Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Lem'a Kedua Puluh

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Lem'a Kedua Puluh

Tentang Ikhlas

Semula ini merupakan Pokok Pertama dari Persoalan Kedua, yang terdiri atas lima pokok, di antara tujuh persoalan Catatan Ketujuh Belas dari Lem'a Ketujuh Belas. Karena pentingnya, ia menjadi Lem'a Kedua Puluh.

Ayat

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻧَّٓﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻓَﺎﻋْﺒُﺪِ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻣُﺨْﻠِﺼًﺎ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦَ ٭ اَلَا ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﺺُ

serta hadis mulia

ﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺧَﻄَﺮٍ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٍ

—ﺍَﻭْ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ—keduanya menunjukkan betapa ikhlas merupakan dasar yang penting dalam Islam. Dari butir-butir hikmah persoalan ikhlas yang tidak terbatas ini, kami hanya akan menjelaskan lima pokok secara singkat.

Peringatan:

Di Isparta yang diberkahi ini, tidak tampak beda pendapat yang disertai persaingan di antara orang-orang bertakwa, penganut tarekat, dan kaum berilmu seperti di tempat lain. Hal ini merupakan keberuntungan baik yang patut disyukuri. Memang, cinta dan kesepakatan sejati yang diperlukan tidak ada. Namun, dibandingkan dengan tempat lain, perlawanan dan persaingan yang merugikan juga tidak ada.

POKOK PERTAMA

Suatu pertanyaan penting dan mengerikan:

Mengapa para pengejar dunia, orang-orang lalai, bahkan orang-orang sesat dan munafik dapat bersepakat tanpa persaingan, sedangkan pemeluk agama, kaum berilmu, dan penganut tarekat yang berpihak pada kebenaran serta kerukunan justru berbeda pendapat dengan persaingan? Kesepakatan seharusnya menjadi hak orang-orang yang rukun, sedangkan perbedaan seharusnya melekat pada orang munafik. Mengapa hak ini berpindah ke sana dan ketidakadilan ini datang ke sini?

Jawaban:

Dari begitu banyak sebab peristiwa mengerikan yang pedih, memilukan, dan membuat orang-orang yang membela sesama menangis ini, kami akan menjelaskan tujuh sebab.

PERTAMA

Beda pendapat orang-orang yang mengikuti kebenaran bukan berasal dari tidak adanya hakikat. Kesepakatan orang-orang lalai pun bukan berasal dari adanya hakikat.

Sebaliknya, tugas kelompok, jemaah, dan perkumpulan yang bekerja dengan tugas tertentu serta khidmah khusus dalam lapisan-lapisan kehidupan sosial, seperti para pengejar dunia, kalangan politik, dan kalangan sekolah, telah ditetapkan dan dipisahkan. Upah materi yang akan mereka terima bagi nafkah sebagai imbalan tugas-tugas tersebut, serta upah maknawi yang akan mereka peroleh dari simpati masyarakat dalam hal cinta kedudukan, ketenaran, dan kehormatan, {(Catatan kaki): Peringatan: Simpati masyarakat tidak diminta; ia diberikan. Sekalipun diberikan, orang tidak boleh menikmatinya. Jika menikmatinya, ia kehilangan ikhlas dan masuk ke dalam riya. Simpati masyarakat yang dicari karena keinginan akan ketenaran dan kehormatan bukan upah dan balasan, melainkan teguran serta hukuman yang datang akibat tidak ikhlas.

Ya, dengan merugikan ikhlas yang menjadi kehidupan amal saleh, simpati masyarakat, ketenaran, dan kehormatan mengambil bentuk yang tidak menyenangkan, seperti azab kubur, di seberang kubur, sebagai imbalan kenikmatan kecil yang sementara sampai pintu kubur. Karena itu, orang tidak boleh menginginkan simpati masyarakat; ia justru harus takut dan menghindarinya. Semoga teguran ini sampai kepada para pemuja ketenaran dan pengejar kemasyhuran serta kehormatan.} telah ditetapkan dan dipisahkan. Tidak ada bagian yang saling tumpang tindih sampai menimbulkan perebutan, perdebatan, dan persaingan. Karena itu, seburuk apa pun jalan yang mereka tempuh, mereka dapat bersepakat satu sama lain.

Adapun orang-orang beragama, kaum berilmu, dan penganut tarekat, tugas masing-masing berhubungan dengan semua orang. Upah yang segera mereka peroleh juga tidak ditetapkan dan dikhususkan. Bagian masing-masing dalam kedudukan sosial, simpati masyarakat, dan diterimanya mereka dengan baik pun tidak dikhususkan. Banyak orang dapat menjadi calon untuk satu kedudukan. Banyak tangan dapat terulur kepada setiap upah materi maupun maknawi. Dari segi ini timbul perebutan dan persaingan, yang mengubah kerukunan menjadi keadaan terpecah belah serta kesepakatan menjadi pertikaian.

Salep dan obat bagi penyakit mengerikan ini ialah ikhlas.

Yakni, dengan mendahulukan berpihak pada kebenaran daripada memuja nafsu, serta mengutamakan kebenaran di atas kepentingan nafsu dan ananiyah, orang menjadi tempat tampaknya rahasia

ﺍِﻥْ ﺍَﺟْﺮِﻯَ اِلَّا ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ.

Dengan tidak bergantung pada upah materi maupun maknawi dari manusia, {(Catatan kaki): Menjadikan sifat isar para sahabat, yang memperoleh pujian Al-Qur'an, sebagai pembimbing. Yakni, dalam menerima hadiah dan sedekah, mendahulukan orang lain daripada diri sendiri; tidak menginginkan dan tidak meminta dalam hati manfaat materi yang datang sebagai imbalan khidmah agama, menganggapnya semata-mata anugerah Allah سُبْحَانَهُ, tidak menerima utang budi dari manusia, dan tidak menerimanya sebagai imbalan khidmah agama.

Sebab, dalam khidmah agama tidak boleh diminta sesuatu di dunia sebagai imbalan, agar ikhlas tidak hilang. Memang, mereka mempunyai hak agar umat menjamin nafkah mereka. Mereka juga layak menerima zakat. Namun, hal itu tidak diminta; ia diberikan. Ketika diberikan, orang tidak mengatakan, “Ini upah khidmahku.” Dengan sebisa mungkin berkanaah dan mendahulukan orang lain yang layak serta lebih berhak daripada dirinya sendiri, ia menjadi tempat tampaknya rahasia

ﻭَ ﻳُﺆْﺛِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻬِﻢْ ﺧَﺼَﺎﺻَﺔٌ

dan dapat selamat dari bahaya mengerikan ini serta memperoleh ikhlas.} Ia juga menjadi tempat tampaknya rahasia

ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ اِلَّا الْبَلَاغُ.

Dengan mengetahui bahwa diterima dengan baik, memberikan pengaruh yang baik, dan memperoleh simpati masyarakat merupakan Tugas dan Kebaikan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, bahwa hal-hal itu tidak termasuk dalam tugasnya sendiri untuk menyampaikan, tidak diperlukan baginya, dan tidak dibebankan kepadanya, ia berhasil memperoleh ikhlas. Jika tidak, ia kehilangan ikhlas.

SEBAB KEDUA

Kesepakatan orang-orang yang sesat berasal dari kehinaan mereka, sedangkan beda pendapat orang-orang yang mendapat petunjuk berasal dari kemuliaan mereka.

Yakni, para pengejar dunia dan orang-orang sesat yang lalai tidak bersandar pada kebenaran dan hakikat, sehingga mereka lemah dan hina. Dalam kehinaan itu mereka membutuhkan kekuatan. Karena kebutuhan ini, mereka berpegang dengan tulus pada pertolongan dan kesepakatan orang lain. Bahkan, meskipun jalannya sesat, mereka tetap menjaga kesepakatan. Seolah-olah mereka memperlihatkan keberpihakan pada kebenaran dalam ketidakadilan itu, ikhlas dalam kesesatan itu, fanatisme tanpa agama dalam keadaan tidak beragama itu, serta kerukunan dalam sikap munafik itu, lalu berhasil. Sebab, ikhlas yang tulus, meskipun dalam keburukan, tidak berakhir tanpa hasil. Ya, apa pun yang diminta seseorang dengan ikhlas, Allah سُبْحَانَهُ memberikannya. {(Catatan kaki): Ya,

ﻣَﻦْ ﻃَﻠَﺐَ ﻭَ ﺟَﺪَّ ﻭَﺟَﺪَ

merupakan prinsip hakikat. Cakupannya luas, dan keluasan itu juga dapat meliputi jalan kami.}

Adapun orang-orang yang mendapat petunjuk, taat beragama, berilmu, dan mengikuti tarekat bersandar pada kebenaran serta hakikat. Masing-masing menempuh jalan kebenaran dengan hanya memikirkan Rabb-nya sendiri dan mempercayai Pertolongan⁠-⁠Nya. Karena itu, secara maknawi mereka mempunyai kemuliaan yang datang dari jalan tersebut. Ketika merasa lemah, ia berpaling kepada Rabb-nya sebagai pengganti manusia dan meminta bantuan kepada⁠-⁠Nya. Karena perbedaan corak jalan, ia tidak sepenuhnya merasakan kebutuhan akan bantuan orang yang secara lahir berbeda dari corak jalannya dan tidak melihat kebutuhan akan kesepakatan. Bahkan, jika terdapat sikap mementingkan diri serta ananiyah, ia mengira dirinya benar dan lawannya salah. Sebagai pengganti kesepakatan dan cinta, beda pendapat serta persaingan pun muncul. Ia kehilangan ikhlas dan tugasnya berantakan.

Satu-satunya cara agar tidak mengalami akibat berat yang ditimbulkan sebab mengerikan ini ialah “Sembilan perintah.”

1- Bertindak positif, yakni bergerak dengan cinta kepada jalannya sendiri. Permusuhan terhadap jalan-jalan lain dan sikap merendahkan orang lain tidak boleh mencampuri pikiran serta ilmunya; ia tidak boleh sibuk dengan hal-hal itu.

