Risalah Nur — Bahasa Indonesia

TUJUAN KETIGA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

TUJUAN KETIGA

Setelah wakil seluruh ahli kesesatan menerima jawaban yang pasti, meyakinkan dan mengikat atas pertanyaan keduanya {(Catatan): Yang dimaksud ialah pertanyaan pada awal Tujuan Kedua, bukan pertanyaan kecil ini pada akhir penutup.}, ia mengajukan ~pertanyaan ketiga

sebagai berikut.
~Ia berkata:

Kata-kata dalam Al-Qur'an seperti ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ ، ﺍَﺭْﺣَﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ mengisyaratkan adanya khâliq-khâliq dan penyayang-penyayang lain.
~Kalian pun berkata:

Sang Khâliq alam mempunyai Kesempurnaan yang tak berhingga. Dia mencakup tingkat paling akhir dari seluruh jenis Kesempurnaan. Padahal, kesempurnaan benda-benda diketahui melalui lawannya; jika tidak ada sakit, nikmat bukan suatu kesempurnaan; jika tidak ada gelap, cahaya tidak terwujud; jika tidak ada perpisahan, wishâl tidak memberi nikmat; dan seterusnya?
~Jawaban:

Kami menjawab bagian pertama dengan lima isyarat.
Isyarat Pertama: Karena Al-Qur'an dari awal hingga akhir membuktikan serta memperlihatkan tauhid, ada dalil pasti bahwa kata-kata sejenis itu dalam Al-Qur'an Al-Hakîm bukan seperti yang kalian pahami. Ucapan ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ justru berarti, "Dia berada pada tingkat yang paling indah dalam Sifat Sang Khâliq," dan sama sekali tidak menunjukkan adanya khâliq lain. Seperti Sifat-Sifat lainnya, Sifat Sang Khâliq mempunyai banyak tingkatan. ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ berarti, "Dia Sang Khâliq Dzul-Jalâl pada tingkat yang paling indah dan paling akhir dalam Sifat Sang Khâliq."
Isyarat Kedua: Ungkapan-ungkapan seperti ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ tidak memandang banyaknya khâliq, melainkan jenis-jenis makhluk. Yakni, "Dia Sang Khâliq yang menciptakan segala sesuatu dengan cara yang layak bagi masing-masing, pada tingkat paling indah." Ayat-ayat seperti ﺍَﺣْﺴَﻦَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺧَﻠَﻘَﻪُ menyatakan makna ini.
Isyarat Ketiga: Perbandingan dalam ungkapan-ungkapan seperti ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ ، ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ، ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻔَﺎﺻِﻠ۪ﻴﻦَ ، ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨ۪ﻴﻦَ bukan membandingkan dan mengunggulkan Sifat serta Perbuatan Allah subhânahu yang sejati terhadap yang lain yang memiliki contoh sifat serta perbuatan itu. Sebab, kesempurnaan jin, manusia serta malaikat di segenap alam hanyalah bayangan lemah dibandingkan Kesempurnaan-Nya; bagaimana ia dapat diperbandingkan? Perbandingan itu menurut pandangan manusia, terutama orang-orang yang lengah.
Misalnya, seorang prajurit menunjukkan ketaatan serta penghormatan penuh kepada kopralnya, memandang seluruh kebaikan berasal darinya, dan jarang memikirkan raja. Sekalipun memikirkannya, ia tetap memberi terima kasih kepada kopralnya. Kepada prajurit semacam itu dikatakan, "Wahai, raja lebih besar daripada kopralmu. Hanya berterima kasihlah kepadanya." Ucapan ini bukan membandingkan kuasa komando sejati raja yang agung dengan kuasa komando kopral yang juz'i dan lahiriah; sebab, perbandingan serta pengunggulan itu tidak bermakna. Ia menurut pandangan prajurit tentang siapa yang penting serta terikat dengannya: ia mengutamakan kopralnya, memberi terima kasih kepadanya, dan hanya mencintainya.
Demikian pula, sebab-sebab lahiriah yang disangka sebagai khâliq serta mun'im menjadi tabir bagi Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki dalam pandangan orang-orang yang lengah. Mereka berpegang pada sebab-sebab itu, menganggap nikmat serta kebaikan berasal darinya, lalu memberi pujian kepadanya. Al-Qur'an berkata, "Allah subhânahu lebih Besar, Sang Khâliq yang lebih Indah dan Sang Muhsin yang lebih Baik. Pandanglah Dia, bersyukurlah kepada-Nya."
Isyarat Keempat: Perbandingan serta pengunggulan dapat berlangsung di antara yang benar-benar ada, juga di antara hal-hal yang mungkin, bahkan yang diandaikan.Sebagaimana pada kebanyakan hakikat terdapat banyak tingkatan, menurut pertimbangan akal, pada hakikat Asma Ilahi serta Sifat-Sifat Suci pun dapat ada tingkatan tak terbatas. Namun, Allah subhânahu berada pada yang paling Sempurna dan paling Indah dari seluruh tingkat Sifat serta Asma itu yang mungkin dan dapat dibayangkan. Seluruh alam dengan kesempurnaannya menjadi saksi hakikat ini. ٔﻟَﻪُ الْاَسْمَٓاءُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰٔ, yang menyifati seluruh Asma-Nya sebagai yang paling indah, menyatakan makna tersebut.
Isyarat Kelima: Perbandingan serta pengunggulan ini tidak menghadapkan Allah subhânahu dengan selain-Nya; ada dua jenis Tajalli serta Sifat-Nya.
Pertama: Tasarruf-Nya melalui rahasia Wâhidiyah, di bawah tabir sarana serta sebab, dan dalam bentuk Hukum Umum.
Kedua: Tasarruf melalui rahasia Ahadiyah, tanpa tabir, secara langsung dan dengan Perhatian Khusus. Artinya, Karunia, Perbuatan mengadakan serta Keagungan-Nya yang langsung melalui rahasia Ahadiyah lebih besar, lebih indah dan lebih tinggi daripada hasil-hasil Karunia, Perbuatan mengadakan serta Keagungan-Nya yang tampak melalui tempat-tempat tampaknya sarana serta sebab.
