Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Bagian Kedua Surat Kedua Puluh

Kunci Iman · Bahasa Indonesia

Bagian Kedua Surat Kedua Puluh

Isyarat singkat untuk meneguhkan tauhid dengan dalil pada segi Ismul A'zham.

KALIMAT PERTAMA

Dalam

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

terdapat tauhid bahwa Allah سُبْحَانَهُ satu-satunya Sesembahan dan satu-satunya yang disembah. Kami mengisyaratkan hujah yang amat kuat bagi derajat ini demikian:

Pada wajah kainat ini, terutama pada lembaran bumi, terlihat kegiatan yang amat teratur. Kita menyaksikan penciptaan yang penuh Hikmah. Dengan ainulyaqin (yakin melalui penglihatan) kita melihat pemberian bentuk yang amat teratur, yakni membuka bentuk yang sesuai serta memberi rupa kepada setiap sesuatu. Kita juga melihat pemberian serta anugerah yang amat penuh Kasih, Kemurahan, dan Rahmat. Karena itu, keadaan serta sifat ini pasti meneguhkan, bahkan membuat kita merasakan, bahwa Zat Dzul-Jalâl yang Fa'âl, Khallâq, Fattâh, serta Wahhâb wajib ada dan Esa.

Ya, segala yang ada terus-menerus lenyap serta diperbarui. Hal ini menunjukkan bahwa mereka merupakan manifestasi Asma suci Sang Pembuat Yang Qadîr, bayangan cahaya Asma-Nya, hasil tindakan-Nya, ukiran serta lembaran pena Takdir dan Kudrat, serta cermin Keindahan Kesempurnaan-Nya.

Sebagaimana Sang Pemilik kainat menunjukkan tauhid dalam hakikat agung serta derajat tauhid luhur ini melalui seluruh kitab suci dan suhuf yang dikirim-Nya, seluruh ahli hakikat serta manusia sempurna juga menunjukkan derajat tauhid yang sama melalui kajian saksama serta apa yang mereka singkap. Kainat pun, bersama keadaan tidak berdaya serta rasa membutuhkannya, mengisyaratkan derajat tauhid yang sama melalui kesaksian mukjizat karya yang terus berlangsung, keajaiban daya, serta khazanah kekayaan yang diperolehnya.

Jadi, Sang Saksi Azali dengan seluruh kitab serta suhuf-Nya, orang-orang yang menyaksikan dengan seluruh kajian saksama serta apa yang mereka singkap, dan alam yang disaksikan dengan seluruh

keadaannya yang teratur serta urusannya yang penuh hikmah, bersepakat melalui ijmak dalam derajat tauhid itu.

Orang yang tidak mengakui Dia Yang Wâhid lagi Ahad akan mengakui sesembahan yang tiada batas, atau seperti seorang sofis yang bodoh, akan mengingkari bahwa dirinya serta kainat ada.

KALIMAT KEDUA

ﻭَﺣْﺪَﻩُ

Kata ini menunjukkan suatu derajat tauhid dengan jelas. Kami mengisyaratkan hujah yang amat kuat, yang juga meneguhkan derajat ini dengan kadar terbesar, demikian:

Setiap kali kita membuka mata dan mengarahkan pandangan kepada wajah kainat, hal pertama yang terlihat ialah tatanan yang umum serta sempurna, dan keseimbangan yang menyeluruh serta teliti. Kita melihat bahwa segala sesuatu berada dalam tatanan yang cermat, keseimbangan yang teliti, serta ukuran.

Ketika kita memandang sedikit lebih cermat, perhatian kita tertarik oleh pengaturan serta penyeimbangan yang terus diperbarui. Yakni, ada Dia yang mengubah tatanan itu secara teratur dan memperbarui keseimbangan itu dengan menimbang. Setiap sesuatu menjadi model yang diberi amat banyak bentuk yang teratur serta seimbang.

Ketika kita semakin cermat, terlihat Hikmah serta Keadilan di balik pengaturan dan penyeimbangan itu. Dalam setiap gerak, Hikmah serta hal yang bermanfaat diperhatikan, suatu haq serta manfaat diupayakan.

Ketika kita semakin cermat, apa yang ditunjukkan oleh suatu Kudrat dalam kegiatan yang amat penuh Hikmah, serta manifestasi Ilmu yang amat menyeluruh dan meliputi setiap urusan segala sesuatu, menarik pandangan sadar kita.

Jadi, tatanan serta keseimbangan dalam segala yang ada ini memperlihatkan kepada mata kita pengaturan serta penyeimbangan yang berlaku umum bagi semuanya. Pengaturan serta penyeimbangan itu memperlihatkan Hikmah dan Keadilan yang umum; Hikmah serta Keadilan itu memperlihatkan Kudrat dan Ilmu. Jadi, Sang Qadîr atas segala sesuatu serta Sang Alîm atas segala sesuatu tampak bagi akal di balik tabir-tabir ini.

Kita juga memandang awal serta akhir segala sesuatu, terutama pada jenis makhluk hidup. Kita melihat bahwa permulaan, asal, serta akar mereka, juga buah dan hasil mereka, berada dalam bentuk sedemikian rupa sehingga seakan-akan benih serta asal mereka memuat seluruh perangkat makhluk tersebut dalam bentuk suatu uraian serta rancangan.

Pada hasil serta buahnya, seluruh makna makhluk hidup itu kembali disarikan lalu berkumpul di dalamnya, dan ia meninggalkan riwayat hidupnya di sana. Kita melihat seakan-akan benih yang menjadi asalnya merupakan himpunan kaidah-kaidah penciptaannya, sedangkan buah serta hasilnya merupakan daftar perintah-perintah penciptaannya. Kemudian kita memandang bagian luar serta dalam makhluk hidup itu. Terlihat pengelolaan Kudrat yang amat penuh Hikmah serta pemberian bentuk dan pengaturan oleh Kehendak yang menembus segalanya. Yakni, suatu Daya serta Kudrat menciptakan, dan suatu Perintah serta Kehendak mengenakan bentuk.

Pada segala yang ada, ketika memperhatikan awalnya, kita menyaksikan buku petunjuk suatu Ilmu; ketika memperhatikan akhirnya, kita menyaksikan rancangan serta pernyataan Sang Pembuat; ketika memandang luarnya, kita menyaksikan pakaian karya yang amat indah serta serasi dari Sang Pelaku Yang Bebas Memilih dan Yang Berkehendak; ketika memandang dalamnya, kita menyaksikan mesin yang amat teratur dari Sang Qadîr.

Keadaan serta sifat ini pasti dan dengan jelas mengumumkan bahwa tidak satu pun, pada waktu dan tempat mana pun, dapat berada di luar genggaman Kekuasaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl Yang Tunggal. Setiap sesuatu serta seluruh benda, bersama seluruh urusannya, diatur dalam genggaman Kekuasaan Sang Qadîr Yang Berkehendak. Mereka diperindah dengan Pengaturan serta Karunia Ar-Rahmân Ar-Rahîm, dan dihiasi dengan hiasan dari Al-Hannân Al-Mannân.

Ya, bagi orang yang mempunyai kesadaran di kepala serta mata di wajahnya, tatanan, keseimbangan, pengaturan, serta penyeimbangan dalam kainat dan segala yang ada ini menunjukkan pada derajat Keesaan satu Zat yang tunggal, tiada banding, Wâhid, Ahad, Qadîr, Murîd, Alîm, serta Hakîm.

