Risalah Nur — Bahasa Indonesia

CATATAN KETUJUH

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

CATATAN KETUJUH

Wahai orang malang yang memamerkan semangat membela bangsa, yang sangat mendorong kaum Muslim kepada dunia serta memaksa mereka menuju keterampilan dan kemajuan orang asing! Perhatikan agar ikatan sebagian orang dari bangsa ini dengan agama tidak terputus! Jika karena pukulan gada yang bodoh dan membuta semacam ini ikatan sebagian orang dengan agama terputus, orang-orang tanpa agama itu akan membahayakan kehidupan sosial seperti racun yang mematikan. Sebab, nurani orang murtad telah rusak sepenuhnya sehingga menjadi racun bagi kehidupan sosial. Karena itulah, dalam ilmu usul, "Orang murtad tidak mempunyai hak hidup. Orang kafir mempunyai hak hidup jika menjadi zimi atau mengadakan perdamaian," merupakan salah satu prinsip dasar syariat. Dalam mazhab Hanafi, kesaksian orang kafir yang termasuk kaum zimi juga diterima. Namun, orang fasik ditolak kesaksiannya, sebab ia berkhianat.

Wahai orang fasik yang malang! Jangan tertipu dengan melihat banyaknya orang fasik dan jangan mengatakan, "Pikiran mayoritas bersamaku." Sebab, orang fasik tidak memasuki kefasikan dengan menginginkan dan mencarinya sendiri; ia justru terjatuh ke dalamnya dan tidak dapat keluar. Setiap orang fasik berharap menjadi saleh dan ingin melihat atasannya serta pemimpinnya sebagai orang yang taat beragama. Kecuali jika, el-iyazü billah, nuraninya membusuk karena murtad sehingga ia menikmati meracuni seperti ular.

Wahai kepala yang gila dan hati yang rusak! Apakah engkau mengira, "Kaum Muslim tidak mencintai atau tidak memikirkan dunia, sehingga mereka jatuh miskin dan perlu diingatkan agar tidak melupakan bagiannya dari dunia"? Sangkamu salah dan perkiraanmu keliru. Justru ketamakan telah menjadi kuat, sehingga mereka jatuh miskin. Sebab, pada seorang mukmin, ketamakan merupakan sebab kerugian dan kemelaratan.

ﺍَﻟْﺤَﺮ۪ﻳﺺُ ﺧَﺎﺋِﺐٌ ﺧَﺎﺳِﺮٌ

telah menjadi semacam peribahasa.

Ya, banyak sebab yang mengajak dan menggiring manusia kepada dunia. Terutama, nafsu, keinginan, kebutuhan, indra, perasaan, setan yang menggodanya, manisnya dunia secara lahir, serta kawan-kawan buruk seperti engkau menjadi berbagai pengajaknya. Namun, yang mengajak kepada akhirat yang kekal dan kehidupan panjang yang kekal selamanya sedikit. Jika engkau mempunyai semangat membela bangsa yang malang ini sebesar zarah dan pengakuanmu tentang cita-cita luhur bukanlah dusta, engkau perlu membantu sedikit pengajak yang menolong manusia menuju kehidupan yang kekal. Jika engkau malah membungkam pengajak yang sedikit itu dan membantu yang banyak, engkau menjadi kawan setan.

Apakah engkau mengira kemiskinan bangsa ini timbul dari sikap zuhud yang datang dari agama dan kemalasan yang datang dari meninggalkan dunia? Engkau keliru dalam sangkaan ini. Tidakkah engkau melihat bahwa bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaan Eropa, seperti kaum Majusi dan Brahmana di Cina dan India, serta orang-orang kulit hitam di Afrika, lebih miskin daripada kami?

Tidakkah engkau juga melihat bahwa kaum Muslim hanya dibiarkan memiliki makanan pokok yang diperlukan? Orang-orang kafir yang zalim dari Eropa atau orang-orang munafik dari Asia mencuri atau merampasnya melalui tipu daya mereka.

Jika tujuan kalian memaksa orang-orang beriman menuju peradaban yang hina—medeniyet tanpa mim—semacam ini ialah menciptakan ketertiban dan keamanan di negeri serta memudahkan pemerintahan, ketahuilah dengan pasti bahwa kalian keliru dan menggiring mereka ke jalan yang salah. Sebab, memerintah seratus orang fasik yang keyakinannya terguncang dan akhlaknya rusak, serta menciptakan ketertiban di antara mereka, lebih sulit daripada memerintah ribuan orang saleh.

