POKOK KETIGA:
Sang Pembuat Yang Qadîr, melalui Nama Hakam dan Hakîm, memasukkan ribuan alam yang teratur ke dalam alam ini. Di antara alam-alam itu, Dia menciptakan manusia sebagai pusat dan poros, karena manusia paling banyak menjadi sarana serta tempat tampaknya hikmah dalam kainat. Hikmah dan manfaat terpenting dalam lingkup kainat itu berkaitan dengan manusia. Dalam lingkup manusia pun Dia menjadikan rezeki sebagai pusat. Sebagian besar hikmah dan manfaat dalam alam manusia berkaitan dengan rezeki itu dan tampak melaluinya. Melalui kesadaran pada manusia dan kenikmatan pada rezeki, manifestasi Nama Hakîm terlihat terang. Setiap cabang dari ratusan ilmu yang ditemukan melalui kesadaran manusia menjelaskan suatu manifestasi Nama Hakam dalam satu jenis.
Misalnya, jika ilmu kedokteran ditanya, “Apakah kainat ini?” tentu ia akan berkata, “Suatu apotek yang sangat besar, sangat teratur, dan sempurna. Setiap obat di dalamnya telah disiapkan dan disusun dengan baik.”
Jika ilmu kimia ditanya, “Apakah bumi ini?” ia akan berkata, “Suatu laboratorium kimia yang sangat teratur dan sempurna.”
Ilmu teknik mesin akan berkata, “Suatu pabrik yang sangat sempurna dan tidak mempunyai kekurangan apa pun.”
Ilmu pertanian akan berkata, “Suatu ladang yang teratur dan kebun yang sempurna, sangat subur, serta menumbuhkan setiap jenis biji-bijian pada waktunya.”
Ilmu perdagangan akan berkata, “Suatu pameran yang sangat teratur, pasar yang sangat tertata, dan toko dengan barang-barang yang dibuat sangat berseni.”
Ilmu penyediaan pangan akan berkata, “Suatu lumbung yang sangat teratur, mencakup seluruh jenis bahan pangan.”
Ilmu tentang rezeki akan berkata, “Suatu dapur Rabb dan kuali Rahmân, yang di dalamnya ratusan ribu makanan lezat dimasak bersama dengan keteraturan sempurna.”
Ilmu militer akan berkata, “Bumi merupakan suatu perkemahan tentara. Setiap musim semi terdapat empat ratus ribu kelompok berbeda yang baru dipersenjatai dan mendirikan tenda di permukaan bumi. Meskipun semuanya berada dalam pasukan itu, makanan, pakaian, senjata, petunjuk, dan masa pelepasan tugas mereka yang berbeda-beda disiapkan dan diatur dengan sempurna, tanpa melupakan atau mengelirukan satu pun, dengan sangat teratur melalui Perintah, Kekuatan, Rahmat, dan Khazanah satu Sang Panglima Tertinggi.”
Jika ilmu kelistrikan ditanya, tentu ia akan berkata, “Atap istana kainat yang megah ini dihias dengan lampu-lampu listrik yang tidak terbatas dan sangat teratur serta seimbang. Namun, keteraturan dan keseimbangannya begitu luar biasa sehingga lampu-lampu langit yang seribu kali lebih besar daripada bumi, terutama matahari, meskipun terus menyala, tidak kehilangan keseimbangan, tidak meledak, dan tidak menimbulkan kebakaran. Meskipun bahan yang dihabiskannya tidak terbatas, dari mana datangnya pemasukan, minyak tanah, dan bahan bakarnya? Mengapa tidak habis? Mengapa keseimbangan pembakarannya tidak rusak? Lampu kecil pun akan padam jika tidak dirawat dengan teratur. Menurut kosmografi, matahari lebih dari sejuta kali lebih besar daripada bumi dan telah hidup lebih dari sejuta tahun. {Catatan kaki (Hâsyiyah): Cobalah dihitung berapa banyak kayu, batu bara, dan minyak tanah yang diperlukan untuk tungku atau lampu matahari yang menghangatkan istana dunia. Jika mengikuti pernyataan kosmografi, agar menyala setiap hari diperlukan tumpukan kayu sebesar sejuta bumi dan minyak tanah sebanyak ribuan lautan. Sekarang pikirkanlah, dan ucapkan “Sübhanallah, mâşâallah, bârekellah” sebanyak jumlah zarah matahari untuk mengagungkan Kemegahan, Hikmah, dan Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Yang terus meneranginya tanpa kayu dan minyak tanah.} Pandanglah Hikmah dan Kudrat Sang Hakîm Dzul-Jalâl, Yang membuat matahari menyala tanpa batu bara dan minyak serta tidak membiarkannya padam. Ucapkan ‘Sübhanallah’. Katakan ‘Mâşâallah, bârekellah, lâ ilahe illâ hû’ sebanyak jumlah âşirat dalam menit-menit yang berlalu selama umur matahari.
