Kalimat Ketiga Belas
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻧُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَٓﺎﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﻨَﺎﻩُ ﺍﻟﺸِّﻌْﺮَ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐ۪ﻰ ﻟَﻪُ Jika engkau ingin membandingkan hasil-hasil hikmah, pelajaran, serta tingkat ilmu Al-Qur'an Al-Hakîm dengan ilmu-ilmu filsafat, perhatikanlah perkataan berikut! Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat merobek tirai kebiasaan dan rasa terbiasa yang menyelubungi makhluk-makhluk dalam seluruh alam, yang disebut hal-hal biasa, padahal semuanya luar biasa serta masing-masing merupakan mukjizat Kudrat. Dengan ungkapannya yang tajam, Al-Qur'an membuka hakikat-hakikat menakjubkan itu kepada makhluk berkesadaran, menarik pandangan mereka untuk mengambil pelajaran, serta membuka bagi akal suatu khazanah ilmu yang tidak habis. Adapun hikmah filsafat menyembunyikan seluruh mukjizat Kudrat yang luar biasa di dalam tirai kebiasaan, lalu melewatinya tanpa mengetahui dan tanpa peduli. Ia hanya menarik perhatian kepada individu-individu langka yang telah jatuh dari sifat luar biasanya, keluar dari keteraturan penciptaan, serta turun dari kesempurnaan fitrah. Ia menyajikannya kepada makhluk berkesadaran sebagai hikmah yang penuh pelajaran. Misalnya, ia menyebut penciptaan manusia, yang merupakan mukjizat Kudrat dengan cakupan paling luas, sebagai hal biasa dan memandangnya tanpa peduli. Namun, manusia berkaki tiga atau berkepala dua, yang telah keluar dari kesempurnaan penciptaan manusia, dipamerkannya untuk diambil pelajaran dengan riuh karena merasa heran. Misalnya, ia menganggap biasa pemenuhan kebutuhan makan seluruh anak makhluk secara teratur dari khazanah gaib, yang merupakan mukjizat Rahmat paling halus dan paling umum, lalu menutupinya dengan tirai tidak bersyukur. Namun, ia melihat suatu serangga di bawah laut yang menyimpang dari keteraturan, terpisah dari kelompoknya, dan sendirian di tempat asing, dipenuhi kebutuhan makannya dengan selembar daun hijau. Dengan Karunia dan Kemurahan yang bertajalli darinya, ia ingin membuat para nelayan yang hadir menangis. {(Catatan kaki): Peristiwa yang sama telah terjadi di Amerika.} Lihatlah kekayaan serta kecukupan Al-Qur'an Al-Karîm dari segi ilmu, hikmah, dan pengenalan kepada Allah subhânahu; serta kekurangan dan kebangkrutan filsafat dari segi ilmu, pelajaran, serta pengenalan kepada Sang Pembuat. Ambillah pelajaran! Karena rahasia inilah Al-Qur'an Al-Hakîm, yang mencakup hakikat-hakikat yang cemerlang dan luhur tanpa batas, tidak membutuhkan khayalan puisi. Ya, sekalipun Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat memiliki susunan dan keteraturan sempurna hingga tingkat mukjizat, serta dengan gaya-gayanya yang teratur menafsirkan keteraturan Seni Penciptaan dalam kitab alam, ia tidak berbentuk syair. Sebab lainnya ialah: agar setiap bintang ayatnya tidak berada di bawah batas irama syair, sehingga menjadi semacam pusat bagi kebanyakan ayat dan menjadi saudaranya. Agar menjadi ikatan bagi hubungan maknawi yang ada di antara mereka, masing-masing membentuk satu garis hubungan dengan ayat-ayat dalam lingkup sekitarnya. Seakan-akan setiap ayat yang bebas memiliki mata yang memandang serta wajah yang menghadap kebanyakan ayat. Di dalam Al-Qur'an terdapat ribuan Al-Qur'an; ia memberikan satu kepada setiap orang dengan kecenderungannya masing-masing. Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Kedua Puluh Lima, di dalam Surah Al-Ikhlâs terdapat dan tercakup suatu khazanah ilmu tauhid yang sebanding dengan tiga puluh enam Surah Al-Ikhlâs dan terbentuk dari berbagai susunan enam kalimat yang masing-masing bersayap. Ya, bintang-bintang di langit tampak tidak teratur. Karena secara lahir tidak teratur, setiap bintang tidak berada di bawah suatu batas. Masing-masing menjadi semacam pusat bagi kebanyakan bintang dan memanjangkan satu garis hubungan kepada setiap bintang dalam lingkup sekitarnya, satu demi satu, sebagai isyarat bagi hubungan tersembunyi di antara segala yang ada. Seakan-akan setiap bintang, seperti bintang ayat, memiliki mata yang memandang serta wajah yang menghadap seluruh bintang. Lihatlah keteraturan sempurna di tengah keadaan yang tidak teratur, dan ambillah pelajaran! Ketahuilah suatu rahasia ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﻨَﺎﻩُ ﺍﻟﺸِّﻌْﺮَ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐ۪ﻰ ﻟَﻪُ! Pahami pula rahasia ayat ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐ۪ﻰ ﻟَﻪُ melalui hal ini: sifat puisi ialah ingin menghiasi hakikat-hakikat kecil dan redup dengan khayalan besar serta cemerlang, agar disukai. Padahal, hakikat-hakikat Al-Qur'an begitu besar, luhur, cemerlang, dan berkilau, sehingga khayalan paling besar serta paling cemerlang pun, jika dibandingkan dengannya, tetap sangat kecil dan redup. Misalnya, hakikat-hakikatnya yang tanpa batas seperti ﻳَﻮْﻡَ ﻧَﻄْﻮِﻯ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﻛَﻄَﻰِّ ﺍﻟﺴِّﺠِﻞِّ ﻟِﻠْﻜُﺘُﺐِ ٭ ﻳُﻐْﺸِﻰ ﺍﻟَّﻴْﻞَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻳَﻄْﻠُﺒُﻪُ ﺣَﺜ۪ﻴﺜًﺎ٭ ﺍِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ اِلَّا ﺻَﻴْﺤَﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻓَﺎِﺫَﺍﻫُﻢْ ﺟَﻤ۪ﻴﻊٌ ﻟَﺪَﻳْﻨَﺎ ﻣُﺤْﻀَﺮُﻭﻥَ bersaksi atas hal ini. Jika engkau ingin melihat dan merasakan bagaimana setiap ayat Al-Qur'an, seperti bintang yang menembus dengan cahayanya, menyebarkan cahaya mukjizat serta petunjuk dan mengusir gelapnya kekufuran, bayangkan dirimu berada pada zaman jahiliah dan di padang kehidupan Badui itu. Saat segala sesuatu berada di bawah gelapnya ketidaktahuan serta kelalaian dan terbungkus tirai benda mati serta alam, tiba-tiba dengarkanlah dari bahasa luhur Al-Qur'an ayat-ayat seperti ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚِ ﺍﻟْﻘُﺪُّﻭﺱِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢِ, lalu pandanglah! Melalui suara ﻳُﺴَﺒِّﺢُ, betapa makhluk-makhluk alam yang mati atau tertidur itu hidup kembali, terjaga, bangkit, serta berzikir dalam pikiran para pendengar! Melalui seruan ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ, bintang-bintang yang merupakan potongan api tak bernyawa di langit yang gelap itu serta makhluk-makhluk sengsara di bumi memperlihatkan wajahnya dalam pandangan para pendengar sebagai berikut: langit menjadi suatu mulut; seluruh bintang masing-masing menjadi kata yang memperlihatkan Hikmah serta cahaya yang menyatakan hakikat; bumi menjadi suatu kepala; darat dan laut masing-masing menjadi lidah; serta seluruh hewan dan tumbuhan masing-masing menjadi kata yang memancarkan tasbih. Jika engkau hanya memandang zaman itu dari zaman ini, engkau tidak dapat melihat rincian rasa yang disebutkan tadi. Ya, jika engkau memandang dengan keadaan yang sejak zaman itu telah menyebarkan cahayanya, seiring berlalunya waktu menjadi pengetahuan umum, bersinar bersama cahaya-cahaya Islam yang lain, serta menerima warna siang melalui matahari Al-Qur'an, atau memandang melalui tirai kebiasaan yang dangkal dan sederhana, tentu engkau tidak dapat melihat sepenuhnya jenis-jenis gelap yang diusir setiap ayat di dalam senandung mukjizat yang begitu manis. Di antara banyak jenis kemukjizatannya, engkau tidak dapat merasakan jenis kemukjizatan ini. Jika engkau