yang berada di luar Kehendak, Pilihan, serta Maksud Ilahi. Namun, Sang Qadîr Mutlak, sesuai tuntutan Hikmah-Nya, menjadikan sebab-sebab yang tampak sebagai tirai bagi Tasarruf-Nya. Ketika Dia menghendaki gempa, kadang-kadang Dia juga memerintahkan suatu mineral untuk bergerak dan menyalakannya. Baiklah, sekalipun terjadi perubahan mineral, semuanya tetap berlangsung dengan Perintah dan Hikmah Ilahi; tidak mungkin dengan cara lain. Misalnya, seseorang menembak orang lain dengan senapan. Betapa bodoh dan gilanya jika orang yang menembak sama sekali tidak diperhatikan, pandangan hanya dibatasi pada terbakarnya mesiu dalam peluru, dan seluruh hak orang yang terbunuh itu disia-siakan. Demikian pula, betapa buruknya kebodohan jika Perintah Rabbani, "Nyalakan!", untuk membangunkan orang-orang yang lalai dan melampaui batas, dilupakan dan orang menyimpang dengan menyandarkan peristiwa itu kepada alam. Perintah itu ditujukan kepada suatu bom di dalam bola bumi, yang merupakan petugas yang tunduk, bahkan kapal serta pesawat Sang Qadîr Dzul-Jalâl; bom itu disimpan dengan Hikmah dan Kehendak. Pelengkap dan Catatan Kaki Pertanyaan Keenam: Orang-orang sesat dan para pengingkar agama menunjukkan sikap membangkang yang begitu aneh serta kebodohan yang begitu mengherankan demi mempertahankan jalan mereka, melawan, dan menghalangi ahli iman untuk tersadar, sehingga membuat manusia menyesal menjadi manusia. Misalnya, pada akhir-akhir ini, kedurhakaan manusia yang zalim dan gelap telah menjadi agak menyeluruh, sehingga alam semesta serta unsur-unsur yang menyeluruh marah. Sang Khâliq bumi dan langit juga, sebagai Rabb dan Penguasa bukan hanya dalam suatu Rububiyah khusus, melainkan atas seluruh alam semesta serta seluruh alam, memperlihatkan tajalli yang menyeluruh dan luas. Dalam keseluruhan alam semesta serta lingkup Rububiyah yang menyeluruh, untuk membangunkan umat manusia, membuatnya berhenti dari sikap melampaui batas yang mengerikan, serta memperkenalkan Sultan alam semesta yang tidak ingin mereka kenal, melalui air, udara, dan listrik yang tanpa banding serta tidak berhenti, Dia menghantam wajah umat manusia dengan bencana-bencana yang menyeluruh serta mengerikan, seperti gempa, badai, dan Perang Dunia. Dengan itu, Dia menunjukkan Hikmah, Kudrat, Keadilan, Sifat Qayyûm, Kehendak, serta Kekuasaan-Nya dengan sangat jelas. Namun, sebagian setan bodoh yang berwujud manusia menyambut tanda-tanda Rabbani yang menyeluruh serta Didikan Ilahi itu dengan sikap membangkang yang bodoh. Mereka berkata, "Itu alam, ledakan suatu mineral, kebetulan. Itu benturan panas matahari dengan listrik, yang telah menghentikan seluruh mesin selama lima jam di Amerika dan memerahkan langit di udara wilayah Kastamonu, membuatnya tampak seperti kebakaran." Mereka mengucapkan ocehan tanpa makna seperti itu. Karena ketidaktahuan tanpa batas yang datang dari kesesatan serta sikap membangkang yang buruk yang timbul dari ingkar agama, mereka tidak mengetahui bahwa sebab-sebab hanyalah alasan-alasan serta tirai-tirai. Untuk menenun serta menumbuhkan perlengkapan sebatang pinus sebesar gunung, mereka menunjukkan sebuah biji kecil sebagai ganti seratus pabrik dan alat tenun sebesar sebuah desa. Seperti orang yang berkata, "Pohon ini keluar dari sini," lalu mengingkari seribu mukjizat yang diperlihatkan Sang Pembuat pada pinus itu, mereka menunjukkan