Risalah Nur — Bahasa Indonesia

[Bagian Ketiga dari Bagian Pertama El-hüccetü'z-zehra.]

Kunci Iman · Bahasa Indonesia

[Bagian Ketiga dari Bagian Pertama El-hüccetü'z-zehra.]

Pendahuluan

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺑِﻪِ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

Sebagaimana Bagian Kedua ditulis melalui perintah maknawi Al-Fatihah dalam salat serta limpahan "Eşhedü en lâ ilahe illallah", tasyahud dalam salat juga melalui bahasa kalimat "Ve eşhedü enne Muhammederresulullah" serta peringatan maknawinya, dan melalui cahaya ayat besar pada akhir Surah Al-Fath yang memperlihatkan lima mukjizat gaib,

ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺭْﺳَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪٰﻯ ﻭَﺩ۪ﻳﻦِ ﺍْﻟﺤَﻖِّ ﻟِﻴُﻈْﻬِﺮَﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﻛُﻠِّﻪ۪ ﻭَ ﻛَﻔٰﻰ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﻬ۪ﻴﺪًﺍ ٭ ﻣُﺤَﻤّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺍَﺷِﺪَّٓﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَٓﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺍﻟﺦ

, membuatku terpaksa menulis bagian ketiga demi tiga sebab yang kini tidak memiliki izin untuk kujelaskan. Aku menyerahkan perincian, penjelasan, serta hujah dengan dasar nukilan kepada Zülfikar Mu'cizat-ı Ahmediye serta Arabî Hizb-i Nurî (Wirid Nur Berbahasa Arab) mengenai kerasulan Muhammad ﷺ. Hanya melalui tiga isyarat yang amat ringkas serta pendek, dalam Isyarat Kedua dan Ketiga akan ditulis intisari dari intisari Arabî Hizb-i Nurî, dan suatu jenis terjemahan bagian mengenai kesaksian "Muhammedürresulullah" dalam risalah kecil yang ditulis di sini sebagai tafakur berbahasa Arab, wiridku yang tetap, bersama kalimat tauhid yang kuulang dalam tasbih. ISYARAT PERTAMA: Muhammad ﷺ, yang membalas Tampaknya Rububiyah, Keilahian abadi, serta anugerah-anugerah tanpa akhir Pemilik kainat ini melalui ubudiyah menyeluruh serta memperkenalkan-Nya, amat diperlukan dalam kainat ini, seperti perlunya matahari. Beliau merupakan guru yang paling agung ﷺ serta nabi besar ﷺ bagi jenis manusia, Kebanggaan Alam ﷺ, dan

menerima sapaan

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ ﻟَﻤَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ الْاَفْلَاكَ

. Sebagaimana hakikat Muhammad ﷺ merupakan sebab penciptaan alam, hasilnya, serta buahnya yang paling sempurna, hakikat-hakikat berikut juga terwujud melalui hakikat Muhammad ﷺ serta kerasulan Ahmad ﷺ: Kesempurnaan sejati kainat; kedudukannya sebagai cermin-cermin kekal Sang Jamîl Dzul-Jalâl yang abadi, Manifestasi Sifat-Sifat-Nya, hasil-hasil yang menjalankan tugas dari Perbuatan-Nya yang penuh Hikmah, serta surat-surat-Nya yang amat bermakna; bahwa kainat membawa alam kekal serta menghasilkan negeri kebahagiaan dan akhirat yang dirindukan seluruh makhluk berkesadaran. Karena itu, sebagaimana kainat bersaksi dengan amat kuat serta pasti bagi kerasulan beliau, terutama dunia Islam, seluruh manusia, dan seluruh makhluk berkesadaran juga bersaksi bagi kerasulan Ahmad ﷺ serta hakikat Muhammad ﷺ, yang memberikan kabar gembira kuat dan pasti mengenai kehidupan kekal. Mereka menginginkan kehidupan itu pada setiap waktu melalui cinta serta kerinduan yang terus-menerus, seluruh kekuatan hakikat mereka yang menyeluruh, seluruh bahasa bakat, dan bahasa seluruh doa, ibadah, serta permohonan, demi selamat dari keadaan tidak ada, lenyap sama sekali, pemusnahan abadi, serta keadaan fana mutlak yang lebih pahit dan menakutkan daripada neraka. Mereka membubuhkan tanda tangan bahwa beliau menjadi kebanggaan jenis manusia ﷺ serta makhluk paling mulia ﷺ. Demikian pula, menurut rahasia

ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ

, kebaikan yang sama nilainya dengan seluruh kebaikan serta perbuatan baik yang dikerjakan tiga ratus lima puluh juta ahli iman pada setiap hari, dalam setiap masa, masuk ke catatan kebaikan Muhammad ﷺ. Pribadi Muhammad ﷺ yang tunggal itu memperoleh kedudukan yang menerima ubudiyah menyeluruh serta limpahannya, sebesar ratusan juta, bahkan miliaran ahli ibadah yang berbuat baik. Hal ini bersaksi dengan amat kuat bagi kerasulan sosok itu serta membubuhkan tanda tangan. ISYARAT KEDUA:

ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﺎﺩِﻕُ ﺍﻟْﻮَﻋْﺪِ الْاَم۪ينِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻇُﻬُﻮﺭِﻩ۪ ﺩَﻓْﻌَﺔً ﻣَﻊَ ﺍُﻣِّﻴَّﺘِﻪِ ﺑِﺎَﻛْﻤَﻞِ ﺩ۪ﻳﻦٍ ﻭَ اِسْلَامِيَّةٍ ﻭَ ﺷَﺮ۪ﻳﻌَﺔٍ ﻭَ ﺑِﺎَﻗْﻮٰﻯ ﺍ۪ﻳﻤَﺎﻥٍ ﻭَ ﺍِﻋْﺘِﻘَﺎﺩٍ ﻭَ ﻋِﺒَﺎﺩَﺓٍ ﻭَ ﺑِﺎَﻋْﻠٰﻰ ﺩَﻋْﻮَﺓٍ ﻭَ ﻣُﻨَﺎﺟَﺎﺓٍ ﻭَ ﺩَﻋَﻮَﺍﺕٍ ﻭَ ﺑِﺎﻋَﻢِّ ﺗَﺒْﻠ۪ﻴﻎٍ ﻭَ ﺍَﺗَﻢِّ ﻣَﺘَﺎﻧَﺔٍ ﺧَﺎﺭِﻗَﺎﺕٍ ﻣُﺜْﻤِﺮَﺍﺕٍ لَا ﻣِﺜْﻞَ ﻟَﻬَﺎ

, yang menunjuk lebih dari dua puluh kesaksian, yang selalu kupandang dengan tafakur dalam wiridku.

Sejenis terjemahan serta makna singkat: Yakni, yang bersaksi bagi kerasulan Muhammad ﷺ. PERTAMA: Hujah kerasulan yang muncul dari sebelas keadaannya.

Ya, meskipun tidak belajar membaca serta menulis dan bersifat ummi, beliau muncul sekaligus, tanpa pengalaman dan tiba-tiba, dengan agama yang membuat orang-orang berakal serta filsuf empat belas abad terheran-heran, dan mencapai peringkat pertama di antara agama-agama samawi. Hal ini merupakan keadaan yang tidak menerima tandingan, sebagaimana...

Islam yang muncul dari ucapan, perbuatan, serta keadaan beliau memberikan pelajaran yang mendidik ruh, nafsu, serta akal tiga ratus lima puluh juta manusia pada setiap masa, dan mengarahkan mereka kepada kemajuan maknawi. Hal ini merupakan keadaan yang tidak memiliki tandingan.

Beliau juga muncul dengan syariat demikian sehingga melalui hukum-hukumnya yang adil, syariat itu mengatur seperlima jenis manusia dalam kemajuan jasmani serta maknawi selama empat belas abad. Hal ini merupakan keadaan yang tidak memiliki tandingan, sebagaimana...

Sosok itu ﷺ muncul dengan iman serta keyakinan demikian sehingga seluruh ahli hakikat pada setiap masa, sambil menerima limpahan dari derajat iman beliau, secara sepakat membenarkan bahwa ia berada pada derajat yang paling tinggi serta paling kuat. Penentangan para lawan tanpa batas pada masa itu tidak memberikan kecemasan, bisikan, atau keraguan sebesar zarah kepada beliau. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam kekuatan iman pun beliau tidak memiliki tandingan, dan imannya yang menyeluruh serta luhur tidak ada bandingnya.

Beliau juga memperlihatkan ubudiyah serta ibadah demikian: Menyatukan awal dengan akhir, tanpa meniru siapa pun, melihat serta memperhatikan rahasia-rahasia ibadah yang paling halus, dan bahkan pada masa yang paling gaduh menjalankan ubudiyah sepenuhnya. Hal ini merupakan keadaan yang tidak memiliki tandingan, sebagaimana...

