Risalah Nur — Bahasa Indonesia

ŞULE (NYALA)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

ŞULE (NYALA)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Lafaz Jalal, ‘Allah’ سُبْحَانَهُ, menunjukkan melalui keharusan makna seluruh makna yang dinyatakan Asmaul Husna serta seluruh Sifat Sempurna. Nama-nama khusus lainnya hanya menunjukkan pemilik nama; tidak menunjukkan sifat-sifat, sebab sifat-sifat bukan bagian pemilik nama dan tidak terdapat hubungan niscaya yang jelas di antaranya. Dari segi ini, semuanya tidak menunjukkan sifat melalui makna yang termuat ataupun melalui keharusan makna.

Adapun lafaz Jalal secara tepat menunjukkan Zat Yang Mahasuci. Karena di antara Zat Yang Mahasuci serta Sifat-Sifat Sempurna terdapat hubungan niscaya yang jelas, ia juga menunjukkan Sifat-Sifat melalui keharusan makna.

Sebutan Keilahian pun mengharuskan Sifat-Sifat Sempurna, yang mengharuskan bahwa nama khusus ‘Allah’ سُبْحَانَهُ juga mengharuskan Sifat-Sifat tersebut.

Kata ‘Allah’ سُبْحَانَهُ pun dipikirkan bersama Sifat-Sifat sesudah penyangkalan. Karena itu, perkataan ‘Lâ ilahe illallah’ memuat perkataan-perkataan sebanyak Asmaul Husna. Dari segi ini, perkataan kalimat tauhid tersebut, meskipun satu, menjadi seribu perkataan menurut Sifat-Sifat yang ditunjukkannya, seperti ‘Lâ Hâlıka illallah’, ‘Lâ Fâtıra, Lâ Râzıka, Lâ Kayyume illallah’. Karena itu, pribadi berzikir yang telah maju, ketika mengucapkan perkataan ini, telah mengucapkan ribuan perkataan di dalamnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena engkau mengetahui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah سُبْحَانَهُ dan meyakininya, segala sesuatu, merugikan ataupun bermanfaat, harus diterima dengan kagum serta rida baik. Jika tidak, engkau terpaksa jatuh dalam lalai. Karena itu, sebab-sebab lahiriah telah ditempatkan dan pada mata pun tirai lalai telah ditutupkan. Bagian peristiwa kainat yang bertentangan dengan hawa serta hasrat manusia lebih banyak daripada yang sesuai. Jika pemilik hawa nafsu melihat sebab-sebab lahiriah ini dan tidak lalai dari Sang Pencipta sebab-sebab, ia mengarahkan seluruh sanggahannya kepada Allah سُبْحَانَهُ.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Doa terbagi tiga bagian.

Yang satu:

Doa perkataan yang manusia lakukan melalui lisannya. Suara yang dikeluarkan hewan bersuara serta berbunyi, misalnya ketika lapar melalui bahasa khususnya, pun termasuk doa perkataan.

Bagian kedua:

Doa kebutuhan yang dilakukan tumbuhan serta pohon melalui bahasa kebutuhan, terutama pada musim semi.

Yang ketiga:

Doa bakat yang terasa melalui bahasa bakat pada hal-hal yang tabiatnya berubah serta berkembang sempurna.

Ya, sebagaimana segala sesuatu bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, ia juga berdoa kepada Allah سُبْحَانَهُ melalui lisan, kebutuhan, serta bakatnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebelum biji menjadi pohon, telur menjadi burung, serta butir memberi bulir, semuanya berada dalam ribuan kemungkinan dan peluang serta mampu masuk ke ribuan rupa dan bentuk. Dari ditariknya semuanya dari kemungkinan serta jalan berliku itu dan diarahkannya menuju bentuk dan keadaan lurus, tepat, serta menghasilkan, dipahami bahwa benih-benih tersebut sebelumnya pun telah berada di bawah pemeliharaan, pengarahan, serta pengaturan Sang 'Allâmul-Ghuyûb. Seolah-olah setiap benih merupakan surat kecil yang disalin dari kitab Kudrat, atau daftar isi yang diambil dari Ilmu Azali, atau beberapa kaidah yang ditulis dari kitab-kitab takdir.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang beriman memandang kainat dengan makna harfi, yakni sebagai pelayan serta alat bagi yang lain. Orang kafir memandang alam dengan makna ismi, yakni sebagai ‘tuan’ yang berdiri sendiri.

Dari segi ini, setiap ciptaan memiliki dua segi. Satu segi berupa zat serta sifatnya sendiri. Segi lainnya memandang Sang Pembuat serta tajalli yang datang kepadanya dari Asmaul Husna.