sebagian sebab yang tampak. Mereka merendahkan menjadi tiada suatu Perbuatan Rububiyah Khâliq yang sangat besar, yang dilakukan dengan Pilihan dan Hikmah. Kadang-kadang, kepada suatu hakikat yang sangat dalam, tidak diketahui, sangat penting, serta memiliki hikmah dalam seribu segi, mereka memberi nama ilmiah. Seakan-akan dengan nama itu hakikatnya telah dipahami, menjadi biasa, serta tidak lagi memiliki hikmah dan makna. Marilah! Lihatlah tingkat-tingkat kebodohan yang tanpa batas: suatu hakikat yang tidak diketahui, dalam, dan luas, yang baru dapat diketahui sepenuhnya jika dijelaskan dalam seratus halaman beserta hikmah-hikmahnya, diberi satu nama; lalu, seakan-akan hal itu sudah diketahui, mereka berkata, "Inilah hal itu." Misalnya, "Itu suatu bahan matahari yang berbenturan dengan listrik." Mereka juga mengembalikan suatu peristiwa Rububiyah yang khusus serta disengaja kepada salah satu hukum fitrah yang disebut "Adatullah", yang merupakan sebutan bagi Kehendak yang menyeluruh, Pilihan yang umum, serta Kekuasaan atas tiap jenis. Dengan mengembalikannya demikian, mereka memutus hubungannya dengan Kehendak yang memilih; kemudian menyerahkannya kepada kebetulan dan alam. Mereka menunjukkan ketidaktahuan yang berkali-kali lebih besar daripada Abu Jahal. Mereka menjadi orang gila yang membangkang, seperti orang yang menyandarkan peperangan penuh kemenangan dari satu prajurit atau satu batalion kepada aturan serta hukum militer, lalu memutus hubungannya dengan panglima, raja, pemerintah, serta tindakan yang disengaja. Misalnya pula, seperti terciptanya pohon berbuah dari sebuah biji, seorang perajin yang memiliki banyak mukjizat membuat beragam makanan seberat seratus okka serta beragam kain sepanjang seratus arşın dari sepotong kayu sebesar kuku. Betapa bodohnya jika seseorang menunjukkan potongan kayu itu, berkata, "Pekerjaan-pekerjaan ini terjadi darinya secara alami dan kebetulan," lalu merendahkan seni yang menakjubkan serta kepandaian perajin itu menjadi tiada. Demikian pula... Pertanyaan Ketujuh: Dari apa dapat dipahami bahwa peristiwa bumi ini tertuju kepada penduduk Muslim negeri ini dan menjadikan mereka sasaran? Mengapa peristiwa itu lebih banyak mengenai daerah Erzincan dan Izmir? ~Jawaban:
Banyak tanda menunjukkan hal itu: peristiwa ini terjadi pada musim dingin yang keras, pada malam yang gelap, dalam udara dingin yang mengerikan; peristiwa itu juga khusus mengenai negeri ini yang tidak menjaga kehormatan Ramadan; dan gempa itu berlanjut untuk membangunkan orang-orang lalai yang belum tersadar oleh kerusakannya, dengan cara yang ringan. Melalui tanda-tanda seperti itu, peristiwa ini menjadikan ahli iman sebagai sasaran, tertuju kepada mereka, serta mengguncang mereka untuk menyadarkan mereka agar salat dan berdoa; ia sendiri pun gemetar. Ada dua segi mengapa tempat-tempat yang malang seperti Erzincan diguncang lebih keras: Yang pertama, karena kesalahan mereka sedikit, hal itu disegerakan untuk membersihkan mereka. Yang kedua, mungkin tempat-tempat itu lebih dahulu ditampar karena para pengingkar agama mendirikan pusat kegiatan yang berpengaruh di sana, dengan mengambil kesempatan dari sedikitnya penjaga iman yang kuat dan sejati serta pelindung Islam di tempat-tempat itu, atau dari keadaan mereka yang telah sepenuhnya dikalahkan. لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
--