Lem'a Kedua Puluh Dua
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
Kepada gubernur Isparta yang adil, lembaga kehakiman, dan kepolisiannya, aku mempersembahkan risalah kecil yang sangat rahasia ini. Dua puluh dua tahun yang lalu, ketika berada di kecamatan Barla, Isparta, aku menulisnya khusus bagi saudara-saudaraku yang paling dekat, paling khusus, dan tulus. Aku mempersembahkannya karena ia memperlihatkan hubungannya dengan masyarakat serta pemerintah Isparta. Jika dipandang sesuai, hendaknya beberapa salinan diketik dengan aksara baru atau lama, agar orang-orang yang selama dua puluh lima hingga tiga puluh tahun mencari dan mengawasi rahasia-rahasiaku memahami bahwa tidak ada rahasia tersembunyi pada kami. Ketahuilah, risalah ini merupakan rahasia kami yang paling tersembunyi!
Bedîüzzaman Said Nursî
İşarat-ı Selâse (Tiga Isyarat)
Semula ini merupakan Persoalan Ketiga dari Catatan Ketujuh Belas dalam Lem'a Ketujuh Belas. Karena pertanyaan-pertanyaannya kuat dan menyeluruh serta jawaban-jawabannya kuat dan terang, ia masuk ke Lemaat sebagai Lem'a Kedua Puluh Dua dari Surat Ketiga Puluh Satu. Lem'alar harus memberikan tempat kepada Lem'a ini. Ia bersifat rahasia, khusus bagi saudara-saudara kami yang paling dekat, tulus, dan setia.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺑَﺎﻟِﻎُ ﺍَﻣْﺮِﻩ۪ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪْﺭًﺍ
Persoalan ini terdiri atas tiga isyarat.
ISYARAT PERTAMA
Suatu pertanyaan penting tentang diriku dan Risale-i Nur.
Banyak orang mengatakan:
Meskipun engkau tidak mencampuri dunia para pengejar dunia, mengapa pada setiap kesempatan mereka mencampuri akhiratmu? Padahal, hukum pemerintahan mana pun tidak mengusik orang yang meninggalkan dunia dan hidup menyendiri?
Jawaban:
Jawaban Said Baru terhadap pertanyaan ini ialah diam. Said Baru mengatakan, “Biarlah Takdir Allah سُبْحَانَهُ memberikan jawabanku.” Namun, pikiran Said Lama yang terpaksa dipinjamnya sebagai amanat mengatakan: Yang harus menjawab pertanyaan ini ialah pemerintah dan masyarakat Provinsi Isparta. Sebab, pemerintah serta masyarakat ini jauh lebih berkaitan daripada aku dengan makna di balik pertanyaan tersebut. Karena pemerintah yang mempunyai ribuan anggota dan masyarakat yang mempunyai ratusan ribu anggota harus memikirkan serta membela sebagai penggantiku, mengapa aku perlu berbicara dan membela diri dengan sia-sia di hadapan para penuduh? Sebab, selama sembilan tahun aku berada di provinsi ini dan semakin berpaling dari dunia mereka. Tidak ada keadaanku yang tetap tersembunyi. Bahkan, risalah-risalahku yang paling tersembunyi dan paling rahasia telah sampai ke tangan pemerintah serta sebagian anggota parlemen.
Seandainya aku ikut campur dalam urusan dunia, serta memiliki usaha dan pikiran untuk mengacaukannya hingga membuat para pengejar dunia gelisah serta khawatir—meskipun pemerintah di provinsi dan kabupaten-kabupaten ini telah mengamati serta meneliti dengan saksama selama sembilan tahun, dan meskipun aku tanpa takut menjelaskan rahasia-rahasiaku kepada orang yang datang kepadaku—pemerintah tetap diam terhadapku dan tidak mengusikku.
Jika aku mempunyai kesalahan yang akan merugikan kebahagiaan serta masa depan bangsa dan tanah air, hal itu membuat mereka bertanggung jawab sejak sembilan tahun yang lalu, dari gubernur sampai komandan pos keamanan desa. Untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, mereka harus membelaku terhadap orang-orang yang membesar-besarkan perkara tentang diriku, dengan mengecilkan apa yang mereka besarkan. Maka, aku menyerahkan jawaban pertanyaan ini kepada mereka.