Ya, dalam setiap sesuatu ada kesatuan. Kesatuan menunjukkan satu. Misalnya, matahari yang menjadi lampu dunia itu satu; karena itu, Pemilik dunia juga Esa. Misalnya, udara, api, serta air yang menjadi pelayan makhluk hidup di muka bumi masing-masing merupakan satu kesatuan; karena itu, Dia yang mempekerjakan serta menundukkan mereka untuk kita juga Esa.

KALIMAT KETIGA

لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ

Karena Bagian Pertama Kalimat Ketiga Puluh Dua telah meneguhkan kata ini dengan cara yang amat kuat serta gemilang, kami merujukkannya ke sana. Tidak dapat ada penjelasan yang melampauinya; penjelasan lebih lanjut tidak diperlukan dan tidak diberikan.

KALIMAT KEEMPAT

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ

Yakni, dari bumi sampai Arasy, dari tanah sampai Pleiades, dari zarah sampai planet, dari azali sampai abadi, setiap makhluk, langit serta bumi, dunia serta akhirat, segala sesuatu adalah milik-Nya. Derajat Kepemilikan teragung adalah milik-Nya dalam bentuk tauhid terbesar.

Suatu hujah besar bagi derajat Kepemilikan teragung serta kedudukan tauhid tertinggi ini, pada saat yang menyenangkan serta dalam kenangan yang menyenangkan, dimasukkan ke pikiran orang tidak berdaya ini dalam ungkapan Arab. Untuk menghormati kenangan yang menyenangkan itu, kami akan mencatat ungkapan Arab yang sama, kemudian menuliskan maknanya.

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ لِاَنَّ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢَ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮَ ﻛَﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﺍﻟﺼَّﻐ۪ﻴﺮِ ٭ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎ ﻗُﺪْﺭَﺗِﻪ۪ ﻣَﻜْﺘُﻮﺑَﺎ ﻗَﺪَﺭِﻩ۪ ٭ ﺍِﺑْﺪَﺍﻋُﻪُ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺻَﻴَّﺮَﻩُ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ٭ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩُﻩُ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﺻَﻴَّﺮَﻩُ ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ ﺍِﻧْﺸَٓﺎﺅُﻩُ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺻَﻴَّﺮَ ﺫَﺍﻙَ ﻣِﻠْﻜًﺎ ٭ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩُﻩُ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﺻَﻴَّﺮَﻩُ ﻣَﻤْﻠُﻮﻛًﺎ ٭ ﺻَﻨْﻌَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺗَﻈَﺎﻫَﺮَﺕْ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ٭ ﺻِﺒْﻐَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺗَﺰَﺍﻫَﺮَﺕْ ﺧِﻄَﺎﺑًﺎ ٭ ﻗُﺪْﺭَﺗُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺗُﻈْﻬِﺮُ ﺣِﺸْﻤَﺘَﻪُ ٭ ﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺗُﻨَﻈِّﻢُ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻪُ ٭ ﺣِﺸْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺗَﺸْﻬَﺪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ ٭ ﻧِﻌْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺗُﻌْﻠِﻦُ ﻫُﻮَ الْاَحَدُ ٭ ﺳِﻜَّﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜُﻞِّ وَالْاَجْزَٓاءِ ٭ ﺧَﺎﺗَﻤُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠِﺴْﻢِ ﻭَ الْاَعْضَٓاءِ

Uraian Pertama:

ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢَ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮَ ﺍﻟﺦ

Yakni, alam besar yang disebut kainat ini serta alam kecil yang disebut manusia, yang merupakan contohnya dalam ukuran kecil, menunjukkan dalil-dalil Keesaan pada alam luar serta diri sendiri, yang ditulis dengan pena Kudrat dan Takdir.

Ya, contoh karya yang teratur dalam kainat terdapat dalam ukuran kecil pada manusia. Sebagaimana karya dalam lingkup besar itu bersaksi bagi Sang Pembuat Yang Wâhid, karya mikroskopis dalam ukuran kecil pada manusia ini juga mengisyaratkan Sang Pembuat itu serta menunjukkan Keesaan-Nya.

Sebagaimana manusia ini merupakan surat dari Rabb yang amat bermakna serta syair Takdir yang teratur, kainat ini juga merupakan syair Takdir teratur yang ditulis dengan pena Takdir yang sama, tetapi dalam ukuran besar.

Mungkinkah sesuatu selain Dia Yang Wâhid lagi Ahad turut campur pada cap Keesaan di wajah manusia ini, yang berhubungan dengan seluruh manusia melalui tanda-tanda pembeda tak terhitung, serta pada segel Keesaan di atas kainat, yang membuat seluruh makhluk bahu-membahu, bergandeng tangan, dan bekerja bersama?

Uraian Kedua:

ﺍِﺑْﺪَﺍﻋُﻪُ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺍﻟﺦ

Maknanya ialah: Sang Pembuat Yang Hakîm menciptakan alam besar dengan cara yang demikian menakjubkan serta mengukir tanda-tanda Kebesaran-Nya di atasnya sehingga Dia mengubah kainat menjadi masjid besar. Dia juga menciptakan manusia dengan cara tertentu dan memberinya akal, lalu melalui akal itu membuatnya bersujud penuh takjub di hadapan mukjizat karya-Nya serta Kudrat-Nya yang menakjubkan, membuatnya membaca tanda-tanda Kebesaran-Nya dan bersiap untuk ubudiyah. Dia menciptakannya dalam masjid besar itu dengan fitrah hamba yang bersujud.

Mungkinkah Ma'bûd Yang Hakiki mereka yang bersujud serta beribadah dalam masjid besar ini adalah selain Sang Pembuat Yang Wâhid lagi Ahad itu?

Uraian Ketiga:

ﺍِﻧْﺸَٓﺎﺋُﻪُ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺍﻟﺦ

Maknanya ialah: Sang Mâlikul Mulk Dzul-Jalâl membangun serta membuat alam besar, terutama muka bumi, dengan cara yang mempunyai lingkup tak terhitung di dalam satu sama lain. Setiap lingkup merupakan ladang tempat Dia menanam, menuai, serta mengambil hasil dari waktu ke waktu, dari musim ke musim, dari abad ke abad. Dia terus-menerus mengerjakan serta mengelola wilayah milik-Nya.

Dia menjadikan alam zarah, lingkup terbesar, sebagai ladang. Setiap saat, dengan Kudrat serta Hikmah-Nya, Dia menanam, menuai, serta mengambil hasil sebesar kainat di dalamnya. Dia mengirimnya dari alam yang disaksikan ke alam gaib, dari lingkup Kudrat ke lingkup Ilmu.

Kemudian Dia menjadikan muka bumi, lingkup pertengahan, sebagai ladang serupa, yang di dalamnya Dia menanam, menuai, serta mengambil alam-alam dan jenis-jenis dari musim ke musim. Dia juga mengirim hasil rohaninya ke alam-alam-Nya: alam gaib, alam ukhrawi, alam rupa (alam gambaran), serta alam rohani.

Sebuah kebun, lingkup yang lebih kecil, juga Dia isi dengan Kudrat serta kosongkan dengan Hikmah seratus kali, seribu kali.

Dari makhluk hidup, lingkup yang lebih kecil lagi, misalnya sebuah pohon atau seorang manusia, Dia mengambil hasil seratus kali sebesar makhluk itu.

