Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PEMBAHASAN KEDUA NOKTA KEDUA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

PEMBAHASAN KEDUA NOKTA KEDUA

Ketika wakil ahli kesesatan tidak menemukan apa pun untuk dipegang dan dijadikan dasar kesesatannya, serta terikat oleh hujah, ia ~berkata:

"Menurut pandanganku, aku melihat kebahagiaan dunia, nikmat hidup, kemajuan peradaban serta kesempurnaan seni dalam tidak memikirkan akhirat, tidak mengenal Allah subhânahu, cinta dunia, kebebasan dan percaya kepada diri sendiri. Karena itu, dengan bantuan setan, aku telah dan terus mengarahkan sebagian besar manusia ke jalan ini."
~Jawaban:

Kami pun berkata atas nama Al-Qur'an: Wahai manusia malang! Gunakan akalmu! Jangan dengarkan wakil ahli kesesatan! Jika engkau mendengarkannya, kerugianmu begitu besar sehingga ruh, akal serta kalbu gemetar membayangkannya. Di hadapanmu ada dua jalan.
Pertama: Jalan celaka yang ditunjukkan wakil ahli kesesatan.
Kedua: Jalan bahagia yang diterangkan Al-Qur'an Al-Hakîm.
Dalam banyak Kalimat, terutama Kalimat-Kalimat Kecil, engkau telah melihat serta memahami banyak perbandingan kedua jalan itu. Kini, sesuai maqam pembahasan ini, lihat dan pahami kembali satu dari seribu perbandingannya. Demikianlah:
Jalan syirik, kesesatan, kefasikan serta hidup melampaui batas membuat manusia jatuh pada tingkat terendah. Di tengah sakit yang tak terbatas, ia memikulkan beban yang teramat berat tanpa batas pada pinggangnya yang lemah dan tak berdaya. Sebab, jika manusia tidak mengenal Allah subhânahu dan tidak bertawakal kepada-Nya, ia menjadi seperti hewan fana yang amat tak berdaya serta lemah, sangat membutuhkan dan serba kurang, terpapar musibah tak terbatas, menderita serta berduka; dengan terus-menerus menanggung sakit berpisah dari seluruh sesuatu yang ia cintai dan terikat dengannya, pada akhirnya ia meninggalkan seluruh sahabatnya yang tetap ada dalam perpisahan menyakitkan, lalu pergi sendirian ke gelap kubur.
Selama hidupnya pun, dengan kehendak bebas manusia yang juz'i dan amat kecil, daya yang kecil, hidup yang amat pendek, umur yang sedikit dan pikiran yang redup, ia bertarung tanpa guna melawan sakit serta harapan tak berhingga; ia berusaha tanpa hasil dan sia-sia memperoleh keinginan serta tujuan tak terbatas. Meski tidak dapat memikul wujudnya sendiri, ia memikulkan beban dunia yang besar pada pinggang serta kepalanya yang malang. Sebelum pergi ke neraka, ia menanggung azab neraka.
Ya, agar tidak merasakan sakit yang pedih dan azab rohani yang dahsyat ini, ahli kesesatan untuk sementara tidak merasakannya melalui mabuk kelengahan, yang seperti meniadakan rasa. Namun, saat ia akan merasakannya, yakni ketika dekat dengan kubur, tiba-tiba ia merasakannya. Sebab, jika ia tidak menjadi hamba sejati Allah subhânahu, ia akan menyangka memiliki dirinya sendiri. Padahal, dengan kehendak bebas manusia yang juz'i dan daya kecil itu, ia tidak dapat mengelola wujudnya dalam dunia yang berbadai ini. Dari mikroba yang membahayakan hidupnya hingga gempa bumi, ia melihat ribuan golongan musuh siap menyerang hidupnya.Di tengah dahsyatnya ketakutan yang menyakitkan, ia setiap saat memandang pintu kubur yang tampak mengerikan baginya.
Dalam keadaan ini, sebagai manusia ia terikat pada jenis manusia serta dunia. Namun, karena ia tidak membayangkan dunia dan manusia dalam Tasarruf Zat Yang Hakîm, Alîm, Qadîr, Rahîm dan Karîm, serta menyerahkan mereka kepada kebetulan dan tabiat, keadaan dunia serta manusia senantiasa mengusiknya. Bersama sakitnya sendiri, ia menanggung sakit manusia lainnya. Gempa, wabah, banjir besar, paceklik, harga mahal, fana serta lenyapnya dunia menyiksanya sebagai musibah-musibah yang amat mengusik dan gelap.
Manusia dalam keadaan ini tidak layak menerima belas kasih serta kasih sayang. Sebab, ia sendiri memberi dirinya keadaan yang dahsyat ini. Sebagaimana dikatakan dalam perbandingan keadaan dua saudara yang masuk ke dalam sumur pada Kalimat Kedelapan: seorang manusia di taman indah, dalam jamuan indah dan di tengah sahabat-sahabat indah, tidak puas dengan nikmat serta hiburan yang bersih, manis, terhormat, menyenangkan dan halal; demi nikmat yang haram serta kotor, ia meminum minuman keras yang buruk dan najis, lalu mabuk dan membayangkan dirinya berada di tempat kotor pada tengah musim dingin, bahkan di tengah binatang buas; ia menggigil, berteriak dan menjerit. Ia tidak layak menerima belas kasih. Sebab, ia membayangkan sahabat-sahabatnya yang terhormat serta baik sebagai binatang buas, lalu menghina mereka. Ia membayangkan makanan lezat serta wadah bersih dalam jamuan sebagai batu-batu kotor dan najis, lalu mulai memecahkannya. Ia membayangkan kitab-kitab terhormat serta surat-surat bermakna di pertemuan itu sebagai corak-corak tanpa makna dan biasa, lalu merobek serta melemparkannya ke bawah kaki, dan seterusnya. Sosok semacam ini tidak layak menerima belas kasih, melainkan layak menerima tamparan.Demikian pula, melalui mabuk kekufuran serta kegilaan kesesatan yang timbul dari buruknya pilihan, ia menyangka rumah tamu dunia Sang Pembuat yang Hakîm ini mainan kebetulan dan tabiat; ia membayangkan sebagai keadaan tidak ada dan pemusnahan perginya karya-karya ciptaan, yang memperbarui Pancaran Asma Ilahi, ke alam gaib setelah tugas mereka selesai seiring berlalunya waktu; ia membayangkan suara-suara tasbih sebagai jeritan karena lenyap serta berpisah selama-lamanya; ia membayangkan lembaran-lembaran yang ada, surat-surat Allah subhânahu Yang Samad ini, tanpa makna dan kacau; ia membayangkan pintu kubur, yang membuka jalan ke alam Rahmat, sebagai mulut gelapnya keadaan tidak ada; dan ia membayangkan ajal, yang merupakan undangan wishâl dengan sahabat-sahabat sejati, sebagai giliran berpisah dari seluruh sahabat. Dengan demikian, ia menempatkan dirinya dalam azab pedih yang dahsyat. Selain itu, karena mengingkari, merendahkan nilai serta menghina segala yang ada, Asma Allah subhânahu dan surat-surat-Nya, ia tidak layak menerima belas kasih ataupun kasih sayang, dan layak menerima azab yang keras. Dari segi apa pun ia tidak layak menerima belas kasih.
