Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PENUTUP

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

PENUTUP

Dua kilau i'jaz Al-Qur'an telah disebutkan dalam Percik Keempat Belas Kalimat Kesembilan Belas: pengulangan yang dianggap sebagai sebab kekurangan serta ringkasnya dalam ilmu alam, masing-masing menjadi sumber suatu kilau i'jaz. Suatu kilau i'jaz Al-Qur'an yang bersinar pada mukjizat para nabi juga telah ditunjukkan dengan jelas dalam Maqam Kedua Kalimat Kedua Puluh. Banyak kilau i'jaz lainnya seperti ini telah disebutkan dalam Kalimat-Kalimat lain dan risalah-risalah Arabku. Dengan mencukupkan pada semuanya, kita hanya mengatakan: satu mukjizat Al-Qur'an lagi ialah, sebagaimana seluruh mukjizat para nabi menunjukkan suatu corak i'jaz Al-Qur'an, demikian pula Al-Qur'an dengan seluruh mukjizatnya merupakan mukjizat Ahmad ﷺ. Seluruh mukjizat Ahmad ﷺ juga merupakan mukjizat Al-Qur'an yang menunjukkan hubungannya dengan Allah subhânahu. Dengan tampaknya hubungan itu, setiap katanya menjadi mukjizat. Sebab, saat itu satu kata dapat memuat secara makna pohon hakikat seperti benih. Seperti pusat hati, ia juga dapat terkait dengan seluruh anggota hakikat yang amat besar. Karena bertumpu pada Ilmu yang meliputi segala sesuatu dan Kehendak yang tak terhingga, melalui huruf, susunan, keadaan, serta letaknya ia dapat memandang hal-hal yang tak terhingga. Karena rahasia inilah, ulama ilmu huruf mengaku menemukan rahasia sebanyak satu halaman dari satu huruf Al-Qur'an dan membuktikan pernyataan mereka kepada ahli ilmu itu. Kumpulkan dalam pandangan semua nyala, sinar, kilau, cahaya, dan sorot dari awal risalah hingga di sini, lalu pandang sekaligus. Pernyataan pada awal kini dibaca serta diumumkan sebagai hasil yang pasti, yakni ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ الْاِنْسُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ لَا ﻳَﺎْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪ۪ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬ۪ﻴﺮًﺍ, dengan suara tinggi. ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ٭ ﺭَﺏِّ ﺍﺷْﺮَﺡْ ﻟ۪ﻰ ﺻَﺪْﺭ۪ﻯ ٭ ﻭَﻳَﺴِّﺮْﻟ۪ٓﻰ ﺍَﻣْﺮ۪ﻯ ٭ ﻭَﺍﺣْﻠُﻞْ ﻋُﻘْﺪَﺓً ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧ۪ﻰ ٭ ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟ۪ﻰ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺍَﻓْﻀَﻞَ ﻭَ ﺍَﺟْﻤَﻞَ ﻭَ ﺍَﻧْﺒَﻞَ ﻭَ ﺍَﻇْﻬَﺮَ ﻭَ ﺍَﻃْﻬَﺮَ ﻭَ ﺍَﺣْﺴَﻦَ ﻭَﺍَﺑَﺮَّ ﻭَ ﺍَﻛْﺮَﻡَ ﻭَ ﺍَﻋَﺰَّ ﻭَ ﺍَﻋْﻈَﻢَ ﻭَ ﺍَﺷْﺮَﻑَ ﻭَ ﺍَﻋْﻠٰﻰ ﻭَ ﺍَﺯْﻛٰﻰ ﻭَ ﺍَﺑْﺮَﻙَ ﻭَ ﺍَﻟْﻄَﻒَ ﺻَﻠَﻮَﺍﺗِﻚَ ﻭَ ﺍَﻭْﻓٰﻰ ﻭَ ﺍَﻛْﺜَﺮَ ﻭَ ﺍَﺯْﻳَﺪَ ﻭَ ﺍَﺭْﻗٰﻰ ﻭَ ﺍَﺭْﻓَﻊَ ﻭَ ﺍَﺩْﻭَﻡَ سَلَامِكَ صَلَاةً ﻭَ سَلَامًا ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻭَ ﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﻭَ ﻋَﻔْﻮًﺍ ﻭَ ﻏُﻔْﺮَﺍﻧًﺎ ﺗَﻤْﺘَﺪُّ ﻭَ ﺗَﺰ۪ﻳﺪُ ﺑِﻮَﺍﺑِﻞِ ﺳَﺤَﺎﺋِﺐِ ﻣَﻮَﺍﻫِﺐِ ﺟُﻮﺩِﻙَ ﻭَ ﻛَﺮَﻣِﻚَ ﻭَ ﺗَﻨْﻤُﻮﺍ ﻭَ ﺗَﺰْﻛُﻮﺍ ﺑِﻨَﻔَﺎﺋِﺲِ ﺷَﺮَﺍﺋِﻒِ ﻟَﻄَﺎﺋِﻒِ ﺟُﻮﺩِﻙَ ﻭَ ﻣِﻨَﻨِﻚَ ﺍَﺯَﻟِﻴَّﺔً ﺑِﺎَﺯَﻟِﻴَّﺘِﻚَ لَا ﺗَﺰُﻭﻝُ ﺍَﺑَﺪِﻳَّﺔً ﺑِﺎَﺑَﺪِﻳَّﺘِﻚَ لَا ﺗَﺤُﻮﻝُ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﻭَ ﺣَﺒ۪ﻴﺒِﻚَ ﻭَ ﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺧَﻴْﺮِ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍﻟْﺒَﺎﻫِﺮِ اللَّامِعِ ﻭَ ﺍﻟْﺒُﺮْﻫَﺎﻥِ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮِ ﺍﻟْﻘَﺎﻃِﻊِ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﺍﻟﺬَّﺍﺧِﺮِ ﻭَ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍﻟْﻐَﺎﻣِﺮِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟﺰَّﺍﻫِﺮِ ﻭَ الْجَلَالِ ﺍﻟْﻘَﺎﻫِﺮِ ﻭَ ﺍﻟْﻜَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻔَﺎﺧِﺮِ صَلَاتَكَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﺑِﻌَﻈَﻤَﺔِ ﺫَﺍﺗِﻚَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ صَلَاةً ﺗَﻐْﻔِﺮُ ﺑِﻬَﺎ ﺫُﻧُﻮﺑَﻨَﺎ ﻭَ ﺗَﺸْﺮَﺡُ ﺑِﻬَﺎ ﺻُﺪُﻭﺭَﻧَﺎ ﻭَ ﺗُﻄَﻬِّﺮُ ﺑِﻬَﺎ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻭَ ﺗُﺮَﻭِّﺡُ ﺑِﻬَﺎ ﺍَﺭْﻭَﺍﺣَﻨَﺎ ﻭَ ﺗُﻘَﺪِّﺱُ ﺑِﻬَﺎ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭَﻧَﺎ ﻭَ ﺗُﻨَﺰِّﻩُ ﺑِﻬَﺎ ﺧَﻮَﺍﻃِﺮَﻧَﺎ ﻭَ ﺍَﻓْﻜَﺎﺭَﻧَﺎ ﻭَ ﺗُﺼَﻔّ۪ﻰ ﺑِﻬَﺎ ﻛُﺪُﻭﺭَﺍﺕِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻰ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِﻧَﺎ ﻭَ ﺗَﺸْﻔ۪ﻰ ﺑِﻬَﺎ ﺍَﻣْﺮَﺍﺿَﻨَﺎ ﻭَ ﺗَﻔْﺘَﺢُ ﺑِﻬَﺎ ﺍَﻗْﻔَﺎﻝَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻨَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

--

LAMPIRAN PERTAMA

(Tingkat ketujuh belas Maqam Pertama Sinar Ketujuh, di antara lampiran yang ditambahkan kepada Kalimat Kedua Puluh Lima sesuai maqamnya.)

