HARAPAN KEDUA BELAS
Pada suatu waktu, di Barla, sebuah wilayah kecil dalam provinsi Isparta, dengan nama pengasingan aku berada dalam keadaan tertawan yang penuh siksaan, sendirian dan tanpa siapa pun. Di sebuah desa, aku dilarang bergaul serta berkirim kabar, sekaligus berada dalam penyakit, masa tua, dan keadaan terasing yang sangat menyedihkan. Dari Belas Kasih-Nya Yang Sempurna, Allah سُبْحَانَهُ telah menganugerahkan suatu cahaya tentang butir-butir hikmah serta rahasia Al-Qur'an Al-Hakîm sebagai sarana penghiburan bagiku. Melaluinya aku berusaha melupakan keadaanku yang pahit, menyakitkan, dan sedih. Aku dapat melupakan tanah air, sahabat, serta kerabatku. Namun, “vâ-hasretâ”, aku tidak dapat melupakan satu orang. Ia adalah keponakanku, putra saudaraku, sekaligus anak rohaniku dan muridku yang paling rela berkorban serta sahabatku yang paling berani, yaitu mendiang Abdurrahman. Ia berpisah dariku enam atau tujuh tahun sebelumnya. Ia tidak mengetahui tempatku agar dapat bergegas menolong dan menghibur, dan aku pun tidak mengetahui keadaannya agar dapat berkirim kabar serta berbagi duka. Pada masa tuaku dalam keadaan ini, aku membutuhkan seseorang yang rela berkorban dan setia seperti itu.
Kemudian, tiba-tiba seseorang memberiku surat. Aku membukanya dan melihat surat yang menunjukkan sifat Abdurrahman sepenuhnya. Sebagian surat itu dicantumkan di antara bagian-bagian Surat Kedua Puluh Tujuh dengan cara yang menunjukkan tiga karamah yang nyata. Surat itu membuatku banyak menangis dan sampai sekarang masih membuatku menangis. Melalui surat tersebut, mendiang Abdurrahman dengan sangat sungguh-sungguh dan tulus menyatakan bahwa ia membenci kesenangan dunia. Tujuannya yang terbesar ialah menemuiku dan memberikan khidmah kepadaku pada masa tua, sebagaimana aku merawatnya ketika kecil. Ia juga ingin membantuku dengan penanya yang cakap dalam menyebarkan rahasia-rahasia Al-Qur'an, tugas sejatiku di dunia. Bahkan, dalam suratnya ia menulis, “Kirimkan kepadaku dua puluh atau tiga puluh risalah. Dari masing-masing, aku akan menulis dan meminta dituliskan dua puluh atau tiga puluh salinan.”
Surat itu memberiku harapan kuat terhadap dunia. Dengan pikiran bahwa aku telah menemukan murid yang begitu berani, yang memiliki kecerdasan pada tingkat jenius dan akan memberikan khidmah dengan kesetiaan serta ikatan yang jauh melampaui anak kandung, aku melupakan keadaan tertawan yang penuh siksaan, kesendirian, keadaan terasing, dan masa tua itu. Sebelum surat tersebut, satu salinan Kalimat Kesepuluh tentang iman kepada akhirat, yang telah kucetak, sampai ke tangannya. Seolah-olah risalah itu merupakan penawar yang mengobati seluruh luka batin yang ia terima selama enam atau tujuh tahun. Dengan iman yang sangat kuat dan terang, seolah-olah menantikan ajal, ia menulis surat itu kepadaku.
Satu atau dua bulan kemudian, ketika membayangkan kembali menjalani kehidupan duniawi yang bahagia melalui Abdurrahman, “vâ-hasretâ”, tiba-tiba aku menerima kabar wafatnya. Kabar ini mengguncangkanku demikian besar sehingga selama lima tahun aku masih berada di bawah pengaruhnya. Kabar itu memberiku rasa berpisah, rasa iba, dan kesedihan sepuluh kali lebih besar daripada keadaan tertawan penuh siksaan, kesendirian, keadaan terasing, masa tua, serta penyakit yang kualami saat itu. Aku berkata bahwa ketika mendiang ibuku wafat, separuh dunia pribadiku wafat bersamanya. Aku melihat bahwa melalui wafatnya Abdurrahman, separuh dunia lain yang masih tertinggal juga wafat. Hubunganku dengan dunia terputus sepenuhnya. Sebab, seandainya ia tetap hidup di dunia, ia dapat menjadi penopang kuat tugas akhiratku di dunia dan penerus yang baik, yang sepenuhnya menggantikanku setelah aku, serta sahabat yang paling rela berkorban dan menjadi sumber penghiburan di dunia ini. Ia juga akan menjadi muridku yang paling cerdas, seseorang untuk berbicara, serta pemilik dan penjaga bagian-bagian Risale-i Nur yang paling dapat dipercaya.
