RISALAH KESEPULUH
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kita mendirikan tangga tujuh anak untuk naik ke langit luhur ayat mulia ini serta memahami rahasianya.
Anak Tangga Pertama:
Langit memiliki penghuni yang sesuai, yang disebut malaikat. Sebab, penuhnya bola bumi dengan makhluk hidup, bersama kecil serta rendahnya dibanding dengan langit, menyatakan dengan jelas bahwa menara-menara berhias langit penuh makhluk berpemahaman. Dihiasnya langit dengan begitu banyak hiasan pun pasti untuk menarik pandangan terpana makhluk berpemahaman melalui penghargaan serta kagum, sebab indahnya hiasan untuk menarik pencinta, dan makanan pun dibuat bagi yang lapar. Selain itu, manusia serta jin tidak cukup memenuhi tugas itu. Hanya malaikat dan makhluk ruhani tak terbatas yang sesuai di sana dapat memenuhi tugas tersebut.
Anak Tangga Kedua:
Bumi memiliki hubungan serta urusan dengan langit, dan di antaranya terdapat hubungan amat besar. Ya, sinar, panas, berkah, serta lainnya yang datang ke bumi berasal dari langit. Dari bumi pun doa, ibadah, serta ruh pergi ke langit. Maka, dari urusan dagang yang berlangsung di antaranya dipahami bahwa bagi penghuni bumi terdapat jalan naik ke langit, yang para nabi, wali, serta ruh naik ke langit melalui melepaskan diri dari tubuhnya.
Anak Tangga Ketiga:
Menurut yang terasa dari diam, hening, aturan, keteraturan, serta kesinambungan yang terus berlangsung di langit, penghuni langit tidak seperti penghuni bumi. Ya, hal-hal yang terdapat di bumi, seperti nifak, pertikaian, beda pendapat, berkumpulnya hal bertentangan, serta bercampurnya baik dan buruk, tidak terdapat di langit. Melalui ini, tiada keadaan yang merusak aturan serta keteraturan langit. Para penghuninya mematuhi perintah yang diberikan dengan taat sempurna.
Anak Tangga Keempat:
Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memiliki beberapa Asma yang tuntutan serta hukumnya berbeda. Misalnya, Asma-Nya yang menghendaki diturunkannya malaikat dari langit untuk berperang melawan orang kafir demi menolong para sahabat mulia dalam beberapa perang seperti Badar, bukan menganggap jauh, melainkan menghendaki terjadinya perang antara malaikat serta setan, yakni yang baik dari langit dan yang buruk dari bumi. Ya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dapat Mengusir serta Membinasakan setan tanpa Memberitahukan malaikat. Namun, berdasarkan tuntutan Daya serta Kemegahan-Nya, mengumumkan dan memperlihatkan hukuman seperti ini kepada yang layak menerimanya sesuai dengan Keagungan-Nya.
Anak Tangga Kelima:
Karena makhluk ruhani yang baik berada di langit, ketika yang buruk ingin meniru serta bergabung dengan mereka dengan mempercayai halusnya, penghuni langit tidak menerima mereka karena buruknya dan mengusirnya. Selain itu, pelontaran bintang telah dijadikan tanda serta penanda untuk mengumumkan dan memperlihatkan perjuangan maknawi seperti ini kepada alam yang terlihat, terutama manusia yang tugasnya bersaksi serta melihat.
Anak Tangga Keenam:
Lihatlah gaya luhur yang digunakan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya untuk membimbing umat manusia kepada taat serta melarang dan mencegah pembangkangan:
ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ وَالْاِنْسِ ﺍِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﺗَﻨْﻔُﺬُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺍَﻗْﻄَﺎﺭِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻓَﺎﻧْﻔُﺬُﻭﺍ لَا ﺗَﻨْﻔُﺬُﻭﻥَ اِلَّا ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ
Yakni, ‘Wahai jamaah manusia serta jin! Jika memiliki daya untuk keluar dari penjuru langit serta bumi demi pergi dan selamat ke negeri di luar Kerajaan-Ku, keluarlah. Namun, kalian hanya keluar dengan suatu kuasa.’
Melalui ayat ini, Al-Qur'an al-Karim menyeru dengan mengumumkan lemahnya manusia serta jin menghadapi kerajaan Rububiyah yang amat luas:
Wahai manusia hina, kecil, serta lemah! Dengan cara apa engkau membangkang kepada Sultan Azali Yang malaikat pelontar setan, bintang, matahari, serta bulan taat kepada-Nya? Bagaimana engkau berani membangkang terhadap sultan yang memiliki tentara yang dapat menggunakan bintang-bintang besar sebagai peluru?
