CAHAYA KETIGA NYALA KEDUA
Al-Qur'an tidak dapat dibandingkan dengan tuturan lain. Sebab, dari segi kemuliaan, kekuatan, dan keindahan, lapisan-lapisan tuturan mempunyai empat sumber: pembicara, penerima, tujuan, dan maqam. Tidak seperti para sastrawan yang keliru menunjukkan hanya maqam. Maka, dalam suatu tuturan, perhatikanlah: "Siapa yang mengatakannya? Kepada siapa? Untuk apa? Pada maqam apa?" Jangan hanya memandang kata-katanya. Karena tuturan mengambil kekuatan serta keindahan dari empat sumber ini, jika sumber Al-Qur'an diperhatikan, tingkat balagah, kemuliaan, dan keindahannya akan dipahami. Ya, karena tuturan terkait dengan pembicaranya, jika berupa perintah atau larangan, ia juga memuat kehendak dan kekuatan sesuai tingkat pembicara. Saat itu, tuturan mematahkan perlawanan dan memengaruhi seperti listrik nyata. Kemuliaan serta kekuatannya bertambah sesuai kadar itu. Misalnya,
ﻳَٓﺎ ﺍَﺭْﺽُ ﺍﺑْﻠَﻌ۪ﻰ ﻣَٓﺎﺀَﻙِ ﻭَﻳَﺎ ﺳَﻤَٓﺎﺀُ ﺍَﻗْﻠِﻌ۪ﻰ, yakni "Wahai bumi! Tugasmu selesai, telanlah airmu. Wahai langit! Tidak diperlukan lagi, hentikan hujan." Misalnya,
ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَ لِلْاَرْضِ ﺍﺋْﺘِﻴَﺎ ﻃَﻮْﻋًﺎ ﺍَﻭْ ﻛَﺮْﻫًﺎ ﻗَﺎﻟَﺘَٓﺎ ﺍَﺗَﻴْﻨَﺎ ﻃَٓﺎﺋِﻌ۪ﻴﻦَ, yakni Dia berkata, "Wahai bumi! Wahai langit! Datanglah, mau ataupun tidak, tunduklah kepada Hikmah dan Kudrat-Ku. Keluarlah dari keadaan tidak ada dan datanglah ke tempat pameran Karya-Ku dalam wujud." Mereka menjawab, "Kami datang dengan ketaatan sempurna. Setiap tugas yang Engkau tunjukkan akan kami jalankan dengan Kekuatan-Mu." Lihatlah kekuatan dan kemuliaan Perintah-Perintah yang nyata serta terlaksana ini, yang memuat Kekuatan dan Kehendak. Kemudian, dapatkah percakapan manusia dengan benda tak bernyawa, yang seperti ocehan dalam bentuk perintah, misalnya ﺍُﺳْﻜُﻨ۪ﻰ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺽُ ﻭَﺍﻧْﺸَﻘّ۪ﻰ ﻳَﺎ ﺳَﻤَﺎﺀُ ﻭَﻗُﻮﻣ۪ﻰ ﺍَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔُ, dibandingkan dengan kedua Perintah itu? Bagaimana derajat keinginan yang lahir dari harapan dan perintah sia-sia yang lahir dari keinginan itu? Bagaimana pula derajat perintah nyata seorang pemimpin yang sungguh memiliki kuasa memerintah saat menjalankan pekerjaan? Bagaimana derajat perintah "Maju!" dari seorang pemimpin besar yang perintahnya terlaksana kepada pasukan besar yang patuh? Dan jika perintah seperti itu terdengar dari prajurit biasa, meski kedua perintah sama bentuknya, maknanya berbeda sejauh perbedaan seorang prajurit dan panglima pasukan. Misalnya,
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ Juga, misalnya,
ﻭَﺍِﺫْ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ ﺍﺳْﺠُﺪُﻭﺍ لِاٰدَمَ Lihatlah kekuatan dan kemuliaan kedua Perintah dalam dua ayat ini, kemudian lihat tuturan manusia yang berupa perintah. Bukankah perbandingannya tetap seperti kunang-kunang terhadap matahari? Ya, gambaran seorang pemilik sejati saat bekerja, penjelasan seorang seniman sejati tentang karyanya ketika sedang mengerjakannya, serta penjelasan seorang pemberi nikmat sejati tentang pemberiannya saat memberi, yakni menyatukan ucapan dan perbuatan. Untuk menggambarkan perbuatannya kepada mata sekaligus telinga, ia berkata, "Lihatlah! Ini telah kulakukan; begini aku melakukannya. Ini kulakukan untuk ini. Ini akan menjadi demikian; karena itu, aku melakukan ini dengan cara ini." Misalnya,
ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻒَ ﺑَﻨَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ﻭَ ﺯَﻳَّﻨَّﺎﻫَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻓُﺮُﻭﺝٍ ٭ وَالْاَرْضَ ﻣَﺪَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﻭَ ﺍَﻟْﻘَﻴْﻨَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺭَﻭَﺍﺳِﻰَ ﻭَ ﺍَﻧْﺒَﺘْﻨَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺯَﻭْﺝٍ ﺑَﻬ۪ﻴﺞٍ ٭ ﺗَﺒْﺼِﺮَﺓً ﻭَ ﺫِﻛْﺮٰﻯ ﻟِﻜُﻞِّ ﻋَﺒْﺪٍ ﻣُﻨ۪ﻴﺐٍ ٭ ﻭَ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻣُﺒَﺎﺭَﻛًﺎ ﻓَﺎَﻧْﺒَﺘْﻨَﺎ ﺑِﻪ۪ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﻭَ ﺣَﺐَّ ﺍﻟْﺤَﺼ۪ﻴﺪِ ٭ ﻭَﺍﻟﻨَّﺨْﻞَ ﺑَﺎﺳِﻘَﺎﺕٍ ﻟَﻬَﺎ ﻃَﻠْﻊٌ ﻧَﻀ۪ﻴﺪٌ ٭ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻟِﻠْﻌِﺒَﺎﺩِ ﻭَ ﺍَﺣْﻴَﻴْﻨَﺎ ﺑِﻪ۪ ﺑَﻠْﺪَﺓً ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝُ Bagaimana dapat dibandingkan gambaran-gambaran seperti buah surga yang berkilau laksana bintang dalam gugusan surah ini di langit Al-Qur'an—yang dengan keteraturan balagah dalam Perbuatan-Perbuatan itu menyebutkan banyak lapisan dalil kebangkitan, membuktikan kebangkitan sebagai hasilnya melalui ungkapan ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝُ, dan mengharuskan para penyangkal kebangkitan di awal surah untuk mengakuinya—dengan pembicaraan sia-sia manusia tentang perbuatan yang hanya sedikit terkait dengan mereka? Gambar bunga berupa tiruan tidak dapat mencapai perbandingan dengan bunga yang nyata dan hidup. Menyampaikan makna dari ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُﻭﺍ hingga ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝُ dengan baik akan amat panjang. Kita hanya menunjukkan satu isyarat, lalu beralih. Pada awal surah, karena orang-orang kafir menyangkal kebangkitan, untuk memaksa mereka menerima kebangkitan, Al-Qur'an menghamparkan pengantar berikut. Ia berkata, "Apakah kalian tidak melihat langit di atas kalian, bagaimana Kami membangunnya dengan begitu teratur dan megah? Tidakkah kalian melihat bagaimana Kami menghiasnya dengan bintang, bulan, serta matahari, tanpa meninggalkan cacat dan kekurangan? Tidakkah kalian melihat bagaimana Kami menghamparkan bumi bagi kalian dan menatanya dengan Hikmah? Kami meneguhkan gunung di sana dan menjaganya dari serbuan laut. Tidakkah kalian melihat bahwa di bumi itu Kami menciptakan tumbuhan hijau serta tanaman yang indah dan beraneka warna, berpasangan dari setiap jenis, lalu memperindah seluruh tempat di bumi dengan keindahan itu? Tidakkah kalian melihat bagaimana Kami mengirim air yang penuh berkah dari langit? Dengan air itu Aku menciptakan kebun, taman, biji-bijian, serta pohon tinggi berbuah lezat seperti kurma, lalu mengirim dan mengantarkan rezeki kepada hamba-hamba-Ku melaluinya. Tidakkah kalian melihat bahwa dengan air itu Aku menghidupkan negeri yang mati? Aku menciptakan ribuan kebangkitan di dunia. Sebagaimana Aku mengeluarkan tumbuhan dari negeri yang mati ini dengan Kudrat-Ku, demikian pula kalian akan keluar pada kebangkitan. Pada kiamat, bumi akan mati dan kalian keluar hidup-hidup." Bagaimana dapat dibandingkan kekuatan penjelasan ayat ini dalam membuktikan kebangkitan—yang kita hanya dapat menunjukkan satu dari seribu bagiannya—dengan kata-kata yang disampaikan manusia untuk suatu klaim? Dari awal risalah ini sampai sekarang, untuk meneliti, dalam bentuk pertimbangan yang tidak memihak, kita menyembunyikan banyak hak Al-Qur'an untuk membuat lawan yang keras kepala menerima i'jaznya. Kita menempatkan matahari itu di antara lilin-lilin dan membandingkannya. Kini, ia telah menjalankan tugas meneliti dan membuktikan i'jaznya dengan terang. Sekarang, bukan untuk meneliti, melainkan demi hakikat, melalui satu atau dua ucapan kita akan menunjukkan kedudukan sejati Al-Qur'an yang tidak dapat dibandingkan.
