Risalah Nur — Bahasa Indonesia

ŞEMME (SEHIRUP AROMA)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

ŞEMME (SEHIRUP AROMA)

RISALAH

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺑِﺮِﺳَﺎﻟَﺔِ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Alam ini, dengan seluruh lapisan serta jenisnya yang terlihat maupun tak terlihat, mengumumkan tauhid dengan mengucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab saling menopang di antara mereka menghendaki demikian.

Lapisan serta jenis-jenis itu, dengan seluruh unsur utamanya, mengumumkan kesaksian dengan mengucapkan

لَا ﺭَﺏَّ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab kemiripan di antara mereka menghendaki demikian.

Unsur-unsur utama tersebut, dengan seluruh anggotanya, mengumumkan kesaksiannya dengan mengucapkan

لَا ﻣَﺎﻟِﻚَ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab kemiripan di antara mereka menuntut demikian.

Anggota-anggota itu, dengan seluruh bagiannya, bersaksi dengan mengucapkan

لَا ﻣُﺪَﺑِّﺮَ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab di antara mereka terdapat saling membantu serta masuk.

Bagian-bagian tersebut, dengan seluruh unsur juz'inya, mengumumkan kesaksiannya dengan mengucapkan

لَا ﻣُﺮَﺑِّﻰَ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab kesesuaian di antara mereka menunjukkan bahwa pena satu.

Unsur-unsur juz'i itu, dengan seluruh selnya, bersaksi dengan mengucapkan

لَا ﻣُﺘَﺼَﺮِّﻑَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺤَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ اِلَّا ﻫُﻮ.

Sel-sel tersebut, dengan seluruh zarahnya, mengumumkan kesaksian dengan mengucapkan

لَا ﻧَﺎﻇِﻢَ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab satunya benang di antara zarah-zarah tunggal menghendaki demikian.

Zarah-zarah itu, dengan seluruh eternya, mengumumkan tauhid melalui permata

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮ,

sebab sederhana, diam, serta cepat patuhnya eter kepada Perintah Khâliq dengan keteraturan menghendaki demikian.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tiada manusia memiliki hak menyanggah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, ataupun berada pada batas mengeluh dan mengadu. Sebab, dalam tatanan alam yang menghendaki sesuatu bertentangan dengan hasrat pribadi yang mengeluh terdapat ribuan Hikmah. Memuaskan pribadi itu mengandung membuat ribuan Hikmah murka. Demi membuat satu pribadi rela, seribu Hikmah tidak dapat dikorbankan.

ﻭَ ﻟَﻮِ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﺍَﻫْﻮَٓﺍﺀَﻫُﻢْ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻭَ الْاَرْضُ

Jika bertindak menurut selera setiap individu, aturan serta keteraturan dunia menuju rusak.

Wahai yang mengeluh! Apakah engkau? Berdasarkan apa engkau menyanggah? Apakah engkau menjadikan hasrat juz'imu insinyur bagi keseluruhan-keseluruhan kainat? Apakah engkau menjadikan seleramu yang busuk ukuran serta timbangan bagi tingkat nikmat? Apa yang engkau ketahui bahwa yang engkau sangka nikmat bukan hukuman? Nilai apakah yang engkau miliki sehingga demi memuaskan serta menenangkan hasratmu yang tidak sebanding dengan sayap lalat, langit bersama roda-rodanya dihentikan dari gerak?

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Pengelolaan yang dilakukan pada satu sel dalam suatu anggota tubuh bergantung pada membayangkan tubuh terlebih dahulu. Sebab, bagian memiliki banyak hubungan serta kaitan dengan ukiran dan keadaan keseluruhan. Maka, pengelolaan dalam bagian berada di bawah Perintah Khâliq keseluruhan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Apakah layak bagi penjagaan Sang Pembuat Yang Hakîm, Yang Menjaga telur hewan kecil seperti binatang kecil serta ikan dan benih serangga serta tumbuhan dengan Rahmat, Karunia, dan Hikmah amat besar, untuk tidak Menjaga serta Mengabaikan amal-amal kalian yang akan menjadi biji bagi pohon-pohon berbuah di akhirat? Padahal, engkau pembawa amanah serta khalifah bumi.

Ya, rasa menjaga hidup yang terdapat pada setiap makhluk hidup menunjukkan bahwa wujud akan berakhir pada terus ada secara abadi melalui tajalli Asma Hayy, Hafîzh, serta Bâqî.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Yang Menjaga biji ara dari tahap ke tahap, Melindunginya dari masa ke masa, Menjaganya dari terurai, dan Menyimpan dasar-dasar yang diperlukan bagi susunan pohon ara dalam biji tersebut dengan perhatian sempurna, tentu dan pasti tidak Mengabaikan amal umat manusia yang memperoleh sebutan khalifah bumi, melainkan Menjaganya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Melalui bergantinya lafaz, makna tidak berganti; ia tetap ada. Kulit pecah, inti tetap ada serta kokoh. Pakaian terkoyak, tubuh tetap kokoh serta ada. Sekalipun tubuh mati dan buyar, ruh tetap ada. Jika tubuh menua, keakuan tetap muda. Yang banyak serta jamaah tercerai, tetapi individu tunggal tetap ada. Kemajemukan rusak, kesatuan tetap ada. Materi pecah, cahaya tetap ada.

Karena itu, sebagaimana makna yang terus ada dari awal hingga akhir usia menjaga kesatuan serta terus adanya meskipun mengganti banyak tubuh, berpindah dari tahap ke tahap, serta berguling dari masa ke masa, ia juga akan melompati parit kematian dan terus menempuh jalan abadi dengan selamat.

Selain itu, kaidah penyimpanan serta penjagaan ini, yang terdapat pada materi yang sirna serta tidak kekal dan senantiasa menanti perintah ‘Bersiaplah untuk musnah!’, juga berlaku pada ruh serta makna yang amat berkaitan dengan terus ada.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Keagungan, Kemuliaan, serta Kemandirian Keilahian menghendaki bahwa segala sesuatu, kecil atau besar, tinggi atau rendah, berada di bawah Kuasa⁠-⁠Nya. Rendah serta hinamu tidak dapat menyebabkanmu tetap di luar Kuasa⁠-⁠Nya. Sebab, meskipun engkau jauh dari⁠-⁠Nya, Dia tidak Jauh darimu. Atau, hinanya suatu sifatmu tidak mengharuskan hinanya wujudmu. Atau, tercemarnya segi mulk tidak menghendaki tercemarnya segi malakut pula.

Demikian pula, Keagungan Khâliq tidak mengharuskan hal-hal buruk keluar dari Kuasa⁠-⁠Nya. Sebaliknya, Keagungan Hakiki menghendaki Tunggal dalam penciptaan serta Meliputi dari segi Kuasa.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Semakin padat sesuatu yang berupa materi, semakin ia tidak dapat melihat hal-hal halus serta tersembunyi dan pendek untuk memahaminya. Namun, semakin cahaya serta hal-hal bercahaya maju dalam bercahaya, semakin penuh serta tajam penembusannya kepada hal-hal halus dan tersembunyi. Semakin halus, semakin ia menyingkap dalamnya materi, seperti sinar rontgen. Jika perkara dalam segala yang mungkin ada demikian, hingga suatu tingkat dipahami betapa Nurul Anwar Yang Wajib serta Wâhid akan menjadi

ﻧَﺎﻓِﺬُ ﺍﻟْﺨَﻔَﺎﻳَﺎ ﻋَﺎﻟِﻢٌ بِالْاَسْرَارِ.

Maka, Keagungan⁠-⁠Nya menghendaki serta mengharuskan meliputi, menembus, dan mencakup dalam arti penuh.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Pemahaman orang awam yang membentuk mayoritas mutlak demikian diperhatikan oleh Al-Qur'an sehingga dalam perkara yang memuat beberapa tingkat serta beberapa segi, ia menyatakan segi paling akrab dan paling dekat kepada pemahaman awam, serta tingkat paling jelas dan paling nyata kepada pandangan mereka. Sebab, jika tidak demikian, dalil harus lebih tersembunyi daripada hasil.

Pembicaraan Al-Qur'an tentang kainat untuk membuktikan serta menjelaskan Sifat-Sifat Khâliq. Karena itu, semakin dekat kepada pemahaman umum, semakin layak dan sesuai bagi bimbingan. Misalnya, ia menyebutkan lapisan paling nyata serta paling jelas dari ayat-ayat yang menunjukkan Kuasa Khâliq melalui ayat

ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ.

Padahal, di belakang lapisan ini terdapat lapisan bentuk khas serta ciri pribadi wajah-wajah. Memahami lapisan pertama lebih dekat daripada memahami lapisan kedua.

Demikian pula, ia menyebutkan tingkat paling jelas melalui ayat

ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ.

Di belakang tingkat ini, terdapat pula tingkat digerakkan serta diputarnya bumi di sekeliling matahari melalui hukum Perintah dan Kehendak Ilahi. Namun, karena tingkat ini satu tingkat lebih tersembunyi daripada tingkat pertama, ia ditinggalkan.

Demikian pula, melalui kalimat

ﻭَ ﴾ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ﴿ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﻭْﺗَﺎﺩًﺍ,

ia memperlihatkan halaman paling terbaca. Padahal, di belakang halaman ini juga terdapat halaman, ‘Seperti kapal yang dijaga dari bahaya melalui tiang serta pasak, bumi pun dipasak dengan gunung-gunung untuk menjaganya dari bahaya pecah karena kekacauan yang terjadi di dalamnya.’ Namun, karena halaman ini tidak demikian terbaca bagi orang awam, ia ditinggalkan. Di bawah halaman ini pun terdapat catatan pinggir berikut:

Gunung-gunung dijadikan tiang bagi bumi untuk memberi makan serta menjamin hidup, sebab gunung merupakan gudang air, sisir udara yang membersihkannya, serta pelindung tanah yang menjaganya dari serbuan laut. Memang tiang-tiang hidup ialah unsur-unsur ini.

Berdasarkan rahasia ini, terbit serta terbenamnya hilal diperhatikan menurut syariat, sebab bagi orang awam ini lebih mudah daripada menghitung bulan serta hari. Berdasarkan rahasia itu pula, pengulangan terjadi dalam Al-Qur'an untuk meneguhkan serta menetapkan dalam benak awam.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Hakikat-hakikat yang dibicarakan ayat jauh lebih luas serta lebih luhur daripada khayal yang dibicarakan syair. Dari segi ini, ia tidak dianggap syair. Ayat-ayat pun berbicara tentang Syuunat serta Tindakan-Tindakan Pemiliknya. Syair berbicara secara tanpa perlu tentang yang lain. Pembicaraan ayat mengenai hal-hal biasa hingga suatu tingkat luar biasa. Pembicaraan syair tentang hal-hal luar biasa kebanyakan biasa.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana terdapat banyak jenis cermin yang memperlihatkan keesaan Khâliq dan halaman yang membuat dalil-dalilnya terbaca, pusatnya satu dan semuanya saling masuk. Karena itu, apabila terlihat dalam satu cermin atau terbaca pada satu halaman, terlihat serta terbaca pula dalam seluruhnya. Namun, tidak terlihat dalam yang satu tidak mengharuskan tidak terlihat dalam seluruhnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana tidak mungkin penulis suatu kata berbeda dari penulis hurufnya, penulis suatu halaman berbeda dari penulis barisnya, dan penulis kitab berbeda dari penulis halamannya, mustahil pula Khâliq semut berbeda dari Khâliq kelompok hewan, Yang Menciptakan hewan berbeda dari Yang Menciptakan bumi, dan Yang Menciptakan bumi berbeda dari Rabbul 'Âlamîn.

Di antara isyarat Rububiyah umum ialah bahwa dalam kitab kainat terdapat huruf-huruf demikian besar sehingga pada sebagian huruf itu tertulis satu kata, pada sebagian satu perkataan, dan pada sebagian satu kitab. Misalnya, laut, pohon, serta bumi pada kitab itu masing-masing seperti huruf. Pada huruf pertama tertulis kata ikan, pada yang kedua perkataan pohon, dan pada yang ketiga kitab hewan. Bahkan, sebagaimana seluruh Surah Yasin tertulis dalam rupa Yâsin, pada sebagian ciptaan, dalam namanya yang satu kata serta bijinya, tertulis surah dan kitab ciptaan tersebut.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana terdapat kemiripan di antara bintang-bintang serta matahari-matahari, hingga suatu tingkat terdapat pula kesamaan. Karena itu, salah satunya tidak dapat menjadi Rabb bagi yang lain. Yang menjadi Rabb bagi salah satunya menjadi Rabb bagi seluruhnya, serta bagi segala sesuatu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam satu individu manusia terdapat jamaah yang dibebani kewajiban. Ya, setiap anggota diciptakan untuk suatu hal. Ia wajib memakai anggota itu dalam hal tersebut. Misalnya, setiap daya memiliki ibadah. Memakainya untuk yang berlawanan ialah sesat. Misalnya, sujud yang dilakukan dengan kepala, jika bagi Allah سُبْحَانَهُ, merupakan ibadah; jika bagi yang lain, sesat. Demikian pula, sujud terpana serta cinta yang dilakukan penyair dalam khayal merupakan sesat. Khayal menjadi fasik melaluinya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu sebab yang melempar manusia secara pikiran menuju sesat ialah menganggap terbiasa sebagai ilmu. Yakni, hal-hal yang telah diakrabi dianggap mereka diketahui. Bahkan, karena terbiasa, mereka tidak merenungkan atau memberi arti penting kepada hal-hal biasa. Padahal, hal-hal biasa yang dianggap diketahui karena terbiasa merupakan keajaiban serta mukjizat Kudrat. Dengan dorongan terbiasa, mereka tidak merenungkan serta memperhatikannya untuk dapat menajamkan pandangan kepada tajalli-tajalli yang mengalir di atasnya.

Contoh mereka seperti seseorang yang berdiri di tepi laut tanpa memandang hewan-hewan di dalam laut serta keadaan-keadaan menakjubkan lainnya. Dengan hanya memperhatikan gelombang yang terjadi melalui angin serta kilau yang muncul dari sinar matahari, ia mengajukan dalil bagi Keagungan Allah سُبْحَانَهُ, Pemilik lautan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Pengetahuan manusia tentang bumi serta hal-hal jelas yang telah mereka terima berdasarkan terbiasa. Terbiasa merupakan tirai yang terbentang di atas kebodohan berlapis. Jika hakikat dipandang, ilmu yang mereka sangka ialah kebodohan. Berdasarkan rahasia ini, melalui ayat-ayatnya, Al-Qur'an mengarahkan pandangan manusia kepada hal-hal yang telah mereka akrabi. Ayat-ayat seperti bintang menembus serta membuang tirai terbiasa, memegang telinga manusia, dan membuat kepalanya menunduk. Ia memperlihatkan mukjizat-mukjizat luar biasa di bawah terbiasa itu dalam hal-hal biasa tersebut.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Adanya hubungan, urusan, bahkan percakapan di antara dua hal tidak mengharuskan keduanya serupa atau sama. Misalnya, setetes hujan atau satu bunga buah, bersama kecilnya, memiliki hubungan serta urusan dengan matahari.

Karena itu, wahai manusia! Hinamu tidak dapat menjadi sebab yang menutupmu dari Pandangan pertolongan Khallâq alam.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Seperti pasang serta surut yang terjadi dalam laut, di antara para wali pun bentangan waktu {(Catatan kaki): Waktu mi'raj beberapa menit yang melalui rahasia bentangan waktu seperti bertahun-tahun membuktikan wujud hakikat ini serta memperlihatkan terjadinya secara nyata. Durasi mi'raj beberapa jam memiliki keluasan, cakupan, serta panjang seperti ribuan tahun, sebab melalui mi'raj ia masuk ke alam kekal. Beberapa menit alam kekal memuat ribuan tahun dunia ini.

Berdasarkan hakikat ini pula, sebagian wali melakukan pekerjaan satu hari dalam satu menit, sebagian melakukan tugas satu tahun dalam satu jam, dan sebagian membaca satu khatam Al-Qur'an dalam satu menit. Dalam penulisan Risale-i Nur pun hakikat bentangan waktu ini telah berkali-kali terjadi.

Di antaranya: Surat Kesembilan Belas berjumlah seratus lima puluh halaman. Ditulisnya lebih dari tiga ratus mukjizat tanpa merujuk kitab, dari hafalan, pada sudut gunung serta kebun dalam empat hari, dengan bekerja tiga jam setiap hari, seluruhnya dua belas jam; ditulisnya Risalah Ramadan dalam empat puluh menit; dan ditulisnya Kalimat Kedua Puluh Delapan dalam dua puluh menit, telah membuktikan terjadinya bentangan waktu. Sebagaimana ayat

ﻗَﺎﻝَ ﻗَٓﺎﺋِﻞٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻛَﻢْ ﻟَﺒِﺜْﺘُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺒِﺜْﻨَﺎ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺍَﻭْ ﺑَﻌْﺾَ ﻳَﻮْﻡٍ

memperlihatkan pemendekan waktu, ayat

ﻭَﺍِﻥَّ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻚَ ﻛَﺎَﻟْﻒِ ﺳَﻨَﺔٍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻌُﺪُّﻭﻥَ

juga memperlihatkan bentangan waktu.} Perkara pemendekan tempat telah terkenal. Di antaranya, menurut riwayat Kitab Yevakit, Imam Sya'rani telah membaca kumpulan besar bernama Fütuhat-ı Mekkiye dua setengah kali dalam satu hari.

Jangan mengingkari peristiwa seperti ini karena menganggap aneh, sebab contoh-contoh yang mendekatkan kepada pembenaran perkara menakjubkan seperti ini amat banyak. Misalnya, dalam mimpi, engkau melihat satu tahun berlalu dan banyak pekerjaan dilakukan dalam satu jam. Jika dalam jam itu engkau membaca Al-Qur'an sebagai ganti pekerjaan-pekerjaan tersebut, engkau telah membaca beberapa khatam.

Keadaan ini berkembang bagi para wali dalam keadaan terjaga. Waktu membentang, dan perkara mendekati lingkaran ruh. Ruh memang tidak terikat waktu. Pekerjaan serta perbuatan para wali yang ruhnya mengungguli jasmaninya berlangsung menurut ukuran cepatnya ruh.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagian manusia menganggap hasil tauhid yang diperoleh melalui satu bukti amat besar, sehingga tidak dapat memasukkannya ke dalam benaknya yang sempit, atau khayalnya yang rusak tidak dapat menanggung. Menghadapi keadaan ini, untuk menolak bukti pasti serta benar itu, ia berkata, ‘Hasil dengan keagungan sedemikian besar ini, melalui bukti tersebut tidak dapat menghasilkan (hal itu),’ dan tidak menerima melalui alasan-alasan. Tidakkah orang miskin itu tahu bahwa penopang hasil ialah iman? Bukti hanya celah untuk melihatnya, atau seperti sapu yang menyapu bayangan-bayangan yang hinggap pada hasil tersebut. Selain itu, bukti bukan satu ataupun seribu; terdapat bukti-bukti sebanyak zarah alam.

Fesübhanallah! Betapa tipis tirai antara mulk serta malakut, dan betapa besar jarak di antara keduanya. Betapa pendek serta panjang jalan antara dunia dan akhirat. Betapa halus serta tebal tirai antara ilmu dan bodoh. Betapa bening serta padat perantara antara iman dan kufur. Betapa pendek jarak antara ibadah dan maksiat, padahal jarak di antaranya sebesar antara surga dan api. Betapa pendek hidup dan panjang harapan. Ya, di antara kini serta masa lampau terdapat tirai demikian tipis sehingga tidak mencegah ruh berpindah ke arah masa lampau, tetapi bagi tubuh merupakan jarak tanpa akhir.

Demikian pula, di antara mulk serta malakut, dunia serta akhirat, terdapat tirai tipis yang bening bagi ahli hati dan padat bagi ahli hawa nafsu. Demikian pula, di antara malam serta siang terdapat tirai halus. Sebagaimana dengan tertutupnya mata menjadi malam dan dengan terbukanya menjadi siang, jika mata nafsu kepada alam maknawi tertutup, ia tinggal dalam malam abadi; jika matanya terbuka kepada maknawi, siangnya berkembang.

Demikian pula, orang yang memandang kainat atas nama Allah سُبْحَانَهُ, apa pun yang disaksikannya merupakan ilmu. Jika memandang dengan lalai atas nama sebab-sebab, yang disangkanya ilmu pun menjadi bodoh.

Demikian pula, yang memandang dengan iman serta tauhid melihat alam bercahaya; jika tidak, ia akan melihat alam dalam gelap.

Demikian pula, perbuatan manusia memiliki dua segi. Jika dengan niat atas nama Allah سُبْحَانَهُ, ia menjadi tempat pantulan tajalli yang bening serta gemilang. Jika bukan atas nama Allah سُبْحَانَهُ, ia memperlihatkan pemandangan gelap.

Demikian pula, hidup memiliki dua wajah. Yang satu hitam serta memandang dunia. Yang lain bening dan memandang akhirat. Nafsu masuk ke bawah wajah hitam dan menghendaki kebahagiaan abadi yang mengikuti wajah bening.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kunci kainat berada dalam tangan manusia. Meskipun pintu-pintu alam terbuka, secara maknawi tertutup. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Memberi kepada tangan manusia kunci bernama ‘aku’, yang membuka seluruh pintu serta perbendaharaan tersembunyi itu. Namun, ‘aku’ pun teka-teki yang pintunya tertutup. Jika pintunya terbuka, pintu-pintu kainat pun terbuka.

Ya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Memberi manusia suatu keakuan serta suatu jenis kebebasan agar ia menjadikannya satuan pembanding dalam bayangan dan anggapan untuk mengetahui sifat-sifat yang berkaitan dengan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

‘Aku’, yang bernilai serta berukuran benang amat tipis dalam hakikat manusia, rambut berkesadaran dalam wujudnya, dan alif dalam kitab pribadi, memiliki dua wajah. Yang satu memandang kebaikan. Melalui wajah ini, ia hanya penerima limpahan, bukan pelaku. Wajah lainnya memandang keburukan. Melalui wajah ini, ia menganggap dirinya pelaku.

Hakikat ‘aku’ dalam bayangan, rububiyahnya dalam khayal. Wujudnya tidak dapat memikul sesuatu. Seperti termometer, ia hanya menjalankan tugas timbangan untuk mengetahui Sifat-Sifat Mutlak serta Meliputi yang berkaitan dengan Rububiyah Wâjibul Wujûd.

Jika manusia memandang keakuannya sebagai timbangan, ia membenarkan pengetahuan tentang dunia di luar diri yang mengalir dari kainat ke benaknya melalui pengetahuannya sendiri, serta Kuasa dan Sifat-Sifat Ilahi melalui sifatnya sendiri. Ia kembali mengembalikannya kepada rujukannya. Melalui ini, dengan masuk ke dalam cakupan yang pada

ﻗَﺪْ ﺍَﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺯَﻛّٰﻴﻬَﺎ

dinyatakan melalui ﻣَﻦْ, ia memenuhi amanah dengan semestinya.

Namun, jika dengan memandang dirinya berdiri sendiri ia meyakini dirinya pemilik, dengan masuk ke cakupan

ﻗَﺪْ ﺧَﺎﺏَ ﻣَﻦْ ﺩَﺳّٰﻴﻬَﺎ

ia mengkhianati amanah. Sebab, segi yang ditolak langit serta bumi karena takut memikul ialah segi ‘aku’ ini. Kesesatan, syirik, serta keburukan lahir dari segi ini.

Jika pada waktunya kepala ‘aku’ tersebut tidak dipatahkan melalui pendidikan keras, ia membesar serta menelan wujud manusia. Jika keakuan bangsa juga ditambahkan, ia keluar untuk bertempur menghadapi Perintah Sang Pembuat. Ia menjadi setan dalam arti penuh. Kemudian ia membandingkan makhluk kepada dirinya, memasukkan sebab-sebab pula ke perbandingan itu, dan jatuh dalam syirik besar. El-iyazü billah!

Suatu perkara penting:

‘Aku’ memiliki dua wajah. Kenabian telah mengambil satu wajah, dan filsafat mengambil satu wajah lainnya.

Wajah pertama merupakan sumber ubudiyah murni. Hakikatnya harfi, bukan berdiri sendiri. Wujudnya mengikuti, bukan asli. Hak miliknya dalam bayangan, bukan hakiki. Tugasnya untuk memahami Sifat-Sifat Khâliq ialah menjadi timbangan serta ukuran. Dengan memandang wajah keakuan ini, para nabi aleyhimüsselâm menyerahkan seluruh kerajaan kepada Allah سُبْحَانَهُ dan memutuskan bahwa tiada sekutu dalam kerajaan, Rububiyah, ataupun Keilahian⁠-⁠Nya. Dari wajah aku ini, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menumbuhkan pohon Tuba ubudiyah, yang cabang serta rantingnya memberi buah diberkahi seperti nabi, wali, serta shiddiqin dalam kebun kainat.

Filsafat yang mengambil wajah kedua menyangka wujud aku asli, dirinya berdiri sendiri, serta pemilik hakiki. Tugasnya hanyalah menyempurnakan hidup melalui cinta diri. Dari wajah hitam aku ini keluar berbagai jenis syirik serta kesesatan.

Di antaranya: Pada cabang daya hewani lahir berhala-berhala. Dari cabang daya amarah keluar Firaun serta Namrud. Dari daya akal keluar kaum yang menganggap masa sebagai satu-satunya dasar, kaum materialis, serta filsuf, yang memberikan satu makhluk kepada Wâjibul Wujûd dan membagi sisa kerajaan⁠-⁠Nya kepada yang lain.

Kesimpulannya:

Meskipun aku pada dirinya seperti udara serta uap, menurut arti penting yang diberikan ia menjadi cair. Kemudian ia menebal melalui terbiasa. Melalui lalai serta pembangkangan, ia menebal hingga menelan pemiliknya. Dengan membandingkan makhluk serta sebab-sebab kepada dirinya, ia mulai bertempur menghadapi Perintah-Perintah Khâliq. Aku dalam alam kecil, yakni manusia, menyerupai tabiat dalam manusia besar, yakni kainat. Keduanya termasuk tagut.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Hidup kebaikan serta amal baik melalui niat, dan rusaknya melalui ujub, riya, serta pamer. Dasar hal-hal dalam hati nurani yang langsung terasa secara fitri dengan kesadaran dalam hati nurani terputus melalui kesadaran serta niat kedua.

Sebagaimana hidup amal melalui niat, dari satu segi niat merupakan kematian keadaan-keadaan fitri. Misalnya, berniat rendah hati merusaknya; berniat sombong menghapusnya; berniat gembira menerbangkannya; berniat duka serta sedih meringankannya. Demikian seterusnya, bandingkanlah.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kainat merupakan pohon. Unsur-unsur cabangnya, tumbuhan daunnya, hewan bunganya, dan manusia buahnya. Dari buah-buah ini, yang paling terang, bercahaya, indah, murah hati, mulia, serta halus ialah Pemimpin para nabi dan rasul ﷺ, Imam orang bertakwa ﷺ, Kekasih ﷺ Rabbul 'Âlamîn, Hazret-i Muhammad ﷺ.

ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻣَﺎﺩَﺍﻣَﺖِ الْاَرْضُ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍِﻟٰﻬ۪ﻰ ٠ ﺍَﻟﺬُّﻧُﻮﺏُ ﺍَﺧْﺮَﺳَﺘْﻨ۪ﻲ ٠ ﻭَ ﻛَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﺻ۪ﻰ ﺍَﺧْﺠَﻠَﺘْﻨ۪ﻰ ٠ ﻭَ ﺷِﺪَّﺓُ ﺍﻟْﻐَﻔْﻠَﺔِ ﺍَﺧْﻔَﺘَﺖْ ﺻَﻮْﺗ۪ﻰ ٠ ﻓَﺎَﺩُﻕُّ ﺑَﺎﺏَ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻚَ ٠ ﻭَ ﺍُﻧَﺎﺩ۪ﻯ ﻓ۪ﻰ ﺑَﺎﺏِ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺗِﻚَ ﺑِﺼَﻮْﺕِ ﺳَﻴِّﺪ۪ﻯ ﻭَ ﺳَﻨَﺪِﻯ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻘَﺎﺩِﺭِ الْگَيْلَان۪ى ﻭَ ﻧِﺪَﺍﺋِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻘْﺒُﻮﻝِ ﺍﻟْﻤَﺎْﻧُﻮﺱِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﺒَﻮَّﺍﺏِ ٠ ﺑِﻴَﺎ ﻣَﻦْ ﻭَﺳِﻌَﺖْ ﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﻀُﺮُّﻩُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﻭَ لَا ﻳَﻨْﻔَﻌُﻪُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﻭَ لَايَغْلِبُهُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﻭَ لَا ﻳَﻌْﺰُﺏُ ﻋَﻨْﻪُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﻭَ لَا ﻳَﺆُﺩُﻩُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﻭَ لَا ﻳَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ لَا ﻳُﺸْﻐِﻠُﻪُ ﺷَﻰْﺀٌ ﻋَﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ لَا ﻳُﺸْﺒِﻬُﻪُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﻭَ لَا ﻳُﻌْﺠِﺰُﻩُ ﺷَﻰْﺀٌ ٠ ﺍِﻏْﻔِﺮْﻟ۪ﻰ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺣَﺘّٰﻰ لَا ﺗَﺴْﺌَﻠَﻨ۪ﻰ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺔِ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ الْاَوَّلُ ﻗَﺒْﻞَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ وَالْاٰخِرُ ﺑَﻌْﺪَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻓَﻮْﻕَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ ﺩُﻭﻥَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﺎﻫِﺮُ ﻓَﻮْﻕَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﺍِﻏْﻔِﺮْﻟ۪ﻰ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺍِﻧَّﻚَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻋَﻠ۪ﻴﻤًﺎ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﻣُﺤ۪ﻴﻄًﺎ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺑَﺼ۪ﻴﺮًﺍ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﺷَﻬ۪ﻴﺪًﺍ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺭَﻗ۪ﻴﺒًﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﻟَﻄ۪ﻴﻔًﺎ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﻭَ ﺧَﺒ۪ﻴﺮًﺍ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﺍِﻏْﻔِﺮْﻟ۪ﻰ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ ﻭَ ﺍﻟْﺨَﻄ۪ﻴﺌَﺎﺕِ ﺣَﺘّٰﻰ لَا ﺗَﺴْﺌَﻠَﻨ۪ﻰ ﻋَﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ ٠ ﺍِﻧَّﻚَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ٠ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻌِﺰَّﺓِ جَلَالِكَ ﻭَ بِجَلَالِ ﻋِﺰَّﺗِﻚَ ﻭَ ﺑِﻘُﺪْﺭَﺓِ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧِﻚَ ﻭَ ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥِ ﻗُﺪْﺭَﺗِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻄ۪ﻴﻌَﺔِ ﻭَ الْاَهْوَاءِ ﺍﻟﺮَّﺩِّﻳَّﺔِ ٠ ﻳَﺎ ﺟَﺎﺭَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﺠ۪ﻴﺮ۪ﻳﻦَ ﺍَﺟِﺮْﻧ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَﻃَﻬِّﺮْﻧ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﺎﺫُﻭﺭَﺍﺕِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِﻳَّﺔِ ﻭَ ﺻَﻔِّﻨ۪ﻰ ﺑِﺤُﺐِّ ﻧَﺒِﻴِّﻚَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ ﺑِﺎﻟْﻤُﺤَﺒَّﺔِ ﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻘِﻴَّﺔِ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﺍِ ﺍﻟْﻐَﻔْﻠَﺔِ ﺑِﻌِﺼْﻤَﺔِ ﻭَ ﺍَﻭْﻫَﺎﻡِ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞِ ﺣَﺘّٰﻰ ﺗَﻔْﻨَﻰ الْاَنَانِيَّةُ ﻭَ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﺍﻟْﻜُﻞُّ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻏَﺮْﻗًﺎ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻓ۪ﻰ ﺑَﺤْﺮِ ﻣِﻨَّﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻣَﻨْﺼُﻮﺭ۪ﻳﻦَ ﺑِﺴَﻴْﻒِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻣَﺤْﻈُﻮﻇ۪ﻴﻦَ ﺑِﻌِﻨَﺎﻳَﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻣَﺤْﻔُﻮﻇ۪ﻴﻦَ ﺑِﻌِﺼْﻤَﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﺷَﺎﻏِﻞٍ ﻳُﺸْﻐِﻞُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ٠ ﻓَﻴَﺎ ﻧُﻮﺭَ الْاَنْوَارِ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻋَﺎﻟِﻢَ الْاَسْرَارِ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣُﺪَﺑِّﺮَ ﺍﻟَّﻴْﻞِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ٠ ﻳَﺎ ﻣَﻠِﻚُ ٠ ﻳَﺎ ﻋَﺰ۪ﻳﺰُ ٠ ﻳَﺎ ﻗَﻬَّﺎﺭُ ٠ ﻳَﺎ ﺭَﺣ۪ﻴﻢُ ٠ ﻳَﺎ ﻭَﺩُﻭﺩُ ٠ ﻳَﺎ ﻏَﻔَّﺎﺭُ ٠ ﻳَﺎ عَلَّامَ ﺍﻟْﻐُﻴُﻮﺏِ ٠ ﻳَﺎ ﻣُﻘَﻠِّﺐَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﻭَ الْاَبْصَارِ ٠ ﻳَﺎ ﺳَﺘَّﺎﺭَ ﺍﻟْﻌُﻴُﻮﺏِ ٠ ﻳَﺎ ﻏَﻔَّﺎﺭَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ ٠ ﺍِﻏْﻔِﺮْﻟ۪ﻰ ﺫُﻧُﻮﺑ۪ﻰ ٠ ﻭَﺍﺭْﺣَﻢْ ﻣَﻦْ ﺿَﺎﻗَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الْاَسْبَابُ ﻭَ ﻏُﻠِّﻘَﺖْ ﺩُﻭﻧَﻪُ الْاَبْوَابُ ﻭَ ﺗَﻌَﺴَّﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺳُﻠُﻮﻙُ ﻃَﺮ۪ﻳﻖِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﺏِ ﻭَﺍﻧْﺼَﺮَﻣَﺖْ ﺍَﻳَّﺎﻣُﻪُ ﻭَ ﻧَﻔْﺴُﻪُ ﺭَﺍﺗِﻌَﺔٌ ﻓ۪ﻰ ﻣَﻴَﺎﺩ۪ﻳﻦِ ﺍﻟْﻐَﻔْﻠَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺩَﻧِﻰِّ الْاِكْتِسَابِ ٠ ﻓَﻴَﺎ ﻣَﻦْ ﺍِﺫَﺍ ﺩُﻋِﻰَ ﺍَﺟَﺎﺏَ ﻭَ ﻳَﺎ ﺳَﺮ۪ﻳﻊَ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏِ ٠ ﻭَ ﻳَﺎ ﻛَﺮ۪ﻳﻢُ ﻳَﺎ ﻭَﻫَّﺎﺏُ ﺍِﺭْﺣَﻢْ ﻣَﻦْ ﻋَﻈُﻢَ ﻣَﺮَﺿُﻪُ ﻭَ ﻋَﺰَّ ﺷِﻔَﺎﺋُﻪُ ﻭَ ﺿَﻌُﻔَﺖْ ﺣ۪ﻴﻠَﺘُﻪُ ﻭَ ﻗَﻮِﻯَ بَلَائُهُ ﻭَ ﺍَﻧْﺖَ ﻣَﻠْﺠَﺌُﻪُ ﻭَ ﺭَﺟَﺎﺋُﻪُ ٠ ﺍِﻟٰﻬ۪ﻰ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺍَﺭْﻓَﻊُ ﺑَﺜّ۪ﻰ ﻭَ ﺣُﺰْﻧ۪ﻰ ﻭَ ﺷِﻜَﺎﻳَﺘ۪ﻰ ٠ ﺍِﻟٰﻬ۪ﻰ ﺣُﺠَّﺘ۪ﻰ ﺣَﺎﺟَﺘ۪ﻰ ﻭَ ﻋُﺪَّﺗ۪ﻰ ﻓَﺎﻗَﺘ۪ﻰ ﻭَ ﺍﻧْﻘِﻄَﺎﻉُ ﺣ۪ﻴﻠَﺘ۪ﻰ ٠ ﺍِﻟٰﻬ۪ﻰ ﻗَﻄْﺮَﺓٌ ﻣِﻦْ ﺑِﺤَﺎﺭِ ﺟُﻮﺩِﻙَ ﺗُﻐْﻨ۪ﻴﻨ۪ﻰ ﻭَ ﺫَﺭَّﺓٌ ﻣِﻦْ ﺗَﻴَّﺎﺭِ ﻋَﻔْﻮِﻙَ ﺗَﻜْﻔ۪ﻴﻨ۪ﻰ ﻳَﺎ ﻭَﺩُﻭﺩُ ﻳَﺎ ﻭَﺩُﻭﺩُ ﻳَﺎ ﻭَﺩُﻭﺩُ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻤَﺠ۪ﻴﺪُ ﻳَﺎ ﻣُﺒْﺪِﺉُ ﻳَﺎ ﻣُﻌ۪ﻴﺪُ ﻳَﺎ فَعَّالًا ﻟِﻤَﺎ ﻳُﺮ۪ﻳﺪُ ﺍَﺳْﺌَﻠُﻚَ ﺑِﻨُﻮﺭِ ﻭَﺟْﻬِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ مَلَاَ ﺍَﺭْﻛَﺎﻥَ ﻋَﺮْﺷِﻚَ ﻭَ ﺑِﻘُﺪْﺭَﺗِﻚَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﻗَﺪَﺭْﺕَ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﻭَ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﻭَﺳِﻌَﺖْ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ ﻳَﺎ ﻣُﻐ۪ﻴﺚُ ﺍَﻏِﺜْﻨ۪ﻰ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْ ﺟَﻤ۪ﻴﻊَ ﺫُﻧُﻮﺑ۪ﻰ ﻭَ ﺳَﻘَﻄَﺎﺕِ ﻟِﺴَﺎﻧ۪ﻰ ﻓ۪ﻰ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﻋُﻤْﺮ۪ﻯ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓ۪ﻴﻖِ لِاَقْوَمِ ﺍﻟﻄَّﺮ۪ﻳﻖِ