Pertanyaan:
Bagaimana engkau memandang wahdatul wujud?
Jawaban:
Ia tenggelam dalam tauhid serta tauhid melalui nikmat batin yang tidak muat dalam pandangan. Pada dasarnya, sesudah tauhid Rububiyah serta tauhid Keilahian, kerasnya tenggelam dalam tauhid melalui nikmat batin berakhir pada keesaan Kudrat, yakni
لَا ﻣُﺆَﺛِّﺮَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜَﻮْﻥِ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ,
kemudian keesaan pengelolaan, lalu wahdatul syuhud, lalu wahdatul wujud, hingga melihat hanya satu wujud, kemudian hanya satu yang ada.
Ungkapan-ungkapan saat terpesona para sufi peneliti yang seperti mutasyabih tidak dijadikan dalil. Ruh yang belum merobek dan keluar dari lingkaran sebab-sebab serta belum selamat dari pengaruhnya melampaui batas jika berbicara tentang wahdatul wujud. Orang-orang yang membicarakannya begitu memusatkan pandangan kepada Wâjibul Wujûd sehingga melepaskan segala yang mungkin ada dan melihat hanya satu wujud, bahkan satu Yang Ada.
Ya, melihat hasil dalam dalil serta menyaksikan Sang Pembuat dalam alam, melalui jalan tenggelam dalamnya, mengalirnya tajalli Ilahi pada saluran-saluran alam, mengalirnya limpahan dalam malakut segala sesuatu, dan tajalli Asma serta Sifat pada cermin-cermin segala yang ada masing-masing hakikat yang hanya dipahami melalui nikmat batin. Namun, karena sempitnya lafaz, mereka mengungkapkannya sebagai keilahian yang mengalir serta hidup yang mengalir. Karena ahli pikiran memasukkan hakikat-hakikat melalui nikmat batin itu ke ukuran pandangan, ia menjadi sumber bagi banyak bayangan batil.
Wahdatul wujud ahli hikmah pemuja materi serta ahli pemikiran berkeyakinan lemah berlawanan sepenuhnya dengan wahdatul wujud para wali. Terdapat perbedaan melalui lima segi:
Yang pertama:
Para sufi peneliti telah begitu memusatkan pandangan, tenggelam, serta memberi arti penting kepada Wâjibul Wujûd sehingga atas nama-Nya mereka mengingkari wujud kainat. Ahli hikmah serta yang berkeyakinan lemah begitu memusatkan pandangan dan tenggelam dalam materi sehingga menjauh dari pemahaman keilahian. Mereka memberi nilai kepada materi hingga tingkat melihat segala sesuatu dalam materi, bahkan mencampurkan keilahian ke dalamnya, bahkan mengambil jalan yang memaksakan diri hingga tingkat tidak membutuhkan keilahian atas nama kainat.
Yang kedua:
Wahdatul wujud para sufi peneliti memuat wahdatul syuhud, sedangkan yang kedua memuat wahdatul maujud (kesatuan segala yang ada).
Yang ketiga:
Jalan yang pertama melalui nikmat batin; yang kedua melalui pandangan pikiran.
Yang keempat:
Yang pertama mula-mula serta sebagai tujuan itu sendiri memandang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, dan melalui pandangan yang mengikuti memandang makhluk. Yang kedua mula-mula serta sebagai tujuan itu sendiri memandang makhluk.
Yang kelima:
Yang pertama menyembah Allah سُبْحَانَهُ, yang kedua menyembah diri sendiri.
ﺍَﻳْﻦَ ﺍﻟﺜَّﺮٰﻯ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜُّﺮَﻳَّﺎ ﻭَ ﺍَﻳْﻦَ ﺍﻟﻀِّﻴَﺎﺀُ ﺍﻟﺴَّﺎﻃِﻊُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠْﻤَﺔِ ﺍﻟﻄَّﺎﻣِﺴَﺔِ
Penerangan
Misalnya, jika bola bumi dianggap tersusun dari potongan-potongan kaca kecil yang beragam serta berwarna-warni, setiapnya akan mengambil limpahan dari matahari melalui segi berbeda menurut warna, volume, serta bentuknya. Limpahan khayal ini bukan zat matahari ataupun sinarnya sendiri. Jika gambaran sinar serta rupa tujuh warna, yakni warna bunga-bunga yang beragam dan berwarna-warni ini yang merupakan pancaran matahari, dianggap berbicara, masing-masing akan berkata, ‘Matahari sepertiku,’ atau ‘Akulah matahari.’
ﺍٰﻥْ خَيَالَات۪ى ﻛِﻪ ﺩَﺍﻡِ ﺍَﻭْﻟِﻴَﺎﺳْﺖْ ٭ ﻋَﻜْﺲِ ﻣَﻬْﺮُﻭﻳَﺎﻥِ ﺑُﻮﺳْﺘَﺎﻥِ ﺧُﺪَﺍﺳْﺖْ
Namun, jalan ahli wahdatul syuhud ialah membedakan serta sadar. Jalan ahli wahdatul wujud ialah menghapus diri serta mabuk batin. Jalan yang jernih ialah jalan ahli membedakan serta sadar.
ﺗَﻔَﻜَّﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ اٰلَاءِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ لَا ﺗَﻔَﻜَّﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﺗِﻪ۪ ﻓَﺎِﻧَّﻜُﻢْ ﻟَﻦْ ﺗَﻘْﺪِﺭُﻭﺍ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻳُﺪْﺭِﻛُﻬَﺎ ﻓَﻜَﻴْﻒَ ﻛَﻴْﻔِﻴَّﺔُ ﺍﻟْﺠَﺒَّﺎﺭِ ﺫِﻯ ﺍﻟْﻘِﺪَﻡِ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺍَﺑْﺪَﻉَ الْاَشْيَاءَ ﻭَ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَﺎ ﻓَﻜَﻴْﻒَ ﻳُﺪْﺭِﻛُﻪُ ﻣُﺴْﺘَﺤْﺪَﺙُ ﺍﻟﻨَّﺴَﻢِ
Karena bagian kedua Nokta berkaitan dengan kebangkitan, malaikat, serta terus adanya ruh, dan Kalimat Kedua Puluh Sembilan yang memiliki karamah serta Kalimat Kesepuluh menjelaskan hakikat-hakikat ini secara amat gemilang, ia dirujukkan kepada keduanya dan tidak dimasukkan di sini. Bagian ketiga, yang terdiri dari empat belas pelajaran, diterbitkan tersendiri dengan nama Nur'un İlk Kapısı.
Said Nursî
MENGENAI ISI
Dalam suatu ‘İ'lem’ yang termasuk kalimat pendahuluan kumpulan penting ini,
‘Risalah ini merupakan suatu jenis tafsir beberapa ayat Al-Qur'an melalui melihat langsung. Perkara-perkara di dalamnya merupakan bunga-bunga yang dipetik dari kebun Al-Qur'an Al-Hakîm. Ringkas serta padatnya ungkapan risalah ini dan kesulitan lahiriah dalam memahaminya jangan membuatmu takut. Bacalah berulang-ulang agar rahasia
ﻟَﻪُ ﻣُﻠْﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ
serta pengulangan Al-Qur'an yang serupa terbuka bagimu.
Wahai pembaca! Jangan menyangka bahwa bukti-bukti serta tempat tampak tauhid dalam kumpulan ini tidak saling membutuhkan. Sebab, aku merasakan kebutuhan kepada setiap bukti pada setiap kedudukan khusus. Gerak perjuanganku memaksaku ke tempat yang saat itu aku harus membuka pintu di sana, sebab dalam saat dahsyat tersebut tidak dimudahkan kembali ke pintu-pintu terbuka lainnya. Dalam perjalanan menakjubkan itu pun aku menempatkan tanda bukan untuk menunjukkan cahaya-cahaya yang kujumpai, melainkan untuk mengingatnya. Kadang aku menempatkan suatu tanda bagi cahaya besar... Hingga akhir.’ Dengan ini, betapa indah pendahuluan serta ringkasan yang kumpulan ini sajikan kepada pembacanya, seolah-olah kunci berbentuk sandi.
Nama-nama risalah dalam Mesnevî-i Nuriye ini berjalan dalam bentuk ‘Reşhalar, Katre, Hubab, Habbe’. Jika bagi setiap risalah ditulis kata penghargaan seperti yang ditulis almarhum Syekh Safvet Efendi pada akhir Risalah Katre, sebagaimana almarhum berkata, ‘Ini bukan setetes, melainkan lautan,’ kita pun akan berkata:
‘Itu bukan sekilau, melainkan matahari. Itu bukan tetesan, melainkan lautan. Itu bukan bunga, melainkan kebun-kebun surga. Itu bukan gelembung, melainkan samudra.’