Berdasarkan landasan-landasan ini, umat Islam tidak perlu digiring dan didorong menuju dunia serta ketamakan. Kemajuan dan ketertiban tidak dapat dijamin dengan cara ini. Mereka justru memerlukan usaha yang teratur, rasa saling percaya yang terbangun di antara mereka, serta kemudahan untuk menjalankan prinsip saling menolong. Kebutuhan ini dipenuhi melalui perintah-perintah suci agama, takwa, dan keteguhan dalam beragama.

CATATAN KEDELAPAN

Wahai manusia malas yang tidak mengetahui kenikmatan dan kebahagiaan dalam usaha serta amal! Ketahuilah bahwa karena Kemurahan⁠-⁠Nya yang sempurna, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah menempatkan balasan khidmah di dalam khidmah itu sendiri. Dia menempatkan upah amal di dalam amal itu sendiri. Karena rahasia inilah, seluruh yang ada, bahkan benda-benda mati dari suatu sudut pandang, menaati Perintah Rabb dalam tugas-tugas khususnya yang disebut perintah-perintah penciptaan, dengan semangat yang sempurna dan suatu jenis kenikmatan. Dari lebah, lalat, dan ayam sampai matahari dan bulan, segala sesuatu berusaha menjalankan tugasnya dengan penuh kenikmatan. Jadi, ada kenikmatan dalam khidmah mereka. Karena tidak mempunyai akal, mereka menjalankan tugas dengan sempurna tanpa memikirkan akibat dan hasilnya.

Jika engkau berkata:

Kenikmatan mungkin terdapat pada makhluk hidup. Bagaimana semangat dan kenikmatan dapat terdapat pada benda-benda mati?

Jawaban:

Benda-benda mati menginginkan dan mencari kehormatan, kedudukan, kesempurnaan, keindahan, dan keteraturan, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi Asma Allah سُبْحَانَهُ yang bertajalli padanya. Ketika menaati tugas fitrahnya, mereka menjadi tempat memantul dan cermin bagi Nama-nama Sang Nûr segala nur, sehingga mereka bercahaya dan maju. Misalnya, setetes air dan pecahan kaca yang sangat kecil pada dirinya sendiri tidak bercahaya dan tidak berarti. Namun, jika dengan hati yang jernih mereka menghadapkan wajah kepada matahari, tetes dan pecahan kaca yang semula tidak berarti dan tidak bercahaya itu menjadi semacam singgasana matahari, bahkan tersenyum kepadamu.

Seperti dalam contoh ini, zarah-zarah dan seluruh yang ada menjadi cermin bagi Nama-nama Zat Dzul-Jalâl, Pemilik Keindahan Mutlak dan Kesempurnaan Mutlak, melalui ketekunannya menjalankan tugas. Dengan demikian, seperti tetes air dan serpihan kaca kecil itu, mereka naik dari tingkat yang sangat rendah ke tingkat tampak dan bercahaya yang sangat tinggi. Karena melalui tugas mereka memperoleh kedudukan yang sangat bercahaya dan tinggi, dapat dikatakan bahwa mereka menjalankan tugas itu dengan penuh kenikmatan jika kenikmatan mungkin dan dapat ada pada mereka, yakni jika mereka mendapat bagian dari kehidupan umum.

Bukti paling jelas bahwa terdapat kenikmatan dalam tugas ialah khidmah organ-organ dan perasaanmu sendiri. Perhatikanlah. Masing-masing mempunyai kenikmatan tersendiri dalam khidmahnya untuk menjaga agar individu dan jenis tetap bertahan. Khidmah itu sendiri menjadi suatu kenikmatan bagi mereka. Bahkan, meninggalkan khidmah merupakan sejenis azab bagi organ itu.

Bukti yang paling jelas lainnya ialah sikap rela berkorban dan berani yang diperlihatkan hewan, seperti ayam jantan atau induk ayam yang mempunyai anak, dalam menjalankan tugasnya. Meskipun lapar, ayam jantan mendahulukan ayam-ayam betina daripada dirinya sendiri. Ia memanggil mereka kepada rezeki yang ditemukannya, tidak memakannya, dan membiarkan mereka makan. Tampak bahwa ia menjalankan tugas itu dengan semangat, rasa bangga, dan kenikmatan. Jadi, dalam khidmah tersebut ia memperoleh kenikmatan yang lebih besar daripada makan.