Misalnya, bayangkan seorang raja—tetapi raja yang wali—yang seluruh petugas serta panglimanya hanyalah tabir, dan seluruh kuasa serta tindakan berada di tangannya. Tindakan serta pelaksanaan raja itu ada dua jenis. Pertama: perintah yang ia berikan serta tindakan yang ia perlihatkan melalui hukum umum, dalam bentuk petugas serta panglima lahiriah, dan menurut kemampuan maqam-maqam mereka. Kedua: bukan melalui hukum umum dan tanpa menjadikan petugas lahiriahnya sebagai tabir, karunia kerajaan serta tindakannya secara langsung dapat dikatakan lebih indah dan lebih tinggi.
Demikian pula, Sang Khâliq alam, Sang Sultan Azali dan Abadi, memang menjadikan sarana serta sebab tabir Perbuatan-Nya dan memperlihatkan Keagungan Rububiyah-Nya. Namun, Dia meletakkan telepon khusus dalam kalbu hamba-hamba-Nya; Dia mewajibkan mereka ubudiyah khusus agar meninggalkan sebab-sebab di belakang dan langsung menghadap kepada-Nya, lalu memalingkan wajah mereka dari alam kepada Diri-Nya dengan berkata, "Ucapkanlah ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ."
Makna-makna ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ ، ﺍَﺭْﺣَﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ، ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ juga memandang makna ini.
Jawaban dengan lima lambang atas bagian kedua pertanyaan wakil itu:
Lambang Pertama: ~Dalam pertanyaannya ia berkata, "Jika sesuatu tidak mempunyai lawan, bagaimana ia dapat mempunyai kesempurnaan?"
~Jawaban:

Penanya ini tidak mengetahui kesempurnaan sejati. Ia hanya mengira kesempurnaan yang nisbi. Padahal, keistimewaan, keutamaan serta keunggulan yang memandang yang lain dan timbul dibandingkan yang lain tidak sejati; mereka nisbi dan lemah. Jika yang lain itu hilang dari pandangan, mereka pun jatuh. Misalnya, nikmat serta keutamaan nisbi panas muncul melalui pengaruh dingin. Nikmat nisbi makanan muncul melalui pengaruh sakit karena lapar. Jika yang satu hilang, yang lain pun berkurang.
Namun, nikmat, cinta, kesempurnaan serta keutamaan sejati ialah yang tidak didasarkan pada bayangan tentang yang lain, melainkan terdapat pada dirinya dan dengan sendirinya merupakan hakikat yang telah tetap. Keistimewaan-keistimewaan pada dirinya, seperti "nikmat wujud, nikmat hidup, nikmat cinta, nikmat makrifat, nikmat iman, nikmat hidup kekal, nikmat rahmat, nikmat kasih sayang, indahnya cahaya, indahnya penglihatan, indahnya ucapan, indahnya kemurahan, indahnya perangai, indahnya rupa, kesempurnaan zat, kesempurnaan sifat dan kesempurnaan perbuatan", tidak berubah, baik yang lain ada maupun tiada.
Seluruh Kesempurnaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Fâthir Dzul-Jamâl dan Sang Khâliq Dzul-Kamâl sejati dan terdapat pada Zat-Nya; yang lain serta segala selain-Nya tidak memengaruhi-Nya. Mereka hanya dapat menjadi tempat tampaknya.
Lambang Kedua: Sayyid Syarîf al-Jurjânî berkata dalam Syarh al-Mawâqif, "Sebab cinta ialah nikmat atau manfaat, keserupaan, yakni kecenderungan sesama jenis, ataupun kesempurnaan. Sebab, kesempurnaan dicintai karena dirinya sendiri." Yakni, apa pun yang engkau cintai, engkau mencintainya demi nikmat, manfaat, keserupaan sesama jenis seperti kecenderungan kepada anak, atau karena ia sempurna. Jika karena sempurna, tidak diperlukan sebab ataupun maksud lain. Ia dicintai karena dirinya sendiri. Misalnya, semua orang mencintai manusia-manusia sempurna pada masa lalu; meski tidak mempunyai hubungan apa pun dengan mereka, orang mencintai mereka dengan kagum.
Seluruh Kesempurnaan Allah subhânahu, seluruh tingkat serta seluruh Keutamaan Asma-Nya yang indah, karena merupakan Kesempurnaan sejati, dicintai karena dirinya sendiri. Semuanya "mahbubatun lidzatiha". Zat Dzul-Jalâl, Yang dicintai dengan benar dan Sang Kekasih Sejati, mencintai dengan cara yang layak bagi-Nya Kesempurnaan sejati-Nya serta Keindahan Sifat dan Asma-Nya.
Dia juga mencintai Seni-Nya, karya-karya-Nya serta keindahan makhluk-makhluk-Nya, yang menjadi tempat tampak dan cermin Kesempurnaan itu.Dia mencintai para nabi dan wali-Nya, terutama Kekasih-Nya yang paling mulia, Penghulu para Rasul dan Sultan para Wali ﷺ. Yakni, karena mencintai Keindahan-Nya sendiri, Dia mencintai Kekasih-Nya yang menjadi cermin Keindahan itu ﷺ. Karena mencintai Asma-Nya sendiri, Dia mencintai Kekasih-Nya yang menjadi tempat tampak menyeluruh dan sadar dari Asma tersebut ﷺ, serta saudara-saudaranya. Karena mencintai Seni-Nya, Dia mencintai Kekasih-Nya yang menjadi penyeru dan pemamer Seni itu ﷺ, serta yang sejenis dengannya. Karena mencintai karya-karya-Nya, Dia mencintai Kekasih-Nya yang berkata di hadapan karya-karya tersebut, "Masyaallah, barakallah, betapa indah mereka dibuat," yang menghargai serta mengaguminya ﷺ, serta orang-orang yang mengikuti di belakangnya. Karena mencintai keindahan makhluk-makhluk-Nya, Dia mencintai Kekasih-Nya yang paling mulia, yang mencakup seluruh akhlak indah itu ﷺ, serta para pengikut dan saudaranya.
Lambang Ketiga: Seluruh kesempurnaan di segenap alam ialah tanda-tanda Kesempurnaan dan isyarat-isyarat Keindahan satu Zat Dzul-Jalâl. Bahkan, dibandingkan Kesempurnaan sejati-Nya, seluruh keelokan, kesempurnaan serta keindahan di segenap alam hanyalah bayangan lemah. Kami akan menunjukkan secara ringkas lima hujah bagi hakikat ini.