Jadi, Sang Mâlikul Mulk Dzul-Jalâl membangun setiap sesuatu—kecil ataupun besar, terbatas ataupun menyeluruh—sebagai model, lalu mengenakan kepadanya kain-kain karya-Nya yang dihiasi ukiran-ukiran segar dalam ratusan bentuk. Dia menampakkan manifestasi Asma-Nya serta mukjizat Kudrat-Nya. Dalam wilayah milik-Nya, Dia membangun setiap sesuatu sebagai sebuah lembaran; pada setiap lembaran Dia menulis surat-surat-Nya yang bermakna dalam ratusan bentuk, menampakkan tanda-tanda Hikmah-Nya, serta membuat makhluk yang sadar membacanya.

Bersama membangun alam besar ini sebagai wilayah milik-Nya, Dia juga menciptakan manusia dengan cara tertentu dan memberinya perangkat, alat, indra, serta perasaan, terutama nafsu, hawa nafsu, kebutuhan, selera, keinginan besar, serta tuntutan. Dengan itu, Dia menjadikannya hamba yang dimiliki-Nya dalam wilayah luas tersebut, yang membutuhkan seluruh wilayah milik-Nya.

Mungkinkah selain Sang Mâlikul Mulk Dzul-Jalâl mengelola wilayah milik itu serta menjadi pemilik hamba tersebut? Dialah yang menjadikan semuanya, dari alam zarah yang amat besar sampai seekor lalat, sebagai wilayah milik serta ladang; yang menjadikan manusia kecil sebagai pengawas, pemeriksa, petani, pedagang, penyeru, orang yang beribadah, serta hamba yang dimiliki-Nya dalam wilayah besar itu; dan yang menjadikannya tamu terhormat serta teman bicara tercinta bagi-Nya.

Uraian Keempat: Ungkapannya ialah

ﺻَﻨْﻌَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟﺦ

. Maknanya ialah: Karya Sang Pembuat Dzul-Jalâl dalam alam besar demikian bermakna sehingga karya itu tampil dalam bentuk kitab dan menjadikan kainat seperti kitab besar. Karena itu, akal manusia mengambil perpustakaan ilmu filsafat yang hakiki darinya serta menulis sesuai dengannya. Kitab hikmah itu begitu terikat pada hakikat dan memperoleh bantuan dari hakikat sehingga diumumkan dalam bentuk Al-Qur'an Al-Hakîm, yang merupakan salinan dari Kitâb Mubîn yang besar.

Sebagaimana karya-Nya dalam kainat mengambil bentuk kitab karena keteraturannya yang sempurna, corak serta ukiran Hikmah-Nya dalam manusia juga membuat bunga tutur mekar. Yakni, karya itu demikian bermakna, halus, serta indah sehingga perangkat-perangkat dalam mesin hidup itu berbicara seperti fonograf; Dia membuatnya berbicara. Dalam susunan paling indah, Dia memberikan corak dari Rabb sedemikian rupa sehingga pada kepala yang bersifat materi, jasmani, serta tanpa kehidupan itu, bunga penjelasan serta tutur yang rohani, gaib, serta hidup mekar. Dia memberikan kepada kemampuan bertutur serta menjelaskan dalam kepala manusia itu perangkat dan kemampuan sedemikian luhur sehingga Dia menumbuhkan serta memajukannya menuju kedudukan

yang dapat menjadi lawan bicara Sang Sultan Azali. Yakni, corak dari Rabb pada fitrah manusia membuat bunga sapaan Ilahi mekar.

Mungkinkah selain Dia Yang Wâhid lagi Ahad turut campur pada karya dalam segala yang ada yang telah mencapai derajat kitab, serta pada corak dalam manusia yang telah mencapai kedudukan bertutur itu? Hâşâ!

Uraian Kelima: Ungkapannya ialah

ﻗُﺪْﺭَﺗُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟﺦ

. Maknanya ialah: Kudrat Ilahi menunjukkan Kemegahan-Nya dalam memelihara serta menguasai alam besar. Adapun Rahmat Rabb mengatur nikmat-nikmat dalam manusia, alam kecil.

Yakni, pada segi Kebesaran serta Keagungan, Kudrat Sang Pembuat menciptakan kainat dalam bentuk istana yang begitu megah sehingga Dia menyepuh serta meneranginya dengan buah-buah berupa matahari sebagai lampu listrik besar, bulan sebagai pelita, serta bintang-bintang sebagai lilin. Dia menjadikan muka bumi sebagai hidangan, ladang, kebun, serta permadani; gunung-gunung sebagai gudang, tiang, serta benteng; dan demikian seterusnya, menjadikan segala sesuatu dalam ukuran besar sebagai perlengkapan istana besar itu. Dengan cara gemilang, Dia menunjukkan Kemegahan-Nya dalam memelihara serta menguasai segala sesuatu...

Pada segi Keindahan, Rahmat-Nya juga memberikan beragam nikmat-Nya kepada setiap makhluk berjiwa sampai makhluk hidup terkecil, dan mengaturnya melalui nikmat itu. Dia menghiasinya dengan nikmat dari kepala sampai kaki, serta memperindahnya dengan Karunia dan Kemurahan. Di hadapan kemegahan agung itu, Dia menghadirkan Keindahan Rahmat-Nya melalui lisan-lisan kecil itu sebagai tanggapan terhadap lisan besar tersebut.

Yakni, ketika benda-benda besar seperti matahari serta Arasy berkata dengan bahasa kemegahan, "yâ Celil, yâ Kebir, yâ Azîm", makhluk-makhluk hidup kecil seperti lalat serta ikan juga berkata dengan bahasa Rahmat, "yâ Cemil, yâ Rahîm, yâ Kerim", lalu menambahkan nada-nada lembut mereka pada musik besar itu serta membuatnya manis.

Mungkinkah sesuatu selain Sang Jalîl Dzul-Jamâl serta Sang Jamîl Dzul-Jalâl itu turut campur seorang diri dalam menciptakan alam besar serta alam kecil ini? Hâşâ!

Uraian Keenam: Ungkapannya ialah

ﺣِﺸْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟﺦ

. Maknanya ialah: Yakni, sebagaimana kemegahan pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ yang tampak pada kainat sebagai keseluruhan meneguhkan serta menunjukkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, nikmat dari Rabb yang memberikan rezeki terukur kepada masing-masing makhluk hidup juga meneguhkan serta menunjukkan Ahadiyah Allah سُبْحَانَهُ.

Wâhidiyah berarti seluruh makhluk itu adalah milik satu Zat, mengarah kepada satu Zat, serta ciptaan satu Zat.

Ahadiyah berarti kebanyakan Asma Sang Khâliq segala sesuatu bertajalli (tampak nyata) dalam setiap sesuatu.

Misalnya, dari segi cahaya matahari meliputi seluruh muka bumi, ia menunjukkan contoh wâhidiyah. Pada setiap bagian yang tembus pandang serta titik air terdapat cahaya, panas, tujuh warna dalam cahayanya, serta semacam bayangan matahari; hal ini menunjukkan contoh ahadiyah. Karena kebanyakan Asma Sang Pembuat bertajalli dalam setiap sesuatu, terutama makhluk hidup, dan khususnya setiap manusia, ia menunjukkan ahadiyah.

Uraian ini mengisyaratkan: Kemegahan Allah سُبْحَانَهُ dalam memelihara serta menguasai kainat menjadikan matahari besar itu pelayan, lampu, serta tungku bagi makhluk hidup di muka bumi; bola bumi besar itu buaian, kediaman, serta tempat berniaga bagi mereka; api sebagai juru masak serta sahabat yang siap di setiap tempat; awan sebagai saringan serta pengasuh yang menyusui; gunung-gunung sebagai gudang serta lumbung; udara sebagai napas bagi makhluk hidup serta kipas bagi jiwa-jiwa; dan air sebagai pengasuh yang memberikan susu kepada mereka yang baru memasuki kehidupan serta penyaji minuman yang memberikan air kehidupan kepada hewan. Pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ ini menunjukkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ dengan cara amat jelas.