ingin memandang salah satu tingkat kemukjizatan tertinggi Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, pandanglah melalui teropong perumpamaan berikut: Kita bayangkan suatu pohon yang sangat tinggi dan asing, sangat luas bentangannya, serta menakjubkan. Pohon itu tersembunyi di bawah tirai gaib, di dalam suatu lapisan penutup. Telah diketahui bahwa, seperti anggota tubuh manusia, seluruh bagian pohon, seperti dahan, buah, daun, serta bunganya, memerlukan hubungan, kesesuaian, serta keseimbangan di antara mereka. Setiap bagiannya mengambil bentuk dan diberi rupa sesuai hakikat pohon itu. Jika seseorang tampil untuk menggambarkan pohon yang sama sekali tidak terlihat itu, dan saat ini pun tidak terlihat, lalu menggambar pada suatu tirai sesuai setiap bagiannya dan menarik garis batas masing-masing; menggambar suatu rupa dengan kesesuaian dari dahan ke buah serta dari buah ke daun; dan mengisi ruang di antara awal serta akhir pohon, walau keduanya sangat jauh satu sama lain, dengan gambar-gambar yang cocok untuk memperlihatkan bentuk serta rupa bagian-bagiannya secara persis, tentu tidak tersisa syubhat bahwa pelukis itu melihat pohon gaib tersebut dengan pandangan yang mengenal gaib, meliputinya, lalu menggambarnya. Demikian pula, penjelasan Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat mengenai hakikat segala yang mungkin ada, yakni hakikat pohon penciptaan yang terbentang dari awal dunia hingga akhir yang paling jauh dari akhirat, serta meluas dari bumi hingga arasy dan dari zarah hingga matahari, memelihara kesesuaian sedemikian rupa dan memberi bentuk yang layak kepada setiap bagian serta buahnya, sehingga seluruh peneliti, pada akhir penelitian mereka, mengatakan mengenai gambaran Al-Qur'an, "Masyaallah, barakallah!" Mereka mengatakan, "Hanya engkaulah yang menyingkap dan membuka rahasia alam serta teka-teki penciptaan, wahai Al-Qur'an Al-Hakîm!" ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى—perumpamaan tidak dipersalahkan—kita gambarkan Asma dan Sifat-Sifat Allah subhânahu, serta Syuun dan Tindakan-Tindakan Rabbani, sebagai suatu pohon Thûbâ yang bercahaya. Lingkup Keagungan pohon bercahaya itu terbentang dari azali hingga kekal selamanya. Batas Kebesaran-Nya meluas dan meliputi ruang mutlak yang tidak terbatas. Batas Tindakan-Tindakan-Nya terbentang dari batas ﻳَﺤُﻮﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻭَﻗَﻠْﺒِﻪ۪ ٭ ﻓَﺎﻟِﻖُ ﺍﻟْﺤَﺐِّ ﻭَﺍﻟﻨَّﻮٰﻯ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﺼَﻮِّﺭُﻛُﻢْ ﻓِﻰ الْاَرْحَامِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ hingga batas ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ ﺑِﻴَﻤ۪ﻴﻨِﻪ۪ ٭ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻓ۪ﻰ ﺳِﺘَّﺔِ ﺍَﻳَّﺎﻡٍ ٭ ﻭَ ﺳَﺨَّﺮَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ. Al-Qur'an menjelaskan hakikat-hakikat Asma, Sifat-Sifat, Syuun, serta Tindakan-Tindakan itu, yakni hakikat bercahaya tersebut dengan seluruh dahan dan ranting, tujuan dan buahnya, dengan kesesuaian sedemikian rupa. Semua itu cocok satu sama lain, layak satu sama lain, tidak saling mematahkan, tidak merusak ketetapan masing-masing, serta tidak merasa asing satu sama lain. Karena itu, seluruh ahli kasyaf dan ahli hakikat, serta seluruh pemilik pengenalan dan hikmah yang berkelana dalam lingkup alam batin, mengatakan, "Subhanallah," di hadapan penjelasan Al-Furqân itu. Mereka membenarkannya dengan mengatakan, "Betapa benar, betapa sesuai, betapa indah, betapa layak!" Misalnya, Al-Qur'an menggambarkan enam rukun iman yang memandang seluruh lingkup yang mungkin ada serta lingkup yang pasti harus ada, dan yang merupakan satu dahan dari kedua