Beliau memanjatkan doa, munajat, serta permohonan kepada Sang Khâliq-nya dengan cara demikian sehingga hingga masa ini, meskipun pemikiran-pemikiran telah terhimpun, derajat itu belum dicapai. Misalnya, dalam munajat Cevşenü'l-Kebir, dengan menjadikan seribu satu Asma Ilahi sebagai pemberi syafaat, beliau menyifati serta memperkenalkan Sang Khâliq-nya melalui cara yang tidak memiliki tandingan.

Tidak seorang pun dapat mencapai beliau dalam makrifatullah; hal ini merupakan keadaan yang tidak memiliki tandingan.

Beliau mengajak manusia kepada agama dengan keteguhan demikian dan menyampaikan kerasulannya dengan keberanian demikian sehingga meskipun kaumnya, pamannya, negara-negara besar dunia, serta pengikut agama-agama lama menentang dan memusuhinya, beliau tidak takut maupun mundur sebesar zarah, menantang mereka semua, serta berhasil. Hal ini merupakan keadaan yang tidak memiliki tandingan.

Keseluruhan delapan keadaan luar biasa serta tanpa tandingan ini merupakan kesaksian yang amat kuat bagi kebenaran serta kenabian beliau.

Keadaan-keadaan ini juga memperlihatkan bahwa sosok itu ﷺ memiliki kesungguhan serta ketenteraman pada derajat tertinggi, dan keyakinan pasti akan kebenarannya yang sempurna serta keteguhannya dalam kebenaran.

Dunia Islam pada setiap hari, setiap tasyahud, melalui jutaan lidah berkata

اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ

. Dunia Islam menyatakan ketundukan kepada tugas beliau serta membenarkan kabar gembira kebahagiaan abadi yang beliau bawa. Sebagai balasan bahwa beliau membuka jalan yang kukuh menuju kehidupan kekal yang dicari kemanusiaan melalui cinta mendalam serta kerinduan alami dan berbasis bakat yang amat kuat, dunia Islam dengan rasa berutang budi serta syukur melakukan kunjungan dan pertemuan maknawi melalui

اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ

, lalu memberikan selamat kepada beliau atas nama tiga ratus lima puluh juta, bahkan miliaran orang.

KESAKSIAN KEDUA dari dua puluh kesaksian menyeluruh, yang memuat banyak kesaksian:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺣَﻘَٓﺎﺋِﻖِ الْا۪يمَانِ ﻋَﻠٰﻰ ﺗَﺼْﺪِﻳﻘِﻪ۪

Yakni, hakikat, terwujudnya, serta kebenaran keenam rukun iman pasti bersaksi bagi kerasulan serta kebenaran Muhammad ﷺ.

Sebab, pribadi maknawi kehidupan kerasulannya, dasar seluruh pernyataannya, serta hakikat kenabiannya ialah keenam rukun itu. Karena itu, seluruh dalil yang menunjukkan terwujudnya rukun-rukun tersebut juga menunjukkan bahwa kerasulan Muhammad ﷺ benar serta beliau benar.

Sebagaimana Risalah Buah serta tambahan-tambahan Kalimat Kesepuluh menjelaskan bahwa rukun-rukun lainnya menunjukkan terwujudnya akhirat, demikian pula setiap rukun bersama hujah-hujahnya merupakan hujah bagi kerasulan beliau.

KESAKSIAN MENYELURUH KETIGA, yang memuat ribuan kesaksian:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺫَﺍﺗِﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ بِاٰلَافِ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺗِﻪِ ﻭَ كَمَالَاتِهِ ﻭَ ﻋُﻠُﻮِّ اَخْلَاقِهِ

Yakni, sosok itu ﷺ, seperti matahari, menjadi dalil bagi dirinya sendiri. Melalui ribuan mukjizat serta kesempurnaan dan akhlaknya yang luhur serta indah, beliau bersaksi dengan amat kuat bagi kerasulan serta kebenarannya.

Ya, seperti yang dibuktikan risalah luar biasa Mu'cizat-ı Ahmediye melalui lebih dari tiga ratus nukilan sahih, sosok itu ﷺ

melalui kejelasan ayat

ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ

serta

ﻭَﻣَﺎ ﺭَﻣَﻴْﺖَ ﺍِﺫْ ﺭَﻣَﻴْﺖَ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺭَﻣٰﻰ

, membelah bulan menjadi dua bagian dengan satu jari tangannya. Melalui nukilan sahih serta berita mutawatir (diriwayatkan banyak orang), lima pancuran air mengalir dari kelima jari tangan yang sama, dan seluruh pasukannya yang kehausan minum dari air itu serta menyaksikannya. Keajaiban ganjil ini juga terjadi dua kali di tempat lain. Melalui telapak yang sama, beliau melemparkan sedikit tanah kepada pasukan musuh yang menyerang; segenggam tanah masuk ke mata masing-masing, dan mereka melarikan diri ketika sedang menyerang. Dalam telapak yang sama, kerikil-kerikil bertasbih seperti manusia serta mengucapkan Sübhanallah. Demikian, melalui nukilan sahih serta sebagian melalui berita mutawatir, ratusan mukjizat yang pasti terjadi dalam sejarah, dan menurut orang-orang yang meneliti kebenaran hingga seribu, muncul dalam tangan beliau. Melalui kesepakatan sahabat serta musuh, beliau berada pada derajat tertinggi dalam sifat-sifat indah serta akhlak mulia. {(Catatan): Bahkan pahlawan keberanian, Ali (R.A.) yang mulia, berkata, ‘Ketika takut dalam perang, kami bersembunyi serta berlindung di belakang Nabi ﷺ.’ Sejarah menukil bahwa pada masa itu, bahkan musuh-musuh beliau membenarkan keunggulannya dalam setiap sifat, seperti keberanian.} Seluruh orang yang meneliti kebenaran yang menempuh jalan dengan mengikuti beliau, mencapai kesempurnaan, serta mencapai hakikat melalui ainulyaqin, secara sepakat membenarkan melalui haqqulyaqin (yakin melalui pengalaman nyata) bahwa kesempurnaan Muhammad ﷺ berada pada derajat tertinggi. Limpahan dunia Islam yang datang dari agamanya serta hakikat-hakikat Islam yang besar menunjukkan kesempurnaan beliau yang luar biasa. Jadi, tentu sosok itu ﷺ sendiri bersaksi bagi kerasulannya dengan amat terang, menyeluruh, serta luas.

KESAKSIAN KEEMPAT, yang memuat banyak kesaksian amat kuat:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺑِﻤَﺎ لَا ﻳُﺤَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺣَﻘَٓﺎﺋِﻘِﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﺍﻫ۪ﻴﻨِﻪِ

Yakni, Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya bersaksi bagi kerasulan serta kebenaran beliau melalui hakikat dan hujah tanpa batas.

Ya, dalam kumpulan Zülfikar telah dibuktikan bahwa ia merupakan mukjizat dalam empat puluh segi. Ia menerangi empat belas abad serta mengatur seperlima jenis manusia melalui hukum-hukumnya yang tidak berubah. Dari masa itu hingga sekarang, ia menantang seluruh lawan, dan tidak seorang pun berani membawa yang serupa bahkan dengan satu surahnya. Seperti yang dibuktikan dalam Âyetü'l-Kübra, keenam seginya bercahaya, keraguan tidak dapat masuk, enam kedudukan agung membubuhkan tanda tangan pada kebenarannya, dan ia bertumpu pada enam hakikat yang tidak dapat digoyahkan. Pada setiap masa, ia dibaca dengan kerinduan serta hormat oleh ratusan juta lidah,

dan pada setiap menit ditulis dengan kesucian dalam hati jutaan hafiz. Seluruh kesaksian serta iman dunia Islam memancar dari kesaksiannya, dan seluruh ilmu iman serta Islam mengalir dari sumbernya. Sebagaimana ia membenarkan kitab-kitab samawi dahulu, ia menerima pembenaran maknawi seluruh kitab serta suhuf samawi. Jadi, Al-Qur’an Yang Amat Agung, melalui seluruh hakikatnya serta seluruh hujah yang membuktikan kebenarannya, bersaksi bagi kebenaran dan kerasulan Muhammad ﷺ. KESAKSIAN-KESAKSIAN MENYELURUH KELIMA, KEENAM, KETUJUH, SERTA KEDELAPAN:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺍﻟْﺠَﻮْﺷَﻦِ ﺑِﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔِ ﺍِﺷَﺎﺭَﺍﺗِﻪِ ﻭَ ﺭَﺳَٓﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ دَلَٓائِلِهِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺎﺿ۪ﻰ ﺑِﺘَﻮَﺍﺗُﺮِ ﺍِﺭْﻫَﺎﺻَﺎﺗِﻪِ ﻭَ الْاِسْتِقْبَالِ ﺑِﺘَﺼْﺪ۪ﻳﻖِ اٰلَافِ ﺣَﺎﺩِﺛَﺎﺗِﻪِ

