PETUNJUK TERSIRAT KEEMPAT:
Pada sifat kehidupan yang kedua puluh delapan, telah dijelaskan bahwa:
Kehidupan berkaitan dengan enam rukun iman, membuktikannya, dan memberikan isyarat kepada nyata adanya rukun-rukun tersebut.
Ya, karena hasil, inti, dan hikmah penciptaan kainat yang terpenting ialah kehidupan, tentu hakikat yang tinggi itu tidak terbatas pada kehidupan dunia yang fana, sangat singkat, tidak sempurna, dan penuh penderitaan ini. Tujuan, hasil, dan buah yang layak bagi kebesaran pohon kehidupan, yang kebesaran hakikatnya dipahami melalui dua puluh sembilan sifat kehidupan, ialah kehidupan yang kekal selamanya dan kehidupan akhirat. Itulah kehidupan dalam tempat tinggal kebahagiaan yang batu, pohon, dan tanahnya pun hidup. Jika tidak demikian, pohon kehidupan yang dilengkapi perlengkapan penting yang tidak terbatas ini akan menjadi tanpa buah, manfaat, dan hakikat bagi makhluk sadar, khususnya manusia. Dari segi modal dan perlengkapan, manusia misalnya dua puluh kali lebih unggul daripada burung pipit. Sebagai makhluk paling penting, tinggi, dan berarti di antara makhluk kainat dan makhluk hidup, manusia akan jatuh dua puluh kali lebih rendah daripada burung pipit dari segi kebahagiaan hidup, menjadi yang paling malang, hina, dan tidak berdaya. Akal yang merupakan nikmat paling berharga pun akan menjadi bencana paling penuh musibah: dengan memikirkan kesedihan masa lalu dan ketakutan masa depan, ia terus menyakiti hati manusia serta mencampurkan sembilan penderitaan pada satu kenikmatan. Hal ini seratus kali batil.
Jadi, kehidupan dunia ini membuktikan dengan pasti rukun iman kepada akhirat dan pada setiap musim semi memperlihatkan lebih dari tiga ratus ribu contoh kebangkitan kepada mata kita.
Mungkinkah Sang Pengatur Yang Qadîr, Yang menyiapkan dan menyampaikan pada waktunya seluruh kebutuhan serta perlengkapan yang diperlukan dan sesuai bagi hidupmu, dalam tubuh, taman, dan tanah airmu, dengan Hikmah, Pertolongan, dan Rahmat, tidak mengetahui serta melihatmu? Bahkan Dia mengetahui dan mendengar doa rezeki yang khusus dan juz'i dari perutmu melalui keinginannya untuk tetap ada dan hidup. Dengan makanan lezat yang tidak terbatas, Dia memperlihatkan bahwa doa itu diterima dan menyenangkan perutmu. Mungkinkah Dia tidak menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi kehidupan yang kekal selamanya, tujuan terbesar umat manusia; tidak menerima doa manusia untuk tetap ada, yang terbesar, terpenting, paling layak, dan umum, dengan membangun kehidupan akhirat dan menciptakan surga; serta tidak mendengar doa umum yang sangat kuat dari umat manusia, makhluk terpenting kainat, bahkan sultan dan hasil bumi, yang menggema dari Arasy hingga bumi, tidak menganggapnya sepenting perut kecil, tidak menyenangkannya, serta membuat Kesempurnaan Hikmah dan Rahmat-Nya yang tidak terbatas disangkal? Hâşâ seratus ribu kali hâşâ!
Mungkinkah Dia mendengar suara sangat tersembunyi dari kehidupan terkecil, mendengarkan deritanya, memberinya obat, melayani kemanjaannya, memberinya makan dengan perhatian dan kepedulian sempurna, membuatnya mendapat khidmah dengan teliti, serta menjadikan makhluk-makhluk-Nya yang besar sebagai pelayannya, tetapi kemudian tidak mendengar suara tinggi seperti gema langit dari kehidupan terbesar, berharga, kekal, dan manja, serta tidak mempertimbangkan doa untuk tetap ada, kemanjaan, dan permohonannya yang sangat penting? Seakan-akan Dia menyiapkan dan mengatur perlengkapan seorang prajurit dengan perhatian sempurna, tetapi sama sekali tidak memperhatikan pasukan yang taat dan megah; melihat zarah tetapi tidak melihat matahari; mendengar suara nyamuk tetapi tidak mendengar guntur? Hâşâ seratus ribu kali hâşâ!