Wahai ahli kesesatan dan hidup melampaui batas yang celaka! Kemajuan kalian yang mana, ilmu kalian yang mana, kesempurnaan kalian yang mana, peradaban kalian yang mana dan perkembangan kalian yang mana dapat menghadapi kejatuhan dahsyat serta putus asa yang menghancurkan ini? Di mana kalian dapat menemukan hiburan sejati yang amat dibutuhkan ruh manusia?
Tabiat kalian yang mana, sebab kalian yang mana, sekutu kalian yang mana, penemuan kalian yang mana, bangsa kalian yang mana dan ma'bûd palsu kalian yang mana, yang kalian percayai serta jadikan sandaran, yang kalian anggap sebagai sumber hasil-hasil karya Ilahi dan Karunia Rabb, dapat menyelamatkan kalian dari gelap kematian, yang menurut kalian pemusnahan abadi; membawa kalian dengan kuasa melewati batas kubur, batas barzakh, batas mahsyar dan jembatan sirat; lalu membuat kalian memperoleh kebahagiaan abadi?
Padahal, karena kalian tidak dapat menutup pintu kubur, kalian pasti penempuh jalan ini. Penempuh jalan demikian bersandar kepada Zat yang seluruh lingkup besar serta batas-batas luas ini berada di bawah Perintah dan Tasarruf-Nya.
Wahai ahli kesesatan dan kelengahan yang celaka! Menurut rahasia kaidah, "Hasil cinta yang tidak dibenarkan ialah menanggung azab tanpa belas kasih," kalian secara patut menanggung hukumannya, karena kalian mengarahkan kepada nafsu serta dunia, dengan cara yang tidak dibenarkan, bakat cinta serta makrifat dalam fitrah kalian—yang semestinya ditujukan kepada Zat, Sifat dan Asma Allah subhânahu—serta perangkat syukur dan ibadah kalian.Sebab, kalian memberi kepada nafsu kalian cinta yang milik Allah subhânahu. Kalian menanggung bencana tak terbatas dari nafsu yang menjadi kekasih kalian itu. Sebab, kalian tidak memberi ketenteraman sejati kepada kekasih tersebut. Kalian pun tidak menyerahkannya dengan tawakal kepada Sang Qadîr Mutlak, Kekasih Sejati; kalian senantiasa menanggung sakit.
Kalian memberi kepada dunia cinta yang milik Asma serta Sifat Allah subhânahu, dan membagi hasil-hasil Seni-Nya kepada sebab-sebab alam; kalian menanggung bencananya. Sebab, sebagian kekasih kalian yang tak terbatas itu, tanpa berkata, "Semoga Allah subhânahu menjagamu," memalingkan punggung, meninggalkan kalian dan pergi. Sebagian sama sekali tidak mengenal kalian; sekalipun mengenal, mereka tidak mencintai kalian. Sekalipun mencintai, mereka tidak memberi manfaat kepada kalian. Kalian senantiasa menanggung azab akibat perpisahan tak terbatas serta lenyap tanpa harapan kembali.
Inilah sisi dalam serta hakikat hal-hal yang ahli kesesatan sebut kebahagiaan hidup, kesempurnaan manusia, keindahan peradaban dan nikmat kebebasan. Hidup melampaui batas serta mabuk ialah tabir yang membuatnya tidak terasa untuk sementara. Katakan, "Celakalah akal mereka!"
Adapun jalan bercahaya Al-Qur'an mengobati seluruh luka yang ditanggung ahli kesesatan melalui hakikat-hakikat iman. Ia mengusir seluruh gelap jalan sebelumnya. Ia menutup seluruh pintu kesesatan serta kebinasaan. Demikianlah:
Ia mengobati kelemahan, keadaan tak berdaya, keadaan serba kurang serta kebutuhan manusia melalui tawakal kepada Sang Qadîr yang Rahîm. Dengan menyerahkan beban hidup serta wujud kepada Kudrat dan Rahmat-Nya, tidak memikulnya sendiri, manusia menemukan maqam yang tenteram, seolah ia sendiri menaiki hidup serta nafsunya. Ia memberitahukan bahwa manusia bukan "hewan berakal", melainkan manusia sejati dan tamu Sang Rahmân yang diterima. Dengan memperlihatkan dunia sebagai rumah tamu Sang Rahmân, memberitahukan bahwa yang ada di dunia ialah cermin-cermin Asma Ilahi dan karya-karya ciptaannya ialah surat-surat Allah subhânahu Yang Samad yang senantiasa diperbarui, ia mengobati dengan baik luka manusia yang datang dari fananya dunia, lenyapnya benda-benda serta cinta kepada yang fana, dan menyelamatkannya dari gelap sangkaan.
Ia juga memperlihatkan kematian serta ajal sebagai pendahuluan wishâl serta pertemuan dengan sahabat-sahabat yang pergi ke alam barzakh dan berada di alam kekal. Dengan demikian ia mengobati luka kematian, yang dalam pandangan ahli kesesatan dianggap perpisahan abadi dari seluruh sahabat. Ia membuktikan bahwa perpisahan itu justru pertemuan itu sendiri.Dengan membuktikan bahwa kubur ialah pintu yang terbuka ke alam Rahmat, tempat kebahagiaan, taman-taman surga dan tempat cahaya Sang Rahmân, ia menghilangkan ketakutan manusia yang paling dahsyat, lalu memperlihatkan perjalanan barzakh yang paling pedih, muram dan menyesakkan sebagai perjalanan paling nikmat, akrab dan lapang. Dengan kubur ia menutup mulut naga dan membuka pintu ke taman yang indah. Yakni, ia memperlihatkan bahwa kubur bukan mulut naga, melainkan pintu yang terbuka ke taman Rahmat.
Ia berkata pula kepada mukmin: Jika kehendak bebasmu sebagai manusia itu juz'i, serahkan urusanmu kepada Kehendak Menyeluruh Sang Pemilikmu. Jika dayamu kecil, percayalah kepada Kudrat Sang Qadîr Mutlak. Jika hidupmu sedikit, pikirkan hidup yang kekal. Jika umurmu pendek, engkau mempunyai umur abadi; jangan khawatir. Jika pikiranmu redup, masuklah di bawah matahari Al-Qur'an, pandanglah dengan cahaya iman, sehingga setiap ayat Al-Qur'an memberi cahaya kepadamu seperti bintang, menggantikan pikiranmu yang seperti kunang-kunang. Jika engkau mempunyai harapan serta sakit tak terbatas, pahala tak berhingga serta Rahmat tak terbatas menantimu. Jika engkau mempunyai keinginan serta tujuan tak terbatas, jangan menderita karena memikirkannya. Semuanya tidak muat di dunia ini. Tempat mereka ialah negeri lain, dan Yang memberinya pun lain.
Ia juga berkata: Wahai manusia! Engkau tidak memiliki dirimu sendiri. Engkau milik Zat Dzul-Jalâl yang Qadîr, Kudrat-Nya tak berhingga, dan Rahîm, Rahmat-Nya tak terbatas. Maka, jangan memikulkan hidupmu pada dirimu lalu bersusah payah; sebab, Yang memberi hidup ialah Dia, dan Yang mengelolanya pun Dia. Dunia juga bukan tanpa pemilik sehingga engkau memikulkan beban dunia pada kepalamu, memikirkan keadaannya dan khawatir; sebab, Sang Pemiliknya Hakîm dan Alîm. Engkau pun tamu; jangan ikut campur tanpa perlu dan mengacaukannya.