Jadi, lampu-lampu langit ini mempunyai keteraturan yang sangat luar biasa dan dirawat dengan sangat teliti. Seakan-akan ketel uap dari massa-massa api yang sangat besar dan banyak serta lampu-lampu cahaya yang sangat banyak itu ialah neraka yang panasnya tidak habis, yang memberikan panas tanpa cahaya kepada mereka. Mesin dan pabrik pusat lampu-lampu listrik itu ialah surga yang terus ada, yang memberikan cahaya dan sinar kepada mereka. Dengan manifestasi terbesar Nama Hakam dan Hakîm, lampu-lampu itu terus menyala secara teratur.” Dan seterusnya...
Dengan mengukur melalui contoh-contoh ini, melalui kesaksian pasti setiap cabang dari ratusan ilmu, kainat ini dihias dengan hikmah dan manfaat yang tidak terbatas dalam keteraturan paling sempurna tanpa kekurangan. Dengan Hikmah yang luar biasa dan meliputi segalanya itu, Dia memasukkan keteraturan serta hikmah yang diberikan-Nya kepada seluruh kainat, dalam ukuran kecil, ke dalam makhluk hidup terkecil dan suatu benih.
Sudah diketahui dan jelas bahwa mengejar tujuan, hikmah, dan manfaat dengan teratur hanya dapat berlangsung melalui pilihan, kehendak, maksud, dan masyîah (kehendak Allah سُبْحَانَهُ); tidak dapat dengan cara lain. Hal itu bukan pekerjaan sebab-sebab dan alam yang tidak mempunyai pilihan, kehendak, maksud, dan kesadaran; mereka bahkan tidak dapat ikut campur. Jadi, tidak mengenal atau menyangkal Pelaku Yang Memilih dan Sang Pembuat Yang Hakîm, yang diharuskan serta ditunjukkan oleh keteraturan dan hikmah yang tidak terbatas pada seluruh makhluk dalam kainat ini, merupakan ketidaktahuan dan kegilaan yang begitu mengherankan sehingga tidak dapat dilukiskan.
Ya, jika ada sesuatu yang paling patut diherankan di dunia, itulah penyangkalan ini. Meskipun melalui keteraturan dan hikmah yang tidak terbatas pada makhluk-makhluk kainat terdapat saksi-saksi atas Wujud dan Keesaan-Nya, tidak melihat dan tidak mengenal-Nya merupakan sikap buta dan ketidaktahuan yang dapat dipahami bahkan oleh orang yang paling buta dan tidak mengetahui. Bahkan dapat kukatakan bahwa di antara kaum kafir, kaum sofis, yang dianggap bodoh karena menyangkal adanya kainat, adalah yang paling berakal. Sebab, tidak mungkin menerima adanya kainat tanpa memercayai Allah سُبْحَانَهُ dan Khâliq-nya. Karena itu, mereka mulai menyangkal kainat. Mereka juga menyangkal diri mereka sendiri. Dengan berkata, “Tidak ada sesuatu pun,” mereka mengundurkan diri dari akal. Dengan demikian, mereka terbebas dari sikap tanpa akal yang tidak terbatas pada para penyangkal lain yang bersembunyi di balik tabir akal, dan sedikit mendekati akal.
POKOK KEEMPAT:
Sebagaimana diisyaratkan dalam Kalimat Kesepuluh, tidak satu makhluk sadar pun dapat menerima bahwa seorang pembuat yang bijaksana dan tukang yang sangat penuh hikmah, setelah mengejar ratusan hikmah dengan teliti pada setiap batu sebuah istana, tidak membuat atap untuknya, sehingga istana itu sia-sia menjadi rusak dan hikmah-hikmah tidak terbatas yang dikejarnya terbuang. Begitu pula seorang yang sepenuhnya bijaksana, dengan hikmah yang sempurna, mengejar dengan teliti ratusan batman manfaat, tujuan, dan hikmah dari benih seberat satu dirham. Tidak mungkin ia kemudian melakukan tindakan bodoh dan boros yang sama sekali bertentangan dengan hikmahnya, dengan mengeluarkan banyak biaya untuk pohon sebesar gunung hanya demi satu manfaat, satu tujuan kecil, dan satu buah seberat satu dirham. Demikian pula Sang Pembuat Yang Hakîm, Yang memasang ratusan hikmah dan melengkapi setiap makhluk istana kainat ini dengan ratusan tugas, bahkan memberi setiap pohon hikmah sebanyak buahnya dan tugas sebanyak bunganya, dengan tidak mendatangkan kiamat dan tidak melakukan kebangkitan, akan menyia-nyiakan hikmah-hikmah yang tidak terhitung serta tugas-tugas yang tidak terbatas sebagai sesuatu yang tidak bermakna, sia-sia, kosong, dan tidak bermanfaat. Hal ini berarti menisbatkan kelemahan mutlak kepada Kesempurnaan Kudrat Sang Qadîr Mutlak; kesia-siaan dan keadaan tanpa manfaat yang tidak terbatas kepada Kesempurnaan Hikmah Sang Hakîm Mutlak; keburukan yang tidak berakhir kepada Keindahan Rahmat Sang Rahîm Mutlak; serta kezaliman yang tidak berakhir kepada Kesempurnaan Keadilan Sang ‘Âdil Mutlak. Seakan-akan hal itu menyangkal Hikmah, Rahmat, dan Keadilan yang terlihat oleh setiap orang dalam kainat. Ini merupakan hal mustahil yang paling mengherankan, yang di dalamnya terdapat hal-hal batil yang tidak terbatas.
