Kalimat Kelima Belas
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑ۪ﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ Wahai orang terpelajar yang pikirannya menyempit karena persoalan-persoalan kosmografi yang tanpa ruh, yang akalnya turun menjadi sebatas matanya, dan yang tidak dapat menempatkan rahasia agung ayat ini dalam pikirannya yang sempit! Langit ayat ini dapat dicapai melalui tangga dengan tujuh anak tangga. Marilah, kita akan naik bersama! Anak Tangga Pertama: Hakikat dan hikmah menghendaki agar langit, seperti bumi, memiliki penghuni yang sesuai dengannya. Dalam bahasa syariat, berbagai golongan itu disebut malaikat dan makhluk rohani. Ya, hakikat menuntut demikian. Sebab, meskipun bumi kecil dan rendah, ia dipenuhi makhluk hidup serta berkesadaran, dan dari waktu ke waktu dikosongkan, lalu diramaikan kembali dengan makhluk berkesadaran. Hal ini mengisyaratkan, bahkan menyatakan dengan jelas, bahwa langit, yang memiliki gugusan megah dan berperan sebagai istana-istana berhias, juga penuh dengan makhluk berkesadaran serta berdaya memahami. Seperti manusia dan jin, mereka juga merupakan penonton istana alam ini, pembaca kitab alam ini, serta penyeru Kekuasaan Rububiyah ini. Sebab, menghiasi serta memperindah alam dengan perhiasan, sisi-sisi indah, serta pola-pola yang tiada batas dan tak terhitung, dengan jelas menghendaki pandangan orang-orang yang menghargainya sambil berpikir serta menilainya dengan kagum. Ya, keindahan tentu menghendaki seorang pencinta; makanan diberikan kepada orang yang lapar. Namun, manusia serta jin hanya dapat melakukan satu dari sejuta bagian tugas tanpa batas, pengamatan yang megah, serta ubudiyah yang luas ini. Jadi, tugas serta ibadah yang beragam dan tanpa batas ini membutuhkan jenis-jenis malaikat serta golongan makhluk rohani yang tanpa batas. Berdasarkan isyarat sebagian riwayat serta hikmah keteraturan alam, dapat dikatakan bahwa sebagian benda bergerak, dari planet hingga tetesan air, merupakan kendaraan sebagian malaikat. Dengan Izin Ilahi, mereka menaikinya, melihat-lihat, serta berkeliling di alam yang terlihat. Dapat pula dikatakan bahwa sebagian tubuh hewan, dari burung surga yang disebut "Tuyûrun Hudrun" dalam hadis hingga lalat, merupakan pesawat bagi sejenis ruh. Dengan Perintah Allah subhânahu, mereka masuk ke dalamnya, berkeliling di alam jasmani, serta menyaksikan mukjizat-mukjizat fitrah yang jasmani melalui jendela daya-daya pada tubuh itu. Tentu Khâliq yang terus-menerus menciptakan kehidupan yang halus serta makhluk berdaya memahami yang bercahaya dari tanah yang padat serta air yang keruh, memiliki sebagian makhluk berkesadaran dari lautan cahaya ini, bahkan dari lautan gelap, yang sesuai bagi ruh serta kehidupan. Mereka juga ada dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam risalahku yang bernama "Nokta" serta dalam Kalimat Kedua Puluh Sembilan, adanya malaikat serta makhluk rohani telah dibuktikan dengan kepastian setingkat dua kali dua sama dengan empat. Jika engkau ingin, rujuklah pembahasan itu. Anak Tangga Kedua: Bumi dan langit saling berkaitan seperti dua wilayah suatu pemerintahan. Di antara keduanya terdapat hubungan penting serta urusan penting yang saling berlangsung. Hal-hal yang diperlukan bumi, seperti cahaya, panas, berkah, serta rahmat, datang dari langit, yakni dikirim. Menurut ijmak seluruh agama samawi yang bersandar pada wahyu, serta kabar mutawatir dari seluruh ahli kasyaf yang bersandar pada apa yang mereka saksikan langsung, malaikat dan ruh datang dari langit ke bumi. Dari sini, melalui keyakinan yang pasti dan hampir dapat dirasakan, diketahui bahwa terdapat jalan bagi penghuni bumi untuk naik ke langit. Ya, sebagaimana akal, khayal, serta pandangan setiap orang selalu menuju langit, ruh para nabi dan wali yang meninggalkan beban-bebannya, atau ruh orang-orang yang telah wafat yang melepaskan tubuhnya, juga pergi ke sana dengan Izin Ilahi. Karena mereka yang menjadi ringan serta halus pergi ke sana, tentu sebagian penghuni bumi dan udara, yang mengenakan tubuh seperti gambaran serta ringan dan halus seperti ruh, dapat pergi ke langit. Anak Tangga Ketiga: Diam dan tenangnya langit, keteraturan serta berlangsungnya dengan tetap, keluasan serta sifatnya yang bercahaya, menunjukkan bahwa penghuninya berbeda dari penghuni bumi. Bahkan seluruh penduduknya taat. Apa pun yang diperintahkan, mereka kerjakan. Tidak terdapat sebab yang mengharuskan saling mendesak serta bertengkar. Sebab, wilayahnya luas, fitrah mereka murni, diri mereka tidak berdosa, serta maqam mereka tetap. Ya, di bumi hal-hal yang berlawanan berkumpul, orang-orang jahat bercampur dengan orang-orang baik, dan pertengkaran mulai terjadi di antara mereka. Karena itu, timbul beda pendapat serta keguncangan; dari situ dibebankan ujian serta perlombaan; dan dari situ muncul kemajuan serta kemunduran. Hikmah hakikat ini ialah: manusia merupakan buah, bagian terakhir pohon penciptaan. Telah diketahui bahwa buah suatu hal merupakan bagian yang paling jauh, paling banyak mencakup hal, paling rapuh, serta paling penting. Karena itulah manusia, buah alam, merupakan mukjizat Kudrat yang paling banyak mencakup hal, paling menakjubkan, paling tak berdaya, paling lemah, serta paling halus. Maka bumi, yang menjadi buaian serta tempat tinggalnya, meskipun secara fisik kecil dan rendah dibandingkan langit, secara