Lingkaran segi kedua lebih luas serta lebih sempurna dalam makna. Sebab, huruf menunjukkan zatnya sendiri sebesar satu huruf, itu pun melalui satu segi, tetapi menunjukkan penulisnya melalui banyak segi, serta memperkenalkan dan menggambarkan penulisnya kepada yang memandang.

Demikian pula, ciptaan dari kitab Kudrat Azali menunjukkan dirinya sebesar tubuhnya sendiri dan melalui satu segi. Namun, ia menunjukkan Pengukir Azali melalui banyak segi, serta menyenandungkan kasidah panjang dari Asma yang bertajalli kepadanya.

Di antara kaidah yang tetap ialah, ‘Makna harfi tidak dapat menjadi pokok yang dikenai putusan-putusan yang disengaja, dan kehalusannya tidak dapat diteliti. Adapun makna ismi menjadi tempat setiap putusan, benar ataupun dusta.’ Berdasarkan rahasia ini, dalam kitab filsuf yang memandang kainat dengan makna ismi, putusan-putusan mengenai kainat, meskipun dalam nafsul-amr lebih lemah daripada tenunan laba-laba, tampak lebih kokoh menurut lahir.

Ahli kalam memandang perkara filosofis serta ilmu kainat dengan makna harfi melalui pandangan yang mengikuti untuk mengajukan dalil. Bahkan, matahari menjadi lampu, bumi menjadi buaian, serta gunung menjadi pasak cukup untuk membuktikan pernyataan ahli kalam. Bahkan, setelah pandangan ahli kalam sesuai dengan rasa umum serta yang dikenal bersama, sekalipun tidak sesuai dengan kejadian, itu tidak merugikan pernyataannya dan mereka tidak layak didustakan. Karena itu, pandangan ahli kalam dalam perkara filosofis tampak rendah serta lemah, tetapi dalam perkara Ilahi lebih kokoh daripada besi.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengampuni orang berdosa merupakan Karunia, dan Menyiksanya merupakan Keadilan. Ya, menurut sunatullah, orang yang minum racun memperoleh kelayakan sakit serta mati. Jika kemudian sakit, itu adil, sebab ia menanggung hukuman. Jika tidak sakit, ia memperoleh Karunia Allah سُبْحَانَهُ.

Di antara maksiat serta azab terdapat hubungan kuat. Bahkan, kaum Muktazilah, dengan berpaling dari jalan benar mengenai maksiat, sebagaimana tidak menyandarkan maksiat serta keburukan kepada Allah سُبْحَانَهُ, juga menganggap bahwa menyiksa karena maksiat adalah wajib. Keburukan mengharuskan azab tidak bertentangan dengan Rahmat Ilahi, sebab keburukan berlawanan dengan hukum tatanan alam.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena manusia diambil dari lupa, ia terkena lupa. Lupa paling buruk ialah melupakan nafsu. Namun, pada waktu khidmah, usaha, serta tafakur, melupakan nafsu, yakni tidak memberi pekerjaan kepada nafsu, merupakan sesat. Sesudah khidmah dilakukan, pada hasil dan waktu balasan, melupakan nafsu merupakan sempurna. Dari segi ini, ahli sesat serta ahli kesempurnaan berlawanan dalam lupa dan ingat.

Ya, dalam penawaran pekerjaan atau ibadah, orang sesat mengangkat kepala ke udara dan menjadi seperti Firaun. Namun, dalam pembagian balasan serta manfaat, ia tidak meninggalkan bahkan satu zarah. Adapun ahli kesempurnaan yang melupakan nafsunya mengedepankan nafsu sebelum segala sesuatu pada waktu usaha, tafakur, serta perjalanan ruhani; tetapi pada hasil, manfaat, serta keuntungan, ia meninggalkan nafsu paling belakang dengan melupakannya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terdapat rahasia besar dalam salat serta ibadah lain yang orang beriman lakukan berjamaah dengan saling bersandar dalam ibadah dan doa. Setiap individu memperoleh pahala dari jamaah jauh lebih besar daripada jumlah yang diperolehnya melalui ibadah sendiri. Setiap individu menjadi pendoa, pemberi syafaat, serta yang meneguhkan bagi yang lain, terutama Nabi ﷺ. Setiap individu pun menikmati bahagia sahabat-sahabatnya dan menanti berubudiyah kepada Khallâq kainat serta kebahagiaan abadi.

