Risalah Nur — Bahasa Indonesia

1-

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

1-

Karunia serta kemudahan bagi tafakur dan bimbingan.

2-

Kemudahan dalam membaca serta memahami surat-surat Kudrat.

3-

Memperlihatkan Kesempurnaan Kudrat.

4-

Menampakkan kedua jenis seni, Jalal serta Jamal.

Selain itu, setiap orang tidak dapat membaca tulisan amat halus dan hal-hal amat besar tidak dapat dimasukkan ke pandangan yang meliputi. Untuk memudahkan serta mengumumkan bimbingan, dengan menulis sebagian melalui huruf kecil dan sebagian melalui huruf besar, tuntutan bimbingan dipenuhi.

Adapun nafsu ammarah, murid setan, menghubungkan kecilnya tubuh kepada kecilnya seni, lalu membolehkan berasalnya dari sebab-sebab. Ia pun menyatakan bahwa tubuh-tubuh amat besar tidak diciptakan dengan Hikmah, lalu menyandarkannya kepada suatu jenis kesia-siaan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam Kedermawanan maupun rezeki terdapat limpahan hingga tingkat berlebihan. Ini tampak jauh dari Hikmah serta dekat kepada sia-sia. Ya, jika sesuatu yang diciptakan hanya bagi satu tujuan, engkau benar, tetapi tujuan-tujuannya amat banyak. Karena itu, sekalipun terasa sia-sia menurut satu tujuan, menurut himpunan seluruh tujuan ia merupakan Hikmah serta Keadilan itu sendiri.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Perbedaan seni manusia serta seni Khâliq ialah bahwa manusia dapat terlihat di belakang seninya, tetapi di belakang ciptaan Khâliq terdapat tujuh puluh ribu tirai. Namun, jika seluruh ciptaan Khâliq dapat terlihat sekaligus dalam satu pandangan, tirai-tirai hitam hilang dan yang bercahaya tetap.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Setiap individu, hewan maupun tumbuhan, yang termasuk dalam cakupan lahir serta berkembang biak, berniat meliputi dan menguasai permukaan bumi, agar dengan menjadikannya masjid yang khusus sepenuhnya bagi diri serta keturunannya, ia menampakkan Asmaul Husna Sang Fâthir Yang Hakîm dan beribadah tanpa ujung kepada Khâliqnya.

Ya, banyak hingga tingkat berlebihan pada telur burung, ikan, serta semut, buah pohon dan sayuran, serta benih buah-buah itu menerangi keadaan tersebut. Namun, karena sempitnya alam yang terlihat dan ibadah masa depan berada dalam Ilmu Sang 'Allâmul-Ghuyûb, ibadah mereka yang belum keluar dari niat menjadi tindakan telah diterima.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kadang Al-Qur'an al-Karim mengkhususkan penyebutan satu tujuan yang berkaitan dengan manusia dari banyak tujuan sesuatu. Ini untuk memperingatkan, bukan membatasi. Yakni, tujuan-tujuan sesuatu itu tidak terbatas pada yang disebutkan. Ia hanya menyebut manfaat yang kembali kepada manusia untuk menarik perhatian pandangan manusia kepada aturan, keteraturan, serta manfaat-manfaat lain sesuatu tersebut.

Misalnya, manfaat yang disebutkan melalui ayat mulia

ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻗَﺪَّﺭْﻧَﺎﻩُ ﻣَﻨَﺎﺯِﻝَ ٭ ﻟِﺘَﻌْﻠَﻤُﻮﺍ ﻋَﺪَﺩَ ﺍﻟﺴِّﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏَ

merupakan satu dari ribuan manfaat penentuan bulan. Penentuan bulan bukan terbatas pada manfaat ini. Yakni, bulan bukan hanya untuk tujuan ini; tujuan ini salah satu tujuannya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu cap serta meterai tauhid paling gemilang yang khusus bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan tidak dapat ditiru ialah Menciptakan hal-hal berbeda tak terhitung dari sesuatu sederhana. Ya, diciptakannya ribuan jenis tumbuhan berbeda dari tanah amat sederhana ini melalui Kudrat serta Ilmu tak berujung, dengan ketelitian besar dan kemudahan, merupakan bukti tauhid yang tidak mungkin ditiru ataupun dikritik.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu tugas hidup manusia ialah menjadikan sifat-sifat serta urusannya yang juz’i sebagai ukuran untuk memahami Sifat-Sifat serta Syuunat yang kulli Khâliq. Namun, untuk memahami Syuunat⁠-⁠Nya yang agung pada kebangkitan alam akhirat serta keadaan umum⁠-⁠Nya melalui penghidupan orang mati pada kiamat, hanya kiamat musim gugur serta kebangkitan musim-musim semi dapat menjadi ukuran bagi Syuunat Khâliq pada kebangkitan serta kiamat terbesar.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Contoh orang yang, dengan mengajak kaum Muslim kepada hidup dunia yang seperti hiburan dalam tidur, mendorong mereka dari lingkaran hal-hal baik yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Halalkan menuju tumpukan sampah hal-hal buruk yang Diharamkan⁠-⁠Nya, menyerupai orang mabuk seperti ini:

Ia tidak dapat membedakan singa pencabik dari kuda jinak serta akrab, pohon tempat penggantungan dari alat senam, ataupun luka berdarah dari mawar merah, tetapi menganggap dirinya pembimbing dan keluar untuk memberi bimbingan serta nasihat.

Saat membimbing, ia menjumpai seseorang. Di belakang orang malang itu berdiri singa mengerikan. Di depannya didirikan tempat penggantungan, dan pada kedua sisinya terdapat luka dahsyat. Namun, dalam tangan orang itu terdapat dua obat, dan pada lisan serta hatinya terdapat dua kunci rahasia. Jika memakainya, ia sembuh. Singa tersebut berubah menjadi kuda, menjadi tunggangannya seperti Burak. Pohon tempat penggantungan pun menjadi alat serta perantara untuk melihat keadaan alam yang terus diperbarui dan pemandangan mengalir.

Orang mabuk itu berkata kepada orang malang tersebut, ‘Mengapa engkau menyimpan obat-obat serta kunci rahasia itu? Buanglah dan nikmati kesenanganmu.’

Orang malang berkata, ‘Tidak, Bapak! Aku berada dalam penjagaan serta perlindungan obat-obat dan kunci rahasia ini. Nikmat, lezat, serta kesenangan yang kuperoleh darinya cukup bagiku. Namun, jika engkau dapat membunuh kematian yang mencabik seperti singa itu, menutup mulut kubur dengan mematahkan tempat penggantungan, dan mengobati luka musnah serta sirna yang mengenai hidupku dengan mengubahnya menjadi hidup kekal, baiklah, marilah menari bersamamu. Jika tidak, menyingkir serta pergilah dari hadapanku. Engkau hanya dapat menipu orang mabuk sepertimu. Aku tidak mabuk, tidak membutuhkan dunia serta kesenangan kalian, sebab

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ ٭ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟٰﻰ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺼ۪ﻴﺮُ

cukup bagiku.’

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika murid-murid filsafat serta peradaban mengajak kaum Muslim meninggalkan syiar Islam dengan mengikuti adat asing, murid-murid Nur Al-Qur'an membela melalui cara berikut:

Jika kalian berdaya menghapus sirna serta mati dari dunia dan lemah serta fakir dari manusia, baiklah, tinggalkan agama serta hapus syiar. Jika tidak, potong lisan kalian dan jangan berbicara.

Lihatlah, di belakang kita singa ajal mengancam dengan cakar terbuka serta siap menyerang. Jika melalui telinga iman mendengarkan suara Al-Qur'an, singa ajal itu menjadi Burak dan akan mengantarkan kita kepada Rahmat Rahmân itu. Jika tidak, ajal itu mencabik kita seperti hewan pemangsa dan mencerai kita melalui perpisahan abadi, seperti keyakinan batil kalian.

Di hadapan kita pun tempat-tempat penggantungan telah didirikan. Jika melalui iman serta yakin mendengarkan bimbingan Al-Qur'an, dari kayu-kayu tempat penggantungan itu akan dibuat kapal seperti kapal Nuh yang mengantarkan kepada pantai selamat, yakni alam akhirat.

Pada sisi kanan kita terdapat luka fakir, dan pada sisi kiri luka lemah serta tak berdaya. Jika mengobati melalui obat-obat Al-Qur'an, fakir kita akan berubah menjadi semangat serta rindu kepada perjamuan Rahmat Rahmân. Lemah serta tak berdaya kita pun menjadi seperti surat undangan untuk berlindung kepada hadirat Mulia Sang Qadîr Mutlak.