Yang ada seperti manusia serta hewan tidak dibiarkan bebas, melainkan petugas yang mempunyai tugas. Mereka berada dalam Pandangan Sang Hakîm yang Rahîm. Jangan menyakiti ruhmu dengan memikirkan sakit serta kesusahan mereka. Jangan mendorong kasih sayangmu melampaui Rahmat Sang Khâliq mereka yang Rahîm. Kendali seluruh sesuatu yang mengambil keadaan memusuhimu, dari mikroba hingga wabah, banjir besar, paceklik serta gempa, berada dalam Tangan Sang Rahîm yang Hakîm. Dia Hakîm, tidak berbuat sia-sia. Dia Rahîm, sifat Rahîm-Nya amat besar. Pada setiap pekerjaan-Nya terdapat suatu Kelembutan.Ia juga berkata: Alam ini memang fana, tetapi menyiapkan keperluan suatu alam abadi. Ia memang lenyap dan sementara, tetapi memberi buah-buah kekal serta memperlihatkan Pancaran Asma kekal dari Zat yang Kekal. Nikmatnya memang sedikit dan sakitnya banyak, tetapi Perhatian Ar-Rahmân Ar-Rahîm ialah nikmat sejati yang tidak lenyap. Sedangkan sakit, dari segi pahala, menghasilkan nikmat rohani. Karena lingkup yang halal cukup bagi seluruh nikmat, kesenangan serta kegembiraan ruh, kalbu dan nafsu, jangan memasuki lingkup yang haram. Sebab, kadang satu nikmat di dalamnya mempunyai seribu sakit. Ia juga menjadi sebab hilangnya Perhatian Sang Rahmân, nikmat sejati yang terus berlangsung.
Sebagaimana dijelaskan, jalan kesesatan membuat manusia jatuh ke asfala safilin, sehingga tidak ada peradaban ataupun filsafat yang dapat menemukan obatnya, dan tidak ada kemajuan manusia ataupun kesempurnaan ilmu yang dapat mengeluarkannya dari sumur gelap yang dalam itu. Namun, melalui iman serta amal saleh, Al-Qur'an Al-Hakîm mengangkat manusia dari kejatuhan ke asfala safilin menuju a'la illiyyin, serta membuktikan dengan dalil-dalil pasti bahwa ia mengangkatnya. Ia mengisi sumur dalam itu dengan anak-anak tangga kemajuan rohani serta perangkat penyempurnaan ruh.
Ia juga amat memudahkan perjalanan manusia menuju abadi, yang panjang, berbadai dan penuh keguncangan. Ia menunjukkan sarana yang dapat menempuh jarak seribu, bahkan lima puluh ribu tahun dalam sehari.
Dengan mengenalkan Zat Dzul-Jalâl, Sang Sultan Azali dan Abadi, ia memberi manusia kedudukan sebagai hamba yang bertugas dan tamu yang mempunyai tugas bagi-Nya. Ia menjamin perjalanan manusia dalam ketenteraman penuh, baik di rumah tamu dunia maupun di tempat-tempat barzakh serta akhirat. Sebagaimana seorang petugas yang lurus dari seorang raja berkeliling serta melewati negeri raja itu dan batas-batas setiap wilayah dengan mudah, melalui sarana perjalanan cepat seperti pesawat, kapal serta kereta api; demikian pula manusia yang terikat pada Sang Sultan Azali melalui iman dan taat melalui amal saleh melewati tempat-tempat rumah tamu dunia ini, lingkup alam barzakh serta alam mahsyar, dan seluruh batas luas alam-alam sesudah kubur, secepat kilat serta Burak, hingga menemukan kebahagiaan abadi. Ia membuktikan hakikat ini dengan pasti dan memperlihatkannya kepada orang-orang suci serta para wali.Hakikat Al-Qur'an juga berkata: Wahai mukmin! Jangan berikan kemampuan cintamu yang tak berhingga kepada nafsu ammarahmu yang buruk, kurang, jahat dan membahayakanmu. Jangan menjadikannya kekasih dan menjadikan keinginannya ma'bûd bagi dirimu. Dengan kemampuan cintamu yang tak berhingga itu, jadikan Zat yang layak menerima cinta tak berhingga; yang dapat memberimu Karunia tak berhingga; yang membahagiakanmu tanpa batas pada masa depan; yang melalui Karunia-Nya membahagiakan seluruh sosok yang terikat denganmu dan yang engkau turut bahagia karena bahagianya mereka; yang mempunyai Kesempurnaan tak berhingga serta Keindahan yang pada tingkat tak berhingga suci, luhur, bebas dari cacat, tanpa cela, tanpa kekurangan dan tak lenyap; yang seluruh Asma-Nya amat indah dan pada setiap Nama terdapat banyak Cahaya Keelokan serta Keindahan; yang surga dengan seluruh keindahan dan nikmatnya memperlihatkan Keindahan Rahmat serta Rahmat Keindahan-Nya; dan yang seluruh keelokan, keindahan serta kesempurnaan yang disukai dan dicintai di segenap alam menunjukkan, menandakan serta menjadi isyarat Keindahan serta Kesempurnaan-Nya sebagai Kekasih dan Ma'bûdmu.
Ia juga berkata: Wahai manusia! Jangan berikan bakat cintamu yang milik Asma serta Sifat-Nya kepada yang ada lainnya yang tidak bertahan; jangan sebarkan kepada makhluk-makhluk tanpa guna. Sebab, hasil-hasil karya serta makhluk fana. Namun, Asma yang indah, yang corak serta Pancarannya terlihat pada hasil-hasil karya dan ciptaan itu, kekal serta terus berlangsung. Pada setiap Asma dan Sifat terdapat ribuan tingkat Karunia serta Keindahan, dan ribuan lapisan Kesempurnaan serta Cinta. Pandanglah Nama Rahmân saja: surga satu Pancarannya, kebahagiaan abadi satu Kilauannya, dan seluruh rezeki serta nikmat di dunia satu tetesnya.
Perbandingan ini ditunjukkan oleh ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺍَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠ۪ﻴﻦَ ٭ اِلَّا ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ, yang menunjuk hakikat ahli kesesatan serta ahli iman dari segi hidup dan tugas; perhatikan pula ayat ﻓَﻤَﺎ ﺑَﻜَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﻭَ الْاَرْضُ, yang menunjuk hasil serta kesudahan mereka. Betapa luhur dan penuh mukjizat ayat-ayat itu menyatakan perbandingan yang telah kami jelaskan.
Hakikat yang dinyatakan ayat pertama dengan penuh mukjizat serta ringkas telah dijelaskan panjang lebar dalam Kalimat Kesebelas; maka kami merujuknya ke sana.
Sedangkan ayat kedua akan kami tunjukkan hanya dengan satu isyarat kecil, betapa luhur hakikat yang dinyatakannya.Demikianlah:
Ayat ini, melalui makna yang sejalan, menyatakan, "Ketika ahli kesesatan mati, langit serta bumi tidak menangisi mereka." Melalui makna kebalikannya, ia menunjukkan, "Ketika ahli iman pergi dari dunia, langit serta bumi menangisi mereka." Yakni, karena ahli kesesatan mengingkari tugas-tugas langit serta bumi, tidak mengetahui makna mereka, merendahkan nilainya, tidak mengenal Sang Pembuat mereka, serta menghina dan memusuhi mereka, tentu langit serta bumi tidak menangisi mereka, melainkan mengutuk mereka dan puas ketika mereka mampus.
Melalui makna kebalikannya, ia berkata, "Langit serta bumi menangis ketika ahli iman meninggal." Sebab, ahli iman mengetahui tugas langit serta bumi, membenarkan hakikat sejati mereka, serta memahami melalui iman makna-makna yang mereka nyatakan. Mereka berkata, "Betapa indah mereka dibuat, betapa indah mereka melayani." Mereka memberi nilai yang layak serta menghormatinya. Demi Allah subhânahu, mereka mencintai langit serta bumi dan Asma yang dicerminkan keduanya. Karena rahasia inilah langit serta bumi bersedih, seolah menangis, saat ahli iman pergi.