Ya, dari segi kemanusiaan, kehilangan seperti ini sangat membakar dan menyakitkan bagi orang sepertiku. Meskipun dari luar aku berusaha bertahan, dalam ruhku terdapat badai yang kuat. Seandainya penghiburan dari cahaya Al-Qur'an tidak sesekali menenangkan, tidak mungkin aku bertahan. Saat itu aku berjalan sendirian ke lembah-lembah dan gunung-gunung Barla. Aku duduk di tempat-tempat sunyi. Dalam rasa sakit yang sedih tersebut, setiap kali gambaran kehidupan bahagia yang dahulu kulalui bersama murid-murid setia seperti Abdurrahman melintas dalam bayanganku seperti film, mudahnya tersentuh akibat masa tua serta keadaan terasing mematahkan daya tahanku.
Tiba-tiba, rahasia ayat suci
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
terbuka. Rahasia itu membuatku berkata
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ!
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ!
dan melaluinya memberikan penghiburan yang sejati. Ya, di lembah sunyi itu, dalam keadaan sedih tersebut, melalui rahasia ayat suci ini, seperti ditunjukkan dalam Mirkatü's-Sünne Risalesi, aku melihat diriku di sisi tiga jenazah besar:
Salah satunya:
Sampai usia lima puluh lima tahun, aku melihat diriku sebagai batu nisan di atas kubur lima puluh lima Said yang telah mati dan dimakamkan dalam kehidupan umurku.
Jenazah kedua:
Sejak masa Adam (as), orang-orang sesamaku serta umat manusia telah wafat serta dimakamkan dalam kubur masa lalu. Aku melihat diriku sebagai makhluk hidup kecil seperti semut, berjalan pada wajah abad ini yang merupakan batu nisan di sisi jenazah besar tersebut.
Adapun jenazah ketiga:
Sebagaimana manusia, setiap tahun sebuah dunia yang bergerak wafat di muka bumi. Melalui rahasia ayat ini, dunia besar juga akan wafat. Hal itu tampak berwujud di hadapan bayanganku.
Untuk sepenuhnya menerangi makna mengerikan yang berasal dari kesedihan karena wafatnya Abdurrahman, serta memberikan penghiburan yang sejati dan cahaya yang tidak padam, ayat mulia ini datang menolong melalui makna isyaratnya:
ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﻘُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ
Ya, ayat ini memberitahukan: Karena Allah سُبْحَانَهُ Ada, Dia menggantikan segala sesuatu. Karena Dia Kekal, tentu Dia mencukupi. Satu pancaran Pertolongan-Nya menggantikan seluruh dunia. Satu pancaran Cahaya-Nya memberikan kehidupan batin kepada tiga jenazah besar tersebut. Pancaran itu menunjukkan bahwa mereka bukan jenazah, melainkan telah menyelesaikan tugas dan pergi ke alam-alam lain.
Karena penjelasan rahasia ini telah diberikan dalam Lem'a Ketiga, aku mencukupkan diri dengannya dan hanya berkata di sini: Ucapan yang menunjukkan arti ayat
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ,
dua kali
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ!
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ!,
menyelamatkanku dari keadaan sedih yang sangat menyakitkan itu. Demikianlah:
Pertama kali, aku berkata
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ.
Di tengah luka-luka batin yang tak terbatas, yang berasal dari lenyapnya dunia serta sahabat-sahabat yang sangat mengikatku seperti Abdurrahman dan terputusnya hubunganku, suatu perawatan seperti operasi bedah mulai berlangsung.
Kedua kali, kalimat
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ
menjadi salep serta penawar bagi seluruh luka batin yang tak terbatas itu. Artinya, Engkau Kekal; biarlah yang pergi pergi, Engkau mencukupi. Karena Engkau Kekal, satu pancaran Rahmat-Mu mencukupi sebagai ganti segala sesuatu yang lenyap. Karena Engkau Ada, segala sesuatu ada bagi manusia yang mengetahui hubungannya dengan-Mu melalui iman kepada Wujud-Mu dan bertindak sesuai dengan hubungan itu melalui rahasia Islam. Fana dan lenyap, mati dan tidak ada merupakan tabir serta pembaruan, seperti berjalan-jalan di berbagai tempat singgah. Dengan memikirkan ini, keadaan ruh yang membakar, penuh perpisahan, sedih, menyakitkan, gelap, serta mengerikan berubah sepenuhnya menjadi keadaan yang gembira, ceria, nikmat, bercahaya, menyenangkan, serta akrab. Lisanku dan hatiku, bahkan seluruh zarah tubuhku melalui bahasa keadaan, berkata “Elhamdülillah”.
