Lem'a Kedua Puluh Enam
İhtiyarlar Lem'ası (Lem'a bagi Orang Lanjut Usia)
Memuat dua puluh enam harapan dan cahaya penghiburan.
Peringatan:
Alasan aku menulis penderitaan batinku dengan sangat menyakitkan sampai membuat kalian sedih pada awal setiap “harapan” ialah untuk menunjukkan pengaruh luar biasa obat yang datang dari Al-Qur'an Al-Hakîm.
Lem'a tentang orang lanjut usia ini tidak dapat menjaga keindahan ungkapan dari tiga atau empat segi.
Pertama:
Karena berkaitan dengan perjalanan hidupku, aku kembali dalam bayangan kepada masa-masa itu dan menulis dalam keadaan tersebut, sehingga ungkapannya menjadi tidak teratur.
Kedua:
Karena ditulis ketika aku merasa sangat lelah setelah salat Subuh, sekaligus harus terburu-buru, ungkapan menjadi kurang teratur.
Ketiga:
Karena tidak selalu ada orang yang menulis di sisiku, dan penulis yang ada juga memiliki empat atau lima tugas tentang Risale-i Nur, kami tidak mendapat waktu penuh untuk memperbaikinya, sehingga tulisan tetap tidak teratur.
Keempat:
Karena segera setelah menulis kami berdua lelah, tidak dapat memikirkan maknanya dengan teliti, dan mencukupkan diri dengan perbaikan yang sangat sepintas, tentu akan terdapat kekurangan dalam cara mengungkapkan. Kami memohon orang-orang lanjut usia yang berjiwa besar memandang kekurangan ungkapanku dengan toleransi. Semoga orang-orang lanjut usia yang diberkahi, yang tidak dipulangkan dengan tangan kosong oleh Rahmat Ilahi, menyertakan kami dalam doa ketika mengangkat tangan ke Hadirat Ilahi.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻛٓﻬٰﻴٰﻌٓﺺٓ ٭ ﺫِﻛْﺮُ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ ٭ ﺍِﺫْ ﻧَﺎﺩٰﻯ ﺭَﺑَّﻪُ ﻧِﺪَٓﺍﺀً ﺧَﻔِﻴًّﺎ ٭ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﻭَﻫَﻦَ ﺍﻟْﻌَﻈْﻢُ ﻣِﻨّ۪ﻰ ﻭَﺍﺷْﺘَﻌَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺍْﺱُ ﺷَﻴْﺒًﺎ ﻭَﻟَﻢْ ﺍَﻛُﻦْ ﺑِﺪُﻋَٓﺎﺋِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺷَﻘِﻴًّﺎ
Lem'a ini terdiri atas dua puluh enam harapan.
HARAPAN PERTAMA
Wahai saudara dan saudari lanjut usia yang dihormati, yang telah mencapai usia matang! Aku pun lanjut usia seperti kalian. Dengan keinginan agar kalian turut memperoleh harapan-harapan yang sesekali kutemukan pada masa tua serta cahaya penghiburan dalam harapan itu, aku akan menulis beberapa keadaan yang kualami. Cahaya yang kulihat dan pintu harapan yang kutemui tentu terlihat serta terbuka sesuai dengan bakatku yang tidak sempurna dan kurang teratur. İnşâallah, bakat kalian yang murni dan tulus akan memperterang cahaya yang kulihat serta semakin menguatkan harapan yang kutemukan.
Sumber, tambang, dan pancuran harapan serta cahaya yang akan datang itu ialah iman.
HARAPAN KEDUA
Ketika memasuki masa tua, pada suatu hari di musim gugur, pada waktu sore, aku memandang dunia dari sebuah gunung yang tinggi. Tiba-tiba, datang kepadaku keadaan yang sangat menyentuh, sedih, dan dari satu segi gelap. Aku melihat bahwa aku telah tua, hari pun telah tua, tahun pun telah tua, dan dunia pun telah tua. Di tengah semua masa tua ini, karena waktu berpisah dari dunia dan meninggalkan orang-orang yang kucintai semakin dekat, masa tua sangat mengguncangkanku. Tiba-tiba, Rahmat Ilahi terbuka demikian rupa sehingga mengubah kesedihan serta perpisahan yang menyentuh itu menjadi harapan yang kuat dan cahaya penghiburan yang terang.
Ya, wahai orang-orang lanjut usia sepertiku! Kita memiliki Sang Khâliq Yang Rahîm, Yang memperkenalkan Diri-Nya kepada kita melalui Sifat “Er-Rahmanu'r-Rahîm” di seratus tempat dalam Al-Qur'an Al-Hakîm. Dia terus mengirimkan Rahmat-Nya untuk menolong makhluk-makhluk hidup yang meminta belas kasih di muka bumi. Setiap tahun, dari alam gaib Dia memenuhi musim semi dengan nikmat serta hadiah yang tak terbatas, lalu mengirimkannya kepada kita yang membutuhkan rezeki. Dia memperlihatkan pancaran Rahmat-Nya lebih besar sebanding dengan tingkat kelemahan dan keadaan tak berdaya. Rahmat Sang Khâliq kita itu merupakan harapan terbesar dan cahaya terkuat pada masa tua ini.
Menemukan Rahmat ini ialah terhubung kepada Ar-Rahmân melalui iman dan menaati-Nya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban fardu.
HARAPAN KETIGA
Pada suatu waktu, ketika aku bangun dari tidur malam masa muda dengan pagi masa tua, aku memandang diriku. Tubuhku bergerak seolah-olah berlari menuruni sebuah lereng menuju kubur. Seperti perkataan Niyazi-i Mısrî,
Setiap hari satu batu bangunan umurku jatuh ke tanah,
Jiwa terbaring lalai, tak tahu bangunannya telah menjadi puing.
