Dari Kumpulan Risale-i Nur
Miftahu'l-İman (Kunci Iman)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ
(Menurut sebuah riwayat sahih, kalimat tauhid ini membawa derajat Ismul A'zham (Nama Yang Teragung). Kalimat ini mempunyai sebelas kata. Dalam setiap katanya terdapat suatu kabar gembira serta berita baik, juga suatu derajat tauhid dalam pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ atas segala sesuatu, juga pada segi Ismul A'zham terdapat Kebesaran Keesaan dan Kesempurnaan Keesaan-Nya.
Aku menyerahkan penjelasan hakikat-hakikat besar serta luhur ini kepada Kalimat-Kalimat lain.)
PENDAHULUAN
Ketahuilah dengan pasti: Tujuan tertinggi penciptaan serta hasil paling luhur fitrah ialah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Derajat tertinggi manusia serta kedudukan terbesar umat manusia ialah makrifatullah dalam iman kepada Allah سُبْحَانَهُ itu. Kebahagiaan paling bersinar serta nikmat paling manis bagi jin dan manusia ialah
cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ dalam makrifatullah itu. Kegembiraan paling tulus bagi ruh manusia serta sukacita paling murni bagi hatinya ialah kenikmatan rohani dalam cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ itu.
Ya, seluruh kebahagiaan hakiki, kegembiraan tulus, nikmat manis, serta kenikmatan murni tentu terdapat dalam makrifatullah dan cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ. Semua itu tidak dapat ada tanpa keduanya. Orang yang mengenal serta mencintai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memperoleh kebahagiaan, nikmat, cahaya, serta rahasia yang tiada batas, baik dalam bentuk potensi maupun secara nyata. Orang yang tidak benar-benar mengenal serta mencintai-Nya tertimpa kesengsaraan, rasa sakit, serta sangkaan yang tiada batas, secara rohani maupun jasmani.
Ya, di dunia yang kacau ini, di tengah umat manusia yang mengembara tanpa arah, dalam hidup yang tidak berbuah, tanpa pemilik serta pelindung, apalah nilai seorang manusia tidak berdaya dan lemah, sekalipun ia menjadi sultan seluruh dunia? Setiap orang memahami betapa manusia menjadi malang serta kebingungan jika di tengah umat manusia yang mengembara tanpa arah dan dalam dunia fana yang kacau ini ia tidak mengenal Pemiliknya serta tidak menemukan Penguasanya. Jika ia menemukan Pemiliknya serta mengenal Penguasanya, ketika itu ia berlindung pada Rahmat-Nya dan bersandar pada Kudrat-Nya. Dunia yang merupakan tempat menakutkan itu berubah menjadi tempat wisata serta tempat berniaga.
--
[Bagian Pertama dari Bagian Pertama Elhüccetüzzehra (Hujah yang Cemerlang), yang ditulis di Penjara Afyon.]
Ketika bertasbih, terlintas dalam hati: para pemuda dan orang lanjut usia yang membaca surat kabar serta kitab-kitab yang memberitakan serangan kekufuran mutlak yang muncul di timur laut, melalui pengingkaran yang dahsyat dan dengan tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ, tentu sangat memerlukan pelajaran yang amat pasti serta kuat tentang Adanya Allah سُبْحَانَهُ dan Keesaan Ilahi dalam iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Maka terlintas, “Ajarkan ringkasan singkat ini kepada orang lanjut usia dan para pemuda.” Aku pun mengatakan “Bismillah” lalu memulai. Aku berkata:
Dalam kalimat tauhid ini terdapat sebelas kabar gembira serta sebelas hujah iman. Kini, aku hanya akan memberikan isyarat amat singkat mengenai hujah-hujah itu, lalu menyerahkan penjelasan serta kabar-kabar gembiranya kepada Surat Kedua Puluh dan bagian-bagian Nur.
Dari sebelas kata kalimat tauhid tersebut;
KALIMAT PERTAMA
ialah
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
.