Ya, siapa selain Sang Khâliq Yang Wâhid yang menjadikan matahari sebagai pelayan yang ditundukkan bagi penghuni bumi? Siapa selain Dia Yang Wâhid lagi Ahad yang memegang udara di tangan-Nya, menugasinya dengan amat banyak tugas, serta menjadikannya pelayan yang gesit di muka bumi? Siapa selain Dia Yang Wâhid lagi Ahad yang mampu menjadikan api sebagai juru masak dan membuat zarah api sekecil kepala korek menelan ribuan batman benda, dan demikian seterusnya? Setiap sesuatu, setiap unsur, serta setiap benda langit menunjukkan Dia Yang Wâhid Dzul-Jalâl pada segi kemegahan-Nya dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu.

Sebagaimana wâhidiyah terlihat pada segi Keagungan serta Kemegahan, nikmat dan anugerah juga mengumumkan Ahadiyah Allah سُبْحَانَهُ pada segi Keindahan serta Rahmat. Sebab, dalam makhluk hidup, terutama manusia, terdapat perangkat serta alat untuk memahami, menerima, dan meminta jenis nikmat tak terhitung dalam karya yang begitu menyeluruh, sehingga ia menjadi tempat manifestasi seluruh Asma-Nya yang bertajalli dalam seluruh kainat. Seakan-akan sebagai titik pusat tempat sinar berkumpul, melalui cermin hakikat dirinya ia sekaligus menunjukkan seluruh Asma Allah سُبْحَانَهُ Yang Indah, lalu melalui itu mengumumkan Ahadiyah Allah سُبْحَانَهُ.

Uraian Ketujuh:

ﺳِﻜَّﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜُﻞِّ وَالْاَجْزَٓاءِ ﺧَﺎﺗَﻤُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠِﺴْﻢِ وَالْاَعْضَٓاءِ

Maknanya ialah: Sebagaimana Sang Pembuat Dzul-Jalâl mempunyai cap besar pada alam besar sebagai keseluruhan, Dia juga meletakkan cap Keesaan pada seluruh bagian serta jenisnya. Sebagaimana Dia membubuhkan segel Keesaan pada tubuh serta wajah manusia, alam kecil, Dia juga mempunyai meterai Keesaan pada setiap anggota tubuhnya.

Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâl itu meletakkan cap Keesaan pada setiap sesuatu, pada keseluruhan serta masing-masing bagian, pada bintang-bintang serta zarah-zarah, yang bersaksi bagi-Nya. Dia juga membubuhkan meterai Keesaan yang menunjukkan-Nya. Karena hakikat agung ini telah dijelaskan serta diteguhkan dengan cara amat bersinar dan pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Dua, Kalimat Ketiga Puluh Dua, serta tiga puluh tiga Jendela dalam Surat Ketiga Puluh Tiga, kami merujukkan kepadanya, mengakhiri pembahasan, dan memberi penutup di sini.

KALIMAT KELIMA

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ

Yakni, kesempurnaan yang menjadi sebab puji serta sanjungan pada seluruh makhluk adalah milik-Nya. Karena itu, puji juga milik-Nya. Dari azali sampai abadi, puji serta sanjungan yang datang dan akan datang dari siapa pun kepada siapa pun adalah milik-Nya. Sebab, nikmat, anugerah, kesempurnaan, serta keindahan yang menjadi sebab pujian, dan segala yang menjadi landasan puji adalah milik-Nya, khusus bagi-Nya.

Ya, menurut isyarat ayat-ayat Al-Qur'an, dari seluruh makhluk senantiasa ada ubudiyah, tasbih, sujud, doa, serta puji dan sanjungan yang pergi ke hadirat Ilahi; semuanya terus menuju hadirat itu. Kami mengisyaratkan suatu hujah teragung yang meneguhkan hakikat tauhid ini demikian:

Ketika kita memandang kainat ini, ia tampak sebagai kebun besar, dengan atap disepuh bintang-bintang tinggi serta tanah diramaikan makhluk-makhluk berhias. Setiap benda langit bercahaya yang teratur serta makhluk di bawah yang penuh hikmah dan berhias dalam kebun besar ini, semuanya berkata dengan bahasa masing-masing, "Kami adalah mukjizat Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Kami bersaksi bagi Keesaan Sang Khâliq Yang Hakîm serta Sang Pembuat Yang Qadîr."

Kita memandang bola bumi dalam kebun besar alam ini dan melihat bahwa ratusan ribu kelompok tumbuhan yang berwarna-warni, berhias serta berbunga terbentang di atasnya seperti kebun, dan ratusan ribu jenis hewan yang beragam tersebar di dalamnya.

Dalam kebun bumi ini, seluruh tumbuhan berhias serta hewan indah itu mengumumkan melalui rupa yang teratur dan bentuk yang seimbang, "Kami masing-masing merupakan mukjizat serta keajaiban karya Sang Pembuat Yang Hakîm Yang Tunggal, dan masing-masing merupakan penyeru serta saksi Keesaan."

Kita juga memandang puncak pohon-pohon dalam kebun itu dan melihat buah serta bunga dalam beragam bentuk yang dibuat dengan Ilmu, Hikmah, Kemurahan, Kelembutan, serta Keindahan yang amat tinggi. Mereka semua mengumumkan dengan satu bahasa, "Kami adalah hadiah yang menampilkan mukjizat serta anugerah yang menimbulkan rasa takjub dari Ar-Rahmân Dzul-Jamâl serta Ar-Rahîm Dzul-Kamâl."

Benda-benda serta makhluk dalam kebun besar kainat, tumbuhan serta hewan dalam kebun bola bumi, dan bunga serta buah pada puncak pohon dan tumbuhan bersaksi, mengumumkan, serta berkata dengan suara yang amat tinggi:

"Sang Khâliq dan Sang Pemberi Bentuk kami, yang memberikan kami sebagai hadiah, Sang Qadîr Dzul-Jamâl, Sang Hakîm Yang Tiada Banding, Sang Karîm Yang Melimpah Pemberian-Nya, berkuasa atas segala sesuatu. Tidak satu pun berat bagi-Nya. Tidak satu pun dapat berada di luar lingkup Kudrat-Nya. Dibandingkan dengan Kudrat-Nya, zarah serta bintang sama. Yang menyeluruh mudah seperti yang terbatas. Bagian berharga seperti keseluruhan. Yang terbesar ringan bagi Kudrat-Nya seperti yang terkecil. Yang kecil mempunyai karya yang indah seperti yang besar; bahkan dari segi karya, yang kecil kadang-kadang lebih besar daripada yang besar."

Seluruh peristiwa masa lalu yang merupakan keajaiban Kudrat bersaksi bahwa Sang Qadîr Mutlak itu mampu mewujudkan segala kemungkinan menakjubkan pada seluruh masa depan. Sebagaimana Dia yang mendatangkan kemarin mendatangkan esok, Zat Yang Qadîr yang menciptakan masa lalu juga menciptakan masa depan. Sang Pembuat Yang Hakîm yang membuat dunia juga membuat akhirat. Ya, sebagaimana hanya Sang Qadîr Dzul-Jalâl itu Ma'bûd yang berhak disembah, hanya Dia pula yang berhak atas seluruh pujian. Sebagaimana ibadah khusus bagi-Nya, puji serta sanjungan juga hanya bagi-Nya.

Mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm, yang menciptakan langit serta bumi, membiarkan manusia—hasil terpenting langit serta bumi, dan buah paling sempurna kainat—tanpa arah, menyerahkannya kepada sebab-sebab serta kebetulan, lalu mengubah Hikmah-Nya yang terang menjadi kesia-siaan? Hâşâ!

Mungkinkah Zat Yang Hakîm lagi Alîm mengatur serta memberi bentuk sebuah pohon dengan perhatian amat besar, mengurus serta

memeliharanya dengan Hikmah yang amat tinggi, tetapi tidak memandang serta tidak memperhatikan buah-buahnya yang menjadi tujuan dan manfaat pohon itu, sehingga mereka tersebar ke tangan pencuri serta tempat kosong, lalu tersia-sia? Tentu tidak mungkin Dia tidak memandang serta tidak memperhatikan. Sebab, perhatian pada pohon adalah demi buah-buahnya.

Buah yang sadar serta buah, hasil, dan tujuan paling sempurna kainat ini adalah manusia. Mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm yang membuat kainat ini memberikan kepada yang lain puji dan ibadah, syukur dan cinta, yang merupakan buah dari buah-buah sadar ini, lalu meniadakan Hikmah-Nya yang terang, atau mengubah Kudrat mutlak-Nya menjadi keadaan tidak berdaya, atau mengubah Ilmu-Nya yang meliputi segalanya menjadi kebodohan? Seratus ribu kali hâşâ!

Mungkinkah syukur serta ibadah yang ditunjukkan makhluk yang sadar, yang menjadi pusat tujuan-tujuan Rabb dalam bangunan istana kainat ini, serta umat manusia yang menonjol di antara makhluk yang sadar, sebagai balasan bagi nikmat yang mereka peroleh, pergi kepada selain Sang Pembuat istana kainat itu? Mungkinkah Sang Pembuat Dzul-Jalâl mengizinkan syukur serta ibadah, yang merupakan tujuan segala tujuan itu, pergi kepada yang lain?

Mungkinkah Dia membuat Diri-Nya dicintai oleh makhluk yang sadar melalui jenis nikmat-Nya yang tak terhitung serta memperkenalkan Diri-Nya kepada mereka melalui mukjizat karya-Nya yang tak terhitung, kemudian meninggalkan syukur serta ibadah, puji serta cinta, makrifat serta rasa berutang budi mereka kepada sebab-sebab dan alam tanpa memperhatikannya, membuat Hikmah mutlak-Nya diingkari, serta meniadakan Kuasa-Nya dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu? Seratus ribu kali hâşâ ve kellâ!

Mungkinkah sesuatu yang tidak dapat menciptakan musim semi, tidak dapat menciptakan seluruh buah, serta tidak dapat membangun seluruh apel di muka bumi yang mempunyai cap sama, menciptakan satu apel yang merupakan contoh kecil semuanya, memberikannya sebagai nikmat untuk dimakan seseorang, memperoleh syukurnya, serta turut mengambil bagian dalam puji kepada Dia yang berhak atas seluruh pujian? Hâşâ!.. Sebab, siapa pun yang menciptakan satu apel, Dia pula yang dapat menciptakan seluruh apel yang datang ke dunia, karena capnya satu. Siapa pun yang menciptakan apel, Dia pula yang menciptakan biji-bijian serta buah-buahan yang menjadi sarana rezeki di seluruh dunia.

Jadi, Dia yang memberikan nikmat paling kecil kepada satu makhluk hidup yang paling kecil ialah langsung Sang Khâliq kainat serta Ar-Razzâq Dzul-Jalâl. Karena itu, syukur serta puji langsung hanya bagi-Nya. Karena itu, hakikat kainat senantiasa berkata dengan bahasa haq:

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺍَﺣَﺪٍ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ

KALIMAT KEENAM

ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ

Yakni, hanya Dia yang memberikan kehidupan. Karena itu, hanya Dia pula Sang Khâliq segala sesuatu. Sebab, ruh, cahaya, sari, dasar, hasil, serta inti kainat adalah kehidupan. Siapa pun yang memberikan kehidupan, Dialah pula Sang Khâliq seluruh kainat. Tentu Dialah yang memberikan kehidupan, Al-Hayy Al-Qayyûm.

Kami mengisyaratkan hujah teragung bagi derajat tauhid ini demikian: Sebagaimana dijelaskan serta diteguhkan dalam Kalimat lain, kita melihat pasukan makhluk hidup yang amat megah, yang kemah-kemahnya didirikan di hamparan muka bumi. Ya, di antara pasukan Al-Hayy Al-Qayyûm yang tak terhitung, pada setiap musim semi kita melihat pasukan segar yang datang dari alam gaib, yang baru dikerahkan untuk bertugas. Kita memandang pasukan ini dan melihat beragam kelompok yang berbeda-beda: lebih dari dua ratus ribu kelompok tumbuhan serta lebih dari seratus ribu kelompok hewan. Pakaian, rezeki, petunjuk, pembebasan dari tugas, senjata, serta masa dinas setiap kelompok itu berbeda. Meskipun demikian, siapa yang bermata melihat dengan mata kepala, dan siapa yang berhati membenarkan dengan ainulyaqin, bahwa Sang Panglima Teragung, dengan Kudrat serta Hikmah yang tak terhitung, Ilmu serta Kehendak yang tiada batas, Rahmat yang tidak habis, serta khazanah yang tidak berakhir, tanpa melupakan, keliru, mencampuradukkan, ataupun menunda satu pun, memberikan kepada masing-masing dari lebih dari tiga ratus ribu kelompok itu rezeki, pakaian, serta senjata yang berbeda tepat pada waktunya, memberikan petunjuk yang berbeda, serta membebaskan mereka dari tugas secara berbeda, dengan keteraturan sempurna dan keseimbangan sepenuhnya.

Mungkinkah selain Pemilik Ilmu yang menyeluruh serta meliputi seluruh urusan pasukan itu, dan Kudrat mutlak yang mengurus seluruh kebutuhannya, turut campur dalam menghidupkan serta mengurus, memelihara serta memberikan rezeki ini, mencampurinya, atau mempunyai bagian di dalamnya? Ratusan ribu kali hâşâ!..

Diketahui bahwa jika terdapat sepuluh kelompok dalam satu batalion, memberi mereka perlengkapan secara berbeda sulit seperti melengkapi sepuluh batalion. Karena itu, manusia yang tidak berdaya mau tidak mau terpaksa memberi perlengkapan dengan satu cara. Padahal, Al-Hayy Al-Qayyûm memberikan perlengkapan kehidupan yang berbeda kepada lebih dari tiga ratus ribu kelompok dalam pasukan-Nya yang megah ini. Dia memberikannya tanpa beban, tanpa kesulitan, dengan cara mudah, ringan, amat penuh Hikmah, serta amat teratur. Dia juga

membuat pasukan besar itu mengucapkan ﻫُﻮَ ﺍﻟّﺬ۪ﻯ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ dengan satu bahasa, dan membuat jamaah besar itu membaca

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍْﻟﺤَﻰُّ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡُ لَا ﺗَﺎْﺧُﺬُﻩُ ﺳِﻨَﺔٌ وَلَانَوْمٌ

ilh dalam masjid kainat...