Anak Tangga Ketujuh:
Sebagaimana bintang memiliki individu amat kecil, terdapat pula yang amat besar. Segala sesuatu yang menerangi wajah langit ialah bintang. Sebagian dari jenis ini menjadi hiasan langit, dan sebagian menjadi pelontar samawi untuk melempari setan. Pelontaran yang dilakukan di langit ini memperlihatkan kepada manusia peristiwa perjuangan yang terjadi bahkan pada lingkaran terluas seperti langit, lalu mendorong serta membiasakan manusia yang taat untuk berjuang melawan yang membangkang.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Di antara hal-hal yang membedakan manusia dari hewan:
Yang satu:
Ia berkaitan dengan masa lampau serta masa depan. Hewan tidak memiliki pemahaman yang dapat memikirkan kedua waktu ini dengan semestinya.
Yang kedua:
Pemahamannya mengenai hal-hal dalam diri serta di luar diri, yakni dalam dan luar, bersifat menyeluruh serta umum.
Yang ketiga:
Menyingkap serta menyusun pendahuluan-pendahuluan yang diperlukan untuk pembangunan, seperti menyiapkan dan menyusun hal-hal perlu seperti batu, kayu, serta semen untuk membangun rumah.
Karena itu, tugas pertama serta terbesar manusia ialah tasbih dan tahmid. Pertama melalui bahasa nikmat-nikmat yang telah atau akan dilihatnya pada masa lampau, kini, serta depan; kemudian melalui bahasa pemberian nikmat yang dilihatnya dalam dirinya atau di luar; lalu melalui bahasa bersaksi serta melihat tasbih yang dilakukan makhluk, ia memuji dan menyanjung Sang Pembuat.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memiliki tiga hukum bernama ata, Qada, serta takdir. Ata membatalkan hukum Qada, dan Qada membatalkan takdir.
Misalnya, keputusan yang diberikan mengenai sesuatu berarti takdir. Dilaksanakannya keputusan itu berarti Qada. Membatalkan keputusan tersebut serta membebaskan putusan dari Qada berarti ata.
Ya, sebagaimana akar rumput lembut melubangi batu keras, ata pun melubangi kepastian hukum Qada. Qada pun seperti anak panah melubangi keputusan-keputusan takdir.
Maka, perbandingan ata kepada Qada seperti perbandingan Qada kepada takdir. Ata ialah mengeluarkan dari cakupan hukum Qada; Qada ialah mengeluarkan dari sifat menyeluruh hukum takdir. Orang arif yang mengetahui hakikat ini berkata:
‘Yâ İlahî! Kebaikan-kebaikanku dari Pemberian-Mu, dan keburukan-keburukanku dari Qada-Mu. Jika tidak terdapat Pemberian-Mu, aku akan binasa.’
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Rahasia seperti apakah yang terdapat dalam diakhirinya ayat-ayat melalui beberapa kesimpulan yang memuat Asmaul Husna?
Ya, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya kadang membentangkan ayat-ayat Kudrat dalam ayat-ayatnya, lalu mengeluarkan Asma dari dalamnya. Kadang ia membuka dan menyebarkan seperti gulungan kain, lalu menghimpun serta melipatnya dalam Asma. Kadang ia merinci Tindakan-Tindakan-Nya, lalu meringkas melalui Asma. Kadang ia menyatakan amal makhluk dengan ancaman, lalu menghibur melalui Asma yang mengisyaratkan Rahmat. Kadang sesudah menyebutkan tujuan-tujuan juz'i, untuk meneguhkan serta membuktikannya, ia menyebutkan Asma yang seperti kaidah kulli sebagai bukti. Kadang ia menyebutkan hal-hal juz'i yang bersifat materi, lalu meringkas melalui Asma yang kulli. Demikian seterusnya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Lemah pun, seperti cinta mendalam, merupakan salah satu jalan yang mengantarkan kepada Allah سُبْحَانَهُ. Namun, jalan lemah lebih pendek serta lebih selamat daripada cinta mendalam.
Para penempuh jalan ruhani menempuh melalui sepuluh latifah pada jalan tersembunyi dan tujuh nafsu pada jalan bersuara. Orang fakir serta lemah ini telah mengambil manfaat dari limpahan Al-Qur'an berupa jalan singkat serta mudah yang terdiri dari empat langkah.
Langkah pertama diambilnya dari ayat
فَلَا ﺗُﺰَﻛُّٓﻮﺍ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ,
langkah kedua dari ayat
وَلَا ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎَﻧْﺴٰﻴﻬُﻢْ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ,
langkah ketiga dari ayat
ﻣَٓﺎ ﺍَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﻓَﻤِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ,
dan langkah keempat dari ayat
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ.
