Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Lem'a Kedelapan Belas

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Lem'a Kedelapan Belas

Telah diterbitkan dalam Lem'alar beraksara Al-Qur'an dan kumpulan Sikke-i Tasdik-i Gaybî (Cap Pengesahan Gaib).

Lem'a Kesembilan Belas

İktisat Risalesi (Risalah Berhemat)

Tentang berhemat dan kanaah, pemborosan dan menghambur-hamburkan harta.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَ ﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﻭَ لَا ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ

Ayat mulia ini memberikan pelajaran hikmah yang sangat penting berupa perintah pasti untuk berhemat dan larangan jelas terhadap pemborosan. Dalam persoalan ini terdapat tujuh butir hikmah.

BUTIR HIKMAH PERTAMA

Sang Khâliq Yang Rahîm menghendaki syukur sebagai balasan atas nikmat-nikmat yang diberikan⁠-⁠Nya kepada umat manusia. Pemborosan bertentangan dengan syukur; ia meremehkan nikmat dengan cara yang merugikan. Adapun berhemat merupakan penghormatan kepada nikmat yang mendatangkan keuntungan.

Ya, berhemat merupakan syukur maknawi, penghormatan kepada Rahmat Allah سُبْحَانَهُ di dalam nikmat, sebab berkah yang pasti, sarana kesehatan bagi tubuh seperti menjaga pola makan, sebab kemuliaan yang membebaskan dari kehinaan mengemis secara rohani, serta sebab kuat untuk merasakan kenikmatan dalam nikmat dan mengecap kenikmatan dalam nikmat yang secara lahir tampak tidak nikmat. Karena bertentangan dengan hikmah-hikmah tersebut, pemborosan mempunyai akibat yang berat.

BUTIR HIKMAH KEDUA

Sang Fâthir Yang Hakîm menciptakan tubuh manusia sebagai istana yang sempurna dan seperti kota yang teratur. Dia menjadikan daya pengecap di mulut sebagai penjaga pintu, serta saraf dan pembuluh darah sebagai sarana komunikasi antara daya pengecap dan lambung di pusat tubuh, seperti kabel telepon dan telegraf. Melalui pembuluh-pembuluh itu, ia memberitahukan zat yang datang ke mulut. Jika tubuh dan lambung tidak memerlukannya, ia mengatakan, “Dilarang!” lalu membuangnya keluar. Terkadang, jika zat itu tidak bermanfaat bagi tubuh, bahkan berbahaya dan pahit, ia segera membuangnya keluar dan meludahkannya ke wajah zat itu.

Karena daya pengecap di mulut adalah penjaga pintu, lambung merupakan tuan dan penguasa dalam hal mengatur tubuh. Jika hadiah yang datang ke istana atau kota itu dan diberikan kepada penguasa istana bernilai seratus tingkat, hanya lima tingkat yang layak diberikan sebagai uang tip kepada penjaga pintu; tidak boleh lebih. Dengan demikian, penjaga pintu tidak menjadi sombong, kehilangan kendali, melupakan tugas, dan memasukkan pemberontak yang memberinya tip besar ke dalam istana.

Berdasarkan rahasia ini, sekarang kami membayangkan dua suap makanan. Satu suap bahan bergizi, seperti keju dan telur, bernilai empat puluh para; suap lain dari baklava terbaik bernilai sepuluh kuruş. Sebelum masuk ke mulut, kedua suap ini tidak berbeda dari segi tubuh; keduanya sama. Setelah melewati tenggorokan, keduanya juga sama dalam memberi gizi kepada tubuh. Bahkan, terkadang keju seharga empat puluh para memberi gizi lebih baik. Hanya ada perbedaan selama setengah menit dalam menyenangkan daya pengecap di mulut. Bandingkan betapa sia-sia dan merugikannya pemborosan dengan naik dari empat puluh para ke sepuluh kuruş demi setengah menit. Sementara hadiah bagi penguasa istana bernilai empat puluh para, memberikan tip sembilan kali lebih besar kepada penjaga pintu membuatnya kehilangan kendali dan mengatakan, “Akulah penguasa.” Ia akan memasukkan siapa pun yang memberikan tip dan kenikmatan lebih besar, menimbulkan pemberontakan serta kebakaran, lalu membuat orang terpaksa mengatakan, “Tolong, datangkan dokter; redakanlah panasku dan padamkanlah apiku.”

