Risalah Nur — Bahasa Indonesia

LAMPIRAN KECIL BAGIAN PERTAMA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

LAMPIRAN KECIL BAGIAN PERTAMA

ﻓَﺎﺳْﺘَﻤِﻊْ ﺍٰﻳَﺔَ: ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻒَ ﺑَﻨَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ﻭَ ﺯَﻳَّﻨَّﺎﻫَﺎ ﺍﻟﺦ ﺛُﻢَّ ﺍﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮٰﻯ ﺳُﻜُﻮﺗًﺎ ﻓ۪ﻰ ﺳُﻜُﻮﻧَﺔٍ ﺣَﺮَﻛَﺔً ﻓ۪ﻰ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ تَلَئْلُاً ﻓ۪ﻰ ﺣِﺸْﻤَﺔٍ ﺗَﺒَﺴُّﻤًﺎ ﻓ۪ﻰ ﺯ۪ﻳﻨَﺔٍ ﻣَﻊَ ﺍِﻧْﺘِﻈَﺎﻡِ ﺍﻟْﺨِﻠْﻘَﺔِ ﻣَﻊَ ﺍِﺗِّﺰَﺍﻥِ ﺍﻟﺼَّﻨْﻌَﺔِ ﺗَﺸَﻌْﺸُﻊُ ﺳِﺮَﺍﺟِﻬَﺎ ﺗَﻬَﻠْﻬُﻞُ ﻣِﺼْﺒَﺎﺣِﻬَﺎ ﺗَﻠَﺌْﻠُﺆُ ﻧُﺠُﻮﻣِﻬَﺎ ﺗُﻌْﻠِﻦُ لِاَهْلِ ﺍﻟﻨُّﻬٰﻰ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺔً بِلَا ﺍِﻧْﺘِﻬَﺎﺀٍ ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻒَ ﺑَﻨَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ﻭَ ﺯَﻳَّﻨَّﺎﻫَﺎ ﺍﻟﺦ
Berikut terjemahan ﺛُﻢَّ ﺍﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮٰﻯ ﺳُﻜُﻮﺗًﺎ ﻓ۪ﻰ ﺳُﻜُﻮﻧَﺔٍ, yang merupakan semacam terjemahan ayat ini. Yakni, ayat mulia itu mengarahkan pandangan yang saksama kepada wajah langit yang indah serta berhias, agar dengan pandangan yang saksama orang melihat pada wajah langit keheningan dalam ketenangan luar biasa, lalu memahami bahwa ia mengambil keadaan itu melalui Perintah serta Penundukan Sang Qadîr Mutlak. Jika mereka dibiarkan bebas, benda-benda dahsyat tak terbatas dan bola-bola amat besar itu, dengan gerak mereka yang amat cepat, seharusnya menimbulkan gemuruh di tengah satu sama lain yang akan memekakkan telinga alam. Akan terjadi pula kekacauan dalam guncangan dahsyat yang akan mencerai-beraikan alam. Diketahui betapa dua puluh kerbau yang bergerak di tengah satu sama lain menimbulkan kekacauan yang riuh. Padahal, ilmu kosmografi mengatakan bahwa di antara bintang-bintang ada yang seribu kali lebih besar daripada bola bumi dan bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam.
Dari diamnya benda-benda langit dalam ketenangan itu, pahamilah tingkat Kudrat serta Penundukan Sang Pembuat Dzul-Jalâl dan Sang Qadîr Dzul-Kamâl, serta tingkat sikap tunduk dan ketaatan bintang-bintang kepada-Nya.
ﺣَﺮَﻛَﺔً ﻓ۪ﻰ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ Ayat itu juga memerintahkan agar melihat gerak dalam Hikmah pada wajah langit. Ya, gerak-gerak yang amat menakjubkan dan agung itu berada dalam Hikmah yang amat teliti dan luas. Sebagaimana seorang ahli seni yang memutar roda serta mesin sebuah pabrik dalam hikmah memperlihatkan tingkat seni serta keahliannya sesuai keagungan dan tata pabrik itu, demikian pula tingkat Kudrat serta Hikmah Sang Qadîr Dzul-Jalâl, yang menjadikan matahari besar bersama planet-planet seperti sebuah pabrik dan memutar bola-bola besar dahsyat itu di sekitarnya seperti batu-batu umban serta roda-roda pabrik, tampak pada pandangan dalam ukuran itu.
تَلَئْلُاً ﻓ۪ﻰ ﺣِﺸْﻤَﺔٍ ﺗَﺒَﺴُّﻤًﺎ ﻓ۪ﻰ ﺯ۪ﻳﻨَﺔٍ Yakni, pada wajah langit terdapat kilauan dalam keagungan dan senyuman dalam hiasan sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan betapa agung Kerajaan serta betapa indah Seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Sebagaimana lampu-lampu listrik yang banyak pada hari-hari perayaan menunjukkan tingkat kemegahan sultan serta tingkat kemajuannya dalam peradaban, langit yang luas dengan bintang-bintangnya yang agung dan berhias juga memperlihatkan kepada pandangan yang saksama Kesempurnaan Kerajaan serta Keindahan Seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl.ﻣَﻊَ ﺍِﻧْﺘِﻈَﺎﻡِ ﺍﻟْﺨِﻠْﻘَﺔِ ﻣَﻊَ ﺍِﺗِّﺰَﺍﻥِ ﺍﻟﺼَّﻨْﻌَﺔِ Ia juga berkata: lihatlah tata makhluk-makhluk pada wajah langit serta keseimbangan karya-karya ciptaan dalam timbangan-timbangan yang teliti; pahamilah dan ketahuilah betapa Sang Pembuat mereka Qadîr dan Hakîm. Ya, benda-benda kecil yang berbeda ataupun hewan-hewan yang diputar dan digerakkan untuk suatu tugas, masing-masing diarahkan pada jalan tertentu dengan timbangan khusus, memperlihatkan tingkat daya serta hikmah sosok yang menggerakkan mereka, dan tingkat ketaatan serta sikap tunduk benda-benda bergerak itu kepadanya. Demikian pula, langit yang luas dengan kebesarannya yang dahsyat serta bintang-bintangnya yang tak terbatas; dan bintang-bintang itu, meskipun amat besar serta bergerak dengan sangat cepat, tidak melampaui batas-batas mereka seukuran zarah ataupun selama satu detik, dan tidak tertinggal dari tugas mereka selama satu ‘asyirah dari satu menit pun; semuanya memperlihatkan kepada pandangan yang saksama betapa Sang Pembuat Dzul-Jalâl mereka menjalankan Rububiyah-Nya dengan Timbangan Khusus yang teliti. Sebagaimana pula ayat ini dan ayat-ayat lain, termasuk surah 'Amma, mengisyaratkannya dengan menjelaskan penundukan matahari, bulan serta bintang: ﺗَﺸَﻌْﺸُﻊُ ﺳِﺮَﺍﺟِﻬَﺎ ﺗَﻬَﻠْﻬُﻞُ ﻣِﺼْﺒَﺎﺣِﻬَﺎ ﺗَﻠَﺌْﻠُﺆُ ﻧُﺠُﻮﻣِﻬَﺎ ﺗُﻌْﻠِﻦُ لِاَهْلِ ﺍﻟﻨُّﻬٰﻰ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺔً بِلَا ﺍِﻧْﺘِﻬَﺎﺀٍ
Yakni, memasang lampu yang menerangi dan menghangatkan seperti matahari pada atap langit yang berhias, menjadikannya seperti wadah tinta cahaya untuk menulis surat-surat Allah subhânahu Yang Samad pada lembaran musim dingin dan musim panas dengan garis-garis siang dan malam; menjadikan bulan di kubah langit seperti jarum jam besar waktu, layaknya jarum-jarum bersinar dari jam besar di menara-menara tinggi; dalam bentuk banyak hilal yang berbeda seolah meninggalkan satu hilal tersendiri untuk setiap malam, lalu kembali dan mengumpulkannya kepada dirinya; menggerakkannya pada tempat-tempatnya dengan Timbangan Sempurna serta Hitungan Teliti; dan menyepuh wajah langit yang indah dengan bintang-bintang yang bersinar dan tersenyum di kubah langit; tentu semuanya merupakan tanda-tanda Kerajaan Rububiyah yang tak berhingga. Semuanya ialah isyarat Keilahian yang agung, yang memberitahukannya kepada makhluk yang sadar. Ia mengundang para pemikir kepada iman serta tauhid.
Pandanglah lembaran berwarna-warni kitab alam;
Lihatlah apa yang dilukis Pena Emas Kudrat.
Tiada satu titik gelap bagi pemilik mata kalbu;
Seolah Allah subhânahu menulis tanda-tanda-Nya dengan cahaya.
Lihatlah mukjizat Hikmah yang memikat pengertian alam;
Lihatlah betapa luhur pemandangan ruang alam.
Dengarkanlah bintang-bintang dalam khotbah mereka yang manis;
Lihatlah apa yang dituturkan surat Hikmah bercahaya.Semuanya berbicara bersama, berkata dengan bahasa haq:
Bagi Keagungan Kerajaan Sang Qadîr Dzul-Jalâl,
Kami bukti-bukti pemancar cahaya, saksi Wujud Niscaya Sang Pembuat, Keesaan serta Kudrat-Nya.
Agar para malaikat menyaksikan mukjizat-mukjizat lembut yang menyepuh muka bumi,
Kami ribuan mata langit yang saksama, memandang bumi dan memperhatikan surga.
Pada cabang langit pohon Tuba ciptaan, pada segenap dahan Bima Sakti,
Kami ribuan buah indah yang dipasang oleh Tangan Hikmah Sang Jamîl Dzul-Jalâl.
Bagi penghuni langit, kami masjid-masjid bergerak, rumah-rumah berputar, sarang-sarang luhur,
Lampu-lampu bercahaya, kapal-kapal perkasa, dan pesawat-pesawat terbang.
Dari Sang Qadîr Dzul-Kamâl dan Sang Hakîm Dzul-Jalâl, kami mukjizat-mukjizat Kudrat, keajaiban Seni Pencipta,
Keistimewaan-keistimewaan Hikmah, keajaiban-keajaiban ciptaan, dan alam-alam cahaya.
Dengan seratus ribu bahasa demikian, kami memperlihatkan seratus ribu bukti, membuat manusia yang tetap menjadi manusia mendengarnya.
Mata orang tak beragama, yang patut buta, tidak lagi melihat wajah kami, tidak pula mendengar ucapan kami. Kami tanda-tanda yang menuturkan haq.
Cap kami satu, lambang kami satu; kami tunduk kepada Rabb kami, bertasbih sebagai hamba,
Kami berzikir; kami sosok-sosok dalam gelora yang bergabung dalam lingkaran besar Bima Sakti.