Hujah Pertama: Sebagaimana sebuah istana yang sempurna, megah, bercorak dan berhias jelas menunjukkan keahlian membangun serta pertukangan yang sempurna; pertukangan dan penghiasan yang merupakan perbuatan sempurna itu tentu menunjukkan pelaku yang sempurna, seorang ahli, insinyur, bersama gelar serta nama seperti "penghias dan pemberi bentuk"; nama-nama yang sempurna itu pun tanpa ragu menunjukkan sifat ahli tersebut yang sempurna dan berseni. Kesempurnaan seni serta sifat itu jelas menunjukkan sempurnanya bakat serta kemampuan ahli tersebut. Dan sempurnanya bakat serta kemampuan tentu menunjukkan sempurnanya diri ahli itu serta luhurnya hakikatnya.
Persis demikian, istana alam ini, karya yang sempurna dan berhias ini, jelas menunjukkan Perbuatan yang amat sempurna. Sebab, kesempurnaan pada karya berasal dari Kesempurnaan Perbuatan itu dan memperlihatkannya. Kesempurnaan Perbuatan tentu menunjukkan Sang Pelaku yang Sempurna serta Kesempurnaan Nama-Nya, yakni Kesempurnaan Nama-Nama seperti Mudabbir, Musawwir, Hakîm, Rahîm dan Muzayyin dalam hubungannya dengan hasil-hasil karya. Kesempurnaan Nama serta Gelar tanpa ragu menunjukkan Kesempurnaan Sifat Pelaku itu. Sebab, jika Sifat tidak sempurna, Nama serta Gelar yang timbul dari Sifat tidak dapat sempurna.Kesempurnaan Sifat-Sifat itu jelas menunjukkan Kesempurnaan Syuunat Zat-Nya. Sebab, sumber Sifat ialah Syuun Zat tersebut. Kesempurnaan Syuun Zat menunjukkan dengan ilmul-yaqin Kesempurnaan Zat Pemilik Syuun itu, dan Kesempurnaan yang begitu layak bagi-Nya sehingga, meskipun Cahaya Kesempurnaan itu melewati tabir-tabir Syuun, Sifat, Asma, Perbuatan serta hasil-hasil karya, ia tetap memperlihatkan keelokan, keindahan serta kesempurnaan sebanyak ini di alam.
Setelah adanya Kesempurnaan Zat yang sejati pada tingkat demikian ditetapkan melalui bukti pasti, engkau memahami betapa kecilnya bobot serta betapa redupnya kesempurnaan nisbi yang memandang yang lain dan muncul karena mengungguli yang sejenis ataupun yang berlawanan…
Hujah Kedua: Ketika alam ini dipandang untuk mengambil pelajaran, nurani serta kalbu merasakan melalui intuisi yang benar bahwa Yang memperindah, menghias serta memberi berbagai keindahan kepada alam hingga tingkat demikian mempunyai Keindahan serta Kesempurnaan yang teramat tinggi, sehingga Dia berbuat demikian.
Hujah Ketiga: Diketahui bahwa karya-karya seni yang seimbang, teratur, sempurna dan indah bersandar pada rancangan yang amat indah. Rancangan yang sempurna serta indah menunjukkan ilmu yang sempurna dan indah, pikiran yang indah serta kemampuan ruh yang indah. Jadi, keindahan rohani ruhlah yang tampak melalui ilmu dalam seninya.
Alam ini, dengan keindahan materinya yang tak terbatas, ialah rembesan suatu Keindahan rohani serta ilmiah. Keindahan serta Kesempurnaan ilmiah dan rohani itu tentu ialah Pancaran Keelokan, Keindahan serta Kesempurnaan yang tak terbatas dan kekal.
Hujah Keempat: Diketahui bahwa yang memberi cahaya harus bercahaya, yang menerangi harus bersinar, pemberian berasal dari kekayaan, dan kelembutan muncul dari yang lembut. Karena demikian, memberi begitu banyak keelokan serta keindahan kepada alam dan berbagai kesempurnaan kepada segala yang ada menunjukkan Keindahan Kekal, sebagaimana sinar menunjukkan matahari.
Segala yang ada bersinar dengan kilauan-kilauan kesempurnaan di muka bumi lalu berlalu, seperti sungai besar. Sebagaimana sungai itu bersinar melalui pancaran matahari, arus yang ada ini pun bersinar sementara dengan kilauan-kilauan keelokan, keindahan serta kesempurnaan, lalu pergi.Karena yang datang di belakang mereka memperlihatkan kilauan serta sinar yang sama, dipahami bahwa pancaran dan keindahan pada gelembung-gelembung air yang mengalir bukan berasal dari diri mereka, melainkan ialah keindahan serta pancaran cahaya suatu matahari.
Demikian pula, keindahan serta kesempurnaan yang bersinar sementara pada arus alam ini ialah kilauan Keindahan Asma Sang Matahari Kekal. ﻧَﻌَﻢْ ﺗَﻔَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﻤِﺮْﺍٰﺕِ ﺯَﻭَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻣَﻊَ ﺗَﺠَﻠِّﻰ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻔَﻴْﺾِ الْمُلَازِمِ ﻣِﻦْ ﺍَﻇْﻬَﺮِ ﺍﻟﻈَّﻮَﺍﻫِﺮِ ﺍَﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝَ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻣُﻠْﻚَ ﺍﻟْﻤَﻈَﺎﻫِﺮِ ﻣِﻦْ ﺍَﻓْﺼَﺢِ ﺗِﺒْﻴَﺎﻥٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻭْﺿَﺢِ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٍ ﻟِﻠْﺠَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺮَّﺩِ لِلْاِحْسَانِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺪَّﺩِ ﻟِﻠْﻮَﺍﺟِﺐِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﻟِﻠْﺒَﺎﻗِﻰ ﺍﻟْﻮَﺩُﻭﺩِ
Hujah Kelima: Diketahui bahwa jika orang-orang yang datang dari tiga atau empat jalan berbeda menuturkan peristiwa yang sama, hal itu menunjukkan terjadinya peristiwa tersebut dengan pasti, pada tingkat riwayat mutawatir yang memberi keyakinan.
Seluruh ahli kasyaf, ahli zauk, serta orang-orang yang menyaksikan dan mengamati, dari berbagai lapisan ahli peneliti, berbagai tarekat para wali, berbagai jalan orang-orang suci serta berbagai aliran ahli hikmah sejati, yang sangat berbeda dalam corak, jalan, bakat dan zaman, melalui kasyaf, dengan menghayati serta menyaksikan bersepakat bahwa keindahan serta kesempurnaan yang terlihat pada tempat-tempat tampak alam dan cermin-cermin yang ada ialah Tajalli Kesempurnaan dan Pancaran Keindahan Asma satu Zat Wâjibul Wujûd.