Berhemat dan kanaah adalah menyesuaikan tindakan dengan Hikmah Allah سُبْحَانَهُ. Keduanya mempertahankan daya pengecap sebagai penjaga pintu dan memberinya tip sesuai kedudukan itu. Karena pemborosan bertindak bertentangan dengan Hikmah tersebut, ia segera menerima tamparan, mengacaukan lambung, dan menghilangkan selera sejati. Ia membuat orang makan melalui selera palsu yang dibuat-buat akibat beragamnya makanan, menyebabkan sulit mencerna, dan membuat sakit.

BUTIR HIKMAH KETIGA

Dalam butir hikmah kedua sebelumnya, kami mengatakan bahwa daya pengecap adalah penjaga pintu. Ya, bagi orang-orang yang lalai, tidak maju secara rohani, dan tidak berkembang dalam jalan syukur, ia merupakan penjaga pintu. Demi kenikmatannya, orang tidak boleh memboroskan harta dan menaikkan harga dari satu tingkat ke sepuluh tingkat.

Namun, sebagaimana dijelaskan dalam perbandingan pada Kalimat Keenam, daya pengecap orang-orang yang sungguh-sungguh bersyukur, mengikuti hakikat, dan hidup dengan hati merupakan pengawas dan pemeriksa dapur-dapur Rahmat Allah سُبْحَانَهُ. Dengan timbangan-timbangan kecil dalam daya pengecap itu, yang jumlahnya sebanyak makanan, ia menimbang dan mengenali jenis-jenis nikmat Allah سُبْحَانَهُ, lalu memberitahukannya kepada tubuh dan lambung sebagai suatu syukur maknawi. Dengan cara ini, daya pengecap tidak hanya berhubungan dengan tubuh jasmani. Karena juga berhubungan dengan hati, jiwa, dan akal, ia mempunyai wewenang dan kedudukan di atas lambung.

Dengan syarat tidak memboroskan harta, semata-mata menjalankan tugas syukur, merasakan dan mengenali berbagai nikmat Allah سُبْحَانَهُ, tetap dalam batas yang dibolehkan agama, serta tidak menjadi sarana kehinaan dan mengemis, orang boleh mengejar kenikmatannya. Ia boleh memilih makanan lezat agar lidah yang membawa daya pengecap itu digunakan untuk bersyukur. Suatu peristiwa dan sebuah karamah Ghauts yang mengisyaratkan hakikat ini adalah sebagai berikut:

Pada suatu saat, di bawah bimbingan Ghauts Yang Agung, Syekh Jailani (ks), terdapat anak tunggal seorang wanita tua yang biasa diperlakukan dengan penuh perhatian. Wanita tua yang terhormat itu pergi ke kamar putranya dan melihat bahwa ia sedang memakan sepotong roti kering dan hitam. Karena lemah akibat latihan menahan nafsu itu, putranya membangkitkan kasih sayang sang ibu. Ia merasa iba kepadanya, lalu pergi mengeluh kepada Ghauts. Ia melihat bahwa Ghauts sedang memakan ayam panggang.

Karena biasa mendapat perhatian, ia berkata, “Yâ Üstad! Anakku mati karena lapar. Engkau memakan ayam!”

Ghauts berkata kepada ayam,

ٔﻗُﻢْ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪ!

Telah diriwayatkan melalui tawatur maknawi dari banyak orang yang terpercaya dan dapat diandalkan bahwa tulang-tulang ayam yang telah dimasak itu berkumpul, lalu melompat keluar dari wadah makanan sebagai ayam. Hal ini merupakan salah satu karamah seorang tokoh seperti Ghauts, yang di seluruh dunia terkenal menerima karamah-karamah luar biasa.

Ghauts berkata, “Ketika putramu juga mencapai tingkat ini, saat itu ia pun boleh memakan ayam.”

Makna perintah Ghauts ini ialah: Ketika jiwa putramu menguasai tubuhnya, hatinya menguasai nafsunya, akalnya menguasai lambungnya, dan ia menginginkan kenikmatan untuk bersyukur, saat itu ia boleh memakan hal-hal lezat...

