Risalah Nur — Bahasa Indonesia

ZERRE (ZARAH)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

ZERRE (ZARAH)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jalan-jalan serta pintu-pintu yang menghadap dan sampai kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq membentuk jumlah menurut lapisan, halaman, serta susunan alam. Ketika jalan biasa tertutup, membayangkan bahwa seluruh jalan telah tertutup merupakan saksi terbesar kebodohan. Contoh orang ini seperti seseorang yang dalam kota besar yang memuat markas militer amat besar, karena tidak melihat bendera markas, mulai mengingkari atau menakwil sultan serta seluruh hal yang berkaitan dengan militer.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana batin segala sesuatu lebih luhur, sempurna, halus, indah, serta berhias daripada lahirnya, ia juga lebih kuat dalam hidup serta lebih penuh dalam kesadaran. Hidup, kesadaran, sempurna, serta lainnya yang terlihat pada lahir hanyalah rembesan lemah yang tersaring dari batin ke lahir. Tiada kemungkinan menuju sangka bahwa batin tak bernyawa serta mati tetapi telah memberi ilmu dan hidup ke luar.

Ya, perutmu, yakni lambungmu, lebih tinggi serta lebih menakjubkan daripada rumahmu dalam ukiran dan keteraturan; kulitmu daripada bajumu; dan daya ingatmu daripada kitabmu. Karena itu, alam malakut lebih luhur serta lebih tinggi daripada alam yang terlihat; alam gaib daripada dunia serta akhirat. Sayangnya, karena nafsu ammarah memandang melalui hawa nafsu, ia melihat bahwa lahir, seperti tirai hidup serta akrab, dibentangkan di atas batin yang dianggapnya mati, gelap, dan menakutkan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Wajahmu, bersama amat kecilnya, memuat tanda serta penanda sebanyak seluruh manusia masa lampau dan masa depan, yang membedakan serta memperkenalkannya dari mereka. Seluruh manusia juga sama dalam dasar serta unsur utama yang membentuk wajah. Pada seluruh manusia terdapat dua segi, yang satu kesesuaian dan yang lain perbedaan. Segi berbeda menunjukkan bahwa Sang Pembuat Memilih, sedangkan segi kesesuaian menunjukkan bahwa Sang Pembuat Wâhid lagi Ahad. Membayangkan bahwa kedua segi ini tidak melalui Maksud Yang Memaksudkan, Pilihan Yang Memilih, Kehendak Murîd, serta Ilmu 'Alîm merupakan hal paling menakjubkan di antara hal-hal mustahil.

Fesübhanallah! Bagaimana tanda-tanda tak berujung ditempatkan pada halaman kecil wajah itu, yang dibaca dengan mata tetapi tidak terlihat melalui pandangan, yakni akal.

Bersama perbedaan ini dalam jenis manusia, jelas seperti matahari bahwa kesesuaian pada jenis gandum, anggur, lebah, serta semut bukan pekerjaan kebetulan buta. Karena bahkan dalam keadaan serta cara kemajemukan yang jauh, halus, dan luas seperti ini, tidak mungkin kebetulan mencampuri; semuanya terjaga dari tangan kebetulan dan hanya berada dalam lingkaran Kuasa Maksud Hakîm, Pilihan Yang Memilih, serta Kehendak Murîd Yang Samî' dan Basîr.

Putusan yang diberikan Risale-i Nur bagi penyangkalan serta pengusiran jaringan perusak yang terbentuk dari ‘kebetulan, syirik, dan tabiat’ dari alam Islam telah dilaksanakan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu waswas yang ditanamkan setan ialah:

‘Jika domba atau sapi ini merupakan ukiran serta milik Qadîr dan 'Alîm Yang Azali, keduanya tidak akan demikian miskin serta malang. Jika dalam batin serta dalamnya pena Sang Pembuat Yang 'Alîm, Qadîr, serta Murîd bekerja, keduanya tidak akan demikian bodoh, yatim, serta miskin.’ Wahai setan manusia yang mengatakan ini dan menjadi guru bagi setan-setan jin!

Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Memberi kepada segala sesuatu yang layak baginya dan Memberi menurut manfaat. Jika Pemberian serta Karunia⁠-⁠Nya di luar kaidah ini, telinga keledaimu harus lebih berakal serta lebih berilmu daripada dirimu dan guru-gurumu. Dia pun akan Menciptakan dalam jarimu kesadaran serta kemampuan lebih banyak daripada kesadaran dan kemampuanmu.

Maka, segala sesuatu memiliki batas dan terikat dengan batas itu. Takdir telah memberi segala sesuatu suatu ukuran serta cetakan menurut ukuran tersebut. Kemampuannya menerima limpahan dari Fayyadh Yang Mutlak (Pemberi Limpahan Mutlak) menurut cetakan itu.

Diketahui bahwa limpahan dapat diterima melalui ukuran pilihan bebas yang terbatas yang tersaring dari dalam ke luar, tingkat kebutuhan, izin kemampuan, serta aturan dan saling berhadapan dalam kuasa Asma. Selain itu, mencari keagungan matahari dalam gelembung bukan pekerjaan orang berakal.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Manusia merupakan ciptaan yang dibuat dengan Hikmah. Melalui petunjuknya yang jelas bahwa Sang Pembuat amat Hakîm, seolah-olah ia merupakan Hikmah yang Mengukir dalam bentuk jasad, Ilmu Yang Memilih yang mengambil tubuh, serta Kudrat Yang Melihat yang memadat. Ia juga merupakan hasil Tindakan Yang Memberinya apa yang dikehendaki bakatnya; bentuk padat dari pemberian nikmat serta karunia Yang Mengetahui seluruh kebutuhannya; dan rupa yang digambar takdir yang mengetahui hal-hal perlu serta sesuai bagi tubuhnya.

Dengan pengetahuan ini, bagaimana ia berpura-pura lalai dari Mâliknya Yang Memiliki segala sesuatu, dan bagaimana ia dapat membayangkan tiadanya Raqîb (Yang Mengawasi) di atasnya Yang Samî', Basîr, 'Alîm, serta Mujîb, Yang Mengetahui seluruh kejahatannya, Memenuhi kebutuhannya, serta Mendengar ratapannya?

Wahai nafsu ammarah! Mengapa engkau membayangkan dirimu di luar? Jika keluar dari lingkaran patuh kepada perintah, engkau terpaksa memperhatikan serta menghormati setiap orang seolah-olah mencium kakinya, atau dengan tidak memberi arti penting menjadi ‘zalim terhadap semua’. Beban ini berat; engkau tidak akan dapat memikulnya. Yang terbaik, tinggalkan syirik asing dan masuklah ke lingkaran kerajaan Allah سُبْحَانَهُ agar engkau tenteram. Jika tidak, engkau seperti orang bodoh yang naik kapal tetapi memikul bebannya di punggung.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tiada jauh atau aneh bagi Khâliq Yang Menciptakan satu manusia untuk Menciptakan alam bersama seluruh isinya. Sebab, sebagaimana penciptaan manusia berupa penciptaan hal-hal di dalamnya, penciptaan alam pun berupa penciptaan isinya. Manusia pun merupakan contoh serta daftar isi kecil bagi alam, sebab mustahil Khâliq melon berbeda dari Khâliq bijinya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dayamu pendek, terus adamu sedikit, hidupmu terbatas, hari-hari usiamu terhitung, dan segala milikmu fana. Maka, jangan kerahkan usia pendek serta fanamu ini kepada hal-hal fana agar ia tidak fana. Kerahkan kepada hal-hal kekal agar tetap kekal.

Ya, manfaat yang akan engkau lihat di dunia dari usia yang engkau jalani hanya seratus tahun. Anggaplah usia seratus tahun ini seratus biji kurma. Jika disirami serta dijaga, biji-biji itu menjadi seratus pohon yang akan berbuah selama Allah سُبْحَانَهُ Menghendaki. Jika sebaliknya, tidak menghasilkan manfaat selain dilempar ke api dan dibakar. Demikian pula, jika usia seratus tahunmu disirami air syariat serta dikerahkan kepada akhirat, engkau akan mengambil manfaat dari buah-buahnya hingga abadi dalam alam kekal.