--

BAGIAN KEDUA

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ

Bagian ini mempunyai tiga tujuan.

TUJUAN PERTAMA

Wakil ahli syirik dan kesesatan, yang jatuh ke bumi akibat tamparan sebuah bintang, tidak menemukan tempat seukuran zarah pun bagi syirik di mana pun, dari zarah hingga bintang. Ia meninggalkan pengakuan dengan cara itu; tetapi, seperti setan, ia hendak menimbulkan keraguan tentang Keesaan. Melalui tiga pertanyaan penting, ia ingin menimbulkan waswas tentang Ahadiyah dan Keesaan kepada ahli tauhid.
~Pertanyaan pertama:

Dengan bahasa zindik, ia berkata, "Wahai ahli tauhid! Aku tidak memperoleh apa pun atas nama pihak-pihak yang aku wakili, tidak mendapat bagian pada segala yang ada, dan tidak dapat membuktikan jalanku. Namun, dengan apa kalian membuktikan Zat Yang Wâhid dan Ahad, Pemilik Kudrat yang tak berhingga? Mengapa kalian tidak memandang mungkin tangan-tangan lain ikut campur bersama Kudrat-Nya?"
~Jawaban:

Dalam Kalimat Kedua Puluh Dua telah dibuktikan dengan pasti bahwa seluruh yang ada, seluruh zarah serta seluruh bintang masing-masing ialah bukti cemerlang Wujud Niscaya Sang Wâjibul Wujûd dan Sang Qadîr Mutlak. Setiap rangkaian di seluruh alam ialah dalil pasti Keesaan-Nya. Sebagaimana Al-Qur'an Al-Hakîm membuktikannya melalui dalil-dalil yang tak terbatas, ia lebih banyak menyebut bukti-bukti yang paling jelas bagi pandangan semua orang. Di antaranya: ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﺳَﺎَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ
Dengan banyak ayat seperti itu, Al-Qur'an Al-Hakîm memperlihatkan penciptaan bumi dan langit sebagai bukti Keesaan yang begitu nyata, sehingga setiap orang yang sadar mau tak mau harus membenarkan Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang menciptakannya dalam penciptaan bumi dan langit, sebagaimana dinyatakan Al-Qur'an, ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪُ.
Dalam Bagian Pertama, kita mulai dari sebuah zarah dan memperlihatkan cap tauhid hingga bintang serta langit. Dengan ayat-ayat jenis ini, Al-Qur'an Al-Hakîm mengusir syirik mulai dari bintang serta langit hingga zarah. Ia mengisyaratkan dan menyampaikan makna berikut:
Tentu, tata surya, salah satu lingkup karya ciptaan Sang Qadîr Mutlak yang menciptakan langit serta bumi dengan tata demikian, jelas berada dalam Genggaman Tasarruf-Nya.
Karena Sang Qadîr Mutlak memegang matahari beserta planet-planetnya dalam Genggaman Tasarruf-Nya, serta menata, menundukkan dan memutar mereka, tentu bola bumi, bagian tata surya yang terikat pada matahari, juga berada dalam Genggaman Tasarruf-Nya, diatur dan diputar oleh-Nya.
Karena bola bumi berada dalam Genggaman Tasarruf-Nya, diatur serta diputar oleh-Nya, jelas karya-karya ciptaan yang ditulis dan diadakan pada muka bumi, yang merupakan buah serta tujuan bumi, juga berada dalam Genggaman Rububiyah-Nya dan dididik oleh-Nya.
Karena seluruh karya ciptaan yang dibentangkan dan ditaburkan pada segenap muka bumi, menyepuh serta menghiasi wajahnya, senantiasa diperbarui, datang dan pergi, mengisi serta mengosongkan bumi, berada dalam Genggaman Kudrat dan Ilmu-Nya, serta diukur dan ditata dengan Timbangan Keadilan dan Hikmah-Nya;
karena seluruh jenis berada dalam Genggaman Kudrat-Nya, tentu individu-individu juz'i dari jenis-jenis itu, yang teratur dan sempurna, yang merupakan contoh kecil alam, neraca jenis-jenis alam, serta daftar-daftar kecil kitab alam, jelas berada dalam Genggaman Rububiyah-Nya, diadakan, diatur serta dididik oleh-Nya.
Karena setiap makhluk hidup berada dalam Genggaman Pengaturan serta Pendidikan-Nya,tentu sel-sel, sel-sel darah, anggota serta saraf yang menyusun tubuh makhluk hidup itu jelas berada dalam Genggaman Ilmu serta Kudrat-Nya.
Karena setiap sel dan setiap sel darah berada di bawah Perintah-Nya dan dalam lingkup Tasarruf-Nya, serta bergerak melalui Hukum-Nya, tentu zarah-zarah yang menjadi bahan dasar semuanya itu, dan yang berfungsi seperti torak serta pegas bagi corak seni dan tenunan corak pada semuanya, juga berada dalam Genggaman Kudrat-Nya serta lingkup Ilmu-Nya; melalui Perintah, Izin dan Kekuatan-Nya, mereka bergerak teratur serta menunaikan tugas-tugas sempurna.
Karena gerak serta tugas setiap zarah berlangsung melalui Hukum, Izin dan Perintah-Nya, tentu ciri-ciri khas wajah, adanya tanda pembeda pada wajah setiap orang yang membedakannya dari semua yang lain, serta perbedaan-perbedaan tersendiri dalam suara dan bahasa seperti pada wajah, jelas melalui Ilmu serta Hikmah-Nya.
Lihatlah ayat ini, yang menunjukkan rangkaian tersebut dengan menyebut awal serta akhirnya: ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ
Kini kami berkata: Wahai wakil ahli syirik! Bukti-bukti sekuat rangkaian alam ini membuktikan jalan tauhid dan memperlihatkan Sang Qadîr Mutlak. Karena penciptaan langit serta bumi memperlihatkan Sang Pembuat yang Qadîr, Kudrat-Nya yang tak berhingga, dan Kesempurnaan tak berhingga dari Kudrat tak berhingga itu, tentu Dia sama sekali tidak membutuhkan sekutu. Yakni, tidak ada kebutuhan kepada sekutu dari segi apa pun. Meskipun tidak ada kebutuhan, mengapa kalian menempuh jalan yang gelap ini? Apa yang memaksa kalian memasukinya?