Kita pun berada dalam perjalanan panjang, hendak pergi dari sini ke kubur, dari kubur ke kebangkitan, dan dari kebangkitan ke negeri abadi. Pada jalan-jalan itu diperlukan cahaya serta pangan yang membuyarkan gelap. Tiada harapan dari akal serta ilmu yang kita percaya. Keduanya hanya dapat disiapkan dari matahari Al-Qur'an serta khazanah Rahmân. Jika kalian memiliki cara untuk menahan kita dari perjalanan ini, baiklah. Jika tidak, diamlah, marilah kita mendengarkan Al-Qur'an dan melihat apa yang diperintahkannya:

فَلَا ﺗَﻐُﺮَّﻧَّﻜُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ وَلَايَغُرَّنَّكُمْ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻐَﺮُﻭﺭُ

Kesimpulannya:

Yang terjaga tidak mengikutimu. Hanya yang mabuk melalui minuman politik, tamak ketenaran, perasaan sesama jenis, sesat filsafat, atau hidup sia-sia peradaban mengikuti watak serta jalanmu. Namun, pukulan yang diturunkan pada kepala manusia serta tamparan pada wajahnya akan menghapus mabuk dan membuatnya sadar.

Manusia pun tidak hanya terikat serta sibuk dengan masa kini seperti hewan. Ia terkena sakit masa kini melalui takut masa depan serta sedih dan duka masa lampau. Namun, orang yang tidak menganggap dirinya termasuk yang celaka, sesat, serta bodoh hendaknya mendengarkan kabar gembira Al-Qur'an ini:

اَلَٓا ﺍِﻥَّ ﺍَﻭْﻟِﻴَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ لَا ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ وَلَا ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺘَّﻘُﻮﻥَ ٭ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺒُﺸْﺮٰﻯ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ لَا ﺗَﺒْﺪ۪ﻳﻞَ ﻟِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺫٰﻟِﻚَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢُ

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍﻟﺘّ۪ﻴﻦِ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﻳْﺘُﻮﻥِ ٭ ﻭَ ﻃُﻮﺭِ ﺳ۪ﻴﻨ۪ﻴﻦَ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ ﺍﻟﺴُّﻮﺭَﺓ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sempurnanya seni yang nyata pada setiap ciptaan, sebagaimana menunjukkan Sang Pembuat Hadir pada setiap tempat serta di sisi setiap ciptaan, juga menunjukkan Dia tidak Berada pada suatu tempat ataupun di sisi suatu ciptaan.

Manusia pun, karena membutuhkan segala sesuatu, tidak dapat beribadah kepada siapa pun selain Zat Yang Mahasuci, Yang malakut segala sesuatu berada dalam Tangan⁠-⁠Nya dan perbendaharaan segala sesuatu di sisi⁠-⁠Nya.

Dari segi wujud, penciptaan, kebaikan, serta tindakan, manusia amat kecil dan kurang, sehingga lebih rendah daripada semut serta lebah dan lebih lemah daripada laba-laba. Namun, dari segi tidak ada, merusak, buruk, serta menerima pengaruh, ia lebih besar daripada langit, bumi, serta gunung. Misalnya, ketika melakukan kebaikan, ia melakukan butir demi butir; jika melakukan keburukan, kubah demi kubah. Ya, misalnya, keburukan kufur merendahkan seluruh yang ada dan menjatuhkan nilainya.

Meskipun dari satu segi manusia memiliki pilihan sebesar rambut, kemampuan sebesar zarah, hidup sebesar sinar, usia sebesar menit, serta wujud sebesar bagian kecil, dari segi lain ia juga memiliki lemah serta fakir tak terbatas. Ia menjadi tempat pantulan luas bagi tajalli Sang Qadîr Mutlak serta Ghaniyy Yang Mutlak.

Dari segi hidup dunia, manusia pun merupakan biji. Perangkat yang dititipkan kepadanya untuk menghasilkan buah serta tunas amat besar dikerahkannya seperti ayam untuk mengais tanah, pupuk, serta najis demi memperoleh beberapa materi; ia membusuk tanpa guna. Dari segi hidup maknawi, ia merupakan pohon kekal yang harapannya membentang hingga abadi.

Dari segi tindakan serta usaha, manusia pun hewan lemah dengan lingkaran usaha amat sempit. Dari segi menerima pengaruh, memohon, serta doa, ia tamu mulia Rahmân Yang Rahîm. Lingkarannya seluas khayal.

Lezat yang manusia ambil dari hidup hewani pun tidak sebesar lezat burung pipit, sebab dalam manusia terdapat sedih, duka, serta takut, sedangkan dalam burung tidak. Namun, dari segi perangkat, rasa, daya, serta bakat, ia memperoleh lezat melebihi hewan paling luhur. Jika keadaan manusia ini diperhatikan, dipahami bahwa begitu banyak perangkat diberikan kepadanya bukan bagi hidup ini, melainkan bagi hidup kekal.

Manusia pun, dari segi menjadi penyaksi keindahan kerajaan Rububiyah, penyeru manifestasi Asma Suci, dan pemikir melalui membaca surat-surat Ilahi yang ditulis dengan pena Kudrat, menjadi makhluk paling mulia serta khalifah bumi.

ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍَﻧْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَٓﺍﺀُ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana cacat manusia tanpa akhir, lemah, fakir, serta kebutuhannya pun tiada berujung. Sebagaimana melalui lapar yang dititipkan kepada manusia lezat nikmat muncul, cacat manusia merupakan teropong bagi tingkat Kesempurnaan Zat Yang Mahasuci. Fakir manusia merupakan ukuran bagi tingkat kekayaan Rahmat. Lemah manusia merupakan timbangan bagi Kudrat serta Kebesaran⁠-⁠Nya. Ragam kebutuhan manusia merupakan tangga bagi jenis-jenis nikmat serta karunia⁠-⁠Nya.

Maka, tujuan fitrahnya ubudiyah. Ubudiyah ialah mengumumkan cacat-cacatnya kepada hadirat Mulia⁠-⁠Nya melalui ‘Estağfirullah’ serta ‘Sübhanallah’.

ﺍِﻥَّ الْاَبْرَارَ ﻟَﻔ۪ﻰ ﻧَﻌ۪ﻴﻢٍ ٭ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟْﻔُﺠَّﺎﺭَ ﻟَﻔ۪ﻰ ﺟَﺤ۪ﻴﻢٍ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Bagi setiap manusia terdapat dua jalan dalam perjalanan hidup. Panjang serta pendek kedua jalan sama. Namun, dalam yang satu, melalui kesaksian serta pembenaran orang yang melihat langsung dan ahli pengetahuan, terdapat sembilan dari sepuluh kemungkinan manfaat. Pada jalan kedua perkara terbalik; terdapat sembilan dari sepuluh kemungkinan rugi. Yang pergi melalui jalan kedua tidak memiliki senjata ataupun bekal. Tentu, sebagaimana terkena banyak rasa takut di jalan, ia berada di bawah utang budi kepada banyak orang untuk memenuhi kebutuhan. Namun, yang menempuh jalan pertama membawa senjata serta pangannya. Ia pergi dengan amat bebas. Jalan pertama jalan Al-Qur'an; jalan kedua jalan sesat.

Ya, melalui pembenaran serta kesaksian orang yang melihat langsung dan ahli pengetahuan, terbukti bahwa yang berjalan melalui berkah iman berada dalam aman serta selamat. Kemudian, ketika mencapai pusat pemerintahan, sembilan dari sepuluh akan memperoleh balasan besar. Namun, yang berjalan dalam gelap sesat, sesudah merendah kepada setiap sesuatu serta setiap orang karena takut dan lapar selama perjalanan, ketika sampai ke tempat pemerintahan, sembilan dari sepuluh akan dihukum mati atau penjara abadi. Karena itu, yang berakal tidak memilih sesuatu merugikan demi keringanan dunia yang paling kecil.

Yang dimaksud dengan orang yang melihat langsung ialah para wali Allah سُبْحَانَهُ, sebab pemilik kewalian melihat dengan mata hal-hal yang dipercayai orang awam. Senjata serta bekal orang yang pergi melalui jalan Al-Qur'an dijamin oleh tawakal kepada Sang Qadîr Mutlak serta Ghaniyy Yang Karîm. Sebab, tawakal memuat titik sandaran serta titik tempat meminta pertolongan. Titik-titik ini mengharuskan kalimat tauhid. Kalimat tauhid menghendaki salat. Salat pun merupakan rukun pokok ubudiyah.

Yang memerintahkan ubudiyah ialah kewajiban. Makanan, pakaian, serta keperluan hidup lain diberikan dari khazanah Rahmân kepada yang memenuhi kewajibannya sepanjang masa kewajiban, seperti kewajiban militer. Kewajiban militer dua setengah tahun, sedangkan kewajiban ubudiyah sepanjang usia.

ﻭَﻣَﺎ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَٓﺎ اِلَّا ﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﻟَﻌِﺐٌ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَ الْاٰخِرَةَ ﻟَﻬِﻰَ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥُ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Manusia musafir. Perjalanannya berlanjut dari kanak-kanak ke muda, dari muda ke tua, dari tua ke kubur, dari kubur ke kebangkitan, serta dari kebangkitan hingga abadi.

Keperluan kedua hidup telah diberikan oleh Mâlik al-Mulk. Namun, karena bodohnya, ia mengerahkan seluruh keperluan itu kepada hidup fana ini. Padahal, sedikitnya satu dari sepuluh harus dikerahkan kepada hidup dunia dan sembilan kepada hidup kekal.

Jika seorang petugas menerima uang perjalanan dua puluh empat lira dari pemerintah untuk menjelajahi beberapa negeri, lalu menghabiskan dua puluh tiga lira di negeri pertama yang dimasukinya, apa yang akan dilakukannya di tempat-tempat lain? Jawaban apa yang akan diberikannya kepada pemerintah? Dapatkah yang melakukan demikian menyebut dirinya berakal?

Karena itu, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Memberi waktu dua puluh empat jam untuk memperoleh keperluan kedua hidup. Dengan memberi yang banyak kepada yang sedikit serta yang sedikit kepada yang banyak, dua puluh tiga jam harus dikerahkan kepada hidup dunia yang pendek serta fana, dan setidaknya satu jam kepada lima salat serta hidup akhirat yang kekal dan tanpa akhir, agar ia tidak menjadi pasya di dunia tetapi pengemis di akhirat!

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Manusia lalai meninggalkan tugasnya sendiri dan sibuk dengan Tugas Allah سُبْحَانَهُ. Ya, karena lalai, dengan meninggalkan tugas ubudiyah yang mudah serta dalam dayanya, manusia masuk dengan hati lemahnya ke bawah tugas Rububiyah yang berat dan tertindih. Pada saat yang sama, dengan kehilangan seluruh tenteramnya, ia bergabung dengan kelompok orang membangkang, celaka, serta pengkhianat.

Ya, manusia prajurit. Tugas militer berbeda dan tugas pemerintah berbeda. Tugas militer ialah pekerjaan yang menjaga agama serta tanah air seperti latihan dan jihad. Tugas pemerintah ialah memberi pangan, pakaian, serta senjata. Karena itu, prajurit yang meninggalkan tugas militernya dan sibuk, misalnya, dengan dagang untuk menjamin pangan menjadi pembangkang serta pengkhianat.

Dari segi ini, ubudiyah kepada Allah سُبْحَانَهُ merupakan tugas manusia. Meninggalkan dosa-dosa besar ialah takwanya. Berjuang dengan nafsu serta setan ialah jihadnya.

Adapun menyiapkan bahan hidup bagi dirinya, anak-anak, serta yang berkaitan dengannya ialah Tugas Allah سُبْحَانَهُ. Ya, karena Dialah Yang Memberi hidup, Dia juga akan Memberi keperluan yang menjaga hidup itu. Hanya saja, sebagaimana pemerintah menyuruh prajurit mengangkut, membersihkan, menggiling, serta memasak pangan yang dihimpunnya bagi prajurit dalam gudang-gudang, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq pun, sesudah Menciptakan dan Menghimpun keperluan hidup dalam gudang bola bumi, membuat manusia mengumpulkan pangan serta melakukan urusan lain, agar menjadi kesibukan dan hiburan baginya serta ia selamat dari azab tanpa kegiatan dan tanpa kerja.

Wahai manusia! Allah سُبْحَانَهُ Yang Memeliharamu dengan rezeki amat lezat ketika dalam rahim ibu, ketika bayi, serta ketika tanpa pilihan dan kemampuan, akan Memberi rezeki itu selama engkau hidup. Lihatlah! Siapa yang Menciptakan jenis-jenis pangan pada permukaan bumi setiap musim semi, dan bagi siapa Dia Menciptakannya? Tentu Dia tidak akan Membawa serta Memasukkannya ke dalam mulutmu! Apakah pergi ke tempat hiburan serta kebun, memetik, lalu makan buah-buah lezat berwajah tersenyum yang bergantung pada cabang itu sukar? Semoga Allah سُبْحَانَهُ Memberi sikap adil!

Kesimpulannya:

Jangan meninggalkan pekerjaanmu dan mencampuri Pekerjaan Allah سُبْحَانَهُ dengan menuduh Allah سُبْحَانَهُ, agar tidak dicatat dalam daftar pembangkang tak bersyukur.

ﺍُﺩْﻋُﻮﻧ۪ٓﻰ ﺍَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jangan menyatakan bahwa sebagian doa tidak bergabung dengan jawaban. Sebab, doa ibadah dan buah ibadah terlihat di akhirat. Tujuan-tujuan dunia, seperti waktu-waktu salat, masing-masing waktu bagi ibadah doa, bukan buah doa. Misalnya, gerhana matahari waktu bagi salat gerhana, dan tiadanya hujan waktu bagi salat meminta hujan. Demikian pula, kuasa orang zalim serta turunnya bencana waktu bagi beberapa doa khusus.

Selama waktu-waktu ini tetap, salat serta doa tersebut dilakukan. Jika tujuan dunia tercapai pada waktu-waktu ini, memang cahaya di atas cahaya. Jika tidak, engkau tidak dapat berkata bahwa jawaban tidak bergabung dengan doa. Engkau hanya dapat berkata bahwa waktunya belum berakhir dan doa harus diteruskan. Sebab, tujuan-tujuan itu merupakan pendahuluan doa, bukan hasilnya.

Mengenai Janji Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq untuk Menjawab doa, menjawab tidak sama dengan mengabulkan. Yakni, menjawab tidak mengharuskan mengabulkan. Doa pasti diberi jawaban dan tidak dibiarkan tanpa jawaban. Terpenuhinya permohonan mengikuti Hikmah Mujîb. Misalnya, ketika memanggil dokter, ia pasti menjawab, ‘Apa yang engkau inginkan?’ Namun, ketika berkata, ‘Berilah aku makanan atau obat ini,’ kadang ia memberi dan kadang tidak memberi karena tidak sesuai penyakit serta tabiat tubuhmu.

Salah satu sebab tidak dikabulkan ialah bahwa karena ia tidak berdoa dengan maksud ibadah, melainkan mengkhususkannya untuk memperoleh permohonan, terjadi hasil yang berbalik. Ikhlas dalam ibadah doa itu patah dan tidak diterima.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagai hasil perubahan-perubahan besar, jurang-jurang luas terjadi di antara kedua sisi. Di atas jurang itu diperlukan jembatan-jembatan yang berkaitan dengan kedua alam agar terdapat pergi serta datang di antara keduanya. Namun, menurut jenis perubahan besar, bentuk serta hakikat jembatan-jembatan itu berbeda dan namanya beragam.

Misalnya, tidur merupakan jembatan antara alam terjaga serta alam mitsal. Barzakh jembatan lain antara dunia dan akhirat. Mitsal merupakan jembatan antara alam jasmani serta alam ruhani. Musim semi merupakan jenis jembatan lain antara musim dingin dan musim panas.

Adapun pada kiamat, perubahan besar bukan satu. Karena akan terdapat banyak perubahan amat besar, jembatannya pun harus amat luar biasa serta menakjubkan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam ayat-ayat seperti

ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ ٭ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻣَﺎٰﺏِ

yang mengumumkan kembalinya manusia sesudah mati kepada Khâliq Yang Rahmân serta Rahîm terdapat kabar gembira dan hiburan besar, serta isyarat kepada ancaman besar bagi yang membangkang.

Ya, menurut kejelasan ayat-ayat ini, mati bukan pintu sirna, perpisahan, serta tidak ada atau sumur gelap, melainkan jalan masuk ke hadirat Sultan Azali serta Abadi. Melalui isyarat kabar gembira ini, hati selamat dari takut serta sakit tidak ada mutlak.

Ya, lihatlah neraka maknawi yang dimuat kufur! Melalui rahasia hadis qudsi

ﺍَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﻇَﻦِّ ﻋَﺒْﺪ۪ﻯ ﺑ۪ﻰ,

Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengubah sangka serta keyakinan orang kafir menjadi azab pedih yang tetap.

Kemudian, lihatlah tingkat-tingkat lezat yang terjadi bagi orang beriman melalui iman serta yakin sesudah bertemu Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, sesudah Rida⁠-⁠Nya, serta sesudah melihat⁠-⁠Nya! Bahkan, neraka jasmani bagi orang beriman yang arif seperti surga dibanding dengan neraka maknawi orang kafir yang membangkang.

Saudaraku! Selain bukti-bukti yang menunjukkan alam kekal, tunduk memohon serta doa Muhammad ﷺ, Kekasih Yang Paling Mulia ﷺ dari Kekasih Azali, imam para nabi, wali, serta shiddiqin yang membentuk saf-saf di belakangnya dan dengan satu mulut mengucapkan ‘Âmin, âmin!’ atas doanya, merupakan bukti amat besar dan jalan cukup bagi terus adanya manusia dalam alam kekal. Sebab, apakah keindahan, keelokan, keindahan-keindahan, serta kesempurnaan yang meliputi seluruh kainat ini mengizinkan sesuatu yang dianggap demikian buruk, jelek, cacat, serta kurang seperti tidak mendengar atau tidak mengabulkan permohonan Kekasih ﷺ itu? Bukankah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mahasuci serta Bebas dari seluruh kekurangan dan hal buruk? Tentu Dia Mahasuci.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Menyatakan, mengumumkan, serta menceritakan nikmat-nikmat yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Berikan kadang berakhir pada sombong serta tinggi hati. Menyembunyikan nikmat tersebut dengan maksud rendah hati pun tidak baik. Karena itu, untuk selamat dari berlebih serta terlalu kurang, harus merujuk kepada timbangan lurus. Demikianlah:

Setiap nikmat memiliki dua wajah. Satu wajah berkaitan dengan manusia, yang menghiasnya, menjadi dasar lezat, serta menyebabkan menonjol di tengah orang lain.

Ia menjadi sebab membanggakan diri serta mabuk, melupakan Pemilik Hakiki, dan akhirnya membuat jatuh ke sumur tinggi hati serta sombong.

Wajah kedua memandang Yang Memberi nikmat, menampakkan Kemurahan⁠-⁠Nya, mengumumkan tingkat Rahmat⁠-⁠Nya, memperlihatkan pemberian nikmat⁠-⁠Nya, serta bersaksi atas Asma⁠-⁠Nya.

Karena itu, rendah hati hanya dapat menjadi rendah hati melalui wajah pertama; jika tidak, ia memuat tidak bersyukur. Menceritakan nikmat pun melalui wajah kedua terpuji karena menjadi syukur maknawi. Jika tidak, ia tercela karena memuat tinggi hati serta sombong. Rendah hati dan menceritakan nikmat berhimpun seperti ini:

Seseorang memberi mantel sebagai hadiah kepada yang lain. Ketika orang lain berkata kepada penerima yang mengenakan mantel, ‘Betapa indah engkau,’ dan ia menjawab, ‘Indah itu milik mantel,’ ia telah menghimpun rendah hati serta menceritakan nikmat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika upah diambil atau balasan dibagikan, mikroba persaingan serta iri mulai bergerak. Namun, pada waktu kerja dan pelayanan, mikroba itu tidak tahu. Bahkan, orang malas mencintai yang rajin, yang lemah menghargai serta mengagumi yang kuat, tetapi ingin ia bekerja agar pekerjaan ringan dan ia selamat dari kesukaran.

Karena dunia merupakan pabrik yang didirikan untuk kerja serta khidmah dalam urusan agama dan amal akhirat, dan buah ibadah yang dikerjakan dalam pabrik itu terlihat di alam yang lain, tidak sepatutnya bersaing dalam ibadah. Jika terjadi, ikhlas hilang. Yang melakukan persaingan tersebut memikirkan balasan dunia seperti penghargaan serta kagum orang lain. Orang malang itu tidak memikirkan bahwa melalui pikiran tersebut ia membatalkan amalnya dengan tiadanya ikhlas, sebab dalam pemberian pahala serta pengambilan upah ia menjadikan manusia sekutu bagi Rabb manusia, dan menjadi sasaran benci orang lain.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karamah serta istidraj berbeda secara maknawi. Sebab, karamah seperti mukjizat merupakan Tindakan Allah سُبْحَانَهُ. Pemilik karamah mengetahui bahwa karamah berasal dari Allah سُبْحَانَهُ serta mengetahui bahwa Allah سُبْحَانَهُ Pelindung dan Pengawasnya. Tawakal serta yakinnya bertambah. Namun, kadang dengan Izin Allah سُبْحَانَهُ ia menyadari karamahnya dan kadang tidak. Bagian terakhir lebih utama serta lebih selamat.

Adapun istidraj berupa tersingkapnya hal-hal gaib serta menampakkan tindakan aneh ketika berada dalam lalai. Namun, pemilik istidraj ini, dengan bersandar kepada nafsu serta menyandarkan kepada kemampuannya, keakuan dan kesombongannya demikian bertambah hingga mulai membaca

ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍُﻭﺗ۪ﻴﺘُﻪُ ﻋَﻠٰﻰ ﻋِﻠْﻢٍ.

Akan tetapi, jika tersingkapnya itu merupakan hasil dibersihkannya nafsu serta diteranginya hati, pada lapisan pertama tiada perbedaan antara ahli istidraj dan ahli karamah. Bagi yang memperoleh fana dalam arti penuh, dengan Izin Allah سُبْحَانَهُ hal-hal gaib pun tersingkap, dan mereka melihat hal-hal tersebut melalui daya-dayanya yang fana fillah. Perbedaan ini dari istidraj amat nyata, sebab bercahayanya batin mereka yang keluar ke lahir tidak tercampur dengan gelap orang-orang riya.

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tasbih serta ibadah terdapat dalam segala sesuatu melalui jenis-jenis tak terbatas. Namun, tidak harus setiap sesuatu senantiasa mengetahui dan menyadari seluruh segi tasbih serta ibadahnya sendiri, sebab terjadinya tidak mengharuskan hadirnya dalam kesadaran. Cukup jika yang bertasbih serta beribadah hanya mengetahui bahwa amal yang dilakukan merupakan tasbih khusus atau ibadah yang sifatnya diketahui. Memang Ilmu Ma'bûd Mutlak cukup. Karena makhluk selain manusia tidak dibebani kewajiban, niat tidak diperlukan bagi mereka. Mengetahui sifat amal pun tidak diperlukan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Nilai manusia beriman menurut seni luhur yang dimuatnya serta ukiran manifestasi yang dipantulkan dari Asmaul Husna. Nilai manusia kafir diukur dengan nilai materinya yang fana serta jatuh, yang hanya berupa daging dan tulang.

Demikian pula, jika alam ini dipandang dengan makna harfi sebagaimana diperkenalkan Al-Qur'an, yakni sebagai alat bagi Keagungan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, ia menjadi berharga menurut itu. Jika dipandang dengan makna ismi sebagaimana dinyatakan filsafat, yakni berdiri sendiri pada dirinya tanpa terikat Pelaku atau Khâliq, nilainya tetap terbatas dalam materi tak bernyawa serta berubah.

Betapa lebih luhur ilmu yang diambil dari Al-Qur'an daripada ilmu filsafat tampak melalui contoh ini:

ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﺳِﺮَﺍﺟًﺎ.

Putusan Al-Qur'an ini membuka jendela untuk memandang manifestasi Asmaul Husna. Demikianlah:

Wahai manusia! Matahari ini, bersama besarnya, tunduk kepada kalian. Ia memberi cahaya kepada tempat tinggal kalian serta membuat makanan kalian masak melalui panasnya. Kalian memiliki Mâlik Yang demikian 'Azhîm serta Rahîm sehingga matahari ini salah satu Lampu⁠-⁠Nya, yang menerangi para tamu yang tinggal dalam rumah tamu⁠-⁠Nya.

Menurut hikmah filsafat, matahari merupakan api besar yang berputar di tempatnya. Bumi serta planet-planet merupakan bagian-bagian yang terbang darinya. Dengan tetap terikat kepada matahari melalui daya tarik, semuanya bergerak pada orbitnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Manusia tidak memiliki hak menuntut hak apa pun dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebaliknya, ia senantiasa berutang syukur kepada⁠-⁠Nya, sebab kerajaan milik⁠-⁠Nya dan manusia milik⁠-⁠Nya.