Demikian pula, tubuhku, rumah ruhku, menjadi usang karena satu batunya jatuh setiap hari. Harapan dan cita-cita yang mengikatku kuat kepada dunia mulai terputus. Aku merasakan bahwa waktu berpisah dari sahabat dan orang-orang tercinta yang tak terhitung semakin dekat. Aku mencari salep bagi luka batin yang sangat dalam dan tampak tanpa obat itu, tetapi tidak menemukannya. Seperti Niyazi-i Mısrî lagi, aku berkata:
Hatiku menghendaki kekal; Al-Haqq menghendaki lenyapnya kerajaan tubuhku.
Aku jatuh dalam penyakit tanpa obat; âh, Luqman pun tidak tahu.
{(Catatan kaki): Artinya, meskipun hatiku menghendaki kekal dengan seluruh kekuatannya, Hikmah Ilahi menuntut tubuhku rusak. Aku jatuh dalam penyakit tanpa obat, yang bahkan Tabib Luqman tidak dapat menemukan penawarnya.}
Saat itu, tiba-tiba cahaya, syafaat, dan hadiah hidayah yang dibawa kepada manusia oleh Nabi Yang Agung ﷺ, yang merupakan lisan, contoh, gambaran, penyeru, dan wakil Belas Kasih Ilahi, menjadi salep serta penawar yang indah bagi luka yang kusangka tanpa obat dan tak terbatas. Hal itu mengubah putus asaku yang gelap menjadi harapan yang bercahaya.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia yang dihormati, yang merasakan masa tuanya sepertiku! Kita sedang pergi; tidak ada manfaat menipu diri. Sekalipun kita menutup mata, kita tidak akan dibiarkan tinggal di sini; ada keberangkatan. Namun, negeri barzakh yang tampak penuh perpisahan dan gelap bagi kita, akibat sangkaan gelap yang berasal dari kelalaian dan sebagian dari orang-orang yang sesat, merupakan tempat berkumpulnya sahabat-sahabat. Negeri itu adalah alam untuk bertemu dengan seluruh sahabat kita, terutama Habibullah ﷺ, pemberi syafaat kita.
Ya, selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, pada setiap tahun Ahmad ﷺ menjadi sultan tiga ratus lima puluh juta manusia, pembimbing ruh, pengajar akal, dan kekasih hati mereka. Setiap hari, melalui rahasia
ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ,
kebaikan yang setara dengan seluruh amal baik umatnya ditambahkan ke lembaran amal baiknya. Beliau merupakan sarana Tujuan-Tujuan Luhur Ilahi dalam kainat ini serta sebab meningkatnya nilai makhluk-makhluk. Sebagaimana pada saat datang ke dunia beliau berkata “ümmetî ümmetî” melalui riwayat sahih dan penglihatan batin yang benar, ketika setiap orang berkata “nefsî nefsî” di padang mahsyar, beliau kembali berkata “ümmetî ümmetî”. Dengan pengorbanan yang paling suci dan paling luhur, beliau kembali bergegas menolong umatnya melalui syafaatnya. Kita sedang menuju alam tempat pribadi itu pergi. Kita menuju suatu alam yang diterangi bintang-bintang orang-orang suci pilihan serta wali yang tak terbatas di sekeliling matahari tersebut.
Cara untuk berada di bawah syafaat pribadi itu, mengambil manfaat dari cahayanya, dan terbebas dari gelap alam barzakh ialah mengikuti sunah yang luhur.
HARAPAN KEEMPAT
Pada suatu waktu, karena aku telah memasuki masa tua, kesehatan tubuhku yang mempertahankan kelalaian juga rusak. Masa tua dan penyakit menyerangku bersama-sama. Dengan memukul kepalaku berulang kali, keduanya mengusir tidurku. Aku juga tidak memiliki ikatan seperti istri, anak-anak, atau harta yang akan mengikatku kepada dunia. Aku melihat bahwa buah-buah modal umur yang kusia-siakan dalam mabuk masa muda semuanya berupa dosa dan kesalahan. Dengan menjerit seperti Niyazi-i Mısrî, aku berkata:
Aku tak melakukan perdagangan; modal umur menjadi sia-sia,
Aku tiba di jalan, tetapi seluruh kafilah telah berangkat tanpa kuketahui.
Menangis dan meratap, aku menempuh jalan sendirian dan terasing,
Mata menangis, dada terbakar, akal bingung dan tak tahu.
Saat itu aku jauh dari kampung halaman. Aku merasakan kesedihan penuh putus asa, duka penuh penyesalan, dan kerinduan yang memohon pertolongan. Tiba-tiba, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya datang menolong. Ia membuka pintu harapan yang begitu kuat kepadaku dan memberikan cahaya penghiburan yang demikian sejati sehingga dapat menghilangkan putus asa seratus kali lebih besar daripada keadaanku itu dan mengusir gelap tersebut.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia yang dihormati, yang hubungannya dengan dunia mulai terputus dan tali-tali ikatannya dengan dunia mulai putus sepertiku! Sang Pembuat Dzul-Jalâl menciptakan dunia ini seperti sebuah kota dan istana yang paling sempurna serta teratur. Mungkinkah Dia tidak berbicara dan berhubungan dengan tamu serta sahabat-Nya yang paling penting di kota dan istana itu? Karena Dia membangun istana ini dengan mengetahui serta mengatur dan menghiasinya dengan Kehendak dan Pilihan-Nya, tentu, sebagaimana yang membuat mengetahui, yang mengetahui juga berbicara. Karena Dia menjadikan istana dan kota ini tempat bertamu serta berdagang yang indah bagi kita, tentu terdapat suatu catatan dan kitab yang menunjukkan Hubungan-Nya dengan kita serta hal-hal yang Dia kehendaki dari kita.
Catatan suci yang paling sempurna itu ialah Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang merupakan mukjizat dari empat puluh segi. Setiap menit, ia beredar setidaknya pada lisan seratus juta orang dan menebarkan cahaya. Setiap hurufnya memberikan sekurang-kurangnya sepuluh pahala dan sepuluh kebaikan, terkadang sepuluh ribu, serta terkadang, melalui rahasia Lailatulqadar, tiga puluh ribu kebaikan, buah surga, dan cahaya barzakh bagi satu hurufnya. Tidak ada kitab dalam kainat yang dapat menandinginya pada kedudukan ini, dan tidak seorang pun dapat menunjukkan kitab seperti itu.
Karena Al-Qur'an yang ada di tangan kita ini merupakan Kalam dan Firman Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Pencipta langit serta bumi, dan Kalam itu datang dari Rububiyah-Nya Yang Mutlak, dari Keilahian-Nya Yang Agung, dan dari Rahmat-Nya Yang Meliputi Segala Sesuatu, ia merupakan tambang Rahmat. Berpeganglah kepadanya. Di dalamnya terdapat penawar bagi setiap penyakit, cahaya bagi setiap gelap, dan harapan bagi setiap putus asa.
Kunci khazanah yang kekal ini ialah iman, berserah diri, mendengarkannya, menerimanya, dan membacanya.
HARAPAN KELIMA
Pada suatu waktu di awal masa tuaku, dengan keinginan mengasingkan diri, ruhku mencari istirahat dalam kesendirian di Bukit Yuşa, di sisi selat Istanbul. Pada suatu hari, dari bukit yang tinggi itu aku memandang lingkaran cakrawala dan sekeliling. Melalui peringatan masa tua, aku melihat suatu gambaran lenyap dan perpisahan yang sangat sedih serta menyentuh. Dari kedudukan yang tinggi pada cabang keempat puluh lima pohon umurku, yaitu tahun keempat puluh lima kehidupanku, aku mengedarkan pandangan sampai ke lapisan-lapisan bawah hidupku. Aku melihat bahwa di bawah sana, pada setiap cabang, dalam setiap tahun, terdapat jenazah yang tak terhitung dari orang-orang yang kucintai, yang terhubung denganku, dan yang kukenal. Dalam rasa sakit batin yang sangat menyentuh akibat perpisahan dan meninggalkan itu, dengan memikirkan sahabat-sahabat yang berpisah seperti Fuzulî-i Bağdadî, aku merintih:
Setiap kali mengingat pertemuan denganmu, aku menangis,
Selama masih ada napas dalam tubuhku yang kering, aku menjerit.
Dengan berkata demikian, aku mencari pintu penghiburan, cahaya, dan harapan. Tiba-tiba, cahaya iman kepada akhirat datang menolong. Ia memberikan cahaya yang tidak pernah padam dan harapan yang tidak pernah patah.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia sepertiku! Karena akhirat ada, kekal, dan lebih indah daripada dunia, serta Dia Yang Menciptakan kita adalah Hakîm dan Rahîm, kita tidak boleh mengeluh serta bersedih tentang masa tua. Sebaliknya, masa tua merupakan tanda bahwa melalui iman dan ibadah manusia mencapai usia matang, dibebaskan dari tugas kehidupan, dan menuju alam Rahmat untuk beristirahat. Karena itu, kita harus merasa senang terhadapnya.
Ya, sebagaimana disebutkan dalam teks hadis, seratus dua puluh empat ribu nabi, pribadi-pribadi paling unggul dalam umat manusia, melalui kesepakatan dan berita mutawatir, sebagian berdasarkan menyaksikan langsung dan sebagian berdasarkan haqqulyaqin, bersama-sama memberitakan adanya akhirat, bahwa manusia akan dibawa ke sana, serta bahwa Khâliq kainat ini akan mendatangkan akhirat yang telah Dia janjikan dengan pasti. Seratus dua puluh empat juta wali membenarkan berita mereka melalui penglihatan batin dan menyaksikan langsung, dengan ilmulyaqin, serta memberikan kesaksian tentang adanya akhirat itu. Seluruh Asma Sang Pembuat Yang Hakîm yang menciptakan kainat ini, melalui pancaran yang diperlihatkan di dunia, dengan jelas menuntut adanya alam yang kekal dan juga menunjukkan adanya akhirat. Setiap tahun pada musim semi, suatu Kudrat Azali yang tak terbatas menghidupkan jenazah pohon-pohon mati yang tetap berdiri di muka bumi, yang tak terhitung, melalui “Emr-i kün feyekûn”, dan membuatnya bangkit setelah mati. Kudrat itu menghimpun dan menyebarkan tiga ratus ribu jenis dari kaum tumbuhan dan bangsa hewan sebagai ratusan ribu contoh kebangkitan serta penyebaran. Suatu Hikmah Yang Kekal, yang tak terhitung dan tanpa pemborosan, juga menjadi bukti. Adapun Yang memberi makan seluruh makhluk berjiwa yang membutuhkan rezeki dengan Kasih Sayang Yang Sempurna dan cara yang sangat luar biasa, serta memperlihatkan berbagai jenis hiasan dan keindahan yang tak terhitung dalam waktu singkat setiap musim semi, ialah suatu Rahmat Yang Kekal dan Pertolongan Yang Terus Berlangsung. Semuanya dengan jelas menuntut adanya akhirat. Manusia, buah kainat yang paling sempurna, ciptaan yang paling dicintai Khâliq kainat, dan yang paling erat terhubung dengan makhluk-makhluk kainat, memiliki cinta untuk kekal, semangat untuk hidup selama-lamanya, serta harapan untuk kekal tanpa akhir, yang kuat, tidak tergoyahkan, dan terus bertahan. Melalui isyarat serta petunjuk yang jelas, semuanya membuktikan dengan demikian pasti bahwa setelah alam fana ini terdapat alam yang kekal, negeri akhirat, dan negeri kebahagiaan, sehingga menuntut manusia menerima adanya akhirat sejelas menerima adanya dunia. {(Catatan kaki): Ya, mudahnya memberitakan adanya sesuatu dan sangat sulitnya mengingkari serta menyatakan bahwa sesuatu itu tidak ada tampak melalui perumpamaan ini. Demikianlah: Seseorang berkata, “Di bumi terdapat sebuah kebun yang sangat luar biasa, yang buah-buahnya berupa susu kaleng.” Orang lain berkata, “Tidak ada.” Orang yang menetapkan adanya kebun itu dengan mudah membuktikan pernyataannya hanya dengan menunjukkan tempatnya atau beberapa buahnya. Untuk membuktikan penyangkalannya, orang yang mengingkari dapat membuktikan pernyataannya dengan melihat dan menunjukkan seluruh bumi.
Demikian pula, terlepas dari ratusan ribu pancaran, buah, dan jejak surga yang ditunjukkan oleh orang-orang yang memberitakannya, kesaksian dua saksi yang benar cukup untuk menetapkan adanya surga. Sebaliknya, orang yang mengingkarinya baru dapat membuktikan penyangkalannya dan menunjukkan bahwa surga tidak ada setelah menyaksikan, melihat, serta memeriksa seluruh kainat yang tak terbatas dan waktu kekal yang tak terbatas.
Wahai saudara-saudaraku yang lanjut usia! Pahamilah betapa kuat iman kepada akhirat.}
Karena salah satu pelajaran terpenting yang diberikan Al-Qur'an Al-Hakîm kepada kita ialah “iman kepada akhirat”, dan iman itu demikian kuat, di dalamnya terdapat harapan serta penghiburan yang dapat mengimbangi bahkan seratus ribu masa tua yang menimpa satu pribadi. Kita yang lanjut usia harus berkata
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻛَﻤَﺎﻝِ الْا۪يمَانِ
dan bergembira atas masa tua kita.
HARAPAN KEENAM
Pada suatu masa ketika aku tertawan dengan menyakitkan, aku merasa gentar terhadap manusia dan tinggal sendirian di puncak Gunung Çam, di Dataran Tinggi Barla. Dalam kesendirian aku mencari cahaya. Pada suatu malam, aku berada di sebuah kamar kecil yang terbuka di atas pohon pinus tinggi di puncak yang tinggi itu. Masa tua mengingatkanku akan tiga atau empat keadaan terasing yang berada di dalam satu sama lain.
Seperti dijelaskan dalam Surat Keenam, malam itu sunyi dan senyap. Hanya suara sedih yang berasal dari gemerisik serta gumaman pepohonan semakin menyentuh rasa iba, masa tua, dan keadaanku yang terasing.
Masa tua berkata kepada telinga hatiku: sebagaimana siang berubah menjadi sebuah kubur hitam dan dunia mengenakan kain kafannya yang hitam, demikian pula siang umurmu akan berubah menjadi malam, siang dunia menjadi malam barzakh, dan musim panas kehidupan menjadi malam musim dingin kematian. Nafsuku terpaksa berkata: Ya, sebagaimana aku terasing dari tanah airku, aku juga terpisah dari orang-orang tercinta yang telah berlalu selama lima puluh tahun umurku dan tertinggal di belakang mereka sambil menangis. Keadaan terasing ini lebih sedih dan menyakitkan daripada terasing dari tanah air. Aku mendekati keadaan terasing yang lebih sedih serta menyakitkan daripada keadaanku yang asing dan sedih pada malam serta gunung ini. Sebab, masa tua memberitahuku bahwa waktu berpisah sekaligus dari seluruh dunia semakin dekat.
Dalam keadaan terasing di dalam terasing dan kesedihan di dalam kesedihan ini, aku mencari harapan serta cahaya. Tiba-tiba, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ datang menolong. Iman memberikan keakraban demikian besar sehingga sekalipun rasa ngeri berlipat yang kualami menjadi seribu kali lebih besar, penghiburan itu tetap mencukupi.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia! Karena kita memiliki Sang Khâliq Yang Rahîm, tidak mungkin ada keadaan terasing bagi kita. Karena Dia Ada, segala sesuatu ada bagi kita. Karena Dia Ada, para malaikat-Nya juga ada. Maka, dunia ini tidak kosong. Gunung-gunung sunyi dan padang-padang kosong dipenuhi hamba-hamba Allah سُبْحَانَهُ. Selain hamba-hamba-Nya yang memiliki kesadaran, melalui Cahaya-Nya dan atas Nama-Nya, batu serta pohon pun menjadi sahabat yang akrab. Melalui bahasa keadaan, mereka dapat berbicara dengan kita dan menyenangkan kita.
Ya, bukti dan saksi sebanyak jumlah makhluk kainat ini serta huruf-huruf kitab besar alam ini memberikan kesaksian tentang Wujud-Nya. Bukti dan saksi sebanyak perlengkapan, makanan, serta nikmat bagi makhluk-makhluk berjiwa, yang dapat menjadi sarana Kasih Sayang, Rahmat, dan Pertolongan, menunjukkan Rahmat-Nya. Semuanya menunjukkan Hadirat Sang Khâliq, Sang Pembuat, dan Sang Pelindung kita, Yang Rahîm, Karîm, Anîs, dan Wadûd. Perantara syafaat yang paling diterima di Hadirat itu ialah keadaan tak berdaya dan kelemahan. Masa tua adalah saat keadaan tak berdaya dan kelemahan itu benar-benar nyata. Kita harus mencintai masa tua, perantara syafaat yang diterima di Hadirat seperti itu, bukan merasa kecewa kepadanya.
HARAPAN KETUJUH
Pada suatu waktu di awal masa tuaku, ketika tawa Said Lama berubah menjadi tangis Said Baru, orang-orang yang mencintai dunia di Ankara menganggapku Said Lama dan memintaku datang ke sana; aku pun pergi. Pada akhir musim gugur, aku naik ke puncak benteng Ankara yang jauh lebih tua, usang, dan lapuk daripada diriku. Benteng itu tampak kepadaku seperti peristiwa-peristiwa sejarah yang telah membatu. Musim tua tahun itu, masa tuaku, tuanya benteng, tuanya umat manusia, tuanya Negara Utsmani yang mulia, wafatnya kekuasaan khilafah, dan tuanya dunia membuatku, dalam keadaan yang sangat sedih, menyentuh, serta penuh perpisahan, memandang lembah-lembah masa lalu dan gunung-gunung masa depan dari benteng yang tinggi itu. Aku pun memandang. Di tengah gelap empat atau lima masa tua yang meliputiku berlapis-lapis, aku merasakan keadaan ruh yang paling gelap di Ankara, {(Catatan kaki): Saat itu, keadaan ruh ini datang ke hati dalam bentuk munajat bahasa Persia; aku menuliskannya. Tulisan itu dicetak dalam Hubab Risalesi (Risalah Gelembung) di Ankara.} sehingga aku mencari cahaya, penghiburan, dan harapan.
Ketika memandang ke kanan, yaitu masa lalu, sambil mencari penghiburan, masa lalu tampak kepadaku sebagai kuburan terbesar ayah, leluhur, dan umat manusia. Sebagai ganti penghiburan, ia memberikan rasa ngeri.
Aku memandang ke sisi kiri, masa depan, untuk mencari obat. Aku melihatnya tampak sebagai kubur besar dan gelap bagi diriku, orang-orang sepertiku, serta generasi yang akan datang. Sebagai ganti keakraban, ia memberikan kengerian.
Merasa ngeri terhadap kanan dan kiri, aku memandang hariku saat ini. Dalam pandanganku yang lalai serta seperti memandang sejarah, hari itu tampak sebagai peti yang membawa jenazah tubuhku, yang sedang setengah mati dan menderita dalam gerak sekarat.
Kemudian, ketika putus asa juga dari arah itu, aku mengangkat kepala dan memandang puncak pohon umurku. Aku melihat bahwa pohon itu hanya memiliki satu buah, yaitu jenazahku; buah itu berada di atas pohon dan memandangku.
Merasa ngeri juga dari arah tersebut, aku menundukkan kepala dan memandang bagian bawah serta akar pohon umur itu. Aku melihat tanah di bawah sana, tempat tanah tulang-belulangku dan tanah asal penciptaanku bercampur, diinjak-injak di bawah kaki. Hal itu bukan obat, melainkan menambah penderitaanku.
Kemudian aku terpaksa memandang ke belakang. Aku melihat dunia yang fana dan tidak memiliki landasan bergulir pergi dalam lembah-lembah hampa serta gelap tanpa wujud. Ketika aku mencari salep bagi penderitaanku, dunia menambahkan racun.
Karena tidak menemukan kebaikan juga pada arah tersebut, aku memandang ke depan dan mengarahkan pandangan jauh. Aku melihat pintu kubur terbuka tepat di jalanku, menganga dan memandangku. Di belakangnya, jalan besar menuju masa tanpa akhir serta rombongan-rombongan yang menempuh jalan itu tampak dari kejauhan.
Untuk menghadapi kengerian yang datang dari keenam arah ini, aku tidak memiliki apa pun selain kehendak bebas manusia yang sangat terbatas, sebagai titik sandaran dan senjata pertahanan. Kehendak bebas itu, satu-satunya senjata manusia terhadap musuh yang tak terbatas serta hal-hal berbahaya yang tak terhitung, tidak sempurna, pendek jangkauannya, tak berdaya, dan tidak dapat menciptakan. Karena itu, ia tidak mampu melakukan sesuatu selain kasb. Ia tidak dapat memasuki masa lalu untuk menghentikan kesedihan yang datang darinya kepadaku, dan tidak dapat memasuki masa depan untuk menghalangi ketakutan yang datang darinya. Aku melihat bahwa ia tidak memberi manfaat bagi harapan dan penderitaanku yang berkaitan dengan masa lalu serta masa depan.
Ketika aku meronta dalam kengerian, rasa ngeri, gelap, dan putus asa yang datang dari keenam arah ini, tiba-tiba cahaya-cahaya iman yang bersinar di langit Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya datang menolong. Cahaya itu menerangi keenam arah demikian besar sehingga sekalipun rasa ngeri serta gelap yang kulihat menjadi seratus kali lebih besar, cahaya itu tetap cukup dan memenuhi kebutuhan untuk menghadapinya. Cahaya itu mengubah satu demi satu seluruh kengerian menjadi penghiburan dan seluruh rasa ngeri menjadi keakraban. Demikianlah:
Iman merobek rupa kuburan terbesar dari masa lalu yang mengerikan itu, lalu menunjukkan dengan ainulyaqin dan haqqulyaqin bahwa masa lalu merupakan majelis yang terang serta akrab dan tempat berkumpulnya sahabat-sahabat.