Selain itu, meskipun sama sekali tidak ada kebutuhan kepada sekutu dan alam sama sekali tidak membutuhkan mereka, sekutu-sekutu dalam Rububiyah serta mengadakan ciptaan juga mustahil seperti sekutu dalam Keilahian; wujud mereka tidak mungkin. Sebab, telah kami buktikan bahwa Kudrat Sang Pembuat langit dan bumi mencapai Kesempurnaan tertinggi sekaligus tak berhingga.Jika ada sekutu, daya lain yang terbatas harus mengalahkan Kudrat yang tak berhingga dan amat sempurna itu, merebut sebagian tempat serta membatasinya, membuatnya tak berdaya secara maknawi, membatasinya padahal Kudrat itu tak terbatas; dan tanpa paksaan apa pun, sesuatu yang terbatas harus memberi batas kepada sesuatu yang tak berhingga saat ia tetap tak berhingga, lalu menjadikannya terbatas. Inilah yang paling tidak masuk akal di antara hal-hal mustahil dan yang paling berlapis di antara hal-hal yang tidak mungkin.
Sekutu-sekutu itu "mustaghniyatun anha" dan "mumtani'atun bidzat", yakni selain sama sekali tidak dibutuhkan, wujud mereka mustahil; maka mengaku adanya mereka murni sewenang-wenang. Yakni, karena tidak ada sebab yang menuntut pengakuan itu menurut akal, logika ataupun pikiran, ia berupa ucapan-ucapan tanpa makna. Dalam ilmu usul hal ini disebut "tahakkumî", yakni pengakuan belaka yang tak bermakna. Salah satu kaidah ilmu kalam dan ilmu usul menyatakan: لَا ﻋِﺒْﺮَﺓَ لِلْاِحْتِمَالِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺷ۪ﻰ ﻋَﻦْ ﺩَﻟ۪ﻴﻞٍ ٭ ﻭَ لَا ﻳُﻨَﺎﻓِﻰ الْاِمْكَانُ ﺍﻟﺬَّﺍﺗِﻰُّ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻤِﻰَّ
Yakni, "Kemungkinan yang tidak timbul dari dalil atau tanda tidak mempunyai bobot. Ia tidak menambahkan keraguan pada ilmu yang pasti. Ia tidak mengguncang putusan yang yakin." Misalnya, pada dirinya Laut Barla, yakni Danau Eğirdir, mungkin saja berupa sirup pekat atau telah berubah menjadi minyak. Namun, karena kemungkinan itu tidak timbul dari suatu tanda, ia tidak memengaruhi ilmu pasti kita tentang adanya danau itu serta bahwa isinya air; ia tidak menimbulkan keraguan ataupun waswas.
Demikian pula, kita bertanya kepada segala sisi yang ada dan setiap sudut alam: sebagaimana diperlihatkan dalam Bagian Pertama, dari zarah hingga bintang, serta sebagaimana terlihat dalam Bagian Kedua, dari penciptaan langit dan bumi hingga ciri-ciri khas wajah; apa pun yang ditanya bersaksi dengan bahasa keadaan atas Keesaan dan memperlihatkan cap tauhid. Engkau pun melihatnya. Maka, pada segala yang ada di alam tidak ada tanda yang dapat menjadi dasar kemungkinan syirik.
Jadi, karena pengakuan syirik murni sewenang-wenang, ucapan tanpa makna dan pengakuan belaka, mengaku adanya syirik ialah kebodohan murni dan kedunguan itu sendiri.
Wakil ahli kesesatan tidak lagi mempunyai ucapan untuk menjawabnya. Ia hanya berkata, "Tanda syirik ialah rangkaian sebab-sebab dalam alam, bahwa setiap sesuatu terikat pada suatu sebab. Jadi, sebab-sebab mempunyai pengaruh sejati. Jika mempunyai pengaruh, dapatkah mereka menjadi sekutu?"Jawaban: Menurut tuntutan Masyîah dan Hikmah Ilahi, serta karena banyak Asma hendak tampak, hasil-hasil dihubungkan kepada sebab-sebab. Setiap sesuatu diikat pada suatu sebab. Namun, di banyak tempat dan dalam berbagai Kalimat telah kami buktikan dengan pasti: "Sebab-sebab tidak mempunyai pengaruh sejati untuk mengadakan ciptaan."
Kini kami hanya berkata demikian: jelas, di antara sebab-sebab, yang paling mulia, paling luas pilihannya dan paling luas tindakannya ialah manusia. Di antara perbuatan pilihannya yang paling jelas, yang terjelas ialah makan, berbicara dan berpikir. Yakni, makan, berbicara serta berpikir masing-masing ialah suatu rangkaian yang amat teratur, menakjubkan dan penuh hikmah. Dari seratus bagian rangkaian itu, hanya satu yang diberikan kepada tangan pilihan manusia.
Misalnya, dalam rangkaian perbuatan untuk makan, dari memberi gizi kepada sel-sel tubuh hingga terbentuknya buah-buahan, yang diberikan kepada pilihan manusia hanyalah menggerakkan penggilingan gigi dalam mulut dan mengunyahnya. Dari rangkaian berbicara, hanya memasukkan serta mengeluarkan udara melalui cetakan tempat keluar huruf. Padahal, satu kata dalam mulut, yang seperti sebuah benih, merupakan sebuah pohon. Di udara ia memberi jutaan buah seperti kata yang sama. Ia masuk ke telinga jutaan pendengar. Hanya tangan khayal manusia yang dapat mencapai bulir dalam perumpamaan ini. Bagaimana tangan pilihan yang amat pendek dapat mencapainya?
Karena tangan manusia, yang paling mulia serta paling banyak memiliki pilihan di antara sebab-sebab, terikat demikian sehingga tidak dapat mengadakan secara sejati, bagaimana benda-benda tak bernyawa, hewan-hewan tak berakal, unsur-unsur serta tabiat dapat menjadi pelaku tasarruf sejati?
Sebab-sebab itu hanyalah wadah, selubung bagi karya-karya Rabb, serta pembawa baki hadiah-hadiah Sang Rahmân. Tentu, wadah hadiah seorang raja, saputangan yang membungkus hadiah, ataupun prajurit yang diberi hadiah untuk membawanya, tidak dapat menjadi sekutu dalam kerajaan raja itu. Yang menyangka mereka sekutu mengucapkan ocehan tak masuk akal. Demikian pula, sebab-sebab yang tampak dan sarana-sarana lahiriah tidak dapat mempunyai bagian dalam Rububiyah Ilahi dari segi apa pun. Mereka tidak mempunyai bagian selain khidmah ubudiyah.

