Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Lem'a Ketiga Belas

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Lem'a Ketiga Belas

Mengenai rahasia

ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟ۪ﻴﻢِ.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ ٭ ﻭَﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺍَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ

Mengenai rahasia memohon perlindungan terhadap setan. Akan ditulis tiga belas isyarat. Karena sebagian isyarat itu telah dijelaskan serta dibuktikan secara terpisah dalam beberapa risalah seperti Kalimat Kedua Puluh Enam, di sini hanya akan dibahas secara ringkas.

ISYARAT PERTAMA

Pertanyaan:

Padahal setan-setan sama sekali tidak memiliki bagian dalam menciptakan di kainat; Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq melalui Rahmat serta Pertolongan⁠-⁠Nya mendukung orang-orang yang berada pada kebenaran; keindahan serta keelokan kebenaran dan hakikat yang menarik menguatkan serta memberi semangat kepada orang-orang yang berada pada kebenaran; dan keburukan kesesatan yang menjijikkan membuat orang-orang yang sesat menjauh darinya; apa hikmah golongan setan sering menang? Apa pula rahasia orang-orang yang berada pada kebenaran selalu berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dari kejahatan setan?

Jawaban:

Hikmah serta rahasianya ialah: Dalam sebagian besar kasus, kesesatan serta kejahatan bersifat negatif, merusak, berkaitan dengan tidak adanya sesuatu, serta menghancurkan. Dalam sebagian besar kasus, hidayah serta kebaikan bersifat positif, berkaitan dengan wujud, serta membangun dan memperbaiki.

Semua orang mengetahui bahwa suatu bangunan yang dibuat dua puluh orang selama dua puluh hari dapat dirusak satu orang dalam satu hari. Ya, meskipun hidup manusia, yang terus ada melalui adanya semua anggota dasar serta syarat-syarat hidupnya, khusus bagi Kudrat Sang Khâliq Dzul-Jalâl, seorang zalim dengan memotong satu anggota tubuh membuat manusia itu mengalami kematian, yang bersifat tidak adanya hidup bila dibandingkan dengan kehidupan. Karena itu, "Et-tahribü eshel" telah menjadi seperti suatu peribahasa.

Karena rahasia ini, dengan kekuatan yang sebenarnya lemah, orang-orang yang sesat terkadang mengalahkan orang-orang yang berada pada kebenaran dan sangat kuat. Namun, orang-orang yang berada pada kebenaran memiliki benteng yang begitu kukuh sehingga ketika berlindung di dalamnya, musuh-musuh mengerikan itu tidak dapat mendekat serta tidak dapat berbuat apa-apa. Jika mereka memberi kerugian sementara, melalui rahasia

ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ

kerugian itu diganti dengan pahala serta manfaat yang kekal. Benteng kukuh serta pertahanan yang kuat itu ialah syariat Muhammad ﷺ serta sunah Ahmad ﷺ.

ISYARAT KEDUA

Pertanyaan:

Penciptaan setan-setan yang merupakan kejahatan murni, membiarkan mereka mengganggu ahli iman, serta masuknya banyak manusia ke dalam kufur dan neraka karena mereka tampak sangat mengerikan serta buruk. Bagaimana Rahmat serta Keindahan Sang Jamîl Yang Mutlak, Sang Rahîm Mutlak, serta Sang Rahmân Yang Hakiki mengizinkan dan membenarkan terjadinya keburukan yang tidak berhingga serta musibah mengerikan ini?

Persoalan ini ditanyakan banyak orang serta terlintas dalam pikiran banyak orang.

Jawaban:

Bersama kejahatan-kejahatan yang terbatas dalam adanya setan, terdapat banyak tujuan kebaikan yang menyeluruh serta kesempurnaan manusia. Ya, terdapat begitu banyak tingkatan dari suatu benih sampai pohon besar; dalam potensi pada hakikat manusia terdapat tingkatan-tingkatan yang bahkan lebih banyak. Bahkan, terdapat derajat-derajat dari zarah sampai matahari. Berkembangnya potensi-potensi ini tentu memerlukan suatu gerak serta menghendaki suatu proses. Gerak pegas kemajuan dalam proses tersebut terjadi melalui perjuangan. Perjuangan itu terjadi melalui adanya setan-setan serta hal-hal yang merusak. Jika tidak, kedudukan manusia juga akan tetap seperti malaikat. Dengan demikian, dalam umat manusia tidak akan terdapat kelompok-kelompok yang seperti ribuan jenis. Meninggalkan seribu kebaikan agar suatu kejahatan yang terbatas tidak datang bertentangan dengan hikmah serta keadilan.

