Mimpi Zekâi
Pagi ini dalam mimpi, saya berada di tepi laut yang bersih dan jernih, menyerupai pesisir Tophane di Istanbul. Menurut perkiraan saya, saat itu adalah waktu duha. Cahaya matahari menimbulkan kilau-kilau indah di permukaan laut yang besar itu. Saya menghadap laut. Seorang pemuda yang berenang ke pantai dari bagian tengah dan selatan laut membawa ke pantai sebuah bajak yang dipikul di bahunya. Di sana semua saudara kita sedang disambut setelah dibebaskan. Mengikuti garis pantai, dua penunggang kuda datang dari barat dengan kecepatan penuh. “Ustad datang!” kata orang-orang. Kerumunan itu membuka jalan. Tanpa berhenti, dua orang berwajah kecokelatan yang berwibawa dan menunggang kuda hitam itu menjauh ke arah timur. Ketika hendak menyelam ke laut tersebut, saya terbangun.
Zekâi
Sebagai jawaban terhadap kata-kata yang diucapkan dengan memihak dan menyaingi Risale-i Nur.
Jika tujuan kalian memuji diri kalian dengan membanggakan diri,
Kalian hanyalah satelit bintang Risale-i Nur yang paling redup.
Jangan sekali-kali menganggap Risale-i Nur sebagai planet, saudaraku;
Bukan hanya bumi, bahkan matahari pun satelitnya.
Risale-i Nur segera akan bersinar di alam;
Ia tidak padam, hanya tersembunyi, sebab nurun alâ nur.
Suatu cahaya yang merupakan lautan hakikat dan petunjuk yang murni;
Bacalah
ﻣَﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺴَّﻮِﻯِّ ﻭَ ﻣَﻦِ ﺍﻫْﺘَﺪٰﻯ.
Bukan mengeluhkan Al-Haqq; maksudnya hanya berkisah.
Ketika berjalan menurut syariat, Al-Haqq mengetahui
Bahwa aku pun telah memberikan khidmah kepada Risale-i Nur.
Risale-i Nur, yang telah diisyaratkan oleh Aliyyü'l-Murtaza dan Ghauts Yang Agung
Dalam Celcelutiye dan beberapa kasidah.
Risale-i Nur, yang merupakan urvetü'l-vüska, lenfisam,
Kupegang teguh, sebab ia petunjuk dan hakikat itu sendiri.
Mereka menempatkan kami di tempat Yusuf aleyhisselâm pernah berada,
Dan Yang Mulia Ustad pun bersama kami.
Halil İbrahim
BUTIR HIKMAH KEDUA PULUH DELAPAN DARI LEM'A KEDUA PULUH DELAPAN
Karena adanya kritik dari orang-orang yang sesat, suatu butir hikmah penting dari ayat-ayat seperti
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ لَا ﻳَﺴَّﻤَّﻌُﻮﻥَ ﺍِﻟَﻰ الْمَلَاِ الْاَعْلٰى ﻭَﻳُﻘْﺬَﻓُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺟَﺎﻧِﺐٍ ٭ ﺩُﺣُﻮﺭًﺍ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻭَﺍﺻِﺐٌ ٭ اِلَّا ﻣَﻦْ ﺧَﻄِﻒَ ﺍﻟْﺨَﻄْﻔَﺔَ ﻓَﺎَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺷِﻬَﺎﺏٌ ﺛَﺎﻗِﺐٌ ٭ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑ۪ﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ
akan dijelaskan. Demikianlah:
Ini merupakan jawaban singkat atas suatu pertanyaan yang sangat penting dan terdiri atas tiga bagian. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan ayat-ayat tadi yang menyatakan bahwa mata-mata jin dan setan mencuri dengar berita langit, membawa berita gaib, dan menyampaikannya kepada orang-orang yang memberitakan perkara gaib, seperti peramal, kaum materialis, dan sebagian pelaku spiritisme. Agar tidak menimbulkan keraguan terhadap wahyu pada awal turunnya wahyu, kegiatan mata-mata yang terus-menerus itu pada masa tersebut lebih banyak dilempari dan dicegah dengan meteor.
Pertanyaan:
Dari ayat-ayat seperti ini dipahami bahwa mata-mata setan menyusup ke wilayah langit yang sangat jauh untuk mendapatkan berita tentang suatu peristiwa gaib yang juz'i (bersifat khusus), bahkan terkadang bersifat pribadi. Seakan-akan peristiwa juz'i itu dibicarakan di seluruh wilayah yang sangat luas tersebut, sehingga setan mana pun, di tempat mana pun ia menyusup, akan mendengar sebagian berita itu dan membawanya. Akal dan hikmah tidak menerima makna seperti ini.
Menurut pernyataan tegas ayat, sebagian rasul dan orang yang mempunyai karamah juga mengambil buah-buah surga, yang berada di atas langit, seakan-akan mengambilnya dari tempat dekat. Terkadang mereka seakan-akan menyaksikan surga dari dekat. Jadi, jarak yang sangat jauh berada dalam keadaan yang sangat dekat. Bukankah ini suatu persoalan yang tidak dapat dijangkau akal pada zaman ini?
Keadaan-keadaan juz'i seorang pribadi menjadi bahan pembicaraan Majelis Tertinggi di wilayah langit yang menyeluruh dan luas. Bukankah hal ini tidak sesuai dengan hikmah pengaturan kainat yang sangat bijaksana? Padahal, ketiga persoalan ini dianggap sebagai hakikat-hakikat Islam?
Jawaban:
Pertama:
Dalam risalah bernama Kalimat Kelima Belas, melalui tujuh pendahuluan yang pasti, yang disebut tujuh tangga, telah dibuktikan penyingkiran dan pengusiran mata-mata setan dari langit dengan bintang-bintang, sebagaimana dinyatakan oleh ayat
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑ۪ﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ.
Bukti itu disampaikan sedemikian rupa sehingga meyakinkan, membuat diam, dan membuat kaum materialis yang paling keras kepala pun menerimanya.
Kedua:
Untuk mendekatkan ketiga hakikat Islam yang dianggap jauh ini kepada pikiran yang terbatas, kami akan memberi isyarat melalui suatu perumpamaan.
Misalnya, kantor militer suatu pemerintahan berada di timur negeri, kantor kehakiman di barat, kantor pendidikan di utara, kantor urusan keilmuan di selatan, dan kantor pemerintahan sipil di tengah. Dengan telepon nirkabel dan telegraf, setiap kantor melihat serta menerima berita mengenai keadaan yang berkaitan dengannya secara sangat teratur. Seakan-akan seluruh negeri itu, sekaligus merupakan wilayah kehakiman, wilayah militer, wilayah pemerintahan sipil, dan wilayah keilmuan.
Misalnya pula, beberapa negara dan pemerintahan dengan ibu kota kerajaan masing-masing terkadang mempunyai kekuasaan yang berbeda-beda dalam satu negeri, karena koloni, hak-hak istimewa, atau hubungan perdagangan. Meskipun rakyat dan bangsanya satu, setiap pemerintahan berhubungan dengan rakyat itu melalui hak istimewanya sendiri. Urusan pemerintahan-pemerintahan yang berjauhan tersebut saling bersentuhan. Di setiap rumah mereka saling mendekat, dan pada setiap orang terdapat urusan yang mereka tangani bersama. Persoalan-persoalan juz'i ditangani dalam lingkup juz'i pada titik-titik pertemuan mereka. Bukan berarti setiap persoalan juz'i diambil dari lingkup keseluruhan. Namun, ketika persoalan-persoalan juz'i itu dibicarakan, karena langsung didasarkan pada hukum lingkup keseluruhan, persoalan tersebut diungkapkan seakan-akan diambil dari lingkup keseluruhan dan menjadi persoalan yang dibicarakan di sana.
Seperti kedua perumpamaan ini, wilayah langit, meskipun ibu kota kerajaan dan pusatnya sangat jauh, mempunyai telepon-telepon rohani yang menjangkau hati manusia di wilayah bumi. Alam langit juga tidak hanya berkaitan dengan alam jasmani. Karena mencakup alam ruh dan alam malakut, dalam satu segi ia meliputi alam yang disaksikan dari balik tabir.
Surga pun, yang termasuk alam kekal dan tempat tinggal yang kekal, meskipun sangat jauh, mempunyai lingkup pengaturan yang menjangkau dan tersebar ke segala penjuru secara bercahaya di balik tabir alam yang disaksikan.
Dengan Hikmah dan Kudrat Sang Pembuat Yang Hakîm Dzul-Jalâl, pusat-pusat indra yang Dia tempatkan dalam kepala manusia, meskipun terpisah-pisah, masing-masing menguasai seluruh tubuh itu dan dapat mencakupnya dalam lingkup kerjanya.
Demikian pula kainat, yang merupakan manusia yang lebih besar ini, mencakup ribuan alam, seperti lingkaran-lingkaran yang saling memasuki dan berada dalam satu sama lain. Keadaan dan peristiwa yang berlangsung di dalamnya diperhatikan menurut seginya yang menyeluruh atau juz'i, khusus atau besar. Artinya, bagian-bagian itu terlihat di tempat-tempat kecil dan dekat, sedangkan hal-hal menyeluruh dan besar terlihat di tempat-tempat yang menyeluruh dan besar.
Namun, terkadang suatu peristiwa juz'i dan khusus menguasai suatu alam besar. Di sudut mana pun seseorang mendengarkan, peristiwa itu terdengar.
Terkadang pengerahan besar juga dilakukan untuk memperlihatkan kemegahan, bukan untuk menghadapi kekuatan musuh. Misalnya, peristiwa Muhammad ﷺ dan peristiwa suci turunnya wahyu Al-Qur'an merupakan peristiwa paling penting di seluruh wilayah langit, bahkan di setiap sudutnya. Karena itu, dengan menggambarkan dan menyatakan bahwa para penjaga berjajar langsung di benteng-benteng langit yang besar, sangat jauh, dan tinggi, lalu melemparkan lontaran-lontaran dari bintang untuk mengusir serta menolak mata-mata setan, diperlihatkan suatu isyarat dari Rabb yang mengumumkan tingkat kemegahan wahyu Al-Qur'an, gemerlap kekuasaan wahyu tersebut, dan tingkat kebenarannya yang tidak dimasuki keraguan dari segi mana pun. Sebagai isyarat tersebut, pada waktu dan zaman itu lebih banyak bintang dijatuhkan dan dilemparkan. Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya juga menerjemahkan dan mengumumkan pengumuman melalui ciptaan itu, serta menunjuk kepada isyarat langit tersebut.
Ya, membuat mata-mata setan yang dapat diterbangkan dengan tiupan satu malaikat saja bertarung dengan para malaikat melalui isyarat langit sebesar ini tentu bertujuan menunjukkan kemegahan kekuasaan wahyu Al-Qur'an itu.
Penjelasan Al-Qur'an yang megah dan pengerahan langit yang besar ini bukan untuk menyatakan bahwa jin dan setan mempunyai kekuatan atau kemampuan bertahan yang memaksa penghuni langit bertarung dan membela diri. Justru hal ini memberi isyarat bahwa pada jalan panjang dari hati Muhammad ﷺ hingga alam langit dan Arasy yang terbesar, jin dan setan tidak dapat ikut campur di tempat mana pun. Wahyu Al-Qur'an merupakan suatu hakikat yang dibicarakan oleh seluruh malaikat di langit yang luas. Agar dapat sedikit bersentuhan dengannya, setan-setan terpaksa naik hingga langit, lalu dilempari tanpa berhasil melakukan apa pun. Dengan cara ini, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memberitakan secara bermukjizat bahwa wahyu yang datang ke hati Muhammad ﷺ, Jibril yang datang ke hadapan Muhammad ﷺ, serta hakikat-hakikat gaib yang tampak dalam pandangan Muhammad ﷺ, semuanya kokoh dan lurus; keraguan tidak masuk dari segi mana pun.
Adapun surga, meskipun jauh dan termasuk alam kekal, terlihat di tempat-tempat terdekat dan terkadang buah diambil darinya. Sebagaimana dipahami melalui rahasia kedua perumpamaan tadi, alam fana dan alam yang disaksikan ini merupakan tabir bagi alam gaib dan tempat tinggal yang kekal. Meskipun pusat besar surga jauh, surga dapat tampak di mana-mana melalui cermin alam rupa (alam gambaran). Melalui iman pada tingkat haqqulyaqin, surga dapat mempunyai semacam koloni dan lingkup di alam fana ini—semoga perumpamaan ini tidak keliru. Melalui telepon hati, surga dapat berkomunikasi dengan ruh-ruh yang tinggi, dan hadiah-hadiahnya dapat datang.
Adapun suatu lingkup menyeluruh memperhatikan peristiwa pribadi yang juz'i—yakni ungkapan dalam tafsir bahwa setan-setan naik hingga langit dan mencuri dengar untuk membawa berita gaib kepada para peramal, lalu membawa berita yang tidak lengkap dan salah—suatu hakikat dari ungkapan-ungkapan itu tentulah sebagai berikut:
Mereka tidak pergi hingga ibu kota kerajaan wilayah langit untuk mengambil berita juz'i itu. Justru wilayah langit, yang juga mencakup ruang udara, mempunyai beberapa tempat yang seperti pos penjagaan—tidak ada kesalahan dalam perumpamaan ini. Di tempat-tempat tersebut terdapat hubungan dengan wilayah bumi. Untuk peristiwa-peristiwa juz'i, mereka mencuri dengar dari tempat-tempat tertentu itu. Bahkan hati manusia merupakan salah satu tempat tersebut; malaikat pembawa ilham dan setan khusus bertarung di sana.
Adapun hakikat-hakikat iman dan Al-Qur'an serta peristiwa-peristiwa Muhammad ﷺ, betapapun juz'i sifatnya, dianggap sebagai suatu peristiwa penting yang paling besar dan paling menyeluruh. Di Arasy yang terbesar dan lingkup langit, yang merupakan lingkup paling menyeluruh, peristiwa-peristiwa itu dibicarakan di setiap sudut, seakan-akan diterbitkan dalam surat-surat kabar rohani tentang takdir kainat—semoga perumpamaan ini tidak keliru. Bersamaan dengan penjelasan ini, dinyatakan bahwa setan-setan tidak mempunyai jalan selain mendengarkan langit, karena dari hati Muhammad ﷺ sampai lingkup Arasy, tidak ada kemungkinan ikut campur dari segi mana pun. Hal ini mengumumkan dan menunjukkan dengan balagah yang sangat tinggi, bahkan secara bermukjizat, betapa tinggi tingkat kebenaran wahyu Al-Qur'an dan kenabian Ahmad ﷺ, serta bahwa kekeliruan, kesalahan, dan tipu daya sama sekali tidak mungkin mendekatinya.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
Bedîüzzaman Said Nursî