Pengembara dunia yang tak lelah dan tak kenyang ini, yang mengetahui bahwa tujuan kehidupan dan kehidupan bagi kehidupan di dunia adalah iman, serta musafir yang menanyakan Rabb-nya kepada alam, berkata kepada hatinya: "Mari kita merujuk kitab bernama Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, yang disebut Ucapan dan Kalam Zat yang kita cari, yang paling terkenal, paling terang, paling menguasai di dunia ini, serta menantang setiap orang yang tidak berserah kepadanya pada setiap zaman. Mari kita mengetahui apa yang dikatakannya. Namun, pertama-tama harus dibuktikan bahwa kitab ini adalah kitab Khâliq kita." Ia mulai mencari. Karena pengembara ini hidup pada zaman sekarang, pertama ia melihat Risale-i Nur, kilau-kilau i'jaz makna Al-Qur'an. Ia melihat bahwa seratus tiga puluh risalahnya merupakan pokok makna halus, cahaya, dan tafsir mendasar ayat-ayat Al-Furqan. Meski menyebarkan hakikat Al-Qur'an ke segala arah dengan perjuangan pada zaman yang begitu keras kepala dan menyangkal agama, tak seorang pun dapat melawan Risale-i Nur. Ini membuktikan bahwa Al-Qur'an, guru, sumber, rujukan, serta mataharinya, berasal dari langit dan bukan ucapan manusia. Bahkan, di antara ratusan bukti Risale-i Nur, satu bukti Al-Qur'an berupa Kalimat Kedua Puluh Lima serta akhir Surat Kesembilan Belas membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat dari empat puluh segi sedemikian rupa sehingga siapa pun yang melihatnya bukan mengkritik atau mempersoalkan, melainkan takjub pada buktinya, menghargai, serta memberi banyak pujian. Ia menyerahkan urusan membuktikan segi i'jaz Al-Qur'an dan bahwa ia adalah Kalamullah yang haq kepada Risale-i Nur, lalu hanya memperhatikan beberapa poin yang menunjukkan kebesarannya dengan petunjuk singkat. Poin Pertama: Sebagaimana Al-Qur'an, dengan seluruh mukjizat serta hakikat yang membuktikan kebenarannya, merupakan mukjizat Muhammad ﷺ, demikian pula Muhammad ﷺ, dengan seluruh mukjizat, dalil kenabian, serta kesempurnaan ilmunya, merupakan mukjizat Al-Qur'an dan bukti pasti bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah.Poin Kedua: Bersama mengubah kehidupan masyarakat di dunia dengan cara yang begitu bercahaya, penuh kebahagiaan, dan benar, Al-Qur'an melakukan, mempertahankan, serta mengelola perubahan besar dalam nafsu, hati, ruh, akal, kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat, dan kehidupan politik manusia. Selama empat belas abad, pada setiap menit, enam ribu enam ratus enam puluh enam ayatnya dibaca dengan penghormatan sempurna melalui lisan sekurang-kurangnya lebih dari seratus juta orang. Ia mendidik manusia, membersihkan nafsu serta menjernihkan hati, memberi ruh perkembangan dan kemajuan, memberi akal arah lurus serta cahaya, dan memberi kehidupan serta kebahagiaan kepada hidup. Tentu kitab seperti ini tiada banding, menakjubkan, luar biasa, dan mukjizat. Poin Ketiga: Sejak zaman itu hingga kini, Al-Qur'an menunjukkan balagah yang merendahkan kasidah para sastrawan paling terkenal, yang ditulis dengan emas pada dinding Ka'bah dan dikenal dengan nama Tujuh Mu'allaqat, sampai putri Labid, ketika menurunkan kasidah ayahnya dari Ka'bah, berkata, "Di hadapan ayat-ayat, nilainya telah habis." Seorang sastrawan Badui juga bersujud ketika mendengar ayat ﻓَﺎﺻْﺪَﻉْ ﺑِﻤَﺎ ﺗُﺆْﻣَﺮُ dibaca. Orang-orang bertanya, "Apakah engkau menjadi Muslim?" Ia menjawab, "Tidak, aku bersujud kepada balagah ayat ini." Ribuan imam jenius serta sastrawan berilmu, seperti Abdulqahir Jurjani, Sakkaki, dan Zamakhsyari, dengan ijmak serta kesepakatan memutuskan, "Balagah Al-Qur'an berada di atas kemampuan manusia, tidak dapat dicapai." Sejak masa itu, ia juga terus mengajak ke medan tandingan dan menyentuh urat harga diri sastrawan serta ahli balagah yang sombong dan mementingkan diri, dengan cara yang mematahkan sikap angkuh mereka. Ia mengumumkan, "Bawalah yang serupa dengan satu surah, atau terimalah kebinasaan dan kehinaan di dunia serta akhirat." Meski demikian, para ahli balagah yang keras kepala pada zaman itu meninggalkan jalan pendek, yaitu menandingi dengan membawa yang serupa satu surah, dan memilih jalan perang yang panjang serta mempertaruhkan nyawa dan harta. Ini membuktikan bahwa jalan pendek itu tidak mungkin ditempuh.Sejak masa itu, para sahabat Al-Qur'an menulis karena semangat menyerupai serta menirunya, dan musuh-musuhnya menulis karena dorongan menandingi serta mengkritiknya. Jutaan kitab Arab yang ditulis dan terus berkembang melalui pertemuan pemikiran kini beredar. Jika orang paling awam pun mendengarnya, tentu ia akan berkata bahwa tidak satu pun dapat mencapai Al-Qur'an: "Al-Qur'an tidak menyerupai kitab-kitab ini dan tidak berada pada tingkatnya. Ia berada di bawah semuanya atau di atas semuanya." Tak seorang pun di dunia, tak seorang kafir, bahkan tak seorang bodoh, dapat mengatakan bahwa ia di bawah semuanya. Jadi, tingkat balagahnya di atas semuanya. Bahkan, seseorang membaca ayat ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ lalu berkata, "Aku tidak melihat balagahnya yang dianggap luar biasa." Ia diberi tahu, "Pergilah ke zaman itu seperti pengembara ini, lalu dengarkan di sana." Ketika membayangkan diri di sana sebelum Al-Qur'an, ia melihat makhluk-makhluk alam tercerai, gelap, tak bernyawa, tanpa kesadaran serta tugas, dalam ruang kosong yang tak terhingga dan tak berbatas, di dunia yang tak tetap dan fana. Tiba-tiba, ketika mendengar ayat ini dari lisan Al-Qur'an, ia melihat: ayat itu membuka suatu tirai di atas alam dan pada wajah dunia serta meneranginya. Tuturan Azali dan Perintah yang