BUTIR HIKMAH KEEMPAT

Melalui rahasia hadis mulia

لَا ﻳَﻌُﻮﻝُ ﻣَﻦِ ﺍﻗْﺘَﺼَﺪَ,

yang bermakna “Orang yang berhemat tidak mengalami bencana kekurangan nafkah,” orang yang berhemat tidak banyak mengalami kesulitan dan kesusahan dalam nafkah. Ya, terdapat begitu banyak bukti pasti bahwa berhemat merupakan sebab berkah yang pasti dan sarana kehidupan yang baik sehingga tidak terhitung.

Di antaranya, berdasarkan yang kulihat pada diriku sendiri dan kesaksian orang-orang yang berkhidmah kepadaku serta menemaniku, aku mengatakan: Melalui berhemat, terkadang aku melihat berkah sepuluh kali lipat, dan kawan-kawanku juga melihatnya. Bahkan, sembilan tahun—sekarang tiga puluh tahun—yang lalu, sebagian pemimpin yang diasingkan ke Burdur bersamaku berusaha keras membuatku menerima zakat mereka agar aku tidak jatuh ke dalam kehinaan dan kemelaratan karena tidak mempunyai uang. Aku berkata kepada para pemimpin kaya itu, “Memang uangku sangat sedikit, tetapi aku berhemat dan telah terbiasa berkanaah. Aku lebih kaya daripada kalian.” Aku menolak tawaran mereka yang berulang dan mendesak. Hal yang patut diperhatikan ialah bahwa dua tahun kemudian sebagian orang yang menawarkan zakat kepadaku berutang karena tidak berhemat. Lillahi'l-hamd, tujuh tahun setelah itu, uang yang sedikit itu tetap mencukupiku karena berkah berhemat. Ia tidak membuatku kehilangan muka dan tidak memaksaku menyatakan kebutuhan kepada orang lain. Ia tidak merusak jalanku untuk “tidak bergantung kepada orang lain,” yang merupakan salah satu prinsip hidupku.

Ya, orang yang tidak berhemat berpeluang jatuh ke dalam kehinaan, mengemis secara rohani, dan kemelaratan. Pada masa ini, uang untuk pemborosan sangat mahal. Sebagai imbalannya, terkadang martabat dan kehormatan diterima sebagai suap. Terkadang hal-hal suci agama diambil sebagai imbalannya, lalu uang yang membawa keburukan diberikan. Jadi, barang senilai seratus para secara materi diperoleh dengan kerugian rohani sebesar seratus lira.

Jika orang berhemat dan membatasi diri hanya pada kebutuhan pokok, melalui rahasia

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﺘ۪ﻴﻦُ

dan pernyataan jelas

ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ ﻓِﻰ الْاَرْضِ اِلَّا ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺭِﺯْﻗُﻬَﺎ,

ia akan menemukan rezeki yang cukup untuk hidup dengan cara yang tidak disangkanya. Sebab, ayat ini memberikan jaminan.

Ya, rezeki terdiri atas dua jenis:

Yang pertama:

Rezeki sejati, yang membuat orang dapat hidup. Menurut ketetapan ayat ini, rezeki tersebut berada di bawah Jaminan Rabb. Jika pilihan buruk manusia tidak ikut campur, ia pasti dapat menemukan rezeki pokok itu. Ia tidak terpaksa mengorbankan agama, kehormatan, maupun kemuliaannya.

Yang kedua:

Rezeki kiasan. Melalui penyalahgunaan, kebutuhan yang tidak pokok menjadi seolah-olah kebutuhan pokok. Karena bencana kebiasaan mengikuti orang lain, manusia menjadi kecanduan dan tidak dapat meninggalkannya. Karena rezeki ini tidak berada di bawah Jaminan Rabb, memperolehnya sangat mahal, terutama pada masa ini. Pertama-tama, orang mengorbankan kemuliaannya dan menerima kehinaan. Terkadang ia jatuh ke dalam keadaan mengemis secara rohani sampai seperti mencium kaki orang-orang rendah. Terkadang ia mengorbankan hal-hal suci agamanya, yang merupakan nur kehidupan kekalnya, untuk memperoleh harta tanpa berkah yang membawa keburukan itu.

Pada masa kemiskinan dan kesulitan ini, melalui kepedulian terhadap sesama, derita orang-orang yang lapar dan membutuhkan menimbulkan kepedihan pada orang yang berhati nurani. Jika ia mempunyai nurani, kepedihan itu membuat pahit kenikmatan yang diperolehnya dengan uang yang didapat melalui cara yang tidak dibolehkan agama.