Penjelasannya:
Langkah Pertama:
Dalam penciptaannya, manusia diciptakan mencintai nafsunya sendiri. Bahkan, ia tidak memiliki cinta kepada sesuatu sebesar cintanya kepada nafsu itu sendiri. Ia memuji diri melalui sanjungan yang hanya layak bagi Ma'bûd. Dengan menganggap nafsunya suci dari seluruh aib serta cacat, baik benar maupun tidak, ia membelanya dengan keras sempurna. Bahkan, untuk memuji serta menyanjung Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq perangkat yang diciptakan dalam dirinya dikerahkannya untuk memuji serta menyanjung nafsunya sendiri, dan ia masuk ke cakupan yang pada
ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍِﻟٰﻬَﻪُ ﻫَﻮٰﻳﻪُ
dinyatakan melalui ﻣَﻦْ. Pada tingkat ini, nafsu hanya dibersihkan dengan tidak menganggapnya bersih.
Langkah Kedua:
Nafsu melarikan diri ke belakang pada waktu khidmah, dan menyerbu saf depan pada waktu upah. Pada tingkat ini, ia dibersihkan dengan membalik tindakannya. Yakni, ia harus diarahkan ke depan untuk kerja serta khidmah, dan ditinggalkan di belakang dalam pembagian upah.
Langkah Ketiga:
Dalam nafsu serta kantongnya sendiri, ia tidak boleh meninggalkan sesuatu selain cacat, kurang, lemah, dan fakir. Seluruh kebaikan merupakan nikmat yang Dikaruniakan Sang Fâthir Yang Hakîm dan menghendaki pujian. Harus diyakini serta dianggap bahwa semuanya tidak mengharuskan bangga. Pada tingkat ini, ia dibersihkan dengan mengetahui bahwa sempurnanya dalam tidak sempurnanya, dayanya dalam lemahnya, serta kayanya dalam fakirnya.
Langkah Keempat:
Mengetahui bahwa dalam berdiri sendiri ia fana, baru ada, serta tiada; ketika menjadi cermin Asma Ilahi, ia saksi, disaksikan, serta ada. Pada tingkat ini, ia dibersihkan dengan mengetahui tidak adanya dalam wujudnya dan wujudnya dalam tidak adanya, lalu menjadikan
ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ
wirid bagi dirinya.
Demikian pula, ahli wahdatul wujud memusnahkan kainat dengan menyangkalnya. Adapun ahli wahdatul syuhud menghukum seluruh yang ada dengan penjara abadi dalam kurungan lupa, seperti orang yang dihukum mendayung.
Jalan yang Al-Qur'an buat dipahami menyelamatkan kainat serta segala yang ada dari pemusnahan maupun penjara. Ia mempekerjakannya dalam tugas-tugas seperti menjadi tempat tampak serta cermin Asmaul Husna. Namun, ia membebaskan kainat dari berdiri sendiri serta bekerja atas namanya sendiri.
Demikian pula, dalam wujud manusia terdapat beberapa lingkaran, sebab ia bersifat tumbuhan, hewan, manusia, serta iman. Proses dibersihkan kadang terjadi pada lapisan iman, lalu turun ke lapisan tumbuhan. Kadang dalam dua puluh empat jam proses terjadi pada keempat lapisan. Yang melempar manusia kepada salah serta keliru ialah tidak memperhatikan perbedaan keempat lapisan ini. Dengan bersandar kepada
ﺧُﻠِﻖَ ﻟَﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ,
ia keliru karena menyangka sifat manusia terbatas pada perut hewan serta tumbuhan. Kemudian ia keliru dengan membatasi bahwa seluruh tujuan milik nafsunya.
Kemudian ia keliru dengan menilai bahwa nilai segala sesuatu menurut manfaatnya. Bahkan, ia tidak mengambil bintang Venus sebagai ganti bunga beraroma, sebab bintang itu tidak memberi manfaat kepadanya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ubudiyah merupakan hasil nikmat yang telah mendahului serta harganya, bukan pendahuluan balasan dan jalan bagi nikmat yang akan datang. Misalnya, diciptakannya manusia dalam rupa paling indah merupakan nikmat terdahulu yang menghendaki ubudiyah. Kemudian, melalui pemberian iman, Dia Memperkenalkan Diri-Nya kepadamu, merupakan nikmat-nikmat terdahulu yang menghendaki ubudiyah.