Satu dari seribu bagian manifestasi Rahmat itu ialah: Aku kembali ke Barla dari lembah tempat kesedihanku dan keadaan yang membangkitkan kesedihan itu. Aku melihat bahwa seorang pemuda bernama Mustafa dari Kuleönü datang untuk menanyakan beberapa persoalan tentang wudu serta salat dalam pengetahuan dasar agama. Meskipun saat itu aku tidak menerima tamu, ikhlas dalam ruhnya serta khidmah berharga yang kelak akan ia lakukan kepada Risale-i Nur {(Catatan kaki): Adik Mustafa itu, yaitu Küçük Ali, melalui penanya yang indah dan baik, menulis lebih dari tujuh ratus Risalah Nur. Dengan demikian, ia benar-benar menjadi seorang Abdurrahman dalam perbuatan, sekaligus menumbuhkan banyak Abdurrahman lain.} seolah-olah terbaca oleh ruhku dalam ruh pemuda itu melalui firasat. Aku tidak menolaknya; aku menerimanya. {(Catatan kaki): Sungguh, ia menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya layak diterima, melainkan juga disambut ().
(): Suatu peristiwa yang membenarkan keputusan Guruku tentang layaknya Mustafa, murid pertama Risale-i Nur, untuk disambut: Sehari sebelum hari Arafah menjelang Iduladha, Guruku hendak berjalan-jalan. Ketika ia mengutusku untuk membawa kuda, aku berkata kepada Guruku:
“Jangan turun, saya akan menutup pintu dari belakang dan keluar melalui tempat kayu bakar.” Guruku berkata, “Tidak. Keluarlah melalui pintu,” lalu turun. Setelah saya keluar melalui pintu, ia menguncinya dengan gerendel dari dalam. Saya pergi, dan ia naik kembali. Kemudian ia berbaring. Setelah beberapa waktu, Mustafa dari Kuleönü datang bersama Hacı Osman. Guruku tidak menerima siapa pun dan tidak akan menerima tamu. Terutama saat itu, ia sama sekali tidak menerima dua orang bersama-sama dan akan menyuruh mereka kembali. Namun, ketika saudara kita yang dibicarakan dalam bagian ini, Mustafa dari Kuleönü, datang bersama Hacı Osman, seolah-olah melalui bahasa keadaan pintu berkata kepadanya, “Gurumu tidak akan menerimamu, tetapi aku akan terbuka bagimu.” Pintu yang dikunci dengan gerendel dari dalam itu terbuka sendiri bagi Mustafa. Berarti, sebagaimana masa depan membenarkan perkataan Guruku tentangnya, “Mustafa layak disambut,” pintu juga menjadi saksi hal ini.
Hüsrev Ya, yang ditulis Hüsrev benar; aku membenarkannya. Pintu itu menyambut sekaligus menerima Mustafa yang diberkahi ini sebagai gantiku.
Bedîüzzaman Said Nursî} Kemudian menjadi jelas bahwa Allah سُبْحَانَهُ mengirimkan Mustafa kepadaku sebagai contoh, menggantikan Abdurrahman yang akan sepenuhnya menunaikan tugas sebagai pewaris sejati serta penerus yang baik setelah aku dalam khidmah Risale-i Nur. Seakan-akan Dia berkata: Aku mengambil seorang Abdurrahman darimu. Sebagai gantinya, dalam tugas agama itu Aku akan memberimu tiga puluh Abdurrahman seperti Mustafa yang engkau lihat ini, sekaligus sebagai murid, keponakan putra saudaramu, anak rohani, saudara, dan sahabat yang rela berkorban. Ya, lillahi'l-hamd, Dia memberikan tiga puluh Abdurrahman.
Saat itu aku berkata: Wahai hatiku yang menangis! Karena engkau telah melihat contoh ini dan melalui contoh itu Dia mengobati luka batinmu yang terpenting, engkau harus yakin bahwa Dia juga akan mengobati seluruh luka lain yang membuatmu menderita.
Wahai saudara dan saudari lanjut usia, yang sepertiku kehilangan anak atau kerabat yang sangat dicintai pada masa tua, dan selain beban berat masa tua di punggung juga menanggung duka berat dari perpisahan di kepala! Kalian memahami bahwa meskipun keadaanku jauh lebih berat daripada keadaan kalian, ayat mulia seperti ini mengobati dan memberikan kesembuhan. Tentu, dalam apotek suci Al-Qur'an Al-Hakîm terdapat obat-obat yang akan menyembuhkan seluruh penderitaan kalian. Jika mendatanginya dengan iman dan menggunakan obat-obat itu melalui ibadah, beban berat masa tua serta duka di punggung dan kepala kalian akan menjadi sangat ringan.
Rahasia pembahasan ini ditulis panjang ialah keinginan agar lebih banyak doa memohon Rahmat dipanjatkan bagi mendiang Abdurrahman. Semoga tidak membuat kalian jemu. Tujuanku memperlihatkan luka yang paling menyedihkan dan paling mengerikan, yang membuat orang merasa muak serta gentar, dengan cara yang sangat tidak menyenangkan dan menyakitkan, yang mungkin membuat kalian semakin menderita, ialah menunjukkan betapa penawar suci Al-Qur'an Al-Hakîm merupakan obat yang luar biasa dan cahaya yang terang.