Memang, akibat setan kebanyakan manusia menuju kesesatan. Namun, pada umumnya penting serta bernilainya sesuatu dilihat dari mutu, sedikit atau sama sekali tidak dilihat dari jumlah. Sebagaimana jika seseorang yang memiliki seribu sepuluh benih membuat benih-benih itu mengalami suatu proses kimia di bawah tanah, sepuluh darinya menjadi pohon dan seribu rusak, tentu manfaat yang diberikan sepuluh benih yang menjadi pohon kepada orang itu menghapus kerugian akibat seribu benih yang rusak.

Demikian pula, melalui perjuangan melawan nafsu serta setan, sepuluh insan kamil memuliakan dan menerangi umat manusia seperti bintang. Manfaat, kehormatan, serta nilai yang mereka berikan kepada umat tersebut tentu menghapus dan membuat tidak tampak kerugian yang diberikan kepada umat manusia oleh orang-orang yang sesat, yang begitu rendah hingga dapat digolongkan seperti hama, akibat masuk ke dalam kufur. Karena itu, Rahmat, Hikmah, serta Keadilan Allah سُبْحَانَهُ mengizinkan adanya setan dan memberi ruang bagi gangguan mereka.

Wahai ahli iman! Baju zirah kalian menghadapi musuh-musuh mengerikan ini ialah takwa yang dibuat pada alat tenun Al-Qur'an. Perisai kalian ialah sunah luhur Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Senjata kalian ialah memohon perlindungan, istigfar, serta berlindung pada Penjagaan Allah سُبْحَانَهُ.

ISYARAT KETIGA

Pertanyaan:

Menurut pandangan lahiriah akal, keluhan-keluhan besar, banyaknya pengerahan, serta ancaman-ancaman yang sangat keras terhadap orang-orang yang sesat dalam Al-Qur'an Al-Hakîm tampak tidak sesuai dengan balagahnya yang adil serta tepat, maupun dengan sikap seimbang dan lurus dalam gayanya. Seolah-olah ia mengerahkan pasukan menghadapi seorang yang tidak berdaya. Karena suatu gerak kecilnya, ia mengancam seolah-olah orang itu telah melakukan ribuan kejahatan. Meskipun orang itu bangkrut serta tidak memiliki bagian sama sekali dalam kerajaan, ia diberi kedudukan seperti sekutu yang menyerang, lalu dikeluhkan. Apa rahasia serta hikmah hal ini?

Jawaban:

Rahasia serta hikmahnya ialah: Karena setan-setan dan orang-orang yang mengikuti setan menempuh kesesatan, dengan suatu gerak kecil mereka dapat melakukan banyak kerusakan. Melalui sedikit perbuatan, mereka memberi banyak kerugian pada hak-hak banyak makhluk.

Sebagaimana di kapal dagang besar milik seorang sultan, seseorang dengan sedikit gerak, bahkan dengan meninggalkan suatu tugas kecil, menyebabkan musnah serta hilangnya buah usaha dan hasil perbuatan semua petugas yang berhubungan dengan kapal itu, sehingga pemilik kapal yang mulia mengajukan keluhan besar serta ancaman mengerikan terhadap orang yang membangkang itu atas nama semua rakyatnya yang berhubungan dengan kapal tersebut. Dengan memperhatikan bukan gerak kecilnya itu, melainkan akibat-akibatnya yang mengerikan, dan demi hak-hak rakyatnya, bukan demi pribadi pemilik kapal yang mulia tersebut, ia memberi hukuman mengerikan.

Demikian pula, Sang Sultan Azali Yang Kekal Selamanya memberi keluhan besar, ancaman mengerikan, serta pengerahan penting menghadapi kerusakan yang dilakukan golongan setan, yaitu orang-orang yang sesat yang berada bersama orang-orang yang mendapat hidayah dalam kapal bola bumi. Sebab, melalui kesalahan serta pembangkangan mereka yang secara lahiriah kecil, mereka melanggar hak-hak banyak makhluk dan menyebabkan hasil tugas-tugas luhur segala yang berwujud menjadi sia-sia. Hal itu merupakan Hikmah murni dalam balagah yang sempurna, serta sangat sesuai dan tepat. Ia sesuai dengan tuntutan keadaan, yang merupakan definisi serta dasar balagah, dan terbebas dari berlebihan yang merupakan pemborosan kata. Diketahui bahwa orang yang tidak berlindung dalam benteng sangat kukuh menghadapi musuh-musuh mengerikan yang melakukan banyak kerusakan melalui sedikit gerak seperti ini akan menjadi sangat sengsara.

Wahai ahli iman! Benteng baja dari langit itu ialah Al-Qur'an. Masuklah ke dalamnya dan selamatlah.

ISYARAT KEEMPAT

Para pengkaji hakikat serta ahli kasyaf sepakat bahwa keadaan tidak ada ialah kejahatan murni, sedangkan wujud ialah kebaikan murni. Ya, dalam sebagian besar kasus kebaikan, keindahan, serta kesempurnaan bersandar pada wujud dan kembali kepadanya. Meskipun secara bentuk negatif serta berkaitan dengan tidak ada, dasarnya ialah sesuatu yang tetap serta berkaitan dengan wujud. Dasar serta bahan semua keburukan, seperti kesesatan, kejahatan, musibah, maksiat, serta bencana, ialah keadaan tidak ada serta meniadakan. Kejahatan serta keburukan di dalamnya berasal dari tidak ada. Meskipun secara lahiriah tampak positif serta berkaitan dengan wujud, dasarnya ialah keadaan tidak ada serta meniadakan. Selain itu, dengan melihat langsung terbukti bahwa wujud sesuatu seperti bangunan menjadi tetap melalui adanya seluruh bagiannya. Padahal, rusak, tidak ada, serta runtuhnya bangunan tersebut terjadi karena tidak adanya satu unsur dasar.

Selain itu, dalam setiap keadaan wujud memerlukan penyebab yang ada. Ia bersandar pada sebab yang pasti. Adapun tidak adanya sesuatu dapat bersandar pada hal-hal yang tidak ada. Tidak adanya suatu hal dapat menjadi penyebab tidak adanya hal lain.

Berdasarkan kedua kaidah ini: Meskipun setan dari golongan manusia serta jin melakukan kerusakan-kerusakan mengerikan dalam kainat, dan berbagai jenis kufur, kesesatan, kejahatan, serta hal-hal yang membinasakan, mereka sama sekali tidak ikut campur dalam menciptakan serta mengadakan sebesar zarah pun, dan tidak dapat memiliki bagian sebagai sekutu dalam Kerajaan Allah سُبْحَانَهُ. Mereka tidak menjalankan hal-hal itu dengan suatu kemampuan serta kudrat. Dalam banyak pekerjaan mereka, yang ada ialah meninggalkan serta menganggur, bukan kemampuan serta perbuatan. Dengan menghalangi kebaikan dilakukan, mereka melakukan kejahatan. Yakni, kejahatan terjadi. Sebab, karena hal-hal yang membinasakan serta kejahatan termasuk jenis kerusakan, penyebabnya tidak mesti berupa suatu kemampuan yang ada serta penciptaan oleh pelaku. Melalui suatu hal yang tidak ada serta rusaknya satu syarat, kerusakan besar dapat terjadi.

Karena rahasia ini tidak tersingkap pada kaum Majusi, mereka meyakini bahwa dalam kainat terdapat satu pencipta kebaikan bernama "Yezdan" dan satu pencipta kejahatan bernama "Ehriman". Padahal, ilah kejahatan yang mereka sebut Ehriman dan hanya dibayangkan itu ialah setan yang dikenal, yang menyebabkan kejahatan melalui kehendak bebasnya yang terbatas serta suatu usaha tanpa menciptakan.

Wahai ahli iman! Senjata serta perangkat perbaikan kalian yang paling penting menghadapi kerusakan-kerusakan mengerikan setan ini ialah istigfar serta berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan mengucapkan "Eûzü billah". Benteng kalian ialah sunah yang luhur.

ISYARAT KELIMA

Meskipun dalam kitab-kitab dari langit Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menunjukkan balasan besar seperti surga serta hukuman mengerikan seperti neraka kepada manusia, dan banyak membimbing, menyadarkan, memperingatkan, mengancam, serta memberi dorongan, pada suatu masa aku banyak memikirkan bagaimana ahli iman, dengan begitu banyak sebab bagi hidayah serta sikap lurus, dapat dikalahkan oleh tipu daya golongan setan yang tidak membawa balasan, buruk, serta lemah. Bagaimana mungkin, ketika ada iman, mereka tidak menganggap penting ancaman Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang begitu keras? Bagaimana iman tidak hilang? Melalui rahasia

ﺍِﻥَّ ﻛَﻴْﺪَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻛَﺎﻥَ ﺿَﻌ۪ﻴﻔًﺎ,

mereka terperangkap tipu daya setan yang sangat lemah serta membangkang kepada Allah سُبْحَانَهُ.

Bahkan, ada di antara kawanku yang telah mendengar seratus pelajaran hakikat dariku serta membenarkannya dalam hati; ia juga mempunyai prasangka baik serta hubungan kuat denganku. Namun, ia terperangkap pujian yang tidak penting serta penuh riya dari seseorang yang tidak berhati dan rusak, lalu bersikap mendukung orang itu serta menentangku. Aku berkata, "Fesübhanallah", mungkinkah manusia jatuh serendah ini? Dengan mengatakan betapa tidak memiliki hakikat manusia itu, aku melakukan gibah terhadap orang yang malang tersebut dan jatuh dalam dosa.

Kemudian, hakikat dalam isyarat-isyarat sebelumnya tersingkap serta menerangi banyak pokok yang gelap. Melalui cahaya itu, lillahi'l-hamd, aku memahami bahwa dorongan serta anjuran besar Al-Qur'an Al-Hakîm tepat pada tempatnya; ahli iman terperangkap tipu daya setan bukan karena tidak beriman dan bukan karena lemahnya iman; orang yang melakukan dosa besar tidak masuk ke dalam kufur; mazhab Muktazilah serta sebagian mazhab Khawarij keliru dalam ketetapan mereka, "Orang yang melakukan dosa besar menjadi kafir atau tetap berada di antara iman dan kufur"; dan kawanku yang malang mengorbankan seratus pelajaran hakikat demi pujian seseorang juga bukan suatu kejatuhan besar serta kehinaan mengerikan seperti yang kupikirkan. Aku bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan terbebas dari bahaya itu.

Sebab, sebagaimana telah kita katakan, melalui suatu hal kecil berupa tidak adanya sesuatu, setan melempar manusia ke dalam bahaya besar. Nafsu dalam manusia juga selalu mendengarkan setan. Daya syahwat serta daya amarah menjadi seperti dua perangkat penerima serta penyalur tipu daya setan.

Karena itu, kedua Nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, seperti "Al-Ghafûr" serta "Ar-Rahîm", menghadap ahli iman melalui Tajalli yang paling agung. Dalam Al-Qur'an Al-Hakîm, Dia memperlihatkan bahwa anugerah yang paling penting kepada para nabi ialah ampunan dan mengajak mereka beristigfar. Dengan mengulang ungkapan suci

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

pada awal setiap surah serta memerintahkan penyebutannya dalam setiap pekerjaan yang diberkahi, Dia memperlihatkan Rahmat⁠-⁠Nya yang luas dan meliputi kainat sebagai tempat berlindung serta bertahan; melalui perintah ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ Dia menjadikan ungkapan

ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟ۪ﻴﻢِٔ

sebagai perisai.

ISYARAT KEENAM

Salah satu tipu daya setan yang paling berbahaya ialah: Pada sebagian orang yang peka serta berhati bersih, ia membuat membayangkan kufur tertukar dengan membenarkan kufur. Ia memperlihatkan gambaran kesesatan dalam pikiran seolah-olah itu berarti membenarkan kesesatan. Ia juga memperlihatkan lintasan-lintasan yang sangat buruk dalam khayal mengenai pribadi-pribadi suci serta hal-hal yang terbebas dari kekurangan. Dengan memperlihatkan kemungkinan pada dirinya sendiri sebagai kemungkinan menurut akal, ia membuatnya tampak sebagai ragu yang bertentangan dengan kepastian dalam iman. Saat itu, orang peka yang malang tersebut membayangkan bahwa ia telah jatuh ke dalam kesesatan serta kufur, lalu mengira kepastian dalam imannya telah hilang, kemudian jatuh dalam putus asa dan melalui putus asa itu menjadi permainan setan. Setan banyak memanfaatkan putus asanya, sisi lemahnya, serta kekeliruannya dalam membedakan hal-hal itu; ia menjadi tidak waras atau berkata, "Biarlah apa pun terjadi," lalu menuju kesesatan.

Sebagaimana dalam beberapa risalah kita telah menjelaskan betapa tidak berdasarnya hakikat tipu daya setan ini, di sini kita akan membahasnya secara ringkas. Sebagai berikut: Sebagaimana gambar ular dalam cermin tidak menggigit, gambaran api tidak membakar, serta pantulan sesuatu yang kotor tidak mengotori, demikian pula pantulan kufur serta syirik, bayangan kesesatan, serta gambaran kata-kata buruk yang menghina dalam cermin khayal atau pikiran tidak merusak akidah, tidak mengubah iman, serta tidak menghancurkan adab yang terhormat.

Sebab, terdapat kaidah terkenal: Sebagaimana membayangkan ucapan menghina bukan menghina, membayangkan kufur juga bukan kufur dan menggambarkan kesesatan dalam pikiran bukan kesesatan.

Adapun persoalan ragu dalam iman, kemungkinan-kemungkinan yang berasal dari kemungkinan pada dirinya sendiri tidak bertentangan dengan kepastian itu serta tidak merusaknya. Di antara kaidah yang telah ditetapkan dalam ilmu usuluddin ialah:

ﺍِﻥَّ الْاِمْكَانَ ﺍﻟﺬَّﺍﺗِﻰَّ لَا ﻳُﻨَﺎﻓِﻰ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻤِﻰَّ

Misalnya, kita yakin bahwa Laut Barla berada di tempatnya sebagai air. Padahal, pada dirinya sendiri mungkin laut itu telah amblas saat ini; amblasnya termasuk hal-hal yang mungkin. Karena kemungkinan pada dirinya sendiri ini tidak berasal dari suatu tanda, ia tidak dapat menjadi kemungkinan dalam pikiran sehingga menjadi ragu.

Sebab, dalam ilmu usuluddin juga terdapat kaidah yang telah ditetapkan:

لَا ﻋِﺒْﺮَﺓَ لِلْاِحْتِمَالِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺷِﻰﺀِ ﻋَﻦْ ﺩَﻟ۪ﻴﻞٍ

Yakni, "Suatu kemungkinan pada dirinya sendiri yang tidak berasal dari suatu tanda tidak menjadi kemungkinan dalam pikiran yang menimbulkan ragu serta memiliki arti penting." Orang malang yang terkena tipu daya setan ini mengira bahwa melalui kemungkinan-kemungkinan pada dirinya sendiri seperti itu, ia kehilangan kepastiannya mengenai hakikat-hakikat iman.

Misalnya, dari segi manusiawinya, mengenai Nabi ﷺ terlintas banyak kemungkinan pada dirinya sendiri yang tidak merusak keteguhan serta kepastian iman. Namun, orang itu mengira bahwa hal tersebut merusak iman, lalu mengalami kerugian.

Selain itu, terkadang melalui lümme (tempat bisikan) di atas hati, setan mengucapkan kata-kata buruk mengenai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Orang itu mengira bahwa hatinya telah rusak sehingga berkata demikian. Ia gemetar. Padahal, gemetar, takut, serta tidak menyetujuinya merupakan bukti bahwa kata-kata tersebut tidak datang dari hatinya, melainkan dari lümme setan, atau dibisikkan serta dibayangkan oleh setan.

Selain itu, di antara latifah-latifah manusia terdapat satu-dua latifah yang tidak dapat kukenali; latifah-latifah itu tidak mendengarkan kehendak memilih serta kemauan, bahkan mungkin tidak dapat dibebani tanggung jawab. Terkadang latifah-latifah itu menguasai, tidak mendengarkan kebenaran, serta masuk dalam hal-hal yang salah. Saat itu setan membisikkan kepada orang tersebut, "Potensimu tidak sesuai dengan kebenaran serta iman sehingga tanpa kehendak memilih engkau masuk dalam hal-hal batil seperti ini. Jadi, takdirmu telah menghukummu dengan celaka." Orang yang malang itu jatuh dalam putus asa serta menuju kebinasaan.

Tempat bertahan mukmin menghadapi tipu daya setan yang terdahulu ialah hakikat-hakikat iman serta ketetapan-ketetapan Al-Qur'an yang kukuh, yang batas-batasnya ditentukan melalui prinsip-prinsip para peneliti yang merupakan orang-orang suci pilihan. Adapun menghadapi tipu daya yang terakhir, caranya ialah memohon perlindungan serta tidak menganggap penting. Sebab, ketika dianggap penting, ia menarik perhatian, membesar, serta membengkak. Penawar dan salep bagi luka-luka batin mukmin seperti ini ialah sunah yang luhur.

ISYARAT KETUJUH

Pertanyaan:

Karena para imam Muktazilah menganggap penciptaan kejahatan sebagai kejahatan, mereka tidak menisbatkan penciptaan kufur serta kesesatan kepada Allah سُبْحَانَهُ. Seolah-olah melalui hal itu mereka menyucikan Allah سُبْحَانَهُ. Dengan berkata, "Manusia ialah pencipta perbuatannya sendiri," mereka menuju kesesatan.

Mereka juga berkata, "Iman seorang mukmin yang melakukan suatu dosa besar hilang. Sebab, beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta membenarkan neraka tidak dapat diselaraskan dengan melakukan dosa seperti itu. Sebab, di dunia seseorang menjaga dirinya dari segala yang bertentangan dengan hukum karena takut pada hukuman penjara yang amat ringan. Jika ia melakukan dosa-dosa besar sampai tidak menganggap penting azab neraka yang kekal serta Murka Khâliq, tentu hal itu menunjukkan tidak adanya iman."

Jawaban:

Jawaban bagi bagian pertama ialah, sebagaimana telah dijelaskan dalam Risalah Takdir: Menciptakan kejahatan bukan kejahatan; kasb (usaha) atas kejahatanlah yang merupakan kejahatan. Sebab, menciptakan serta mengadakan melihat semua akibat. Karena adanya suatu kejahatan menjadi pendahuluan bagi banyak akibat yang baik, menciptakan kejahatan itu menjadi kebaikan serta dianggap sebagai kebaikan dari segi akibatnya.

Misalnya, api memiliki seratus akibat yang baik. Namun, sebagian manusia melalui pilihan buruk membuat api menjadi kejahatan bagi dirinya; mereka tidak dapat berkata, "Penciptaan api ialah kejahatan."

Demikian pula, penciptaan setan memiliki banyak akibat penuh hikmah seperti kemajuan manusia. Dengan dikalahkan setan melalui pilihan buruk serta kasb yang salah, seseorang tidak dapat berkata, "Penciptaan setan ialah kejahatan." Ia sendiri, melalui kasbnya, menjadikannya kejahatan bagi dirinya. Ya, karena kasb merupakan keterlibatan langsung yang bersifat juz'i, ia menjadi tempat terjadinya suatu akibat khusus yang jahat; kasb atas kejahatan itu merupakan kejahatan. Namun, karena penciptaan melihat semua akibat, menciptakan kejahatan bukan kejahatan, melainkan kebaikan.

Karena tidak memahami rahasia ini, Muktazilah berkata, "Menciptakan kejahatan ialah kejahatan dan menciptakan keburukan ialah keburukan." Untuk menyucikan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, mereka tidak menisbatkan penciptaan kejahatan kepada⁠-⁠Nya serta jatuh dalam kesesatan. Mereka menakwilkan suatu rukun iman, yaitu

ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺷَﺮِّﻩ۪.

Adapun jawaban bagi pertanyaan mereka pada bagian kedua, "Bagaimana orang yang melakukan dosa besar dapat tetap menjadi mukmin?", ialah:

Pertama:

Dalam isyarat-isyarat sebelumnya, kesalahan mereka telah dipahami dengan pasti sehingga tidak perlu diulang.

Kedua:

Sebagaimana nafsu manusia lebih memilih satu dirhem kenikmatan yang disegerakan serta hadir daripada satu batman kenikmatan yang ditangguhkan serta tidak tampak, ia lebih takut akan suatu tamparan sekarang daripada azab selama satu tahun pada masa depan. Selain itu, jika perasaan menguasai manusia, ia tidak mendengarkan penilaian akal. Keinginan serta dugaannya menguasai, lalu ia lebih memilih kenikmatan paling kecil dan tidak penting yang hadir sekarang daripada balasan sangat besar pada masa depan. Ia juga lebih takut akan sedikit kesulitan yang hadir sekarang daripada azab besar yang ditangguhkan pada masa depan. Sebab, dugaan, keinginan, serta perasaan tidak melihat masa depan, bahkan mengingkarinya. Jika nafsu juga membantu, hati serta akal yang menjadi tempat iman terdiam dan dikalahkan.

Dalam keadaan ini, melakukan dosa-dosa besar bukan berasal dari tidak beriman, melainkan dari dikalahkannya akal serta hati karena perasaan, keinginan, serta dugaan menguasai.

Selain itu, sebagaimana dipahami dalam isyarat-isyarat sebelumnya, karena jalan kejahatan serta keinginan merupakan kerusakan, jalan itu sangat mudah. Setan dari golongan manusia serta jin segera mendorong manusia ke jalan tersebut. Suatu keadaan yang sangat mengherankan: Menurut bunyi hadis yang tegas, satu cahaya dari alam yang kekal sebesar sayap lalat, karena kekal, sebanding dengan kenikmatan serta nikmat yang diperoleh seseorang dari dunia sepanjang umurnya; padahal, sebagian manusia yang malang lebih memilih kenikmatan dunia fana ini sebesar sayap lalat daripada kenikmatan alam yang kekal itu, yang nilainya sebanding dengan dunia fana ini, lalu mengikuti setan.

Karena rahasia-rahasia ini, melalui begitu banyak pengulangan serta penegasan, ancaman serta dorongan, Al-Qur'an Al-Hakîm melarang keras mukmin dari dosa dan mendorong mereka kepada kebaikan.

Pada suatu masa, bimbingan keras Al-Qur'an Al-Hakîm yang berulang ini memberiku pikiran bahwa peringatan serta pengingatan yang terus-menerus seperti ini memperlihatkan manusia mukmin sebagai orang yang tidak teguh serta tidak memiliki hakikat, dan memberi keadaan yang tidak layak bagi kehormatan manusia. Sebab, meskipun satu perintah saja yang diterima seorang pegawai dari atasannya cukup untuk membuatnya taat, jika perintah yang sama diucapkan sepuluh kali, pegawai tersebut benar-benar tersinggung. Ia berkata, "Anda menuduh saya; saya bukan pengkhianat." Padahal, Al-Qur'an Al-Hakîm memberi perintah berulang dengan tegas kepada mukmin-mukmin yang paling ikhlas.

Ketika pikiran ini mengusik benakku, aku mempunyai dua-tiga kawan setia. Agar mereka tidak terperangkap tipu daya setan dari golongan manusia, aku berkali-kali memperingatkan serta menyadarkan mereka. Mereka tidak tersinggung dan tidak berkata, "Anda menuduh kami." Namun, dalam hati aku berkata, "Dengan peringatan-peringatan yang terus-menerus ini, aku membuat mereka tersinggung serta menuduh mereka tidak setia dan tidak teguh."

Kemudian, tiba-tiba hakikat yang dijelaskan serta dibuktikan dalam isyarat-isyarat sebelumnya tersingkap. Saat itu, melalui hakikat tersebut, aku mengetahui bahwa Al-Qur'an Al-Hakîm memberikan penegasan serta pengulangan dengan cara yang sepenuhnya sesuai dengan tuntutan keadaan, tepat pada tempatnya, tidak berlebihan, penuh Hikmah, serta tidak menuduh; ia merupakan Hikmah yang sempurna serta balagah murni. Aku juga memahami rahasia mengapa kawan-kawan setia itu tidak tersinggung.

Ringkasan hakikat itu ialah: Karena setan-setan mendorong ke arah kerusakan, melalui sedikit perbuatan mereka melakukan banyak kejahatan. Karena itu, orang-orang yang menempuh jalan kebenaran serta hidayah memerlukan banyak sikap berjaga-jaga, kewaspadaan kuat, peringatan berulang, serta banyak bantuan. Karena itu pula, melalui pengulangan-pengulangan tersebut, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mengajukan Pertolongan⁠-⁠Nya kepada ahli iman dengan seribu satu Nama⁠-⁠Nya serta memberikan ribuan Pertolongan penuh Belas Kasih kepada mereka. Dia tidak mematahkan kehormatan mereka, melainkan melindunginya. Dia tidak merendahkan nilai manusia, melainkan memperlihatkan besarnya kejahatan setan.

Wahai orang-orang yang berada pada kebenaran serta mendapat hidayah! Cara selamat dari tipu daya setan manusia serta jin yang telah disebutkan ialah: Jadikan mazhab orang-orang yang berada pada kebenaran, yaitu Ahlusunah Waljamaah, sebagai markas; masuklah ke benteng ketetapan-ketetapan yang kukuh dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya; jadikan sunah yang luhur sebagai pembimbing, dan temukan keselamatan!..

ISYARAT KEDELAPAN

Pertanyaan:

Dalam isyarat-isyarat sebelumnya Anda telah membuktikan bahwa karena jalan kesesatan mudah, merusak, serta menyerang, banyak orang menempuh jalan itu. Padahal, dalam risalah-risalah lain, melalui dalil-dalil pasti Anda telah membuktikan bahwa jalan kufur serta kesesatan begitu penuh kesulitan dan sangat sukar sehingga seharusnya tidak ada seorang pun yang masuk serta tidak dapat ditempuh. Jalan iman serta hidayah begitu mudah dan jelas sehingga setiap orang seharusnya masuk ke dalamnya.

Jawaban:

Kufur serta kesesatan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berkaitan dengan perbuatan serta cabang, tetapi juga meniadakan dan mengingkari ketetapan iman; kesesatan jenis ini mudah. Ia ialah tidak menerima kebenaran, meninggalkan, tidak adanya sesuatu, serta tidak menerima. Bagian inilah yang diperlihatkan sebagai mudah dalam risalah-risalah.

Bagian kedua bukan berkaitan dengan perbuatan serta cabang, melainkan suatu ketetapan akidah dan pikiran. Ia tidak hanya meniadakan iman, tetapi juga melawan iman serta membuka suatu jalan. Ia ialah menerima kebatilan serta membuktikan kebalikan kebenaran. Bagian ini tidak hanya meniadakan serta menyangkal iman; ia merupakan lawan iman. Ia bukan tidak menerima sehingga mudah, melainkan menetapkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Ia dapat diterima dengan membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada. Menurut kaidah

ﺍَﻟْﻌَﺪَﻡُ لَا ﻳُﺜْﺒَﺖُ,

tentu membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada bukan hal mudah.

Kufur serta kesesatan yang dalam risalah-risalah lain diperlihatkan begitu sukar dan penuh kesulitan hingga pada derajat mustahil ialah bagian ini; orang yang mempunyai kesadaran sebesar zarah tidak seharusnya menempuh jalan tersebut. Selain itu, sebagaimana telah dibuktikan dengan pasti dalam risalah-risalah, jalan ini memiliki rasa sakit yang begitu mengerikan serta keadaan gelap yang mencekik sehingga orang yang mempunyai akal sebesar zarah tidak akan menginginkan jalan itu.

Jika Dikatakan:

Bagaimana kebanyakan manusia menempuh jalan yang begitu menyakitkan, gelap, serta sukar?

Jawaban:

Mereka telah jatuh ke dalamnya dan tidak dapat keluar. Selain itu, daya-daya yang bersifat tumbuhan serta hewani dalam manusia tidak melihat serta tidak dapat memikirkan akibat akhir dan mengalahkan latifah-latifah manusiawinya; karena itu, mereka tidak ingin keluar dan terhibur oleh suatu kenikmatan yang hadir serta sementara.

Pertanyaan:

Jika dikatakan:

Dalam kesesatan terdapat rasa sakit serta takut yang begitu mengerikan sehingga orang kafir seharusnya tidak hidup sama sekali, apalagi menikmati hidup; bahkan, ia seharusnya remuk oleh rasa sakit tersebut serta sangat ketakutan. Sebab, sebagai manusia ia merindukan hal-hal yang tidak berhingga dan mencintai hidup. Namun, melalui kufur, ia terus-menerus melihat di depan matanya bahwa kematiannya merupakan hukuman mati selama-lamanya serta perpisahan yang tidak berakhir; sirnanya segala yang berwujud, wafat kawan-kawannya, serta semua yang dicintainya merupakan hukuman mati dan perpisahan kekal. Bagaimana manusia itu dapat hidup? Bagaimana ia dapat menikmati hidup?