Pada masa yang begitu aneh ini, dalam harta yang diragukan, orang harus mencukupkan diri pada taraf kebutuhan darurat. Sebab, melalui rahasia

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻀَّﺮُﻭﺭَﺓَ ﺗُﻘَﺪَّﺭُ ﺑِﻘَﺪْﺭِﻫَﺎ,

dalam keadaan terpaksa orang boleh mengambil harta haram sebatas kebutuhan darurat, tetapi tidak boleh lebih. Ya, orang yang terpaksa tidak boleh memakan daging bangkai sampai kenyang. Ia hanya boleh makan sebanyak yang diperlukan agar tidak mati. Di hadapan seratus orang lapar pun tidak boleh makan berlebihan dengan penuh kenikmatan.

Suatu peristiwa yang menunjukkan bahwa berhemat menjadi sebab kemuliaan dan kesempurnaan:

Pada suatu saat, Hatim At-Ta'i, yang terkenal di dunia karena kemurahan hatinya, mengadakan jamuan besar. Ketika memberikan hadiah yang sangat banyak kepada tamu-tamunya, ia keluar berjalan-jalan di padang pasir. Ia melihat seorang lelaki tua yang fakir memanggul beban semak berduri dan tanaman geven di punggungnya. Beban itu menusuk tubuhnya dan membuatnya berdarah.

Hatim berkata kepadanya, “Hatim At-Ta'i mengadakan jamuan besar dengan hadiah-hadiah. Pergilah juga ke sana. Sebagai pengganti beban semak seharga lima kuruş ini, engkau akan menerima lima ratus kuruş.”

Orang tua yang hemat itu berkata, “Aku memikul dan membawa beban berduri ini dengan kemuliaanku. Aku tidak mau berutang budi kepada Hatim At-Ta'i.”

Kemudian mereka bertanya kepada Hatim At-Ta'i, “Siapakah yang engkau temukan lebih murah hati dan lebih mulia daripada dirimu?”

Ia menjawab, “Orang tua hemat yang kutemui di padang pasir itu kulihat lebih mulia, lebih tinggi, dan lebih murah hati daripada diriku.”

BUTIR HIKMAH KELIMA

Karena Kemurahan⁠-⁠Nya yang sempurna, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq membuat orang paling miskin merasakan kenikmatan nikmat⁠-⁠Nya seperti orang paling kaya, dan pengemis, yakni orang fakir, seperti raja. Ya, kenikmatan yang diperoleh orang fakir dari sepotong roti hitam yang kering melalui lapar dan berhemat lebih nikmat daripada yang diperoleh raja dan orang kaya dari baklava terbaik yang dimakannya dengan jenuh dan tanpa selera akibat pemborosan. Mengherankan bahwa sebagian orang yang boros dan menghamburkan harta menuduh orang hemat semacam itu kikir. Hâşâ... Berhemat adalah kemuliaan dan kemurahan hati. Kekikiran dan kehinaan merupakan sisi dalam dari sikap yang tampak murah hati pada orang yang boros dan menghamburkan harta. Ada suatu peristiwa yang meneguhkan hakikat ini, yang terjadi di kamarku di Isparta pada tahun risalah ini ditulis. Demikianlah:

Seorang muridku mendesak agar aku menerima hadiah madu sekitar dua setengah okka, dengan cara yang bertentangan dengan aturan dan prinsip hidupku. Sebanyak apa pun aku mengemukakan aturanku, ia tetap tidak terbujuk. Karena terpaksa, agar tiga saudara di sisiku memakannya, aku berkata, “Ambillah!” Aku berpikir bahwa tiga orang dapat memakan madu itu dengan hemat selama tiga puluh hingga empat puluh hari pada bulan Syakban yang mulia dan Ramadan; pembawanya pun memperoleh pahala, dan mereka tidak kekurangan makanan manis. Aku juga mempunyai satu okka madu. Ketiga kawanku itu memang orang-orang yang lurus dan menghargai berhemat. Namun, entah bagaimana, melalui sifat yang luhur dalam hal saling menjamu, menyenangkan nafsu kawannya, dan mendahulukan kawannya daripada diri sendiri, mereka melupakan berhemat. Dalam tiga malam mereka menghabiskan dua setengah okka madu. Sambil tertawa aku berkata, “Aku hendak memberi kalian makanan manis dengan madu itu selama tiga puluh hingga empat puluh hari. Kalian menurunkan tiga puluh hari menjadi tiga. Semoga menyehatkan.” Namun, aku menggunakan satu okka maduku sendiri dengan hemat. Sepanjang Syakban dan Ramadan aku memakannya, dan lillahi'l-hamd aku juga memberikan satu sendok {(Catatan kaki): Yakni, dengan sendok teh yang agak besar.} kepada setiap saudara tersebut pada waktu berbuka, sehingga hal itu menjadi sarana pahala yang besar.

