Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Lem'a Kedua Puluh Empat

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Lem'a Kedua Puluh Empat

Tentang menutup aurat

Semula merupakan Persoalan Kedua dan Ketiga dari Catatan Kelima Belas. Karena pentingnya, bagian ini menjadi Lem'a Kedua Puluh Empat.

Ayat

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﻗُﻞْ لِاَزْوَاجِكَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَٓﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻳُﺪْﻧ۪ﻴﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ جَلَاب۪يبِهِنَّ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ

memerintahkan menutup aurat. Sebaliknya, peradaban yang tenggelam dalam hawa nafsu menentang ketentuan Al-Qur'an ini. Peradaban itu tidak menganggap menutup aurat sesuai dengan fitrah dan mengatakan, “Ini adalah suatu belenggu.” {(): Sebagian pembelaan dari naskah banding yang ditujukan kepada pengadilan dan membungkam pengadilan:

“Aku pun berkata kepada pengadilan: Suatu prinsip Ilahi yang paling suci, benar, dan sesuai dengan hakikat telah berlaku selama seribu tiga ratus lima puluh tahun dalam kehidupan masyarakat tiga ratus lima puluh juta manusia pada setiap abad. Seseorang menjelaskan prinsip tersebut berdasarkan dukungan dan kesepakatan tiga ratus lima puluh ribu tafsir, serta mengikuti keyakinan leluhur kita yang telah berlalu selama seribu tiga ratus lima puluh tahun. Jika di muka bumi masih ada keadilan, tentu keadilan itu akan menolak keputusan yang tidak adil yang menghukum orang tersebut dan membatalkan putusan itu!”}

Jawaban:

Kami hanya akan menjelaskan empat dari banyak hikmah yang menunjukkan bahwa ketentuan Al-Qur'an Al-Hakîm ini sepenuhnya sesuai dengan fitrah, sedangkan sikap yang menentangnya bertentangan dengan fitrah.

HIKMAH PERTAMA

Menutup aurat sesuai dengan fitrah perempuan dan dituntut oleh fitrah mereka. Sebab, sejak diciptakan perempuan bersifat lemah dan lembut. Mereka membutuhkan perlindungan serta pertolongan seorang laki-laki yang akan melindungi diri mereka dan anak-anak yang mereka cintai lebih daripada hidup sendiri. Karena itu, secara fitrah mereka cenderung ingin dicintai, tidak dibenci, dan tidak dipandang sebagai beban.

Selain itu, enam atau tujuh dari setiap sepuluh perempuan sudah tua atau tidak cantik, sehingga tidak ingin memperlihatkan usia tua dan rupa mereka kepada semua orang. Atau, mereka cemburu dan tidak ingin tampak kurang cantik dibandingkan perempuan yang lebih cantik. Atau, mereka takut terhadap serangan dan tuduhan. Agar tidak menjadi sasaran serangan dan tidak dituduh berkhianat dalam pandangan suaminya, secara fitrah mereka ingin menutup aurat. Bahkan, jika diperhatikan, yang paling menyembunyikan diri ialah mereka yang sudah tua. Dari setiap sepuluh perempuan, mungkin hanya ada dua atau tiga yang sekaligus muda, cantik, dan tidak malu memperlihatkan diri. Telah diketahui bahwa manusia merasa tidak nyaman dan terluka oleh pandangan orang yang tidak disukainya serta dianggapnya mengganggu. Tentu, jika dari sepuluh laki-laki bukan mahram hanya ada dua atau tiga yang pandangannya disukai oleh seorang perempuan cantik yang berpakaian terbuka, ia merasa terganggu oleh tujuh atau delapan yang lain.

Selain itu, seorang perempuan cantik yang tidak berbuat cabul dan tidak rusak akhlaknya bersifat lembut serta mudah tersentuh. Tentu ia merasa tidak nyaman oleh pandangan kotor yang pengaruhnya secara fisik telah dialami, bahkan dapat meracuni. Kami bahkan mendengar bahwa di Eropa, tempat aurat ditampakkan, banyak perempuan merasa terganggu oleh tatapan yang tajam ini dan mengadu kepada polisi, “Orang-orang hina ini mengurung kami dengan tatapan mata mereka dan membuat kami tertekan.”

Berarti, peradaban yang menghapuskan penutup aurat bertentangan dengan fitrah. Perintah Al-Qur'an untuk menutup aurat sesuai dengan fitrah, sekaligus menyelamatkan perempuan melalui penutup aurat dari keadaan terpuruk, hina, tertawan secara batin, dan sengsara. Perempuan-perempuan itu merupakan sumber kasih sayang dan dapat menjadi pendamping yang berharga untuk selama-lamanya.