Hendaklah orang-orang sesat datang dan melihat betapa dalam kesesatan mereka terdapat gelap yang mengerikan dan keadaan kelam, seperti kubur mereka sendiri yang akan mereka masuki dan pikirkan, serta suatu sumur yang menjadi sarang ular dan kalajengking. Hendaklah mereka mengetahui bahwa iman kepada akhirat merupakan suatu jalan yang indah dan bercahaya seperti surga, lalu masuk ke dalam iman.
POKOK KELIMA:
Terdiri atas dua persoalan.
Persoalan pertama:
Sang Pembuat Dzul-Jalâl, sesuai dengan tuntutan Nama Hakîm, dengan sungguh-sungguh mengejar bentuk paling ringan, jalan paling singkat, cara paling mudah, dan bentuk paling bermanfaat pada segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam fitrah tidak ada pemborosan, kesia-siaan, dan keadaan tanpa manfaat. Sebagaimana pemborosan bertentangan dengan Nama Hakîm, sikap hemat merupakan tuntutan serta kaidah dasar-Nya.
Wahai manusia yang tidak hemat dan boros! Ketahuilah betapa engkau bertindak bertentangan dengan hakikat karena tidak menjalankan sikap hemat, yang merupakan prinsip paling mendasar seluruh kainat! Pahamilah betapa mendasar dan luasnya prinsip yang diajarkan ayat
ﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَ ﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﻭَ لَا ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ!
Persoalan kedua:
Dapat dikatakan bahwa Nama Hakam dan Hakîm menunjukkan serta mengharuskan kerasulan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dengan sangat jelas. Ya, karena suatu kitab yang sangat bermakna membutuhkan guru untuk mengajarkannya, Keindahan yang sangat indah membutuhkan cermin untuk melihat dan memperlihatkan Diri-Nya, serta suatu seni yang sangat sempurna membutuhkan penyeru untuk memamerkannya, tentu di antara umat manusia yang menjadi pihak yang diajak berbicara oleh kitab besar kainat ini, yang setiap hurufnya mempunyai ratusan makna dan hikmah, akan ada seorang pembimbing yang paling sempurna dan guru yang sangat besar. Ia akan mengajarkan hikmah-hikmah suci dan sejati dalam kitab itu, bahkan memberitahukan adanya hikmah-hikmah dalam kainat, bahkan menjadi sarana bagi Tujuan-tujuan Rabb dalam penciptaan kainat untuk tampak, bahkan terwujud. Ia akan memberitahukan dan menjadi cermin bagi Kesempurnaan Seni dan Keindahan Asma yang dengan sungguh-sungguh hendak diperlihatkan Khâliq di seluruh kainat. Karena Khâliq ingin membuat Diri-Nya dicintai melalui seluruh makhluk dan meminta tanggapan dari makhluk-makhluk-Nya yang sadar, atas nama makhluk-makhluk sadar itu seseorang akan menanggapi tampaknya Rububiyah yang luas dengan ubudiyah yang luas. Dengan seruan untuk memperlihatkan dan menyatakan Kemahasucian-Nya, yang membuat daratan dan lautan larut dalam penghayatan serta menggemakan langit dan bumi, ia akan mengarahkan pandangan makhluk-makhluk sadar itu kepada Sang Pembuat karya-karya tersebut. Dengan pelajaran-pelajaran suci dan petunjuk, melalui Al-Qur'an Yang Agung yang menarik telinga seluruh orang berakal kepadanya, ia akan memperlihatkan Tujuan-tujuan Allah سُبْحَانَهُ, Sang Pembuat Yang Hakam dan Hakîm, dengan cara paling indah. Seseorang yang memberikan tanggapan paling sempurna kepada tampaknya seluruh Hikmah-Nya serta tampaknya Keindahan dan Keagungan-Nya seperti ini diperlukan dan harus ada dalam kainat, sebagaimana adanya matahari. Orang yang benar-benar disaksikan bertindak demikian dan menjalankan tugas-tugas itu dengan paling sempurna ialah Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Maka, sebagaimana matahari mengharuskan cahaya dan cahaya mengharuskan siang, hikmah-hikmah dalam kainat mengharuskan kerasulan Ahmad ﷺ.