Orang-orang yang melihat keadaanku mungkin menganggapnya kikir. Mereka dapat menganggap keadaan saudara-saudaraku selama tiga malam itu sebagai kemurahan hati. Namun, dari segi hakikat, kami melihat bahwa di bawah kekikiran yang tampak itu tersembunyi kemuliaan yang luhur, berkah yang besar, dan pahala yang tinggi. Jika tidak ditinggalkan, di balik kemurahan hati dan pemborosan tersebut akan timbul keadaan yang jauh lebih rendah daripada kikir, seperti mengemis dan menatap tangan orang lain dengan tamak sambil menanti.

BUTIR HIKMAH KEENAM

Berhemat dan kikir sangat berbeda. Sebagaimana rendah hati merupakan sifat terpuji yang berbeda secara makna dari merendahkan diri secara hina, yang termasuk akhlak buruk, meskipun keduanya tampak serupa; dan sebagaimana sikap bermartabat merupakan sifat terpuji yang berbeda secara makna dari sombong, yang termasuk sifat buruk, meskipun keduanya tampak serupa,

demikian pula berhemat, yang termasuk akhlak luhur Nabi ﷺ, bahkan merupakan salah satu dasar tatanan Hikmah Allah سُبْحَانَهُ di kainat, tidak mempunyai hubungan dengan kekikiran yang merupakan campuran kehinaan, bakhil, tamak, dan rakus. Hanya ada kemiripan secara lahir. Suatu peristiwa yang meneguhkan hakikat ini adalah sebagai berikut:

Abdullah bin Umar, salah seorang dari Tujuh Abdullah yang Terkenal di kalangan sahabat, adalah putra yang paling utama dan terkemuka dari Al-Faruq Yang Agung, Umar (ra), khalifah Rasulullah ﷺ. Tokoh yang diberkahi ini termasuk ulama sahabat yang paling istimewa. Di pasar, dalam suatu jual beli, ia berdebat keras tentang perkara senilai empat puluh para demi berhemat serta menjaga kepercayaan dan kelurusan yang menjadi dasar perdagangan. Seorang sahabat memperhatikannya. Ia mengira perdebatan putra Umar, khalifah yang termasyhur di muka bumi, demi empat puluh para merupakan kekikiran yang aneh. Karena ingin memahami keadaannya, ia mengikuti imam itu. Ia melihat Abdullah masuk ke rumahnya yang diberkahi dan menemukan seorang fakir di pintu. Ia berhenti sebentar, lalu berpisah dan pergi. Kemudian ia keluar dari pintu kedua rumahnya dan juga menemukan seorang fakir lain di sana. Ia berhenti sebentar di sisinya, lalu berpisah dan pergi. Sahabat yang memperhatikan dari jauh itu menjadi penasaran.

Ia pergi dan bertanya kepada orang-orang fakir itu, “Imam berhenti di sisi kalian; apa yang dilakukannya?”

Masing-masing menjawab, “Ia memberikan kepadaku satu keping emas.”

Sahabat itu berpikir, “Fesübhanallah! Ia berdebat seperti itu demi empat puluh para di pasar, lalu di rumahnya memberikan dua ratus kuruş tanpa diketahui siapa pun, dengan kerelaan hati sepenuhnya!” Ia pun pergi menemui Abdullah bin Umar.

Ia berkata, “Yâ İmam! Selesaikanlah kesulitanku ini. Engkau berbuat demikian di pasar, tetapi melakukan hal seperti ini di rumah.”