Induk ayam yang menggembalakan anak-anaknya yang kecil juga mengorbankan nyawa demi mereka dan menerjang anjing. Ia membiarkan dirinya lapar dan mengenyangkan mereka. Jadi, dalam khidmah itu ia memperoleh kenikmatan yang mengungguli dan melebihi pedihnya lapar serta derita kematian. Induk-induk hewan berusaha melindungi anaknya dengan nikmat ketika mereka masih kecil, karena saat itu tugasnya masih ada. Setelah anaknya besar, tugas tersebut berakhir dan kenikmatan pun hilang. Ia memukul anaknya dan mengambil biji dari anak itu. Hanya tugas para ibu pada jenis manusia yang berlanjut sampai taraf tertentu. Sebab, karena lemah dan tak berdaya, manusia selalu mempunyai sejenis sifat kanak-kanak dan setiap saat membutuhkan kasih sayang.

Perhatikan hewan-hewan jantan yang menggembalakan, seperti ayam jantan, serta induk-induk seperti ayam betina. Pahamilah bahwa mereka tidak menjalankan tugas itu untuk dirinya sendiri, atas nama dirinya sendiri, atau demi kesempurnaan dirinya. Sebab, jika diperlukan dalam tugas, mereka mengorbankan hidupnya. Sebaliknya, mereka menjalankan tugas demi Sang Pemberi Nikmat Yang Karîm, yang menugaskan mereka dan menempatkan suatu kenikmatan di dalam tugas itu dengan Rahmat⁠-⁠Nya, serta atas Nama Sang Fâthir Dzul-Jalâl.

Bukti lain bahwa upah terdapat dalam khidmah itu sendiri ialah bahwa tumbuhan dan pepohonan menaati Perintah Sang Fâthir Dzul-Jalâl dengan sikap yang memberi kesan semangat dan kenikmatan. Sebab, aroma harum yang mereka sebarkan, hiasan yang memperindah diri mereka untuk menarik perhatian para pembeli, dan pengorbanan diri sampai membusuk demi bulir dan buahnya memperlihatkan kepada orang yang memperhatikan bahwa mereka memperoleh kenikmatan dalam menaati Perintah Allah سُبْحَانَهُ sedemikian rupa sehingga mereka melenyapkan dan membusukkan dirinya sendiri.

Perhatikan pohon-pohon berbuah seperti kelapa dan ara yang membawa banyak kaleng susu di atas kepalanya. Dengan bahasa keadaan, mereka meminta makanan terbaik seperti susu dari khazanah Rahmat, menerimanya, lalu memberikannya sebagai makanan kepada buah-buahnya; mereka sendiri memakan lumpur. Pohon delima menerima minuman jernih dari khazanah Rahmat dan memberikannya kepada buahnya, sedangkan dirinya sendiri berkanaah dengan air yang berlumpur dan keruh.

Bahkan, pada biji-bijian tampak kerinduan yang jelas dalam tugas menghasilkan bulir. Sebagaimana seseorang yang terkurung di tempat sempit ingin dengan penuh rindu keluar ke kebun atau tempat yang luas, demikian pula pada biji-bijian tampak keadaan yang begitu gembira dan penuh rindu dalam tugas menghasilkan bulir.

Dari prinsip panjang yang penuh rahasia dan berlaku di kainat, yang disebut "sunatullah" ini, orang-orang yang menganggur, malas, hidup dengan istirahat, dan berbaring di ranjang yang nyaman umumnya mengalami kesusahan dan kesulitan lebih banyak daripada orang-orang yang berusaha dan bekerja. Sebab, orang yang menganggur selalu mengeluhkan umurnya dan ingin agar umur itu cepat berlalu melalui hiburan. Adapun orang yang berusaha dan bekerja bersyukur dan memuji Allah سُبْحَانَهُ; ia tidak ingin umurnya berlalu.

ﺍَﻟْﻤُﺴْﺘَﺮ۪ﻳﺢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻃِﻞُ ﺷَﺎﻙٍ ﻣِﻦْ ﻋُﻤْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋِﻰُ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻞُ ﺷَﺎﻛِﺮٌ

merupakan prinsip yang menyeluruh. Karena rahasia ini pula, kalimat "Kenyamanan ada dalam kesusahan; kesusahan ada dalam kenyamanan" telah menjadi peribahasa.