HARAPAN KETIGA BELAS
{(Catatan kaki): Merupakan tawafuk yang halus bahwa peristiwa madrasah yang dibicarakan dalam Harapan Ketiga Belas ini terjadi tiga belas tahun sebelumnya.}
Karena dalam harapan ini aku akan membicarakan sebuah gambaran penting dari perjalanan hidupku, tentu pembahasan akan agak panjang. Aku berharap kalian tidak jemu dan tidak tersinggung.
Setelah selamat dari tawanan Rusia dalam Perang Dunia, khidmah agama di Dârülhikmet membuatku tinggal di Istanbul selama dua atau tiga tahun. Kemudian, melalui bimbingan Al-Qur'an Al-Hakîm, pertolongan Ghauts Yang Agung, dan kesadaran masa tua, aku merasa jemu terhadap kehidupan peradaban serta benci terhadap kehidupan masyarakat yang gemerlap di Istanbul. Perasaan rindu tanah air, yang disebut “Dâü's-sıla”, mendorongku menuju tanah airku. Dengan pikiran karena aku akan mati, biarlah aku mati di tanah air, aku pergi ke Van.
Sebelum segala sesuatu, aku mengunjungi madrasahku yang disebut Horhor di Van. Aku melihat bahwa seperti rumah-rumah lain di Van, madrasah itu juga, selama penyerbuan Rusia, telah dibakar oleh orang-orang Armenia. Benteng Van yang terkenal terdiri atas satu batu utuh seperti gunung. Madrasahku tepat berada di bawah dan melekat padanya. Bayangan murid-muridku yang benar-benar menjadi sahabat, saudara, serta teman akrab di madrasah yang kutinggalkan tujuh atau delapan tahun sebelumnya muncul di depan mataku. Sebagian sahabat yang rela berkorban itu wafat sebagai syahid yang sejati, sedangkan sebagian lain sebagai syahid secara batin akibat musibah tersebut.
Aku tidak dapat menahan tangis. Aku naik ke puncak benteng yang menghadap madrasah, tepat di atasnya dengan tinggi setara dua menara, lalu duduk. Dalam bayangan, aku kembali ke masa tujuh atau delapan tahun sebelumnya. Karena bayanganku kuat, ia cukup lama membawaku berkeliling pada masa itu. Tidak ada orang di sekeliling yang dapat membalikkan aku dari bayangan dan menarikku dari masa tersebut, sebab aku sendirian. Dalam tujuh atau delapan tahun, setiap kali membuka mata, aku melihat perubahan sebesar satu abad yang telah berlalu. Aku melihat bahwa daerah Kaledibi di dalam kota, di sekitar madrasahku, seluruhnya dibakar serta dihancurkan. Dari yang kulihat dahulu kepada yang kulihat sekarang, seolah-olah aku datang ke dunia dua ratus tahun kemudian dan memandang dengan pandangan yang begitu sedih. Aku bersahabat serta berteman dengan sebagian besar penghuni rumah-rumah itu. Sebagian besar telah wafat ketika mengungsi dan terlunta-lunta di negeri asing—semoga Allah سُبْحَانَهُ merahmati mereka. Aku juga melihat seluruh rumah kaum Muslim di Van dihancurkan, selain lingkungan Armenia. Hatiku terasa sakit dari bagian paling dalam. Hal itu menyentuhku demikian besar sehingga jika aku memiliki ribuan mata, semuanya akan menangis bersama.
Aku kembali dari negeri asing ke tanah air dan menganggap telah terbebas dari keadaan terasing. “Vâ-esefâ”, aku justru melihat keadaan terasing yang paling mengerikan di tanah airku. Aku melihat ratusan murid serta sahabat yang sangat terhubung dengan ruhku, seperti Abdurrahman yang dibicarakan dalam Harapan Kedua Belas, berada dalam kubur, dan tempat-tempat sahabat itu menjadi puing. Sejak dahulu terdapat suatu ungkapan seseorang dalam ingatanku, tetapi aku tidak dapat melihat maknanya sepenuhnya. Di hadapan gambaran sedih itu, aku melihat maknanya sepenuhnya. Ungkapan itu ialah:
لَوْلَا ﻣُﻔَﺎﺭَﻗَﺔُ الْاَحْبَابِ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪَﺕْ ﻟَﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻳَﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﺭْﻭَﺍﺣِﻨَﺎ سُبُلًا
Artinya, “Seandainya tidak ada perpisahan dari sahabat-sahabat, kematian tidak akan menemukan jalan menuju ruh kita untuk datang dan mengambilnya.” Berarti, yang paling banyak membunuh manusia ialah perpisahan dari sahabat. Ya, tidak sesuatu pun membuatku terbakar dan menangis seperti keadaan itu. Seandainya pertolongan tidak datang dari Al-Qur'an serta iman, duka, pilu, dan kesedihan tersebut akan memberi pengaruh seolah-olah menerbangkan ruhku.