pohon besar itu, beserta seluruh dahan serta ranting rukun-rukun tersebut hingga buah serta bunganya yang paling halus, dengan memelihara kesesuaian sedemikian rupa di antara semuanya. Al-Qur'an menjelaskannya dengan keseimbangan demikian besar serta memperlihatkannya dengan kesesuaian demikian tinggi, sehingga akal manusia tidak mampu menjangkaunya dan takjub akan keindahannya. Lima rukun Islam merupakan satu ranting dari dahan iman itu. Di antara rukun-rukun tersebut, hingga rincian paling halus, adab paling kecil, tujuan paling jauh, hikmah paling dalam, serta buah juz'i yang paling kecil, terpelihara kesesuaian yang indah, hubungan sempurna, serta keseimbangan penuh. Buktinya ialah keteraturan serta keseimbangan sempurna, kesesuaian yang indah, dan kekukuhan syariat Islam yang agung, yang keluar dari teks serta berbagai segi makna, isyarat serta tanda tersirat Al-Qur'an yang mencakup banyak hal. Semua itu merupakan saksi adil yang tidak dapat dibantah serta bukti pasti yang tidak memberi ruang bagi syubhat. Jadi, penjelasan Al-Qur'an tidak mungkin bersandar pada ilmu juz'i manusia, terutama ilmu seseorang yang tidak dapat membaca dan menulis. Ia justru bersandar pada Ilmu yang meliputi segala sesuatu, serta merupakan Firman Zat yang dapat melihat segala sesuatu sekaligus dan menyaksikan seluruh hakikat di antara azali dan kekal selamanya dalam satu saat. ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻩِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻋِﻮَﺟًﺎ mengisyaratkan hakikat ini. ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﻣُﻨْﺰِﻝَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺑِﺤَﻖِّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَ ﺑِﺤَﻖِّ ﻣَﻦْ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﻧَﻮِّﺭْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻭَ ﻗُﺒُﻮﺭَﻧَﺎ ﺑِﻨُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻳَﺎ ﻣُﺴْﺘَﻌَﺎﻥُ
--
MAQAM KEDUA KALIMAT KETIGA BELAS
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
(Suatu percakapan dengan beberapa pemuda yang berada di tengah godaan memikat dan belum kehilangan akal.)
Beberapa pemuda meminta pertolongan kepada Risale-i Nur untuk menghadapi serangan kesenangan yang melalaikan serta keinginan yang menipu dan memikat pada zaman ini. Mereka bertanya, "Bagaimana kami menyelamatkan akhirat kami?" Atas nama pribadi maknawi Risale-i Nur, saya mengatakan kepada mereka: Kubur itu ada; tidak seorang pun dapat mengingkarinya. Setiap orang akan memasukinya, mau ataupun tidak. Untuk memasukinya, tidak ada jalan selain tiga cara melalui tiga jalan. Jalan pertama: Bagi ahli iman, kubur merupakan pintu menuju alam yang lebih indah daripada dunia ini. Jalan kedua: Bagi mereka yang membenarkan akhirat tetapi mengejar kesenangan terlarang dan berjalan dalam kesesatan, kubur merupakan pintu penjara abadi serta penjara seorang diri, terpisah dari seluruh sahabatnya, dalam tahanan sendirian. Karena ia tidak bertindak sesuai apa yang dilihat, diyakini, dan dipercayainya, ia akan diperlakukan demikian. Jalan ketiga: Bagi orang-orang yang mengingkari dan sesat, yang tidak percaya kepada akhirat, kubur merupakan pintu pemusnahan abadi, yakni tiang gantungan yang akan memusnahkan dirinya serta seluruh yang dicintainya. Karena ia mengetahuinya demikian, sebagai hukumannya ia akan melihat hal yang sama. Kedua kemungkinan ini jelas, tidak memerlukan bukti, dan terlihat oleh mata. Karena waktu ajal tersembunyi, kematian dapat datang setiap saat untuk memenggal kepala, dan tidak ada perbedaan antara muda dan tua, tentu, di hadapan persoalan begitu besar dan mengerikan yang selalu berada di depan