Sebagai jawaban, ia berkata, “Keadaan di pasar berasal dari berhemat, akal yang sempurna, serta penjagaan kepercayaan dan kesetiaan yang menjadi dasar dan jiwa jual beli; itu bukan kekikiran. Keadaan di rumahku berasal dari kasih sayang hati dan kesempurnaan jiwa. Yang itu bukan kikir, dan yang ini juga bukan pemborosan.”

Untuk mengisyaratkan rahasia ini, Imam Yang Agung mengatakan

لَا ﺍِﺳْﺮَﺍﻑَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻛَﻤَﺎ لَا ﺧَﻴْﺮَ ﻓِﻰ الْاِسْرَافِ.

Yakni, “Sebagaimana tidak ada pemborosan dalam kebaikan dan pemberian—namun kepada orang-orang yang layak—tidak ada kebaikan sama sekali dalam pemborosan.”

BUTIR HIKMAH KETUJUH

Pemborosan menghasilkan ketamakan. Ketamakan memberikan tiga akibat.

Pertama:

Tidak berkanaah. Tidak berkanaah mematahkan semangat berusaha dan bekerja, membuat orang mengeluh alih-alih bersyukur, serta menjatuhkannya ke dalam kemalasan. Ia meninggalkan harta yang sedikit, dibolehkan agama, dan halal, {(Catatan kaki): Karena tidak berhemat, jumlah konsumen bertambah dan jumlah produsen berkurang. Semua orang menatap pintu pemerintah. Saat itu, keterampilan, perdagangan, dan pertanian, yang menjadi dasar kehidupan sosial, berkurang. Bangsa tersebut pun mundur, jatuh, dan menjadi miskin.} lalu mencari harta yang tidak dibolehkan agama dan tidak memerlukan usaha. Di jalan itu ia mengorbankan kemuliaannya, bahkan martabatnya.

Akibat kedua ketamakan:

Kecewa dan rugi. Orang kehilangan tujuannya, dipandang sebagai beban, dan tidak memperoleh kemudahan serta bantuan. Bahkan, ia menjadi contoh peribahasa

ﺍَﻟْﺤَﺮ۪ﻳﺺُ ﺧَﺎﺋِﺐٌ ﺧَﺎﺳِﺮٌ,

yakni “Ketamakan merupakan sebab kerugian dan kegagalan.”

Pengaruh ketamakan dan kanaah berlaku melalui prinsip yang sangat luas dalam alam makhluk hidup.

Di antaranya, sebagaimana kanaah fitri pepohonan yang membutuhkan rezeki membuat rezeki itu bergegas kepada mereka, bergegasnya hewan kepada rezeki dengan ketamakan, kesusahan, dan kekurangan memperlihatkan kerugian besar ketamakan serta manfaat besar kanaah.

Kanaah seluruh anak makhluk yang lemah melalui bahasa keadaan membuat makanan lembut seperti susu mengalir kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sangka. Sementara itu, binatang buas menyerbu rezekinya yang kurang dan kotor dengan ketamakan. Hal ini membuktikan pernyataan kami dengan terang.

Keadaan berkanaah pada ikan-ikan gemuk menjadi sarana rezeki yang sempurna bagi mereka. Adapun hewan-hewan cerdas seperti rubah dan monyet, meskipun berkeliling mencari rezeki dengan ketamakan, tidak memperolehnya dengan cukup sehingga tetap kurus dan lemah. Hal ini juga memperlihatkan betapa ketamakan menjadi sebab kesusahan dan kanaah menjadi sarana kenyamanan.

Bangsa Yahudi memperoleh rezekinya dengan ketamakan, riba, dan tipu daya, dalam kehinaan dan kemelaratan, melalui cara yang tidak dibolehkan agama, dan hanya cukup untuk hidup. Adapun para penghuni padang pasir, yakni kaum nomaden, hidup dengan mulia dan mendapatkan rezeki yang cukup melalui keadaan berkanaah mereka. Hal ini juga membuktikan dengan pasti pernyataan kami tadi.

Banyak ulama {(Catatan kaki): Mereka bertanya kepada Büzürücumhur (Büzürg-Mihr), menteri Nusyirwan Yang Adil, salah seorang raja Iran yang adil, dan ulama yang terkenal karena akalnya, “Mengapa ulama terlihat di pintu para penguasa, tetapi para penguasa tidak terlihat di pintu ulama? Padahal, ilmu lebih tinggi daripada kekuasaan.”