Ijmak mereka ialah hujah pasti yang tak terguncangkan.
Aku menduga bahwa pada lambang ini, wakil ahli kesesatan terpaksa menutup telinga agar tidak mendengar, lalu melarikan diri. Memang, kepala-kepala mereka yang gelap, seperti kelelawar, tidak tahan melihat cahaya-cahaya ini. Maka, sesudah ini kami tidak akan terlalu memperhitungkan mereka.
Lambang Keempat: Nikmat, keelokan serta keindahan sesuatu lebih memandang tempat tampaknya daripada yang sejenis ataupun yang berlawanan dengannya. Misalnya, kemurahan ialah sifat yang indah serta menyenangkan. Sosok yang pemurah memperoleh nikmat yang seribu kali lebih menyenangkan melalui rasa nikmat serta kegembiraan orang-orang yang ia beri, daripada nikmat nisbi yang ia peroleh karena mengungguli para pemberi lainnya. Sosok yang memiliki kasih sayang serta belas kasih juga memperoleh nikmat sejati menurut tingkat ketenteraman makhluk-makhluk yang ia sayangi. Misalnya, nikmat yang seorang ibu peroleh melalui kasih sayang dari bahagia serta tenteramnya anak-anaknya begitu kuat sehingga membuatnya rela mengorbankan ruhnya demi ketenteraman mereka. Bahkan, nikmat kasih sayang itu membuat ayam menyerang singa demi melindungi anak-anaknya.
Karena nikmat, keelokan, kebahagiaan serta kesempurnaan sejati dalam sifat-sifat luhur tidak memandang yang sebanding ataupun yang berlawanan, melainkan tempat tampak serta yang terkait dengannya,tentu Keindahan dalam Rahmat Zat Dzul-Jamâl wal-Kamâl, Sang Hayy dan Qayyûm, Hannân dan Mannân, Rahîm dan Rahmân, memandang yang dirahmati. Menurut tingkat kebahagiaan, kenikmatan serta kegembiraan mereka yang menerima Belas Kasih-Nya, terutama yang menerima berbagai Rahmat serta Kasih Sayang-Nya yang tak berhingga di surga kekal, pada Zat Ar-Rahmân Ar-Rahîm itu terdapat makna-makna luhur, suci, indah dan bebas dari cacat, seperti mencintai, dengan cara yang layak bagi-Nya, yang disebut Syuunat yang layak bagi-Nya. Dia mempunyai Syuunat yang amat bebas dari cacat serta suci, yang disebut "Nikmat Suci, Cinta Suci, Kegembiraan yang bebas dari cacat, Kebahagiaan Suci", yang tidak dapat kami sebut karena tidak ada izin syariat. Di banyak tempat telah kami buktikan bahwa masing-masing tak berhingga tingkatnya lebih tinggi, lebih luhur, lebih suci dan lebih bebas dari cacat daripada cinta, kegembiraan serta kebahagiaan yang kita lihat di alam dan rasakan di antara segala yang ada. Jika engkau hendak memandang kilauan makna-makna itu, pandanglah melalui teropong perumpamaan berikut:
Misalnya, seorang sosok dermawan, luhur budi dan penyayang membentangkan jamuan indah di kapal indahnya yang sedang berlayar, untuk memberikannya kepada orang-orang yang amat miskin, lapar dan membutuhkan. Ia sendiri ikut berlayar di atasnya. Engkau memahami betapa nikmat penuh terima kasih orang-orang miskin itu, rasa nikmat penuh syukur orang-orang lapar itu, serta rasa puas penuh pujian orang-orang yang membutuhkan itu membuat sosok pemurah tersebut senang dan gembira, serta betapa menyenangkan baginya.
Jika demikian kegembiraan seorang manusia, yang bahkan bukan pemilik sejati meja makan kecil dan hanya seperti petugas pembagi, engkau dapat membandingkan makna-makna suci Cinta serta hasil-hasil Rahmat milik Ar-Rahmân Ar-Rahîm, yang tidak mampu kami ungkapkan: Dia menaikkan jin, manusia serta hewan ke atas bumi besar, kapal Rabb yang berlayar di lautan ruang alam; membentangkan pada wajahnya meja makan yang memuat berbagai makanan tak terbatas; mengundang seluruh makhluk hidup ke jamuan itu sebagai sarapan kecil; sekaligus, di tempat kekal yang abadi dan tak berakhir, Dia menjadikan setiap surga meja nikmat yang amat sempurna dan memuat seluruh jenis kelezatan; di sana, dengan berbagai kelezatan serta kelembutan tak terbatas, selama waktu tak berhingga, Dia membuka jamuan untuk dimakan secara sejati oleh hamba-hamba-Nya yang tak berhingga, yang membutuhkan dan merindukan tanpa batas.Misalnya pula, seorang pembuat yang ahli dan menyukai seni serta memperlihatkan keahliannya, setelah mengadakan karya indah seperti fonograf yang berbicara tanpa piringan, menyiapkan, menguji dan memperlihatkannya. Jika karya itu memperlihatkan hasil-hasil yang ia pikirkan serta inginkan dengan cara paling sempurna, betapa bangga dan puas orang yang mengadakannya, serta betapa ia menyukainya. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Barakallah."
Jika seorang manusia yang amat kecil, melalui seni kecil yang semata lahiriah tanpa mengadakan secara sejati, begitu puas karena fonograf bekerja dengan indah, bagaimana dengan Sang Pembuat Dzul-Jalâl? Sebagaimana Dia mengadakan alam besar ini seperti musik dan fonograf, Dia membuat bumi serta seluruh makhluk hidup di dalamnya, terutama kepala manusia di antara makhluk hidup, seperti fonograf Rabb dan musik Ilahi sedemikian rupa sehingga hikmah manusia menggigit jari karena kagum di hadapan Seni itu.