Mungkinkah akal menerima bahwa Zat Yang Qadîr dan Hakîm, Yang mempunyai Rahmat dan Cinta yang tidak terbatas serta Kasih pada taraf tertinggi, sangat mencintai karya-Nya, membuat Diri-Nya sangat dicintai, dan lebih mencintai mereka yang mencintai-Nya, akan melenyapkan kehidupan serta ruh dengan kematian selamanya? Kehidupan paling mencintai-Nya, menyenangkan, dicintai, dan secara fitrah memuja Sang Pembuatnya, sedangkan ruh merupakan diri serta inti kehidupan. Mungkinkah Dia membuat pencinta dan kekasih-Nya yang tersayang itu selamanya marah dan tersinggung kepada-Nya, menyakitinya dengan mengerikan, lalu menyangkal dan membuat Rahasia Rahmat serta Cahaya Cinta-Nya disangkal? Seratus ribu kali hâşâ ve kellâ! Keindahan Mutlak yang menghias kainat ini melalui manifestasi-Nya dan Rahmat Mutlak yang menggembirakan seluruh makhluk tentu Mahasuci dan Bebas dari keburukan yang tidak terbatas, kejelekan mutlak, kezaliman mutlak, serta keadaan tanpa belas kasih seperti itu, pada taraf yang tidak berakhir.
Hasil:
Karena di dunia terdapat kehidupan, tentu manusia yang memahami rahasia kehidupan dan tidak menyalahgunakan hidupnya akan menerima kehidupan yang kekal dalam tempat tinggal yang kekal dan surga yang kekal. Âmennâ.
Sebagaimana benda-benda bercahaya di bumi berkilau melalui pantulan matahari, dan gelembung-gelembung di permukaan laut bersinar melalui kilau cahaya lalu padam, sedangkan gelembung-gelembung yang datang setelahnya kembali menjadi cermin bagi gambaran matahari-matahari kecil, hal ini sangat jelas memperlihatkan bahwa kilau-kilau tersebut merupakan manifestasi pantulan satu matahari di tempat tinggi, serta melalui berbagai bahasa menyebut adanya matahari dan menunjuk kepadanya dengan jari-jari cahaya.
Demikian pula, melalui manifestasi terbesar Nama Muhyî dari Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, makhluk-makhluk hidup di permukaan daratan dan dalam laut bersinar dengan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ. Agar memberi tempat bagi yang datang setelahnya, mereka mengucapkan “Yâ Hay!” lalu bersembunyi di balik tabir gaib. Mereka memberikan kesaksian serta isyarat kepada Kehidupan dan niscayanya Wujud dari Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, Pemilik Kehidupan Yang Kekal Selamanya. Seluruh dalil yang bersaksi atas Ilmu Allah سُبْحَانَهُ, yang pengaruhnya tampak dalam penataan semua makhluk; seluruh bukti yang membuktikan Kudrat yang mengatur kainat; seluruh hujah yang membuktikan Kehendak dan Masyîah (Kehendak Allah سُبْحَانَهُ) yang berlaku dalam penataan serta pengaturan kainat; seluruh tanda dan mukjizat yang membuktikan kerasulan-kerasulan yang menjadi sarana Firman Rabb dan Wahyu Allah سُبْحَانَهُ; serta seluruh dalil yang bersaksi atas tujuh Sifat Allah سُبْحَانَهُ, dan seterusnya, secara bersama-sama menunjukkan, bersaksi, dan memberi isyarat kepada Kehidupan Zat Yang Hayy lagi Qayyûm.
Sebagaimana jika pada sesuatu terdapat kemampuan melihat, terdapat pula kehidupan; mendengar merupakan tanda kehidupan; berbicara menunjuk kepada adanya kehidupan; dan pilihan serta kehendak memperlihatkan kehidupan, demikian pula sifat-sifat seperti Kudrat Mutlak, Kehendak yang meliputi segalanya, dan Ilmu yang mencakup semuanya, yang nyata adanya dan jelas melalui pengaruhnya dalam kainat, dengan seluruh dalilnya bersaksi atas Kehidupan serta niscayanya Wujud dari Zat Yang Hayy lagi Qayyûm. Sifat-sifat itu bersaksi atas Kehidupan-Nya Yang Kekal Selamanya, yang melalui satu bayangan menerangi seluruh kainat dan melalui satu manifestasi menghidupkan seluruh tempat tinggal akhirat beserta zarah-zarahnya.
Kehidupan juga berkaitan dengan rukun iman kepada malaikat dan membuktikannya melalui isyarat tersirat. Sebab, karena hasil terpenting kainat ialah kehidupan, makhluk hidup adalah yang paling tersebar, salinannya diperbanyak karena bernilai, serta membuat rumah tamu bumi semarak melalui kafilah-kafilah yang datang dan pergi. Bumi telah dipenuhi jenis-jenis makhluk hidup dan selalu terisi lalu kosong kembali, dengan hikmah untuk terus memperbarui serta memperbanyak jenis makhluk hidup. Bahkan pada bahan-bahannya yang paling rendah dan membusuk, makhluk hidup diciptakan dalam jumlah besar sehingga menjadi tempat berhimpunnya makhluk-makhluk kecil. Kesadaran dan akal, ringkasan paling jernih yang disaring dari kehidupan, serta ruh, inti kehidupan yang paling halus dan tetap, juga diciptakan dalam jumlah sangat besar di bumi ini. Seakan-akan bumi dihidupkan dan dibuat semarak oleh kehidupan, akal, kesadaran, dan ruh-ruh. Maka, mustahil benda-benda langit, yang lebih halus, lebih bercahaya, lebih besar, dan lebih penting daripada bumi, tetap mati, tak bernyawa, tanpa kehidupan, dan tanpa kesadaran.
