Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Yang pertama:

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Yang pertama:

Seluruh lebah sejenis di seluruh bumi menerima perbuatan yang sama pada waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan juz'i dan khusus tersebut merupakan suatu ujung perbuatan yang meliputi seluruh permukaan bumi. Maka, siapa Pelaku dan Pemilik perbuatan besar itu, perbuatan juz'i tersebut juga milik⁠-⁠Nya.

Segi kedua:

Untuk menjadi Pelaku perbuatan yang mengarah kepada penciptaan lebah ini diperlukan Kemampuan dan Pilihan yang begitu besar sehingga dapat mengetahui serta menjamin syarat kehidupan, perlengkapan, dan hubungan lebah itu dengan kainat. Karena itu, Zat yang melakukan perbuatan juz'i tersebut hanya dapat melakukannya dengan begitu sempurna bila Kekuasaan⁠-⁠Nya berlaku pada sebagian besar kainat.

Jadi, perbuatan yang paling kecil dan bersifat juz'i memperlihatkan melalui dua segi bahwa ia khusus bagi Khâliq segala sesuatu.

Yang paling patut diperhatikan dan diherankan ialah berikut ini: sifat Azali dan Kekal Selamanya, yang merupakan sifat paling khusus serta tuntutan Zat Yang Wâjibul Wujûd, Pemilik “Wujud Yang Niscaya”, tingkatan wujud yang paling kuat; “Tidak Terikat Materi”, taraf wujud yang paling tetap; “Bebas dari Tempat”, keadaan wujud yang paling jauh dari lenyap; dan “Keesaan”, sifat wujud yang paling kokoh serta paling Suci dari perubahan dan tidak ada, diberikan kepada hal-hal seperti eter dan zarah. Padahal, eter serta zarah merupakan bahan jasmani yang begitu banyak dan tidak terbatas, pada tingkatan wujud yang paling lemah, tarafnya yang paling tipis, keadaan yang paling mudah berubah serta berganti, dan paling tersebar dalam ruang. Menganggap benda-benda itu bersifat azali, menisbatkan sifat azali kepada mereka, serta mengira sebagian hasil Perbuatan Allah سُبْحَانَهُ datang dari mereka merupakan pemikiran yang begitu bertentangan dengan hakikat dan kenyataan, jauh dari akal, serta batil. Hal ini telah diperlihatkan melalui bukti-bukti pasti dalam banyak bagian Risale-i Nur.

SINAR KEDUA:

Terdiri atas dua persoalan.

Persoalan pertama:

Suatu segi dari hakikat terbesar yang diisyaratkan ayat-ayat seperti

لَا ﺗَﺎْﺧُﺬُﻩُ ﺳِﻨَﺔٌ وَلَا ﻧَﻮْﻡٌ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ ٭ ﻟَﻪُ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ,

yang menunjuk kepada suatu manifestasi terbesar Nama Qayyûm, ialah sebagai berikut:

Tegaknya, berlangsungnya, dan tetap adanya benda-benda langit dalam kainat ini terikat kepada rahasia Qayyumiyah. Jika manifestasi Qayyumiyah itu memalingkan wajahnya selama satu menit, jutaan bola langit, yang sebagian seribu kali lebih besar daripada bumi, akan tercerai-berai dalam kekosongan angkasa yang tidak berakhir, saling bertabrakan, dan lenyap menjadi tidak ada.

Misalnya, kemampuan menjaga tetap ada dari seseorang yang membuat ribuan istana megah tetap berada serta melakukan perjalanan di udara—sebagai pengganti pesawat—dengan keteraturan sempurna, diukur melalui tetapnya, keteraturan, dan berlangsungnya istana-istana di udara itu. Demikian pula Zat Yang Qayyûm Dzul-Jalâl, melalui rahasia Qayyumiyah, memberi benda-benda langit yang tidak terbatas dalam bahan eter suatu keadaan berdiri, tetap ada, dan berlangsung dalam keteraturan serta keseimbangan pada taraf tertinggi. Dia membuat jutaan bola langit yang besar, sebagian seribu dan sebagian sejuta kali lebih besar daripada bumi, tetap berada dalam kekosongan tanpa tiang serta sandaran. Sekaligus, Dia memberi masing-masing suatu tugas dan, dalam bentuk pasukan yang sangat megah, membuatnya menaati dengan tunduk sepenuhnya Firman-firman yang datang dari Perintah “kün feyekûn”. Sebagaimana hal ini menjadi suatu ukuran manifestasi terbesar Nama Qayyûm, zarah-zarah setiap makhluk pun, seperti bintang-bintang, berdiri melalui rahasia Qayyumiyah, serta tetap ada dan berlangsung melalui rahasia tersebut.