Karena seluruh karya ciptaan itu memperlihatkan seluruh hasil yang dituntut dari mereka pada tingkat tertinggi dan dengan cara amat indah, serta karena ketaatan mereka terhadap Perintah Penciptaan, yang disebut ibadah khusus, tasbih khusus serta penghormatan tertentu, dan tercapainya Maksud Rabb yang dituntut dari mereka; makna-makna suci serta Syuun yang bebas dari cacat, yang timbul darinya dan tidak dapat kami ungkapkan dengan bangga, puas ataupun gembira, begitu luhur dan suci sehingga, sekalipun seluruh akal manusia berittihad menjadi satu akal, ia tetap tidak dapat mencapai hakikat terdalamnya ataupun meliputinya.
Misalnya pula, seorang hakim yang menyukai keadilan, suka menegakkan hak dan menikmatinya, betapa puas dan menikmati saat memberi hak orang-orang yang dizalimi, menerima terima kasih mereka, serta membalaskan mereka dengan menghukum orang-orang zalim.
Engkau dapat membandingkan makna-makna suci yang datang dari Sang Hakîm Mutlak, Yang benar-benar Adil dan Sang Qahhâr Dzul-Jalâl: bukan hanya pada jin serta manusia, melainkan pada seluruh yang ada, Dia menegakkan hak, yakni memberi setiap sesuatu hak wujud dan hak hidup, melindungi wujud serta hidupnya dari para penyerang, mencegah dan menghentikan makhluk-makhluk dahsyat dari tindakan melampaui batas; terutama, selain mengadili jin dan manusia pada mahsyar dan tempat akhirat, Dia memperlihatkan Tajalli Teragung Keadilan serta Hikmah terhadap seluruh makhluk hidup.Seperti ketiga contoh ini, pada setiap satu dari seribu satu Asma Ilahi terdapat banyak lapisan Keelokan, Keindahan, Keutamaan serta Kesempurnaan, dan banyak tingkat Cinta, Kebanggaan, Kemuliaan serta Keagungan. Karena itulah para wali yang meneliti dengan saksama dan menjadi tempat tampaknya Nama "Wadûd" berkata, "Bahan dasar seluruh alam ialah cinta. Gerak seluruh yang ada melalui cinta. Hukum-hukum tertarik, gelora serta daya tarik pada seluruh yang ada berasal dari cinta." Salah seorang dari mereka berkata: ﻓَﻠَﻚْ ﻣَﺴْﺖْ ﻣَﻠَﻚْ ﻣَﺴْﺖْ ﻧُﺠُﻮﻡْ ﻣَﺴْﺖْ ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕْ ﻣَﺴْﺖْ ﺷَﻤْﺲْ ﻣَﺴْﺖْ ﻗَﻤَﺮْ ﻣَﺴْﺖْ ﺯَﻣ۪ﻴﻦْ ﻣَﺴْﺖْ ﻋَﻨَﺎﺻِﺮْ ﻣَﺴْﺖْ ﻧَﺒَﺎﺕْ ﻣَﺴْﺖْ ﺷَﺠَﺮْ ﻣَﺴْﺖْ ﺑَﺸَﺮْ ﻣَﺴْﺖْ ﺳَﺮَﺍﺳَﺮْ ﺫ۪ﻯ ﺣَﻴَﺎﺕْ ﻣَﺴْﺖْ ﻫَﻤَﻪ ﺫَﺭَّﺍﺕِ ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕْ ﺑَﺮَﺍﺑَﺮْ ﻣَﺴْﺖْ ﺩَﺭْﻣَﺴْﺘَﺴْﺖْ
Yakni, pada Tajalli Cinta Ilahi dan dari minuman cinta itu, setiap orang mabuk menurut bakatnya.
Diketahui bahwa setiap kalbu mencintai yang berbuat baik kepadanya, mencintai kesempurnaan sejati dan terpikat oleh keindahan luhur. Ia jauh lebih mencintai yang juga berbuat baik kepada sosok-sosok yang ia cintai dan sayangi bersama dirinya. Sebagaimana telah kami jelaskan, pada setiap satu Nama-Nya terdapat ribuan harta terpendam Karunia; dengan Karunia-Nya Dia membahagiakan seluruh yang kita cintai; Dia sumber ribuan Kesempurnaan, pusat ribuan lapisan Keindahan, dan Musamma seribu satu Asma-Nya. Tidakkah dapat dipahami betapa Sang Jamîl Dzul-Jalâl, Sang Kekasih Dzul-Kamâl, layak menerima cinta serta kasih, dan betapa layak seluruh alam mabuk serta terpukau karena Cinta kepada-Nya?
Karena rahasia inilah sebagian wali yang menjadi tempat tampaknya Nama "Wadûd" berkata, "Kami tidak menginginkan surga. Satu kilauan Cinta Ilahi cukup bagi kami selama-lamanya."
Karena itu pula, sebagaimana disebut dalam hadis, "Satu menit melihat Keindahan Ilahi di surga mengungguli seluruh kelezatan surga."
Kesempurnaan Cinta yang tak berhingga ini terwujud melalui Asma serta makhluk-makhluk Zat Dzul-Jalâl sendiri dalam lingkup Wâhidiyah dan Ahadiyah. Jadi, kesempurnaan yang disangka ada di luar lingkup itu bukanlah kesempurnaan.
Lambang Kelima: Terdiri dari lima nokta.
Nokta Pertama: ~Wakil ahli kesesatan berkata, "Dalam hadis-hadis kalian, dunia dikutuk dan disebut 'bangkai'. Seluruh ahli kewalian serta ahli hakikat pun merendahkan dunia. Mereka berkata, 'Ia fana dan kotor.' Padahal, engkau menunjukkan dunia sebagai pusat serta hujah seluruh Kesempurnaan Ilahi, dan membicarakannya penuh cinta."
~Jawaban: Dunia mempunyai tiga wajah.
Wajah pertama: Memandang Asma Allah subhânahu. Ia memperlihatkan corak-corak Asma itu. Dengan makna yang menunjuk kepada yang lain, ia menjadi cermin bagi mereka. Wajah dunia ini ialah surat-surat Allah subhânahu Yang Samad yang tak terbatas.Wajah ini amat indah. Wajah ini tidak layak dibenci, melainkan layak dicintai.
Wajah kedua: Memandang akhirat. Ia ladang akhirat, kebun surga dan tempat tumbuh bunga Rahmat. Wajah ini juga indah seperti wajah sebelumnya. Wajah ini tidak layak direndahkan, melainkan layak dicintai.
