CATATAN KEDELAPAN
Wahai manusia malas yang tidak mengetahui lezat serta bahagia dalam usaha dan amal! Ketahuilah:
Dari Kemurahan-Nya yang Sempurna, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Menempatkan balasan khidmah dalam khidmah itu sendiri, dan upah amal dalam amal itu sendiri. Berdasarkan rahasia ini, segala yang ada, bahkan dari suatu sudut pandang benda tak bernyawa pun, mematuhi Perintah-Perintah Rabbani dengan semangat sempurna serta suatu jenis lezat dalam tugas-tugas khususnya yang disebut perintah-perintah penciptaan.
Dari lebah, lalat, serta ayam hingga matahari dan bulan, segala sesuatu bekerja pada tugasnya dengan lezat sempurna. Maka, dalam khidmah mereka terdapat lezat, sehingga karena tidak memiliki akal, mereka memenuhi tugas-tugas secara sempurna tanpa memikirkan akibat serta hasilnya.
Jika engkau berkata:
Lezat mungkin pada makhluk hidup; bagaimana semangat serta lezat mungkin pada benda tak bernyawa?
Jawaban:
Benda tak bernyawa menghendaki serta mencari kehormatan, kedudukan, kesempurnaan, keindahan, dan keteraturan, bukan atas namanya sendiri, melainkan atas nama Asma Ilahi yang bertajalli kepadanya. Dalam mematuhi tugas fitrinya, karena menjadi tempat pantulan serta cermin bagi Asma Nurul Anwar, ia menjadi terang dan maju.
Misalnya, sebagaimana setetes air atau sepotong kaca kecil, meskipun pada dirinya tanpa sinar serta tak penting, jika dengan hati jernih menghadapkan wajah kepada matahari, tetes serta potongan kaca yang tak penting dan tanpa sinar itu menjadi suatu jenis arasy matahari dan tersenyum pula kepada wajahmu.
Seperti contoh ini, zarah-zarah segala yang ada, dengan menjadi cermin bagi Asma Zat Dzul-Jalâl Pemilik Keindahan Mutlak serta Kesempurnaan Mutlak dari segi kecintaan kepada tugas, naik dari tingkat amat rendah ke tingkat tampak serta terang yang amat tinggi, seperti tetes dan kaca kecil itu. Karena dari segi tugas memperoleh kedudukan amat bercahaya serta luhur, dapat dikatakan bahwa jika lezat mungkin dan dapat diterima, yakni jika mereka memiliki bagian dari hidup umum, mereka melakukan tugas-tugas tersebut dengan amat lezat.
Dalil paling nyata bahwa terdapat lezat dalam tugas ialah melihat kerja anggota serta rasamu sendiri. Masing-masing memiliki lezat sendiri dalam kerja yang dilakukannya bagi terus adanya pribadi dan jenis. Kerja itu sendiri menjadi nikmat bagi mereka. Bahkan, meninggalkan kerja merupakan suatu jenis azab bagi anggota itu.
Dalil paling nyata lainnya ialah keadaan penuh pengorbanan serta berani yang diperlihatkan hewan-hewan seperti ayam jantan dan ayam betina beranak dalam tugasnya. Meskipun lapar, ayam jantan mengutamakan ayam-ayam betina daripada dirinya, mengajak mereka kepada rezeki yang ditemukannya, tidak makan sendiri, serta memberi mereka makan. Terlihat bahwa ia melakukan tugas itu dengan semangat, bangga, serta nikmat. Maka, dalam pelayanan itu ia memperoleh lezat lebih besar daripada makan.
Ayam betina yang menggembalakan anak-anak kecilnya pun mengorbankan ruhnya demi anak-anaknya dan menyerang anjing. Ia membiarkan dirinya lapar dan mengenyangkan mereka. Maka, dalam pelayanan itu ia memperoleh lezat yang mengungguli serta melebihi sakit lapar dan sakit mati. Ibu-ibu hewan berusaha melindungi anak-anaknya dengan lezat ketika masih kecil, karena memiliki tugas. Setelah anak-anak besar, tugas berhenti dan lezat pun pergi. Kadang ia memukul anaknya dan mengambil butir dari tangannya. Hanya tugas ibu-ibu pada jenis manusia berlanjut hingga suatu tingkat, sebab pada manusia, dari segi lemah serta tak berdaya, selalu terdapat suatu jenis kanak-kanak dan setiap waktu membutuhkan kasih.