Hujah di dalamnya ialah risalah Âyetü'l-Kübra yang telah dicetak. Karena keajaiban hujah yang tidak memiliki tandingan itu, ketika memberitahukan bagian-bagian Nur, Imam Ali (R.A.) berkata
ﻭَ بِالْاٰيَةِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ ﺍَﻣِﻨّ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠَﺖْ
dan menjadikan Âyetü'l-Kübra tersebut sebagai pemberi syafaat. Ketika murid-murid Nur berada di Penjara Denizli, melalui kemenangan risalah itu di Pengadilan Ankara serta Denizli dan penyebarannya yang berpengaruh di balik tirai, risalah tersebut menjadi sebab para murid memperoleh pembebasan. Demikian pula, pencetakannya secara rahasia menjadi sebab para murid ditahan selama sembilan bulan. Dengan begitu, risalah itu membenarkan dengan amat jelas karamah (karunia Allah سُبْحَانَهُ yang luar biasa) gaib Imam Ali (R.A.) serta doanya bagi murid-murid Nur.
Ya, Sinar Âyetü'l-Kübra memperlihatkan tiga puluh tiga kesepakatan besar serta hujah menyeluruh dalam keseluruhan segala yang ada, dan dalam setiap hujah menyeluruh menunjuk bukti-bukti tanpa batas. Berawal dari langit melalui kata-kata bintang, serta bumi melalui ucapan dan kalimat hewan serta tumbuhan, ia terus maju hingga seluruh kainat, melalui kata-kata hakikat segala isinya, segala yang ada, hudus, imkan, serta perubahan, membuktikan Wujud dan Keesaan Wâjibul Wujûd (Yang Wajib Ada) sejelas matahari serta sepasti siang.
Orang-orang yang menginginkan iman yang tidak dapat digoyahkan serta mencari pedang yang tidak dapat dipatahkan untuk melawan anarkisme tanpa agama, hendaklah merujuk Âyetü'l-Kübra.
KALIMAT KEDUA
ialah ﻭَﺣْﺪَﻩُ.
Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya ialah:
Dalam kainat ini, pada setiap segi terlihat suatu kesatuan. Misalnya, kainat berkedudukan sebagai kota yang teratur, istana megah, kitab bermakna yang terwujud dalam tubuh, serta Al-Qur’an jasmani yang setiap ayatnya, bahkan setiap huruf serta setiap titiknya, memiliki sifat bermukjizat. Sebagaimana ia memperlihatkan kesatuan demikian, lampu istana itu satu, pelita penanggalannya satu, juru masak berapinya satu, spons penyedia air serta pemberi airnya satu; satu, satu, satu, hingga ribuan kesatuan. Melalui kesatuan-kesatuan tersebut, ia membuktikan dengan pasti bahwa Pemilik, Penguasa, Penulis, serta Penyusun istana dan kota itu, kitab serta Al-Qur’an Agung jasmani itu, jelas Ada, Wâhid, serta Satu.
KALIMAT KETIGA
ialah لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ.
Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya ialah:
Tambang, guru, serta dasar Sinar Âyetü'l-Kübra ialah ayat yang amat agung bernama Âyetü'l-Kübra:
ﻗُﻞْ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻌَﻪُ ﺍٰﻟِﻬَﺔً ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍِﺫًﺍ لَابْتَغَوْا ﺍِﻟٰﻰ ﺫِﻯ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ سَب۪يلًا
ilâ âhir. Yakni, seandainya terdapat sekutu bagi-Nya, dan jari-jari lain mencampuri penciptaan serta rububiyah (pemeliharaan dan penguasaan Allah سُبْحَانَهُ), keteraturan kainat akan rusak. Padahal, dari sayap lalat kecil serta sel mungil dalam pupil mata, hingga burung-burung tanpa batas yang merupakan pesawat udara, hingga tata surya, dalam setiap hal—juz’i maupun menyeluruh, kecil maupun besar—terdapat keteraturan yang paling sempurna. Sebagaimana hal itu menunjukkan dengan tanpa ragu serta pasti bahwa sekutu-sekutu mustahil serta tidak ada, ia juga jelas bersaksi bagi Wujud serta Keesaan Wâjibul Wujûd.
KALIMAT KEEMPAT
ialah ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ.