Sejak dahulu, para penyair menangisi puing tempat-tempat mereka bertemu dengan sahabat, yang rusak melalui berlalunya waktu. Aku sendiri melihat gambaran yang paling penuh perpisahan dari hal ini. Dengan kesedihan seseorang yang mengunjungi tempat tinggal sahabat-sahabat tercinta dua ratus tahun kemudian, ruh dan hatiku juga membantu mataku serta menangis. Di hadapan mataku, masa ketika tempat-tempat yang kini menjadi puing itu sangat makmur, ramai, ceria, dan gembira kembali tampak. Bagian-bagian manis kehidupanku selama hampir dua puluh tahun yang paling menyenangkan, ketika mengajar dan hidup bersama murid-murid berharga, satu demi satu menjadi hidup serta tampak seperti gambar film, kemudian seolah-olah wafat dan pergi. Bayangan itu berlangsung cukup lama di depan mataku.
Saat itu aku sangat heran terhadap keadaan orang-orang yang mencintai dunia. Bagaimana mereka menipu diri sendiri? Sebab, keadaan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa dunia sepenuhnya fana dan manusia merupakan tamu di dalamnya. Aku melihat dengan mataku betapa benar para ahli hakikat yang terus berkata bahwa dunia kejam, menipu, dan fana; jangan tertipu olehnya.
Aku juga melihat dalam diriku bahwa sebagaimana manusia terhubung dengan tubuh serta rumahnya, demikian pula ia terhubung dengan kotanya, negerinya, bahkan dunianya. Sebab, dari segi tubuhku, aku menangis dengan dua mata akibat rasa tersentuh pada masa tua. Namun, karena madrasahku bukan hanya tua, melainkan wafat, aku ingin menangis dengan sepuluh mata. Karena tanah airku yang menyenangkan setengah mati, aku memerlukan seratus mata untuk menangis.
Dalam riwayat hadis terdapat bahwa setiap pagi seorang malaikat menyeru,
ﻟِﺪُﻭﺍ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺍﺑْﻨُﻮﺍ ﻟِﻠْﺨَﺮَﺍﺏِ,
yaitu, “Kalian lahir dan datang ke dunia untuk mati; kalian mendirikan bangunan untuk menjadi puing.” Aku mendengar hakikat ini melalui mataku, bukan telingaku.
Ya, sebagaimana keadaanku saat itu membuatku menangis, selama sepuluh tahun ini bayanganku masih menangis setiap kali mendatangi keadaan tersebut. Tempat-tempat tinggal di puncak benteng tua yang telah hidup selama ribuan tahun menjadi puing. Kota di bawahnya menjadi tua sebesar delapan ratus tahun dalam waktu delapan tahun. Madrasahku di bawah benteng, yang sangat hidup dan menjadi tempat berkumpulnya sahabat-sahabat, wafat. Kewafatannya menunjukkan wafatnya seluruh madrasah dalam Negara Utsmani. Untuk mengisyaratkan besarnya jenazah itu secara batin, batu utuh Benteng Van yang besar menjadi batu nisannya. Seolah-olah murid-muridku yang telah wafat, yang delapan tahun sebelumnya berada bersamaku di madrasah itu, menangis bersamaku dalam kubur mereka. Bahkan, dinding-dinding puing kota itu dan batu-batunya yang berserakan juga menangis bersamaku; aku melihat mereka seperti sedang menangis.
Saat itu aku memahami bahwa aku tidak dapat bertahan dalam keadaan terasing di tanah airku ini. Aku berpikir, aku pun harus pergi ke sisi mereka dalam kubur, atau menarik diri ke sebuah gua di gunung dan menantikan ajalku di sana. Aku berkata: Karena di dunia terdapat perpisahan yang begitu tidak tertahankan, mematahkan kesabaran, menghancurkan daya tahan, dan membakar, tentu kematian lebih baik daripada kehidupan. Keadaan kehidupan yang berat ini bukan penderitaan yang dapat ditanggung.
Saat itu aku mengedarkan pandangan ke enam arah, yang disebut enam penjuru, dan melihatnya gelap. Kelalaian yang berasal dari rasa sakit yang sangat kuat itu memperlihatkan dunia kepadaku sebagai sesuatu yang menakutkan, kosong, sunyi, dan akan runtuh menimpaku. Ruhku mencari titik sandaran terhadap bencana-bencana tak terbatas yang menjadi musuh. Ia mencari titik tempat memohon pertolongan yang akan memenuhi keinginan-keinginan tak terbatas dalam ruh, yang memanjang sampai masa tanpa akhir, serta menantikan penghiburan terhadap kesedihan dan duka dari perpisahan, kepergian, kehancuran, serta wafat yang tak terbatas itu. Tiba-tiba, hakikat ayat
ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻟَﻪُ ﻣُﻠْﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memancar. Ia menyelamatkanku dari bayangan yang menyentuh, penuh perpisahan, mengerikan, dan sedih itu, lalu membuka mataku.