Sebuah Pertanyaan Penting

~Kalian berkata:

"Cinta bukan berdasarkan pilihan. Berdasarkan kebutuhan fitri, aku mencintai makanan lezat serta buah-buahan. Aku mencintai ayah, ibu dan anak-anakku. Aku mencintai istriku. Aku mencintai teman serta sahabatku. Aku mencintai para nabi serta wali. Aku mencintai hidup serta masa mudaku. Aku mencintai musim semi, hal-hal indah dan dunia. Bagaimana aku tidak mencintai semuanya? Bagaimana aku dapat memberikan seluruh cinta ini kepada Zat, Sifat serta Asma Allah subhânahu? Apa artinya ini?"
~Jawaban:

Dengarkan empat butir.
Butir Pertama: Cinta memang bukan berdasarkan pilihan. Namun, melalui pilihan, wajah cinta dapat dipalingkan dari satu kekasih kepada kekasih lain. Misalnya, dengan memperlihatkan buruknya suatu kekasih, ataupun bahwa ia tabir atau cermin bagi kekasih lain yang sebenarnya layak dicintai, wajah cinta dapat dipalingkan dari kekasih kiasan kepada Sang Kekasih Sejati.
Butir Kedua: Kami tidak berkata agar engkau tidak mencintai yang engkau sebutkan. Kami justru berkata: cintailah mereka demi Allah subhânahu dan atas nama Cinta kepada-Nya.
Misalnya, mencintai makanan lezat serta buah-buah indah sebagai karunia Allah subhânahu dan nikmat yang diberikan Ar-Rahmân Ar-Rahîm berarti mencintai Nama-Nama Rahmân serta Mun'im, sekaligus syukur rohani. Yang menunjukkan bahwa cinta ini bukan hanya demi nafsu, melainkan atas nama Sang Rahmân, ialah memperoleh makanan dengan sikap puas dalam lingkup yang halal, lalu memakannya dengan tafakur serta syukur.
Hormat serta cinta kepada ayah dan ibu demi Hikmah serta Rahmat yang membekali mereka dengan kasih sayang dan mendidikmu melalui tangan-tangan mereka yang penuh belas kasih ialah milik Cinta kepada Allah subhânahu. Tanda bahwa cinta, hormat serta kasih sayang itu karena Allah subhânahu ialah: ketika mereka tua, tidak lagi memberi manfaat apa pun kepadamu, dan menyebabkanmu lelah serta susah, engkau semakin mencintai, mengasihani dan menyayangi mereka. ﺍِﻣَّﺎ ﻳَﺒْﻠُﻐَﻦَّ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮَ ﺍَﺣَﺪُﻫُﻤَٓﺎ ﺍَﻭْ كِلَاهُمَا فَلَا ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَٓﺎ ﺍُﻑٍّ
Ayat itu mengundang anak kepada lima tingkat hormat serta kasih sayang; ia menunjukkan betapa penting hak orang tua dalam pandangan Al-Qur'an dan betapa buruk durhaka kepada mereka. Karena seorang ayah ingin agar bukan orang lain, melainkan hanya anaknya, menjadi lebih baik daripada dirinya, sebagai jawaban anak pun tidak dapat menuntut hak terhadap ayahnya. Jadi, antara orang tua serta anak secara fitri tidak ada sebab untuk bertengkar. Sebab, orang bertengkar karena iri dan dengki, yang tidak ada pada ayah terhadap anaknya; atau orang bertengkar karena diperlakukan tidak adil, sedangkan anak tidak mempunyai hak untuk menuntut hak terhadap ayahnya. Sekalipun memandang ayahnya tidak adil, ia tidak dapat memberontak kepadanya. Maka, yang memberontak dan menyakiti ayahnya ialah binatang buas berwujud manusia yang rusak.
Mencintai serta melindungi anak-anakmu dengan kasih sayang dan belas kasih penuh karena mereka hadiah-hadiah Zat Yang Rahîm dan Karîm juga milik Al-Haqq.Tanda bahwa cinta itu demi Allah subhânahu ialah bersabar serta bersyukur ketika mereka meninggal, tanpa menjerit putus asa; menyerah dengan berkata, "Ia makhluk yang dicintai, milik Sang Khâliq yang menciptakanku; Dia menyerahkannya dalam pengawasanku. Kini Hikmah-Nya menuntutnya, Dia mengambilnya dariku dan membawanya ke tempat yang lebih baik. Jika aku mempunyai satu bagian lahiriah pada milik itu, seribu bagian sejati ialah milik Sang Khâliq yang menciptakannya. ﺍَﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻟِﻠّٰﻪِ"
Adapun teman serta sahabat, jika karena iman dan amal saleh mereka ialah sahabat-sahabat Allah subhânahu, menurut rahasia ﺍَﻟْﺤُﺐُّ ﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ, cinta itu juga milik Al-Haqq.
Cintailah istrimu sebagai hadiah Rahmat Ilahi yang akrab dan lembut. Namun, jangan ikat cintamu pada kecantikan rupa yang cepat rusak. Keindahan perempuan yang paling memikat serta manis justru ialah perangai indah dalam kelembutan dan kesopanan khas perempuan. Keindahannya yang paling berharga serta manis ialah kasih sayangnya yang luhur, sungguh-sungguh, tulus dan bercahaya. Keindahan kasih sayang serta perangai ini berlangsung hingga akhir hidup dan semakin bertambah. Melalui cinta itu, hak makhluk yang lemah serta lembut tersebut untuk dihormati terjaga. Jika tidak, ketika rupa indahnya lenyap, perempuan malang itu kehilangan haknya pada saat ia paling membutuhkan.
Mencintai para nabi serta wali karena mereka hamba-hamba Allah subhânahu yang diterima, atas nama dan demi-Nya, dari sudut itu milik-Nya.
Mencintai dan menjaga hidup sebagai modal serta harta terpendam paling berharga yang Allah subhânahu berikan kepada manusia serta kepadamu, yang dapat menghasilkan hidup kekal, dan sebagai khazanah yang memuat perangkat kesempurnaan kekal; mempekerjakannya dalam pelayanan kepada Allah subhânahu; cinta itu pun dari satu sisi milik Sang Ma'bûd.
Mengagumi, mencintai serta menggunakan dengan baik kelembutan dan keindahan masa muda sebagai nikmat Allah subhânahu yang lembut, manis serta indah ialah semacam cinta halal yang penuh syukur.
Mencintai musim semi dengan tafakur sebagai lembaran corak-corak paling lembut dan indah Asma Allah subhânahu yang bercahaya, serta pameran Seni paling berhias dan gemilang dari Seni langka Sang Pembuat yang Hakîm, berarti mencintai Asma Allah subhânahu.Mencintai dunia sebagai ladang akhirat, cermin Asma Ilahi, surat-surat Allah subhânahu dan rumah tamu sementara-Nya, dengan syarat nafsu ammarah tidak ikut campur, ialah milik Allah subhânahu.
~Kesimpulannya:

Cintailah dunia serta makhluk-makhluk di dalamnya dengan makna yang menunjuk kepada yang lain. Jangan mencintai mereka dengan makna yang menunjuk pada diri mereka sendiri. Katakan, "Betapa indah ia dibuat." Jangan berkata, "Betapa indah ia." Jangan beri tempat bagi cinta-cinta lain untuk masuk ke bagian dalam kalbu. Sebab, bagian dalam kalbu ialah cermin Samad dan khusus bagi-Nya. Ucapkan ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺣُﺒَّﻚَ ﻭَ ﺣُﺐَّ ﻣَﺎ ﻳُﻘَﺮِّﺑُﻨَﺎ ﺍِﻟَﻴْﻚَ.
Jika seluruh cinta yang kami sebut berlangsung demikian, ia memberi nikmat tanpa sakit, dari satu sisi merupakan wishâl yang tak lenyap, menambah Cinta Ilahi, serta merupakan cinta yang halal. Ia syukur yang merupakan nikmat itu sendiri, dan tafakur yang merupakan cinta itu sendiri.
Misalnya, jika seorang raja luhur {(Catatan): Suatu ketika, dua pemimpin suku masuk ke hadapan seorang raja dan berada pada keadaan yang sama seperti yang ditulis.} memberimu sebuah apel, ada dua cinta kepada apel itu dan dua nikmat padanya.
Pertama: Apel dicintai karena ia apel, dengan nikmat khas apel yang hanya seukuran apel. Cinta ini bukan kepada raja. Orang yang memasukkan apel itu ke mulut dan memakannya di hadapan raja mencintai bukan raja, melainkan apel, serta mencintai nafsunya. Kadang raja tidak menyukai cinta yang memuja nafsu itu dan membencinya. Nikmat apel pun juz'i dan lenyap; setelah apel dimakan, nikmat itu juga pergi, lalu tersisa sesal.
Cinta kedua ialah kepada perhatian kerajaan di dalam apel, yang diperlihatkan melaluinya. Orang yang meletakkan apel itu di atas kepalanya, seolah ia contoh dan wujud bertubuh perhatian kerajaan, menampakkan bahwa ia mencintai raja. Pada buah yang menjadi selubung perhatian itu terdapat nikmat yang mengungguli nikmat seribu apel. Nikmat ini ialah syukur itu sendiri. Cinta ini ialah cinta penuh hormat kepada raja.
Persis demikian, jika seluruh nikmat serta buah dicintai demi diri mereka sendiri dan dinikmati dengan lengah hanya melalui nikmat materinya, cinta itu bersifat nafsani. Nikmat-nikmat itu pun sementara dan menyakitkan. Jika dicintai sebagai Perhatian Rahmat Allah subhânahu dan buah-buah Karunia-Nya, lalu dinikmati dengan selera penuh melalui penghargaan atas tingkat Kelembutan Karunia serta Perhatian itu, hal tersebut ialah syukur rohani sekaligus nikmat tanpa sakit.Butir Ketiga: Cinta kepada Asma Allah subhânahu mempunyai lapisan-lapisan. Sebagaimana telah kami jelaskan, kadang seseorang mencintai Asma melalui cinta kepada hasil-hasil karya. Kadang ia mencintai Asma karena mereka Gelar Kesempurnaan Ilahi. Kadang, karena hakikat dirinya menyeluruh, manusia membutuhkan serta merindukan Asma dari segi kebutuhan-kebutuhan tak terbatas, lalu mencintai mereka melalui kebutuhan itu.
Misalnya, ketika engkau merasa tak berdaya dan perlu meminta pertolongan bagi seluruh kerabat, orang miskin, yang lemah serta makhluk yang membutuhkan yang engkau sayangi, jika seseorang muncul dan berbuat baik kepada mereka sesuai keinginanmu, betapa engkau menyukai gelarnya sebagai pemberi nikmat serta namanya sebagai sosok pemurah; betapa engkau mencintainya dengan gelar itu. Demikian pula, pikirkan saja Nama-Nama Rahmân serta Rahîm milik Allah subhânahu: Dia membahagiakan seluruh ayah, leluhur, kerabat serta sahabat mukmin yang engkau cintai dan sayangi dengan berbagai nikmat di dunia serta berbagai kelezatan di surga, dan dalam kebahagiaan abadi dengan memperlihatkan mereka kepadamu serta dirimu kepada mereka. Dari segi ini, engkau dapat membandingkan betapa Nama Rahmân serta Gelar Rahîm layak dicintai dan betapa ruh manusia membutuhkan kedua Nama itu. Engkau memahami betapa tepat ucapan ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺣ۪ﻴﻤِﻴَّﺘِﻪ۪.
Jika memperhatikan, engkau memahami betapa ruhmu membutuhkan serta merindukan Nama Hakîm dan Gelar Murabbî dari Zat yang menata, mengatur dan mendidik dunia serta makhluk-makhluk di dalamnya dengan Hikmah sempurna: dunia yang terikat denganmu, yang kekacauannya membuatmu berduka, yang seperti rumahmu; dan yang ada di dalamnya seperti keperluan akrab serta hiasan yang dicintai di rumah itu.
Jika memperhatikan, engkau memahami betapa ruhmu membutuhkan Nama-Nama Wârits serta Bâ'its, dan Gelar-Gelar Bâqî, Karîm, Muhyî serta Muhsin dari Zat yang pada saat meninggal menyelamatkan seluruh manusia yang terikat denganmu dan yang lenyapnya membuatmu sakit dari gelapnya keadaan tidak ada, lalu menempatkan mereka di tempat yang lebih indah daripada dunia ini.
Karena hakikat manusia luhur dan fitrahnya menyeluruh, melalui ribuan jenis kebutuhan ia secara fitri membutuhkan seribu satu Asma Ilahi dan banyak tingkat setiap Nama. Kebutuhan yang berlipat menjadi rindu. Rindu yang berlipat menjadi cinta. Cinta yang berlipat pun menjadi kasih yang mendalam.Menurut penyempurnaan ruh, tingkat-tingkat cinta berkembang sesuai tingkat-tingkat Asma. Cinta kepada seluruh Asma pun, karena Asma itu Gelar serta Pancaran Zat Dzul-Jalâl, berubah menjadi Cinta kepada Zat-Nya.
Kini, hanya sebagai contoh, dari seribu satu Asma, kami akan menjelaskan satu tingkat dari seribu satu tingkat Nama-Nama 'Adl, Hakam, Al-Haqq dan Rahîm. Demikianlah:
Jika engkau hendak melihat Nama Ar-Rahmân Ar-Rahîm serta Al-Haqq dalam Hikmah dan Keadilan pada lingkup paling besar, pandanglah perumpamaan ini. Bayangkan dalam suatu pasukan terdapat empat ratus golongan berbeda. Setiap golongan menyukai pakaian berbeda, persediaan berbeda, senjata berbeda yang dapat mereka gunakan dengan nyaman, dan obat berbeda yang menyembuhkan keadaan tubuh mereka. Seluruh empat ratus golongan itu tidak dipisah ke dalam regu ataupun kompi tersendiri, melainkan bercampur satu sama lain. Jika seorang raja yang tiada banding, melalui kasih sayang serta belas kasihnya yang sempurna, dayanya yang luar biasa, ilmu serta jangkauannya yang penuh mukjizat, dan keadilan serta hikmahnya yang luar biasa, tanpa keliru ataupun melupakan seorang pun, memberikan sendiri kepada mereka semua pakaian, persediaan, obat dan senjata yang berbeda serta layak bagi masing-masing, tanpa pembantu; engkau memahami betapa raja itu berdaya, penyayang, adil dan pemurah. Sebab, jika dalam satu batalion ada orang-orang dari sepuluh bangsa, memberi mereka pakaian serta perlengkapan berbeda amat sulit; karena itu, mau tak mau, dari jenis apa pun mereka, semuanya diperlengkapi dengan satu cara.
Demikian pula, jika engkau hendak melihat Pancaran Nama Al-Haqq serta Ar-Rahmân Ar-Rahîm milik Allah subhânahu dalam Keadilan serta Hikmah, pandanglah pasukan tumbuhan serta hewan yang agung, tersusun dari empat ratus ribu bangsa, yang kemah-kemahnya didirikan pada muka bumi saat musim semi. Meski seluruh bangsa serta golongan itu bercampur satu sama lain, pakaian, persediaan, senjata, cara hidup, latihan dan pelepasan dari tugas mereka masing-masing berbeda; dan meski tidak mempunyai daya untuk menyediakan kebutuhan ataupun bahasa untuk meminta keperluan itu, saksikan dan lihatlah Gelar-Gelar Al-Haqq dan Rahmân, Razzâq dan Rahîm, serta Karîm dalam lingkup Hikmah dan Keadilan, dengan Timbangan serta tata.Betapa Dia mendidik, mengatur dan mengelola tanpa keliru, melupakan ataupun mencampuradukkan seorang pun.
Dapatkah jari-jari yang lain ikut campur dalam pekerjaan yang dilakukan dengan tata serta Timbangan yang menyeluruh dan begitu menakjubkan ini? Selain Zat Yang Wâhid dan Ahad, Sang Hakîm Mutlak dan Sang Qadîr atas segala sesuatu, siapa yang dapat menjulurkan tangan kepada Seni, Pengaturan, Rububiyah serta Pengelolaan ini? Sebab mana yang dapat ikut campur?
Butir Keempat:
~Engkau berkata:

Apa hasil serta manfaat berbagai cintaku yang berbeda kepada makanan, nafsuku, istriku, orang tuaku, anak-anakku, sahabatku, para wali, para nabi, hal-hal indah, musim semi serta dunia, jika berlangsung dengan cara yang diperintahkan Al-Qur'an?
~Jawaban:

Untuk menjelaskan seluruh hasilnya, perlu ditulis sebuah kitab besar. Untuk sementara, hanya satu atau dua hasil akan ditunjukkan secara ringkas. Mula-mula, hasil yang segera datang di dunia akan dijelaskan. Kemudian, hasil yang tampak di akhirat akan disebut. Demikianlah:
Sebagaimana dijelaskan, cinta dengan cara orang-orang lengah serta orang-orang dunia, yang demi nafsu, mempunyai banyak bencana, sakit serta kesusahan di dunia. Kesenangan, nikmat serta ketenteramannya sedikit. Misalnya, kasih sayang menjadi musibah yang menyakitkan karena tak berdaya. Cinta menjadi api yang penuh bencana karena berpisah. Nikmat menjadi minuman beracun karena lenyap. Di akhirat pun, karena bukan demi Allah subhânahu, ia tanpa guna atau berupa azab (jika telah masuk ke dalam yang haram).
Pertanyaan:

Bagaimana cinta kepada para nabi serta wali dapat tetap tanpa guna?
Jawaban:

Seperti cinta penganut Trinitas kepada Isa alaihis salam serta kaum Rafidhah kepada Sayidina Ali radhiyallahu anhu yang tetap tanpa guna.
Jika cinta-cinta itu berlangsung dengan cara yang dibimbing Al-Qur'an, demi Allah subhânahu serta atas nama cinta kepada Sang Rahmân, ada hasil-hasil indahnya di dunia maupun akhirat.
Adapun di dunia, cintamu kepada makanan lezat serta buah-buah indah ialah nikmat tanpa sakit, dan kelezatan yang merupakan syukur itu sendiri.
Cinta kepada nafsumu ialah mengasihani, mendidik dan mencegahnya dari keinginan yang berbahaya. Saat itu nafsu tidak menaikimu dan tidak menjadikanmu tawanan keinginannya. Engkau justru menaiki nafsumu. Engkau mengarahkannya bukan kepada keinginan, melainkan kepada petunjuk.
Karena cintamu kepada istrimu didasarkan pada perangai indahnya, bahwa ia tambang kasih sayang serta hadiah Rahmat, jika engkau mencintai dan mengasihaninya dengan tulus, ia pun menghormati serta mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Semakin kalian berdua tua, keadaan itu semakin bertambah dan engkau menjalani hidup dengan bahagia. Jika cinta kepada rupa indah bersifat nafsani, cinta itu cepat rusak dan merusak pergaulan yang baik.
Karena cintamu kepada ayah serta ibu demi Allah subhânahu, ia sekaligus ibadah, dan semakin mereka tua, engkau semakin menghormati serta mencintai mereka. Dengan perasaan paling luhur dan usaha paling gagah, sungguh-sungguh menginginkan panjangnya umur mereka serta berdoa agar mereka tetap hidup, mencium tangan mereka dengan hormat tulus agar memperoleh lebih banyak pahala melalui mereka, ialah memperoleh nikmat ruhani yang luhur. Jika bersifat nafsani serta demi dunia, ketika mereka tua dan menjadi beban bagimu, dengan perasaan paling rendah engkau merasa keberadaan mereka memberatkan, lalu menginginkan kematian sosok-sosok terhormat yang menjadi sebab hidupmu; itulah sakit ruhani yang buas serta penuh duka.
Cinta kepada anak-anakmu, makhluk-makhluk yang dicintai serta akrab yang Allah subhânahu amanatkan kepada pengawasan dan pendidikanmu, ialah cinta yang bahagia dan nikmat. Engkau tidak terlalu menderita karena musibah mereka dan tidak menjerit putus asa karena kematian mereka. Sebagaimana dijelaskan, engkau berkata, "Karena Sang Khâliq mereka Hakîm sekaligus Rahîm, kematian itu kebahagiaan bagi mereka." Bagi dirimu, engkau memikirkan Rahmat Zat yang memberikan mereka kepadamu, lalu selamat dari sakit perpisahan.Cintamu kepada sahabat, karena demi Allah subhânahu, membuatmu memperoleh manfaat dari cinta rohani serta ikatan ruhani itu; sebab, perpisahan, bahkan kematian mereka, tidak menghalangi percakapan serta ukhuwah kalian. Nikmat pertemuan menjadi terus berlangsung. Jika bukan demi Allah subhânahu, nikmat pertemuan sehari menghasilkan sakit perpisahan seratus hari. {(Catatan): Pertemuan sedetik demi Allah subhânahu ialah setahun. Jika demi dunia, setahun ialah sedetik.}
Cintamu kepada para nabi serta wali membuat alam barzakh, yang tampak bagi orang-orang lengah sebagai tempat gelap yang menakutkan, terlihat bagimu sebagai tempat-tempat tinggal yang terang karena adanya sosok-sosok bercahaya itu. Maka, ia memberimu bukan rasa takut ataupun ngeri untuk pergi ke alam tersebut, melainkan rasa cenderung serta rindu, dan tidak menghilangkan nikmat hidup dunia. Jika cinta kepada mereka seperti cinta orang-orang berperadaban kepada tokoh-tokoh terkenal manusia, dengan memikirkan fana serta lenyapnya manusia-manusia sempurna itu dan membusuknya mereka dalam kubur teragung yang disebut masa lalu, ia menambahkan duka lain kepada hidupmu yang menyakitkan. Yakni, engkau berpikir, "Aku pun akan pergi ke kubur yang membusukkan sosok-sosok sempurna seperti itu," memandang pekuburan dengan khawatir dan mengeluh, "Ah!" Dalam pandangan pertama, engkau justru memikirkan bahwa mereka meninggalkan pakaian tubuh pada masa lalu, sedangkan diri mereka tinggal dengan tenteram penuh di alam barzakh, ruang masa depan; engkau memandang pekuburan dengan akrab.
Karena cintamu kepada hal-hal indah demi Sang Pembuatnya, dengan cara mengatakan, "Betapa indah mereka dibuat," cinta itu ialah tafakur yang nikmat; ia membuka jalan dan mengarahkan pandangan rasa yang memuja keelokan serta keindahan kepada harta-harta terpendam tingkat keindahan yang lebih tinggi, lebih suci dan ribuan kali lebih indah. Sebab, dari hasil-hasil karya yang indah itu ia mengantarkan kepada Keindahan Perbuatan Ilahi, lalu Keindahan Asma, Keindahan Sifat, dan membuka jalan bagi kalbu menuju Keindahan Zat Dzul-Jalâl yang tiada banding. Jika cinta berlangsung demikian, ia nikmat, ibadah serta tafakur.
Karena engkau mencintai masa muda sebagai nikmat indah Allah subhânahu, tentu engkau menggunakannya dalam ibadah, tidak menenggelamkan serta mematikannya dalam hidup melampaui batas. Maka, ibadah yang engkau peroleh pada masa muda itu ialah buah-buah kekal masa mudamu yang fana. Semakin engkau tua, engkau memperoleh buah-buah kekal, kebaikan masa mudamu, sekaligus selamat dari bahaya serta luapannya. Engkau pun memikirkan bahwa pada masa tua engkau semakin berhasil beribadah dan semakin layak menerima Belas Kasih Ilahi.Engkau tidak akan seperti orang-orang lengah, yang demi nikmat masa muda selama lima atau sepuluh tahun, menyesal dan menangisinya selama lima puluh tahun dengan berkata, "Aduhai, masa mudaku telah pergi!" Salah seorang dari mereka berkata: ﻟَﻴْﺖَ ﺍﻟﺸَّﺒَﺎﺏَ ﻳَﻌُﻮﺩُ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻓَﺎُﺧْﺒِﺮَﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺸ۪ﻴﺐُ
Yakni, andai masa mudaku kembali sehari, aku akan memberitahukan kepadanya dengan mengeluh apa yang masa tua lakukan terhadapku.
Cinta kepada pameran-pameran berhias seperti musim semi, karena demi menyaksikan Seni Ilahi, tidak membuat nikmat menyaksikan lenyap saat musim semi pergi. Sebab, engkau selalu dapat menyaksikan makna-makna yang musim semi berikan seperti surat bersepuh emas. Khayalmu serta waktu, keduanya seperti pita film, mempertahankan nikmat menyaksikan itu untukmu, sekaligus memperbarui makna serta keindahan musim semi tersebut. Saat itu cintamu tidak penuh sesal, sakit ataupun sementara; ia nikmat dan menyenangkan.
Karena cintamu kepada dunia atas nama Allah subhânahu, yang ada di dunia yang dahsyat menjadi seperti sahabat akrab bagimu. Karena engkau mencintainya sebagai ladang akhirat, dari setiap sesuatu padanya engkau dapat mengambil modal serta buah yang bermanfaat bagi akhirat. Musibahnya tidak membuatmu ngeri, dan lenyap serta fananya tidak membuatmu sesak. Engkau melewati masa tinggalmu di rumah tamu itu dengan ketenteraman penuh. Jika mencintainya seperti orang-orang lengah, telah seratus kali kami katakan kepadamu bahwa engkau tenggelam dan pergi dalam cinta yang menyesakkan, menghancurkan, mencekik, dihukum fana dan tanpa hasil.
Ketika cinta kepada beberapa kekasih berlangsung dengan cara yang dibimbing Al-Qur'an, kami hanya memperlihatkan satu dari seratus kelembutan masing-masing. Jika bukan pada jalan yang ditunjukkan Al-Qur'an, kami menunjukkan satu dari seratus bahayanya.Kini, jika engkau hendak mendengar dan memahami hasil-hasil kekasih-kekasih itu di tempat kekal, alam akhirat, yang ditunjukkan ayat-ayat terang Al-Qur'an Al-Hakîm, kami akan memperlihatkan secara ringkas satu dari seratus manfaat cinta-cinta halal semacam itu di tempat akhirat melalui sebuah pendahuluan serta sembilan isyarat.
Pendahuluan: Dengan Keilahian-Nya yang agung, Rahmat-Nya yang indah, Rububiyah-Nya yang besar, Belas Kasih-Nya yang pemurah, Kudrat-Nya yang agung dan Hikmah-Nya yang lembut, Allah subhânahu membekali serta menghiasi tubuh manusia kecil ini dengan begitu banyak indra dan perasaan, begitu banyak anggota serta perangkat, berbagai organ dan alat, serta berbagai unsur halus dan rohani; agar melalui banyak alat yang beragam itu Dia membuat manusia merasakan, mengetahui, mengecap dan mengenali berbagai nikmat, golongan karunia serta lapisan Rahmat-Nya yang tak terbatas. Agar melalui alat-alat itu Dia membuat manusia mengetahui, menimbang dan mencintai berbagai Tajalli tak terbatas dari seribu satu Asma-Nya. Sebagaimana setiap satu dari banyak alat serta perangkat manusia mempunyai pelayanan serta ubudiyah tersendiri, ia juga mempunyai nikmat, sakit, tugas serta pahala tersendiri.
Misalnya, mata menyaksikan keindahan pada bentuk-bentuk serta berbagai mukjizat Kudrat yang indah dalam alam yang terlihat. Tugasnya ialah bersyukur kepada Sang Pembuatnya dengan pandangan yang mengambil pelajaran. Nikmat serta sakit khas penglihatan diketahui, tidak perlu diterangkan.