Isyarat amat singkat mengenai hujah panjang di dalamnya:
Ya, melalui mata, kita melihat bahwa Dia menjadikan permukaan bumi sebagai ladang, lalu pada setiap musim semi menanam benih seratus ribu jenis tumbuhan secara bersama serta bercampur dalam ladang yang amat luas itu. Dia memanen hasil-hasilnya secara terpisah,
tanpa mencampur maupun keliru, dengan keteraturan sempurna. Melalui Tangan Rahmat serta Hikmah-Nya, Dia membagikan perbekalan serta jatah dari hasil tersebut kepada dua ratus ribu jenis hewan-Nya, sesuai kebutuhan mereka. Di balik tirai terdapat Sang Pengatur yang memiliki Kudrat serta Ilmu tanpa batas, yang melakukan Pengelolaan-Pengelolaan ini dalam Kerajaan-Nya yang luas serta kaya, terutama dalam ladang bumi. Orang yang tidak mengenal Sang Pengatur Yang Hakîm serta Sang Mâlik Yang Rahîm ini terpaksa mengingkari bumi beserta hasil-hasilnya, seperti kaum sofis yang bodoh.
KALIMAT KELIMA
ialah ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ.
Isyarat amat singkat mengenai hujah yang amat luas di dalamnya:
Ya, melalui mata kita melihat dan melalui akal kita mengetahui dengan jelas bahwa dalam kota kainat, lingkungan bumi, serta barak manusia dan hewan, Ar-Razzâq Yang Rahîm dan Sang Muhsin Yang Karîm demikian mengelola, mengawasi, serta memelihara. Demi membuat orang memuji serta bersyukur sebagai balasan atas nikmat-nikmat-Nya, Dia menjadikan bumi kapal dagang serta kereta api pembawa perbekalan, dan musim semi pada permukaannya sebagai gerbong. Dia memenuhi gerbong itu dengan seratus ribu jenis makanan serta paket-paket makanan kalengan yang disebut payudara, lalu membawanya kepada makhluk hidup yang membutuhkan, yang perbekalannya habis pada akhir musim dingin. Orang yang memiliki akal sebesar zarah membenarkan bahwa hal-hal tersebut merupakan Perbuatan Ar-Razzâq Yang Rahîm. Adapun orang yang tidak membenarkan serta menyimpang ke pengingkaran tentu terpaksa mengingkari seluruh nikmat yang teratur serta rezeki tertentu pada permukaan bumi yang menjadi sarana pujian dan syukur; ia menjadi hewan bodoh yang merugikan.
KALIMAT KEENAM
ialah ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ.
Isyarat amat singkat mengenai hujahnya:
Ya, dalam Kalimat Kesepuluh serta bagian-bagian Nur telah dibuktikan melalui bukti-buktinya bahwa pada setiap musim semi, suatu pasukan Sang Mahasuci dihidupkan di permukaan bumi, terdiri atas tiga ratus ribu jenis makhluk hidup dalam bentuk bermacam-macam serta memiliki anggota tanpa batas. Kehidupan serta keperluan hidup diberikan kepada mereka dengan keteraturan sempurna. Melalui seratus ribu contoh, bahkan tanda kebangkitan agung, Dia membangkitkan serta memberikan kehidupan kepada makhluk-makhluk berbeda tanpa batas itu secara bersama, di dalam satu sama lain, dengan keseimbangan serta keteraturan sempurna: Tanpa lalai, tanpa salah, tanpa kekurangan, tanpa kebingungan, tanpa mencampurkan meskipun bercampur, serta tanpa melupakan. Dari tetes-tetes air yang serupa, yang disebut nutfah, serta tanah,
dari benih-benih serupa serta butir-butir yang sedikit berbeda, dari telur-telur kecil lalat yang sama satu sama lain, dan dari nutfah-nutfah burung yang sama satu sama lain dari udara yang sama, serta telur-telur yang serupa atau sedikit berbeda, Dia membangkitkan ratusan ribu makhluk hidup yang memiliki anggota tanpa batas serta berbeda dalam rupa, seni, dan cara mencari nafkah. Dia menulis seratus ribu kitab yang berbeda pada lembaran bumi serta musim semi secara bersama, di dalam satu sama lain, tanpa kesalahan dan dengan sempurna. Orang yang tidak yakin bahwa terdapat Zat Yang Hayy lagi Qayyûm serta Muhyî, Sang Khallâq Yang Alîm, yang bertindak serta mengelola dengan ketelitian tanpa batas dan Hikmah tanpa akhir, tentu terpaksa mengingkari dirinya sekaligus seluruh makhluk hidup yang telah terdapat di seluruh bumi, dalam seluruh musim semi lalu yang digantungkan pada pita waktu, serta pada permukaan bumi dan ruang yang hidup; ia menjadi makhluk hidup yang paling bodoh serta malang.