Ya, sebagaimana manifestasi terbesar Nama Hakam dan Hakîm mengharuskan kerasulan Ahmad ﷺ pada taraf terbesar, demikian pula setiap Nama dari banyak Asmaulhusna, seperti Allah سُبْحَانَهُ, Rahmân, Rahîm, Wadûd, Sang Pemberi Nikmat, Karîm, Jamîl, dan Rabb, melalui suatu manifestasi terbesar yang terlihat dalam kainat, mengharuskan kerasulan Ahmad ﷺ pada taraf terbesar dan pasti.
Misalnya, Rahmat yang luas, yang merupakan manifestasi Nama Rahmân, tampak melalui Rahmeten li'l-âlemîn ﷺ. Kasih Allah سُبْحَانَهُ dan Tindakan Rabb membuat Diri-Nya dikenal, yang merupakan manifestasi Nama Wadûd, menghasilkan buah dan mendapat tanggapan melalui Sang Kekasih ﷺ dari Rabb seluruh alam. Semua keindahan, yang merupakan suatu manifestasi Nama Jamîl—yaitu Keindahan Zat, Keindahan Asma, Keindahan Seni, dan keindahan ciptaan—juga terlihat serta diperlihatkan dalam cermin Ahmad ﷺ itu. Manifestasi Keagungan Rububiyah dan Kekuasaan Keilahian pun diketahui, terlihat, dipahami, dan dibenarkan melalui kerasulan Ahmad ﷺ, penyeru ﷺ Kekuasaan Rububiyah itu. Dan seterusnya... Seperti contoh-contoh ini, setiap Nama dari sebagian besar Asmaulhusna merupakan satu bukti terang bagi kerasulan Ahmad ﷺ.
Kesimpulannya:
Karena kainat ada dan tidak disangkal, tentu hakikat-hakikat yang disaksikan, seperti Hikmah, Pertolongan, Rahmat, keindahan, keteraturan, keseimbangan, dan hiasan, yang menjadi warna, hiasan, sinar, cahaya, sifat, kehidupan, dan ikatan kainat, sama sekali tidak dapat disangkal. Karena sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan ini tidak mungkin disangkal, tentu Zat Yang Wâjibul Wujûd, Hakîm, Karîm, Rahîm, Jamîl, Hakam, dan ‘Adl, Yang memiliki sifat-sifat itu, melakukan perbuatan-perbuatan itu, serta merupakan Matahari dari cahaya-cahaya itu, juga sama sekali tidak dapat disangkal dan tidak mungkin disangkal. Tentu kerasulan Muhammad ﷺ, pembimbing yang sangat besar ﷺ, guru yang paling sempurna ﷺ, penyeru yang paling agung ﷺ, pembuka rahasia kainat ﷺ, cermin ﷺ bagi Shamad, dan Kekasih ﷺ dari Rahmân, yang menjadi sarana tampaknya, bahkan sempurnanya, bahkan terwujudnya sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan itu, sama sekali tidak dapat disangkal. Seperti cahaya-cahaya alam hakikat dan hakikat kainat, kerasulannya juga merupakan suatu cahaya paling terang dalam kainat.
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻋَﺎﺷِﺮَﺍﺕِ الْاَيَّامِ ﻭَﺫَﺭَّﺍﺕِ الْاَنَامِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
BUTIR HIKMAH KEEMPAT DARI LEM'A KETIGA PULUH
Suatu butir hikmah dari ayat
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ
dan suatu manifestasi Nama Fard, yang merupakan Ismul A'zham yang mengandung Nama Wâhid dan Ahad, atau salah satu dari enam cahaya Ismul A'zham, tampak kepadaku pada bulan Syawal yang mulia di Penjara Eskişehir. Kami menyerahkan uraian manifestasi terbesar itu kepada Risale-i Nur. Di sini, melalui tujuh isyarat singkat, kami akan menjelaskan dengan sangat ringkas tauhid sejati yang ditunjukkan tajalli terbesar Nama Fard.