Adapun alasan masyarakat provinsi ini secara umum harus membelaku lebih daripada aku sendiri ialah sebagai berikut: Selama sembilan tahun, kami bekerja melalui ratusan risalah yang memperlihatkan pengaruh nyata dan konkret terhadap kehidupan kekal, kekuatan iman, serta kebahagiaan hidup masyarakat yang merupakan saudara, kawan, dan masyarakat yang diberkahi ini. Tidak ada kegaduhan atau kerugian yang datang kepada siapa pun karena risalah-risalah itu, dan tidak terlihat jejak politik serta duniawi yang bermaksud buruk. lillahi'l-hamd, melalui Risale-i Nur, Provinsi Isparta memperoleh suatu kedudukan yang diberkahi dari segi kekuatan iman dan keteguhan beragama, seperti diberkahinya Damaskus Yang Mulia pada masa lalu dan Masjid Al-Azhar di Mesir, madrasah umum dunia Islam. Risale-i Nur membuat kekuatan iman menguasai sikap tidak peduli dan kerinduan beribadah menguasai kesenangan rendah di provinsi ini, serta memberinya kelebihan dalam ketaatan beragama di atas seluruh provinsi lain. Karena itu, tentu seluruh orang di provinsi ini, bahkan seandainya ada yang tidak beragama, harus membelaku dan Risale-i Nur. Di tengah hak pembelaan mereka yang sangat penting, hak kecilku yang tidak berarti tidak mendorongku membela diri, karena aku telah menyelesaikan tugasku dan lillahi'l-hamd ribuan murid telah bekerja serta sedang bekerja menggantikan orang tak berdaya sepertiku. Orang yang mempunyai ribuan pembela perkara tidak membela perkaranya sendiri.
ISYARAT KEDUA
Jawaban terhadap pertanyaan yang bersifat kritik.
Para pengejar dunia mengatakan:
Mengapa engkau marah kepada kami? Engkau diam dan bahkan sekali pun tidak mengajukan permohonan kepada kami. Engkau mengeluhkan kami dengan keras dan mengatakan, “Kalian menzalimiku!” Padahal, kami mempunyai suatu prinsip dan aturan-aturan khusus yang dituntut oleh abad ini. Engkau tidak menerima aturan-aturan tersebut diterapkan pada dirimu. Orang yang menerapkan hukum tidak zalim; orang yang tidak menerimanya memberontak.
Di antaranya: Pada abad kebebasan ini dan masa republik-republik yang baru kami mulai, prinsip menghapus penguasaan dan pemaksaan atas dasar persamaan telah menjadi seperti hukum dasar kami. Namun, dari keadaanmu yang tampak dan perjalanan hidupmu pada masa lalu, dipahami bahwa engkau berusaha memperoleh kekuatan serta kedudukan sosial di luar pengaruh pemerintah. Terkadang sebagai guru agama dan terkadang sebagai orang zuhud, engkau memperoleh simpati masyarakat dan menarik perhatian kepada dirimu. Keadaan ini mungkin tampak baik dalam penguasaan sewenang-wenang kaum borjuis, menurut istilah sekarang. Namun, prinsip sosialisme penuh dan Bolshevisme, yang muncul melalui kebangkitan serta kemenangan lapisan rakyat kami, lebih berguna bagi kami. Karena kami menerima prinsip-prinsip sosialisme itu, keadaanmu terasa berat bagi kami dan bertentangan dengan prinsip kami. Karena itu, engkau tidak berhak mengeluh atau marah karena kesulitan yang kami berikan kepadamu?
Jawaban:
Jika orang yang membuka suatu jalan baru dalam kehidupan sosial manusia tidak bertindak sesuai hukum fitrah di kainat, ia tidak dapat berhasil dalam pekerjaan baik dan kemajuan. Seluruh tindakannya menjadi keburukan dan kehancuran. Karena orang harus menyesuaikan tindakan dengan hukum fitrah, tentu hukum persamaan mutlak hanya dapat diterapkan dengan mengubah fitrah manusia serta menghilangkan hikmah dasar dalam penciptaan umat manusia.
Ya, dari segi asal-usul dan kehidupan, aku berasal dari lapisan rakyat biasa. Dari segi corak jalan serta pikiran, aku termasuk orang yang menerima jalan “persamaan hak”. Melalui kasih sayang dan rahasia keadilan yang datang dari Islam, sejak dahulu aku bekerja menentang kesewenang-wenangan serta penguasaan lapisan elite yang disebut borjuis. Karena itu, dengan seluruh kekuatanku aku mendukung keadilan yang utuh serta menentang kezaliman, pemaksaan, penguasaan, dan kesewenang-wenangan.