Ya, jika benda-benda mati diperhatikan dengan saksama, tampak suatu sikap yang sesuai dengan prinsip sunatullah tersebut ketika hal-hal yang belum berkembang dan hanya tinggal sebagai potensi serta kemampuan yang belum sempurna berkembang dengan usaha dan kerja yang sungguh-sungguh, lalu beralih dari potensi menjadi kenyataan. Sikap itu mengisyaratkan bahwa dalam tugas fitrahnya terdapat semangat dan dalam perkara itu terdapat kenikmatan. Jika benda mati tersebut mempunyai bagian dari kehidupan umum, semangat itu menjadi miliknya sendiri. Jika tidak, semangat itu milik sesuatu yang mewakili dan mengawasinya.

Bahkan, berdasarkan rahasia ini dapat dikatakan: Ketika air yang halus dan lembut menerima perintah untuk membeku, ia menaati perintah itu dengan semangat begitu kuat sehingga membelah dan memecahkan besi. Jadi, ketika Perintah Rabb, "Mengembanglah!" disampaikan melalui bahasa dingin dan suhu di bawah nol kepada air dalam wadah besi yang tertutup, air itu memecahkan wadahnya dan merusak besinya dengan semangat yang kuat, lalu menjadi es. Demikian seterusnya...

Bandingkan segala sesuatu dengan ini. Dari perputaran matahari-matahari serta gerak dan perjalanannya sampai berputar, berkeliling, dan bergetarnya zarah-zarah seperti seorang darwis Mevlevi, seluruh usaha dan gerak di kainat berlangsung menurut Hukum Takdir Allah سُبْحَانَهُ. Semuanya tampak melalui Perintah Penciptaan yang datang dari Kudrat Allah سُبْحَانَهُ dan mengandung Iradah, Perintah, serta Ilmu⁠-⁠Nya.

Bahkan, setiap zarah, setiap yang ada, dan setiap makhluk hidup menyerupai seorang prajurit. Sebagaimana prajurit itu mempunyai hubungan dan tugas yang berbeda dalam berbagai lingkup tentara, demikian pula setiap zarah dan setiap makhluk hidup. Misalnya, sebuah zarah dalam matamu mempunyai hubungan tertentu di sel mata, di mata, di saraf-saraf wajah, dan di pembuluh darah tubuh yang disebut arteri. Sesuai setiap hubungan itu, ia mempunyai tugas, dan sesuai tugas tersebut, ia mempunyai manfaat. Demikian seterusnya, bandingkan segala sesuatu dengannya.

Berdasarkan hal ini, segala sesuatu bersaksi dari dua segi bahwa Sang Qadîr Yang Azali adalah Wâjibul Wujûd:

Yang pertama:

Melalui bahasa kelemahan mutlaknya dalam menjalankan tugas-tugas yang ribuan tingkat melampaui kemampuannya, ia bersaksi tentang Wujud Sang Qadîr.

Yang kedua:

Dengan menyesuaikan geraknya pada prinsip-prinsip yang membentuk tatanan alam dan hukum-hukum yang mempertahankan keseimbangan seluruh yang ada, segala sesuatu bersaksi tentang Sang 'Alîm Yang Qadîr.

Sebab, benda mati seperti zarah dan hewan kecil seperti lebah tidak mengetahui tatanan serta keseimbangan, yang merupakan persoalan-persoalan penting dan halus dalam Kitâb Mubîn. Betapa jauh jarak antara zarah yang mati atau hewan kecil seperti lebah dengan kemampuan membaca persoalan-persoalan penting dan halus dalam Kitâb Mubîn dalam Kekuasaan Zat Dzul-Jalâl, Yang membuka lapisan-lapisan langit seperti lembaran buku, menutupnya, dan melipatnya! Jika engkau berbuat gila dan membayangkan bahwa zarah mempunyai mata yang mampu membaca huruf-huruf halus kitab itu, barulah engkau dapat berusaha menolak kesaksian zarah tersebut.

Ya, Sang Fâthir Yang Hakîm merangkum dan menempatkan prinsip-prinsip Kitâb Mubîn dengan cara yang sangat indah dan singkat di dalam suatu kenikmatan khusus dan kebutuhan tertentu. Jika segala sesuatu bertindak dengan kenikmatan khusus dan kebutuhan tertentu itu, ia menaati prinsip-prinsip Kitâb Mubîn tanpa mengetahuinya.