Iman juga menunjukkan dengan ilmulyaqin bahwa masa depan, yang tampak seperti kubur terbesar dalam pandangan yang lalai, merupakan majelis jamuan Ar-Rahmân di istana-istana kebahagiaan yang menyenangkan.
Iman juga menghancurkan bentuk peti dari masa kini serta hari ini, yang tampak sebagai peti dalam pandangan yang lalai. Melalui apa yang disaksikan, iman menunjukkan bahwa hari ini merupakan toko untuk perdagangan akhirat serta tempat bertamu Ar-Rahmân yang megah.
Iman juga menunjukkan dengan ilmulyaqin bahwa satu-satunya buah pada puncak pohon umur, yang tampak sebagai jenazah melalui pandangan yang lalai, bukan jenazah. Sebaliknya, yang terjadi ialah ruhku, yang memperoleh kehidupan kekal dan menjadi calon penerima kebahagiaan untuk selama-lamanya, keluar dari sarangnya yang usang untuk berjalan-jalan di antara bintang.
Melalui rahasia iman, iman juga menunjukkan bahwa tulang-belulangku serta tanah asal penciptaanku bukan tulang-belulang yang lenyap tanpa arti di bawah kaki. Sebaliknya, tanah itu adalah pintu Rahmat dan tabir ruang surga.
Melalui rahasia Al-Qur'an, iman juga menunjukkan keadaan dunia yang bergulir dalam hampa serta gelap tanpa wujud di belakangku, menurut pandangan yang lalai. Dunia yang bergulir dalam gelap lahir itu sebenarnya merupakan sebagian surat-surat milik Sang Shamad dan lembaran-lembaran ukiran Sang Mahasuci, yang tugasnya telah selesai, maknanya telah dinyatakan, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya, yang tetap terwujud, sebagai ganti dirinya. Dengan ilmulyaqin, iman memberitahukan inti dunia.
Melalui cahaya Al-Qur'an, iman juga menunjukkan bahwa kubur di depan, yang membuka mata dan memandangku, bukan pintu sumur, melainkan pintu alam cahaya. Jalan besar di belakang kubur yang menuju masa tanpa akhir itu bukan jalan menuju hampa dan negeri tidak ada, melainkan jalan menuju wujud, negeri cahaya, serta kebahagiaan untuk selama-lamanya. Karena menunjukkan hal ini sampai tingkat yang memberi keyakinan penuh, iman menjadi obat sekaligus salep bagi penderitaanku.
Iman juga memberi kehendak bebas manusia yang sangat terbatas itu sebuah dokumen, sebagai ganti hanya mengandalkan kasbnya yang sangat kecil, agar dapat bersandar kepada Kudrat Yang Tak Terbatas serta terhubung kepada Rahmat Yang Tak Terbatas dalam menghadapi musuh dan gelap yang tak terbatas itu. Bahkan, iman itu sendiri menjadi dokumen dalam tangan kehendak bebas tersebut.
Meskipun kehendak bebas manusia, senjata manusia itu, pada dirinya sendiri pendek jangkauannya, tak berdaya, dan tidak sempurna, sebagaimana seorang prajurit yang menggunakan kekuatannya yang kecil atas nama negara melakukan pekerjaan ribuan kali lebih besar daripada kekuatannya, demikian pula melalui rahasia iman, jika kehendak bebas yang terbatas itu digunakan atas Nama Allah سُبْحَانَهُ dan di Jalan-Nya, ia bahkan dapat memperoleh surga yang luasnya lima ratus tahun perjalanan.
Iman juga mengambil kendali kehendak bebas, yang tidak dapat menembus masa lalu serta masa depan, dari tangan tubuh, lalu menyerahkannya kepada hati dan ruh. Lingkup kehidupan ruh serta hati tidak terbatas pada masa kini seperti tubuh. Karena begitu banyak tahun dari masa lalu dan begitu banyak tahun dari masa depan masuk ke lingkup kehidupannya, kehendak bebas itu keluar dari sifat juz'i dan memperoleh sifat universal. Sebagaimana melalui kekuatan iman ia dapat memasuki lembah-lembah masa lalu yang paling dalam dan mengusir gelap kesedihan, melalui cahaya iman ia juga naik sampai gunung-gunung masa depan yang paling jauh dan menghilangkan ketakutan.
Wahai saudara dan saudari lanjut usia yang menanggung kesulitan masa tua sepertiku! Karena elhamdülillah kita adalah ahli iman, dan karena dalam iman terdapat khazanah yang begitu bercahaya, nikmat, menyenangkan, dan manis, serta karena masa tua kita semakin mendorong kita ke dalam khazanah itu, tentu kita tidak boleh mengeluh atas masa tua yang beriman. Sebaliknya, kita harus berterima kasih ribuan kali.
HARAPAN KEDELAPAN
Ketika rambut-rambut putih, tanda masa tua, muncul di kepalaku, gejolak Perang Dunia dan kekacauan masa tertawanku semakin memperdalam tidur masa muda. Kemudian, ketika aku datang ke Istanbul, terdapat kedudukan yang membawa kemasyhuran dan kehormatan penting. Bahkan, mulai dari Khalifah, Syekhul Islam, dan Panglima Tertinggi sampai para murid madrasah, mereka menunjukkan perhatian baik serta penghargaan yang jauh melampaui kelayakanku. Karena itu, mabuk masa muda dan keadaan ruh yang berasal dari kedudukan tersebut memperdalam tidur itu demikian rupa sehingga aku hampir melihat dunia sebagai sesuatu yang kekal dan diriku melekat pada dunia dalam keadaan aneh, seolah-olah tidak akan mati.