Aku melihat buah-buah di puncak pohon yang berbuah memandangku seolah-olah tersenyum dan berkata, “Perhatikan kami juga; jangan terus memandang puing.” Hakikat ayat mulia ini memberikan peringatan berikut: Mengapa terhapusnya sebuah surat buatan yang ditulis oleh tangan manusia sebagai tamu pada lembaran dataran Van dan mengambil bentuk kota, akibat jatuh ke bencana banjir mengerikan yang disebut penyerbuan Rusia, membuatmu demikian menderita? Pandanglah Sang Pengukir Yang Azali, Sang Pemilik Yang Hakiki, Pemilik dan Rabb segala sesuatu. Pada lembaran Van ini, surat-surat-Nya terus ditulis dengan kemegahan penuh, mempertahankan keadaan yang engkau lihat dahulu. Tangismu dengan pikiran bahwa tempat-tempat itu tetap kosong, rusak, dan sunyi berasal dari lalai terhadap Sang Pemiliknya Yang Hakiki, tidak membayangkan manusia sebagai tamu, serta kesalahan menganggap mereka pemilik.
Namun, dari kesalahan dan keadaan yang membakar itu terbuka pintu hakikat. Nafsuku menjadi siap untuk menerima hakikat tersebut sepenuhnya. Ya, sebagaimana besi dimasukkan ke api agar lunak serta dapat diberi bentuk yang indah dan bermanfaat, demikian pula keadaan yang menimbulkan kesedihan dan keadaan yang mengerikan itu menjadi api serta melunakkan nafsuku. Melalui hakikat ayat tersebut, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memperlihatkan limpahan hakikat-hakikat iman sepenuhnya kepada nafsuku dan membuatnya menerima.
Ya, lillahi'l-hamd, melalui limpahan iman, hakikat ayat ini memberikan titik sandaran kepada ruh serta hati, yang terbuka sesuai dengan kekuatan iman setiap orang, sebagaimana telah kami buktikan dengan pasti dalam risalah-risalah seperti Surat Kedua Puluh. Ia memberikan kekuatan dari iman kepada Allah سُبْحَانَهُ yang dapat menghadapi musibah seratus kali lebih menakutkan dan lebih berbahaya daripada kengerian keadaan itu. Ia juga mengingatkan: Segala sesuatu tunduk kepada Perintah Sang Pemilik Yang Hakiki negeri ini, Yang merupakan Sang Khâliq-mu. Kendali segala sesuatu berada di Tangan-Nya; hubunganmu kepada-Nya mencukupi.
Setelah bersandar kepada Sang Khâliq-ku dan mengenal-Nya, seluruh yang menjadi musuh meninggalkan sikap bermusuhannya. Keadaan sedih yang membuatku menangis mulai menggembirakanku. Seperti telah kami buktikan dengan dalil-dalil pasti dalam banyak risalah, melalui cahaya yang datang dari iman kepada akhirat, terhadap keinginan-keinginan tak terbatas itu ia memberikan titik tempat memohon pertolongan. Titik itu bukan hanya mencukupi keinginan serta ikatanku yang sangat terbatas, sementara, dan singkat terhadap sahabat-sahabat duniawi, melainkan juga keinginan-keinginanku yang panjang tanpa batas untuk selama-lamanya, di alam yang kekal dan kebahagiaan yang kekal.
Sebab, melalui satu manifestasi Rahmat-Nya, untuk membuat tamu-tamu-Nya bergembira selama satu atau dua jam, setiap musim semi Dia menganugerahkan nikmat yang penuh seni, manis, serta tak terhitung pada meja musim semi di muka bumi, salah satu tempat singgah dalam dunia ini, tempat bertamu-Nya yang sementara. Setelah memberi para tamu makan sebagai sarapan, Ar-Rahmân Yang Rahîm menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya delapan surga yang kekal di tempat tinggal mereka untuk selama-lamanya, yang dipenuhi jenis-jenis nikmat tanpa batas selama waktu tak terbatas. Orang yang bersandar melalui iman kepada Rahmat-Nya dan mengetahui hubungannya dengan-Nya tentu menemukan titik tempat memohon pertolongan demikian rupa sehingga tingkatnya yang paling rendah pun membantu serta mempertahankan harapan-harapan kekal yang tak terbatas.
Melalui hakikat ayat itu pula, cahaya yang datang dari terang iman memancar demikian kuat sehingga menerangi enam penjuru yang gelap itu seperti siang hari. Ia menerangi keadaanku yang tertinggal dan menangis di belakang murid serta sahabat di madrasah dan kota ini dengan peringatan berikut: Alam tempat sahabat-sahabat pergi tidak gelap. Mereka hanya berpindah tempat; kalian akan bertemu lagi. Peringatan itu menghentikan tangisku sepenuhnya. Ia juga membuatku memahami bahwa aku akan menemukan orang-orang yang menggantikan serta menyerupai mereka di dunia. Ya, lillahi'l-hamd, madrasah Van yang wafat dihidupkan kembali melalui madrasah Isparta, serta sahabat-sahabat di sana dihidupkan kembali secara batin melalui murid dan sahabat yang lebih banyak serta lebih berharga.