Misalnya, begitu lahir ke dunia, nyamuk yang berbelalai keluar dari rumahnya. Tanpa berhenti, ia menyerang wajah manusia, memukul dengan tongkat panjangnya, membuat air kehidupan memancar, lalu meminumnya. Dalam menghindari serangan, ia menunjukkan keterampilan seperti seorang ahli strategi perang. Siapakah yang mengajarkan keterampilan ini, ilmu perang ini, dan keterampilan mengeluarkan air kepada makhluk kecil yang belum berpengalaman dan baru lahir ke dunia ini? Di manakah ia mempelajarinya? Aku, yakni Said yang malang ini, mengakui bahwa seandainya aku berada di tempat nyamuk yang berbelalai itu, aku hanya dapat mempelajari keterampilan tersebut, perang dengan serangan dan mundur itu, serta khidmah mengeluarkan air melalui pelajaran yang sangat panjang dan pengalaman yang sangat banyak.

Bandingkan hewan-hewan yang menerima ilham, seperti lebah, laba-laba, dan burung bulbul yang membuat sarangnya seperti kaus kaki, dengan nyamuk ini. Bahkan, engkau dapat membandingkan tumbuhan dengan hewan dengan cara yang sama.

Ya, Sang Jawwâd Mutlak (Celle Celaluhu) memberikan kepada setiap individu makhluk hidup sebuah surat keterangan yang ditulis dengan tinta kenikmatan dan tinta kebutuhan. Melaluinya, Dia menyerahkan program perintah-perintah penciptaan dan daftar khidmah mereka. Perhatikan Sang Hakîm Dzul-Jalâl: Betapa Dia menulis bagian dari prinsip-prinsip Kitâb Mubîn yang berkaitan dengan tugas lebah pada suatu surat keterangan, lalu meletakkannya dalam kotak kecil di kepala lebah. Kunci kotak kecil itu ialah suatu kenikmatan yang khusus bagi lebah yang tekun menjalankan tugas. Dengan kunci itu, lebah membuka kotaknya, membaca programnya, memahami perintah, dan bergerak. Ia menampakkan rahasia ayat

ﻭَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺤْﻞِ.

Jika engkau telah mendengar Catatan Kedelapan ini sepenuhnya dan memahaminya dengan utuh, melalui pandangan intuitif iman engkau akan memahami satu rahasia

ﻭَﺳِﻌَﺖْ ﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ,

satu hakikat

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪,

satu prinsip

ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ,

dan satu butir hikmah

ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ.

CATATAN KESEMBILAN

Ketahuilah bahwa kenabian pada umat manusia merupakan rangkuman dan dasar kebaikan serta kesempurnaan manusia. Agama yang benar merupakan daftar kebahagiaan. Iman adalah keindahan yang suci dan murni. Karena di alam ini tampak keindahan yang terang, kebaikan yang luas dan tinggi, kebenaran yang nyata, serta kesempurnaan yang unggul, tentu dengan jelas kebenaran dan hakikat berada dalam kenabian dan di tangan para nabi. Kesesatan, keburukan, dan kerugian berada pada pihak yang melawannya.

Dari ribuan keindahan ubudiyah, perhatikan hal ini saja: Melalui ubudiyah, Nabi ﷺ menyatukan hati orang-orang yang bertauhid dalam salat Id, salat Jumat, dan salat berjemaah, serta menghimpun lidah mereka dalam satu ucapan. Dengan demikian, manusia ini menyambut Keagungan Seruan Sang Ma'bûd Yang Azali dengan suara, doa, dan zikir yang keluar dari hati serta lidah yang tak terhitung. Suara, doa, dan zikir itu saling menopang, membantu, dan bersatu, lalu dengan cara yang begitu luas memperlihatkan ubudiyah kepada Keilahian Sang Ma'bûd Yang Azali. Seolah-olah bumi sendiri mengucapkan zikir itu, memanjatkan doa itu, dan melaksanakan salat dengan seluruh penjurunya. Dengan seluruh sisinya, bumi menaati Perintah

ﺍَﻗ۪ﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠٰﻮﺓَ

yang turun dengan Kemuliaan dan Keagungan dari atas langit. Melalui rahasia persatuan ini, manusia yang merupakan makhluk lemah dan kecil seperti zarah di kainat menjadi hamba yang dicintai Khâliq bumi dan langit, khalifah dan sultan bumi, pemimpin hewan, serta hasil dan tujuan penciptaan kainat, dari segi keagungan ubudiyah.