maknawi serta seni penciptaan telah menjadi hati dan pusat seluruh alam; tempat pameran serta peragaan seluruh mukjizat seni penciptaan; tempat serta titik pusat tajalli seluruh Asma-Nya; tempat berkumpul serta terpantulnya Kegiatan Rabbani tanpa batas; pusat serta pasar Penciptaan Ilahi yang tanpa batas, khususnya Penciptaan yang penuh Kemurahan dalam banyak jenis kecil tumbuhan serta hewan; tempat contoh ciptaan pada alam-alam akhirat yang sangat luas dalam ukuran kecil; alat tenun yang bekerja cepat bagi tenunan-tenunan yang kekal; tempat peragaan yang cepat berubah bagi pemandangan-pemandangan yang kekal selamanya; serta ladang dan tempat pemeliharaan yang sempit dan sementara, tempat benih-benih kecil kebun-kebun yang tetap bertunas dengan cepat. Karena kebesaran maknawi serta pentingnya bumi dari segi seni penciptaan inilah {(Catatan kaki): Ya, bola bumi, meskipun kecil, dapat mengimbangi langit. Sebab, sebagaimana mata air yang terus mengalir dapat disebut lebih besar daripada danau besar yang tidak mendapat aliran masuk, suatu wadah takar dapat mengimbangi benda sebesar gunung yang tampaknya ribuan kali lebih besar darinya, jika hasil-hasil yang diukur, dipindahkan ke tempat lain, melewati, masuk, serta keluar dari wadah itu diperhitungkan. Demikian pula, Allah subhânahu telah menciptakan bola bumi sebagai tempat pameran Seni-Nya, tempat berkumpul ciptaan-Nya, pusat Hikmah-Nya, tempat Kudrat-Nya tampak, tempat Rahmat-Nya berbunga, ladang bagi surga-Nya, wadah takar bagi alam yang tanpa batas serta alam-alam makhluk, dan mata air yang akan mengalir ke lautan masa lampau serta alam gaib. Perhatikanlah seluruh alam yang diperbarui serta berbagai baju bumi: setiap tahun bumi mengganti baju-bajunya yang berlapis-lapis serta berlipat-lipat dalam seratus ribu cara, yang ditenun dari ciptaan; berkali-kali ia terisi lalu mengosongkannya ke masa lampau serta menuangkannya ke alam gaib. Yakni, anggaplah seluruh masa lampaunya hadir. Kemudian bandingkanlah dengan langit yang seragam dan agak sederhana. Engkau akan melihat, jika bumi tidak lebih besar, ia pun tidak kurang. Pahamilah rahasia ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ.} Al-Qur'an Al-Hakîm menyetarakan bumi dengan seluruh langit, padahal dibandingkan langit, bumi berperan sebagai buah kecil dari sebatang pohon besar. Ia menempatkan bumi pada satu sisi timbangan dan seluruh langit pada sisi lainnya. Berulang kali ia mengatakan ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ. Perubahan cepat dan pergantian terus-menerus pada bumi, yang lahir dari hikmah-hikmah tersebut, juga menghendaki agar penghuninya mengalami perubahan sesuai dengannya. Bumi yang terbatas ini menjadi tempat tampaknya mukjizat Kudrat yang tanpa batas. Karena itu, kekuatan manusia dan jin, yang merupakan penghuninya yang paling penting, tidak diberi batas menurut fitrah dan pembatas menurut penciptaannya seperti makhluk hidup lainnya. Mereka dapat mengalami kemajuan tanpa batas serta kemunduran tanpa batas. Terbentang bagi mereka medan ujian yang panjang, dari para nabi dan wali hingga para Namrud dan setan. Karena demikian, tentu setan-setan yang telah menjadi seperti Firaun akan melempar batu ke langit serta penghuninya dengan kejahatan mereka yang tanpa batas. Anak Tangga Keempat: Zat Dzul-Jalâl, Rabb, Mudabbir, dan Khâliq seluruh alam, memiliki begitu banyak Nama, Gelar, serta Asmaulhusna yang masing-masing memiliki ketentuan berbeda. Misalnya, Nama dan Gelar yang menghendaki pengiriman malaikat untuk berperang melawan orang-orang kafir dalam barisan para sahabat Nabi ﷺ, juga menghendaki adanya perang antara malaikat dan setan serta pertarungan antara penghuni langit yang baik dan penghuni bumi yang jahat. Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâl, yang jiwa serta napas orang-orang kafir berada dalam Genggaman Kudrat-Nya, tidak membinasakan mereka dengan satu Perintah atau satu teriakan. Dengan Gelar Rububiyah yang menyeluruh serta Nama Hakîm dan Mudabbir, Dia membuka medan ujian dan pertarungan. Semoga tidak ada kekeliruan dalam perumpamaan ini, kita melihat bahwa seorang raja memiliki begitu banyak gelar dan nama yang berbeda menurut bagian-bagian pemerintahannya. Misalnya, bidang peradilan menyebutnya dengan nama "hakim yang adil". Bidang militer mengenalnya dengan nama "panglima tertinggi". Bidang urusan agama menyebutnya dengan nama "khalifah". Bidang pemerintahan sipil mengenalnya dengan nama "sultan". Rakyat yang taat menyebutnya "raja yang penuh belas kasih". Orang-orang yang membangkang menyebutnya "penguasa yang menaklukkan". Bandingkan pula bagian lainnya dengan semua ini. Kadang-kadang, raja tinggi yang seluruh rakyat berada dalam tangannya itu tidak menghukum mati seorang pembangkang yang tak berdaya dan hina dengan satu perintah. Sebaliknya, dengan nama "hakim yang adil", ia mengirimnya ke pengadilan. Ia juga mengetahui bahwa seorang pejabatnya yang mampu dan setia layak mendapat penghargaan. Namun, ia tidak memberinya penghargaan berdasarkan pengetahuan pribadinya serta melalui telepon pribadinya.Sebaliknya, dengan gelar kebesaran kerajaan serta pengaturan pemerintahan, ia membuka medan perlombaan untuk mengumumkan bahwa pejabat itu berhak mendapat penghargaan. Ia memerintahkan wazirnya dan mengundang rakyat untuk menyaksikan. Ia mengadakan penyambutan kenegaraan. Pada akhir suatu ujian luhur yang