Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kesimpulannya:

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kesimpulannya:

Dalam hadis terdapat:

ﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺧَﻄَﺮٍ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٍ

Yakni, dasar selamat serta bebas dari bahaya hanyalah ikhlas. Memperoleh ikhlas amat penting. Amal ikhlas sebesar zarah lebih kuat daripada amal tanpa ikhlas seberat banyak batman. Hendaknya dipikirkan bahwa sebab pada gerak yang menghasilkan ikhlas hanya Perintah Ilahi, dan hasilnya Rida Ilahi; jangan mencampuri Tugas Ilahi.

Dalam segala sesuatu terdapat ikhlas. Bahkan, satu zarah cinta melalui ikhlas mengungguli cinta resmi serta berupah seberat banyak batman. Seorang pribadi mengungkapkan cinta ikhlas ini sebagai berikut:

ﻭَ ﻣَﺎ ﺍَﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻏ۪ﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤُﺐِّ ﺭِﺷْﻮَﺓً ﺿَﻌ۪ﻴﻒٌ ﻫَﻮًﻯ ﻳُﺒْﻐٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺏٌ

Yakni, ‘Aku tidak meminta suap, upah, balasan, atau pahala atas cinta, sebab cinta yang diminta pahala serta ganjaran sebagai balasan adalah lemah dan tidak terus ada.’

Bahkan, cinta ikhlas telah ditempatkan dalam fitrah manusia serta seluruh ibu. Kasih para ibu menjadi tempat tampak penuh cinta ikhlas ini. Dalil bahwa para ibu tidak meminta serta menuntut pahala atau suap atas cinta kepada anak-anaknya melalui rahasia kasih itu ialah mereka mengorbankan ruh, bahkan kebahagiaan akhiratnya, demi anak-anak. Meskipun seluruh modal ayam betina ialah hidupnya sendiri, untuk menyelamatkan anaknya dari mulut anjing, menurut yang dilihat Hüsrev, ia membiarkan kepalanya ditangkap anjing.

Perkara Keempat:

Nikmat-nikmat yang datang melalui tangan sebab-sebab lahiriah tidak sepatutnya diambil atas nama sebab-sebab tersebut.

Jika sebab itu tidak memiliki pilihan, seperti hewan atau pohon, ia langsung memberi nikmat tersebut atas nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Karena melalui bahasa keadaan ia mengucapkan Bismillah dan memberimu, engkau pun mengucapkan Bismillah atas nama Allah سُبْحَانَهُ dan mengambilnya.

Jika sebab itu memiliki pilihan, ia harus mengucapkan Bismillah, kemudian ambillah darinya; jika tidak, jangan ambil. Sebab, selain makna jelas ayat

وَلَا ﺗَﺎْﻛُﻠُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺬْﻛَﺮِ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ,

makna isyaratnya ialah, ‘Jangan makan nikmat yang tidak mengingatkan Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki dan tidak diberikan dengan Nama⁠-⁠Nya!’

Maka, yang memberi maupun yang mengambil harus mengucapkan Bismillah. Jika ia tidak mengucapkan Bismillah, tetapi engkau membutuhkan untuk mengambil, ucapkan Bismillah, lihatlah Tangan Rahmat Ilahi di atas kepalanya, ciumlah dengan syukur, lalu ambillah darinya. Yakni, pandanglah pemberian nikmat dari nikmat, dan pikirkan Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki dari pemberian nikmat. Memikirkan ini merupakan syukur. Setelah itu, jika ingin, berdoalah bagi perantara lahiriah tersebut, sebab nikmat itu dikirimkan kepada kalian melalui tangannya.

Yang menipu para penyembah sebab-sebab lahiriah ialah datang atau adanya dua hal bersama-sama, yang disebut ‘iktiran’, serta menganggap keduanya sebab satu sama lain.

Karena tiadanya sesuatu menjadi sebab tiadanya nikmat, ia juga membayangkan bahwa wujud sesuatu itu merupakan sebab wujud nikmat tersebut. Ia memberikan syukur serta rasa berutang budi kepada sesuatu itu dan jatuh dalam salah. Sebab, wujud suatu nikmat mengikuti seluruh pendahuluan serta syarat nikmat itu. Padahal, tiadanya nikmat itu terjadi melalui tiadanya satu syarat saja.

Misalnya, orang yang tidak membuka lubang saluran yang mengairi kebun menjadi sebab keringnya kebun serta tiadanya nikmat-nikmat tersebut. Namun, wujud nikmat-nikmat kebun, bersama bergantung pada ratusan syarat selain pekerjaan orang itu, terwujud melalui Kudrat serta Kehendak Rabbani yang merupakan Sebab Hakiki.

Pahamilah betapa nyata salahnya sesat pikir ini dan ketahuilah betapa kelirunya para penyembah sebab-sebab!

Ya, kebersamaan berbeda dan sebab berbeda. Nikmat datang kepadamu, dan niat seseorang memberi kebaikan kepadamu telah bersamaan dengan nikmat itu, tetapi tidak menjadi sebab baginya. Sebabnya ialah Rahmat Ilahi. Ya, jika orang itu tidak berniat memberi kebaikan, nikmat tersebut tidak datang kepadamu; ia menjadi sebab tiadanya nikmat. Namun, berdasarkan kaidah tersebut, kecenderungan memberi kebaikan itu tidak dapat menjadi sebab nikmat, hanya dapat menjadi satu dari ratusan syarat.

Misalnya, sebagian pribadi di antara murid-murid Risale-i Nur yang memperoleh nikmat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, seperti Hüsrev dan Re'fet, mencampurkan kebersamaan dengan sebab dan memperlihatkan rasa berutang budi berlebihan kepada Üstad mereka. Padahal, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Menjadikan nikmat memperoleh manfaat yang Diberikan⁠-⁠Nya kepada mereka dalam pelajaran Al-Qur'an bersama dengan nikmat mengungkapkan yang Dikaruniakan⁠-⁠Nya kepada Üstad mereka, dan Memberi keduanya kebersamaan.

Mereka berkata, ‘Jika Üstad kita tidak datang ke sini, kita tidak dapat memperoleh pelajaran ini. Maka, ungkapannya merupakan sebab manfaat kita.’

Aku pun berkata, ‘Wahai saudara-saudaraku! Nikmat yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Berikan kepadaku serta kalian datang bersama. Sebab kedua nikmat ialah Rahmat Ilahi. Aku pun, dengan mencampurkan kebersamaan serta sebab seperti kalian, suatu waktu merasakan utang budi besar kepada ratusan murid Risale-i Nur yang berpena berlian seperti kalian. Aku berkata, jika mereka tidak ada, bagaimana orang malang yang setengah tidak dapat membaca sepertiku akan berkhidmah? Kemudian kupahami bahwa sesudah nikmat suci kepada kalian melalui pena, Dia juga Mengaruniakan kepadaku keberhasilan dalam khidmah ini. Keduanya bersamaan, tetapi tidak dapat menjadi sebab satu sama lain. Aku bukan berterima kasih kepada kalian, melainkan memberi selamat. Kalian pun, sebagai ganti berutang budi kepadaku, berdoa serta berilah selamat.’

Dalam perkara keempat ini dipahami betapa banyak tingkat lalai terdapat.

Perkara Kelima:

Sebagaimana jika harta suatu jamaah diberikan kepada satu orang itu zalim, atau jika satu orang merebut wakaf-wakaf milik jamaah ia berbuat zalim, demikian pula memberikan kepada pemimpin atau Üstad jamaah hasil yang terjadi melalui usaha jamaah, atau kehormatan serta keutamaan yang mengikuti kebaikan jamaah, merupakan zalim kepada jamaah maupun Üstad atau pemimpin itu. Sebab, ia membelai keakuan dan menyeret kepada sombong. Ia membuat seseorang menyangka dirinya raja padahal penjaga pintu. Ia pun berbuat zalim kepada nafsunya sendiri, bahkan membuka jalan kepada syirik tersembunyi. Ya, mayor suatu batalion yang menaklukkan benteng tidak dapat mengambil rampasan serta kehormatan kemenangan batalion tersebut.

Ya, Üstad serta pembimbing tidak sepatutnya dianggap sumber serta mata air. Harus diketahui bahwa mereka merupakan tempat tampak serta pantulan. Misalnya, panas dan sinar datang kepadamu melalui cermin. Sebagai ganti berutang budi kepada matahari, menganggap cermin sebagai sumber, matahari, melupakannya lalu berutang budi kepada cermin merupakan gila. Ya, cermin harus dijaga, sebab merupakan tempat tampak.

Ruh serta hati pembimbing merupakan cermin. Ia menjadi tempat pantulan limpahan yang datang dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan jalan bagi dipantulkannya kepada murid. Dalam limpahan, tidak sepatutnya diberikan kedudukan melebihi menjadi perantara. Bahkan, kadang Üstad yang dianggap sumber bukan tempat tampak ataupun sumber. Sebaliknya, melalui jernih ikhlas murid, kuat hubungan, serta memusatkan pandangan kepada Üstad, murid itu melihat limpahan-limpahan yang diperolehnya dari jalan lain seolah-olah datang dari cermin ruh Üstadnya.

Sebagaimana ketika seseorang terus memperhatikan kaca melalui magnetisme, dalam khayalnya terbuka jendela kepada alam mitsal. Ia menyaksikan banyak hal menakjubkan dalam cermin itu. Padahal, bukan dalam cermin; ia melihat jendela terbuka dalam khayalnya di luar cermin melalui perhatian pandangan kepada cermin. Karena itu, kadang murid ikhlas dari syekh yang kurang dapat menjadi lebih sempurna daripada syekhnya, lalu kembali membimbing syekhnya dan menjadi syekh bagi syekhnya.

CATATAN KEEMPAT BELAS

Empat petunjuk tersirat kecil tentang tauhid.

Petunjuk Tersirat Pertama:

Wahai manusia penyembah sebab-sebab! Jika engkau melihat istana menakjubkan dari permata-permata luar biasa sedang dibangun, yang sebagian permata dalam bangunannya hanya terdapat di Cina, sebagian lain di Andalusia, sebagian di Yaman, dan sebagian tidak terdapat di tempat selain Siberia, lalu saat pembangunan melihat batu-batu permata itu didatangkan dengan mudah dari timur, utara, barat, serta selatan pada hari yang sama dan istana dibangun, adakah ragumu bahwa ahli pembuat istana tersebut merupakan penguasa yang melakukan mukjizat serta menguasai seluruh bola bumi?

Setiap hewan merupakan istana Ilahi seperti ini. Terutama manusia ialah yang paling indah di antara istana-istana itu serta paling menakjubkan di antara rumah-rumah agung tersebut. Permata-permata istana yang disebut manusia ini, sebagaimana sebagian datang dari alam ruh, sebagian dari alam mitsal serta Lauh Mahfuz, dan sebagian lainnya dari alam udara, cahaya, serta unsur-unsur, merupakan istana menakjubkan dan rumah agung luar biasa, yang kebutuhannya membentang hingga abadi, harapannya tersebar pada penjuru langit serta bumi, dan ikatan serta hubungannya tercerai pada masa-masa dunia serta akhirat.

Wahai manusia yang menyangka dirinya manusia! Karena hakikatmu demikian, Yang Membuatmu hanya dapat Zat Yang Mengelola dengan dunia serta akhirat masing-masing sebagai tempat tinggal, bumi dan langit masing-masing sebagai halaman, serta azali dan abadi sebagai kemarin dan esok. Maka, Yang Disembah, Tempat Berlindung, serta Penyelamat manusia hanya dapat Zat Yang Menguasai bumi serta langit dan Memiliki kendali dunia serta akhirat.

Petunjuk Tersirat Kedua:

Ada orang-orang bodoh yang, karena tidak mengenal matahari, ketika melihat matahari dalam cermin mulai mencintai cermin. Dengan rasa kuat ia berusaha menjaganya agar matahari di dalamnya tidak hilang. Ketika orang bodoh itu memahami bahwa matahari tidak mati dengan matinya cermin dan tidak musnah dengan pecahnya, ia mengarahkan seluruh cintanya kepada matahari di langit. Saat itu ia memahami bahwa matahari yang terlihat dalam cermin tidak mengikuti cermin dan terus adanya tidak bergantung kepadanya. Sebaliknya, mataharilah yang memegang cermin melalui cara itu dan memberi pertolongan bagi kilau serta cahayanya. Matahari terus ada bukan melaluinya; sebaliknya, terus adanya kilau hidup cermin mengikuti pancaran matahari.

Wahai manusia! Hati, jati diri, serta hakikatmu merupakan cermin. Cinta kuat kepada terus ada yang terdapat dalam fitrah serta hatimu bukan bagi cermin itu, bukan bagi hati serta hakikat tersebut, melainkan cintamu kepada manifestasi Sang Bâqî Dzul-Jalâl, yang terdapat dalam cermin itu menurut bakat. Karena bodoh, wajah cinta itu telah berpaling ke tempat lain.

Karena demikian, ucapkanlah

ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ.

Yakni, karena Engkau Ada serta Kekal, apa pun yang musnah dan tidak ada ingin lakukan kepada kita, tidak penting.

Petunjuk Tersirat Ketiga:

Wahai manusia! Keadaan paling menakjubkan yang Diletakkan Sang Fâthir Yang Hakîm dalam hakikatmu ialah kadang engkau tidak dapat menetap dalam dunia. Seperti orang yang tenggorokannya tercekik dalam penjara, engkau berkata ‘of of’ dan menghendaki tempat lebih luas daripada dunia, tetapi masuk serta menetap dalam suatu pekerjaan kecil, lintasan pikiran, atau satu menit. Hati serta pikiranmu yang tidak dapat menetap dalam dunia besar menetap dalam zarah kecil itu. Dengan rasa paling kuat, engkau berkeliling pada menit kecil serta lintasan kecil tersebut.

Dia pun telah Memberi dalam hakikatmu perangkat maknawi serta latifah-latifah sedemikian rupa sehingga sebagian, sekalipun menelan dunia, tidak kenyang. Sebagian tidak dapat menempatkan satu zarah dalam dirinya. Sebagaimana kepala mengangkat batu seberat satu batman, tetapi mata tidak dapat mengangkat sehelai rambut, latifah itu tidak dapat menanggung beban sebesar rambut, yakni keadaan kecil yang berasal dari lalai serta sesat. Bahkan, kadang ia padam dan mati.

Karena demikian, waspadalah, melangkahlah dengan perhatian, takutlah tenggelam. Jangan tenggelam dalam sesuap, satu kata, sebutir, sekilau, suatu isyarat, atau satu ciuman! Jangan tenggelamkan seluruh latifahmu yang menelan dunia di dalamnya. Sebab, ada hal amat kecil yang dalam satu segi menelan yang amat besar. Sebagaimana dalam sepotong kaca kecil langit bersama bintang-bintangnya masuk serta tenggelam, dan dalam daya ingatmu yang kecil seperti sesawi sebagian besar halaman amal serta kebanyakan halaman usia masuk, terdapat hal-hal yang amat kecil, yang melalui satu segi menelan serta memuat hal-hal besar demikian.

Petunjuk Tersirat Keempat:

Wahai manusia penyembah dunia! Duniamu yang engkau bayangkan amat luas seperti kubur sempit. Namun, karena dinding tempat tinggalmu yang seperti kubur sempit itu terbuat dari kaca, semuanya saling memantul dan meluas hingga jangkauan mata. Meskipun sempit seperti kubur, ia tampak luas sebesar kota. Sebab, masa lampau sebagai dinding kanan duniamu dan masa depan sebagai dinding kirinya, meskipun keduanya tiada serta tidak ada, saling memantul dan membuka sayap masa kini yang amat singkat serta sempit. Hakikat bercampur dengan khayal dan engkau menyangka dunia yang tiada itu ada.

Sebagaimana garis tampak luas seperti permukaan melalui gerak cepat, padahal hakikat wujudnya garis tipis, duniamu pun sempit dalam hakikat, tetapi dindingnya telah sangat meluas melalui lalai serta bayangan khayalmu. Jika bergerak dalam dunia sempit itu dengan dorongan musibah, engkau membenturkan kepala kepada dinding yang engkau sangka amat jauh. Ia menerbangkan khayal dalam kepalamu dan mengusir tidurmu. Saat itu engkau melihat bahwa dunia luasmu lebih sempit daripada kubur dan lebih tidak memberi ruang daripada jembatan. Waktu serta usiamu lewat lebih cepat daripada kilat; hidupmu mengalir lebih cepat daripada sungai.

Karena hidup dunia, hidup jasmani, serta hidup hewani demikian, keluarlah dari sifat hewani, tinggalkan jasmani, dan masuk ke tingkat hidup hati serta ruh. Engkau akan menemukan lingkaran hidup serta alam cahaya yang lebih luas daripada dunia luas yang engkau bayangkan. Kunci alam tersebut ialah membuat hati mengucapkan serta ruh bekerja melalui kalimat suci

ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ,

yang menyatakan rahasia makrifatullah serta Wahdaniyah.

CATATAN KELIMA BELAS

Tiga perkara.

Perkara Pertama:

Ayat

ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳَﺮَﻩُ ٭ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺮًّﺍ ﻳَﺮَﻩُ

yang mengisyaratkan tajalli paling sempurna Asma Hafîzh. Jika menghendaki dalil bagi hakikat Al-Qur'an Al-Hakîm ini, dengan memandang halaman-halaman kitab kainat yang tertulis pada garis Kitâb Mubîn, engkau dapat melihat dari banyak segi manifestasi terbesar Asma Hafîzh serta contoh suatu hakikat terbesar ayat mulia ini.

Di antaranya: Ambillah segenggam beragam benih pohon, bunga, serta rumput. Kuburkan dan taburkan dalam gelap serta dalam tanah yang gelap, sederhana, dan tak bernyawa genggaman itu, yang merupakan kotak-kotak bagi bunga, pohon, serta rumput dari kelompok jenis terpisah dan jenis berbeda dalam benih-benih beragam serta saling berlawanan tersebut. Kemudian sirami dengan air sederhana yang tidak memiliki ukuran, tidak membedakan sesuatu, dan pergi ke arah mana pun engkau menghadapkan wajahnya.

Kemudian datang dan lihatlah pada musim semi, medan kebangkitan tahunan! Perhatikan waktu ketika malaikat guruh, seperti Israfil, menyeru kepada hujan pada musim semi melalui suatu jenis tiupan sangkakala dan membawa kabar gembira dengan tiupan ruh kepada biji-biji yang terkubur di bawah tanah. Benih-benih kecil yang amat bercampur, teraduk, serta saling menyerupai itu mematuhi perintah-perintah penciptaan yang datang dari Sang Fâthir Yang Hakîm tanpa salah, dengan kepatuhan sempurna di bawah tajalli Asma Hafîzh. Mereka menyesuaikan gerak sedemikian rupa sehingga terlihat bahwa kesadaran, pandangan batin, maksud, kehendak, ilmu, kesempurnaan, serta hikmah bersinar dalam geraknya.

Sebab, engkau melihat bahwa benih-benih kecil yang saling menyerupai itu menjadi khas serta terpisah satu sama lain. Misalnya, benih ini menjadi pohon ara. Ia mulai menyebarkan nikmat-nikmat Sang Fâthir Yang Hakîm di atas kepala kita, menaburkannya, serta mengulurkannya kepada kita melalui tangan cabang-cabangnya. Dua benih kecil yang menyerupainya dalam rupa menghasilkan bunga seperti bunga bernama pencinta matahari dan pansy. Mereka berhias bagi kita, tersenyum kepada wajah kita, serta membuat dirinya kita cintai. Sebagian benih kecil di sini menghasilkan buah-buah indah ini, menjadi tunas serta pohon. Dengan rasa, aroma, serta bentuk indah, mereka membuka selera kita, lalu kepada diri mereka mengundang diri kita, serta mengorbankan diri kepada pelanggannya agar naik dari tingkat hidup tumbuhan ke tingkat hidup hewan. Demikian seterusnya, bandingkanlah.

Benih-benih kecil tersebut berkembang sedemikian rupa sehingga satu genggaman itu menjadi seperti kebun penuh pohon berbeda serta bunga beragam. Tiada salah atau cacat di dalamnya. Ia memperlihatkan rahasia

ﻓَﺎﺭْﺟِﻊِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻫَﻞْ ﺗَﺮٰﻯ ﻣِﻦْ ﻓُﻄُﻮﺭٍ.

Melalui manifestasi serta karunia Asma Hafîzh, setiap benih menjaga dan memperlihatkan tanpa kekeliruan serta kurang warisan yang Diberikan⁠-⁠Nya kepadanya dari harta ayah serta asalnya.

Ini merupakan isyarat pasti bahwa Zat Hafîzh Yang Melakukan penjagaan luar biasa tak terbatas tersebut akan Memperlihatkan tajalli terbesar penjagaan⁠-⁠Nya pada kiamat serta kebangkitan.

Ya, manifestasi penjagaan yang demikian tanpa cacat serta tanpa salah dalam cara-cara tak penting, sirna, dan fana ini merupakan hujah pasti bahwa perbuatan, karya, perkataan, kebaikan, serta keburukan manusia yang memiliki pengaruh abadi serta arti penting besar, pembawa amanah terbesar dan khalifah bumi, akan dijaga dengan perhatian sempurna dan diperhitungkan.

Apakah manusia ini menyangka akan dibiarkan tanpa aturan? Hâşâ! Manusia diutus menuju abadi dan menanti kebahagiaan abadi serta celaka tetap. Ia akan diperhitungkan atas setiap amalnya, kecil atau besar, sedikit atau banyak. Ia akan memperoleh penghargaan atau tamparan.

Saksi-saksi bagi manifestasi terbesar penjagaan serta hakikat ayat tersebut tidak terhitung dan tidak terukur. Saksi yang kita perlihatkan dalam perkara ini ialah setetes dari laut dan satu zarah dari gunung.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

Dari sinar hidayah Al-Qur'an