Wajah ketiga: Wajah yang memandang keinginan manusia, menjadi tabir kelengahan, dan menjadi tempat permainan keinginan orang-orang dunia. Wajah ini buruk. Sebab, ia fana, lenyap, menyakitkan dan menipu. Perendahan yang disebut dalam hadis serta kebencian ahli hakikat memandang wajah ini.
Sedangkan pembicaraan Al-Qur'an Al-Hakîm tentang alam serta segala yang ada dengan penuh perhatian dan pujian memandang kedua wajah sebelumnya. Dunia yang diinginkan para sahabat serta orang-orang dekat Allah subhânahu lainnya ialah kedua wajah sebelumnya.
Kini, yang merendahkan dunia ada empat golongan.
Pertama: Ahli makrifat, yang merendahkannya karena ia merintangi makrifat, cinta serta ibadah kepada Allah subhânahu.
Kedua: Ahli akhirat, yang merendahkannya karena urusan-urusan dunia yang perlu menghalangi mereka dari amal akhirat, atau yang dengan iman setingkat menyaksikan memandang dunia buruk dibandingkan kesempurnaan serta keindahan surga. Ya, sebagaimana seorang manusia tampan tetap tampak buruk jika dibandingkan dengan Yusuf 'alaihis-salâm, sebanyak apa pun keindahan berharga dunia, ia tidak berarti dibandingkan keindahan surga.
Ketiga: Ia merendahkan dunia karena tidak mendapatkannya. Perendahan ini bukan berasal dari kebencian kepada dunia, melainkan dari cinta kepadanya.
Keempat: Ia merendahkan dunia karena dunia datang ke tangannya, tetapi tidak menetap dan pergi. Ia pun marah. Untuk memperoleh hiburan, ia merendahkannya dan berkata, "Ia kotor." Perendahan ini juga berasal dari cinta kepada dunia. Padahal, perendahan yang diterima ialah yang berasal dari cinta akhirat dan cinta makrifatullah.
Jadi, perendahan yang diterima ialah dua golongan pertama. Semoga Allah subhânahu menjadikan kita bagian dari mereka, amin, demi kehormatan Penghulu para Rasul ﷺ.

--

BAGIAN KETIGA

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Bagian Ketiga ini ialah "Nokta Kedua". Ia pun terdiri dari dua pembahasan.

PEMBAHASAN PERTAMA

Menurut rahasia ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪, pada setiap sesuatu terdapat banyak sisi yang seperti jendela menghadap Allah subhânahu. Hakikat seluruh yang ada dan hakikat seluruh alam bersandar pada Asma Ilahi. Hakikat setiap sesuatu bersandar pada satu Nama ataupun banyak Asma. Sifat-sifat serta seni pada benda-benda pun masing-masing bersandar pada satu Nama.
Bahkan, sebagaimana ilmu hikmah yang sejati bersandar pada Nama "Hakîm", ilmu kedokteran yang benar pada Nama "Syâfî", ilmu geometri pada Nama "Muqaddir", dan seterusnya, setiap ilmu bersandar pada satu Nama dan berakhir padanya; hakikat seluruh ilmu, seluruh kesempurnaan manusia serta lapisan-lapisan manusia sempurna juga bersandar pada Asma Ilahi.
Bahkan, sebagian wali yang meneliti dengan saksama berkata, "Hakikat sejati benda-benda ialah Asma Ilahi. Hakikat diri benda-benda ialah bayang-bayang hakikat tersebut."
Bahkan, pada satu makhluk hidup saja, hanya pada sisi yang tampak, dapat terlihat Pancaran corak sekitar dua puluh Asma Ilahi.
Kami akan berusaha mendekatkan kepada pemahaman hakikat yang halus, teliti, amat besar dan luas ini melalui suatu perumpamaan. Kami akan menguraikannya seolah menyaring dengan dua atau tiga saringan berbeda. Sepanjang apa pun kami menjelaskan, ia tetap singkat. Jangan bosan. Demikianlah:
Jika seorang pelukis serta pemahat yang amat ahli ingin membuat gambar serta patung dari bunga yang amat indah dan perempuan yang amat cantik, dari jenis manusia yang lembut, mula-mula ia menentukan bentuk umum kedua hal itu dengan beberapa garis. Ia menentukan melalui penataan serta ukuran. Berdasarkan geometri, ia menentukan batas. Penataan serta penentuan ukuran ini menunjukkan bahwa semuanya dilakukan dengan hikmah dan ilmu; tindakan menata serta membatasi berputar dengan jangka ilmu serta hikmah. Maka, di belakang penataan dan pembatasan, makna ilmu serta hikmah berkuasa.
Jangka ilmu serta hikmah itu akan memperlihatkan dirinya. Ia pun memperlihatkan dirinya: di dalam batas-batas itu, ia mulai menggambar hal-hal seperti mata, telinga, hidung, daun serta rumbai-rumbai yang amat halus. Kini kami melihat bahwa anggota-anggota yang ditentukan melalui gerak jangka di dalamnya ditempatkan dengan seni dan perhatian. Maka, di belakangnya ada makna seni serta perhatian yang memutar jangka ilmu dan hikmah itu; mereka berkuasa dan akan memperlihatkan diri.Karena itulah ia memperlihatkan kemampuan menerima keelokan serta hiasan. Maka, yang menggerakkan seni serta perhatian ialah kehendak memperindah dan maksud menghias. Mereka berkuasa sehingga ia mulai menghiasi dan menerangi. Ia memperlihatkan keadaan tersenyum dan memberi bentuk yang hidup.
Tentu, yang menggerakkan makna memperindah serta menerangi ini ialah makna kelembutan dan kemurahan. Ya, kedua makna itu begitu berkuasa padanya, sehingga bunga tersebut seolah kelembutan yang bertubuh dan patung itu kemurahan yang menjadi jasad.
Kini, yang menggerakkan serta mendorong makna kemurahan dan kelembutan ini ialah "membuat diri dicintai dan dikenali". Yakni, di belakangnya berkuasa makna mengenalkan diri melalui keahlian dan membuat diri dicintai orang-orang.
Mengenalkan serta membuat diri dicintai ini tentu datang dari kecenderungan berbelas kasih dan kehendak memberi nikmat. Karena belas kasih serta kehendak memberi nikmat berkuasa di belakangnya, ia akan memenuhi serta menghiasi patung itu dengan berbagai nikmat, dan memasangkan gambar bunga itu pada sebuah hadiah. Ia pun memenuhi tangan, pangkuan serta kantong patung itu dengan nikmat-nikmat berharga, dan memasangkan gambar bunga pada sebuah perhiasan permata.