megah, ia memberinya penghargaan dalam perkumpulan tinggi dan mengumumkan kelayakannya. Bandingkan pula sisi lainnya dengan semua ini. Demikianlah, ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى, Sang Sultan Azali dan Abadi memiliki begitu banyak Asmaulhusna. Melalui Tajalli Keagungan serta tampaknya Keindahan, Dia memiliki begitu banyak Syuunat dan Gelar. Nama, Gelar, serta Syuun yang menghendaki adanya cahaya dan gelap, musim panas dan musim dingin, serta surga dan neraka juga menghendaki agar hukum pertarungan berlaku secara lebih luas sampai tingkat tertentu, seperti begitu banyak hukum umum, misalnya hukum perkembangbiakan, hukum perlombaan, dan hukum saling menolong. Semuanya menghendaki agar hukum itu meliputi pertarungan ilham dan bisikan setan di sekitar hati hingga pertarungan malaikat dan setan di cakrawala langit. Anak Tangga Kelima: Karena ada perjalanan dari bumi ke langit dan kembali lagi, perjalanan turun dan naik dari langit ke bumi, serta pengiriman keperluan-keperluan penting bumi dari sana; dan karena ruh-ruh yang baik pergi ke langit, tentu ruh-ruh yang jahat juga akan mencoba pergi ke negeri langit dengan meniru yang baik. Sebab, wujud mereka halus dan ringan. Mereka juga pasti akan diusir serta ditolak, sebab hakikat mereka mengandung kejahatan dan keburukan. Tanpa keraguan maupun syubhat sedikit pun, tindakan penting dan pertarungan maknawi ini akan memiliki tanda serta isyarat dalam alam yang disaksikan. Sebab, Hikmah Kerajaan Rububiyah menghendaki agar Dia memberi isyarat serta meninggalkan tanda bagi Tasarruf-Tasarruf gaib yang penting untuk makhluk sadar, terutama manusia, yang tugas paling pentingnya ialah mengamati, bersaksi, mengumumkan, dan mengawasi. Sebagaimana Dia menjadikan hujan sebagai isyarat bagi mukjizat musim semi yang tanpa batas dan sebab-sebab lahir sebagai tanda bagi keajaiban Seni Penciptaan-Nya, agar penghuni alam yang disaksikan itu menjadi saksi. Bahkan, agar Dia menarik perhatian seluruh penghuni langit serta penduduk bumi kepada pemandangan yang menakjubkan itu. Yakni, Dia memperlihatkan langit yang luas itu sebagai sebuah benteng dan dalam bentuk sebuah kota, dengan penjaga berbaris di sekelilingnya serta menara-menara yang dihias, agar manusia merenungkan Kebesaran Rububiyah. Karena menurut Hikmah pertarungan luhur ini perlu diumumkan, tentu ada suatu tanda baginya.Namun, di antara peristiwa-peristiwa di udara dan langit, tidak tampak peristiwa yang sesuai untuk pengumuman ini. Tidak ada yang lebih sesuai daripada peristiwa ini. Sebab, peristiwa-peristiwa bintang yang menyerupai lontaran ketapel perang serta suar isyarat dari menara-menara kukuh benteng tinggi ini terlihat jelas sangat sesuai dengan pelemparan setan itu. Padahal, selain hikmah dan tujuan ini, tidak diketahui hikmah yang sesuai dengan peristiwa tersebut. Peristiwa-peristiwa lainnya tidak demikian. Hikmah ini juga telah dikenal sejak zaman Adam dan disaksikan oleh orang-orang yang mengetahui hakikat. Anak Tangga Keenam: Manusia dan jin memiliki kemampuan untuk berbuat jahat dan menyangkal tanpa batas. Karena itu, mereka menunjukkan sikap keras kepala dan melampaui batas tanpa batas. Oleh sebab itu, Al-Qur'an Al-Karîm mencegah manusia dan jin dari pembangkangan serta tindakan melampaui batas dengan bahasa indah yang merupakan mukjizat, gaya yang begitu luhur dan terang, serta perumpamaan serta kiasan yang begitu luhur dan jelas, hingga membuat alam bergetar. Misalnya, perumpamaan "Wahai manusia dan jin! Jika kalian tidak menaati Perintah-Perintah-Ku, keluarlah dari batas wilayah milik-Ku, jika kalian mampu" ditunjukkan oleh ayat ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ وَالْاِنْسِ ﺍِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﺗَﻨْﻔُﺬُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺍَﻗْﻄَﺎﺭِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻓَﺎﻧْﻔُﺬُﻭﺍ لَا ﺗَﻨْﻔُﺬُﻭﻥَ اِلَّا ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ ٭ ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ ٭ ﻳُﺮْﺳَﻞُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻤَﺎ ﺷُﻮَﺍﻅٌ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ ﻭَ ﻧُﺤَﺎﺱٌ فَلَا ﺗَﻨْﺘَﺼِﺮَﺍﻥِ ٭. Perhatikan Peringatan Agung, Ancaman Dahsyat, serta Teguran Keras dalam ayat ini. Betapa ayat itu mematahkan sikap keras kepala manusia dan jin yang sangat sombong dengan bahasa indah yang begitu menunjukkan mukjizat. Ayat itu menyatakan betapa mereka tak berdaya. Ayat itu memperlihatkan betapa tak berdaya dan malangnya mereka dibandingkan dengan luas serta Kebesaran Kerajaan Rububiyah. Seakan-akan melalui ayat ini serta ayat ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ, Dia mengatakan demikian: "Wahai manusia dan jin yang sombong dan keras kepala dalam kehinaan, serta membangkang dan melawan dalam kelemahan dan keadaan membutuhkan! Bagaimana kalian berani menentang Perintah Sang Sultan Yang Agung dengan pembangkangan kalian, padahal bintang, bulan, serta matahari menaati Perintah-Nya seperti prajurit yang menerima perintah? Dengan sikap melampaui batas, kalian juga bertarung melawan Sang Penguasa Dzul-Jalâl, yang memiliki prajurit taat yang begitu besar. Seandainya setan-setan kalian mampu bertahan, prajurit-prajurit itu dapat melempar mereka dengan peluru sebesar gunung. Dengan mengingkari nikmat, kalian juga membangkang dalam negeri Sang Pemilik Dzul-Jalâl. Di antara