Selain itu, secara fitrah perempuan merasa takut dan khawatir terhadap laki-laki asing. Rasa khawatir itu secara fitrah menuntut mereka menutup aurat. Sebab, ada kemungkinan mereka harus menanggung beban anak dalam kandungan selama delapan atau sembilan bulan dengan susah payah, yang benar-benar membuat kenikmatan delapan atau sembilan menit terasa pahit. Bersamaan dengan itu, mereka mungkin harus mengasuh anak tanpa pelindung selama delapan atau sembilan tahun, menanggung akibat buruk dari kenikmatan yang tidak halal selama delapan atau sembilan menit tersebut. Karena hal ini sering terjadi, fitrah mereka sungguh sangat takut kepada laki-laki bukan mahram, dan tabiat mereka ingin menjauh. Sifat mereka yang lemah memerintahkan dan memperingatkan dengan tegas agar melalui penutup aurat mereka tidak membangkitkan nafsu laki-laki bukan mahram dan tidak memberi kesempatan untuk menyerang. Sifat itu menunjukkan bahwa pakaian luar yang menyelubungi tubuh merupakan perisai dan benteng mereka.

Menurut yang kudengar, di pusat pemerintahan dan ibu kota, di tengah pasar pada siang hari, di hadapan pandangan penduduk, seorang penyemir sepatu yang sangat rendah kedudukannya secara langsung melecehkan seorang istri yang tungkainya terbuka, sedangkan suaminya berpangkat tinggi secara duniawi. Peristiwa itu menampar wajah tak tahu malu orang-orang yang menentang penutup aurat!

HIKMAH KEDUA

Hubungan, cinta, dan ikatan yang sangat kuat serta mendasar antara perempuan dan laki-laki tidak hanya berasal dari kebutuhan hidup duniawi. Ya, seorang perempuan bukan hanya pendamping hidup suaminya khusus untuk kehidupan dunia. Ia juga menjadi pendamping hidup dalam kehidupan yang kekal. Karena ia juga menjadi pendamping suaminya dalam kehidupan yang kekal, tentu ia harus menghindari menarik pandangan orang lain kepada keindahan dirinya, selain pandangan suaminya yang merupakan sahabat dan teman untuk selama-lamanya. Ia tidak boleh membuat suaminya sakit hati dan cemburu.

Karena suaminya seorang mukmin, melalui rahasia iman hubungan sang suami dengannya tidak terbatas pada kehidupan dunia dan tidak hanya berupa cinta sementara yang bersifat hewani serta khusus untuk masa cantiknya. Suaminya terikat kepadanya dengan cinta yang mendasar dan sungguh-sungguh serta rasa hormat, karena ia juga merupakan pendamping hidup dalam kehidupan yang kekal. Suaminya membawa rasa hormat dan cinta yang sungguh-sungguh itu bukan hanya ketika ia muda dan cantik, melainkan juga ketika tua dan tidak cantik. Tentu, sebagai balasannya, sang istri juga harus mengkhususkan keindahan dirinya bagi pandangan suaminya dan mencurahkan cintanya hanya kepadanya. Inilah tuntutan sifat manusia. Jika tidak, ia memperoleh sangat sedikit, tetapi kehilangan sangat banyak.

Menurut syariat, suami harus sekufu dengan istri, yaitu sesuai satu sama lain. Segi terpenting dalam kesesuaian dan kesetaraan ini ialah ketaatan beragama.

Betapa beruntungnya suami yang memperhatikan ketaatan beragama istrinya dan meneladaninya, lalu menjadi taat beragama agar tidak kehilangan pendampingnya dalam kehidupan yang kekal.

Berbahagialah perempuan yang memperhatikan ketaatan beragama suaminya, lalu menjadi bertakwa dengan berkata, “Jangan sampai aku kehilangan sahabatku untuk selama-lamanya.”

Celakalah laki-laki yang terjerumus dalam hawa nafsu, yang akan membuatnya kehilangan istrinya yang salehah untuk selama-lamanya. Betapa malangnya perempuan yang tidak meneladani suaminya yang bertakwa dan kehilangan sahabat yang diberkahi untuk selama-lamanya itu.

Seribu kali celaka bagi suami dan istri malang yang meniru kefasikan dan hawa nafsu satu sama lain. Mereka saling membantu untuk terlempar ke dalam api.