KALIMAT KETUJUH

ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ

Yakni, Dialah yang memberikan kematian. Yakni, sebagaimana Dialah yang memberikan kehidupan, Dia pula yang mengambil kehidupan serta memberikan kematian. Ya, kematian bukan hanya hancur serta padam sehingga dapat diberikan kepada sebab-sebab atau diserahkan kepada alam. Sebagaimana sebuah benih secara lahiriah mati serta membusuk, tetapi secara batiniah beralih menuju kehidupan serta terbentuknya bulir, yakni dari kehidupan benih yang terbatas menuju kehidupan bulir yang menyeluruh, kematian juga demikian. Meskipun secara lahiriah terlihat sebagai terurai serta padam, sebenarnya bagi manusia ia menjadi sebutan, pendahuluan, serta permulaan kehidupan yang kekal. Karena itu, tentu Sang Qadîr Mutlak yang memberikan serta mengurus kehidupan pula yang menciptakan kematian.

Kami mengisyaratkan hujah teragung bagi derajat tauhid terbesar dalam kata ini demikian:

Sebagaimana dijelaskan dalam Jendela Kedua Puluh Empat Surat Ketiga Puluh Tiga: Segala yang ada ini mengalir dengan Kehendak Ilahi. Kainat ini bergerak dengan Perintah Rabb. Makhluk-makhluk ini terus mengalir dalam sungai waktu dengan Izin Ilahi. Mereka dikirim dari alam gaib, dikenakan wujud lahiriah dalam alam yang disaksikan, kemudian turun serta jatuh seperti hujan ke alam gaib secara teratur. Dengan Perintah Rabb, mereka terus datang dari masa depan, singgah serta bernapas pada masa kini, lalu tercurah ke masa lalu.

Aliran makhluk-makhluk ini berlangsung dalam lingkup Rahmat serta anugerah dengan penuh Hikmah; perjalanannya dalam lingkup Hikmah serta keteraturan dengan penuh Ilmu; dan arusnya dalam lingkup Kasih serta keseimbangan dengan penuh Rahmat. Dari awal sampai akhir, semuanya dijalankan dengan Hikmah, manfaat, hasil, serta tujuan.

Jadi, Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl, terus memberikan kehidupan serta menugasi kelompok-kelompok makhluk, masing-masing anggota dalam setiap kelompok, serta alam-alam yang tersusun dari kelompok itu, dengan Kudrat-Nya. Kemudian,

dengan Hikmah-Nya, Dia membebaskan mereka dari tugas, memberi mereka kematian, serta mengirim mereka ke alam gaib. Dia memindahkan mereka dari lingkup Kudrat ke lingkup Ilmu.

Mungkinkah sesuatu yang tidak mampu memutar kainat sebagai keseluruhan, tidak mempunyai kuasa atas seluruh waktu, tidak mampu memberikan kehidupan serta kematian kepada alam-alam seperti kepada satu individu, dan tidak dapat menghidupkan musim-musim semi seperti bunga, melekatkannya di muka bumi, kemudian melalui kematian memetik serta mengambilnya, menjadi pemilik kematian serta tindakan mematikan? Ya, kematian makhluk hidup paling kecil pun, seperti kehidupannya, pasti berlangsung dengan Hukum, Izin, Perintah, Kekuatan, serta Ilmu Zat Dzul-Jalâl yang memegang seluruh hakikat kehidupan serta jenis kematian di tangan-Nya.

KALIMAT KEDELAPAN

ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ

Yakni, Kehidupan-Nya terus berlangsung, dari azali sampai abadi. Kematian serta musnah, tidak ada serta sirna, tidak dapat menimpa-Nya. Sebab, Kehidupan melekat pada Zat-Nya sendiri. Yang melekat pada Zat-Nya sendiri tidak dapat sirna.

Ya, Dia Yang Azali tentu Abadi. Dia Yang Tidak Berawal tentu Kekal. Dia Yang Wâjibul Wujûd tentu terus ada selamanya.

Ya, seluruh wujud dengan seluruh cahayanya merupakan bayangan Kehidupan-Nya. Bagaimana mungkin Kehidupan itu menjadi tidak ada?

Ya, wujud yang wajib ada merupakan sifat yang tidak terpisahkan serta sebutan bagi Kehidupan itu. Tentu menjadi tidak ada serta musnah tidak dapat menimpa Kehidupan itu dari segi apa pun.

Ya, seluruh kehidupan terus muncul melalui manifestasi Kehidupan-Nya, dan seluruh hakikat tetap kainat bersandar pada Kehidupan itu serta tegak melalui Kehidupan itu. Tentu musnah serta sirna tidak dapat menimpa Kehidupan itu dari segi apa pun.

Ya, satu kilau manifestasi Kehidupan-Nya memberikan kesatuan kepada banyak benda yang dapat musnah serta sirna, membuatnya tetap bertahan, menyelamatkannya dari tercerai, menjaga wujudnya, serta memberinya suatu bentuk daya bertahan. Yakni, kehidupan memberikan kesatuan kepada segala yang beraneka dan membuatnya tetap ada. Jika kehidupan pergi, mereka tercerai serta musnah. Tentu sirna dan musnah tidak dapat mendekati Kehidupan Yang Wajib Ada, yang kilau-kilau kehidupan tak terhitung itu merupakan satu manifestasi-Nya.

Saksi yang pasti bagi hakikat ini ialah sirnanya serta musnahnya kainat ini. Yakni, sebagaimana segala yang ada, melalui wujud serta kehidupan mereka, menunjukkan dan bersaksi bagi Kehidupan Al-Hayy Yang Tidak Pernah Mati serta bahwa Kehidupan itu wajib ada,

{(Catatan kaki):

Nabi Ibrahim aleyhisselâm, dalam menghadapi Namrud mengenai tindakan mematikan serta menghidupkan, beralih kepada terbit serta terbenamnya matahari. Hal ini merupakan peralihan dari mematikan serta menghidupkan yang terbatas menuju mematikan serta menghidupkan yang menyeluruh, dan merupakan langkah maju. Ia memperlihatkan lingkup paling bersinar serta paling luas dari dalil itu. Ia bukan meninggalkan dalil yang tersembunyi lalu beralih kepada dalil yang tampak seperti dikatakan sebagian ahli tafsir.} demikian pula, melalui kematian serta sirna mereka, mereka menunjukkan dan bersaksi bahwa Kehidupan itu Kekal serta terus berlangsung selamanya. Sebab, setelah segala yang ada sirna, yang serupa dengan mereka kembali memperoleh kehidupan di belakang mereka dan menggantikan tempat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ada Dia Yang Senantiasa Hidup, yang terus memperbarui manifestasi Kehidupan-Nya.

Sebagaimana gelembung-gelembung pada permukaan sungai yang mengalir menghadap matahari bersinar lalu pergi, yang datang kemudian menunjukkan sinar yang sama; kelompok demi kelompok bersinar di belakangnya, lalu padam serta pergi. Melalui keadaan padam dan bersinar ini, mereka menunjukkan bahwa matahari yang tinggi serta terus ada tetap berlangsung. Demikian pula, perubahan serta pergantian kehidupan dan kematian pada makhluk-makhluk yang bergerak ini bersaksi bahwa Al-Hayy Yang Kekal tetap ada serta terus berlangsung.

Ya, segala yang ada ini merupakan cermin. Namun, sebagaimana gelap menjadi cermin bagi cahaya, dan semakin pekat gelap, semakin tampak sinar cahaya, dari banyak segi mereka menjadi cermin melalui hal yang berlawanan. Misalnya, sebagaimana segala yang ada menjadi cermin bagi Kudrat Sang Pembuat melalui keadaan tidak berdaya mereka, serta menjadi cermin bagi Kekayaan-Nya melalui rasa membutuhkan mereka, melalui musnahnya mereka juga menjadi cermin bagi Dia Yang Kekal. Ya, keadaan miskin muka bumi serta pohon-pohon di atasnya pada musim dingin, dan kekayaan serta kelimpahan mereka yang memancarkan kemilau pada musim semi, dengan amat pasti menjadi cermin bagi Kudrat serta Rahmat Sang Qadîr Mutlak dan Al-Ghaniyy Yang Mutlak.