TUJUAN KEDUA

Karena wakil ahli syirik tidak dapat membuktikan jalan syirik dari segi apa pun dan putus asa membuktikannya, ia ingin berusaha merusak jalan ahli tauhid melalui upayanya menimbulkan keraguan serta syubhat-syubhatnya. Maka ia mengajukan ~pertanyaan kedua

sebagai berikut. Ia berkata:
Wahai ahli tauhid! Kalian berkata, "ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ Sang Khâliq alam satu, Ahad dan Samad. Dia pula Sang Khâliq segala sesuatu. Bersama Ahadiyah Zat-Nya, kendali segala sesuatu langsung berada dalam Tangan-Nya, kunci segala sesuatu dalam Genggaman-Nya, dan Dia memegang ubun-ubun segala sesuatu. Satu pekerjaan tidak menghalangi pekerjaan lain. Dia dapat melakukan Tasarruf pada seluruh benda bersama seluruh keadaannya dalam satu saat." Bagaimana hakikat yang begitu menakjubkan dapat dipercayai? Dapatkah satu Zat tertentu menunaikan pekerjaan tak berhingga di tempat-tempat tak berhingga tanpa kesulitan?
~Jawaban:

Pertanyaan ini dijawab dengan menjelaskan rahasia Ahadiyah serta Sifat Samad yang amat dalam dan halus, amat tinggi dan luas. Pikiran manusia hanya dapat memandang rahasia itu melalui teropong perumpamaan dan pengamatan melalui contoh. Zat dan Sifat Allah subhânahu tidak mempunyai yang serupa ataupun contoh. Namun, melalui contoh serta perumpamaan, Syuunat-Nya dapat dipandang pada suatu tingkat. Kami pun akan menunjukkan rahasia itu melalui perumpamaan-perumpamaan materi.
Perumpamaan Pertama: Sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Keenam Belas, satu sosok tertentu memperoleh sifat menyeluruh melalui berbagai cermin. Meski ia satu juz'i yang sejati, ia menjadi seperti suatu keseluruhan dengan syuunat yang banyak.
Ya, sebagaimana bahan seperti kaca serta air menjadi cermin bagi benda-benda jasmani, dan satu benda jasmani memperoleh sifat menyeluruh dalam cermin-cermin itu, demikian pula udara, eter serta beberapa yang ada di alam mitsal menjadi cermin bagi yang bercahaya dan ruhani; mereka menjadi sarana menempuh perjalanan secepat kilat serta khayal. Yang bercahaya serta ruhani itu berkeliling secepat khayal dalam cermin-cermin yang bersih dan tempat-tempat yang lembut tersebut. Dalam satu saat, mereka masuk ke ribuan tempat. Karena bercahaya, dan karena pantulan mereka sama dengan diri mereka serta memiliki sifat-sifat mereka, berbeda dari benda jasmani, mereka bertindak pada setiap cermin seakan hadir sendiri di setiap tempat. Pantulan serta contoh benda jasmani yang padat bukanlah benda itu sendiri dan tidak memiliki sifatnya; mereka dianggap mati.
Misalnya, meskipun matahari suatu juz'i tertentu, melalui benda-benda bersinar ia menjadi seperti suatu keseluruhan. Kepada setiap yang bersinar di muka bumi, bahkan setiap tetes air serta zarah kaca, ia memberi pantulan dan gambaran matahari menurut kemampuan penerimanya. Panas serta cahaya matahari, tujuh warna cahayanya, dan semacam contoh dirinya terdapat pada setiap benda bersinar. Andaikan matahari mempunyai ilmu serta kesadaran, setiap cermin akan seperti tempat tinggal, takhta dan kursi baginya; ia akan berhubungan langsung dengan setiap sesuatu, dan dapat berkomunikasi dengan setiap makhluk yang sadar melalui cermin-cerminnya, bahkan melalui pupil mata seperti sebuah telepon. Satu hal tidak akan menghalangi hal lain.Satu komunikasi tidak akan merintangi komunikasi lain. Bersamaan dengan hadir di setiap tempat, ia tidak hadir di tempat mana pun.
Matahari hanyalah cermin materi, juz'i dan tak bernyawa dari Nama Nûr saja di antara seribu satu Nama suatu Zat. Jika, bersama sifatnya yang tertentu, ia dapat menerima pekerjaan-pekerjaan menyeluruh di tempat-tempat menyeluruh seperti ini, tidakkah Zat Dzul-Jalâl itu dapat menunaikan pekerjaan-pekerjaan tak berhingga dalam satu saat, bersama Ahadiyah Zat-Nya?
Perumpamaan Kedua: Karena alam merupakan sebuah pohon, setiap pohon dapat menjadi contoh hakikat-hakikat alam. Kami pun mengambil pohon platanus yang megah dan amat besar di depan kamar kami ini sebagai contoh kecil alam, lalu melaluinya memperlihatkan Pancaran Ahadiyah dalam alam. Demikianlah:
Pohon ini mempunyai sekurang-kurangnya sepuluh ribu buah. Setiap buahnya mempunyai sekurang-kurangnya seratus benih bersayap. Seluruh sepuluh ribu buah serta satu juta benih itu menerima Seni dan diadakan dalam satu saat secara bersama. Padahal, pada benih asal, akar serta batang pohon ini ada satu Pancaran juz'i tertentu dari Kehendak Ilahi dan satu inti Perintah Rabb, yang disebut simpul kehidupan; bersamanya, pusat hukum-hukum terbentuknya pohon ini hadir pada ujung setiap cabang, dalam setiap buah dan di sisi setiap benih, sehingga masing-masing dibuat melaluinya tanpa mengurangi satu hal pun pada salah satunya dan tanpa saling menghalangi.