Yakni, munajat ‘Cevşenü'l-Kebir’ menunjuk seribu satu Asma Ilahi, secara jelas serta melalui isyarat, dan merupakan munajat luar biasa yang dari satu segi muncul dari Al-Qur’an. Ia berada di atas munajat seluruh arif yang maju dalam makrifatullah. Dalam suatu peperangan, Jibril membawa wahyu, ‘Lepaskan baju zirah; sebagai gantinya, bacalah Cevşen ini!’ Sebagaimana hakikat-hakikat serta penyifatan yang sepenuhnya tepat terhadap Rabb-nya dalam munajat tersebut bersaksi bagi kerasulan dan kebenaran Muhammad ﷺ, demikian pula Resaili'n-Nuriye, yang memancar dari Al-Qur’an dan dari satu segi menerima limpahan serta lahir dari Cevşen, melalui seratus tiga puluh bagiannya bersaksi secara menyeluruh bagi kebenaran dan kerasulan Muhammad ﷺ. Sebagai satu hujah tunggal bagi kerasulan Muhammad ﷺ, ia membuktikan seluruh hakikat kerasulannya melalui akal serta logika; bahkan persoalan-persoalan yang dalam pandangan filsafat amat jauh dari akal diajarkan dengan cara yang amat mudah serta masuk akal, seakan-akan berada di depan mata.

Masa lalu juga merupakan saksi menyeluruh bagi kerasulan beliau. Keajaiban yang disebut irhasat, yang muncul sebelum kenabian dan dianggap sebagai mukjizat nabi yang akan datang ﷺ, serta banyak peristiwa yang dinukil dalam sejarah dan kitab-kitab sirah melalui berita mutawatir yang pasti, bersaksi dengan amat kukuh bagi kerasulannya. Hal ini memiliki banyak jenis. Sebagian akan dijelaskan dalam kesaksian-kesaksian berikut; sebagian lainnya telah dinukil secara sahih dalam Zülfikar serta kitab-kitab sejarah.

Misalnya, pada waktu dekat dengan kelahiran Nabi ﷺ, batu-batu menghujani kepala pasukan Abrahah yang datang merusak Ka’bah melalui tangan burung-burung ababil, dan pada malam kelahiran beliau, berhala-berhala dalam Ka’bah

jatuh dengan kepala ke bawah, istana Kisra Persia rusak, dan api kaum Majusi pemuja api yang terus menyala selama seribu tahun padam pada malam itu. Menurut berita pasti rahib Buhaira serta Halimah As-Sa'diyah, awan juga menaungi kepala beliau. Banyak peristiwa demikian memberitahukan kenabiannya sebelum masa kenabian.

Peristiwa-peristiwa masa depan yang diberitahukan beliau, yakni yang terjadi setelah wafatnya, juga amat banyak serta memiliki banyak jenis. Salah satunya ialah kabar-kabar gaib mengenai Ahlulbait-nya, para sahabat, serta penaklukan-penaklukan Islam. Dalam bagian Mu'cizat-ı Ahmediye dalam Zülfikar, melalui nukilan sahih, delapan puluh peristiwa terjadi persis seperti berita beliau; misalnya, Utsman (R.A.) yang mulia menjadi syahid ketika membaca mushaf, Husain (R.A.) yang mulia menjadi syahid di Karbala, penaklukan Syam, Iran, serta Istanbul, munculnya Negara Abbasiyah, dan kekalahan serta kehancurannya oleh Jenghis dan Hulagu. Sebagaimana delapan puluh mukjizat kabar gaib itu ditulis secara terperinci melalui nukilan sahih serta bertumpu pada kitab-kitab sejarah dan sirah, melalui jenis-jenis kabar gaib lainnya dan banyak peristiwa masa depan yang menunjukkan kebenaran Muhammad ﷺ, masa depan juga bersaksi dengan kuat serta menyeluruh bagi kerasulan dan kebenaran Muhammad ﷺ. Yang menunjuk KESAKSIAN KESEMBILAN, KESEPULUH, KESEBELAS, SERTA KEDUA BELAS:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ الْاٰلِ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﻳَﻘِﻨِﻴَّﺎﺗِﻬِﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺗَﺼْﺪ۪ﻳﻘِﻪِ ﺑِﺪَﺭَﺟَﺔِ ﺣَﻖِّ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ ﻭَ الْاَصْحَابِ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ ﺍ۪ﻳﻤَﺎﻧِﻬِﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺗَﺼْﺪ۪ﻳﻘِﻪِ ﺑِﺪَﺭَﺟَﺔِ ﻋَﻴْﻦِ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ ﻭَ الْاَصْفِيَٓاءِ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﺗَﺤْﻘ۪ﻴﻘَﺎﺗِﻬِﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺗَﺼْﺪ۪ﻳﻘِﻪِ ﺑِﺪَﺭَﺟَﺔِ ﻋِﻠْﻢِ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ ﻭَ الْاَقْطَابِ ﺑِﺘَﻄَﺎﺑُﻘِﻬِﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺭِﺳَﺎﻟَﺘِﻪِ ﺑِﺎﻟْﻜَﺸْﻒِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ

Yakni, di antara kesaksian-kesaksian menyeluruh bagi kejujuran serta kebenaran Muhammad ﷺ,

KESEMBILAN: Para wali agung (R.A.) dalam keluarga Muhammad ﷺ—keluarga yang menerima rahasia

ﻋُﻠَﻤَٓﺎﺀُ ﺍُﻣَّﺘ۪ﻰ ﻛَﺎَﻧْﺒِﻴَٓﺎﺀِ ﺑَﻨ۪ﻰ ﺍِﺳْﺮَٓﺍﺋ۪ﻴﻞَ

serta dalam salawat dipadankan dengan keluarga Ibrahim Aleyhisselâm—dan Ali (R.A.), Hasan (R.A.), Husain (R.A.), dua belas imam Ahlulbait, Ghauts Yang Agung (K.S.), Ahmad Ar-Rifa'i (K.S.), Ahmad Al-Badawi (K.S.), Ibrahim Ad-Dasuqi (K.S.), serta Abu Al-Hasan

Asy-Syadzili (K.S.), para kutub dan imam demikian secara sepakat membubuhkan tanda tangan melalui iman serta kesaksian mereka mengenai kerasulan, kebenaran, serta kejujuran Muhammad ﷺ. Mereka melakukannya dengan keyakinan haqqulyaqin, hal-hal yang tersingkap serta disaksikan, dan melalui bimbingan luar biasa serta karamah yang diperlihatkan dalam umat.

KESEPULUH: Para sahabat merupakan kelompok paling terhormat serta tinggi setelah para nabi. Meskipun nomad, dalam waktu singkat, melalui cahaya Muhammad ﷺ mereka mengatur dari timur hingga barat dengan adil, mengalahkan negara-negara penakluk dunia, dan menjadi guru, pengajar, diplomat, serta penguasa adil bagi bangsa-bangsa yang maju, bersains, beradab, dan berpolitik; mereka menjadikan abad itu sebagai Zaman Kebahagiaan. Setelah meneliti serta menyelidiki setiap keadaan Muhammad ﷺ, melalui kekuatan banyak mukjizat yang dilihat dengan mata sendiri, mereka sepenuhnya meninggalkan permusuhan lama serta jalan leluhur mereka; banyak dari mereka, seperti Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal, juga meninggalkan keberpihakan kepada ayah, kaum, serta kabilah mereka. Dengan seluruh ruh serta nyawa, mereka memasuki Islam dengan pengorbanan amat besar. Iman mereka kepada kebenaran serta kerasulan Muhammad ﷺ pada derajat ainulyaqin merupakan kesaksian menyeluruh yang tidak dapat digoyahkan.

KESEBELAS: Para mujtahid, imam, serta alim besar yang disebut asfiya dan siddiqin, serta ribuan orang yang meneliti kebenaran seperti filsuf jenius Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, masing-masing dalam jalan berbeda, secara rasional serta logis, bertumpu tanpa ragu pada ribuan hujah dan bukti pasti, beriman kepada kerasulan serta kebenaran Muhammad ﷺ pada derajat ilmulyaqin (yakin melalui ilmu). Hal ini merupakan kesaksian yang demikian menyeluruh sehingga orang yang tidak memiliki kecerdasan sebesar mereka seluruhnya tidak dapat tampil melawan mereka.

Salah satu saksi tanpa batas itu pada masa ini ialah Risale-i Nur. Karena para pengingkar tidak menemukan jalan apa pun untuk melawannya, mereka menipu kepolisian serta pengadilan dan berusaha membungkamnya melalui perantaraan pengadilan.

KEDUA BELAS: Dalam dunia Islam, masing-masing peneliti kebenaran serta ahli hakikat yang paling mendalam, yang disebut para kutub, mengambil bagian penting umat ke lingkup pelajarannya, lalu membuat mereka maju secara maknawi melalui bimbingan dan karamah luar biasa. Sebagai ganti hujah, mereka bertumpu pada hal-hal yang disaksikan serta tersingkap. Dalam kemajuan ruhani, mereka melihat melalui hal-hal yang tersingkap serta disaksikan kerasulan dan kejujuran Muhammad ﷺ, serta bahwa beliau berada pada derajat kebenaran yang paling tinggi. Kesaksian mereka yang sepakat dan selaras bagi kenabian beliau merupakan tanda tangan demikian sehingga orang yang tidak mencapai kedudukan kesempurnaan setinggi mereka seluruhnya tidak dapat merusaknya.

KESAKSIAN KETIGA BELAS: Terdiri atas empat hujah menyeluruh, amat luas, serta pasti:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ الْاَزْمِنَةِ ﺍﻟْﻤَﺎﺿِﻴَّﺔِ ﺑِﺘَﻮَﺍﺗُﺮِ ﺑَﺸَﺎﺭَﺍﺕِ ﺍﻟْﻜَﻮَﺍﻫِﻦِ ﻭَ ﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺗِﻒِ ﻭَ ﺍﻟْﻌُﺮَﻓَٓﺎﺀِ ﻓِﻰ الْاَدْوَارِ ﺍﻟﺴَّﺎﻟِﻔ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺑِﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﺑَﺸَﺎﺭَﺍﺕِ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻭَ الْاَنْبِيَٓاءِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺗِﻬِﻢْ ﻭَ ﺑَﺸَﺎﺭَﺗِﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ السَّلَامُ ﺑِﺮِﺳَﺎﻟَﺔِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜُﺘُﺐِ ﺍﻟْﻤُﻘَﺪَّﺳَﺔِ

Makna singkat bagian ini akan dijelaskan di sini; penjelasan serta dasar nukilannya terdapat dengan lengkap pada akhir bagian Mu'cizat-ı Ahmediye dalam Zülfikar.

Yakni, tokoh-tokoh manusia yang termasyhur serta dikenal pada masa lalu—terutama para nabi, kemudian para arif, peramal, serta hatif—secara sepakat telah memberitahukan dengan amat jelas dan berulang kerasulan serta kedatangan Muhammad ﷺ, sebagai jenis irhasat. Hal ini dicatat serta diterima dalam kitab-kitab sejarah, sirah, dan hadis melalui nukilan sahih serta sebagian melalui berita mutawatir. Karena bagian paling kuat serta pasti dari ribuan berita itu telah dijelaskan secara terperinci dalam Risalah Mu'cizat-ı Ahmediye, kita menyerahkannya kepada karya tersebut dan melalui isyarat amat singkat berkata:

Para nabi dalam kitab-kitab samawi suci: Dari bagian ratusan ayat Taurat, Injil, serta Zabur mengenai kenabian Muhammad ﷺ yang mendekati kejelasan, dua puluh ayat telah ditulis dalam Surat Kesembilan Belas. Meskipun banyak perubahan yang merusak dilakukan oleh kaum Kristen serta Yahudi, Husain Al-Jisri tetap menulis dalam kitabnya seratus ayat yang memberitahukan kenabian Ahmad ﷺ.

Adapun para peramal, terutama Syiqq serta Satih yang terkenal, yang memberitahukan perkara gaib melalui ruh serta jin dan kini disebut medium: Melalui nukilan sahih yang mutawatir, mereka dengan jelas memberitahukan kedatangan Nabi ﷺ serta bahwa beliau akan menghapus Negara Persia. Dengan cara yang tidak menyisakan keraguan, mereka juga berulang kali mengatakan bahwa seorang nabi ﷺ akan segera muncul di Hijaz, sebagaimana...

Di antara para arif yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ, Ka'ab bin Lu'ay dari leluhur Nabi ﷺ, serta raja-raja Yaman dan Habasyah, seperti Saif bin Dzi Yazan dan

Tubba', dan banyak arif serta wali pada masa itu, dengan amat jelas memberitahukan kerasulan Muhammad ﷺ dan mengumumkannya melalui syair-syair. Bagian yang penting serta pasti telah ditulis dalam Surat Kesembilan Belas. Bahkan salah seorang raja itu berkata, ‘Aku lebih memilih menjadi orang yang berkhidmah kepada Muhammad ﷺ daripada memerintah kerajaan ini.’ Seorang lainnya berkata, ‘Âh seandainya aku mencapai beliau, aku akan menjadi sepupunya.’ Yakni, aku akan menjadi orang yang berkhidmah dengan rela berkorban serta wazirnya seperti Ali yang mulia. Bagaimanapun, karena kitab-kitab sejarah serta sirah menyebarkan berita-berita ini dengan lengkap, para arif tersebut melalui kesaksian kuat dan menyeluruh bagi kerasulan Muhammad ﷺ membubuhkan tanda tangan pada kebenaran beliau.

Seperti para arif serta peramal tersebut, ruh-ruh yang disebut hatif, yang suaranya terdengar sedangkan sosoknya tidak terlihat, juga memberitahukan kerasulan Muhammad ﷺ secara gaib, dan dengan amat jelas memberitahukan kenabiannya. Banyak pembawa berita, bahkan hewan kurban yang dipotong bagi berhala, berhala-berhala, serta batu-batu kubur, juga memberitahukan kenabian beliau. Melalui hal ini, mereka membubuhkan tanda tangan pada kerasulan serta kebenarannya, dan bersaksi melalui bahasa sejarah. KESAKSIAN KEEMPAT BELAS: Bagian berbahasa Arab berikut menunjuk kesaksian kuat kainat:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺍﻟْﻜَٓﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺑِﻐَﺎﻳَﺎﺗِﻬَﺎ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻘَﺎﺻِﺪِ الْاِلٰهِيَّةِ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻤَّﺪِﻳَّﺔِ ﺍﻟْﺠَﺎﻣِﻌَﺔِ ﺑِﺴَﺒَﺐِ ﺗَﻮَﻗُّﻒِ ﺣُﺼُﻮﻝِ ﻏَﺎﻳَﺎﺕِ ﺍﻟْﻜَٓﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺻِﺪِ الْاِلٰهِيَّةِ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَ ﺗَﻘَﺮُّﺭِ ﻗِﻴْﻤَﺘِﻬَﺎ ﻭَ ﻭَﻇَٓﺎﺋِﻔِﻬَﺎ ﻭَ ﺗَﺒَﺎﺭُﺯِ ﺣُﺴْﻨِﻬَﺎ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻟِﻬَﺎ ﻭَ ﺗَﺤَﻘُّﻖِ ﺣِﻜَﻢِ ﺣَﻘَٓﺎﺋِﻘِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ الْاِنْسَانِيَّةِ لَاسِيَّمَا ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻤَّﺪِﻳَّﺔِ ﺍِﺫْ ﻫِﻰَ ﺍﻟﻤُﻈْﻬِﺮَﺓُ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺪَﺍﺭُ الْاَتَمُّ ﻟَﻬَﺎ ﻭَ لَوْلَا ﻫَﺎ ﻟَﺼَﺎﺭَﺕْ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَٓﺎﺋِﻨَﺎﺕُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔُ ﻭَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﻧِﻰ ﺍﻟﺴَّﺮْﻣَﺪِﻳَّﺔِ ﻫَﺒَٓﺎﺀً ﻣَﻨْﺜُﻮﺭًﺍ ﻣُﺘَﻄَﺎﻳِﺮَﺓَ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﻧ۪ﻰ ﻣُﺘَﺴَﺎﻗِﻄَﺔَ الْكَمَالَاتِ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻣُﺤَﺎﻝُ ﻣِﻦْ ﻭُﺟُﻮﻩٍ ﻭَ ﺟِﻬَﺎﺕٍ

Mengenai makna bagian berbahasa Arab ini, Âyetü'l-Kübra berkata: Sebagaimana kainat menunjukkan Pembuat, Penulis, serta Pengukirnya, yang menciptakan, mengatur, menyusun, serta mengelolanya melalui Pemberian Rupa, Penentuan Ukuran, dan Pengelolaan sebagai istana, kitab, pameran, serta tempat tontonan, demikian pula

kainat menginginkan serta memerlukan pewarta luhur, penyingkap yang benar, ustad peneliti hakikat, serta pengajar yang benar. Sosok itu akan mengetahui serta memberitahukan Tujuan-Tujuan Ilahi dalam penciptaan kainat; mengajarkan Hikmah Rabb dalam perubahan-perubahannya; memberikan pelajaran mengenai hasil-hasil gerakannya yang menjalankan tugas; mengumumkan nilai dalam hakikatnya serta kesempurnaan segala yang ada di dalamnya; menjawab pertanyaan mengerikan, ‘Dari mana mereka datang? Ke mana mereka akan pergi? Untuk apa mereka datang ke sini? Mengapa mereka tidak tinggal lama dan pergi?’; serta menafsirkan makna-makna kitab besar itu dan hikmah tanda-tanda penciptaannya. Kainat menunjukkan bahwa sosok itu pasti ada. Karena itu, tentu kainat bersaksi dengan kuat serta menyeluruh bagi kebenaran Muhammad ﷺ, yang menjalankan tugas-tugas ini melebihi setiap orang, serta bahwa beliau merupakan petugas paling luhur dan benar dari Sang Khâliq kainat ini, lalu berkata "Eşhedü enne Muhammederresulullah".

Ya, melalui cahaya yang dibawa Muhammad ﷺ, hakikat, nilai, serta kesempurnaan kainat, dan tugas, hasil, kewajiban, serta nilai segala yang ada di dalamnya diketahui dan terwujud. Kainat seluruhnya menjadi surat-surat Ilahi yang amat bermakna, Al-Qur’an Rabb yang terwujud dalam tubuh, serta pameran megah hasil-hasil Sang Mahasuci. Jika tidak, ia jatuh menjadi puing liar yang kacau serta rumah perkabungan mengerikan, yang menggelinding dalam keadaan gelap karena tidak ada, lenyap sama sekali, sirna, dan fana. Berdasarkan hakikat ini, kesempurnaan kainat, perubahan-perubahannya yang penuh Hikmah, serta makna-maknanya yang abadi berkata dengan kuat "Neşhedü Enne Muhammederresulullah". KESAKSIAN KELIMA BELAS: Bagian berbahasa Arab berikut menunjuk kesaksian suci Pemilik kainat bagi kerasulan Muhammad ﷺ dari segi Pelaksanaan Rububiyah serta Perbuatan Rahmaniyah-Nya. Kesaksian itu memuat banyak kesaksian suci. Pemiliknya ialah Zat Wâjibul Wujûd, yang mengelola kainat ini, dan seluruh Pengelolaan—seperti perubahan, gerakan, diam, kehidupan, serta kematian, dari zarah hingga planet—terjadi melalui Perintah, Kehendak, serta Kekuatan-Nya:

ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻜَٓﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻭَ خَلَّاقِهَا ﻭَ ﻣُﺘَﺼَﺮِّﻓِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻤَّﺪِﻳَّﺔِ ﺑِﺎَﻓْﻌَﺎﻝِ ﺭَﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺘِﻪِ ﻭَ ﺑِﺎِﺟْﺮَﺍﺍٰﺕِ ﺭُﺑُﻮﺑِﻴَّﺘِﻪِ ﻛَﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﺑِﺎِﻧْﺰَﺍﻝِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰُ ﺍﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺑِﺎِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺍَﻧْﻮَﺍﻉِ ﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰَﺍﺕِ ﻋَﻠٰﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَ ﺑِﺘَﻮْﻓ۪ﻴﻘِﻪِ ﻭَ ﺣِﻤَﺎﻳَﺘِﻪِ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ حَالَاتِهِ ﻭَ ﺑِﺎِﺩَﺍﻣَﺔِ ﺩ۪ﻳﻨِﻪِ ﺑِﻜُﻞِّ ﺣَﻘَٓﺎﺋِﻘِﻪِ ﻭَ بِاِعْلَٓاءِ ﻣَﻘَﺎﻡِ ﺣُﺮْﻣَﺘِﻪِ ﻭَ ﺷَﺮَﻓِﻪِ ﻭَ ﺍِﻛْﺮَﺍﻣِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻴﺎَﻥِ ﻭَ ﻛَﻔِﻌْﻞِ ﺭُﺑُﻮﺑِﻴَّﺘِﻪِ ﺑِﺠَﻌْﻞِ ﺭِﺳَﺎﻟَﺘِﻪِ ﺷَﻤْﺴًﺎ ﻣَﻌْﻨَﻮِﻳَّﺔً ﻟِﻜَٓﺎﺋِﻨَﺎﺗِﻪِ ﻭَ ﺑِﺠَﻌْﻞِ ﺩ۪ﻳﻨِﻪِ ﻓِﻬْﺮِﺳْﺘَﺔَ كَمَالَاتِ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ ﻭَ ﺟَﻌْﻞِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺘِﻪِ ﻣِﺮْﺍٰﺓً ﺟَﺎﻣِﻌَﺔً ﻟِﺘَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺍُﻟُﻮﻫِﻴَّﺘِﻪِ ﻭَ ﺑِﺘَﻮْﻇ۪ﻴﻔِﻪِ ﺑِﻮَﻇَٓﺎﺋِﻒَ ﺿَﺮُﻭﺭِﻳَّﺔٍ لَازِمَةٍ ﻟِﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕِ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَٓﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻛَﻠُﺰُﻭﻡِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﺪَﺍﻟَﺔِ ﻭَ ﻛَﻀَﺮُﻭﺭَﺓِ ﻟُﺰُﻭﻡِ ﺍﻟْﻐِﺬَٓﺍﺀِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀِ ﻭَ ﺍﻟْﻬَﻮَٓﺍﺀِ ﻭَ ﺍﻟﻀِّﻴَٓﺎﺀِ

Kita menyerahkan perincian kesaksian yang amat pasti, luas, serta suci ini kepada Risale-i Nur, lalu melalui isyarat amat singkat memandang makna garis besarnya:

Ya, dalam Pengelolaan teratur-Nya di depan mata dalam kainat ini, melindungi orang baik dan menampar orang buruk serta para pendusta pada setiap masa melalui Keadilan, Hikmah, Rahmat, Inayah, serta Perlindungan merupakan Kebiasaan Rububiyah-Nya. Karena itu, sesuai tuntutan Perbuatan Rahmaniyah, Dia memberikan Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya ke tangan Muhammad ﷺ serta memberikan kepadanya amat banyak jenis dari hampir seribu mukjizat. Dia melindunginya dengan penuh Belas Kasih dalam seluruh keadaan serta keadaan yang paling berbahaya, bahkan menjaganya melalui merpati serta laba-laba, membuatnya sepenuhnya berhasil dalam tugas-tugas besar, mempertahankan agamanya beserta seluruh hakikatnya, serta menjadikan Islam-nya sebagai pemimpin bumi dan jenis manusia. Dia memberikan kepadanya kedudukan mulia di atas seluruh makhluk, derajat yang senantiasa diterima, melebihi tokoh-tokoh termasyhur manusia, serta pribadi yang membawa sifat-sifat paling luhur melalui kesepakatan sahabat dan musuh, lalu menjadikan seperlima manusia sebagai umatnya. Sebagaimana semua itu bersaksi dengan amat pasti bagi kebenaran serta kerasulannya, dari segi Perbuatan Rububiyah pun kita melihat bahwa Sang Pengatur serta Pengelola alam ini menjadikan kerasulan Muhammad ﷺ sebagai matahari maknawi bagi kainat. Melaluinya, Dia menghilangkan seluruh keadaan gelap serta memperlihatkan hakikat-hakikat bercahaya, seperti yang dibuktikan Risalah-Risalah Nur, dan menggembirakan seluruh makhluk berkesadaran, bahkan kainat, melalui kabar gembira kehidupan kekal. Dia juga menjadikan agama beliau sebagai daftar kesempurnaan seluruh ahli ibadah yang diterima serta program kukuh dalam gerakan ubudiyah. Melalui petunjuk Al-Qur’an serta

Cevşen, Dia menjadikan hakikat beliau, yang merupakan pribadi maknawi Muhammad ﷺ, sebagai cermin yang mencakup Tajalli Keilahian-Nya. Melalui petunjuk hakikat-hakikat yang telah kita isyaratkan, bahwa selama empat belas abad pada setiap hari beliau memperoleh kebaikan yang sama nilainya dengan seluruh kebaikan umatnya, serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat, maknawi, dan kemanusiaan, Dia menjadikan beliau pemimpin paling luhur ﷺ, teladan paling luhur ﷺ, serta ustad paling luhur ﷺ bagi jenis manusia. Dia mengirim beliau menolong manusia melalui tugas-tugas agung serta suci, lalu membuat manusia memerlukan agama, syariat, serta hakikat-hakikat dalam Islam-nya hingga derajat mereka memerlukan rahmat, hikmah, keadilan, makanan, udara, air, dan cahaya. {(Catatan): Dalam usia tua serta keadaan yang kacau ini, aku merasakan sepersejuta perbekalan maknawi yang dibawa Sosok Muhammad ﷺ. Seandainya aku mampu, aku akan berterima kasih kepadanya melalui jutaan lidah serta salawat. Demikianlah:

Aku amat terluka oleh perpisahan serta sirna. Padahal, dunia serta hal-hal dunia yang kucintai meninggalkanku dan pergi melalui perpisahan. Aku mengetahui bahwa aku juga akan pergi. Terhadap keputusasaan yang amat pedih serta melukai nyawa ini, tiba-tiba, melalui mendengar kabar gembira kebahagiaan abadi dan kehidupan kekal dari Sosok Ahmad ﷺ, aku selamat serta menemukan penghiburan penuh. Bahkan ketika berkata

اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ

dalam tasyahud, hal itu merupakan baiat kepadanya, ketundukan serta ketaatan kepada tugasnya, pemberian selamat atas tugasnya, suatu jenis terima kasih, dan balasan atas kabar gembira kebahagiaan abadi. Kaum Muslim memberikan salam ini lima kali pada setiap hari.} Melalui hal-hal itu, Dia memberikan kesaksian suci bagi kerasulan Muhammad ﷺ dengan dua belas hujah menyeluruh serta pasti. Pemilik kainat ini bahkan tidak mengabaikan pengaturan sayap lalat serta satu bunga. Mungkinkah kerasulan Muhammad ﷺ, yang menerima kesaksian-kesaksian Pemilik itu hingga derajat yang demikian menyeluruh dan luas, tidak menjadi matahari maknawi kainat?

Kelima belas kesaksian menyeluruh ini masing-masing memuat banyak kesaksian. Bahkan ‘Kesaksian Ketiga’ melalui bahasa mukjizat memuat seribu kesaksian. Dengan kepastian serta kekuatan demikian, semuanya membuktikan pernyataan "Eşhedü Enne Muhammederresulullah" dan mengumumkan terwujudnya, nilai, serta arti pentingnya. Sebagaimana dunia Islam pada setiap hari lima kali mengumumkan pernyataan itu kepada kainat melalui ratusan juta lidah dalam tasyahud, miliaran ahli iman juga tanpa ragu membenarkan serta menerima bahwa hakikat Muhammad ﷺ, yang merupakan dasar pernyataan itu, ialah biji asal kainat, suatu sebab penciptaannya, serta buahnya yang paling sempurna.

Pemilik kainat ini (Celle Celaluhu) menjadikan pribadi maknawi Muhammad ﷺ sebagai pewarta luhur bagi Kerajaan Rububiyah-Nya, penyingkap yang benar bagi rahasia kainat serta teka-teki penciptaan, dan contoh cemerlang Kebaikan serta

Rahmat-Nya, lisan penuh balagah bagi Belas Kasih serta Kecintaan-Nya, pembawa kabar gembira paling kuat mengenai kehidupan yang tetap dan kebahagiaan abadi dalam alam kekal, serta Rasul yang terakhir dan paling agung ﷺ di antara para utusan-Nya.

Hendaklah orang yang tidak yakin atau tidak mementingkan hakikat demikian membandingkan hingga derajat apa ia mengalami kerugian, melakukan kesalahan, kebodohan, serta kejahatan!..

Sebagaimana melalui isyarat-isyaratnya dalam Bagian Kedua, Al-Fatihah dalam salat memperlihatkan hujah-hujah pasti serta membubuhkan tanda tangan tanpa batas pada pernyataan hakikat tauhid dalam "Eşhedü en lâ ilahe illallah" pada tasyahud, dalam Bagian Ketiga ini juga ia membawa saksi-saksi kuat dan membuat tanda tangan pembenaran tanpa akhir dibubuhkan pada pernyataan hakikat kerasulan dalam "Ve eşhedü enne Muhammederresulullah", juga pada tasyahud.

Yâ Erhame'r-râhimîn! Demi kehormatan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ ini, jadikan kami penerima syafaatnya, berhasil mengikuti sunahnya, serta bertetangga dengan keluarga dan para sahabatnya dalam negeri kebahagiaan, âmin âmin âmin!

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺣُﺮُﻭﻑِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻤَﻘْﺮُﻭﺋَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮﺑَﺔِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

--

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

Dahulu, untuk memahami pelajaran para tokoh yang tidak sepenuhnya menempuh jalan Al-Qur'an—terutama para imam Muktazilah yang mendahulukan akal daripada dalil yang diriwayatkan, para filsuf Isyraqiyun yang hanya mengandalkan akalnya, serta para ulama besar ahli hakikat dan ahlusunah waljamaah yang merasa harus mengalahkan mereka dengan senjata mereka sendiri—diperlukan belajar selama bertahun-tahun.

Melalui limpahan Al-Qur'an, Risale-i Nur dalam satu tahun menunaikan tugas iman yang dahulu memerlukan sepuluh tahun itu. Pada masa lalu, para ulama besar ilmu kalam dan filsuf yang beragama membuktikan makrifatullah serta Keesaan Wâjibul Wujûd dengan memperlihatkan bahwa rantai sebab-sebab tidak mungkin berputar atau berlanjut tanpa akhir.

Hakikat Al-Qur'an Al-Hakîm serta jalannya yang penuh mukjizat membuka jendela menuju makrifatullah pada setiap sesuatu. Hujah Ahadiyah (keesaan Allah سُبْحَانَهُ yang tampak pada masing-masing sesuatu) dan bukti Keesaan menyeluruh yang diperlihatkan para ulama serta filsuf itu pada keseluruhan alam, diperlihatkannya dalam setiap sesuatu, bahkan setiap zarah. Hakikat

ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﺊٍْ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ

merupakan ungkapan ringkasnya. Yakni, dari zarah hingga bintang, pada setiap sesuatu terdapat suatu jendela tauhid. Terdapat ayat-ayat, yakni tanda dan petunjuk, yang langsung memperkenalkan Zat Wâjibul Wujûd beserta Sifat-Sifat-Nya.

Pada masa ketika kekufuran mutlak menyerang orang-orang beriman dengan dahsyat ini, Risale-i Nur—yang merupakan suatu manifestasi hakikat Al-Qur'an Al-Hakîm yang penuh mukjizat tersebut—telah mematahkan kekufuran mutlak dan membungkam orang-orangnya yang paling keras kepala selama setengah abad. Berkat dua atau tiga keistimewaan Risale-i Nur yang berasal dari limpahan Al-Qur'an, ia sama sekali tidak menimbulkan bahaya maupun kesulitan. Mempelajarinya juga tidak memerlukan banyak waktu.

Keistimewaan Pertama: Kebiasaan para ulama ilmu kalam dan filsuf dalam perdebatan sejak dahulu, yaitu menyebut keraguan serta keberatan lawan terlebih dahulu, kemudian menjawabnya, tidak terdapat dalam Risale-i Nur, kecuali pada satu atau dua risalah kecil. Sebaliknya, ia menerangkan hakikat dengan begitu cemerlang dan pasti sehingga keraguan itu tidak terlintas dalam benak setiap orang. Bahkan setan pun tidak dapat menimbulkannya dalam benak.

Tanpa sedikit pun menimbulkan pikiran yang keruh, ia juga mengajarkan persoalan hakikat yang paling dalam bahkan kepada orang yang paling awam, seperti persoalan Mikraj, kebangkitan jasmani, takdir, serta kehendak bebas manusia. Padahal, dahulu pengajaran persoalan mendalam dalam karya para ulama lama kepada orang awam dan pemuda yang belum berpengalaman dicegah serta dilarang agar tidak mengeruhkan pikiran mereka. Namun, Risale-i Nur memperkenalkan persoalan yang paling dalam kepada orang yang paling awam, bahkan seorang anak, tanpa membahayakannya.

Keistimewaan Kedua: Dahulu, air yang diperlukan suatu negeri didatangkan melalui pipa dan saluran yang dibuka di pegunungan. Adapun kini, sebagai perumpamaan, ditemukan suatu alat yang mengeluarkan air di mana pun ia ditancapkan. Demikian pula, untuk mendatangkan air kehidupan berupa iman serta makrifatullah, tidak diperlukan lagi perjalanan ke tempat yang jauh, hingga langit dan keseluruhan alam. Keadaan ini menyerupai keluarnya suatu tongkat bercahaya dari bengkel Al-Qur'an Al-Hakîm, yang mengeluarkan air kehidupan tersebut dalam setiap sesuatu.

Sebagaimana tongkat Nabi Musa Aleyhisselâm mengalirkan dua belas mata air dari sebuah batu dan dengan mudah menyelamatkan orang-orang yang menyertainya dari kehausan, Risale-i Nur pun, sebagai suatu tongkat Qur'ani, memberi setiap orang minuman air kehidupan sesuai daya pahamnya, menunjukkan tempatnya, dan menyelamatkannya dari kehausan.

Di antara empat puluh kumpulan Risale-i Nur, suatu kumpulan bernama Asâ-yı Musa (Tongkat Musa) merupakan salah satu ujung tongkat Qur'ani itu.

Keistimewaan Ketiga: Dalam membuktikan Keesaan serta wajib adanya Allah سُبْحَانَهُ, Risale-i Nur membuktikan banyak hasil sekaligus dengan satu hujah. Misalnya, melalui tugas menakjubkan sebuah zarah dalam pupil mata, dengan dalil yang sama ia membuktikan wajib adanya Sang Pembuat kainat, Keesaan-Nya, Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Kudrat-Nya yang tidak terbatas, Kehendak-Nya yang tanpa akhir, serta Sifat-Sifat-Nya yang lain.

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

[Petikan surat yang ditulis tujuh tahun lalu kepada beberapa murid Nur di Universitas Istanbul.]

Pada akhir Asâ-yı Musa terdapat jawabanku atas pertanyaan seorang saudara kita bernama Küçük Ali, seorang pejuang di antara orang-orang yang diberkahi, yang berjiwa besar. Bacalah jawaban itu. Sebab, beberapa orang yang keberatan telah berkata kepadanya untuk sedikit mengurangi nilai Risale-i Nur, “Setiap orang mengenal Allah سُبْحَانَهُ. Orang biasa beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ seperti seorang wali.” Dengan demikian, mereka ingin menggambarkan seolah pengerahan dalil Nur yang amat tinggi, amat berharga, dan sangat diperlukan itu berlebihan.

Kini, di Istanbul, sebagian orang munafik yang berpikiran anarkis dan jatuh dalam kekufuran mutlak—dengan pemikiran yang lebih mengerikan—ingin menanggapi dengan berkata, “Setiap bangsa, setiap orang mengenal Allah سُبْحَانَهُ. Kita tidak begitu perlu lagi menerima pelajaran baru.” Mereka melakukan siasat untuk menghalangi orang dari hakikat iman seperti Risale-i Nur, yang diperlukan setiap orang sebagaimana roti dan air.

Padahal, mengenal Allah سُبْحَانَهُ terwujud dengan beriman secara pasti kepada Rububiyah-Nya yang meliputi seluruh kainat; bahwa setiap sesuatu, yang sebagian maupun menyeluruh, dari zarah hingga bintang, berada dalam genggaman Pengelolaan-Nya serta melalui Kudrat dan Kehendak-Nya; bahwa Dia tidak mempunyai sekutu dalam Kerajaan-Nya; dan dengan beriman serta membenarkan dalam hati hakikat-hakikat kalimat suci “Lâ ilahe illallah”.

Adapun mengatakan “Ada satu Allah” سُبْحَانَهُ, lalu membagi seluruh Kerajaan-Nya kepada sebab-sebab serta tabiat dan menisbatkannya kepada keduanya; menganggap sebab-sebab sebagai tempat bersandar yang seakan merupakan sekutu-sekutu tanpa batas—hâşâ; tidak mengenal Kehendak serta Ilmu-Nya yang hadir bersama setiap sesuatu; tidak mengenal perintah-perintah-Nya yang tegas; dan tidak mengenal Sifat-Sifat-Nya serta para utusan dan nabi yang diutus-Nya, tentu berarti bahwa dari segi ini hakikat iman kepada Allah سُبْحَانَهُ tidak ada padanya. Bahkan, ia mengucapkan kata-kata itu untuk sedikit menghibur dirinya dari siksaan duniawi neraka maknawi dalam kekufuran mutlak.

Ya, tidak mengingkari merupakan satu hal; beriman merupakan hal yang sama sekali lain.

Ya, tidak ada makhluk berkesadaran dalam kainat yang dapat mengingkari Sang Khâliq Dzul-Jalâl, yang mempunyai saksi sebanyak seluruh bagian kainat. Jika ia mengingkari, seluruh kainat akan membantahnya, sehingga ia diam dan bersikap acuh. Namun, beriman kepada-Nya, sebagaimana diajarkan Al-Qur'an Yang Mahaagung, ialah membenarkan dalam hati Sang Khâliq itu beserta Sifat-Sifat dan Asma-Nya dengan bersandar pada kesaksian seluruh kainat; mengenal perintah-perintah yang dikirim-Nya melalui para utusan-Nya; serta bertobat dan menyesal dalam hati ketika melakukan dosa atau menentang perintah. Adapun bebas melakukan segala dosa, sama sekali tidak beristigfar, dan tidak memedulikannya merupakan dalil bahwa ia tidak mempunyai bagian dari iman itu. Bagaimanapun... Anak-anakku, suatu peristiwa penting menyebabkan persoalan panjang ini kujelaskan secara ringkas kepada kalian.

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

[Jawaban atas pertanyaan saudara kita Küçük Ali yang berjiwa besar, pejuang di antara orang-orang yang diberkahi, dalam sepucuk surat pada akhir Asâ-yı Musa.]

Pertanyaan: Mengapa Risale-i Nur mengerahkan begitu banyak dalil tentang rukun-rukun iman? Guru-guru dahulu mengajarkan kepada kita bahwa iman seorang mukmin awam sama seperti iman seorang wali besar.

Jawaban: Penjelasan terutama dalam Âyetü'l-Kübra yang telah dicetak, juga pembahasan tingkatan-tingkatan iman pada Pokok Kedua dari Persoalan Ketiga Surat Kedua Puluh Delapan, serta keterangan dan putusan Imam Rabbani, pembaru milenium kedua, mendekati akhirnya—‘Tujuan terakhir serta maksud terbesar seluruh tarekat ialah makin jelasnya hakikat-hakikat iman. Menjadi jelasnya satu persoalan iman dengan pasti lebih baik daripada ribuan karamah dan kasyaf (tersingkapnya hakikat batin)’—merupakan jawabannya, sebagaimana keterangan pada bagian paling akhir Âyetü'l-Kübra serta petikan dan keseluruhan surat yang diambil dari Lahika itu. Demikian pula Persoalan Kesepuluh Meyve Risalesi (Risalah Buah), tentang pengulangan dalam Al-Qur'an, merupakan jawabannya: hikmah pengulangan serta banyaknya pengerahan dalil Al-Qur'an tentang tauhid dan rukun-rukun iman berlaku persis serta sepenuhnya dalam Risale-i Nur, yang merupakan tafsir sejatinya.

Penjelasan bagian-bagian Risale-i Nur mengenai adanya iman yang diteguhkan dengan bukti dan yang mengikuti orang lain, iman secara umum dan secara terperinci, serta bahwa iman dapat bertahan dan tidak terguncang oleh segala serangan, waswas serta keraguan, juga merupakan jawaban demikian bagi surat Küçük Ali yang berjiwa besar, sehingga sama sekali tidak menyisakan kebutuhan kepada kita.

Segi Kedua: Iman tidak terbatas pada pembenaran secara umum serta mengikuti orang lain. Sebagaimana terdapat tingkatan serta perkembangan dari sebutir benih sampai pohon kurma besar, dan dari gambaran matahari yang terlihat dalam cermin di tangan sampai pantulannya pada permukaan laut, lalu sampai matahari di langit itu sendiri, terdapat begitu banyak hakikat iman. Ada pula banyak hakikat tentang ribuan Asma Ilahi serta rukun-rukun iman lainnya yang berkaitan dengan hakikat-hakikat kainat. Para peneliti hakikat sepakat bahwa “Yang paling besar di antara seluruh ilmu, makrifat serta kesempurnaan manusia ialah iman, serta makrifat suci yang terperinci dan berdalil, yang lahir dari iman yang diteguhkan dengan bukti.”

Ya, iman yang mengikuti orang lain cepat dikalahkan keraguan. Dalam iman yang diteguhkan dengan bukti, yang jauh lebih kuat serta lebih luas daripadanya, terdapat banyak tingkatan. Di antara tingkatan itu, tingkat ilmulyaqin, {(Catatan kaki): Ilmulyaqin: memperoleh keyakinan melalui ilmu. Yakni, mengetahui adanya sesuatu melalui tanda-tandanya. 2- Ainulyaqin: memperoleh keyakinan melalui mata. Yakni, mengetahui sesuatu dengan melihatnya melalui mata. 3- Haqqulyaqin: memperoleh keyakinan melalui hakikatnya. Yakni, mengetahui dengan masuk ke dalamnya. Dengan pelajaran yang kami terima dari Üstad kita tercinta, Bedîüzzaman yang terhormat, ketiga kata ini kami jelaskan demikian: Misalnya, dari jauh kami melihat asap. Kami mengetahui bahwa di sana ada api yang menyala. Inilah yang disebut ilmulyaqin. Kami mendekati asap itu, lalu melihat api dengan mata kami; inilah yang disebut ainulyaqin. Kami masuk ke dalam cahaya api dan memahami derajatnya. Inilah yang disebut haqqulyaqin.} bertahan terhadap ribuan keraguan dengan kekuatan begitu banyak dalilnya. Adapun iman yang mengikuti orang lain terkadang dikalahkan oleh satu keraguan.