Namun, fitrah serta rahasia hikmah manusia bertentangan dengan hukum persamaan mutlak. Sebab, untuk memperlihatkan Kudrat dan Hikmah-Nya yang sempurna, Sang Fâthir Yang Hakîm membuat sedikit hal menghasilkan banyak hasil, membuat banyak kitab tertulis pada satu lembaran, dan membuat satu hal menjalankan banyak tugas. Demikian pula, Dia membuat jenis manusia menjalankan tugas ribuan jenis.
Melalui rahasia besar itulah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menciptakan jenis manusia dengan fitrah yang menghasilkan bulir ribuan jenis dan memperlihatkan tingkatan sebanyak ribuan jenis hewan lainnya. Daya-daya, latifah, serta indra lahir dan batinnya tidak dibatasi seperti pada hewan lain. Dia membiarkannya bebas dan memberinya kemampuan untuk menjelajahi kedudukan yang tidak terbatas. Karena meskipun satu jenis ia menjadi seperti ribuan jenis, manusia menjadi khalifah bumi, hasil kainat, dan sultan makhluk hidup.
Unsur dan pegas paling penting dari keragaman jenis manusia ialah perlombaan serta keutamaan sejati yang berlandaskan iman. Menghapus keutamaan hanya dapat terjadi dengan mengubah hakikat manusia, memadamkan akal, mematikan hati, dan melenyapkan jiwa.
Ya, perkataan yang sempurna berikut layak ditamparkan kepada wajah kejam abad ini, yang membawa kesewenang-wenangan mengerikan di balik tabir kebebasan. Namun, ia telah keliru diayunkan kepada wajah seorang tokoh sangat penting yang tidak layak menerima tamparan tersebut:
Mustahil kezaliman dan aniaya melenyapkan kebebasan,
Cobalah menghapus daya memahami dari umat manusia, jika engkau mampu.
Sebagai pengganti perkataan itu, untuk menampar wajah abad ini aku mengatakan:
Mustahil kezaliman dan aniaya melenyapkan hakikat,
Cobalah menghapus hati dari umat manusia, jika engkau mampu.
Atau:
Mustahil kezaliman dan aniaya melenyapkan keutamaan,
Cobalah menghapus nurani dari umat manusia, jika engkau mampu.
Ya, keutamaan yang berlandaskan iman bukan sarana penguasaan dan tidak dapat menjadi sebab kesewenang-wenangan. Menguasai dan memaksa berarti tidak mempunyai keutamaan. Terutama, corak jalan terpenting orang-orang yang mempunyai keutamaan ialah ikut dalam kehidupan sosial manusia dalam keadaan tak berdaya dan serba membutuhkan, serta dengan rendah hati. lillahi'l-hamd, hidup kami telah dan sedang berjalan di atas corak ini. Aku tidak mengaku dengan membanggakan diri bahwa aku mempunyai keutamaan. Namun, dengan menyebut nikmat Allah سُبْحَانَهُ dan dengan niat bersyukur, aku mengatakan:
Melalui Karunia dan Kemurahan-Nya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menganugerahkan keutamaan untuk mempelajari serta memahami ilmu-ilmu iman dan Al-Qur'an. Sepanjang hidupku, lillahi'l-hamd, melalui Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ aku menggunakannya bagi manfaat serta kebahagiaan umat Islam ini. Anugerah itu tidak pernah menjadi sarana penguasaan atau pemaksaan. Simpati masyarakat dan diterima dengan baik oleh orang-orang, yang diinginkan sebagian besar orang lalai, bahkan merupakan hal yang kubenci karena suatu rahasia penting; aku menghindarinya. Aku menganggapnya merugikanku karena menyia-nyiakan dua puluh tahun hidupku dahulu. Namun, aku menganggapnya tanda bahwa mereka menyukai Risale-i Nur, sehingga aku tidak membuat mereka marah.
Wahai para pengejar dunia! Karena aku sama sekali tidak mencampuri dunia kalian, tidak mempunyai kaitan apa pun dengan prinsip-prinsip kalian, dan selama sembilan tahun dalam keadaan tertawan, sebagaimana disaksikan oleh hidupku ini, aku tidak mempunyai niat dan keinginan sedikit pun untuk kembali mencampuri dunia. Maka, berdasarkan hukum dan manfaat apa kalian melakukan begitu banyak pengawasan serta tekanan kepadaku, seolah-olah aku seorang penguasa pemaksa lama yang selalu menunggu kesempatan dan membawa pikiran kesewenang-wenangan serta penguasaan? Padahal, tidak ada pemerintah di dunia yang mengizinkan perlakuan di luar hukum dan tidak disetujui siapa pun semacam ini. Terhadap perlakuan buruk sebanyak itu kepadaku, bukan hanya aku yang marah. Jika mengetahuinya, umat manusia pun akan marah; bahkan kainat marah!..
ISYARAT KETIGA
Suatu pertanyaan penuh sesat pikir, seolah diucapkan orang gila.
Sebagian penguasa mengatakan:
Karena engkau tinggal di negeri ini, seharusnya engkau tunduk pada hukum-hukum republik negeri ini. Mengapa engkau membebaskan dirimu dari hukum-hukum itu di balik tabir hidup menyendiri? Di antaranya: Dalam hukum pemerintahan sekarang, melekatkan suatu kelebihan atau keutamaan pada diri di luar tugas, lalu menguasai sebagian masyarakat dan menjalankan pengaruh melalui hal itu, bertentangan dengan suatu prinsip republik yang bersandar pada persamaan. Mengapa engkau membiarkan tanganmu dicium meskipun tidak mempunyai tugas? Mengapa engkau mengambil sikap pamer agar masyarakat mendengarkanmu?
Jawaban:
Orang-orang yang menerapkan hukum dapat menerapkannya kepada orang lain setelah lebih dahulu menerapkannya kepada diri sendiri. Dengan menerapkan suatu prinsip yang tidak kalian terapkan kepada diri sendiri kepada orang lain, justru kalian yang lebih dahulu melanggar dan menentang prinsip serta hukum kalian. Sebab, kalian menghendaki hukum persamaan mutlak ini diterapkan kepadaku. Aku pun mengatakan:
Ketika seorang prajurit naik ke kedudukan sosial seorang marsekal, ikut memperoleh penghormatan dan simpati yang ditunjukkan masyarakat kepada marsekal itu, serta menerima simpati dan penghormatan seperti dirinya; atau ketika marsekal itu menjadi biasa seperti prajurit, mengambil keadaan prajurit yang redup, dan tidak mempunyai arti penting di luar tugas; juga jika seorang kepala staf paling cerdas yang menyebabkan kemenangan tentara setara dengan prajurit paling bodoh dalam simpati masyarakat, penghormatan, dan cinta, barulah menurut hukum persamaan kalian ini kalian dapat mengatakan kepadaku, “Jangan menyebut dirimu guru agama! Jangan menerima penghormatan! Sangkal keutamaanmu! Berkhidmahlah kepada pelayanmu! Bertemanlah dengan pengemis!”
Jika kalian berkata:
Penghormatan, kedudukan, dan simpati ini khusus bagi saat menjalankan tugas dan bagi orang-orang yang bertugas. Engkau orang tanpa tugas; engkau tidak dapat menerima penghormatan masyarakat seperti orang-orang yang bertugas!
Jawaban:
Jika manusia hanya terdiri atas tubuh, tetap berada di dunia untuk selamanya tanpa mati, pintu kubur tertutup, dan kematian dibunuh, lalu tugas hanya khusus bagi tentara serta pejabat pemerintahan, barulah perkataan kalian mempunyai makna. Namun, karena manusia tidak hanya terdiri atas tubuh, hati, lidah, akal, dan otak tidak dicabut lalu diberikan sebagai makanan kepada tubuh demi memberinya makan; semuanya tidak dimusnahkan. Semuanya juga perlu diurus.
Karena pintu kubur tidak tertutup dan kekhawatiran tentang masa depan di seberang kubur merupakan persoalan paling penting setiap individu, tentu tugas yang bersandar pada ketaatan serta penghormatan masyarakat tidak hanya terbatas pada tugas sosial, politik, dan militer yang berkaitan dengan kehidupan dunia masyarakat.
Ya, sebagaimana memberikan surat perjalanan kepada para musafir merupakan suatu tugas, memberikan surat serta nur di jalan yang gelap kepada para musafir yang menuju hidup kekal juga merupakan tugas yang tidak ada tugas lain sepentingnya. Menyangkal tugas semacam ini hanya dapat dilakukan dengan menyangkal kematian dan mendustakan serta menyangkal kesaksian tiga puluh ribu saksi yang setiap hari menandatangani dan meneguhkan pernyataan ﺍَﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺣَﻖٌّ dengan cap jenazah mereka.