matanya, mencari cara untuk terbebas dari pemusnahan abadi serta penjara seorang diri yang kedalamannya tak berujung dan yang tidak berakhir itu, lalu mengubah pintu kubur baginya menjadi pintu menuju alam yang kekal, kebahagiaan abadi, serta alam cahaya, merupakan persoalan sebesar dunia bagi manusia yang malang itu. Hakikat yang pasti ini hadir melalui ketiga jalan tersebut. Seratus dua puluh empat ribu pemberi kabar yang jujur, yakni para nabi yang memegang mukjizat sebagai tanda pembenaran, memberitakan bahwa ketiga jalan itu membawa kepada ketiga hakikat yang disebutkan tadi. Seratus dua puluh empat juta wali membenarkan serta membubuhkan pengesahan atas berita yang sama dari para nabi melalui penglihatan batin, merasakannya, serta menyaksikannya langsung, dan bersaksi atas hakikat yang sama. Para peneliti yang tidak terhitung membuktikan berita yang sama dari para nabi dan wali itu secara akal, hingga tingkat yakin melalui ilmu, dengan bukti-bukti pasti {(): Salah satunya ialah Risale-i Nur, yang nyata ada.}. Dengan kemungkinan pasti sebesar sembilan puluh sembilan persen, mereka bersama-sama memberitakan, "Terbebas dari pemusnahan serta penjara abadi, dan mengubah jalan itu menjadi kebahagiaan abadi, hanya melalui iman dan ketaatan." Jika perkataan satu orang pemberi kabar saja diperhatikan agar kita tidak menempuh jalan berbahaya dengan satu persen kemungkinan binasa, dan orang yang tidak mendengarkannya lalu menempuh jalan tersebut kehilangan selera makan karena derita batin dari rasa takut binasa, bagaimana dengan persoalan ini? Ratusan ribu pemberi kabar yang jujur dan telah dibenarkan itu memberitakan, dengan kemungkinan seratus persen, bahwa kesesatan dan sikap mengejar kesenangan terlarang menjadi sebab pasti menuju tiang gantungan kubur serta penjara seorang diri yang abadi di depan mata. Mereka juga memberitakan, dengan kemungkinan seratus persen, bahwa iman dan ubudiyah menghilangkan tiang gantungan itu, menutup penjara seorang diri itu, serta mengubah kubur di depan mata menjadi pintu menuju khazanah yang kekal dan istana kebahagiaan. Mereka memperlihatkan tanda serta hasilnya. Manusia yang malang, terutama seorang Muslim, berada di hadapan persoalan yang menakjubkan, asing, mengerikan, dan besar ini. Jika ia tidak memiliki iman dan ubudiyah, sekalipun seluruh kekuasaan serta kenikmatan dunia diberikan kepada satu manusia itu, dapatkah semuanya menghilangkan derita pedih dari rasa cemas yang ditimbulkan persoalan di depan mata itu kepada manusia yang menunggu gilirannya dipanggil ke sana setiap saat? Saya bertanya kepada kalian. Karena masa tua, penyakit, musibah, serta kematian di segala penjuru mengorek dan mengingatkan derita mengerikan itu, tentu, sekalipun orang-orang sesat dan yang mengejar kesenangan terlarang mendapat seratus ribu kenikmatan serta kesenangan, neraka maknawi itu tetap hidup dan membakar dalam hatinya. Namun, kebingungan karena kelalaian yang sangat tebal membuatnya sementara tidak merasakan hal itu. Ahli iman yang taat mengetahui bahwa bagi dirinya, kubur yang terlihat di depan mata merupakan pintu menuju khazanah yang kekal serta kebahagiaan yang tidak pernah lenyap. Dengan bukti iman, ia juga telah mendapat tiket yang akan membuatnya memenangkan miliaran keping emas serta intan dari undian Takdir Azali itu. Dari penantiannya akan panggilan setiap saat, "Datanglah, ambil tiketmu!" timbul kenikmatan dan kesenangan batin yang begitu dalam, mendasar, serta sejati. Jika kenikmatan itu berwujud dan benih itu menjadi pohon, ia akan menjadi surga pribadi baginya. Karena itu, orang yang meninggalkan kenikmatan serta kesenangan yang