Melalui saling membantu maknawi serta luhur yang terjadi di antara orang beriman berkat jamaah ini, bersama memikul khilafah dan memperoleh amanah, ia menerima sebutan dimuliakan di antara makhluk.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang yang jauh dari sesuatu tidak dapat melihatnya sebesar yang dekat. Seberapa pun cerdasnya, jika terdapat perbedaan pendapat mengenai keadaan sesuatu itu, perkataan yang dekat diperhatikan. Karena itu, filsuf Eropa, akibat amat mendalam dalam materi, telah tetap pada jarak amat jauh dari hakikat iman, Islam, serta Al-Qur'an. Yang paling besar dari mereka pun tidak seperti orang awam yang mengetahui hakikat Islam dari dekat. Demikian kulihat, dan nafsul-amr membenarkan yang kulihat.

Karena itu, engkau tidak dapat berkata bahwa filsuf yang menyingkap perkara ilmu seperti petir serta uap juga dapat menyingkap rahasia Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta cahaya Al-Qur'an. Sebab, akalnya berada pada matanya, dan mata tidak dapat melihat yang dilihat hati serta ruh, karena dalam hati mereka tiada hidup tersisa. Lalai telah membusukkan hati-hati itu dalam rawa tabiat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena nikmat umum seperti pendengaran, penglihatan, udara, serta air lebih penting dan berharga, semuanya layak serta berhak bagi syukur berkali-kali lebih besar daripada nikmat khusus serta pribadi.

Karena itu, tidak tahu bersyukur serta tidak mensyukuri nikmat umum seperti ini dianggap tidak bersyukur terbesar terhadap nikmat. Meskipun keadaan demikian, sebagian manusia, sekalipun bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ atas nikmat khusus yang berkaitan dengan pribadinya, bahkan tidak memikirkan nikmat umum ini seolah-olah tidak meliputi mereka. Padahal, nikmat terbesar ialah nikmat umum serta tetap. Sebagaimana umum dalil bagi sempurna serta penting, tetap pun menunjukkan luhur dan berharga.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Hikmah-hikmah yang menghendaki pengulangan beberapa ayat Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya juga menghendaki pengulangan beberapa zikir serta doa. Sebab, sebagaimana Al-Qur'an merupakan kitab hakikat, syariat, Hikmah, serta makrifat, ia juga kitab zikir, doa, dan ajakan. Dalam doa diperlukan pengulangan, dalam zikir mengingat kembali, dan dalam ajakan penekanan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu keunggulan luhur Al-Qur'an ialah bahwa sesudah pembicaraan tentang kemajemukan, ia menulis pengingat keesaan. Sesudah rincian, ia meringkas. Sesudah pembicaraan tentang hal-hal juz’i, ia menyebutkan melalui kesimpulan kaidah Rububiyah Mutlak serta hukum Sifat-Sifat Sempurna. Manfaat kesimpulan-kesimpulan seperti ini pada akhir ayat seperti hasil bagi pendahuluan-pendahuluan yang disebutkan pada tengah ayat, atau menjadi sebab, agar benak pendengar tidak sibuk dengan hal-hal juz’i yang disebutkan dalam ayat dan melupakan Keagungan tingkat Keilahian Mutlak, sehingga ubudiyah pikirannya tidak rusak.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Perhatian, pertolongan, serta pemberian limpahan para wali melalui tindakan maknawi merupakan doa keadaan atau tindakan. Hâdî, Mughîts, serta Mu'în hanyalah Allah سُبْحَانَهُ. Namun, dalam manusia terdapat latifah serta keadaan sedemikian rupa sehingga apa pun yang diminta melalui bahasa latifah itu, sekalipun ia fasik, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Memenuhi permohonan demi hormat kepada latifah tersebut. Meskipun latifah itu terlihat kepadaku dari amat jauh, aku tidak dapat mengenalinya secara pasti.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Buatlah perbandingan berikut antara keadaan masa lampau yang termasuk dalam cakupan ilmu serta yakin dan keadaan masa depan yang tetap di bawah tirai ragu:

Anggap dirimu pada tempat seorang kakek di tengah rangkaian keturunan, lalu duduklah. Adakah perbedaan antara leluhurmu yang termasuk rombongan wujud masa lampau serta anak dan cucumu yang masih tinggal dalam rahim masa depan dan muncul sedikit demi sedikit? Lihatlah baik-baik! Sebagaimana bagian pertama ciptaan Sang Pembuat melalui Ilmu serta ketelitian, bagian kedua pun akan sama menjadi ciptaan Sang Pembuat itu. Kedua bagian berada di bawah Ilmu serta Penglihatan Sang Pembuat tersebut. Dari segi ini, penghidupan kembali leluhurmu tidak lebih aneh daripada penciptaan anak-anakmu, bahkan lebih mudah.

