Risalah Nur — Bahasa Indonesia

TAMBAHAN ŞULE

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

TAMBAHAN ŞULE

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tiada sesuatu dapat tersembunyi dari cahaya yang meliputi seluruh kainat. Tiada sesuatu dapat tetap di luar lingkaran Kudrat tak berujung. Jika tidak, yang tak berujung harus menjadi berujung.

Hikmah Ilahi pun memberi limpahan kepada segala sesuatu menurut nilainya. Setiap orang dapat mengambil air dari laut menurut gelasnya.

Perhatian Qadîr Yang Hakîm, Yang Menentukan ukuran, kepada yang besar juga tidak dapat Menghalangi Perhatian⁠-⁠Nya kepada yang kecil.

Sesuatu paling kecil, seperti sesuatu paling besar, ataupun suatu jenis tidak dapat menyembunyikan satu individunya dari Pandangan Meliputi yang bebas dari materi, lahir serta batin.

Sesuatu kecil pun membesar menurut seni yang menjadi tempat tampak serta tempatnya, dan jenis-jenis hal kecil menjadi besar.

Keagungan Mutlak pun sama sekali tidak Menerima persekutuan.

Dari karya-karya yang mengalir dari Kedermawanan Mutlak dengan kemudahan luar biasa, kecepatan menakjubkan, serta ketelitian dan keteraturan bersifat mukjizat, dipahami bahwa hewan-hewan udara, air, serta tanah yang paling kecil seperti mikroba dan lebih kecil telah memenuhi tempat-tempat alam yang dianggap kosong.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika yang menghendaki cinta kepada nafsumu ialah dekatnya nafsu kepadamu, cintamu kepada Khâliq harus lebih besar, sebab Dia Lebih Dekat daripada nafsumu. Ya, hal-hal tersembunyi dalam dirimu yang tidak dapat dipahami pikiran serta pilihanmu berada di bawah Pandangan dan Ilmu Khâliq.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Tiada kebetulan dalam alam. Ya, terutama pada musim semi, jika pada kebun bola bumi, seluruh cabang pohon, daun bunga, serta bulir tanaman, bulbul-bulbul Hikmah yang menyenandungkan serta menyanyikan ayat-ayat Hikmah didengarkan melalui telinga iman serta mata pandangan batin, bahkan setan-setan kebetulan akan menerima dan terpana.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika melalui tauhid tidak menyandarkan segala sesuatu kepada Wâhid lagi Ahad, engkau terpaksa menerima ilah-ilah sebanyak tajalli Ilahi yang seluruh individu alam menjadi tempat tampaknya. Ya, ketika menutup mata dari matahari serta memutus hubungannya dengan pantulan-pantulannya, engkau terpaksa menerima wujud matahari-matahari hakiki sebanyak hal yang menjadi tempat pantulan tersebut.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika engkau menuju musnah dari beberapa segi, tetap adamu dalam Ilmu, Penglihatan, serta Pengetahuan Khâliq Yang Rahmân serta Rahîm cukup bagi terus adamu.

Wahai engkau, berikan segala sesuatu kepada Pemilik Hakikinya atau sandarkan kepada⁠-⁠Nya. Ambillah dengan Nama⁠-⁠Nya agar tenteram. Jika tidak, engkau terpaksa menerima begitu banyak ilah yang akan mewujudkan serta menjamin aturan dan keteraturan begitu banyak hal.

NOKTA (TITIK)

ﻣِﻦْ ﻧُﻮﺭِ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺟَﻞَّ جَلَالُهُ

Bagian dari risalah yang ditulis empat puluh lima tahun sebelumnya.

Penyampaian Maksud

Jika masuk ke kebun, aku memilih yang baik. Jika menanggung kesukaran saat memetik, aku menyukainya. Jika melihat yang busuk serta belum matang, aku berkata ﺧُﺬْ ﻣَﺎ ﺻَﻔَﺎ. Demikian pula kuinginkan orang-orang yang kuseru.

Mereka berkata: Perkataanmu tidak dipahami dengan baik?

Aku tahu bahwa kadang berbicara pada puncak menara, kadang pada dasar sumur. Apa yang dapat kulakukan; munculnya demikian. Dalam ‘Şuâat’ serta kitab ini, yang berbicara ialah hatiku yang lemah, yang diseru nafsuku yang membangkang, dan pendengar seorang Jepang pencari hakikat. {(Catatan kaki): Ini jawaban bagi pertanyaan tentang agama dari panglima Jepang kepada lembaga Syekhulislam lima puluh tahun sebelumnya.} Yang melihat harus memikirkan ini.