ISYARAT PERTAMA:
Kalimat Kedua Puluh Dua dan Surat Ketiga Puluh Tiga telah memperlihatkan secara terperinci bahwa melalui suatu tajalli terbesar, Nama Fard, yang merupakan Ismul A'zham, meletakkan satu cap tauhid dan satu meterai Keesaan pada keseluruhan kainat, setiap jenisnya, dan setiap individunya. Di sini kami hanya akan memberi isyarat kepada tiga cap.
Cap pertama:
Manifestasi Sifat Tunggal meletakkan suatu cap kesatuan pada wajah kainat sehingga menjadikan kainat sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi. Suatu sosok yang tidak dapat mengatur seluruh kainat tidak dapat menjadi pemilik sejati bagian mana pun. Cap itu ialah: makhluk-makhluk dan jenis-jenis dalam kainat saling membantu seperti roda-roda pabrik yang paling teratur. Mereka berusaha menyempurnakan tugas satu sama lain. Dengan saling menopang, saling membantu, menjawab permintaan satu sama lain, bergegas menolong satu sama lain, saling merangkul, dan saling memasuki, mereka membentuk satu kesatuan wujud sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan, seperti unsur-unsur tubuh manusia. Jika seseorang yang memegang kendali satu unsur tidak dapat memegang kendali semuanya, ia tidak dapat menguasai kendali satu unsur itu.
Saling membantu, menopang, menjawab, dan merangkul pada wajah kainat ini merupakan cap kesatuan yang sangat besar dan terang.
Cap kedua:
Di permukaan bumi dan wajah musim semi, melalui manifestasi Nama Fard, terlihat suatu meterai ahadiyah dan cap Keesaan yang begitu terang sehingga membuktikan bahwa suatu sosok yang tidak mengatur semua makhluk hidup di permukaan bumi, beserta seluruh individu, keadaan, dan kegiatannya, serta tidak melihat, mengetahui, dan menciptakan semuanya sekaligus, tidak dapat ikut campur dalam menciptakan sesuatu pun. Cap itu ialah:
Terlepas dari cap-cap yang sangat teratur tetapi tersembunyi pada bahan-bahan mineral, unsur, dan makhluk tidak hidup di permukaan bumi, pandanglah cap berukir yang ditenun dengan benang-benang dua ratus ribu golongan hewan dan dua ratus ribu jenis tumbuhan ini. Pada musim semi, di permukaan bumi, sekaligus, bersama-sama, dan saling berada dalam satu sama lain, mereka mempunyai bentuk, khidmah, rezeki, dan perlengkapan yang berbeda-beda. Di tengah campuran yang sangat padat, mereka dibedakan dan dipisahkan dengan sempurna, tanpa satu pun tertukar atau keliru, melalui ukuran yang sangat peka. Dengan mata sendiri kita melihat bahwa segala sesuatu yang diperlukan masing-masing diberikan tanpa kesulitan, tepat pada waktunya, dan dari tempat yang tidak disangka. Keadaan, pengaturan, dan cara mengurus pada wajah bumi itu merupakan suatu meterai Keesaan dan cap ahadiyah: suatu sosok yang tidak menciptakan seluruh makhluk itu sekaligus dari keadaan tidak ada dan mengurusnya bersama-sama tidak dapat ikut campur pada sesuatu pun dari segi rububiyah dan tindakan menciptakan. Sebab, jika ikut campur, keseimbangan pengaturan yang begitu luas dan tidak terbatas itu akan rusak. Namun, dengan Perintah Allah سُبْحَانَهُ juga, manusia mempunyai suatu khidmah lahir bagi berjalannya hukum-hukum Rububiyah itu dengan baik.
Cap ketiga:
Pada wajah manusia... Bahkan wajah manusia merupakan suatu cap ahadiyah. Sebab yang tidak sekaligus memandang seluruh individu manusia yang telah dan akan datang, dari zaman Adam hingga kiamat, yang tidak meletakkan suatu ciri pembeda pada satu wajah itu terhadap masing-masing dari mereka, serta tidak meninggalkan ciri-ciri pembeda yang tidak terbatas pada wajah kecil itu, tidak dapat mengulurkan tangan untuk menciptakan meterai Keesaan pada wajah satu manusia pun.