begitu besar tersebut, lalu karena dorongan masa muda memilih kenikmatan terlarang yang sementara, yang dikejar dengan larut dalam hawa nafsu serta keinginan, yang menyerupai madu beracun bercampur derita tanpa batas, jatuh seratus tingkat di bawah hewan. Ia juga tidak dapat menjadi seperti orang-orang asing yang tanpa agama. Sebab, sekalipun mereka mengingkari seorang nabi, mereka masih dapat mengenal nabi-nabi lain. Sekalipun tidak mengenal para nabi, mereka dapat mengenal Allah subhânahu. Sekalipun tidak mengenal Allah subhânahu, masih dapat terdapat sebagian sifat baik yang menjadi dasar kesempurnaan. Adapun seorang Muslim mengenal para nabi, Rabb-nya, serta seluruh kesempurnaan melalui Muhammad dari Arab ﷺ. Orang yang meninggalkan pendidikan beliau serta keluar dari ikatannya tidak lagi mengenal seorang nabi pun dan tidak pula mengenal Allah subhânahu. Ia tidak mengetahui dasar apa pun untuk menjaga kesempurnaan dalam ruhnya. Sebab, beliau merupakan nabi terakhir dan paling agung ﷺ; agama serta seruannya ditujukan kepada seluruh umat manusia; beliau unggul atas semuanya dalam mukjizat serta agama; beliau menjadi guru seluruh umat manusia ﷺ dalam seluruh hakikat dan membuktikannya secara cemerlang selama empat belas abad; serta beliau merupakan kebanggaan umat manusia ﷺ. Orang yang meninggalkan dasar pendidikan serta pokok agama dari pribadi seperti itu tentu tidak dapat menemukan cahaya atau kesempurnaan dari segi mana pun. Ia ditetapkan untuk jatuh sepenuhnya. Wahai orang-orang malang yang kecanduan kesenangan hidup dunia dan berusaha menjamin masa depan serta hidupnya karena cemas akan masa depan! Jika kalian menginginkan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan, serta kenyamanan dunia, cukuplah dengan kesenangan dalam lingkup yang dibenarkan. Itu cukup bagi kesenangan kalian. Tentu dari penjelasan tadi kalian telah memahami bahwa di dalam satu kenikmatan di luar lingkup itu dan di dalam lingkup terlarang terdapat seribu derita. Sebagaimana kejadian masa lampau diperlihatkan saat ini melalui film, jika keadaan masa depan, misalnya keadaan lima puluh tahun mendatang, juga diperlihatkan melalui film, orang-orang yang mengejar kesenangan terlarang akan menangis serta melontarkan ratusan ribu kutukan dan kebencian terhadap hal-hal yang sekarang membuat mereka tertawa. Orang yang menginginkan kegembiraan kekal dan tetap di dunia serta akhirat harus menjadikan pendidikan Muhammad ﷺ dalam lingkup iman sebagai penuntunnya.
--
SUATU TEGURAN, PELAJARAN, DAN PERINGATAN YANG DIBERIKAN KEPADA BEBERAPA PEMUDA MALANG
Pada suatu hari, beberapa pemuda yang cemerlang datang kepada saya. Mereka ingin menerima peringatan yang berpengaruh agar terhindar dari bahaya yang datang dari kehidupan, masa muda, serta keinginan. Saya mengatakan kepada mereka, sebagaimana yang dahulu saya katakan kepada para pemuda yang meminta pertolongan dari Risale-i Nur: Masa muda kalian pasti akan berlalu. Jika kalian tidak tetap berada dalam lingkup yang dibenarkan, masa muda itu akan terbuang dan mendatangkan bencana serta derita yang jauh melebihi kenikmatannya, baik di dunia, di kubur, maupun di akhirat. Jika dengan pendidikan Islam kalian menghabiskannya dalam menjaga kesucian diri, kehormatan, serta ketaatan sebagai rasa syukur atas nikmat masa muda itu, masa muda tersebut akan tetap ada secara maknawi dan menjadi sebab diperolehnya masa muda yang abadi. Adapun kehidupan, jika tidak ada iman atau iman itu tidak berpengaruh karena kedurhakaan, bersama kesenangan serta kenikmatan lahir yang sangat singkat, kehidupan memberi derita, kesedihan, dan dukacita yang ribuan tingkat melebihi kesenangan