hamba serta prajurit-Nya ada yang bukan hanya dapat melempar makhluk kecil dan tak berdaya seperti kalian, melainkan, seandainya sebagai anggapan yang mustahil kalian masing-masing menjadi musuh kafir sebesar gunung dan bumi, mereka dapat melempar kalian dengan bintang sebesar bumi dan gunung, besi berapi, serta tembaga berpijar, lalu mencerai-beraikan kalian.Kalian juga melanggar suatu hukum yang mengikat makhluk-makhluk semacam itu. Jika diperlukan, mereka dapat membenturkan bumi kalian ke wajah kalian. Mereka dapat menghujani kalian dengan bintang-bintang sebesar bola bumi kalian seperti peluru." Ya, dalam Al-Qur'an ada beberapa pengerahan kekuatan penting yang bukan disebabkan kuatnya musuh. Sebaliknya, hal itu disebabkan hal-hal seperti memperlihatkan Kebesaran serta mengumumkan betapa buruknya musuh. Kadang-kadang, untuk memperlihatkan Sempurnanya Keteraturan, Puncak Keadilan, Besarnya Kesabaran, serta Kuatnya Hikmah, Dia mengerahkan sebab-sebab terbesar dan terkuat menghadapi sesuatu yang paling kecil dan lemah. Dia menahan sebab-sebab itu di atasnya, tidak membiarkannya jatuh serta tidak membiarkannya melampaui batas. Misalnya, perhatikan ayat ini: ﻭَﺍِﻥْ ﺗَﻈَﺎﻫَﺮَﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﺎِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﻣَﻮْﻟٰﻴﻪُ ﻭَﺟِﺒْﺮ۪ﻳﻞُ ﻭَﺻَﺎﻟِﺢُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﺑَﻌْﺪَ ﺫٰﻟِﻚَ ﻇَﻬ۪ﻴﺮٌ. Betapa besar penghormatan terhadap hak Nabi ﷺ dan betapa besar belas kasih terhadap hak para istri. Pengerahan kekuatan penting ini hanya untuk menyatakan dengan penuh belas kasih betapa agung penghormatan terhadap Nabi ﷺ, betapa penting keluhan dua perempuan yang lemah itu, serta betapa hak mereka diperhatikan. Anak Tangga Ketujuh: Bintang-bintang juga memiliki anggota yang sangat beragam, seperti malaikat dan ikan. Sebagian sangat kecil, sebagian sangat besar. Bahkan, setiap yang bersinar di langit disebut "bintang". Di antara jenis bintang ini, Sang Fâthir Dzul-Jalâl, Sang Pembuat Dzul-Jamâl, menciptakan satu macam yang seperti perhiasan bertatah pada wajah langit yang indah, buah bercahaya pada pohon itu, serta ikan yang bertasbih dalam laut itu. Dia menjadikannya tempat berjalan-jalan, kendaraan, dan kediaman bagi malaikat-malaikat-Nya. Dia juga menjadikan satu macam bintang kecil sebagai alat untuk melempar setan. Kilatan berapi yang dilemparkan untuk melempar setan ini dapat memiliki tiga makna: Yang Pertama: Isyarat dan tanda bahwa hukum pertarungan juga berlaku dalam lingkup yang paling luas. Yang Kedua: Pengumuman dan isyarat bahwa di langit ada penjaga yang waspada serta penghuni yang taat. Ada pasukan Allah subhânahu yang tidak menyukai bercampurnya makhluk jahat dari bumi dengan mereka serta makhluk-makhluk itu mencuri dengar. Yang Ketiga: Agar setan-setan mata-mata, yang menjadi wakil jahat dari perkara kotor di bumi, tidak mengotori langit yang bersih dan menjadi tempat tinggal makhluk bersih, serta tidak memata-matai atas nama jiwa-jiwa jahat, setan-setan itu ditolak dan diusir dari pintu langit dengan kilatan berapi tersebut. Semua itu seperti lontaran ketapel perang dan suar isyarat yang ditembakkan untuk menakuti mata-mata yang tidak tahu sopan santun. Wahai tuan ahli kosmografi yang mengandalkan lentera di kepalamu, yang hanya seperti kunang-kunang, serta menutup mata terhadap matahari Al-Qur'an! Pandanglah sekaligus hakikat-hakikat yang ditunjukkan dalam tujuh anak tangga ini.Bukalah matamu, tinggalkan lentera di kepalamu, dan lihatlah makna ayat ini dalam cahaya mukjizat yang terang seperti siang! Ambillah satu bintang hakikat dari langit ayat itu, lemparkan kepada setan dalam kepalamu, dan lemparlah setanmu sendiri! Kita pun harus melakukannya dan bersama-sama mengatakan ﺭَﺏِّ ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ. ﻓَﻠِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﺤُﺠَّﺔُ ﺍﻟْﺒَﺎﻟِﻐَﺔُ ﻭَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺎﻃِﻌَﺔُ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
--
LAMPIRAN KALIMAT KELIMA BELAS
Pembahasan Pertama Surat Kedua Puluh Enam
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺍِﻣَّﺎ ﻳَﻨْﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ
Bukti Al-Qur'an melawan Setan dan Golongannya
Pembahasan Pertama, yang mematahkan alasan Iblis, membungkam setan ﴾ﺍﻓﺤﺎﻡ﴿, serta mendiamkan orang-orang yang melampaui batas, merupakan suatu kejadian yang secara pasti menolak tipu daya setan yang mengerikan dalam penilaian tanpa memihak. Sepuluh tahun yang lalu, aku telah menulis satu bagian singkat dari kejadian itu dalam Lemaat (Kilauan-Kilauan). Demikianlah: Sebelas tahun sebelum penulisan risalah ini, pada bulan Ramadan yang mulia, aku mendengarkan para hafiz di Masjid Bayezid di Istanbul. Tiba-tiba, aku tidak melihat sosoknya, tetapi terasa seakan-akan aku mendengar suara maknawi. Suara itu mengalihkan pikiranku kepadanya. Aku mendengarkannya dalam bayangan. ~Ternyata ia berkata kepadaku:
Engkau memandang Al-Qur'an sangat luhur dan sangat cemerlang. Nilailah tanpa memihak dan pandanglah demikian. Yakni, anggaplah sebagai perkataan manusia, lalu perhatikan. Apakah engkau akan melihat keunggulan serta perhiasan-perhiasan itu? Sungguh, aku pun tertipu olehnya. Aku menganggapnya sebagai perkataan manusia dan memandangnya demikian. Aku melihat bahwa, sebagaimana ketika sakelar listrik Bayezid diputar untuk mematikan lampu, sekeliling menjadi gelap, dengan anggapan itu cahaya cemerlang Al-Qur'an mulai tersembunyi. Saat itu aku memahami bahwa yang berbicara denganku adalah setan. Ia menggulingkanku ke dalam bahaya. Aku memohon pertolongan dari Al-Qur'an. Tiba-tiba, suatu cahaya datang ke hatiku. Cahaya itu memberiku kekuatan pasti untuk membela. Saat itu perdebatan dengan setan dimulai demikian. ~Aku berkata:
Wahai setan! Penilaian tanpa memihak berada di antara dua pihak. Namun, penilaian tanpa memihak yang engkau serta murid-muridmu di kalangan manusia sebutkan justru berpihak kepada pihak lawan, bukan bersikap tidak memihak. Itu merupakan sikap menolak agama untuk sementara. Sebab, memandang Al-Qur'an sebagai perkataan manusia dan menilainya demikian berarti menjadikan pilihan pihak lawan sebagai dasar. Itu berarti menerima yang batil, bukan menilai tanpa memihak, melainkan berpihak kepada yang batil. ~Setan berkata:
Kalau begitu, jangan katakan sebagai Firman Allah subhânahu ataupun perkataan manusia. Anggaplah berada di tengah, lalu perhatikan. ~Aku berkata:
Itu pun tidak dapat dilakukan. Sebab, jika ada harta yang dipersengketakan, dan kedua pihak yang menuntutnya berdekatan serta tempat mereka dekat, harta itu akan diletakkan di tangan orang lain atau di suatu tempat yang dapat dijangkau tangan keduanya. Siapa yang membuktikan haknya, dialah yang mengambilnya. Jika kedua pihak itu sangat jauh, yang satu di timur dan yang lain di barat, menurut kaidah, harta itu dibiarkan berada di tangan pihak yang sedang memegangnya. Sebab, harta itu tidak dapat diletakkan di tengah. Demikianlah, Al-Qur'an merupakan harta yang berharga. Sejauh perkataan manusia dari Firman Allah subhânahu, sejauh itu pula kedua pihak tersebut, bahkan tanpa batas, terpisah satu sama lain. Al-Qur'an tidak dapat diletakkan di tengah kedua pihak yang berjauhan seperti tanah dan bintang Tsurayya itu. Juga tidak ada tempat di tengahnya. Sebab, keduanya merupakan dua hal berlawanan seperti ada dan tidak ada, serta seperti dua hal yang saling menyangkal. Tidak mungkin ada pilihan tengah. Karena itu, bagi Al-Qur'an, pihak yang sedang memegangnya ialah pihak Ilahi. Maka, Al-Qur'an harus diterima berada di Tangan pihak itu, dan bukti-buktinya diperhatikan demikian. Jika pihak lainnya dapat mematahkan satu demi satu seluruh bukti bahwa Al-Qur'an adalah Firman Allah subhânahu, ia dapat mengulurkan tangan kepadanya. Jika tidak, ia tidak dapat melakukannya. Mustahil! Tangan mana yang dapat mencabut seluruh paku serta memotong seluruh tiang yang menancapkan berlian besar ini pada Arasy Teragung dengan ribuan paku bukti yang pasti, lalu menjatuhkannya? Wahai setan! Meskipun engkau tidak menyukainya, orang-orang yang berpegang pada haq serta berlaku adil menilai dengan penilaian benar seperti ini. Bahkan, melalui bukti yang paling kecil pun, mereka menambah iman kepada Al-Qur'an. Adapun jalan yang engkau serta murid-muridmu tunjukkan ialah: sekali Al-Qur'an dianggap sebagai perkataan manusia, yakni berlian besar yang terikat pada Arasy itu dilempar ke tanah, diperlukan satu bukti yang sekuat seluruh paku serta sekukuh begitu banyak bukti itu untuk mengangkatnya dari tanah dan menancapkannya pada arasy maknawi. Agar seseorang terselamatkan dari gelapnya kufur dan mencapai cahaya iman. Padahal, berhasil melakukan hal itu sangat sulit. Karena itu, melalui tipu dayamu, banyak orang pada zaman ini kehilangan iman mereka dengan kedok penilaian tanpa memihak. ~Setan berbalik dan berkata:
Al-Qur'an menyerupai perkataan manusia. Bentuknya seperti percakapan mereka. Berarti, Al-Qur'an adalah perkataan manusia. Jika Al-Qur'an adalah Firman Allah subhânahu, tentu bentuknya akan luar biasa dalam setiap segi, sebagaimana layak bagi-Nya. Sebagaimana Seni Penciptaan-Nya tidak menyerupai karya manusia, bukankah Firman-Nya pun seharusnya tidak menyerupainya? ~Sebagai jawaban, aku berkata:
Di luar mukjizat serta sifat-sifat khususnya, Nabi kita ﷺ tetap berada dalam sifat manusia dalam perbuatan, keadaan, serta sikapnya. Seperti manusia lainnya, ia tunduk dan taat kepada Adatullah serta Perintah-Perintah Penciptaan-Nya. Ia pun merasakan dingin, menderita, dan seterusnya. Keadaan yang luar biasa tidak diberikan dalam setiap keadaan dan sikapnya, agar melalui perbuatannya ia menjadi imam bagi umatnya, melalui sikapnya menjadi pembimbing, serta melalui seluruh gerakannya memberi pelajaran. Jika setiap sikapnya luar biasa, ia sendiri tidak dapat menjadi imam dalam setiap segi. Ia tidak dapat menjadi pembimbing bagi semua orang dalam segala hal. Ia tidak dapat menjadi Rahmatan lil-'âlamîn ﷺ melalui seluruh keadaannya. Demikian pula, Al-Qur'an Al-Hakîm merupakan imam bagi makhluk sadar, pembimbing bagi jin dan manusia, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mencapai kesempurnaan, serta guru bagi orang-orang yang mengetahui hakikat. Karena itu, Al-Qur'an harus dan pasti berbentuk percakapan serta gaya bahasa manusia. Sebab, jin dan manusia mengambil munajat darinya, mempelajari doa darinya, menyebutkan perkara-perkara mereka dengan bahasanya, mempelajari adab pergaulan darinya, dan seterusnya. Setiap orang menjadikannya tempat rujukan. Maka, jika Al-Qur'an berbentuk Firman Allah subhânahu yang didengar Nabi Musa 'alaihis-salâm di Gunung Sinai, manusia tidak sanggup mendengarkan serta mendengarnya dan tidak dapat menjadikannya tempat rujukan. Seorang ululazm seperti Nabi Musa 'alaihis-salâm hanya sanggup mendengar beberapa Firman. Musa 'alaihis-salâm berkata: ﺍَﻫٰﻜَﺬَﺍ كَلَامُكَ ؟ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ: ﻟ۪ﻰ ﻗُﻮَّﺓُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ الْاَلْسِنَةِ. ~Setan kembali berbalik dan berkata:
Banyak orang menyampaikan perkara-perkara seperti perkara dalam Al-Qur'an atas nama agama. Karena itu, bukankah mungkin seorang manusia membuat sesuatu seperti ini atas nama agama? ~Dengan cahaya Al-Qur'an, sebagai jawaban aku berkata:
Pertama: Seorang yang beragama, karena mencintai agama, berkata, "Haq demikian. Inilah hakikat. Demikianlah Perintah Allah subhânahu." Ia tidak membuat Allah subhânahu berbicara menurut keinginannya sendiri. Ia tidak melampaui batas tanpa batas, meniru Allah subhânahu, serta berbicara menggantikan-Nya. Ia gemetar di hadapan ketentuan ﻓَﻤَﻦْ ﺍَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦْ ﻛَﺬَﺏَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ. Kedua: Seorang manusia tidak mungkin melakukan serta berhasil dalam hal seperti ini dengan dirinya sendiri, dalam segi mana pun. Bahkan, hal itu mustahil seratus kali. Sebab, orang-orang yang berdekatan dapat saling meniru. Mereka yang sejenis dapat memasuki bentuk satu sama lain. Mereka yang berdekatan tingkatnya dapat meniru maqam satu sama lain. Mereka dapat menipu orang untuk sementara, tetapi tidak dapat menipunya terus-menerus. Sebab, di hadapan orang-orang yang teliti, sikap dan keadaan yang dibuat-buat serta dipaksakan bagaimanapun akan memperlihatkan kepalsuannya. Tipu dayanya tidak akan berlanjut. Jika orang yang mencoba meniru dengan kepalsuan itu sangat jauh dari orang lainnya, misalnya orang biasa ingin meniru seorang genius seperti Ibnu Sina dalam ilmu, dan seorang penggembala mengambil sikap seorang raja, tentu ia tidak dapat menipu siapa pun. Sebaliknya, ia sendiri akan menjadi bahan tertawaan. Setiap keadaannya akan berteriak, "Orang ini penipu!" Demikianlah—sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak—ketika Al-Qur'an dianggap sebagai perkataan manusia, bagaimana mungkin seekor kunang-kunang tampak bagi para pengamat bintang sebagai bintang sungguhan selama seribu tahun tanpa memaksakan diri? Bagaimana mungkin seekor lalat memperlihatkan dirinya kepada para penonton dalam bentuk merak sepenuhnya selama setahun tanpa dibuat-buat? Bagaimana mungkin seorang prajurit biasa yang palsu mengambil sikap panglima yang terkenal dan tinggi, duduk di maqamnya, tetap demikian dalam waktu lama, serta tidak membuat tipu dayanya terasa? Bagaimana mungkin seorang pemfitnah, pendusta, dan tidak beriman sepanjang hidupnya selalu memperlihatkan keadaan serta sikap orang yang paling jujur, paling dapat dipercaya, dan paling yakin di hadapan pandangan yang paling teliti tanpa gelisah, serta kepura-puraannya tersembunyi dari pandangan orang-orang genius? Hal ini mustahil seratus kali. Tidak ada orang berakal yang dapat menyebutnya mungkin. Menganggapnya demikian pun merupakan pikiran kacau, seperti menganggap sesuatu yang jelas mustahil benar-benar terjadi.Demikian pula, menganggap Al-Qur'an sebagai perkataan manusia mengharuskan anggapan bahwa hakikat Kitab yang jelas ini—yang di cakrawala dunia Islam terlihat sangat cemerlang dan dianggap sebagai bintang hakikat yang selalu menyebarkan cahaya hakikat, bahkan sebagai matahari kesempurnaan—adalah—sekali-kali tidak, sekali lagi sekali-kali tidak—karangan penuh takhayul dari seorang manusia yang berpura-pura, yang hanya seperti kunang-kunang. Orang-orang yang paling dekat serta memperhatikannya dengan teliti juga harus tidak menyadarinya, dan selalu menganggapnya sebagai bintang luhur serta sumber hakikat. Hal ini mustahil seratus kali. Wahai setan! Sekalipun engkau maju seratus kali dalam kejahatanmu sebagai setan, engkau tidak dapat membuat hal ini mungkin, serta tidak dapat meyakinkan satu pun akal yang belum rusak! Engkau hanya menipu dengan membuat orang memandang dari jarak yang sangat jauh secara maknawi! Engkau memperlihatkan bintang itu sekecil kunang-kunang. Ketiga: Menganggap Al-Qur'an sebagai perkataan manusia juga mengharuskan anggapan bahwa hakikat tersembunyi Furqan ini—yang melalui karya, pengaruh, serta hasilnya terlihat paling penuh ruh dan menyebarkan kehidupan dalam dunia manusia, paling penuh hakikat dan membawa kebahagiaan, paling banyak menghimpun makna dan memiliki bahasa yang merupakan mukjizat, serta dihiasi keunggulan-keunggulan luhur—adalah—sekali-kali tidak—hasil buatan pikiran satu manusia tanpa pertolongan dan tanpa ilmu. Orang-orang yang sangat cerdas serta genius yang luhur, yang menyaksikannya dari dekat dan memperhatikan dengan penuh minat, juga harus tidak pernah melihat tanda kepalsuan serta kepura-puraan di dalamnya dalam segi apa pun, dan selalu menemukan kesungguhan, ketulusan, serta keikhlasan! Hal ini mustahil seratus kali. Bersama itu, seseorang yang melalui seluruh keadaan, ucapan, serta gerakannya sepanjang hidup memperlihatkan dan mengajarkan amanah, iman, sikap dapat dipercaya, ikhlas, kesungguhan, serta sikap lurus, dan mendidik orang-orang yang amat jujur, dianggap serta diterima memiliki sifat paling tinggi, paling cemerlang, serta paling luhur. Menganggap sosok itu sebagai yang paling tidak dapat dipercaya, paling tidak ikhlas, serta paling tidak beriman merupakan pikiran kacau yang akan mempermalukan setan sekalipun, seperti melihat hal yang berlipat-lipat mustahil benar-benar terjadi. Sebab, tidak ada pilihan tengah dalam perkara ini. Jika sebagai anggapan yang mustahil Al-Qur'an bukan Firman Allah subhânahu, ia akan jatuh seperti jatuh dari Arasy ke tanah. Ia tidak tetap di tengah. Ketika sebelumnya merupakan tempat berkumpulnya hakikat, ia menjadi sumber takhayul. Sosok yang memperlihatkan Titah Luar Biasa itu, sekali-kali tidak, sekali lagi sekali-kali tidak, jika bukan Rasulullah ﷺ, harus jatuh dari a'lâ illiyyîn ke asfal sâfilîn, serta turun dari tingkat sumber kesempurnaan ke maqam tambang tipu daya. Ia tidak dapat tetap di tengah.Sebab, orang yang membuat fitnah dan berdusta atas nama Allah subhânahu jatuh ke tingkat paling rendah. Betapa mustahilnya selalu memandang seekor lalat sebagai merak dan setiap saat menyaksikan sifat-sifat besar merak padanya, demikian pula perkara ini mustahil. Hanya orang gila yang mabuk serta tidak berakal menurut fitrahnya yang dapat menganggapnya mungkin. Keempat: Menganggap Al-Qur'an sebagai perkataan manusia juga mengharuskan anggapan bahwa Al-Qur'an, panglima suci umat Muhammad ﷺ, yang merupakan pasukan terbesar dan termegah umat manusia, adalah, sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak, karangan tanpa kekuatan, tanpa nilai, dan tanpa dasar. Padahal, terlihat bahwa melalui hukum-hukumnya yang kuat, kaidah-kaidahnya yang mendasar, serta perintah-perintahnya yang berlaku, Al-Qur'an memberi keteraturan kepada pasukan yang sangat besar itu hingga mampu menaklukkan dua dunia, menempatkannya di bawah disiplin, dan melengkapinya secara fisik serta maknawi. Menurut tingkat seluruh anggotanya, Al-Qur'an mengajar akal mereka, mendidik hati mereka, menundukkan ruh mereka, menyucikan nurani mereka, serta menggunakan dan menugaskan anggota tubuh mereka. Selain harus menerima hal yang mustahil seratus kali ini, seseorang juga harus sekaligus menerima hal-hal yang seratus kali mustahil dengan menganggap suatu sosok sebagai yang tidak takut kepada Allah subhânahu, tidak mengenal-Nya, tidak menjauhi dusta, serta tidak mengakui kehormatannya sendiri—sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak. Padahal, sepanjang hidupnya, melalui gerakan yang sungguh-sungguh ia mengajarkan Hukum-Hukum Al-Haqq kepada umat manusia; melalui perbuatan yang tulus ia mengajar manusia kaidah-kaidah hakikat; melalui ucapan yang ikhlas dan masuk akal ia memperlihatkan serta membangun dasar sikap lurus dan kebahagiaan. Dengan kesaksian seluruh riwayat hidupnya, ia sangat takut kepada azab Allah subhânahu, lebih mengenal dan memperkenalkan Allah subhânahu daripada siapa pun, serta selama seribu tiga ratus lima puluh tahun memimpin seperlima umat manusia dan separuh bola bumi dengan kebesaran yang sempurna. Melalui syuunatnya yang masyhur dan menggemparkan dunia, ia benar-benar menjadi kebanggaan umat manusia, bahkan kainat. Sebab, tidak ada pilihan tengah dalam perkara ini. Jika sebagai anggapan yang mustahil Al-Qur'an bukan Firman Allah subhânahu dan jatuh dari Arasy, ia tidak dapat tetap berada di tengah. Sebaliknya, harus dianggap bahwa di bumi Al-Qur'an merupakan milik salah seorang yang paling pendusta. Wahai setan! Sekalipun engkau menjadi setan berlipat seratus kali, engkau tidak dapat meyakinkan satu pun akal yang belum rusak ataupun satu pun hati yang belum membusuk.~Setan berbalik dan berkata:
Bagaimana mungkin aku tidak dapat meyakinkan? Aku telah membuat sebagian besar manusia serta orang-orang yang terkenal berakal mengingkari Al-Qur'an dan Muhammad ﷺ, dan telah meyakinkan mereka. ~Jawaban:
Pertama: Jika dipandang dari jarak yang sangat jauh, sesuatu yang paling besar dapat terlihat seperti sesuatu yang paling kecil. Sebuah bintang dapat dikatakan sebesar lilin. Kedua: Jika dipandang secara tidak langsung dan dangkal, sesuatu yang sangat mustahil dapat terlihat mungkin. Suatu kali, seorang laki-laki tua memandang langit untuk melihat hilal Ramadan. Sehelai rambut putih turun ke matanya. Ia mengira rambut itu sebagai bulan dan berkata, "Aku telah melihat bulan." Mustahil hilal itu adalah rambut putih tersebut. Namun, karena ia sengaja dan langsung memandang bulan, sedangkan rambut itu terlihat secara tidak langsung serta pada tingkat kedua, ia menganggap hal yang mustahil itu mungkin. Ketiga: Tidak menerima berbeda dengan mengingkari. Tidak menerima merupakan sikap tidak peduli, menutup mata, serta tidak memberi putusan karena ketidaktahuan. Dengan cara ini, banyak hal mustahil dapat bersembunyi di dalamnya. Akalnya tidak berurusan dengan semua itu. Adapun mengingkari bukan tidak menerima, melainkan menerima bahwa sesuatu tidak ada; itu suatu putusan. Akalnya terpaksa bergerak. Saat itu, setan sepertimu merampas akalnya, lalu membuatnya menelan pengingkaran. Wahai setan! Dengan tipu daya setan seperti kelalaian, kesesatan, penalaran palsu, sikap keras kepala, mughalathah (sesat pikir), sikap keras kepala menolak kebenaran, penipuan, serta kebiasaan mengikuti orang lain, yang memperlihatkan yang batil sebagai benar dan yang mustahil sebagai mungkin, engkau telah membuat hewan-hewan malang yang berwujud manusia itu menelan kufur serta pengingkaran yang menghasilkan banyak hal yang mustahil. Keempat: Menganggap Al-Qur'an sebagai perkataan manusia mengharuskan anggapan bahwa suatu Kitab memiliki