HIKMAH KETIGA

Kebahagiaan hidup sebuah keluarga berlangsung melalui saling percaya serta rasa hormat dan cinta yang tulus antara suami dan istri. Tidak menutup aurat dan berpakaian terbuka merusak kepercayaan itu, serta mematahkan rasa hormat dan cinta satu sama lain. Sebab, dari sepuluh perempuan yang berpakaian terbuka, hanya ada satu yang tidak berusaha membuat laki-laki asing mencintainya karena ia tidak melihat laki-laki yang lebih tampan daripada suaminya. Sembilan yang lain melihat laki-laki yang lebih baik daripada suaminya. Dari dua puluh laki-laki, hanya ada satu yang tidak melihat perempuan yang lebih cantik daripada istrinya. Saat itu, selain lenyapnya cinta yang tulus dan rasa hormat satu sama lain, hal ini dapat menyebabkan bangkitnya perasaan yang sangat buruk dan sangat hina. Demikianlah:

Secara fitrah, manusia tidak dapat memiliki perasaan syahwat terhadap mahramnya, seperti saudara perempuan. Sebab, wajah seorang mahram membangkitkan kasih sayang dan cinta yang halal karena hubungan kerabat serta status mahram, sehingga mematahkan kecenderungan nafsu dan syahwat. Namun, membiarkan terbuka bagian-bagian tubuh yang menurut syariat tidak boleh diperlihatkan bahkan kepada mahram, seperti tungkai, dapat menyebabkan bangkitnya perasaan yang sangat buruk pada nafsu-nafsu yang hina. Sebab, wajah seorang mahram menunjukkan status mahramnya dan tidak menyerupai yang bukan mahram. Namun, misalnya, tungkai yang terbuka sama dengan tungkai orang yang bukan mahram. Karena tidak memiliki tanda pembeda yang menunjukkan status mahram, hal itu dapat membangkitkan tatapan nafsu hewani pada sebagian mahram yang hina. Tatapan seperti ini merupakan jatuhnya martabat manusia yang membuat bulu kuduk merinding!

HIKMAH KEEMPAT

Telah diketahui bahwa banyaknya keturunan diinginkan oleh semua orang. Tidak ada bangsa atau pemerintahan yang tidak mendukung bertambahnya keturunan. Bahkan, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:

ﺗَﻨَﺎﻛَﺤُﻮﺍ ﺗَﻜَﺎﺛَﺮُﻭﺍ ﻓَﺎِﻧّ۪ﻰ ﺍُﺑَﺎﻫ۪ﻰ ﺑِﻜُﻢُ الْاُمَمَ

—ﺍَﻭْ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ—. Artinya, “Menikahlah, perbanyaklah keturunan. Pada hari kiamat, aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian.”

Padahal, menghapuskan penutup aurat tidak memperbanyak pernikahan, melainkan sangat menguranginya. Sebab, bahkan seorang pemuda yang paling liar dan mengikuti gaya zaman pun menginginkan pendamping hidup yang menjaga kehormatannya. Karena ia tidak ingin pendampingnya mengikuti gaya zaman seperti dirinya, yaitu berpakaian terbuka, ia tetap membujang, bahkan mungkin menempuh perbuatan zina.

Perempuan tidak demikian; ia tidak dapat membatasi suaminya hanya untuk dirinya sampai tingkat itu. Sebab, sebagai pengelola urusan dalam rumah tangga, ia bertugas menjaga seluruh harta, anak-anak, dan segala sesuatu milik suaminya. Karena itu, sifatnya yang paling mendasar ialah setia dan dapat dipercaya. Berpakaian terbuka merusak kesetiaan ini, menghilangkan kepercayaan suaminya kepadanya, dan membuat suaminya tersiksa oleh hati nurani. Bahkan, keberanian dan kedermawanan, dua sifat yang baik pada laki-laki, jika terdapat pada perempuan, termasuk akhlak buruk dan dianggap sifat yang tidak baik karena membahayakan kepercayaan serta kesetiaan ini. Namun, tugas suaminya terhadapnya bukan menjaga harta dan bersikap setia, melainkan melindungi, mengasihi, dan menghormati. Karena itu, laki-laki tersebut tidak dibatasi hanya untuknya dan dapat menikahi perempuan lain juga.

Negeri kita tidak dapat disamakan dengan Eropa. Sebab, di sana, di tengah aurat yang terbuka, kehormatan sampai tingkat tertentu dijaga dengan cara-cara yang sangat keras, seperti duel. Orang yang memandang istri seseorang yang memiliki harga diri dengan pandangan kotor harus menggantungkan kain kafan di lehernya terlebih dahulu, baru memandang. Selain itu, tabiat orang-orang di Eropa, yang merupakan negeri-negeri dingin, juga dingin dan kaku seperti negerinya. Dibandingkan dengannya, Asia ini, yaitu benua dunia Islam, merupakan negeri-negeri panas. Telah diketahui bahwa lingkungan memengaruhi akhlak manusia. Pada orang-orang yang dingin di negeri dingin itu, membuka aurat untuk membangkitkan nafsu hewani dan merangsang keinginan mungkin tidak menimbulkan banyak penyalahgunaan dan tindakan berlebihan.

Namun, di negeri-negeri panas, manusia mudah terpengaruh dan peka. Membuka aurat, yang terus-menerus membangkitkan nafsu mereka, tentu menyebabkan banyak penyalahgunaan dan tindakan berlebihan, melemahnya keturunan, serta merosotnya kekuatan. Berhadapan dengan kebutuhan fitrah sekali dalam sebulan atau dua puluh hari, seseorang menganggap dirinya harus berlebihan setiap beberapa hari. Saat itu, karena ia harus menjauhi istrinya selama sekitar lima belas hari setiap bulan akibat keadaan seperti haid, jika ia dikalahkan oleh nafsunya, ia juga condong kepada perbuatan zina.

Orang-orang kota tidak dapat menghapuskan penutup aurat dengan mencontoh penduduk desa dan kaum nomaden. Sebab, di desa dan pada kaum nomaden, karena sibuk mencari nafkah serta bekerja dan lelah secara fisik, perempuan-perempuan pekerja yang polos dan sampai tingkat tertentu kasar itu lebih sedikit menarik tatapan tajam daripada perempuan kota, keadaan mereka yang sebagian terbuka tidak membangkitkan nafsu. Selain itu, karena hanya sedikit laki-laki liar dan penganggur, keburukan yang terdapat pada mereka bahkan tidak mencapai sepersepuluh keburukan di kota. Maka, mereka tidak dapat dijadikan perbandingan.

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

PERCAKAPAN DENGAN KAUM PEREMPUAN, AHLI IMAN YANG MERUPAKAN SAUDARI-SAUDARIKU DI AKHIRAT

Di beberapa provinsi, aku melihat perempuan-perempuan menunjukkan perhatian yang tulus dan hangat kepada Nur. Aku mengetahui bahwa kepercayaan mereka kepada pelajaran-pelajaranku tentang Nur jauh melampaui kelayakanku. Pada masa itu, ketika aku datang untuk ketiga kalinya ke Isparta yang diberkahi dan Medresetü'z-Zehra secara batin, aku mendengar bahwa perempuan-perempuan yang merupakan saudari-saudariku di akhirat itu menantikan suatu pelajaran dariku. Seolah-olah aku akan memberikan pelajaran kepada mereka dalam bentuk nasihat di masjid-masjid. Padahal, aku sakit dari empat atau lima segi, juga dalam keadaan kacau, bahkan tidak mampu berbicara serta berpikir. Dalam keadaan demikian, malam ini suatu peringatan yang kuat terlintas dalam hatiku: Karena lima belas tahun lalu engkau menulis Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi) bagi para pemuda atas permintaan mereka dan begitu banyak manfaat diperoleh, sedangkan pada zaman ini kaum perempuan lebih membutuhkan panduan seperti itu daripada para pemuda. Menanggapi peringatan ini, meskipun sangat lemah, kacau, dan tak berdaya, aku menjelaskan beberapa perkara yang diperlukan dengan sangat ringkas, dalam tiga butir hikmah, kepada saudari-saudariku yang diberkahi serta anak-anak mudaku secara batin.

Butir Hikmah Pertama:

Salah satu landasan terpenting Risale-i Nur ialah kasih sayang. Karena kaum perempuan adalah pahlawan kasih sayang, secara fitrah mereka lebih erat terhubung dengan Risale-i Nur. Dan lillahi'l-hamd, hubungan fitrah ini terasa di banyak tempat. Pengorbanan dalam kasih sayang tersebut menunjukkan ikhlas yang sejati dan makna berkorban tanpa mengharap balasan, sehingga pada zaman ini memiliki arti yang sangat penting.

Ya, seorang ibu mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan anaknya dari bahaya tanpa meminta imbalan apa pun. Dengan ikhlas yang sejati, melalui tugas fitrahnya, ia mengorbankan dirinya bagi anaknya. Hal ini menunjukkan adanya kepahlawanan yang sangat luhur pada perempuan. Dengan berkembangnya kepahlawanan ini, ia dapat menyelamatkan kehidupan duniawinya maupun kehidupan yang kekal. Namun, akibat beberapa arus yang buruk, sifat yang kuat dan berharga itu tidak berkembang atau disalahgunakan.

Satu contoh kecil dari ratusan contohnya ialah sebagai berikut: Ibu yang penuh kasih sayang itu bersedia melakukan segala pengorbanan agar anaknya tidak terancam bahaya dalam kehidupan dunia dan mendapat manfaat serta keuntungan. Ia mendidiknya dengan tujuan itu. Dengan berkata, “Semoga anakku menjadi pasha,” ia memberikan seluruh hartanya, mengeluarkan anaknya dari sekolah penghafal Al-Qur'an, lalu mengirimkannya ke Eropa. Namun, ia tidak memikirkan bahwa kehidupan kekal anak itu sedang terancam. Ia berusaha menyelamatkannya dari penjara dunia, tetapi tidak mempertimbangkan bahwa anaknya akan jatuh ke penjara neraka. Bertentangan sepenuhnya dengan kasih sayang fitrah, ia menjadikan anaknya yang tidak berdosa itu sebagai penuntut di akhirat, padahal seharusnya menjadi pemberi syafaat. Anak itu akan mengadu, “Mengapa engkau menyebabkan kebinasaanku ini tanpa memperkuat imanku?” Di dunia pun, karena tidak menerima didikan Islam secara utuh, anak itu tidak dapat membalas dengan layak hak kasih sayang ibunya yang luar biasa, bahkan mungkin sangat banyak berbuat salah.

Jika ibu itu tidak menyalahgunakan kasih sayang yang sejati dan melalui rahasia kasih sayang tersebut berusaha menyelamatkan anaknya yang malang dari neraka, penjara untuk selama-lamanya, serta dari mati dalam kesesatan yang merupakan lenyap untuk selama-lamanya, maka kebaikan yang setara dengan seluruh amal baik anak itu akan masuk ke catatan amal ibunya. Setelah ibunya wafat, setiap waktu anak itu mengirimkan cahaya kepada ruhnya melalui amal-amal baiknya. Di akhirat pun, ia akan menjadi pemberi syafaat dengan seluruh jiwa dan raganya, alih-alih menjadi penuntut. Dalam kehidupan yang kekal, ia menjadi anak yang diberkahi bagi ibunya.

Ya, guru pertama dan pengajar yang paling berpengaruh bagi manusia ialah ibunya. Berkaitan dengan hal ini, aku menjelaskan makna berikut yang selalu kurasakan dengan pasti dalam diriku:

Dalam delapan puluh tahun hidupku, meskipun aku menerima pelajaran dari delapan puluh ribu orang, aku bersumpah bahwa pelajaran yang paling mendasar, tidak tergoyahkan, dan seolah-olah selalu menyegarkan ajarannya bagiku ialah nasihat serta pelajaran batin yang kuterima dari mendiang ibuku. Pelajaran-pelajaran itu tertanam dalam fitrahku, hampir seperti biji dalam tubuh fisikku. Aku melihat dengan jelas bahwa pelajaran-pelajaranku yang lain dibangun di atas biji-biji tersebut. Berarti, nasihat dan pelajaran mendiang ibuku bagi fitrah serta ruhku ketika berusia satu tahun kini kusaksikan sebagai biji-biji landasan dalam hakikat-hakikat besar yang kulihat pada usia delapan puluh tahun ini.

Di antaranya: Aku melihat dengan yakin bahwa kasih sayang, yang merupakan landasan terpenting dari empat landasan jalan dan corak jalanku, serta rasa iba dan belas kasih, hakikat terbesar Risale-i Nur, kuterima dari perbuatan dan sikap ibuku yang penuh kasih sayang serta pelajaran-pelajaran batinnya. Ya, kasih sayang ibu membawa ikhlas yang sejati dan pengorbanan yang sejati. Menyalahgunakannya, tanpa memikirkan akhirat anaknya yang tidak berdosa, yang laksana khazanah berlian, lalu mengarahkan wajah polos anak itu kepada dunia, yang laksana botol-botol sementara dan fana, serta menunjukkan kasih sayang dengan cara demikian, berarti menyalahgunakan kasih sayang tersebut.