Jadi, melalui rahasia kehidupan, tentu terdapat penghuni yang sadar, hidup, dan sesuai bagi langit, yang akan membuat langit, matahari, dan bintang semarak, memberinya keadaan hidup, memperlihatkan hasil penciptaan langit, serta menerima Firman Suci. Mereka ialah para malaikat.
Rahasia hakikat kehidupan juga berkaitan dengan rukun iman kepada para nabi dan membuktikannya melalui isyarat tersirat. Ya, karena kainat diciptakan demi kehidupan, kehidupan merupakan suatu manifestasi terbesar, ukiran paling sempurna, dan Seni paling indah dari Sang Hayy Yang Qayyûm dan Azali. Kehidupan Yang Kekal Selamanya memperlihatkan Diri-Nya melalui diutusnya rasul dan diturunkannya kitab. Jika tidak ada kitab dan nabi, Kehidupan Azali itu tidak akan diketahui. Sebagaimana seseorang diketahui hidup melalui ucapannya, demikian pula para nabi dan kitab-kitab yang diturunkan ke tangan mereka akan memperlihatkan Kata-kata dan Firman Zat yang, di balik alam gaib yang berada di balik tabir kainat ini, berkata, berbicara, memerintah, melarang, dan menyampaikan Firman. Tentu, sebagaimana kehidupan dalam kainat bersaksi dengan pasti atas niscayanya Wujud dari Sang Hayy Yang Azali, ia juga berkaitan dengan rukun diutusnya rasul dan diturunkannya kitab, yang merupakan sinar, manifestasi, serta hubungan dari Kehidupan Azali itu, dan membuktikannya melalui isyarat tersirat. Khususnya, dapat dikatakan bahwa karena kerasulan Muhammad ﷺ dan wahyu Al-Qur'an merupakan ruh serta akal kehidupan, kebenaran keduanya sama pasti dengan adanya kehidupan ini.
Ya, sebagaimana kehidupan merupakan ringkasan yang disaring dari kainat, kesadaran dan perasaan juga disaring dari kehidupan dan merupakan ringkasan kehidupan. Akal disaring dari kesadaran serta perasaan dan merupakan ringkasan kesadaran. Ruh juga merupakan inti kehidupan yang murni dan jernih, serta diri kehidupan yang tetap dan mandiri. Demikian pula kehidupan jasmani dan rohani Muhammad ﷺ merupakan ringkasan dari segala ringkasan yang disaring dari kehidupan serta ruh kainat. Kerasulan Muhammad ﷺ merupakan ringkasan paling jernih yang disaring dari perasaan, kesadaran, dan akal kainat. Bahkan, melalui kesaksian pengaruh-pengaruhnya, kehidupan jasmani serta rohani Muhammad ﷺ merupakan kehidupan dari kehidupan kainat. Kerasulan Muhammad ﷺ merupakan kesadaran dan cahaya dari kesadaran kainat. Melalui kesaksian hakikat-hakikatnya yang hidup, wahyu Al-Qur'an juga merupakan ruh kehidupan kainat dan akal kesadaran kainat. Ya, ya, ya... Jika cahaya kerasulan Muhammad ﷺ keluar dan meninggalkan kainat, kainat akan wafat. Jika Al-Qur'an pergi, kainat akan menjadi gila dan bumi kehilangan kepala serta akalnya, bahkan menabrakkan kepalanya yang telah kehilangan kesadaran kepada suatu planet dan menimbulkan kiamat.
Kehidupan juga berkaitan dengan rukun iman kepada takdir dan membuktikannya melalui isyarat tersirat. Sebab, kehidupan merupakan cahaya alam yang disaksikan dan meliputinya, hasil serta tujuan wujud, cermin paling menyeluruh bagi Khâliq kainat, serta contoh dan daftar isi paling sempurna bagi Kegiatan Rabb—semoga perumpamaan ini tidak keliru—bahkan semacam Takdir. Maka, rahasia kehidupan mengharuskan bahwa alam gaib, yaitu masa lalu dan masa depan, mempunyai keteraturan, tatanan, keadaan diketahui, keadaan disaksikan, keadaan tertentu, serta kesiapan untuk menaati Perintah-perintah Penciptaan. Semua ini merupakan kehidupan rohani makhluk-makhluk masa lalu dan masa depan.
Sebagaimana benih asal dan akar suatu pohon, serta benih-benih pada ujung dan buah-buahnya, menerima suatu jenis kehidupan seperti pohon itu sendiri, bahkan membawa hukum-hukum kehidupan yang lebih halus daripada hukum kehidupan pohon, demikian pula benih dan akar yang ditinggalkan musim gugur yang lalu sebelum musim semi sekarang, serta benih dan akar yang akan ditinggalkan untuk musim-musim semi mendatang setelah musim semi ini pergi, membawa manifestasi kehidupan seperti musim semi ini dan tunduk kepada hukum-hukum kehidupan.
Demikian pula seluruh cabang dan ranting pohon kainat mempunyai masa lalu serta masa depan masing-masing. Terdapat rangkaian yang terbentuk dari tahap dan keadaan masa lalu serta masa depan mereka. Berbagai wujud dari setiap jenis dan bagiannya, melalui beragam tahap dalam Ilmu Allah سُبْحَانَهُ, membentuk suatu rangkaian wujud dalam Ilmu. Seperti wujud luar, wujud dalam Ilmu itu juga menerima suatu manifestasi rohani kehidupan umum. Ketentuan hidup diambil dari lembaran-lembaran Takdir yang bermakna dan hidup itu.
Ya, alam ruh, yang merupakan satu jenis alam gaib, dipenuhi ruh-ruh yang merupakan kehidupan itu sendiri, bahan kehidupan, serta inti dan diri kehidupan. Hal ini tentu menghendaki serta mengharuskan agar jenis lain dan bagian kedua alam gaib, yang disebut masa lalu serta masa depan, juga menerima manifestasi kehidupan. Keteraturan paling sempurna, keadaan bermakna, buah-buah yang hidup, dan tahap-tahap dalam wujud setiap sesuatu di dalam Ilmu juga menunjukkan bahwa ia menerima suatu kehidupan rohani.
Ya, manifestasi kehidupan ini, yang merupakan cahaya Matahari Kehidupan Azali, tentu tidak dapat terbatas pada alam yang disaksikan, masa sekarang, serta wujud luar ini saja. Setiap alam menerima manifestasi cahaya itu menurut kemampuannya. Kainat beserta seluruh alamnya hidup dan bercahaya melalui manifestasi tersebut. Jika tidak demikian, seperti yang terlihat oleh pandangan sesat, di balik kehidupan yang sementara dan lahir, setiap alam akan menjadi jenazah besar yang mengerikan serta alam reruntuhan yang gelap.
Dengan demikian, rukun iman kepada Takdir dan Qada juga dipahami serta ditetapkan dalam segi yang luas melalui rahasia kehidupan. Sebagaimana alam yang disaksikan dan benda-benda yang ada sekarang terlihat hidup melalui keteraturan dan hasilnya, makhluk-makhluk masa lalu serta masa depan yang termasuk alam gaib juga secara rohani mempunyai wujud rohani yang hidup dan keadaan tetap dalam Ilmu yang berruh. Melalui Lembaran Qada dan Takdir, pengaruh kehidupan rohani itu terlihat dan tampak dengan nama ketentuan-ketentuan.
PETUNJUK TERSIRAT KELIMA:
Pada sifat kehidupan yang keenam belas telah dikatakan: ketika kehidupan masuk ke dalam sesuatu, kehidupan menjadikan tubuh tersebut suatu alam. Jika tubuh itu merupakan bagian, kehidupan memberinya sifat menyeluruh seperti keseluruhan, serta kepada yang bersifat juz'i (yang sebagian), sifat menyeluruh seperti yang universal. Ya, kehidupan mempunyai sifat menyeluruh sedemikian rupa sehingga hampir menjadi cermin Ahadiyah yang lengkap, yang memperlihatkan pada dirinya sebagian besar Asmaulhusna yang bertajalli pada seluruh kainat. Ketika kehidupan memasuki suatu tubuh, ia menjadikannya alam kecil, seakan-akan suatu benih yang membawa daftar isi pohon kainat. Sebagaimana suatu benih hanya dapat merupakan karya Kudrat yang mampu membuat pohonnya, Yang menciptakan makhluk hidup terkecil tentu ialah Khâliq seluruh kainat.
Dengan sifatnya yang menyeluruh ini, kehidupan memperlihatkan rahasia Ahadiyah yang paling tersembunyi pada dirinya. Sebagaimana matahari yang besar terdapat, melalui cahaya, tujuh warna, dan pantulannya, pada setiap tetes air serta setiap zarah kaca yang menghadap kepadanya, demikian pula manifestasi Asma dan Sifat-sifat Allah سُبْحَانَهُ yang meliputi kainat bertajalli bersama dalam setiap makhluk hidup. Dari sudut pandang ini, kehidupan menjadikan kainat suatu keseluruhan yang tidak menerima pembagian dan pemisahan dari segi Rububiyah serta penciptaan, bahkan suatu keseluruhan universal yang tidak mungkin dipersekutukan atau dipisahkan.
Ya, cap pada wajahmu dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa Zat yang menciptakanmu ialah Yang menciptakan seluruh umat manusia. Sebab, hakikat manusia itu satu dan tidak mungkin dibagi. Melalui kehidupan, bagian-bagian kainat menjadi seperti individu-individunya, dan kainat menjadi seperti jenisnya. Sebagaimana kehidupan memperlihatkan cap Ahadiyah pada seluruhnya, ia juga memperlihatkan cap Ahadiyah serta meterai Shamadiyah pada setiap bagian, sehingga menyingkirkan syirik dan sekutu dari segala segi.
Dalam kehidupan juga terdapat mukjizat Seni Rabb yang begitu luar biasa sehingga suatu sosok atau kekuatan yang tidak dapat menciptakan seluruh kainat tidak dapat menciptakan makhluk hidup terkecil. Ya, seperti menuliskan seluruh Al-Qur'an pada sebutir kacang arab, Pena yang menuliskan daftar isi dan ketentuan pohon pinus yang besar pada benih pinus yang sangat kecil tentu hanya dapat merupakan Pena yang menuliskan langit dengan bintang-bintang. Zat yang memasukkan ke dalam kepala kecil seekor lebah kemampuan, kecakapan, dan perlengkapan yang membuatnya mengenal bunga-bunga di taman kainat, berhubungan dengan sebagian besar jenisnya, membawa hadiah dari Rahmat seperti madu, serta mengetahui syarat-syarat kehidupan pada hari ia datang ke dunia, tentu hanya dapat merupakan Khâliq seluruh kainat.
Kesimpulannya:
Sebagaimana kehidupan merupakan cap tauhid yang terang pada wajah kainat, setiap makhluk berruh juga merupakan cap Ahadiyah dari segi kehidupan. Ukiran seni pada setiap individu kehidupan merupakan suatu cap Shamadiyah. Makhluk-makhluk hidup menandatangani surat kainat ini dengan kehidupan mereka atas nama Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dan Wâhid lagi Ahad, sebanyak jumlah makhluk hidup. Dalam surat itu, mereka merupakan cap-cap tauhid, meterai-meterai Ahadiyah, dan cap-cap Shamadiyah. Demikian pula, sebagaimana kehidupan, setiap makhluk hidup juga merupakan suatu cap Keesaan dalam kitab kainat ini, dan pada wajah serta rupanya diletakkan suatu meterai Ahadiyah.
Sebagaimana kehidupan merupakan tanda tangan dan cap yang bersaksi atas Keesaan Zat Yang Hayy lagi Qayyûm sebanyak hal-hal juz'i kehidupan serta jumlah individu makhluk hidup, demikian pula Tindakan menghidupkan dan membangkitkan membubuhkan tanda tangan tauhid sebanyak individu-individunya. Misalnya, menghidupkan bumi, yang merupakan satu contoh Tindakan menghidupkan, adalah saksi tauhid yang terang seperti matahari. Sebab, ketika bumi bangkit dan hidup pada musim semi, tiga ratus ribu jenis beserta individu-individu yang tidak terbatas dari setiap jenis dihidupkan dan bangkit bersama-sama, saling berada dalam satu sama lain, tanpa kekurangan atau cacat, dengan sempurna dan teratur. Ya, Yang melakukan perbuatan-perbuatan teratur yang tidak terbatas seperti ini melalui satu perbuatan tentu ialah Khâliq seluruh makhluk, Sang Hayy Yang Qayyûm yang menghidupkan semua makhluk hidup, serta Wâhid lagi Ahad yang tidak mungkin mempunyai sekutu dalam Rububiyah-Nya.
Untuk sementara, hanya sedikit dan secara singkat sifat-sifat kehidupan ditulis sebanyak ini. Kami menyerahkan penjelasan serta uraian sifat-sifat lain kepada Risale-i Nur dan waktu lain.
Penutup
Ismul A'zham tidak satu dan sama bagi setiap orang, melainkan berbeda-beda.
Misalnya, bagi Imam Ali radıyallahu anh, terdapat enam Nama, yaitu “Fard, Hayy, Qayyûm, Hakam, ‘Adl, Quddûs”. Ismul A'zham Imam A'zam ialah dua Nama, “Hakam, ‘Adl”. Ismul A'zham Ghauts Yang Agung ialah “Yâ Hay!” Ismul A'zham Imam Rabbani ialah “Qayyûm”, dan seterusnya... Banyak orang lain memandang Asma lain sebagai Ismul A'zham.
Karena Butir Hikmah Kelima ini membahas Nama Hayy, sebagai sarana mengambil berkah, saksi, dalil, hujah suci, doa bagi diri kami, serta penutup yang indah bagi risalah ini, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ telah berkata demikian dalam munajatnya yang terbesar, bernama Cevşenü'l-Kebir. Melaluinya ia memperlihatkan makrifatnya kepada Allah سُبْحَانَهُ pada tingkat yang sangat tinggi dan menyeluruh. Dalam khayal kami pun pergi ke zaman itu dan, dengan berkata “Âmin!” atas apa yang diucapkan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, seakan-akan kami sendiri mengucapkan munajat yang sama. Bersama suara Muhammad ﷺ kami mengatakan:
ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﻗَﺒْﻞَ ﻛُﻞِّ ﺣَﻰٍّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺑَﻌْﺪَ ﻛُﻞِّ ﺣَﻰٍّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪ۪ ﺣَﻰٌّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ لَا ﻳُﺸْﺒِﻬُﻪُ ﺷَﻰْﺀٌ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ لَا ﻳَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺍِﻟٰﻰ ﺣَﻰٍّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ لَا ﻳُﺸَﺎﺭِﻛُﻪُ ﺣَﻰٌّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻛُﻞَّ ﺣَﻰٍّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳَﺮْﺯُﻕُ ﻛُﻞَّ ﺣَﻰٍّ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ٭ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
BUTIR HIKMAH KEENAM DARI LEM'A KETIGA PULUH
Berkaitan dengan Nama Qayyûm.
Ringkasan mengenai Nama Hayy telah menjadi tambahan bagi Nur Çeşmesi (Pancuran Cahaya). Pembahasan Nama Qayyûm ini pun dianggap sesuai untuk menjadi tambahan Kalimat Ketiga Puluh.
Permohonan Maaf:
Persoalan-persoalan yang sangat penting serta manifestasi terbesar Nama Qayyûm yang sangat dalam dan luas ini datang ke hati secara tidak berurutan, melainkan sebagai kilau-kilau terpisah. Karena juga tetap berupa draf yang sangat kacau, terburu-buru, dan belum diperiksa, tentu terdapat banyak kekurangan serta keadaan tidak teratur dalam pilihan kata dan ungkapan. Demi keindahan persoalan-persoalannya, hendaknya kalian memaafkan kekuranganku.
Peringatan:
Karena butir-butir hikmah mengenai Ismul A'zham sangat luas dan dalam, terutama persoalan Nama Qayyûm, khususnya Sinar Pertama, {Catatan kaki (Hâsyiyah): Jika pembaca risalah ini tidak berpengetahuan dalam ilmu-ilmu terkait, hendaknya ia tidak membaca Sinar Pertama atau membacanya pada akhir; mulailah dari yang kedua.} yang membahas kaum materialis dan karena itu lebih mendalam, tentu tidak setiap orang memahami setiap persoalan dari setiap segi. Namun, setiap orang dapat memperoleh bagian dari setiap persoalan sampai suatu taraf. Menurut kaidah, “Jika sesuatu tidak diperoleh seluruhnya, ia tidak ditinggalkan sama sekali,” bukanlah tindakan berakal untuk menyerah dengan berkata, “Aku tidak dapat memetik seluruh buah taman rohani ini.” Seberapa banyak seseorang memetiknya, sebanyak itulah keuntungannya.
Sebagaimana di antara persoalan-persoalan Ismul A'zham terdapat yang begitu luas sehingga tidak dapat dicakup, terdapat pula yang begitu halus sehingga tidak dapat terlihat oleh akal. Tidak setiap pikiran dapat menjangkau persoalan Nama Hayy dan Qayyûm, terutama petunjuk tersirat kehidupan kepada rukun-rukun iman, khususnya isyarat kehidupan kepada rukun Qada dan Takdir, serta Sinar Pertama Nama Qayyûm. Namun, seseorang tidak tetap tanpa bagian; bahkan hal itu pasti menguatkan imannya.
Pentingnya menguatkan iman, yang menjadi kunci kebahagiaan abadi, sangatlah besar. Bertambahnya kekuatan iman sebesar zarah merupakan suatu khazanah. Imam Rabbani Ahmad Faruqi berkata, “Tersingkapnya satu persoalan iman yang kecil, dalam pandanganku, lebih baik daripada ratusan kenikmatan rohani dan karamah.”
Suatu butir hikmah dari ayat-ayat seperti
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٭ ﻟَﻪُ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ٭ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ,
yang menunjuk kepada Qayyumiyah Allah سُبْحَانَهُ, serta suatu manifestasi terbesar Nama Qayyûm, yang merupakan Ismul A'zham, cahaya kedua dari dua cahaya Ismul A'zham, atau cahaya keenam dari enam cahayanya, tampak pada akalku pada bulan Zulkaidah. Karena keadaanku yang tidak memungkinkan di Penjara Eskişehir, tentu aku tidak dapat menjelaskan seluruh cahaya terbesar itu. Namun, dalam Kaside-i Ercuze (Kasidah Ercuze), Yang Mulia Imam Ali (ra) menjelaskan Ismul A'zham dengan nama tinggi “Sekine”. Dalam Celcelutiye, dengan Asma yang sangat megah, ia memandang keenam Nama yang terdapat dalam Ismul A'zham tersebut sebagai yang paling agung dan penting. Karena melalui pembahasannya ia juga memberi kami penghiburan secara berkaramah, mengenai Nama Qayyûm ini, seperti lima Asma sebelumnya, setidaknya kami akan memberi isyarat singkat kepada cahaya terbesar itu melalui lima sinar.
SINAR PERTAMA:
Sang Khâliq Dzul-Jalâl dari kainat ini ialah Qayyûm. Artinya, Dia Berdiri melalui Diri-Nya, Terus Ada, dan Kekal. Seluruh benda berdiri melalui-Nya, berlangsung, tetap dalam wujud, dan terus ada. Jika hubungan Qayyumiyah ini terputus dari kainat bahkan satu menit saja, kainat akan musnah. Bersama Qayyumiyah Zat Dzul-Jalâl itu, sebagaimana Dia nyatakan dalam Al-Qur'an Yang Agung, berlaku
ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪ۪ ﺷَﻰْﺀٌ.
Artinya, dalam Zat, Sifat, dan Perbuatan-Nya, tidak ada yang menyamai, setara, menyerupai, ataupun menjadi sekutu-Nya. Ya, mustahil terdapat yang menyamai, setara, menjadi sekutu, atau menyerupai Zat Yang Mahasuci, Yang memegang seluruh kainat beserta segala keadaan dan sifatnya dalam genggaman Rububiyah-Nya, lalu mengatur, mengurus, dan memeliharanya dengan keteraturan sempurna seperti satu rumah dan istana.
Ya, bagi Zat yang menciptakan bintang semudah zarah, yang sesuatu terbesar tunduk kepada Kudrat-Nya seperti sesuatu terkecil, yang tidak ada satu benda menghalangi benda lain atau satu perbuatan menghalangi perbuatan lain, yang individu-individu tidak terbatas hadir dalam Pandangan-Nya seperti satu individu, yang mendengar semua suara sekaligus serta dapat memenuhi kebutuhan tidak terbatas semuanya sekaligus, dan yang menurut kesaksian seluruh keteraturan serta keseimbangan makhluk-makhluk kainat tidak ada satu sesuatu atau satu keadaan pun berada di luar lingkup Masyîah dan Kehendak-Nya, tentu tidak ada yang setara, menyamai, menjadi sekutu, menteri, lawan, atau tandingan. Meskipun Dia tidak berada di suatu tempat pun, Dia Hadir di setiap tempat melalui Kudrat dan Ilmu-Nya. Meskipun setiap sesuatu sangat jauh dari-Nya, Dia dapat sangat dekat dengan setiap sesuatu. Zat Yang Hayy lagi Qayyûm Dzul-Jalâl ini tentu tidak mempunyai hal-hal tersebut dari segi mana pun, dan mustahil hal itu ada. Syuunat Suci-Nya hanya dapat dipandang melalui perumpamaan dan gambaran. Seluruh perumpamaan dan perbandingan dalam Risale-i Nur termasuk jenis gambaran serta perumpamaan ini.
Sebagian orang sesat mengira bahwa beberapa manifestasi-Nya, yang bertajalli dalam segi-segi kainat serta lapisan makhluk, ialah Zat Yang Mahasuci itu sendiri, lalu memberikan ketentuan-ketentuan keilahian kepada sebagian makhluk-Nya. Padahal Zat Yang Mahasuci ini Tidak Mempunyai Yang Setara, Wâjibul Wujûd, Tidak Terikat Materi, Bebas dari Tempat, Mustahil Dipisahkan dan Dibagi dari segala segi, Tidak Mungkin Berubah atau Berganti, serta Tidak Mungkin Membutuhkan sesuatu atau Menjadi Tak Berdaya. Sebagian dari mereka menisbatkan beberapa karya Zat Dzul-Jalâl itu kepada alam. Namun, di banyak tempat dalam Risale-i Nur telah dibuktikan melalui bukti-bukti pasti bahwa:
Alam merupakan karya seni Allah سُبْحَانَهُ, bukan pembuat. Ia merupakan Tulisan Rabb, bukan penulis. Ia merupakan ukiran, bukan pengukir. Ia merupakan buku catatan, bukan pengurus pembukuan. Ia merupakan hukum, bukan kudrat. Ia merupakan penggaris, bukan sumber. Ia merupakan penerima pengaruh dan dikenai tindakan, bukan pelaku. Ia merupakan keteraturan, bukan penata. Ia merupakan syariat fitrah, bukan pemberi syariat.
Dalam suatu anggapan yang mustahil, jika makhluk hidup terkecil diserahkan kepada alam dan dikatakan, “Buatlah ini,” sebagaimana telah dibuktikan di banyak tempat Risale-i Nur melalui bukti-bukti pasti, harus tersedia cetakan, bahkan mesin, sebanyak jumlah anggota serta perlengkapan makhluk hidup kecil itu, agar alam dapat melakukan pekerjaan tersebut.
Sebagian orang sesat yang disebut kaum materialis merasakan suatu manifestasi terbesar Daya Mencipta Allah سُبْحَانَهُ dan Kudrat Rabb dalam perubahan-perubahan zarah yang teratur. Namun, mereka tidak mengetahui dari mana manifestasi itu datang serta tidak memahami dari mana kekuatan umum yang datang dari manifestasi Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad itu diatur. Karena itu, dengan mengira materi dan kekuatan bersifat azali, mereka mulai menisbatkan hasil-hasil Perbuatan Allah سُبْحَانَهُ kepada zarah dan gerakannya.
Fesübhanallah! Mungkinkah terdapat ketidaktahuan yang tidak terbatas seperti ini pada manusia? Meskipun Bebas dari tempat, Dia melakukan Perbuatan dan menghasilkan karya-Nya dengan Hadir pada penciptaan setiap sesuatu di mana-mana, dengan cara yang dapat melihat, mengetahui, dan mengatur segala sesuatu. Menisbatkan Perbuatan dan hasil-hasil tersebut kepada zarah serta gerakannya, yang tak bernyawa, buta, tidak sadar, tidak mempunyai kehendak atau ukuran, dan bergolak di tengah badai kebetulan, merupakan suatu pemikiran yang begitu tidak tahu dan dipenuhi takhayul sehingga orang yang mempunyai akal sebesar zarah pun seharusnya memahaminya. Ya, karena orang-orang ini meninggalkan Keesaan Mutlak, mereka jatuh kepada kemajemukan mutlak yang tidak terbatas dan tidak berakhir. Artinya, karena tidak menerima satu ilah, mereka terpaksa menerima ilah-ilah yang tidak berakhir. Karena akal mereka yang rusak tidak dapat menampung sifat Azali dan Daya Mencipta, yang merupakan sifat khusus serta tuntutan Zat Yang Mahasuci, menurut jalan mereka sendiri mereka terpaksa menerima sifat azali, bahkan keilahian, dari zarah-zarah tak bernyawa yang tidak terbatas dan tidak berakhir itu.
Marilah, pandanglah taraf ketidaktahuan yang tidak berakhir ini! Ya, manifestasi pada zarah menjadikan kelompok zarah suatu pasukan yang teratur dan megah, melalui Daya, Kudrat, dan Perintah Wâjibul Wujûd. Jika Perintah dan Kekuatan Sang Panglima Tertinggi itu ditarik bahkan satu detik saja, kelompok yang begitu banyak, tak bernyawa, dan tidak sadar itu akan menjadi seperti pasukan tanpa aturan, bahkan musnah sama sekali.
Sebagian manusia, seakan-akan melihat lebih jauh, melalui kesesatan yang lebih penuh ketidaktahuan, mengira bahan “eter” sebagai sumber dan pelaku karena mencerminkan manifestasi Rububiyah. Padahal, eter merupakan halaman pelaksanaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang sangat halus, lembut, taat, dan tunduk; sarana pembawa Perintah-perintah-Nya; tabir lemah bagi Tindakan-Nya; midad (tinta) yang halus bagi Tulisan-Nya; pakaian paling lembut bagi ciptaan-Nya; bahan dasar ciptaan-ciptaan-Nya; dan ladang bagi benih-benih-Nya. Ketidaktahuan yang mengherankan ini mengharuskan hal-hal mustahil yang tidak terbatas. Sebab, eter merupakan bahan tanpa pilihan, kesadaran, atau nyawa, yang lebih halus daripada bahan berupa zarah yang menenggelamkan kaum materialis, serta lebih padat daripada daftar hayula tempat para filsuf lama terperosok. Menisbatkan Perbuatan dan karya-karya yang terwujud melalui Pilihan serta Kemampuan yang melihat, mengetahui, dan mengatur segala sesuatu dalam setiap sesuatu, kepada bahan yang dapat dipisah serta dibagi tanpa batas dan dilengkapi sifat serta tugas membawa dan menerima pengaruh ini, bahkan kepada zarah-zarah bahan tersebut yang berkali-kali lebih kecil daripada zarah biasa, merupakan kesalahan sebanyak jumlah zarah eter.
Ya, Tindakan menciptakan yang terlihat pada makhluk mempunyai keadaan sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa ia datang dari suatu Kemampuan dan Pilihan yang melihat serta mengetahui sebagian besar benda, bahkan seluruh kainat, dalam setiap sesuatu, terutama jika ia makhluk hidup. Kemampuan dan Pilihan itu mengenal serta menjamin hubungan makhluk hidup tersebut dengan kainat. Jadi, tindakan itu sama sekali tidak dapat menjadi tindakan sebab-sebab yang bersifat jasmani dan tidak meliputi segalanya. Ya, melalui rahasia Qayyumiyah, Tindakan menciptakan yang paling kecil dan bersifat juz'i pun membawa suatu rahasia terbesar, yang menunjukkan bahwa ia langsung merupakan Perbuatan Khâliq seluruh kainat.
Ya, misalnya, suatu perbuatan yang mengarah kepada penciptaan seekor lebah memperlihatkan melalui dua segi bahwa ia khusus bagi Khâliq kainat.