Misalnya, telinga merasakan berbagai suara, alunan yang lembut, serta Kelembutan Rahmat Allah subhânahu dalam alam yang terdengar. Ia mempunyai ubudiyah, nikmat serta pahala tersendiri.
Misalnya, indra penciuman merasakan Kelembutan Rahmat dalam golongan aroma. Ia mempunyai tugas syukur serta nikmat yang khas baginya. Tentu ia juga mempunyai pahala.
Misalnya, indra pengecap pada lidah menunaikan tugas dengan syukur rohani yang amat beragam melalui pemahaman rasa seluruh makanan, dan seterusnya.
Seluruh perangkat manusia serta unsur-unsur halus yang besar dan penting seperti kalbu, akal dan ruh mempunyai tugas, nikmat serta sakit tersendiri demikian. Allah subhânahu, Sang Hakîm Mutlak, tentu akan memberi setiap perangkat yang Dia pekerjakan pada manusia ini upah yang layak baginya.
Setiap orang merasakan dengan nurani hasil segera di dunia dari berbagai cinta itu yang telah dijelaskan, dan ia dibuktikan melalui intuisi yang benar.Adanya serta terwujudnya hasil-hasil di akhirat telah dibuktikan dengan pasti secara ringkas melalui dua belas hakikat pasti yang cemerlang dari Kalimat Kesepuluh dan enam dasar terang dari Kalimat Kedua Puluh Sembilan; demikian pula, secara terperinci hasil-hasil itu terbukti dengan pasti melalui ayat-ayat terang, pernyataan jelas, isyarat, lambang serta petunjuk Al-Qur'an Al-Hakîm, yang merupakan ﺍَﺻْﺪَﻕُ الْكَلَامِ ﻭَﺍَﺑْﻠَﻎُ ﺍﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ كَلَامُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ الْعَلَّامِ. Tidak perlu membawa bukti-bukti lebih panjang. Banyak bukti telah disebut dalam Kalimat lainnya, dalam maqam kedua berbahasa Arab dari Kalimat Kedua Puluh Delapan tentang surga, serta dalam Kalimat Kedua Puluh Sembilan.
Isyarat Pertama: Hasil akhirat dari cinta halal yang penuh syukur kepada makanan lezat serta buah-buah menyenangkan, menurut nas Al-Qur'an, ialah makanan lezat serta buah-buah indah yang layak bagi surga, dan cinta penuh selera kepada makanan serta buah-buah itu. Bahkan ucapan "Alhamdulillah" yang engkau ucapkan di dunia atas buah yang engkau makan dijadikan bertubuh sebagai buah surga, lalu disajikan kepadamu. Di sini engkau memakan buah; di sana engkau memakan "Alhamdulillah". Karena engkau melihat Pemberian Nikmat Ilahi serta Perhatian Sang Rahmân dalam nikmat dan makanan, telah terbukti melalui nas hadis, isyarat Al-Qur'an serta tuntutan Hikmah dan Rahmat bahwa syukur rohani yang nikmat itu akan diberikan kepadamu di surga sebagai makanan yang amat lezat.
Isyarat Kedua: Hasil cinta kepada nafsumu dengan cara yang halal di dunia, yakni bukan cinta yang didasarkan pada keindahannya, melainkan mendidiknya dan mengarahkannya kepada kebaikan dengan kasih sayang yang didasarkan pada melihat kekurangannya serta menyempurnakannya, ialah: Dia memberi nafsu itu kekasih-kekasih yang layak baginya di surga. Karena nafsu menggunakan keinginan serta hasratnya dengan baik di jalan Allah subhânahu, dan mempekerjakan perangkat serta indranya dengan baik, sebagai hasil cinta halal dan penuh ubudiyah di dunia, Sang Karîm Mutlak akan mengenakan kepadanya di surga tujuh puluh pakaian berbeda, yang merupakan contoh tujuh puluh jenis hiasan serta kelembutan surga; menghiasi tubuhnya dengan tujuh puluh jenis keelokan yang memuaskan serta membelai seluruh indra nafsu; dan memberinya bidadari-bidadari di tempat kekal itu, yang masing-masing seperti surga kecil yang mempunyai ruh. Hal ini telah dinyatakan serta dibuktikan melalui banyak ayat.
Hasil cinta kepada masa muda di dunia, yakni menggunakan daya masa muda dalam ibadah, ialah masa muda abadi di tempat kebahagiaan.Isyarat Ketiga: Hasil akhirat dari cinta tulus kepada istri dalam lingkup yang halal, yakni berdasarkan kasih sayangnya yang lembut, sifat-sifat baiknya serta perangai indahnya, dan melalui cinta itu melindunginya dari nusyuz serta dosa-dosa lain, ialah: Sang Rahîm Mutlak berjanji bahwa Dia akan memberi istri itu kepadanya di tempat kebahagiaan sebagai istri abadi, dalam rupa yang lebih indah daripada bidadari, dengan cara yang lebih berhias dan bentuk yang lebih memikat; sebagai teman abadi yang akrab serta lembut, yang mencintai dan dicintai, agar mereka saling menuturkan kisah-kisah lama dunia dengan nikmat serta saling mengingatkan kenangan lama. Tentu Dia akan memberi dengan pasti apa yang dijanjikan-Nya.
Isyarat Keempat: Hasil cinta halal kepada orang tua serta anak, menurut nas Al-Qur'an, ialah: Allah subhânahu, Sang Arhamur-Râhimîn, meskipun maqam mereka berbeda-beda, mengaruniakan kepada keluarga bahagia itu nikmat percakapan yang murni, dalam pergaulan indah yang layak bagi surga, melalui pertemuan abadi di tempat kekal. Anak-anak yang meninggal sebelum memasuki usia lima belas tahun, yakni sebelum mencapai batas balig, Dia berikan di surga kepada pangkuan ayah serta ibu mereka sebagai anak-anak surga yang disebut ﻭِﻟْﺪَﺍﻥٌ ﻣُﺨَﻠَّﺪُﻭﻥَ, dalam rupa yang amat berhias dan dicintai, yang layak bagi surga. Dia memuaskan perasaan mencintai anak dan memberi mereka rasa nikmat serta kelezatan itu selama-lamanya. Sebab, karena anak-anak belum memasuki usia taklif, mereka akan tetap menjadi anak-anak abadi yang dicintai dan manis. Yang paling tinggi dari setiap sesuatu yang nikmat di dunia terdapat di surga. Hanya rasa nikmat amat manis dalam mencintai anak, yakni menyayangi serta membelai anak-anak, yang disangka tidak ada di surga karena surga bukan tempat berketurunan. Melalui cara ini, hal itu juga ada; bahkan dengan cara paling nikmat dan manis. Inilah kabar gembira bagi yang anaknya meninggal sebelum balig…
Isyarat Kelima: Menurut ﺍَﻟْﺤُﺐُّ ﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ, hasil cinta kepada sahabat-sahabat saleh di dunia ialah: telah terbukti melalui nas Al-Qur'an bahwa Dia akan mempertemukan mereka dengan sahabat-sahabatnya di surga dalam cinta serta percakapan murni tanpa perpisahan; mereka duduk pada kursi-kursi surga yang dipasang saling berhadapan, yang disebut ﻋَﻠٰﻰ ﺳُﺮُﺭٍ ﻣُﺘَﻘَﺎﺑِﻠ۪ﻴﻦَ, lalu saling menuturkan kisah-kisah dunia serta kenangan lama dengan cara yang menyenangkan, manis dan indah, sehingga saling menghibur.Isyarat Keenam: Hasil cinta kepada para nabi serta wali dengan cara yang diterangkan Al-Qur'an ialah: selain memperoleh manfaat dari syafaat mereka di barzakh serta hasyr, melalui cinta itu memperoleh limpahan dari maqam serta karunia yang amat luhur dan layak bagi mereka. Ya, menurut rahasia ﺍَﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺍَﺣَﺐَّ, seorang manusia biasa dapat memasuki maqam tertinggi dengan mengikuti sosok yang ia cintai, yang mempunyai maqam luhur.
Isyarat Ketujuh: Hasil cinta halal kepada hal-hal indah serta musim semi, yakni mencintai dengan pandangan "Betapa indah ia dibuat" Keindahan serta tata Perbuatan di belakang hasil-hasil karya itu, Pancaran Asma yang indah di belakang tata Perbuatan, Tajalli Sifat di belakang Asma yang indah itu, dan seterusnya, ialah: di tempat kekal, di surga, melihat Pancaran Asma serta Keindahan dan Sifat dalam Asma itu dengan cara seribu kali lebih indah daripada karya-karya ciptaan yang ia pandang indah tersebut. Bahkan Imam Rabbânî radhiyallahu anhu berkata, "Kelembutan-kelembutan surga ialah bentuk-bentuk Pancaran Asma." Renungkanlah!
Isyarat Kedelapan: Hasil akhirat dari cinta penuh tafakur kepada dua wajah indah dunia, yang merupakan ladang akhirat serta cermin Asma Ilahi, ialah: ia akan diberi surga sebesar dunia, tetapi tidak fana seperti dunia fana, melainkan kekal. Asma yang hanya diperlihatkan dalam bayang-bayang lemah di dunia akan diperlihatkan dengan cara paling gemilang dalam cermin-cermin surga itu.
Hasil mencintai dunia pada wajahnya sebagai ladang akhirat ialah: ia akan diberi surga yang menjadikan dunia seperti tempat pembibitan, yakni ladang kecil yang hanya menumbuhkan bibit-bibit pada suatu tingkat; indra serta perasaan manusia yang seperti bibit kecil di dunia berkembang dengan cara paling sempurna di surga, dan bakat-bakat yang seperti benih kecil di dunia tumbuh menjadi bulir dengan berbagai nikmat serta kesempurnaan. Hal ini dituntut oleh Rahmat dan Hikmah, serta terbukti melalui nas-nas hadis dan isyarat-isyarat Al-Qur'an.
Karena ia tidak mencintai dunia dengan cinta tercela, sumber setiap kesalahan, melainkan mencintai kedua wajahnya yang memandang Asma serta akhirat demi Asma dan akhirat; dan melalui ibadah tafakur ia memakmurkan wajah-wajah itu, seolah beribadah dengan seluruh dunianya; tentu memperoleh pahala sebesar dunia dituntut oleh Rahmat dan Hikmah.
Karena pula ia mencintai ladang akhirat melalui cinta kepada akhirat, dan mencintai cermin Asma melalui cinta kepada Allah subhânahu,tentu ia menginginkan kekasih seperti dunia. Itulah surga sebesar dunia.
~Pertanyaan:

Apa gunanya surga yang begitu besar dan kosong?
~Jawaban:

Seandainya mungkin engkau berkeliling di penjuru bumi dan sebagian besar bintang secepat khayal, engkau dapat berkata, "Seluruh alam milikku." Turut hadirnya malaikat, manusia serta hewan tidak membatalkan putusanmu itu. Demikian pula, sekalipun surga itu penuh, engkau dapat berkata, "Surga itu milikku." Rahasia surga berjarak lima ratus tahun yang diberikan kepada sebagian penghuni surga dalam hadis telah dijelaskan dalam Kalimat Kedua Puluh Delapan serta İhlas Lem'ası.
Isyarat Kesembilan: Hasil iman serta cinta kepada Allah subhânahu ialah menyaksikan dan melihat Zat Dzul-Jalâl, Pemilik Keindahan serta Kesempurnaan yang suci dan bebas dari cacat: menurut kesepakatan ahli kasyaf serta peneliti saksama, seribu tahun hidup bahagia dunia tidak sebanding dengan satu jam hidup surga, dan seribu tahun hidup surga pun tidak sebanding dengan satu jam menyaksikan-Nya. {(Catatan): Menurut nas hadis, "Melihat-Nya begitu mengungguli seluruh kelezatan surga sehingga membuat orang melupakannya. Setelah melihat-Nya, keelokan serta keindahan orang-orang yang melihat itu begitu bertambah, sehingga ketika mereka kembali, keluarga dalam istana mereka hanya dapat mengenali mereka dengan sangat saksama dan susah payah." Hal ini disebut dalam hadis.} Hal ini terbukti melalui hadis yang pasti serta nas Al-Qur'an.
Setiap orang merasakan dengan nurani minat penuh rindu untuk melihat sosok yang terkenal dengan kesempurnaan agung seperti Nabi Sulaiman alaihis salam, serta rindu penuh minat untuk melihat sosok yang istimewa dengan keindahan seperti Nabi Yusuf alaihis salam. Jika engkau dapat membandingkan betapa melihat Zat yang seluruh keindahan serta kesempurnaan surga—yang ribuan tingkat lebih tinggi daripada seluruh keindahan serta kesempurnaan dunia—hanyalah satu Pancaran Keindahan dan Kesempurnaan-Nya, begitu diinginkan serta membangkitkan minat; dan betapa menyaksikan-Nya dituntut serta membangkitkan rindu, bandingkanlah. ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣُﺒَّﻚَ ﻭَ ﺣُﺐَّ ﻣَﺎ ﻳُﻘَﺮِّﺑُﻨَﺎ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻭَ الْاِسْتِقَامَةَ ﻛَﻤَﺎ ﺍَﻣَﺮْﺕَ ﻭَ ﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﺭَﺣْﻤَﺘَﻚَ ﻭَ ﺭُﺅْﻳَﺘَﻚَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