Pancaran Kehendak yang satu serta hukum Perintah itu tidak menyebar dan pergi ke setiap tempat seperti cahaya, panas serta udara. Sebab, pada jarak-jarak panjang di antara tempat-tempat yang ditujunya serta pada berbagai karya ciptaan, ia tidak meninggalkan jejak ataupun memperlihatkan hasil. Jika berlangsung dengan menyebar, jejak serta hasilnya akan terlihat. Ia justru hadir sendiri di sisi masing-masing tanpa terbagi ataupun menyebar. Pekerjaan-pekerjaan menyeluruh itu tidak bertentangan dengan sifatnya yang satu dan tertentu. Bahkan dapat dikatakan bahwa Pancaran Kehendak, hukum Perintah serta simpul kehidupan itu hadir di sisi masing-masing, tetapi tidak hadir di tempat mana pun. Seolah-olah, pada pohon megah ini, hukum Perintah itu mempunyai mata serta telinga sebanyak buah dan benihnya.Bahkan, setiap bagian pohon merupakan pusat indra hukum Perintah itu; sarana-sarana yang panjang bukan menjadi tabir ataupun penghalang, melainkan seperti kabel telepon, menjadi sarana yang memudahkan dan mendekatkan. Yang terjauh seperti yang terdekat.
Karena terlihat bahwa satu Pancaran juz'i dari satu Sifat Zat Yang Ahad lagi Samad, seperti Kehendak, menjadi pusat jutaan pekerjaan di jutaan tempat tanpa perantara, tentu harus diyakini setingkat menyaksikan bahwa Zat Dzul-Jalâl dapat melakukan Tasarruf atas pohon ciptaan beserta seluruh bagian dan zarahnya melalui Tajalli Kudrat serta Kehendak-Nya.
Sebagaimana dibuktikan serta dijelaskan dalam Kalimat Keenam Belas, kami berkata: makhluk-makhluk yang tidak berdaya dan ditundukkan seperti matahari, karya-karya yang setengah bercahaya dan terikat pada materi seperti makhluk ruhani, serta simpul kehidupan, yang seperti cahaya rohani dan ruh pohon platanus ini, bersama hukum-hukum Perintah dan Pancaran-pancaran Kehendak yang menjadi pusat tasarruf pohon itu, meskipun berada pada satu tempat dan merupakan satu juz'i tertentu, dapat terlihat hadir di banyak tempat serta dalam banyak pekerjaan melalui rahasia bersifat cahaya. Meski merupakan juz'i yang terikat pada materi, mereka menjadi seperti keseluruhan yang mutlak. Dalam satu saat, mereka terlihat memperoleh banyak pekerjaan berbeda melalui suatu kehendak bebas. Engkau pun melihatnya dan tidak dapat mengingkarinya.
Maka, apa yang dapat bersembunyi dari Perhatian Ahadiyah dalam Tajalli Sifat serta Pancaran Perbuatan yang tampak melalui Kehendak Menyeluruh, Kudrat Mutlak serta Ilmu yang menyeluruh dari satu Zat Yang Mahasuci: Dia Lepas dan Luhur dari materi, Bebas serta Suci dari pembatasan ikatan dan gelap kepadatan; seluruh cahaya dan seluruh yang bercahaya ini hanyalah bayangan serta naungan padat dari cahaya-cahaya suci Asma-Nya; seluruh wujud, seluruh kehidupan, alam ruh, alam barzakh serta alam mitsal masing-masing merupakan cermin Keindahan-Nya yang setengah bening; Sifat-Sifat-Nya meliputi segala sesuatu dan Syuunat-Nya menyeluruh? Pekerjaan apa yang dapat memberatkan-Nya? Tempat apa yang dapat tersembunyi dari-Nya? Individu apa yang dapat jauh dari-Nya? Sosok mana yang dapat mendekati-Nya tanpa memperoleh sifat menyeluruh? Dapatkah benda-benda tersembunyi dari-Nya? Dapatkah satu pekerjaan menghalangi pekerjaan lain? Adakah tempat yang dapat kosong dari Kehadiran-Nya?Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, tidakkah terdapat "Penglihatan rohani yang memandang dan Pendengaran rohani yang mendengar setiap yang ada"? Tidakkah rangkaian benda-benda menjadi seperti kabel serta urat bagi berjalannya Perintah-Perintah dan Hukum-Hukum-Nya dengan cepat? Tidakkah rintangan serta penghalang dapat menjadi sarana serta perantara Tasarruf-Nya? Tidakkah sebab-sebab serta sarana dapat menjadi tabir lahiriah belaka? Meski tidak berada di tempat mana pun, tidakkah Dia hadir di setiap tempat? Apakah Dia membutuhkan ruang dan menetap di tempat? Dapatkah jarak, kecilnya sesuatu serta tabir lapisan-lapisan wujud menghalangi Kedekatan, Tasarruf dan Penglihatan-Nya? Dapatkah sifat-sifat benda materi, yang mungkin ada, yang padat, beraneka, terikat dan terbatas; serta perkara seperti berubah, berganti, menempati ruang dan terbagi, yang merupakan tuntutan khusus dan khas materi, sifat mungkin ada, kepadatan, yang beraneka, ikatan dan batas; melekat pada Zat Yang Mahasuci yang Lepas dari materi, Wâjibul Wujûd, Nûrul-Anwâr, Wâhid dan Ahad, Bebas dari ikatan, Suci dari batas, Suci dari cacat dan Luhur dari kekurangan? Patutkah keadaan tidak berdaya bagi-Nya? Dapatkah cacat mendekati Jubah Kemuliaan-Nya?