terus abadi ini mengajar serta menunjukkan kepada makhluk sadar yang berbaris sepanjang zaman bahwa alam ini seperti masjid besar. Dengan langit serta bumi di barisan depan, seluruh makhluk berada dalam zikir dan tasbih yang hidup, serta di tempat tugasnya dengan luapan semangat, bahagia, dan puas. Dengan merasakan tingkat balagah ayat ini serta membandingkan ayat lain dengannya, ia memahami satu dari ribuan hikmah bahwa lantunan balagah Al-Qur'an meliputi separuh bumi dan seperlima manusia, serta mempertahankan kemegahan kerajaannya dengan penghormatan sempurna selama empat belas abad tanpa jeda. Poin Keempat: Al-Qur'an menunjukkan rasa manis yang begitu benar sehingga banyak pengulangan, yang bahkan membuat bosan terhadap sesuatu paling manis, tidak membuat pembacanya bosan. Bagi orang yang hatinya belum membusuk dan rasanya belum rusak, pengulangan bacaan justru menambah manisnya. Hal ini telah diterima semua orang sejak dahulu dan menjadi seperti peribahasa.Ia juga menunjukkan kesegaran, kemudaan, dan keunikan sedemikian rupa sehingga, meski telah hidup empat belas abad dan mudah berada di tangan semua orang, ia menjaga kesegarannya seolah baru turun. Setiap zaman melihatnya dalam keadaan muda, seolah menyapa zaman itu sendiri. Meski setiap kelompok ilmu menyimpannya dalam jumlah banyak dan melimpah agar terus mengambil manfaat, serta mengikuti dan meneladani gaya ungkapannya, ia tetap menjaga keunikan gaya serta cara penjelasannya. Poin Kelima: Satu sisi Al-Qur'an berada pada masa lalu, satu sisi pada masa depan. Sebagaimana akar serta satu sayapnya adalah hakikat-hakikat yang disepakati para nabi terdahulu, yang dibenarkan dan dikuatkan Al-Qur'an, dan mereka juga membenarkannya dengan bahasa keadaan kesesuaian, demikian pula buah-buahnya yang mendapat kehidupan darinya, seperti wali serta insan suci, melalui perkembangan hidupnya menunjukkan bahwa pohon mereka yang diberkahi itu hidup, berlimpah, dan bertumpu pada hakikat. Semua tarekat kewalian yang haq serta seluruh ilmu Islam yang hakiki, yang tumbuh dan hidup di bawah perlindungan sayap keduanya, bersaksi bahwa Al-Qur'an benar-benar haq, tempat berkumpul hakikat, dan keajaiban tiada banding dalam cakupannya yang menyeluruh. Poin Keenam: Keenam sisi Al-Qur'an bercahaya dan menunjukkan kejujuran serta kebenarannya.Ya, di bawahnya terdapat tiang-tiang dalil dan bukti; di atasnya kilau cap i'jaz; di depan serta tujuannya hadiah kebahagiaan dua negeri; di belakangnya, sebagai sandaran, hakikat wahyu dari langit; di kanannya pembenaran akal lurus yang tak terhingga melalui dalil; di kirinya ketenteraman yang sungguh-sungguh, ketertarikan yang tulus, serta kepasrahan hati sehat dan nurani bersih. Semua itu membuktikan bahwa Al-Qur'an merupakan benteng langit dan bumi yang luar biasa, menakjubkan, kuat, dan tidak dapat diserang. Dari enam maqam pun terdapat pengesahan bahwa ia benar-benar haq, jujur, bukan ucapan manusia, dan tidak memiliki kesalahan. Pertama, Sang Pengatur alam ini, yang menjadikan kebiasaan selalu menampakkan keindahan, melindungi kebaikan serta kebenaran, dan membinasakan serta menyingkirkan penipu dan pemfitnah sebagai pedoman Perbuatan-Nya, membenarkan serta mengesahkannya dengan memberi Al-Qur'an kedudukan penghormatan dan tingkat keberhasilan yang paling diterima, paling tinggi, serta paling penuh kuasa di alam. Pribadi yang menjadi sumber Islam dan penerjemah Al-Qur'an ﷺ juga mempercayai serta menghormatinya lebih daripada siapa pun; berada dalam keadaan seperti tidur ketika ia turun; tuturannya yang lain tidak dapat mencapai atau menyerupainya sedikit pun; dan meski ummi, beliau menjelaskan peristiwa alam sejati yang telah berlalu maupun akan datang melalui Al-Qur'an secara gaib, tanpa ragu dan dengan tenang. Penerjemah itu ﷺ, yang tidak memperlihatkan tipu atau keadaan salah di bawah pandangan mata-mata yang amat teliti, mempercayai serta membenarkan setiap ketetapan Al-Qur'an dengan seluruh kekuatan sedemikian rupa sehingga tak ada yang mengguncangkannya. Ini juga mengesahkan bahwa Al-Qur'an berasal dari langit, benar, dan merupakan Kalam yang diberkahi dari Sang Khâliq-nya yang Rahîm. Hubungan seperlima umat manusia, bahkan mungkin bagian terbesarnya, dengan Al-Qur'an di hadapan mata secara terpikat serta religius, dan kesediaan mereka mendengarnya dengan cinta kepada hakikat serta rindu, juga menjadi pengesahan. Melalui kesaksian banyak tanda, peristiwa, dan penglihatan batin, jin, malaikat, serta makhluk ruhani pun berkumpul di sekitarnya ketika dibaca, seperti laron, dengan cinta kepada kebenaran. Ini mengesahkan bahwa Al-Qur'an diterima oleh alam dan berada pada kedudukan tertinggi.Setiap lapisan manusia, dari yang paling kurang cerdas dan awam hingga yang paling cerdas serta berilmu, mendapat bagian penuh dari pelajaran Al-Qur'an dan memahami hakikat yang paling dalam. Setiap kelompok dari ratusan bidang dan ilmu Islam, terutama mujtahid besar syariat agung serta penyelidik jenius usul agama dan ilmu kalam, mengeluarkan semua kebutuhan serta jawaban ilmunya dari Al-Qur'an. Ini mengesahkan bahwa Al-Qur'an sumber haq dan tambang hakikat. Para sastrawan Arab yang paling maju dalam sastra, yang hingga kini belum menjadi Muslim, begitu membutuhkan tandingan. Meski terdapat tujuh segi besar i'jaz Al-Qur'an, mereka enggan membawa yang serupa satu seginya saja, yakni balagah satu surah. Para ahli balagah terkenal dan ulama jenius yang datang hingga kini serta hendak mendapat kemasyhuran dengan menandingi tidak dapat melawan satu pun segi i'jaznya dan diam tak berdaya. Ini mengesahkan bahwa