Ya, seluruh makhluk seakan-akan bermunajat melalui bahasa keadaan seperti Uwais Al-Qarani demikian, dan berkata:

Yâ İlahenâ! Engkaulah Rabb kami! Sebab, kami adalah hamba. Kami tidak mampu memelihara diri kami sendiri. Jadi, Engkaulah yang memelihara kami.

Engkau juga Sang Khâliq! Sebab, kami adalah makhluk; kami dibuat.

Engkau juga Ar-Razzâq! Sebab, kami membutuhkan rezeki, tetapi tangan kami tidak dapat mencapainya. Jadi, Engkaulah yang membuat kami serta memberikan rezeki kami.

Engkau juga Sang Pemilik! Sebab, kami adalah hamba yang dimiliki. Selain diri kami ada Dia yang mengelola kami. Jadi, Engkaulah Pemilik kami.

Engkau juga Al-Azîz, Pemilik Kemuliaan serta Keagungan! Kami memandang diri kami yang hina, tetapi di atas kami ada manifestasi kemuliaan. Jadi, kami adalah cermin Kemuliaan-Mu.

Engkau juga Al-Ghaniyy Yang Mutlak! Sebab, kami serba membutuhkan. Kelimpahan yang tidak dapat kami jangkau dalam keadaan serba membutuhkan ini diberikan kepada kami. Jadi, Engkaulah Al-Ghaniyy, Engkaulah yang memberi.

Engkau juga Al-Hayy Yang Kekal! Sebab, kami mati. Dalam kematian serta hidup kembali kami, kami melihat manifestasi Dia yang terus memberikan kehidupan.

Engkau juga Yang Kekal! Sebab, dalam musnah serta sirna kami, kami melihat Engkau terus ada dan Kekal.

Engkau juga yang menjawab serta memberikan anugerah! Sebab, kami, seluruh makhluk, terus berseru serta meminta, berdoa serta memohon melalui bahasa perkataan dan keadaan kami. Keinginan kami dipenuhi, apa yang kami cari diberikan. Jadi, Engkaulah yang menjawab kami. Dan demikian seterusnya...

Setiap makhluk, baik sebagai keseluruhan maupun masing-masing bagian, menjadi cermin dalam bentuk munajat rohani seperti seorang Uwais Al-Qarani. Melalui keadaan tidak berdaya, rasa membutuhkan, serta kekurangan mereka, mereka mengumumkan Kudrat serta Kesempurnaan Ilahi.

KALIMAT KESEMBILAN

ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ

Yakni, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, seluruh amal baik dalam kitab-Nya, serta seluruh anugerah dalam khazanah-Nya. Karena itu, siapa yang meminta kebaikan harus memintanya dari-Nya; siapa yang menginginkan kebajikan harus memohon kepada-Nya...

Untuk menunjukkan hakikat kata ini dengan pasti, kami mengisyaratkan tanda-tanda serta kilau-kilau dari satu dalil luas di antara dalil-dalil Ilmu Ilahi yang tak terhitung demikian, dan berkata:

Sang Pembuat yang mengelola serta menciptakan melalui tindakan yang terlihat dalam kainat ini mempunyai Ilmu yang meliputi segalanya. Ilmu itu merupakan sifat Zat-Nya yang tidak terpisahkan serta wajib; mustahil Ilmu itu terpisah. Sebagaimana tidak mungkin matahari ada tetapi cahayanya tidak ada, ribuan kali lebih tidak mungkin Ilmu terpisah dari Zat yang menciptakan makhluk-makhluk teratur ini. Sebagaimana Ilmu yang meliputi segalanya ini tidak terpisahkan dari Zat itu, dari segi hubungannya dengan segala sesuatu, Ilmu itu juga pasti meliputi semuanya. Yakni, tidak satu pun dapat tersembunyi dari Ilmu itu. Sebagaimana benda-benda di muka bumi yang menghadap matahari tanpa tabir tidak mungkin tidak melihat matahari, seribu kali lebih tidak mungkin, bahkan mustahil, benda-benda bersembunyi dari cahaya Ilmu Al-Alîm Dzul-Jalâl itu. Sebab, mereka hadir di hadapan-Nya. Yakni, segala sesuatu berada dalam lingkup Pandangan-Nya, menghadap-Nya, berada dalam lingkup apa yang disaksikan-Nya, serta Ilmu-Nya menjangkau segala sesuatu. Meskipun benda bercahaya seperti matahari tanpa kehidupan ini, manusia tidak berdaya ini, serta sinar-X tanpa kesadaran ini bersifat baru, tidak sempurna, serta memperoleh sifatnya dari luar,

jika cahaya mereka dapat melihat serta menembus segala yang dihadapinya, tentu tidak satu pun dapat tersembunyi ataupun berada di luar cahaya Ilmu Azali yang wajib ada, meliputi segalanya, serta melekat pada Zat-Nya sendiri.

Ada tanda-tanda serta bukti-bukti kainat yang tak terhitung, yang mengisyaratkan hakikat ini. Di antaranya:

Seluruh hikmah yang terlihat pada seluruh makhluk mengisyaratkan Ilmu itu. Sebab, bertindak dengan hikmah berlangsung melalui ilmu.

Seluruh inayah serta hiasan juga mengisyaratkan Ilmu itu. Dia yang bertindak dengan perhatian serta karunia tentu mengetahui dan melakukannya dengan pengetahuan.

Seluruh makhluk yang teratur, yang masing-masing berada dalam keseimbangan, serta seluruh susunan yang seimbang dan terukur, yang masing-masing berada dalam keteraturan, juga mengisyaratkan Ilmu yang meliputi segalanya itu. Sebab, bertindak dengan teratur berlangsung melalui ilmu. Dia yang membuat karya indah dengan ukuran serta timbangan tentu melakukannya dengan bersandar pada ilmu yang kuat.

Ukuran-ukuran teratur yang terlihat pada seluruh makhluk, bentuk-bentuk yang diukur sesuai Hikmah serta manfaat, dan keadaan serta susunan yang berbuah, seakan-akan diatur dengan kaidah Qada serta jangka Takdir, menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya. Ya, memberi bentuk teratur yang berbeda kepada benda-benda, serta memberi kepada setiap sesuatu bentuk khusus yang sesuai dengan manfaat bagi kehidupannya dan wujudnya, berlangsung melalui Ilmu yang meliputi segalanya; tidak dapat dengan cara lain.

Memberikan rezeki kepada seluruh makhluk hidup, dengan cara yang sesuai bagi masing-masing, pada waktu yang tepat serta di tempat yang tidak mereka duga, juga berlangsung melalui Ilmu yang meliputi segalanya. Sebab, Dia yang mengirim rezeki harus mengetahui serta mengenal mereka yang membutuhkan rezeki, mengetahui waktunya, memahami kebutuhannya, kemudian dapat memberikan rezekinya dengan cara yang sesuai.

