ZÜHRE (BUNGA)
{(): Risalah Zühre ini merupakan risalah amat penting dari Mesnevî-yi Arabî. Meskipun telah berusaha menerjemahkannya, aku menganggap lebih sesuai memasukkan persis terjemahan yang dahulu dibuat penulis atas desakan penuh permohonan para murid Nur. Antara risalah yang memperoleh nama Lem'a Ketujuh Belas dari Risale-i Nur ini dan Zühre berbahasa Arab, terdapat perbedaan ringkas-rinci serta mendahulukan-mengakhirkan.
Penerjemah Abdülmecid}
(Lem'a Ketujuh Belas)
Berasal dari Zühre dan terdiri dari Tujuh Belas Catatan.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
Pendahuluan
Dua belas tahun sebelum penulisan risalah ini {(Catatan kaki): Tanggal yang disebut dua belas tahun sebelumnya ialah tahun Hijriah 1340, Masehi 1921. (Penerbit)} dengan pertolongan Rabbani, aku telah mencatat dalam bahasa Arab beberapa kilau tauhid yang tampak dalam gerak pikiran, perjalanan hati, serta berkembangnya ruh dalam makrifat Ilahi, sebagai catatan-catatan dalam risalah-risalah seperti Zühre, Şule, Habbe, Şemme, Zerre, dan Katre.
Karena ditulis dengan hanya memperlihatkan satu ujung hakikat panjang serta menunjukkan satu sinar cahaya gemilang, dan karena hanya berbentuk pengingat serta peringatan bagi diriku sendiri, manfaat orang lain tetap terbatas. Terutama, bagian terbesar dari saudara-saudaraku yang paling istimewa serta paling dekat tidak belajar bahasa Arab. Melalui desakan serta permohonan mereka, aku terpaksa menulis makna catatan-catatan serta Lem'a-Lem'a itu dalam bahasa Turki, sebagian dengan penjelasan dan sebagian ringkas.
Karena Catatan-Catatan serta risalah-risalah Arab ini merupakan yang pertama kali dilihat Said Baru dari ilmu hakikat hingga suatu tingkat melalui melihat langsung, maknanya ditulis tanpa diubah. Karena itu, meskipun beberapa kalimat disebutkan dalam Kalimat-Kalimat lain, semuanya juga disebutkan di sini; dan meskipun sebagian amat ringkas, tidak dijelaskan agar tidak kehilangan halus aslinya.
Said Nursî
CATATAN PERTAMA
Aku telah berkata dengan menghadap nafsuku sendiri: Wahai Said yang lalai! Ketahuilah, tidak layak bagimu mengikat hati kepada sesuatu yang tidak menemanimu sesudah musnahnya alam ini dan berpisah darimu dengan hancurnya dunia. Terutama, sesuatu yang meninggalkanmu serta memalingkan punggung ketika abadmu berakhir; terlebih yang tidak menemanimu dalam perjalanan barzakh; terutama yang tidak mengantarmu hingga pintu kubur; terutama yang berpisah darimu dalam satu atau dua tahun dengan perpisahan abadi dan menggantungkan dosanya pada lehermu; terutama hal-hal fana yang meninggalkanmu ketika terwujud, bertentangan dengan keinginanmu—mengikat hatimu padanya bukan pekerjaan berakal.
Jika berakal, tinggalkan dan jangan beri arti penting kepada pekerjaan yang tertindih serta rusak di bawah perubahan akhiratmu, tahap-tahap barzakhmu, serta benturan perubahan duniamu, dan yang tidak mampu menemanimu dalam perjalanan abadi. Jangan bersedih atas sirnanya.
Pandanglah hakikatmu sendiri: Di antara latifah-latifahmu terdapat latifah yang tidak dapat rela dengan sesuatu selain abadi serta Zat Yang Abadi. Ia tidak dapat menghadap selain-Nya dan tidak sudi menerima yang lain. Jika seluruh dunia diberikan kepadanya, kebutuhan fitri itu tidak dapat dipuaskan. Sesuatu itu merupakan sultan rasa serta latifah-latifahmu. Patuhilah sultanmu yang taat kepada Perintah Sang Fâthir Yang Hakîm tersebut dan selamatlah!
CATATAN KEDUA
Dalam mimpi yang mengandung hakikat, kulihat aku berkata kepada manusia: Wahai manusia! Di antara kaidah-kaidah Al-Qur'an ialah jangan menganggap sesuatu pun selain Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq lebih besar daripada dirimu hingga tingkat engkau menyembahnya.
Jangan pula menganggap dirimu lebih besar daripada sesuatu pun hingga tingkat menyombongkan diri. Sebab, sebagaimana makhluk-makhluk sama dalam jauh dari hak disembah, dari segi menjadi makhluk pun semuanya satu.