Penutup Tujuan Kedua

Suatu ketika, saat bertafakur tentang Ahadiyah, aku memandang buah-buah pohon platanus di samping kamarku. Suatu rangkaian tafakur dalam ungkapan Arab datang ke kalbu. Aku akan menulisnya dalam bahasa Arab sebagaimana ia datang, lalu menyampaikan maknanya secara singkat. Demikianlah:
ﻧَﻌَﻢْ فَالْاَثْمَارُ ﻭَﺍﻟْﺒُﺬُﻭﺭُ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺕُ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﺧَﻮَﺍﺭِﻕُ ﺍﻟﺼَّﻨْﻌَﺔِ ﻫَﺪَﺍﻳَﺎﺀُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﺑَﺮَﺍﻫ۪ﻴﻦُ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﺑَﺸَﺎﺋِﺮُ ﻟُﻄْﻔِﻪ۪ ﻓ۪ﻰ ﺩَﺍﺭِ الْاٰخِرَةِ ﺷَﻮَﺍﻫِﺪُ ﺻَﺎﺩِﻗَﺔٌ ﺑِﺎَﻥَّ خَلَّاقَهَا ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ﻛُﻞُّ الْاَثْمَارِ ﻭَﺍﻟْﺒُﺬُﻭﺭِ ﻣَﺮَﺍﻳَﺎﺀُ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﻓ۪ﻰ ﺍَﻃْﺮَﺍﻑِ ﺍﻟْﻜَﺜْﺮَﺓِ ﺍِﺷَﺎﺭَﺍﺕُ ﺍﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺭُﻣُﻮﺯَﺍﺕُ ﺍﻟْﻘُﺪْﺭَﺓِ ﺑِﺎَﻥَّ ﺗَﺎﻙَ ﺍﻟْﻜَﺜْﺮَﺓَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨْﺒَﻊِ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﺗَﺼْﺪُﺭُ ﺷَﺎﻫِﺪَﺓً ﻟِﻮَﺣْﺪَﺓِ ﺍﻟْﻔَﺎﻃِﺮِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﻨْﻊِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺼْﻮ۪ﻳﺮِ ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﺗَﻨْﺘَﻬ۪ﻰ ﺫَﺍﻛِﺮَﺓً ﻟِﺤِﻜْﻤَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺎﺩِﺭِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَﻛَﺬَﺍﻫُﻦَّ ﺗَﻠْﻮ۪ﻳﺤَﺎﺕُ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﺑِﺎَﻥَّ ﺻَﺎﻧِﻊَ ﺍﻟْﻜُﻞِّ ﺑِﻜُﻠِّﻴَّﺔِ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠُﺰْﺋِﻰِّ ﻳَﻨْﻈُﺮُ ﺛُﻢَّ ﺍِﻟٰﻰ ﺟُﺰْﺋِﻪ۪ ﺍِﺫْ ﺍِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺛَﻤَﺮًﺍ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻘْﺼُﻮﺩُ الْاَظْهَرُ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻖِ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮِ ﻓَﺎﻟْﺒَﺸَﺮُ ﺛَﻤَﺮٌ ﻟِﻬٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻄْﻠُﻮﺏُ الْاَظْهَرُ ﻟِﺨَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻛَﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺓِ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻤِﺮْﺍٰﺓُ الْاَنْوَرُ ﻟِﺼَﺎﻧِﻊِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﺻَﺎﺭَ الْاِنْسَانُ الْاَصْغَرُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕِ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﺪَﺍﺭُ الْاَظْهَرُ ﻟِﻠﻨَّﺸْﺮِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺤْﺸَﺮِ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺨْﺮ۪ﻳﺐِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺒْﺪ۪ﻳﻞِ ﻟِﻬٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ
~Awal bagian berbahasa Arab ini ialah sebagai berikut:

ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﺣَﺪ۪ﻳﻘَﺔَ ﺍَﺭْﺿِﻪ۪ ﻣَﺸْﻬَﺮَ ﺻَﻨْﻌَﺘِﻪ۪ ﻣَﺤْﺸَﺮَ ﺣِﻜْﻤَﺘِﻪ۪ ﻣَﻈْﻬَﺮَ ﻗُﺪْﺭَﺗِﻪ۪ ﻣَﺰْﻫَﺮَ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ﻣَﺰْﺭَﻉَ ﺟَﻨَّﺘِﻪ۪ ﻣَﻤَﺮَّ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕِ ﻣَﺴ۪ﻴﻞَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻣَﻜ۪ﻴﻞَ ﺍﻟْﻤَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺕِ ﻓَﻤُﺰَﻳَّﻦُ ﺍﻟْﺤَﻴْﻮَﺍﻧَﺎﺕِ ﻣُﻨَﻘَّﺶُ ﺍﻟﻄُّﻴُﻮﺭَﺍﺕِ ﻣُﺜَﻤَّﺮُ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺍﺕِ ﻣُﺰَﻫَّﺮُ ﺍﻟﻨَّﺒَﺎﺗَﺎﺕِ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺕُ ﻋِﻠْﻤِﻪ۪ ﺧَﻮَﺍﺭِﻕُ ﺻُﻨْﻌِﻪ۪ ﻫَﺪَﺍﻳَﺎﺀُ ﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﺑَﺸَﺎﺋِﺮُ ﻟُﻄْﻔِﻪ۪ ﺗَﺒَﺴُّﻢُ الْاَزْهَارِ ﻣِﻦْ ﺯ۪ﻳﻨَﺔِ الْاَثْمَارِ ﺗَﺴَﺠُّﻊُ الْاَطْيَارِ ﻓ۪ﻰ ﻧَﺴْﻤَﺔِ الْاَسْحَارِ ﺗَﻬَﺰُّﺝُ الْاَمْطَارِ ﻋَﻠٰﻰ ﺧُﺪُﻭﺩِ الْاَزْهَارِ ﺗَﺮَﺣُّﻢُ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺍﺕِ ﻋَﻠَﻰ الْاَطْفَالِ ﺍﻟﺼِّﻐَﺎﺭِ ﺗَﻌَﺮُّﻑُ ﻭَﺩُﻭﺩٍ ﺗَﻮَﺩُّﺩُ ﺭَﺣْﻤٰﻦٍ ﺗَﺮَﺣُّﻢُ ﺣَﻨَّﺎﻥٍ ﺗَﺤَﻨُّﻦُ ﻣَﻨَّﺎﻥٍ ﻟِﻠْﺠِﻦِّ ﻭَ الْاِنْسَانِ ﻭَ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻴْﻮَﺍﻥِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ
~Makna singkat tafakur berbahasa Arab ini ialah:

Seluruh buah serta benih-benih kecil di dalamnya masing-masing ialah mukjizat Hikmah Rabb, keajaiban Seni Ilahi, hadiah Rahmat Ilahi, bukti materi Keesaan Ilahi, pembawa kabar gembira tentang Kelembutan Ilahi di akhirat, dan saksi benar bahwa Kudrat-Nya meliputi segala sesuatu serta Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu. Demikian pula, mereka ialah cermin-cermin Keesaan di penjuru-penjuru alam yang beraneka dan di sekeliling suatu alam yang berkembang menjadi banyak seperti pohon ini. Mereka mengarahkan pandangan dari yang beraneka kepada Keesaan.
Dengan bahasa keadaan, masing-masing berkata, "Jangan tercerai-berai dan tenggelam di dalam pohon besar yang bercabang serta berdahan ini; seluruh pohon itu berada dalam diri kami. Yang beraneka padanya tercakup dalam sifat kami yang satu." Bahkan setiap benih, yang merupakan kalbu setiap buah, selain menjadi cermin materi Keesaan, melalui zikir kalbu yang tersembunyi menyebut serta membaca seluruh Asma yang disebut dan dibaca pohon besar itu dengan zikir yang terdengar.
Buah-buah serta benih-benih itu, selain cermin Keesaan, juga merupakan isyarat Takdir yang terlihat dan lambang Kudrat yang bertubuh. Takdir memberi isyarat melaluinya, dan Kudrat berkata secara berlambang dengan kata-kata itu: sebagaimana banyak cabang serta dahan pohon ini berasal dari satu benih dan memperlihatkan bahwa Sang Seniman pohon ini Esa dalam mengadakan serta memberi bentuk; kemudian, setelah bercabang, berdahan, berkembang menjadi banyak dan menyebar, pohon ini mengumpulkan seluruh hakikatnya dalam satu buah, memasukkan seluruh maknanya dalam satu benih, dan melaluinya memperlihatkan Hikmah Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang menciptakannya dalam menciptakan serta mengatur;
demikian pula, pohon alam ini memperoleh wujud dan dididik dari satu sumber Keesaan. Sebagaimana manusia, buah alam itu, memperlihatkan Keesaan di tengah banyaknya yang ada, kalbunya pun dengan mata iman melihat rahasia Keesaan di tengah yang beraneka.
Buah-buah serta benih-benih itu juga merupakan isyarat Hikmah Rabb. Melaluinya Hikmah menyampaikan kepada makhluk yang sadar dan berkata, "Sebagaimana pandangan serta pengaturan yang menyeluruh terhadap pohon ini memandang satu buah dalam sifatnya yang menyeluruh dan umum; sebab, buah itu ialah contoh kecil pohon itu dan tujuan pohon itu; pandangan menyeluruh serta pengaturan umum itu pun memandang setiap benih dalam sebuah buah. Sebab, benih membawa makna serta daftar seluruh pohon.Maka, Zat yang mengatur pohon, melalui seluruh Asma-Nya yang terkait dengan pengaturan itu, menghadap kepada setiap buah, yang merupakan tujuan wujud pohon serta tujuan ia diadakan. Pohon besar itu pun kadang dipangkas dan dipotong demi buah-buah kecil tersebut; beberapa sisinya dirusak untuk memperbaruinya. Ia disambung agar menghasilkan buah yang lebih indah dan bertahan.
Demikian pula, umat manusia, buah pohon alam ini, ialah tujuan alam diwujudkan serta diadakan, dan tujuan segala yang ada diadakan. Kalbu manusia, benih buah itu, juga ialah cermin Sang Pembuat alam yang paling bercahaya dan menyeluruh. Karena Hikmah inilah manusia yang amat kecil ini menjadi pusat perubahan besar seperti kebangkitan kembali dan hasyr. Ia menjadi sebab alam dihancurkan serta diganti. Demi pengadilannya, pintu dunia ditutup dan pintu akhirat dibuka.
Karena pembicaraan tentang hasyr telah datang, ada kesempatan untuk menjelaskan suatu butir hakikat Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, yang menunjukkan keagungan penjelasan serta kekuatan ungkapannya dalam membuktikan hasyr. Demikianlah:
Hasil tafakur ini menunjukkan bahwa jika diperlukan demi pengadilan umat manusia serta agar mereka memperoleh kebahagiaan abadi, seluruh alam dihancurkan; tampak dan ada Kudrat yang akan menghancurkan serta menggantinya. Namun, hasyr mempunyai tingkatan-tingkatan. Sebagian wajib diimani dan harus diketahui. Sebagian lain terlihat menurut tingkat kemajuan ruh serta pikiran, dan ilmu serta pengetahuan tentangnya menjadi perlu. Untuk membuktikan dengan pasti dan kuat tingkatan yang paling sederhana serta mudah, Al-Qur'an Al-Hakîm memperlihatkan Kudrat yang dapat membuka lingkup hasyr paling luas dan besar.
Tingkat hasyr yang harus diimani semua orang ialah: setelah manusia meninggal, ruh mereka pergi ke maqam-maqam lain. Jasad mereka membusuk. Namun, satu bagian kecil jasad manusia yang disebut "ajbudz-dzanab", yang akan menjadi seperti benih, tetap ada; Allah subhânahu menciptakan jasad manusia di atasnya pada hasyr, lalu mengirim ruhnya kepadanya.
Tingkatan ini begitu mudah sehingga setiap musim semi terlihat jutaan contohnya. Kadang, untuk membuktikan tingkatan ini, ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan suatu lingkup yang memperlihatkan Tasarruf Kudrat yang akan menghimpun dan menyebarkan seluruh zarah.Kadang ia memperlihatkan hasil-hasil karya Kudrat dan Hikmah yang dapat mengirim seluruh makhluk kepada fana, lalu membawanya kembali. Kadang ia memperlihatkan Tasarruf serta hasil-hasil karya Kudrat dan Hikmah yang dapat mencerai-beraikan bintang serta memecah langit. Kadang ia memperlihatkan Tasarruf serta Tajalli Kudrat dan Hikmah yang akan mematikan seluruh makhluk hidup, lalu menghidupkan mereka kembali seketika melalui satu seruan. Kadang ia memperlihatkan Tajalli Kudrat dan Hikmah yang akan menghimpun dan menyebarkan satu per satu seluruh makhluk hidup di segenap muka bumi. Kadang ia memperlihatkan hasil-hasil karya Kudrat dan Hikmah yang akan mencerai-beraikan bola bumi sepenuhnya, menerbangkan gunung-gunung, meratakan serta mengubahnya ke bentuk yang lebih indah.
Jadi, selain hasyr yang wajib diimani dan diketahui setiap orang, Dia pun dapat mengadakan banyak tingkat hasyr dengan Kudrat serta Hikmah itu. Jika Hikmah Rabb menuntutnya, tentu bersama hasyr dan kebangkitan kembali manusia, Dia juga akan mengadakan semuanya ataupun sebagian yang penting.
~Sebuah pertanyaan:

Kalian berkata:
"Engkau banyak menggunakan kias perumpamaan dalam Sözler. Padahal, menurut ilmu logika, kias perumpamaan tidak memberi kepastian. Dalam perkara-perkara yang pasti, diperlukan bukti logis. Para ulama usul fikih menggunakan kias perumpamaan dalam perkara yang cukup berdasarkan dugaan kuat."
"Engkau juga menyebut perumpamaan-perumpamaan dalam bentuk beberapa kisah. Kisah bersifat khayal, bukan nyata; tidakkah ia bertentangan dengan kenyataan?"
~Jawaban:

Dalam ilmu logika memang dikatakan, "Kias perumpamaan tidak memberi kepastian mutlak." Namun, ada jenis kias perumpamaan yang jauh lebih kuat daripada bukti pasti logika, bahkan lebih pasti daripada pola pertama bentuk pertama logika. Jenis itu ialah: melalui perumpamaan juz'i, ia menunjukkan ujung suatu hakikat menyeluruh, lalu mendasarkan putusan pada hakikat tersebut. Ia memperlihatkan hukum hakikat itu pada suatu hal khusus, agar hakikat agung itu diketahui dan hal-hal juz'i dikembalikan kepadanya.
Misalnya, melalui perumpamaan, "Karena bersifat cahaya, matahari yang merupakan satu sosok hadir di sisi setiap sesuatu yang bersinar," ditunjukkan hukum hakikat bahwa cahaya serta yang bercahaya tidak dapat diikat. Yang jauh dan dekat menjadi satu. Yang sedikit dan banyak menjadi sama. Tempat tidak dapat menahannya.
Demikian pula, misalnya, "Buah serta daun pohon disusun dan diberi bentuk dalam satu saat, dengan satu cara, secara mudah dan sempurna, pada satu pusat melalui satu hukum Perintah," ialah perumpamaan yang memperlihatkan ujung suatu hakikat agung dan hukum menyeluruh. Ia membuktikan hakikat serta hukumnya dengan amat pasti: alam yang besar itu pun, seperti pohon ini, ialah tempat tampaknya hukum hakikat serta rahasia Ahadiyah tersebut, dan medan berjalannya.
Seluruh kias perumpamaan dalam Sözler berjenis demikian; mereka lebih kuat dan lebih pasti daripada bukti logis yang pasti.
~Jawaban atas pertanyaan kedua:

Diketahui bahwa dalam ilmu balagah, jika makna hakiki suatu kata ataupun ucapan hanyalah sarana untuk memikirkan makna lain yang dituju, ia disebut "ungkapan kinayah". Makna asal ucapan yang disebut "kinayah" tidak menjadi dasar benar ataupun dustanya. Makna kinayahnya yang menjadi dasar benar ataupun dusta. Jika makna kinayah itu benar, ucapan itu benar. Sekalipun makna asalnya dusta, ia tidak merusak benarnya ucapan. Jika makna kinayahnya tidak benar, sekalipun makna asalnya benar, ucapan itu dusta.
Misalnya, di antara contoh kinayah dikatakan فِلَانٌ ﻃَﻮ۪ﻳﻞُ ﺍﻟﻨَّﺠَﺎﺩْ. Yakni, "Tali serta pengikat pedangnya panjang." Ucapan ini ialah kinayah tentang tingginya tubuh orang itu. Jika orang itu tinggi, sekalipun tidak mempunyai pedang, tali ataupun pengikat, ucapan itu tetap benar. Jika tubuh orang itu tidak tinggi, sekalipun mempunyai pedang, tali serta pengikat yang panjang, ucapan itu tetap dusta. Sebab, makna asalnya bukan yang dituju.
Kisah-kisah dalam Sözler lainnya, seperti kisah Kalimat Kesepuluh dan Kalimat Kedua Puluh Dua, termasuk kinayah. Hakikat-hakikat pada akhir kisah-kisah itu, yang amat benar, setia dan sesuai kenyataan, ialah makna kinayah kisah-kisah tersebut. Makna asalnya ialah perumpamaan sebagai teropong. Bagaimanapun keadaannya, ia tidak merugikan benar serta tepatnya makna. Kisah-kisah itu pun masing-masing ialah perumpamaan. Hanya untuk membuat semua orang memahami, bahasa keadaan ditampilkan sebagai bahasa ucapan dan sosok yang bersifat abstrak ditampilkan sebagai sosok berwujud fisik.