KALIMAT KETUJUH
ialah ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ.
Isyarat amat singkat mengenai hujahnya:
Ya, kita melihat bahwa pada musim gugur, ketika tiga ratus ribu jenis makhluk hidup dibebastugaskan atas nama kematian, benih-benih mereka dititipkan kepada Tangan Hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl di tempat masing-masing. Benih itu merupakan kotak-kotak lembaran amal setiap jenis serta individu, daftar perbuatan mereka, daftar yang akan mereka kerjakan pada musim semi mendatang, dan dari satu segi suatu jenis ruh mereka. Sang Khallâq Yang Hakîm menjadikan benih-benih amat kecil sebesar zarah itu, seperti benih serta biji buah ara, sebagai kitab besar. Seperti ruh yang kekal, benih itu membawa seluruh hukum kehidupan pohon ara. Dengan Pena Takdir, Dia menulis riwayat hidup pohon di dalamnya, seperti tulisan dalam daya ingat sebesar satu kitab. Orang yang tidak mengenal Sang Khallâq Yang Hakîm serta Al-Hayy Yang Tidak Pernah Mati ini tentu menjadi lebih malang daripada setan pengembara yang mengaduk api neraka, bukan sekadar manusia bodoh atau hewan gila, dan dijatuhi kematian abadi.
Ya, Perbuatan-Perbuatan penuh Hikmah tersebut—yang menyeluruh, meliputi, luar biasa tanpa batas, serta memuat keajaiban dan mukjizat tanpa akhir—menunjuk hujah-hujah dalam kalimat-kalimat ini. Sebagaimana mustahil serta batil seratus tingkat jika perbuatan itu tidak memiliki Pelaku, menisbatkannya kepada sebab-sebab yang buta, tak berdaya, tidak sadar, tuli, tak bernyawa, kacau, tidak teratur, bercampur, serta menyerbu juga mustahil serta tanpa dasar seribu tingkat.
Jika bukan Pelaku itu yang melakukannya, setiap zarah tanah harus memiliki kudrat serta hikmah tanpa batas, dan keterampilan seni yang amat luar biasa serta menyeluruh mengenai susunan seluruh rumput dan bunga. Setiap zarah udara juga harus memiliki kemampuan mengetahui seluruh pembicaraan serta kata-kata telepon dan radio, lalu mengajarkannya kepada zarah-zarah lain, seperti penjelasan Butir Hikmah Hüve dalam Panduan. Tidak satu setan pun dapat membuat siapa pun menerima gagasan ganjil ini.
Hukuman kekufuran serta pengingkaran yang begitu jauh dari akal dan hakikat, serta merupakan penghinaan dan serangan terhadap seluruh yang ada, hanya dapat berupa neraka yang mengerikan; hal itu merupakan keadilan itu sendiri. Tentu bagi para pengingkar demikian, kita harus berkata, ‘Hidup neraka!’
KALIMAT KEDELAPAN
ialah
ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ
.
Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya ialah:
Misalnya, ketika matahari-matahari kecil yang terlihat dalam gelembung-gelembung pada permukaan laut yang bergelora pada siang hari serta di atas sungai yang mengalir pergi, gelembung-gelembung baru yang datang di belakangnya memperlihatkan matahari kecil persis seperti yang telah pergi, lalu menunjuk serta bersaksi bagi matahari di langit. Melalui sirna serta kematian mereka, gelembung itu menunjukkan wujud serta keberlanjutan matahari yang tetap ada. Demikian pula, pada permukaan lautan kainat yang selalu berubah, dalam ruang tanpa batas yang diperbarui, dalam ladang zarah, serta dalam sungai waktu yang bergelora bersama, dengan memeluk seluruh peristiwa dan segala yang ada yang fana, makhluk-makhluk terus-menerus mengalir dengan cepat serta pergi. Mereka wafat bersama sebab-sebab lahiriahnya. Pada setiap tahun, setiap hari, satu kainat mati dan satu yang baru datang menggantikannya.