Ajal serta kematian seluruh makhluk hidup, yang di balik sebutan tidak diketahui terikat pada hukum penentuan, juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya. Sebab, meskipun secara lahiriah waktu ajal tertentu bagi setiap anggota suatu kelompok tidak terlihat, ajal anggota-anggota kelompok itu ditentukan dalam rentang waktu terbatas di antara dua batas. Pada saat ajal itu, hasil, buah, serta benih yang akan meneruskan tugas makhluk tersebut di belakangnya dijaga lalu diubah menjadi kehidupan segar; hal ini juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya itu.

Anugerah Rahmat yang mencakup seluruh makhluk dengan cara yang sesuai bagi setiap makhluk juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya dalam Rahmat yang luas. Sebab, misalnya, Dia yang memberikan makanan berupa susu kepada anak-anak makhluk hidup dan membantu tumbuhan bumi yang membutuhkan air melalui hujan tentu mengenal anak-anak itu,

mengetahui kebutuhan mereka, melihat tumbuhan itu, serta memahami kebutuhan tumbuhan itu akan hujan, kemudian mengirimkannya. Dan demikian seterusnya... Manifestasi Rahmat-Nya yang penuh Hikmah serta perhatian, yang tak terhitung itu, semuanya menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya.

Perhatian dalam karya segala sesuatu, pemberian bentuk yang penuh seni, serta hiasan yang cakap juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya. Sebab, di antara ribuan keadaan yang mungkin, memilih keadaan yang teratur serta berhias, penuh seni serta hikmah, berlangsung melalui ilmu yang mendalam. Cara memilih ini pada seluruh benda menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya.

Kemudahan sempurna dalam menciptakan serta membuat benda-benda dari awal juga menunjukkan Ilmu yang paling sempurna. Sebab, mudahnya pekerjaan serta ringannya suatu keadaan sebanding dengan derajat ilmu dan kecakapan. Semakin banyak mengetahui, semakin mudah melakukannya.

Berdasarkan rahasia ini, kita memandang segala yang ada, yang masing-masing merupakan mukjizat karya, dan melihat bahwa mereka diciptakan dengan kemudahan yang menimbulkan rasa takjub, secara mudah, tanpa beban, tanpa kegaduhan, dalam waktu singkat, tetapi dengan cara yang menampilkan mukjizat. Jadi, ada Ilmu yang tiada batas sehingga mereka dibuat dengan kemudahan yang tiada batas. Dan demikian seterusnya...

Seperti tanda-tanda tersebut, ada ribuan tanda yang benar bahwa Zat yang mengelola kainat ini mempunyai Ilmu yang meliputi segalanya. Dia mengetahui segala sesuatu bersama seluruh urusannya, kemudian membuatnya.

Karena Sang Pemilik kainat ini mempunyai Ilmu seperti itu, tentu Dia melihat manusia serta amal-amal mereka, mengetahui apa yang pantas dan layak mereka peroleh, serta memperlakukan dan akan memperlakukan mereka sesuai tuntutan Hikmah dan Rahmat.

Wahai manusia! Gunakan akalmu, perhatikan! Ketahuilah dan sadarlah, Zat seperti apa yang mengetahui serta memandangmu!..

Jika dikatakan:

Ilmu saja tidak cukup; Kehendak juga diperlukan. Jika tidak ada Kehendak, bukankah Ilmu tidak mencukupi?

Jawaban:

Sebagaimana seluruh makhluk menunjukkan serta bersaksi bagi Ilmu yang meliputi segalanya, mereka juga menunjukkan Kehendak menyeluruh Sang Pemilik Ilmu itu. Yaitu:

Setiap sesuatu, terutama setiap makhluk hidup, diberi ciri tersendiri yang amat teratur melalui satu kemungkinan tertentu di antara amat banyak kemungkinan yang kacau, melalui satu jalan yang berbuah di antara amat banyak jalan yang tidak berbuah, ketika masih belum pasti di antara amat banyak kemungkinan. Hal ini menunjukkan Kehendak yang menyeluruh dari segi-segi tak terhitung.

Sebab, di antara kemungkinan serta peluang tak terhitung yang meliputi wujud setiap sesuatu, di antara jalan-jalan yang tidak menghasilkan buah, dan dari unsur-unsur tanpa kehidupan yang mengalir tanpa keseimbangan seperti banjir bercampur serta seragam, suatu bentuk seimbang dan ciri tersendiri yang teratur diberikan dengan ukuran yang amat teliti, timbangan yang halus, keteraturan yang amat cermat, serta tatanan yang lembut. Hal ini pasti dan dengan jelas, bahkan melalui apa yang disaksikan, menunjukkan bahwa ia merupakan hasil Kehendak yang menyeluruh.

Sebab, memilih satu keadaan di antara keadaan-keadaan tak terhitung berlangsung dengan penentuan khusus, pilihan, maksud, serta kehendak, dan dikhususkan dengan kesengajaan serta keinginan. Tentu penentuan khusus menuntut penentu. Memilih menuntut pemilih. Penentu dan pemilih itu ialah Kehendak.

Misalnya, menciptakan tubuh seperti manusia, yang merupakan mesin dengan ratusan perangkat serta alat berbeda, dari setetes air; menciptakan seekor burung yang mempunyai ratusan anggota tubuh berbeda dari telur sederhana; serta menciptakan sebuah pohon yang terbagi menjadi ratusan bagian berbeda dari benih sederhana, bukan hanya bersaksi bagi Kudrat serta Ilmu. Semua itu juga menunjukkan dengan amat pasti serta wajib adanya Kehendak menyeluruh pada Sang Pembuat mereka. Dengan Kehendak itu Dia mengkhususkan segala sesuatu pada makhluk tersebut, dan dengan Kehendak itu Dia memberikan bentuk tersendiri yang khusus serta mengenakan keadaan tertentu pada setiap bagian, setiap anggota tubuh, serta setiap pecahannya.

Kesimpulannya:

Sebagaimana kemiripan serta cocoknya bagian-bagian penting pada benda-benda, misalnya hewan, dari segi dasar dan hasil, serta tampaknya satu cap Keesaan pada mereka, dengan pasti menunjukkan bahwa Sang Pembuat seluruh hewan itu Esa, Wâhid, Ahad, demikian pula ciri tersendiri setiap hewan serta tanda pembeda berbeda yang penuh hikmah pada wajah mereka menunjukkan bahwa Sang Pembuat mereka Yang Wâhid adalah Pelaku Yang Bebas Memilih serta Yang Berkehendak. Dia melakukan yang dikehendaki-Nya, tidak melakukan yang tidak dikehendaki-Nya, dan bertindak dengan Maksud serta Kehendak.

Karena terdapat tanda serta kesaksian bagi Ilmu Ilahi dan Kehendak Rabb sebanyak jumlah makhluk, bahkan sebanyak jumlah urusan makhluk, tentu tindakan sebagian filsuf yang meniadakan Kehendak Ilahi, sebagian ahli bidah yang mengingkari Takdir, sebagian orang sesat yang mengklaim bahwa Dia tidak mengetahui hal-hal kecil, serta kaum naturalis yang menyandarkan sebagian makhluk kepada alam dan sebab-sebab merupakan dusta yang berlipat sebanyak jumlah makhluk, serta kegilaan sesat yang berlipat sebanyak jumlah urusan makhluk. Sebab, orang yang mendustakan kesaksian benar yang tak terhitung telah melakukan dusta yang tak terhitung.

Dengan membandingkan itu, pahamilah betapa keliru serta bertentangan dengan hakikat jika pada pekerjaan yang terwujud dengan Kehendak Ilahi, seseorang dengan sadar mengatakan "Alami, alami" sebagai ganti "İnşâallah İnşâallah"...

--