2- Sebaliknya, bersepakat dengan memikirkan bahwa di dalam lingkup Islam, apa pun corak jalannya, terdapat banyak ikatan kesatuan yang menjadi sarana cinta, persaudaraan, dan persatuan...

3- Menjadikan prinsip adil berikut sebagai pembimbing: Setiap orang yang mempunyai jalan yang benar berhak mengatakan, “Jalanku benar atau lebih indah,” tanpa mengusik jalan orang lain. Namun, ia tidak boleh mengatakan, “Kebenaran hanya terdapat pada jalanku,” atau, “Yang indah hanyalah corak jalanku,” yang mengisyaratkan bahwa jalan orang lain salah atau buruk.

4- Memikirkan bahwa bersepakat dengan orang-orang yang mengikuti kebenaran merupakan sebab Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ dan sarana kemuliaan dalam ketaatan beragama...

5- Ketika orang-orang sesat dan tidak adil menyerang dengan kecerdasan suatu pribadi maknawi yang kuat dalam bentuk jemaah karena saling menopang, pahamilah bahwa perlawanan individu yang paling kuat sekalipun kalah menghadapi pribadi maknawi itu. Melalui kesepakatan di pihak orang-orang yang mengikuti kebenaran, munculkanlah suatu pribadi maknawi untuk menjaga kebenaran terhadap pribadi maknawi kesesatan yang mengerikan itu.

6- Untuk menyelamatkan kebenaran dari serangan kebatilan...

7- Dengan meninggalkan nafsu dan ananiyahnya, 8- kemuliaannya yang dipahaminya secara keliru, 9- serta perasaan-perasaannya yang tidak penting dan penuh persaingan, ia memperoleh ikhlas serta menjalankan tugasnya dengan benar. {(Catatan kaki): Bahkan, sebagaimana dalam hadis sahih disebutkan bahwa pada akhir zaman orang-orang Nasrani yang sungguh-sungguh taat beragama akan bersepakat dengan ahli Al-Qur'an dan bertahan melawan kaum zindik yang menjadi musuh bersama, pada masa ini pun orang-orang yang taat beragama dan mengikuti hakikat perlu bersepakat. Bukan hanya secara tulus dengan orang-orang seagama, sejalan, dan bersaudara dengannya, melainkan juga dengan para rohaniwan Nasrani yang sungguh-sungguh taat beragama, melawan orang-orang tanpa agama yang menyerang dan menjadi musuh bersama. Untuk sementara, mereka tidak menjadikan pokok-pokok perbedaan sebagai bahan perdebatan dan pertikaian.}

SEBAB KETIGA

Beda pendapat orang-orang yang mengikuti kebenaran bukan berasal dari rendahnya cita-cita dan kehinaan mereka. Kesepakatan orang-orang sesat pun bukan berasal dari cita-cita luhur.

Sebaliknya, beda pendapat orang-orang yang mendapat petunjuk berasal dari penyalahgunaan cita-cita luhur, sedangkan kesepakatan orang-orang sesat berasal dari lemah dan tak berdaya akibat rendahnya cita-cita. Yang menggiring orang-orang yang mendapat petunjuk kepada penyalahgunaan cita-cita luhur, lalu kepada beda pendapat dan persaingan, ialah keinginan kuat akan pahala dan tidak berkanaah dalam tugas akhirat, yang dianggap sebagai sifat terpuji dari sudut pandang akhirat. Dengan mengatakan, “Biarlah aku memperoleh pahala ini, biarlah aku membimbing orang-orang ini, biarlah mereka mendengarkan perkataanku,” ia mengambil sikap bersaing terhadap saudara sejati di hadapannya. Padahal, ia sungguh-sungguh membutuhkan cinta, bantuan, persaudaraan, dan pertolongan orang tersebut. Dengan mengatakan, “Mengapa murid-muridku pergi kepadanya? Mengapa muridku tidak sebanyak muridnya?” ananiyahnya memperoleh kesempatan dari sana, mendorongnya kepada cinta kedudukan yang merupakan sifat tercela, menghilangkan ikhlas, dan membuka pintu riya.

Obat bagi kesalahan, luka, dan penyakit rohani yang mengerikan ini adalah sebagai berikut:

Rida Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq diperoleh melalui ikhlas, bukan melalui banyaknya pengikut atau besarnya keberhasilan. Sebab, keduanya termasuk Tugas Allah سُبْحَانَهُ sehingga tidak diminta; terkadang keduanya diberikan. Ya, terkadang satu kata menjadi sebab keselamatan dan sarana Rida⁠-⁠Nya. Pentingnya jumlah tidak boleh terlalu menjadi pusat perhatian. Sebab, terkadang membimbing satu orang menjadi sarana Rida Allah سُبْحَانَهُ sebesar membimbing seribu orang. Ikhlas dan berpihak pada kebenaran berarti mendukung kaum Muslim memperoleh manfaat, dari mana dan dari siapa pun datangnya. Adapun pikiran, “Biarlah mereka menerima pelajaran dariku dan memberiku pahala,” merupakan tipu daya nafsu dan ananiyah.