Dalam ladang zarah, hasil dunia-dunia yang bergerak serta alam-alam yang mengalir terus dipanen. Karena itu, sebagaimana gelembung serta matahari kecil memperlihatkan matahari yang tetap ada melalui sirna mereka, kematian makhluk serta hasil tanpa batas itu dan pembebastugasan mereka dengan keteraturan sempurna bersama sebab-sebab lahiriahnya menunjukkan hal berikut: Melalui kepastian tanpa ragu seperti siang serta sejelas matahari, seluruh yang ada, secara terpisah maupun bersama, bersaksi bahwa niscayanya Wujud, Keesaan, serta Wujud Al-Hayy Yang Tidak Pernah Mati, Sang Matahari Yang Kekal, Sang Khallâq Yang Bâqî, serta Sang Panglima Yang Mahasuci, seribu tingkat lebih jelas dan pasti daripada keberadaan kainat.
Tentu kalian telah memahami hingga derajat apa orang yang tidak mendengar serta tidak menyimak suara-suara luhur dan kesaksian kuat yang memenuhi kainat ini bersifat tuli, bodoh, serta jahat.
KALIMAT KESEMBILAN
ialah ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ.
Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya ialah:
Kita melihat bahwa dalam kainat ini, setiap lingkup, setiap jenis, setiap lapisan, bahkan setiap individu serta anggota tubuh, bahkan setiap sel dalam setiap tubuh, memiliki tempat simpan serta gudang yang membawa cadangan rezekinya, dan ladang serta khazanah yang menumbuhkan dan menjaga keperluannya. Melalui keteraturan serta keseimbangan yang amat besar dan Hikmah serta Pertolongan tanpa akhir, pada waktu yang tepat, di luar kemampuan serta pilihan makhluk yang membutuhkan, perbekalan itu diberikan ke tangannya oleh suatu Kuasa Yang Gaib.
Misalnya, gunung-gunung membawa seluruh mineral, obat, serta hal-hal yang diperlukan bagi kehidupan makhluk hidup dan manusia. Melalui Perintah serta Pengaturan Satu Zat, gunung menjadi khazanah serta lumbung yang amat sempurna. Demikian pula, bumi merupakan ladang, tempat mengirik, serta dapur yang menumbuhkan perbekalan seluruh makhluk hidup itu dengan keseimbangan dan keteraturan sempurna, melalui Kekuatan Ar-Razzâq Yang Hakîm.
Bahkan sebagaimana setiap manusia serta setiap anggota dalam tubuhnya memiliki gudang serta tempat simpan, dan bahkan satu sel pun memiliki tempat simpan cadangan mungil, demikian halnya hingga bumi menjadi satu tempat simpan bagi negeri akhirat. Dunia Islam serta kemanusiaan yang hakiki, yang menghasilkan keindahan, kebaikan, serta cahaya dalam alam ini, merupakan satu ladang serta gudang surga. Adapun benda-benda serta kelompok-kelompok kotor yang menghasilkan kejahatan, keburukan, serta kekufuran, yang datang dari keadaan tidak ada yang bersifat buruk dan mencemari alam-alam wujud yang bersifat baik, merupakan satu lumbung neraka. Neraka adalah tempat simpan panas bintang-bintang, dan satu surga ialah khazanah cahaya mereka. Kalimat "Biyedihilhayr", melalui isyarat kepada seluruh khazanah tanpa batas itu, memperlihatkan hujah yang amat terang.