Karena itu, jika seseorang tertipu dengan meninggalkan seratus pohon kurma berbuah dan merasa cukup dengan seratus bijinya, ia layak menjadi kayu bakar bagi Hutamah, yakni neraka.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu sumber serta gudang bayangan, syubhat, dan kesesatan ialah bahwa nafsu menganggap dirinya di luar lingkaran tajalli takdir serta Sifat-Sifat Ilahi. Kemudian ia menganggap dirinya pada tempat salah satu yang menjadi tempat tampak tajalli dan lenyap di dalamnya. Setelah itu, ia mulai mengeluarkan sesuatu itu juga dari kerajaan serta Kuasa Allah سُبْحَانَهُ melalui beberapa takwil, memasukkannya ke dalam syirik tersembunyi yang telah dimasukinya sendiri, dan memantulkan kepada yang tak berdosa itu beberapa keadaan yang diperolehnya dari syirik tersembunyi.

Kesimpulannya:

Nafsu ammarah, seperti burung unta, menganggap sesuatu yang melawannya sebagai yang menguntungkannya. Atau ia seperti pihak-pihak yang berdebat melalui cara sofis, yang wakil-wakilnya saling menolak. Dari golongan

ﺗَﻌَﺎﺭَﺿَﺎ ﺗَﺴَﺎﻗَﻄَﺎ,

ia memutuskan, ‘Tiada satu pun yang haq.’

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Nafsu lalai menyangka akhirat tempat tinggal yang bersebelahan serta terikat dengan dunia. Dari segi ini, dalam tangan nafsu terdapat dua senjata. Untuk selamat dari sakit sirna serta musnahnya dunia, ia berharap dengan memikirkan akhirat. Mengenai beban amal yang diperlukan bagi akhirat, melalui lalai atau berpura-pura lalai ia menyelamatkan dirinya dari itu pula.

Ia tidak memikirkan bahwa orang yang telah mati tidak hidup. Ia hanya menyangka bahwa meskipun tidak terlihat seperti yang pergi dalam perjalanan, mereka hidup. Ia tidak memberi arti penting demikian besar kepada mati.

Untuk mengabadikan sebagian pekerjaan dunia, ia juga memiliki tipu daya berikut. Ia menghibur diri dengan berkata, ‘Sekalipun permohonanku tidak memiliki buah di dunia, dasarnya tersambung dengan akhirat serta memiliki manfaat di akhirat.’

Misalnya, seperti ilmu, dengan berkata, ‘Sekalipun tidak bermanfaat di dunia, ia memiliki manfaat di akhirat,’ ia memperlihatkan segi baik dan membuat segi buruk ditelan di bawahnya.

Kesimpulannya:

Nafsu seperti burung unta. Setan sofis, dan hawa nafsu Bektashi.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Mengenai penciptaan segala sesuatu, apabila ‘pernyataan mengiyakan secara menyeluruh’ tidak benar, ‘pernyataan menyangkal secara menyeluruh’ benar. Yakni, Allah سُبْحَانَهُ adalah Khâliq seluruh sesuatu atau Allah سُبْحَانَهُ bukan Khâliq sesuatu pun. Sebab, bersama saling menopang yang teratur di antara segala sesuatu, mencipta merupakan keseluruhan yang tidak menerima pemecahan; tiada sebagian. Ia akan menjadi pernyataan mengiyakan secara menyeluruh atau menyangkal secara menyeluruh. Tiada kemungkinan lain. Tiada nilai pada putusan lemah bayangan yang membayangkan tiadanya sebab pada segala sesuatu. Karena itu, ketika karya mencipta terlihat pada sesuatu paling kecil, ia nyata pada seluruh sesuatu.

Demikian pula, Khâliq satu atau tak berujung; tiada pertengahan. Sebab, jika Sang Pembuat bukan Satu Hakiki, Dia akan menjadi banyak hakiki; banyak hakiki tak berujung.

Selain itu, mustahil yang menyebarkan cahaya tanpa cahaya, yang menciptakan tanpa wujud, serta yang membuat wajib tanpa wajib.

Demikian pula, mustahil menganggap Yang Mengaruniakan sifat ilmu tanpa Ilmu, Yang Mengaruniakan kesadaran tanpa Kesadaran, Yang Memberi pilihan tanpa Pilihan, Yang Memberi kehendak tanpa Kehendak, serta Sang Pembuat hal-hal sempurna tidak Sempurna.