Karena terdapat tugas-tugas rohani yang bersandar pada kebutuhan rohani yang pokok, tugas terpentingnya ialah iman serta pelajaran dan penguatan iman, yang menjadi lembar paspor bagi perjalanan menuju hidup kekal, lampu saku hati dalam gelap barzakh, dan kunci kebahagiaan kekal. Tentu orang-orang bermakrifat yang menjalankan tugas itu tidak akan mengingkari nikmat dengan menganggap tiada nikmat Allah سُبْحَانَهُ serta keutamaan iman yang telah diterimanya, lalu jatuh ke kedudukan orang yang tenggelam dalam kesenangan rendah dan fasik. Mereka tidak akan mengotori dirinya dengan bidah serta kesenangan rendah orang-orang hina. Inilah alasan hidup menyendiri yang tidak kalian sukai dan kalian anggap tidak sesuai persamaan.
Bersama hakikat ini, aku tidak berbicara kepada orang sombong seperti kalian, yang menggangguku dengan penyiksaan dan maju sampai tingkat Firaun dalam ananiyah serta pelanggaran hukum persamaan ini. Sebab, di hadapan orang sombong, rendah hati dianggap sebagai sikap merendahkan diri secara hina, sehingga orang seharusnya tidak bersikap rendah hati kepadanya. Aku justru berbicara kepada kalangan yang berimbang dalam menilai, rendah hati, dan berlaku adil:
Aku, felillahi'l-hamd, mengetahui kekurangan dan keadaan tak berdayaku. Aku tidak menginginkan kedudukan terhormat di atas kaum Muslim dengan kesombongan. Sebaliknya, setiap saat aku melihat kekurangan yang tidak terbatas dan diriku yang tidak berarti, mendapatkan penghiburan melalui istigfar, lalu meminta doa dari masyarakat, bukan penghormatan. Aku juga mengira seluruh kawanku mengetahui jalan ini.
Hanya saja, ketika berkhidmah kepada Al-Qur'an Al-Hakîm dan mengajarkan hakikat-hakikat iman, demi hakikat-hakikat tersebut serta kehormatan Al-Qur'an, pada saat pelajaran aku menjaga kemuliaan dan martabat keilmuan yang dituntut oleh kedudukan itu. Agar tidak menundukkan kepala kepada orang-orang sesat, aku mengambil sikap mulia tersebut untuk sementara. Aku mengira hukum-hukum para pengejar dunia tidak mempunyai hak untuk menentang pokok-pokok ini!
Suatu cara perlakuan yang mengherankan:
Sudah diketahui bahwa di mana pun kalangan pendidikan menilai dari segi pengetahuan dan ilmu. Di mana dan pada siapa pun mereka melihat pengetahuan serta ilmu, berdasarkan profesinya mereka mempunyai persahabatan dan penghormatan kepada orang itu. Bahkan, jika seorang profesor dari pemerintah yang bermusuhan datang ke negeri ini, kalangan pendidikan mengunjunginya serta menghormatinya demi ilmu dan pengetahuannya.
Ketika dewan ilmiah tertinggi Inggris mengajukan enam pertanyaan kepada lembaga Syekhulislam dan meminta jawaban sebanyak enam ratus kata, seorang berpengetahuan yang terkena perlakuan tidak hormat dari kalangan pendidikan di sini memberikan jawaban terhadap keenam pertanyaan itu dengan enam kata dan memperoleh penghargaan. Dengan ilmu serta pengetahuan sejati, ia menentang dan mengalahkan prinsip-prinsip terpenting orang asing serta prinsip-prinsip paling mendasar para filsuf. Dengan bersandar pada kekuatan pengetahuan dan ilmu yang diperoleh dari Al-Qur'an, ia menantang para filsuf Eropa. Enam bulan sebelum masa kebebasan, di Istanbul ia mengajak para ulama dan kalangan sekolah berdebat. Tanpa mengajukan pertanyaan sendiri, ia menjawab pertanyaan mereka dengan benar dan tanpa kekurangan. {(Catatan kaki): Said Baru mengatakan: Aku tidak ikut dalam perkataan Said Lama yang disampaikannya dengan bangga pada bagian ini. Karena telah memberikan kesempatan berbicara kepadanya dalam risalah ini, aku tidak dapat membungkamnya. Aku diam agar ia memperlihatkan sedikit ananiyahnya di hadapan orang-orang yang berananiyah.} Ia mengkhususkan seluruh hidupnya bagi kebahagiaan bangsa ini, menerbitkan ratusan risalah dalam bahasa Turki bangsa itu, dan meneranginya. Namun, terhadap orang berpengetahuan yang sekaligus warga sebangsa, seagama, kawan, dan saudara tersebut, orang-orang yang paling banyak memberikan kesulitan, mempunyai permusuhan, bahkan tidak menghormatinya ialah sebagian anggota Kantor Pendidikan serta sedikit guru agama resmi.