Ya, melalui kalimat ini serta ungkapan
ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ
, yakni ‘Kunci setiap hal berada dalam Tangan-Nya,’ ia memperlihatkan hujah Rububiyah serta Keesaan yang amat luas dan memiliki keajaiban tanpa batas
kepada orang yang tidak sepenuhnya buta. Misalnya, dari khazanah serta lumbung tanpa batas itu, pandanglah hanya hal berikut:
Biji serta benih merupakan tempat simpan mungil, masing-masing membawa perlengkapan satu pohon besar atau bunga cemerlang, serta program takdirnya. Sang Pengatur Yang Hakîm, yang dalam Tangan-Nya terdapat kunci-kunci biji serta benih, membuka pintu kecil satu biji melalui Perintah, ‘Bangunlah!’ serta Kunci Kehendak dengan keseimbangan keteraturan yang sempurna. Demikian pula, Dia membuka khazanah bumi melalui kunci hujan. Ketika Dia membuka seluruh tempat simpan kecil yang berupa butir-butir nutfah tumbuhan, serta tetes-tetes yang telah menerima perintah berkembang dan menjadi asal hewan serta nutfah burung dan lalat dari air serta udara, secara bersama tanpa kesalahan, jika engkau ingin mengetahui dan melihat bahwa Dia membuka seluruh khazanah serta gudang dalam kainat—yang universal maupun juz'i, jasmani maupun maknawi—melalui Tangan Hikmah, Kehendak, Rahmat, serta Masyîah-Nya (Kehendak Allah سُبْحَانَهُ), masing-masing dengan kunci khusus, pandanglah hati, otak, tubuh, perut, serta kebunmu sendiri, yang merupakan suatu jenis tempat simpan mungil bagimu; pandang pula musim semi yang menjadi bunga bumi, serta bunga dan buah di dalamnya. Dengan keteraturan, keseimbangan, Rahmat, serta Hikmah yang sempurna, Dia membukanya melalui Kuasa Yang Gaib dengan kunci-kunci berbeda yang datang dari bengkel ‘Emr-i kün feyekûn’. Dari satu kotak kecil sebesar dirham, Dia mengeluarkan makanan satu batman, bahkan terkadang seratus batman, dengan keteraturan sempurna, serta memberikan jamuan kepada makhluk hidup.
Mungkinkah kekuatan buta, alam tuli, kebetulan pengembara, serta sebab-sebab tak bernyawa, tidak tahu, dan tak berdaya mencampuri Perbuatan tanpa akhir yang demikian teratur dan dilakukan dengan penuh Ilmu serta Penglihatan; Seni yang sepenuhnya penuh Hikmah dan bebas dari kebetulan; Pengelolaan yang sepenuhnya seimbang serta bebas dari kesalahan; dan Rububiyah yang sepenuhnya adil serta bebas dari kezaliman? Dapatkah suatu makhluk yang tidak melihat seluruh hal sekaligus serta tidak mampu mengatur semuanya bersama, dan yang tidak memiliki zarah, planet, serta bintang dalam perintahnya, mencampuri Pengelolaan dan Pengaturan yang penuh Hikmah, mukjizat, serta keseimbangan dari setiap segi ini?
Tentu, terhadap orang yang tidak mengenal Sang Pengatur Yang Rahîm serta Sang Rabb Yang Hakîm demikian—yang setiap kebaikan berada dalam Tangan-Nya serta kunci setiap hal berada di sisi-Nya—dan menyimpang ke pengingkaran, neraka marah serta menjadi panas, seperti perkataan ayat
ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺗَﻤَﻴَّﺰُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆِ
. Melalui bahasa keadaannya, neraka berkata, ‘Ia layak bagi azabku yang tanpa batas dan sama sekali tidak layak menerima belas kasih.’
KALIMAT KESEPULUH
ialah
ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
.
Isyarat amat singkat mengenai hujah di dalamnya ialah:
Setiap makhluk berkesadaran yang datang ke penginapan dunia ini, ketika membuka mata, melihat bahwa suatu Kudrat memegang seluruh kainat dalam Genggaman-Nya. Di dalam Kudrat itu terdapat Ilmu azali yang tanpa akhir, tidak pernah keliru, serta meliputi, dan Hikmah serta Pertolongan yang abadi dan amat teliti, yang tidak pernah bergerak tanpa keseimbangan atau tanpa manfaat. Sebagaimana Kudrat itu memutar satu zarah dalam pasukan zarah seperti derwis Mevlevi yang tenggelam dalam ekstase, lalu mempekerjakannya dalam banyak tugas, pada waktu yang sama, melalui hukum yang sama, Dia juga menggerakkan bola bumi dalam satu tahun mengelilingi lingkaran sejauh dua puluh empat ribu tahun, seperti derwis Mevlevi demikian. Melalui hukum yang sama serta pada waktu yang sama saat Dia membawa hasil musim-musim kepada hewan dan manusia, Dia menjadikan matahari sekoci tenun serta roda pemintal, lalu memutarnya di pusatnya dengan penuh ketertarikan dan daya tarik, serta mempekerjakan bintang-bintang planet yang merupakan pasukan tata surya dalam tugas-tugas dengan keseimbangan dan keteraturan sempurna.