Ya, sebagaimana melalui pemberian perut seluruh makanan dianggap telah diberikan, melalui pemberian hidup, alam yang terlihat bersama nikmat-nikmat yang dimuatnya dianggap telah diberikan.
Demikian pula, melalui pemberian jiwa manusia, alam mulk serta malakut telah dijadikan seperti jamuan nikmat bagi perut ini. Melalui pemberian iman pun, bersama jamuan-jamuan tersebut, perbendaharaan yang tersimpan dalam Asmaul Husna diberikan pula sebagai jamuan.
Setelah menerima upah seperti ini di muka, harus senantiasa memegang khidmah. Nikmat-nikmat yang diberikan sesudah khidmah serta amal semata-mata dari Karunia-Nya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam banyaknya individu jenis-jenis yang luar biasa, terutama serangga serta binatang kecil, terdapat Kedermawanan dan Kemurahan luar biasa yang tak berujung, yang disaksikan. Banyaknya individu pada seluruh jenis dengan ketelitian serta keteraturan sempurna ini secara jelas menunjukkan bahwa tajalli Ilahi tak berujung, Hakikat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq berbeda dari segala sesuatu, dan seluruh sesuatu sama bagi Kudrat-Nya.
Ya, Kemurahan dalam mencipta ini berasal dari Wajibnya Sang Pembuat. Pada jenis bersifat Jalal, pada individu bersifat Jamal.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tingkat mudah serta sulit seni yang dibuat manusia diukur melalui ilmu dan bodohnya. Semakin besar keahlian ilmunya dalam seni, terutama perangkat halus serta lembut, semakin mudah. Menurut tingkat bodohnya, terdapat kesukaran. Karena itu, kemudahan mutlak yang terlihat dalam penciptaan segala sesuatu di tengah kecepatan mutlak serta keluasan mutlak menunjukkan melalui pemahaman intuitif pasti bahwa tiada batas akhir Ilmu Sang Pembuat.
ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻧَٓﺎ اِلَّا ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٌ ﻛَﻠَﻤْﺢٍ ﺑِﺎﻟْﺒَﺼَﺮِ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Di antara keajaiban cakupan luas yang manusia miliki secara fitri ialah bahwa Sang Pembuat Yang Hakîm telah Menempatkan timbangan-timbangan tak terhitung dalam tubuh kecil ini untuk menimbang jenis-jenis Rahmat tak terbatas. Dia telah Menciptakan perangkat serta alat tak terhitung untuk memahami perbendaharaan tersembunyi tak berujung dari Asmaul Husna. Misalnya, rasa-rasa pada manusia yang meliputi alam hal-hal terdengar, terlihat, serta dimakan diperuntukkan bagi memahami Sifat-Sifat Mutlak dan Syuunat luas Sang Pembuat.
Dalam daya ingatnya yang lebih kecil daripada sesawi pun Diletakkan latifah berpemahaman sedemikian rupa sehingga, meskipun latifah tersebut terus menjelajah serta berkeliling dalam alam luas yang dimuat sesawi itu, ia tidak dapat mencapai pantainya. Namun, kadang alam besar ini begitu menyempit bagi latifah tersebut sehingga alam seperti zarah dalam perut latifah itu. Sesawi itu pun menelan latifah bersama seluruh medan perjalanannya serta kitab-kitab yang dibacanya, duduk di tempat, dan perutnya tidak sakit.
Tingkat-tingkat manusia yang berbeda dipahami dari rahasia ini.
Ya, sebagian manusia tenggelam dalam zarah, dan dalam sebagian manusia dunia tenggelam. Sebagian pun, melalui salah satu kunci yang diberikan kepadanya, membuka alam kemajemukan paling luas, tetapi tenggelam di dalamnya. Dengan sukar ia mencapai pantai keesaan serta tauhid.
Maka, dalam perjalanan ruhani manusia terdapat banyak lapisan. Pada satu lapisan, rasa hadir di hadapan-Nya serta tauhid dikaruniakan dan dimudahkan kepada manusia dengan amat mudah. Lapisan lain begitu dikuasai lalai serta bayangan sehingga dengan tenggelam dalam kemajemukan, ia melupakan tauhid sepenuhnya.
Sebagian orang beradab yang menyangka dan membayangkan jatuh sebagai naik, mundur sebagai maju, kebodohan berlapis sebagai yakin, serta tirai tidur terakhir sebagai terjaga, termasuk manusia lapisan kedua. Dalam memahami hakikat-hakikat iman, mereka merupakan orang badui di antara orang badui.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Asma Jalal kebanyakan bertajalli pada jenis-jenis serta hal-hal kulli. Asma Jamal bertajalli kepada hal-hal juz’i dari segala yang ada. Dari segi ini, Kedermawanan Mutlak pada jenis merupakan tajalli Jalal. Ukiran hal-hal juz’i serta indahnya pribadi-pribadi merupakan tajalli Jamal.
Demikian pula, Jalal tampak dari tajalli wahidiyah, dan Jamal dari tajalli ahadiyah. Kadang Jamal bertajalli dari Jalal. Ya, dalam mata Jamal, betapa indah Jalal; dalam mata Jalal pun, demikian agung Jamal.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika mata melihat ciptaan-ciptaan tetapi pandangan batin tidak melihat Sang Pembuat, itu amat aneh serta sangat buruk. Sebab, dalam keadaan itu, tidak terlihatnya Sang Pembuat secara maknawi serta dalam hati berasal dari tiadanya pandangan batin, butanya mata hati, atau amat sempitnya sehingga tidak memahami perkara bersama besarnya, atau suatu ditinggalkan tanpa pertolongan. Jika tidak, pengingkaran Sang Pembuat lebih patut diingkari daripada mengingkari yang dilihat mata.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Benih yang ditabur pada ladang merupakan tembok serta dinding maknawi. Ia menjadikan ladang itu milik pemilik benih dan mencegah pengelolaan orang lain. Demikian pula, benih tumbuhan serta hewan yang ditabur pada ladang bola bumi merupakan tembok serta penghalang maknawi yang mencegah persekutuan dan mengusir yang lain dari mencampuri.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagian manusia yang bertabiat halus serta terpikat kepada seni lembut dan halus, terutama dalam kebun khususnya, memberi kebunnya pemandangan amat teratur dengan membuat bentuk, saluran, kolam, serta air mancur secara amat indah dan geometris. Untuk memperlihatkan tingkat halus serta indah itu, mereka menambah pula hal-hal buruk, seperti batu kasar tak teratur serta bentuk gua dan gunung, agar melalui buruk serta tiadanya keteraturan semuanya, indah serta halusnya kebun bersinar lebih besar. Sebab,
ﺍِﻧَّﻤَﺎ الْاَشْيَاءُ ﺗُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﺎَﺿْﺪَﺍﺩِﻫَﺎ.
Namun, ketika orang teliti memandang pemandangan kebun yang menghimpun hal-hal bertentangan itu, ia memahami bahwa hal-hal kasar serta buruk dibuat sengaja agar indah, keteraturan, serta halus bertambah. Sebab, yang menambah indahnya yang indah ialah buruknya yang buruk. Maka, yang melengkapi keteraturan penuh kebun ialah hal-hal buruk itu. Menurut tingkat tiadanya keteraturan hal-hal buruk, keteraturan kebun bertambah.
Demikian pula, di antara makhluk serta ciptaan pada kebun dunia yang berada dalam susunan aturan serta keteraturan paling sempurna, baik hewan, tumbuhan, ataupun benda tak bernyawa, terdapat beberapa hal buruk serta di luar keteraturan. Orang yang dengan khayal amat luhur, luas, serta puitis dapat memandang pemandangan dunia sebagai kebun itu dapat melihat bahwa buruk serta tidak teraturnya telah dibuat sengaja oleh Sang Pembuat Yang Hakîm sebagai hiasan serta perhiasan bagi indah dan keteraturan kebun dunia.
Selain itu, jika hal-hal seperti itu tidak disengaja, tidak akan terdapat perbedaan penuh Hikmah dalam bentuknya. Ya, dalam perbedaan terdapat Maksud serta Pilihan. Berbedanya wajah setiap manusia dari seluruh manusia merupakan dalil bagi ini.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu keunggulan cakupan luas manusia, yang secara fitri membuatnya melampaui seluruh hewan, ialah memahami penghormatan serta tasbih makhluk hidup kepada Wâhib kehidupan (Pemberi Hidup). Yakni, sebagaimana manusia memahami perkataannya sendiri, melalui telinga iman ia memahami seluruh tasbih makhluk hidup, bahkan benda tak bernyawa.
Maka, segala sesuatu, seperti orang tuli, hanya memahami perkataannya sendiri. Manusia memahami dalil-dalil Asmaul Husna yang diucapkan segala yang ada melalui bahasa masing-masing. Karena itu, nilai segala sesuatu menurut dirinya bersifat juz'i, sedangkan nilai manusia kulli. Maka, meskipun satu individu, manusia seperti satu jenis.
ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَﺍﺏِ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Meskipun terdapat kemiripan antara lahir dan batin, jika hakikat dipandang, terdapat jarak besar di antaranya.
Misalnya, tauhid lahiriah awam berupa tidak menyandarkan sesuatu pun kepada selain Allah سُبْحَانَهُ. Penyangkalan seperti ini mudah serta sederhana. Adapun tauhid hakiki ahli hakikat, bersama menyandarkan segala sesuatu kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, berupa melihat serta membaca meterai dan cap-Nya pada setiap sesuatu. Ini membuktikan rasa hadir di hadapan-Nya serta menyangkal lalai.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Apakah Hikmah dalam ditundanya hukuman orang kafir yang sengaja serta sebagai tujuan itu sendiri menghadap dan melekat kepada hidup dunia, dan sebaliknya dalam keberhasilannya pada kemajuan materi?
Ya, orang kafir itu, melalui susunan serta seninya, tanpa sadar melayani tampaknya nikmat-nikmat yang Ditentukan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq bagi umat manusia. Ia mengatur keindahan ciptaan-ciptaan Ilahi yang indah tanpa sadar. Dengan mengeluarkan dari potensi ke nyata, ia menarik pandangan kepada luar biasanya seni Ilahi. Sayangnya ia tidak sadar. Maka, orang kafir itu, seperti jam, tidak mengetahui amal yang dilakukannya sendiri, tetapi memiliki pelayanan amat besar bagi manusia, seperti memberitahukan waktu. Berdasarkan rahasia ini, ia melihat balasannya di dunia.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang yang pertolongan Ilahi menjadi temannya dapat berpindah dari lahir ke hakikat tanpa masuk ke tahap perantara tarekat. Ya, dari Al-Qur'an kulihat hakikat tarekat, tanpa tarekat, dalam bentuk limpahan dan kuambil sebagian darinya. Aku pun menemukan jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu yang merupakan tujuan itu sendiri, tanpa membaca ilmu-ilmu alat.
Mengkaruniakan jalan singkat serta selamat kepada anak-anak zaman yang bergerak cepat ini merupakan Kemuliaan Rahmat Penuh Hikmah.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Yang membuat manusia jatuh dalam lalai serta menghalangi ubudiyah kepada Allah سُبْحَانَهُ ialah membatasi pandangannya yang terbatas kepada hal-hal juz’i. Ya, orang yang jatuh dalam hal-hal juz’i serta memusatkan pandangan kepada hal-hal juz’i dapat menganggap mungkin hal-hal juz’i itu berasal dari sebab-sebab. Namun, ketika mengangkat kepala dan memandang jenis serta keseluruhan, ia tidak dapat membolehkan sesuatu juz’i yang paling kecil berasal dari sebab paling besar.
Misalnya, ia dapat menyandarkan rezeki juz’inya kepada beberapa sebab. Namun, ketika memandang bumi yang merupakan sumber rezeki amat kering serta tandus pada musim dingin dan penuh rezeki pada musim semi, ia yakin tiada sesuatu yang dapat memberi rezekinya sendiri selain Allah سُبْحَانَهُ Yang dengan Menghidupkan bumi Memberi rezeki seluruh makhluk hidup. Demikian pula, engkau dapat menyandarkan cahaya kecil dalam rumahmu atau cahaya kecil dalam hatimu kepada beberapa sebab. Namun, ketika mengetahui bahwa cahaya itu tersambung kepada sinar matahari dan cahaya hati kepada Cahaya Manbaul Anwar (Sumber segala cahaya), engkau memahami bahwa Yang Menerangi tubuh serta hatimu hanyalah Sang Fâthir Yang Hakîm, Yang Mengubah malam dan siang satu sama lain.
Demikian pula, perbandingan wujudmu kepada Wujud Khâliq dalam tampak serta jelas seperti perbandingan yang menunjukkan Wujud Khâliq. Sebab, engkau menunjukkan wujudmu sendiri melalui satu segi, tetapi seluruh yang ada dengan seluruh zarahnya menunjukkan Wujud Khâliq. Maka, Wujud-Nya memiliki tingkat-tingkat tampak melebihi wujudmu sebanyak zarah alam.
Demikian pula, sebab-sebab yang mengarahkanmu mencintai nafsumu ialah:
1-
Gudang seluruh hal lezat ialah nafsu.
2-
Pusat wujud serta sumber manfaat ialah nafsu.
3-
Yang paling dekat kepada manusia ialah nafsu, katamu.
Baiklah. Namun, sebagai balasan bagi hal-hal lezat fana itu, tidakkah Khâliq Yang Memberi hal-hal lezat kekal harus lebih dicintai melalui ubudiyah? Jika nafsu layak dicintai karena menjadi pusat wujud, tidakkah Khâliq Yang Menciptakan wujud itu serta Menopangnya lebih layak bagi cinta dan ubudiyah itu? Jika nafsu merupakan sumber manfaat serta paling dekat menjadi sebab cinta, tidakkah Zat Yang Memegang seluruh kebaikan serta rezeki dalam Tangan-Nya, Yang Menciptakan nafsu, Nâfi', Bâqî, serta Lebih Dekat, lebih layak bagi cinta? Karena itu, seluruh cinta yang terbagi kepada segala yang ada harus dihimpun dan bersama cintamu dipersembahkan kepada Sang Fâthir Yang Hakîm, Kekasih Hakiki.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Di hadapanmu terdapat perkara-perkara besar yang amat mengerikan, yang memaksa manusia berhati-hati serta penuh perhatian.
Yang satu: Mati, suatu perpisahan yang memisahkan manusia dari dunia serta seluruh kekasihnya.
Yang kedua: Perjalanan ke negeri abadi yang dahsyat serta menakutkan.
Yang ketiga: Terkena sakit pedih seperti usia sedikit, perjalanan panjang, tiada bekal jalan, tiada daya serta kekuatan, dan lemah mutlak.
Maka, apakah lalai serta lupa ini? Seperti burung unta, engkau memasukkan kepala ke pasir lupa dan mengenakan kacamata lalai pada matamu agar Allah سُبْحَانَهُ tidak Melihatmu atau engkau tidak melihat-Nya. Hingga kapan engkau akan memperhatikan hal-hal fana yang sirna serta berpura-pura lalai dari hal-hal kekal yang tetap?
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Segala puji serta syukur bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq bahwa melalui perbedaan maknawi antara ‘isim’ dan ‘harf’ dalam perkara nahwu, Dia telah Mengajarkan banyak perkara amat penting kepadaku. Demikianlah:
Sebagaimana harf merupakan alat serta pelayan untuk menjelaskan makna yang lain, segala yang ada ini pun merupakan beberapa surat Ilahi untuk menampakkan, membuat dipahami, serta menjelaskan tajalli Asmaul Husna. Dalil, bukti, serta keajaiban yang tertulis di dalamnya merupakan mukjizat Kudrat. Memandang segala yang ada melalui wajah ini merupakan ilmu, iman, serta Hikmah. Jika dipandang seperti isim, dari segi berdiri sendiri serta menjadi tujuan itu sendiri, ia menjadi tidak bersyukur dan kebodohan berlapis.
Melalui perbedaan antara ‘kulli’ dan ‘kull’ dalam perkara logika pun, aku telah mempelajari banyak perkara mengenai Rububiyah. Jamal serta ahadiyah termasuk dalam cakupan
ﻛُﻠِّﻰٌّ ﺫُﻭ ﺟُﺰْﺋِﻴَّﺎﺕٍ.
Jalal serta wahidiyah termasuk dalam sebutan ﻛُﻞٌّ ﺫُﻭ ﺍَﺟْﺰَﺍﺀٍ.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dunia seperti daftar isi bagi alam akhirat. Salah satu isyarat dalam daftar isi ini kepada perkara-perkara penting alam akhirat ialah hal-hal lezat dalam rezeki jasmani. Dari alat serta perlengkapan seperti daya, rasa, perangkat, dan anggota yang diciptakan dalam wujud manusia untuk membuat terasa serta melimpahkan begitu banyak nikmat dalam dunia fana, hina, serta rendah ini, dipahami bahwa dalam alam akhirat pun,
ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ الْاَنْهَارُ
di bawah istana-istana, akan terdapat perjamuan jasmani yang layak bagi abadi.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika takut serta cinta manusia menghadap makhluk, takut menjadi bencana serta sakit, dan cinta seperti musibah. Sebab, orang yang engkau takuti tidak mengasihimu atau tidak mendengar permintaan belas kasihmu. Pribadi yang engkau cintai pun tidak mengenalmu atau tidak sudi menerima cintamu.
Karena itu, palingkan takut serta cintamu dari dunia dan manusia dunia. Hadapkan kepada Sang Fâthir Yang Hakîm agar takutmu menjadi merendah yang lezat kepada pangkuan Rahmat-Nya, seperti anak lari kepada pangkuan ibu, dan cintamu menjadi jalan menuju kebahagiaan abadi.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Engkau merupakan buah atau biji pohon penciptaan. Dari segi tubuh, engkau bagian kecil, lemah, serta tak berdaya. Namun, melalui Karunia serta seni halus-Nya, Sang Pembuat Yang Hakîm telah Mengangkatmu dari ‘bagian’ menjadi ‘keseluruhan’.
Ya, berkat hidup yang diberikan kepada tubuhmu, dengan berkeliling di atas alam yang terlihat melalui rasa-rasamu yang luas, hingga suatu tingkat engkau telah selamat dari ikatan sifat juz’i. Melalui pemberian sifat manusia, dalam potensi engkau seperti ‘keseluruhan’. Melalui karunia iman serta Islam, dalam potensi engkau telah menjadi ‘kulli’. Melalui pemberian makrifat serta cinta, engkau telah menjadi cahaya meliputi.
Karena itu, jika cenderung kepada dunia serta hal-hal lezat jasmani, engkau menjadi juz'i yang lemah serta hina. Jika mengerahkan perangkatmu atas nama Islam, yang disebut sifat manusia terbesar, engkau menjadi kulli serta keseluruhan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebab serta salahnya sakit yang engkau tanggung karena terkena begitu banyak perpisahan pedih berada padamu, sebab engkau mengerahkan cinta-cinta itu pada tempat yang salah. Jika menghimpun cinta-cinta tersebut, menghadapkannya kepada Wâhid lagi Ahad, serta mengerahkannya atas nama dan dengan Izin-Nya, dalam satu saat engkau akan bersatu bersama seluruh kekasihmu serta memperoleh sukacita dan puas.
Ya, seseorang yang terikat kepada sultan dapat memiliki hubungan dari satu segi serta hingga suatu tingkat, dalam hubungan sultan kepada segala sesuatu serta komunikasi dan hubungannya dengan setiap orang di setiap tempat.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Misalnya, engkau siap mengorbankan seluruh milikmu kepada orang yang memberi pengetahuan mengenai keadaan bulan atau hakikat masa depan. Namun, engkau tidak meninggalkan hawa serta hasrat nafsu yang menghalangimu mendengarkan Rasul ﷺ Rahmân, yang membawa berita dari Khâliq bulan yang seperti lebah dalam lingkaran kerajaan-Nya, memberi pengetahuan mengenai azali, abadi, hidup abadi, hakikat-hakikat pokok, serta perkara-perkara besar, menyelamatkanmu dari kacau maknawi dan kesesatan, menunjukkan jalan dari kemajemukan menuju keesaan, dengan membuatmu minum air kehidupan melalui iman kepada hidup abadi menyelamatkanmu dari api perpisahan, memperkenalkan hal-hal yang Diridai serta Diminta Khâliq, dan menjadi penerjemah komunikasi Sultan Azali serta Abadi; engkau tidak meninggalkan yang menghalangimu menyerah dengan iman kepada Pembawa Berita Yang Benar ﷺ itu!
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kita melihat bahwa Sang Pembuat Yang Hakîm dengan Hikmah Sempurna-Nya Membuat tenunan-tenunan mukjizat amat luar biasa dari hal-hal amat biasa. Agar tidak menyisakan tempat bagi sia-sia serta boros, Dia Menugaskan satu individu pada berbagai jenis tugas. Bahkan, jika dalam kepala manusia diperlukan sesuatu materi sebesar kuku bagi setiap tugas untuk menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepada manusia, satu kepala harus sebesar Gunung Tur agar terdapat tempat bagi para pemegang tugas.
Lidah, bersama tugas-tugas lainnya, merupakan pemeriksa perbendaharaan pangan serta seluruh makanan yang dimasak dalam dapur Kudrat. Ia merupakan ahli yang meyakini serta mengetahui rasa seluruh makanan.
Dari kegiatan penuh Hikmah ini dipahami bahwa banyak tenunan gaib serta akhirat dibuat dari hal-hal mengalir yang datang dan pergi bersama arus waktu, dari hari, tahun, serta abad yang berlalu melalui pergantian malam dan siang. Ya, tenunan yang ditenun dalam pabrik manusia, yang seperti daftar isi alam, menerangi hakikat itu. Maka, dalam dunia fana ini, mati serta musnah berpindah kepada terus ada yang jernih dalam lingkaran-lingkaran gaib dan tetap ada.
Ya, dalam riwayat terdapat bahwa menit-menit usia manusia kembali kepada manusia. Menit-menit itu datang gelap melalui lalai, atau kembali dengan kebaikan-kebaikan bercahaya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kita melihat bahwa Sang Pembuat Yang Hakîm memiliki keragaman besar dalam Membentuk individu-individu serta hal-hal juz’i. Ya, sebagaimana hewan memiliki yang amat besar serta amat kecil, burung, ikan, malaikat, benda-benda lainnya, serta alam-alam pun memiliki individu amat kecil dan amat besar. Hikmah yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Ikuti dalam keragaman ini: