DAFTAR ISI
Pendahuluan
1- LEM'ALAR
Mengenai tauhid, merupakan dasar Kalimat Kedua Puluh Dua dalam Risale-i Nur dan dari satu segi bentuk bahasa Arabnya. Melalui empat belas Lem'a, ia merupakan risalah amat berharga yang memperlihatkan rangkaian dalil serta kesaksian yang menjadikan hakikat-hakikat tauhid paling halus sebagai tempat tampak hakikat
ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ
dengan cara paling rinci, dan yang diperlukan setiap orang seperti udara, air, serta roti.
Tiga risalah bernama Lâsiyyemalar, Lem'alar, serta Reşhalar yang dimasukkan pada awal Mesnevî Nur tidak berbicara tentang perkara-perkara terpisah seperti risalah-risalah pada akhir; semuanya berjalan pada pokok yang sama.
2- REŞHALAR
Risalah Reşhalar ini membuktikan melalui bukti amat pasti serta gemilang hakikat kenabian dan kenabian Ahmad ﷺ, salah satu dari tiga rukun iman paling penting. Sebagaimana matahari tidak mungkin tidak memberi sinar, ia membuktikan bahwa Keilahian pun tidak mungkin tanpa tugas kerasulan. Ia memperlihatkan hakikat kenabian seperti matahari. Dengan menggambarkan kainat sebagai Al-Qur'an besar berjasad, ia memperlihatkan kepada yang matanya tanpa tirai serta hatinya tanpa karat bahwa Muhammad Arab ﷺ merupakan ayat terbesarnya.
Risalah luar biasa ini terdiri dari sebelas Tetesan. Dalam Tetesan Kesebelas, ia mengucapkan salawat mulia yang mengisyaratkan dua puluh satu mukjizat Ahmad ﷺ kepada Junjungan kita, Nabi Yang Agung ﷺ.
Sesudah Tetesan Kesebelas, dalam suatu i'lem panjang, ia memperlihatkan dalil-dalil yang belum dilihat mengenai kenabian Ahmad ﷺ melalui cara lain.
Bentuk Turki risalah ini terdapat dalam Kalimat Kesembilan Belas pada Risale-i Nur.
Tiga risalah pada awal Mesnevî ini bukan karya ‘Said Lama’, melainkan menurut ungkapan Üstad kita karya ‘Said Baru’. Sebagaimana beberapa karya lama Üstad kita masuk dalam Risale-i Nur, karya-karya Arab yang ditulisnya pada masa penulisan Risale-i Nur juga dimasukkan ke Mesnevî-i Arabiye melalui cara ini.
3- LÂSİYYEMALAR
Risalah mengenai iman kepada kebangkitan ini merupakan dasar Kalimat Kesepuluh dalam Risale-i Nur. Ia risalah amat berharga serta amat diperlukan pada masa ini, yang terbit di Barla sesudah Üstad kita melihat langsung karya Rahmat Ilahi dalam kebun pada suatu hari musim semi serta tanpa sengaja membaca ayat mulia
ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
hampir empat puluh kali. Ia memotong hingga akar gagasan mengingkari kebangkitan, membuat pemahaman paling sederhana menerima kebangkitan yang mengenai itu seorang genius menakjubkan seperti Ibnu Sina berkata, ‘Kebangkitan perkara riwayat; akal tidak dapat menempuh jalan ini,’ memperlihatkan ribuan contoh kebangkitan pada permukaan bumi, dan membuktikan kebangkitan dari banyak Asma Ilahi yang mengharuskannya hingga bahkan hakikat manusia.
Sebagai tampaknya kaidah baik, sebagaimana pada awal setiap risalah, pada awal risalah ini pun terdapat pujian kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta salawat dan salam kepada Nabi Yang Agung ﷺ. Karena terdapat hubungan penuh serta saling mengharuskan yang pasti antara iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, iman kepada Nabi ﷺ, iman kepada kebangkitan, serta melihat kainat, risalah ini secara singkat berbicara tentang hakikat ‘tauhid serta tugas kerasulan’, lalu melalui ‘Lâsiyyema’ berpindah ke perkara kebangkitan sebagai perkara pokok. Risalah yang merupakan Bagian Kedua Kalimat Kedua Puluh Delapan dalam Risale-i Nur ini baru sampai ke tangan Üstad kita setelah dua puluh tahun.
4- KATRE
Risalah Katre ini terdiri dari pendahuluan, penutup, serta empat bab. Dalam Pendahuluan, Üstad kita menyatakan bahwa selama empat puluh tahun usianya, dalam perjalanan ilmu tiga puluh tahun dibanding dengan tahun penulisannya, ia mempelajari empat kata serta empat perkataan. Empat kata itu ialah makna harfi, makna ismi, niat, serta pandangan. Empat perkataan ialah yang pertama, ‘Aku bukan pemilik diriku sendiri,’ yang kedua ‘El-mevtü hakkun’, yang ketiga ‘Rabbî vâhidün’, dan yang keempat ‘Ene merupakan titik hitam serta satuan pembanding’. Sebagai Bab Pertama, setiap unsur utama kainat membuktikan hakikat
ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
dalam risalah ini melalui lima puluh lima bahasa kulli serta amat nyata.
Kata Penghargaan
Penutup Katre
Ia berbicara tentang hakikat-hakikat beragam serta singkat tetapi amat perlu dan penting. Pada awalnya, sesudah menjelaskan empat penyakit nafsu seperti ‘putus asa, ujub, sombong, serta suuzan’, kemudian empat hakikat, lalu hakikat ‘Lâ ilahe illallah’ pada Bab Pertama yang disebut dalam Katre, serta sebagai lanjutannya tingkat ‘Sübhanallah’ pada Bab Kedua, ‘Elhamdülillah’ pada Bab Ketiga, dan ‘Allahu ekber’ pada Bab Keempat, ia berpindah ke i'lem-i'lem yang berbeda pokok satu sama lain dengan judul Titik serta Butir Hikmah.
Tambahan Katre
Di bawah sebutan ‘Remiz’ serta ‘İ'lem’, ia terdiri dari hakikat-hakikat yang setiapnya bernilai menjadi pokok suatu risalah. Pada awalnya, sesudah salawat serta salam, ‘İ'lem’ pertama menjelaskan keutamaan memperhatikan awal waktu dalam salat serta menghadap Ka'bah dalam khayal, bagaimana ia membuyarkan bayangan serta waswas setan, dan bagaimana seluruh latifah serta daya orang salat menerima limpahan.
Karena risalah-risalah terdahulu ini, pada saat yang sama dengan berbicara tentang rukun iman, merupakan iman, ilmu, makrifatullah, serta zikir, membacanya pun suatu jenis ibadah.
5- HUBAB
Risalah amat penting ini, yang memiliki dua tambahan, satu Turki serta yang lain Arab, merupakan satu dari dua karya yang ditulis Üstad kita ketika dipanggil ke Ankara untuk diberi penghargaan karena penerbitan Hutuwat Sittah. Di Ankara, ia melihat bahwa gagasan zindik yang amat mengerikan bekerja dengan tipu daya untuk masuk, merusak, serta meracuni pikiran kuat ahli iman yang bergembira karena kemenangan pasukan Islam atas Yunani.
Salawat serta salam pada awal risalah ini amat penting. Salah satu ciri luar biasa Mesnevî-i Nuriye yang tidak dijumpai pada karya mana pun ialah memiliki cara penjelasan amat fasih seperti menjalankan beberapa mesin sekaligus dengan gerak satu jari. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, dalam kumpulan agung ini selalu mungkin menemukan zikir, iman, tafakur, serta ilmu bersama. Misalnya, ia tidak memasukkan salawat serta salam hanya sebagai zikir. Pada saat yang sama, dengan mengajukan berkembangnya iman, ilmu, serta hakikat yang menyelamatkan orang beriman yang salat dari bayangan dan syubhat, ia menjelaskan setidaknya tiga tingkat makna.
Dalam suatu ‘İ'lem’ penting, risalah luar biasa ini menjelaskan melalui cara amat fasih perbedaan rupa, budi, lahir, serta batin orang beriman beradab dan orang kafir beradab. Pada akhirnya, untuk memperlihatkan perbedaan ini bahkan kepada yang buta, ia berkata, ‘Jika ingin, pergilah dengan khayalmu ke majelis Seyda di desa Nurşin dan lihatlah: Di sana engkau akan melihat raja serta sultan berpakaian fakir dan malaikat berpakaian manusia dalam percakapan suci. Kemudian pergilah ke Paris serta masuk ke loji-loji terbesarnya; engkau akan melihat kalajengking mengenakan pakaian manusia dan ifrit mengambil rupa orang, hingga akhir...’ Dengan ini, ia merujukkan perbedaan dari segi lain kepada ‘Lemaat’ serta ‘Sünuhat’.
Dalam ‘İ'lem’ lain, ia meringkas Risalah Ijtihad yang bernama Kalimat Kedua Puluh Tujuh dalam Risale-i Nur pada empat halaman.
Tambahan Pertama Hubab
Dimulai dengan munajat Persia. Bentuk Turki munajat ini terdapat pada Permohonan Ketujuh serta tambahan Kalimat Ketujuh Belas.
Meskipun Üstad kita tidak pernah belajar bahasa Persia, ia ditulis dengan bahasa Persia demikian sempurna sehingga Duta Afganistan saat itu mengirim karya ini ke Afganistan dengan rasa menghargai.
Sesudah munajat Persia ini, terdapat seruan sepuluh butir dalam bahasa Turki kepada para wakil di bawah judul ‘Wahai para Pejuang Islam’. Melalui pengaruh seruan ini, masjid yang berupa ruang kecil dalam Majelis Perwakilan diubah menjadi aula besar.
Tambahan Hubab
Tambahan Kedua Hubab pun memuat hakikat-hakikat amat penting.
6- HABBE
Memiliki dua tambahan. ‘İ'lem’ pertama risalah ini menjelaskan melalui gaya amat sastrawi bahwa hakikat Muhammad ﷺ merupakan sebab penciptaan, biji, buah, serta hasil penciptaan alam. Ia berkata, ‘Jika melihat alam sebagai kitab besar, tinta pena Penulisnya ialah cahaya Muhammad ﷺ. Jika melihat alam berupa pohon, pertama bijinya, kemudian buahnya, tetap cahaya Muhammad ﷺ. Jika melihat alam mengenakan pakaian makhluk hidup, ruhnya cahaya Muhammad ﷺ. Jika melihat alam sebagai kebun mawar, bulbulnya yang agung tetap cahaya Muhammad ﷺ.’
Pada akhir risalah terdapat tunduk memohon, munajat, serta istigfar yang amat indah.
Tambahan Habbe
Pada bagian akhir Tambahan Pertama Habbe termuat penjelasan singkat serta amat indah tingkat-tingkat
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ ٭ لَا ﺣَﻮْﻝَ وَلَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻌَﻠِﻰِّ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ
dibanding dengan Lem'a Berbahasa Arab Kedua Puluh Sembilan.
Tambahan atas Tambahan
Dalam tambahan kedua Habbe terdapat pula bentuk Arab ringkas serta singkat ‘Risalah Tabiat’, risalah amat penting yang bernama Lem'a Kedua Puluh Tiga dalam kumpulan Asa-yı Musa yang banyak tersebar dalam bahasa Arab maupun Turki.
Ketika ditulis di Ankara, risalah ini dicetak pada suatu percetakan. Dengan membuktikan batilnya tiga perkataan dahsyat yang keluar dari mulut manusia, ia menyelamatkan yang tenggelam dalam rawa tabiat.
7- ZÜHRE
Risalah amat penting ini, yang ditulis dengan maksud hanya memperlihatkan ujung hakikat panjang serta menunjukkan satu sinar cahaya gemilang, memuat hakikat-hakikat amat penting. Karena itu, atas permintaan keras murid-murid Nur paling istimewa, agar menjadi dasar manfaat bagi murid-murid yang kebanyakan tidak mengetahui bahasa Arab itu, maknanya, sebagian dengan penjelasan dan sebagian singkat, oleh Üstad kita
diterjemahkan ke bahasa Turki dan dimasukkan ke bagian Lem'alar dari Kumpulan Risale-i Nur sebagai lima belas catatan bernama Lem'a Ketujuh Belas.
Zühre dimulai dengan hakikat berikut, ‘Setiap makhluk hidup dalam dunia seperti prajurit bertugas yang bekerja dengan nama serta atas nama pemiliknya. Siapa yang menyangka dirinya memiliki dirinya sendiri, ia binasa.’
Kemudian, sesudah salawat serta salam panjang dan meliputi, ia berpindah ke ‘İ'lem’-‘İ'lem’ menyeluruh yang setiapnya seolah-olah berupa ringkasan serta biji suatu risalah.
Dalam salah satu ‘İ'lem’, dengan membandingkan murid Al-Qur'an serta murid filsafat dari segi sosial dan pribadi, ia menggugurkan putusan batil bagian filsafat yang sakit serta merugikan.
‘İ'lem’ terakhir pun memuat munajat amat indah serta pilu. Pengetahuan lebih lanjut kita rujukkan kepada Risalah Catatan-Catatan yang berbahasa Turki.
Dalam daftar isi Mesnevî-i Nuriye ini, dari ratusan hakikat dalam risalah-risalah berharga serta luar biasa itu, kita hanya berusaha memperlihatkan satu atau dua melalui pemahaman kurang dan ungkapan pendek. Contoh yang kita perlihatkan tidak dapat menjadi titik paling hidup ataupun permata paling berharga dari keajaiban ilmu serta makrifat tersebut. Ia hanya sinar kecil matahari itu dan setetes kecil lautnya.
8- ZERRE
Risalah menakjubkan serta luar biasa yang terdiri dari dua bagian, berbicara tentang perkara-perkara terpisah yang mengusir beberapa waswas setan serta orang yang menolak agama.
Di antara isi risalah ini ialah İ'lem-İ'lem yang menjelaskan iman, akhlak, dihapusnya waswas, serta Hikmah ciri pribadi wajah pada manusia.
Dalam suatu İ'lem, ia menjelaskan secara amat indah hakikat bahwa penciptaan langit serta bumi dan berbedanya bahasa dan warna manusia, yang disebutkan dalam ayat
ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ,
termasuk ayat-ayat Allah سُبْحَانَهُ Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Ia berkata:
‘Samanya seluruh manusia dalam dasar-dasar anggota merupakan dalil amat gemilang serta nyata bagi keesaan Sang Pembuat; berbedanya ciri pribadi wajah merupakan dalil bahwa Sang Pembuat Memilih serta Hakîm,’ lalu membuktikannya. Ia menjelaskan Hikmah manusia berbeda satu sama lain melalui ciri pribadi, dan bahwa pada makhluk lain perbedaan ini bukan individu demi individu melainkan jenis demi jenis karena Hikmah menghendaki demikian.
Dalam İ'lem lain, ia mengusir waswas setan manusia serta jin mengenai sapi yang secara batin amat sempurna tetapi secara lahir miskin, dan berkata, ‘Wahai setan manusia yang menjadi guru setan jin! Jika segala sesuatu bukan seni Qadîr Yang Azali, Yang Melakukan segala sesuatu menurut tingkat manfaat serta cara layak, telinga keledaimu harus lebih berakal serta lebih ahli daripada dirimu dan guru-gurumu.’ Dengan memukulkan waswas kepada wajah setan manusia serta jin, ia menjelaskan secara amat meyakinkan melalui akal dan ilmu Hikmah bahwa dalamnya sapi mutlak dan luarannya terbatas.
Dalam suatu İ'lem mengenai akhlak ia berkata, ‘Wahai orang fasik! Ketahuilah bahwa peradaban yang hidup sia-sia telah menampakkan serta memunculkan riya demikian mengerikan sehingga orang beradab tidak mungkin selamat darinya. Sebab, mereka memberi riya itu nama kemuliaan serta kehormatan. Sebagai ganti riya kepada pribadi, ia mendorong manusia kepada riya terhadap etnis, bangsa, serta negara, dan menjadikan sejarah pendorong serta pemberi tepuk tangan, dan surat kabar penyerunya. Dengan membuat mati dilupakan dan seolah-olah mereka memiliki hidup dalam etnisnya, melalui tipu daya seperti tipu daya para penindas kejam pada zaman jahiliah, ia menyeret manusia kepada berpura-pura serta riya.’
Risalah ini, yang layak dibaca seberapa pun seringnya, berakhir pula dengan istigfar serta suatu bait Hazret-i Mevlana.
9- ŞEMME
Membuktikan bahwa setiap yang ada, dari keseluruhan kainat menurun hingga zarah, bersaksi atas Asma Allah سُبْحَانَهُ, Rabb, Mâlik, Mudabbir, Murabbî, Mutasharrif, serta Nâzhim, di antara banyak Asma Ilahi.
Dalam İ'lem lain, ia memperlihatkan bahwa tiada siapa pun memiliki hak mengeluh terhadap Sang Pembuat seluruh alam.
Dalam İ'lem lainnya, melalui hakikat panjang ia menjelaskan bagaimana Al-Qur'an Al-Hakîm membelai pemahaman serta memperhatikan daya paham orang awam, yang merupakan orang pertama dan terbanyak yang diserunya.
Ia pun risalah berharga yang terdiri dari pokok-pokok terpisah yang menjelaskan banyak hakikat halus seperti pemendekan tempat, bentangan waktu, serta hakikat ‘ene’ dan kedua wajahnya.
Risalah ini,
Tolonglah, wahai pemimpin rombongan rasul ﷺ, huz biyedî,
Engkaulah, wahai cahaya kemurahan ﷺ, sandaran kita semua,
Ikatanku kepadamu, inilah bukti pada lisanku:
Lâ ilahe illallah Muhammedün Resulullah. ﷺ
sesudah bait syair ini, berpindah kepada istigfar serta doa panjang dan meliputi, lalu berakhir.
Risalah Kesepuluh:
Dalam risalah yang besar dibanding dengan yang lain ini, terdapat İ'lem-İ'lem dari ringkasan sebagian Kalimat dalam Sözler serta pokok-pokok terpisah dan berbeda.
Dalam İ'lem pertama, ia menjelaskan melalui tujuh anak tangga tafsir ayat mulia
ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ
serta dilemparinya setan-setan yang ingin naik ke langit.
Pada Anak Tangga Pertama, dengan mengisyaratkan tenang, hening, serta keteraturan langit, ia berkata, ‘Penghuni langit tidak berada dalam perdebatan, beda pendapat, serta guncang yang muncul dari bercampurnya baik dan buruk serta berkumpulnya hal-hal bertentangan seperti penghuni bumi. Mereka yang taat melakukan hal-hal yang diperintahkan Khâliq mereka dengan taat sempurna.’
Sesudah menjelaskan serta membuktikan dilemparinya setan, dalam İ'lem lain Üstad kita menjelaskan dengan amat ringkas empat jalan yang diambilnya dari Al-Qur'an melalui empat langkah. İ'lem ini, yang penjelasan rincinya terdapat pada bagian Sözler dari Risale-i Nur, amat penting.
Dalam İ'lem lain, sesudah menjelaskan bahwa ubudiyah bukan pendahuluan balasan yang menyusul melainkan hasil nikmat terdahulu, ia berpindah ke İ'lem-İ'lem yang amat mengandung hakikat serta luas maknanya. Melalui penjelasan hakikat-hakikat yang hingga suatu tingkat maknanya terdapat dalam Nur'un İlk Kapısı serta Küçük Sözler, risalah berharga dan penting ini berakhir.
Satu contoh yang bercahaya seperti matahari serta gemilang seperti bulan dari isi risalah berharga ini ialah bahwa Al-Qur'an Al-Hakîm menyebutkan hal-hal dalam kainat yang kembali kepada manusia serta bermanfaat baginya untuk memperingatkan.
Penjelasan Al-Qur'an Al-Hakîm itu tidak terbatas hanya pada manfaat tersebut. Sebab, manusia memberi arti penting lebih besar kepada zarah yang berkaitan dengan dirinya serta memberi manfaat daripada kepada matahari yang tidak berkaitan dengannya. Misalnya,
ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻗَﺪَّﺭْﻧَﺎﻩُ ﻣَﻨَﺎﺯِﻝَ ٭ ﻟِﺘَﻌْﻠَﻤُﻮﺍ ﻋَﺪَﺩَ ﺍﻟﺴِّﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏَ.
Yakni, satu dari banyak Hikmah ditentukannya perputaran bulan di sekeliling bola bumi oleh Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq ialah manusia menghitung serta mengetahui hari, bulan, dan tahunnya. Penentuan bulan bukan terbatas pada manfaat yang amat perlu bagi kita ini. Terdapat ribuan Hikmah lain yang menjadi cermin Asma Sang Khâliq Dzul-Jalâl.
Pada akhir risalah berharga ini terdapat risalah kecil tetapi menurut itu meliputi, yang meringkas i'jaz Al-Qur'an dalam enam Titik Air.
Tetesan Keempat Belas yang Memuat Beberapa Titik Air dari Mukjizat Terbesar
Salah satu dalil benarnya tugas kerasulan Nabi ﷺ ialah Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya. Karena hampir empat puluh segi i'jaz Al-Qur'an Al-Hakîm dijelaskan dalam Lemaat serta tafsir İşaratü'l-İ'caz, Titik Air Pertama berakhir dengan merujukkan kepada keduanya.
Pada Titik Air Kedua terdapat bentuk Arab singkat definisi ‘Apakah Al-Qur'an?’ yang disebutkan dalam Kalimat Kedua Puluh Lima.
Titik Air Ketiga:
Enam pokok. Pada Pokok Ketiga, sebagaimana manusia memerlukan kebutuhan jasmani berbeda pada waktu berbeda, misalnya udara setiap saat, panas serta air setiap waktu, makanan setiap hari, dan sinar setiap minggu, kebutuhan maknawi manusia pun beragam. Sebagian diperlukan setiap saat, seperti Lafzullah. Sebagian diperlukan setiap waktu, seperti Bismillah. Sebagian diperlukan setiap jam, seperti ‘Lâ İlahe İllallah’. Demikian seterusnya, bandingkanlah.
Titik Air Keempat:
Enam butir hikmah. Karena pada Butir Hikmah Kelima terdapat banyak ayat mulia dan tempat itu bukan kedudukan penjelasan, butir tersebut ditiadakan dengan merujukkan kepada Mu'cizat-ı Kur'aniye. Risalah ini, yang kadang membuktikan i'jaz Al-Qur'an dalam satu huruf Al-Qur'an, serta sahabat-sahabatnya, risalah ‘İşaratü'l-İ'caz’ dan ‘Mu'cizat-ı Kur'aniye’, masing-masing pedang berlian Al-Qur'an Al-Hakîm.
Titik Air Keenam:
Dengan menyingkap rahasia balagah Al-Qur'an, sebagai jawaban terhadap perkataan ahli sastra
ﺍُﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ,
yakni ‘Siapa yang berkata?’, ia berkata
ﺍُﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻟِﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻓ۪ﻴﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ
dan membuat i'jaz Al-Qur'an bersinar. Titik Air Keenam ini merupakan kunci penting bagi balagah Al-Qur'an.
10- ŞULE
Risalah berukuran kecil dengan tambahan dua halaman.
11- NOKTA
Karena amat singkat, tidak diringkas.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺧْﺘِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﺎﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺒُﺸْﺮٰﻯ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
PERMOHONAN MAAF
Mesnevî-i Nuriye, yang daftar isinya telah berakhir, merupakan karya meliputi serta luar biasa, amat agung dan megah, yang memuat banyak risalah serta mengantarkan iman—hidup serta tujuan hidup dan hakikat paling tinggi—dari taklid ke penelitian, dari penelitian ke tingkat ilmulyaqin, dari ilmulyaqin ke tingkat ainulyaqin, lalu ke haqqulyaqin.
Daftar isi paling hakiki yang akan memperlihatkan nilai hakiki karya ini hanya dapat dibuat oleh penulisnya sendiri yang mulia serta terhormat, Üstad kita. Pengertian kita yang amat pendek, daya paham lemah, pemahaman terbatas, serta tidak mengetahui bahasa Arab telah menjadi sebab kita menyajikan kepada pembaca daftar isi karya tiada banding yang ulama berpengetahuan luas menyebut tetesnya sebagai lautan ini dengan amat kurang.
Wahai pembaca terhormat! Jangan memandang daftar isi ini dan menimbang dengan ukuran itu pula kumpulan yang seperti khazanah maknawi, penyingkap rahasia tersembunyi kainat, kunci hakikat segala sesuatu, serta penyeru Hikmah penciptaan. Sebab, lemah dan kurang pada kita bukan sebanding secara lurus, melainkan terbalik dengan nilai kumpulan tersebut. Jangan memandang pantulan matahari dalam zarah kaca dan berkata, ‘Matahari pun sebesar ini.’ Sebab, zarah itu mengambil limpahan dari matahari menurut kemampuannya, sedangkan engkau akan mengambil limpahan dari matahari maknawi itu menurut besarnya cermin.
Dari ratusan i'lem yang terdapat dalam kumpulan ini, hanya makna amat kecil sebagian yang amat sedikit disebutkan sebagai isyarat. Jika tidak, bagi setiap risalah, bahkan setiap i'lem, harus dibuat daftar isi sebesar seluruh daftar isi Mesnevî ini. Untuk itu, daya ilmu kita, kedudukan, maupun waktu tidak sesuai.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎ ﺑِﺎَﺣْﺴَﻦِ ﻗَﺒُﻮﻝٍ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻔِﻬْﺮِﺳْﺘَﺔَ ﺍﻟﻨَّﺎﻗِﺼَﺔَ ﺑِﺤُﺮْﻣَﺔِ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
Mustafa Gül dan Tahirî Mutlu