Ya, kepahlawanan perempuan dari segi kasih sayang membuat mereka mengorbankan nyawa tanpa meminta upah atau balasan apa pun, tanpa kepentingan pribadi dan tanpa niat pamer. Hal ini dibuktikan oleh seekor ayam yang membawa contoh sangat kecil dari kasih sayang tersebut: demi menyelamatkan anaknya, ia menyerang singa dan mengorbankan nyawanya.

Landasan yang paling berharga dan paling diperlukan dalam didikan Islam serta amal-amal akhirat ialah ikhlas. Ikhlas yang sejati itu terdapat dalam kepahlawanan kasih sayang seperti ini.

Jika kedua pokok ini mulai berkembang pada kaum yang diberkahi tersebut, hal itu akan menghasilkan kebahagiaan yang sangat besar dalam lingkup Islam. Sebaliknya, kepahlawanan laki-laki tidak dapat berlangsung tanpa balasan; mereka menginginkan balasan dalam seratus segi. Setidaknya mereka menginginkan kemasyhuran dan kehormatan. Namun, sangat disayangkan, kaum perempuan yang malang dan diberkahi, demi terbebas dari keburukan serta penindasan laki-laki mereka yang zalim, terjerumus dalam jenis riya yang berbeda, dalam bentuk lain yang berasal dari kelemahan dan keadaan tak berdaya.

Butir Hikmah Kedua:

Tahun ini, ketika mengasingkan diri dan telah menarik diri dari kehidupan masyarakat, aku memandang dunia demi menghargai sebagian saudara dan saudariku yang menjadi murid Nur. Dari sebagian besar teman yang menemuiku, aku mendengar keluhan tentang kehidupan keluarga mereka. Aku berkata, “Aduh!” Kehidupan keluarga merupakan tempat berlindung, semacam surga, dan dunia kecil bagi manusia, terutama seorang Muslim. Aku berkata, apakah ini pun mulai rusak? Aku mencari penyebabnya. Aku mengetahui bahwa satu atau dua kelompok berusaha menyesatkan para pemuda dan mendorong mereka mengumbar hawa nafsu melalui keinginan masa muda, untuk merusak kehidupan masyarakat Islam dan dengan demikian agama Islam. Demikian pula, aku merasakan bahwa satu atau dua kelompok bekerja secara tersembunyi dengan pengaruh yang kuat untuk mengarahkan sebagian perempuan malang yang lalai kepada jalan-jalan yang salah. Aku mengetahui bahwa suatu pukulan yang mengerikan terhadap umat Islam ini datang dari arah tersebut.

Aku pun menjelaskan dengan tegas kepada kalian, saudari-saudariku, serta para pemuda kalian yang merupakan anak-anakku secara batin: Sebagaimana kebahagiaan akhirat perempuan, kebahagiaan duniawi dan sifat-sifat luhur dalam fitrah mereka juga hanya dapat diselamatkan dari kerusakan melalui didikan agama dalam lingkup Islam! Kalian mendengar keadaan yang menimpa kaum malang itu di Rusia.

Dalam salah satu bagian Risale-i Nur dikatakan: Seorang laki-laki yang berakal sehat tidak mendasarkan cinta dan kasihnya kepada pendampingnya pada kecantikan luar yang fana selama lima atau sepuluh tahun. Sebaliknya, ia harus mendasarkan cintanya pada kasih sayang dan keindahan watak yang khas perempuan, yaitu kecantikan perempuan yang paling indah dan bertahan. Dengan demikian, ketika perempuan itu semakin tua, cinta suaminya kepadanya tetap berlangsung. Sebab, pendampingnya bukan hanya pembantu dan teman sementara dalam kehidupan dunia, melainkan pendamping hidup yang dicintai untuk selama-lamanya dalam kehidupan yang kekal. Karena itu, ketika semakin tua, mereka harus saling mencintai dengan rasa hormat dan belas kasih yang lebih besar. Kehidupan keluarga sekarang, yang di balik kedok didikan peradaban mengalami perpisahan untuk selama-lamanya setelah kebersamaan sementara seperti hewan, rusak dari dasarnya.

Dalam salah satu bagian Risale-i Nur juga dikatakan: Berbahagialah laki-laki yang meneladani istrinya yang salehah dan menjadi saleh agar tidak kehilangan pendampingnya untuk selama-lamanya. Berbahagialah pula perempuan yang melihat suaminya taat beragama, lalu menjadi sepenuhnya taat beragama agar tidak kehilangan teman dan sahabatnya untuk selama-lamanya; dalam kebahagiaan duniawinya, ia memperoleh kebahagiaan akhiratnya. Malanglah laki-laki yang mengikuti istrinya yang terjerumus dalam perilaku mengumbar hawa nafsu; ia tidak berusaha membuat istrinya berhenti, tetapi justru ikut serta. Malanglah perempuan yang melihat kefasikan suaminya, lalu menirunya dalam bentuk yang lain. Celakalah suami dan istri yang saling membantu melemparkan satu sama lain ke dalam api. Artinya, mereka saling mendorong untuk mengikuti khayalan peradaban.

Makna kalimat-kalimat Risale-i Nur seperti ini ialah: Pada zaman ini, kehidupan keluarga, kebahagiaan dunia dan akhirat, serta berkembangnya sifat-sifat luhur pada perempuan hanya dapat terwujud melalui adab Islam dalam lingkup syariat.

Pokok terpenting dalam kehidupan keluarga sekarang ialah: Jika seorang perempuan melihat keburukan dan ketidaksetiaan pada suaminya, lalu karena ingin melawannya ia juga merusak kesetiaan serta sikap dapat dipercaya yang merupakan tugasnya dalam keluarga, pabrik kehidupan keluarga itu akan hancur, seperti rusaknya ketaatan dalam militer. Sebaliknya, perempuan itu harus berusaha memperbaiki kesalahan suaminya semampunya agar menyelamatkan sahabatnya untuk selama-lamanya. Jika ia justru berusaha memperlihatkan dirinya dan membuat orang lain mencintainya dengan membuka aurat, ia merugi dari segala segi. Sebab, orang yang meninggalkan kesetiaan yang sejati juga menerima hukumannya di dunia. Fitrahnya takut, tidak nyaman, dan menjauh dari pandangan laki-laki bukan mahram. Dari dua puluh laki-laki bukan mahram, ia merasa terganggu oleh tatapan delapan belas di antaranya. Sebaliknya, dari seratus perempuan bukan mahram, seorang laki-laki hanya merasa terganggu oleh satu orang dan merasa tidak nyaman karena tatapan perempuan itu. Selain perempuan itu menderita dari segi tersebut, ia juga dituduh tidak setia dan, bersamaan dengan kelemahannya, tidak dapat melindungi hak-haknya.

Kesimpulannya:

Sebagaimana perempuan tidak menyerupai laki-laki dalam kepahlawanan dan ikhlas dari segi kasih sayang, dan laki-laki tidak dapat menyamai mereka dalam kepahlawanan itu, demikian pula perempuan-perempuan yang tidak berdosa tersebut sama sekali tidak dapat menyamai laki-laki dalam mengumbar hawa nafsu. Karena itu, melalui fitrah dan sifat mereka yang lemah sejak diciptakan, mereka sangat takut kepada laki-laki bukan mahram dan merasa harus menyembunyikan diri di balik pakaian luar yang menyelubungi tubuh. Sebab, jika seorang laki-laki terjerumus dalam perilaku mengumbar hawa nafsu demi delapan menit kesenangan dan kenikmatan, ia hanya kehilangan sesuatu sekitar delapan lira. Namun, sebagai hukuman atas delapan menit kenikmatan dalam perilaku mengumbar hawa nafsu, bahkan di dunia seorang perempuan harus membawa beban berat dalam kandungannya selama delapan bulan. Ia juga menanggung kesulitan mengasuh anak tanpa pelindung itu selama delapan tahun. Karena itu, ia tidak dapat menyamai laki-laki dalam perilaku mengumbar hawa nafsu dan menanggung hukuman seratus kali lebih besar. Banyaknya peristiwa seperti ini juga menunjukkan bahwa kaum perempuan yang diberkahi secara fitrah merupakan sumber akhlak yang luhur, sedangkan kemampuan mereka untuk mengejar kenikmatan dunia melalui kefasikan dan perilaku mengumbar hawa nafsu hampir tidak ada.

Berarti, mereka adalah suatu jenis makhluk yang diberkahi, yang diperuntukkan bagi kehidupan keluarga yang bahagia dalam lingkup didikan Islam. Binasalah kelompok-kelompok yang merusak perempuan-perempuan yang diberkahi ini! Semoga Allah سُبْحَانَهُ melindungi saudari-saudariku ini dari keburukan orang-orang liar tersebut, âmin!

