Risalah Nur — Bahasa Indonesia

HARAPAN KESEMBILAN

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

HARAPAN KESEMBILAN

Dalam Perang Dunia, aku tertawan di provinsi Kosturma yang sangat jauh, di timur laut Rusia. Di sana terdapat sebuah masjid kecil orang Tatar di tepi Sungai Volga yang terkenal. Aku merasa tidak nyaman di antara sahabat-sahabatku, para perwira tawanan di sana. Aku menginginkan kesendirian, tetapi tidak dapat berjalan di luar tanpa izin. Dengan memberikan jaminan, penduduk lingkungan Tatar menempatkanku di masjid kecil di tepi Sungai Volga itu. Aku tidur sendirian di masjid. Musim semi juga sudah dekat. Pada malam-malam yang sangat panjang di wilayah utara itu, aku sering terjaga. Di malam-malam gelap serta keadaan terasing yang gelap, gemericik Sungai Volga yang sedih, tetesan hujan yang menyentuh, dan embusan angin yang penuh perpisahan membangunkanku sementara dari tidur kelalaian yang dalam.

Meskipun belum menganggap diriku lanjut usia, orang yang menyaksikan Perang Dunia adalah orang tua. Seolah-olah mengalami rahasia

ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻳَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟْﻮِﻟْﺪَﺍﻥَ ﺷ۪ﻴﺒًﺎ,

hari-hari itu membuat anak-anak menjadi tua. Karena itu, ketika berusia empat puluh tahun, aku mendapati diriku dalam keadaan seperti orang berusia delapan puluh tahun. Dalam malam panjang yang gelap, keadaan terasing yang sedih, dan keadaan yang muram itu, muncul putus asa terhadap kehidupan serta tanah air. Aku memandang keadaan tak berdaya dan kesendirianku; harapanku terputus. Dalam keadaan itu, pertolongan datang dari Al-Qur'an Al-Hakîm. Lisanku berkata

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

dan hatiku juga berkata sambil menangis:

ﻏَﺮ۪ﻳﺒَﻢْ ﺑ۪ﻰ ﻛَﺴَﻢْ ﺿَﻌ۪ﻴﻔَﻢْ ﻧَﺎﺗُﻮَﺍﻧَﻢْ اَلْاَمَانْ ﮔُﻮﻳَﻢْ ﻋَﻔُﻮْ ﺟُﻮﻳَﻢْ ﻣَﺪَﺩْ ﺧٰﻮﺍﻫَﻢْ ﺯِﺩَﺭْﮔَﺎﻫَﺖْ ﺍِﻟٰﻬ۪ﻰ

Ruhku juga memikirkan sahabat-sahabat lama di tanah airku dan membayangkan aku wafat di negeri asing itu. Seperti Niyazi-i Mısrî, aku berkata:

Melewati duka dunia, mengembangkan sayap menuju tiada,

Terbang setiap saat dengan semangat, aku memanggil: sahabat, sahabat!

Dengan berkata demikian, ruhku mencari sahabat-sahabat. Bagaimanapun... Pada malam terasing yang panjang, sedih, menyentuh, dan penuh perpisahan itu, kelemahan serta keadaanku yang tak berdaya menjadi perantara syafaat dan sarana yang begitu besar di Hadirat Ilahi sehingga kini pun aku masih heran. Sebab, beberapa hari kemudian, dengan cara yang sangat berlawanan dengan harapan, aku melarikan diri sendirian meskipun tidak mengetahui bahasa Rusia, menempuh jarak yang jika berjalan kaki memerlukan satu tahun. Melalui Pertolongan Ilahi yang datang karena kelemahan serta keadaanku yang tak berdaya, aku selamat dengan cara luar biasa. Aku melewati Warsawa dan Austria sampai tiba di Istanbul; selamat dengan begitu mudah melalui cara ini sangat luar biasa. Aku menyelesaikan perjalanan panjang dalam pelarian itu dengan begitu banyak kemudahan, yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang paling berani dan paling cerdik yang mengetahui bahasa Rusia.

Namun, keadaan pada malam tersebut di masjid tepi Sungai Volga membuatku mengambil keputusan berikut: Aku akan melewatkan sisa umurku dalam gua-gua. Sudah cukup berbaur dalam kehidupan masyarakat manusia ini. Karena pada akhirnya aku akan pergi sendirian ke kubur, untuk terbiasa dengan kesendirian, aku akan memilih kesendirian sejak sekarang, demikian aku berkata.