serta kenikmatan itu. Sebab, berbeda dengan hewan, manusia memiliki akal dan pikiran, sehingga secara fitrah berkaitan dengan masa lampau serta masa depan, selain masa kini. Ia juga dapat menerima derita serta kenikmatan dari kedua masa itu. Adapun hewan, karena tidak memiliki pikiran, kenikmatannya saat ini tidak dirusak oleh kesedihan dari masa lampau serta rasa takut dan cemas dari masa depan. Jika manusia jatuh dalam kesesatan dan kelalaian, kesedihan dari masa lampau serta kecemasan dari masa depan benar-benar membuat kenikmatannya saat ini yang terbatas itu pahit dan merusaknya. Khususnya jika terlarang, kenikmatan itu sepenuhnya seperti madu beracun. Jadi, dari segi kenikmatan hidup, ia jatuh seratus tingkat di bawah hewan. Bahkan kehidupan orang yang sesat dan lalai, keberadaannya, serta kainatnya, hanyalah hari yang sedang dijalaninya. Dari sudut kesesatannya, seluruh masa lampau serta alam-alamnya tidak ada dan telah mati. Melalui hubungan akal dengan semuanya, hal itu membuat hidupnya gelap dan suram. Masa-masa mendatang juga tidak ada karena ia tidak memiliki keyakinan. Perpisahan-perpisahan abadi yang timbul akibat keadaan tidak ada itu terus-menerus membuat hidupnya gelap melalui jalan pikirannya. Jika iman menjadi kehidupan bagi hidupnya, masa lampau serta masa depan diterangi oleh cahaya iman dan memperoleh wujud. Seperti masa kini, dari sudut iman kedua masa itu memberi ruh serta hatinya kenikmatan-kenikmatan maknawi yang luhur dan cahaya-cahaya keberadaan. Hakikat ini dijelaskan dalam Harapan Ketujuh pada Risalah Lanjut Usia (İhtiyar Risalesi); kalian harus membacanya. Demikianlah kehidupan. Jika kalian menginginkan kenikmatan dan kesenangan hidup, hidupkanlah kehidupan kalian dengan iman, hiasilah dengan kewajiban-kewajiban agama, serta jagalah dengan menjauhi dosa. Hakikat kematian yang mengerikan, yang diperlihatkan oleh kematian setiap hari, di setiap tempat, dan setiap saat, saya jelaskan kepada kalian melalui suatu perumpamaan, seperti yang saya katakan kepada pemuda-pemuda lain: Misalnya, di sini telah didirikan suatu tiang gantungan di depan mata kalian. Di sampingnya ada suatu kantor undian, tetapi kantor itu memberikan tiket hadiah yang sangat besar. Kita sepuluh orang di sini, bagaimanapun, mau ataupun tidak, tanpa ada cara lain, akan diundang ke sana; mereka akan memanggil kita. Waktu panggilan itu tersembunyi. Karena itu, setiap menit kita menunggu mereka mengatakan, "Datanglah, ambil tiket pemusnahanmu, naiklah ke tiang gantungan!" atau, "Datanglah, engkau mendapat tiket hadiah yang menghasilkan jutaan keping emas; datanglah, ambil!" Tiba-tiba dua orang datang ke pintu. Yang satu ialah seorang wanita cantik, menipu, dan setengah telanjang, membawa halwa (manisan) yang tampak sangat manis tetapi beracun. Ia ingin membuat kita memakannya. Yang lain ialah seorang pria serius, yang tidak menipu dan tidak tertipu. Ia masuk setelah wanita itu dan mengatakan, "Saya membawa suatu rahasia, suatu pelajaran kepada kalian. Jika kalian membacanya dan tidak memakan halwa itu, kalian terbebas dari tiang gantungan tersebut. Dengan rahasia ini, kalian mendapat tiket hadiah yang tiada bandingnya itu. Kalian sudah melihat dengan mata sendiri bahwa orang-orang yang memakan madu masuk ke tiang gantungan ini, dan sebelum sampai ke sana mereka menderita sakit perut yang mengerikan karena racun halwa itu. Memang, orang-orang yang mendapat tiket hadiah besar tidak terlihat, dan secara lahir mereka pun tampak naik ke tiang gantungan itu. Namun, jutaan saksi memberitakan bahwa mereka tidak digantung, melainkan menjadikannya tangga untuk masuk dengan mudah ke kantor