Demikian pula, memikirkan bahwa Yang Menggambar mata, Membentuk penglihatan, serta Menerangi pandangan tidak memiliki Penglihatan hanyalah pekerjaan orang yang kehilangan mata serta pandangan batin.

Selain itu, seluruh kesempurnaan pada ciptaan merupakan limpahan yang mengalir dari Kesempurnaan Sang Pembuat. Namun, mikroba yang di antara burung hanya melihat serta mengenal lalat berkata ketika melihat elang, ‘Ini bukan burung,’ sebab hal-hal pada lalat tidak terdapat di dalamnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Permohonan tertinggi jiwa yang berbicara ialah terus ada serta kekal. Bahkan, jika tidak menipu dirinya dengan terus ada dalam bayangan, ia tidak dapat memperoleh lezat. Maka, wahai nafsu yang menghendaki terus ada! Teruslah berzikir kepada Zat Yang Tetap agar engkau terus ada. Ambillah cahaya dari⁠-⁠Nya agar tidak padam. Jadilah cangkang serta wadah bagi permata⁠-⁠Nya agar berharga. Jadilah tubuh bagi sepoi zikir⁠-⁠Nya agar hidup. Peganglah benang sinar salah satu Asma Ilahi agar tidak jatuh ke lautan tidak ada.

Wahai nafsu! Bersandarlah kepada Zat Qayyûm Yang Memegang serta Menjagamu dari jatuh. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan bagian wujudmu berada dalam Tanggung⁠-⁠Nya. Hanya satu bagian tinggal dalam tanganmu. Yang terbaik, lemparkan bagian itu juga ke dalam khazanah⁠-⁠Nya agar engkau tenteram.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Engkau tidak berdaya membuat wujudmu sendiri dan tanganmu pendek untuk menciptakannya. Orang lain pun lemah serta pendek dalam pekerjaan itu. Jika ingin, cobalah. Buatlah lidah yang disebut pohon kata-kata, atau mulut sebagai pusat komunikasi serta rasa. Tentu engkau tidak dapat membuatnya. Maka, jangan mempersekutukan Allah سُبْحَانَهُ!

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٌ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Alam yang terlihat ini merupakan toko serta gudang Ilahi. Di dalamnya terdapat berbagai jenis kain tenunan, makanan, serta minuman. Sebagian padat, sebagian halus; sebagian sirna, sebagian tetap; sebagian inti keras, sebagian cair, dan demikian seterusnya, segala jenis terdapat. Namun, sebagian merupakan tenunan penciptaan dan sebagian ukiran bagi tajalli-tajalli. Menurut sesatnya sebagian filsuf, mereka berkata, ‘Penciptaan serta ukiran satu, dan Pemilik toko itu pun Bertindak dengan keharusan pada Zat⁠-⁠Nya sendiri,’ lalu jatuh dalam sesat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika syirik tersembunyi yang berasal dari keakuan mengeras, ia berubah menjadi syirik sebab-sebab. Jika berlanjut, ia berubah menjadi kufur. Jika ini pun berlanjut, ia berakhir pada penolakan Khâliq, yakni tiadanya Khâliq. El-iyazü billah!

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Maksud penciptaan manusia ialah menyingkap serta memperlihatkan khazanah Ilahi tersembunyi, dan menjadi bukti, dalil, serta tempat pantulan bercahaya bagi Qadîr Yang Azali, lalu menjadi cermin bening bagi tajalli Keindahan Azali. Dalam hakikatnya, karena manusia memikul amanah yang langit, bumi, serta gunung tak berdaya memikulnya, ia mengambil bentuk dipoles serta berkilau. Sebab, salah satu isi amanah itu ialah manusia menjalankan tugas sebagai satuan pembanding untuk memahami Sifat-Sifat Ilahi.

Meskipun maksud penciptaan manusia ialah hal-hal seperti ini, kebanyakan menjadi tirai serta penghalang. Meskipun tugasnya membuka, ia menutup serta mengikat. Meskipun menyebarkan sinar serta cahaya, ia memadamkan. Sebagai ganti mentauhidkan Allah سُبْحَانَهُ, ia mempersekutukan. Demikian pula, memandang Allah سُبْحَانَهُ dengan cahaya iman dan menyerahkan kerajaan kepada⁠-⁠Nya merupakan kewajibannya dalam keyakinan, tetapi ia memandang makhluk melalui teropong ‘ene’, lalu membagi kerajaan Allah سُبْحَانَهُ kepada mereka. Dalam hakikatnya,

ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻟَﻈَﻠُﻮﻡٌ ﺟَﻬُﻮﻝٌ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Wahai nafsu! Jika melalui takwa serta amal saleh telah membuat Khâliqmu Rida, tidak perlu memperoleh rida manusia; itu cukup. Jika manusia pun memperlihatkan rida serta cinta atas nama Allah سُبْحَانَهُ, itu baik. Jika atas nama dunia, tiada nilainya, sebab mereka pun hamba-hamba lemah sepertimu.

Selain itu, sebagaimana dalam mengikuti pilihan kedua terdapat syirik tersembunyi, memperolehnya pun tidak mungkin. Ya, orang yang menghadap sultan demi suatu manfaat, jika telah membuat sultan rida, pekerjaan itu dilakukan. Jika belum, melalui perantaraan manusia terdapat banyak kesukaran. Bagaimanapun, izin sultan tetap diperlukan, dan izinnya bergantung pada ridanya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana Wâjibul Wujûd tidak menyerupai yang mungkin ada dalam Zat serta Hakikat⁠-⁠Nya, Dia juga tidak menyerupainya dalam Tindakan-Tindakan⁠-⁠Nya. Sebab, bagi Kudrat Wâjibul Wujûd, tiada perbedaan antara dekat serta jauh, sedikit serta banyak, kecil serta besar, individu serta jenis, bagian serta keseluruhan. Dalam Tindakan⁠-⁠Nya pun tiada hubungan langsung. Namun, daya yang mungkin ada tidak pada tingkat ini. Karena itu, nafsu tidak dapat menyerupakan Tindakan-Tindakan Wâjibul Wujûd dengan tindakannya sendiri. Akal terpana dalam memahami hakikatnya dan menyangka tindakan tanpa Pelaku.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika gigi serta cakar hewan seperti singa dipandang, dipahami bahwa semuanya diciptakan untuk memangsa dan mencabik. Jika, misalnya, halusnya melon diperhatikan, terasa bahwa ia diciptakan untuk dimakan. Demikian pula, jika bakat manusia dipandang, dipahami bahwa tugas fitrinya ubudiyah. Jika kemuliaan ruhnya serta tingkat rindunya kepada abadi juga diperhatikan, dipahami bahwa pertama-tama manusia diciptakan sebagai ruh dalam alam lebih halus daripada alam ini, lalu dikirim sementara ke alam ini untuk memperoleh perlengkapan.

Demikian pula, karena manusia buah penciptaan, dipahami bahwa dari manusia terdapat biji yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menumbuhkan pohon penciptaan darinya. Biji itu hanyalah Hazret-i Muhammad ﷺ, makhluk paling utama serta pemimpin segenap makhluk, menurut kesepakatan seluruh ahli kesempurnaan, bahkan separuh umat manusia.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Apakah layak bagi Keilahian Allah سُبْحَانَهُ, Pengatur serta Khâliq langit dan bumi, Yang Membungkus kepala bola bumi dengan serban berukir hitam serta putih, untuk Menitipkan serta Menyerahkan sebagian tahap alam kepada sesuatu miskin yang mungkin ada? Adakah dalam lingkaran kemungkinan siapa pun selain Pemilik Arasy yang sendiri mengelola hal-hal di bawah Arasy? Kellâ. Sebab, Kudrat itu tidak pendek serta terbatas, melainkan Meliputi, sehingga tiada tempat terbuka ataupun lubang tersisa bagi yang lain untuk mencampuri.

Selain itu, Kemuliaan Kuasa Penundukan serta berdiri sendiri dan Cinta untuk membuat Diri⁠-⁠Nya dicintai serta dikenal tidak Mengizinkan yang lain menjadi perantara dengan makna ismi di tengah-tengah, yang menarik pandangan hamba-hamba Allah سُبْحَانَهُ kepada dirinya.

Selain itu, karena pengelolaan yang dilakukan pada keseluruhan serta bagian, jenis serta individu, saling masuk dan saling menopang, pengelolaan-pengelolaan itu tidak mungkin diberikan kepada pelaku-pelaku terpisah. Misalnya, pengaturan bumi termasuk dalam aturan, keteraturan, serta pengelolaan alam. Pengaturan manusia pun termasuk dalam pengaturan bumi. Pada saat yang sama, ketika pengelolaan ini dilakukan, urusan jenis-jenis lain juga diperhatikan. Sel-sel tubuh serta zarah pun diciptakan. Demikian seterusnya, seluruh pengelolaan pada semua tahap dilakukan dengan Kudrat yang sama. Sebagaimana tiada sesuatu pun, hingga tetes serta gelembung, tersisih dari cahaya matahari, seluruh sesuatu menjadi terang melalui cahaya itu.

Demikian pula, seluruh pengelolaan milik Kudrat Azali. Tiada sesuatu lain mencampuri. Dari bola hingga zarah, tiada yang berada di luar pengelolaan Kudrat tersebut.

Kesimpulannya:

Zat Yang Mengatur otak lebah serta mata mikroba tidak Membiarkan perbuatan dan amalmu diabaikan, tanpa aturan, perhitungan, atau catatan. Dia Menulisnya dalam ‘Imâm Mubîn’. Menurut itu akan terdapat perhitunganmu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dengan petunjuk serta kesaksian Kuasa Mutlak, Kudrat Meliputi, dan Hikmah Yang Melihat, yang terlihat pada setiap ciptaan serta setiap zarah, terbukti bahwa Sang Pembuat seluruh sesuatu Wâhid, tidak memiliki sekutu. Tiada pembagian dalam Kudrat⁠-⁠Nya ataupun pemecahan dalam kemampuan serta Pilihan⁠-⁠Nya. Karena itu, Sang Pembuat hanya Wâjibul Wujûd, Yang tiada batas akhir bagi Kudrat⁠-⁠Nya yang berjalan dengan timbangan takdir.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Meskipun hewan-hewan kecil seperti lalat, laba-laba, serta kutu lebih cerdas, lebih indah dalam penciptaan, serta lebih lengkap dalam seni daripada hewan-hewan besar seperti gajah, kerbau, dan unta, usia yang kecil pendek dan usia yang besar panjang; secara lahiriah yang kecil tidak bermanfaat, sedangkan yang besar bermanfaat. Keadaan ini merupakan bukti gemilang bahwa Sang Pembuat tidak memiliki beban dalam penciptaan segala sesuatu dan bahwa terwujudnya setiap sesuatu hanya melalui Perintah ‘Kün’.

ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ٭ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz!

ﻭَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَٓﺍﺋِﻬِﻢْ ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ

Ya, Allah سُبْحَانَهُ Meliputi melalui Ilmu, Kehendak, Kudrat, serta Sifat-Sifat⁠-⁠Nya yang lain. Tiada sesuatu di luar lingkaran cakupan⁠-⁠Nya. Namun, manusia dengan benak terbatas serta pendek, ketika memandang Keagungan Allah سُبْحَانَهُ dan bahwa Dia Memutarkan planet-planet di sekeliling matahari, menganggap jauh, misalnya, bahwa Dia Memperhatikan hewan kecil seperti lebah. Sebab, ia membandingkan Wâjibul Wujûd kepada yang mungkin ada. Padahal, menurut perbandingan ini, terjadi zalim besar kepada hewan-hewan kecil. Sebab, menurut pernyataan

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪,

dengan bertasbih kepada Khâliqnya, mereka pun tidak mengenal siapa pun sebagai Rabb selain Allah سُبْحَانَهُ. Karena itu, yang besar tidak berhak sombong kepada yang kecil.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tiada pertentangan antara pemberian nikmat umum dan perhatian pribadi. Misalnya, di bawah undangan umum kepada suatu perjamuan, pribadi-pribadi pun telah diundang. Yakni, tidak dapat dikatakan bahwa karena perjamuan ini umum, undangan tetap umum dan pribadi-pribadi tidak diperhatikan. Karena itu, nikmat-nikmat Allah سُبْحَانَهُ bukan umum seperti harta wakaf atau air sungai sehingga pribadi-pribadi tidak dimaksudkan dalam pemberian⁠-⁠Nya. Dalam umum itu, yang khusus pun dimaksudkan. Maka, menuju sangka bahwa pribadi-pribadi tidak wajib bersyukur atas nikmat karena tidak dimaksudkan dalam pemberian umum itu adalah keliru.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika hari ini meninggalkan hidup sia-sia dunia dengan kemuliaan serta kehormatan sempurna, padahal esok dunia akan meninggalkanmu dengan membuatmu terkena hina dan aib, engkau menjadi amat mulia serta luhur. Sebab, jika engkau meninggalkannya sebelum ia meninggalkanmu, engkau mengambil kebaikannya dan selamat dari keburukannya. Namun, jika keadaan terbalik, perkara pun terbalik.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Peradaban yang tercemar lumpur fasik juga mencemarkan manusia dengan lumpur itu. Di antaranya, ia telah mencemarkan riya dengan kemuliaan serta kehormatan dan mengarahkan manusia kepada akhlak kotor itu. Manusia begitu terbiasa dengan riya tersebut sehingga, sebagaimana melakukannya kepada pribadi-pribadi, mereka melakukannya pula kepada bangsa, bahkan unsur-unsur etnis. Mereka telah menjadikan surat kabar penyeru riya itu dan sejarah pemberi tepuk tangan. Karena ini, hidup pribadi dikorbankan kepada hidup etnis di bawah sebutan ‘semangat jahiliah’.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu dalil yang membuktikan kenabian Ahmad ﷺ ialah tauhid. Ya, yang menancapkan bendera tauhid bersama tingkat-tingkatnya di atas puncak tertinggi kainat, menyerukan tauhid bersama kedudukan-kedudukannya kepada pandangan alam, serta menjelaskan secara rinci dan menerangkan hakikat-hakikat yang dibiarkan ringkas oleh para nabi hanyalah Hazret-i Muhammad ﷺ. Karena itu, menurut tingkat hakikat serta daya tauhid, kenabian Ahmad ﷺ haq dan hakikat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Bagi hiasan, kesempurnaan, serta pemandangan indah yang diperlihatkan dalam pameran Ilahi yang didirikan pada permukaan alam ini, dan bagi kemegahan Rububiyah serta Keagungan Keilahian, diperlukan penyaksi, orang yang berjalan-jalan, orang yang terpana, serta orang yang bertafakur, agar melihat keindahan-keindahan itu, berjalan di antara pemandangan tersebut, dan kagum melalui tafakur kepada ukiran serta hiasan luar biasa itu. Kemudian, dengan berpindah dari pameran kepada Jalal Sang Pembuatnya serta Daya dan Kesempurnaan Mâliknya, ia bersujud dengan terpana kepada Keagungan⁠-⁠Nya.

Manusialah yang akan memenuhi tugas ini. Sebab, meskipun manusia bodoh serta gelap, ia memiliki bakat yang layak menjadi contoh serta teladan bagi alam. Dalam manusia juga dititipkan amanah yang melaluinya ia menemukan dan membuka perbendaharaan tersembunyi. Daya-daya manusia pun dibiarkan mutlak tanpa dibatasi. Berdasarkan ini, ia memperoleh suatu jenis kesadaran menyeluruh yang memahami gemilang Keagungan serta Kemegahan Sultan Azali.

Ya, sebagaimana indahnya yang dicintai mengharuskan pandangan pencinta, Rububiyah Pengukir Azali pun menghendaki pandangan manusia, agar dengan terpana serta tafakur ia menghargai dan mengagumi.

Ya, bagaimana Zat Yang Memperindah wajah mawar serta bunga tidak Menciptakan pencinta yang mengagumi wajah indah tersebut dari lebah serta bulbul? Yang Menciptakan indah pada wajah indah orang-orang yang indah tentu juga Menciptakan perindu keindahan itu.

Demikian pula, Mâlik al-Mulk Yang Menghias alam ini dengan begitu banyak hiasan serta ukiran tentu dan pasti, bagi keajaiban, karya istimewa, serta mukjizat pemandangan serta hiasan itu, tidak akan Membiarkannya kosong dari penonton, penyaksi, pencinta, perindu, serta penyeru yang mengenal.

Melalui cakupannya yang luas, manusia sempurna, sebagaimana menjadi sebab tujuan bagi penciptaan langit, juga telah menjadi buah serta hasil penciptaan kainat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana kesesuaian di antara segala sesuatu menunjukkan bahwa Sang Pembuat Wâhid serta Ahad, perbedaan teratur yang terdapat di antara mereka juga bersaksi bahwa Sang Pembuat Memilih serta Hakîm. Misalnya, kesesuaian dalam anggota-anggota pokok hewan, terutama manusia, dan khususnya kemiripan dalam anggota berpasangan, merupakan bukti keesaan Khâliq. Demikian pula, perbedaan dalam cara serta bentuk menunjukkan Pilihan dan Hikmah Khâliq.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Makhluk paling zalim ialah manusia. Karena besarnya cinta kepada nafsunya sendiri, manusia mencintai serta memberi nilai kepada hal-hal yang melayani dan bermanfaat baginya. Ia menjadi hamba serta budak kepada sesuatu yang buahnya memberinya manfaat. Jika sebaliknya, ia tidak mencintai ataupun memberi nilai. Ia juga menganggap sebab tujuan penciptaan hidup hanya hidup itu sendiri. Ia tidak mengetahui ribuan Hikmah yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Jadikan sasaran pada makhluk-makhluk hidup yang Diciptakan⁠-⁠Nya.

Apakah di luar kemungkinan serta peluang bahwa hal-hal luar biasa yang terlihat di alam ini menjadi beberapa contoh serta dasar bagi hal-hal malakut, barzakh, serta gambaran yang lebih menakjubkan, lebih luar biasa, dan lebih bersifat mukjizat?

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Menjadikan zarah-zarah yang membentuk kainat tunduk serta taat kepada syariat fitri⁠-⁠Nya, dan patuh serta mengikuti perintah-perintah penciptaan⁠-⁠Nya. Sebagaimana lebah mengambil bentuk yang dimaksud dengan mematuhi Perintah ‘Kün’, hewan apa pun masuk ke keadaan-keadaan yang Dikehendaki dengan mematuhi Perintah yang sama.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kudrat Yang Memegang benda-benda seperti matahari, bulan, bintang, serta bumi dalam Genggaman⁠-⁠Nya Mengaturnya dengan kemudahan sedemikian rupa sehingga, seperti orang yang merangkai butir-butir tasbih tercerai pada benang, Dia tidak Mengalami lemah ataupun Membutuhkan bantuan yang lain.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Setetes air satu dengan air laut, sebab keduanya air. Ia pun satu dengan air sungai, sebab sumber keduanya langit. Demikian pula, ikan kecil satu dengan ikan paus, sebab sebutan keduanya satu.

Demikian pula, satu Asma Ilahi yang bertajalli kepada sel atau mikroba satu dengan Asma yang meliputi kainat, sebab Zat Yang Dinamai itu satu. Misalnya, Asma 'Alîm yang berkaitan serta bertajalli kepada seluruh kainat satu pada Zat Yang Dinamai dengan Asma Khâliq yang berkaitan dengan suatu zarah. Asma Musawwir yang berkaitan dengan pohon kurma pun satu pada Zat Yang Dinamai dengan Asma Munsyi (Yang Menumbuhkan) yang berkaitan serta bertajalli kepada buahnya. Memang mustahil Asma yang bertajalli kepada sesuatu paling besar tidak pula bertajalli kepada sesuatu paling kecil.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam wujud hal-hal di bawah sebutan mungkin ada terdapat perubahan, yakni cara serta keadaannya berubah. Karena itu, sesuatu yang mungkin ada senantiasa berhenti serta diam dalam satu keadaan dan tinggal tanpa kegiatan merupakan suatu jenis tidak ada bagi keadaan serta cara sesuatu tersebut. Sebab, keadaan masa depannya tetap dalam tidak ada, tidak menemukan jalan untuk terwujud. Tidak ada merupakan sakit besar serta keburukan murni.

Karena itu, sebagaimana terdapat lezat dalam kegiatan, juga terdapat pergantian dalam keadaan serta urusan. Rasa terpengaruh serta sakit yang berasal dari perubahan dan pergantian ini, meskipun buruk dari satu segi, indah dari beberapa segi. Ya, saat pergiliran serta penyerahan dalam bentuk-bentuk sesuatu, yang pergi terpengaruh dan yang datang puas. Melalui ini, hidup menjadi jernih serta bersih, dan wujud diperbarui.

Dari sepoi hidayah Al-Qur'an