Ya, seluruh individu manusia tentu berada dalam Pandangan langsung dan lingkup Ilmu Zat yang meletakkan cap itu pada wajah manusia. Karena itu, meskipun wajah setiap manusia menyerupai yang lain pada anggota-anggota utama seperti mata, telinga, dan mulut, melalui suatu ciri pembeda wajahnya tidak sepenuhnya menyerupai satu pun wajah lain. Keserupaan anggota-anggota seperti mata dan telinga pada wajah seluruh individu merupakan suatu cap tauhid yang bersaksi bahwa Sang Pembuat jenis manusia itu satu, Wâhid. Demikian pula, untuk menjaga hak-hak manusia, lebih daripada jenis-jenis lain, terdapat banyak ciri pembeda penuh hikmah pada wajah-wajah itu, agar tidak saling tertukar dan dapat dibedakan satu sama lain. Perbedaan-perbedaan ini, sekaligus menunjukkan Kehendak, Pilihan, dan Masyîah Sang Pembuat Yang Wâhid, menjadi suatu cap ahadiyah tersendiri yang sangat halus. Suatu sosok atau sebab yang tidak menciptakan seluruh manusia, hewan, bahkan kainat, tidak dapat meletakkan cap tersebut.
ISYARAT KEDUA:
Alam-alam, jenis-jenis, dan unsur-unsur kainat saling memasuki dengan begitu terjalin sehingga sebab yang tidak memiliki keseluruhan kainat tidak dapat benar-benar mengatur satu jenis atau satu unsur pun. Seakan-akan manifestasi kesatuan Nama Fard memasukkan seluruh kainat ke dalam satu kesatuan, dan setiap sesuatu mengumumkan kesatuan itu.
Misalnya, sebagaimana satu matahari yang menjadi lampu kainat ini memberi isyarat bahwa seluruh kainat milik Satu Zat, demikian pula satu unsur udara yang berkhidmah dengan tangkas dan cekatan bagi makhluk hidup, satu api yang menjadi juru masak mereka, satu spons awan yang menyirami taman bumi, serta satu hujan yang datang membantu seluruh makhluk hidup dan menjangkau setiap tempat. Setiap golongan dari sebagian besar hewan dan tumbuhan pun tersebar bebas di seluruh permukaan bumi; jenis mereka satu dan tempat tinggal mereka juga satu. Semua itu merupakan isyarat dan kesaksian yang sangat pasti, yang menunjukkan bahwa seluruh makhluk tersebut beserta tempat tinggalnya merupakan milik satu Zat.
Dengan mengukur melalui contoh ini, jenis-jenis seluruh kainat yang saling terjalin seperti itu menjadikan keseluruhan kainat suatu keseluruhan yang tidak menerima pembagian dari segi penciptaan. Sebab yang tidak menguasai seluruh kainat tidak dapat menguasai sesuatu pun dari segi rububiyah dan cara menciptakan, serta tidak dapat membuat satu zarah pun menaati rububiyahnya.
ISYARAT KETIGA:
Melalui tajalli terbesar Nama Fard, kainat dijadikan surat-surat Shamad yang tidak terbatas, saling berada dalam satu sama lain. Seakan-akan pada setiap surat dibubuhkan meterai Keesaan yang tidak terbatas dan banyak cap ahadiyah. Setiap surat membawa cap-cap ahadiyah sebanyak jumlah katanya, serta menunjukkan Penulisnya sebanyak jumlah cap tersebut.
Ya, setiap bunga, buah, rumput, bahkan setiap hewan dan pohon, merupakan satu cap ahadiyah dan satu cap shamadiyah. Karena tempat mereka berada menjadi suatu surat, masing-masing menjadi seperti tanda tangan yang menunjukkan Penulis tempat tersebut.
Misalnya, suatu bunga kuning dalam taman merupakan suatu cap Pengukir taman itu. Milik siapa cap bunga itu, seluruh bunga sejenis di permukaan bumi merupakan kata-kata Zat tersebut, dan taman itu juga Tulisan-Nya. Bunga itu menunjukkan hal ini dengan jelas.
Jadi, setiap sesuatu menisbatkan seluruh benda kepada Khâliq-nya dan memberi isyarat kepada tauhid pada taraf terbesar.
ISYARAT KEEMPAT:
Manifestasi terbesar Nama Fard, selain tampak seterang matahari, dapat diterima dengan nalar pada taraf niscaya dan dengan kemudahan yang tidak terbatas. Dalam bagian-bagian Risale-i Nur telah dijelaskan banyak bukti bahwa syirik, yang bertentangan dan berlawanan dengan manifestasi tersebut, sangat sulit serta sangat jauh dari akal, bahkan pada taraf mustahil dan tidak mungkin. Untuk sementara, kami menyerahkan uraian pokok-pokok dalam dalil itu kepada risalah-risalah tersebut dan hanya akan menjelaskan tiga pokok di sini.