Lihatlah, apa yang akan engkau katakan tentang keadaan ini? Apakah peradaban? Cinta pendidikan? Cinta tanah air? Cinta bangsa? Cinta republik? Hâşâ! Hâşâ! Sama sekali bukan apa-apa. Ia justru Takdir Allah سُبْحَانَهُ yang memperlihatkan permusuhan dari tempat orang berpengetahuan itu mengharapkan persahabatan, agar ilmunya tidak masuk ke dalam riya karena penghormatan dan agar ia memperoleh ikhlas.
PENUTUP
Suatu serangan yang menurutku mengherankan dan menjadi sarana syukur:
Para pengejar dunia yang sangat berananiyah ini mempunyai kepekaan begitu besar dalam urusan ananiyah. Seandainya dilakukan dengan sadar, perlakuan itu akan mencapai tingkat karamah atau kecerdasan yang besar. Perlakuannya adalah sebagai berikut:
Mereka menentang dengan begitu keras sedikit ananiyah yang bercampur riya dalam diriku yang tidak dirasakan oleh nafsu dan akalku sendiri, seolah-olah mereka merasakannya dengan timbangan kepekaan ananiyahnya. Dalam delapan atau sembilan tahun ini, aku mempunyai delapan atau sembilan pengalaman. Setelah perlakuan zalim mereka kepadaku terjadi, aku memikirkan Takdir Allah سُبْحَانَهُ, lalu mencari tipu daya nafsuku dengan mengatakan, “Mengapa Dia membuat mereka menguasaiku?” Setiap kali aku memahami bahwa nafsuku telah condong secara fitri kepada ananiyah tanpa sadar, atau telah menipuku dengan sadar. Saat itu aku mengatakan bahwa Takdir Allah سُبْحَانَهُ telah berlaku adil terhadapku di dalam kezaliman orang-orang zalim tersebut.
Di antaranya: Pada musim panas ini, kawan-kawanku mendudukkanku di atas kuda yang indah. Aku pergi ke tempat menikmati pemandangan. Tanpa sadar, dalam nafsuku bangkit keinginan untuk bersenang-senang dengan pamer. Para pengejar dunia menentang keinginan tersebut dengan begitu keras sehingga mereka memutus bukan hanya keinginan tersembunyi itu, melainkan juga banyak seleraku yang lain.
Bahkan, di antaranya, kali ini setelah Ramadan, sesudah seorang imam yang sangat besar dan suci pada masa lalu memberikan perhatian kepada kami melalui karamah gaibnya, di tengah takwa serta ikhlas saudara-saudaraku dan penghormatan serta prasangka baik para pengunjung, tanpa kuketahui nafsuku ingin mengambil sikap ananiyah penuh riya dengan bangga, seolah-olah di balik tabir bersyukur. Tiba-tiba para pengejar dunia ini mengusikku dengan kepekaan yang tidak terbatas, bahkan seolah-olah mampu merasakan zarah-zarah riya. Aku bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq karena kezaliman mereka menjadi sarana ikhlas bagiku.
ﺭَﺏِّ ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ ٭ ﻭَﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺍَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﻓِﻆُ ﻳَﺎ ﺣَﻔ۪ﻴﻆُ ﻳَﺎ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺎﻓِﻈ۪ﻴﻦَ ﺍِﺣْﻔَﻈْﻨ۪ﻰ ﻭَ ﺍﺣْﻔَﻆْ ﺭُﻓَﻘَﺎﺋ۪ﻰ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻭَ الْاِنْسَانِ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺍَﻫْﻞِ الضَّلَالَةِ ﻭَ ﺍَﻫْﻞِ ﺍﻟﻄُّﻐْﻴَﺎﻥِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