Wahai manusia yang sangat menginginkan pahala dan tidak berkanaah dalam amal akhirat! Beberapa nabi telah datang dan hanya diikuti oleh segelintir orang. Namun, mereka tetap memperoleh upah yang tidak terbatas dari tugas suci kenabian itu. Jadi, keutamaan tidak terletak pada banyaknya pengikut. Keutamaan terletak pada memperoleh Rida Allah سُبْحَانَهُ. Siapakah engkau, sehingga dengan ketamakan semacam ini mengatakan, “Semua orang harus mendengarkanku,” lalu melupakan tugasmu dan mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ? Membuat orang menerima dan menghimpun masyarakat di sekelilingmu merupakan Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Jalankan tugasmu; jangan mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ.

Yang mendengarkan kebenaran serta hakikat dan membuat pembicaranya memperoleh pahala bukan hanya manusia. Makhluk-makhluk Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang sadar, makhluk rohani, dan malaikat telah memenuhi kainat serta memeriahkan segala penjuru. Karena engkau menginginkan banyak pahala, jadikan ikhlas sebagai dasar dan pikirkan hanya Rida Allah سُبْحَانَهُ. Dengan demikian, wujud-wujud di udara dari ucapan yang diberkahi dan keluar dari mulutmu hidup serta bernyawa melalui ikhlas dan niat yang tulus. Mereka mendatangi telinga makhluk sadar yang tak terhitung, meneranginya, dan memberimu pahala. Misalnya, engkau mengatakan, “Elhamdülillah”. Dengan Izin Allah سُبْحَانَهُ, ucapan ini ditulis di udara sebagai jutaan ucapan “Elhamdülillah”, besar dan kecil. Karena Sang Pengukir Yang Hakîm tidak melakukan hal sia-sia atau memboroskan sesuatu, Dia menciptakan telinga yang tak terhitung untuk mendengarkan ucapan-ucapan yang diberkahi sebanyak itu.

Jika ucapan-ucapan di udara itu menjadi hidup melalui ikhlas dan niat yang tulus, mereka masuk ke telinga makhluk rohani seperti buah-buah yang lezat.

Jika Rida Allah سُبْحَانَهُ dan ikhlas tidak memberikan kehidupan kepada ucapan-ucapan di udara itu, mereka tidak didengarkan dan pahala hanya terbatas pada ucapan di mulut. Semoga peringatan ini sampai kepada para hafiz yang merasa sesak karena suaranya kurang indah dan pendengarnya sedikit!

SEBAB KEEMPAT

Beda pendapat yang disertai persaingan pada orang-orang yang mendapat petunjuk bukan berasal dari tidak memikirkan akibat dan sempitnya pandangan. Kesepakatan tulus orang-orang sesat pun bukan berasal dari memikirkan akibat dan tingginya pandangan.

Sebaliknya, melalui pengaruh kebenaran dan hakikat, orang-orang yang mendapat petunjuk tidak terbawa perasaan nafsu yang buta dan mengikuti kecenderungan hati serta akal yang berpandangan jauh. Namun, karena tidak dapat menjaga kelurusan dan ikhlas, mereka tidak mampu mempertahankan kedudukan tinggi itu dan terjatuh dalam beda pendapat.

Adapun orang-orang sesat, karena pengaruh nafsu dan keinginan, mengikuti tuntutan perasaan yang buta, tidak melihat akibat, dan mendahulukan kenikmatan sekarang seberat satu dirham daripada kenikmatan kelak seberat satu batman. Mereka dengan kuat bersepakat satu sama lain secara tulus demi manfaat yang segera dan kenikmatan yang ada sekarang. Ya, para pemuja nafsu yang rendah dan tidak berhati bersatu serta bersepakat dengan tulus di sekitar kenikmatan dan manfaat duniawi yang ada sekarang.

Orang-orang yang mendapat petunjuk menghadap buah-buah akhirat dan kesempurnaan yang berkaitan dengan akhirat serta masa depan melalui prinsip-prinsip tinggi hati dan akal. Karena itu, mereka dapat memiliki kelurusan yang kokoh, ikhlas yang utuh, serta persatuan dan kesepakatan yang sangat rela berkorban. Namun, karena tidak dapat melepaskan ananiyah, melalui sikap berlebihan dan tidak memenuhi yang semestinya mereka kehilangan kesepakatan yang merupakan sumber kekuatan luhur. Ikhlas pun rusak, tugas akhirat terluka, dan Rida Allah سُبْحَانَهُ tidak mudah diperoleh.

Salep dan obat bagi penyakit penting ini ialah, melalui rahasia

ﺍَﻟْﺤُﺐُّ ﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ,

merasa bangga menemani orang-orang yang menempuh jalan kebenaran, mengikuti di belakang mereka, dan menyerahkan kehormatan memimpin kepada mereka. Dengan kemungkinan bahwa siapa pun di jalan kebenaran itu lebih baik daripada dirinya, orang melepaskan ananiyah dan memperoleh ikhlas. Ia mengetahui bahwa satu dirham amal dengan ikhlas lebih utama daripada berbatman-batman amal tanpa ikhlas, serta memilih menjadi pengikut daripada menjadi orang yang diikuti, yang menimbulkan tanggung jawab dan bahaya. Dengan demikian, ia selamat dari penyakit itu, memperoleh ikhlas, dan dapat menjalankan tugas akhiratnya dengan benar.