Kudrat yang sama, pada waktu yang sama, melalui hukum Hikmah yang sama, menulis ratusan ribu jenis sebagai ratusan ribu kitab pada lembaran bumi secara bersama, di dalam satu sama lain, tanpa kekaburan maupun kelalaian, serta memperlihatkan ribuan contoh kebangkitan agung.
Kudrat yang sama juga mengubah lembaran udara menjadi papan yang ditulisi lalu dihapus, pada waktu yang sama. Dia menggunakan seluruh zarahnya sebagai ujung-ujung pena serta titik-titik kitab itu dalam tugas yang ditetapkan Perintah serta Kehendak bagi mereka. Dia memberikan kepada setiap zarah kemampuan demikian sehingga ia menerima serta menyebarkan seakan-akan mengetahui seluruh kata dan pembicaraan, tanpa keliru. Dengan mempekerjakan mereka sebagai telinga mungil serta lidah amat halus, Dia membuktikan bahwa unsur udara merupakan suatu arasy Perintah serta Kehendak Ilahi.
Melalui perbandingan dengan isyarat singkat ini, Dia menjadikan kainat sebagai kota teratur, gedung apartemen serta penginapan yang sempurna, dan kitab serta Al-Qur’an yang bermukjizat. Melalui keseimbangan Ilmu serta keteraturan Hikmah, Dia mengambil seluruh lapisan, lingkup, serta kelompok makhluk, dari keseluruhannya hingga satu zarah, dalam Genggaman-Nya, lalu mengelolanya. Di dalam Kudrat-Nya, Dia memperlihatkan Hikmah serta Rahmat-Nya; dalam Rububiyah-Nya yang mutlak, Dia memberitahukan serta memperkenalkan Wujud dan Keesaan-Nya seperti matahari serta siang. Sebagai balasan, Dia meminta agar dikenal melalui iman; sebagai balasan atas Tindakan-Nya membuat Diri-Nya dicintai, Dia meminta kecintaan melalui ubudiyah; sebagai balasan atas anugerah-anugerah-Nya, Dia meminta syukur serta pujian. Orang-orang yang tidak mengenal Zat demikian,
Ar-Rahmân Yang Rahîm, serta tidak berusaha mencintai-Nya melalui ubudiyah, bahkan memelihara suatu jenis permusuhan terhadap-Nya melalui pengingkaran, yakni setan-setan berupa manusia, tentu layak menerima azab tanpa akhir, masing-masing berkedudukan sebagai Namrud serta Firaun kecil.
KALIMAT KESEBELAS
ialah
ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ
.
Yakni, sebagaimana orang akan pergi ke lingkup Hadirat-Nya, alam kekal-Nya, akhirat-Nya, serta negeri kebahagiaan abadi-Nya, seluruh makhluk dalam kainat juga kembali kepada-Nya. Seluruh rantai sebab bertumpu kepada-Nya, bersandar pada Kudrat-Nya, serta merupakan tirai-tirai bagi Pengelolaan Kudrat itu. Demi menjaga Kemuliaan serta Keagungan Kudrat suci tersebut, seluruh sebab lahiriah hanya merupakan tirai, serta tidak memiliki pengaruh apa pun dalam penciptaan. Jika Perintah serta Kehendak-Nya tidak ada, tidak sesuatu pun, bahkan satu zarah pun, dapat bergerak. Kita memberikan isyarat amat singkat mengenai hujah dalam kalimat ini:
PERTAMA: Demi membuktikan serta membuat orang beriman sepenuhnya bahwa hakikat kebangkitan, akhirat, serta kehidupan kekal yang diungkapkan kalimat suci ini akan datang dan terwujud dengan pasti serta tanpa ragu seperti musim semi mendatang, kita menyerahkan sisi pembahasan itu kepada Kalimat Kesepuluh serta tambahan-tambahannya, Kalimat Kedua Puluh Sembilan, Persoalan Ketujuh Risalah Buah, Sinar Munajat, serta risalah-risalah iman Nur. Sungguh, karya-karya itu membuktikan rukun iman ini melalui hujah-hujah tanpa batas dengan cara demikian sehingga, hingga derajat keberadaan dunia, terwujudnya akhirat dibuktikan dengan cara yang memaksa bahkan para pengingkar paling keras kepala membenarkannya.