Dalam ‘Şuâat’, kita telah menjelaskan sedikit mengenal Nabi ﷺ, yang merupakan bukti bagi makrifatullah, tujuan segala tujuan. Dalam risalah ini, kita akan mengisyaratkan hanya empat bukti agung dari bukti-bukti tauhid tak terbatas, yang merupakan tujuan itu sendiri. Untuk menggabungkan pandangan akal serta pemahaman intuitif hati, dengan mengisyaratkan beberapa dalil malaikat dan kebangkitan, aku ingin memperlihatkan melalui pemahamanku yang pendek satu kilau masing-masing dari empat di antara enam rukun iman.

ﺍٰﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﻣَﻠٰﺌِﻜَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻛُﺘُﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺭُﺳُﻠِﻪ۪ ﻭَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ الْاٰخِرِ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺷَﺮِّﻩ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻌْﺚُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺣَﻖٌّ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

Said Nursî

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺧَﺎﺗَﻢِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴّ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻰُّ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡُ

merupakan maksud serta hal yang kita cari. Dari bukti-buktinya yang tak berujung, kita mengajukan empat bukti kulli.

Bukti Pertama:

Muhammad ﷺ. Karena bukti bercahaya kita ini telah terang dalam Şuâat, ia cermin bercahaya dalam menerangi pernyataan kita.

Bukti Kedua:

Kainat, yang merupakan kitab besar serta manusia terbesar.

Bukti Ketiga:

Kitab yang bermukjizat dalam penjelasannya, Firman Yang Mahasuci.

Bukti Keempat:

Fitrah berkesadaran yang disebut hati nurani, titik pertemuan serta perantara alam gaib dan yang terlihat, dan tempat bertemunya yang bergerak datang dari kedua alam kepada satu sama lain. Ya, fitrah serta hati nurani merupakan jendela bagi akal. Keduanya menyebarkan sinar tauhid.

BUKTI PERTAMA

Yang dilengkapi tugas kerasulan serta Islam

ialah ‘hakikat Muhammad ﷺ’ sebagai berikut:

Dari segi tugas kerasulan, ia memuat kesaksian seluruh nabi yang mengandung rahasia kesepakatan paling agung serta tawatur paling luas. Dari segi Islam, ia membawa ruh serta pembenaran seluruh agama samawi yang bersandar kepada wahyu.

Melalui seluruh perkataannya yang dibenarkan oleh kesaksian seluruh nabi, pembenaran seluruh agama, serta peneguhan seluruh mukjizatnya, beliau memperlihatkan Wujud dan keesaan Sang Pembuat kepada manusia. Maka, atas nama seluruh manusia utama yang bersatu dalam pernyataan ini, beliau memperlihatkan cahaya tersebut.

Mungkinkah hakikat yang dilihat mata besar, dalam, berpandangan jauh, jernih, tajam, serta mengenal hakikat, yang memperoleh begitu banyak pembenaran, bukan hakikat?

BUKTI KEDUA

Kitab kainat.

Ya, seluruh huruf serta titik kitab ini, sendiri-sendiri dan dalam susunan, membaca Wujud serta keesaan Zat Dzul-Jalâl melalui bahasa khususnya, lalu melantunkan

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪.

Seluruh zarah serta susunan kainat, satu per satu, meskipun bimbang di antara kemungkinan tak terbatas dari segi zat, sifat, serta lainnya, tiba-tiba mengikuti satu arah, memiliki sifat tertentu, serta mengambil cara khusus, lalu menghasilkan Hikmah yang membuat terpana. Karena itu, dengan bersaksi atas Wujud yang Wajib dari Sang Pembuat, semuanya menerangi pelita iman yang mengumumkan Sang Pembuat dalam latifah Rabbani yang merupakan contoh alam-alam gaib.

Ya, seperti prajurit pada dirinya, kelompok, kompi, batalion, serta pasukannya, setiap zarah, sebagaimana sendiri mengumumkan Sang Pembuat melalui kemungkinan dalam zat, sifat, serta caranya, pada setiap kedudukan, hubungan, serta lingkaran susunan-susunan kainat yang saling bertaut dan naik, yang menyerupai gambar-gambar saling masuk, menjaga keseimbangan arus umum. Karena setiap zarah memenuhi tugas serta menghasilkan Hikmah berbeda pada setiap hubungan dan kelompoknya, menampakkan Maksud dan Hikmah Sang Pembuat, serta membaca ayat Wujud dan keesaan⁠-⁠Nya, bukti-bukti Sang Pembuat Dzul-Jalâl menjadi berkali-kali lebih banyak daripada zarah-zarah.

Maka,

ﺍَﻟﻄُّﺮُﻕُ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺍَﻧْﻔَﺎﺱِ الْخَلَائِقِ

merupakan hakikat, bukan berlebihan, bahkan masih kurang.