Namun, sangat disayangkan, begitu banyak sahabat yang sungguh-sungguh di Istanbul serta kehidupan duniawi Istanbul yang gemerlap, terutama perkara-perkara tanpa hasil seperti kemasyhuran dan kehormatan yang datang kepadaku jauh melampaui kelayakanku, membuatku sementara melupakan keputusan itu. Seolah-olah malam terasing tersebut adalah bagian hitam yang bercahaya pada mata hidupku. Siang Istanbul yang putih dan gemerlap ialah bagian putih tanpa cahaya pada mata kehidupan itu, yang tidak dapat melihat ke depan dan kembali tidur. Baru dua tahun kemudian, Ghauts Jailani melalui kitab Fütuhu'l-Gayb (Terbukanya Perkara Gaib) kembali membuka mataku.

Wahai saudara dan saudari lanjut usia! Ketahuilah, kelemahan dan keadaan tak berdaya pada masa tua menjadi sarana untuk menarik Rahmat serta Pertolongan Ilahi. Sebagaimana aku menyaksikannya melalui banyak peristiwa dalam diriku, pancaran Rahmat di muka bumi juga menunjukkan hakikat ini dengan sangat jelas. Sebab, yang paling tak berdaya dan paling lemah di antara hewan ialah anak-anaknya. Padahal, merekalah yang memperoleh pancaran Rahmat yang paling manis dan paling indah. Keadaan tak berdaya seekor anak di sarang pada puncak pohon, melalui pancaran Rahmat, mempekerjakan ibunya seperti prajurit yang paling patuh. Sang ibu berkeliling dan membawa rezekinya. Ketika anak itu melupakan bahwa dirinya tak berdaya karena sayapnya menjadi kuat, ibunya berkata, “Pergilah, cari rezekimu,” dan tidak lagi mendengarkannya.

Sebagaimana rahasia Rahmat ini berlaku bagi anak-anak, ia juga berlaku bagi orang lanjut usia yang dari segi kelemahan serta keadaan tak berdaya menjadi seperti anak-anak. Terdapat pengalaman-pengalaman yang memberiku keyakinan pasti bahwa sebagaimana rezeki anak-anak dikirimkan serta dialirkan dengan cara luar biasa oleh Rahmat melalui keran-keran payudara karena mereka tak berdaya, demikian pula rezeki orang lanjut usia yang beriman dan menjadi tidak berdosa dikirimkan dalam bentuk berkah. Orang-orang lanjut usia merupakan tiang berkah dalam sebuah rumah. Orang-orang lanjut usia yang tidak berdosa, laki-laki maupun perempuan yang telah bungkuk, melindungi rumah dari bencana. {(Catatan kaki): Hadis lengkapnya:

وَلَوْلَا ﺍﻟْﺒَﻬَﺎﺋِﻢُ ﺍﻟﺮُّﺗَّﻊُ ﻭَﺍﻟﺼُّﺒْﻴَﺎﻥُ ﺍﻟﺮُّﺿَّﻊُ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ

—ﺍَﻭْ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ—.} Bagian dari hadis mulia

ﻭَ لَوْلَا ﺍﻟﺸُّﻴُﻮﺥُ ﺍﻟﺮُّﻛَّﻊُ ﻟَﺼُﺐَّ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ الْبَلَاءُ ﺻَﺒًّﺎ,

yaitu, “Jika tidak ada orang-orang lanjut usia kalian yang telah bungkuk, bencana akan tercurah atas kalian seperti banjir,” menetapkan dan membuktikan hakikat ini.

Karena kelemahan dan keadaan tak berdaya pada masa tua menjadi sarana untuk menarik Rahmat Ilahi sampai tingkat ini, dan karena Al-Qur'an Al-Hakîm, melalui ayat

ﺍِﻣَّﺎ ﻳَﺒْﻠُﻐَﻦَّ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮَ ﺍَﺣَﺪُﻫُﻤَٓﺎ ﺍَﻭْ كِلَاهُمَا فَلَا ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَٓﺎ ﺍُﻑٍّ وَلَا ﺗَﻨْﻬَﺮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻗُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ قَوْلًا ﻛَﺮ۪ﻳﻤًﺎ ٭ ﻭَﺍﺧْﻔِﺾْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺟَﻨَﺎﺡَ ﺍﻟﺬُّﻝِّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺍﺭْﺣَﻤْﻬُﻤَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺑَّﻴَﺎﻧ۪ﻰ ﺻَﻐ۪ﻴﺮًﺍ,

mengajak anak-anak untuk menghormati dan mengasihi ayah serta ibu yang lanjut usia dengan cara yang sangat bermukjizat dari lima segi, juga karena agama Islam memerintahkan hormat dan belas kasih kepada orang lanjut usia, dan karena fitrah manusia menuntut hormat serta belas kasih kepada orang lanjut usia, tentu kita yang lanjut usia memperoleh belas kasih dan rasa hormat yang berasal dari Pertolongan Ilahi yang bersifat maknawi, terus bertahan, serta penting, dan dari rasa iba sesama manusia. Kita juga memperoleh kenikmatan ruh yang tumbuh dari belas kasih dan rasa hormat tersebut. Semua ini menggantikan kenikmatan fisik sementara yang berasal dari selera masa muda. Karena itu, kita tidak boleh menukar masa tua ini dengan seratus masa muda.

Ya, aku sendiri meyakinkan kalian: “Jika diberikan kepadaku sepuluh tahun masa muda Said Lama, aku tidak akan menyerahkan satu tahun masa tua Said Baru sekarang.” Aku rela terhadap masa tuaku; kalian juga harus rela.

HARAPAN KESEPULUH

Pada suatu waktu setelah kembali dari tawanan, selama satu atau dua tahun di Istanbul kelalaian kembali menguasai. Ketika suasana politik mengalihkan pandanganku dari nafsuku dan menyebarkannya ke cakrawala, pada suatu hari aku duduk di tempat tinggi yang menghadap lembah di pemakaman Eyyüb Sultan di Istanbul. Aku memandang cakrawala di sekeliling Istanbul. Tiba-tiba, datang kepadaku suatu bayangan seolah-olah dunia pribadiku sedang wafat dan dari beberapa segi ruh ditarik keluar. Aku berkata, “Apakah tulisan-tulisan pada batu nisan pemakaman ini yang memberiku bayangan demikian?” Aku menarik pandanganku. Aku tidak memandang jauh, tetapi memandang pemakaman itu, lalu suatu peringatan diberikan kepada hatiku:

“Pemakaman di sekelilingmu ini memuat seratus Istanbul. Sebab, Istanbul telah seratus kali dikosongkan ke sini. Engkau tidak dapat lolos dan menjadi pengecualian dari Hukum Sang Penguasa Yang Qadîr, Yang mengosongkan seluruh penduduk Istanbul ke sini. Engkau juga akan pergi.”

Aku keluar dari pemakaman dengan bayangan yang mengerikan ini. Seperti sering kulakukan, kali ini pun aku masuk ke sebuah kamar kecil pada bagian mahfil Masjid Sultan Eyyüb. Aku berpikir: Aku tamu dari tiga segi. Sebagaimana aku tamu di tempat tinggal kecil ini, aku juga tamu di Istanbul dan tamu di dunia. Seorang tamu harus memikirkan jalannya. Sebagaimana aku akan keluar dari kamar ini, suatu hari aku juga akan keluar dari Istanbul, dan pada hari yang lain keluar dari dunia.

Dalam keadaan ini, kesedihan dan duka yang sangat menyentuh, penuh perpisahan, serta menyakitkan menimpa hati dan kepalaku. Sebab, aku bukan hanya kehilangan satu atau dua sahabat. Selain berpisah dari ribuan sahabat tercinta di Istanbul, aku juga akan meninggalkan Istanbul yang sangat kucintai. Selain berpisah dari ratusan ribu sahabat di dunia, aku juga akan meninggalkan dunia yang indah, yang sangat kucintai serta membuatku terpikat. Ketika memikirkan ini, aku kembali ke tempat tinggi di pemakaman itu.

Karena sesekali pergi ke bioskop untuk mengambil pelajaran, pada saat itu orang-orang di Istanbul tampak kepadaku seperti dalam film: dengan membawa bayangan masa lalu ke masa kini, orang-orang yang telah mati ditampilkan berdiri dan berjalan. Demikian pula, aku melihat orang-orang pada saat itu sebagai jenazah-jenazah yang berdiri dan berjalan. Bayanganku berkata, “Karena sebagian orang dalam pemakaman ini tampak berjalan dalam film, pandanglah orang-orang yang pasti akan masuk ke pemakaman ini kelak seolah-olah telah memasukinya. Mereka juga jenazah yang sedang berjalan.”

Tiba-tiba, melalui cahaya Al-Qur'an Al-Hakîm dan bimbingan Ghauts Yang Agung, Syekh Jailani, keadaan yang sedih itu berubah menjadi keadaan yang gembira serta ceria. Demikianlah:

Terhadap keadaan sedih tersebut, cahaya yang datang dari Al-Qur'an mengingatkan: Dalam keadaanmu yang terasing di Kosturma, di timur laut, engkau memiliki satu atau dua sahabat perwira tawanan. Engkau mengetahui bahwa sahabat-sahabat ini pasti akan pergi ke Istanbul. Seandainya seseorang berkata kepadamu, “Apakah engkau akan pergi ke Istanbul atau tetap tinggal di sini?”, tentu, jika memiliki akal sebesar zarah, engkau akan menerima pergi ke Istanbul dengan lega serta gembira. Sebab, dari seribu satu sahabat, sembilan ratus sembilan puluh sembilan berada di Istanbul. Satu atau dua tertinggal di sini, dan mereka pun akan pergi ke sana. Bagimu, pergi ke Istanbul bukan perpisahan yang sedih dan bukan berpisah yang menyakitkan. Engkau juga telah datang; bukankah engkau merasa senang? Engkau terbebas dari malam-malam panjang yang sangat gelap serta musim-musim dingin penuh badai yang sangat dingin di negeri musuh itu. Engkau datang ke Istanbul yang indah ini (seperti surga dunia).

Persis demikian, sembilan puluh sembilan persen orang yang engkau cintai sejak kecil sampai usia ini telah berpindah ke pemakaman yang membuatmu ngeri.

Di dunia ini hanya tertinggal satu atau dua sahabat, dan mereka juga akan pergi ke sana. Wafatmu di dunia bukan perpisahan, melainkan pertemuan, bertemu dengan sahabat-sahabat itu. Mereka, yaitu ruh-ruh yang tetap ada, meninggalkan sarang-sarang usang di bawah tanah; sebagian berjalan-jalan di antara bintang dan sebagian pada lapisan-lapisan alam barzakh, demikian peringatan itu diberikan.

Ya, Al-Qur'an dan iman telah membuktikan hakikat ini dengan demikian pasti sehingga jika seseorang tidak sepenuhnya tanpa hati dan ruh, atau kesesatan tidak menenggelamkan hatinya, ia harus mempercayainya seolah-olah melihat. Sebab, Sang Pembuat Yang Karîm dan Rahîm menghiasi dunia ini dengan berbagai jenis kebaikan serta anugerah yang tak terbatas, memperlihatkan Rububiyah⁠-⁠Nya dengan Kemurahan Hati dan Kasih Sayang, serta menjaga bahkan hal-hal kecil yang paling tidak berarti, seperti benih. Tentu dan dengan jelas, Dia tidak melenyapkan, tidak memusnahkan, dan tidak menyia-nyiakan manusia, ciptaan⁠-⁠Nya yang paling sempurna, paling lengkap, paling penting, serta paling Dia cintai, dengan begitu tanpa belas kasih dan tanpa masa depan seperti tampaknya dari luar. Sebaliknya, seperti benih yang ditebarkan petani ke tanah, Sang Khâliq Yang Rahîm menempatkan ciptaan tercinta itu sementara di bawah tanah, pintu Rahmat, untuk menghasilkan bulir dalam kehidupan yang lain. {(Catatan kaki): Hakikat ini telah dibuktikan dalam risalah-risalah lain, terutama Kalimat Kesepuluh dan Kedua Puluh Sembilan, sejelas dua kali dua sama dengan empat.}

Setelah menerima peringatan Al-Qur'an ini, pemakaman itu menjadi lebih akrab bagiku daripada Istanbul. Menyendiri dan menjauh dari keramaian menjadi lebih menyenangkan bagiku daripada berbincang serta bergaul. Aku pun menemukan tempat menyendiri bagi diriku di Sarıyer, di sisi selat. Sebagaimana Ghauts Yang Agung (ra) melalui Fütuhu'l-Gayb menjadi guru, tabib, dan pembimbing bagiku, Imam Rabbani (ra) melalui Mektubat juga menjadi sahabat yang akrab, seorang yang mengasihi, dan pengajar. Saat itu aku sangat senang karena memasuki masa tua, menarik diri dari kesenangan peradaban, dan melepaskan diri dari kehidupan masyarakat. Aku bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ.

Wahai pribadi-pribadi yang memasuki masa tua sepertiku dan sering mengingat wafat melalui peringatan masa tua! Dengan cahaya pelajaran iman yang diberikan Al-Qur'an, kita harus memandang masa tua, wafat, dan penyakit dengan senang, bahkan dari satu segi mencintainya. Karena kita memiliki nikmat yang sangat berharga tanpa batas seperti iman, masa tua pun menyenangkan, penyakit pun menyenangkan, dan wafat pun menyenangkan. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan, itulah dosa, kebejatan, bidah, dan kesesatan.

HARAPAN KESEBELAS

Setelah kembali dari tawanan, kami tinggal bersama mendiang keponakanku Abdurrahman, putra saudaraku, di sebuah rumah besar di Bukit Çamlıca, Istanbul. Dari segi kehidupan duniawi, kehidupanku ini dapat dianggap kehidupan paling bahagia bagi orang seperti kami. Sebab, aku telah terbebas dari tawanan, dan di Dârülhikmet terdapat keberhasilan menyebarkan ilmu dengan cara yang paling luhur, sesuai dengan jalan ilmuku. Martabat serta kehormatan yang diarahkan kepadaku jauh melampaui kelayakanku. Dari segi tempat, aku tinggal di Çamlıca, tempat paling indah di Istanbul. Segala sesuatu bagiku juga sempurna. Mendiang keponakanku Abdurrahman, yang sangat cerdas dan rela berkorban, sekaligus murid, pemberi khidmah, penulis, serta anak rohaniku, berada bersamaku.

Ketika menganggap diriku lebih bahagia daripada semua orang di dunia, aku memandang cermin dan melihat rambut-rambut putih di rambut serta janggutku. Tiba-tiba, kesadaran ruh yang timbul saat tertawan di masjid Kosturma kembali muncul. Sebagai pengaruhnya, aku mulai meneliti keadaan serta sebab yang mengikat hatiku dan kuanggap sebagai sumber kebahagiaan duniawi. Apa pun yang kuteliti, kulihat rapuh, tidak layak diikatkan hati, dan menipu. Pada masa itu, pada seorang sahabat yang kuanggap paling setia aku melihat sikap tidak setia yang tidak diharapkan dan sikap mengingkari persahabatan yang tidak pernah terlintas. Muncul rasa gentar terhadap kehidupan duniawi. Aku berkata kepada hatiku, “Apakah aku telah sepenuhnya tertipu? Aku melihat begitu banyak orang memandang dengan keinginan mendapat keadaan seperti kita, padahal keadaan kita patut dikasihani dari segi hakikat. Apakah semua orang ini telah menjadi gila, atau sekarang aku yang menjadi gila sehingga melihat para pemuja dunia ini sebagai orang gila?” Bagaimanapun...

Melalui kesadaran kuat yang diberikan masa tua, pertama-tama aku melihat bahwa benda-benda fana yang mengikatku memang fana. Aku juga memandang diriku dan melihatnya sangat tak berdaya. Saat itu, ruhku yang ingin tetap ada untuk selama-lamanya dan terpikat kepada hal-hal fana karena menyangka mereka kekal berkata dengan seluruh kekuatannya, “Karena secara fisik aku fana, kebaikan apa yang dapat datang kepadaku dari hal-hal fana ini? Karena aku tak berdaya, apa yang dapat kuharapkan dari mereka yang tak berdaya? Aku membutuhkan Sang Bâqî Yang Kekal Selamanya dan Sang Qadîr Yang Azali, Yang akan menemukan penawar bagi penderitaanku.” Dengan berkata demikian, aku mulai mencari.

Saat itu, sebelum segala sesuatu, aku kembali kepada ilmu yang sejak dahulu kupelajari dan mulai mencari penghiburan serta harapan. Sangat disayangkan, sampai saat itu aku telah memenuhi pikiranku dengan ilmu-ilmu filsafat bersama ilmu-ilmu Islam. Dengan sangat keliru, aku menganggap ilmu-ilmu filsafat itu sebagai tambang untuk menjadi sempurna dan sarana untuk memperoleh cahaya. Padahal, persoalan-persoalan filsafat itu telah sangat mengotori ruhku dan menjadi penghalang kemajuan batinku.

Tiba-tiba, melalui Rahmat dan Kemurahan Hati Allah سُبْحَانَهُ, Hikmah Suci dalam Al-Qur'an Al-Hakîm datang menolong. Seperti dijelaskan dalam banyak risalah, Hikmah itu mencuci dan membersihkan kotoran persoalan-persoalan filsafat tersebut.

Di antaranya: Gelap ruh yang berasal dari ilmu-ilmu filsafat menenggelamkan ruhku dalam kainat. Ke arah mana pun aku memandang dan mencari cahaya, aku tidak menemukan cahaya dalam persoalan-persoalan itu dan tidak dapat bernapas. Sampai akhirnya tauhid, yang datang dari Al-Qur'an Al-Hakîm dan diajarkan melalui kalimat

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ,

menjadi cahaya yang sangat terang dan mengusir seluruh gelap tersebut. Aku bernapas dengan lega. Namun, nafsu dan setan menyerang akal serta hati dengan bersandar kepada pelajaran yang mereka terima dari orang-orang yang sesat dan para filsuf. Perdebatan batin dalam serangan ini, lillahi'l-hamd, berakhir dengan kemenangan hati.

Sebagian perdebatan itu ditulis dalam banyak risalah. Dengan mencukupkan diri dengannya, di sini aku hanya akan menjelaskan satu dalil dari ribuan dalil untuk menunjukkan seperseribu kemenangan hati. Dengan demikian, semoga dalil itu membersihkan ruh sebagian orang lanjut usia yang pada masa muda telah mengotori ruh, membuat hati sakit, dan memanjakan nafsu melalui persoalan-persoalan yang sebagian berupa kesesatan dan sebagian sia-sia, dengan nama filsafat asing atau ilmu-ilmu peradaban. Semoga mereka terbebas dari keburukan setan serta nafsu tentang tauhid. Demikianlah:

Sebagai wakil ilmu-ilmu filsafat, nafsuku berkata: Sebab-sebab dalam kainat ini melalui tabiatnya ikut campur terhadap makhluk-makhluk. Segala sesuatu menghadap kepada suatu sebab. Buah harus diminta dari pohon dan biji-bijian dari tanah. Apa artinya meminta bahkan sesuatu yang paling kecil serta terbatas kepada Allah سُبْحَانَهُ dan memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ?

Saat itu, melalui cahaya Al-Qur'an, rahasia tauhid terbuka dengan cara berikut. Hatiku berkata kepada nafsuku yang bergaya filsuf:

Sesuatu yang paling kecil dan paling terbatas, seperti sesuatu yang paling besar, datang langsung dari Kudrat Sang Khâliq seluruh kainat ini dan keluar dari Khazanah⁠-⁠Nya. Tidak mungkin dengan cara lain. Sebab-sebab hanyalah tabir. Sebab, makhluk-makhluk yang kita anggap paling tidak berarti dan paling kecil terkadang lebih besar daripada yang terbesar dari segi seni serta penciptaan. Jika seekor lalat tidak melampaui ayam dari segi seni, ia juga tidak tertinggal. Maka, besar dan kecil tidak akan dibedakan. Entah seluruhnya akan dibagi kepada sebab-sebab materi, atau seluruhnya sekaligus diserahkan kepada satu Zat. Sebagaimana pilihan pertama mustahil, pilihan ini niscaya secara akal dan tak terelakkan.

Sebab, jika diserahkan kepada satu Zat, yaitu Sang Qadîr Yang Azali, Ilmu⁠-⁠Nya, yang adanya telah dipastikan melalui keteraturan serta hikmah seluruh makhluk, meliputi segala sesuatu. Dalam Ilmu⁠-⁠Nya, ukuran segala sesuatu telah ditentukan. Secara nyata, setiap waktu ciptaan yang penuh seni tanpa batas muncul dari keadaan tidak ada dengan kemudahan tanpa batas. Sang Qadîr Yang ‘Alîm memiliki Kudrat Yang Tak Terbatas, yang membuat⁠-⁠Nya dapat menciptakan apa pun melalui “Emr-i kün feyekûn” seperti menyalakan korek api. Kami telah menjelaskan hal ini dengan dalil-dalil kuat yang tak terbatas dalam banyak risalah, terutama membuktikannya pada akhir Surat Kedua Puluh dan Lem'a Kedua Puluh Tiga. Karena semua itu demikian, tentu kemudahan luar biasa yang tampak nyata berasal dari Ilmu⁠-⁠Nya Yang Meliputi Segala Sesuatu dan Kudrat⁠-⁠Nya Yang Agung.

Misalnya, jika sebuah kitab ditulis dengan tinta berbahan kimia yang tidak terlihat, lalu diolesi bahan kimia khusus untuk memperlihatkan tulisan tersebut, kitab besar itu tiba-tiba menunjukkan wujudnya kepada setiap mata dan membuat dirinya terbaca. Persis demikian, dalam Ilmu Sang Qadîr Yang Azali yang meliputi segala sesuatu, bentuk khusus setiap hal telah ditentukan dengan suatu ukuran tertentu. Melalui “Emr-i kün feyekûn”, dengan Kudrat⁠-⁠Nya Yang Tak Terbatas serta Kehendak⁠-⁠Nya Yang Berlaku, Sang Qadîr Mutlak dengan sangat mudah menerapkan Kekuatan⁠-⁠Nya, suatu pancaran Kudrat, pada hakikat yang berada dalam Ilmu itu, seperti bahan kimia yang dioleskan pada tulisan tersebut. Dia memberikan wujud nyata kepada sesuatu itu, memperlihatkannya kepada mata, dan membuat ukiran-ukiran Hikmah⁠-⁠Nya terbaca.

Jika segala sesuatu tidak sekaligus diserahkan kepada Sang Qadîr Yang Azali dan Sang ‘Alîm Yang Mengetahui Segala Sesuatu, untuk mewujudkan sesuatu yang paling kecil seperti lalat, tubuhnya harus dikumpulkan dari sebagian besar jenis di dunia dengan suatu timbangan khusus. Bersamaan dengan itu, hal ini hanya mungkin jika zarah-zarah yang bekerja dalam tubuh lalat kecil itu mengetahui seluruh rincian rahasia penciptaan serta kesempurnaan seninya.

Sebab-sebab alam dan sebab-sebab materi, dengan jelas dan menurut kesepakatan seluruh orang berakal, tidak dapat menciptakan dari keadaan tidak ada. Maka, jika mereka menciptakan, tentu mereka harus mengumpulkan. Karena harus mengumpulkan, setiap makhluk hidup, apa pun jenisnya, memiliki contoh-contoh dari sebagian besar unsur serta jenis. Ia hampir seperti ringkasan dan biji kainat. Tentu, dalam keadaan itu, satu biji harus dikumpulkan dari seluruh pohon dan satu makhluk hidup dari seluruh muka bumi dengan diayak melalui ayakan halus serta diukur melalui timbangan yang paling teliti.

Karena sebab-sebab alam tidak tahu dan tidak hidup, mereka tidak memiliki ilmu untuk menentukan rancangan, daftar, model, serta program, lalu berdasarkan itu melelehkan dan menuangkan zarah-zarah yang datang ke cetakan maknawi, agar tidak berhamburan dan tidak merusak keteraturannya. Padahal, bentuk serta susunan segala sesuatu dapat terjadi dalam cara-cara yang tak terbatas. Di antara bentuk dan ukuran yang tak terhitung serta tak terbatas itu, zarah-zarah unsur yang mengalir seperti banjir harus ditahan dalam satu bentuk dan ukuran, tanpa berhamburan, dengan teratur, tanpa ukuran dan tanpa cetakan, bertumpuk sebagai massa, serta makhluk hidup harus diberi tubuh yang teratur. Tampak betapa hal ini jauh dari kemungkinan, peluang, dan akal. Tentu, siapa pun yang hatinya tidak buta akan melihatnya.

Ya, berdasarkan hakikat ini, melalui rahasia ayat agung

ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻟَﻦْ ﻳَﺨْﻠُﻘُﻮﺍ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻭَﻟَﻮِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻟَﻪُ,

{(Catatan kaki): Artinya, seluruh yang kalian seru dan sembah selain Allah سُبْحَانَهُ, jika berkumpul, tidak dapat menciptakan seekor lalat.} sekalipun seluruh sebab materi berkumpul dan memiliki kehendak, mereka tidak dapat mengumpulkan tubuh seekor lalat beserta perlengkapan tubuh itu dengan timbangan khusus. Sekalipun dapat mengumpulkan, mereka tidak dapat menahannya dalam ukuran tubuh yang telah ditentukan. Sekalipun dapat menahan, mereka tidak dapat mempekerjakan dengan teratur zarah-zarah yang terus diperbarui, datang ke tubuh itu, dan bekerja. Maka, dengan jelas sebab-sebab tidak dapat mengaku sebagai pemilik benda-benda ini. Berarti, Sang Pemiliknya Yang Sejati adalah Yang Lain.

Ya, semuanya memiliki Sang Pemilik Yang Sejati, Yang melalui rahasia ayat

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ

membuat seluruh makhluk hidup di muka bumi semudah menghidupkan seekor lalat, dan menciptakan satu musim semi semudah satu bunga. Sebab, Dia tidak perlu mengumpulkan. Dia memiliki “Emr-i kün feyekûn”, dan setiap musim semi menciptakan dari keadaan tidak ada sifat, keadaan, serta bentuk yang tak terbatas dari makhluk-makhluk musim semi, selain bahan unsurnya. Dalam Ilmu⁠-⁠Nya, rancangan, model, daftar, dan program segala sesuatu telah ditentukan. Seluruh zarah bergerak dalam lingkup Ilmu serta Kudrat⁠-⁠Nya. Karena itu, Dia menciptakan segala sesuatu dengan kemudahan paling besar, seperti menyalakan korek api. Tidak sesuatu pun menyimpang dalam geraknya meski sebesar zarah. Sebagaimana planet-planet menjadi pasukan⁠-⁠Nya yang patuh, zarah-zarah pun menjadi pasukan⁠-⁠Nya yang teratur.

Karena mereka bergerak dengan bersandar kepada Kudrat Azali itu dan bekerja menurut prinsip Ilmu Azali tersebut, hasil-hasil itu terwujud sesuai dengan Kudrat tersebut. Hasil-hasil itu tidak menjadi kecil karena memandang diri mereka yang kecil dan tidak berarti. Melalui kekuatan hubungan dengan Kudrat itu, seekor lalat membunuh seorang Namrud, semut menghancurkan istana Fir'aun, dan benih pinus yang kecil seperti zarah membawa di bahunya beban pohon pinus besar seperti gunung. Seperti telah kami buktikan dalam banyak risalah, seorang prajurit melalui dokumen keprajuritan, dari segi hubungannya kepada raja, memperoleh hasil seratus ribu kali lebih besar daripada kekuatannya sendiri, seperti menawan seorang raja. Demikian pula, melalui hubungan kepada Kudrat Azali, segala sesuatu dapat memperoleh mukjizat seni seratus ribu kali di atas sebab-sebab alam.

Kesimpulannya:

Wujud segala sesuatu yang sekaligus penuh seni dan sangat mudah menunjukkan bahwa semuanya merupakan karya Sang Qadîr Yang Azali, Pemilik Ilmu Yang Meliputi Segala Sesuatu. Jika tidak, di tengah seratus ribu hal yang mustahil, bukan hanya tidak terwujud, segala sesuatu bahkan keluar dari lingkup mungkin dan masuk ke lingkup mustahil, keluar dari bentuk yang mungkin dan masuk ke hakikat yang mustahil. Tidak sesuatu pun akan terwujud; bahkan, terwujudnya sesuatu akan mustahil.

Melalui dalil yang sangat halus, sangat kuat, sangat dalam, dan sangat jelas ini, nafsuku, murid sementara setan serta wakil orang-orang yang sesat dan para filsuf, terdiam. Dan lillahi'l-hamd, ia mencapai iman yang sempurna. Ia berkata:

Ya, aku membutuhkan Sang Khâliq dan Rabb Yang mengetahui bahkan pikiran hatiku yang paling kecil serta permohonanku yang paling tersembunyi. Sebagaimana Dia memenuhi kebutuhan ruhku yang paling tersembunyi, Dia harus memiliki Kudrat untuk mengubah dunia besar menjadi akhirat demi memberikan kebahagiaan yang kekal kepadaku, menyingkirkan dunia ini dan mendirikan akhirat sebagai gantinya, menciptakan langit sebagaimana menciptakan lalat, serta menempatkan satu zarah di pupil mataku sebagaimana memasang matahari sebagai mata pada wajah langit. Jika tidak, yang tidak dapat menciptakan lalat tidak dapat campur tangan terhadap pikiran hatiku dan tidak dapat mendengar permohonan ruhku. Yang tidak menciptakan langit tidak dapat memberikan kebahagiaan yang kekal kepadaku. Maka, Rabb-ku ialah Dia Yang memperbaiki pikiran hatiku, serta, sebagaimana memenuhi dan mengosongkan ruang udara dengan awan dalam satu jam, mengubah dunia menjadi akhirat, membuat surga, membuka pintunya bagiku, dan berkata, “Mari masuk!”

Wahai saudara-saudaraku yang lanjut usia, yang seperti nafsuku, akibat keadaan malang menghabiskan sebagian umur dalam filsafat tanpa cahaya dan ilmu-ilmu asing! Pahamilah betapa kuat, benar, dan suci suatu rukun iman yang diajarkan melalui Firman Suci

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

yang terus terdapat pada lisan Al-Qur'an, yang sama sekali tidak dapat diguncangkan, dirusak, atau diubah, serta bagaimana ia mengusir seluruh gelap batin dan mengobati luka-luka batin.

Memasukkan kisah panjang ini di antara pintu-pintu harapan masa tuaku hampir tidak melalui kehendakku sendiri. Aku tidak menginginkannya, bahkan khawatir akan membuat jemu. Namun, aku dapat berkata bahwa aku dibuat menuliskannya. Bagaimanapun, aku kembali ke pokok pembicaraan.

Akibat rambut-rambut putih di rambut dan janggutku serta sikap tidak setia seorang yang dianggap setia, aku mulai membenci kesenangan kehidupan duniawi Istanbul yang gemerlap, tampak manis, dan indah. Nafsuku mencari kenikmatan batin sebagai ganti kenikmatan yang membuatnya terpikat. Ia menginginkan penghiburan serta cahaya dalam masa tua yang tampak dingin, berat, dan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang lalai. Felillahi'l-hamd, seratus ribu syukur kepada Allah سُبْحَانَهُ! Sebagaimana aku menemukan kenikmatan iman yang sejati, terus bertahan, dan manis dalam “Lâ İlahe İllâ Hû” serta cahaya tauhid, sebagai ganti seluruh kenikmatan duniawi yang tanpa hakikat, tanpa rasa, dan tanpa masa depan, melalui cahaya tauhid itu aku juga melihat masa tua yang tampak dingin serta berat bagi orang-orang yang lalai menjadi sangat ringan, hangat, dan bercahaya.

Wahai saudara dan saudari lanjut usia! Karena kalian memiliki iman, serta salat dan doa yang menerangi serta mengembangkan iman, kalian dapat memandang masa tua sebagai masa muda untuk selama-lamanya. Sebab, melalui masa tua kalian dapat memperoleh masa muda yang kekal. Masa tua yang benar-benar dingin, berat, buruk, gelap, dan menyakitkan ialah masa tua orang-orang yang sesat, bahkan masa muda mereka. Mereka harus menangis dan berkata “vâ-esefâ, vâ-hasretâ”. Kalian, wahai orang-orang lanjut usia beriman yang dihormati, harus berkata

ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺣَﺎﻝٍ

dan bersyukur dengan gembira.