Yang pertama:
Pada akhir Kalimat Kesepuluh dan Kedua Puluh Sembilan secara ringkas, serta pada akhir Surat Kedua Puluh secara terperinci, kami telah membuktikan dengan bukti-bukti yang sangat pasti bahwa bagi Kudrat Zat Yang Fard dan Ahad, menciptakan sesuatu yang terbesar sama mudahnya dengan sesuatu yang terkecil. Dia menciptakan musim semi semudah menciptakan satu bunga. Pada setiap musim semi Dia dengan mudah mengadakan ribuan contoh kebangkitan di hadapan mata kita. Dia mengurus pohon besar dengan leluasa seperti buah kecil. Jika diserahkan kepada banyak sebab, setiap buah akan memerlukan biaya dan kesulitan sebesar satu pohon, dan satu bunga akan memerlukan jerih payah dan kesulitan sebesar satu musim semi.
Ya, jika perlengkapan militer suatu pasukan dibuat dalam satu pabrik atas perintah satu panglima, menyiapkan perlengkapan pasukan itu menjadi hampir semudah menyiapkan perlengkapan satu prajurit. Jika perlengkapan setiap prajurit dibuat dalam pabrik yang terpisah dan pengaturan militer beralih dari kesatuan kepada kemajemukan, setiap prajurit akan membutuhkan pabrik-pabrik sebanyak yang diperlukan satu pasukan.
Demikian pula, jika segala sesuatu dinisbatkan kepada Zat Yang Fard dan Ahad, individu-individu yang tidak terbatas dari satu jenis menjadi semudah satu individu. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, setiap individu menjadi sesulit seluruh jenis itu. Ya, kesatuan dan Sifat Tunggal pun terjadi melalui hubungan setiap sesuatu dengan Zat Yang Wâhid itu serta sandaran kepada-Nya. Sandaran dan hubungan ini dapat menjadi kekuatan dan kudrat yang tidak terbatas bagi sesuatu tersebut. Pada saat itu, dengan kekuatan hubungan dan sandaran itu, suatu benda kecil dapat melakukan pekerjaan dan menghasilkan buah ribuan kali melampaui kekuatan pribadinya. Sesuatu yang tidak bersandar dan tidak berhubungan dengan Fard dan Ahad Yang Sangat Kuat hanya dapat melakukan pekerjaan kecil sesuai dengan kekuatan pribadinya, dan hasilnya pun mengecil sesuai dengan itu.
Misalnya, seorang yang bukan anggota pasukan tetap, sangat berani dan kuat, terpaksa membawa amunisi serta bahan pangannya sendiri di tubuh dan pinggangnya. Karena itu, ia hanya dapat bertahan sementara melawan sepuluh musuh. Sebab, kekuatan pribadinya hanya dapat menghasilkan sebanyak itu. Namun, melalui surat dinas militer, seseorang yang berhubungan dan bersandar kepada seorang panglima tertinggi tidak harus menarik sendiri sumber kekuatan serta gudang bahan pangannya, ataupun membawa semuanya. Karena itu, hubungan dan sandaran tersebut menjadi kekuatan serta khazanah yang tidak habis baginya. Dengan kekuatan hubungan itu, ia dapat menawan seorang marsekal dari pasukan musuh yang telah kalah, bahkan beserta ribuan orang.
Jadi, dalam kesatuan dan Sifat Tunggal, sebagaimana seekor semut dapat mengalahkan seorang Fir'aun, seekor lalat mengalahkan seorang Namrud, dan satu mikroba mengalahkan seorang penguasa lalim dengan kekuatan hubungan itu, sebuah benih sekecil kacang arab pun dapat memikul pohon pinus sebesar gunung di bahunya. Ya, seorang panglima tertinggi dapat mengirimkan satu pasukan untuk membantu seorang prajurit dan mengerahkan pasukan di belakangnya. Karena itu, dengan kekuatan rohani seakan-akan suatu pasukan berada di belakangnya, prajurit itu dapat menjalankan pekerjaan yang sangat besar atas nama panglimanya.
Demikian pula, karena Sang Sultan Azali adalah Fard dan Ahad—sama sekali tidak ada kebutuhan, tetapi seandainya ada kebutuhan—Dia mengirim segala sesuatu untuk membantu setiap sesuatu, serta mengerahkan pasukan kainat di belakang setiap sesuatu. Setiap sesuatu bersandar kepada kekuatan sebesar kainat, dan terhadap setiap sesuatu, seluruh benda—seandainya memang diperlukan—dapat menjadi Kekuatan Sang Panglima Yang Fard itu. Jika tidak ada Sifat Tunggal, setiap sesuatu kehilangan seluruh kekuatan ini dan jatuh menjadi tidak berarti; hasil-hasilnya pun menjadi tidak berarti.
Munculnya karya-karya yang sangat luar biasa ini dari benda-benda yang sangat kecil dan tidak penting, yang selalu kita saksikan dengan mata sendiri, dengan sangat jelas menunjukkan Sifat Tunggal dan ahadiyah. Jika tidak demikian, hasil, buah, dan karya setiap sesuatu akan mengecil seperti bahan serta kekuatan sesuatu itu, sampai menjadi tidak berarti. Benda-benda yang sangat berharga di depan mata kita tidak lagi begitu murah dan begitu berlimpah. Melon dan delima yang sekarang dapat kita beli dengan empat puluh para, tidak dapat kita makan bahkan dengan empat puluh ribu lira.
Ya, seluruh kemudahan, murahnya harga, dan kelimpahan di dunia datang dari kesatuan serta bersaksi tentang Sifat Tunggal.
Pokok kedua:
Makhluk-makhluk diciptakan melalui dua segi. Yang satu disebut “ibda dan ikhtira”, yaitu mengadakan dari keadaan tidak ada. Yang lain disebut “insya dan tarkib”, yaitu memberinya wujud dengan menghimpun unsur dan benda yang sudah ada. Jika sesuai dengan manifestasi Sifat Tunggal dan rahasia ahadiyah, terdapat kemudahan yang tidak terbatas, bahkan kemudahan pada taraf niscaya. Jika tidak dinisbatkan kepada Sifat Tunggal, terdapat kesulitan yang tidak terbatas dan jauh dari nalar, bahkan kesulitan pada taraf mustahil. Namun, terwujudnya makhluk-makhluk dalam kainat dengan sangat sempurna, tanpa jerih payah, dengan leluasa dan mudah pada taraf tertinggi, sangat jelas memperlihatkan manifestasi Sifat Tunggal serta membuktikan bahwa setiap sesuatu merupakan karya langsung Zat Yang Fard Dzul-Jalâl.
Ya, jika seluruh benda dinisbatkan kepada Sang Fard Yang Wâhid, Dia mengadakannya dari keadaan tidak ada seperti menyalakan satu batang korek api, dengan Kudrat-Nya yang tidak berakhir, yang kebesarannya dipahami melalui karya-karya-Nya. Dengan Ilmu-Nya yang meliputi segalanya dan tidak berakhir, Dia menentukan suatu ukuran bagi setiap sesuatu yang merupakan semacam cetakan rohani. Sesuai dengan bentuk dan rancangan setiap sesuatu dalam cermin Ilmu-Nya itu, zarah-zarahnya dengan mudah menempati cetakan Ilmu tersebut dan mempertahankan kedudukannya dengan teratur.
Meskipun zarah-zarah harus dikumpulkan dari sekitarnya, karena terikat oleh Hukum Ilmu dan Arahan Kudrat melalui kaidah-kaidah menyeluruh Ilmu dan Kudrat, zarah-zarah itu datang dengan teratur seperti prajurit pasukan yang taat, mengikuti Hukum Ilmu dan Arahan Kudrat. Mereka memasuki cetakan Ilmu dan ukuran takdir yang meliputi tubuh sesuatu itu, lalu dengan mudah membentuk wujudnya. Bahkan, seperti pantulan dalam cermin mengenakan wujud luar pada kertas melalui fotografi, atau seperti surat yang ditulis dengan tulisan tidak terlihat menjadi terlihat setelah diberi bahan penampak, Kudrat dengan sangat mudah mengenakan wujud luar kepada hakikat benda-benda dan bentuk makhluk-makhluk yang berada dalam cermin Ilmu Azali Sang Fard Yang Wâhid. Dia membawanya dari alam makna ke alam yang tampak dan memperlihatkannya kepada mata.
Jika tidak dinisbatkan kepada Sang Fard Yang Wâhid, untuk menghimpun tubuh seekor lalat dari sekeliling permukaan bumi dan unsur-unsurnya dengan ukuran yang sangat peka, seakan-akan mengayak seluruh bumi dan unsur-unsurnya, membawa zarah-zarah khusus bagi tubuh khusus itu dari segala penjuru, serta menempatkannya dengan teratur dalam tubuhnya yang berseni, harus terdapat cetakan jasmani, bahkan cetakan sebanyak anggota tubuhnya. Latifah-latifah (daya-daya halus) rohani yang lembut dan teliti dalam tubuh itu, seperti indra dan ruh, juga harus didatangkan dari alam-alam rohani dengan ukuran khusus.
Dengan cara ini, menciptakan seekor lalat akan sesulit kainat, seratus kali lebih sulit di dalam kesulitan, bahkan hal mustahil di dalam hal mustahil. Sebab, seluruh ahli agama dan ilmu sepakat bahwa selain Khâliq Yang Fard, tidak sesuatu pun dapat mengadakan dari keadaan tidak ada. Maka, jika diserahkan kepada sebab-sebab dan alam, setiap sesuatu hanya dapat diberi wujud dengan menghimpunnya dari sebagian besar benda lain.