Saudari-saudariku! Aku menyampaikan perkataan ini kepada kalian secara rahasia: Daripada demi mencari nafkah masuk ke bawah penindasan seorang suami yang liar, tidak berakhlak, dan bercorak Eropa, berusahalah menghidupi diri dengan berhemat dan kanaah yang terdapat dalam fitrah kalian, seperti perempuan-perempuan desa yang polos bekerja untuk memperoleh nafkah sendiri. Berusahalah mengurus diri kalian, jangan berusaha menjual diri kalian. Jika seorang laki-laki yang tidak sesuai dengan kalian menjadi jodoh kalian, terimalah jodoh itu dengan rela dan kanaah. İnşâallah, melalui sikap rela dan kanaah kalian, ia pun menjadi baik. Jika tidak, seperti yang kudengar sekarang, kalian akan mengajukan perkara ke pengadilan untuk bercerai. Hal ini pun tidak sesuai dengan martabat Islam dan kehormatan bangsa kita!

Butir Hikmah Ketiga:

Saudari-saudariku yang mulia! Ketahuilah dengan pasti bahwa dalam kesenangan dan kenikmatan di luar batas yang halal, terdapat penderitaan serta kesulitan sepuluh kali lebih besar daripada kesenangan dan kenikmatan itu, sebagaimana telah dibuktikan oleh Risale-i Nur melalui ratusan dalil yang kuat dan peristiwa. Uraian panjangnya dapat kalian temukan dalam Risale-i Nur.

Di antaranya,

Kalimat Keenam, Ketujuh, dan Kedelapan dalam Küçük Sözler (Kalimat-kalimat Pendek), serta Panduan Pemuda akan memperlihatkan hakikat ini sepenuhnya kepada kalian sebagai gantiku. Karena itu, cukupkanlah diri dengan kesenangan dalam batas yang halal dan bersikaplah kanaah. Percakapan yang polos dengan anak-anak kalian yang tidak berdosa di rumah lebih menyenangkan daripada ratusan bioskop.

Ketahuilah pula dengan pasti bahwa kenikmatan yang sejati dalam kehidupan dunia ini berada dalam lingkup iman dan dalam iman. Dalam setiap amal saleh terdapat kenikmatan batin. Risale-i Nur telah membuktikan dengan ratusan dalil yang pasti bahwa dalam kesesatan dan perilaku mengumbar hawa nafsu terdapat penderitaan yang sangat pahit serta buruk, bahkan di dunia ini. Aku sendiri telah melihat dengan ainulyaqin melalui banyak pengalaman dan peristiwa bahwa seolah-olah terdapat biji surga dalam iman serta biji neraka dalam kesesatan dan perilaku mengumbar hawa nafsu. Hakikat ini telah berulang kali ditulis dalam Risale-i Nur. Tulisan itu jatuh ke tangan penentang dan pembantah yang paling keras, tetapi para ahli resmi maupun pengadilan tidak dapat menggugurkan hakikat tersebut. Sekarang, terutama Tesettür Risalesi (Risalah Menutup Aurat), Panduan Pemuda, dan Küçük Sözler hendaklah memberi pelajaran sebagai gantiku kepada saudari-saudariku yang diberkahi serta tidak berdosa seperti kalian, dan anak-anak kecil kalian yang kuanggap sebagai anak-anakku.

Aku mendengar bahwa kalian menginginkan aku memberikan pelajaran kepada kalian di masjid. Namun, selain keadaanku yang kacau, penyakitku dan banyak sebab lain tidak memungkinkan hal ini. Aku pun memutuskan untuk menyertakan seluruh saudari-saudariku yang membaca serta menerima pelajaran yang kutulis bagi kalian ini dalam seluruh perolehan batin dan doaku, seperti murid-murid Nur. Jika sebagai gantiku kalian memperoleh sebagian Risale-i Nur, lalu membaca atau mendengarkannya, saat itu menurut kaidah kita, kalian juga turut memperoleh bagian dalam perolehan batin serta doa seluruh murid Nur yang merupakan saudara-saudara kalian.

Aku hendak menulis lebih banyak sekarang. Namun, karena sangat sakit, sangat lemah, sangat tua, dan memiliki banyak tugas seperti memperbaiki tulisan, untuk sementara aku mencukupkan diri dengan ini.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ

Saudara kalian yang membutuhkan doa kalian

Bedîüzzaman Said Nursî