Ia menjawab, “Karena ilmu para ulama dan ketidaktahuan para penguasa.” Yakni, karena tidak tahu, para penguasa tidak mengenal nilai ilmu sehingga tidak pergi ke pintu ulama untuk mencarinya. Adapun para ulama, karena pengetahuannya, juga mengetahui nilai harta para penguasa sehingga mencarinya di pintu mereka. Dengan menafsirkan secara halus ketamakan yang timbul dari kecerdasan para ulama dan menjadi sebab kemiskinan serta kehinaan mereka, Büzürücumhur memberikan jawaban yang lembut.} dan sastrawan {(Catatan kaki): Suatu peristiwa yang meneguhkan hal ini: Di Prancis, para sastrawan diberi surat izin mengemis karena mereka pandai mengemis. Süleyman Rüşdü} jatuh miskin karena ketamakan yang ditimbulkan kecerdasannya. Sementara itu, banyak orang yang bodoh dan tidak mampu menjadi kaya melalui keadaan berkanaah yang fitri. Hal ini membuktikan dengan pasti bahwa rezeki halal datang menurut keadaan tak berdaya dan serba membutuhkan, bukan menurut daya dan kemampuan memilih. Bahkan, rezeki halal itu berbanding terbalik dengan daya dan kemampuan memilih. Sebab, semakin anak-anak memperoleh daya dan kemampuan memilih, semakin rezekinya berkurang, menjauh, dan menjadi berat. Melalui rahasia hadis

ﺍَﻟْﻘَﻨَﺎﻋَﺔُ ﻛَﻨْﺰٌ لَا ﻳَﻔْﻨٰﻰ,

kanaah merupakan khazanah kehidupan yang baik dan nyaman. Adapun ketamakan merupakan tambang kerugian serta kemelaratan.

Akibat Ketiga:

Ketamakan mematahkan ikhlas dan melukai amal akhirat. Sebab, jika seorang yang bertakwa mempunyai ketamakan, ia menginginkan simpati masyarakat. Orang yang memperhitungkan simpati masyarakat tidak dapat memperoleh ikhlas yang utuh. Akibat ini sangat penting dan sangat perlu diperhatikan.

Kesimpulannya:

Pemborosan membuat orang tidak berkanaah. Sikap tidak berkanaah mematahkan semangat bekerja dan menjatuhkan orang ke dalam kemalasan. Ia membuka pintu keluhan terhadap hidup dan membuat orang terus-menerus mengeluh. {(Catatan kaki): Ya, dengan orang boros mana pun engkau berbicara, engkau akan mendengar keluhan. Sekaya apa pun ia, lidahnya tetap mengeluh. Jika engkau berbicara dengan orang yang paling miskin tetapi berkanaah, engkau akan mendengar syukur.} Ia juga mematahkan ikhlas dan membuka pintu riya, merusak kemuliaan dan menunjukkan jalan mengemis. Adapun berhemat menghasilkan kanaah. Melalui rahasia hadis

ﻋَﺰَّ ﻣَﻦْ ﻗَﻨَﻊَ ﺫَﻝَّ ﻣَﻦْ ﻃَﻤَﻊَ,

kanaah menghasilkan kemuliaan. Ia juga mendorong usaha dan kerja, menambah semangat, serta membuat orang bekerja.

Misalnya, seseorang bekerja satu hari. Karena berkanaah terhadap upah kecil yang diterimanya pada malam hari, ia kembali bekerja pada hari kedua. Adapun orang boros, karena tidak berkanaah, tidak bekerja lagi pada hari kedua. Sekalipun bekerja, ia bekerja tanpa semangat. Kanaah yang datang dari berhemat juga membuka pintu syukur dan menutup pintu keluhan. Dalam hidupnya ia selalu bersyukur. Karena melalui kanaah ia tidak bergantung kepada manusia, ia tidak mencari simpati mereka. Pintu ikhlas terbuka dan pintu riya tertutup.

Aku telah menyaksikan kerugian mengerikan akibat tidak berhemat dan pemborosan dalam lingkup yang luas. Demikianlah: Sembilan tahun yang lalu, aku datang ke suatu kota yang diberkahi. Karena musim dingin, aku tidak melihat sumber-sumber kekayaan kota itu. Mufti di sana—semoga Allah سُبْحَانَهُ merahmatinya—beberapa kali mengatakan kepadaku, “Penduduk kami miskin.” Perkataan ini menyentuh rasa ibaku. Selama lima hingga enam tahun sesudahnya, aku selalu merasa iba kepada penduduk kota itu. Delapan tahun kemudian, pada musim panas, aku kembali datang ke kota tersebut dan memandang kebun-kebun anggurnya. Aku teringat perkataan almarhum mufti. Aku mengatakan Fesübhanallah. Hasil kebun-kebun ini jauh melebihi kebutuhan kota. Penduduk kota ini seharusnya sangat kaya. Aku merasa heran. Melalui suatu lintasan pikiran tentang hakikat yang tidak menipuku dan menjadi pembimbing bagiku dalam memahami hakikat, aku memahami bahwa berkah telah hilang karena tidak berhemat dan pemborosan. Karena itulah, meskipun terdapat begitu banyak sumber kekayaan, almarhum mufti tersebut mengatakan, “Penduduk kami miskin.”

Ya, sebagaimana pengalaman menunjukkan bahwa memberikan zakat dan berhemat menjadi sebab berkah dalam harta, terdapat peristiwa-peristiwa yang tak terhitung yang menunjukkan bahwa pemborosan dan tidak memberikan zakat menjadi sebab hilangnya berkah.

Abu Ali Ibnu Sina, tokoh cerdas terkenal yang merupakan Plato di kalangan para filsuf Islam, pemimpin para tabib, dan guru para filsuf, menafsirkan ayat

ﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَ ﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﻭَ لَا ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ

hanya dari sudut ilmu kedokteran sebagai berikut. Ia mengatakan

ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﺍﻟﻄِّﺐَّ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺒَﻴْﺘَﻴْﻦِ ﺟَﻤْﻌًﺎ ﻭَ ﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻓ۪ﻰ ﻗَﺼْﺮِ الْكَلَامِ:

ﻓَﻘَﻠِّﻞْ ﺍِﻥْ ﺍَﻛَﻠْﺖَ ﻭَ ﺑَﻌْﺪَ ﺍَﻛْﻞٍ ﺗَﺠَﻨَّﺐْ ﻭَ ﺍﻟﺸِّﻔَﺎﺀُ ﻓِﻰ الْاِنْهِضَامِ ﻭَ ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮﺱِ ﺍَﺷَﺪُّ حَالًا ﻣِﻦْ ﺍِﺩْﺧَﺎﻝِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ.

Yakni, “Aku merangkum ilmu kedokteran dalam dua baris. Keindahan perkataan terletak pada singkatnya: Ketika makan, makanlah sedikit. Setelah makan, jangan makan lagi selama kira-kira empat hingga lima jam. Kesembuhan ada dalam pencernaan. Yakni, makanlah sebanyak yang dapat engkau cerna dengan mudah. Keadaan yang paling berat dan melelahkan bagi nafsu serta lambung ialah makan di atas makanan yang telah dimakan.” {(Catatan kaki): Yakni, yang paling membahayakan tubuh ialah makan tanpa jeda empat hingga lima jam, atau memenuhi lambung dengan berbagai makanan berturut-turut demi kenikmatan.}

TAWAFUK YANG MENGHERANKAN DAN MEMBERI PELAJARAN:

Lima atau enam penyalin yang berbeda, tiga di antaranya belum berpengalaman, menyalin İktisat Risalesi di tempat-tempat berbeda dari salinan-salinan berbeda. Mereka saling berjauhan, tulisan mereka berbeda, dan mereka sama sekali tidak memikirkan huruf elif. Namun, huruf-huruf elif pada setiap salinan yang mereka tulis bertawafuk pada lima puluh satu tanpa doa, dan lima puluh tiga dengan doa. Tawafuk angka itu dengan tahun penulisan dan penyalinan İktisat Risalesi, yakni lima puluh satu menurut kalender Rumi dan lima puluh tiga menurut kalender Arab, tentu tidak dapat merupakan kebetulan. Hal ini mengisyaratkan bahwa berkah berhemat telah mencapai tingkat karamah. Tahun ini layak dinamai “Tahun Berhemat.”

Ya, dua tahun kemudian zaman membuktikan karamah berhemat ini melalui kelaparan, kehancuran, dan pemborosan di segala penjuru pada Perang Dunia Kedua, serta terpaksa berhematnya umat manusia dan setiap orang.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