CATATAN KETIGA
Wahai Said yang lalai! Ketahuilah, melalui jenis kekeliruan rasa, engkau melihat dunia yang amat sementara sebagai tidak mati serta tetap. Ketika memandang sekeliling serta dunia, engkau melihatnya tetap dan berlanjut hingga suatu tingkat, lalu melalui pandangan itu menganggap nafsumu yang fana juga tetap, sehingga hanya merasa gentar atas terjadinya kiamat. Seolah-olah akan hidup hingga kiamat, engkau hanya takut kepadanya. Sadarlah. Engkau serta dunia khususmu terkena pukulan sirna dan musnah terus-menerus. Kekeliruan rasa serta penalaranmu yang menipu ini menyerupai contoh berikut:
Jika seseorang menghadapkan cermin dalam tangannya kepada rumah, kota, atau kebun, rumah, kota, serta kebun gambaran terlihat dalam cermin tersebut. Jika gerak paling kecil serta perubahan kecil terjadi pada cermin, rumah, kota, serta kebun khayal itu menjadi kacau dan bercampur. Tetap serta terus adanya rumah, kota, dan kebun hakiki di luar tidak memberimu manfaat, sebab rumah dalam cermin di tanganmu, kota serta kebun yang berkaitan denganmu, hanya menurut ukuran dan timbangan yang diberikan cermin kepadamu.
Hidup serta usiamu merupakan cermin. Tiang, cermin, serta pusat duniamu ialah usia dan hidupmu. Karena setiap menit rumah, kota, serta kebun itu mungkin mati dan mungkin hancur, keadaannya dapat runtuh di atas kepalamu setiap menit dan kiamatmu dapat terjadi.
Karena demikian, jangan membebani hidup serta duniamu ini dengan beban yang tidak dapat ditanggung dan diangkatnya!
CATATAN KEEMPAT
Ketahuilah, kebanyakan merupakan Adat Sang Fâthir Yang Hakîm untuk Menghadirkan kembali hal-hal penting serta berharga secara persis. Yakni, dalam pergantian musim serta perubahan abad, ketika kebanyakan sesuatu diperbarui dengan yang serupa, Dia Menghadirkan kembali secara persis hal-hal penting serta berharga itu. Harian serta tahunan serta dalam seluruh kebangkitan antarabad, kaidah sunatullah ini kebanyakan tampak berlangsung terus-menerus.
Berdasarkan kaidah tetap ini, kita berkata: Karena menurut persetujuan ilmu-ilmu serta kesaksian pengetahuan, buah paling sempurna pohon penciptaan ialah manusia, yang paling penting di antara makhluk ialah manusia, yang paling berharga di antara segala yang ada ialah manusia, dan satu individu manusia seperti satu jenis hewan lainnya,
tentu melalui pemahaman intuitif pasti diputuskan bahwa dalam kebangkitan serta hidup kembali terbesar, setiap individu manusia akan dihadirkan kembali secara persis, dengan tubuh, nama, serta rupanya.
CATATAN KELIMA
Dalam catatan ini, karena ilmu serta peradaban Eropa telah memperoleh tempat hingga suatu tingkat dalam pikiran Said Lama, ketika Said Baru berjalan dalam gerak pikiran, ilmu serta peradaban Eropa berubah menjadi penyakit-penyakit hati dalam perjalanan hati itu, lalu menjadi dasar bagi kesulitan yang bertambah. Karena itu, ketika Said Baru terpaksa hendak mengibaskan pikirannya dan membuang filsafat berhias palsu serta peradaban yang hidup sia-sia, untuk membungkam perasaan-perasaan nafsani yang bersaksi bagi pihak Eropa dalam ruhnya sendiri, ia terpaksa melakukan percakapan berikut dengan pribadi maknawi Eropa, yang dari satu segi amat singkat dan dari segi lain panjang.
Jangan salah dipahami; Eropa terbagi dua:
Yang satu ialah Eropa yang, melalui limpahan yang diambilnya dari agama hakiki Isa serta Islam, mengikuti seni-seni bermanfaat bagi hidup sosial manusia dan ilmu-ilmu yang melayani keadilan serta kebenaran. Aku tidak menghadap Eropa ini.
Aku menghadap Eropa kedua yang rusak, yang melalui gelap filsafat alam menganggap keburukan peradaban sebagai kebaikan, lalu menyeret manusia menuju hidup sia-sia serta sesat. Demikianlah:
Saat itu, dalam perjalanan ruh tersebut, kepada pribadi maknawi Eropa yang memegang filsafat tanpa guna serta merugikan dan peradaban yang merugikan serta hidup sia-sia, selain kebaikan peradaban dan ilmu-ilmu bermanfaat, aku telah berkata:
Ketahuilah, wahai Eropa kedua! Dengan memegang filsafat sakit serta sesat dalam tangan kananmu dan peradaban sia-sia serta merugikan dalam tangan kirimu, engkau menyatakan bahwa bahagia manusia terjadi melalui keduanya. Semoga kedua tanganmu patah, dan kedua hadiah kotormu ini memakan kepalamu; keduanya akan memakannya.
Wahai ruh malang yang membagi serta menyebarkan kufur dan tidak bersyukur! Mungkinkah orang yang telah tertimpa musibah dahsyat serta jatuh dalam azab, baik dalam ruh, hati nurani, akal, maupun hatinya, bahagia melalui tubuhnya yang secara lahiriah berada dalam hiasan serta kekayaan menipu? Dapatkah ia disebut bahagia?
Tidakkah engkau melihat bahwa karena seseorang putus asa dari suatu urusan kecil, kehilangan harapan dari harapan dalam bayangan, serta kecewa karena pekerjaan tak penting, khayal manis menjadi pahit baginya, keadaan menyenangkan menyiksanya, dan dunia menjadi sempit serta penjara baginya?
Padahal, bahagia apakah yang engkau jamin bagi manusia malang yang melalui buruk pengaruhmu menerima pukulan sesat pada sudut terdalam hati serta dasar ruhnya, yang karena sesat itu seluruh harapannya terputus dan seluruh sakitnya berasal darinya?
Dapatkah disebut bahagia manusia yang tubuhnya berada dalam surga palsu yang akan sirna, tetapi hati serta ruhnya tersiksa dalam neraka? Engkau telah menyesatkan manusia malang seperti ini, dan membuatnya merasakan azab seperti neraka dalam surga palsu.
Wahai nafsu ammarah umat manusia! Lihatlah perumpamaan ini dan ketahuilah ke mana engkau mengarahkan manusia. Misalnya, di hadapan kita terdapat dua jalan. Kita pergi melalui salah satunya. Kita melihat bahwa pada setiap langkah terdapat orang malang yang lemah. Orang-orang zalim menyerang, merampas harta serta barangnya, menghancurkan gubuknya, dan kadang melukainya, dengan cara yang membuat langit menangisi keadaannya yang menyedihkan. Ke mana pun dipandang, keadaan berlangsung seperti ini. Karena suara yang terdengar di jalan itu ialah bising orang zalim serta tangis orang terzalimi, perkabungan umum meliputi jalan tersebut. Karena manusia, dari segi sifat manusia, merasa sakit melalui sakit orang lain, ia terikat kepada sakit tak terbatas.
Padahal, karena hati nurani tidak mampu menanggung sakit sebesar ini, orang yang berjalan pada jalan itu terpaksa mengambil salah satu dari dua hal. Ia melepaskan sifat manusia dan memegang keliaran tak berujung, sehingga membawa hati yang tidak terpengaruh oleh binasanya semua bersama selamatnya dirinya; atau membatalkan tuntutan hati serta akal.
Wahai Eropa yang rusak dalam hidup sia-sia serta sesat dan menjauh dari agama Isa! Dengan kejeniusanmu yang buta, yang membawa satu mata seperti Dajjal, engkau menghadiahkan keadaan seperti neraka ini kepada ruh manusia! Kemudian engkau memahami bahwa ini penyakit tanpa obat yang melempar manusia dari tempat paling tinggi ke tempat paling rendah, serta menurunkannya ke tingkat hewan paling malang. Obat yang engkau temukan menghadapi penyakit ini ialah mainan-mainan memikat serta hasrat dan fantasi pembiusmu, yang sementara menjalankan tugas membatalkan rasa. Semoga obatmu ini memakan kepalamu; ia akan memakannya!
Jalan yang engkau buka serta bahagia yang engkau berikan kepada manusia seperti contoh ini.
Adapun jalan kedua, yang Al-Qur'an Al-Hakîm hadiahkan kepada manusia melalui hidayahnya, demikianlah: Kita melihat bahwa pada setiap tempat tinggal, tempat, serta kota di jalan itu, prajurit-prajurit lurus seorang Sultan Yang Adil berada dan berkeliling di segala penjuru. Kadang, melalui perintah Sultan itu, sebagian prajurit dibebaskan dari tugas. Senjata, kuda, serta perlengkapan negara mereka diambil, lalu mereka diberi surat izin. Meskipun prajurit yang dibebaskan itu secara lahiriah bersedih karena kuda serta senjata yang telah diakrabinya diambil kembali, dalam hakikat ia bergembira melalui pembebasan dari tugas. Ia amat puas dari segi mengunjungi Sultan, kembali ke ibu kota raja, serta mengunjungi raja. Kadang petugas pembebasan menjumpai prajurit baru. Prajurit tidak mengenal mereka. Mereka berkata, ‘Serahkan senjatamu!’ Prajurit berkata, ‘Aku prajurit raja, melayaninya; kemudian aku akan pergi ke sisinya. Siapakah kalian? Jika datang dengan izin serta ridanya, kalian kusambut dengan penuh hormat; perlihatkan perintahnya. Jika tidak, mundur dan jauhlah dariku. Sekalipun aku tinggal sendiri dan kalian berjumlah ribuan, tetap aku akan bertempur dengan kalian. Bukan bagi nafsuku sendiri, sebab nafsuku bukan milikku, melainkan milik sultanku. Nafsu serta senjataku padaku merupakan amanah pemilikku. Untuk menjaga amanah, melindungi martabat sultanku, serta menjaga kemuliaannya, aku tidak akan menundukkan kepala kepada kalian!’
Keadaan ini merupakan satu contoh dari ribuan keadaan yang menjadi dasar sukacita serta bahagia pada jalan kedua. Bandingkanlah keadaan-keadaan lainnya. Dalam seluruh perjalanan pada jalan kedua itu terdapat penghimpunan serta pengarahan militer dengan gembira dan riang bernama ‘kelahiran’, dan pembebasan militer dengan sukacita serta musik bernama ‘kematian’.
Al-Qur'an Al-Hakîm telah menghadiahkan jalan ini kepada manusia. Siapa yang menerima hadiah ini sepenuhnya berjalan melalui jalan kedua yang menuju bahagia dua alam itu. Ia tidak bersedih atas yang telah berlalu ataupun takut kepada yang akan datang.
Wahai Eropa kedua yang rusak! Sebagian dasar-dasarmu yang lapuk serta tanpa landasan ialah perkataanmu, ‘Setiap makhluk hidup, dari malaikat terbesar hingga ikan paling kecil, memiliki nafsunya sendiri, bekerja bagi zatnya sendiri, serta berusaha demi lezatnya sendiri. Ia memiliki hak hidup. Tujuan perhatian serta sasaran maksudnya ialah hidup dan menjamin terus adanya.’
Manifestasi penuh Rahmat serta Kemurahan dari hukum umum yang tampak melalui kaidah-kaidah Kemurahan Khâliq Yang Karîm dan kaidah saling membantu yang dipatuhi dengan taat sempurna dalam unsur-unsur utama kainat—melalui tumbuhan bergegas membantu hewan dan hewan menolong manusia—engkau anggap pertarungan, lalu dengan bodoh memutuskan, ‘Hidup merupakan pertarungan.’
Bagaimana bergegasnya zarah-zarah makanan dengan semangat sempurna untuk memberi makan sel-sel tubuh, yang merupakan manifestasi kaidah saling membantu itu, merupakan pertarungan? Bagaimana ia merupakan benturan? Sebaliknya, pertolongan serta bergegas itu merupakan saling membantu melalui Perintah Rabb Yang Karîm.
Satu dasarmu yang lapuk lagi ialah perkataanmu, ‘Segala sesuatu memiliki nafsunya sendiri.’ Dalil pasti bahwa tiada sesuatu pun memiliki nafsunya sendiri ialah:
Di antara sebab-sebab, yang paling mulia dan memiliki kehendak paling luas dari segi pilihan ialah manusia. Padahal, dari seratus bagian tindakan pilihannya yang paling nyata, seperti berpikir, berbicara, serta makan, yang diberikan kepada tangan pilihannya dan masuk ke lingkaran dayanya hanyalah satu bagian yang diragukan. Bagaimana orang yang tidak memiliki satu dari seratus bagian tindakan paling nyata dapat disebut memiliki dirinya sendiri? Jika yang paling mulia serta paling luas pilihannya seperti ini begitu terikat tangannya dari pengelolaan hakiki serta hak milik, orang yang berkata, ‘Hewan-hewan serta benda tak bernyawa lainnya memiliki dirinya sendiri,’ membuktikan bahwa ia lebih hewani daripada hewan serta lebih tak bernyawa dan tanpa kesadaran daripada benda tak bernyawa.
Yang melemparmu ke kesalahan serta menjatuhkanmu ke jurang ini ialah kejeniusanmu yang bermata satu, yakni kecerdasanmu yang luar biasa serta buruk pengaruhnya. Dengan kejeniusanmu yang buta itu, engkau melupakan Rabbmu, Khâliq segala sesuatu, menyandarkan kepada tabiat yang dibayangkan, memberikan karya-karya-Nya kepada sebab-sebab, dan membagi harta Khâliq itu kepada tagut-tagut yang disembah secara batil.
Pada titik ini dan dalam pandangan kejeniusan itu, setiap makhluk hidup serta setiap manusia harus sendiri melawan musuh tak terbatas dan berusaha memperoleh kebutuhan tak berujung. Dengan kemampuan seperti zarah, pilihan seperti kawat tipis, kesadaran seperti kilau yang sirna, serta seperti nyala yang cepat padam, hidup, dan usia seperti menit yang cepat berlalu, ia terpaksa bertahan menghadapi musuh serta kebutuhan tak terbatas. Padahal, modal makhluk hidup malang itu tidak cukup bagi satu dari ribuan hal yang dimohonnya. Ketika terkena musibah, ia tidak mengharapkan obat bagi deritanya selain dari sebab-sebab tuli serta buta, dan menjadi tempat tampak rahasia
ﻭَﻣَﺎ ﺩُﻋَٓﺎﺀُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ضَلَالٍ.
Kejeniusanmu yang gelap telah mengubah siang umat manusia menjadi malam. Untuk hanya membiasakannya dengan malam sempit, zalim, serta gelap itu, engkau meneranginya dengan lampu-lampu palsu dan sementara. Lampu-lampu tersebut tidak tersenyum dengan sukacita kepada wajah manusia. Sebaliknya, cahaya-cahaya itu tertawa serta mengolok tawa bodoh manusia dalam keadaan pahitnya yang patut ditangisi.
Dalam pandangan murid-muridmu, setiap makhluk hidup merupakan korban musibah miskin yang terkena serangan orang zalim. Dunia merupakan rumah perkabungan umum. Suara-suara dalam dunia ialah ratapan yang berasal dari mati serta sakit.
Murid yang mengambil pelajaran penuh darimu menjadi Firaun. Namun, ia merupakan Firaun hina yang menyembah hal paling rendah serta menganggap setiap hal yang dilihatnya bermanfaat sebagai rabb bagi dirinya.
Muridmu pun keras kepala, tetapi keras kepala yang miskin, yang menerima kehinaan tertinggi demi satu lezat. Demi manfaat rendah, ia memperlihatkan rendah hingga tingkat mencium kaki setan.
Ia pun menindas, tetapi karena tidak dapat menemukan titik sandaran dalam hati, pada dirinya ia merupakan penindas yang amat lemah dan memamerkan diri.
Murid itu merupakan penipu yang tujuan perhatiannya ialah memuaskan hasrat nafsani, mencari manfaat nafsunya sendiri di bawah tirai semangat serta pengorbanan, dan berusaha menenangkan tamak serta kesombongannya. Ia tidak sungguh mencintai sesuatu pun selain nafsunya. Ia mengorbankan segala sesuatu bagi nafsunya.
Adapun murid Al-Qur'an yang ikhlas serta penuh merupakan hamba, tetapi hamba mulia yang tidak sudi berubudiyah bahkan kepada makhluk terbesar, dan tidak menjadikan manfaat paling besar serta agung seperti surga sebagai tujuan ubudiyah.
Ia pun lembut serta damai, tetapi lembut yang bersemangat luhur, yang tidak sudi merendah kepada selain Sang Fâthir Dzul-Jalâl tanpa Izin serta Perintah-Nya.
Ia pun fakir, tetapi fakir yang tidak membutuhkan, melalui balasan yang telah disimpan Mâliknya Yang Karîm baginya di masa depan.
Ia pun lemah, tetapi lemah yang kuat, yang bersandar kepada Daya Pemiliknya Yang Kudrat-Nya tak berujung. Karena Al-Qur'an bahkan tidak menjadikan surga abadi sebagai sasaran tujuan bagi murid hakikinya, apakah ia akan menjadikan dunia fana yang sirna ini sebagai sasaran tujuannya?
Pahamilah betapa berbeda semangat kedua murid itu satu sama lain.
Dengan ini, kalian dapat membandingkan semangat serta pengorbanan murid-murid filsafat sakit dan murid-murid Al-Qur'an Al-Hakîm. Demikianlah:
Murid filsafat melarikan diri dari saudaranya demi nafsunya sendiri, lalu mengajukan perkara melawannya. Adapun murid Al-Qur'an menganggap seluruh hamba saleh di langit serta bumi sebagai saudaranya. Ia berdoa bagi mereka dengan amat tulus, berbahagia melalui bahagia mereka, dan merasakan hubungan kuat kepada mereka dalam ruhnya. Ia juga menganggap hal terbesar seperti Arasy serta matahari sebagai petugas yang tunduk, dan sebagai hamba serta makhluk seperti dirinya.
Bandingkan pula kemuliaan serta berkembangnya ruh kedua murid dari hal ini: Al-Qur'an membuat ruh murid-muridnya berkembang serta luhur sedemikian rupa sehingga, sebagai ganti tasbih sembilan puluh sembilan butir, ia memberi kepada tangan murid-muridnya zarah-zarah sembilan puluh sembilan alam yang memperlihatkan manifestasi sembilan puluh sembilan Asma Ilahi sebagai butir-butir tasbih. Ia berkata, ‘Bacalah wirid-wirid kalian dengannya.’
Dengarkan serta lihatlah ketika murid-murid Al-Qur'an seperti Syah Jailani, Rufaî, dan Şazelî (ra) membaca wirid mereka! Mereka memegang dalam tangan rangkaian zarah, jumlah tetes, serta jumlah napas makhluk dan membaca wirid-wirid dengannya. Mereka berzikir serta bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Lihatlah pemeliharaan bersifat mukjizat dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya: Betapa tinggi manusia kecil ini naik melalui pemeliharaan Al-Qur'an, padahal kepalanya berputar dan ia bingung karena sedih paling kecil serta duka ringan, dan dikalahkan mikroba kecil. Betapa berkembang latifah-latifahnya sehingga ia melihat seluruh yang ada dalam dunia besar kurang untuk menjadi tasbih bagi wiridnya. Meskipun menganggap surga kecil untuk menjadi tujuan zikir serta wiridnya, ia tidak menganggap nafsunya besar di atas makhluk Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang paling rendah. Ia menghimpun kemuliaan tertinggi bersama rendah hati tertinggi. Engkau dapat membandingkan betapa rendah serta kecil murid-murid filsafat dibanding dengannya.
Terhadap hakikat-hakikat yang dilihat secara salah oleh kejeniusan bermata satu dari filsafat Eropa yang sakit, hidayah Al-Qur'an yang memandang dua alam dengan dua mata gemilang yang mengenal gaib, serta menunjuk dua bahagia bagi manusia dengan kedua tangannya, berkata:
‘Wahai manusia! Nafsu serta harta dalam tanganmu bukan milikmu, melainkan amanah bagimu. Pemilik amanah itu Rahîm Yang Karîm, Yang Berdaya atas segala sesuatu serta Mengetahui segala sesuatu. Dia ingin Membeli darimu milik-Nya yang berada padamu agar Menjaganya bagimu dan tidak hilang. Kelak Dia akan Memberimu harga penting. Engkau prajurit yang bertugas serta ditugaskan. Bekerjalah dengan Nama-Nya dan beramallah atas nama-Nya. Dialah Yang Mengirim kepadamu hal-hal yang engkau perlukan sebagai rezeki dan Menjagamu dari hal-hal yang dayamu tidak cukup menghadapinya. Tujuan serta hasil hidupmu ini ialah menjadi tempat tampak Asma serta Syuunat Mâlik itu. Ketika musibah datang kepadamu, ucapkanlah:
ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ
Yakni, aku berada dalam khidmah Mâlikku. Wahai musibah! Jika datang dengan Izin serta Rida-Nya, selamat datang, datanglah dengan menyenangkan. Sebab, tentu suatu waktu kita akan kembali kepada-Nya, pergi ke hadirat-Nya, dan kita merindukan-Nya. Karena suatu waktu Dia pasti akan Membebaskan kita dari beban-beban hidup, marilah wahai musibah, biarlah pembebasan dari tugas serta pelepasan itu melalui tanganmu; aku rela. Jika Dia Memerintah serta Menghendakimu dalam bentuk menguji penjagaan amanah dan kecintaanku kepada tugas, tetapi tidak Mengizinkan serta Meridai aku menyerah kepadamu, selama dayaku cukup aku tidak akan menyerahkan amanah Mâlikku kepada yang tidak dapat dipercaya!’
Lihatlah tingkat pelajaran-pelajaran yang diberikan kejeniusan filsafat serta hidayah Al-Qur'an sebagai satu contoh dari seribu. Ya, keadaan hakiki kedua pihak berjalan melalui cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tingkat manusia dalam hidayah serta sesat berbeda, dan tingkat-tingkat lalai pun beragam. Setiap orang tidak dapat merasakan hakikat ini sepenuhnya pada setiap tingkat, sebab lalai membatalkan rasa. Pada masa ini ia telah membatalkan rasa hingga tingkat orang-orang beradab tidak merasakan pedih sakit ini. Namun, melalui bertambahnya kepekaan ilmu serta peringatan kematian yang memperlihatkan tiga puluh ribu jenazah setiap hari, tirai lalai itu terkoyak. Ribuan kutukan serta sesal bagi orang-orang yang menuju sesat melalui tagut-tagut serta ilmu alam orang asing, dan bagi orang-orang yang meniru serta mengikuti mereka secara buta!
Wahai para pemuda tanah air ini! Jangan berusaha meniru orang Eropa! Setelah kezaliman serta permusuhan tak terbatas yang Eropa lakukan kepada kalian, dengan akal apa kalian mengikuti dan mempercayai hidup sia-sia serta pikiran batil mereka? Tidak! Tidak! Wahai yang meniru secara sia-sia, kalian bukan mengikuti, melainkan tanpa sadar bergabung dengan barisan mereka dan menghukum mati diri sendiri serta saudara-saudara kalian. Sadarlah bahwa semakin mengikuti secara tanpa akhlak, kalian berdusta dalam pengakuan semangat! Sebab, mengikuti melalui bentuk ini merupakan peremehan terhadap ikatan bangsa kalian serta olok-olok kepada bangsa!
ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢِ
CATATAN KEENAM
Wahai manusia malang yang panik serta merusak keyakinannya karena banyaknya orang kafir dan kesepakatan mereka dalam mengingkari sebagian hakikat iman! Ketahuilah:
Nilai serta arti penting bukan dalam jumlah dan banyaknya bilangan. Sebab, jika manusia tidak menjadi manusia, ia berubah menjadi hewan setani. Semakin manusia maju dalam nafsu hewani, seperti sebagian orang Eropa serta orang berwatak Eropa, ia memperoleh tingkat hewani yang lebih keras. Engkau melihat bahwa meskipun hewan-hewan memiliki jumlah serta bilangan tak terbatas banyaknya, dan dibanding dengannya manusia amat sedikit, manusia telah menjadi sultan, khalifah, serta penguasa atas seluruh jenis hewan.
Orang-orang kafir yang merugikan serta orang-orang yang hidup sia-sia mengikuti jalan mereka merupakan suatu jenis makhluk buruk di antara hewan-hewan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, yang Diciptakan Sang Fâthir Yang Hakîm untuk pembangunan dunia. Untuk Memberitahukan tingkat nikmat yang Diberikan-Nya kepada hamba-hamba beriman, Dia Menjadikan mereka satuan pembanding, dan pada akhirnya Menyerahkan mereka kepada neraka yang layak mereka terima.
Tiada daya dalam pengingkaran serta penyangkalan orang-orang kafir dan sesat terhadap suatu hakikat iman. Sebab, melalui rahasia menyangkal, kesepakatan mereka tanpa daya. Seribu orang yang menyangkal seperti satu. Misalnya, jika seluruh penduduk Istanbul menyangkal karena tidak melihat bulan pada awal Ramadan, melalui bukti dua saksi, penyangkalan serta kesepakatan kelompok amat besar itu jatuh. Karena hakikat kufur serta sesat ialah menyangkal dan mengingkari, bodoh dan tidak ada, kesepakatan orang-orang kafir dengan jumlah banyak tidak penting.
Dalam perkara iman yang haq, tetap, serta telah dibuktikan kepastiannya, putusan dua orang beriman dari ahli haq yang bersandar kepada melihat langsung lebih kuat dan mengalahkan kesepakatan orang-orang sesat tak terbatas. Rahasia hakikat ini ialah:
Pernyataan orang-orang yang menyangkal, meskipun satu dalam rupa, sebenarnya banyak dan tidak dapat berhimpun satu sama lain untuk menjadi kuat. Pernyataan orang-orang yang membuktikan berhimpun serta mengambil daya dari satu sama lain. Sebab, yang tidak melihat hilal Ramadan di langit berkata, ‘Dalam pandanganku tiada bulan, di sisiku tidak terlihat.’ Yang lain berkata, ‘Dalam pandanganku tiada.’ Yang lainnya berkata demikian pula. Setiapnya berkata ‘Tiada’ dalam pandangannya sendiri. Karena pandangan setiap orang berbeda dan sebab-sebab yang menjadi tirai bagi pandangan juga dapat berbeda, pernyataan mereka pun berbeda dan tidak dapat saling memberi daya.
Namun, yang membuktikan tidak berkata, ‘Dalam pandangan serta mataku terdapat hilal,’ melainkan, ‘Dalam nafsul-amr, pada wajah langit terdapat hilal dan terlihat.’ Seluruh yang melihat menyatakan perkara yang sama dan berkata, ‘Dalam nafsul-amr ia ada.’ Maka, seluruh pernyataan satu.
Karena pandangan orang-orang yang menyangkal berbeda, pernyataan mereka pun berbeda. Mereka tidak dapat memutuskan mengenai nafsul-amr, sebab penyangkalan tidak dapat dibuktikan dalam nafsul-amr karena diperlukan meliputi seluruhnya.
ﻭَﺍﻟْﻌَﺪَﻡُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖُ لَا ﻳُﺜْﺒَﺖُ اِلَّا بِمُشْكِلَاتٍ ﻋَﻈ۪ﻴﻤَﺔٍ
merupakan kaidah usul. Ya, jika engkau berkata sesuatu ada di dunia, cukup hanya memperlihatkan sesuatu itu. Jika berkata tiada serta menyangkal, harus menyaring dan memperlihatkan seluruh dunia agar penyangkalan tersebut terbukti.
Berdasarkan rahasia ini, orang-orang kufur menyangkal suatu hakikat seperti menyelesaikan suatu perkara, melewati lubang sempit, atau melompati parit: seribu serta satu sama, sebab tidak dapat saling membantu. Namun, karena yang membuktikan memandang nafsul-amr serta keadaan hakiki, pernyataan mereka berhimpun. Daya mereka saling membantu, seperti mengangkat batu besar: semakin banyak tangan memegang, semakin mudah diangkat dan semuanya mengambil daya dari satu sama lain.
CATATAN KETUJUH
Wahai pemamer semangat yang malang, yang amat mendorong kaum Muslim kepada dunia serta memaksa mereka menuju seni dan kemajuan orang asing! Perhatikanlah agar ikatan-ikatan yang mengikat sebagian bangsa ini kepada agama tidak putus! Jika ikatan agama sebagian orang putus di bawah gada-gadamu yang bodoh serta buta seperti ini, orang-orang tanpa agama itu akan merugikan hidup sosial seperti racun mematikan.
Sebab, karena hati nurani orang murtad rusak seluruhnya, ia menjadi racun bagi hidup sosial. Karena itu, dalam ilmu usul terdapat kaidah dasar syariat, ‘Orang murtad tidak memiliki hak hidup. Orang kafir, jika menjadi zimi atau melakukan perdamaian, memiliki hak hidup.’ Dalam mazhab Hanafi pun, kesaksian orang kafir dari ahli zimah diterima. Namun, kesaksian orang fasik ditolak, sebab ia pengkhianat.
Wahai orang fasik yang malang! Jangan tertipu dengan memandang banyaknya orang fasik dan jangan berkata, ‘Pikiran kebanyakan orang bersamaku.’ Sebab, orang fasik tidak masuk ke dalam kefasikan dengan sengaja serta memintanya sebagai tujuan itu sendiri, melainkan jatuh ke dalamnya dan tidak dapat keluar. Tiada orang fasik yang tidak berharap menjadi saleh dan tidak ingin melihat atasan serta pemimpinnya taat beragama, kecuali—el-iyazü billah—melalui murtad hati nuraninya membusuk dan ia menikmati meracuni seperti ular.
Wahai kepala gila serta hati rusak! Apakah engkau menyangka, ‘Kaum Muslim tidak mencintai atau memikirkan dunia, sehingga jatuh dalam fakir dan memerlukan peringatan agar tidak melupakan bagiannya dari dunia’? Sangkamu salah, perkiraanmu keliru. Sebaliknya, tamak telah mengeras, karena itu mereka jatuh dalam fakir. Sebab, pada orang beriman, tamak merupakan sebab rugi serta sengsara.
ﺍَﻟْﺤَﺮ۪ﻳﺺُ ﺧَﺎﺋِﺐٌ ﺧَﺎﺳِﺮٌ
telah menjadi seperti peribahasa.
Ya, sebab-sebab yang mengajak serta mengarahkan manusia kepada dunia banyak. Ia memiliki banyak pengajak seperti nafsu, hawa hasrat, kebutuhan, daya, rasa, setannya, manis lahiriah dunia, dan sahabat-sahabat buruk sepertimu. Padahal, yang mengajak kepada akhirat kekal serta hidup abadi yang panjang sedikit.
Jika pada dirimu terdapat semangat sebesar zarah bagi bangsa malang ini, dan pembicaraanmu tentang semangat luhur bukan dusta, engkau harus membantu yang sedikit, yang menolong hidup kekal. Jika tidak, apabila membungkam pengajak yang sedikit itu dan membantu yang banyak, engkau menjadi sahabat setan.
Apakah engkau menyangka fakirnya bangsa ini berasal dari zuhud yang datang dari agama serta malas yang datang dari meninggalkan dunia? Dalam sangka ini engkau keliru. Tidakkah engkau melihat bahwa di Cina dan India, bangsa-bangsa yang masuk di bawah kuasa Eropa, seperti kaum Majusi serta Brahmana dan orang-orang kulit hitam di Afrika, lebih fakir daripada kita? Tidakkah engkau juga melihat bahwa tidak dibiarkan dalam tangan kaum Muslim lebih daripada makanan yang mutlak perlu? Orang-orang zalim kafir Eropa atau munafik Asia, melalui tipu daya, mencuri atau merampasnya.
Jika tujuan kalian dalam memaksa ahli iman menuju peradaban tanpa mim seperti ini ialah memastikan ketertiban serta aman dalam negeri dan mengelola dengan mudah, ketahuilah secara pasti bahwa kalian keliru serta mengarahkan kepada jalan salah. Sebab, mengelola seratus orang fasik yang keyakinannya terguncang serta akhlaknya rusak dan memastikan tertib di antara mereka lebih sukar daripada mengelola ribuan orang saleh.
Berdasarkan dasar-dasar ini, kaum Muslim tidak perlu diarahkan serta didorong kepada dunia dan tamak. Kemajuan serta tertib tidak dijamin melalui ini. Sebaliknya, mereka memerlukan pengaturan usaha, penegakan saling percaya di antara mereka, serta dimudahkannya kaidah saling membantu. Kebutuhan ini hanya melalui perintah-perintah suci agama, takwa, serta teguhnya agama.