Pertanyaan:

Mengapa setiap orang tidak dapat melihat melalui akalnya?

Jawaban:

Karena sempurnanya tampak serta tiadanya kebalikan.

ﺗَﺎَﻣَّﻞْ ﺳُﻄُﻮﺭَ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻓَﺎِﻧَّﻬَﺎ ٭ ﻣِﻦَ الْمَلَاِ الْاَعْلٰى ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞُ

Yakni, ‘Pandanglah melalui pandangan Hikmah baris-baris rangkaian peristiwa yang ditulis Pengukir Azali pada dimensi-dimensi luas halaman alam, dan peganglah dengan pikiran hakikat, agar rangkaian surat yang menjulur dari Majelis Tertinggi ini mengangkatmu ke tempat paling tinggi tauhid.’

Pada himpunan seluruh kitab ini terdapat aturan demikian gemilang sehingga Pengaturnya bertajalli di dalamnya seperti matahari. Dalam penulisan kitab kainat yang setiap kata serta hurufnya merupakan mukjizat Kudrat, terdapat i'jaz sedemikian rupa sehingga sekalipun seluruh sebab alam, melalui andaian mustahil, menjadi pelaku-pelaku yang berdaya serta memilih, semuanya tetap akan bersujud kepada i'jaz itu dengan lemah sempurna dan berkata

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻗُﺪْﺭَﺓَ ﻟَﻨَﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ.

Setiap kata kitab ini berkaitan dengan seluruh katanya. Setiap huruf, terutama huruf hidup, memiliki wajah yang menghadap serta mata yang memandang seluruh kalimat. Kitab ini memiliki jalinan bertaut berlipat dalam saling menopang susunan, sehingga untuk menciptakan satu titik pada tempatnya diperlukan Kudrat tak berujung Yang akan Menciptakan seluruh kainat. Maka, Yang Menciptakan mata nyamuk juga Menciptakan matahari. Yang Mengatur lambung kutu juga Mengatur tata surya. Rujuklah rahasia ayat

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ

pada halaman kesembilan Sünuhat.

Lihatlah hanya lebah, kata kecil kitab ini. Betapa madu kesaksian mengalir dari lisan mukjizat Kudrat itu. Atau, suatu hewan sangat kecil yang merupakan titik kitab ini dan terlihat hanya setelah diperbesar berkali-kali. Perhatikan! Betapa ia contoh kecil kainat yang memperlihatkan mukjizat serta membuat terpana. Sebagaimana Surah Yasin tertulis dalam rupa lafaz Yâsin, ia titik menyeluruh yang berwibawa serta ringkas. Yang Menulisnya juga Menulis seluruh kainat.

Jika memperhatikan dengan adil, engkau akan melihat munculnya mesin Ilahi yang teliti serta istimewa di bawah rupa hewan kecil ini dari sebab-sebab alam sederhana tak bernyawa, tanpa kesadaran, buta, yang alur dan geraknya tidak ditentukan, serta tiada pengutamaan di antara kemungkinannya, sebagai mustahil di dalam mustahil.

Jika meyakini bahwa dalam setiap zarah terdapat kesadaran ahli hikmah, hikmah dokter, serta politik penguasa, dan setiap zarah berbicara dengan zarah-zarah lain tanpa perantara, mungkin engkau dapat menipu nafsumu serta meyakini hal mustahil itu. Padahal, dalam mesin hidup tersebut terdapat mukjizat Kudrat serta keajaiban Hikmah sedemikian rupa sehingga hanya dapat menjadi seni Sang Pembuat Yang Menciptakan serta Mengatur seluruh kainat dan seluruh urusannya. Yang buta, sedikit, serta sederhana tidak dapat melangkah melalui bimbang kemungkinan. Ia tidak dapat berasal dari sebab alam.

Terutama, di atas belalai berkumpulnya daya tarik serta daya tolak dalam bagian tak terbagi yang merupakan dasar pokok sebab-sebab alam tersebut, terdapat cap mustahil. Namun, boleh bahwa urusan seperti tarik, tolak, gerak, serta daya yang mereka sangka dasar segala sesuatu menjadi nama-nama bagi hukum sunatullah. Akan tetapi, kita menerima dengan syarat hukum tidak berpindah dari kaidah menjadi tabiat, dari dalam pikiran menjadi di luar pikiran, dari yang ditetapkan dalam pikiran menjadi hakikat, serta dari alat menjadi pemberi pengaruh.

Pertanyaan:

Mengapa diberikan kemungkinan kepada urusan batil seperti azalinya materi serta terbentuknya jenis-jenis dari gerak zarah?

Jawaban:

Ia berasal dari tidak dipahaminya dasar rusak urusan itu melalui pandangan yang mengikuti, karena hanya sedang berusaha meyakinkan nafsunya dengan sesuatu lain. Jika secara sengaja serta sebagai tujuan itu sendiri menghadapnya dalam bentuk meyakinkan nafsu, ia akan memutuskan mustahil serta tidak masuk akal. Andaipun menerima, hal itu dapat diterima melalui terpaksa yang terjadi karena berpura-pura lalai dari Sang Pembuat.

Betapa aneh kesesatan. Yang tidak memasukkan ke akalnya azali yang merupakan tuntutan niscaya Zat Dzul-Jalâl serta mencipta yang merupakan Ciri⁠-⁠Nya, bagaimana memberikannya kepada zarah-zarah tak berujung serta hal-hal lemah?

Ya, dikenal bahwa mereka memandang hilal hari raya. Tiada yang melihat sesuatu. Orang tua bersumpah, ‘Aku melihat hilal.’ Padahal, hilal yang dilihatnya ialah rambut putih melengkung pada bulu matanya. Di manakah rambut itu, di manakah bulan? Di manakah gerak zarah, di manakah sebab terbentuknya jenis-jenis?

Karena secara fitri manusia dimuliakan, ia mencari haq. Kadang batil sampai ke tangannya. Dengan menganggap haq, ia menyimpannya dalam dada. Ketika menggali hakikat, sesat tanpa pilihan jatuh pada kepalanya; dengan menganggap hakikat, ia mengenakannya pada kepala.

Pertanyaan:

Apakah tabiat, hukum-hukum, serta daya-daya ini, yang dengannya mereka menipu diri sendiri?

Jawaban:

Tabiat ialah syariat Ilahi terbesar yang menempatkan tindakan unsur-unsur serta anggota tubuh penciptaan, yang disebut alam yang terlihat, di bawah keteraturan serta ikatan. Syariat fitri inilah yang disebut sunatullah serta tabiat. Ia hanya himpunan serta hasil hukum-hukum yang ditetapkan dalam pikiran dan berlaku dalam penciptaan kainat. Hal-hal yang mereka sebut daya masing-masing hukum syariat ini, dan hal-hal yang disebut hukum masing-masing perkara syariat tersebut.

Namun, dengan bersandar kepada berlangsungnya hukum-hukum syariat itu secara seragam, bayangan serta khayal menguasai dan menekan, sehingga tabiat dalam hawa khayal ini mengambil bentuk serta jasad, lalu masuk ke rupa wujud di luar pikiran dan hakikat dari khayal. Melalui bakat buruk jiwa-jiwa yang melihat serta memperlihatkan khayal dalam rupa hakikat, ia mengenakan sikap pelaku pemberi pengaruh.

Padahal, meskipun tiada kelembutan serta kesesuaian apa pun pada tabiat buta tanpa kesadaran yang akan meyakinkan hati, membuat pikiran menyukainya, dan membuat pandangan hakikat akrab kepadanya, serta ia tidak mampu menjadi sumber, hanya melalui terpaksa yang keluar dari andaian menyangkal Sang Pembuat, dibayangkan bahwa karya-karya gemilang Kudrat Azali yang membuat pikiran terpana berasal dari tabiat.

Padahal, tabiat merupakan percetakan gambaran, bukan pencetak ﴾ﻃﺎﺑﻊ﴿; ukiran, bukan pengukir; penerima, bukan pelaku; penggaris, bukan sumber; aturan, bukan pengatur; hukum, bukan kudrat; syariat Kehendak, bukan hakikat di luar pikiran.

Misalnya, jika seorang berusia dua puluh tahun tiba-tiba datang ke dunia, lalu masuk ke istana megah yang dihiasi karya-karya seni indah pada tempat kosong, serta menganggap pasti bahwa tiada satu pun merupakan karya pelaku dari luar, kemudian ketika mencari sebab bagi barang-barang teratur di dalamnya ia menemukan kitab yang memuat hukum pengaturannya, karena kitab itu tempat pantulan kesadaran ia menerima kitab sebagai pelaku serta sebab terpaksa.

Karena berpura-pura lalai dari Sang Pembuat Dzul-Jalâl, mereka menipu diri dengan tabiat yang merupakan sebab terpaksa, tidak masuk akal, serta tidak sesuai seperti ini.

Syariat Ilahi terbagi dua:

Yang satu: Syariat yang datang dari Sifat Firman, yang mengatur tindakan pilihan manusia.

Yang kedua:

Syariat fitri yang datang dari Sifat Kehendak dan disebut perintah-perintah penciptaan, yang berupa hasil hukum-hukum sunatullah yang berlaku dalam seluruh kainat. Sebagaimana syariat pertama berupa hukum-hukum akal, syariat kedua yang disebut tabiat pun berupa himpunan hukum yang ditetapkan dalam pikiran. Semuanya tidak memiliki pengaruh serta mencipta yang merupakan ciri Sifat Kudrat. {(Catatan kaki): Perhatian, perhatian!}

Sebelumnya dalam penjelasan rahasia tauhid kita telah berkata bahwa setiap sesuatu terikat dengan setiap sesuatu. Satu hal tidak dibuat tanpa seluruh hal. Yang Menciptakan satu hal juga Menciptakan seluruh hal. Maka, Yang Membuat suatu sesuatu harus Wâhid, Ahad, Fard, serta Shamad.

Sebab-sebab alam yang ditunjukkan orang-orang sesat ini banyak, tidak mengetahui satu sama lain, serta buta. Mereka menyerahkannya kepada tangan kebetulan buta dan kejadian tanpa sengaja yang bermata rusak, dua yang buta dalam kedua tangannya.

ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺛُﻢَّ ﺫَﺭْﻫُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺧَﻮْﺿِﻬِﻢْ ﻳَﻠْﻌَﺒُﻮﻥَ

Kesimpulannya:

Susunan serta aturan dalam kitab besar kainat, bukti kedua kita, dan i'jaz dalam keteraturan serta penulisannya, memperlihatkan seperti matahari bahwa semuanya karya Kudrat tak berujung, Ilmu tanpa akhir, serta Kehendak Azali.

Pertanyaan:

Dengan apa susunan serta aturan penuh terbukti?

Jawaban:

Ilmu-ilmu alam yang seperti daya rasa serta mata-mata umat manusia telah menyingkap aturan itu melalui penelusuran lengkap. Sebab, ilmu mengenai setiap jenis telah terbentuk atau dapat terbentuk. Setiap ilmu menunjukkan susunan serta keteraturan dalam jenisnya menurut sifat kulli kaidah, sebab setiap ilmu berupa kaidah-kaidah kulli. Maka, jika pandangan pribadi tidak meliputi aturan, melalui mata-mata ilmu ia melihat bahwa manusia terbesar teratur seperti manusia terkecil. Segala sesuatu ditempatkan berdasarkan Hikmah. Tiada yang tanpa guna serta sia-sia.

Bukti kita ini {(): Dari segi petunjuk, wajahnya menyerupai lafaz ‘Hû’, yang setiap bagian ‘Hû’ itu terbentuk dari ‘Hû’ kecil, dan setiap ‘Hû’ kecil dari ‘Hû’ yang amat kecil.}, bukan hanya unsur utama serta anggotanya, bahkan seluruh sel, bahkan seluruh zarahnya, masing-masing sebagai lisan yang berzikir tauhid, ikut dalam suara luhur bukti besar tersebut dan berzikir dengan mengucapkan

ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.

BUKTI KETIGA

Al-Qur'an yang Agung.

Jika melekatkan telinga ke dada bukti yang berbicara ini, engkau akan mendengar ia mengulang

ٔﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮ.

Jika inti yang merupakan sumber hidup pohon berbuah dengan buah-buah amat sempurna tidak ada, atau akarnya rusak, ia tidak menghasilkan buah. Pada cabang bukti kita ini, buah haq serta hakikat begitu banyak dan begitu benar sehingga tidak menyisakan ragu bahwa perkara tauhid dalam intinya memuat haq serta hakikat yang kuat dan benar hingga tidak menyisakan bayangan sama sekali.

Sebagaimana cabang mengenai hukum yang menjulur dari bukti ini ke sisi alam yang terlihat seluruhnya benar, haq, serta hakikat, dengan niscaya cabang terbesarnya (cabang pohon) mengenai tauhid serta gaib yang menjulur ke sisi alam gaib pun berbuah hakikat-hakikat tetap.

Jika bukti ini digambar secara mendalam, dipahami bahwa pribadi yang memperlihatkannya begitu percaya pada perkara tauhid yang menjadi hasilnya sehingga tiada noda bimbang sedikit pun terasa pada suatu sisinya.

Ia pun menganggap hasil itu dasar seluruh hakikat, mengenakan kepadanya sifat telah diterima serta niscaya dengan seluruh daya penjelasan dan desakannya, serta mengembalikan hal-hal lain kepadanya. Daya keras seperti batu dasar tersebut tidak dapat dibuat-buat.

Cap i'jaz di atasnya pun membenarkan setiap beritanya serta membuatnya tidak membutuhkan peneguhan. Seolah-olah berita-beritanya termasuk urusan yang pasti pada dirinya sendiri.

Ya, keenam segi bukti terang ini bening. Di atasnya i'jaz; di bawahnya logika serta dalil; di kanannya membuat akal berbicara; di kirinya menjadikan hati nurani saksi; di depannya, pada sasaran, kebaikan serta bahagia; dan titik sandarannya wahyu murni. Hak apakah yang dimiliki bayangan untuk masuk?

Dasar-dasar mi'raj yang menjulur ke Arasy kesempurnaan, yang disebut mengenal Sang Pembuat, berjumlah empat:

Yang pertama:

Jalan para sufi peneliti yang didirikan atas dibersihkan serta diterangi.

Yang kedua:

Jalan ahli kalam berdasarkan mungkin ada serta muncul dari tiada.

Meskipun kedua dasar ini bercabang dari Al-Qur'an, karena pikiran manusia memasukkannya ke bentuk lain, keduanya menjadi panjang serta sulit dan tidak terlindung dari bayangan.

Yang ketiga:

Jalan ahli hikmah yang tercampur syubhat.

Yang keempat serta paling pertama:

Mi'raj Al-Qur'an, yang bersama mengumumkan tingkat luhur balagah Al-Qur'an, paling gemilang dari segi wibawa ungkapan, paling pendek dari segi lurus, dan paling meliputi seluruh manusia dari segi jelas.

Untuk naik ke Arasy itu pun terdapat empat jalan: Ilham, pengajaran, dibersihkan, serta pandangan pikiran.

Jalan Al-Qur'an terbagi dua jenis:

Yang pertama:

Dalil pertolongan serta tujuan, yang seluruh ayat Al-Qur'an yang menghitung manfaat segala sesuatu menenun dalil ini dan mengatur bukti tersebut. Inti dalil ini ialah ketelitian seni serta perhatian kepada manfaat dan Hikmah dalam aturan paling sempurna kainat. Ini membuktikan Maksud serta Hikmah Sang Pembuat dan menyingkirkan bayangan kebetulan, sebab ketelitian tidak mungkin tanpa Pilihan. Ya, seluruh ilmu alam yang merupakan saksi aturan bersaksi secara pasti atas Maksud serta Hikmah Sang Pembuat dengan memperlihatkan manfaat dan buah yang tergantung pada mata rantai rangkaian segala yang ada, serta Hikmah dan manfaat yang tersembunyi dalam lapisan dan simpul perubahan keadaan.

Di antaranya: Sebagaimana ilmu hewan serta ilmu tumbuhan bersaksi atas munculnya dari tiada setiap awal yang merupakan ayah besar serta Adam bagi lebih dari dua ratus ribu jenis, hukum-hukum yang dibayangkan dan ditetapkan dalam pikiran serta sebab-sebab alam yang buta dan tanpa kesadaran, karena tidak mampu menciptakan serta membangun rangkaian-rangkaian yang begitu membuat terpana dan mesin-mesin Ilahi menakjubkan yang menimbulkan gentar, yang disebut individu dan membentuk rangkaian tersebut, mengumumkan serta menampakkan bahwa setiap individu dan setiap jenis keluar secara tersendiri dari Kudrat Sang Pembuat Yang Hakîm.

Al-Qur'an al-Karim berkata

ﻓَﺎﺭْﺟِﻊِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻫَﻞْ ﺗَﺮٰﻯ ﻣِﻦْ ﻓُﻄُﻮﺭٍ.

Dalam Al-Qur'an, dalil pertolongan terdapat melalui segi paling sempurna dari segi-segi yang mungkin. Sebagaimana Al-Qur'an memerintahkan tafakur dalam kainat, pada akhir serta penutup ayat-ayat yang mengingatkan manfaat dan menghitung nikmat, ia biasanya meneguhkan bukti pertolongan itu dalam benak melalui ungkapan seperti

اَوَلَا ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ، اَفَلَا ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ، اَفَلَا ﺗَﺘَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ ، ﻓَﺎﻋْﺘَﺒِﺮُﻭﺍ

untuk mengarahkan kepada penyerahan urusan ke akal serta musyawarah dengan hati nurani.

Dalil Al-Qur'an Kedua:

Dalil penciptaan baru.

Ringkasannya:

Diberikannya kepada setiap jenis serta individu makhluk suatu wujud yang menghasilkan karya-karya khusus yang tersusun pada jenis serta individu itu dan sesuai dengan bakat sempurnanya. Tiada jenis memiliki rangkaian azali. Kemungkinan tidak membiarkan itu. Hakikat tidak berubah menjadi kebalikannya. Rangkaian jenis perantara tidak berlanjut. Berubahnya kelompok berbeda dari berubahnya hakikat menjadi kebalikannya. Karena sesuatu yang disebut materi tidak terlepas dari rupa berubah serta gerak berganti yang baru terjadi, munculnya dari tiada pasti. Daya serta rupa, karena berupa sifat tambahan yang bukan zat, tidak dapat membentuk perbedaan substansial pada jenis-jenis. Sifat tambahan yang bukan zat tidak dapat menjadi substansi. Maka, pembeda jenis-jenisnya serta ciri pembeda seluruh sifat tambahan yang bukan zat dengan niscaya diciptakan baru dari tidak ada murni. Berkembang biak dalam rangkaian termasuk syarat-syarat biasa yang ditetapkan dalam pikiran.

Ah, bagaimana mereka yang tidak dapat memasukkan ke benaknya azali yang merupakan tuntutan niscaya serta jelas Wâjibul Wujûd dapat memasukkan azalinya materi yang dari setiap segi bertentangan dengan azali? Bagaimana kainat besar tidak dapat melawan Tangan Kuasa Kudrat, tetapi zarah-zarah kecil serta lembut memperoleh begitu dahsyat keteguhan hingga bertahan menghadapi Tangan Pemusnahan Kudrat Azali? Bagaimana penciptaan baru serta mewujudkan yang merupakan Ciri Kudrat Azali disandarkan kepada sebab-sebab paling lemah dan paling malang tanpa hubungan masuk akal apa pun?

Al-Qur'an al-Karim mengatur dalil ini dalam benak melalui ayat-ayat yang berbicara tentang mencipta serta mewujudkan. Pemberi Pengaruh Hakiki hanya Allah سُبْحَانَهُ. Tiada pengaruh hakiki pada sebab-sebab. Sebab-sebab merupakan tirai Kemuliaan serta Keagungan Kudrat, agar dalam pandangan lahiriah akal, Kudrat Allah سُبْحَانَهُ tidak terlihat berhubungan langsung dengan urusan-urusan rendah.

Pada sesuatu terdapat dua segi, yang satu mulk, seperti wajah berwarna cermin. Hal-hal bertentangan datang kepadanya. Ia menjadi buruk, jahat, rendah, agung, dan seterusnya. Sebab-sebab terdapat pada segi ini. Memperlihatkan Keagungan serta Kemuliaan Kudrat menghendaki demikian.

Segi kedua malakut, seperti wajah bening cermin. Segi ini indah dalam segala sesuatu. Pada segi ini tiada pengaruh sebab-sebab. Keesaan menghendaki demikian. Bahkan, karena kedua wajah hidup, ruh, cahaya, serta wujud bening dan indah, semuanya keluar langsung dari Kudrat Allah سُبْحَانَهُ tanpa perantara, dalam mulk maupun malakut.

BUKTI KEEMPAT

Fitrah berkesadaran yang disebut hati nurani manusia.

Perhatikanlah empat butir hikmah dalam bukti ini:

Yang pertama:

Fitrah tidak berdusta. Misalnya, kecenderungan tumbuh dalam biji berkata, ‘Aku akan bertunas serta berbuah.’ Ia berkata benar. Dalam telur terdapat kecenderungan hidup yang berkata, ‘Aku akan menjadi anak ayam.’ Biiznillah ia terjadi; ia berkata benar. Kecenderungan meluas segenggam air melalui membeku berkata, ‘Aku akan menempati lebih banyak ruang.’ Besi kokoh tidak dapat mendustakannya. Benarnya perkataan memecahkan besi.

Kecenderungan-kecenderungan ini merupakan tajalli serta manifestasi perintah-perintah penciptaan yang berasal dari Kehendak Ilahi.

Yang kedua:

Selain lima daya lahir serta batin, manusia memiliki banyak jendela yang terbuka kepada alam gaib serta banyak rasa yang tidak disadari. Sebagaimana terdapat rasa mendengar, melihat, serta mengecap, terdapat saiqah, rasa keenam yang benar. Terdapat pula syaiqah, rasa ketujuh yang gemilang. Semangat serta dorongan itu tidak berdusta dan tidak dapat berjalan salah.

Yang ketiga:

Sesuatu dalam bayangan tidak dapat menjadi awal hakikat di luar pikiran. Titik sandaran serta titik tempat meminta pertolongan dalam fitrah dan hati nurani merupakan dua hakikat niscaya. Jika kedua titik itu tidak ada, ruh manusia yang merupakan jernih serta yang paling mulia dari penciptaan menjadi makhluk paling rendah dan paling buruk. Padahal, Hikmah, aturan, serta kesempurnaan dalam kainat menolak kemungkinan ini.

Yang keempat:

Sekalipun akal menghentikan pekerjaannya serta mengabaikan pandangan, hati nurani tidak dapat melupakan Sang Pembuat. Sekalipun mengingkari nafsunya sendiri, ia melihat⁠-⁠Nya, memikirkan⁠-⁠Nya, serta menghadap⁠-⁠Nya. Pemahaman intuitif yang merupakan perpindahan cepat seperti kilat senantiasa menggerakkannya. Ilham, pemahaman intuitif yang berlipat, senantiasa meneranginya. Keinginan, kecenderungan yang berlipat; rindu, keinginan yang berlipat; serta cinta Ilahi mendalam, rindu yang berlipat, senantiasa mengarahkannya kepada makrifat Dzul-Jalâl. Rasa terpikat serta tertarik dalam fitrah ini melalui Daya Tarik suatu Hakikat Yang Memikat.

Setelah mengetahui butir-butir hikmah ini, rujuklah hati nurani yang merupakan bukti dalam diri. Engkau akan melihat bahwa sebagaimana hati menyebarkan hidup kepada penjuru tubuh, yang menjadi hidup dalam simpul hidup pada hati ialah mengenal Sang Pembuat, yang menyebarkan hidup kepada harapan serta kecenderungan bercabang-cabang yang sesuai dengan bakat manusia tak terbatas. Ia menempatkan lezat di dalamnya, memberi nilai, membentangkan, serta memanjangkan. Inilah titik tempat meminta pertolongan.

Menghadapi ribuan musibah serta saling berdesakan alam yang menyerang gejolak hidup, medan pertarungan dan saling berdesakan, satu-satunya titik sandaran tetap mengenal Sang Pembuat.

Ya, jika tidak meyakini Sang Pembuat Yang Hakîm, Yang Melakukan segala sesuatu dengan Hikmah serta keteraturan, dan menyerahkannya secara buta kepada kebetulan-kebetulan buta, lalu memikirkan tidak cukupnya daya dalam tangannya menghadapi bencana tersebut, mau tidak mau ia jatuh dalam keadaan seperti neraka yang memecahkan hati, tersusun dari rasa asing, gentar, panik, serta takut. Ini mengharuskan ruh manusia, makhluk paling mulia serta paling indah, lebih kacau daripada segala sesuatu. Ini bertentangan dengan aturan paling sempurna dalam keteraturan sempurna kainat.

Karena berkuasa hingga tingkat ini dalam tatanan alam melalui titik tempat meminta pertolongan serta titik sandaran merupakan ciri khusus hakikat nafsul-amr, dari kedua titik yang merupakan dua jendela dalam setiap hati nurani ini, Sang Pembuat Dzul-Jalâl senantiasa Membuat makrifat⁠-⁠Nya bertajalli kepada hati manusia. Sekalipun akal menutup mata, mata hati nurani senantiasa terbuka.

Melalui kesaksian pasti keempat bukti agung ini, sebagaimana Sang Pembuat Dzul-Jalâl adalah Wâjibul Wujûd, Azali, Wâhid, Ahad, Fard, Shamad, 'Alîm, Qadîr, Murîd, Samî', Basîr, Mutakallim, Hayy, serta Qayyûm, Dia juga Memiliki seluruh Sifat Jalal dan Jamal. Sebab, telah tetap bahwa limpahan kesempurnaan pada ciptaan diambil dari bayangan tajalli Sang Pembuat. Maka, seberapa pun indah, elok, serta sempurna dalam kainat, Sang Pembuat Dzul-Jalâl Memiliki Sifat Keindahan serta Kesempurnaan pada lapisan yang lebih tinggi tanpa batas daripada seluruhnya. Sebab, sebagaimana pemberian karunia merupakan cabang serta dalil kekayaan, mencipta bagi wujud, membuat wajib bagi wajib, memperindah bagi indah, dan menerangi bagi cahaya, seluruh sempurna serta indah dalam seluruh kainat merupakan bayangan lemah dan bukti bagi Kesempurnaan serta Keindahan Sang Pembuat Dzul-Jalâl.

Sang Pembuat Dzul-Jalâl pun Mahasuci dari seluruh kekurangan, sebab kekurangan berasal dari tiadanya bakat pada hakikat materi. Zat Dzul-Jalâl Bebas serta Mahasuci dari materi. Dia juga Mahasuci dari sifat dan hal-hal yang diperlukan yang berasal dari hakikat-hakikat mungkin dalam kainat.

ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪ۪ ﺷَﻰْﺀٌ ﺟَﻞَّ جَلَالُهُ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺧْﺘَﻔٰﻰ ﻟِﺸِﺪَّﺓِ ﻇُﻬُﻮﺭِﻩ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﺘَﺮَ ﻟِﻌَﺪَﻡِ ﺿِﺪِّﻩ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺣْﺘَﺠَﺐَ بِالْاَسْبَابِ ﻟِﻌِﺰَّﺗِﻪ۪