Al-Qur'an mukjizat dan melampaui kemampuan manusia. Ya, nilai, kemuliaan, serta balagah suatu tuturan tampil ketika ditanya, "Dari siapa datangnya, kepada siapa, dan untuk apa?" Dari segi ini, Al-Qur'an tiada banding dan tidak dapat dicapai. Sebab, ia adalah Sapaan, Pembicaraan, dan Percakapan Rabb seluruh alam serta Khâliq seluruh alam, tanpa tanda apa pun yang memberi kesan tiruan atau dibuat-buat. Ia turun kepada penerima yang paling terkenal dan termasyhur dalam umat manusia, yang diutus atas nama seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk ﷺ. Kekuatan serta luasnya iman penerima itu ﷺ menumbuhkan Islam yang besar, mengangkat dirinya ke maqam Qaba Qausain, dan membuatnya menjadi penerima Sapaan Allah subhânahu Yang Samad. Al-Qur'an menjelaskan serta menerangkan persoalan kebahagiaan dua negeri, hasil penciptaan alam dan tujuan-tujuan Rabbani di dalamnya, serta iman penerima itu ﷺ yang paling tinggi dan paling luas, yang membawa seluruh hakikat Islam. Ia memperlihatkan setiap sisi alam yang besar, membaliknya seperti peta, jam, atau rumah, serta melalui cara penyampaiannya menunjukkan dan mengajarkan tentang Sang Seniman yang membuat semuanya. Tentu tidak mungkin mendatangkan yang serupa Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat ini atau mencapai tingkat i'jaznya.Ribuan ulama berilmu, amat cerdas, dan teliti menafsirkan Al-Qur'an, sebagian menulis tafsir masing-masing tiga puluh, empat puluh, bahkan tujuh puluh jilid. Dengan sumber serta dalilnya, mereka memperlihatkan dan membuktikan keunggulan, pokok makna halus, sifat, rahasia, makna luhur, serta berita gaib yang melimpah dari setiap macam perkara gaib dalam Al-Qur'an. Khususnya, masing-masing dari seratus tiga puluh kitab Risale-i Nur membuktikan satu keunggulan atau pokok makna halus Al-Qur'an dengan bukti pasti. Terutama, setiap bagian Risale-i Nur memperlihatkan hakikat dan cahaya Al-Qur'an, seperti Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi; Maqam Kedua Kalimat Kedua Puluh, yang mengeluarkan banyak keajaiban peradaban seperti kereta api serta pesawat dari Al-Qur'an; Sinar Pertama bernama İşarat-ı Kur'aniye (Isyarat Al-Qur'an), yang memberitahukan isyarat ayat-ayat tentang Risale-i Nur dan listrik; delapan risalah kecil bernama Rumuzat-ı Semaniye (Delapan Isyarat Tersembunyi), yang menunjukkan betapa teratur, sarat rahasia, dan bermakna huruf-huruf Al-Qur'an; serta risalah kecil yang membuktikan bahwa ayat terakhir Surah Al-Fath merupakan mukjizat dari lima segi berita gaib. Semua ini mengesahkan bahwa Al-Qur'an tiada banding, mukjizat, menakjubkan, lisan alam gaib di alam yang tampak ini, dan Kalam Sang 'Allâmul-Ghuyûb.Pengembara dunia memahami bahwa karena keunggulan dan sifat Al-Qur'an yang ditunjukkan pada enam poin, enam sisi, serta enam maqam ini, kekuasaan bercahayanya yang megah dan kerajaannya yang suci serta agung terus berlangsung dengan penghormatan sempurna, menerangi wajah zaman dan muka bumi selama seribu tiga ratus tahun. Karena sifat-sifat itu pula, Al-Qur'an memperoleh keistimewaan suci: setiap hurufnya memberi sekurang-kurangnya sepuluh pahala, sepuluh kebaikan, dan sepuluh buah kekal; bahkan setiap huruf sebagian ayat serta surah memberi seratus, seribu, dan lebih banyak buah; pada waktu yang diberkahi, cahaya, pahala, serta nilai setiap huruf naik dari sepuluh ke ratusan. Ia berkata kepada hatinya: Al-Qur'an yang memiliki mukjizat dari setiap sisi ini, melalui ijmak surah, kesepakatan ayat, kesesuaian rahasia serta cahaya, dan kecocokan buah serta karyanya, bersaksi akan Wujud, Keesaan, Sifat, serta Asma satu Wâjibul Wujûd dengan cara membuktikan melalui dalil, sedemikian rupa sehingga kesaksian tak terhingga seluruh ahli iman mengalir dari kesaksiannya. Sebagai petunjuk singkat pelajaran tauhid dan iman yang diterima musafir ini dari Al-Qur'an, pada tingkat ketujuh belas Maqam Pertama dikatakan demikian: لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰُ ﺍﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﺍَﻟْﻤَﻘْﺒُﻮﻝُ ﺍﻟْﻤَﺮْﻏُﻮﺏُ لِاَجْنَاسِ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ ﻭَ الْاِنْسِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ ﺍَﻟْﻤَﻘْﺮُﻭﺀُ ﻛُﻞُّ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺩَﻗ۪ﻴﻘَﺔٍ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ الْاِحْتِرَامِ ﺑِﺎَﻟْﺴِﻨَﺔِ ﻣِﺎٰﺕِ ﻣِﻠْﻴُﻮﻥٍ ﻣِﻦْ ﻧَﻮْﻉِ الْاِنْسَانِ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢُ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔُ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻗْﻄَﺎﺭِ الْاَرْضِ ﻭَ الْاَكْوَانِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﻩِ الْاَعْصَارِ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺎﺭ۪ﻯ ﺣَﺎﻛِﻤِﻴَّﺘُﻪُ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻮِﻳَّﺔُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻴَّﺔُ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﺼْﻒِ الْاَرْضِ ﻭَ ﺧُﻤْﺲِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﻓ۪ﻰ ﺍَﺭْﺑَﻌَﺔَ ﻋَﺸَﺮَ ﻋَﺼْﺮًﺍ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ الْاِحْتِشَامِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ: ﺷَﻬِﺪَ ﻭَ ﺑَﺮْﻫَﻦَ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺳُﻮَﺭِﻩِ ﺍﻟْﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭِﻳَّﺔِ ﻭَ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻴَّﺔِ الْاِلٰهِيَّةِ ﻭَ ﺑِﺘَﻮَﺍﻓُﻖِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِﻩ۪ ﻭَ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭِﻩ۪ ﻭَ ﺑِﺘَﻄَﺎﺑُﻖِ ﺣَﻘَﺎﺋِﻘِﻪ۪ ﻭَ ﺛَﻤَﺮَﺍﺗِﻪ۪ ﻭَ ﺍٰﺛَﺎﺭِﻩ۪ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ.