Jadi, yang menggerakkan belas kasih serta kehendak memberi nikmat ini ialah rasa iba dan kasih sayang. Yakni, makna "mengasihani dan menyayangi" menggerakkan belas kasih serta nikmat.
Yang menggerakkan serta mendorong tampaknya rasa iba dan kasih sayang pada sosok yang tidak membutuhkan siapa pun itu tentu ialah keindahan serta kesempurnaan rohani dalam dirinya, yang hendak tampak.
Cinta, bagian paling manis dari keindahan itu, serta belas kasih, bagian paling lezatnya, hendak terlihat melalui cermin seni dan melihat diri melalui mata para perindu. Yakni, karena dicintai pada dirinya sendiri, keindahan serta kesempurnaan mencintai diri sendiri lebih daripada apa pun. Mereka sekaligus keelokan dan cinta. Ittihad keelokan dan cinta berasal dari hal ini. Karena keindahan mencintai dirinya, ia hendak melihat diri dalam cermin-cermin. Nikmat-nikmat yang disukai serta buah-buah indah, yang diletakkan pada patung dan dipasangkan pada gambar, masing-masing membawa satu kilauan keindahan rohani itu menurut kemampuan mereka. Mereka memperlihatkan kilauan-kilauan tersebut kepada pemilik keindahan maupun yang lain.Persis demikian, Sang Pembuat yang Hakîm melalui Pancaran Asma-Nya menentukan batas dan menata bentuk surga serta dunia, langit serta bumi, tumbuhan serta hewan, jin serta manusia, malaikat serta makhluk ruhani, dan seluruh sesuatu yang menyeluruh ataupun juz'i; Dia memberi masing-masing ukuran tertentu. Dengan itu Dia membuat mereka membaca Nama-Nama "Muqaddir, Munazzim, Musawwir". Dia menentukan batas bentuk umum sedemikian rupa sehingga memperlihatkan Nama "Alîm, Hakîm".
Lalu, dengan penggaris Ilmu serta Hikmah, Dia mulai memberi bentuk sesuatu itu dalam batas tersebut, dengan cara yang memperlihatkan makna Seni serta Perhatian dan Nama-Nama “Sâni' dan Karîm”.
Kemudian, dengan Tangan Cemerlang Seni dan kuas Perhatian, Dia memberi warna-warna keelokan serta hiasan kepada anggota-anggota bentuk tersebut—jika ia seorang manusia atau sebuah bunga, kepada mata, telinga, daun serta rumbai; jika bumi, kepada mineral, tumbuhan serta hewannya; jika surga, kepada taman, istana serta bidadarinya; dan seterusnya. Bandingkan yang lain. Dia menghias serta menerangi dengan cara yang membuat makna Kelembutan dan Kemurahan begitu berkuasa padanya, sehingga makhluk berhias serta karya bersinar itu seolah menjadi Kelembutan yang bertubuh dan Kemurahan yang menjadi jasad. Ia menyebut Nama "Latîf dan Karîm".
Lalu, yang menggerakkan Kelembutan serta Kemurahan kepada Pancaran ini tentu ialah membuat Diri dicintai serta dikenali, yakni Syuun membuat makhluk hidup mencintai-Nya dan membuat makhluk yang sadar mengenal-Nya. Di belakang Nama-Nama "Latîf, Karîm", Dia membuat mereka membaca Nama-Nama "Wadûd dan Ma'rûf", yang terdengar dari bahasa keadaan karya ciptaan.
Lalu, Dia menghiasi makhluk berhias dan ciptaan indah itu dengan buah-buah lezat serta hasil-hasil yang dicintai, mengubahnya dari hiasan menjadi nikmat, dari Kelembutan menjadi Rahmat. Dia membuat mereka membaca Nama "Mun'im dan Rahîm", dan memperlihatkan Pancaran kedua Nama itu di balik tabir-tabir lahiriah.
Kemudian, yang menggerakkan Rahîm dan Karîm ini, pada Zat yang sama sekali tidak membutuhkan apa pun, kepada Pancaran ini tentu ialah Syuun Belas Kasih serta Kasih Sayang; Dia membuat mereka membaca dan memperlihatkan Nama "Hannân dan Rahmân".
Yang menggerakkan makna Belas Kasih serta Kasih Sayang ini kepada Pancaran tentu ialah Keindahan serta Kesempurnaan Zat yang hendak tampak.Dia membuat mereka membaca Nama "Jamîl" serta Nama-Nama "Wadûd dan Rahîm" yang terkandung dalam Nama Jamîl. Sebab, keindahan dicintai pada dirinya sendiri. Yang indah dan keindahan mencintai diri sendiri. Ia sekaligus keelokan dan cinta. Kesempurnaan juga dicintai pada dirinya sendiri, tanpa sebab. Ia sekaligus yang mencintai dan yang dicintai.
Karena Keindahan pada tingkat Kesempurnaan tak berhingga dan Kesempurnaan pada tingkat Keindahan tak berhingga dicintai pada tingkat tertinggi, serta layak menerima cinta dan kasih, tentu Dia hendak tampak dengan melihat dan memperlihatkan Kilauan serta Pancaran-Nya dalam cermin-cermin menurut kemampuan mereka.
Jadi, Keindahan Zat serta Kesempurnaan Zat Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Jamâl dan Sang Qadîr Dzul-Kamâl menuntut Belas Kasih serta Kasih Sayang, dan menggerakkan Nama "Rahmân dan Hannân" kepada Tajalli.
Belas Kasih serta Kasih Sayang menggerakkan Nama "Rahîm dan Mun'im" kepada Pancaran dengan memperlihatkan Rahmat serta nikmat.
Rahmat serta nikmat menuntut Syuun membuat Diri dicintai dan dikenali, lalu menggerakkan Nama "Wadûd dan Ma'rûf" kepada Tajalli. Dia memperlihatkan mereka pada satu tabir karya ciptaan.
Membuat Diri dicintai serta dikenali menggerakkan makna Kelembutan dan Kemurahan. Dia membuat Nama-Nama "Latîf dan Karîm" terbaca pada beberapa tabir karya ciptaan.
Syuun Kelembutan serta Kemurahan menggerakkan perbuatan menghias dan menerangi. Dia membuat Nama-Nama "Muzayyin dan Munawwir" terbaca melalui bahasa keelokan serta cahaya karya ciptaan.
Syuun menghias serta memperindah itu menuntut makna Seni dan Perhatian. Dia membuat Nama-Nama “Sâni' dan Muhsin” terbaca melalui wajah indah karya ciptaan itu.
Seni serta Perhatian menuntut Ilmu dan Hikmah. Dia membuat Nama "Alîm dan Hakîm" terbaca melalui anggota-anggota karya ciptaan yang teratur serta penuh hikmah.
Ilmu serta Hikmah itu menuntut perbuatan menata, memberi bentuk dan menyusun. Dia membuat Nama-Nama "Musawwir dan Muqaddir" terbaca serta terlihat melalui wujud dan bentuk karya ciptaan.
Sang Pembuat Dzul-Jalâl membuat seluruh karya-Nya sedemikian rupa sehingga sebagian besar, terutama yang hidup, membuat banyak Asma Ilahi terbaca. Seolah-olah Dia mengenakan dua puluh kemeja berbeda berlapis-lapis pada setiap karya-Nya, membungkusnya dengan dua puluh tabir. Pada setiap kemeja dan setiap tabir, Dia menulis Asma-Nya yang berbeda. Misalnya, sebagaimana diperlihatkan dalam perumpamaan, hanya pada ciptaan lahiriah sebuah bunga indah dan seorang perempuan cantik dari golongan kedua manusia terdapat banyak lembaran.Bandingkan karya-karya besar serta menyeluruh lainnya dengan kedua contoh juz'i itu.
Lembaran pertama: Wujud yang memperlihatkan bentuk umum serta ukurannya, yang menyebut Nama-Nama "Ya Musawwir, ya Muqaddir, ya Munazzim".
Lembaran kedua: Wujud sederhana bunga serta manusia yang muncul melalui berkembangnya anggota-anggota berbeda pada bentuk mereka; pada lembaran itu tertulis banyak Nama seperti "Alîm, Hakîm".
Lembaran ketiga: Dengan memberi keelokan serta hiasan berbeda kepada anggota-anggota berbeda kedua makhluk itu, pada lembaran tersebut tertulis banyak Nama seperti “Sâni' dan Bâri'”.
Lembaran keempat: Kedua karya ciptaan itu diberi hiasan serta keelokan sedemikian rupa, seolah Kelembutan dan Kemurahan menjadi jasad lalu menjadi mereka. Lembaran itu menyebut serta membaca banyak Nama seperti "Ya Latîf, ya Karîm".
Lembaran kelima: Dengan memasangkan buah-buah lezat pada bunga itu, serta anak-anak yang dicintai dan akhlak indah pada perempuan cantik itu, lembaran tersebut membuat Nama-Nama seperti "Ya Wadûd, ya Rahîm, ya Mun'im" terbaca.
Lembaran keenam: Pada lembaran memberi nikmat serta Karunia itu terbaca Nama-Nama seperti "Ya Rahmân, ya Hannân".
Lembaran ketujuh: Pada nikmat-nikmat serta hasil-hasil itu tampak Kilauan Keelokan dan Keindahan yang layak menerima syukur tulus serta cinta murni, yang diramu dengan semangat dan kasih sayang sejati. Pada lembaran itu tertulis dan terbaca Nama-Nama "Ya Jamîl Dzul-Kamâl, ya Kâmil Dzul-Jamâl".
Jika hanya sebuah bunga indah dan seorang perempuan cantik, hanya dalam bentuk materi serta lahiriah, memperlihatkan begitu banyak Asma, engkau dapat membandingkan betapa seluruh bunga, seluruh makhluk hidup serta yang ada yang besar dan menyeluruh membuat Asma yang luhur serta menyeluruh terbaca.
Engkau juga dapat membandingkan betapa banyak Asma suci bercahaya seperti "Hayy, Qayyûm dan Muhyî" yang dibaca dan dibuat terbaca oleh manusia dari segi ruh, kalbu serta akal, dan melalui lembaran-lembaran hidup serta unsur-unsur halusnya.
Surga ialah sebuah bunga. Golongan bidadari juga sebuah bunga. Muka bumi juga sebuah bunga. Musim semi pun sebuah bunga. Langit juga sebuah bunga; bintang-bintang ialah corak-corak emas bunga itu. Matahari pun sebuah bunga; tujuh warna cahayanya ialah cat-cat bercorak bunga tersebut.Alam ialah manusia yang indah dan besar, sebagaimana manusia ialah alam kecil. Golongan bidadari, kumpulan makhluk ruhani, jenis malaikat, golongan jin serta jenis manusia masing-masing diberi bentuk, ditata dan diadakan seperti satu sosok indah.
Sebagaimana masing-masing dalam keseluruhannya, dan setiap individunya sendiri, memperlihatkan Asma Sang Pembuat Dzul-Jamâl, mereka juga masing-masing ialah cermin tersendiri bagi Keindahan, Kesempurnaan, Rahmat serta Cinta-Nya. Masing-masing ialah saksi benar Keindahan, Kesempurnaan, Rahmat serta Cinta-Nya yang tak berhingga, dan tanda serta isyarat Keindahan, Kesempurnaan, Rahmat serta Cinta itu. Berbagai Kesempurnaan yang tak berhingga ini terwujud dalam lingkup Wâhidiyah dan Ahadiyah. Jadi, kesempurnaan yang disangka ada di luar lingkup itu bukanlah kesempurnaan.
Pahamilah bahwa hakikat benda-benda bersandar serta bertumpu pada Asma Ilahi, bahkan hakikat sejati ialah Pancaran Asma itu; dan bahwa setiap sesuatu berzikir serta bertasbih kepada Sang Pembuatnya dari banyak sisi serta dengan banyak bahasa. Ketahuilah satu makna ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪, dan ucapkan ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺧْﺘَﻔٰﻰ ﺑِﺸِﺪَّﺓِ ﻇُﻬُﻮﺭِﻩ۪. Pahamilah pula suatu rahasia penyebutan serta pengulangan seperti ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﺮُ pada akhir ayat-ayat.
Jika engkau tidak dapat membaca Asma pada sebuah bunga dan tidak melihatnya dengan jelas, pandanglah surga, perhatikan musim semi dan saksikan muka bumi. Engkau dapat membaca dengan jelas Asma yang tertulis pada surga, musim semi serta bumi, bunga-bunga besar Rahmat ini, serta memahami dan melihat Pancaran serta coraknya.

--