Ya, zarah-zarah dalam tubuh makhluk hidup berkumpul dalam kelompok-kelompok dengan susunan khusus bagi setiap anggota dan tidak tercerai-berai. Di tengah badai unsur yang mengalir seperti banjir, mereka mempertahankan kedudukannya, tidak tercerai-berai, serta tetap berada dengan teratur. Jelas hal ini bukan berasal dari diri mereka sendiri, melainkan melalui rahasia Qayyumiyah. Karena itu, setiap tubuh merupakan batalion yang teratur dan setiap jenis merupakan pasukan yang teratur. Sebagaimana seluruh makhluk hidup dan benda gabungan tetap berada serta bergerak di permukaan bumi, dan bintang-bintang dalam alam angkasa, zarah-zarah ini juga mengumumkan rahasia Qayyumiyah melalui bahasa-bahasa yang tidak terbatas.

Persoalan kedua:

Bagian ini mengharuskan pemberian isyarat kepada sebagian manfaat dan hikmah benda-benda yang berkaitan dengan rahasia Qayyumiyah.

Ya, hikmah adanya, tujuan fitrah, manfaat penciptaan, serta hasil kehidupan setiap sesuatu masing-masing ada tiga jenis:

Jenis pertama berkaitan dengan dirinya, manusia, dan manfaat bagi manusia.

Jenis kedua lebih penting: setiap sesuatu merupakan suatu ayat, surat, kitab, dan kasidah yang dapat dibaca seluruh makhluk sadar serta memperkenalkan manifestasi Asma Sang Fâthir Dzul-Jalâl. Dengan demikian, setiap sesuatu menyampaikan maknanya kepada pembaca-pembacanya yang tidak terbatas.

Jenis ketiga milik Sang Pembuat Dzul-Jalâl dan berkaitan dengan⁠-⁠Nya. Jika satu manfaat dan hasil setiap sesuatu berkaitan dengan dirinya, ratusan berkaitan dengan Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Sang Pembuat Dzul-Jalâl menyaksikan sendiri keajaiban Seni⁠-⁠Nya serta memandang manifestasi Asma⁠-⁠Nya pada ciptaan⁠-⁠Nya. Dalam jenis ketiga yang terbesar ini, hidup selama satu detik sudah mencukupi.

Terdapat pula suatu rahasia Qayyumiyah yang mengharuskan adanya setiap sesuatu, yang akan dijelaskan dalam Sinar Ketiga.

Suatu ketika, melalui manifestasi rahasia kainat dan teka-teki penciptaan, aku memandang hikmah serta manfaat makhluk-makhluk dan berkata, “Mengapa benda-benda ini memperlihatkan diri demikian, lalu segera lenyap dan pergi?” Kulihat diri mereka: dengan teratur dan penuh hikmah mereka berpakaian, diberi pakaian, dihias, lalu dikirim ke pameran dan tempat untuk dipandang. Namun, dalam satu atau dua hari, bahkan sebagian dalam beberapa menit, mereka lenyap serta pergi tanpa manfaat dan sia-sia. Aku sangat ingin tahu: apakah tujuan mereka tampak kepada kita dalam waktu singkat ini? Saat itu, melalui Karunia Allah سُبْحَانَهُ, aku menemukan suatu hikmah penting dari datangnya makhluk-makhluk, terutama makhluk hidup, ke ruang belajar dunia. Hikmah tersebut ialah:

Setiap sesuatu, khususnya makhluk hidup, merupakan kata, surat, dan kasidah Rabb yang sangat bermakna, serta suatu pengumuman Allah سُبْحَانَهُ. Setelah dibaca seluruh makhluk sadar dan menyampaikan maknanya kepada pembaca yang tidak terbatas, bentuk jasmaninya, yang merupakan lafal serta hurufnya, lenyap.

Hikmah ini mencukupi bagiku selama sekitar setahun. Setahun kemudian, tersingkap mukjizat seni yang sangat luar biasa dan halus pada ciptaan, khususnya makhluk hidup. Kupahami bahwa rincian-rincian seni yang sangat halus dan luar biasa ini bukan hanya untuk menyampaikan makna kepada pandangan makhluk sadar. Meskipun setiap makhluk dapat dibaca oleh makhluk sadar yang tidak terbatas, pembacaan mereka terbatas, dan tidak setiap orang dapat menjangkau seluruh rincian seni pada makhluk hidup itu. Jadi, hasil penciptaan dan tujuan fitrah terpenting makhluk hidup ialah mempersembahkan keajaiban Seni⁠-⁠Nya sendiri serta hadiah dan anugerah yang diberikan⁠-⁠Nya dengan Kasih kepada Pandangan Zat Yang Qayyûm dan Azali.

Tujuan ini lama membuatku puas. Darinya kupahami bahwa pada setiap makhluk, khususnya makhluk hidup, terdapat rincian seni yang tidak terbatas untuk dipersembahkan kepada Pandangan Zat Yang Qayyûm dan Azali. Artinya, hikmah penciptaan berupa Zat Yang Qayyûm dan Azali menyaksikan Seni⁠-⁠Nya sendiri mencukupi bagi biaya yang besar itu. Beberapa waktu kemudian kulihat bahwa rincian seni pada diri dan bentuk makhluk-makhluk tidak tetap; semuanya diperbarui dan berganti dengan sangat cepat, serta berubah di dalam Kegiatan dan Daya Mencipta yang tidak berakhir. Aku mulai bertafakur: tentu hikmah Daya Mencipta dan Kegiatan ini harus sebesar Kegiatan tersebut. Kali ini kedua hikmah tadi mulai tidak mencukupi dan masih kurang. Dengan keingintahuan yang sangat besar aku mulai mencari dan meneliti hikmah lain. Beberapa waktu kemudian, lillahi'l-hamd, melalui limpahan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, tampak suatu hikmah dan tujuan yang besar serta tidak terbatas dari segi rahasia Qayyumiyah. Melaluinya dipahami suatu Rahasia Allah سُبْحَانَهُ yang disebut “rahasia kainat” dan “teka-teki penciptaan”. (Karena telah dijelaskan secara terperinci dalam Surat Kedua Puluh Empat, di sini kami hanya akan menyebut secara ringkas dua atau tiga pokoknya dalam Sinar Ketiga.)

Ya, pandanglah manifestasi rahasia Qayyumiyah dari segi ini: Dia mengeluarkan seluruh makhluk dari keadaan tidak ada, membuat masing-masing tetap berada dalam angkasa yang tidak berakhir ini dengan rahasia

ﺭَﻓَﻊَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋَﻤَﺪٍ ﺗَﺮَﻭْﻧَﻬَﺎ,

memberinya keadaan berdiri serta tetap ada, lalu membuat semuanya menerima tajalli rahasia Qayyumiyah. Jika tidak terdapat titik sandaran ini, sesuatu pun tidak dapat tetap berada dengan kekuatannya sendiri. Ia akan berguling dalam kekosongan yang tidak terbatas dan jatuh menjadi tidak ada.

Sebagaimana seluruh makhluk bersandar kepada Sang Qayyûm Dzul-Jalâl dari segi wujud, keadaan berdiri, dan tetap adanya, serta berdiri melalui⁠-⁠Nya, demikian pula ujung-ujung ribuan rangkaian keadaan dan sifat makhluk terikat, dengan rahasia

ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻳُﺮْﺟَﻊُ الْاَمْرُ ﻛُﻠُّﻪُ,

kepada rahasia Qayyumiyah yang merupakan pusat serta tiang sentral rangkaian telepon dan telegraf—semoga perumpamaan ini tidak keliru. Jika tidak bersandar kepada titik sandaran yang bercahaya itu, diperlukan ribuan hubungan sebab yang melingkar dan rangkaian sebab tanpa akhir, yang mustahil serta batil menurut orang berakal, bahkan sebanyak jumlah makhluk diperlukan hubungan sebab yang melingkar dan rangkaian sebab tanpa akhir yang batil. Misalnya, suatu benda bersandar kepada benda ini dari satu segi, seperti penjagaan, cahaya, wujud, atau rezeki; benda ini bersandar kepada yang lain, dan yang lain kepada berikutnya... Lambat laun rangkaian itu tentu tidak dapat tidak berakhir; ia akan mempunyai suatu akhir. Akhir seluruh rangkaian seperti ini tentu ialah rahasia Qayyumiyah. Setelah rahasia Qayyumiyah dipahami, tidak lagi terdapat ikatan dan makna saling bersandar dalam rangkaian-rangkaian khayalan itu; semuanya hilang. Setiap sesuatu langsung berkaitan dengan rahasia Qayyumiyah.

SINAR KETIGA:

Melalui satu atau dua pendahuluan, kami akan memberi isyarat kepada sedikit tersingkapnya rahasia Qayyumiyah dalam Daya Mencipta Allah سُبْحَانَهُ serta Kegiatan Rabb, yang diisyaratkan ayat-ayat seperti

ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﻫُﻮَ ﻓ۪ﻰ ﺷَﺎْﻥٍ ٭ ﻓَﻌَّﺎﻝٌ ﻟِﻤَﺎ ﻳُﺮ۪ﻳﺪُ ٭ ﻳَﺨْﻠُﻖُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ٭ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٭ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ.

Yang pertama:

Ketika memandang kainat, kita melihat bahwa sebagian makhluk, yang terus bergolak dalam arus waktu dan datang serta pergi kafilah demi kafilah, datang dalam satu detik lalu segera lenyap. Satu golongan datang dan pergi dalam satu menit. Satu jenis singgah selama satu jam di alam yang disaksikan, lalu masuk ke alam gaib. Sebagian datang, singgah, menjalankan tugas, dan pergi dari alam yang disaksikan ini dalam satu hari, sebagian dalam satu tahun, sebagian dalam satu abad, dan sebagian dalam berabad-abad. Perjalanan, pergerakan, kepergian, dan arus makhluk yang menakjubkan ini diarahkan serta diatur dengan keteraturan, keseimbangan, dan hikmah sedemikian rupa. Yang memimpin mereka dan kafilah-kafilah itu memimpin dengan melihat begitu teliti, penuh hikmah, dan terampil mengatur, sehingga seandainya seluruh akal bersatu menjadi satu akal, ia tidak dapat menjangkau hakikat pengaturan penuh hikmah itu ataupun menemukan kekurangan dan mengkritiknya.

Di dalam Daya Mencipta Rabb ini, Dia mengirim ciptaan-ciptaan yang menyenangkan dan dicintai⁠-⁠Nya itu, terutama makhluk hidup, ke alam gaib tanpa memberi satu pun kesempatan mengedipkan mata. Tanpa memberi satu pun kesempatan bernapas, Dia melepaskan mereka dari tugas kehidupan dunia. Dia terus memenuhi rumah tamu alam ini dan mengosongkannya tanpa persetujuan para tamu. Pena Qada dan Takdir menjadikan bumi seperti papan untuk ditulis dan dihapus. Melalui manifestasi ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ, Pena itu terus menuliskan Tulisan-tulisan⁠-⁠Nya di bumi, memperbarui, dan menggantinya.

Suatu rahasia Hikmah, tuntutan mendasar, serta sebab pendorong Kegiatan Rabb dan Daya Mencipta Allah سُبْحَانَهُ ini merupakan Hikmah yang tidak terbatas dan tidak berakhir, yang terbagi menjadi tiga cabang penting.

Cabang pertama Hikmah itu ialah: setiap jenis kegiatan, baik bersifat juz'i maupun menyeluruh, memberikan suatu kenikmatan. Bahkan pada setiap kegiatan terdapat kenikmatan.

Bahkan kegiatan merupakan kenikmatan itu sendiri. Kegiatan merupakan tampaknya wujud, yang merupakan kenikmatan itu sendiri, serta suatu gerakan melepaskan diri dan menjauh dari tidak ada, yang merupakan penderitaan itu sendiri.

Ya, setiap pemilik kemampuan dengan nikmat mengikuti terbukanya kemampuan itu melalui kegiatan. Tampaknya setiap bakat melalui kegiatan datang dari suatu kenikmatan dan menghasilkan suatu kenikmatan. Setiap pemilik kesempurnaan dengan nikmat mengikuti tampaknya kesempurnaannya melalui kegiatan. Karena pada setiap kegiatan terdapat kesempurnaan dan kenikmatan yang dicintai serta diinginkan seperti ini, dan kegiatan pun merupakan suatu kesempurnaan; serta karena dalam alam makhluk hidup terlihat manifestasi Cinta yang tidak terbatas dan Rahmat yang tidak berakhir, yang datang dari Kehidupan Yang Tetap dan Azali, manifestasi-manifestasi itu menunjukkan hal berikut. Sebagai tuntutan Kehidupan Yang Kekal Selamanya, dalam Kehidupan Yang Mahasuci itu terdapat Syuunat Suci pada taraf yang tidak terbatas—semoga ungkapan ini tidak keliru—seperti Cinta Ilahi, Kasih Suci, dan Kenikmatan Suci, yang sesuai dengan Kesucian serta niscayanya Wujud dari Zat yang membuat Diri⁠-⁠Nya dicintai seperti ini, mencintai, mengasihi, dan memberikan karunia. Melalui kegiatan yang tidak terbatas serta Daya Mencipta yang tidak berakhir, Syuunat itu terus memperbarui, mengguncangkan, dan mengubah kainat.

Cabang kedua Hikmah dalam Kegiatan Allah سُبْحَانَهُ yang tidak terbatas, yang berkaitan dengan rahasia Qayyumiyah, berhubungan dengan Asma Allah سُبْحَانَهُ. Sudah diketahui bahwa setiap pemilik keindahan ingin melihat dan memperlihatkan keindahannya; setiap pemilik keahlian ingin serta senang menarik perhatian dengan memamerkan dan mengumumkan keahliannya. Suatu hakikat dan makna indah yang keahliannya tersembunyi pun ingin serta senang muncul dan menemukan peminat. Karena kaidah-kaidah mendasar ini berlaku pada setiap sesuatu menurut tarafnya, tentu setiap Nama dari seribu satu Asmaulhusna Zat Yang Qayyûm Dzul-Jalâl, Sang Jamîl Mutlak, mempunyai Keindahan yang Sejati, Kesempurnaan yang Sejati, Keelokan yang Sejati, dan suatu Hakikat yang Sangat Indah pada setiap tingkatannya, menurut kesaksian kainat, petunjuk manifestasi⁠-⁠Nya, dan isyarat ukiran-ukiran⁠-⁠Nya. Bahkan, pada setiap tingkatan setiap Nama terdapat jenis-jenis Keindahan serta Hakikat-hakikat Indah yang tidak terbatas.

Karena makhluk-makhluk dan kainat ini merupakan cermin yang memperlihatkan Keindahan Suci Asma tersebut, lembaran yang menunjukkan ukiran-ukiran indah Asma itu, dan halaman yang mengungkapkan hakikat-hakikat indah Asma itu, tentu Asma yang tetap dan kekal itu ingin memperlihatkan manifestasi, ukiran bermakna, dan kitab-kitab Asma itu yang tidak terbatas, baik kepada Pandangan langsung Zat Yang Qayyûm Dzul-Jalâl, Musamma (Pemilik Asma tersebut), maupun kepada pandangan yang membaca dari makhluk berruh dan sadar yang tidak terhitung. Untuk memperlihatkan lembaran-lembaran yang tidak berakhir dari suatu benda yang terbatas dan berakhir, banyak individu dari satu individu, serta sangat banyak hakikat dari satu hakikat, berdasarkan Cinta Suci Allah سُبْحَانَهُ itu dan rahasia Qayyumiyah, Asma tersebut terus memperbarui serta mengubah seluruh kainat melalui manifestasi Asma itu.

SINAR KEEMPAT:

Cabang ketiga Hikmah kegiatan terus-menerus dalam kainat yang menakjubkan ialah: setiap orang yang berbelas kasih bergembira ketika membuat orang lain puas. Setiap orang yang mempunyai kasih sayang merasa puas ketika membuat orang lain bergembira. Setiap orang yang mempunyai cinta bergembira dengan menggembirakan makhluk yang layak dibuat gembira. Setiap orang yang berbudi luhur menikmati ketika membuat orang lain bahagia. Setiap orang yang adil senang ketika membuat pemilik hak berterima kasih melalui penegakan hak dan penghukuman orang yang layak dihukum. Setiap seniman yang ahli bangga ketika memamerkan seninya, serta ketika seninya bekerja menurut bentuk yang dibayangkannya dan memberikan hasil yang diinginkannya.

Setiap prinsip tadi merupakan kaidah mendasar yang berlaku dalam kainat dan alam manusia. Tiga contoh yang memperlihatkan berlakunya kaidah-kaidah ini dalam Asma Allah سُبْحَانَهُ telah dijelaskan pada Bagian Kedua Kalimat Ketiga Puluh Dua. Karena sesuai untuk menuliskan ringkasannya dalam bagian ini, kami mengatakan:

Misalnya, seseorang yang sangat berbelas kasih, dermawan, murah hati, dan berbudi luhur, sesuai dengan tuntutan watak-watak luhur dalam fitrahnya, menaikkan orang-orang yang sangat membutuhkan dan miskin ke kapal perjalanan yang besar. Ia membuat mereka puas melalui jamuan serta pemberian yang sangat sempurna, lalu membawa mereka berkeliling bumi melalui lautan. Dari tempat di atas mereka, ia menyaksikan mereka dengan gembira. Ia menikmati rasa berutang budi orang-orang yang membutuhkan itu, bergembira atas kenikmatan mereka, serta merasa gembira dan bangga atas kesenangan mereka.

Karena manusia yang merupakan semacam petugas pembagi seperti itu begitu puas dan gembira dengan memberikan jamuan kecil, tentu terdapat makna-makna Rububiyah yang khusus bagi Zat Yang Hayy lagi Qayyûm. Dia menaikkan seluruh hewan, manusia, serta malaikat, jin, dan ruh yang tidak terbatas ke kapal bumi, suatu kapal Rahmân. Dia membuka permukaan bumi bagi mereka sebagai hidangan Rabb yang dipenuhi berbagai jenis makanan, serta kenikmatan dan rezeki seluruh indra, membawa makhluk-makhluk⁠-⁠Nya yang membutuhkan, bersyukur, berutang budi, dan gembira itu melakukan perjalanan di segenap penjuru kainat, serta menggembirakan mereka dengan begitu banyak pemberian di dunia ini. Sekaligus, dalam tempat tinggal yang kekal Dia menjadikan setiap surga⁠-⁠Nya suatu hidangan untuk jamuan yang terus berlangsung. Dari rasa terima kasih, rasa berutang budi, kegembiraan, dan sukacita makhluk-makhluk itu datang Syuunat Ilahi yang tidak mampu dan tidak diizinkan kami ungkapkan. Makna-makna Rububiyah itu diisyaratkan melalui nama-nama seperti “Rasa Puas Suci”, “Kebanggaan Suci”, dan “Kenikmatan Suci”. Makna-makna tersebut mengharuskan Kegiatan yang terus berlangsung serta Daya Mencipta yang terus-menerus ini.

Misalnya pula, jika seorang seniman ahli membuat fonograf tanpa piringan rekaman, lalu fonograf itu berbicara dan bekerja menurut kehendaknya, betapa bangga serta nikmatnya seniman itu! Kepada dirinya ia berkata, “Mâşâallah”. Karena suatu seni kecil yang bersifat lahir dan tidak mengadakan dari keadaan tidak ada dapat membangkitkan rasa bangga serta puas sebesar itu dalam ruh senimannya, tentu terdapat makna-makna seperti Kebanggaan Suci dan Rasa Puas Suci, serta Syuunat luhur Rububiyah dari jenis ini, bagi Sang Pembuat makhluk-makhluk ini Yang Hakîm. Dia menjadikan seluruh kainat musik Allah سُبْحَانَهُ serta suatu pabrik menakjubkan yang berbunyi dengan jenis-jenis nada yang tidak terbatas, mengeluarkan suara, bertasbih, berzikir, dan berbicara. Sekaligus, Dia memperlihatkan setiap jenis serta alam dalam kainat melalui seni dan mukjizat seni yang tersendiri, serta membuat banyak mesin seperti fonograf, kamera, dan telegraf dalam kepala makhluk hidup, bahkan pada kepala yang terkecil. Dalam setiap kepala manusia, Dia bukan hanya membuat fonograf tanpa piringan, kamera tanpa cermin, dan telegraf tanpa kabel, melainkan suatu mesin yang dua puluh kali lebih luar biasa daripada semuanya. Makna-makna yang datang dari membuatnya serta dari bekerjanya mesin itu dan diberikannya hasil menurut Kehendak⁠-⁠Nya tentu dan pasti mengharuskan Kegiatan yang terus berlangsung ini.

Misalnya pula, seorang penguasa yang adil menikmati, merasa bangga, dan puas ketika menegakkan hak dengan mengambil hak orang yang dizalimi dari orang zalim, melindungi orang miskin dari kejahatan orang kuat, serta memberikan kepada setiap orang hak yang layak diterimanya. Karena hal ini merupakan kaidah mendasar kekuasaan dan keadilan, tentu terdapat Syuunat Rabb serta Makna-makna Suci bagi Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, Sang Penguasa Yang Hakîm, ‘Adl Yang ‘Âdil. Dia memberikan syarat-syarat kehidupan yang disebut “hak-hak kehidupan” kepada seluruh makhluk⁠-⁠Nya, khususnya makhluk hidup; menganugerahkan perlengkapan untuk menjaga kehidupan mereka; serta melindungi yang lemah dari kejahatan yang kuat dengan penuh kasih. Pada semua makhluk hidup di dunia ini, pelaksanaan Rahasia Keadilan berlangsung sepenuhnya dari jenis penegakan hak, dan sebagian dari jenis pemberian hukuman kepada yang tidak benar. Terutama, dari tajalli Keadilan Terbesar pada Pengadilan Terbesar Kebangkitan, lahir Syuunat Rabb dan Makna-makna Suci yang tidak mampu kami ungkapkan itu, yang mengharuskan Kegiatan terus-menerus dalam kainat ini.

Seperti ketiga contoh ini, setiap Asmaulhusna, melalui kegiatan terus-menerus tersebut, menjadi sarana bagi beberapa Syuunat Suci Allah سُبْحَانَهُ seperti ini. Karena itu, Asma tersebut mengharuskan Daya Mencipta yang terus berlangsung.

Karena setiap kemampuan dan bakat memberikan kelegaan, rasa luas, serta kenikmatan ketika berkembang, terbuka, dan berbuah; setiap orang bertugas merasakan ketenangan serta rasa puas yang besar ketika melaksanakan, menyelesaikan, dan dibebaskan dari tugasnya; serta memperoleh banyak buah dari satu benih dan keuntungan seratus dirham dari satu dirham merupakan keadaan serta perdagangan yang sangat menggembirakan bagi pemiliknya, tentu terdapat makna-makna penting pada Perbuatan Allah سُبْحَانَهُ yang membuka bakat-bakat tidak terbatas dalam seluruh makhluk⁠-⁠Nya. Setelah menggunakan semua makhluk dalam tugas-tugas yang berharga, Dia melepaskannya dengan cara yang memajukan, yaitu menaikkan unsur ke tingkat mineral, mineral ke kehidupan tumbuhan, tumbuhan melalui rezeki ke taraf kehidupan hewan, serta hewan ke kehidupan manusia yang tinggi dan sadar.

Kegiatan terus-menerus dan Daya Mencipta Rabb ini membuat setiap makhluk hidup, dengan lenyapnya satu wujud lahirnya, meninggalkan banyak wujud lain seperti ruh, hakikat, identitas, dan bentuknya, serta menempatkan wujud-wujud itu untuk mengambil alih tugasnya—sebagaimana dijelaskan dalam Surat Kedua Puluh Empat. Dari hal ini dapat dipahami betapa penting Makna-makna Suci dan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ yang datang dari Kegiatan serta Daya Mencipta tersebut.

Jawaban Pasti atas Suatu Pertanyaan Penting

Sebagian orang sesat berkata:

“Zat yang mengubah dan mengganti kainat melalui kegiatan terus-menerus tentu harus juga berubah dan berganti.”

Jawaban:

Hâşâ seratus ribu kali hâşâ! Berubahnya cermin-cermin di bumi tidak menunjukkan berubahnya matahari di langit, melainkan menunjukkan diperbaruinya manifestasi pantulannya. Mustahil Zat Yang Mahasuci, Yang Azali, Tidak Berakhir, Kekal Selamanya, Sempurna Secara Mutlak dalam segala segi, serta sama sekali Tidak Membutuhkan Apa Pun, Tidak Terikat Materi, Mahasuci, Bebas, dan Mahatinggi di atas tempat, batasan, serta keadaan yang dapat ada atau tidak ada, berubah atau berganti. Berubahnya kainat bukan bukti berubahnya Dia, melainkan bukti bahwa Dia tidak berubah dan tidak berganti. Sebab, Zat yang terus mengubah banyak sesuatu dengan teratur dan menggerakkannya harus tidak berubah serta tidak bergerak. Misalnya, ketika engkau memutar banyak peluru meriam dan bola yang terikat pada banyak tali, terus menggerakkannya dengan teratur, dan memberi kedudukan-kedudukan tertentu kepadanya, engkau perlu tetap berada di tempatmu tanpa berubah atau bergerak. Jika tidak demikian, engkau akan merusak keteraturan itu.

Sudah dikenal bahwa yang menggerakkan dengan teratur harus tidak bergerak, dan yang terus mengubah harus tidak berubah, agar pekerjaan itu tetap berlangsung dengan teratur.

Kedua:

Perubahan dan pergantian datang dari munculnya sesuatu setelah sebelumnya tiada, pembaruan untuk menjadi sempurna, kebutuhan, sifat jasmani, dan keadaan yang dapat ada atau tidak ada. Zat Yang Mahasuci, karena Tidak Memiliki Permulaan, Sempurna Secara Mutlak dalam setiap segi, sama sekali Tidak Membutuhkan Apa Pun, Tidak Terikat Materi, serta Wâjibul Wujûd, tentu mustahil berubah dan berganti; hal itu tidak mungkin.

SINAR KELIMA:

Terdiri atas dua persoalan.

Persoalan pertama:

Jika ingin melihat manifestasi terbesar Nama Qayyûm, kami menjadikan khayal kami dua teropong yang dapat menyaksikan seluruh kainat: satu memperlihatkan benda-benda yang paling jauh, dan yang lain zarah-zarah yang paling kecil. Melalui teropong pertama kami melihat bahwa dengan manifestasi Nama Qayyûm, jutaan bola langit dan bintang, yang seribu kali lebih besar daripada bumi, tanpa tiang dalam bahan eter yang lebih halus daripada udara, sebagian dibuat tetap berada dan sebagian dibawa melakukan perjalanan untuk suatu tugas.

Kemudian, dengan teropong kedua yang merupakan mikroskop dalam khayal, kami memandang untuk melihat zarah-zarah kecil. Melalui rahasia Qayyumiyah, zarah-zarah tubuh setiap makhluk hidup di bumi mengambil kedudukan teratur seperti bintang, bergerak, dan menjalankan tugas. Khususnya, kami melihat kumpulan-kumpulan sangat kecil yang terbentuk dari zarah dan disebut “sel darah merah dan putih” dalam darah makhluk hidup bergerak, seperti bintang pengembara, melalui dua gerakan teratur seperti Mevlevi.

Ringkasan dari Segala Ringkasan:

{Catatan kaki (Hâsyiyah): Ini merupakan ringkasan sangat singkat dari dasar dan pokok enam risalah kecil dalam Lem'a Ketiga Puluh serta enam Nama Suci yang membawa rahasia Ismul A'zham.} Untuk memandang Cahaya Suci yang dibentuk enam Nama Ismul A'zham dengan berpadu seperti tujuh warna dalam cahaya, sesuai untuk menyebut suatu ringkasan. Demikianlah:

Pandanglah dari balik manifestasi terbesar Nama Qayyûm, yang membuat seluruh makhluk kainat tetap berada, tetap ada, dan berdiri seperti ini: manifestasi terbesar Nama Hayy membuat seluruh makhluk hidup itu menyala melalui manifestasi⁠-⁠Nya, menerangi kainat, serta memberi seluruh makhluk hidup kilau melalui manifestasi⁠-⁠Nya.

Sekarang lihatlah: di balik Nama Hayy, manifestasi terbesar Nama Fard memasukkan seluruh kainat beserta jenis dan bagiannya ke dalam satu kesatuan, meletakkan cap kesatuan pada dahi setiap sesuatu, membubuhkan meterai Ahadiyah pada wajahnya, serta membuatnya mengumumkan manifestasi⁠-⁠Nya melalui bahasa-bahasa yang tidak berakhir dan tidak terbatas.

Sekarang pandanglah manifestasi terbesar Nama Hakam di balik Nama Fard. Setiap makhluk yang kita saksikan dengan dua teropong khayal, dari bintang hingga zarah, baik bersifat juz'i maupun menyeluruh, dari lingkup terbesar hingga terkecil, dicakupnya dalam tatanan yang berbuah, keteraturan penuh hikmah, dan susunan yang membuahkan hasil, sesuai serta layak bagi masing-masing. Seluruh makhluk dihias dan diberinya kilau.

Kemudian pandanglah dari balik manifestasi terbesar Nama Hakam: melalui manifestasi terbesar Nama ‘Adl, sebagaimana dijelaskan dalam Butir Hikmah Kedua, Dia mengatur seluruh kainat beserta makhluknya dalam Kegiatan terus-menerus dengan keseimbangan, ukuran, dan timbangan yang begitu menakjubkan. Jika satu benda langit kehilangan keseimbangannya bahkan selama satu detik, yaitu keluar dari manifestasi Nama ‘Adl, hal itu akan menyebabkan kekacauan di antara bintang dan terjadinya kiamat. Dari lingkup makhluk terbesar, Bimasakti, yakni sabuk besar yang disebut Samanyolu, hingga lingkup gerak sel darah merah dan putih, setiap lingkup serta setiap makhluk diberi bentuk dan kedudukan yang ditentukan melalui keseimbangan serta ukuran yang peka. Hal ini memperlihatkan bahwa seluruh makhluk, dari pasukan bintang hingga pasukan zarah, menaati dengan tunduk sepenuhnya Perintah-perintah yang datang dari Perintah “kün feyekûn”.

Sekarang pandanglah manifestasi terbesar Nama Quddûs di balik manifestasi terbesar Nama ‘Adl, sebagaimana dijelaskan dalam Butir Hikmah Pertama. Manifestasi itu membuat dan memperlihatkan seluruh makhluk kainat begitu bersih, suci, jernih, indah, berhias, dan bening, sehingga seluruh kainat dan makhluk diberi bentuk cermin-cermin indah yang layak bagi Keindahan Zat Sang Jamîl Mutlak pada taraf tidak terbatas, serta sesuai dengan Asmaulhusna⁠-⁠Nya yang tidak berakhir indahnya.