Dari perbandingan ini dipahami bahwa kejadian-kejadian masa lampau merupakan beberapa mukjizat yang bersaksi bahwa Sang Pembuat Berdaya atas seluruh kemungkinan masa depan.

Ya, yang ada serta benda-benda yang terlihat dalam kebun kainat ini merupakan keajaiban yang menunjukkan bahwa Khâliq mereka Berdaya atas segala sesuatu dan Mengetahui segala sesuatu.

Demikian pula, tumbuhan serta hewan, melalui jenis dan individunya, merupakan keajaiban seni yang bersaksi bahwa Sang Pembuat mereka Berdaya atas segala sesuatu. Ya, sebagaimana zarah serta matahari sama bagi Kudrat⁠-⁠Nya, tumbuhnya kembali daun serta kebangkitan manusia pun satu. Tiada perbedaan pula antara dihidupkannya kembali daun-daun pohon yang telah membusuk serta tercerai.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya sering mengulang penghidupan bumi serta menarik perhatian pandangan kepada unsur tanah, limpahan seperti ini menetes ke hatiku:

Sebagaimana bumi merupakan hati alam, unsur tanah pun hati bumi. Jalan paling dekat yang mengantarkan kepada tujuan, seperti rendah hati serta menghapus diri, juga tanah. Bahkan, tanah jalan lebih dekat kepada Khâliq langit daripada langit paling tinggi. Sebab, tanah paling sesuai bagi tajalli Rububiyah, kegiatan Kudrat, pusat khilafah, serta manifestasi Asma Hayy dan Qayyûm dalam kainat. Sebagaimana Arasy Rahmat berada di atas air, Arasy hidup serta penghidupan pun di atas tanah. Tanah merupakan cermin paling luhur bagi tajalli serta manifestasi.

Ya, semakin halus cermin sesuatu padat, semakin jelas ia memperlihatkan rupanya. Semakin padat cermin sesuatu bercahaya serta halus, semakin berkilau ia memperlihatkan manifestasi Asma. Misalnya, dalam cermin udara hanya terlihat sinar lemah matahari. Dalam cermin air, meskipun matahari terlihat bersama sinarnya, tujuh warnanya tidak terlihat. Namun, cermin tanah memperlihatkan tujuh warna dalam sinar matahari melalui warna bunga-bunganya. Hadis mulia

ﺍَﻗْﺮَﺏُ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻪ۪ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺳَﺎﺟِﺪٌ

bersaksi dengan mengisyaratkan rahasia ini. Maka, Saudaraku, jangan takut kepada tanah dan berubah menjadi tanah, kubur serta masuk lalu berbaring dalam kubur!

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika akalku berjalan, kadang ia menjadi teman hatiku. Hati memberi kepada akal sesuatu yang ditemukannya melalui nikmat. Seperti biasanya, akal memperlihatkan melalui perumpamaan berbentuk bukti. Misalnya, sebagaimana Sang Fâthir Yang Hakîm memiliki jarak tak berujung dari kainat, Dia juga memiliki kedekatan tak berujung.

Ya, sebagaimana melalui Ilmu serta Kudrat⁠-⁠Nya Dia Berada dalam batin paling dalam, Dia Berada pula di atas yang paling atas. Sebagaimana tidak Berada di dalam suatu sesuatu, Dia juga tidak di luar suatu sesuatu.

Ya, pandanglah buatan Kudrat pada permukaan bumi yang menjadi tempat tampak karya Rahmat⁠-⁠Nya agar engkau mengetahui sebagian rahasia ini. Misalnya, Sang Pembuat Yang Menciptakan dua hal dalam satu saat, yang satu di bumi dan yang lain di langit, atau yang satu di timur serta yang lain di barat, harus memiliki jarak sebesar jarak di antara hal-hal yang diciptakan tersebut.

Dari segi Dia Penopang segala sesuatu, Dia pun memiliki kedekatan yang lebih besar daripada dekat sesuatu kepada dirinya sendiri. Rahasia ini termasuk ciri Wujud yang Wajib, bebas dari materi, serta mutlak, dan perbedaan yang diperlukan antara Hakikat Pelaku Asli serta penerima pengaruh yang berupa bayangan. Misalnya, karena matahari penopang pantulan-pantulannya, ia memiliki dekat tanpa batas kepadanya. Ia juga memiliki jauh sebesar jarak antara bayangan dalam cermin dan yang asli di langit.