Ya, perbandingan tuturan lain dengan ayat-ayat Al-Qur'an seperti pantulan bintang yang kecil pada botol dibanding bintang itu sendiri. Ya, bagaimana derajat kata-kata Al-Qur'an, yang masing-masing menggambarkan serta menunjukkan hakikat tetap? Bagaimana pula derajat makna yang dilukiskan manusia melalui kata-katanya dalam cermin kecil pikiran dan perasaan? Ya, bagaimana derajat kata-kata hidup Al-Qur'an yang seperti malaikat, yang mengilhamkan cahaya petunjuk dan merupakan Kalam Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Pencipta matahari serta bulan? Bagaimana pula derajat kata-kata menggigit manusia, melalui nafsunya yang memikat serta kehalusan palsunya, untuk membangunkan keinginan manusia? Perbandingan kata manusia dengan kata Al-Qur'an seperti serangga yang menggigit dibanding malaikat yang diberkahi dan makhluk ruhani bercahaya. Bersama Kalimat Kedua Puluh Lima, dua puluh empat Kalimat terdahulu telah membuktikan hakikat-hakikat ini. Pernyataan kita bukan sekadar klaim; buktinya adalah hasil yang telah disampaikan. Ya, bagaimana derajat kata-kata Al-Qur'an—yang masing-masing merupakan cangkang permata petunjuk, sumber hakikat iman, dan tambang dasar Islam; langsung datang dari Arasy Sang Rahmân; turun kepada manusia dengan memandang dari atas serta luar alam; memuat Ilmu, Kudrat, dan Kehendak; serta merupakan Sapaan Azali—? Bagaimana pula derajat kata-kata manusia yang tak berdasar, memuja keinginan, lemah, dan memelihara hasrat? Ya, Al-Qur'an menjadi seperti pohon Tuba: menyebarkan alam Islam ini beserta seluruh kehidupan ruhani, syiar, kesempurnaan, dasar, dan hukumnya sebagai daun-daun; memperlihatkan insan-insan suci serta walinya sebagai bunga yang segar dan indah dengan air kehidupan pohon itu; serta menghasilkan seluruh kesempurnaan dan hakikat alam maupun Ilahi sebagai buah. Banyak biji dalam buahnya menjadi dasar amal dan rencana kerja, lalu memperlihatkan hakikat-hakikat berantai yang kembali menjadi pohon berbuah. Bagaimana derajat Al-Qur'an itu? Bagaimana pula derajat tuturan manusia yang kita kenal? ﺍَﻳْﻦَ ﺍﻟﺜَّﺮَﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜُّﺮَﻳَّﺎ Selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, Al-Qur'an Al-Hakîm telah membuka dan memamerkan seluruh hakikatnya di pasar alam. Setiap orang, setiap bangsa, serta setiap negeri telah mengambil dan terus mengambil permata serta hakikatnya. Namun, tidak satu pun dari keakraban, kelimpahan, perjalanan waktu, maupun perubahan besar itu dapat merusak hakikatnya yang berharga atau gaya-gayanya yang indah, membuatnya tua, mengeringkannya, menjatuhkan nilainya, atau memadamkan keindahannya. Keadaan ini sendiri adalah i'jaz.Jika kini seseorang muncul, menyusun sebagian hakikat yang dibawa Al-Qur'an menurut keinginan kekanak-kanakannya, mengaitkannya sebagai tandingan sejumlah ayat, lalu berkata, "Aku telah menyampaikan tuturan yang mendekati Al-Qur'an," itu adalah ucapan yang begitu bodoh. Misalnya, seorang ahli bangunan membuat istana megah dengan batu-batu dari beragam permata, lalu menghiasnya dengan corak yang seimbang pada letak batu-batu itu, yang memandang corak-corak luhur seluruh istana. Seseorang biasa, ahli bangunan rumah biasa, yang pemahamannya terbatas tentang corak luhur tersebut dan tidak mendapat bagian dari seluruh permata serta hiasan istana, masuk ke sana. Ia merusak corak luhur pada batu-batu berharga, lalu memberi susunan serta bentuk seperti rumah biasa menurut keinginan kekanak-kanakannya, memasang beberapa manik yang menyenangkan pandangan anak-anak, kemudian berkata, "Lihatlah, keterampilan dan kekayaanku lebih banyak daripada ahli bangunan istana itu, dan aku memiliki hiasan berharga." Perbandingan karya orang tadi dengan Al-Qur'an seperti perbandingan karya penipu yang melontarkan ocehan gila ini dengan karya ahli bangunan istana.
NYALA KETIGA
Memiliki tiga Cahaya.
CAHAYA PERTAMA
Suatu segi besar i'jaz Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat telah dijelaskan dalam Kalimat Ketiga Belas. Ia dimasukkan pada maqam ini agar berada di antara segi-segi i'jaz lain yang bersaudara dengannya. Jika engkau ingin melihat dan merasakan bahwa setiap ayat Al-Qur'an seperti bintang yang menembus gelap, menyebarkan cahaya i'jaz serta petunjuk dan membuyarkan gelap kekafiran serta kelalaian, bayangkan dirimu pada zaman jahiliah dan padang Badui sebelum turunnya Al-Qur'an. Saat itu, segala sesuatu berada di bawah gelap kebodohan dan kelalaian, terselubung tirai tabiat yang beku. Tiba-tiba, dengarkan dari lisan luhur Al-Qur'an ayat-ayat seperti ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚِ ﺍﻟْﻘُﺪُّﻭﺱِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢِ, lalu lihat: dengan suara ﺳَﺒَّﺢَ ﻳُﺴَﺒِّﺢُ, bagaimana makhluk-makhluk alam yang mati atau tertidur itu hidup kembali dalam pikiran pendengar, terjaga, berdiri, dan berzikir. Dengan seruan ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ, bagaimana bintang-bintang yang semula gumpalan api tak bernyawa di langit gelap serta makhluk yang tercerai di bumi tampil di hadapan pendengar: langit sebagai mulut, seluruh bintang sebagai kata yang menunjukkan hikmah dan cahaya yang menyampaikan hakikat, bumi sebagai kepala, daratan serta lautan sebagai lisan, dan semua hewan serta tumbuhan sebagai kata-kata yang menebarkan tasbih. Jika hanya memandang zaman itu dari zaman ini, engkau tidak dapat melihat kehalusan rasa tersebut. Ya, jika melihat dalam keadaan yang sejak masa itu terus menyebarkan cahayanya, yang dengan perjalanan waktu telah menjadi pengetahuan umum, bersinar bersama cahaya Islam lainnya, serta mendapat warna siang dengan matahari Al-Qur'an, atau melalui tirai keakraban yang dangkal dan sederhana, tentu engkau tidak dapat melihat dengan semestinya gelap macam apa yang dibuyarkan oleh setiap ayat dalam lantunan i'jaz yang begitu manis, dan tidak dapat merasakan macam i'jaz ini di antara banyak macamnya. Jika engkau ingin melihat tingkat tertinggi i'jaz Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, pandanglah melalui teropong perumpamaan ini. Bayangkan pohon yang sangat besar dan unik, amat luas membentang serta menakjubkan, tersembunyi dalam lapisan tertutup di bawah tirai gaib yang luas. Diketahui bahwa seperti anggota tubuh manusia, antara seluruh bagian pohon—cabang, buah, daun, serta bunga—harus ada hubungan, kesesuaian, dan keseimbangan. Setiap bagian mendapat bentuk serta rupa sesuai hakikat pohon itu.Jika seseorang muncul mengenai pohon yang belum pernah terlihat dan masih belum terlihat itu, lalu menggambar setiap bagiannya dan menarik suatu batas pada tirai, melukiskan rupa dengan kesesuaian dari cabang ke buah dan dari buah ke daun, serta mengisi jarak antara awal dan akhirnya yang sangat jauh satu sama lain dengan gambar yang sesuai, yang menunjukkan bentuk serta rupa setiap bagiannya, tentu tak ada syubhat bahwa pelukis itu melihat serta meliputi seluruh pohon gaib tersebut dengan pandangan yang mengenal gaib, kemudian menggambarkannya. Demikian pula, penjelasan Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat tentang hakikat segala yang mungkin ada—hakikat pohon penciptaan yang membentang dari awal dunia hingga akhir paling ujung akhirat, tersebar dari Arasy hingga tanah, dari zarah hingga matahari—menjaga kesesuaian dan memberi rupa yang layak bagi setiap bagian serta buahnya dengan begitu sempurna, sehingga semua penyelidik hakikat pada akhir penelitian berkata "Masyaallah, Barakallah" kepada gambaran Al-Qur'an, serta berkata, "Hanya engkau yang menyingkap dan membuka rahasia alam serta teka-teki penciptaan, wahai Al-Qur'an Al-Karim!" ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى—tidak ada salah dalam perumpamaan—Asma dan Sifat-Sifat Ilahi serta Syuun dan Perbuatan-Perbuatan Rabbani diperumpamakan sebagai pohon Tuba bercahaya. Lingkup Keagungan pohon bercahaya itu membentang dari azali hingga abadi. Batas Kebesaran-Nya tersebar dan meliputi ruang tak terbatas yang tak terhingga. Batas Perbuatan-Nya membentang dari lingkup ﻳَﺤُﻮﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻭَﻗَﻠْﺒِﻪ۪ ٭ ﻓَﺎﻟِﻖُ ﺍﻟْﺤَﺐِّ ﻭَﺍﻟﻨَّﻮٰﻯ hingga lingkup ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ ﺑِﻴَﻤ۪ﻴﻨِﻪ۪ ٭ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻓ۪ﻰ ﺳِﺘَّﺔِ ﺍَﻳَّﺎﻡٍ. Ia menjelaskan hakikat-hakikat Asma, Sifat, Syuun, serta Perbuatan pada hakikat bercahaya itu beserta seluruh cabang dan ranting, tujuan dan buahnya, dengan kesesuaian sedemikian rupa sehingga semuanya sesuai, layak satu sama lain, tidak saling mematahkan, tidak merusak ketetapan satu sama lain, dan tidak saling menjauh. Semua ahli kasyaf dan hakikat, serta seluruh ahli makrifat dan hikmah yang menjelajah alam malakut, berkata "Subhanallah" kepada penjelasan Al-Qur'an itu dan membenarkannya, berkata, "Betapa benar, betapa sesuai, betapa indah, betapa layak."Misalnya, ia menggambarkan enam rukun iman, yang memandang seluruh lingkup yang mungkin ada serta lingkup Wujud yang niscaya dan merupakan satu cabang dari kedua pohon besar itu, dengan memperhatikan kesesuaian begitu baik antara buah serta bunga paling halus pada cabang dan ranting rukun-rukun tersebut. Ia mendefinisikannya dengan keseimbangan begitu baik dan memperlihatkannya dalam hubungan begitu kuat sehingga akal manusia tak mampu mencapainya dan takjub akan keindahannya. Bukti bahwa ia menjaga kesesuaian indah, hubungan sempurna, dan keseimbangan penuh antara lima rukun Islam, yang menjadi ranting cabang iman itu, sampai rincian paling halus, adab terkecil, tujuan terjauh, hikmah terdalam, serta buahnya yang juz'i dan paling kecil, adalah keteraturan sempurna, keseimbangan, kesesuaian indah, dan kekokohan syariat agung Islam yang keluar dari teks, segi makna, petunjuk, serta isyarat tersembunyi Al-Qur'an yang menyeluruh itu. Semuanya menjadi saksi adil yang tidak dapat dibantah dan bukti pasti yang tidak menimbulkan syubhat. ~Jadi,
penjelasan Al-Qur'an tidak dapat bertumpu pada ilmu manusia yang juz'i, terutama ilmu seorang ummi. Sebaliknya, ia bertumpu pada Ilmu yang meliputi segala sesuatu dan merupakan Kalam Zat yang dapat melihat seluruh hal sekaligus, menyaksikan semua hakikat antara azali dan abadi dalam satu saat. Kami beriman...
CAHAYA KEDUA
Karena betapa jauh filsafat manusia, yang maju ke medan tandingan terhadap hikmah Al-Qur'an, jatuh di hadapan hikmah itu telah kita gambarkan melalui penjelasan serta perumpamaan dalam Kalimat Kedua Belas, dan dibuktikan dalam Kalimat-Kalimat lain, kita merujuk ke sana. Untuk sekarang, kita membuat perbandingan kecil dari sisi lain. Filsafat dan hikmah manusia memandang dunia sebagai sesuatu yang tetap. Ia membicarakan hakikat dan sifat makhluk secara terperinci. Kalaupun membicarakan tugasnya terhadap Sang Pembuat, ia hanya merangkumnya. Seolah ia hanya membicarakan corak serta huruf kitab alam, tanpa memedulikan maknanya. Al-Qur'an memandang dunia sebagai sesuatu yang lewat, mengalir, menipu, bergerak, tidak tetap, dan terus berubah. Ia membicarakan hakikat makhluk serta sifat lahiriah dan jasmaninya secara ringkas, tetapi menyebutkan secara terperinci tugas-tugas ubudiyah yang diberikan Sang Pembuat, bagaimana serta dari sisi mana makhluk menunjukkan Nama-Nama Sang Pembuat, dan ketundukannya kepada Perintah-Perintah penciptaan Ilahi. Kita akan melihat perbedaan filsafat manusia dengan hikmah Al-Qur'an dari segi merinci dan merangkum ini, agar melihat mana yang murni haq dan tepat merupakan hakikat. Jam di tangan kita tampak tetap secara lahiriah, tetapi di dalamnya terdapat guncangan terus-menerus serta gerak gelisah alat dan roda akibat perputaran roda-rodanya. Demikian pula, dunia ini, jam besar Kudrat Ilahi, bersama keadaan lahiriahnya yang tetap, terus bergulir dalam guncangan dan perubahan, dalam keadaan fana serta lenyap. Ya, karena waktu masuk ke dunia, malam dan siang seperti satu jarum berkepala dua yang menghitung detik jam besar itu. Tahun seperti jarum yang menghitung menitnya. Abad adalah jarum yang menghitung jamnya. Waktu melemparkan dunia ke atas gelombang lenyap, menyerahkan seluruh masa lalu serta masa depan kepada keadaan tidak ada, dan meninggalkan hanya masa sekarang dalam wujud. Bersama bentuk yang diberikan waktu kepada dunia ini, dari segi tempat pun dunia seperti jam yang berguncang dan tidak tetap. Sebab, ruang udara cepat berubah dan segera beralih dari satu keadaan ke keadaan lain; pada hari tertentu ia beberapa kali penuh dengan awan lalu kosong, memberi perubahan seperti berubahnya jarum penghitung detik.Adapun tempat bumi, lantai rumah dunia, permukaannya sangat cepat berubah dari segi mati dan hidup, tumbuhan dan hewan. Seperti jarum penghitung menit, ia menunjukkan bahwa sisi dunia ini berlalu. Sebagaimana pada permukaannya, melalui perubahan serta gempa di perutnya dan munculnya gunung serta tanah amblas sebagai hasilnya, ia menunjukkan seperti jarum penghitung jam bahwa sisi dunia ini lewat dengan lambat. Ruang langit, atap rumah dunia, juga menunjukkan perubahan melalui gerak benda langit, munculnya komet, gerhana matahari serta bulan, dan jatuhnya bintang. Ini menunjukkan bahwa langit pun tidak tetap, tetapi menuju tua serta hancur. Memang, perubahannya lambat dan terlambat, seperti jarum penghitung hari pada jam mingguan. Namun, ia tetap menunjukkan bahwa dirinya lewat serta menuju lenyap dan hancur. Dunia, dari segi dunianya, dibangun di atas tujuh penyangga ini. Penyangga-penyangga itu terus mengguncangkannya. Namun, ketika dunia yang berguncang dan bergerak ini memandang Sang Pembuatnya, gerak serta perubahan itu adalah bekerjanya Pena Kudrat untuk menulis surat-surat Allah subhânahu Yang Samad. Perubahan keadaan itu adalah cermin-cermin yang diperbarui, yang menunjukkan Pancaran Syuunat Asma Ilahi melalui gambaran yang berbeda. Jadi, dari segi dunianya, dunia menuju lenyap, berlari menuju mati, dan berada dalam guncangan. Meski sebenarnya berlalu seperti air mengalir, karena lalai ia tampak beku. Dengan pemikiran yang menganggap tabiat sebagai penyebab, ia menjadi padat serta keruh dan menjadi tirai bagi akhirat. Melalui kajian filsafat dan hikmah alam, hiburan menarik peradaban yang bejat, serta hasratnya yang mabuk, filsafat yang sakit menambah bekunya dunia ini dan menebalkan kelalaian, menggandakan keruhnya, serta membuat Sang Pembuat dan akhirat terlupakan. Adapun Al-Qur'an, melalui ayat-ayat ﺍَﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﻭَﻗَﻌَﺖِ ﺍﻟْﻮَﺍﻗِﻌَﺔُ ٭ ﻭَ ﺍﻟﻄُّﻮﺭِ ﻭَ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣَﺴْﻄُﻮﺭٍ, menguraikan dunia ini dari segi dunianya seperti kapas yang dipisahkan lalu dilemparkan. Dengan penjelasan seperti ﺍَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ ﻣَﻠَﻜﻮُﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ٭ ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻒَ ﺑَﻨَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ٭ ﺍَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُٓﻭﺍ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ, ia memberi kejernihan kepada dunia dan menghilangkan keruhnya. Melalui cahaya-cahaya yang menebarkan terang seperti ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَٓﺎ اِلَّا ﻟَﻌِﺐٌ ﻭَ ﻟَﻬْﻮٌ, ia mencairkan dunia yang beku. Dengan ungkapan-ungkapan berlumur kematian ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ, ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ, dan ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﺸَﻘَّﺖْ ٭ ﻭَﻧُﻔِﺦَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﻮﺭِ ﻓَﺼَﻌِﻖَ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَﻣَﻦْ ﻓِﻰ الْاَرْضِ اِلَّا ﻣَﻦْ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ, ia memecahkan bayangan bahwa dunia kekal. ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻳَﻠِﺞُ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺰِﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﺮُﺝُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺍَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼ۪ﻴﺮٌ ٭ ﻭَﻗُﻞِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺳَﻴُﺮ۪ﻳﻜُﻢْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻓَﺘَﻌْﺮِﻓُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺭَﺑُّﻚَ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ٭ Dengan seruan seperti guruh, ia membuyarkan kelalaian yang melahirkan pemikiran yang menganggap tabiat sebagai penyebab. Ayat-ayat Al-Qur'an dari awal hingga akhir yang mengarah kepada alam berjalan menurut dasar ini.Ia membuka dan menunjukkan hakikat dunia sebagaimana adanya. Dengan menunjukkan betapa buruk dunia yang buruk, ia memalingkan wajah manusia darinya. Ia menunjukkan wajah indah dunia yang indah, yang memandang Sang Pembuat, dan membuat mata manusia tertuju kepadanya. Ia mengajarkan hikmah sejati serta makna kitab alam, dan hanya sedikit memandang huruf serta coraknya. Ia tidak membuat orang mencintai yang buruk, melupakan makna, dan menghabiskan waktu dalam hal sia-sia melalui corak huruf, seperti filsafat yang mabuk.
CAHAYA KETIGA
Dalam Cahaya Kedua, kita menunjukkan jatuhnya hikmah manusia di hadapan hikmah Al-Qur'an dan i'jaz hikmah Al-Qur'an. Kini, dalam Cahaya ini, kita akan menunjukkan tingkat hikmah para insan suci, wali, serta kaum Isyraqiyyun, bagian filsuf yang bercahaya, yang merupakan murid Al-Qur'an, dibanding hikmah Al-Qur'an, lalu memberi petunjuk singkat tentang i'jaz Al-Qur'an dari sisi ini. Dalil paling setia bagi kemuliaan Al-Qur'an Al-Hakîm, bukti paling jelas bagi kebenarannya, dan tanda paling kuat bagi i'jaznya ialah: Al-Qur'an menjelaskan seluruh tingkat semua macam tauhid dengan menjaga seluruh tuntutannya, tanpa merusak keseimbangannya, justru menjaganya. Ia juga menjaga keseimbangan seluruh Hakikat Ilahi yang luhur. Ia mengumpulkan semua ketetapan yang dituntut Asmaul Husna dan menjaga kesesuaiannya. Ia juga mengumpulkan Syuunat Rububiyah serta Keilahian dengan keseimbangan sempurna. Penjagaan, keseimbangan, dan pengumpulan ini adalah suatu sifat yang pasti tidak terdapat pada karya manusia atau hasil pemikiran tokoh-tokoh manusia terbesar. Ia tidak terdapat pada karya wali yang masuk ke alam malakut; tidak pada kitab kaum Isyraqiyyun yang masuk ke batin segala perkara; tidak pula pada pengetahuan makhluk ruhani yang menembus alam gaib. Seolah terjadi pembagian kerja: setiap kelompok hanya berpegang pada satu atau dua cabang pohon hakikat yang amat besar, dan hanya mengurus buah serta daunnya. Ia tidak mengetahui atau tidak memandang yang lain. Ya, hakikat mutlak tidak dapat diliputi oleh pandangan yang terikat. Diperlukan pandangan menyeluruh seperti Al-Qur'an untuk meliputinya. Selain Al-Qur'an, meski menerima pelajaran dari Al-Qur'an, mereka dengan pikiran yang juz'i hanya melihat satu atau dua sisi hakikat menyeluruh secara penuh, lalu mengurus dan terkurung di dalamnya. Dengan terlalu berlebih atau terlalu kurang, ia merusak keseimbangan hakikat serta menghilangkan kesesuaiannya. Hakikat ini telah dijelaskan dengan perumpamaan menakjubkan dalam Cabang Kedua Kalimat Kedua Puluh Empat. Kini, kita menunjukkan persoalan ini dengan perumpamaan lain. Misalnya, bayangkan di laut terdapat harta terpendam yang berisi macam-macam permata tak terhitung. Para penyelam turun untuk mencari permatanya. Karena mata mereka tertutup, mereka mengenalinya dengan meraba. Sebagian mendapatkan berlian panjang. Penyelam itu memutuskan bahwa seluruh khazanah terdiri dari berlian seperti tiang panjang.Ketika mendengar dari teman-temannya tentang permata lain, ia membayangkan semuanya hanyalah bagian pengikut, ukiran, dan corak berlian yang ditemukannya. Sebagian penyelam lain mendapatkan batu delima bulat; yang lain menemukan ambar persegi, dan seterusnya. Masing-masing meyakini permata yang dikenalnya dengan tangan sebagai dasar serta bagian terbesar khazanah itu, dan menganggap yang didengarnya sebagai tambahan serta rincian. Saat itu, keseimbangan hakikat rusak, kesesuaian hilang, dan warna banyak hakikat berubah. Untuk melihat warna hakikat yang sejati, ia terpaksa menafsirkan dan memaksakan. Bahkan, terkadang mereka sampai menyangkal dan meniadakan. Orang yang merenungkan kitab para filsuf Isyraqiyyun, serta kitab para ahli tasawuf yang mempercayai penglihatan batin dan hal-hal yang disaksikan langsung tanpa menimbangnya dengan timbangan Sunnah, akan membenarkan ketetapan kita ini tanpa syubhat. Jadi, meski menerima hakikat sejenis dari Al-Qur'an dan mengambilnya dari pelajaran Al-Qur'an, karena mereka bukan Al-Qur'an, hasilnya tetap kurang seperti ini. Ayat-ayat Al-Qur'an, lautan hakikat, juga merupakan penyelam harta terpendam dalam lautan itu. Namun, mata mereka terbuka dan meliputi seluruh harta; mereka melihat semua yang ada di dalamnya. Mereka menggambarkan dan menjelaskan khazanah itu dengan kesesuaian, keteraturan, serta keserasian yang memperlihatkan keindahan sejatinya. Misalnya, sebagaimana melihat Keagungan Rububiyah yang diungkapkan ayat وَالْاَرْضُ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ ﻗَﺒْﻀَﺘُﻪُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ ﺑِﻴَﻤ۪ﻴﻨِﻪ۪ ٭ ﻳَﻮْﻡَ ﻧَﻄْﻮِﻯ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﻛَﻄَﻰِّ ﺍﻟﺴِّﺠِﻞِّ ﻟِﻠْﻜُﺘُﺐِ, ia juga melihat serta menunjukkan Rahmat yang meliputi, yang diungkapkan ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﺨْﻔٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﻰْﺀٌ ﻓِﻰ الْاَرْضِ وَلَا ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﺼَﻮِّﺭُﻛُﻢْ ﻓِﻰ الْاَرْحَامِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ ٭ ﻭَﻛَﺎَﻳِّﻦْ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ لَا ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﺭِﺯْﻗَﻬَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻬَﺎ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ. Sebagaimana melihat serta menunjukkan luasnya Penciptaan yang diungkapkan ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﻨُّﻮﺭَ, ia juga melihat serta menunjukkan Pengaturan yang meliputi dan Rububiyah yang mencakup, yang diungkapkan ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ. Ia melihat serta menunjukkan hakikat agung yang diungkapkan ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ, hakikat penuh Kemurahan yang diungkapkan ﻭَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺤْﻞِ, dan hakikat agung yang penuh kuasa memerintah yang diungkapkan ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻭَﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡَ ﻣُﺴَﺨَّﺮَﺍﺕٍ ﺑِﺎَﻣْﺮِﻩ۪. Ia melihat serta menunjukkan hakikat penuh Rahmat dan Pengaturan yang diungkapkan ﺍَﻭَ ﻟَﻢْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﺻَٓﺎﻓَّﺎﺕٍ ﻭَﻳَﻘْﺒِﻀْﻦَ ﻣَﺎ ﻳُﻤْﺴِﻜُﻬُﻦَّ اِلَّا ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦُ ﺍِﻧَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺑَﺼ۪ﻴﺮٌ, hakikat agung yang diungkapkan ﻭَﺳِﻊَ ﻛُﺮْﺳِﻴُّﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ وَلَا ﻳَﺆُﺩُﻩُ ﺣِﻔْﻈُﻬُﻤَﺎ, hakikat Pengawasan yang diungkapkan ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺍَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ, hakikat yang meliputi yang diungkapkan ﻫُﻮَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ ﻭَﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ, Kedekatan yang diungkapkan ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻭَﻧَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗُﻮَﺳْﻮِﺱُ ﺑِﻪ۪ ﻧَﻔْﺴُﻪُ ﻭَ ﻧَﺤْﻦُ ﺍَﻗْﺮَﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭ۪ﻳﺪِ, hakikat luhur yang ditunjukkan ﺗَﻌْﺮُﺝُ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻓ۪ﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻘْﺪَﺍﺭُﻩُ ﺧَﻤْﺴ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔٍ, serta hakikat menyeluruh yang diungkapkan ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﺎْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ وَالْاِحْسَانِ ﻭَﺍ۪ﻳﺘَٓﺎﺉِ ﺫِﻯ ﺍﻟْﻘُﺮْﺑٰﻰ ﻭَﻳَﻨْﻬٰﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻔَﺤْﺸَٓﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍﻟْﺒَﻐْﻰِ. Demikian pula, ia melihat serta menunjukkan setiap dari enam rukun iman secara terperinci, semua segi akhirat dan dunia, ilmu dan amal; setiap dari lima rukun Islam dengan sengaja serta sungguh-sungguh; dan seluruh dasar yang menjamin kebahagiaan dua negeri. Dengan menjaga keseimbangan dan mempertahankan kesesuaiannya, suatu i'jaz makna Al-Qur'an lahir dari sumber keindahan yang muncul dari kesesuaian keseluruhan hakikat tersebut.Karena rahasia agung inilah, meski ulama ilmu kalam merupakan murid Al-Qur'an dan telah menulis ribuan karya tentang rukun iman, sebagian masing-masing sepuluh jilid, mereka tidak dapat mengungkapkan dengan jelas, membuktikan secara pasti, serta meyakinkan dengan sungguh-sungguh sebaik sepuluh ayat Al-Qur'an, karena seperti Mu'tazilah mereka mengutamakan akal daripada dalil naqli. Seolah mereka membuat terowongan di bawah gunung jauh, pergi melalui pipa dan rangkaian sebab hingga ujung alam, lalu memutus rangkaian di sana. Setelah itu, mereka membuktikan makrifat Ilahi yang seperti air kehidupan serta Wujud Wâjibul Wujûd. Adapun setiap ayat mulia seperti tongkat Musa: dapat mengeluarkan air di mana pun, membuka jendela dari setiap hal, dan memperkenalkan Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Dalam Katre Risalesi berbahasa Arab, yang mengalir dari lautan Al-Qur'an, serta dalam Kalimat-Kalimat lainnya, hakikat ini telah dibuktikan dan kita perlihatkan secara nyata. Karena rahasia ini pula, para pemimpin kelompok sesat, yang masuk ke batin perkara, tidak mengikuti Sunnah yang mulia, mempercayai yang disaksikannya, kembali dari tengah jalan, memimpin suatu kelompok, lalu membentuk golongan, tidak mampu menjaga kesesuaian serta keseimbangan hakikat. Karena itu, mereka jatuh ke bidah dan kesesatan serta membawa suatu kelompok manusia ke jalan salah. Seluruh keadaan tak berdaya mereka menunjukkan i'jaz ayat-ayat Al-Qur'an.