Salah satu tingkatan iman yang diteguhkan dengan bukti juga ialah ainulyaqin, yang mempunyai banyak tingkatan; bahkan, terdapat tingkatan kemunculannya sebanyak Asma Ilahi. Ia mencapai tingkat dapat membaca seluruh kainat seperti sebuah Al-Qur'an.

Ada pula tingkat haqqulyaqin. Tingkat ini juga mempunyai banyak tingkatan. Sekalipun pasukan keraguan menyerang orang-orang yang beriman seperti ini, mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Ribuan jilid kitab para ulama ilmu kalam, yang ditulis berdasarkan akal serta logika, hanya memperlihatkan satu jalan yang berdalil serta masuk akal menuju makrifat iman itu. Ratusan kitab para ahli hakikat, berdasarkan kasyaf serta kenikmatan batin, memperlihatkan makrifat iman itu dari segi lain. Namun, jalan agung Al-Qur'an yang penuh mukjizat, hakikat-hakikat iman serta makrifat suci yang diperlihatkannya, mempunyai kekuatan serta ketinggian yang jauh melampaui para ulama serta wali itu.

Risale-i Nur menafsirkan jalan kebahagiaan yang menyeluruh, luas serta tinggi dan mikraj makrifat ini, lalu atas nama Al-Qur'an serta iman menghadapi dan membela terhadap arus-arus perusak yang menyeluruh, yang selama seribu tahun melawan Al-Qur'an, merugikan Islam serta kemanusiaan, demi alam-alam yang serba tiada. Tentu ia memerlukan penegasan yang tiada batas, agar dapat bertahan terhadap musuh-musuh yang tiada batas itu dan menjadi sarana menjaga iman orang-orang beriman melalui cahaya Al-Qur'an.

Dalam hadis mulia terdapat keterangan: “Seseorang memperoleh iman melalui dirimu lebih baik bagimu daripada domba-domba merah sepenuh padang pasir.” “Terkadang satu jam tafakur lebih baik daripada setahun ibadah.” Bahkan, arti penting yang amat besar yang diberikan kaum Naqsyabandi kepada zikir tersembunyi dimaksudkan untuk mencapai tafakur seperti ini.

Kami menyampaikan salam serta doa kepada seluruh saudara kita, satu demi satu. Maafkan kekurangannya, ini ditulis dengan tergesa-gesa. Kalianlah yang membetulkan dan memperbaikinya.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ

Saudara kalian

Said Nursî

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

Tambahan Ketiga Surat Kedua Puluh Tujuh

(Sebuah surat lampiran)

(Surat yang ditulis kepada seorang dokter yang sangat merindukan risalah-risalah Nur dan mulai tersadar setelah membacanya)

Salam, wahai dokter yang beruntung karena dapat mengenali penyakitnya sendiri, sahabatku yang tulus dan terkasih!

Kesadaran rohani yang ditunjukkan suratmu yang penuh semangat patut mendapat ucapan selamat. Ketahuilah bahwa di antara segala yang ada, yang paling berharga ialah hidup. Di antara tugas-tugas, yang paling berharga ialah mengabdi kepada kehidupan. Di antara pengabdian kepada kehidupan, yang paling berharga ialah berusaha agar hidup yang fana berubah menjadi hidup yang kekal. Seluruh nilai dan arti penting hidup ini terletak pada kedudukannya sebagai benih, awal, serta asal bagi hidup yang kekal. Jika tidak, memusatkan pandangan pada hidup yang fana ini dengan cara yang meracuni dan merusak hidup abadi merupakan kegilaan seperti memilih kilat sesaat daripada matahari yang kekal.

Dalam pandangan hakikat, orang yang lebih sakit daripada siapa pun ialah para dokter yang berpandangan serba materi dan lalai. Jika mereka dapat mengambil obat-obat iman yang ibarat penawar dari apotek suci Al-Qur'an, mereka akan mengobati penyakit mereka sendiri serta luka-luka umat manusia, inşâallah. Sebagaimana kesadaranmu menjadi salep bagi lukamu, ia juga menjadikanmu obat bagi penyakit para dokter. Engkau pun tahu bahwa hiburan rohani bagi seorang pasien yang putus asa serta kehilangan harapan kadang-kadang lebih bermanfaat daripada seribu obat. Padahal, dokter yang tenggelam dalam rawa tabiat menambah gelap pada keputusasaan pedih pasien yang malang itu. İnşâallah, kesadaranmu ini menjadikanmu sumber hiburan bagi orang-orang malang seperti itu dan menjadikanmu dokter yang bercahaya.

Engkau tahu bahwa umur singkat, sedangkan pekerjaan yang diperlukan amat banyak. Jika engkau memeriksa kepalamu seperti aku, entah berapa banyak hal yang tidak diperlukan, tidak bermanfaat, tidak penting, dan tidak bernyawa seperti tumpukan kayu yang akan kautemukan di antara pengetahuanmu. Sebab, aku telah memeriksa kepalaku dan menemukan banyak hal yang tidak diperlukan. Karena itu, perlu dicari cara untuk menjadikan pengetahuan ilmiah serta pengetahuan filsafat itu bermanfaat, bercahaya, dan berjiwa. Mintalah pula suatu kesadaran dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq agar kesadaran itu mengarahkan pikiranmu demi Sang Hakîm Dzul-Jalâl, sehingga menyalakan api pada kayu-kayu itu dan membuatnya bercahaya. Pengetahuan ilmiahmu yang tidak diperlukan pun berubah menjadi makrifat Ilahi yang berharga.

Karena Kalimat-Kalimat dapat berbicara dengan hati nuranimu, anggaplah setiap Kalimat sebagai sepucuk surat kepadamu dari penyeru Al-Qur'an, bukan dari diriku, serta sebagai suatu resep dari apotek suci Al-Qur'an. Melalui Kalimat-Kalimat itu, bukalah suatu ruang percakapan yang terasa hadir meskipun berjauhan.

Said Nursî

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

[Petikan surat penting tentang “Memasuki kubur dengan iman”, dari sebuah surat lampiran pada halaman kesembilan belas dalam Sikke-i Tasdîk-i Gaybî Mecmuası (Kumpulan Tanda Pembenaran Gaib), salah satu kumpulan Risale-i Nur.]

Para ahli kasyaf serta penelitian hakikat menyatakan bahwa semakin iman yang diteguhkan dengan bukti mendekat dari ilmulyaqin kepada haqqulyaqin, semakin ia tidak dapat direnggut. Mereka berkata: Pada saat sakarat, melalui bisikan yang mengganggu, setan hanya dapat menimbulkan keraguan dalam akal dan membuatnya bimbang. Namun, iman yang diteguhkan dengan bukti semacam ini tidak hanya berdiam dalam akal. Ia meresap dan berakar dalam hati, ruh, sirr (rahasia batin), serta latifah-latifah (daya halus dalam diri manusia) sedemikian rupa sehingga tangan setan tidak dapat menjangkau tempat-tempat itu. Iman orang-orang seperti ini tetap terlindung sehingga tidak lenyap. Salah satu jalan yang mengantarkan kepada iman yang diteguhkan dengan bukti ini ialah mencapai hakikat melalui kewalian yang sempurna, kasyaf, serta melihat langsung. Jalan ini khusus bagi kalangan yang paling istimewa di antara orang-orang istimewa; ia merupakan iman melalui melihat langsung.

Jalan Kedua: Dari segi iman kepada yang gaib, melalui limpahan rahasia wahyu, dengan cara yang berdasarkan bukti serta Al-Qur'an, melalui perpaduan akal dan hati, membenarkan hakikat-hakikat iman dengan ilmulyaqin yang mencapai derajat kepastian yang tak terelakkan dan kejelasan nyata, dengan kekuatan pada derajat haqqulyaqin. Para murid khusus melihat bahwa jalan kedua ini merupakan dasar, ragi, landasan, ruh, serta hakikat Risaleti'n-Nur. Jika orang lain pun memandang dengan adil, mereka akan melihat bahwa Risale-i Nur memperlihatkan jalan-jalan yang bertentangan dengan hakikat iman sampai derajat tidak mungkin, mustahil, dan tidak dapat terjadi.

Said Nursî