Ia juga memberitahukan bahwa dunia tidak kosong serta sunyi, dan aku keliru membayangkannya sebagai negeri yang hancur. Sebaliknya, sesuai dengan tuntutan Hikmah-Nya, Sang Pemilik Yang Hakiki mengganti gambaran buatan manusia serta memperbarui surat-Nya. Sebagaimana ketika sebagian buah sebuah pohon dipetik, buah-buah lain kembali datang sebagai gantinya, lenyap dan perpisahan dalam umat manusia ini pun merupakan pembaruan serta menjadi baru kembali. Dari segi iman, hal itu bukan kesedihan yang menyakitkan karena tanpa sahabat, melainkan pembaruan yang memberikan kesedihan manis akibat berpisah untuk bertemu di tempat indah yang lain.
Ia juga menerangi wajah makhluk-makhluk kainat yang tampak gelap melalui keadaan yang mengerikan itu. Saat itu aku ingin bersyukur atas keadaan tersebut. Ungkapan bahasa Arab ini datang dan menggambarkan hakikat itu sepenuhnya. Demikianlah, aku berkata:
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﺍﻟْﻤُﺼَﻮِّﺭِ ﻣَﺎ ﻳُﺘَﻮَﻫَّﻢُ ﺍَﺟَﺎﻧِﺐَ ﺍَﻋْﺪَﺍﺀً ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ ﻣُﻮَﺣِّﺸ۪ﻴﻦَ ﺍَﻳْﺘَﺎﻣًﺎ ﺑَﺎﻛ۪ﻴﻦَ ﺍَﻭِﺩَّﺍﺀَ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧًﺎ ﺍَﺣْﻴَﺎﺀً ﻣُﻮﻧِﺴ۪ﻴﻦَ ﻣُﺮَﺧَّﺼ۪ﻴﻦَ ﻣَﺴْﺮُﻭﺭ۪ﻳﻦَ ﺫَﺍﻛِﺮ۪ﻳﻦَ ﻣُﺴَﺒِّﺤ۪ﻴﻦَ
Artinya, “Melalui kelalaian yang berasal dari pengaruh keadaan kuat tersebut, sebagian makhluk kainat tampak kepada nafsuku yang lalai melalui sangkaan sebagai musuh dan asing, {(Catatan kaki): Yaitu, seperti gempa, badai, banjir, wabah taun, dan api.} sebagian sebagai jenazah yang mengerikan, serta sebagian lain sebagai anak yatim yang menangis karena sendirian. Melalui cahaya iman, aku melihat dengan ainulyaqin bahwa yang tampak asing dan sebagai musuh itu merupakan sahabat serta saudara. Jenazah-jenazah mengerikan itu sebagian hidup dan akrab, serta sebagian telah dibebaskan dari tugas. Jerit tangis anak-anak yatim itu merupakan senandung zikir serta tasbih. Karena aku melihat hal ini melalui cahaya iman, aku memuji tanpa batas Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Yang memberiku iman, sumber nikmat-nikmat tak terbatas itu. Dari sudut pandang bahwa di dunia ini aku berhak menggunakan seluruh makhluk dalam dunia pribadiku yang sebesar dunia, melalui bayangan serta niat, untuk memuji dan bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ, bersama bahasa keadaan masing-masing makhluk itu serta seluruhnya, kita berkata Elhamdülillahi alâ nuri'l-iman.” Demikian artinya.
Melalui keadaan mengerikan yang lalai tersebut, kenikmatan hidup jatuh menjadi tidak berarti, harapan-harapan tertarik seluruhnya dan mengering, serta nikmat dan kenikmatan pribadi terjepit dalam lingkup yang paling sempit, bahkan lenyap. Tiba-tiba, melalui cahaya iman, sebagaimana telah dibuktikan dengan pasti dalam risalah-risalah lain, lingkup sempit di sekeliling hati menjadi demikian luas sehingga memuat kainat. Sebagai ganti nikmat yang mengering dan kehilangan kenikmatannya di kebun Horhor, negeri dunia serta negeri akhirat masing-masing menjadi meja nikmat dan nampan Rahmat. Cahaya iman itu memperlihatkan bukan sepuluh, melainkan seratus perlengkapan manusia, seperti mata, telinga, dan hati, masing-masing sebagai tangan yang sangat panjang. Sesuai dengan tingkatan setiap mukmin, tangan-tangan itu terulur ke kedua meja Ar-Rahmân dengan cara yang dapat mengumpulkan nikmat dari segala sisi. Karena itu, untuk menyatakan hakikat yang luhur ini serta bersyukur atas nikmat tak terbatas tersebut, saat itu aku berkata demikian:
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﺍﻟْﻤُﺼَﻮِّﺭِ ﻟِﻠﺪَّﺍﺭَﻳْﻦِ ﻣَﻤْﻠُﻮﺅَﺗَﻴْﻦِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﻌْﻤَﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻟِﻜُﻞِّ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﺣَﻘًّﺎ ﻳَﺴْﺘَﻔ۪ﻴﺪُ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺑِﺤَﻮَﺍﺳِّﻪِ ﺍﻟْﻜَﺜ۪ﻴﺮَﺓِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺸِﻔَﺔِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺧَﺎﻟِﻘِﻪ۪
Artinya, “Dunia dan akhirat dipenuhi nikmat serta Rahmat. Sebagai balasan atas nikmat cahaya iman yang menjamin dan menunjukkan bahwa para mukmin sejati dapat memperoleh manfaat dari dua meja besar itu melalui tangan seluruh daya mereka, yang berkembang dan meluas melalui cahaya iman serta Islam, jika mampu, dengan seluruh zarah tubuhku aku akan memuji serta bersyukur sebanyak isi dunia dan akhirat kepada Sang Khâliq-ku Yang memberikan iman itu kepadaku.” Demikian artinya.
Karena iman memberi pengaruh demikian besar dalam alam ini, tentu di negeri yang kekal ia akan memiliki buah dan limpahan yang tidak dapat diliputi serta dijelaskan oleh akal di dunia ini.
Wahai saudara dan saudari lanjut usia yang sepertiku menanggung penderitaan berpisah dari begitu banyak sahabat karena masa tua! Meskipun yang paling tua di antara kalian secara lahir lebih tua dariku, secara batin aku memperkirakan diriku lebih tua daripada mereka. Sebab, dalam fitrahku terdapat lebih banyak rasa peka terhadap sesama manusia serta rasa iba. Melalui rahasia kasih sayang itu, selain penderitaanku sendiri, aku menanggung penderitaan ribuan saudaraku, sehingga aku tua seperti telah hidup ratusan tahun. Sebanyak apa pun bencana perpisahan yang kalian tanggung, kalian belum tertimpa bencana itu sebesar yang kualami.
Sebab, aku tidak memiliki anak laki-laki sehingga hanya memikirkan anakku sendiri. Melalui rahasia kasih sayang, rasa iba dan kasih sayang yang besar dalam fitrahku membuatku merasakan rasa tersentuh serta penderitaan terhadap kesakitan ribuan anak Muslim, bahkan hewan-hewan yang tidak berdosa. Aku tidak memiliki rumah pribadi sehingga hanya memusatkan pikiranku kepadanya. Sebaliknya, dari segi semangat membela Islam, aku terhubung dengan negeri ini, bahkan wilayah dunia Islam, seperti rumahku sendiri. Aku menderita melalui penderitaan saudara seagamaku dalam dua rumah besar itu dan bersedih melalui perpisahan mereka!
Cahaya iman sepenuhnya mencukupi seluruh rasa sakitku yang berasal dari masa tua dan bencana perpisahan. Ia memberikan harapan yang tidak patah, asa yang tidak putus, cahaya yang tidak padam, serta penghiburan yang tidak habis. Tentu, iman juga cukup dan memenuhi kebutuhan terhadap gelap, kelalaian, rasa sakit, serta penderitaan yang datang kepada kalian melalui masa tua. Masa tua yang sebenarnya paling gelap, paling tanpa cahaya dan tanpa penghiburan, serta perpisahan yang paling menyakitkan dan mengerikan ialah masa tua serta perpisahan orang-orang yang sesat serta orang-orang yang hidup dalam kebejatan.
Untuk menikmati iman yang memberikan harapan, cahaya, dan penghiburan tersebut serta merasakan pengaruhnya, hendaknya mengambil sikap sadar dalam ubudiyah, yang sesuai dengan masa tua dan Islam. Hal itu diperoleh melalui sikap tersebut, bukan dengan berusaha menyerupai pemuda dan memasukkan kepala ke dalam kelalaian mereka yang mabuk, lalu melupakan masa tua. Pikirkanlah hadis yang memiliki arti berikut:
ﺧَﻴْﺮُ ﺷَﺒَﺎﺑِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻜُﻬُﻮﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺷَﺮُّ ﻛُﻬُﻮﻟِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﺸَﺒَﺎﺑِﻜُﻢْ
—ﺍَﻭْ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ—. Artinya, “Yang terbaik di antara pemuda kalian ialah mereka yang menyerupai orang lanjut usia dalam ketenangan dan menjauh dari kebejatan. Yang terburuk di antara orang lanjut usia kalian ialah mereka yang menyerupai pemuda dalam kebejatan serta memasukkan kepala ke dalam kelalaian.”
Wahai saudara dan saudariku yang lanjut usia! Dalam hadis mulia terdapat, “Ketika seorang mukmin lanjut usia, berumur enam puluh atau tujuh puluh tahun, mengangkat tangannya ke Hadirat Ilahi dan berdoa, Rahmat Ilahi merasa malu memulangkan tangannya dengan kosong.” Karena Rahmat menghormati kalian demikian, kalian pun hormatilah Penghormatan Rahmat ini melalui ubudiyah kalian.