Lihatlah jantan-jantan seluruh hewan yang menggembalakan seperti ayam jantan serta ibu-ibu seperti ayam betina. Pahamilah bahwa mereka tidak melakukan tugas tersebut atas nama serta bagi diri sendiri atau demi sempurnanya sendiri, sebab jika diperlukan mereka mengorbankan hidup dalam tugas. Sebaliknya, mereka menjalankan tugas atas nama Dia Yang Menugaskan mereka pada tugas tersebut dan dalam tugas itu melalui Rahmat-Nya Menempatkan lezat, yakni Sang Pemberi Nikmat Yang Karîm, serta dengan Nama Sang Fâthir Dzul-Jalâl.
Dalil lain bahwa dalam khidmah itu sendiri terdapat upah ialah bahwa tumbuhan serta pohon mematuhi Perintah-Perintah Sang Fâthir Dzul-Jalâl melalui sikap yang membuat semangat serta lezat terasa. Sebab, aroma indah yang disebarkannya, berhiasnya dengan hiasan yang menarik pandangan pelanggan, serta mengorbankan diri hingga membusuk demi tunas dan buahnya, memperlihatkan kepada orang yang penuh perhatian bahwa dalam mematuhi Perintah Ilahi, mereka memiliki lezat sedemikian rupa hingga memusnahkan serta membusukkan dirinya sendiri.
Lihatlah, pohon-pohon berbuah seperti kelapa serta ara, yang membawa banyak kaleng susu di kepalanya, meminta dari khazanah Rahmat melalui bahasa keadaan makanan terbaik seperti susu, mengambilnya, serta memberi makan buah-buahnya, sedangkan ia sendiri makan lumpur. Pohon delima pun mengambil minuman jernih dari khazanah Rahmat dan memberi makan buahnya, sedangkan ia sendiri merasa cukup dengan air berlumpur serta keruh.
Bahkan, dalam biji-bijian pun terlihat rindu nyata pada tugas bertunas. Sebagaimana orang yang terkurung dalam tempat sempit dengan rindu ingin keluar ke kebun serta tempat luas, demikian pula dalam biji-bijian terlihat keadaan penuh sukacita serta rindu pada tugas bertunas.
Dari kaidah panjang serta berahasia yang berlangsung dalam kainat, yang disebut ‘sunatullah’, inilah bahwa orang-orang tanpa kerja, malas, hidup dalam istirahat, serta berbaring pada ranjang nyaman kebanyakan menanggung kesukaran dan sempit lebih besar daripada yang berusaha serta bekerja. Sebab, orang-orang tanpa kerja senantiasa mengeluhkan usia dan ingin usia cepat berlalu melalui hiburan. Adapun yang berusaha serta bekerja bersyukur, memuji, dan tidak ingin usia berlalu.
ﺍَﻟْﻤُﺴْﺘَﺮ۪ﻳﺢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻃِﻞُ ﺷَﺎﻙٍ ﻣِﻦْ ﻋُﻤْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋِﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻞُ ﺷَﺎﻛِﺮٌ
merupakan kaidah menyeluruh. Melalui rahasia itu pula, kalimat ‘Tenteram berada dalam kesukaran; kesukaran berada dalam tenteram’ menjadi peribahasa.
Ya, jika benda tak bernyawa dipandang dengan perhatian, terlihat suatu sikap melalui kaidah sunah Ilahi tersebut ketika yang tetap kurang dan tidak berkembang dalam potensi hanya dari segi bakat serta kemampuan berkembang dengan usaha dan kerja besar, lalu berpindah dari bentuk potensi ke nyata. Sikap itu mengisyaratkan bahwa dalam tugas fitri tersebut terdapat semangat serta dalam perkara itu terdapat lezat. Jika benda tak bernyawa itu memiliki bagian dari hidup umum, semangat menjadi miliknya sendiri; jika tidak, menjadi milik sesuatu yang mewakili serta mengawasi benda tersebut.
Bahkan, berdasarkan rahasia ini dapat dikatakan bahwa ketika air halus serta lembut menerima perintah membeku, ia mematuhi perintah itu dengan semangat demikian keras hingga membelah dan memecahkan besi. Maka, ketika Perintah Rabbani ‘Meluaslah!’ disampaikan melalui bahasa dingin serta suhu di bawah nol kepada air dalam wadah besi tertutup, ia memecahkan wadahnya dengan semangat keras, merusak besi, dan menjadi es. Demikian seterusnya.
Bandingkan segala sesuatu kepada ini: Dari putaran, perjalanan, serta gerak matahari-matahari hingga berputar, berpusing, dan bergetarnya zarah-zarah seperti Mevlevi, seluruh usaha serta gerak dalam kainat berlangsung menurut hukum Takdir Ilahi. Ia muncul melalui perintah penciptaan yang berasal dari Kudrat Ilahi dan memuat Kehendak, Perintah, serta Ilmu.
Bahkan, setiap zarah, setiap yang ada, serta setiap makhluk hidup menyerupai seorang prajurit. Sebagaimana dalam beragam lingkaran pasukan prajurit itu memiliki hubungan serta tugas masing-masing, setiap zarah serta setiap makhluk hidup pun demikian. Misalnya, suatu zarah dalam matamu memiliki hubungan masing-masing pada sel mata, mata, saraf-saraf wajah, serta pembuluh yang disebut arteri dalam tubuh, dan menurut hubungan itu memiliki tugas serta menurut tugas tersebut memiliki manfaat. Demikian seterusnya, bandingkan segala sesuatu kepadanya.
Berdasarkan ini, segala sesuatu bersaksi atas Wujud yang Wajib dari Qadîr Yang Azali melalui dua segi:
Yang satu:
Melalui bahasa lemah mutlaknya dalam melakukan tugas-tugas ribuan tingkat di atas dayanya, ia bersaksi atas Wujud Qadîr itu.
Yang kedua:
Dengan menyesuaikan geraknya kepada kaidah-kaidah yang membentuk tatanan alam serta hukum-hukum yang menjaga keseimbangan segala yang ada, setiap sesuatu bersaksi atas 'Alîm Yang Qadîr itu.
Sebab, benda tak bernyawa seperti zarah atau hewan kecil seperti lebah tidak dapat mengetahui aturan serta keseimbangan, yang merupakan perkara-perkara penting dan halus Kitâb Mubîn. Di manakah zarah tak bernyawa serta hewan kecil seperti lebah? Di manakah membaca perkara penting serta halus Kitâb Mubîn dalam Tangan Zat Dzul-Jalâl, Yang Membuka, Menutup, serta Menghimpun lapisan-lapisan langit seperti halaman buku? Jika engkau menjadi gila dan membayangkan pada zarah terdapat mata yang dapat membaca huruf-huruf halus kitab itu, barulah engkau dapat berusaha menolak kesaksian zarah tersebut.
Ya, Sang Fâthir Yang Hakîm Meringkas serta Menempatkan kaidah-kaidah Kitâb Mubîn melalui cara amat indah serta singkat, dalam lezat khas dan suatu kebutuhan khusus. Jika setiap sesuatu beramal melalui lezat khas serta kebutuhan khusus itu, tanpa mengetahui, ia mematuhi kaidah-kaidah Kitâb Mubîn tersebut. Misalnya, begitu nyamuk berbelalai lahir ke dunia, ia keluar dari rumahnya dan tanpa berhenti menyerang wajah manusia. Ia memukul dengan tongkat panjangnya, memancarkan air kehidupan, lalu minum. Dalam lari dari serangan, ia memperlihatkan keahlian seperti staf perang. Siapakah yang mengajarkan seni ini, ilmu perang, serta seni mengeluarkan air kepada makhluk kecil tanpa pengalaman yang baru lahir ini, dan dari mana ia mempelajarinya? Aku, yakni Said malang ini, mengakui bahwa jika berada pada tempat lalat berbelalai itu, aku hanya dapat mempelajari seni, perang maju-mundur, serta pekerjaan mengeluarkan air ini melalui pelajaran amat panjang dan percobaan sangat banyak.
Bandingkan kepada lalat ini hewan-hewan penerima ilham seperti lebah, laba-laba, serta bulbul yang membuat sarangnya seperti kaus kaki. Bahkan, engkau pun dapat membandingkan tumbuhan kepada hewan secara sama.
Ya, Jawwâd Yang Mutlak (celle celaluhu) telah Memberi kepada tangan setiap makhluk hidup suatu surat yang ditulis dengan tinta lezat serta tinta kebutuhan. Melaluinya Dia Menitipkan program perintah-perintah penciptaan serta daftar isi khidmah-khidmahnya. Lihatlah Hakîm Dzul-Jalâl itu, bagaimana Dia telah Menulis bagian kaidah-kaidah Kitâb Mubîn yang berkaitan dengan tugas lebah dalam suatu surat dan Meletakkannya dalam kotak kecil pada kepala lebah. Kunci kotak tersebut pun ialah lezat khas lebah yang mencintai tugas. Dengannya ia membuka kotak, membaca program, memahami perintah, lalu bergerak. Ia menampakkan rahasia ayat
ﻭَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺤْﻞِ.
Jika telah mendengar Catatan Kedelapan ini sepenuhnya dan memahaminya secara penuh, melalui pemahaman intuitif iman, suatu rahasia
ﻭَﺳِﻌَﺖْ ﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ,
suatu hakikat
ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪,
suatu kaidah
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ,
serta suatu butir hikmah
ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
akan engkau pahami.
CATATAN KESEMBILAN
Ketahuilah bahwa kenabian dalam umat manusia merupakan kesimpulan serta dasar kebaikan dan kesempurnaan manusia. Agama haq merupakan daftar isi bahagia. Iman merupakan keindahan suci serta bebas dari materi. Karena dalam alam ini tampak indah gemilang, kebaikan luas serta luhur, haq nyata, dan kesempurnaan unggul, dengan jelas haq serta hakikat berada dalam kenabian dan tangan para nabi. Sesat, keburukan, serta rugi berada pada yang melawannya.
Di antara ribuan keindahan ubudiyah, lihatlah hanya ini:
Dari segi ubudiyah, Nabi ﷺ menyatukan hati orang-orang bertauhid dalam salat hari raya, Jumat, serta berjamaah, dan menghimpun lisan mereka dalam satu kata. Dengan cara demikian, manusia ini menjawab Keagungan Seruan Ma'bûd Azali melalui suara, doa, serta zikir yang keluar dari hati dan lisan tak terbatas. Dengan saling menopang, membantu, serta bersepakat, suara, doa, dan zikir itu memperlihatkan ubudiyah di hadapan Keilahian Ma'bûd Azali secara demikian luas sehingga seolah-olah bola bumi sendiri mengucapkan zikir tersebut, memanjatkan doa itu, dan salat dengan segala penjurunya. Melalui seluruh sisinya, bola bumi mematuhi Perintah
ﺍَﻗ۪ﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠٰﻮﺓَ
yang turun dengan Kemuliaan serta Keagungan dari atas langit.
Melalui rahasia persatuan ini, manusia yang merupakan makhluk lemah serta kecil seperti zarah dalam kainat menjadi hamba tercinta Khâliq bumi serta langit, khalifah dan sultan bumi, pemimpin hewan, serta hasil dan tujuan penciptaan kainat, dari segi besarnya ubudiyah.
Ya, jika suara ratusan juta manusia yang mengucapkan Allahu ekber dalam satu saat sesudah salat, terutama salat hari raya, berhimpun serta berkumpul satu sama lain dalam alam yang terlihat, sebagaimana berhimpun dalam alam gaib, bola bumi akan menjadi manusia besar sepenuhnya. Karena sama dengan Allahu ekber yang diucapkannya melalui suara besar menurut besarnya, mengucapkan Allahu ekber dalam satu saat melalui persatuan orang-orang bertauhid itu menjadi seperti Allahu ekber besar dari bola bumi. Seolah-olah dalam salat hari raya, melalui zikir serta tasbih alam Islam, bumi mengalami guncangan terbesar dan mengucapkan Allahu ekber dengan seluruh penjuru serta sisinya. Dengan berniat melalui hati tulusnya, Ka'bah yang dimuliakan sebagai kiblatnya, dan mengucapkan Allahu ekber melalui mulut Makkah serta lidah Arafah, satu kata itu pada mulut seluruh orang beriman yang seperti gua di sekeliling bumi itu tergambar dalam udara. Sebagaimana melalui gema satu kata Allahu ekber terjadi Allahu ekber tak terbatas, zikir serta takbir yang diterima itu juga menggemakan langit dan dengan bergelombang dalam alam-alam barzakh memberi suara.
Kita memuji, bertasbih, serta bertakbir kepada Zat Dzul-Jalâl sebanyak zarah bumi, Yang Menjadikan bumi bersujud dan beribadah kepada-Nya seperti ini, masjid bagi hamba-Nya, buaian bagi makhluk-Nya, serta bertasbih dan bertakbir kepada-Nya. Kita memuji-Nya sebanyak segala yang ada karena Dia telah Menjadikan kita umat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ-Nya, yang mengajarkan kepada kita jenis ubudiyah ini.
CATATAN KESEPULUH
Ketahuilah, wahai Said yang lalai serta kacau! Untuk mencapai dan memandang Cahaya makrifat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, melihat manifestasi-Nya dalam cermin ayat-ayat serta saksi-saksi, dan menyaksikannya melalui celah-celah bukti serta dalil, engkau harus tidak meraba dengan jari-jari kritik setiap cahaya yang melewatimu, datang ke hatimu, serta terlihat oleh akalmu, ataupun mengkritiknya dengan tangan bimbang. Jangan mengulurkan tangan untuk menangkap cahaya yang menerangimu. Lepaskan dirimu dari sebab-sebab lalai, hadapkan diri kepada cahaya-cahaya itu, dan diamlah.
Sebab, kulihat bahwa saksi serta bukti makrifatullah terbagi tiga jenis:
Sebagian seperti air:
Terlihat serta terasa, tetapi tidak ditangkap dengan jari. Dalam bagian ini, harus melepaskan khayal serta menyelam sepenuhnya ke dalamnya. Jangan mencari dengan jari kritik; jika dilakukan, ia mengalir serta lari. Air kehidupan itu tidak menjadikan jari sebagai tempat.
Bagian kedua seperti udara:
Terasa, tetapi tidak terlihat ataupun ditangkap. Hadapkan wajah, mulut, serta ruhmu kepada sepoi Rahmat itu dan jadikan dirimu menghadapnya. Jangan mengulurkan tangan kritik; engkau tidak dapat menangkapnya. Bernapaslah melalui ruhmu. Jika memandang dengan bimbang serta mengulurkan tangan melalui kritik, ia berjalan dan pergi; ia tidak menjadikan tanganmu tempat tinggal dan tidak rela kepadanya.
Bagian ketiga seperti cahaya:
Terlihat, tetapi tidak terasa ataupun ditangkap. Maka, dengan mata hati serta pandangan ruhmu, hadapkan diri kepadanya, arahkan mata kepadanya, dan tunggulah; mungkin ia datang sendiri. Sebab, cahaya tidak ditangkap dengan tangan atau diburu dengan jari. Cahaya itu hanya diburu melalui cahaya pandangan batin. Jika mengulurkan tangan tamak serta materi dan menimbang dengan timbangan materi, sekalipun tidak padam, ia tersembunyi. Sebab, cahaya seperti itu sebagaimana tidak rela dikurung dalam materi, tidak dapat masuk ke dalam ikatan, dan tidak menerima yang padat sebagai pemilik serta tuannya.
CATATAN KESEBELAS
Ketahuilah bahwa dalam ungkapan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya terdapat banyak kasih serta belas kasih, sebab kebanyakan yang diserunya ialah orang awam. Benak mereka sederhana. Karena pandangan mereka pun tidak melihat hal-hal teliti, untuk membelai sederhananya pikiran mereka, ia mengulang ayat-ayat yang tertulis pada wajah langit serta bumi dan membuat mereka membaca huruf-huruf besar itu dengan mudah. Misalnya, ia mengajarkan ayat-ayat yang dibaca serta terlihat dengan nyata, seperti penciptaan langit dan bumi, diturunkannya hujan dari langit, serta hidupnya bumi. Ia jarang mengarahkan pandangan kepada ayat-ayat halus yang tertulis dengan huruf kecil dalam huruf-huruf besar itu, agar mereka tidak menanggung kesukaran.
Dalam gaya Al-Qur'an pun terdapat wibawa ungkapan, lancar, serta fitri sedemikian rupa sehingga seolah-olah Al-Qur'an merupakan penghafal yang membaca ayat-ayat yang ditulis dengan pena Kudrat pada halaman-halaman kainat. Seolah-olah Al-Qur'an merupakan bacaan kitab kainat serta tilawah aturan-aturannya, membaca Syuunat Pengukir Azalinya, dan menulis Tindakan-Tindakan-Nya. Jika ingin melihat wibawa penjelasan ini, dengarkan dengan hati terjaga serta teliti ketetapan-ketetapan seperti Surah 'Amma dan ayat-ayat
ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ!
CATATAN KEDUA BELAS
Wahai sahabat-sahabatku yang mendengarkan catatan-catatan ini! Ketahuilah bahwa sebab aku kadang menulis, berlawanan dengan adat, tunduk memohon, munajat, serta doa hatiku kepada Rabbku yang semestinya disembunyikan ialah memohon kepada Rahmat Ilahi agar, ketika kematian membungkam lisanku, berbicaranya kitabku sebagai ganti lisanku diterima.
Ya, dalam umur singkat, tobat serta penyesalan lisan sementaraku tidak cukup menjadi kafarat bagi dosa-dosaku yang tak terbatas. Lisan kitabku yang tetap dan hingga suatu tingkat berlanjut lebih berguna untuk pekerjaan itu. Tiga belas tahun sebelum penulisan catatan-catatan ini, sebagai hasil badai ruh yang penuh gejolak, pada saat tawa Said Lama akan berubah menjadi tangis Said Baru, ketika aku terbangun dari tidur lalai masa muda melalui pagi masa tua itu, munajat serta permohonan ini ditulis dalam bahasa Arab. Makna Turki sebagian darinya ialah sebagai berikut:
Wahai Rabbku Yang Rahîm dan wahai Khâliqku Yang Karîm!
Melalui pilihan burukku, usia serta masa mudaku hilang dan pergi. Dari buah-buah usia serta masa muda itu, yang tersisa dalam tanganku ialah dosa yang menyakitkan, sakit yang menghinakan, serta waswas yang menyesatkan. Dengan beban berat, hati sakit, serta wajah malu ini, aku mendekat ke kubur. Dengan melihat sendiri, aku mendekat ke pintu kubur dengan amat cepat, tanpa menyimpang ke kanan atau kiri dan tanpa pilihan, seperti sahabat, teman sebaya, serta kerabatku yang telah wafat. Kubur itu merupakan tempat tinggal pertama serta pintu pertama yang didirikan dan dibuka pada jalan abadi selamanya dengan perpisahan abadi dari negeri fana ini. Dengan yakin pasti, kupahami bahwa negeri dunia yang kuikat serta kucintai ini akan binasa dan pergi, fana dan mati. Kulihat langsung bahwa segala yang ada di dalamnya pun, rombongan demi rombongan, pergi serta hilang satu sesudah yang lain. Terutama bagi yang membawa nafsu ammarah sepertiku, dunia ini amat kejam serta penuh tipu daya. Jika memberi satu lezat, ia memasang dan membuat menanggung seribu sakit. Jika memberi satu anggur untuk dimakan, ia menampar seratus kali.
Wahai Rabbku Yang Rahîm dan wahai Khâliqku Yang Karîm!
Melalui rahasia ﻛُﻞُّ ﺍٰﺕٍ ﻗَﺮ۪ﻳﺐٌ, kini pun kulihat bahwa dalam waktu dekat aku telah mengenakan kafan, naik ke keranda, serta berpisah dengan sahabat-sahabatku. Ketika menghadap kubur dan pergi, dalam hadirat Rahmat-Mu, dengan berteriak melalui bahasa keadaan jenazahku serta bahasa perkataan ruhku, aku berkata:
El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Selamatkan aku dari malu dosa!
Kini aku telah sampai ke tepi kuburku. Dengan mengenakan kafan pada leherku, aku berdiri di atas tubuhku yang terbaring pada tepi kubur. Dengan mengangkat kepala ke hadirat Rahmat-Mu, aku berteriak serta menyeru melalui seluruh dayaku:
El-Aman! El-Aman! Yâ Rahman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Bebaskan aku dari beban berat dosa-dosaku!
Kini aku telah masuk ke kubur dan terbungkus kafan. Para pengantar meninggalkanku lalu pergi. Aku menanti Ampun serta Rahmat-Mu. Kulihat langsung bahwa tiada tempat berlindung serta selamat selain-Mu. Karena wajah buruk dosa, rupa menakutkan maksiat, serta sempitnya tempat itu, dengan seluruh dayaku aku menyeru:
El-Aman! El-Aman! Yâ Rahman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Yâ Deyyan! Selamatkan aku dari berteman dengan dosa-dosaku yang buruk; luaskan tempatku.
İlahî! Rahmat-Mu tempat berlindungku, dan Kekasih ﷺ-Mu yang merupakan Rahmeten li'l-âlemîn ialah jalanku untuk mencapai Rahmat-Mu. Aku tidak mengeluhkan-Mu; aku mengeluhkan nafsu serta keadaanku kepada-Mu.
Wahai Khâliqku Yang Karîm dan wahai Rabbku Yang Rahîm!
Makhluk, ciptaan, serta hamba-Mu bernama Said ini, meskipun membangkang, lemah, lalai, bodoh, sakit, hina, berbuat buruk, tua, celaka, dan merupakan budak yang melarikan diri dari Pemiliknya, setelah empat puluh tahun menyesal serta ingin kembali ke hadirat-Mu. Ia berlindung kepada Rahmat-Mu dan mengakui dosa serta kesalahan tak terbatasnya. Ia terikat kepada bayangan serta beragam penyakit, lalu tunduk memohon dan bermunajat kepada-Mu. Jika dengan Rahmat-Mu yang Sempurna Engkau Menerimanya, Memberi magfirah serta Rahmat, memang itulah Kemuliaan-Mu, sebab Engkau Arhamur Râhimîn. Jika tidak Menerima, ke pintu mana aku akan pergi selain Pintu-Mu? Pintu mana yang ada? Tiada Rabb selain-Mu sehingga hadirat-Nya dituju. Tiada Ma'bûd haq selain-Mu sehingga kepada-Nya berlindung!
لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ ﺍٰﺧِﺮُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺍَﻭَّﻝُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ
CATATAN KETIGA BELAS
Lima perkara yang telah menjadi dasar kekeliruan.
Yang pertama:
Orang-orang yang bekerja serta berjuang pada jalan haq, meskipun seharusnya hanya memikirkan tugasnya sendiri, memikirkan tugas yang berkaitan dengan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan mendasarkan geraknya padanya, lalu jatuh dalam salah.
Dalam Risalah Edebü'd-din Ve'd-dünya terdapat kisah bahwa suatu waktu setan menyanggah Hazret-i Isa aleyhisselâm dan berkata, ‘Karena ajal serta segala sesuatu melalui Takdir Ilahi, lemparkan dirimu dari tempat tinggi ini; lihatlah bagaimana engkau mati.’ Hazret-i Isa aleyhisselâm berkata:
ﺍِﻥَّ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍَﻥْ ﻳَﺨْﺘَﺒِﺮَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﻭَ ﻟَﻴْﺲَ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﺍَﻥْ ﻳَﺨْﺘَﺒِﺮَ ﺭَﺑَّﻪُ
Yakni, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menguji hamba-Nya dan berkata, ‘Jika engkau melakukan demikian, Aku akan Melakukan demikian kepadamu; marilah Kulihat apakah engkau dapat melakukannya,’ lalu Menguji. Namun, hamba tidak berhak serta tidak pada batasnya untuk menguji Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan berkata, ‘Jika aku bertindak demikian, apakah Engkau akan Bertindak demikian?’ Sikap menguji Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq melalui cara mencoba merupakan buruk adab serta bertentangan dengan ubudiyah.
Karena hakikat demikian, manusia harus melakukan tugasnya sendiri dan tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Dikenal bahwa suatu waktu, ketika Jalaluddin Khwarazmshah, salah satu pahlawan Islam yang telah berkali-kali mengalahkan pasukan Jengiz, pergi berperang, para menteri serta pengikutnya berkata, ‘Engkau akan menang; Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq akan Membuatmu unggul.’ Ia berkata, ‘Aku ditugaskan bergerak pada jalan jihad melalui Perintah Allah سُبْحَانَهُ; aku tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Membuat menang atau kalah adalah Tugas-Nya.’
Dengan memahami rahasia penyerahan diri ini, pribadi itu telah berkali-kali menang secara luar biasa.
Ya, dalam perbuatan yang dilakukan manusia melalui kehendak bebas manusia yang ada dalam tangannya, ia tidak sepatutnya memikirkan hasil-hasil yang berkaitan dengan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Misalnya, bergabungnya orang-orang kepada Risale-i Nur menambah semangat serta menggerakkan usaha sebagian saudara kita. Ketika orang tidak mendengarkan, daya maknawi orang-orang lemah patah dan semangat mereka padam hingga suatu tingkat. Padahal, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, Guru Mutlak ﷺ, Panutan bagi Semua ﷺ, serta Pembimbing Paling Sempurna ﷺ, menjadikan Firman Ilahi
ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ اِلَّا الْبَلَاغُ
sebagai pembimbing mutlak bagi dirinya, lalu menyampaikan dengan usaha, semangat, serta kesungguhan lebih besar ketika manusia menjauh dan tidak mendengarkan. Sebab, melalui rahasia
ﺍِﻧَّﻚَ لَا ﺗَﻬْﺪ۪ﻯ ﻣَﻦْ ﺍَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﻬْﺪ۪ﻯ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ
beliau memahami bahwa membuat manusia mendengarkan serta memberi hidayah merupakan Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Beliau tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Maka, wahai saudara-saudaraku! Kalian pun jangan mencampuri tugas yang bukan milik kalian dengan mendasarkan gerak kepadanya, dan jangan mengambil sikap mencoba terhadap Khâliq kalian!
Perkara Kedua:
Ubudiyah memandang Perintah Ilahi serta Rida Ilahi. Pengajak ubudiyah ialah Perintah Ilahi dan hasilnya ialah Rida Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Buah serta manfaatnya berkaitan dengan akhirat. Namun, dengan syarat bukan sebab tujuan serta tidak diminta sengaja, manfaat-manfaat dunia dan buah-buah yang mengikuti dengan sendirinya serta diberikan tanpa diminta tidak bertentangan dengan ubudiyah. Sebaliknya, bagi orang lemah, semuanya menjadi pendorong serta penguat pilihan. Jika manfaat serta keuntungan dunia itu menjadi sebab, atau bagian dari sebab, bagi ubudiyah, wirid, atau zikir tersebut, ia membatalkan sebagian ubudiyah itu. Bahkan, ia membiarkan wirid yang memiliki ciri khas itu tanpa buah, tidak menghasilkan.
Orang-orang yang tidak memahami rahasia ini, misalnya, membaca Evrad-ı Kudsiye-i Şah-ı Nakşibendî yang memiliki seratus ciri serta manfaat, atau Cevşenü'l-Kebir yang memiliki seribu ciri, dengan meniatkan sebagian manfaat itu sebagai tujuan itu sendiri. Mereka tidak melihat manfaat-manfaat tersebut, tidak akan melihatnya, serta tidak berhak melihatnya. Sebab, manfaat-manfaat itu tidak dapat menjadi sebab wirid-wirid tersebut dan tidak akan diminta secara sengaja serta sebagai tujuan itu sendiri darinya. Manfaat-manfaat itu mengikuti wirid ikhlas tersebut tanpa diminta sebagai karunia. Jika meniatkannya, ikhlasnya rusak hingga suatu tingkat. Bahkan, ia keluar dari ubudiyah dan kehilangan nilai.
Hanya saja, untuk membaca wirid dengan ciri khas seperti ini, manusia lemah membutuhkan pendorong serta penguat pilihan. Jika ia memikirkan manfaat-manfaat itu, bersemangat, lalu membaca wirid semata-mata demi Rida Ilahi serta akhirat, itu tidak merugikan, bahkan diterima.
Karena hikmah ini tidak dipahami, banyak orang jatuh dalam ragu, bahkan mengingkari, karena tidak melihat manfaat-manfaat yang diriwayatkan dari para kutub serta salaf saleh.
Perkara Ketiga:
:
ﻃُﻮﺑٰﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﻋَﺮَﻑَ ﺣَﺪَّﻩُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘَﺠَﺎﻭَﺯْ ﻃَﻮْﺭَﻩُ
Yakni, ‘Betapa bahagia orang yang mengenal dirinya serta tidak melampaui batasnya.’ Sebagaimana dari zarah kaca, tetes air, kolam, laut, bulan, hingga planet-planet terdapat pancaran matahari, setiapnya menurut kemampuan memegang pantulan serta gambaran matahari dan mengetahui batasnya. Setetes air berkata menurut kemampuannya, ‘Dalam diriku terdapat pantulan matahari,’ tetapi tidak dapat berkata, ‘Aku pun cermin seperti laut.’
Demikian pula, menurut ragam manifestasi Asma Ilahi, terdapat tingkat-tingkat seperti ini pada kedudukan para wali. Setiap Asma Ilahi memiliki manifestasi seperti matahari dari hati hingga Arasy. Hati pun merupakan arasy, tetapi tidak dapat berkata, ‘Aku pun seperti Arasy.’
Orang-orang yang berjalan melalui cara manja serta membanggakan diri, sebagai ganti mengetahui lemah, fakir, cacat, serta kurangnya, yang merupakan dasar ubudiyah, dan bersujud dengan munajat kepada hadirat Keilahian, menyamakan hati kecilnya dengan Arasy. Ia mencampurkan kedudukannya yang seperti tetes dengan kedudukan para wali yang seperti laut. Untuk menyesuaikan dirinya dengan kedudukan besar itu serta menjaga dirinya di sana, ia jatuh dalam berpura-pura, memaksakan diri, pamer diri tanpa makna, serta banyak kesulitan.