Pada masa itu, di bulan Ramadan yang mulia, aku pergi ke Masjid Bayezid yang diberkahi di Istanbul untuk mendengarkan para penghafal Al-Qur'an yang ikhlas. Melalui seruan surgawinya yang luhur dan melalui lisan para penghafal, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengumumkan dengan sangat kuat Firman
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَٓﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ,
yang memberitakan bahwa manusia fana dan makhluk hidup akan wafat. Firman itu masuk ke telingaku, menetap jauh di dalam hati, serta menghancurkan satu demi satu lapisan kelalaian, tidur, dan mabuk yang sangat tebal itu. Aku keluar dari masjid. Dengan rasa pening dari tidur lama yang sejak dahulu menetap di kepalaku, selama beberapa hari aku melihat diriku seperti badai di kepala, api yang berasap, dan kapal yang kompasnya kehilangan arah. Setiap kali memandang rambutku di cermin, rambut-rambut putih berkata kepadaku, “Perhatikan!” Melalui peringatan rambut-rambut putih itu, keadaan menjadi jelas.
Aku melihat masa muda yang sangat kuandalkan dan yang kenikmatannya membuatku terpikat berkata selamat tinggal. Kehidupan duniawi yang sangat kucintai serta mengikatku mulai padam. Dunia yang sangat mengikatku dan hampir kucintai dengan penuh gairah berkata kepadaku, “Semoga perjalananmu baik,” dan mengingatkan bahwa aku akan meninggalkan tempat bertamu. Dunia itu sendiri berkata, “Kutitipkan engkau kepada Allah سُبْحَانَهُ,” dan juga bersiap untuk pergi.
Dalam cakupan menyeluruh ayat
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَٓﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, melalui isyarat ayat itu makna berikut terbuka dalam hati: “Umat manusia adalah satu jiwa; ia akan mati untuk dibangkitkan kembali. Bumi juga satu jiwa; ia pun akan mati untuk memasuki bentuk yang kekal. Dunia juga satu jiwa; ia pun akan mati untuk memasuki bentuk akhirat!”
Dalam keadaan ini, aku melihat keadaanku: masa muda, sumber kenikmatan, pergi, dan masa tua, sumber kesedihan, datang menggantikannya. Kehidupan yang sangat terang dan bercahaya pergi; kematian yang dari luar tampak gelap serta mengerikan bersiap datang menggantikannya. Aku melihat dunia yang sangat menyenangkan, yang dianggap kekal dan menjadi kekasih orang-orang lalai, menuju lenyap dengan sangat cepat.
Untuk menipu diri sendiri dan kembali memasukkan kepalaku ke dalam kelalaian, aku memandang kenikmatan kedudukan dalam masyarakat di Istanbul yang kuterima jauh melampaui kelayakanku. Tidak ada manfaatnya. Seluruh perhatian, penghargaan, dan penghiburan mereka hanya dapat sampai ke pintu kubur yang dekat kepadaku, lalu padam di sana. Di bawah tabir indah kemasyhuran serta kehormatan, tujuan khayalan para pemuja kemasyhuran, aku melihat riya yang berat, pamer diri yang dingin, dan rasa pening sementara. Karena itu, aku memahami bahwa perkara-perkara yang selama ini menipuku tidak dapat memberikan penghiburan apa pun dan tidak memiliki cahaya.
Untuk bangun sepenuhnya, aku kembali mendengarkan para penghafal di Masjid Bayezid guna mendengar pelajaran surgawi Al-Qur'an. Saat itu, melalui pelajaran surgawi tersebut, aku mendengar kabar-kabar gembira melalui Firman-Firman Suci seperti
ﻭَ ﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ.
Dengan limpahan yang kuterima dari Al-Qur'an, aku mencari penghiburan, harapan, dan cahaya di dalam pokok-pokok yang sebelumnya memberiku kengerian, rasa ngeri, serta putus asa, bukan mencari penghiburan dari luar. Seratus ribu syukur kepada Allah سُبْحَانَهُ, karena aku menemukan obat tepat di dalam penderitaan, cahaya tepat di dalam gelap, dan penghiburan tepat di dalam kengerian.
Pertama-tama, aku memandang wajah kematian, yang menakutkan semua orang dan dianggap paling mengerikan. Melalui cahaya Al-Qur'an, aku melihat bahwa meskipun cadar kematian gelap, hitam, dan buruk, wajahnya yang sejati bagi seorang mukmin bercahaya serta indah. Kami telah membuktikan hakikat ini dengan pasti dalam banyak risalah. Seperti dijelaskan dalam banyak risalah, seperti Kalimat Kedelapan dan Surat Kedua Puluh, kematian bukan lenyap atau perpisahan, melainkan awal serta permulaan kehidupan yang kekal, saat berhenti dan dibebaskan dari beban tugas kehidupan, serta berpindah tempat. Kematian adalah bertemu rombongan sahabat yang telah berpindah ke alam barzakh. Melalui hakikat-hakikat seperti ini, aku melihat wajah sejati kematian yang indah. Aku memandang wajah kematian bukan dengan takut, melainkan dari satu segi dengan penuh rindu. Aku memahami salah satu rahasia mengingat kematian menurut para ahli tarekat.
Kemudian, aku memandang masa mudaku yang telah berlalu dalam dosa serta kelalaian, yang ketika lenyap membuat setiap orang menangis dan membuat setiap orang terpikat serta rindu kepadanya. Di dalam pakaian luar yang indah dan berhias itu (pakaiannya), aku melihat wajah yang sangat buruk, mabuk, dan pening. Seandainya aku tidak mengetahui intinya, sebagai ganti membuatku mabuk dan tertawa selama beberapa tahun, masa muda akan membuatku menangis jika aku tinggal seratus tahun di dunia. Sebagaimana salah seorang dari mereka berkata sambil menangis:
ﻟَﻴْﺖَ ﺍﻟﺸَّﺒَﺎﺏَ ﻳَﻌُﻮﺩُ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻓَﺎُﺧْﺒِﺮَﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺸ۪ﻴﺐُ.
Artinya, “Seandainya masa mudaku kembali satu hari, aku akan mengadu dan memberitahunya betapa sedih keadaan yang dibawa masa tua kepadaku.” Ya, seperti orang ini, orang-orang lanjut usia yang tidak mengetahui inti masa muda memikirkan masa muda mereka dan menangis dengan sesal serta kerinduan.
Padahal, jika masa muda terdapat pada mukmin yang memiliki hati hidup, rasa hadir di hadapan-Nya, akal yang sehat, dan hati yang baik, serta digunakan untuk ibadah, amal baik, dan perdagangan akhirat, masa muda merupakan sarana perdagangan yang paling kuat serta sarana amal baik yang indah dan manis. Masa muda itu merupakan nikmat Ilahi yang berharga serta menyenangkan bagi orang-orang yang mengetahui tugas agamanya dan tidak menyalahgunakannya. Jika tidak disertai istikamah, menjaga kehormatan diri, dan takwa, masa muda memiliki banyak bahaya. Dengan melampaui batas, seseorang merusak kebahagiaan kekal serta kehidupan akhiratnya, bahkan menghancurkan kehidupan duniawinya. Bahkan, sebagai ganti satu atau dua tahun kesenangan masa muda, ia menanggung duka dan kesedihan selama banyak tahun pada masa tua.
Karena pada sebagian besar manusia masa muda membawa bahaya, kita yang lanjut usia harus bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ bahwa kita telah terbebas dari bahaya serta kerugian masa muda. Seperti segala sesuatu, tentu kenikmatan masa muda juga akan pergi. Jika digunakan untuk ibadah dan kebaikan, buah-buah masa muda tetap ada sebagai gantinya dan menjadi sarana memperoleh masa muda dalam kehidupan yang kekal.
Kemudian, aku memandang dunia yang dicintai dan membuat sebagian besar manusia terpikat. Melalui cahaya Al-Qur'an, aku melihat terdapat tiga dunia yang menyeluruh di dalam satu sama lain. Salah satunya menghadap kepada Asma Ilahi dan merupakan cermin bagi Asma itu. Wajah kedua menghadap kepada akhirat dan merupakan ladangnya. Wajah ketiga menghadap kepada orang-orang yang mencintai dunia dan merupakan arena permainan bagi orang-orang lalai.
Setiap orang juga memiliki dunia yang besar di dunia ini. Seolah-olah dunia sebanyak jumlah manusia berada di dalam satu sama lain. Namun, tiang dunia pribadi setiap orang ialah kehidupannya sendiri. Ketika tubuhnya rusak, dunianya runtuh menimpanya dan kiamatnya terjadi. Karena orang-orang yang lalai tidak mengetahui bahwa dunia mereka dapat runtuh begitu cepat, mereka menganggapnya kekal seperti dunia umum dan memujanya.
Seperti dunia orang lain, aku juga memiliki dunia pribadi yang cepat runtuh dan rusak. Aku berpikir, apa manfaat dunia pribadiku ini dengan umurku yang begitu singkat? Melalui cahaya Al-Qur'an, aku melihat bahwa:
Bagiku maupun bagi setiap orang, dunia ini merupakan tempat perdagangan sementara, tempat bertamu yang setiap hari terisi dan kosong, serta pasar yang didirikan di tepi jalan untuk jual beli mereka yang datang dan pergi. Dunia merupakan buku catatan Sang Pengukir Yang Azali yang terus diperbarui, ditulis dan dihapus dengan Hikmah; surat berlapis emas-Nya setiap musim semi; syair tersusun-Nya setiap musim panas; dan cermin-cermin yang memperbarui serta menunjukkan pancaran Asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Dunia juga merupakan kebun bibit bagi akhirat, vas bunga Rahmat Ilahi, serta bengkel sementara khusus untuk menumbuhkan gambaran-gambaran yang akan diperlihatkan di alam yang kekal. Aku bersyukur seratus ribu kali kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl Yang Menciptakan dunia dengan cara ini.
Aku memahami bahwa manusia diberi cinta terhadap wajah-wajah batin dunia yang indah, yang menghadap kepada akhirat serta Asma Ilahi. Namun, dengan menyalahgunakan cinta itu, mereka menggunakannya terhadap wajah dunia yang fana, buruk, berbahaya, dan lalai, sehingga mengalami rahasia hadis mulia
ﺣُﺐُّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺭَﺍْﺱُ ﻛُﻞِّ ﺧَﻄ۪ﻴﺌَﺔٍ.
Wahai saudara dan saudari lanjut usia! Aku melihat hakikat ini melalui cahaya Al-Qur'an Al-Hakîm, peringatan masa tua, dan iman yang juga membuka mataku. Aku telah membuktikannya dengan dalil-dalil yang pasti dalam banyak risalah. Aku menemukan penghiburan yang sejati, harapan yang kuat, dan cahaya yang terang bagi diriku. Aku merasa senang atas masa tuaku dan gembira karena masa muda pergi. Kalian pun jangan menangis, tetapi bersyukurlah. Karena iman ada dan hakikat demikian, biarlah orang-orang yang lalai menangis, biarlah orang-orang yang sesat menangis.