sifat yang bertentangan dengan sifat, pengaruh, serta cahayanya sendiri, dan memandangnya—sekali-kali tidak, sekali-kali tidak—sebagai kumpulan karangan palsu dan fitnah. Padahal, terlihat bahwa Kitab itu membimbing orang-orang suci pilihan, orang-orang yang amat jujur, serta para pemuka wali, yang bersinar seperti bintang di cakrawala dunia manusia. Dengan jelas dan terus-menerus, Kitab itu mengajarkan kebenaran dan hak yang sejati, kejujuran dan kesetiaan, rasa aman dan amanah kepada seluruh tingkat orang-orang yang mencapai kesempurnaan. Melalui hakikat rukun iman serta kaidah rukun Islam, Kitab itu menjamin kebahagiaan dua dunia. Dengan kesaksian tindakan-tindakan ini, Kitab itu harus merupakan kebenaran yang murni, hakikat yang bersih, sangat benar, dan sangat sungguh-sungguh. Anggapan tersebut merupakan pikiran kacau yang buruk dan penuh kufur, yang akan mempermalukan serta menggetarkan kaum sofis dan setan sekalipun. Bersama itu...Seseorang yang paling yakin, paling teguh, paling dapat dipercaya, serta paling jujur harus dianggap—sekali-kali tidak, sekali lagi sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak—sebagai yang tidak beriman, paling tidak dapat dipercaya, tidak takut kepada Allah subhânahu, serta tidak menjauhi dusta. Padahal, sifat-sifat baiknya itu disaksikan oleh agama serta syariat Islam yang ia perlihatkan; ditunjukkan oleh takwanya yang, menurut kesepakatan semua pihak, luar biasa, serta ubudiyahnya yang ikhlas dan murni sepanjang hidupnya; dituntut oleh akhlaknya yang baik, yang menurut kesepakatan semua pihak terlihat dalam dirinya; dan dibenarkan oleh seluruh orang yang mengetahui hakikat serta memiliki kesempurnaan yang ia didik. Dengan anggapan itu, seseorang melakukan hal yang mustahil dalam bentuk paling buruk dan paling dibenci, serta bentuk kesesatan yang paling zalim dan paling gelap. ~Kesimpulannya:
Sebagaimana dikatakan dalam Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas, orang-orang biasa yang mendengar berkata dalam memahami mukjizat Al-Qur'an: Jika Al-Qur'an dibandingkan dengan seluruh kitab yang kudengar dan yang ada di dunia, Al-Qur'an tidak menyerupai satu pun darinya dan tidak berada pada tingkat mereka. Maka, Al-Qur'an berada di bawah semuanya atau memiliki tingkat di atas semuanya. Pilihan bahwa Al-Qur'an berada di bawah semuanya adalah mustahil. Tidak ada musuh, bahkan setan sekalipun, yang dapat mengatakan serta menerimanya. Maka, Al-Qur'an berada di atas seluruh kitab. Berarti, Al-Qur'an merupakan mukjizat. Demikian pula, melalui bukti paling pasti yang dalam ilmu usul serta logika disebut penelitian dan pembagian, kita berkata: Wahai setan dan murid-murid setan! Al-Qur'an adalah Firman Allah subhânahu yang datang dari Arasy Teragung serta Ismul A'zham, atau, sekali-kali tidak, sekali lagi sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak, karangan seorang manusia tidak beriman di bumi, yang tidak takut kepada Allah subhânahu serta tidak mengenal Allah subhânahu. Wahai setan! Di hadapan bukti-bukti sebelumnya, engkau tidak dapat mengatakan hal ini; dahulu tidak dapat, dan kelak tidak akan dapat mengatakannya. Maka, tanpa dapat dihindari serta tanpa syubhat, Al-Qur'an adalah Firman Sang Khâliq alam. Sebab, tidak ada pilihan tengah; pilihan tengah itu mustahil dan tidak dapat ada. Kita telah membuktikannya secara pasti, dan engkau pun telah melihat serta mendengarnya. Muhammad ﷺ juga adalah Rasulullah ﷺ, yang paling sempurna di antara seluruh rasul ﷺ serta yang paling utama di antara seluruh makhluk ﷺ, atau, sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak, ia harus dianggap sebagai manusia tidak beriman yang jatuh ke asfal sâfilîn, karena membuat fitnah terhadap Allah subhânahu, tidak mengenal Allah subhânahu, serta tidak percaya kepada azab-Nya. {(Catatan kaki): Al-Qur'an Al-Hakîm menyebutkan ucapan penuh kufur serta ungkapan kasar orang-orang kafir untuk membatalkannya. Dengan bersandar pada hal itu, aku terpaksa menggunakan ungkapan-ungkapan ini dengan gemetar sebagai anggapan yang mustahil, untuk memperlihatkan betapa sepenuhnya mustahil dan sepenuhnya rapuh pikiran penuh kufur orang-orang yang sesat.} Wahai Iblis! Engkau, para ahli filsafat Eropa yang engkau andalkan, serta orang-orang munafik Asia tidak dapat mengatakan hal ini. Kalian dahulu tidak dapat mengatakannya, kelak tidak akan dapat mengatakannya, belum pernah mengatakannya, dan tidak akan mengatakannya. Sebab, tidak ada seorang pun di dunia yang akan mendengarkan serta menerima pilihan ini. Karena itulah, bahkan orang yang paling merusak di antara para ahli filsafat yang engkau andalkan serta yang paling tidak memiliki nurani di antara orang-orang munafik itu berkata, "Muhammad dari bangsa Arab ﷺ sangat cerdas dan berakhlak sangat baik." Karena perkara ini terbatas pada dua pilihan, karena pilihan kedua mustahil dan tidak ada seorang pun yang menerimanya, serta karena kita telah membuktikan dengan bukti-bukti pasti bahwa tidak ada pilihan tengah, tentu dan tanpa dapat dihindari, meskipun engkau serta golongan setan menentangnya, dengan jelas dan yakin sepenuhnya, Muhammad dari bangsa Arab ﷺ adalah Rasulullah ﷺ, yang paling sempurna di antara seluruh rasul ﷺ serta yang paling utama di antara seluruh makhluk ﷺ. ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ وَالْاِنْسِ ﻭَﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