hadiah. Pandanglah dari jendela-jendela. Para pejabat tertinggi serta orang-orang besar yang berkaitan dengan urusan ini mengumumkan dan memberitakan dengan suara tinggi: sebagaimana kalian melihat sendiri orang-orang yang pergi ke tiang gantungan dengan keyakinan dari melihat langsung, ketahuilah dengan pasti seperti siang, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa orang-orang yang memiliki rahasia itu mendapat tiket hadiah ini." Seperti perumpamaan ini, kesenangan masa muda yang dikejar dengan larut dalam hawa nafsu dalam lingkup terlarang merupakan madu beracun. Karena iman telah hilang, padahal iman merupakan tiket serta bukti menuju khazanah yang kekal dan kebahagiaan selamanya, orang itu jatuh ke dalam musibah kematian yang seperti tiang gantungan serta kubur yang menjadi pintu gelap abadi, persis seperti yang tampak secara lahir. Karena ajal tersembunyi, algojo ajal dapat datang setiap saat untuk memenggal kepala, tanpa membedakan muda dan tua. Jika ia meninggalkan keinginan terlarang yang seperti madu beracun itu dan memperoleh iman serta kewajiban-kewajiban agama, yang merupakan rahasia Al-Qur'an, ia akan mendapat tiket khazanah kebahagiaan abadi dari undian ketentuan manusia yang luar biasa. Seratus dua puluh empat ribu nabi, 'alaihimus-salâm, bersama orang-orang yang memiliki kewalian serta mengenal hakikat yang tidak terhitung, bersama-sama memberitakan hal itu dan memperlihatkan hasilnya. ~Kesimpulannya:
Masa muda akan berlalu. Jika berlalu dengan mengejar kesenangan terlarang, masa muda menghasilkan ribuan bencana serta derita, baik di dunia maupun di akhirat. Jika kalian ingin memahami bahwa pemuda-pemuda seperti itu kebanyakan akan jatuh ke rumah sakit karena penyakit yang disertai kecemasan akibat penyalahgunaan serta pemborosan; ke penjara atau tempat kesengsaraan karena tindakan melampaui batas; serta ke kedai minuman keras karena kesusahan dari derita batin, tanyakanlah kepada rumah sakit, penjara, serta pekuburan. Tentu, sebagaimana dari bahasa keadaan rumah sakit kebanyakan kalian mendengar rintihan serta penyesalan karena penyakit akibat pemborosan dan penyalahgunaan yang didorong masa muda, dari penjara kalian juga kebanyakan akan mendengar penyesalan pemuda-pemuda malang yang menerima tamparan akibat tindakannya dalam lingkup terlarang karena dorongan masa muda yang melampaui batas. Di pekuburan serta alam barzakh, yang pintu-pintunya terus dibuka dan ditutup bagi mereka yang memasukinya, kalian akan mengetahui bahwa kebanyakan azab merupakan hasil penyalahgunaan masa muda. Hal ini berdasarkan pengamatan para ahli kasyaf terhadap alam kubur, serta pembenaran dan kesaksian seluruh orang yang mengenal hakikat. Tanyakanlah pula kepada orang-orang lanjut usia serta orang-orang sakit, yang merupakan sebagian besar umat manusia. Tentu, sebagian besar dari mereka akan mengatakan dengan penyesalan dan kerinduan, "Aduh, kami telah menyia-nyiakan masa muda dengan percuma, bahkan dengan kerugian. Jangan sekali-kali berbuat seperti kami." Sebab, demi kesenangan terlarang selama lima atau sepuluh tahun masa muda, seseorang menderita duka serta kesedihan selama banyak tahun di dunia, azab serta kerugian di barzakh, dan bencana neraka serta Saqar di akhirat. Sekalipun keadaannya paling menyedihkan, menurut rahasia ﺍَﻟﺮَّﺍﺿ۪ﻰ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮَﺭِ لَا ﻳُﻨْﻈَﺮُ ﻟَﻪُ ia sama sekali tidak layak dikasihani. Sebab, orang yang memasuki kerugian dengan kerelaannya sendiri tidak dikasihani dan tidak layak menerimanya. Semoga Allah subhânahu menyelamatkan serta melindungi kami dan kalian dari godaan memikat zaman ini, amin!
--