Ya, seandainya suara ratusan juta manusia yang pada saat yang sama mengatakan Allahu ekber setelah salat, terutama salat Id, menyatu dan berkumpul di alam yang dapat disaksikan sebagaimana menyatu di alam gaib, suara itu akan setara dengan Allahu ekber yang diucapkan bumi jika seluruh bumi menjadi manusia besar dan mengucapkannya dengan suara besar sesuai keagungannya. Karena itu, bersatunya orang-orang yang bertauhid dalam mengucapkan Allahu ekber pada saat yang sama menjadi seperti Allahu ekber besar dari bumi. Seolah-olah, melalui zikir dan tasbih dunia Islam pada salat Id, bumi mengalami guncangan besar, mengatakan Allahu ekber dengan seluruh penjuru dan sisinya, berniat dengan hati tulusnya berupa Ka'bah Yang Mulia yang menjadi kiblatnya, lalu mengucapkan Allahu ekber dengan mulutnya berupa Makkah dan lidahnya berupa Gunung Arafah. Ucapan tunggal itu terwujud dalam udara pada mulut-mulut seperti gua milik seluruh mukmin di sekeliling bumi. Sebagaimana gema satu ucapan Allahu ekber menghasilkan Allahu ekber yang tidak terhitung, zikir dan takbir yang diterima itu juga menggema di langit serta bergelombang dan bersuara di alam-alam barzakh.

Kepada Zat Dzul-Jalâl, Yang menjadikan bumi bersujud dan beribadah kepada⁠-⁠Nya, menjadi masjid bagi hamba-hamba⁠-⁠Nya, menjadi buaian bagi makhluk-makhluk⁠-⁠Nya, serta bertasbih dan bertakbir kepada⁠-⁠Nya, kami memanjatkan pujian, tasbih, dan takbir sebanyak zarah-zarah bumi. Kami juga memuji⁠-⁠Nya sebanyak seluruh yang ada, karena Dia menjadikan kami umat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang mengajarkan ubudiyah semacam ini kepada kami.

CATATAN KESEPULUH

Ketahuilah, wahai Said yang lalai dan kacau! Untuk mencapai dan memandang nur makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, melihat manifestasi-manifestasi⁠-⁠Nya dalam cermin ayat-ayat dan saksi-saksi, serta memandang manifestasi-manifestasi itu melalui celah-celah hujah dan bukti, jangan meraba setiap nur yang melintas di atasmu, datang ke hatimu, dan terlihat oleh akalmu dengan jari-jari kritik, serta jangan mengkritiknya dengan tangan keraguan. Jangan ulurkan tangan untuk menangkap nur yang bersinar kepadamu. Sebaliknya, lepaskan diri dari sebab-sebab lalai, hadapkan dirimu kepada nur-nur itu, dan diamlah. Sebab, aku telah menyaksikan bahwa:

Saksi-saksi dan bukti-bukti makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ terdiri atas tiga jenis.

Sebagiannya:

Seperti air, terlihat dan terasa, tetapi tidak dapat dipegang dengan jari. Dalam jenis ini, orang perlu melepaskan khayalan dan menyelam sepenuhnya ke dalamnya. Ia tidak dapat diteliti dengan jari-jari kritik. Jika dilakukan, ia mengalir dan pergi. Air kehidupan itu tidak menjadikan jari sebagai tempat tinggalnya.

Jenis kedua

seperti udara: Terasa, tetapi tidak terlihat dan tidak dapat dipegang. Hadapkan wajah, mulut, dan jiwamu kepada angin Rahmat itu; tempatkan dirimu menghadapnya. Jangan ulurkan tangan kritik, sebab engkau tidak dapat memegangnya. Hirup dengan jiwamu. Jika engkau mencarinya dengan tangan keraguan dan mengulurkan tangan kritik, ia bergerak dan pergi. Ia tidak menjadikan tanganmu tempat tinggal dan tidak rela terhadapnya.