--

PERSOALAN KESEPULUH MEYVE RİSALESİ, YAITU SINAR KESEBELAS

EMİRDAĞI ÇİÇEĞİ (BUNGA EMİRDAĞ)

Jawaban yang sangat kuat terhadap keberatan tentang pengulangan dalam Al-Qur'an.

Saudara-saudaraku yang mulia dan teguh dalam kebenaran! Memang, karena keadaanku yang kacau, persoalan ini menjadi kacau dan kurang halus. Namun, di bawah ungkapan yang kacau itu, aku mengetahui dengan pasti suatu macam i'jaz yang amat berharga. Sayang, aku tidak mampu mengungkapkannya. Meski kata-katanya redup, karena terkait dengan Al-Qur'an, ia sekaligus ibadah melalui renungan dan cangkang permata yang suci, tinggi, serta terang. Jangan memandang pakaiannya yang robek, melainkan berlian di tangannya. Jika sesuai, jadikanlah Persoalan Kesepuluh. Jika tidak, terimalah sebagai surat balasan bagi surat-surat ucapan selamat kalian. Dalam keadaan amat sakit, kacau, dan tanpa makanan, terpaksa aku menulisnya dalam satu atau dua hari Ramadan dengan sangat ringkas serta pendek, memasukkan banyak hakikat dan berbagai bukti dalam satu kalimat. Harap dimaklumi kekurangannya. {(): Sebagai Persoalan Kesepuluh buah Penjara Denizli, ia adalah bunga kecil bercahaya dari Emirdağ dan Ramadan yang mulia ini. Dengan menjelaskan satu hikmah pengulangan Al-Qur'an, ia menghilangkan sangkaan busuk serta beracun mereka yang sesat.} Saudara-saudaraku yang mulia dan teguh dalam kebenaran! Ketika membaca Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat pada Ramadan yang mulia, setiap kali salah satu dari tiga puluh tiga ayat yang isyaratnya kepada Risale-i Nur dijelaskan dalam Sinar Pertama datang, aku melihat bahwa halaman, lembar, serta kisah ayat itu juga mengarah sampai kadar tertentu kepada Risale-i Nur dan murid-muridnya dari segi mengambil bagian pelajaran dari kisah. Khususnya, sebagaimana Ayat Nur dari Surah An-Nur mengarah kepada Risale-i Nur dengan sepuluh jari, Ayat Zulumat di belakangnya juga sepenuhnya mengarah kepada penentang mereka dan memberi bagian yang lebih banyak. Aku merasakan bahwa maqam itu seakan keluar dari sifat juz'i menjadi menyeluruh, dan satu contoh utuh dari yang menyeluruh itu pada zaman ini adalah Risale-i Nur serta murid-muridnya.Ya, Sapaan Al-Qur'an mengambil keluasan, kemuliaan, serta cakupannya, pertama, dari maqam luas Rububiyah umum Sang Pembicara Azali; dari maqam luas pribadi yang disapa atas nama umat manusia, bahkan alam ﷺ; dari maqam yang amat luas bagi bimbingan seluruh anak Adam pada semua zaman; serta dari maqam luas penjelasan yang amat tinggi dan meliputi tentang Hukum-Hukum Ilahi mengenai dunia dan akhirat, bumi dan langit, azali dan abadi, Rububiyah Khâliq alam, serta Pengaturan seluruh makhluk. Dari segi ini, Sapaan itu menunjukkan i'jaz serta cakupan yang begitu tinggi sehingga tingkat lahiriah dan sederhananya, yang menyenangkan pemahaman sederhana lapisan awam, kelompok penerima pelajaran Al-Qur'an yang paling banyak, juga memberi bagian penuh kepada lapisan paling luhur. Seakan ia bukan hanya memberi satu bagian dari kisah atau satu pelajaran dari cerita sejarah, melainkan baru turun dengan menyapa setiap zaman dan lapisan sebagai bagian-bagian suatu dasar menyeluruh. Khususnya, dengan banyak pengulangan, ia berkata ﺍَﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ dan menjelaskan ancaman serta bencana langit dan bumi, hukuman atas kezaliman mereka, dengan keras. Ia membuat zaman ini memandang kezaliman yang tiada banding melalui azab yang menimpa kaum Ad, Tsamud, serta Firaun, dan memberi penghiburan kepada ahli iman yang dizalimi melalui keselamatan para nabi seperti Ibrahim (as) dan Musa (as).Ya, dalam pandangan lalai dan sesat, seluruh masa lalu serta zaman yang telah mati adalah negeri yang tak lagi ada, liar dan dahsyat, serta kuburan yang pedih dan hancur. Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat memperlihatkannya kepada setiap zaman serta lapisan sebagai halaman-halaman pelajaran yang hidup, alam menakjubkan yang seluruhnya berjiwa dan hidup, serta negeri Rabbani yang ada dan terkait dengan kita. Seperti layar film, terkadang ia membawa kita ke masa-masa itu, terkadang membawa masa-masa itu ke sisi kita, lalu mengajar dengan i'jaz yang luhur. Dengan i'jaz yang sama, Al-Qur'an yang agung ini menghidupkan alam yang, dalam pandangan sesat, beku, tercerai, mati, menjadi tempat liar tak berujung, dan bergulir dalam perpisahan serta lenyap. Ia menjadikannya kitab Allah subhânahu Yang Samad, kota Allah subhânahu Yang Rahmân, dan tempat pameran Karya Rabbani; membuat benda tak bernyawa hidup, berbicara satu sama lain sebagai petugas, dan bergegas saling membantu; serta mengajar manusia, jin, dan malaikat hikmah yang sejati, bercahaya, dan menyenangkan. Tentu ia memperoleh keistimewaan suci: terdapat sepuluh, seratus, terkadang seribu serta ribuan pahala pada setiap hurufnya; semua jin dan manusia sekalipun berkumpul tidak dapat membawa yang serupa dengannya; ia berbicara tepat kepada seluruh anak Adam serta alam; selalu tertulis dengan nikmat dalam hati jutaan penghafal; banyak pengulangan tidak membuat bosan; bersama banyak tempat serta kalimat yang dapat tersamar, ia tertanam sempurna dalam pikiran anak-anak yang halus dan sederhana; serta menyenangkan seperti air Zamzam di telinga orang sakit, orang yang terganggu oleh sedikit ucapan, dan orang yang menghadapi ajal. Ia membuat murid-muridnya memperoleh kebahagiaan dua dunia. Dengan sepenuhnya menjaga tingkat ummi penerjemahnya ﷺ, ia menunjukkan kelancaran alaminya dan datangnya langsung dari langit, tanpa memberi tempat bagi sesuatu yang dipaksakan, dibuat-buat, atau dipamerkan. Dengan Hikmah tuturan yang turun ke tingkat pemahaman sederhana lapisan awam yang paling banyak, ia terutama membuka halaman paling tampak dan jelas seperti langit serta bumi, lalu mengajarkan mukjizat Kudrat yang luar biasa dan baris-baris Hikmah yang bermakna di bawah hal-hal biasa itu. Ia menunjukkan i'jaz yang indah dalam Karunia bimbingan.Dengan menunjukkan bahwa ia juga kitab doa, seruan, zikir, dan tauhid, yang menuntut pengulangan, melalui pengulangan indah serta manis, ia membuat banyak makna berbeda dalam satu kalimat dan satu kisah dipahami lapisan penerima yang berbeda. Untuk menunjukkan bahwa dalam peristiwa yang juz'i dan biasa, bahkan hal yang juz'i dan paling kecil serta tak penting berada dalam Pandangan Rahmat, lingkup Pengaturan, serta Kehendak-Nya, ia memberi perhatian penting bahkan kepada peristiwa-peristiwa yang juz'i dari para sahabat dalam mendirikan Islam serta menyusun syariat. Di sini juga ia menunjukkan suatu i'jaz: peristiwa itu memuat dasar menyeluruh, dan dalam mendirikan Islam serta syariat yang umum, peristiwa-peristiwa yang juz'i itu menjadi benih yang menghasilkan buah sangat penting. Ya, karena kebutuhan berulang, pengulangan diperlukan. Al-Qur'an memberi pelajaran kepada banyak lapisan yang berbeda selama dua puluh tahun sebagai jawaban atas banyak pertanyaan berulang. Dalam menetapkan suatu perubahan tanpa batas yang luar biasa, amat dahsyat, dan luas—yang akan memecah alam besar, mengubah bentuknya pada kiamat, mengangkat dunia, lalu mendirikan akhirat agung sebagai gantinya; yang akan membuktikan bahwa semua hal yang juz'i serta menyeluruh, dari zarah hingga bintang, berada di Tangan dan Pengaturan satu Zat; serta yang akan menunjukkan Murka Ilahi dan Amarah Rabbani atas kezaliman manusia yang membuat alam, bumi, langit, serta unsur-unsur marah, dari segi hasil penciptaan alam—, pengulangan sejumlah kalimat yang berkekuatan ribuan hasil serta sejumlah ayat yang merupakan hasil dalil tak terhingga bukan kekurangan, melainkan i'jaz yang amat kuat, balagah yang sangat luhur, serta kekuatan dan kefasihan yang sangat sesuai dengan tuntutan keadaan. Misalnya, meski satu ayat, kalimat ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِٔ diulang seratus empat belas kali. Sebagaimana dijelaskan dalam Kilau Keempat Belas Risale-i Nur, ia merupakan hakikat yang menghubungkan Arasy dengan bumi, menerangi alam, dan dibutuhkan semua orang setiap menit. Meski diulang jutaan kali, kebutuhan tetap ada. Ia dibutuhkan serta dirindukan bukan hanya setiap hari seperti roti, melainkan setiap menit seperti udara dan cahaya.Misalnya pula, dalam Surah ﻃٰﺴٓﻢٓ, ayat ﺍِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻟَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ yang diulang delapan kali mengajarkan keselamatan nabi-nabi dan azab kaum mereka yang diceritakan dalam surah itu. Dengan mengulang ayat berkekuatan ribuan hakikat itu atas nama hasil penciptaan alam serta Rububiyah umum, ia mengajarkan bahwa Kemuliaan Rabbani menuntut azab kaum zalim itu dan Rahimiyah Ilahi menuntut keselamatan para nabi. Meski diulang ribuan kali, kebutuhan serta kerinduan tetap ada; ia merupakan balagah luhur yang menunjukkan i'jaz dan ringkas. Ayat ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ yang diulang dalam Surah Ar-Rahmân serta ayat ﻭَﻳْﻞٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟِﻠْﻤُﻜَﺬِّﺑ۪ﻴﻦَ dalam Surah Al-Mursalât juga menyerukan dengan ancaman kepada zaman, bumi, dan langit: kekafiran, ingkar terhadap nikmat, kezaliman, serta serangan jin dan manusia terhadap hak seluruh makhluk, yang membuat alam marah, bumi serta langit murka, merusak hasil penciptaan alam, dan melawan Kemegahan Kerajaan Ilahi dengan menyangkal serta meremehkan. Dalam pelajaran umum yang terkait dengan ribuan hakikat dan berkekuatan ribuan persoalan seperti ini, meski kedua ayat itu diulang ribuan kali, tetap diperlukan; ia adalah i'jaz yang megah dan ungkapan balagah ringkas yang indah. Misalnya pula, dalam munajat Nabi ﷺ bernama Jawsyan al-Kabîr, suatu macam munajat sejati serta penuh dari Al-Qur'an dan semacam rangkuman yang keluar darinya, kalimat ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ ﺧَﻠِّﺼْﻨَﺎ ﻭَ ﺍَﺟِﺮْﻧَﺎ ﻭَ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ diulang seratus kali. Pengulangan itu memuat hakikat terbesar bagi alam seperti tauhid, tugas terpenting di antara tiga tugas agung makhluk terhadap Rububiyah seperti tasbih dan menyucikan-Nya, persoalan paling dahsyat manusia seperti selamat dari celaka abadi, serta hasil ubudiyah dan keadaan tak berdaya manusia yang paling diperlukan. Karena itu, meski diulang ribuan kali, tetap sedikit. Seperti bagian-bagian ibadah yang pengulangannya Sunnah, misalnya tasbih salat, pengulangan Al-Qur'an memandang dasar-dasar kokoh seperti ini. Bahkan, terkadang pada satu halaman ia mengungkapkan hakikat tauhid dua puluh kali, secara jelas maupun tersirat, karena tuntutan maqam, kebutuhan membuat orang memahami, dan balagah penjelasan. Ini tidak memberi rasa bosan, melainkan kekuatan, semangat, serta rasa manis. Dalam Risale-i Nur telah dijelaskan dengan bukti betapa pengulangan Al-Qur'an tepat, sesuai, serta diterima dalam balagah.Rahasia Hikmah perbedaan surah Makkiyah dengan surah Madaniyah dalam Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat dari segi balagah, i'jaz, serta merinci dan merangkum ialah: di Makkah, penerima dan penentang pada barisan pertama adalah orang musyrik serta para ummi dari Quraisy. Karena itu, diperlukan gaya luhur yang kuat dalam balagah, rangkuman ringkas yang meyakinkan, serta pengulangan untuk menetapkan. Sebagian besar surah Makkiyah mengungkapkan serta mengulang rukun iman dan tingkat-tingkat tauhid melalui ungkapan ringkas yang amat kuat, tinggi, dan menunjukkan i'jaz. Ia membuktikan asal dan tempat kembali, Allah subhânahu dan akhirat, dengan begitu kuat, bukan hanya pada satu halaman, ayat, kalimat, atau kata, bahkan terkadang pada satu huruf serta susunan seperti mendahulukan dan mengakhirkan, membuat tertentu dan tak tertentu, serta tidak menyebutkan dan menyebutkan, sehingga imam-imam jenius ilmu balagah menerimanya dengan takjub. Risale-i Nur, khususnya Kalimat Kedua Puluh Lima beserta lampirannya, yang membuktikan empat puluh segi i'jaz Al-Qur'an secara ringkas, dan tafsir İşaratü'l-İ'caz dari Risale-i Nur berbahasa Arab, yang menjelaskan serta membuktikan segi i'jaz dalam susunan dengan cara luar biasa, telah menunjukkan secara nyata bahwa surah serta ayat Makkiyah memiliki gaya balagah paling luhur dan i'jaz ungkapan ringkas yang paling tinggi. Adapun penerima dan penentang pada barisan pertama surah serta ayat Madinah adalah ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani, yang membenarkan Allah subhânahu. Karena tuntutan balagah serta bimbingan, dan keharusan sesuai dengan maqam serta keadaan, diperlukan gaya sederhana, jelas, dan terperinci untuk menjelaskan kepada ahli kitab bukan dasar-dasar luhur agama serta rukun iman, melainkan syariat, hukum, rincian, serta hal-hal yang juz'i yang menjadi sumber dan sebab hukum menyeluruh dan menjadi bahan perbedaan pendapat. Dalam penjelasan surah dan ayat Madinah yang pada umumnya terperinci, diterangkan, dan bergaya sederhana, dengan cara penjelasan tiada banding yang khusus bagi Al-Qur'an, tiba-tiba di tengah peristiwa terperinci yang juz'i itu ia menyebutkan rangkuman luhur serta kuat, penutup, bukti, dan kalimat tentang tauhid, Asma, serta akhirat. Kalimat itu menjadikan peristiwa syariat yang juz'i menjadi menyeluruh dan menjamin pelaksanaannya melalui iman kepada Allah subhânahu. Ia menerangi, meninggikan, dan menjadikan maqam itu menyeluruh.Dalam Cahaya Kedua Nyala Kedua Kalimat Kedua Puluh Lima, Risale-i Nur menjelaskan sepuluh dari banyak pokok makna halus serta keunggulan rangkuman dan penutup seperti ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ٭ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ, yang pada umumnya datang di akhir ayat dan mengungkapkan tauhid atau akhirat. Dengan menunjukkan betapa luhur balagah, keunggulan, kekuatan, serta pokok maknanya, ia membuktikan bahkan kepada orang keras kepala bahwa dalam rangkuman-rangkuman itu terdapat mukjizat yang agung. Ya, di tengah penjelasan rincian syariat dan hukum masyarakat, Al-Qur'an tiba-tiba mengangkat pandangan penerima kepada titik tertinggi serta menyeluruh, mengubah gaya sederhana menjadi luhur dan pelajaran syariat menjadi pelajaran tauhid. Ia menunjukkan bahwa Al-Qur'an sekaligus kitab syariat, hukum, dan hikmah, serta kitab akidah, iman, zikir, pemikiran, doa, dan seruan. Dengan mengajarkan banyak tujuan bimbingan serta Al-Qur'an pada setiap maqam, ia memperlihatkan kekuatan yang berbeda dari gaya balagah ayat Makkiyah, yang terang dan menunjukkan mukjizat. Terkadang dalam dua kata, misalnya pada ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ dan ﺭَﺑُّﻚَ, melalui ungkapan ﺭَﺑُّﻚَ ia memberitahukan Ahadiyah, dan melalui ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ Wâhidiyah. Ia mengungkapkan Wâhidiyah di dalam Ahadiyah. Bahkan, dalam satu kalimat, sebagaimana melihat serta menempatkan satu zarah di pupil mata, dengan ayat dan palu yang sama ia menempatkan matahari di pupil langit dan menjadikannya mata bagi langit. Misalnya, setelah ayat ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضَ, lalu ayat ﻳُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟَّﻴْﻞَ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَ ﻳُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻰ ﺍﻟَّﻴْﻞِ, ia berkata ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ﺑِﺬَﺍﺕِ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ. Ia berkata, "Dalam kemegahan penciptaan bumi dan langit, Dia juga mengetahui serta mengatur lintasan pikiran hati." Melalui cara penjelasan seperti ini, percakapan sederhana dan juz'i yang memperhatikan tingkat ummi dan pemahaman awam itu berubah menjadi percakapan luhur, menarik, umum, serta membimbing. ~Pertanyaan Penting:

Terkadang suatu hakikat tidak terlihat oleh pandangan dangkal, dan pada sejumlah maqam hubungan antara peristiwa yang juz'i serta biasa dengan penjelasan rangkuman tauhid yang luhur atau dasar menyeluruh tidak diketahui, sehingga disangka ada kekurangan. Misalnya, dalam "Yusuf 'alaihis-salâm mengambil saudaranya dengan suatu siasat", penyebutan pedoman yang sangat luhur ﻭَﻓَﻮْﻕَ ﻛُﻞِّ ﺫ۪ﻯ ﻋِﻠْﻢٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ tidak tampak hubungannya dari segi balagah. Apa rahasia dan hikmahnya? ~Jawaban:

Pada sebagian besar surah panjang serta menengah, yang masing-masing merupakan Al-Qur'an kecil, dan pada banyak halaman serta maqam, Al-Qur'an tidak memuat hanya dua atau tiga tujuan. Hakikatnya memuat banyak kitab dan pelajaran berbeda: kitab zikir, iman, dan pemikiran, serta kitab syariat, hikmah, dan bimbingan. Dengan mengungkapkan bahwa Rububiyah Ilahi meliputi segala sesuatu serta Tajalli-Tajalli-Nya yang megah, Al-Qur'an seperti pembacaan kitab besar alam. Tentu, pada setiap maqam, bahkan terkadang pada satu halaman, ia mengikuti banyak tujuan dan memberi pelajaran makrifatullah, tingkat-tingkat tauhid, serta hakikat iman. Karena itu, pada maqam lain, misalnya dengan hubungan yang tampak lemah, ia membuka pelajaran lain. Banyak hubungan kuat bergabung dengan hubungan lemah itu, sehingga sangat sesuai dengan maqam tersebut dan tingkat balagahnya meningkat. ~Pertanyaan Kedua:

Apa hikmah membuktikan serta memperlihatkan akhirat, tauhid, ganjaran, dan hukuman manusia ribuan kali dalam Al-Qur'an, secara jelas, tersirat, dan melalui petunjuk, serta mengajarkannya pada setiap surah, halaman, dan maqam? ~Jawaban:

Dalam mengajarkan persoalan paling agung di antara persoalan-persoalan paling penting, paling besar, dan paling dahsyat tentang lingkup segala yang mungkin ada, perubahan-perubahan pada perjalanan alam, serta tugas umat manusia yang memikul amanat agung dan tugas khalifah di bumi, yang menjadi dasar celaka dan kebahagiaan abadi; dalam menghilangkan syubhat yang tak terhingga dan mematahkan penyangkalan serta keras kepala yang amat kuat, tentu Al-Qur'an harus membuat perubahan dahsyat itu dibenarkan serta persoalan besar yang sebesar perubahan tersebut, yang paling dibutuhkan dan paling wajib bagi manusia, diterima. Jika ia membuat orang memandangnya bukan hanya ribuan kali, melainkan jutaan kali, tetap bukan berlebihan. Pembahasan itu dibaca jutaan kali dalam Al-Qur'an, tidak membuat bosan, dan kebutuhan tidak terputus. Misalnya,

ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٌ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ الْاَنْهَارُ ٭ ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻴﻬَٓﺎ ﺍَﺑَﺪًﺍ Kabar gembira tentang kebahagiaan abadi yang ditunjukkan ayat ini menyelamatkan manusia yang malang, dunianya, dan seluruh orang yang dicintainya dari pemusnahan abadi oleh hakikat maut yang menampakkan diri kepadanya setiap menit, serta memberinya kerajaan yang kekal; maka sekalipun diulang miliaran kali dan diberi arti penting sebesar alam, hal itu tetap tidak berlebihan dan tidak berkurang nilainya. Maka Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, yang mengajarkan persoalan-persoalan tak ternilai semacam ini dan berusaha meyakinkan, menumbuhkan kepercayaan, serta membuktikan terjadinya perubahan-perubahan dahsyat yang mengubah alam seperti sebuah rumah dan merombak bentuknya, tentu menarik perhatian ribuan kali kepada persoalan-persoalan itu secara terang, tersirat, dan melalui isyarat; hal itu tidak berlebihan, melainkan memperbarui anugerahnya sebagai kebutuhan mutlak seperti roti, obat, udara, dan cahaya. Hikmah di balik Al-Qur'an menyebut ayat-ayat ancaman seperti ﺍِﻥَّ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻰ ﻧَﺎﺭِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ dan ﺍَﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺍَﻟ۪ﻴﻢٌ dengan amat keras, penuh murka, sangat kuat, dan berulang-ulang ialah — sebagaimana telah dibuktikan secara pasti dalam Risale-i Nur — bahwa kekufuran manusia merupakan pelanggaran sedemikian rupa terhadap hak-hak alam dan sebagian besar makhluk sehingga membuat langit dan bumi marah serta membangkitkan amarah unsur-unsur, yang menampar orang-orang zalim itu dengan banjir-banjir besar. Dan sebagaimana dinyatakan secara terang oleh ayat ﺍِﺫَٓﺍ ﺍُﻟْﻘُﻮﺍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺳَﻤِﻌُﻮﺍ ﻟَﻬَﺎ ﺷَﻬ۪ﻴﻘًﺎ ﻭَﻫِﻰَ ﺗَﻔُﻮﺭُ ٭ ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺗَﻤَﻴَّﺰُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆِ, neraka begitu marah kepada para pengingkar yang zalim itu sampai hampir terpecah karena amarahnya. Maka terhadap kejahatan yang meliputi semuanya dan pelanggaran tanpa batas seperti ini, Sang Sultan Alam memandang bukan kecil dan tidak berartinya manusia, melainkan besarnya kejahatan yang zalim dan dahsyatnya pelanggaran yang kufur itu; dengan Hikmah memperlihatkan pentingnya hak-hak para makhluk di bawah Kekuasaan-Nya serta buruknya kekufuran dan kezaliman para pengingkar itu tanpa batas, sekalipun Dia mengulang kejahatan dan hukumannya dalam Firman-Nya dengan Murka dan Ketegasan yang amat besar, bukan seribu, melainkan jutaan dan miliaran kali, hal itu tetap tidak berlebihan dan tidak bercacat; sebab selama seribu tahun, ratusan juta manusia membacanya setiap hari tanpa bosan, dengan kerinduan dan kebutuhan yang sangat besar.Ya, setiap hari, setiap saat, satu alam berlalu bagi setiap orang dan pintu suatu alam yang segar terbuka baginya; untuk menerangi setiap alamnya yang sementara itu, ia mengulang kalimat ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ ribuan kali dengan penuh kebutuhan dan kerinduan, lalu menjadikan satu ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ sebagai lampu bagi masing-masing tirai dan alam yang berubah itu; begitu pula, agar manusia tidak menggelapkan tirai-tirai sementara yang begitu banyak dan alam-alam yang terus berganti dan diperbarui itu, tidak memperburuk bentuk-bentuknya yang terpantul dalam cermin kehidupannya, serta tidak mengubah keadaan-keadaan yang datang sebagai tamu dan dapat bersaksi membelanya itu menjadi saksi yang menentangnya, serta senantiasa mengingat hukuman kejahatan-kejahatan itu dan ancaman Sang Raja Azali yang keras dan mematahkan sikap keras kepala dengan terus membaca Al-Qur'an, dan berusaha bebas dari nafsu yang melampaui batas, Al-Qur'an mengulang dengan amat menakjubkan; dengan kekuatan, ketegasan, dan pengulangan sebesar ini, bahkan setan pun menghindari anggapan bahwa ancaman-ancaman Al-Qur'an tidak memiliki hakikat. Dan Al-Qur'an menunjukkan bahwa azab neraka bagi para pengingkar yang tidak mengindahkannya merupakan keadilan sepenuhnya. Begitu pula, kisah Musa (a.s.), yang seperti tongkat Musa mengandung banyak hikmah dan manfaat, serta kisah para nabi lainnya sering diulang untuk menjadikan kenabian seluruh nabi sebagai hujah atas benarnya kerasulan Ahmad ﷺ, dengan hikmah bahwa orang yang tidak dapat mengingkari mereka semua tidak dapat mengingkari kerasulan beliau dari segi hakikat; dan karena tidak setiap orang dapat dan berhasil membaca seluruh Al-Qur'an setiap waktu, kisah-kisah itu diulang seperti rukun-rukun iman yang penting untuk menjadikan setiap surah panjang dan sedang sebagai satu Al-Qur'an kecil; hal itu tidak berlebihan, melainkan merupakan balagah yang bermukjizat serta mengajarkan bahwa peristiwa Muhammad ﷺ adalah peristiwa terbesar seluruh anak Adam dan persoalan paling agung dalam alam. Ya, banyak hujah dan tanda telah dibuktikan secara pasti dalam Risale-i Nur bahwa Al-Qur'an memberikan kedudukan tertinggi kepada pribadi Ahmad ﷺ; bahwa sejajar dengan rukun ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ ditempatkan ٔﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِٔ yang mencakup empat rukun iman, dan bahwa kalimat itu serta kerasulan Muhammad ﷺ merupakan hakikat terbesar dalam alam; bahwa pribadi Ahmad ﷺ adalah yang paling mulia di antara seluruh makhluk, dan pribadi maknawinya yang menyeluruh serta kedudukannya yang suci, yang disebut hakikat Muhammad ﷺ, merupakan matahari paling terang bagi kedua alam; dan bahwa beliau layak menduduki kedudukan yang luar biasa itu.Salah satu dari seribu bukti itu ialah: menurut kaidah ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ﴿, pahala sebesar seluruh kebaikan yang dikerjakan segenap umatnya sepanjang zaman masuk ke dalam catatan kebaikannya; beliau menerangi hakikat-hakikat seluruh alam dengan cahaya yang dibawanya, sehingga bukan hanya jin, manusia, malaikat, dan makhluk hidup, bahkan alam, langit, dan bumi pun berutang budi kepadanya; doa tumbuh-tumbuhan dengan bahasa kesiapan fitrahnya serta doa binatang dengan bahasa kebutuhan fitrahnya benar-benar dikabulkan di hadapan mata kita, dan kesaksian itu menunjukkan bahwa orang-orang saleh dari umatnya, yang jutaan, bahkan miliaran doa fitrahnya diterima dan tidak ditolak, setiap hari mendoakan Rahmat bagi beliau dengan nama selawat dan salam serta menghadiahkan hasil-hasil rohaninya kepada beliau terlebih dahulu; setiap huruf dari tiga ratus ribu huruf Al-Qur'an yang dibaca seluruh umat memberikan dari sepuluh hingga seratus, hingga seribu pahala dan buah kebaikan, sehingga hanya dari segi pembacaan Al-Qur'an saja, cahaya tanpa batas masuk ke dalam catatan amalnya; Sang 'Allâmul-Ghuyûb telah mengetahui dan melihat bahwa, dengan semua itu, hakikat Muhammad ﷺ yang merupakan pribadi maknawi beliau akan menjadi laksana pohon Tuba di surga pada masa mendatang, lalu Dia memberikan arti penting yang amat besar itu dalam Al-Qur'an-Nya sesuai dengan kedudukan tersebut, menunjukkan dalam Firman-Nya bahwa memperoleh syafaatnya dengan mengikutinya dan mengikuti sunahnya merupakan persoalan manusia yang paling penting, serta sesekali mengarahkan perhatian kepada pribadi manusiawinya dan keadaan manusiawinya pada awal, yang merupakan benih pohon Tuba yang megah itu. Maka karena hakikat-hakikat yang diulang dalam Al-Qur'an begitu bernilai, fitrah yang sehat bersaksi bahwa pengulangannya mengandung mukjizat maknawi yang kuat dan luas. Kecuali jika seseorang terserang penyakit hati dan nurani akibat wabah materialisme. Ia termasuk dalam kaidah ﻗَﺪْ ﻳُﻨْﻜِﺮُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺿَﻮْﺀَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﺪٍ ٭ ﻭَ ﻳُﻨْﻜِﺮُ ﺍﻟْﻔَﻢُ ﻃَﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﺳَﻘَﻢٍ.