Permohonan Maaf:
Karena Lem'a berbahasa Arab ini dimasukkan di antara Lem'a-Lem'a yang baru ditulis, nomor halamannya harus mengikuti nomor halaman buku. Karena itu, kami memohon agar nomor halaman yang tidak mengikuti urutan halaman Arab dapat dimaklumi.
Lem'a Ketiga Puluh
Lem'a Ketiga Puluh dari Surat Ketiga Puluh Satu
dan
suatu buah dari Penjara Eskişehir
Terdiri atas enam butir hikmah.
Sebagaimana Risalah Buah merupakan suatu pelajaran yang sangat besar dari Madrasah Yusufiyah Denizli, dan El-Hüccetü'z-Zehra (Hujah yang Cemerlang) merupakan pelajaran yang berharga dan lebih sempurna dari Madrasah Yusufiyah Afyon, suatu pelajaran yang sangat kuat dan besar dari Madrasah Yusufiyah Eskişehir ialah Lem'a Ketiga Puluh ini. Lem'a ini menjelaskan enam butir hikmah dari enam Nama yang mengandung Ismul A'zham.
Tidak setiap orang dapat sekaligus memahami dan menikmati persoalan-persoalan yang sangat dalam dan luas pada bagian tentang Sang Hayy Yang Qayyûm, yang termasuk Ismul A'zham. Namun, setiap orang tetap memperoleh bagiannya.
BUTIR HIKMAH PERTAMA
Mengenai suatu butir hikmah dari Nama Quddûs.
(Butir Hikmah Quddûs ini sesuai untuk menjadi tambahan bagi tambahan Kalimat Ketiga Puluh.) Pada akhir bulan Syakban yang mulia, di Penjara Eskişehir, tampak kepadaku suatu butir hikmah dari ayat
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ وَالْاَرْضَ ﻓَﺮَﺷْﻨَﺎﻫَﺎ ﻓَﻨِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﺎﻫِﺪُﻭﻥَ
dan suatu manifestasi Nama Quddûs, yang merupakan Ismul A'zham atau salah satu dari enam cahaya Ismul A'zham. Hal itu memperlihatkan Wujud Allah سُبْحَانَهُ dengan tampak sepenuhnya dan Keesaan Rabb dengan jelas sepenuhnya. Demikianlah yang kulihat:
Kainat dan bumi ini merupakan suatu pabrik besar yang terus bekerja, suatu penginapan dan rumah tamu yang selalu terisi dan kosong kembali. Pabrik, penginapan, dan rumah tamu yang ramai seperti itu menjadi sangat kotor oleh limbah, reruntuhan, dan sampah, serta tercemar; bahan-bahan berbau busuk menumpuk di setiap sudutnya. Jika tidak dirawat dengan sangat teliti, dibersihkan, disapu, dan dijaga kebersihannya, tempat itu tidak dapat ditinggali dan manusia akan sesak di dalamnya. Namun, pabrik kainat dan rumah tamu bumi ini begitu suci, bersih, dan bening, begitu bebas dari kotoran, pencemaran, dan bau busuk, sehingga tidak terdapat sesuatu yang tidak perlu, bahan yang tidak bermanfaat, atau kotoran yang terjadi secara kebetulan. Jika secara lahir tampak ada, benda itu segera dimasukkan ke suatu mesin perubahan dan dibersihkan. Jadi, Zat yang merawat pabrik ini merawatnya dengan sangat baik.
Pabrik ini mempunyai Pemilik Yang Membersihkan sedemikian rupa sehingga Dia menyuruh agar pabrik yang sangat besar dan istana yang luas itu disapu, dibersihkan, ditata, dan dijaga bersih seperti sebuah kamar kecil. Pabrik yang sangat besar itu tidak mempunyai limbah, bahan kotor yang tersisa dari reruntuhan, dan sampah dalam jumlah sebanding dengan besarnya. Justru kebersihan dan keadaan bersihnya diperhatikan sesuai dengan besarnya. Jika seseorang tidak mandi selama sebulan dan tidak menyapu kamar kecilnya, ia menjadi sangat kotor dan jorok. Jadi, keadaan suci, jernih, bercahaya, dan bersih pada istana alam ini berasal dari tindakan membersihkan yang penuh hikmah dan terus-menerus, serta tindakan menyucikan yang teliti.
Jika tidak ada tindakan terus-menerus menyucikan, menyapu, dan merawat dengan teliti itu, dalam setahun seratus ribu kelompok dari seluruh hewan akan tercekik di permukaan bumi. Reruntuhan bola-bola langit dan satelit, bahkan bintang-bintang, yang mengalami kehancuran dan kematian di ruang langit, akan menghancurkan kepala kita, kepala hewan-hewan lain, bahkan kepala bumi dan dunia kita. Reruntuhan itu akan menghujani kepala kita dengan batu-batu sebesar gunung dan mengusir kita dari tanah air duniawi ini. Namun, sejak dahulu, meskipun beberapa batu langit saja telah jatuh dari kehancuran dan perbaikan di alam-alam atas itu sebagai pelajaran, batu-batu tersebut tidak menghancurkan kepala siapa pun.
Di permukaan bumi pun, akibat pergantian dan pertarungan antara kematian dan kehidupan setiap tahun, jasad ratusan ribu kelompok hewan dan sisa-sisa dua ratus ribu golongan tumbuhan akan sangat mengotori permukaan daratan dan lautan. Bukannya mencintai dan jatuh cinta kepada permukaan itu, makhluk sadar akan membenci keburukan tersebut, lalu melarikan diri kepada kematian dan keadaan tidak ada. Seperti seekor burung dengan mudah membersihkan sayapnya dan seorang penulis dengan leluasa membersihkan halaman-halamannya, sayap pesawat bumi dan burung-burung langit ini, serta halaman-halaman kitab kainat ini, dibersihkan dan diperindah sedemikian rupa sehingga manusia yang tidak melihat keindahan akhirat yang tidak terbatas dan tidak merenungkannya dengan iman jatuh cinta dan memuja kebersihan serta keindahan dunia ini.
Jadi, istana alam dan pabrik kainat ini menjadi tempat tampaknya suatu manifestasi terbesar dari Nama Quddûs. Perintah-perintah yang datang dari Tindakan Suci Membersihkan itu ditaati bukan hanya oleh pemakan daging di laut yang menjadi petugas kebersihan serta elang-elang di darat, melainkan juga oleh petugas kesehatan yang mengumpulkan jasad, seperti serigala dan semut. Bahkan sel darah merah dan putih dalam darah yang mengalir di tubuh pun menaati Perintah-perintah Suci untuk membersihkan itu dan membersihkan sel-sel tubuh. Napas pun menyaring serta membersihkan darah tersebut.
Sebagaimana kelopak mata menaati Perintah itu untuk membersihkan mata, dan lalat untuk menyapu sayapnya, udara dan awan yang besar pun menaatinya. Udara meniup dan membersihkan sampah seperti debu serta tanah yang menempel pada permukaan bumi. Spons awan memercikkan air ke taman bumi dan meredakan debu serta tanah. Kemudian, agar tidak mengotori langit dalam waktu lama, awan segera mengumpulkan sampahnya, lalu dengan keteraturan sempurna menarik diri dan bersembunyi. Ia memperlihatkan wajah dan mata langit yang indah dalam keadaan telah diseka, disapu, dan bersinar gemerlap.
Sebagaimana bintang, unsur, mineral, dan tumbuhan menaati Perintah-perintah untuk membersihkan itu, seluruh zarah pun menaatinya. Di tengah badai perubahan yang menakjubkan, zarah-zarah tersebut memperhatikan kebersihan. Mereka tidak berkumpul tanpa perlu di suatu tempat dan tidak berdesakan. Jika tercemar, mereka segera dibersihkan. Oleh Tangan Hikmah, mereka diarahkan agar mengambil keadaan yang paling bersih, paling bening, paling bercahaya, dan paling suci, serta bentuk yang paling indah, paling jernih, dan paling halus.
Satu Perbuatan ini, yakni Tindakan Membersihkan yang merupakan satu hakikat, adalah suatu manifestasi terbesar yang tampak pada lingkup terbesar kainat dari Ismul A'zham seperti Nama Quddûs. Kepada mata yang luas seperti matahari dan tajam seperti teropong, manifestasi ini langsung memperlihatkan Wujud Rabb dan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ beserta Asmaulhusna-Nya.
Ya, dalam banyak bagian Risale-i Nur telah dibuktikan dengan bukti-bukti pasti bahwa Tindakan Menata dan keteraturan merupakan suatu manifestasi Nama Hakam dan Hakîm; Tindakan Menyeimbangkan dan keseimbangan merupakan suatu manifestasi Nama ‘Adl dan ‘Âdil; Tindakan Memperindah dan Menganugerahkan kebaikan merupakan suatu manifestasi Nama Jamîl dan Karîm; serta Tindakan Memelihara dan Memberi nikmat merupakan suatu manifestasi Nama Rabb dan Rahîm. Karena dalam lingkup alam yang terbesar ini masing-masing merupakan satu hakikat dan satu Perbuatan, semuanya menunjukkan niscayanya Wujud dan Keesaan satu Zat. Demikian pula Tindakan Membersihkan dan Menyucikan, yang merupakan suatu tempat tampaknya dan manifestasi Nama Quddûs, memperlihatkan Wujud Zat Yang Wâjibul Wujûd seperti matahari dan Keesaan-Nya seperti siang. Dari segi bahwa jenisnya satu dalam lingkup terbesar, Perbuatan-perbuatan Penuh Hikmah seperti menata, menyeimbangkan, memperindah, dan membersihkan tadi menunjukkan satu Sang Pembuat Yang Wâhid. Sebagian besar Asmaulhusna, bahkan masing-masing dari seribu satu Asma, juga mempunyai suatu manifestasi terbesar seperti ini dalam lingkup terbesar tersebut. Perbuatan yang datang dari manifestasi itu menunjukkan Sang Wâhid lagi Ahad dengan jelas dan pasti sebanding dengan besarnya.
Ya, Hikmah yang menyeluruh membuat segala sesuatu menaati hukum serta tatanan yang berlaku baginya; Pertolongan yang meliputi segalanya menghias dan membuat wajah segala sesuatu tersenyum; Rahmat yang luas menggembirakan dan menyenangkan segala sesuatu; rezeki umum untuk penghidupan memberi makan dan kenikmatan kepada setiap makhluk hidup; serta kehidupan dan Tindakan Menghidupkan membuat setiap sesuatu berhubungan dengan, memperoleh manfaat dari, dan sampai taraf tertentu memiliki segala sesuatu. Hakikat-hakikat yang jelas dan membuat wajah kainat tersenyum serta bercahaya ini, beserta Perbuatan-perbuatan yang berasal dari Yang Esa, dengan sangat jelas menunjukkan satu Zat Yang Hakîm, Karîm, Rahîm, Ar-Razzâq, Hayy, dan Muhyî, sebagaimana cahaya menunjukkan matahari.
Jika satu saja dari ratusan Perbuatan luas itu, yang masing-masing merupakan bukti terang Keesaan, tidak dinisbatkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, timbul hal-hal mustahil dalam ratusan segi. Misalnya, bukan hakikat-hakikat jelas dan bukti-bukti Keesaan seperti Hikmah, Pertolongan, Rahmat, Pemberian Makan, dan Tindakan Menghidupkan, melainkan hanya Tindakan Membersihkan saja yang tidak dinisbatkan kepada Khâliq kainat, dalam jalan kekufuran orang-orang sesat itu harus terjadi hal berikut: setiap makhluk yang berkaitan dengan tindakan membersihkan, dari zarah dan lalat hingga unsur dan bintang, harus mampu mengetahui, memikirkan, dan bertindak sesuai dengan cara menghias, menyeimbangkan, menata, dan membersihkan seluruh kainat. Atau, ia harus mempunyai Sifat-sifat Suci Khâliq alam. Atau, untuk mengatur hiasan dan kebersihan kainat serta keseimbangan pemasukan dan pengeluarannya, harus ada dewan musyawarah sebesar kainat, dengan zarah, lalat, dan bintang yang tidak terbatas sebagai anggotanya. Dan seterusnya... Harus ada ratusan hal mustahil yang dipenuhi takhayul dan penalaran sesat seperti ini agar tindakan menghias, menyucikan, dan membersihkan yang umum, meliputi segalanya, dan luhur, yang terlihat serta disaksikan di mana-mana, dapat terwujud. Ini bukan hanya satu hal mustahil, melainkan seratus ribu hal mustahil yang muncul.
Ya, jika cahaya siang dan matahari-matahari kecil berupa gambaran yang tercermin pada seluruh benda bercahaya di bumi tidak dinisbatkan kepada matahari, dan tidak dikatakan sebagai manifestasi pantulan satu matahari, pada setiap pecahan kaca, tetes air, dan butiran salju yang menyerupai botol kecil yang berkilau di permukaan bumi, bahkan pada zarah-zarah udara, harus terdapat satu matahari yang sebenarnya, agar cahaya umum itu dapat terwujud.
Hikmah pun merupakan suatu cahaya. Rahmat yang meliputi segalanya merupakan suatu cahaya. Tindakan Menghias, Menyeimbangkan, Menata, dan Membersihkan masing-masing merupakan cahaya yang meliputi segalanya; semuanya adalah sinar-sinar Sang Matahari Azali.
Marilah, lihatlah bagaimana kesesatan dan kekufuran masuk ke rawa yang sama sekali tidak dapat ditinggalkan. Lihatlah betapa bodohnya ketidaktahuan dalam kesesatan itu, dan ucapkan
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺩ۪ﻳﻦِ الْاِسْلَامِ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻝِ الْا۪يمَانِ.
Ya, Tindakan Luhur Membersihkan secara menyeluruh, yang menjaga istana kainat tetap sangat bersih, tentu merupakan manifestasi dan tuntutan Nama Quddûs. Sebagaimana tasbih seluruh makhluk berkaitan dengan Nama Quddûs, demikian pula seluruh kebersihan mereka dituntut oleh Nama Quddûs. {Catatan kaki (Hâsyiyah): Kita tidak boleh melupakan bahwa sifat-sifat buruk, keyakinan batil, dosa, dan bidah merupakan kotoran rohani.} Karena hubungan suci kebersihan ini, hadis
ﺍَﻟﻨَّﻈَﺎﻓَﺔُ ﻣِﻦَ الْا۪يمَانِ
menganggap kebersihan termasuk cahaya iman. Ayat
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﺘَّﻮَّﺍﺑ۪ﻴﻦَ ﻭَﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺘَﻄَﻬِّﺮ۪ﻳﻦَ
juga menunjukkan keadaan bersih sebagai suatu sarana untuk mendapat Cinta Allah سُبْحَانَهُ.
BUTIR HIKMAH KEDUA DARI LEM'A KETIGA PULUH
Suatu butir hikmah dari ayat
ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻨَﺰِّﻟُﻪُٓ اِلَّا ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡٍ
dan suatu manifestasi Nama ‘Adl, yang merupakan Ismul A'zham atau salah satu dari enam cahaya Ismul A'zham, tampak dari jauh di Penjara Eskişehir, seperti Butir Hikmah Pertama. Untuk mendekatkannya, melalui perumpamaan kami mengatakan:
Kainat ini merupakan istana yang di dalamnya terdapat suatu kota yang terus bergolak dalam kehancuran dan perbaikan. Dalam kota itu terdapat suatu negeri yang selalu bergolak dalam peperangan dan perpindahan. Dalam negeri itu terdapat suatu alam yang terus berputar dalam kematian dan kehidupan. Namun, di istana, kota, negeri, dan alam itu berlaku suatu keseimbangan, ukuran yang seimbang, dan tindakan menyeimbangkan yang begitu menakjubkan. Hal ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa perubahan, pemasukan, dan pengeluaran yang tidak terbatas pada makhluk-makhluk yang tidak terbatas ini, setiap saat diukur dan ditimbang dengan Ukuran satu Zat yang melihat seluruh kainat serta memeriksanya. Seandainya sebab-sebab yang berusaha keras merusak keseimbangan dan menguasai segalanya—seekor ikan dengan seribu telur kecilnya, satu bunga tumbuhan seperti popi dengan dua puluh ribu benihnya, serta serangan unsur-unsur dan perubahan yang mengalir seperti banjir—dibiarkan bebas, atau diserahkan kepada kebetulan yang mengembara tanpa tujuan, kekuatan buta tanpa ukuran, serta alam yang tidak sadar dan gelap, keseimbangan segala sesuatu dan kainat akan rusak sedemikian rupa sehingga dalam setahun, bahkan sehari, semuanya menjadi kacau. Laut akan dipenuhi benda-benda yang bercampur-aduk dan berbau busuk; udara akan teracuni gas-gas berbahaya; bumi akan berubah menjadi tempat sampah, tempat penyembelihan, dan rawa. Dunia akan tenggelam.
Dari sel-sel tubuh hewan, sel darah merah dan putih, perubahan zarah, serta perbandingan yang serasi antara alat-alat tubuh, hingga pemasukan dan pengeluaran laut, pemasukan dan pengeluaran mata air di bawah tanah, kelahiran dan kematian hewan serta tumbuhan, kehancuran dan perbaikan pada musim gugur dan musim semi, serta khidmah dan gerakan unsur-unsur maupun bintang, hingga pergantian, pertarungan, dan benturan antara kematian dan kehidupan, cahaya dan gelap, serta panas dan dingin, semuanya ditata dan ditimbang dengan ukuran yang begitu peka serta begitu halus. Akal manusia tidak melihat pemborosan dan kesia-siaan yang sebenarnya di mana pun. Hikmah manusia juga melihat dan memperlihatkan keteraturan yang paling sempurna serta keseimbangan yang paling indah pada segala sesuatu. Bahkan hikmah manusia merupakan sesuatu yang tampak dan menjadi penjelas dari keteraturan dan keseimbangan tersebut.
Marilah, lihatlah keseimbangan matahari dan dua belas planet yang berbeda-beda. Bukankah keseimbangan ini menunjukkan Zat Dzul-Jalâl Yang ‘Adl dan Qadîr, seterang matahari? Khususnya kapal kita, yaitu bumi yang termasuk planet, berkeliling dan melakukan perjalanan pada lingkaran perjalanan dua puluh empat ribu tahun dalam satu tahun. Meskipun kecepatannya luar biasa, ia tidak mencerai-beraikan, mengguncang, atau melemparkan ke angkasa benda-benda yang berjajar dan bertumpuk di permukaannya. Jika kecepatannya sedikit bertambah atau berkurang, ia akan melemparkan penghuninya ke udara dan mencerai-beraikan mereka di angkasa. Jika keseimbangannya rusak selama satu menit, bahkan satu detik, bumi kita akan rusak, mungkin bertabrakan dengan yang lain, dan menimbulkan suatu kiamat.
Khususnya, keseimbangan penuh kasih pada kelahiran dan kematian, pemberian makan dan kehidupan empat ratus ribu golongan tumbuhan serta hewan di permukaan bumi menunjukkan satu Zat Yang ‘Adl dan Rahîm, sebagaimana cahaya menunjukkan matahari.
Khususnya lagi, anggota tubuh, alat, dan indra satu individu dari individu-individu yang tidak terbatas pada kelompok-kelompok yang tidak terbatas itu, saling berhubungan dan seimbang dengan ukuran yang begitu peka. Keserasian dan keseimbangan tersebut memperlihatkan dengan sangat jelas Sang Pembuat Yang ‘Adl dan Hakîm.
Terutama, sel-sel, saluran darah, sel darah, serta zarah-zarah dalam sel darah pada tubuh setiap hewan mempunyai keseimbangan yang begitu halus, peka, dan luar biasa. Hal ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa:
Semuanya dipelihara dan diatur dengan Ukuran, Hukum, dan Keteraturan satu Khâliq Yang ‘Adl dan Hakîm, yang memegang kendali segala sesuatu dan mempunyai kunci segala sesuatu. Tidak satu hal pun menghalangi hal lain bagi-Nya. Dia mengatur seluruh benda dengan mudah seperti satu benda. Orang yang menganggap tidak masuk akal dan tidak memercayai ditimbangnya amal jin dan manusia pada Timbangan Keadilan yang besar di pengadilan terbesar pada kebangkitan, jika memperhatikan keseimbangan yang sangat besar dan dilihatnya dengan mata sendiri di dunia ini, tentu tidak lagi menganggapnya tidak masuk akal.
Wahai manusia malang yang boros dan tidak hemat, zalim dan tidak adil, kotor dan tidak bersih! Karena tidak menjalankan sikap hemat, kebersihan, dan keadilan yang menjadi kaidah gerak seluruh kainat dan semua makhluk, dengan menentang seluruh makhluk engkau secara rohani mendapat kebencian dan kemarahan mereka. Kepada apa engkau bersandar sehingga membuat seluruh makhluk marah dengan kezaliman, sikap tanpa keseimbangan, pemborosan, dan keadaan kotormu?
Ya, Hikmah menyeluruh kainat, yang merupakan manifestasi terbesar Nama Hakîm, berjalan berdasarkan sikap hemat dan tidak boros; ia memerintahkan sikap hemat.
Keadilan sempurna dalam kainat, yang datang dari manifestasi terbesar Nama ‘Adl, mengatur keseimbangan seluruh benda dan juga memerintahkan keadilan kepada manusia. Dalam Surah Ar-Rahman, disebutnya kata “mizan” empat kali dalam ayat
ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺭَﻓَﻌَﻬَﺎ ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﺰَﺍﻥَ اَلَّا ﺗَﻄْﻐَﻮْﺍ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﺰَﺍﻥِ ﻭَﺍَﻗ۪ﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟْﻮَﺯْﻥَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ وَلَا ﺗُﺨْﺴِﺮُﻭﺍ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﺰَﺍﻥَ,
yang menunjuk kepada empat tingkatan dan empat jenis keseimbangan, memperlihatkan betapa besar taraf keseimbangan dalam kainat serta betapa luar biasa pentingnya. Ya, sebagaimana tidak ada pemborosan pada sesuatu pun, tidak ada pula kezaliman yang sebenarnya dan keadaan tanpa keseimbangan pada sesuatu pun.
Tindakan Membersihkan dan kebersihan yang datang dari manifestasi terbesar Nama Quddûs membersihkan dan memperindah seluruh makhluk dalam kainat. Dengan syarat tangan manusia yang tercemar tidak ikut campur, pada sesuatu pun tidak terlihat keadaan kotor dan buruk yang sebenarnya.
Pahamilah betapa mendasarnya “keadilan, sikap hemat, dan kebersihan”, yang merupakan hakikat Al-Qur'an serta prinsip Islam, sebagai kaidah kehidupan manusia. Ketahuilah betapa hukum-hukum Al-Qur'an berhubungan dengan kainat, berakar dan menyebar di dalamnya, serta bahwa merusak hakikat-hakikat itu tidak mungkin, seperti merusak kainat dan mengubah bentuknya! Sebagaimana ketiga cahaya terbesar ini, ratusan hakikat yang meliputi segalanya, seperti Rahmat, Pertolongan, dan Penjagaan, mengharuskan serta menuntut kebangkitan dan akhirat. Maka, mungkinkah hakikat-hakikat yang sangat kuat dan meliputi segalanya, seperti Rahmat, Pertolongan, Keadilan, Hikmah, sikap hemat, dan kebersihan, yang berlaku di kainat dan pada seluruh makhluk, berubah menjadi tidak berbelas kasih, kezaliman, tanpa hikmah, pemborosan, kotor, dan sia-sia karena tidak adanya kebangkitan dan tidak datangnya akhirat? Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ!
Mungkinkah Rahmat dan Hikmah yang dengan penuh kasih menjaga hak hidup seekor lalat, dengan tidak mendatangkan kebangkitan, menyia-nyiakan hak-hak hidup seluruh makhluk sadar yang tidak terbatas dan hak-hak tidak terbatas dari makhluk-makhluk yang tidak berakhir? Jika ungkapan ini diperbolehkan, suatu Keagungan Rububiyah yang menunjukkan sikap yang Peka dan Teliti tanpa batas dalam Rahmat, Kasih, Keadilan, serta Hikmah, dan suatu Kekuasaan Keilahian yang menghias kainat ini dengan karya-karya serta nikmat yang tidak terbatas dan luar biasa untuk memperlihatkan Kesempurnaan-Nya serta membuat Diri-Nya dikenal dan dicintai, mungkinkah membiarkan kebangkitan tidak ada, padahal hal itu merendahkan seluruh Kesempurnaan-Nya dan semua makhluk-Nya menjadi tidak berarti serta membuatnya disangkal? Hâşâ! Keindahan Mutlak seperti ini jelas tidak mengizinkan keburukan mutlak seperti itu.
Ya, orang yang ingin menyangkal akhirat harus terlebih dahulu menyangkal seluruh dunia beserta semua hakikatnya. Jika tidak, dunia dengan seluruh hakikatnya akan mendustakannya melalui seratus ribu bahasa dan membuktikan bahwa kebohongan ini mengandung dusta seratus ribu kali lebih besar. Kalimat Kesepuluh telah membuktikan dengan dalil-dalil pasti bahwa adanya akhirat sama pasti dan tidak diragukannya dengan adanya dunia.
Yang memberi isyarat kepada cahaya ketiga dari enam cahaya Ismul A'zham,
BUTIR HIKMAH KETIGA
Suatu butir hikmah dari ayat
ﺍُﺩْﻉُ ﺍِﻟٰﻰ ﺳَﺒ۪ﻴﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ
dan suatu manifestasi Nama Hakam, yang merupakan Ismul A'zham atau salah satu dari enam cahaya Ismul A'zham, terlihat pada bulan Ramadan yang mulia di Penjara Eskişehir. Hanya sebagai suatu isyarat kepadanya, Butir Hikmah Ketiga yang terdiri atas lima pokok ini ditulis dengan cepat dan tetap dalam bentuk draf.
POKOK PERTAMA DARI BUTIR HIKMAH KETIGA:
Sebagaimana diisyaratkan dalam Kalimat Kesepuluh, tajalli terbesar Nama Hakam telah menjadikan kainat ini suatu kitab yang pada setiap halamannya tertulis ratusan kitab, pada setiap barisnya termuat ratusan halaman, pada setiap katanya terdapat ratusan baris, pada setiap hurufnya terdapat ratusan kata, dan pada setiap titiknya terdapat daftar isi kecil yang merangkum kitab tersebut. Halaman, baris, hingga titik kitab itu, dalam ratusan segi, memperlihatkan Pengukir dan Penulisnya dengan begitu jelas sehingga menyaksikan kitab kainat itu membuktikan Wujud dan Keesaan Penulisnya seratus kali lebih kuat daripada membuktikan adanya kitab itu sendiri. Sebab, meskipun satu huruf mengungkapkan adanya dirinya sebanyak satu huruf, ia mengungkapkan Penulisnya sebanyak satu baris.
Ya, suatu halaman kitab besar ini ialah permukaan bumi. Pada halaman itu, dalam musim semi terlihat jelas kitab-kitab sebanyak jumlah golongan tumbuhan dan hewan ditulis saling berada dalam satu sama lain, bersama-sama, pada satu waktu, tanpa kesalahan, dan dengan sangat sempurna. Suatu baris dari halaman ini ialah sebuah taman. Dengan mata sendiri kita melihat kasidah-kasidah bersajak sebanyak jumlah bunga, pohon, dan tumbuhan di taman itu ditulis bersama, saling berada dalam satu sama lain, dan tanpa kesalahan. Suatu kata dari baris tersebut ialah sebuah pohon yang telah berbunga dan mengeluarkan daun untuk berbuah. Kata ini merupakan ungkapan-ungkapan bermakna mengenai pujian kepada Sang Hakam Dzul-Jalâl, sebanyak jumlah daun, bunga, dan buahnya yang teratur, seimbang, dan berhias. Seakan-akan pohon itu, seperti setiap pohon yang berbunga, merupakan kasidah bersajak yang melantunkan pujian kepada Pengukirnya.
Seakan-akan Sang Hakam Dzul-Jalâl juga ingin memandang dengan ribuan mata karya-karya-Nya yang langka dan menakjubkan, yang Dia pamerkan di ruang pamer bumi.
Seakan-akan pohon itu mengambil bentuk yang begitu berhias, seimbang, teratur, dan bermakna untuk mempersembahkan hadiah-hadiah bertatah permata, tanda-tanda penghargaan, dan seragam yang diberikan Sang Sultan Azali kepadanya, ke hadapan Rajanya pada musim semi, yang merupakan hari raya khusus dan upacara pembukaannya. Ia diberi bentuk yang begitu penuh hikmah sehingga pada setiap bunga dan buahnya terdapat banyak segi dan dalil, saling berada dalam satu sama lain, yang bersaksi tentang Wujud dan Asma Pengukirnya.
Misalnya, pada setiap bunga dan buah terdapat suatu keseimbangan. Keseimbangan itu berada dalam keteraturan; keteraturan itu berada dalam Tindakan Menata dan Menyeimbangkan yang diperbarui; Tindakan Menyeimbangkan dan Menata itu berada dalam hiasan serta seni; dan hiasan serta seni itu berada dalam aroma-aroma bermakna dan rasa-rasa penuh hikmah. Karena itu, setiap bunga memberikan isyarat kepada Sang Hakam Dzul-Jalâl sebanyak jumlah bunga pohon itu.
Pada pohon yang merupakan satu kata ini, suatu titik berupa benih dalam buah yang merupakan satu huruf adalah peti kecil yang membawa daftar isi dan rancangan seluruh pohon. Dan seterusnya...
Dengan mengukur melalui contoh ini, seluruh baris dan halaman kitab kainat, melalui manifestasi Nama Hakam dan Hakîm, telah dijadikan sedemikian rupa sehingga bukan hanya setiap halaman, melainkan setiap baris, kata, huruf, dan titiknya merupakan suatu mukjizat. Seandainya seluruh sebab berkumpul, mereka tidak dapat menghasilkan sesuatu yang menyerupai satu titiknya ataupun menandinginya.
Ya, karena setiap ayat penciptaan dari Al-Qur'an Besar berupa Kainat ini memperlihatkan mukjizat sebanyak jumlah titik dan hurufnya, kebetulan yang mengembara, kekuatan buta, serta alam yang tidak bertujuan, tidak seimbang, dan tidak sadar, sama sekali tidak dapat ikut campur dalam keseimbangan khusus yang penuh hikmah dan melihat dengan teliti, serta keteraturan yang sangat halus itu. Jika ikut campur, tentu akan tampak hasil yang kacau. Namun, tidak terlihat keadaan tanpa keteraturan dari segi mana pun.
POKOK KEDUA DARI BUTIR HIKMAH KETIGA:
Terdiri atas dua persoalan.
Persoalan pertama:
Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Kesepuluh, suatu Keindahan pada puncak Kesempurnaan dan suatu Kesempurnaan pada puncak Keindahan tentu ingin melihat, memperlihatkan, dan menampilkan Diri-Nya. Ini merupakan suatu kaidah yang paling mendasar. Berdasarkan prinsip umum yang mendasar ini, Sang Pengukir Azali dari kitab besar kainat ini, melalui kainat, setiap halamannya, dan setiap barisnya, bahkan huruf dan titiknya, membuat Diri-Nya dikenal dan dicintai. Melalui berbagai bahasa setiap makhluk, dari yang paling kecil dan bersifat juz'i hingga yang paling menyeluruh, Dia mengenalkan dan membuat dicintai Keindahan Kesempurnaan-Nya serta Kesempurnaan Keindahan-Nya, agar Diri-Nya dikenal, Kesempurnaan-Nya diketahui, Keindahan-Nya terlihat, dan Diri-Nya dicintai.
Wahai manusia yang lalai! Sang Penguasa Yang Hakam dan Hakîm, Dzul-Jalâl dan Dzul-Jamâl ini, melalui setiap makhluk-Nya ingin membuat Diri-Nya dikenal dan dicintai olehmu dengan cara-cara yang tidak terbatas dan terang seperti ini. Jika engkau tidak mengenal-Nya dengan iman sebagai tanggapan atas cara-Nya membuat Diri-Nya dikenal, dan tidak membuat dirimu dicintai-Nya dengan ubudiyahmu sebagai tanggapan atas cara-Nya membuat Diri-Nya dicintai, ketahuilah betapa tidak terbatas dan berlipat gandanya ketidaktahuan serta kerugian itu. Sadarlah!
Persoalan kedua dari Pokok Kedua:
Tidak ada tempat bagi sekutu dalam Kerajaan Sang Pembuat kainat Yang Qadîr dan Hakîm. Sebab, segala sesuatu mempunyai keteraturan pada taraf tertinggi sehingga tidak dapat menerima syirik. Jika banyak tangan ikut campur dalam satu pekerjaan, pekerjaan itu menjadi kacau. Jika terdapat dua raja dalam satu negeri, dua gubernur dalam satu kota, atau dua kepala dalam satu desa, kekacauan akan mulai terjadi dalam setiap urusan negeri, kota, dan desa itu. Bahkan seorang petugas yang paling rendah pun tidak menerima campur tangan orang lain dalam tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa sifat kekuasaan yang paling mendasar tentu ialah merdeka dan tunggal. Jadi, keteraturan menuntut kesatuan, dan kekuasaan menuntut ketunggalan.
Karena suatu bayangan kekuasaan yang sementara pada manusia yang tak berdaya dan membutuhkan bantuan pun menolak campur tangan seperti ini, tentu Kekuasaan Mutlak yang sebenarnya pada taraf Rububiyah dalam Sang Qadîr Mutlak harus menolak campur tangan dengan sepenuhnya. Jika terdapat campur tangan sebesar zarah saja, keteraturan akan rusak.
Kainat ini diciptakan sedemikian rupa sehingga untuk menciptakan satu benih diperlukan suatu Kudrat yang dapat menciptakan sebuah pohon. Untuk menciptakan sebuah pohon pun diperlukan Kudrat yang dapat menciptakan kainat. Jika ada sekutu yang ikut campur dalam kainat, ia harus mempunyai bagian juga dalam benih terkecil, sebab benih itu merupakan contoh kainat. Dalam keadaan itu, dua rububiyah yang tidak dapat menempati seluruh kainat harus menempati satu benih, bahkan satu zarah. Ini merupakan hal mustahil yang paling tidak masuk akal dan paling sukar diterima di antara hal-hal mustahil serta khayalan-khayalan batil. Betapa syirik dan kekufuran, yang mengharuskan Sang Qadîr Mutlak—Yang menjaga seluruh keadaan dan sifat kainat dalam Ukuran Keadilan-Nya serta Keteraturan Hikmah-Nya—menjadi tak berdaya bahkan pada satu benih, merupakan pertentangan dan kesalahan yang tidak terbatas serta berlipat ganda, serta kebohongan. Ketahuilah pula betapa tauhid benar, merupakan hakikat, dan tepat pada taraf yang tidak terbatas serta berlipat ganda. Ucapkan
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻰ الْا۪يمَانِ.