Adapun jenis ketiga:

Seperti nur, terlihat, tetapi tidak terasa dan tidak dapat dipegang. Maka, dengan mata hati dan pandangan jiwamu, tempatkan dirimu menghadapnya, arahkan matamu kepadanya, dan tunggulah; mungkin ia akan datang dengan sendirinya. Sebab, nur tidak dipegang dengan tangan dan tidak ditangkap dengan jari. Nur itu hanya ditangkap dengan nur mata batin. Jika engkau mengulurkan tangan yang tamak dan bersifat materi, lalu menimbangnya dengan timbangan materi, sekalipun tidak padam ia akan tersembunyi. Sebab, nur semacam itu tidak rela dipenjara dalam materi dan tidak dapat masuk ke dalam batasan. Ia tidak menerima sesuatu yang padat sebagai pemilik dan penguasanya.

CATATAN KESEBELAS

Ketahuilah bahwa ungkapan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengandung kasih sayang dan belas kasih yang banyak. Sebab, sebagian besar orang yang disapanya ialah masyarakat awam. Pikiran mereka sederhana dan pandangan mereka tidak melihat hal-hal yang halus. Karena itu, untuk menyentuh kesederhanaan pikiran mereka dengan lembut, Al-Qur'an berulang kali mengulang ayat-ayat yang tertulis pada wajah langit dan bumi. Ia membuat mereka mudah membaca huruf-huruf besar itu.

Misalnya, ia mengajarkan ayat-ayat yang jelas terbaca dan terlihat, seperti penciptaan langit dan bumi, diturunkannya hujan dari langit, serta dihidupkannya bumi. Ia jarang mengarahkan pandangan kepada ayat-ayat halus yang ditulis dengan huruf kecil di dalam huruf-huruf besar itu, agar mereka tidak mengalami kesulitan.

Dalam gaya bahasa Al-Qur'an terdapat kekuatan ungkapan, kelancaran, dan sifat alami sedemikian rupa sehingga seolah-olah Al-Qur'an adalah seorang hafiz yang membaca ayat-ayat yang ditulis dengan pena Kudrat pada lembaran-lembaran kainat. Seolah-olah Al-Qur'an merupakan bacaan kitab kainat dan lantunan tatanan-tatanannya. Ia membaca Syuunat Sang Pengukir Yang Azali dan menuliskan Perbuatan-perbuatan⁠-⁠Nya. Jika engkau ingin melihat kekuatan ungkapan ini, dengarkanlah dengan hati yang sadar dan cermat Firman-firman seperti Surah 'Amma dan ayat-ayat

ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ!

CATATAN KEDUA BELAS

Wahai kawan-kawanku yang mendengarkan catatan-catatan ini! Ketahuilah bahwa terkadang, berbeda dari kebiasaan, aku menulis permohonan rendah hati, doa, dan munajat hatiku kepada Rabb-ku, meskipun semua itu semestinya disembunyikan. Sebabnya ialah aku memohon kepada Rahmat Allah سُبْحَانَهُ agar, ketika kematian membungkam lidahku, kitabku diterima sebagai yang berbicara menggantikan lidahku. Ya, tobat dan penyesalan lidahku yang sementara dalam umur yang pendek tidak cukup untuk menjadi penebus dosa-dosaku yang tidak terbatas. Lidah kitab yang tetap dan bertahan sampai taraf tertentu lebih berguna untuk tugas itu.

Tiga belas tahun {(Catatan kaki): Tiga belas tahun sebelum risalah ini ditulis.} yang lalu, akibat badai rohani yang riuh, ketika tawa Said Lama akan berubah menjadi tangisan Said Baru, pada suatu saat aku terbangun dari tidur lalai masa muda oleh pagi masa tua. Munajat dan doa berikut ditulis dalam bahasa Arab. Makna sebagian darinya dalam bahasa Turki adalah sebagai berikut:

Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!