SEBAB KELIMA

Beda pendapat dan tidak bersepakatnya orang-orang yang mendapat petunjuk bukan berasal dari kelemahan mereka. Kesepakatan kuat orang-orang sesat pun bukan berasal dari kekuatan mereka.

Sebaliknya, sebagaimana tidak bersepakatnya orang-orang yang mendapat petunjuk berasal dari sandaran yang datang dari iman sempurna dan kekuatan yang timbul dari sandaran tersebut,

kesepakatan orang-orang lalai dan sesat berasal dari lemah dan tak berdaya karena mereka tidak menemukan sandaran dalam hati. Sebab, orang-orang lemah membutuhkan kesepakatan, sehingga mereka bersepakat dengan kuat. Orang-orang kuat tidak sepenuhnya merasakan kebutuhan itu, sehingga kesepakatan mereka lemah. Singa, seperti rubah, tidak membutuhkan kesepakatan sehingga hidup sendiri. Kambing-kambing liar membentuk kawanan untuk melindungi diri dari serigala.

Jadi, sebagaimana perkumpulan dan pribadi maknawi orang-orang lemah kuat, {(Catatan kaki): Di antara komite-komite Eropa, yang paling kuat, paling berpengaruh, dan dari suatu segi paling perkasa ialah Komite Hak dan Kebebasan Perempuan di Amerika, yang anggotanya perempuan, jenis yang lembut, lemah, dan halus. Komite bangsa Armenia, yang sedikit dan lemah di antara bangsa-bangsa, juga meneguhkan pernyataan kami melalui sikapnya yang kuat dan rela berkorban.} perkumpulan dan pribadi maknawi orang-orang kuat justru lemah. Suatu isyarat halus dan butir hikmah Al-Qur'an yang indah bagi rahasia ini ialah Firman

ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﻧِﺴْﻮَﺓٌ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤَﺪ۪ﻳﻨَﺔِ.

Meskipun kelompok perempuan bersifat feminin dari dua segi, digunakan kata kerja maskulin ﻗَﺎﻝَ. Melalui Firman

ﻗَﺎﻟَﺖِ الْاَعْرَابُ,

untuk kelompok laki-laki digunakan ungkapan kata kerja feminin ﻗَﺎﻟَﺖْ. Hal ini mengisyaratkan dengan halus bahwa:

Perkumpulan perempuan yang lemah, lembut, dan lunak menjadi kuat, memperoleh ketegasan dan kekuatan, serta mendapat semacam sifat laki-laki. Karena menuntut kata kerja maskulin, ungkapan ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﻧِﺴْﻮَﺓٌ sangat tepat dan indah. Adapun laki-laki kuat, terutama jika orang Arab Badui, mengandalkan kekuatannya sehingga perkumpulannya lemah dan mengambil sikap hati-hati serta lembut. Karena memperlihatkan semacam sifat perempuan, mereka menuntut kata kerja feminin. Maka, ungkapan dengan kata kerja feminin

ﻗَﺎﻟَﺖِ الْاَعْرَابُ

tepat pada tempatnya.

Ya, melalui tawakal dan penyerahan diri yang datang dari iman kepada Allah سُبْحَانَهُ sebagai sandaran yang sangat kuat, orang-orang yang mengikuti kebenaran tidak menyatakan kebutuhan kepada orang lain dan tidak meminta bantuan serta pertolongan mereka. Sekalipun meminta, mereka tidak berpegang dengan penuh pengorbanan.

Adapun para pengejar dunia, karena lalai terhadap sandaran sejatinya dalam urusan dunia, menjadi lemah dan tak berdaya. Mereka merasakan kebutuhan yang kuat akan para penolong dan bersepakat secara tulus, bahkan dengan rela berkorban.

Karena tidak memikirkan dan tidak mencari kekuatan kebenaran dalam kesepakatan, orang-orang yang mengikuti kebenaran terjatuh dalam beda pendapat, yang merupakan akibat tidak adil dan merugikan.

Adapun orang-orang sesat yang tidak benar, karena merasakan kekuatan dalam kesepakatan melalui keadaan tak berdaya, memperoleh kesepakatan yang merupakan sarana sangat penting bagi tujuan-tujuannya.

Salep dan obat bagi penyakit beda pendapat yang tidak adil pada orang-orang yang mengikuti kebenaran ialah menjadikan Larangan Allah سُبْحَانَهُ yang keras dalam ayat

وَلَا ﺗَﻨَﺎﺯَﻋُﻮﺍ ﻓَﺘَﻔْﺸَﻠُﻮﺍ ﻭَﺗَﺬْﻫَﺐَ ﺭ۪ﻳﺤُﻜُﻢْ

dan Perintah Allah سُبْحَانَهُ yang sangat berhikmah bagi kehidupan sosial dalam ayat

ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮٰﻯ

sebagai prinsip tindakan. Dengan memikirkan betapa beda pendapat merugikan Islam dan memudahkan kemenangan orang sesat atas orang yang mengikuti kebenaran, mereka perlu bergabung ke rombongan orang-orang yang mengikuti kebenaran dengan rela berkorban dan tulus, sambil menyadari keadaan sangat lemah dan tak berdaya. Dengan melupakan pribadi sendiri, mereka bebas dari riya dan sikap dibuat-buat, lalu memperoleh ikhlas.

SEBAB KEENAM

Beda pendapat orang-orang yang mengikuti kebenaran bukan karena mereka tidak bersikap luhur, rendah cita-cita, atau tidak mempunyai semangat membela sesama. Kesepakatan tulus para pengejar dunia yang lalai dan orang-orang sesat dalam urusan kehidupan dunia pun bukan berasal dari sikap luhur, semangat membela sesama, atau cita-cita mereka.

Sebaliknya, karena orang-orang yang mengikuti kebenaran umumnya memikirkan manfaat yang berkaitan dengan akhirat, semangat membela sesama, cita-cita, dan sikap luhur mereka terbagi ke berbagai persoalan penting yang banyak itu. Karena tidak menghabiskan waktunya, yang merupakan modal sesungguhnya, pada satu persoalan, kesepakatannya dengan orang-orang sejalan tidak menjadi kokoh. Sebab, persoalan banyak dan lingkupnya juga luas.

Adapun para pengejar dunia yang lalai hanya memikirkan kehidupan dunia. Karena itu, dengan seluruh perasaan, jiwa, dan hati, mereka berpegang sangat kuat pada persoalan-persoalan kehidupan dunia, serta berpegang kuat pada orang yang membantunya dalam persoalan tersebut. Mereka mencurahkan waktu senilai lima ratus lira pada persoalan yang dari sudut pandang hakikat tidak bernilai lima para dan tidak dihargai sepuluh para oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran. Hal ini seperti seorang pedagang berlian Yahudi yang menjadi gila dan memberi harga lima lira untuk pecahan kaca seharga lima para. Tentu, mengeluarkan harga sebesar itu dan berpegang dengan perasaan yang kuat merupakan ikhlas yang tulus meskipun di jalan batil, sehingga mereka berhasil dalam persoalan itu dan mengalahkan orang-orang yang mengikuti kebenaran. Akibat kemenangan ini, orang-orang yang mengikuti kebenaran jatuh ke dalam kehinaan, ketundukan, sikap dibuat-buat, dan riya, lalu kehilangan ikhlas. Mereka terpaksa menjilat sebagian pengejar dunia yang tidak bersikap luhur, rendah cita-cita, dan tidak mempunyai semangat membela sesama itu.

Wahai orang-orang yang mengikuti kebenaran! Wahai para pengikut syariat, hakikat, dan tarekat yang berpihak pada kebenaran! Terhadap penyakit beda pendapat yang mengerikan ini, jangan melihat kekurangan satu sama lain; tutuplah mata terhadap aib sesama! Didiklah diri kalian dengan adab Al-Furqan

ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻐْﻮِ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﻛِﺮَﺍﻣًﺎ.

Ketika musuh dari luar menyerang, tinggalkan perdebatan di dalam. Anggaplah menyelamatkan orang-orang yang mengikuti kebenaran dari kejatuhan dan kehinaan sebagai tugas akhirat yang paling utama dan paling penting. Jalankan persaudaraan, cinta, dan saling menolong yang diperintahkan dengan tegas oleh ratusan ayat dan hadis Nabi ﷺ. Dengan seluruh perasaan kalian, bersepakatlah dengan orang-orang sejalan dan seagama lebih kuat daripada para pengejar dunia; yakni, jangan jatuh dalam beda pendapat.

Jangan melemahkan kesepakatan dengan menarik diri sambil mengatakan, “Daripada menghabiskan waktuku yang berharga untuk persoalan kecil seperti ini, aku akan menghabiskannya untuk hal-hal berharga seperti zikir dan renungan.” Sebab, dalam jihad maknawi ini, hal yang engkau kira kecil dapat sangat besar. Sebagaimana satu jam penjagaan seorang prajurit dalam syarat-syarat penting dan khusus terkadang setara dengan ibadah setahun, pada masa kekalahan orang-orang yang mengikuti kebenaran ini, satu harimu yang berharga, yang dihabiskan pada suatu persoalan kecil dalam perjuangan maknawi, dapat memperoleh nilai seribu tingkat seperti satu jam prajurit itu. Satu harimu dapat menjadi seribu hari.

Karena hal itu livechillah, kecil atau besarnya pekerjaan, berharga atau tidak berharganya, tidak diperhatikan. Di jalan ikhlas dan Rida Allah سُبْحَانَهُ, zarah menjadi seperti bintang. Yang diperhatikan bukan hakikat sarana, melainkan hasilnya. Karena hasilnya ialah Rida Allah سُبْحَانَهُ dan dasarnya ikhlas, hal itu tidak kecil, tetapi besar.

SEBAB KETUJUH

Beda pendapat dan persaingan orang-orang yang mengikuti kebenaran serta hakikat bukan berasal dari iri hati dan ketamakan dunia. Kesepakatan para pengejar dunia dan orang-orang lalai pun bukan berasal dari kemurahan hati dan sikap mulia.

Sebaliknya, orang-orang yang mengikuti hakikat tidak dapat sepenuhnya menjaga sikap mulia serta cita-cita luhur yang datang dari hakikat, dan perlombaan yang terpuji di jalan kebenaran. Karena masuknya orang-orang yang tidak layak, mereka menyalahgunakannya sampai taraf tertentu, lalu jatuh dalam beda pendapat yang disertai persaingan. Hal itu sangat merugikan diri mereka maupun jemaah Islam.

Adapun orang-orang lalai dan sesat, agar tidak kehilangan keuntungan yang memikat mereka dan tidak membuat marah pemimpin serta kawan yang dipujanya demi keuntungan, melalui kehinaan, sikap tidak luhur, dan tiadanya semangat membela sesama, mereka bersatu dengan tulus bersama kawan-kawannya tanpa syarat. Sekalipun kawan-kawan itu rendah, berkhianat, dan berbahaya, mereka bersepakat dengan tulus bersama sekutu yang berkumpul demi keuntungan, apa pun bentuknya. Sebagai hasil ketulusan itu, mereka memperoleh manfaat.

Wahai orang-orang yang mengikuti kebenaran serta hakikat, yang tertimpa musibah dan terjatuh dalam beda pendapat! Pada masa musibah ini, karena kalian kehilangan ikhlas dan tidak menjadikan Rida Allah سُبْحَانَهُ sebagai satu-satunya tujuan akhir, kalian menyebabkan kehinaan dan kekalahan orang-orang yang mengikuti kebenaran. Dalam urusan agama dan akhirat tidak boleh ada persaingan, keinginan menyamai kelebihan orang lain, dengki, dan iri hati. Dari sudut pandang hakikat, hal-hal itu tidak dapat ada.

Sebab, dengki dan iri hati timbul ketika banyak tangan terulur kepada satu hal, banyak mata tertuju pada satu kedudukan, dan banyak perut menginginkan satu roti. Melalui perebutan, perdebatan, dan perlombaan, orang jatuh pada keinginan menyamai kelebihan orang lain, lalu iri hati. Di dunia, banyak orang menginginkan satu benda yang sama. Karena dunia sempit dan sementara, ia tidak dapat memuaskan keinginan manusia yang tidak terbatas, sehingga mereka jatuh dalam persaingan.

Namun, di akhirat, kepada satu orang dianugerahkan surga seluas perjalanan lima ratus tahun. {(Catatan kaki): Suatu pertanyaan penting dari pihak yang penting: Dalam riwayat disebutkan bahwa di surga seseorang diberi surga seluas perjalanan lima ratus tahun. Bagaimana hakikat ini dapat masuk dalam jangkauan akal duniawi?

Jawaban: Di dunia ini, setiap orang mempunyai dunia khusus dan sementara sebesar dunia. Tiang dunia itu ialah hidupnya. Melalui indra lahir serta batinnya, ia mengambil manfaat dari dunia tersebut. Ia mengatakan, “Matahari adalah lampuku, bintang-bintang adalah lilin-lilinku.” Adanya makhluk lain dan makhluk berjiwa tidak menghalangi kepemilikannya. Sebaliknya, mereka memeriahkan dan menghiasi dunianya yang khusus.

Demikian pula, tetapi ribuan tingkat lebih tinggi, selain kebun khusus yang berisi ribuan istana serta para bidadari, setiap mukmin mempunyai surga khusus seluas perjalanan lima ratus tahun dari surga umum. Melalui perasaan dan indranya yang berkembang sesuai tingkatannya, ia mengambil manfaat dengan cara yang layak bagi surga dan hidup yang kekal. Keikutsertaan orang lain tidak mengurangi kepemilikan dan manfaat yang diperolehnya; justru menguatkannya dan menghiasi surganya yang khusus serta luas.

Ya, sebagaimana di dunia ini seseorang mengambil manfaat dari kebun seluas perjalanan satu jam, tempat menikmati pemandangan seluas perjalanan satu hari, negeri seluas perjalanan satu bulan, dan perjalanan di tempat bertamasya seluas perjalanan satu tahun melalui mulut, telinga, mata, daya menikmati, daya pengecap, serta indra lainnya, demikian pula keadaan di sana. Namun, daya penciuman dan pengecap yang di negeri fana ini hanya mampu mengambil manfaat dari kebun seluas perjalanan satu jam memperoleh manfaat yang sama dari kebun seluas perjalanan satu tahun di negeri yang kekal itu. Daya penglihatan dan pendengaran yang di sini hanya dapat mengambil manfaat dari tempat bertamasya seluas perjalanan satu tahun, di sana memperoleh manfaat dari perjalanan di tempat bertamasya seluas perjalanan lima ratus tahun, dengan cara yang layak bagi negeri megah yang seluruhnya dihiasi itu.

Setiap mukmin menikmati, merasakan kenikmatan, dan mengambil manfaat melalui indranya yang meluas serta berkembang sesuai tingkatannya dan pahala serta kebaikan yang diperolehnya di dunia.} Ia juga diberi tujuh puluh ribu istana, beserta para bidadari. Setiap penghuni surga rela dan sepenuhnya puas dengan bagiannya sendiri. Hal-hal ini mengisyaratkan dan memperlihatkan bahwa di akhirat tidak ada sesuatu yang menjadi sarana persaingan, dan persaingan pun tidak dapat ada. Maka, dalam amal saleh yang berkaitan dengan akhirat juga tidak dapat ada persaingan; ia bukan tempat iri hati.

Orang yang iri hati adalah pelaku riya yang mencari hasil duniawi melalui bentuk amal saleh, atau orang tulus yang tidak tahu, yang tidak mengetahui ke mana amal saleh mengarah dan tidak memahami bahwa jiwa serta dasar amal saleh ialah ikhlas. Dengan membawa sejenis permusuhan kepada para wali Allah سُبْحَانَهُ melalui persaingan, ia melontarkan tuduhan terhadap luasnya Rahmat Allah سُبْحَانَهُ. Suatu peristiwa yang meneguhkan hakikat ini adalah sebagai berikut:

Salah seorang kawan lama kami mempunyai permusuhan terhadap seseorang. Di hadapannya, musuhnya digambarkan dengan pujian sebagai orang beramal saleh, bahkan sebagai wali. Orang itu tidak iri hati dan tidak merasa terganggu.

Kemudian seseorang berkata, “Musuhmu itu berani dan kuat.” Kami melihat bahwa dalam diri orang tersebut bangkit iri hati yang kuat dan dorongan untuk bersaing.

Kami berkata kepadanya, “Kewalian dan kesalehan merupakan kekuatan dan kedudukan tinggi seperti berlian kehidupan kekal yang tidak terbatas. Dari segi ini engkau tidak iri terhadapnya. Kekuatan duniawi juga terdapat pada lembu dan keberanian pada binatang buas. Dibandingkan dengan kewalian dan kesalehan, keduanya seperti pecahan kaca biasa dibandingkan dengan intan.”

Orang itu berkata, “Di dunia ini kami berdua mengarahkan pandangan kepada satu titik dan satu kedudukan. Anak-anak tangga kami untuk naik ke sana ialah hal-hal seperti kekuatan dan keberanian. Karena itu aku iri. Kedudukan akhirat tidak terbatas. Meskipun di sini ia musuhku, di sana ia dapat menjadi saudaraku yang tulus dan terkasih.”

Wahai para pengikut hakikat dan tarekat! Khidmah kepada kebenaran seperti membawa dan menjaga khazanah yang besar serta berat. Semakin kuat tangan-tangan yang bergegas menolong orang-orang yang membawa khazanah itu di bahunya, semakin mereka gembira dan puas. Mereka seharusnya tidak iri, melainkan dengan cinta yang sangat tulus bertepuk tangan dengan bangga menyambut kekuatan, pengaruh, dan bantuan para pendatang yang lebih besar daripada milik mereka sendiri. Namun, mengapa saudara-saudara sejati dan para penolong yang rela berkorban itu dipandang dengan persaingan, sehingga ikhlas hilang? Kalian dituduh dalam tugas kalian dan, dalam pandangan orang-orang sesat, terkena tuduhan mengerikan seperti memperoleh dunia melalui agama, menjamin nafkah melalui ilmu hakikat, dan bersaing di jalan tamak serta rakus. Semua itu seratus tingkat lebih rendah daripada kalian dan jalan kalian.

Satu-satunya jalan untuk mengatasi penyakit ini ialah menuduh nafsu sendiri dan selalu berpihak pada kawan sejalan di hadapannya, bukan pada nafsunya. Prinsip berpihak pada kebenaran dan berlaku adil di antara ulama ilmu adab serta ilmu perdebatan adalah sebagai berikut: “Jika dalam perdebatan suatu persoalan seseorang berpihak agar perkataannya sendiri terbukti benar, merasa gembira karena dirinya benar, dan puas karena lawannya tidak benar serta keliru, ia tidak adil.” Ia juga merugi. Sebab, ketika terbukti benar, ia tidak mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya dalam perdebatan itu. Bahkan, ia dapat merugi karena kemungkinan menjadi sombong. Jika kebenaran ternyata berada di tangan lawannya, tanpa kerugian ia mempelajari persoalan yang belum diketahuinya, memperoleh manfaat, dan bebas dari kesombongan nafsu.

Jadi, orang adil yang berpihak pada kebenaran mengalahkan kepentingan nafsu demi kebenaran. Jika melihat kebenaran berada di pihak lawannya, ia tetap menerimanya dengan rela, mendukungnya, dan merasa puas.

Jika orang-orang beragama, pengikut hakikat, penganut tarekat, dan kaum berilmu menjadikan prinsip ini sebagai pembimbing, mereka memperoleh ikhlas, berhasil dalam tugas akhirat, serta melalui Rahmat Allah سُبْحَانَهُ selamat dari kejatuhan yang memilukan dan musibah saat ini.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