KEDUA: Sepertiga Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya berkaitan dengan kebangkitan serta akhirat; ia membangun setiap pernyataannya di atas hakikat itu. Karena itu, sebagaimana seluruh mukjizat serta hujah yang membuktikan kebenaran Al-Qur’an juga menunjukkan keberadaan akhirat, seluruh mukjizat yang bersaksi bagi kenabian Muhammad ﷺ, seluruh dalil kenabiannya, serta seluruh hujah kebenarannya juga bersaksi bagi kebangkitan serta akhirat.
Sebab, sebagaimana akhirat merupakan satu pernyataan besar yang terus dikemukakan sosok itu ﷺ sepanjang hidupnya, seluruh seratus dua puluh empat ribu nabi (aleyhimüsselâm) juga menyatakan kehidupan kekal serta kebahagiaan abadi, menyampaikan kabar gembiranya kepada manusia, dan membuktikannya melalui mukjizat tanpa batas serta dalil yang pasti. Karena itu, seluruh mukjizat serta hujah yang menunjukkan kenabian dan kebenaran mereka tentu bersaksi bagi akhirat serta kehidupan kekal, yang merupakan pernyataan mereka yang paling besar dan terus-menerus.
Melalui perbandingan dengan hal ini, seluruh dalil yang membuktikan rukun-rukun iman lainnya juga bersaksi bagi terjadinya kebangkitan serta terbukanya negeri kebahagiaan.
KETIGA: Mungkinkah Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Khâliq Dzul-Jamâl, Allah سُبْحَانَهُ Dzul-Kamâl demikian tidak menyediakan negeri pahala serta hukuman bagi jenis manusia ini, dan tidak ada kebangkitan serta hidupnya kembali manusia? Demi memperlihatkan Kesempurnaan, Kudrat, serta Rububiyah-Nya, Dia menciptakan kainat ini beserta seluruh zarah, planet, bagian, serta lapisannya, lalu dengan Hikmah sempurna terus mempekerjakan masing-masing dalam satu tugas, bahkan banyak tugas. Demi memperlihatkan Manifestasi Asma-Nya yang abadi serta tanpa batas, Dia mengirim rombongan demi rombongan, bahkan dunia bergerak serta baru demi dunia, dan kelompok-kelompok makhluk, ke penginapan alam ini serta medan ujian kehidupan dunia. Melalui sinema akhirat serta foto barzakh yang didirikan dalam alam rupa, Dia mengambil gambar rupa, amal, serta keadaan mereka. Setelah membebastugaskan mereka, Dia mengirim kelompok serta rombongan lain, dan suatu jenis dunia yang mengalir serta bergerak, ke medan itu demi menjalankan tugas serta menjadi cermin Manifestasi Asma-Nya. Adapun jenis manusia ini, dalam dunia fana, melalui kesadaran serta akal membalas seluruh Tujuan Sang Khâliq; melalui seluruh bakatnya mencintai serta membuat Sang Khâliq dicintai, mengenal serta memperkenalkan-Nya; melalui doa tanpa batas memohon keberlanjutan kebahagiaan akhirat; dan karena melalui akal menerima penderitaan tanpa akhir, melalui seluruh fitrah, ruh, serta bakatnya menginginkan kehidupan kekal yang merupakan kenikmatan itu sendiri. Hâşâ! Seratus ribu kali hâşâ ve kellâ!
Karena penjelasan, perincian, serta hujah isyarat amat singkat ini terdapat dengan terang serta kuat dalam Risale-i Nur, kita menyerahkannya kepada karya itu dan mempersingkat kisah yang amat panjang ini.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
--