Karena pilihan burukku, umur dan masa mudaku telah terbuang dan berlalu. Dari buah umur dan masa muda itu, yang tersisa di tanganku ialah dosa-dosa yang menyakitkan, kepedihan yang menghinakan, serta bisikan yang menyesatkan. Dengan beban berat, hati yang sakit, dan wajah yang malu ini, aku mendekati kubur. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa, dengan sangat cepat, tanpa melenceng ke kanan atau kiri dan tanpa dapat memilih, aku mendekati pintu kubur seperti kawan-kawan, teman sebaya, dan kerabatku yang telah wafat. Kubur itu merupakan tempat singgah awal dan pintu pertama yang telah didirikan dan dibuka di jalan menuju hidup yang kekal selama-lamanya, dengan perpisahan untuk selamanya dari negeri yang fana ini. Aku telah memahami dengan keyakinan yang pasti bahwa dunia tempat aku terikat dan terpikat ini akan binasa dan berlalu, fana dan mati. Aku juga menyaksikan bahwa segala yang ada di dalamnya berpindah dan pergi satu demi satu, rombongan demi rombongan, lalu hilang. Terutama bagi orang-orang seperti aku yang membawa nafsu ammarah, dunia ini sangat kejam dan penuh tipu daya. Jika memberikan satu kenikmatan, ia menimpakan seribu kepedihan dan membuat orang menanggungnya. Jika memberikan satu buah anggur untuk dimakan, ia memukul dengan seratus tamparan.

Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!

Melalui rahasia ﻛُﻞُّ ﺍٰﺕٍ ﻗَﺮ۪ﻳﺐٌ, sejak sekarang aku melihat bahwa dalam waktu dekat aku telah mengenakan kafanku, naik ke kerandaku, dan berpamitan kepada kawan-kawanku. Ketika berjalan menuju kuburku, di hadirat Rahmat⁠-⁠Mu aku berseru dengan bahasa keadaan jenazahku dan bahasa lisan jiwaku: El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Selamatkanlah aku dari rasa malu karena dosa-dosaku!

Kini aku telah sampai di tepi kuburku, memasang kafanku pada leherku, dan berdiri di atas tubuhku yang terbaring di tepi kubur. Aku mengangkat kepala ke hadirat Rahmat⁠-⁠Mu, lalu dengan seluruh kekuatanku menjerit dan berseru: El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Bebaskanlah aku dari beban berat dosa-dosaku!

Kini aku telah masuk ke kuburku dan terbungkus kafanku. Orang-orang yang mengantarkanku meninggalkan aku dan pergi. Aku menantikan Ampunan dan Rahmat⁠-⁠Mu. Aku telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa selain Engkau tidak ada tempat berlindung dan jalan selamat. Karena wajah dosa yang buruk, bentuk maksiat yang liar, dan sempitnya tempat itu, dengan seluruh kekuatanku aku berseru: El-Aman! El-Aman! Yâ Rahman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Yâ Deyyan! Selamatkanlah aku dari kebersamaan dengan dosa-dosaku yang buruk, dan lapangkanlah tempatku.

İlahî! Rahmat⁠-⁠Mu adalah tempat perlindunganku, dan Kekasih ﷺ⁠-⁠Mu yang merupakan Rahmeten li'l-âlemîn ﷺ adalah saranaku untuk mencapai Rahmat⁠-⁠Mu. Aku tidak mengeluhkan Engkau; aku mengeluhkan nafsu dan keadaanku kepada⁠-⁠Mu.

Wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm dan wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm!

Makhluk, ciptaan, dan hamba⁠-⁠Mu yang bernama Said ini durhaka, tak berdaya, lalai, tidak tahu, sakit, hina, berbuat buruk, tua, celaka, dan merupakan budak yang melarikan diri dari Sang Pemiliknya. Namun, setelah empat puluh tahun, ia menyesal dan ingin kembali ke hadirat⁠-⁠Mu. Ia berlindung kepada Rahmat⁠-⁠Mu dan mengakui dosa serta kesalahannya yang tidak terbatas. Ia terkena berbagai kekhawatiran yang tidak berdasar dan penyakit, lalu memohon dengan rendah hati dan berdoa kepada⁠-⁠Mu.

Jika dengan Rahmat⁠-⁠Mu yang sempurna Engkau menerimanya, mengampuni, dan merahmatinya, memang itulah yang sesuai dengan Kemuliaan⁠-⁠Mu. Sebab, Engkau adalah Sang Arhamur Râhimîn. Jika Engkau tidak menerimanya, ke pintu mana aku dapat pergi selain Pintu⁠-⁠Mu?

Pintu manakah yang ada? Selain Engkau tidak ada Rabb yang dapat didatangi hadirat⁠-⁠Nya. Selain Engkau tidak ada Sang Ma'bûd Yang Benar untuk dijadikan tempat berlindung!

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ ﺍٰﺧِﺮُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺍَﻭَّﻝُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